You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar belakang

Delima (Punica granatum L.) merupakan anggota familia Punicaceae yang
memiliki sejarah etnofarmakologi. Buah deliama berasal dari Asia, terutama dari Iran,
kemudian tersebar ke Indonesia, dan kini telah dipelihara diseluruh daerah tropis dan
subtropics. Di Indonesia dikenal beberapa kelompok delima berdasarkan warna
buahnya yaitu merah, putih, dan hitam. Warna bunga dapat menentukan warna daging
buah delima di dalamnya. Diantara ketiganya, buah delima merah adalah yang paling
terkenal dan mudah ditemui. Delima hitam kini menjadi tanaman langka yang tidak
dikenal secara luar. Padahal menurut para ahli, delima hitam lebih baik khasiatnya
dibandingkan dengan delima putih (Bagun, 2014).

Delima dapat berbunga sepanjang tahun, bunganya tunggal dengan tangkai pendek,
serta keluar di ujung ranting atau ketiak daun yang paling atas. Bunga delima biasanya
1-5 kuntum berada di ujung ranting, berlilin, panjang dan lebarnya masing-masing 4-5
cm, daun kelopak dan penyangganya sama-sama 2-3 cm panjangnya (Madhawati,
2012). Buah delima ini berbentuk bulat, permukaanya mengkilat dan halus. Buah
delima ini matang pada musim panas dan musim gugur, berkulit tebal dan bagian
dalamnya terdapat membrane tipis yang rasanya pahit dan kecut, di dalamnya ada biji –
biji berbentuk segitiga dan tidak teratur (bagun, 2014).

Pada umumnya pohon delima ditanam di pekarangan dan bermanfaat sebagai
tanaman hias dan obat-obatan serta daging buahnya dapat dimakan langsung yang
mempunyai rasa asam manis. Secara tradisional tanaman delima sering digunakan
sebagai obat oleh masyarakat di Indonesia. Di samping itu daging buahnya dapat
diekstrak dijadikan minuman yang menyegarkan (Sudijo, 2014).

Kandungan nutrisi buah delima per 100 g buah terdiri atas air (78 g), protein (1,6
g), lemak (0,1 g), karbohidrat (14,5 g), dan mineral (0,7 g). Analisis lain menunjukkan
bahwa terdapat kandungan gula inversi (20%), glukosa (5–10%), asam sitrat (0,5–
3,5%), dan vitamin C (14 mg/100 g). Zat pewarna kuning pada kulit buah delima

1
mengandung asam galotanat. Kandungan tanin tertinggi terdapat pada kulit akar (28%)
(Sudijo, 2014).

Sebuah delima mengandung 5 mg kalsium, 12 mg fosfor, o,5 mg zat besi, 5 mg
sodium, 399 mg potassium, sedikit vitamin A, 6 mg vitamin C, 2mg magnesium, serta
karotenoid, polifenol, dan flavonoid. Buah delima juga bermanfaat sebagai antioksidan,
antibakteri, meningkatkan kekebalan tubuh dan masih banyak lagi. Maka dari itu buah
delima banyak dijadikan sebagai salah satu alternative pengobatan tradisional (Bagun,
2014).

1. 2. Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui deskripsi Punica granatum L.
2. Untuk mengetahui kandungan Punica granatum L.
3. Untuk mengetahui manfaat Punica granatum L.

1. 3. Manfaat

Agar masyarakat di Indonesia dapat mengetahui kandungan dan manfaat dari
delima, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternative pengobatan tradisional
selain dijadikan sebagai tanaman hias dan dapat meningkatkan kesehatan di
masyarakat.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Deskripsi Punica granatum

Secara morfologi, tumbuhan delima merah (Punica granatum) merupakan tanaman
semak atau perdu meranggas yang dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 5-8 meter.
Tanaman ini berasal dari Persia dan daerah Himalaya yang terletak di selatan India.
Tanaman buah delima tersebar mulai dari daerah subtropik hingga tropik, dari dataran
rendah hingga ketinggian di bawah 1000 m dpl. Tanaman ini sangat cocok untuk
ditanam di tanah yang gembur dan tidak terendam oleh air, serta air tanahnya tidak
dalam (Madhawati, 2012).

Batang tanaman delima berbentuk kayu ranting yang bersegi, dan percabangan
banyak tetapi lemah. Pada ketiak daunnya, terdapat duri. Saat masih muda, warnanya
cokelat, dan berubah menjadi hijau kotor setelah tua. Daunnya tunggal dengan tangkai
yang pendek dan letaknya berkelompok. Daun delima memiliki bentuk yang lonjong
dengan pangkal yang lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, dan
permukaan mengkilap. Panjang daun bisa mencapai 1-9 cm dengan lebar 0,5-2,5 cm
(Savitri, 2008).

Delima dapat berbunga sepanjang tahun, bunganya tunggal dengan tangkai pendek,
serta keluar di ujung ranting atau ketiak daun yang paling atas. Bunga delima biasanya
1-5 kuntum berada di ujung ranting, berlilin, panjang dan lebarnya masing-masing 4-5
cm, daun kelopak dan penyangganya sama-sama 2-3 cm panjangnya. Bunga delima
biasanya berwarna merah, putih dan ungu. Warna bunga dapat menentukan warna
daging buah delima di dalamnya (Madhawati, 2012).

Menurut Desmond (2000) cit Budka (2008), delima merah memiliki kulit buah yang
tebal dan warnanya beragam seperti hijau keunguan, putih, coklat kemerahan atau ungu
kehitaman. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 5-12 cm, beratnya kurang lebih
100-300 gram, terdiri dari biji-biji kecil, tersusun tidak beraturan, berwarna putih
sampai kemerahan.

3
(Gambar 1. Tumbuhan delima)

2. 2. Toksonomi Punica granatum

Adapun klasifikasi ilmiah delima merah (Punica granatum) adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Rosidae

Ordo : Myrtales

Familli : Lythraceae

Genus : Punica

Spesies : P. granatum

Nama binominal : Punica granatum L

Sinonim : Punica malus, Linnaeus 1758

(Budka, 2008)

4
Di Indonesia, buah delima dikelompokkan sesuai dengan warnanya, yaitu delima
merah, putih dan ungu. Diantara ketiganya, buah delima merah adalah yang paling
terkenal dan mudah ditemui. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 5-12 cm.
Terdapat bercak-bercak yang agak menonjol dan berwarna lebih tua pada buah tersebut.
Buah ini dikenali dengan adanya calyx atau mahkota yang menjadi ciri khasnya
(Madhawati, 2012).

2. 3. Kandungan Punica granatum

Delima merah terkenal memiliki banyak kandungan zat aktif pada beberapa bagian
tanamannya, antara lain pada bagian akar, buah, bunga, kulit batang dan kulit buahnya.
Bagian-bagian tersebut memiliki kandungan kimia yang berbeda-beda pada setiap
bagiannya (Savitri, 2008).

Kandungan kimia kulit buah delima merah mengandung alkaloid pelletierene,
granatin, betulic acid, ursolic acid, isoquercitrin, elligatanin, resin, triterpenoid,
kalsium oksalat dan pati. Kulit akar dan kulit kayu mengandung sekitar 20% elligatanin
dan 0,5-1% senyawa alkaloid, antara lain alkaloid pelletierene (C8H14N0),
Pseudopelletierine (C8H15N0), dan metilpelletierene (C8HNO). Alkaloid pelletierine
sangat toksik sehingga menyebabkan kelumpuhan cacing pita, cacing gelang dan cacing
kremi. Daun mengandung alkaloid, tanin, kalsium oksalat, lemak, sulfur peroksidase
(Savitri, 2008).

Menurut Eibond 2004 cit Sugianto dkk, (2011), di dalam buah delima merah yang
sudah matang, terdapat butiran-butiran biji berwarna putih yang dibungkus oleh daging
buah. Daging buah delima mengandung banyak air, serta memiliki rasa yang manis
keasaman dan manis yang menyegarkan. Selain dapat dikonsumsi secara langsung,
buah delima merah dapat dijadikan jus, ekstrak maupun sari buah. Bagian buah delima
merah yang dapat dimakan (kurang lebih 50% dari berat total buah) terdiri dari 80% jus
dan 20% biji. Jus segar dari buah delima merah mengandung 85% air, 10% gula dan
1,5 % pektin, asam askorbat, dan flavonoid polifenol.

Flavonoid yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat antioksidan.
Salah satu komponen flavonoid dari tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai
antioksidan adalah zat warna alami yang disebut antosianin. Warna merah pada delima
disebabkan oleh kandungan antosianin yang cukup tinggi pada buah delima. Antosianin

5
yang dapat diidentifikasi pada buah delima merah anatara lain delphinidin 3-glucoside
dan 3,5diglucoside, cyanidin 3-glucoside dan 3,5diglucoside, pelargonidi 3-glucoside
dan 3,5 diglucoside. Rasa kesat pada buah delima disebabkan kandungan flavonoid
(golongan polifenol) yang tinggi. Salah satu peran flavonoid yang penting adalah
sebagai antioksidan. Flavonoid dapat menstabilkan senyawa oksigen reaktif yang dapat
mengurangi kerusakan akibat radikal bebas (Yanjun et al, 2009).

Kandungan polifenol dalam buah delima tergantung dari jenis dan varietasnya yang
sebagian besar terdiri dari antosianin, katekin, ellagic tannins, gallic, dan ellagic acid.
Polifenol kompleks bersifat antioksidan yang dapat diserap dalam tubuh manusia.
Selain polifenol, jus delima juga mengandung vitamin C yang bersifat antioksidan
(Sugianto, 2011). Jus buah delima merah mengandung asam sitrat, asam malat,
glukosa, fruktosa, maltose, vitamin (A,C), mineral (kalsium, fosfor, zat besi,
magnesium, natrium dan kalium) serta tannin (Savitri, 2008).

Sifat antibakteri yang dimiliki buah delima merah merupakan true antibiotics,
dikarenakan tanpa adanya efek samping, manfaat yang penting adalah adanya sifat
bakterisid dan bakteriostatik pada bakteri pathogen yang telah resisten terhadap
antibiotik sintetis (Khan, 2011).

Aktivitas antimikrobial delima merah telah banyak diteliti oleh ilmuwan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Zoreky (2009), membuktikan
bahwa ekstrak delima memiliki aktivitas antibakterial melawan beberapa bakteri,
termasuk Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sedangkan dalam penelitian
sebelumnya, Burapadaja (1995) menemukan bahwa kulit buah delima merah memiliki
aktivitas antimikrobial terhadap Streptococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa
(Hulya et al. 2011 cit Kusumo. 2013).

Wage (1999) melakukan penelitian yang menemukan bahwa tannin yang merupakan
salah satu kandungan utama dari buah delima merah mampu mengisolasi
Staphylococcus aureus (44,3%), Streptococcus sp. (18%), Staphylococcus sp. (12,8%).
Selain itu, penelitian yang dilakukan Menezes (2006) menunjukkan buah delima merah
sebagai antibakteri yang digunakan sebagai alternatif perawatan bakteri plak. Buah
delima juga berperan sebagai pengobatan alternatif penyakit inflamasi kronis (Lansky,
2007).

6
Fungsi antibakteri dan antimikroba juga terlihat pada uji fitoterapi buah delima yang
mampu melawan Streptococci strains, Streptococcus mutans, Streptococcus mitis dan
Candida albicans. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut merupakan mikroba
terbanyak yang terdapat di rongga mulut manusia. Kandungan-kandungan potential
yang dimiliki ekstrak buah delima merah bersifat bakteriostatik dan bakterisid. Tannin
merupakan basis aktivitas antibakterial dengan merusak membran sel yang
menyebabkan kebocoran intraseluler, flavonoid memiliki efek antibakteri karena
kemampuannya berinteraksi dengan DNA bakteri, alkaloid mampu mengganggu
komponen penyusun peptidoglikan, sehingga dinding sel bakteri tidak terbentuk utuh
(Smullen et al. 2007).

Menurut Duke (2010) kandungan kulit buah delima merah yang mempunyai efek
farmakologis dapat dilihat pada tabel berikut:

Kandungan kimia Efek Farmakologis
Pelletierene Anthihelminthes.
Granatin Antihepatotoksik dan antioksidan.
Betulic acid Antihelminthes, antibakterial, antikanker, antiinflamasi,
antimalaria, antiviral.
Ursolic acid Analgesik, antiarthritis, antibakterial, antioksidan, antikanker.
Eligatanin Antialergik, antioksidan.
Beta-sitosterol Antibakterial, antikanker, antioksidan.
Casuarin Antioksidan.
Ellagic acid Antikanker, antikatarak, antiseptik, antiviral, antioksidan.
Friedelin Antiinflamasi, diuretic.
Isopelletierine Midriasis, laksatif.
Punicalagin Antioksidan.

2. 4. Manfaat Punica granatum

Hampir semua bagian tanaman bermanfaat untuk kesehatan, mulai daun, bunga,
buah, kulit akar, dan lain sebagainya. Di bawah ini manfaat dari bagian tanaman buah
delima, seperti:

7
2. 4. 1. Buah (sari buah)

1. Penyedia antioksidan.
Sari buah delima (jus), banyak mengandung flavonoid kaya dengan anti
karsinogenik, yaitu senyawa antioksidan yang mampu mencegah radikal
bebas di dalam tubuh sekaligus memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.
Mampu memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung, kanker kulit,
dan kanker prostat. Antioksidan yang terkandung di dalamnya membantu
mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah arteri oleh
kolesterol, khususnya bagi merekayang berisiko tinggi, delima membantu
mengatur gula darah, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mampu
melawan peradangan, dan meningkatkan berbagai faktor lain yang terlibat
dalam sindrom metabolis yang kerap dikaitkan dengan obesitas dan pemicu
diabetes. Karena efek ini, delima dapat membantu penurunan berat badan,
dan jus delima dapat menyebabkan kematian sel kanker (Sudijo, 2014).

2. Sebagai pencegah kanker.
Delima juga dapat mencegah kanker payudara dan penurunan
perkembangan kedua jenis kanker kulit, karsinoma sel basal, dan karsinoma
sel skuamosa. Fitonutrien dan antioksidan yang terkandung dalam buah
delima mampu berinteraksi dengan materi genetik tubuh untuk
melindunginya. Untuk mengobati seringnya buang air kecil, dapat dilakukan
dengan merebus satu buah delima yang dicampur dengan bawang kucai lalu
merebusnya dengan tiga gelas air, sampai tinggal setengahnya, setelah
dingin, kemudian disaring dan dapat langasung diminum, lakukan dua kali
dalam sehari (Sudijo, 2014).

3. Penyelamat ginjal.
Penelitian di Israel melaporkan, tingginya kandungan antioksidan
polifenol dalam delima dapat mencegah terjadinya komplikasi lanjutan bagi
penderita gagal ginjal khususnya mereka yang sedang menjalani cuci darah.
Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa para penderita penyakit
ginjal yang minum jus delima dapat mengurangi infeksi dan kerusakan sel-
sel ginjal yang disebabkan karena radikal bebas (Sudijo, 2014).

8
4. Sebagai anti bakteri.
Buah delima mengandung zat kimia alkaloid dan tannin yang
mempunyai sifat anti bakteri dan virus dan dapat menambah kekebalan tubuh
seseorang. Pada bagian buah termasuk daging buah serta kulit dapat
mencegah dan mengendalikan virus dan mikroba patogen dalam darah
(Sudijo, 2014).

(Gambar 2. Buah delima)

2. 4. 2. Kulit Buah Delima
Selain daging buahnya dapat langsung dimakan, kulitnya dapat
dimanfaatkan untuk kesehatan kulit, seperti bedak. Cara pembuatan: rendam
kulit delima selama 1 jam dengan air garam (untuk membuang racun yang ada
di kulit buah). Cuci dengan air bersih dan keringkan dengan sinar matahari atau
menggunakan oven (suhu rendah 70°C) supaya khasiatnya tak hilang.
Campurkan dengan sedikit ibu kunyit, sedikit beras yang telah direndam dan
lembutkan. Adonan yang sudah mengental dapat langsung disapukan pada
bagian tubuh yang bermasalah (Sudijo, 2014).

2. 4. 3. Daun Tanaman Delima
Daunnya bermanfaat untuk peluruh haid wanita, mengatasi masalah sakit
perut kembung dan perih. Caranya dengan iris-iris daun delima sebanyak lima
lembar, seduh dengan air panas setengah gelas, biarkan 10 menit lalu minum,
lakukan selama 5 hari (Sudijo, 2014).

9
(Gambar 3. Daun tanaman delima)

2. 4. 4. Bunga Buah Delima
Bunga delima dapat mengobati radang gusi dan bronchitis. Caranya ambil
tujuh kuntum bunga delima rebus dengan satu gelas air sampai mendidih.
Setelah dingin saring dan langsung dipakai untuk kumur-kumur, sedangkan
untuk menghentikan pendarahan dapat dilakukan dengan merebus bunga delima
(20 g) dengan tiga gelas air bersih sampai tersisa setengahnya, minum air
rebusan bunga tersebut dua kali sehari (Sudijo, 2014).

(Gambar 4. Bunga tanaman delima)

10
2. 4. 5. Kulit Akar Delima
Kulit akar dapat mengatasi sakit perut akibat disentri, cacingan, muntah
darah peradangan rahim, radang tenggorokan, radang telinga, dan keputihan.
Caranya ambil 7 g akar delima yang sudah kering, cuci bersih dan potong-
potong seperlunya. Rebus potongan akar tersebut dengan air 1 gelas selama 15
menit, saring, dan minum airnya setelah dingin (Sudijo, 2014).

2. 5. Tinjauaan medis Punica granatum

Pada buah delima mempunyai rasa yang kesat disebabkan oleh kandungan
flavonoid yang tinggi. Peran flavonoid yang penting adalah sebagai antioksidan. Hal
itulah yang menyebabkan delima banyak dimanfaatkan sebagai obat. Buah delima yang
sudah matang mengandung vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.
Kombinasi beberapa kandungan, seperti kandungan gua inverse asam sitrat dan asam
borat, serta asam malat yang terdapat pada buah delima, menyebabkan buah delima
berasa asam manis menyegarkan. Asam malat yang terdapat pada delima juga
bermanfaat memperlancar metabolism karbohidrat. Mineral yang paling dominan
adalah kalium, selain untuk menjaga tekanan osmotic atau hipertensi. Kalium juga
membantu mengaktivasi reaksi enzim (Bagun, 2014).

Dipihak lain, kandungan mineral natriumnya sangat rendah. Hal ini
menguntungkan karenan natrium berpotensi merugikan, yaitu dapat menimbulkan
hipertensi (kebalikan kalium). Hamper semua bagian tanaman delima dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan. Seorang ahli pengobat bangsa Yunani, Dioscorides
yang hidup pada, pertama, memanfaatkan buah delima sebagai obat cacing. Beberpa
penelitiaan menunjukan bahwa tannin yang terkandung pada tanaman delima tidak
hanya aktif sebagai anti bakteri, tetapi juga aktif melawan virus akibat cacar. Buah
delima mempunyai efek ekstrogenik, yaitu menangkal gangguan menopause dan
mencegah kanker pada organ – organ reproduksi (Bagun, 2014).

Dengan minum satu gelas jus delima setiap hari akan diperoleh asupan senyawa
antioksidan polifenol sebanyak 100 mg. senyawa ini dapat melumpuhkan sel kanker
dan memulihkan dinding arteri dari proses pengerasan. Ekstrak bah delima merah
secara in vitro atau di luar tubuh telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang
kuat, sehingga dapat mencegah atau memngobati sel kanker prostat, kanker payudara,

11
dan kanker kolon. Buah delima juga kaya fitosterol yang adalah komponen fitokoima
yang berfungsi menurunkan kadar kolesterol didalam darah dan mencegah penyakit
jantung, sehingga dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Fitosterol juga mempunyai
manfaat bagi penderita diabetes. Mengkonsumsi fitosterol dalam jumlah yang cukup
diketahui dapat menjaga keseimbangan gula darah. Buah delima juga berguna bagi
peningkatan kekebalan tubuh (Bangun, 2014).

12
BAB III
PENUTUP

3. 1. Kesimpulan
1. Delima (Punica granatum L.) merupakan anggota familia Punicaceae yang memiliki
sejarah etnofarmakologi. Di Indonesia dikenal beberapa kelompok delima
berdasarkan warna buahnya yaitu merah, putih, dan hitam. Diantara ketiganya, buah
delima merah adalah yang paling terkenal dan mudah ditemui.

2. Delima (Punica granatum L.) terkenal memiliki banyak kandungan zat aktif pada
beberapa bagian tanamannya, antara lain kandungan kimia kulit buah delima merah
mengandung alkaloid pelletierene, granatin, betulic acid, ursolic acid, isoquercitrin,
elligatanin, resin, triterpenoid, kalsium oksalat dan pati, serta bagian buah delima
merah yang dapat dimakan mengandung 85% air, 10% gula dan 1,5 % pektin, asam
askorbat, dan flavonoid polifenol.

3. Delima (Punica granatum L.) memiliki manfaat sebagai penyedia antioksidan,
pencegah kanker, mencegah komplikasi gagal ginjal, dan sebagai antibakteri yang
didapat dari buahnya, sebagai kesehatan kulit dan peluruh haid wanita yang didapat
dari kulit buah delima, mengobati radang gusi dan bronchitis yang didapat dari dari
bunga tanaman delima, serta mengobati sakit perut akibat disentri, cacingan dan
keputihan yang didapat dari akar tanaman delima.

13
DAFTAR PUSTAKA

Bagun, A. 2014. Ensiklopedia Jus Buah Dan Sayur Untuk Penyembuhan. Bandung:
Indonesia Publishing House.

Budka,F. 2008. Active Ingredients, Their Bioavailibility and The Health Benefit of Punica
Granatum Linn (Pomegranate). Accessed : 1 Juni 2017.

Burapadaja, S. and A. Bunchoo. 1995. Antimicrobial activity of tannins from Terminalia
citrine. Planta Medica, 61: 365.

Desmond, T. 2000, Tropical Fruit of Indonesia, Archipelago Press.

Kusumo, D.A. 2013, Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal
(KBM) Ekstrak Buah Delima Merah (Punica granatum linn) terhadap Enterococcus
faecallis. Surabaya : Universitas Airlangga.

Lansky, E.P., Newman, R.A. 2007, Punica Granatum (Pomegranate) and It’s Potential for
Prevention and Treatment of Inflammation and Cancer. J Ethnopharmacol. Ed. 109, No.
2, hlm : 177-206.

Madhawati, R. 2012, Si Cantik Delima (Punica granatum) Dengan Sejuta Manfaat
Antioksidan sebagai bahan Alternatif Alami Tampil Sehat dan Awet Muda‘, Universitas
Negeri Malang, Malang.

Sugianto dan Lidyawati, N. 2011, Pemberian Jus Delima Merah (Punica granatum) Dapat
Meningkatkan Kadar Glutation Peroksidase Darah Pada Mencit (Mus musculus)
Dengan Aktivitas Fisik Maksimal. Tesis : Program Magister, Program Studi ilmu
Biomedik, Program Pascasarjana. Denpasar : Universitas Udayana.

Savitri, E.S. 2008, Rahasia Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Islam, UIN Press, Malang.

Smullen, J., Finnei, M., Storey, D.M., and Foster, H.A. 2012, Prevention of Artificial Dental
Plaque Formation in vitro by Plant Extracts. Journal of Applied Microbiology, Centre
for Parasitology and Disease Research, School of Environment and Life Sciences,
University of Salford, Manchester, M54WT, U.K.

14
Sudijo. 2014. Sekilas Tanaman Delima Dan Manfaatnya:
http://www.punicagranatum.iptekhortikultura.org diakses: 1 Juni 2017.

15