You are on page 1of 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan,
peningkatan kesehatan ( promotif ), pencegahan penyakit ( preventif ), penyembuhan
penyakit ( kuratif ) dan pemulihan kesehatan ( rehabilitatif ) yang dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Rumah sakit sebagai salah satu dari sarana kesehatan dituntut untuk dapat
memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang berlaku. Layanan
yang bermutu merupakan layanan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa
pelayanan. Untuk itu harus dilakukan penyelengaraan layanan kesehatan sebaik-baiknya
diantaranya terbebas dari infeksi dan cedera.
Sterilisasi sentral sebagai salah satu unit penunjang pelayanan di rumah sakit secara
struktural berada di bawah Instalasi Farmasi yang bertugas menyediakan barang berupa
instrumen, linen dan bahan steril lainnya untuk digunakan di unit pelayanan pasien.
Sesuai dengan paradigma Patient Safety maka sterilisasi sentral mempunyai peranan
yang penting dan mendukung dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah
sakit. Kejadian infeksi nosokomial dan infeksi silang akibat penggunaan instrumen dan
bahan yang tidak steril pada pasien diharapkan tidak terjadi ( nol kejadian ).
Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka sebagai salah satu upaya agar rumah
sakit dapat melaksanakan pengendalian infeksi nosokomial dengan baik dan terarah
diperlukan adanya pedoman pelayanan sterilisasi sentral di rumah sakit.

B. Tujuan
1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan sterilisasi di rumah sakit
2. Untuk meningkatkan mutu pelayanan sterilisasi di rumah sakit
3. Untuk mengurangi terjadinya infeksi nosokomial yang diakibatkan alat medik dan
linen yang tidak steril
4. Untuk mencegah terjadinya infeksi silang baik kepada pasien maupun petugas
5. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional

2

C. Ruang Lingkup Pelayanan
Ruang Lingkup Pelayanan Sterilisasi meliputi pelayanan sterilisasi alat medik dan linen
dari semua ruangan yang sudah melalui proses dekontaminasi, pencucian dan
pengemasan serta pengemasan ulang bahan dan alat yang digunakan secara
disposible.

D. Batasan Operasional
1. Autoklaf adalah alat sterilisasi yang digunakan dengan sistem uap bertekanan
2. Dekontaminasi adalah proses atau rangkaian proses untuk mengurangi jumlah
pencemar mikroorganisme atau substansi lain yang berbahaya sehingga aman
untuk proses selanjutnya
3. Desinfeksi adalah proses inaktivasi mikroorganisme melalui sistem termal ( panas )
atau kimia.
4. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh di rumah sakit, pada saat masuk
Rumah sakit tidak ada tanda / gejala atau tidak dalam masa inkubasi.
5. Indikator biologi adalah sediaan berisi sejumlah tertentu mikroorganisme spesifik
dalam bentuk spora yang paling resisten terhadap suatu proses sterilisasi tertentu
dan digunakan untuk menunjukkan bahwa sterilisasi telah tercapai.
6. Indikator kimia adalah suatu alat berbentuk strip atau tape yang menandai terjadinya
pemaparan sterilan pada obyek yang disterilkan, ditandai dengan perubahan
warna.
7. Indikator mekanik adalah indikator yang ditunjukkan oleh alat pengukur tertentu
pada mesin sterilisasi untuk menunjukkan mesin berjalan normal.
8. Steril adalah kondisi bebas dari semua mikroorganisme termasuk spora
9. Sterilisasi adalah proses menghilangkan semua mikroorganisme (bakteria, virus,
fungi dan parasit) termasuk endospora bakteri.
10. Sterilan adalah zat yang mempunyai karateristik dapat mensterilkan.
11. Unit sterilisasi adalah unit yang memberikan pelayanan sterilisasi pada semua unit
di rumah sakit yang memerlukan alat medik dan atau linen dalam kondisi steril

E. Landasan Hukum
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit

8 Tahun 1999 .A/MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah sakit 6. 5. Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi ( Central Sterile Supply Departement / CSSD ) Di Rumah Sakit Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan No. Undang-Undang Republik Indonesia No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan 4. 3 3.2009 7. 1165. Keputusan Menteri Kesehatan No. 207/MENKES/2007 tentang Pedoman Manajerial PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya.

Ka Sub CSSD S1 Kep 3 tahun In house Training 1 PPI. Sub. disiplin. dedikasi yang tinggi dan mampu bekerja dalam tim  Mampu mengoperasional kan komputer minimal Word dan Excell  Mempunyai perhatian dan keahlian dalam kebersihan dan kerapian ruangan B. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA Kualifikasi Pengalaman dan diperlu No Nama Jabatan Formal Sertifikat Kualifikasi Utama kan 1. DISTRIBUSI KETENAGAAN Kualifikasi No Nama Jabatan ∑ ada Formal Masa Kerja Sertifikat 1. S1 Pelatihan PPI  Pengalaman 3 1 Kamar steril keperawatan tahun 2. 3 Pelaksana SMA 2 tahun In house training PPI 3 Sterilisasi Sentral . 4 BAB II STANDAR KETENAGAAN A. Ka. Pelaksana  SMA  In house  Sehat jasmani 3 Sterilisasi training PPI dan rohani Sentral  Memiliki prestasi yang baik.

Pelayanan Sterilisasi Sentral dilakukan dalam 1 shift yaitu pada pukul 07. PENGATURAN JAGA 1. Pengaturan Jaga Sterilisasi Sentral dengan jumlah petugas hanya 4 orang BAB III STANDAR FASILITAS A.00 – 15. 5 C.00 WIB 2. DENAH RUANGAN .

Loket serah terima alat linen steril 5. Adapun fasilitas tersebut antara lain : . 6 Denah Ruangan sesuai SK Penetapan Denah Ruang Rumah Sakit Bhayangkara Tiingkat III Kendari dimana Ruang Sterilisasi Sentral berada didalam gedung Instalasi Bedah Sentral . 2M 3 4 3M 5 2 1 Keterangan : 1. Perendaman dan Pencucian 2. Penyimpanan B. Pemilahan / pengepakan/pemberian label 3. STANDAR FASILITAS Fasilitas pelayanan Unit Sterilisasi diharapkan memenuhi standar ideal sehingga mampu memberikan pelayanan paripurna yang optimal. Sterilisasi 4.

appron) 2. Rak penyimpanan berlubang ( tray ) berjarak minimal 25 cm dari lantai. Fasilitas yang harus tersedia antara lain : a. Meja 3. Alat tulis b. Loket serah terima instrumen / bahan steril c. goggle ) 4. gas ) c. masker. Mesin sterilisasi untuk instrumen tahan panas ( kering dan uap panas ) b. Ruang Penyimpanan a. Termometer ( Suhu 18-22 ⁰C ) c. label c. Mesin sterilisasi untuk instrumen tidak tahan panas ( suhu rendah. Ruang Sterilisasi Ruang sterilisasi merupakan ruang tempat berlangsungnya proses sterilisasi. Fasilitas yang harus tersedia antara lain: a. 7 1. Adapun fasilitas yang ideal tersedia antara lain : a. Bahan habis pakai sesuai jenis c. Termometer ruang d. Buku catatan administrasi serah terima . Alat pelindung diri (sarung tangan. 44 cm dari plafon dan 5 cm dari dinding b. Serbet kering d. Bak pencucian dilengkapi kran mengalir b. Loket serah terima instrumen / bahan nonsteril b. google. Ruang Pengemasan Ruang pengemasan digunakan untuk mengemas instrumen dan bahan-bahan lain yang digunakan sebagai produk steril. Manometer ( udara ruang penyimpanan bertekanan positif ) 5. Laci plastik ( tempat bahan habis pakai pengemas dan label ) d. Alat pelindung diri ( sarung tangan tahan panas. Ruang Dekontaminasi dan pencucian Ruang dekontaminasi dan pencucian digunakan untuk mengelompokkan instrumen berdasarkan teknik pencucian dan jenis instrumen. Ruang Serah Terima a.

Ruang Serah Terima a. Alat Sterilisasi Uap ( Autoklaf ) b. Trolly tertutup untuk barang non steril b. Termometer c. label c. Dilengkapi dengan fasilitas : a. Telepon 2. Fasilitas yang harus tersedia antara lain : a. Alat tulis b. Ruang Administrasi dan pengemasan Ruang ini digunakan untuk pengemasan bahan dan alat yang dikemas dengan paper plastik serta bahan yang dipakai secara disposible. Loket serah terima instrumen / bahan steril 6. Fasilitas distribusi Trolly untuk distribusi barang bersih dan barang steril 1 buah . Pengukur kelembapan 5. 8 6. Meja 4. Lemari ( tempat bahan habis pakai pengemas dan label ) d. Loket serah terima instrumen / bahan nonsteril b. Trolly tertutup untuk barang steril Untuk memberikan pelayanan yang optimal Unit Sterilisasi Sentral Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari berusaha melengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang sesuai standar yang kedepannya akan disesuaikan dengan perkembangan pelayanan sterilisasi di Rumah Sakit yaitu : 1. Fasilitas Distribusi a. Laci administrasi (penyimpan lembar dan buku administrasi serta bahan habis pakai ) b. Ruang Pengemasan Ruang pengemasan digunakan untuk mengemas instrumen dan bahan-bahan lain yang digunakan sebagai produk steril. Alat Sterilisasi Panas Kering ( Oven Memert ) 3. Ruang Sterilisasi a. Rak / tray penyimpanan sementara b. Ruang Penyimpanan a.

Pemisahan terhadap benda-benda tajam dalam wadah yang tidak tembus. dikumpulkan dan dibawa ke ruang dekontaminasi sedemikian rupa sehingga menghindari kontaminasi terhadap pasien. e. c. 1. Alat-alat yang tidak dipakai dan tidak terbuka dapat langsung disteril ulang untuk selanjutnya didistribusi ke ruangan. proses sterilisasi dan distribusi barang steril ke ruangan. Pelayanan sterilisasi meliputi pengambilan bahan non steril di ruangan-ruangan. pekerja dan fasilitas lainnya. Dekontaminasi ini bertujuan untuk melindungi pekerja yang bersentuhan langsung dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit. Lama perendaman disesuaikan dengan jenis alat dan . Peralatan yang sudah terkontaminasi harus ditangani. Dekontaminasi Dekontaminasi merupakan proses untuk mengurangi jumlah pencemaran mikroorganisme atau substansi lain yang berbahaya sehingga aman untuk proses selanjutnya. Peralatan pakai ulang dipisahkan dari alat-alat yang bersih dan dari limbah/ buangan di tempat pemakaian oleh pekerja. atau tumpahan selama proses dekontaminasi Dekontaminasi dilakukan dengan perendaman bahan atau instrumen dalam cairan dekontaminan. b. d. PELAYANAN STERILISASI Unit sterilisasi melayani proses sterilisasi semua unit yang membutuhkan. Perencanaan Pelayanan dilakukan dalam satu shif sehingga setiap ruangan harus membuat perencanaan jumlah instrumen sebelumnya untuk mencukupi kebutuhan pelayanan di ruangan masing-masing. Peralatan yang terkontaminasi dibungkus dalam kantong tertutup dan segera dibawa ke ruang dekontaminasi untuk menghindari kontaminasi selama proses transportasi dan menghindari kotoran yang mengering sehingga sukar dibersihkan. 2. Petugas harus menggunakan APD untuk menghindari cipratan. Untuk proses dekontaminasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. 9 BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN A.

Hal . Untuk memulai pembersihan. 5. menampung alat- alat yang dipakai ulang dalam sterilisasi sampai pada saat penyimpanan dan pemakaian. Bahan-bahan pencuci harus memperhatikan kesesuaian dengan bahan. Pengemasan bertujuan untuk keamanan dan efektifitas perawatan alat dan bahan yang disterilisasi. Pengeringan untuk instrumen tidak berlumen dilakukan dengan lap bersih tidak berserat pada seluruh bagian sehingga tidak menggores alat. Pengeringan Pengeringan merupakan penghilangan sisa-sisa air dari alat yang telah melalui proses pencucian. 10 bahan yang didekontaminasi ±10-15 menit. Sterilan harus dapat menembus bahan yang disterilisasi b. 3. Perendaman di ruan CSSD Rumah sakit Bhayangkara TINGKAT III KENDARI menggunakan Aniosym DD1. Disortir berdasarkan metode pembersihan c. Pencucian merupakan satu rangkaian dengan dekontaminasi sehingga masih dilakukan di masing-masing ruang perawatan. Dekontaminasi di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari dilakukan di CSSD. 4. alat-alat harus : a. Pengemasan Pengemasan adalah proses untuk membungkus. Hal ini karena uap sterilisasi atau gas tidak dapat menembus alat bila masih dilapisi kotoran. mengemas.hal yang harus diperhatikan dalam pengemasan antara lain : a. Sebaiknya mengikuti rekomendasi produsen pembuat alat sehingga pencuci dapat menghilangkan residu kotoran organik tanpa merusak alat. alat dan metode pencucian. protein atau lemak. Diperhatikan pelepasan sambungan bila merupakan alat rakitan b. Pencucian Semua alat-alat yang dipakai ulang harus dicuci hingga benar-benar bersih sebelum didesinfeksi atau disterilkan. Sedangkan untuk alat berlumen pengeringan dibantu dengan menggantung alat pada posisi tegak tanpa lekukan. Pencucian dilakukan dengan teknik manual dengan pembilasan dengan air mengalir. Pengemas harus dapat menjaga sterilitas isinya hingga kemasan dibuka .

00 dan distribusi barang steril jam 12.00 8. Pelabelan ini dimaksudkan untuk identifikasi kepemilikan alat dan bahan dari masing-masing ruangan sehingga menghindari tertukar. dimana panas akan diabsorbsi oleh permukaan luar dari alat yang disterilkan lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai.00 . a. No. Gelombang II : penyetoran alat-alat jam 12.10.00 -13. b. Petunjuk Teknis pemakaian alat harus tersedia di alat tersebut. Sterilisasi panas kering Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas.Harus mudah dibuka dan isinya mudah diambil tanpa menyebabkan kontaminasi 6. Gelombang I : penyetoran alat-alat jam 08. Uap dapat membunuh mikroorganisme melalui denaturasi dan . Sterilisasi panas basah Proses sterilisasi panas basah merupakan sterilisasi dengan menggunakan uap panas. Batch sterilisasi dan masa kadaluwarsa dimaksudkan untuk memudahkan penelusuran apabila terjadi penarikan alat dan bahan yang diketahui tidak steril di kemudian hari. Sterilisasi panas kering membutuhkan suhu yang sangat tinggi sehingga tidak cocok untuk bahan dari karet dan beberapa jenis kain.00 dan distribusi barang steril jam 15.00-13. Oleh karena itu sterilisasi panas kering hanya digunakan untuk kondisi yang mendesak. Sterilisasi panas kering digunakan untuk alat-alat atau bahan dimana steam tidak dapat berpenetrasi secara mudah atau untuk peralatan terbuat dari kaca. Pelabelan berisi identitas kepemilikan dan no batch serta masa kadaluwarsa. Pelabelan Pelabelan merupakan pemberian identitas pada alat atau bahan yang disterilkan. 7.00 b. Sterilisasi Metoda sterilisasi yang digunakan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari adalah sterilisasi panas kering dan sterilisasi panas basah. Serah terima Serah terima barang non steril dan steril dilakukan dalam dua gelombang yaitu: a. 11 c.

Proses sebelum sterilisasi ( pre sterilisasi ) juga menentukan keberhasilan sterilisasi. 10. 9. Barang steril disimpan dalam rak kawat ( tray ) sampai barang didistribusikan. memudahkan uap untuk berpenetrasi ke dalam kemasan dan akan mencegah terbentuknya kondensat berlebihan yang dapat menyebabkan terjadinya kemasan basah. barang-barang steril hanya boleh ditangani setelah mengalami pendinginan secara sempurna. 12 koagulasi sel protein secara irreversible. teknik penataan barang dalam mesin ikut menentukan keberhasilan proses sterilisasi. Pendistribusian alat dan bahan steril dilakukan diambil oleh ruangan masing – masing sesuai dengan jumlah yang disetorkan pada waktu yang telah ditentukan 11. Penyimpanan Penyimpanan pada unit sterilisai dilakukan sebelum barang steril didistribusikan ke ruangan. Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari saat ini menggunakan mesin sterilisasi uap tipe gravitasi. . Pengisian chamber mesin dengan barang sebaiknya 75% dari kapasitas chamber. Pada saat proses pendinginan barang steril tidak boleh diletakkan pada permukaan logam karena akan terjadi kondensasi pada barang sehingga terjadi rekontaminasi. Untuk mencegah masuknya lembab (dapat membawa mikroorganime) ke dalam kemasan. Distribusi. Pemakaian Sebelum pemakaian harus dipastikan barang-barang steril tidak mengalami kerusakan kemasan dan tidak melewati masa kadaluwarsa. Barang steril harus disimpan dalam rak kawat sampai dingin. Penataan barang yang benar akan memudahkan proses pengosongan udara dari chamber. Pengeluaran barang-barang dari chamber mesin harus menunggu sampai semua uap keluar dari chamber dan barang-barang steril sudah mengalami proses pendinginan. Pada sterilisasi uap. Penyimpanan di ruangan dilakukan pada tempat yang jauh dari lalu lintas karyawan dan pasien dengan suhu yang terkontrol. Untuk identifikasi penggunaan instrument dan untuk memudahkan penelusuran harus dilakukan pengarsipan No batch instrumen yang digunakan pada status pasien.

Adapun data yang dokumentasikan antara lain : a. Catatan monitoring mutu Data dan laporan tersebut untuk evaluasi kinerja serta sebagai gambaran aktivitas dan beban kerja di sterilisasi . 13 12. Administrasi dan Pelaporan Merupakan proses pendataan dan pelaporan kegiatan pelayanan sterilisasi. Penggunaan dan kapasitas sterilisasi setiap mesin c. Jenis instrumen dan bahan yang disterilkan b. Proses serah terima instrumen / bahan non steril dan steril dengan ruangan d.

Bahan Non linen. linen di kemas oleh Loundry . Alur kerja ALUR KERJA STERILISASI BAHAN-BAHAN NON STERIL Linen Alat Kesehatan Instrumen. 14 B. bahan lain Proses Dekontaminasi dan pencucian Proses Dekontaminasi dan pencucian Pengeringan Pengeringan Distribusi kepada Unit Terkait Loundry Pengemasan Pemberian Identitas Pengemasan CSSD Pemberian Identitas Unit Sterilisasi Prosedur Sterilisasi → Unit Terkait ( Kering Uap Penyimpanan Distribusi ke Unit Terkait ( * ) kecuali IBS.

Aqua DM Adapun yang dipenuhi oleh logistik umum adalah peralatan tulis dan kantor. Perbekalan farmasi antara lain : 1. Indikator kimia dan indikator biologi 3. Bahan pengemas sterilisasi 2. . Dikarenakan proses permintaan barang ( inden ) pada logistik farmasi dan logistik umum dilakukan pada minggu ke 3 maka unit sterilisasi harus mempunyai stok yang mencukupi sehingga proses sterilisasi dapat berlangsung dengan baik. 15 BAB V LOGISTIK Kebutuhan Logistik Sterilisasi sentral terdiri dari perbekalan farmasi yang dipenuhi oleh Logistik Farmasi dan non perbekalan farmasi yang dipenuhi oleh Logistik Umum.

3. 2. Kejadian Nyaris Cedera/KNC (Near miss). 3. contoh : setelah proses sterilisasi berlangsung diketahui terjadi kesalahan prosedur selama proses sterilisasi akan tetapi instrumen atau linen belum digunakan. contoh : diketahui hasil sterilisasi tidak bagus ( indikator biolgi 2 x 24 jam mengalami perubahan warna ) tetapi pasien tidak mengalami infeksi/cedera. seperti penempelan No. Sebelum pemakaian memastikan bahwa barang steril tidak melewati masa kadaluwarsa. Managemen resiko digunakan untuk mengklasifikasi setiap kejadian yang terjadi selama berlangsungnya sterilisasi dan atau hasil atau akibat yang terjadi atas penggunaan alat atau bahan steril. 16 BAB VI KESELAMATAN PASIEN Unit sterilisasi merupakan unit yang berperan penting dalam usaha pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah sakit. Kejadian Potensial Cedera. contoh : pasien mengalami infeksi luka operasi akibat penggunanan instrumen bedah yang tidak steril ( Kros cek Indikator biologi 2 x 24 jam mengalami perubahan warna ) 2. Membuat dan meningkatkan sistem yang dapat menurunkan risiko yang berorientasi kepada pasien. . Batch Sterilisasi pada status pasien sehingga memudahkan penelusuran kembali apabila ada komplain pada penggunaan di kemudian hari. Konsep patient safety merupakan suatu upaya yang bertujuan mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien. Keselamatan Pasien Dalam Pelayanan Sterilisasi Dalam membangun keselamatan pasien ada beberapa istilah yang perlu difahami dan disepakati bersama. Istilah-istilah tersebut diantaranya yang berkaitan dengan sterilisasi antara lain : 1. 4. Kejadian Tidak Diharapkan/KTD (Adverse Event) I. Strategi untuk meningkatkan keselamatan pasien : 1. Memastikan semua prosedur penanganan bahan steril dilakukan . Untuk menjamin bahwa tujuan tersebut dapat tercapai diperlukan adanya manajemen terhadap setiap proses sterilisasi sehingga tidak menimbulkan kejadian yang membahayakan keselamatan pasien. Melaksanakan manajemen risiko untuk mencegah infeksi silang dan infeksi nosokomial akibat penggunan alat dan atau bahan steril lainnya.

Kros cek di lapangan Kros cek di lapangan dilakukan untuk memastikan kejadian yang ada mempunyai data 3. 17 Monitoring dan Evaluasi yang dilakukan dalam upaya pasien safety di unit sterilisasi antara lain : 1. Adanya sistem pencegahan Membuat suatu sistem untuk mencegah kejadian berulang dan memperkecil kejadian potensial cedera. nyaris cedera maupun kejadian tidak diharapkan 2. Pelaporan kejadian Pelaporan dilakukan oleh siapa saja yang menemukan kejadian atau mendapat informasi dari pasien namun kronologis kejadian dan tindakan pencegahan agar tidak terulang lagi dibahas oleh semua unit yang terlibat. . 4. Pencatatan terhadap setiap kejadian Pencatatan dilakukan oleh petugas sterilisasi baik kejadian potensial.

Proses penyiapan sebelum sterilisasi Sebelum barang melalui proses sterilisasi. google. d. PENCEGAHAN KECELAKAAN PADA PETUGAS Setiap petugas sterilisasi bertanggungjawab terhadap pelaksanaan semua kegiatan secara aman setelah dilakukan pembekalan terhadap bahaya yang mungkin terjadi di sterilisasi. Penerimaaan barang kotor dan daerah dekontaminasi Barang-barang kotor dapat bercampur dengan darah dan cairan tubuh pasien sehingga dapat menyebabkan kontaminasi dan infeksi silang pada petugas. Selain itu barang-barang kotor juga terdiri dari bermacam alat dengan spesifikasi yang berbeda- beda seperti benda tajam. Kecelakaan dapat dihindari dengan mengetahui potensi bahaya yang ditimbulkan. seperti : sarung tangan. Saat pengoperasian harus dilakukan dengan hati-hati 3. Langkah pencegahan adalah : a. 2. Cuci dan sikat instrumen dalam bak pencuci untuk mencegah terbentuknya aerosol yang dapat terhirup. Hal ini dapat membuat luka yang akhirnya dapat memungkinkan masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh sehingga menyebabkan terjadinya penyakit. appron. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain : a. Tidak boleh memasukkan tangan ke dalam wadah berisi barang terkontaminasi tanpa dapat melihat secara jelas isinya. 18 BAB VII KESELAMATAN KERJA A. Penggunaan mesin selama proses sterilisasi Luka yang dapat terjadi selama proses sterilisasi meliputi luka bakar pada kulit maupun membran mukosa akibat terpapar panas atau tersentuh badan mesin . Resiko bahaya yang dapat terjadi di Unit Sterilisasi Sentral antara lain : 1. Pisahkan benda tajam dari instumen atau bahan lain dan posisikan benda tajam menghadap ke bawah sehingga dapat mencegah kemungkinan terjadinya luka pada petugas c. b.. Mengikuti rekomendasi pabrik dalam penggunaan bahan kimia (dekontaminan) dan gunakan Alat Pelindung Diri. pisau dan jarum. maka barang melalui proses pengemasan. Penggunaan bahan-bahan kimia dalam proses dekontaminasi juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Petugas harus memahami SPO penggunaan alat sealer dengan baik b.

1. percikan larutan pada mata dapat menyebabkan kerusakan berat sampai dengan menetap. 50-100 ppm iritasi akut saluran pernafasan. Selain itu dapat terjadi konslet arus listrik dan letupan akibat tekanan alat yang tinggi apabila mesin tidak pada kondisi bagus. laringospasme Kontak kulit : Iritasi pada kulit Kontak mata : Iritasi dan lakrimasi. Petugas melakukan SPO dengan benar B. batuk. Pengoperasian mesin sterilisasi hanya boleh dilakukan oleh petugas yang sudah mendapat pelatihan tentang prinsip dasar sterilisasi dan cara menggunakan mesin sterilisasi dengan benar. perdarahan Jika terhirup : Iritasi saluran nafas. Formaldehide (Formalin) Formaldehid adalah gas tidak berwarna dengan bau yang sangat menyengat. 4-5 ppm lakrimasi berat. disertai mual. ganggun menstruasi dan kesuburan pada wanita. Memastikan mesin dalam kondisi baik sebelum digunakan. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain : a. Gunakan APD (sarung tangan tahan panas) apabila bekerja dengan alat bersuhu tinggi. Lambat : Iritasi kulit Kronik : Karsinogenik. pada konsentrasi pekat menyebabkan kornea buram dan buta . Formaldehid ada dalam bentuk tablet atau cairan (formalin). Beberapa bahan kimia yang digunakan sebagai DTT bersifat karsinogesik seperti Formaldehid. muntah. Glutaraldehyde. 10-20 ppm susah bernafas. b. kornea buram dan buta Jika tertelan : Menyebabkan luka korosif mukosa gastrointestinal.5-5g/kgBB Akut : 2-3 ppm rasa gatal pada mata. Ortho- phtalaldehyde dan Natrium Hipoklorit. terasa panas pada hidung dan tenggorokan. 19 sterilisasi. nafas berbunyi. sterilisasi juga dapat dilakukan dengan Desinfektan Tingkat Tinggi (DTT). Bahaya kesehatan yang dapat terjadi : Dosis toksik : Dosis letal pada manusia secra oral 0. PENANGANAN ZAT-ZAT KIMIA DI STERILISASI Selain menggunakan mesin. c. Selain bahan karsinogenik beberapa bahan kimia yang digunakan di sterilisasi dan berakibat pada kesehatan antara lain : Alkohol. d.

Alhokol Alkohol merupakan desinfektan yang mempunyai kemampuan bakterisidal. ventilasi dan oksigenasi dan penatalaksaan sirkulasi Tindakan pada pemaparan mata : a. Kontra indikasi untuk induksi muntah dan pemberian karbon-aktif c. Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan adalah : a. untuk anak- anak maksimal 100 cc. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut Tindakan pertolongan pada pemaparan gastrointestinal Pada keracunan formaldehid ringan. ventilasi dan oksigenasi dan penatalaksaan sirkulasi . b. Bahaya yang dapat terjadi adalah terhirup. Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir minimal 10 menit. Jika masih belum yakin bersih. gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan. Segera bawa korban ke keran terdekat b. iritasi mata dan kulit.9% perlahan selama 15-20 menit c. Jangan biarkan korban menggosok mata e. Bawa korban ke ruangan dengan sirkulasi udara yang baik b. Berikan terapi suportif berupa penatalaksanaan jalan nafas. Untuk orang dewasa maksimal 200 cc sekali minum. tuberkulosidal. Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan lakukan irigasi dengan sejumlah air bersih atau NaCl 0. Pada saat memberikan pertolongan. masker dan apron f. Lepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi e. c. Dalam keadaan tertentu. Tutup mata dengan kain kassa steril lalu segera konsultasikan ke dokter Tindakan pertolongan pada pemaparan kulit : a. perlu dilakukan tindakan berikut : a. cuci kembali selama 10 menit d. pemasangan pipa lambung yang lembut dan fleksibel dapat dipertimbangkan setelah pengenceran dan pemeriksaan endoskopi 2. Bawa korban ke ruangan dengan sirkulasi udara yang baik b. 20 Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan : a. Tengadahkan kepala dan miringkan ke sisi mata yang terkena b. Segera beri pasien air atau susu untuk diminum secepat mungkin untuk pengenceran. Jika tidak tersedia air. sekalah bagian kulit dengan kain atau kertas perlahan d. Bila terhirup berikan terapi suportif berupa penatalaksanaan jalan nafas. fungisidal dan virusidal.

terasa perih. Pemaparan mata : cuci dengan air sebanyak mungkin selama 15 menit b. korosif. alergi. perih.9% perlahan selama 15-20 menit. iritasi saluran pernafasan. bila belum yakin bersih tutup mata dengan kain kasa dan konsultasikan ke dokter. cuci baju yang terkena. dan edema paru-paru. mual. Bahaya kesehatan yang dapat terjadi : Inhalasi : bila terhirup. Bahaya kesehatan yang dapat terjadi : Inhalasi : bila terhirup menyebabkan sulit bernafas. muntah. Bila terjadi pemaparan kulit. Kontak mata : kemerahan mata. muntah. batuk. Glutaralhedyde dan Ortho-phtalaldehyde Glutaraldehyde dan Ortho-phtalaldehyde tidak bersifat karsinogenik. kering. Pemaparan kulit : cuci dnegan air dan sabun. batuk. tenggorokan akan terasa sakit. 3. segera cuci bagian kulit yang terkena dengan air mengalir. iritasi local dan erupsi. dada dan perut. Bila terpapar pada mata tengadahkan kepala dan miringkan ke sisi mata yang terkena. Pada konsentrasi lebih pekat nyeri menelan. sesak. iritasi mulut dan faring. sakit kepala Kontak kulit : iritasi. bila sulit bernafas segera bawa ke tenaga medis d. Tertelan : cuci mulut diikuti minum air sebanyak mungkin. Buka kelopak mata yang terkena dan irigasi dengan air bersih atau NaCl 0. d. Pemaparan inhalasi : pindahkan ke tempat dengan sirkulasi udara baik. berkerak Kontak mata : kemerahan mata Tertelan : iritasi saluran pencernaan. segera bawa ke tenaga medis bila iritasi berkembang c. diare Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan : a. . Kontak kulit : terjadi pada permukaan kulit. jangan dimuntahkan 4. rasa sakit parah pada tenggorokan. 21 c. Bahan ini mempunyai sifat yang mudah terbakar. penglihatan jadi kabur Tertelan : pada konsentrasi zat 3-5% mulut dan tenggorokan terasa terbakar. Natruim hiprklorid Natruim hipoklorit pada konsentrasi > 20% bersifat korosif dan bila tertelan akan bahaya karena bila kontak dengan asam lambung akan melepaskan asam klorat serta gas klor yang bila terhirup akan menyebabkan kerusakan paru-paru. edema faring dan laring serta mual. salivasi.

9% perlahan selama 15-20 menit c. Dalam keadaan tertentu. Pada saat memberikan pertolongan. dan penatalaksanaan sirkulasi. Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir minimal 10 menit. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut Tindakan pertolongan pada pemaparan gastrointestinal a. Pengenceran dengan demulsen seperti susu atau antasida . d. Jika masih belum yakin bersih. Tutup mata dengan kain kassa steril lalu segera konsultasikan ke dokter Tindakan pertolongan pada pemaparan kulit : a. cuci kembali selama 10 menit d. Tindakan pertolongan pada pemaparan mata : a. Bawa korban ke ruangan dengan sirkulasi udara baik b. 22 Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan : a. untuk anak- anak maksimal 100 cc. Kontra indikasi untuk induksi muntah dan pemberian karbon aktif c. pemasangan pipa lambung yang lembut dan fleksibel dapat dipertimbangkan setelah pengenceran dan pemeriksaan endoskopi. Lepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi e. b. masker dan apron f. Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan lakukan irigasi dengan sejumlah air bersih atau NaCl 0. Segera bawa korban ke keran terdekat b. Tengadahkan kepala dan miringkan ke sisi mata yang terkena b. Berikan terapi suportif berupa penatalaksanaan jalan nafas. Segera beri pasien air atau susu untuk diminum secepat mungkin untuk pengenceran. Untuk orang dewasa maksimal 250 cc sekali minum. Jika tidak tersedia air. c. sekalah bagian kulit dengan kain atau kertas perlahan d. Jangan biarkan korban menggosok mata e. gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan. ventilasi dan oksigenasi dengan oksigen lembab 100%.

Pencatatan setiap aktivitas di sterilisasi 2. Perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan mutu pelayanan sterilisasi. KONTROL KUALITAS STERILISASI Kontrol kualitas dilakukan untuk memberikan jaminan bahwa peralatan medis yang disediakan adalah benar-benar steril. Kontrol Pre sterilisasi Kontrol Pre sterilisasi merupakan kontrol kualitas selama berlangsungnya rangkaian sebelum sterilisasi yang meliputi dekontaminasi. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk kontrol kualitas adalah : 1. 4. Tingkat keberhasilan proses sterilisasi yang ditunjukkan dengan indikator mekanik. Selain itu pengendalian mutu sterilisasi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja serta meningkatkan kepuasan user. 3. Pendataan kejadian yang tidak diharapkan ataupun potensial cedera melalui komplain. Tidak adanya keluhan dari pelanggan atau pengguna jasa sterilisasi 5. Hal penting dalam pengemasan adalah pelabelan yang diantaranya adalah : a. 23 BAB VIII PENGENDALIAN MUTU Pengendalian mutu sterilisasi sentral dilakukan dalam upaya menjamin hasil sterilisasi yang berkualitas dan mencegah infeksi akibat penggunaan bahan dan atau instrumen tidak steril. 2. Pemberian nomor Batch pada setiap kemasan Setiap kemasan yang disterilkan harus mencantumkan identitas berupa nomor batch yang mencakup mesin sterilisasi dan siklus keberapa dari mesin sterilisasi.Oleh karena itu perlu dilakukan monitoring proses sterilisasi untuk menjamin bahwa parameter-parameter yang ditentukan dalam proses sterilisasi sudah terpenuhi dengan baik. Indikator mutu pelayanan sterilisasi yang dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari meliputi: 1. Efektifitas penggunaan kapasitas mesin sterilisasi. pencucian. A. Tingkat keberhasilan uji mikrobiologi yang dilakukan secara sampling dan berkala 3. Angka kejadian infeksi yang diduga akibat penggunaan alat dan bahan yang tidak steril. . pengeringan dan pengemasan. Kegiatan pengendalian mutu dilakukan melalui evaluasi yang dilakukan dengan cara : 1. Kontrol kualitas ini dilakukan dengan memastikan bahwa seluruh prosedur telah dilakukan dengan benar melalui monitoring ceck list pre sterilisasi.

Waktu kadaluwarsa tiap-tiap barang berbeda-beda sesuai kemasan ( linen. 2. Suhu d. 24 Tujuan pemberian nomor batch ini adalah untuk memudahkan pada saat melakukan penarikan kembali kemasan yang sudah didistribusikan. Indikator fisika ( mekanik ) Indikator ini menunjukkan keadaan alat steril berfungsi dengan baik atau tidak. JENIS-JENIS INDIKATOR STERILISASI Kontrol kualitas menggunakan indikator merupakan salah satu bagian kontrol pada proses sterilisasi. Kontrol dengan indikator ini dimaksudkan bahwa suatu barang telah melalui proses sterilisasi yang sempurna. Indikator mekanik merupakan fungsi penting dari sistem monitoring sterilisasi. Kontrol kualitas Post Sterilisasi Kontrol kualitas post sterilisasi dilakukan dengan pengecekan secara visual dengan cara melihat bentuk dan kondisi fisik barang serta perubahan indikator mekanik. kertas atau paper plastik ). Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa barang yang akan digunakan masih terjamin sterilitasnya. Bila terdapat kerusakan pada pembungkus atau adanya perubahan fisik barang. Waktu sterilisasi c. b. Waktu kadaluwarsa akan ditentukan sesuai uji kadaluwasa yang dilakukan secara berkala. namun belum menunjukkan bahwa barang tersebut telah bebas dari mikroorganisme( tidak menunjukkan bahwa barang telah steril ). . 3. Data hasil indikator mekanik Tujuan dokumentasi ini adalah untuk monitoring proses dan memastikan bahwa parameter pada setiap siklus proses sterilisasi telah tercapai dan dapat menjadi bahan evaluasi. Nomor batch b. maka barang tersebut dianggap tidak steril dan tidak dapat digunakan lagi sehingga harus dikemas dan disterilisasi ulang. Kontrol proses sterilisasi Kontrol proses sterilisasi dilakukan dengan pendokumentasian data atau informasi mesin selama siklus sterilisasi antara lain : a. Ada 3 jenis indikator untuk kontrol proses sterilisasi : 1. B. Waktu kadaluwarsa Setiap kemasan steril harus diberi label yang menunjukkan waktu kadaluwarsa. Nama petugas e.

Keterbatasan : a. gas atau radiasi sehingga barang harus disteril ulang. Indikator kimia eksternal atau tape ini dapat juga digunakan sebagai pengikat. maka bila tidak dilakukan kalibrasi alat dengan tepat atau pemakaian yang terlalu sering dapat memberikan informasi yang tidak tepat. Warna kuning muda dan garis miring ( warna lebih muda ) pada tape akan berubah menjadi coklat sampai hitam. Pada saat ini Rumah Sakit Bhayangkara TingkatIII Kendari masih menggunakan indikator mekanik yang ditempel pada setiap kemasan. Memberikan informasi adanya masalah apabila alat rusak dan segera diperbaikI. Kegunaan : a. 25 Indikator sterilisasi Steam ( Autoklaf ) meliputi waktu. Memberikan informasi segera mengenai suhu. Indikator kimia Indikator kimia adalah indikator yang menandai adanya paparan sterilisasi pada benda yang disterilkan ( misal radiasi panas. tekanan dan waktu yang sedang berlangsung dari alat b. Indikator mekanik tidak menunjukkan bahwa keadaan steril sudah tercapai melainkan hanya memberikan informasi secara cepat tentang fungsi alat sterilisasi. Oleh karena itu monitoring dengan parameter mekanik saja tidak cukup. Bila indikator tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan yang semestinya. Keterbatasan indikator eksternal adalah informasi hanya pada bagian luar tetapi tidak menunjukkan adanya penetrasi sterilan ke dalam kemasan bagian dalam. . sehingga selain digunakan di luar juga digunakan di dalam kemasan. gas. Sedangkan indikator sterilisasi panas kering ( Oven memert ) meliputi suhu dan waktu. b. uap panas ) dengan adanya perubahan warna. harus didukung oleh indikator yang lain. Indikator kimia Eksternal Indikator kimia eksternal berbentuk tape ( selotip ) dan digunakan di bagian luar kemasan. maka barang tidak terpapar sempurna oleh uap. Karena bersifat mekanis. Perubahan warna ini memberikan informasi bahwa bagian luar kemasan sudah melalui proses sterilisasi dan sudah terpapar sterilan. Indikator kimia memberikan informasi tercapainya kondisi steril pada tiap kemasan. suhu dan tekanan. 2. a.

Indikator Biologi Indikator biologi merupakan sediaan yang berisi populasi mikroorganisme spesifik dalam bentuk spora yang resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan terukur dalam suatu proses sterilisasi tertentu. Apabila diberikan sinar ultraviolet. . Perubahan warna pada indikator kimia internal memberikan informasi bahwa benda dalam kemasan sudah terpapar sterilan. Apabila selama proses sterilisasi spora-spora tersebut terbunuh. 3. Indikator kimia Internal Indikator kimia internal berbentuk strip dan pemakaiannya diletakkan dalam setiap kemasan. C. Sistem ini bekerja berdasarkan interaksi enzim dalam spora dengan bahan yang ada dalam media pertumbuhan. Pembacaan teknik konvensional Indikator biologi berupa vial tertutup yang mengandung strip spora beisi media pertumbuhan yang mengandung zat warna. 26 b. Cara kerja indikator ini adalah dengan mensterilkan spora hidup mikroorganiseme yang non patogen dan resisten dalam jumlah tertentu. Untuk sterilisasi uap panas digunakan Bacillus Stearothermophyllus sedangkan sterilisasi panas kering dan Etilen Oxide digunakan Bacillus subtilis. Pembacaan dengan mesin pembaca cepat ( rapid reader ) Vial indikator biologi setelah keluar dari mesin sterilisator dimasukkan dalam alat pembaca cepat ( Reader ). Rumah Sakit Bhayangkara TINGKAT III KENDARI belum menggunakan indikator biologi untuk Autoklaf berbentuk ampul. maka dapat diasumsikan bahwa mikroorganisme lain juga terbunuh. Setelah keluar dari mesin sterilisator. INTERPRETASI HASIL INDIKATOR BIOLOGI Ada 2 macam pembacaan hasil indikator biologi 1. Indikator biologi tersedia untuk metode sterilisasi uap panas. hasil positif akan memberikan fluororesensi. Pada saat ini Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari masih menggunakan indikator kimia eksternal yang ditempel pada setiap kemasan. Selama inkubasi ini media tumbuh akan bercampur dengan bakteri. Indikator biologi ini dapat berupa ampul atau strip berkantong. 2. apabila bakteri hidup maka pada media pertumbuhan akan terjadi pembentukan asam dan bila asam ini terakumulasi dalam jumlah yang cukup dapat mengubah pH dan warna ampul menjadi kuning ( awal berwarna ungu ). gas Etilen Oxide dan panas kering. maka tidak akan terjadi perubahan warna. ampul dipecahkan kemudian dimasukkan dalam inkubator ( 57 ⁰C) selama 2 x 24 jam. Sebaliknya bila selama proses sterilisasi spora terbunuh .

Peningkatan mutu pelayanan sterilisasi akan mendapat hasil yang optimal dengan adanya dukungan dari semua pihak yang terkait. Adanya umpan balik yang bersifat membangun dari semua pihak di setiap tahapan proses sangat diperlukan sehingga selalu mengalami peningkatan mutu. . Sehubungan dengan tidak adanya laboratorium mikrobiologi maka Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari merencanakan untuk mengirim uji mikrobiologi pada Laboratorium Kesehatan Daerah Surabaya dan dilakukan minimal 6 bulan sekali. KONTROL KUALITAS DENGAN UJI MIKROBIOLOGI Untuk memastikan sterilitas suatu bahan diperlukan uji secara mikrobiologi terhadap barang yang telah disterilkan. Adanya fluororesensi ini akan ditangkap oleh alat pembaca dalam waktu 3-4 jam. 27 Bila tidak terjadi fluororesensi maka kondisi sterilisasi telah tercapai. Untuk teknik pembacan Indikator biologi di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari belum menggunakan teknik konvensional sehingga belum bisa melakukan pengamatan D.Uji mikrobiologi ini dilakukan di laboratorium mikrobiologi. .

Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan pedoman ini Ditetapkan di : KENDARI Pada tanggal : Januari 2017 KEPALA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TINGKAT III KENDARI dr.M. SUKARDI YUNUS Sp. harapan kami dengan pedoman ini dapat menjadi pegangan bagi staf yang bertugas di unit sterilisasi maupun unit kerja terkait lainnya dalam melakukan pelayanan sterilisasi sebagai salah satu penunjang pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Kendari Kami menyadari Pedoman Pelayanan Sterilisasi ini masih jauh dari sempurna sehingga Pedoman pelayanan ini akan ditinjau ulang secara berkala dan masukan-masukan yang bersifat membangun masih sangat di harapkan.An.Kes KOMISARIS POLISI NRP 77040990 . 28 BAB IX PENUTUP Demikian telah disusun Pedoman Pelayanan Sterilisasi Rumah Sakit Bhayangkara TINGKAT III KENDARI.