You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

Ulkus pada mulut adalah pengelupasan epitel rongga mulut, dimana pengelupasan ini
mengenai akhiran syaraf pada lamina propria, sehingga menyebabkan rasa nyeri. Ulkus pada
mulut merupakan sebagai manifestasi akhir dari berbagai keadaan. Yaitu kerusakan epitel yang
dikarenakan trauma, gangguan imunologi (HIV dan leukemia), infeksi (herpes, TBC, sifilis),
kanker, dan defisiensi vitamin. Dari keadaan diatas, yang paling sering menyebabkan ulkus pada
mulut adalah trauma. 4

Ulkus pada mulut yang dikarenakan trauma dapat terjadi pada cara menggosok gigi yang
kurang tepat, pemasangan gigi palsu, bibir yang tergigit, subluksasi dari gigi, maupun trauma
karena makanan. Ulkus pada mulut yang dikarenakan hal seperti ini dapat kembali sembuh
segera setelah factor penyebabnya sudah tidak ada atau tidak terkena trauma lagi. Sedangkan
ulkus pada mulut yang merupakan manifestasi dari penyakit sistemik, dapat sembuh jika kita
sudah mengatasi penyakit sistemik tersebut. Pasien yang menderita ulkus pada mulut lebih dari 3
minggu disarankan untuk dilakukannya biopsy atau pemeriksaan penunjang lainnya, untuk
mengeluarkan kemungkinan keganasan.1

Dalam mendiagnosa ulkus pada mulut anamnesa merupakan langkah awal yang penting
untuk menyingkirkan ulkus mulut yang dikarenakan penyakit sistemik, juga riwayat penyakit
dahulu dan riwayat penyakit keluarga. Pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan adalah
biopsy, XRay rongga mulut, dan lain lain.5

Mendiagnosis penyebab umum ulkus pada mulut yang didapatkan pada gejala klinis
termasuk nyeri mulut, bau mulut, rahang bengkak, gigi fraktur, perdarahan gusi, patch tidak
biasa atau ruam di mulut atau di bibir atau lidah. Pada ulkus mulut yang sudah kronis didapatkan
gambaran lingkaran dengan garis keratotik. 1

Pada makalah ini, akan membahas mengenai mouth ulcer karena banyak bentuk,
penyebab dan penampilan klinis mauth ulcer sehingga menambah ilmu pengetahuan kita dalam
mendiagnosis dan memberikan terapi kelainan mouth ulcer.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Ulkus mulut karena trauma

1. Pengertian
Ulkus mulut karena trauma didefinisikan area luka pada kulit atau mukosa dimana terjadi
kerusakan permukaan epitel. Bentuk dan ukuran dari ulkus mulut karena trauma bervariasi.
Biasanya terjadi nyeri dan keluhan ini hilang ketika pasien sudah tidak terkena paparan
factor penyebab.3

2. Etiology

Penyebab yang tersering adalah : iritasi gigi tiruan, cedera gigitan, makanan keras, bahan
kimia, sikat gigi. 3

Gambar 1. Traumatic Ulceration

3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah untuk menghindari factor penyebabnya jika telah diketahui.
Untuk menghilangkan keluhan rasa sakit dapat diberikan anestesi topical seperti Orabase
dengan Benzokain3
4. Prognosis
Ulkus dapat sembuh jika penyebabnya dihilangkan atau diatasi. Ulkus yang tidak sembuh
dalam 2 sampai 3 minggu harus dibiopsi untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan.
8,15

B. Recurrent aphthous stomatitis (RAS)

1. Definisi

Recurrent aphthous stomatitis (RAS) adalah ulkus bulat atau oval pada mukosa
mulut, yang terjadi berulang. RAS dapat mengenai segala usia, dari anak-anak sampai
orang dewasa. Juga paling banyak ditemukan pada kalangan tingkat social ekonomi yang
tinggi. RAS merupakan salah satu inflamasi mukosa oral yang paling menyebabkan rasa
sakit saat makan , menelan, berbicara. 3, 7, 9
2. Etiologi
Status imunitas seseorang dengan predisposisi genetik mempunyai peran penting dalam
ulkus pada mulut. Pada seseorang dengan predisposisi genetik didapatkan 1 dari 3 orang
anggota keluarganya mengidap RAS juga. Beberapa faktor memegang peranan penting dalam
timbulnya penyakit tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain herediter, bakteri, gangguan
endokrin, psikis, trauma, alergi dan juga ditemukan ada hubungan dengan kekurangan vitamin
B12, Asam folat dan zat besi.7,9
1. Herediter
Data yang kami dapatkan 90% dari penderita SAR, kedua orang tuanya
juga menderita SAR 60% dari penderita SAR salah satu orang tuanya menderita
SAR dan hanya 20% dari penderita SAR yang kedua orang tuanya tidak
menderita SAR. 7
2. Bakteri
Dihubungkan dengan kenaikan titer antibodi terhadap streptokokus
sanguis 2A pada pasien SR dibandingkan dengan kontrol. 7

3. Gangguan Imunologi
Didapatkannya penurunan T helper terhadap T supresor/citotoxic
(CD4+/CD8+) pada pasien SAR. Penurunan rasio tersbut disebabkan karena
kenaikan CD8+ dan penurunan CD4+. Pada pasien dengan infeksi virus terutama
virus laten seperti herpes simpleks CD4+/CD8+ mengalami kenaikan.
Meningkatnya perlekatan netrofil pada jaringan akan memperpanjang lamanya
ulserasi. 2,14
Kenaikan dari HLA-A2/ B12 dan HLA B5 antigen tersebut mungkin
berfungsi sebagai reseptor untuk patogenitas. Bila suatu penyakit mempunyai
hubungan dengan antigen HLA maka respon imun memegang peranan penting
pada patogenitas penyakit tersebut. 2,15
4. Gangguan Hormonal
Pada beberapa pasien SAR timbulnya lesi berhubungan dengan periode
Menstruasi. Umumnya timbul pada fase luteal antara fase ovulasi dan menstruasi.
SAR juga akan membaik atau berkurang, pada waktu pasien menopause jarang
dijumpai SAR, pada waktu menstruasi terjadi penurunan kadar estrogen dalam
darah, hal ini menyebabkan keratinisasi mukosa mulut berkurang, sehingga
mudah terbentuk ulserasi. 2
5. Gangguan Psikis
Beberapa pasien mengatakan bahwa lesi bertambah buruk selama adanya
stres atau kecemasan. Peneliti lain melaporkan insiden SAR pada mahasiswa
kedokteran gigi yaitu lesi awal dari SAR pada mahasiswa kedokteran gigi yaitu
lesi awal dari SAR dapat terjadi selama periode kuliah. Penderita SAR
kebanyakan mempunyai kepribadian yang kaku, tidak fleksibel, mudah cemas,
stres merupakan faktor yang memperberat keadaan SAR dari pada sebagi faktor
penyebab. 2
6. Trauma
Berbagai trauma seperti tergigit, sikat gigi, jarum injeksi, makanan,
perawatan gigi, gigi tiruan atau tambalan yang tajam dapat menyebabkan
timbulnya SAR.
7. Alergi
Riwayat penyakit alergi seperti asma, hay fever atau alergi terhadap
makanan dan obat-obatan. Pada beberapa pasien SAR ditemukan adanya kenaikan
serum Ig E yang diikuti dengan adanya riwayat SAR dalam keluarga. Pada pasien
SAR yang menderita alergi terhadap makanan atau obat-obatan maka jenis
makanan atau obat-obatan yang merupakan alergen dapat menjadi pencetus
timbulnya SAR. 2
3. Manifestasi Klinis
Gejala yang muncul biasanya terbatas pada mukosa mulut dan dimulai dengan
gejala prodromal rasa terbakar mulai dari 2 sampai 48 jam sebelum munculnya ulcer.
Selama periode ini akan terbentuk suatu daerah yang hiperemi, yang dalam waktu
beberapa jam kemudian sebuah papula putih yang kecil akan terbentuk, mengalami
ulserasi dan secara berangsur-angsur membesar dalam waktu 48 sampai 72 jam
berikutnya. Masing-masing lesinya berbentuk bulat, simetris dan dangkal ( mirip dengan
ulser oleh virus) , tetapi tidak ada vesikel yang sudah pecah. Mukosa bukal dan labial
paling sering terkena. Lesi ini agak jarang ditemukan pada palatum atau gingiva yang
berkeratinisasi tebal. 7

Gambar 2. Mayor aphtae

RAS memiliki 3 bentuk klinis : 2


Karakteristik Tipe gambaran
Apthae minor Apthae Ulkus
mayor herpetiform

Ukuran (mm) 5-10 >10 <5

Lamanya (hari) 10-14 >2minggu 10-14


Pembentukan skar tidak Ya tidak

Presentase dari semua Apthae 75-85 10-15 5-10

Tabel 1. Karakteristik gambaran klinis RAS.

Gambar 3. Minor aphtae

Gambar 4. Herpetiform aphthae

4. Diagnosa
Diagnosa dari SAR baik dalam bentuk minor maupun mayor pada dasarnya
adalah khas. Yang khas disini adalah pasien dengan rekuren ulser yang simetris, bulat dan
terbatas pada mukosa mulut serta sembuh spontan dengan tidak disertai oleh tanda
ataupun gejala-gejala lainnya. Riwayat dan pemeriksaannya haruslah tidak meliputi lesi-
lesi di kulit, konjungtiva, genetalia, atau rektum. Test-test laboratorium harus dilakukan
untuk mengesampingkan kemungkinan adanya kelainan darah. SAR merupakan pola
yang sering terjadi dan mengganggu kenyamanan pada saat bersamaan melemahkan si
pasien. SAR dapat terjadi sebagai suatu ulser tunggal yang sekali-sekali atau juga
bermanifestasi sebagai suatu lesi ulser berat yang terus meneris tanpa henti. 2
5. Diagnosis banding
Stomatitis aphthous harus dibedakan dari stomatitis herpes. Kambuh adalah fitur
yang membantu untuk membedakan stomatitis aphthous dari infeksi herpes intraoral.
Rekuren intraoral dari infeksi virus herpes jarang terjadi. 2
6. Pengobatan
Pengobatan yang dianjurkan antara lain: 2
1. Vitamin
Mengkombinasikan antara vitamin B1 (Tiamin) dan vitamin B6 ( phyridoxine)
2. Obat Kumur
Klorheksidin glukonat, benzydamine hidrochloride dan carbenoxolone
disodium.
3. Kortikosteroid topikal
Diantara kortikosteroid Topikal yang dipakai adalah hidrokortison
hemisuksinat, triamcinolone acetonide, fluocinonide, bethamethasone sodium
phosphate, betamethasone valerate dan sebagainya. Penelitian baru-bari ini
menyataan topical cyclosporine cukup efektif untuk pengobatan SAR.
4. Antimikroba
Yang biasa dipakai tetrasiklin secara topikal
5. Imunomodulator
Penggunaan levamisole, faktor transfer, colchicine, gammaglobulin, dapsone
dan thalidomide dianjurkan untuk ulserasi yang sangat serius
7. Prognosis
Penyakit ini biasanya di terapi dalam 1 minggu sampai 10 hari. Dan penyakit ini
ada kecenderungan untuk terjadi kekambuhan. 2
C. Ulkus Mulut karena Diabetes Mellitus
1. Pengertian
Banyak penyakit inflamasi dan kelainan jaringan lunak pada cavitas oral dihubungkan
dengan diabetes mellitus.