You are on page 1of 56

MODEL PENGOMPOSAN KIAMBANG (Salvinia molesta) SEBAGAI

UPAYA PENGENDALIAN GULMA AIR DI WADUK BATUTEGI


LAMPUNG, MENDUKUNG KEBERLANJUTAN USAHATANI YANG
RAMAH LINGKUNGAN

Oleh:
Erdiansyah, S.P.
(THL-TBPP)

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN


(BP3K) KECAMATAN AIR NANINGAN
KABUPATEN TANGGAMUS
PROVINSI LAMPUNG
2014
ABSTRAK

MODEL PENGOMPOSAN KIAMBANG (Salvinia molesta) SEBAGAI


UPAYA PENGENDALIAN GULMA AIR DI WADUK BATUTEGI
LAMPUNG, MENDUKUNG KEBERLANJUTAN USAHATANI YANG
RAMAH LINGKUNGAN

Erdiansyah, S.P.
(THL TBPP)

Penelitian ini bertujuan mengetahui: (1) alternatif pengendalian gulma air


di Waduk Batutegi; (2) potensi bobot kering kiambang di Waduk Batutegi;
(3) pengaruh penambahan kotoran ternak dan perlakuan pencachan
terhadap lamanya pengomposan kiambang; (4) mutu kompos kiambang.
Alternatif pengendalian kiambang dikaji berdasarkan studi pustaka.
Pengukuran bobot kering kiambang dilakukan dengan penjemuran sampai
didapat bobot konstan. Variasi perlakuan pengomposan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengomposan kiambang dilakukan
secara aerob menggunakan bak dari bambu (Metode Jepang). Mutu
kompos kiambang dilihat dari rasio C/N, kandungan unsur hara esensial
(makro dan mikro) dan dibandingkan dengan baku mutu kompos yang
dikeluarkan BSN tahun 2004.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa kiambang segar berpotensi dijadikan
bahan baku kompos karena pengujian terhadap 4 unsur hara makro (P, K,
Ca, dan Mg) semua terdeteksi. Selain itu, kiambang juga berpotensi
dijadikan pakan ternak ruminansia karena mengandung zat-zat makanan
(seperti protein, abu, serat kasar, dan lemak). Bobot kering kiambang
mencapai 9.812,25 ton/tahun, dapat menghasilkan kompos kiambang
murni 12.265,312 ton (kadar air kompos 20%), dan memenuhi kebutuhan
pupuk organik pada lahan kebun atau sawah seluas 2453 ha/tahun
(dengan asumsi kebutuhan kompos 5 ton/ha/tahun). Kombinasi
penambahan kotoran ternak sebanyak 30% dari total bahan dan
perlakuan pencacahan (baik secara manual maupun menggunakan
mesin) terbukti dapat mempercepat proses pengomposan kiambang (<30
hari). Rasio C/N kompos kiambang (6,775) lebih rendah dari batas
minimum baku mutu kompos BSN (10). Kandungan unsur hara makro
(Ca dan Mg) sangat rendah (<0,1%) jauh di bawah batas maksimum baku
mutu kompos BSN. Unsur hara mikro yang terkandung dalam kompos
kiambang hanya 5 unsur (Fe, Cu, Zn, Mn, dan Cl). Untuk meningkatkan
mutu kompos kiambang, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
memperkaya variasi bahan.

Kata kunci: pengendalian, kiambang (Salvinia molesta), pengomposan,


kompos, dan mutu kompos
1
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat, hidayah, dan
karunia-Nya jualah penulisan naskah karya tulis ilmiah yang berjudul
Model Pengomposan Kiambang (Salvinia molesta) sebagai Upaya
Pengendalian Gulma Air di Waduk Batutegi Lampung, Mendukung
Keberlanjutan Usahatani yang Ramah Lingkungan dapat penulis
selesaikan. Karya tulis ini disusun berdasarkan pengkajian penulis
selama mendampingi Kelompok Tani Sangarus Jaya Desa Airnaningan
dan Kelompok Tani Aren Lestari Desa Datar Lebuay dalam memanfaatkan
kiambang menjadi bahan baku pembuatan kompos sejak tahun 2011.

Karya tulis ilmiah ini penulis persembahkan kepada bidadari yang sedang
mengandung anak pertama kami. Kepadanya, Hening Yogo Astuti,
penulis menghaturkan terimakasih mendalam atas doa dan dukungannya
selama proses penulisan karya tulis ini.

Kepada segenap pengurus dan anggota Kelompok Tani Sangarus Jaya


dan Kelompok Tani Aren Lestari, yang selalu aktif berpartisipasi
menyukseskan percobaan pengomposan kiambang, sehingga penulis
dapat menyusunnya menjadi tulisan ilmiah ini, terimakasih atas bantuan
dan kerjasamanya semoga dapat menjadi kelompok yang tangguh dan
mandiri dalam meningkatkan efisiensi usahatani dengan mengoptimalkan
sumberdaya lokal. Kepada rekan-rekan penyuluh se-Kecamatan
Airnaningan, Kepala BP3K Kecamatan Airnaningan, dan Kepala BP4K
Kabupaten Tanggamus, terimakasih atas dukungan dan saran-sarannya
yang membangun. Tidak lupa kepada semua pihak yang telah membantu
dan tidak dapat disebutkan satu-persatu penulis ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari karya tulis sederhana ini masih jauh dari sempurna.
Saran dan kritik yang membangun senantiasa penulis harapkan untuk
perbaikan di masa mendatang. Akhirnya, semoga karya tulis ini
bermanfaat sebagai rujukan pemecahan permasalahan gulma air
(kiambang) dan keberlanjutan usahatani yang ramah lingkungan.

Tanggamus, 17 April 2014

Penulis,

Erdiansyah, S.P.
2
DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL ..................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ............................................................ ii
ABSTRAK ................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................ v
DAFTAR TABEL .......................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................... viii
I. PENDAHULUAN ....................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................. 4
C. Tujuan .............................................................................. 4
II. LANDASAN TEORI ................................................................. 5
A. Tinjauan Pustaka ............................................................. 5
1. Kompos ......................................................................... 5
2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengomposan ........ 6
3. Metode Pengomposan .................................................. 10
4. Kualitas Kompos ........................................................... 12
5. Kiambang ...................................................................... 13
6. Mutu Tanah ................................................................... 14
7. Pertanian Ramah Lingkungan ...................................... 16
B. Kerangka Pemikiran ......................................................... 16

III. METODELOGI ....................................................................... 19


A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................... 19

3
B. Alat dan Bahan ................................................................ 19
C. Metode Penelitian ............................................................ 19
D. Variabel Penelitian ............................................................ 20
E. Tahapan Penelitian ............................................................ 20
F. Analisa Data ..................................................................... 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 24

A. Alternatif Penanggulangan Gulma Air di Waduk


Batutegi ............................................................................ 24
1. Potensi kiambang menjadi bahan baku kompos ........ 24
2. Potensi kiambang menjadi bahan baku pakan
ternak ......................................................................... 25
B. Potensi Bobot Kiambang di Waduk Batutegi sebagai
Bahan Baku Kompos ......................................................... 26
1. Perhitungan luas areal genangan Waduk Batutegi yang
tertutupi kiambang ...................................................... 26
2. Perhitungan bobot kiambang yang tersedia di Waduk
Batutegi ...................................................................... 27
C. Pengaruh Penambahan Kotoran Ternak dan Perlakuan
Pencacahan terhadap Lamanya Proses Pengomposan
Kiambang ......................................................................... 28
1. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap
lamanya proses pengomposan kiambang .................... 29
2. Pengaruh perlakuan pencacahan terhadap lamanya
proses pengomposan kiambang .................................. 31
3. Pengaruh penambahan kotoran ternak dan perlakuan
pencacahan terhadap lamanya proses pengomposan
kiambang ..................................................................... 32
D. Mutu Kompos Kiambang ................................................... 33

V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 38


A. Kesimpulan ...................................................................... 38
B. Saran ................................................................................. 39

DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 40


LAMPIRAN ................................................................................. 43

4
DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 1. Kandungan beberapa unsur hara makro pada


kiambang .................................................................... 3
Tabel 2. Mikroorganisme yang umum berasosiasi dalam
tumpukan sampah ........................................................ 7
Tabel 3. Rasio C/N beberapa jenis bahan organik .................... 8
Tabel 4. Kombinasi pengomposan kiambang ............................ 20
Tabel 5. Perbandingan kadar hara kiambang segar dengan
standar kualitas kompos dari BSN ............................... 24
Tabel 6. Kadar proksimat beberapa jenis bahan pakan
ruminansia ................................................................... 25
Tabel 7. Hasil perhitungan bobot kiambang di Waduk
Batutegi berdasarkan lokasi pengamatan .................... 27
Tabel 8. Hasil pengamatan suhu pada proses fermentasi 29
kiambang .....................................................................
Tabel 9. Kandungan unsur hara pada kompos kiambang ......... 34
Tabel 10. Perbandingan kandungan unsur hara kompos
kiambang dengan baku mutu kompos BSN
tahun 2004 ................................................................... 35

Tabel 11. Standar mutu kompos .................................................. 44

5
DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 1. Salvinia molesta ...................................................... 14

Gambar 2. Skema penyelesaian masalah usahatani di hulu


dan masalah gulma air di Waduk Batutegi .............. 18
Gambar 3. Bak kompos sederhana dari bambu ........................ 21
Gambar 4. Ukuran lapisan bahan kompos ............................... 22
Gambar 5. Skema Pengolahan Kiambang menjadi Kompos ... 23
Gambar 6. Petak pengamatan .................................................. 27
Gambar 7. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap
lamanya proses pengomposan kiambang .............. 29
Gambar 8. Pengaruh pencacahan terhadap lamanya proses
pengomposan kiambang ......................................... 31
Gambar 9. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap
lamanya proses pengomposan kiambang .............. 32
Gambar 10. Lamanya proses pengomposan pada semua
kombinasi formulasi dan perlakuan ......................... 33
Gambar 11. Peta Irigasi Way Sekampung .................................. 43
Gambar 12. Salvinia minima ........................................................ 45
Gambar 13. Salvinia natans ........................................................ 45
Gambar 14. Pistia stratiotes ........................................................ 45
Gambar 15. Salvinia molesta ....................................................... 45
Gambar 16. Kiambang di areal genangan Waduk Batutegi ........ 46
Gambar 17. Pembuangan kiambang melaluai saluran
pelimpasan .............................................................. 46

6
Gambar 18. Kiambang yang mengendap di dasar areal
genangan berpotensi menyebabkan
pendangkalan .......................................................... 46
Gambar 19. Upaya Kelompok Tani Sangarus Jaya Pekon
Airnaningan memanfaatkan kiambang perlu
mendapat dukungan ............................................... 46
Gambar 20. Pencacahan kiambang secara manual .................... 47
Gambar 21. Pencacahan kiambang menggunakan mesin ......... 47
Gambar 22. Proses pengomposan kiambang ............................. 47
Gambar 23. Proses pengomposan kiambang ............................. 47
Gambar 24. Kompos kiambang hampir matang .......................... 48
Gambar 25. Penghitungan bobot kering kiambang ..................... 48
Gambar 26. Kaji terap penerapan kompos kiambang skala
terbatas pada tanaman tomat ................................. 48
Gambar 27. Perbedaan pertumbuhan tanaman tomat (A2 =
Tanah + kompos Kiambang 1kg; B2 = Tanah +
POG 1 kg; C2 Tanah tanpa kompos (kontrol) ......... 48

7
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuntutan pembangunan pertanian saat ini adalah keberlanjutan usaha


dengan mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. Oleh karenanya
pengembangan teknologi usahatani haruslah mengarah kepada
kemandirian petani dalam meningkatkan mutu lingkungan serta
mengefisienkan penggunaan input dengan mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya lokal.

Tanah adalah unsur lingkungan pokok selain air dalam sistem budidaya
tanaman yang harus dijaga kelestariannya. Menurut Hanafiah et al.
(2005) tanah berperan menyuplai unsur hara, penyedia air, dan tempat
berkembangnya akar tanaman. Peranan tanah terhadap pertumbuhan
dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh mutu tanah. Secara
sederhana mutu tanah dapat dilihat dari tingkat kegemburan (sifat fisik),
keberadaan organisme (sifat biologi), dan ketersediaan unsur hara (sifat
kimia). Semakin baik mutu tanah, maka peranannya terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan semakin besar.

Kompos merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan guna


meningkatkan mutu tanah, baik dari segi fisik, biologi, maupun kimia dan
diproduksi dengan memanfaatkan ketersediaan sumberdaya lokal, seperti
kotoran ternak dan limbah pertanian (Setyorini et al., 2006). Dengan
demikian, penggunaan kompos pada lahan usahatani menunjang
kelestarian lingkungan sehingga ptraktik budidaya tanaman dapat
berkelanjutan.

8
Khususnya di Kecamatan Airnaningan, Kabupaten Tanggamus, selain
kotoran ternak dan limbah pertanian, bahan baku kompos juga melimpah
berupa gulma air jenis kiambang. Kiambang (Salvinia molesta) tumbuh
dan berkembang di Sungai Way Sangarus, Way Sekampung, sampai ke
areal genangan Waduk Batutegi. Berdasarkan pengkajian pendahuluan,
diperkirakan setiap tahunnya sejak tahun 2010 hingga 2014, tidak kurang
seluas 15,75 km2 (75%) dari 21 km2 luas areal genangan Waduk Batutegi
pada kapasitas tampung efektif (elevasi 274 m) tertutupi kiambang.
Puncak kepadatan kiambang terjadi pada akhir musim penghujan sampai
awal kemarau antara bulan April Juli.

Pertumbuhan kiambang yang pesat di Waduk Batutegi telah menjadi


permasalahan serius yang membutuhkan solusi. Keberadaan gulma yang
siklus hidupnya ada di permukaan air ini, berpotensi menyumbangkan
sedimentasi karena kiambang yang telah membusuk akan mengendap di
dasar waduk. Selain itu, keberadaan gulma air, akan meningkatkan laju
evapotranspirasi, menghambat transportasi nelayan, dan mengganggu
suplai air yang menyebabkan terhambatnya produksi listrik PLTA Batutegi
pada Bulan Juli 2010.

Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut di muka, keberadaan


kiambang berpotensi menurunkan efektifitas Waduk Batutegi sebagai
penyuplai irigasi Way Sekampung, pembangkit listrik, dan air baku. Data
dari Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung (2006) disebutkan
bahwa adanya Waduk Batutegi dapat meningkatkan luas areal
persawahan yang terairi mencapai 22.985 ha. Sasaran Irigasi Way
Sekampung terpusat di Kabupaten Kota Metro, Lampung Timur, dan
Lampung Tengah (Gambar 11, Lampiran 1). Dengan demikian,
terganggunya fungsi Waduk Batutegi, akan menghambat produksi padi di
Provinsi Lampung, sehingga akan berimplikasi terhadap ketahanan
pangan nasional.

Penanggulangan kiambang di Waduk Batutegi oleh pihak pengelola


diantaranya dengan mengangkatnya ke tepi dan pembuangan melalui
9
saluran pelimpasan air. Pengangkatan kiambang ke tepi bendungan
membutuhkan tenaga dan biaya besar serta kurang bermanfaat karena
tidak ada pengolahan lebih lanjut, sedangkan pembuangan melalui
saluran pelimpasan menimbulkan masalah baru di hilir. Oleh karena itu,
dibutuhkan alternatif solusi guna mengendalikan pertumbuhan kiambang
salah satunya dengan mengolahnya menjadi kompos yang bermanfaat
khususnya bagi petani di Kecamatan Airnaningan.

Berdasarkan hasil uji kandungan beberapa unsur hara makro (P, K, Mg,
dan Ca) yang dilakukan Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Lampung,
diketahui bahwa kiambang segar berpotensi dijadikan bahan baku
kompos. Hasil uji kandungan beberapa unsur hara makro pada kiambang
segar disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan beberapa unsur hara makro pada kiambang

Parameter
No Satuan Hasil Metode
Pengujian
1 P-Total % 0,570 Spektrofotometri
2 K-Total % 1,494 Flamefotometri
3 Mg-Total Mg/100g 11,740 Volumetri
4 Ca-Total Mg/100g 38,202 Volumetri
Sumber: Laboratorium Analisis Polinela, 2012

Mencermati Tabel 1, apabila kiambang dapat dijadikan kompos yang


bermutu, petani yang ada di lingkungan Sungai Way Sangarus, Way
Sekampung, dan Waduk Batutegi dapat memanfaatkan kiambang sebagai
bahan baku kompos guna meningkatkan efisiensi penggunaan input serta
memperbaiki mutu tanah. Semakin banyak petani yang berpartisipasi
mengolah kiambang menjadi kompos, maka model pengendalian gulma
air di Waduk Batutegi ini akan semakin efektif. Untuk itu, dibutuhkan
komposisi dan desain pembuatan kompos yang mudah, hemat, dan cepat.

Berdasarkan uraian di muka, penelitian ini penting dilakukan dengan


harapan 1) didapatnya teknologi cara pengolahan kiambang menjadi
kompos yang mudah, hemat, dan cepat, 2) kompos kiambang akan
bermanfaat bagi petani guna mendukung keberlanjutan usahatani yang
10
ramah lingkungan, 3) dihasilkan alternatif solusi penanggulangan gulma
air di Waduk Batutegi dengan memperhatikan azaz kemanfaatan dan
kelestarian, 4) terjaganya kelestarian Waduk Batutegi akan menjamin
suplai irigasi Way Sekampung sehingga menunjang produktivitas padi di
Provinsi Lampung, 5) berdirinya pabrik pengolahan kiambang menjadi
kompos milik kelompok tani sebagai model pemberdayaan masyarakat di
Kecamatan Airnaningan.

B. Rumusan masalah
1. Apa saja alternatif solusi pengendalian gulma air di Waduk Batutegi?
2. Berapa potensi bobot kering kiambang yang tumbuh di Waduk
Batutegi?

3. Bagaimanakah pengaruh penambahan kotoran ternak dan perlakuan


pencacahan terhadap lamanya proses pengomposan kiambang?

4. Bagaimanakah mutu kompos kiambang?

C. Tujuan
1. Mengetahui alternatif solusi pengendalian gulma air di Waduk Batutegi.
2. Mengetahui potensi bobot kering kiambang yang tumbuh di Waduk
Batutegi.
3. Mengetahui pengaruh penambahan kotoran ternak dan perlakuan
pencachan terhadap lamanya proses pengomposan kiambang.
4. Mengetahui mutu kompos kiambang.

11
II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Kompos
Menurut Hadisuwito (2007), kompos merupakan pupuk organik yang
berasal dari limbah organik (tumbuhan dan hewan) yang telah
mengalami dekomposisi. Proses dekomposisi bahan organik
dilakukan oleh jasad pengurai baik makro (cacing dan serangga tanah)
maupun mikro (bakteri dan jamur). Setyorini et al. (2006)
menyimpulkan bahwa kompos merupakan sumber bahan organik dan
nutrisi tanaman untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Penggunaan kompos pada lahan usahatani dalam jangka panjang
dapat memperbaiki pH dan meningkatkan prouksi tanaman.

Secara alami proses pengomposan bahan organik dimulai dari


penghancuran bahan organik oleh organisme tanah hingga berukuran
kecil, selanjutnya proses tersebut dilanjutkan oleh mikroba tanah.
Proses dekomposisi secara alami membutuhkan waktu yang cukup
lama (satu bulan hingga satu tahun) tergantung jenis bahan organiknya.
Sebelum bahan organik mengalami penguraian, unsur hara masih
terikat tidak dapat diserap oleh tanaman. Selama proses perubahan
bahan organik, unsur hara akan bebas menjadi bentuk yang larut dan
dapat diserap tanaman (Setyorini et al., 2006).

Lebih lanjut Setyorini et al. (2006) mengemukakan bahwa sisa-sisa


tanaman merupakan bahan organik yang potensial dijadikan kompos.
Pengolahan sisa-sisa tanaman menjadi kompos dan
mengembalikannya ke lahan usahatani akan mempertahankan
12
kegemburan dan kesuburan lahan. Sebaliknya, apabila sisa-sisa
tanaman tidak dikelola dengan baik, maka akan berdampak negatif
terhadap lingkungan, seperti mengakibatkan rendahnya pertumbuhan
benih karena imobilisasi hara, allelopati, atau sebagai tempat
berkembangbiaknya patogen tanaman.

2. Faktor-faktor yang memengaruhi proses pengomposan

Djaja (2008) mengemukakan bahwa terjadinya proses pengomposan


disebabkan tiga hal, yaitu: (1) zat hara pada bahan; (2) mikroba; (3) dan
keadaan lingkungan hidup mikroba (Oksigen dan aerasi; rasio C/N;
kandungan air; porositas, struktur, dan ukuran partikel; pH bahan baku;
temperatur). Zat hara dibutuhkan mikroba dalam proses dekomposisi
bahan, sedangkan lingkungan yang optimal menyebabkan mikroba
dapat berkembang dan beraktivitas maksimal.

Masih menurut Djaja (2008), mikroba memegang peranan utama dalam


proses pengomposan. Pada proses pengomposan mikroba yang
berperan adalah bakteri, fungi, dan aktinomisetes. Saraswati dan
Sumarno (2008) mengemukakan bahwa manfaat mikroba dalam proses
pengomposan adalah sebagai bioaktivator.

Saraswati et al. (2006) menggolongkan organisme perombak bahan


organik ke dalam dua golongan: pertama adalah perombak primer dari
golongan mesofauna (seperti cacing tanah dan colembolla); kedua
adalah perombak sekunder dari golongan mikroorganisme. Beberapa
jenis mikroorganisme perombak bahan organik yang umum ditemukan
dalam tumpukan sampah disajikan pada Tabel 2.

13
Tabel 2. Mikroorganisme yang umum berasosiasi dalam tumpukan
sampah

Karakteristik suhu Bakteri Fungi


Mesofilik (1040 oC) Pseudomonas spp. Alternaria spp.
Achromobacter spp. Cladosporium spp.
Bacillus spp. Aspergillus spp.
Flavobacterium spp. Mucor spp.
Clostriium spp. Penicillium spp.
Streptomyces spp.

Termofilik (4170oC) Bacillus spp. Mucor pusillus


Thermus spp. Chaetomium
thermophile
Thermoactinomyces spp. Humicola lanuginosa
Thermonospora spp. Absidia ramosa
Microplyspora spp. Sprotricbum
thermophile
Torula thermophile
(yeast)
Thermoascus
aureanticus
Sumber: Saraswati et al., 2006

Menurut Setyorini et al. (2006) pengomposan dapat berhasil apabila


adanya kesesuaian kondisi lingkungan hidup mikroba pengurai,
diantaranya: (1) rasio C/N; (2) ukuran bahan baku; (3) suhu dan
tingginya timbunan kompos; (4) Kelembapan; (5) sirkulasi udara; (6)
nilai pH.

Proses pegomposan sebagaimana diuraikan di muka melibatkan


mikroba pengurai baik mikro flora maupun mikro fauna. Mikroba
pengurai ini membutuhkan C (karbon) untuk menghasilkan energi dan
N (nitrogen) untuk mensintesa protein dalam keadaan yang seimbang.
Isrori dan N. Yuliarti (2009) menyebutkan bahwa perbandingan C/N
yang optimum bagi kebutuhan mikroba selama melakukan penguraian
bahan organik antara 30 40. Pada kondisi dimana rasio C/N terlalu
tinggi (> 40), mikroba akan kekurangan N untuk mensintesa protein,
sehingga proses dekomposisi bahan organik akan berjalan lambat.

Sutanto (2002) menerangkan kandungan C dalam bahan organik dapat


dilihat dari kadar lignin. Semakin tinggi lignin dalam bahan organik
14
maka kandungan C akan semakin tinggi yang berarti akan menaikkan
rasio C/N. Sejalan dengan pendapat tersebut, Hanafiah et al. (2013)
mengemukakan bahwasanya dedaunan yang jatuh di permukaan tanah
umumnya bernisbah C/N tinggi dengan kadar senyawa resisten seperti
selulosa dan lignin dominan yang tidak terombak oleh cacing tanah.

Gaur (1980) menyatakan bahwa selain kandungan C dan N, perlu pula


diperhatikan kandungan Phosfor (P) dan Kalium (K) yang terkandung
pada bahan baku. Hal ini disebabkan N, P, dan K dibutuhkan mikroba
pengurai dalam proses metabolisme sel. Penguraian bahan baku bisa
berlangsung cepat apabila perbandingan antara kadar C (C-organik):
N:P:K dalam bahan yang terurai setara 30:1:0,1:0,5. Setyorini et al
(2006) menyimpulkan bahwa prinsip pengomposan adalah menurunkan
rasio C/N (nitrogen) sehingga sama dengan C/N tanah (<20). Dengan
demikian faktor penentu utama dalam proses pengomposan adalah
rasio C/N bahan baku.

Pada kenyataannya, banyak limbah pertanian yang mengandung rasio


C/N >40, seperti jerami dan serbuk gergaji. Beberapa jenis bahan
organik dan rasio C/N disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rasio C/N beberapa jenis bahan organik

No Bahan Organik Rasio C/N


1 Kiambang1 36,93
2 Jerami padi2 5070
3 Jerami jagung2 100
4 Serbuk gergaji2 500
5 Kayu2 200400
6 Kulit kayu2 100130
3
7 Kulit kopi 20,04
8 Kotoran kambing4 21,12
4
9 Ampas tebu 31,57
Sumber: 1.Nataraja (2008); 2. Yuwono, 2005; 3. Ditjenbun, 2006;
4. Cahaya T.S. dan Nugroho, 2008

Isrori dan N. Yuliarti (2009) mengemukakan bahwa untuk mempercepat


proses dekomposisi, bahan-bahan kompos yang memiliki rasio C/N
15
tinggi perlu dicampur dengan bahan organik dengan rasio C/N rendah.
Pengomposan jerami padi misalnya, perlu dicampur dengan kotoran
kambing yang memiliki rasio C/N rendah. Setyorini et al. (2006)
menyimpulkan bahwa kandungan selulosa pada limbah pertanian, yang
digunakan sebagai bahan dasar kompos, mengandung selulosa 15
40%. Selulosa merupakan senyawa yang secara alami sulit
terdekomposisi. Hal inilah yang menyebabkan lamanya proses
dekomposisi limbah pertanian secara alami.

Sebagaimana diuraikan di muka, bahwa proses dekomposisi bahan


organik secara alami dilakukan oleh organisme tanah baik makro
maupun mikro. Semakin luas permukaan bahan organik akan
meningkatkan kontak antara organisme tanah dengan bahan organik.
Menurut Isrori dan N. Yuliarti (2009) semakin tinggi intensitas kontak
organisme tanah dengan bahan organik memengaruhi cepatnya
penghancuran bahan menjadi ukuran yang lebih kecil. Hal ini
disebabkan, permukaan bahan organik merupakan area serang cacing,
bakteri, dan jamur dalam melakukan penguraian. Dengan demikian,
agar proses pengomposan berjalan lebih cepat, bahan organik perlu
dicacah untuk memperkecil ukuran dan meningkatkan luas
permuakaan.

Selanjutnya, untuk meningkatkan keberhasilan pengomposan perlu


diperhatikan tingginya tumpukan bahan. Semakin tinggi tumpukan
bahan suhu akan semakin meningkat, sebaliknya apabila tumpukan
bahan terlalu rendah maka bahan tidak cukup untuk menahan panas.
Tinggi tumpukan bahan idealnya sekitar 1,252 m (Setyorini et al.,
2006). Menurut Yuwono (2005) Suhu optimum dalam proses
pengomposan adalah 4565 oC.

Untuk menjaga kelangsungan aktivitas mikroba melakukan


dekomposisi bahan, kelembapan perlu dipertahankan. Kadar air
optimum pada bahan berkisar antara 4065% (Djaja, 2008). Menurut
16
Yuwono (2005) keberhasilan pengomposan secara aerob apabila kadar
air bahan berkisar antara 4050%, sedangkan pada pengomposan
anaerob kadar air bahan baku yang baik >50%. Pada proses
pengomposan aerob kelebihan air mengakibatkan tumpukan bahan
kekurangan oksigen, sebaliknya apabila bahan terlalu kering tidak
mendukung kehidupan mikroba.

Pada proses pengomposan aerob mikroba pengurai membutuhkan


oksigen selama proses penguraian berlangsung. Peningkatan sirkulasi
udara dalam proses pengomposan dapat dilakukan melalui pembalikan
bahan secara berkala (Setyorini et al., 2006).

Nilai pH optimum dalam proses pengomposan baik aerob maupun


anaerob berkisar antara 68. Umumnya bakteri pengurai bahan
organik lebih menyukai pH netral (Yuwono, 2005). Menurut Setyorini et
al. (2006) penggunaan kapur pertanian berlebihan dalam proses
pengomposan akan menyebabkan pH tinggi dan berdampak pada
kehilangan nitrogen karena volatilisasi.

3. Metode pengomposan

Menurut Sutanto (2002) ada 6 metode pengomposan yang sudah


dikenal yaitu: (1) Metode indore; (2) Metode heap ; (3) Metode
bangalore; (4) Metode berkeley; (5) Metode vermikompos; dan (6)
Metode Jepang. Secara rinci ke enam metode tersebut diuraikan
sebagai berikut.

1) Metode indore

Pada prinsipnya pengomposan dengan metode indore dilakukan


ditempat terbuka dengan terlebih dahulu membuat lubang
pengomposan dengan kedalaman 1 m, lebar 1,52 m, dan panjang
menyesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dikomposkan.
Bahan kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman. Bahan dimasukkan ke

17
dalam lublang secara berlapis dengan ketebalan lapisan 15 cm.
Untuk memperkaya mikroba pada setiap lapisan digunakan kotoran
ternak sebanyak 4,5 kg, tanah yang terkena urine ternak 3,5 kg, dan
4,5 kg inokulan fungi diambil dari bahan kompos yang sedang aktif.
Pembalikan dilakukan secara berkala yakni pada hari ke 15, hari ke-
30, dan terakhir setelah pengomposan berlangsung selama 2 bulan.
Selama proses pengomposan dibutuhkan kelembaban yang cukup.

2) Metode heap

Sebagaimana metode indore, metode heap juga dilakukan di tempat


terbuka. Perbedaannya jika pada metode indore bahan
dikomposkan dalam lubang galian, pengomposan dengan metode
heap dilakukan di atas tanah. Bahan kompos yang digunakan harus
seimbang antara bahan yang kandungan C tinggi dengan bahan
yang kandungan N tinggi. Bahan-bahan ditumpuk berlapis dengan
ketebalan 15 cm dan dimulai dari bahan yang kandungan C lebih
tinggi. Tinggi tumpukan minimal mencapai 1,5 m, lebar dasar 2 m,
dan panjang menyesuaikan dengan banyaknya bahan. Pada bagian
tepi atas tumpukan dilakukan pemadatan sehingga lebar bagian atas
menyempit kurang lebih menjadi 0,5 m. Untuk menghindari sinar
matahari, hujan, dan angin tumpukan kompos dibuatkan penaung.
Pembalikan dilakukan setelah proses pengomposan berlangsung
selama 6 minggu dan 12 minggu.

3) Metode bangalore

Berbeda dengan metode indore dan heap, metode bangalore dalam


proses pengomposannya tidak dilakukan pembalikan. Semua bahan
ditimbun di dalam lubang galian. Setelah dilakukan penyiraman
sampai basah, lubang ditutup dengan tanah atau lumpur. Kompos
akan matang setelah 6-8 bulan.

18
4) Metode berkeley

Pengomposan dengan metode berkeley hampir sama dengan


metode heap, namun perbedaannya terletak pada komposisi bahan
dan intensitas pembalikan. Komposisi bahan diformulasikan 2
bagian bahan yang kaya N ditambah 1 bagian bahan yang kaya C.
Bahan ditumpuk secara berlapis dengan ukuran tinggi lapisan
mencapai 1,5 m, lebar 2 m, dan panjang 2,4 m. Pembalikan bahan
dilakukan pada hari ke-4, ke-7, dan ke-10.

5) Metode vermikompos

Sebagaimana namanya, perbedaan mendasar dengan 4 metode


sebelumnya yakni pemanfaatan cacing tanah sebagai dekomposer.
Jenis cacing tanah yang efisien digunakan dalam pengomposan
adalah Eisenia fetida dan E. eugeniae.

6) Metode Jepang

Pengomposan dengan Metode Jepang sebagaimana metode heap


dan berkeley dilakukan di atas tanah. Perbedaannya pada metode
heap dan berkeley bahan ditumpuk tanpa menggunakan cetakan
atau bak sedangkan pada metode jepang digunakan bak. Bak
pengomposan dibuat dari bambu sehingga sirkulasi udara pada
dindingnya akan berlangsung baik. Untuk menjaga kehilangan
cairan kompos (lindi), bagian dasar bak dilapisi plastik terpal. Bahan
kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman, gulma, dan kotoran ternak.
Metode ini memiliki kelebihan sebagaimana metode heap dan
berkeley yakni pembalikan dapat dilakukan lebih mudah
dibandingkan metode indore. Mikroba yang biasa digunakan dalam
proses pengomposan adalah Trichoderma sp.

4. Kualitas kompos
Setelah menjalani serangkaian proses dekomposisi, bahan baku
menjadi kompos matang yang bisa digunakan sebagai pupuk. Indikator
19
kematangan kompos suhu stabil, warna coklat tua, dan bau tanah
(Yang, 1996). Kompos yang diproduksi dengan memperhatikan kaidah
pengomposan akan menghasilkan pupuk organik berkualitas. Kualitas
kompos berdasarkan Badan Standardisasi Nasional (BSN) tahun 2004
ditinjau dari: 1) kadar air; 2) temperatur; 3) warna; 4) bau; 5) ukuran
partikel; 6) kemampuan mengikat air; 7) pH; 8) bahan asing; 9) bahan
organik; 10) unsur hara; dan 11) bakteri. Standar kualitas kompos yang
dikeluarkan BSN tahun 2004 disajikan pada Tabel 12 (Lampiran 2).

5. Kiambang

Kiambang adalah salah satu spesies gulma air yang tumbuh dan
berkembang di permukaan air. Kiambang dapat tumbuh baik di air
yang mengalir stagnan atau lambat seperti danau, lahan persawahan,
kolam, sungai, waduk, dan rawa. Kiambang tumbuh baik pada suhu
optimum 25-28 oC. Pada kisaran suhu tersebut kiambang dapat
melipatgandakan diri dalam waktu 1 minggu (Divakaran et al.,1980)

Kiambang terdiri dari batang horizontal yang menghasilkan dua tipe


daun yang berbeda fungsi. Daun yang pertama berada di permukaan
air berwarna hijau, berbentuk seperti kuku dan tersusun berpasangan
menyerupai sepasang sayap kupu-kupu. Setiap sisi daun pertama ini
ditutupi rambut halus yang berfungsi mencegah air dan membantu
kiambang mengapung. Daun yang kedua berbentuk mirip akar
berwarna coklat dan tumbuh di dalam air. Tipe daun kedua ini
mengandung sporocarps berbentuk bulat dan padat berbulu, berukuran
2-3 mm. Fungsi daun kedua ini adalah menangkap unsur hara untuk
tumbuh dan berkembang (Whiteman, 1991).

20
USDA (2002) mengklasifikasikan kiambang sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Filicopsida
Ordo : Hidropteridales
Famili : Salviniaceae
Genus : Salvinia
Spesies : Salvinia molesta Gambar 1. Salvinia molesta

Beberapa spesies lain yang masih masuk kedalam genus Salvinia


diantaranya: (1) Salvinia minima, (2) Salvinia natans, dan (3) Pistia
stratiotes (Gambar 12, 13, dan 14, Lampiran 3).

Hasil penelitian Filliazati et al. (2013) bahwa kiambang berpotensi


sebagai penjernih air dan mampu menurunkan kadar Biological Oxygen
Demand (BOD) serta minyak dan lemak yang terkandung pada air
limbah rumah tangga meskipun belum layak untuk dikonsumsi. Hal ini
dikarenakan adanya aktivitas mikroba di dalam air yang melakukan
perombakan bahan organik menjadikan unsur hara larut dan tersedia
bagi tanaman. Unsur hara terlarut diserap oleh daun kaiambang yang
menyerupai akar dan tumbuh di dalam air.

Kendatipun kiambang berperan positif terhadap kualitas air,


keberadaan kiambang di perairan dalam jumlah banyak dapat
menimbulkan dampak negatif. Loveless (1989) mengemukakan bahwa
pada tahun 1962 kiambang telah menutupi 18% (1000 km2) dari total
luas permukaan Danau Karibia (5546 km2). Keberadaan kiambang di
Danau Karibia telah menghambat pelayaran (transportasi air),
perikanan niaga, serta mengganggu jalannya turbin-turbin pembangkit
tenaga listrik. Selain itu, menurut Divakaran et al. (1980) keberadaan
kiambang di waduk juga akan memengaruhi sistem irigasi pertanian
padi sawah, mengurangi intensitas cahaya dalam air, dan

21
mempercepat pendangkalan waduk. Terbatasnya cahaya dalam air
berdampak pada kelangsungan hidup fitoplankton yang merupakan
sumber pakan ikan.

6. Mutu tanah
Indikator mutu tanah adalah karakteristik fisik, kimia, dan biologi yang
menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Karakteristik fisik tanah
dapat dilihat diantaranya dari warna, tekstur, kegemburan, dan
kemampuan menyerap air. Karakteristik kimia tanah diantaranya dapat
dilihat dari kandungan unsur hara dan pH. Selanjutnya, karakteristik
biologi tanah dilihat dari kehidupan organisme tanah.

Menurut Agustina (2004) kandungan unsur hara pada tanah yang


esensial bagi pertumbuhan tanaman terdiri dari unsur hara makro dan
mikro. Unsur hara makro ada 6 unsur (N, P, K, Ca, Mg, dan S). Unsur
hara mikro ada 7 unsur (Fe, Zn, Cu, Mn, Mo, B, dan Cl). Ketersediaan
unsur hara esensial yang paling minimum di dalam tanah merupakan
faktor penentu pertumbuhan dan perkembangan tanaman (hukum
minimum Leibig). Dengan demikian, ketersediaan 6 unsur hara makro
dan 7 unsur hara mikro dalam tanah merupakan keharusan dalam
sistem budidaya tanaman.

Blair (1979 dalam Agustina, 2004) mengemukakan bahwa ketersediaan


unsur hara di dalam tanah dipengaruhi tiga faktor penting yaitu, suplai
dari fase padat, pH tanah, dan suplai air. Ketersediaan bahan organik
di dalam tanah berperan penting pada fase padat. Bahan organik yang
dikembalikan ke tanah akan mengalami penguraian unsur-unsurnya
dan akan dilepas ke tanah.

Menurut Hanafiah et al. (2005) cacing tanah berperan sebagai


bioindikator efek budidaya pertanian. Semakin intensif pengolahan
lahan pertanian, maka resiko dampak negatif terhadap populasi cacing
tanah akan semakin tinggi. Lebih rinci Edwards (1980) merumuskan
bahwa populasi cacing tanah ditentukan oleh 4 faktor positif dan 4

22
faktor negatif. Faktor-faktor positif tersebut diantaranya: 1)
penambahan bahan organik, 2) meminimalkan pengolahan tanah , 3)
menanam tanaman serealia secara terus-menerus, dan 4) mengurangi
kemasaman tanah dengan pengapuran; sedangkan faktor-faktor negatif
yang harus dihindari dalam budidaya tanaman meliputi: 1) penggunaan
pestisida terutama fungisida bensindorsal, 2) penggunaan pupuk
bereaksi masam seperti amonium sulfat, 3) pembakaran atau
pembuangan sisa-sisa tanaman, 4) budidaya yang terlalu intensif.

7. Pertanian ramah lingkungan


Kegiatan eksploitasi lahan pertanian yang dilakukan tanpa
memperhatikan kelestarian lingkungan, dalam jangka panjang akan
menurunkan mutu lahan baik dari segi fisik, biologi, dan kimia. Untuk
itu, kegiatan usahatani ramah lingkungan perlu ditingkatkan menjadi
budaya yang dibutuhkan. Menurut Sumarno et al. (2007) pertanian
ramah lingkungan merupakan kegiatan usahatani untuk memperoleh
produksi optimal tanpa merusak lingkungan dengan ciri keberlanjutan
usaha yang memenuhi kriteria: (1) terpeliharanya keanekaragaman
hayati dan keseimbangan ekologis biota tanah; (2) terpeliharanya
kualitas sumber daya pertanian dari segi fisik, hidrologis, kimiawi, dan
biologi; (3) tidak mengandung residu kimia, limbah organik, dan
anorganik yang berbahaya atau mengganggu proses hidup tanaman;
(4) terlestarikannya keanekaragaman genetik tanaman budi daya; (5)
tidak terjadi akumulasi senyawa beracun dan logam berat yang
membahayakan atau melebihi batas ambang aman; (6) adanya
keseimbangan ekologis antara hama penyakit dengan musuh-musuh
alami; (7) produktivitas lahan stabil dan berkelanjutan; (8) produksi hasil
panen bermutu tinggi dan aman sebagai pangan atau pakan.

B. Kerangka Pemikiran
Eksploitasi lahan usahatani dalam jangka panjang akan menimbulkan
permasalahan mendasar, yakni terganggunya keseimbangan lingkungan.

23
Pengolahan lahan tanpa memperhatikan kaidah konservasi menjadikan
keseimbangan biologi di dalam tanah juga terganggu. Selain itu,
penggunaan bahan kimia (terutama pestisida) turut mempercepat
terganggunya keseimbangan biologi (organisme) tanah. Seperti
dikemukakan Hanafiah et al. (2005) bahwa organisme tanah berperan
penting dalam peningkatan mutu tanah yang berarti akan meningkatkan
produktivitas tanaman.

Sebagaimana diuraikan di muka, permasalahan mendasar kegiatan


usahatani di hulu Waduk Batutegi adalah rendahnya mutu tanah.
Minimnya penggunaan bahan organik dan masih intensifnya penggunaan
pestisida kimia merupakan kendala utama. Implikasi aktivitas budidaya
yang jauh dari kaidah konservasi tersebut, yakni terjadinya pengerasan
tanah, tingginya resiko erosi, menurunnya populasi organisme tanah, dan
rendahnya daya serap air. Pada kondisi lahan demikian, kegiatan
budidaya intensif, menggunakan pupuk dan pestisida kimia, hanya akan
menambah buruknya mutu tanah dan menjadi ancaman kelestarian
lingkungan.

Tanah yang daya serap airnya rendah akan mudah terkikis air hujan
(erosi) dan merupakan penyebab utama sedimentasi sungai dan waduk.
Selain itu, pada tanah yang mutu fisik, kimia, dan biologinya rendah
penggunaan pupuk kimia tidak akan efektif. Hal ini dikarenakan pada
tanah bermutu rendah daya ikat dan kapasitas tukar kation juga rendah.
Sebagian besar unsur hara akan tercuci oleh air hujan, menguap, dan
terikat oleh unsur logam (seperti Al) yang banyak terdapat pada tanah
masam (mutu rendah). Unsur hara yang tercuci dan terbawa aliran air
akan memperkaya kandungan unsur terlarut di air sungai dan waduk.
Akibatnya, gulma air (seperti kiambang) mendapatkan suplay hara
melimpah dan dapat tumbuh dengan pesat. Hal demikian juga
dimungkinkan telah terjadi di Waduk Batutegi Lampung.

Menurunnya fungsi Waduk Batutegi akibat keberadaan kiambang tentu


akan berdampak pada kondisi usahatani di hilir, terutama lahan
24
persawahan yang memanfaatkan Irigasi Way Sekampung. Atas dasar
permasalahan kiambang di Waduk Batutegi dan rendahnya mutu lahan
usahatani di bagian hulu, maka dipandang perlu adanya solusi strategis
yang tetap mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. Adapun
skema penyelesaian masalah usahatani di bagian hulu dan masalah
gulma air di Waduk Batutegi disajikan pada Gambar 2.

MASALAH
MASYARAKAT
TANI AKTIVITAS 1. Menurunnya
(di sekitar BUDIDAYA mutu tanah
Waduk Batutegi) PERTANIAN 2. Produktivitas
DI HULU tanaman
kebun rendah

MASALAH GULMA
AIR (KIAMBANG)

1. Mempercepat
pendangkalan Waduk GENANGAN
2. Mengganggu sistem WADUK KOMPOS
irigasi BATUTEGI
3. Mengganggu produksi
listrik PLTA
4. Mengganggu sistem
perikanan tangkap

AKTIVITAS
BUDIDAYA PERTANIAN
Potensi Positif DI HILIR
Sumber bahan baku
Kompos yang
melimpah

Gambar 2. Skema penyelesaian masalah usahatani di hulu dan masalah


gulma air di Waduk Batutegi

25
III. METODELOGI

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Desa Airnaningan, Desa Datar Lebuay, dan
Desa Batutegi, Kecamatan Airnaningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi
Lampung. Penelitian ini merupakan kajian penulis dalam mendampingi
Kelompok Tani Sangarus Jaya Desa Airnaningan dan Kelompok Tani
Aren Lestari Desa Datar Lebuay dalam memanfaatkan kiambang di areal
genangan Waduk Batutegi sebagai bahan baku kompos sejak bulan Mei
2011 hingga bulan Juni 2013.

B. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya bak kompos dari
bambu, baskom/ember, gembor/penyiram, cangkul, parang, skop, terpal,
tali rafia, mesin pencacah, dan termometer. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kiambang segar, kotoran ternak, dekomposer, dan
air.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Pengomposan
kiambang akan dilakukan dengan Metode Jepang, yaitu dengan
menggunakan bak sederhana dari bambu. Rancangan percobaan dalam
penelitian ini menggunakan Percobaan Faktorial dengan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dua faktor perlakuan sebagai berikut:

Faktor 1: Formulasi Kompos Kiambang


K0 : Kiambang (100%) + (Aktivator 1 liter)
K1 : Kiambang (90%) + Kotoran kambing (10%) + (Aktivator 1 liter)
K2 : Kiambang (70%) + Kotoran kambing (30%) + (Aktivator 1 liter)
26
Faktor 2: Perlakuan pencacahan
P0 : Tidak dilakukan Pencacahan
P1 : Pencacahan dilakukan secara manual
P2 : Pencacahan dilakukan dengan mesin
Kombinasi pengomposan berdasarkan dua faktor tersebut di atas
diperoleh 9 kombinasi. Masing-masing kombinasi akan diulang sebanyak
3 kali ulangan. Kombinasi pengomposan dalam penelitian ini disajikan
pada Tabel 4.

Tabel 4. Kombinasi pengomposan kiambang

Formulasi Perlakuan
Kompos Pencacahan kiambang (P)
P0 P1 P2
K0 K0P0 K0P1 K0P2
K1 K1P0 K1P1 K1P2
K2 K2P0 K2P1 K2P2

D. Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: (1) formulasi kompos
kiambang (K0, K1, dan K2); (2) perlakuan pencacahan (P0, P1, dan P2).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah lamanya proses kematangan
kompos kiambang. Indikator lamanya proses kematangan kompos
kiambang dilihat dari suhu kompos secara berkala (pengukuran suhu akan
dilakukan setiap 5 hari sekali). Apabila suhu kompos sudah konstan,
mengacu pada hasil pengkajian Yang (1996) di muka, maka kompos
sudah dianggap matang.

E. Tahapan Penelitian

1. Pembuatan bak kompos dari bambu


Pengomposan kiambang secara manual dilakukan dengan
menggunakan bak kompos sederhana terbuat dari bambu dengan
ukuran panjang 3 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 1,5 m. Desain bak
sederhana dari bambu disajikan pada Gambar 3.
27
Gambar 3. Bak kompos sederhana dari bambu

2. Pengadaan bahan
Total bahan kompos dalam setiap percobaan adalah 2 ton. Kiambang
diambil di Sungai Way Sangarus (hulu Waduk Batutegi) dengan
menggunakan rakit dari bambu. Kotoran kambing diadakan dari
anggota Kelompok Tani Sangarus Jaya yang memelihara ternak.
Bahan pembuatan kompos terdiri dari:

a) Formulasi K0P0 = 1000 kg kiambang basah (100%) tidak dilakukan


pencacahan + Aktivator (1 liter)

b) Formulasi K0P1 = 1000 kg kiambang basah (100%) dilakukan


pencacahan secara manual + Aktivator (1 liter)

c) Formulasi K0P2 = 1000 kg kiambang basah (100%) dilakukan


pencacahan menggunakan mesin + Aktivator (1 liter)

d) Formulasi K1P0 = 900 kg kiambang basah (90%) tidak dilakukan


pencacahan + 100 kg kotoran kambing (10%) + Aktivator (1 liter)

e) Formulasi K1P1 = 900 kg kiambang basah (90%) dilakukan


pencacahan secara manual + 100 kg kotoran kambing (10%) +
Aktivator (1 liter)

28
f) Formulasi K1P2 = 900 kg kiambang basah (90%) dilakukan
pencacahan dengan menggunakan mesin + 100 kg kotoran
kambing (10%) + Aktivator (1 liter)

g) Formulasi K2P0 = 700 kg kiambang basah (70%) tidak dilakukan


pencacahan + 300 kg kotoran kambing (30%) + Aktivator (1 liter)

h) Formulasi K2P1 = 700 kg kiambang basah (70%) dilakukan


pencacahan secara manual + 300 kg kotoran kambing (30%) +
Aktivator (1 liter)

i) Formulasi K2P2 = 700 kg kiambang basah (70%) dilakukan


pencacahan dengan mesin + 300 kg kotoran kambing (30%) +
Aktivator (1 liter)

3. Tahapan proses pengolahan kiambang menjadi kompos


Tahapan pengomposan dimulai dengan melakukan pembuatan larutan
dekomposer. Selanjutnya dilakukan penumpukan bahan secara
berlapis hingga tingginya minimal mencapai 1 m. Setiap lapisan
disiram dengan larutan dekomposer secara merata. Ukuran lapisan
bahan yang dikomposkan disajikan pada Gambar 4.

Kotoran ternak

5 cm Kiambang
1,25 m

2 cm Kotoran ternak

Kiambang

Gambar 4. Ukuran lapisan bahan kompos

29
Pembalikan kompos dilakukan secara berkala setiap 7 hari sekali.
Tahapan proses pengolahan kiambang menjadi kompos disajikan pada
Gambar 5.

Pengambilan Kiambang
di Sungai Way Sangarus Pengangkutan Kiambang ke
menggunakan Rakit dari Bambu Unit Pengolahan

Proses Fermentasi Pencacahan Kiambang Segar

Pengemasan

Gambar 5. Skema Pengolahan Kiambang menjadi Kompos

4. Pengujian kandungan hara kompos


Pengujian kandungan hara kompos hanya akan dilakukan satu kali
pengujian, yakni terhadap kompos yang dihasilkan paling cepat.
Pengujian kadar hara akan dilakukan di Laboratorium Analisis
Politeknik Negeri Lampung.

5. Pembahasan dan penarikan kesimpulan

F. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini hanya akan dilakukan secara deskriptif.

30
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Alternatif Penanggulangan Gulma Air di Waduk Batutegi

1. Potensi kiambang menjadi bahan baku kompos

Memperhatikan Tabel 1 di muka, berdasarkan analisa terhadap 4 unsur


hara makro (P, K, Mg, dan Ca) terbukti kiambang cukup mengandung
unsur hara makro. Apabila dibandingkan dengan standar kualitas
kompos berdasarkan BSN tahun 2004, maka kandungan hara pada
kiambang terutama P dan K sudah di atas batas minimum.
Perbandingan kandungan 4 unsur hara makro pada kiambang segar
dengan standar kualitas kompos berdasarkan BSN tahun 2004
disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan kadar hara kiambang segar dengan standar


kualitas kompos dari BSN

Standar Kualitas
Kiambang Kompos dari BSN
Unsur Hara Satuan
Segar Minimum Maksimum
P-total (%) 0,570 0,100 *
K-total (%) 1,494 0,200 *
Mg-total (%) 0,012 * 0,600
Ca-Total (%) 0,038 * 25,500
Sumber: Diolah dari Laboratorium Analisis Polinela (2012) dan BSN
(2004)
Keterangan: *) nilainya lebih besar dari minimum atau lebih kecil dari
maksimum

31
Mencermati Tabel 5 dapat diketahui bahwa kiambang basah berpotensi
dijadikan kompos yang mengandung unsur hara makro esensial yang
dibutuhkan tanaman. Data kandungan beberapa unsur hara
sebagaimana disajikan pada Tabel 5 merupakan data sementara
karena belum dilakukan pengujian seluruh unsur hara makro dan mikro
yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, data kandungan unsur hara
tersebut dimungkinkan akan berubah setelah kiambang diolah menjadi
kompos. Aktivitas dan formulasi pengomposan dimungkinkan akan
berpengaruh terhadap kandungan hara kompos kiambang.

2. Potensi kiambang menjadi bahan baku pakan ternak

Berdasarkan hasil penelitian kadar proksimat kiambang tahun 2012 di


Waduk Batutegi, diketahui bahwa kiambang berpotensi dijadikan bahan
campuran pakan ternak. Hasil analisa kandungan zat-zat makanan
pada kiambang dibandingkan dengan jerami padi, rumput gajah, dan
kulit kopi disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Kadar proksimat beberapa jenis bahan pakan ruminansia

Zat-Zat Makanan (%)


Bahan Pakan
Protein Lemak Serat
Ruminansia Abu BETN
Kasar Kasar Kasar
Kiambang1 10,18 23,70 2,84 24,66 38,36
2
Jerami padi 19,97 4,51 1,51 28,79 45,21
Rumput gajah2 10,00 4,60 2,10 38,20 45,00
2
Gamal 9,7 19,10 3,0 18,0 50,2
Dedak kasar2 15,87 6,53 2,36 29,81 34,89
Kulit buah kakao2 11,63 8,01 1,28 40,08 38,49
Silase kulit kopi3 4,86 10,64 0,69 15,74 *
Sumber: 1. Fachrudin, 2012; 2. Tim Laboratorium Ilmu dan
Teknologi Pakan FP IPB, 2012; 3. Simanihuruk dan
Sirait, 2010
Keterangan: *) tidak ada data pengujian

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa pada kiambang


terkandung protein kasar paling tinggi dibandingkan bahan pakan
lainnya, begitu pula kadar serat kasar relatif lebih tinggi dibanding daun
gamal dan silase kulit kopi. Selanjutnya, nilai BETN (Bahan Ekstrak
32
Tanpa Nitrogen) pada kiambang cukup tinggi dan hampir sama dengan
kulit buah kakao, tetapi lebih tinggi dibandingkan dedak kasar. Dengan
demikian, kiambang relatif lebih mudah dicerna dibandingkan dedak
kasar dan dapat menjadi salah satu bahan campuran formula pakan
ternak ruminansia. Fachrudin (2012) menyarankan perlunya dilakukan
penelitian lanjutan untuk mengolah kiambang menjadi formulasi pakan
dan pengujiannya terhadap pertambahan bobot ternak.

B. Potensi Bobot Kiambang di Waduk batutegi sebagai Bahan Baku


Kompos

1. Perhitungan luas areal genangan Waduk Batutegi yang tertutupi


kiambang

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung menyebutkan


luas genangan Waduk Batutegi pada kapasitas tampung efektif (elevasi
274 m) adalah 21 km2. Berdasarkan pengamatan di permukaan
genangan Waduk Batutegi dimulai dari genangan induk hingga bagian
hulu pada bulan April 2012 serta penguatan informasi pihak pengelola
Waduk (Tumijo), diperkirakan tidak kurang dari 75% permukaan air
genangan tertutupi kiambang. Dengan demikian total luas areal
genangan yang tertutupi kiambang dihitung sebagai berikut.

Luas areal genangan Waduk Batutegi yang tertutupi kiambang

= total luas genangan x 75%

= 21 km2 x (75/100)

= 15,75 km2

= 15.750.000 m2

Jadi total luas genangan Waduk Batutegi yang tertutupi kiambang


adalah 15.750.000 m2.

33
2. Perhitungan bobot kiambang yang tersedia di Waduk Batutegi

Untuk mengetahui total bobot kiambang dalam luas areal Waduk


Batutegi yang tertutupi kiambang dilakukan pengambilan sampel
kiambang pada petak pengamatan berukuran luas 4 m2 sebagaimana
disajikan pada Gambar 6. Pengamatan dilakukan di tiga titik, yaitu di
Dermaga GT Waduk Batutegi dan di bagian hulu genangan (Sungai
Way Sangarus dan Way Sekampung). Masing-masing titik dilakukan
tiga kali pengulangan.

Gambar 6. Petak pengamatan

Rerata bobot kiambang di Waduk Batutegi yang diambil dari petak


pengamatan di tiga titik pengamatan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil perhitungan bobot kiambang di Waduk Batutegi


berdasarkan lokasi pengamatan

Rerata bobot kiambang per m2


Parameter pada 3 lokasi pengamatan Rerata
pengukuran Dermaga Sungai Way Sungai Way
GT Sangarus Sekampung
.................................. Kg .................................
Bobobt kiambang 11,133 6,700 21,300 13,044
segar*
Bobot kiambang 0,531 0,320 1,017 0,623
kering**
Keterangan: *) Kiambang baru diangkat dari petak pengamatan dan
ditiriskan selama 30 menit
**) Konversi bobot kiambang setelah dilakukan
penjemuran sampai bobotnya tetap

34
Berdasarkan Tabel 7 diketahui rerata bobot kering kiambang dalam
luasan 1 m2 adalah 0,623 kg. Hasil pengamatan ini mengandung arti
bahwa kadar air pada kiambang basah mencapai 95,224%.
Perhitungan total bobot kering kiambang yang menutupi genangan
Waduk Batutegi adalah sebagai berikut:

Total bobot kering kiambang


= Rerata bobot kering kiambang dalam luasan 1 m2 x luas genangan
yang tertutupi kiambang
= 0,623 kg/m2 x 15.750.000 m2

= 9.812.250 kg

= 9.812,25 ton

Jadi total bobot kering kiambang yang tersedia di Waduk Batutegi


setiap tahun sebanyak 9.812,25 ton. Dengan demikian, potensi
kiambang di Waduk Batutegi yang dapat diproduksi menjadi kompos
cukup besar. Secara matematis, apabila kadar air kompos yang
diproduksi maksimal 20%, maka dengan bahan baku kiambang kering
9.812,25 ton akan menghasilkan kompos kiambang murni mencapai
12.265,312 ton. Apabila diasumsikan kebutuhan kompos lahan kebun
atau sawah adalah 5 ton/ha/tahun, maka kiambang yang tersedia di
Waduk Batutegi dapat mencukupi kebutuhan kompos bagi lahan kebun
atau sawah seluas 2453 ha/tahun.

C. Pengaruh Penambahan Kotoran Ternak dan Perlakuan


Pencacahan Terhadap Lamanya Proses Pengomposan Kiambang

Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap lamanya proses


pengomposan dilihat dari perbedaan formulasi kompos, yakni formulasi
K0P0, K1P0, K2P0. Selanjutnya, pengaruh perlakuan pencacahan
terhadap lamanya proses pengomposan dilihat dari formulasi K0P1 dan
K0P2. Sementara itu, untuk melihat pengaruh kedua variabel tersebut
(penambahan kotoran ternak dan perlakuan pencacahan) terhadap
35
lamanya proses pengomposan dilihat dari formulasi K1P1, K1P2, K2P1,
dan K2P2. Hasil pengamatan suhu pada proses fermentasi berdasarkan
formulasi dan perlakuan pencacahan disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil pengamatan suhu pada proses fermentasi kiambang

FORMU- o
Suhu Kompos ( C) Berdasarkan Hari
LASI
KOMPOS 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
K0P0 43,33 40,33 36 35 33,33 33 32 31,67 31,33 30,33 30,33 30
K0P1 45,33 41,33 37,67 34,33 33,33 33 32 31,67 31,33 30,67 30,33 29,67
K0P2 45,67 41,67 37,33 34,67 33 32,33 31,67 31,33 30 29,33 28,33 28
K1P0 45,67 43 37,33 34,67 33 32,33 31,33 31 30,33 29,67 29,33 28,67
K1P1 46,33 43 37 33,67 32,67 32 31,33 30,33 29,67 28,67 27,33 27
K1P2 47 40,33 34 30,67 28 27 27 27 27 27 27 27
K2P0 47,33 40,33 34,67 31,33 30,33 29 28,67 28 27,33 27 27 27
K2P1 47,67 38 31,33 29,33 27 27 27 27 27 27 27 27
K2P2 48,67 32 28,67 26,67 26,67 26,67 26,67 26,67 26,67 26,67 26,67 26,67

1. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap lamanya proses


pengomposan
Hasil pengamatan pengomposan formulasi K0P0, K1P0, dan K2P0
disajikan pada Gambar 7.

50
45
40
35
30 K0P0
Suhu oC

25 K1P0
20 K2P0
15
10
5
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Lama proses pengomposan (hari)

Gambar 7. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap


lamanya proses pengomposan kiambang

36
Mencermati Gambar 7, terlihat jelas ada perbedaan lamanya proses
pengomposan antar formulasi. Formulasi K2P0 mencapai kestabilan
suhu (27oC) pada hari ke-50, sedangkan formulasi K1P0 mencapai
kestabilan suhu (28,67 oC) pada hari ke-60. Sementara itu, formulasi
K0P0 (kontrol) pada hari ke-60 suhunya masih relatif lebih tinggi
(30 oC). Perbedaan komposisi kompos formulasi K1P0 dengan K2P0,
yakni pada persentase penambahan kotoran ternak. Formulasi K2P0
ditambahkan 30% kotoran ternak, sedangkan formulasi K1P0 hanya
sebanyak 10%.

Sejalan dengan pendapat Setyorini et al. (2006) di muka, bahwa prinsip


kegiatan pengomposan adalah menurunkan rasio C/N. Proses
pengomposan akan berlangsung optimal apabila kadar C/N bahan baku
mendekati 30. Tabel 3 menunjukkan rasio C/N kiambang adalah 36,93
(>30). Dengan demikian, untuk mempercepat proses pengomposan
kiambang perlu dilakukan penurunan rasio C/N. Penambahan kotoran
kambing yang memiliki rasio C/N 21,12, lebih rendah dibandingkan
kiambang, sebagaimana dikemukakan Isrori dan N.Yuliarti (2009) akan
menurunkan rasio C/N bahan kompos dan pengomposan akan
berlangsung lebih cepat. Kondisi ini dapat terlihat jelas pada Gambar 7
bahwa formulasi K0P0, yang merupakan kontrol dalam penelitian
mengalami proses pengomposan yang lebih lama. Pada hari ke-60
diketahui suhu rata-rata pada formulasi kontrol masih mencapai 30oC.
Semakin banyak persentase penambahan kotoran kambing pada
proses pengomposan kiambang terbukti dapat mempercepat proses
pengomposan.

37
2. Pengaruh perlakuan pencacahan terhadap lamanya proses
pengomposan kiambang
Hasil pengamatan pengomposan formulasi K0P0, K0P1, dan K0P2
disajikan pada Gambar 8.

50
45
40
35
30 K0P0
Suhu oC

25 K0P1
20 K0P2
15
10
5
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Lama proses pengomposan (hari)
Gambar 8. Pengaruh pencacahan terhadap lamanya
proses pengomposan kiambang

Berdasarkan Gambar 8 diketahui bahwa perlakuan pencacahan pada


formulasi K0 (kiambang 100%) hanya berpengaruh pada perlakuan P2
(pencacahan dengan mesin). Namun demikian, pengaruh pencacahan
yang tidak diikuti dengan penambahan kotoran ternak terbukti tidak
mempercepat proses pengomposan. Pada perlakuan P2 terhadap
kiambang (K0) kompos mengalami kestabilan suhu baru pada hari ke
55. Apabila dibandingkan dengan perlakuan penambahan kotoran
ternak pada Gambar 7, formulasi 70% kiambang dan 30% kotoran
ternak (K2) tanpa melakukan pencacahan kiambang (P0), tampak
kompos mengalami kestabilan suhu pada hari ke-50. Dengan
demikian, penambahan kotoran ternak dalam proses pengomposan
kiambang lebih berpengaruh dibandingkan perlakuan pencacahan saja
tanpa menambahkan kotoran ternak. Kondisi ini dapat dipahami
berdasarkan uraian di muka, bahwa menurut Isrori dan N. Yuliarti

38
bahwa penambahan kotoran ternak akan menurunkan rasio C/N bahan
dan akan mempercepat kematangan kompos.

3. Pengaruh penambahan kotoran ternak dan pencacahan terhadap


lamanya proses pengomposan kiambang

Hasil pengamatan pengomposan formulasi K0P0, K1P1, K1P2, K2P1,


dan K2P2 disajikan pada Gambar 9.

50
45
40
35 K0P0
30 K1P1
Suhu oC

25 K1P2
20 K2P1
15
K2P2
10
5
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

Lama proses pengomposan (hari)

Gambar 9. Pengaruh penambahan kotoran ternak terhadap


lamanya proses pengomposan

Gambar 9 memperlihatkan bahwa ada pengaruh signifikan terhadap


kombinasi penambahan kotoran kambing (K1 dan K2) dengan perlakuan
pencacahan menggunakan mesin (P2) terhadap lamanya proses
pengomposan. Penambahan kotoran kambing 30% (K2) dengan
perlakuan pencacahan kiambang menggunakan mesin (P2) merupakan
kombinasi yang membutuhkan waktu lebih sedikit untuk mencapai
kestabilan suhu (20 hari). Formulasi K2 dengan perlakuan pencacahan
secara manual (P1) membutuhkan waktu fermentasi 5 hari lebih lama
dibandingkan kombinasi K2P2. Selanjutnya, kombinasi K1P2 mengalami
kestabilan suhu 10 hari lebih lama dibandingkan K2P2.

39
Berdasarkan hasil pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa proses
pengomposan kiambang yang membutuhkan waktu lebih sedikit (<30 hari)
mengalami kestabilan suhu (kematangan kompos) yaitu penambahan
kotoran ternak 30% dengan perlakuan pencacahan kiambang baik secara
manual maupun menggunakan mesin. Untuk melihat lebih jelas
perbedaan lamanya proses pengomposan kiambang berdasarkan
penambahan kotoran ternak dan perlakuan pencacahan dalam penelitian
ini disajikan pada Gambar 10.

K2P2
Kombinasi formulasi dan

K2P1
perlakuan pencacahan

K2P0
K1P2
K1P1
K1P0
K0P2
K0P1
K0P0

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Lamanya proses pengomposan (hari)

Gambar 10. Lamanya proses pengomposan pada semua


kombinasi formulasi dan perlakuan

D. Mutu Kompos Kiambang

Mutu kompos kiambang akan dilihat dari kandungan unsur hara dan rasio
C/N. Sebagaimana telah ditetapkan di muka, bahwa pengujian mutu
kompos kiambang hanya akan dilakukan pada formulasi kompos dengan
perlakuan yang paling cepat mencapai kestabilan suhu. Berdasarkan
pembahasan sebelumnya diketahui bahwa formulasi K2 dan perlakuan P2
adalah komposisi yang paling cepat mencapai kestabilan suhu, yakni
pada hari ke-20. Pengujian kandungan unsur-hara pada kompos

40
kiambang (formulasi K2P2) dilakukan di Laboratorium Analisis Polinela
dengan hasil disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Kandungan unsur hara pada kompos kiambang

No Parameter Satuan Hasil Metode


Pengujian Analisis
1 Nitrogen (N) % 1,866 Kjedahl
2 Karbon (C) % 12,642 Walkley Black
3 Fhosfor (P) % 2,659 Spektrofotometri
4 Kalium (K) % 0,815 Flamefotometri
5 Magnesium (Mg) % 0,009 Volumetri
6 Kalsium (Ca) % 0,019 Volumetri
7 Sulfur (S) % 1,322 Spektrofotometri
8 Besi (Fe) % 0,002 Spektrofotometri
9 Tembaga (Cu) mg/kg 0,918 AAS
10 Zink (Zn) mg/kg 2,172 Spektrofotometri
11 Mangan (Mn) mg/kg 0,198 AAS
12 Boron (B) mg/kg Ttd Spektrofotometri
13 Molibdenum (Mo) mg/kg Ttd Spektrofotometri
14 Klorida (Cl) mg/kg 4,532 Volumetri

Sumber: diolah dari Laboratorium Analisa Polinela, 2013


Keterangan: ttd = tidak terdeteksi

Berdasarkan Tabel 9 diketahui dalam kompos kiambang dengan formulasi


K2 terkandung 6 unsur hara makro dan 5 unsur hara mikro yang esensial
dibutuhkan tanaman. Perbandingan kandungan unsur hara kompos
kiambang terhadap baku mutu kompos BSN tahun 2004 disajikan pada
Tabel 10.

41
Tabel 10. Perbandingan kandungan unsur hara kompos kiambang dengan
baku mutu kompos BSN tahun 2004

Standar Mutu Kompos


Kompos dari BSN
Unsur Hara Satuan
Kiambang Minimum Maksimum
C % 12,642 9,80 32
N % 1,866 0,40 *
C/N-rasio 6,775 10 20
P % 2,659 0,100 *
K % 0,815 0,200 *
Mg % 0,009 * 0,600
Ca % 0,019 * 25,500
Fe % 0,002 * 2,0
Mn mg/kg 0,198 * 100
Cu mg/kg 0,918 * 100
Zn mg/kg 2,172 * 500
Sumber: Diolah dari Laboratorium Analisis Polinela (2013) dan BSN
(2004)

Berdasarkan BSN (2004) kompos yang bermutu apabila rasio C/N


mendekati rasio C/N tanah (1020). Mencermati Tabel 10, rasio C/N
kompos kiambang lebih rendah dari standar kualitas kompos yang
dikeluarkan BSN. Menurut Setyorini et al. (2006) apabila rasio C/N
kompos tinggi (>30) kompos dinyatakan belum matang. Penggunaan
kompos yang belum matang di lahan usahatani menyebabkan
dekomposisi yang lambat dan menghambat pertumbuhan tanaman karena
kekurangan nitrogen tersedia. Sementara itu, rasio C/N yang terlalu
rendah (<15) mengakibatkan nitrat-N yang dapat mengurangi mutu
tanaman pertanian. Dengan demikian, perlu dilakukan pengkajian ulang
mengenai formulasi pengomposan yang tepat agar rasio C/N kompos
kiambang sesuai dengan standar (1020).

Apabila ditinjau dari ketersediaan unsur hara, kompos kiambang cukup


mengandung unsur hara makro dan mikro. Kompos kiambang
42
mengandung 6 unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan 5 unsur
hara mikro (Fe, Cu, Zn, Mn, dan Cl). Berdasarkan Tabel 10, kandungan
unsur hara makro pada kompos kiambang (N, P, dan K) cukup tersedia,
sedangkan unsur S pada kompos kiambang tidak dapat dibandingkan
dengan baku mutu kompos BSN tahun 2004 karena tidak tersedia data
pembandingnya. Namun, kandungan unsur S pada kompos kiambang
jauh lebih tinggi dibandingkan unsur Ca dan Mg (<0,1 %). Mengacu pada
pendapat Agustina (2004) bahwa unsur hara makro yang esensial
dibutuhkan tanaman ada 6 unsur dan ke-6 unsur tersebut ada pada
kompos kiambang. Dengan demikian, ditinjau dari kandungan unsur hara
makro kompos kiambang layak digunakan untuk memperbaiki sifat kimia
tanah.

Unsur hara mikro yang terdapat pada kompos kiambang hanya 5 unsur
(Fe, Cu, Mn, Cl, dan Zn). Hasil pengujian di Laboratorium Analisis
Polinela menunjukkan bahwa pada kompos kiambang tidak terdeteksi
unsur Mo dan B. Kandungan unsur hara mikro kompos kiambang
dibandingkan dengan baku mutu kompos BSN masih relatif rendah (<10
mg/kg). Oleh karena itu, mengingat ketersediaan unsur hara merupakan
faktor pembatas pertumbuhan dan perkembangan tanaman, maka
formulasi kompos kiambang harus ditambahkan lagi bahan-bahan lain
yang mengandung cukup unsur hara makro (terutama Ca dan Mg), serta
unsur hara mikro (terutama Mo dan B). Semakin banyak variasi
pemanfaatan bahan yang melimpah di lingkungan petani (jerami padi, kulit
buah kopi, dan kulit buah kakao) diharapkan mutu kompos kiambang akan
semakin baik. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
menambahkan variasi bahan yang lebih banyak agar diperoleh formulasi
kompos kiambang yang paling baik dan memenuhi semua kriteria baku
mutu kompos BSN tahun 2014.

43
Erdiansyah (2013) melaporkan, hasil kaji terap skala terbatas di
pekarangan, penambahan kompos kiambang terhadap pertumbuhan
tanaman tomat di polybag (Gambar 26 dan 27, lampiran 4) menunjukkan
bahwa ada perbedaan pertumbuhan yang signifikan antara tanaman yang
tidak diberi kompos kiambang dengan tanaman yang diberi kompos
kiambang. Begitupula apabila dibandingkan dengan penambahan POG
(Pupuk Organik Granul), dengan dosis aplikasi sama menunjukkan
perbedaan. Tanaman yang diberi kompos kiambang pertumbuhannya
lebih baik dibandingkan dengan pemberian POG. Indikator pertumbuhan
ini dilihat dari tinggi tanaman dan panjang tangkai daun. Pada umur 30
hari setelah tanam, rata-rata tinggi tanaman tomat yang media tanamnya
diberi kompos kiambang (1kg) mencapai 94,68 cm (rerata panjang tangkai
daun 38,58 cm), sedangkan tanaman tomat yang media tanamnya diberi
POG (1kg) hanya mencapai 74,60 cm (rerata panjang tangkai daun 33,96
cm). Sementara itu, tanaman tomat yang medianya tidak ditambahkan
kompos (kontrol) pada umur yang sama (30 hari) tingginya hanya
mencapai 70,20 cm (rerata panjang tangkai daun 29,2 cm). Berasarkan
pengkajian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan kompos
kiambang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang
memacu baiknya pertumbuhan tanaman. Sebagaimana dikemukakan
Setyorini et al. (2006) bahwa penambahan bahan organik ke lahan
usahatani akan meningkatkan kegemburan dan kesuburan lahan.
Hanafiah et al. (2005) di muka menambahkan bahwa bahan organik di
dalam tanah akan mendukung kehidupan organisme tanah yang setiap
aktivitasnya akan meningkatkan mutu tanah.

44
V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahansan di muka dapat disimpulkan beberapa hal,


sebagai berikut:

1) Alternatif solusi pengendalian gulma air di Waduk Batutegi Lampung


dapat dilakuakan dengan menggiatkan kelompok tani untuk
memanfaatan kiambang sebagai bahan dasar kompos yang dapat
memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Selain itu,
berdasarkan analisa kadar proksimat, kiambang berpotensi dijadikan
bahan campuran pakan ternak ruminansia.

2) Potensi bahan kering kiambang yang ada di areal genangan Waduk


Batutegi mencapai 9.812,25 ton/tahun. Kompos yang dapat diproduksi
dengan bahan kiambang murni (kadar air kompos 20%) mencapai
12.265,312 ton dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik pada lahan
kebun atau persawahan seluas 2453 ha/tahun (dengan asumsi
kebutuhan kompos 5 ton/ha/tahun).

3) Kombinasi penambahan kotoran ternak sebanyak 30% dari total bahan


dan perlakuan pencacahan (baik secara manual maupun menggunakan
mesin) terbukti dapat mempercepat proses pengomposan kiambang
(<30 hari).

4) Rasio C/N kompos kiambang (6,775) lebih rendah dari batas minimum
baku mutu kompos BSN tahun 2004 (10). Kandungan unsur hara
makro (Ca dan Mg) sangat rendah (<0,1%) jauh di bawah batas
maksimum baku mutu kompos BSN. Unsur hara mikro yang
terkandung dalam kompos kiambang hanya 5 unsur (Fe, Cu, Zn, Mn,
45
dan Cl), sedangkan B dan Mo tidak terdeteksi. Untuk meningkatkan
mutu kompos kiambang, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
memperkaya variasi bahan-bahan lain yang cukup mengandung unsur
hara dan banyak tersedia di lingkungan petani (seperti jerami padi,
sekam kopi, dan kulit buah kakao).

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diusulkan saran-saran berikut:
1) Untuk meningkatkan efektifitas pengendalian kiambang di Waduk
Batutegi dengan mengolahnya menjadi kompos perlu diberdayakan
semua kelompok tani yang ada di sekitar genangan Waduk Batutegi.

2) Pihak pengelola Waduk Batutegi dapat memberikan dukungan kepada


kelompok-kelompok tani yang sudah berupaya melakukan pengolahan
kiambang menjadi kompos agar volume produksinya dapat meningkat
sebagaimana telah dilakukan PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan
Bandar Lampung yang telah memfasilitasi berdirinya Unit Pengolahan
Kiambang di Pekon Airnaningan yang dikelola Kelompok Tani
Sangarus Jaya.

3) Kepada para penyuluh dan petani di wilayah Kecamatan Airnaningan


Perlu melakukan kaji terap terhadap kompos kiambang baik untuk
budidaya tanaman pangan, hortikultura, maupun tanaman perkebunan
secara lebih komprehensif sehingga dapat diketahui dampak
penambahan kompos kiambang terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman.

46
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Anonim. (2014). Jenis-jenis Kiambang.


(http://id.wikipedia.org/wiki/Kiambang, diakses tanggal 8 Februari
2014).

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2004. Spesifikasi Kompos dari


Sampah Organik Domestik. SNI 19-7030-2004.

Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung. 2006. Profil Balai Besar
Wilayah Sungai Mesuji Sekampung. Lampung.

Cahaya TS, A., dan D. A. Nugroho. 2008. Pembuatan Kompos dengan


menggunakan limbah padat organik (sampah sayur dan ampas tebu).
Universitas iponegoro. Semarang.
(http://www.academia.edu/3374556/pembuatan_kompos_dengan_me
nggunakan_limbah_padat_organik.pdf, diakses tanggal 8 Februari
2014)

Dirjen Perkebunan. 2006. Pemanfaatan Limbah Perkebunan.


(http://ditjenbun.pertanian.go.id/perbenpro/images/stories/Pdf/pedoma
nlimbahbuku-nop.pdf, diakses tanggal 8 Februari 2014).

Divakaran, O., M. Arunachalam, dan N.B. Nair. 1980. Growth rates of


Salvinia molesta Mitchell with special reference to salinity.
Proceedings of Indian Academy of Science, Plant Science, 89:161-
168. Dalam: Farida 2011. (http://farida-
berbagipengetahuan.blogspot.com.html, diakses tanggal 21 Februari
2014).

Djaja, W. 2008. Langka Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan
Sampah Kota. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Erdiansyah. 2013. Pengaruh Penambahan Pupuk Organik Sangarus


(POS) dan POG terhadap Pertumbuhan Tanaman Tomat di
Pekarangan. Laporan Kaji Terap Skala Terbatas. BP3K Kecamatan
Airnaningan. Tanggamus

47
Filliazati, M., I. Apriani, dan T.A. Zahara. 2013. Pengolahan Limbah Cair
Domestik dengan Biofilter Aerob Menggunakan Media Bioball dan
Tanaman Kiambang. Universitas Tanjungpura. Pontianak.
(http://www.academia.edu/6531621/pengolahan_limbah_cair_domesti
k.pdf, diakses tanggal 8 Februari 2014).

Fachrudin, R. 2012. Evaluasi Kandungan Zat-Zat Makanan Kiambang


(Salvinia molesta) di Waduk Batutegi Kecamatan Airnaningan
Kabupaten Tanggamus. Universitas Lampung. Lampung.

Gaur, A.C. 1980. Rapid Composting. In Compost Technology. Project


Field Document No. 13. Food ang Agriculture Organization of The
United Nations. Dalam: Kompos. Setyorini et al. (2006).

Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. Agro Media Pustaka.


Jakarta.
Hanafiah, K. A., A. Napoleon, dan N. Ghofar. 2005. Biologi Tanah, Ekologi
dan Makrobiologi Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Isrori dan N. Yuliarti. 2009. Kompos, Cara Mudah, Murah, dan Cepat
Menghasilkan Kompos. Andi. Yogyakarta.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah
Tropik. Edisi ke-2. Gramedia. Jakarta.

Nataraja, K. 2008. Feasibility Of Using Salvinia molesta (D. S. Mitchell)


For Composting, Vermicomposting, and Biogas Generation. Dharwad
University of Agricultural Sciences. Dharwad.
(http://www.google.com/url?q=http://etd.uasd.edu/ft/th9730.pdf,
diakses tanggal 21 Februari 2014).
Saraswati, R. dan Sumarno. 2008. Pemanfaatan Mikroba Penyubur Tanah
sebagai Komponen Teknologi Pertanian. Dalam: Iptek Tanaman
Pangan Vol. 3 No. 1 - 2008.
(http://www.google.com/search?client=firefox-
a&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&channel=jenis-
jenis+spesies+mikroba+yang+berperan++dala+proses+pengomposan
.pdf, diakses tanggal 8 Februari 2014).
Setyorini, D.R. Saraswati, dan E.K. Anwar. 2006. Kompos. Dalam: Pupuk
Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan
Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Editor
Simanungkalit, R.D.M. et al. 2006.

48
Simanihuruk, K., dan J. Sirait. 2010. Silase Kulit Buah Kopi Sebagai
Pakan Dasar pada Kambing Boerka Sedang Tumbuh. Prosiding
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veternier 2010.
Sumatera Utara.
(http://www.google.com/url?q=http://lolitkambing.litbang.deptan.go.id/i
nd/images/stories/pdf/pro10-82_kiston_simanihuruk.pdf, diakses
tanggal 25 Februari 2014.

SQI. 2001. Guidelines for Soil Quality Assesment in Conservation


Planning. Soil Quality Institute. Natural Resources Conservation
Service. USDA. Dalam: Partoyo (2005) Analisis Indeks Kualitas Tanah
Pertanian di Lahan Pasir Pantai Samas Yogyakarta. Dalam: Ilmu
Pertanian Vol. 12 No.2. 14015.
(http://agrisci.ugm.ac.id/vol12_2/6.140-
151.Indeks%20Kualitas%20Tanah.pdf, diakses tanggal 10 Februari
2014).

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik, Menuju Pertanian Alternatif dan


Berkelanjutan. Kanisus. Yogyakarta.

Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB.


2012. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri Sejahtera.
(http://anuragaja.staff.ipb.ac.id/files/2012/04/Buku-PBMT.pdf, diakses
tanggal 5 Maret 2014).

USDA.2012. Klasifikasi kiambang.


(http://plants.usda.gov/classification/output_report.cgi?5, diakses
tanggal 8 Februari 2014).
Whiteman, J. B. 1991. Aquatic Botany. Washington Cambridge university.
Dalam: Farida 2011. (http://farida-
berbagipengetahuan.blogspot.com/2011_04_01_archive.html, diakses
tanggal 5 Maret 2014).

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.

49
Lampiran 1. Peta Irigasi Way Sekampung

Gambar 11. Peta Irigasi Way Sekampung

50
Lampiran 2. Standar mutu kompos

Tabel 11. Standar mutu kompos

No Parameter Pengujian Satuan Minimum Maksimum

1 Kadar Air % * 50
o
2 Temperatur C Suhu air tanah
3 Warna Kehitaman
4 Bau Berbau tanah
5 Ukuran Partikel Mm 0,55 25
6 Kemampuan ikat air % 58 *
7 pH 6,80 7,49
8 Bahan asing % * 1,5
Unsur makro
9 Bahan organik % 27 58
10 Nitrogen % 0,40 *
11 Karbon % 9,80 32
12 Phosfor (P2O5) % 0,10 *
13 C/N-rasio 10 20
14 Kalium (K2O) % 0,2 *
Unsur mikro
15 Arsen mg/kg * 13
16 Kadmium (Cd) mg/kg * 3
17 Kobal (Co) mg/kg * 34
18 Kromium (Cr) mg/kg * 210
19 Tembaga (Cu) mg/kg * 100
20 Merkuri (Hg) mg/kg * 0,8
21 Nikel (Ni) mg/kg * 62
22 Timbal (Pb) mg/kg * 150
23 Selenium (Se) mg/kg * 2
24 Seng (Zn) mg/kg * 500
Unsur lain
25 Kalsium (Ca) % * 25,50
26 Magnesium (Mg) % * 0,60
27 Besi (Fe) % * 2,00
28 Aluminium (Al) % * 2,20
29 Mangan (Mn) % * 0,10
Bakteri
30 Fecal coli MPN/gr 1000
31 Salmonella sp. MPN/4 gr 3
Keterangan: *) nilainya lebih besar dari minimum atau lebih kecil dari
maksimum

Sumber: Badan Standardisasi Nasional (BSN), 2004

51
Lampiran 3. Jenis-jenis kiambang

Gambar 12.Salvinia minima Gambar 13. Salvinia natans

Gambar 14. Pistia stratiotes Gambar 15. Salvinia molesta

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kiambang (gambar 12, 13, dan 14)

52
Lampiran 4. Dokumentasi penelitian

Gambar 16. Kiambang di areal Gambar 17. Pembuangan


genangan Waduk Batutegi kiambang melaluai saluran

Gambar 18. Kiambang yang Gambar 19. Pengambilan


mengendap di dasar areal kiambang di areal genangan
genangan berpotensi Waduk Batutegi
menyebabkan pendangkalan

53
Gambar 20. Pencacahan Gambar 21. Pencacahan
kiambang secara manual kiambang menggunakan mesin

Gambar 22. Proses Gambar 23. Pengomposan


pengomposan kiambang kiambang di bak pengomposan

54
Gambar 24. Kompos kiambang Gambar 25. Penghitungan bobot
hampir matang kering kiambang

Gambar 26. Kaji terap penerapan Gambar 27. Perbedaan


kompos kiambang skala terbatas pertumbuhan tanaman tomat (A2
pada tanaman tomat = Tanah + kompos Kiambang
1kg; B2 = Tanah + POG 1 kg; C2
Tanah tanpa kompos (kontrol)

55