You are on page 1of 5

Diagnosis

Diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan adanya (1) infeksi, yang meliputi: (a) faktor

predisposisi infeksi, (b) tanda atau bukti infeksi yang sedang berlangsung, (c) respon inflamasi;

dan (2) tanda disfungsi/gagal organ. Sehingga langkah awal yang dilakukan dalam

menegakkan diagnosis sepsis adalah membuktikan adanya infeksi baik secara klinis dan

laboratoris. Selanjutnya membuktikan adanya tanda disfungsi/gagal organ. Alur diagnosis

sepsis terdapat pada Gambar 1.1

Gambar 1. Alur penegakkan diagnosis sepsis.

Mengidentifikasi adanya infeksi meliputi faktor predisposisi yaitu faktor genetic, usia,

status nutrisi, status imunisasi, komorbiditas, dan riwayat terapi. Lalu tanda infeksi yang

didapatkan secara klinis yaitu demam atau hipotermia, maupun adanya fokus infeksi, secara

laboratoris didapatkan dengan pemeriksaan darah tepi (leukosit, trombosit, rasio neutrophil:

limfosit, shift to the left), pemeriksaan morfologi darah tepi (granula toksik, double body, dan

vakuola dalam sitoplasma memiliki sensitivitas 80% untuk memprediksi infeksi), c-reactive

protein (CRP), dan prokalsitonin, dengan pemeriksaan berkala/berulang sesuai keputusan

klinisi dan ketersediaan fasilitas pemeriksaan di rumah sakit.1


Sepsis memerlukan pembuktian adanya mikroorganisme yang dapat dilakukan melalui

pemeriksaan apusan Gram, hasil kultur, atau polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan

fokus infeksi lebih lanjut dengan pemeriksaan analisa urin, feses rutin, lumbal pungsi, dan

pencitraan sesuai indikasi.1

Kecurigaan disfungsi organ (warning signs) apabila ditemukan salah satu dari 3 tanda

klinis yaitu penurunan kesadaran (metode AVPU), gangguan kardiovaskular (penurunan

kualitas nadi, perfusi perifer, atau rerata tekanan arterial), atau gangguan respirasi (peningkatan

atau penurunan work of breathing, sianosis). Lima sistem organ yang mempunyai sensitivitas

dan spesifitas baik (Sn: 97,4% dan Sp: 99,5%) sebagai penanda adanya disfungsi organ yaitu

kardiovaskular, respiratorik, hematologis, renal, dan hepatik. Namun yang berhubungan kuat

dengan mortalitas adalah sistem saraf pusat, respirasi, dan kardiovaskular. Sehingga upaya

untuk deteksi dini sepsis dapat digunakan warning signs yang meliputi gangguan saraf pusat,

kardiovaskular, dan respirasi.1

Disfungsi organ ditegakkan berdasarkan skor PELOD-2. Diagnosis sepsis tegak bila

skor 11 (atau 7). Cut-off skor 11 karena berkaitan dengan peningkatan mortalitas 30,5%.

Namun pada rumah sakit tipe B atau C, yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan dan

pelayanan yang lengkap, dan mengharuskan rujukan ke rumah sakit tipe A, cut-off skor

PELOD-2 7 (risiko mortalitas 7%).1


Tabel 1. Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) 21

Definisi sepsis berat adalah sepsis yang disertai salah satu dari yaitu: disfungsi organ

kardiovaskular, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), atau dua atau lebih disfungsi

organ yaitu organ respirasi, renal, neurologis, hematologis, atau hepatik (Tabel 4).2

Syok septik pada anak tidak harus disertai hipotensi sistemik seperti pada orang

dewasa. Syok bisa terjadi jauh sebelum hipotensi terjadi pada anak. Syok septik pada anak
ditandai dengan takikardi disertai penurunan perfusi termasuk penurunan denyut nadi perifer

dibandingkan denyut nadi sentral, penurunan kesadaran, waktu pengisian kapiler >2 detik,

ekstremitas berbintik-bintik (mottling), akral dingin, atau penurunan output urin. Pada

akhirnya, bradikardia bisa menjadi tanda SIRS pada kelompok usia bayi baru lahir tetapi tidak

pada anak yang lebih tua (Tabel 3). Syok septik didefinisikan sebagai sepsis dengan adanya

disfungsi organ kardiovaskular sesuai Tabel 4.2

Tabel 3. Tanda vital dan hasil laboratorium berdasarkan usia2

Tabel 4. Kriteria disfungsi organ2


Pada syok sepsis, juga harus dievaluasi untuk mendapatkan sumber infeksi sehingga

perkembangan infeksi dapat dikontrol. Mikroorganisme penyebab yang sudah teridentifikasi

penting untuk penanganan selanjutnya. Walaupun dalam menentukan penyebab definitif

sepsis/syok sepsis tersebut sulit dilakukan pada penanganan awal. (krastins 2012)

Kultur antimikroba yang sesuai sebaiknya sudah didapatkan saat awal timbulnya sepsis

berat atau syok sepsis. Setidaknya dua kultur darah harus diperoleh dengan setidaknya satu

sumber sampel dari perkutan dan satu lagi dari akses vaskular, kecuali alat akses tersebut telah

terpasang selama 48 jam. Kultur dari sumber lain yang mungkin menjadi sumber infeksi juga

penting dilakukan seperti dari urin dan sputum. (morrel 2009)

DAFTAR PUSTAKA

1. IDAI. Diagnosis dan tatalaksana sepsis pada anak. Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Indonesia. 2016
2. Goldstein B, Giroir B, Randolph A. International pediatric sepsis consensus
conference: definitions for sepsis and organ dysfunction in pediatrics. Pediatr Crit Care
Med;2005:6(1).
3. Krastins J. Pediatric sepsis and septic shock: definitions and treatment algorithms. Acta
Medica Lituanica;2012:19(3).
4. Morrel MR, Micek ST, Kollef MH. The management of severe sepsis and septic shock.
Infect Dis Clin N Am;2009:23.