You are on page 1of 13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah infeksi/peradangan
kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret
dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau
kental, bening, atau nanah dan berlangsung lebih dari 2 bulan. Biasanya disertai
gangguan pendengaran1,2,3.
Perforasi sentral adalah pada pars tensa dan sekitar dari sisa membran
timpani atau sekurang-kurangnya pada annulus. Defek dapat ditemukan seperti
pada anterior, posterior, inferior atau subtotal. Menurut Ramalingam bahwa
OMSK adalah peradangan kronis lapisan mukoperiosteum dari middle ear cleft
sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan patologis yang
ireversibe 1,2,4.

3.2 Epidemiologi
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi,
kondisi sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi
yang jelek. Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk
anak yang mempunyai kolesteatom, tetapi tidak mempunyai data yang tepat,
apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia5.

3.3 Etiologi
Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan OMA (otitis media akut)
yang prosesnya sudah berjalan lebih dari 2 bulan. Beberapa faktor penyebab
adalah terapi yang terlambat, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi,
daya tahan tubuh rendah, atau kebersihan buruk. Bila kurang dari 2 bulan
disebut subakut 3.
Sebagian kecil perforasi membran timpani terjadi akibat trauma telinga
tengah. Kuman penyebab biasanya baakteri Gram positif aerob, sedangkan pada

5

mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. rinitis. 6 . Alergi 8.  Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Infeksi saluran nafas atas 6. Otitis media sebelumnya. menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis 1. jarang dimulai setelah dewasa.  Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. sinusitis).infeksi yang telah berlangsung lama sering juga terdapat kuman Gram negative dan anaerob 3. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.  Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani.6 : 1.2 . 4.2.6 5. Gangguan fungsi tuba eustachius. tonsilitis. Autoimun 7. Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak. Genetik 3. Infeksi1.2 :  Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Lingkungan 2. Adanya tuba patulous. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK1. Penyebab OMSK antara lain 1. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV.

Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang. antara lain 7 : 1. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang. 3. Berdasarkan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif juga dikenal tipe aktif dan tipe tenang 3. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi. Perforasi terletak marginal. 3. subtotal. a. Perforasi terletak disentral. peradangan terbatas pada mukosa saja. tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus 1.5 Patogenesis Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap.4 Patofisiologi OMSK dobagi dalam 2 jenis. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. 4. tidak mengenai tulang. Sering menimbulkan komplikasi yang berbahaya atau fatal 3. Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah misal perforasi kering. Pada OMSK benigna. atau di atik. b. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telinga tengah. 7 . 6. 5. Perforasi membran timpani yang menetap. Jarang menimbulkan komplikasi berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom 3. dan maligna atau tipe tulang. yaitu benigna atau tipe tipe mukosa. kelemahan umum atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh. Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis majemuk. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total 2. 3. OMSK tipe maligna disertai dengan kolestestom. Beberapa penulis menyatakan keadaan ini sebagai keadaan inaktif dari otitis media kronis 1.

Bila infeksi kronik terus berlanjut. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi antara 5-10 tahun. 3. 2. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen 1.atau suatu rasa penuh dalam telinga 1.8 : 1. 8 . sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang 1. Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit 3. 4. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius. tergantung pada beratnya infeksi sebelumnya.6 Patologi OMSK lebih sering merupakan penyakit kambuhan dari pada menetap. Penyakit tidak aktif Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Secara umum gambaran yang ditemukan adalah : 1. Terdapat perforasi membrana timpani di bagian sentral. atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar.2. tinitus. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. mastoid mengalami proses sklerotik. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: a. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo. Pneumatisasi mastoid OMSK paling sering pada masa anak-anak. Tipe tubotimpani / tipe jinak /tipe aman /tipe rhinogen. Penyakit aktif Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli.4. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.3. Keadaan kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan stadium dari pada keseragaman gambaran patologi. Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak. Proses pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media yang terjadi pada usia tersebut atau lebih muda.7 Klasifikasi OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu 2. b.

Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom 1.2. postero-inferior dan postero-superior.  Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida (attic retraction cholesteatom). Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. iii. Jenis perforasi membrane timpani : i. 2.5.  Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi (metaplasia teori menurut Wendt). ii. Tipe atikoantral /tipe ganas /tipe tidak aman /tipe tulang Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu 1. Pada umumnya kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan perforasi marginal. bisa antero-inferior. Didapat. Kongenital b.9 : a. terangkat keatas.  Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom.2. Perforasi atik 9 . Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. kadang-kadang sub total 1.6 :  Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan disini ia membentuk kolesteatom (migration teori menurut Hartmann). teori itu adalah 2.5. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. epitel yang masuk menjadi nekrotis.

Pada OMSK tipe jinak. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada 10 . subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis 1. Gangguan Pendengaran Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Telinga Berair (Otorrhoe) Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Otalgia (Nyeri Telinga) Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberculosis 2. 4. Terjadi pada pars flasida. 3. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. 2. 3.. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma 1. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas.8 Gejala Klinis 1.2. cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya.2 . Vertigo Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat 10. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis. terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis. atau ancaman pembentukan abses otak.

9 Tanda Klinis Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna 4 : b. 11 .10 Pemeriksaan Penunjang Untuk melengkapi pemeriksaan. Pemeriksaan Audiometri Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. 3. dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut 1. panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. d. beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas 4. 3. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum 4. Derajat ketulian nilai ambang pendengaran Normal : -10 dB sampai 26 dB Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB Tuli total : lebih dari 90 dB. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom) e. Adanya Abses atau fistel retroaurikular c.4 : 1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. observasi berikut bisa membantu : a. Untuk melakukan evaluasi ini. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural.

b. c. vestibulum dan kanalis semisirkularis. Bakteriologi Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa. b. c. Pemeriksaan Radiologi. Proyeksi Chause III Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Stafilokokus aureus dan Proteus.4. Proyeksi Mayer atau Owen Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie. tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi. d. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran 2. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah. 3. influensa. Proyeksi Stenver Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna. 2. dan Morexella kataralis. H. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen 4. 12 . a. Proyeksi Schuller Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur 4. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom 4. d. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB. menunjukan kerusakan kohlea parah.

Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yang lanjut. dimana pengobatan dapat dibagi atas : 1. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi 4. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. OMSK BENIGNA AKTIF 13 .4 OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1% menurut Shambaugh). Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. stafilokokus aureus dan Proteus sp. dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp 1. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalah ceftazidime dan ciprofloksasin. timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Operasi 2. Stafilokokus aureus resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin 2. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. Bakteri spesifik Misalnya Tuberkulosis. 3. Klebsiella. a.2. Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik kecuali makrolid. Konservatif 2. Difteroid. Coli. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. b. dan resisten pada penisilin. sefalosporin dan makrolid.11Penatalaksanaan Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi.

Pemberian antibiotik topical Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. b. topikal antibiotik ( antimikroba) b. misalnya : Stafilokokus aureus. Bubuk telinga yang digunakan seperti 4 : a. Neomisin Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. 2. Pseudomonas. B. Toksik terhadap ginjal dan telinga. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Terramycin. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroi9. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Proteus. c. Prinsip pengobatan OMSK adalah 4 : 1. Pemberian antibiotika : a. Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Asidum borikum 2. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. tetapi resisten terhadap gram positif. Enterobakter. sistemik. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi4. c. E. Kloramfenikol 14 . adalah tidak efektif. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah 4 : a. Koli Klebeilla. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah.

Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. morganii. P. aminoglikosida Streptokokus : Penisilin. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. makin banyak kuman terbunuh. misalnya golongan beta laktam. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. fragilis : Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin. sefalosforin. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. meskipun dapat mengatasi OMSK.4 : Pseudomonas : Aminoglikosida ± karbenisilin P. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah 2. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. coli : Ampisilin atau sefalosforin S. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. vulgaris : Aminoglikosida ± Karbenisilin Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida E. tetapi harus diberikan secara parenteral. Obat ini bersifat bakterisid Pemberian antibiotik sistemik Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. eritromisin. sefalosforin. Makin tinggi kadar obat. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada 15 . perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Bila terjadi kegagalan pengobatan. Aureus Anti-stafilikokus : penisilin. aminoglikosida B. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin P. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. eritromisin.

baik tipe benigna atau maligna. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy) 4. Mastoidektomi radikal 5.2. mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna.OMSK aktif.2. memperbaiki membran timpani yang perforasi. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi 3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi 6. akan menimbulkan komplikasi.12Komplikasi Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan. OMSK MALIGNA Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu 1.2 : 16 . Miringoplasti 7. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom 1. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty) Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen. 3. tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi 1. serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat abses subperiosteal. Timpanoplasti 8. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. antara lain 4 : 3.

5. D. B. 17 . Menembus selaput otak 3.2 : 1. Komplikasi telinga dalam a) Fistel labirin b) Labirinitis supuratif c) Tuli saraf ( sensorineural) 7. Masuk kejaringan otak. Komplikasi ekstradural a) Abses ekstradural b) Trombosis sinus lateralis c) Petrositis 8. Komplikasi ke susunan saraf pusat a) Meningitis b) Abses otak c) Hindrosefalus otitis Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan 1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak 2. Komplikasi ditelinga tengah : a) Perforasi persisten membrane timpani b) Erosi tulang pendengaran c) Paralisis nervus fasial 6.