You are on page 1of 9

ISSN: 1693-1246 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 152-160

Juli 2012
http://journal.unnes.ac.id/index.php/jpfi

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN FISIKA
BERBASIS PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN METAKOGNISI DAN PEMAHAMAN KONSEP
MAHASISWA

P.S. Mariati*
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Medan (UNIMED), Indonesia

Diterima: 13 Mei 2012. Disetujui: 13 Juni 2012. Dipublikasikan: Juli 2012

ABSTRAK

Telah dikembangkan suatu model pembelajaran fisika berbasis problem solving yang dapat meningkatkan
kemampuan metakognisi dan pemahaman konsep mahasiswa. Model ini dikembangkan dengan metode
R and D melalui langkah-langkah 4-D, yaitu: define, design, develop, and disseminate. Subyek dalam im-
plementasi model adalah mahasiswa pendidikan fisika pada salah satu perguruan tinggi di Medan tahun
ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 50 orang. Metode yang digunakan dalam implementasi model adalah
kuasi eksperimental dengan desain randomized control group pretest-postest design. Data kemampuan
metakognisi dikumpulkan dengan tes berbentuk uraian dan data pemahaman konsep dikumpulkan dengan
tes berbentuk pilihan berganda. Data dianalisis dengan menggunakan nilai gain yang dinormalisasi, N-gain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis problem solving dapat meningkatkan kemam-
puan metakognisi dan pemahaman konsep mahasiswa pada topik Kinematika Partikel, termasuk dalam
kategori sedang.

ABSTRACT

A problem solving based physics learning model can enhance students’ metacognition ability and concep-
tual understanding has been developed. This model was developed by using R and D method consisting of
4-D steps: define, design, develop and disseminate. The research subjects were physics education students
at one of the universities in Medan in academic year of 2010/2011 that consists of 50 students. Method used
was quasi-experimental: randomized control group pretest-postest design. The metacognition ability data
were collected by essay test and conceptual understanding ones were collected by multiple-choice test.
Data were analyzed by using normalized gain score. Results of this research showed that problem solving
based learning model can enhance students’ metacognition ability and conceptual understanding of particle
kinematics topics in middle category.

© 2012 Jurusan Fisika FMIPA UNNES Semarang

Keywords: problem solving based learning model; metacognition; conceptual understanding

PENDAHULUAN bangan rekayasa, desain, perencanaan, tek-
nologi dan mempunyai peran penting dalam
Fisika Dasar merupakan salah satu ma- berbagai disiplin serta mengembangkan daya
takuliah wajib bagi mahasiswa calon guru fisi- pikir manusia. Namun demikian, Fisika Dasar
ka di LPTK dan matakuliah yang diberikan di merupakan salah satu matakuliah yang diang-
semester pertama karena matakuliah tersebut gap sulit oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan
merupakan syarat untuk matakuliah selanjut- Fisika Dasar membutuhkan matematika yang
nya. Matakuliah ini juga mendasari pengem- rumit (AAPT, 2009); materi yang terlalu ba-
nyak dan membutuhkan kegiatan laboratorium
*Alamat Korespondensi: (Sheppard & Robin, 2009 dan Heller & Heller,
E-mail: mariati_ps@yahoo.co.id
Mobile Phone: 081331864158
1999); dan sering terjadi miskonsepsi (Ander-
son & Nashon, 2006). Hal ini juga diami oleh

2007. inovatif. (NSTA) yang menyatakan bahwa guru fisika 2009. Mariati . kreatif. mengevaluasi. Keterampilan dan konsep-konsep utama dalam fisika. bangan bidang ilmu fisika dan ilmu-ilmu terkait. dan bertanggung jawab (Peraturan Peme- tan untuk menggali pemahaman. dan Schraw & Mo- harus memiliki pengetahuan yang luas dan shman. kesa- dengan National Science Teacher Association daran. yaitu mentransformasikan dan mengem- kan sangat jauh dari dunia nyata mahasiswa bangkan kemampuan mahasiswa. Pengetahuan metakog- keterampilan-keterampilan dan proses-proses nisi didefinisikan sebagai pengetahuan dan pe- inkuiri. Mahasiswa berusaha cang bagaimana pemecahannya. Anderson et al. dan Metode ceramah dan tanya jawab merupakan mengembangkan pemahaman konsepnya. tinggi. bertanya.Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Solving 153 mahasiswa pada salah satu universitas di Su. Hal ini se- mampu dalam matematika akan merasa sulit suai dengan salah satu tujuan dari pendidikan untuk belajar fisika dan soal-soal yang dilatih. dituntut untuk da. dan mengevaluasi. salah satunya guru harus kreatif jalan dengan temuan penelitian sebelumnya dan inovatif dalam penerapan dan pengem- (Saleh 2011. Standar tersebut menunjukkan pentingnya ke- ngan urutan menjelaskan.S. termasuk sehingga pembelajaran Fisika Dasar menjadi untuk merancang apa yang akan dilakukan. dan memberikan tugas. Pengembangan kemampuan metakog- Soal-soal lebih menekankan manipulasi secara nisi dalam perkuliahan merupakan suatu upa- matematis sehingga mahasiswa yang kurang ya yang sangat penting dilakukan. sehingga mereka pembenahan terhadap perkuliahan Fisika Da. Ren. diri. dan kendali atas proses kognisi (Matlin. prosedural. membuat sendiri. dan ngetahuan metakognisi: deklarasi. memonitor dan mengevaluasi apa yang se- huluan menunjukkan masih perlu diupayakan dang dan sudah dilakukan. melaksanakan apa yang sudah direncanakan. Fakta berdasarkan hasil studi penda. (2) memahami fakta-fakta fundamental mahaman pada proses berpikir. menjadi kritis. memberi contoh.. mencontoh apa yang dialaminya daripada matera Utara. Metakognisi dapat dibangun ketika ma- Dosen LPTK sebagai salah satu yang hasiswa melaksanakan pemecahan masalah berperan dalam meningkatkan mutu pendi. (4) mampu menggunakan pemahaman dan dan kondisional. Kompetensi ini dielaborasi lebih lanjut dalam Berdasarkan hasil pengamatan di lapan. yaitu: pengetahuan dan kete- inkuiri ilmiah dalam fisika serta menggunakan rampilan metakognisi. percaya sar. 2000). Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang gan. dan keterampilan proses sains. metakognisi didefinisikan sebagai pengenda- pat membuat jalinan konseptual dalam disiplin lian pada proses berpikir. Mahasiswa dipandu untuk . 2001.. standar proses. proses belajar mengajar di kelas cende. Tiga komponen pe- fisika sendiri maupun antar disiplin sains. mandiri. hasil diperoleh akan mereka terapkan dan kembang- belajar mahasiswa ditinjau dari kemampuan kan di lapangan ketika mereka sudah menjadi metakognisi dan pemahaman konsep pada guru. mor 16 tahun 2007 tentang standar kompeten- dahnya pemahaman konsep mahasiswa se. kah memahami apa yang sedang dipelaja- na mahasiswa akan lebih mudah belajar dan ri atau dipikirkan. mengetahui menghapal rumus namun kurang memaknai bagaimana cara dan mengapa pemecahannya untuk apa dan bagaimana rumus itu digunakan. Hal ini sesuai dengan Permendiknas no- matakuliah Fisika Dasar masih rendah. dan Baser. P. Council. metode yang biasa digunakan oleh dosen de. Gaigher. Mahasiswa hendaknya diberi kesempa. Hal ini sesuai Metakognisi adalah pengetahuan. 2006). isu-isu personal dan sosial (National Research memonitor. Selama proses problem dikan terhadap calon guru. kesadaran kognisi mahasiswa da- pat memadukan pengetahuan konten dan pat ditumbuhkan karena memberikan arahan pengetahuan pedagogis (pedagogical conten agar mahasiswa bertanya pada dirinya apa- knowledge (PCK)) dalam pembelajaran kare. si profesional. menganalisis. et al. kurang bermakna bagi mahasiswa itu sendiri. merencanakan. peserta didik untuk dapat memahami. 1995) membagi metakognisi menjadi kuat untuk: (1) memahami hakekat dan peran dua komponen. Pengalaman langsung yang Berdasarkan studi pendahuluan. mengembangkan kemampuan berpikir laan dan penyelenggaraan pendidikan). bahwa dalam kegiatan elabo- rung bersifat analitis dengan menitikberatkan rasi. (3) da. (problem solving). mampuan metakognisi dikembangkan. membangun rintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelo- konsep. solving. meran- lui analisis matematis. demikian. Empat komponen keterampi- kemampuan ilmiah bila berhadapan dengan lan metakognisi: memprediksi. latihan. dosen memberikan kesempatan kepada pada penurunan rumus-rumus fisika mela.

membuat perencanaan melalui studi literatur dan studi lapangan. membuat literatur berkaitan dengan studi dokumen dan tahap-tahap pemecahannya. et al. se. evaluasi. 2001). pemonitoran. Subyek penelitian adalah mahasiswa konsep-konsep fisika sehingga melahirkan ja. mengklasifikasi. salah ini. sebanyak 50 orang pada waban ilmiah yang merepresentasikan pema. langkah 4-D. memberi alasan materi lainnya yang mendukung pembuatan mengapa melakukan demikian. Hasil-hasil yang diperoleh pada belajaran problem solving. design. tahun ajaran 2010/2011 pada salah satu per- haman. pro- metakognisi dan pemahaman konsep maha. Tes yang dikembang- Mencermati pentingnya kemampuan kan untuk mengukur kemampuan metakogni- metakognisi dan pemahaman konsep. kan. Pembelajaran ini studi literatur dan studi lapangan digunakan menawarkan dan melatih strategi problem sol. sebagai bahan untuk merancang produk awal. N-gain yang dihasilkan dalam kategori tinggi. bangkan pemahaman konsep karena dengan Metode yang digunakan dalam peneliti- kemampuan metakognisi. dan fisika serta peran perkuliahan Fisika Dasar. Adapun dengan mengumpulkan berbagai informasi fase-fase model pembelajaran berbasis ma- yang berkaitan dengan produk yang akan di. menyimpulkan (Anderson. pemahaman konsep ini sesuai dengan Garrett & Mazzocco (2006) dan teori-teori serta temuan-temuan penelitian yang menyatakan bahwa metakognisi dapat dasar untuk merancang draft pengembangan dikembangkan dalam suatu lingkungan pem. dan (3) jika Prosedur penelitian dan pengembangan model N-gain < 30%. maka N-gain yang and disseminate (Thiagarajan. dihasilkan dalam kategori sedang. memonitor rancangan produk.154 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 152-160 dapat menyadari apa yang diketahui dan apa kembangkan. gembangan model pembelajaran Fisika Da. mahasiswa dapat an ini adalah kuasi eksperimental ������������������������ dengan de- mengkonstruksi pengetahuan. dan memperdalam design. et al. maka (research and development) melalui langkah. Kinematika Partikel. masi ini dilakukan dengan studi pendahuluan cahan masalahnya. peren- solving yang dapat meningkatkan kemampuan canaan. N-gain. kan rerata skor gain yang dinormalisasi. Pengumpulan berbagai infor- yang tidak diketahui serta bagaimana peme. maka N-gain yang dihasilkan pembelajaran Fisika Dasar berbasis prolem dalam kategori rendah (Hake & Richard. mengaplikasi. skala luas.. dan kondisional (Schraw & Moshman siswa. 2002). Studi pendekatan pemecahan masalah. sedural. Sintaks MPFD-BPS yang berhasil dikem- an dilakukan dengan menganalisis kebutuhan bangkan diadaptasi dari arens (2004). memban- menggunakan video dan hasil rekaman diana. Proses problem solving dalam konteks (1995). mencontohkan. Studi literatur dilakukan proses pemecahan masalah dan kemajuan ke untuk menganalisis kompetensi seorang guru arah tujuan saat melaksanakan rencana. guruan tinggi di Medan. Tes yang dikembangkan untuk mengu- ini dilakukan melalui penyelidikan berbasis kur pemahaman konsep dalam bentuk pilihan eksperimen dan masalah yang disajikan beru. ke- mengevaluasi apa yang sudah dilakukan. Pengembangan produk dilakukan dengan Kemampuan metakognisi yang dimiliki validasi pakar. solving (MPFD-BPS) pada tahap pendefinisi. berganda yang terdiri dari 40 butir pada topik pa masalah kontekstual. si berbentuk uraian yang terdiri dari delapan hingga problem solving layak dikembangkan. Mahasiswa meme. menjelaskan. Tinggi rendahnya N-gain dapat diklasifikasikan sar berbasis problem solving adalah R and D sebagai berikut: (1) jika N-gain > 70%. ving yang membuka peluang mahasiswa untuk berupa MPFD-PBS dan perangkat pembelaja- memonitor. yaitu: define. item/butir (14 sub-butir) pada topik Kinematika maka pada penelitian ini dikembangkan model Partikel. ujicoba terbatas. deklarasi. dan ujicoba memungkinkan mahasiswa dapat mengem.1974). Hal mampuan metakognisi. Tes ini mencakup indika- cahkan masalah dengan melakukan penyelidi.. mengoreksi dan menilai strategi ran yang mendukung model yang dikembang- problem solving mereka sendiri. tor-indikator pemahaman konsep dalam aspek kan melalui eksperimen yang direkam dengan menginterpretasi. sain randomized control group pretest-postest kan konsep-konsep fisika. develop (2) jika 30% ≤ N-gain ≤ 70%. dingkan. yaitu: mengorientasikan mahasiswa . MPFD-PBS. Tes ini mencakup indikator-indikator pembelajaran Fisika Dasar berbasis problem metakognisi dalam komponen prediksi. dan lisis dengan bantuan software tracker. Efektivitas penerapan MPFD-BPS dalam METODE mengembangkan kemampuan metakognisi dan pemahaman konsep ditentukan berdasar- Metode yang digunakan dalam pen. calon guru fisika.

dan 55%. konvensional. dari perbandingan % N-gain yang dica- % N-gain peningkatan kemampuan metakog. N-gainEks Rerata Rerata N. dan 52%. kelompok eksperimen dan kelompok kontrol gunakan jumlah mahasiswa masing-masing 25 seperti ditunjukkan pada Gambar 1. 38%. uji homogenitas. pemonitoran. Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui Berdasarkan Gambar 1. dan pai kelompok eksperimen berturut-turut sebe- uji beda dua rerata % N-gain antara kelompok sar 63%. takognisi yang dicapai kelompok eksperimen mahasiswa dituntut untuk dapat merancang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. 66%. mengorganisasikan mahasis. prosedural. tiap komponen pengetahuan metakognisi (dek- kan oleh % N-gain pada topik Kinematikal Par. hap pemecahan masalah melalui eksperimen. 32%. pada topik Kinematika Partikel.43 64 normal 17. ternyata N-gain kemampuan me- eksperimen sebesar 64%. dapat Hal ini dimungkinkan karena dalam tahap-ta- diketahui bahwa perolehan kemampuan me. membimbing penyelidikan in. 72%. Hasil uji beda menunjukkan bahwa meningkatkan setiap komponen kemampuan MPFD-BPS secara signifikan dapat mening. mahasis- rimen dan kelompok kontrol dapat disimpulkan wa ditantang dan didorong untuk berpikir ten- Tabel 1. tampak bahwa % N-gain untuk pok kontrol. 53%. maka signifikansi perbedaan bar 1. dan 62% sedangkan % Karena % N-gain kemampuan metakognisi N-gain kelompok kontrol berturut-turut sebesar kedua kelompok berdistribusi normal dan vari. Berdasarkan Gam- ansnya homogen.50 60. Berdas. dan 59% sedangkan % N-gain eksperimen dan kelompok kontrol pada topik yang dicapai kelompok kontrol berturut-turut Kinematika ditunjukkan pada Tabel 1. kan Gambar 1. Hasil uji normalitas.S. metakognisi dibandingkan dengan penggu- katkan kemampuan metakognisi mahasiswa. Berdasar- orang pada kelompok eksperimen dan kelom. 44%. Untuk dapat merancang eksperimen. dengan p busi busi Tes Tes gain Tes Tes gain % N- % N. termasuk dalam takognisi tertinggi untuk topik Kinematika Par- kategori sedang. Perbandingan % N-gain Berdasarkan Tabel 1 tampak bahwa % berdasarkan indikator tiap komponen kete- N-gain kemampuan metakognisi mahasiswa rampilan metakognisi (prediksi. dan kondisional) yang dica- tikel. apabila ditinjau bahwa % N-gain kemampuan metakognisi berdasarkan indikator dalam setiap komponen pada topik Kinematika yang dicapai kelompok metakognisi. termasuk dalam perencanaan dan berada pada kategori tinggi. Distri. apa yang akan dilakukan dalam penyelidikan. Persentase N-gain kemampuan me- HASIL DAN PEMBAHASAN takognisi dapat dijabarkan pada setiap indikator komponen kemampuan metakognisi (penge- Pengujian efektivitas MPFD-BPS dalam tahuan dan keterampilan metakognisi) antara meningkatkan kemampuan metakognisi meng. perencanaan. kategori sedang. nematika dapat lebih efektif meningkatkan ke- dividual dan kelompok. mengembangkan dan mampuan metakognisi mahasiswa dibanding- menyajikan hasil penyelidikan. arkan % N-gain yang dicapai kelompok ekspe. Mariati . 45%. P. dan beda dua rerata % N-gain Kemampuan Metakognisi yang dicapai Kedua Kelompok pada Topik Kinematika Partikel Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Varians % Distri.43 70. sar 66%. Kemampuan metakognisi dinyata. dan penguatan kan dengan penggunaan model pembelajaran dan penyelidikan.000 17. Berdasarkan Tabel 1. dan pengevaluasian) yang dica- lompok eksperimen maupun kelompok kontrol pai kelompok eksperimen berturut-turut sebe- berdistribusi normal dan variansnya homogen. 71%. pai. baik pada ke. tampak bahwa penerapan MPFD-BPS nisi antara kedua kelompok menggunakan uji pada topik Kinematika Partikel lebih efektif beda (uji-t). Rerata Rerata N. tikel terjadi pada komponen prosedural dan lompok kontrol sebesar 52%. Hasil Uji Normalitas. % N- Awal Akhir (%) Awal Akhir (%) gainKont gainEks gainKont 0.Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Solving 155 pada masalah. Homogenitas. naan model pembelajaran konvensional.64 52 normal homogeny (signifi- kan) Keterangan: Skor maksimum = 100 . bahwa penerapan MPFD-BPS pada topik Ki- wa untuk belajar. larasi. sedangkan yang dicapai ke.

dan membuat lui penerapan MPFD-BPS. M2=prosedural. dan mengevaluasi juga dapat simpulkan bahwa melalui problem solving. Mahasiswa dituntut untuk dapat penerapan MPFD-BPS karena mereka dituntut mengaitkan antara konsep yang satu dengan untuk mengoreksi kembali tahap-tahap penye- konsep yang lainnya dan menghubungkan lidikan yang sudah dilakukan apakah sesuai konsep-konsep yang baru dipelajari dengan dengan rancangan yang dibuat sebelumnya. (1987) . bahwa dengan merancang eks. mahasiswa ha. Hal diksi karena salah satu tahap problem solving ini sesuai dengan Winert dan Kluwe. karena setelah membuat prediksi. pengetahuan mereka sebelumnya. metakognisi mahasiswa dapat dibangun. kan. menilai kete- Selain pengetahuan metakognisi. Dalam hal sejalan dengan pernyataan Kipnis dan Hofs. takognisi dalam hal memprediksi. penyelidikan yang akan dilakukan berdasarkan nya dalam perencanaan dan mahasiswa juga data/informasi yang diberikan. pulkan informasi dari berbagai sumber yang Mahasiswa terampil dalam merencana- mendukung serta berdiskusi secara kolabora. mahasiswa dituntut untuk mengo- dalam melakukan eksperimen. eksperimen. Pengeta. dan memilih didorong untuk berpikir tentang setiap tahap alat yang tepat dan efisien dari alat percobaan prosedural dan tujuan dari masing-masing ta. Mahasiswa terampil mempre. M4=prediksi. memonitor. Dengan merancang sendiri hap tersebut. M6= pemonitoran. maha- tif tentang ide-ide mereka untuk memecahkan siswa dituntut untuk dapat merancang sendiri masalah dalam merancang eksperimen. memilih perimen. merencana. kesimpulan setelah melakukan penyelidikan. dikembangkan.156 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 152-160 Kemampuan Metakognisi Berdasarkan Indikator Gambar 1. dari berbagai sumber untuk dapat memecah- rena mahasiswa dipandu untuk dapat menya. Berdasarkan uraian di atas dapat di- kan. mahasiswa mem- tein (2007). dan M7= pengevaluasian tang setiap tahap prosedural yang dilakukan yang dilakukan adalah membuat prediksi ter- dan tujuan dari masing-masing tahap tersebut. akan melatih dan mengembangkan data/informasi yang relevan yang mendukung keterampilan metakognisi mahasiswa. rus mengetahui bagaimana prosedur peme. hasil analisis sesuai dengan teori. Mahasiswa terampil dalam rus mengetahui alasan mengapa pemecahan mengevaluasi melalui penerapan MPFD-BPS masalahnya demikian dan mengetahui kapan karena mereka dituntut untuk menilai apakah menggunakan strategi yang tepat dan sesuai. Pengetahuan kondisional hasil analisis apakah sudah sesuai dengan dapat dikembangkan karena mahasiswa ha. reksi hasilnya apakah sudah tepat dan benar. persiapkan apa yang akan dilakukan. yang diharapkan. merancang eksperimen. keterampilan me. lebih lanjut. mela. mereka akan mempertimbangkan ketepatan cahan masalahnya. patan prosedur yang digunakan. Indikator M1=deklarasi. lebih dahulu sebelum melakukan penyelidikan Untuk itu mahasiswa dituntut untuk mengum. mahasiswa akan tertantang dan Pengetahuan metakognisi dapat dikem. dari apa yang diketahui dan apa yang tidak Mahasiswa terampil memonitor melalui diketahui. khusus. M3=kondisional. M5=perencanaan. Dari hasil analisis dengan bantuan video dan huan prosedural dapat dikembangkan karena software. yang disediakan. Perbandingan N-gain untuk Indikator Setiap Komponen Metakognisi antara Ked- ua Kelompok pada Topik Kinematika. Hal ini eksperimen yang akan dilakukan. termotivasi untuk mengumpulkan informasi bangkan melalui penerapan MPFD-BPS ka. kan masalah yang dihadapi.

43 59.00 44 sedang GJB 12.00 67. pada setiap indikator aspek pemahaman (me- tikel dibandingkan dengan penggunaan model nginterpretasi.43 70. gerak ver. 63%. oleh Garrett & Mazzocco (2006) dan Holling. 58%. besar 44% dan 39%. tampak bahwa penerapan MPFD-BPS lebih Gambar 2 menunjukkan perbandingan efektif meningkatkan kemampuan metakognisi % N-gain pemahaman konsep yang dijabarkan pada setiap konsep pada topik Kinematika Par. 71%. Karena % N-gain pemahaman konsep kedua worth & McLoughlin (2002) yang menyatakan kelompok berdistribusi normal dan variansnya bahwa metakognisi dapat dikembangkan da.43 66 sedang 17. sedang. Persentase N-gain kemampuan me. lompok eksperimen maupun kelompok kontrol ngembangan metakognisi.S. dapat diketahui takognisi dijabarkan berdasarkan konsep pada bahwa % N-gain pemahaman konsep pada topik Kinematika Partikel (gerak lurus beratu. dan 63%.14 63 sedang 20. GLB = Gerak Lurus Beraturan. untuk topik Kine. 44%. mahasiswa dibandingkan dengan penggunaan dasarkan Tabel 2. sil uji beda menunjukkan bahwa penerapan ving yang membuka peluang mahasiswa untuk MPFD-BPS secara signifikan dapat mening- memonitor. yang dicapai kelompok eksperimen dan kelom- matika Partikel bahwa peningkatan % N-gain pok kontrol dapat disimpulkan bahwa penera- kemampuan metakognisi paling tinggi pada pan MPFD-BPS pada topik Kinematika dapat kelompok eksperimen terjadi pada konsep ge. Mariati . Ha- menawarkan dan melatih strategi problem sol. 57%. Berdasarkan Tabel 3. lalui upaya penyadaran dan pengendalian Berdasarkan Tabel 3 tampak bahwa % N-gain proses berpikir mahasiswa melalui problem pemahaman konsep mahasiswa. dari % N-gain yang dicapai.00 71 tinggi 11. Persentase N-gain Kemampuan Metakognisi Berdasarkan Konsep pada Ked- ua Kelompok Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Konsep Rerata Rerata N-gain Kate. dicapai kelompok eksperimen lebih tinggi dari- turut-turut sebesar 52%. menjelaskan. Perbandingan sedangkan yang dicapai kelompok kontrol se- % N-gain kemampuan metakognisi yang dica. model pembelajaran konvensional.00 63.Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Solving 157 Tabel 2.00 57. topik Kinematika Partikel.00 67. homogen. maka signifikansi perbedaan % N- lam suatu lingkungan pembelajaran problem gain peningkatan pemahaman konsep antara solving. lebih efektif meningkatkan pemahaman konsep rak jatuh bebas 71% pada kategori tinggi. dan meyimpulkan) antara Hasil uji normalitas. termasuk dalam kategori sedang. dan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.00 77. topik Kinematika Partikel secara berturut yang ran. gerak lurus berubah beraturan. dicapai kelompok eksperimen sebesar 61% tikal. 49%.00 67. termasuk dalam kategori pai kelompok eksperimen berturut-turut sebe. mencontohkan. GLBB = Gerak Lurus Berubah Beraturan.00 56 sedang 13.00 57 sedang GP 15.00 66 sedang 16. Berdasarkan Tabel 3.43 49 sedang GV 14.33 70. Ber. kan. uji beda dua rerata % N-gain pada kelompok Berdasarkan Gambar 2.00 61. GV = Gerak Vertikal.00 53 sedang KM Total 17. Hal ini juga didukung berdistribusi normal dan variansnya homogen. GP = Gerak Peluru. dapat diketahui sar 66%. P.50 60. Melalui pendekatan pembelajaran ini kedua kelompok menggunakan uji beda. gerak jatuh bebas. Berdasarkan % N-gain 53%. perti ditunjukkan pada Tabel 2. Rerata Tes Rerata Tes N-gain Kate- Tes Tes (%) gori Awal Akhir (%) gori Awal Akhir GLB 12. membanding- pembelajaran konvensional. baik pada ke- solving merupakan pembelajaran dengan pe. Kinematika Partikel ditunjukkan pada Tabel 3.67 52 sedang GLBB 21. uji homogenitas. dan pada kelompok kontrol.00 58 sedang 15.64 52 sedang Keterangan: Skor maksimum = 100. Berdasarkan Tabel 2. dan 56% sedangkan bahwa perolehan pemahaman konsep yang % N-gain yang dicapai kelompok kontrol ber. KM = Kemampuan Metakognisi yang menyatakan bahwa pembelajaran me. GJB = Gerak Jatuh Bebas. dan gerak peluru) se. mengoreksi dan menilai strategi katkan pemahaman konsep mahasiswa pada problem solving mereka sendiri. tampak bahwa % N- eksperimen dan kelompok kontrol pada topik gain tiap aspek pemahaman konsep (mengin- .71 71.

dengan pemahaman konsep pada komponen 62%. pulan dari apa yang ditemukan. dan me.% N-gain Kont gainEks gainKont 28. berkaitan dengan hasil eksperimen mereka di gain pemahaman konsep paling tinggi pada kelas.158 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 152-160 Tabel 3. busi Rerata Rerata busi P N-gain dengan Tes Tes gain Tes Tes (%) Awal Akhir (%) % N. 67%.04 39 Normal Homogen nifikan) Keterangan: Skor maksimum = 100 Pemahaman Konsep berdasarkan Indikator Gambar 2.69 63 Normal 30.00 71. dan 72% sedangkan % N-gain yang lain dimungkinkan karena dalam tahap- yang dicapai kelompok kontrol berturut-turut tahap pemecahan masalah melalui eksperi- sebesar 37%.000 (sig- nifikan) 0. tam. 43%. Pemahaman konsep dalam hal menyim- nyimpulkan) yang dicapai kelompok eksperi. mereka dapat menemukan dan me- katkan setiap aspek pemahaman konsep di.90 61 Normal 29. kelompok eksperimen terjadi pada aspek Untuk kelompok kontrol peningkatan % . menjelaskan. jika jaran konvensional. Selain itu. mencontohkan. konsep dalam aspek menyimpulkan sangat nematika Partikel bahwa peningkatan % N.000 (sig- 28. P5=menjelaskan. tinggi. P2=mencontohkan. untuk topik Ki. 50%. ngembangkan konsep serta memberi kesim- banding dengan penggunaan model pembela.20 60. Perbandingan % N-gain Pemahaman Konsep Berdasarkan Indikator Setiap Aspeknya antara Kedua Kelompok. dan 45%. Awal Akhir % N. 54%.49 58. dan beda dua rerata % N-gain Pemahaman Konsep pada Kedua Kelompok pada Topik Kinematika Partikel Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Varians % Distri. Distri.70 44 Normal Homogen 0. P3=membandingkan. dan P6=menyimpulkan terpretasi. dengan menggunakan software. 64%. men berbasis video yang analisisnya dibantu Berdasarkan Gambar 2. mahasiswa pak bahwa penerapan MPFD-BPS pada topik dapat menganalisis hasil eksperimennya lebih Kinematika Partikel dapat lebih efektif mening. Homogenitas. pulkan mahasiswa lebih tinggi dibandingkan men berturut-turut sebesar 52%. Indikator P1=menginterpretasi. akurat.00 73. 62%. 40%. N-gainEks Rerata Rerata N. P4=mengklasifikasikan. menyimpulkan 72% termasuk dalam kategori mengklasifikasikan. membandingkan. Hasil Uji Normalitas. dari % N-gain. ditinjau dari soal yang mengukur pemahaman Berdasarkan Gambar 2.

00 62. an kognitif. strategi belajarnya serta membandingkannya .00 56 sedang 35. tampak bahwa penerapan MPFD-BPS informasi lebih banyak untuk menyelesaikan dapat lebih lebih efektif meningkatkan pema. sedangkan % jadi semakin percaya diri dan menjadi pebe- N-gain yang dicapai kelompok kontrol berturut. ngetahuan. memungkinkan mereka me- termasuk dalam kategori sedang. Peningka. dan gerak peluru yang dicapai mahasiswa menyusun lingkungan belajar dan kelompok eksperimen berturut-turut sebesar memilih strategi yang tepat.50 57. Persentase N-gain Pemahaman Berdasarkan Konsep pada Kedua Kelompok Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Konsep Rerata Rerata N-gain Rerata Rerata N-gain Kategori Kategori Tes Awal Tes Akhir (%) Tes Awal Tes Akhir (%) GLB 27.00 54 sedang GP 28. Melalui proses pemecahan masalah. menjelaskan. masing-masing 52% dan 37%. kel dibandingkan dengan penggunaan model membandingkan.00 35 sedang GV 13. dan menje.40 68 sedang 36.00 71. mahasiswa men- 56%. gerak rena pengetahuan metakognisi membimbing jatuh bebas. gerak dapat dikembangkan. dan menyadari bahwa disaat tan % N-gain termasuk dalam kategori sedang mereka menghadapi masalah akan mencoba Berdasarkan Tabel 4.70 44 sedang Keterangan: Skor maksimum = 100. dapat memenuhi kebutuhan intelektual sendi- Untuk semua konsep.00 76. baik dalam membandingkan.50 65 sedang 16.50 43 sedang KM total 28.Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Solving 159 Tabel 4. konsep-konsep sehingga ide-ide yang muncul nematika Partikel (gerak lurus beraturan. jika dianalisis lebih lanjut ma. peserta didik menerapkan kemampu- haman pada setiap konsep Kinematika Parti. Peserta didik akan menentukan Mahasiswa dengan kemampuan me. GP = Gerak Peluru. didik mengembangkan rangkaian hubung- Berdasarkan Tabel 4. GJB = Gerak Jatuh Bebas. dan me- pembelajaran konvensional. rendah untuk kelompok eksperimen maupun apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan kelompok kontrol terjadi pada aspek mengin. memban- laskan. mereka sendiri. nginterpretasi memiliki tingkat kesulitan yang dan membantu untuk mengembangkan pema- lebih dibandingkan dengan mencontohkan.90 61 sedang 29. Dengan mengumpulkan data dan capai.60 74. dan membimbing mahasiswa jika kesulitan. nyadari bagaimana merancang. 43%. sih bersifat umum. 54%.94 70. dari % N-gain yang di. memperdalam dijabarkan berdasarkan konsep pada topik Ki. KM = Kemampuan Metakognisi N-gain pemahaman konsep paling tinggi yang takognisi yang dimiliki melalui proses peme- dicapai terjadi pada aspek mencontohkan 54% cahan masalah. 66%. Hal ini sesuai dengan Tan gain pemahaman konsep paling tinggi yang di. mengklasifikasi. seperti merepresentasikan. Mariati .20 60. tan % N-gain pemahaman konsep yang paling serta mengontrol tentang apa yang diketahui.71 60. dan 65%. menemukan banyak informasi oleh tangan eksperimen dan kelompok kontrol. an berpikir analitis. P. memonitor. 54%. haman konsep saat belajar fisika. nyimpulkan. Hal pada aktivitas belajar mahasiswa. dan mengukur pemahaman konsep dalam aspek menyimpulkan. kurang berkaitan langsung mahasiswa lebih mudah mengkonstruksi pe- dengan hasil eksperimen mahasiswa di kelas. 35%. lajar yang mandiri. Hal ini disebabkan ka- lurus berubah beraturan.00 66 sedang 8. Hal ini juga dipengaruhi dari soal yang dingkan. memberi contoh.50 36 sedang GLBB 32. baik pada kelompok ri.00 66. mengklasifikasi. menyadari bahwa mereka turut sebesar 36%. 68%.S. GLB = Gerak Lurus Beraturan. GV = Gerak Vertikal. (2004) yang menyatakan bahwa dengan peny- capai kelompok eksperimen terjadi pada kon. membantu ini dapat terjadi karena memang pekerjaan me.12 54 sedang 32. mencari jalan keluar.50 61. masalah. peningka. menginterpretasi. GLBB = Gerak Lurus Berubah Beraturan. bagaimana melakukannya.40 43 sedang GJB 24. ajian masalah.50 69. gerak vertikal. mengklasifikasikan. maka rancangan pemecahan sep gerak vertikal 68% dan untuk kelompok masalah dan tahapannya membantu peserta kontrol pada konsep gerak jatuh bebas 54%. menitikberatkan terpretasi. dan 43%. menggali ide-ide yang berkaitan de- Persentase N-gain pemahaman dapat ngan konsep-konsep esensial.00 74. peningkatan % N. menginterpretasi.

46-50. 2007. 2004). Hasil.Sc. Understanding through Structured Problem- Hal ini didukung oleh Hollingword ���������� &��������� McLough. and Understanding. 2009. International Journal of lin (2002) yang menyatakan bahwa����������� dengan���� ke. AAPT. Bloominton: Center for Innovation on Taxonomy for Learning Teaching and As. dents’ Metacognition in an Amusement Park Physics Program”. Enhanching Thinking Problem DAFTAR PUSTAKA Based Learning Approached. & Kluwe. membim. Coopera- mempengaruhi untuk mengkonstruksi pema. 1999. ented Instruction on Students’ Understanding kan. 1995. G. Hal ini juga didukung oleh chanics with Gender. Metacognitive solving dapat lebih efektif meningkatkan ke. M. & Krathwohl. Edition. 5th Ed. (eds). Instructional Development for Training American Association of Physics Teacher. yang diberi nama model pembela. & Mazzocco. D. 2002. Inquiry and the National Science Education Standards: A bahwa penerapan model pembelajaran Fisika Guide for Teaching and Learning. H. London. M. Publishers Hillsdale. & Braun. hasil ini menunjukkan bahwa penerapan model October 1. & Semmel. Math Disability. Building a stronger foundation in the Thiagarajan. S. solving in Physics”. 4. Sheppard.Ed Students’ fikan dapat menghasilkan N-gain kemampuan Conceptual Understanding of Newtonian metakognisi dan pemahaman konsep pada to. ilmu fisika. New York: Addisin Motivation. Learning Disabilities Re- search & Practice. Heller. 1880-1920. Journal Maltese Education Research. Bos- . The Psycho- Wesley. Hollingworth. Rogan J. Knowledge Construction: Interpreting Stu. R. Teaching the Handicapped. khususnya daya ingat Student Normalized Learning Gains in Me- dan pemahaman. Physics. E. 2000. Dasar berbasis problem solving secara signi. Cognitive Psychology. PENUTUP Kipnis. & Moshman. International Student Version. tive Group problem-solving in physics. Tan. A Revision of Bloom’s Taxonomy Weinert. knowledge and understanding of science. Wiley InterScience Arends. Relationship of Individual ningkatkan hasil belajar. Matlin. pembelajaran fisika dasar berbasis problem Schraw. 64-79. 2222-6990. haman.160 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 152-160 serta berkolaborasi dengan teman lain dalam ton: McGraw Hill. membandingkan. Garrett. Singapura: Thomson. R. D. New Jersey. belajarnya menunjukkan bahwa peserta didik Gaigher. & Heller. & Hofstein. usaha untuk memecahkan masalah. Learning to Teach. dan membagi strategi of Heat and Temperature Concepts. The sep mahasiswa. 1974. ligy of education and Instruction. The Level of B. Educational Psychology Review. 21(2).W. & Robbins. sessing. 47. Jhon Hasil ujicoba skala luas pengembangan mo. Baser. (9). 1089–1110. “The Inquiry Labora- tory as a Source for Development of Meta- Telah dikembangkan model pembela. D. K. Science Education. Effect of Conceptual Change Ori- ran atas pemikiran sendiri untuk mengarah. A Book. Physics Teacher. M. del dalam pembelajaran Fisika Dasar. I. Wiley and Sons. M.M. 2006. 2006. L. M. International Journal of Academic pik Kinematika dalam kategori sedang. International Journal of Sci- jaran fisika yang cocok dengan karakteristik ence and Mathematics Education. 29. Research in Business and Social Sciences. The Develop- ment of Metacognitive Skilss among Firts Year Science Student. M.(3). 2007. P. 2004.J. 2011. K. of education Objectives. W. Semmel. H. S. mampuan metakognisi yang dimiliki. mampuan metakognisi yang dimiliki dapat me- Hake & Richard. 2006. didapat National Research Council. Metacognition. A. S. terlibat dalam belajar bagaimana belajar akan “Exploring the Development of Conceptual mengembangkan metakognisinya (Tan. Kesada. A. D. R. Lawrence Anderson. 2009. S. Seventh jaran Fisika Dasar berbasis problem solving. Source Anderson. Inc.. Saleh. cognitive Skilss”. 2009. mampuan metakognisi dan pemahaman kon.E. 1. The “First Physics First” Movement.M. “Predators of Erlbaum Associates. 1987. 77-87.R. 2004.S. Develop- bing mahasiswa menyusun lingkungan belajar ment of the Metacognitive Skills of Prediction dan memilih strategi untuk memperbaiki kinerja and Evaluation in Children With or Without kognisi pada masa yang akan datang dan ke. M. 2001. E.. mahasiswa dapat meningkatkan kapasitas be. lajar yang penuh makna dan membentuk serta Introductory Physics I Mechanics. High-School Physics.. Anderson & Nashon (2006) yang menyatakan and Pretest Scores on Mathematics and bahwa kemampuan metakognisi yang dimiliki Spatial Visualization.M. O. & McLoughlin 2002. R. Theories. Teachers of Exceptional Children. & Nashon. D. F. Problem-Solving Labs.