You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Psikologi merupakan ilmu yang relatif muda dibandingkan dengan ilmu
yang lain, dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu mengalami
perkembangan sesuai perkembangan keadaan. Psikologi dimulai dari induk segala
ilmu yaitu filsafat. Sebagai suatu ilmu psikologi selalu memisahkan diri, tetapi
bukan berarti memisahkan diri, ilmu psikolgi tidak terkena pengaruh dari ilmu
filsafat dan ilmu tua lainnya. Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah
menjadi topik pembahasan filsuf. Sejak itu filsuf sudah membicarakan aspek-aspek
kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta berbagai aksioma
umum yang berlaku pada manusia.
Psikologi dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh Wilhelm
Wudnt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig,
pada tahun 1879. Wilhelm Wudnt adalah seorang Filsuf, Dokter, Sosiolog dan Ahli
Hukum dari Jerman. Wudnt menyatakan bahwa objek penelitian psikologi bukan
lagi berupa hakikat jiwa, yang tidak bisa di observasi, tetapi denomena-fenomena
kejiwaan berupa tingkah laku. Wudnt juga menyatakan bahwa gejala-gejala jiwa
tidak dapat diterangkan semata-mata berdasarkan proses alam sebagaimana
dijelaska melalui fisiologi. Fisiologi hanya berfungsi sebagai ilmu batu psikologi.
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu dari kata
psyche yang berarti “jiwa”, dan logos yang berarti “ilmu”. Jadi, secara harfiah,
psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala
kejiwaan. Secara termonologi, Menurut wundt (lih.devidoff, 1981) psikologi itu
merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the scince of human consciousness)
para ahli psikologi akan mempelajari proses-proses elementer dari kesadaran
manusia. Dari batasan ini dapat dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan
dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam
psikologi itu. atau yang lebih singkatnya ialah, psikologi adalah suatu ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia.

Dalam masa perkembangannya, ilmu psikologi terbagi menjadi beberapa
macam sub disiplin ilmu psikologi yang pertama psikologi yang membahas tentang
pendidikan dan cara pembelajaran yang baik disebut psikologi pendidikan. Kedua,
psikologi yang membahas tentang perilaku sosial, interaksi, dan hubungannya
dengan individu-individu disebut psikologi sosial. Ketiga, psikologi yang
membahas tentang struktur kepribadian manusia disebut sebagai psikologi
kepribadian. Keempat, psikologi yang membahas tentang perkembangan psikis
manusia dari bayi sampai masa tua disebut psikologi perkembangan. Kelima,
psikologi yang membahas tentang keseluruhan pengetahuan yang berisi fakta,
aturan-aturan, dan prinsip-prinsip tentang perilaku manusia pada pekerjaan atau
organisasi disebut psikologi industri dan organisasi. Keenam, psikologi yang
membahas individu yang mengalami gangguan atau individu yang memiliki
keterbelakangan mental disebut psikologi klinis. Ketujuh, psikologi yang
membahas tentang perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat
tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan binaan, ataupun lingkungan alam
disebut psikologi lingkungan. Masih banyak lagi cabang ilmu psikologi yang
lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Berdsarkan uraian tersebut bahwa psikologi lingkungan merupakan sub
disiplin ilmu psikologi. Psikologi lingkungan adalah ilmu kejiwaan yang
mempelajari perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat
tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan binaan ataupun lingkungan alam.
Dalam psikologi lingkungan juga dipelajari mengenai kebudayaan dan kearifan
lokal suatu tempat dalam memandang alam semesta yang memengaruhi sikap dan
mental manusia. Ruang lingkup Psikologi lingkungan lebih jauh membahas tentang
rancangan (design), Organisasi dan Pemaknaan. Ataupun hal yang spesifik seperti
ruang, bangunan, ketetanggaan, rumah sakit dan ruangnya serta setting-setting lain
pada lingkup bervariasi (Proshansky, 1974). Psikologi lingkungan memberi
peranan penting pada kehidupan ini. Dikarenakan di dalam psikologi lingkungan
membahas tentang bagaimana cara kita bertingkah laku terhadap lingkungan,
bagaimana cara kita menghindari konflik dengan lingkungan dan masih banyak lagi
pembahasan yang ada pada psikologi lingkungan.

dan sebagainya. hutan. dan sebagainya. Lingkungan Sosial. d. TUJUAN Tujuan dibuatnya review ini ialah untuk memudahkan mahasiswa program studi psikologi fakultas kedokteran mempelajari materi-materi yang telah diajarkan . Lingkungan Binaan / Buatan (Build environment) seperti : jalan raya. Lingkungan Alamiah (Natural Environment) seperti : lautan. Menurut Wibowo (2009) dalam penelitannya yang berjudul “Pola perilaku kebersihan : studi psikologi lingkungan tentang penanggulangan sampah perkotaan” menyebutkan bahwa tindakan penghuni secara kolektif terhadap sampah yang terjadi secara terus-menerus dari hari ke hari merupakan proses yang membentuk pola perilaku kebersihan yang relatif menetap. B. taman. b. c. Lingkungan yang di Modifikasi Menurut Ramadanta (2012) dalam penelitiannya yang berjudul tentang “Pendekatan psikologi lingkungan dalam perencanaan kawasan wisata (studi kasus pengembangan wisata agro kawasan loka. provinsi Sulawesi Selatan)” menyebutkan bahwa psikologi lingkungan memliki peranan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam perencanaan tata ruang kawasan wisata yang mampu mendorong pengembangan wilayah sekaligus sebagai alat pemacu oertumbuhan wilayah dan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. kabupaten bantaeng. berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya maka yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya ialah tentang ilmu pengetahuan psikologi yang membahas tentang Psikologi Lingkungan. Jenis-jenis lingkungan di dalam sosiologi lingkungan yang beberapa di antaranya juga banyak digunakan dalam psikologi lingkungan adalah (Sarwono. 1992): a. RUMUSAN MASALAH C.

.untuk persiapan ujian akhir semester. Tujuan dibuatnya review ini yang kedua ialah diharapkan mahasiswa program studi psikologi mampu mendapatkan ilmu yang bermanfaat setelah membaca isi review ini dan mahasiswa tersebut mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Teori hubungan antara lingkungan dengan perilaku individu Sebagai ilmu yang baru berkembang. . menurut Lazarus (1996 dalam Bell et al. teori-teori yang sudah sempat tumbuh dan berkembang setidak-setidaknya dapat memberikan jawaban terhadap sebagian permasalahan yang timbul dalam psikologi lingkungan. Konsep-konsep yang ada belum dapat didefinisikan dengan jelas dan hubungan antara variabel-variabel belum dapat diterangkan dengan tugas. belum banyak teori yang telah disusun oleh pakar-pakar psikologi lingkungan apalagi jika dipertimbangkan bahwa cabang ini belum mendapatkan bentuknya yang mapan. bisa berupa tubuh yang menggigil di udara dingin atau berkeringat di udara panas. Dalam rangka teori stres lingkungan ini ada dua pendapat mengenai stres itu. 1978:68) stres diawali dengan reaksi waspada terhadap adanya ancaman yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis seperti meningkatnya denyut jantung dan meningkatnya produksi adrenalin. Stresor adalah elemen lingkungan (stimulu) yang merangsang individu seperti kebisingan. khususnya dalam tingkah laku coping. Penentuan pilihan itu dilakukan di dalam kognisi. dalam Bell et al. menyerang secara fisik atau dengan kata-kata saja dan mencari kompromi. Menurut Selye (1956. 1. Keadaan ini segera disusul dengan reaksi penolakan terhadap stresor. Teori stres lingkungan. dan kepadatan. Elemen pertama adalah stresor dan elemen kedua adalah stres itu sendiri. Ketika individu hendak bereaksi terhadap stresor ia harus menentukan strategi dengan memilih tingkah laku. suhu udara. yaitu menghindar. 1978:69) stres bukan hanya mengandung faktor faal. Stres (ketegangan. ada dua elemen dasar yang menyebabkan manusia bertingkah laku terhadap lingkungannya. Menurut teori ini. tekanan jiwa) adalah hubungan antara stresor dengan reaksi yang ditimbulkan dalam diri individu. melainkan juga melibatkan kesadara (kognisi). BAB II REVIEW MATERI G. Walaupun demikian. Namun.

dapat meningkatkan hasil kerja pada tugas-tugas yang sederhana. dan polusi udara. Pada tugas-tugas yang mudah. dan suara bising (Bell et al. Setelah ada tanda-tanda peningkatan kegiatan di otak itu maka dapat kita ramalkan akan terjadi perilaku tertentu seperti bertambah waspada. misalnya mencari kendaraan umum. tetapi justru akan mengganggu dan menurunkan prestasi kerja dalam tugas-tugas yang rumit. Pembangkitan penginderaan (arousal) melalui peningkatan rangsang. bangkit) atau berkurangnya kegiatan di otak sebagai suatu akibat dari proses faal tertentu (Hebb. makin tinggi hasil pekerjaan itu. Misalnya. atau menjadi agresif (marah-marah). Inti dari teori ini adalah meningkatnya (bangun. Selanjutnya dikatakan oleh teori ini bahwa arousal yang rendah akan menghasilkan pekerjaan yang rendah pula. Prinsip dasar teori ini adalah manusia mempunyai keterbatasan dalam mengolah . kebisingan. segera melakukan sesuatu. tetapi pada pekejaan-pekerjaan yang sulit. naiknya tekanan darah. hubungan antara arousal dan performance ini dinamakan Hukum Yerkes dan Dodson.2. Dalam psikologi lingkungan. 1972 dalam fischer et al. Teori pembangkitan (arousal approach). Perubahan kegiatan otak ini merupakan variabel perantara antara rangsang yang datang dari lingkungan dengan tingkah laku yang terjadi. seseorang datang dari desa dengan kereta api. hasilnya akan terus meningkat dengan meningkat arousal. dan produksi adrenalin yang lebih cepat. Ketika turun di stasiun ia menghadapi berbagai stimuli seperti keramaian. tetapi suara musik yang sama dapat mengganggu konsentrasi orang yang sedang memecahkan persoalan matemtika. Hukum ini paling nyata efeknya jika berhubungan dengan rangsang suhu udara. Sebagai indikator bahwa pada diri orang desa itu terjadi peningkatan kegiatan pada syaraf otonom seperti bertambah cepatnya detak jantung. kepadatan penduduk. 1984:65-66). Makin tinggi arousalnya. hasil pekerjaan justru akan menurun jika arousal sudah melebih batas tertentu. 3. udara yang panas. Misalnya. Teori kelebihan beban (environmental load theory). Teori ini dikemukakan oleh Cohen (1977) dan Milgram (1970) (dalam fischer et al. 1984:663-665). suara musik di dalam mobil bisa merangsang semangat pengemudi. 1978:73).

serta lampu-lampu reklame. 4. orang yang tinggal di kota besar sering mengeluh jenuh. dan cemas. stimulus dari lingkungannya. 5. ingin melarikan diri untuk mencari ketenangan. manusia menyesuaikan responnya terhadap rangsang yang datang dari luar. dan tidak berdaya. Kalau kelebihan kapasitas itu terlalu besar sehingga individu sama sekali tidak mampu menanganinya dalam kognisinya maka individu itu bisa mengalami berbagai gangguan kejiwaan seperti merasa tertekan. Teori tingkat adaptasi (adaption level theory). Pokoknya pemandangan itu dibuat lebih bervariasi agar tidak membosankan. Mereka akan mengalami kebosanan karena kurangnya stimuli. banyak toko dan papan. Akibatnya juga bisa timbul kebosanan dan kejenuhan. Oleh karena itu. sedangkan stimulus pun dapat diubah sesuai dengan keperluan manusia. Contoh stimuli yang terlalu berlebihan misalnya pemandangan sebuah kota besar di mana terlalu banyak kendaraan dan manusia. bosan. dan sebagainya. penghuni kompleks perumahan rakyat yang bangunan rumahnya serba sama di seluruh area pemukiman itu. dalam Bell et al. 78:78) menamakan penyesuaian respons . 1978:76) mengatakan bahwa kurangnya rangsang terhadap indera manusia menyebabkan timbulnya rasa kosong. perlu diadakan tambahan- tambahan stimuli sehingga nampaklah sejumlah penduduk yang menanam pohon di depan rumahnya. Jika stimulus lebih besar dari kapasitas pengolahan informasi maka terjadilah kelebihan beban (overload) yang mengakibatkan sejumlah stimuli harus diabaikan agar individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimuli tertentu saja. sepi. Misalnya. Strategi pemilihan tingkah laku coping untuk memilih stimuli mana yang mau diprioritaskan atau diabaikan pada suatu waktu tertentu inilah yang menentukan reaksi positif atau negatif dari individu itu terhadap lingkungannya. Seperti sudah diuraikan di atas. Teori ini kebalikan dari teori kelebihan beban yang justru menyatakan bahwa manusia tidak akan senang jika ia tidak mendapat cukup rangsang dari lingkungannya. dalam Bell et al. Zubek (69. Wohlwill (1974. Untuk lebih menggairahkan semangat. bosan. Teori kekurangan beban (understimulation theory).

Dalam hal pola. Bhrem (Bell et al. dan pola. dalam skema Bell dinamakan kondisi homeostatis. Makin jauh perbedaan antara keadaan lingkungan dengan tingkat adaptasi. sedangkan penyesuaian stimulus pada keadaan individu sebagai adjustment. dan gerakan. bentuknya sama) mungkin sama tidak menyenangkan dengan lingkungan perumahan kumuh yang sama sekali tidak teratur. Kondisi lingkungan yang dekat atau sama dengan tingkat adaptasi adalah kondisi optimal. udara). Seperti pernah diuraikan di atas. manusia pada hakikatnya ingin mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri tingkah lakunya. Ada tiga kategori stimulus yang dijadikan tolak ukur dalam hubungan lingkungan dan tingkah laku. Dalam hal intensitas. stimulus sosial. Dalam hubungan ini dikatakan oleh Wohlwill bahwa setiap orang mempunyai tingkat adaptasi (adaption level) tertentu terhadap rangsang atau kondisi lingkungan tertentu. Dengan demikian jelaslah bahwa reaksi orang terhadap lingkungannya bergantung pada tingkat adaptasi orang yang bersangkutan pada lingkungan itu. orang Tibet mempunyai tingkat adaptasi yang sangat tinggi terhadap kadar oksigen dalam udara karena mereka biasa hidup di pegunungan yang sangat tinggi di atas permukaan laut. makin kuat pula reaksi orang itu. terlalu banyak atau terlalu sedikit macam rangsang juga tidak menyenangkan. Untuk ketiga stimulus itu masing-masing mengandung tiga dimensi lagi. Untuk orang- orang biasa. Misalnya. berada di tempat yang kadar oksigennya rendah seperti itu tentu akan menimbulkan masalah. Dalam hal diversitas (variasi rangsang). Dikatakan oleh J. diversitas. rangsang-rangsang yang terlalu berstruktur (misalnya bangunan yang terlalu rapi berderet-deret. cahaya. suhu. yaitu stimulus fisik yang merangsang indera (suara. Orang cenderung selalu mempertahankan kondisi optimal ini. 6. Terlalu banyak orang atau terlalu sepi juga tidak menyenangkan. yaitu intensitas. Teori kendala tingkah laku (the behaviour constraint theory). misalnya suara yang tidak terlalu keras lebih menyenangkan daripada yang terlalu keras atau terlalu lemah. 1978: . terhadap stimulus sebagai adaptasi. Dalam ketiga dimensi itu yang paling menyenangkan untuk individu adalah yang tidak terlalu kecil/sedikit/lemah dan juga tidak terlalu besar/banyak/kuat.

Kekhususannya adalah teori ini mempelajari hubungan timbal balik antara tingkah laku dan lingkungan. jika ada sebuah ruangan dengan empat dinding. 1978:83-85). dan seterusnya. tetapi jika ada individu yang bertingkah laku tidak sesuai dengan pola kelompok maka seluruh kelompok akan merasa terganggu. Teori ini dikemukakan oleh Barker (1968. Misalnya. 2 pintu. Misalnya. jika di kelas ada yang tertidur atau . Jika ruangan yang sama berisi perabotan kantor maka orang-orang di dalamnya juga bertingkah laku sebagaimana lazimnya karyawan kantor. dalam Bell et al. Teori psikologi ekologi. dan beberapa jendela. orang menghadiri upacara pernikahan memakai pakaian resmi dan membawa kado. Misalnya. dan sejumlah bangku yang berderet menghadap meja itu. 82-83) bahwa jika individu mendapt hambatan terhadap kebebasannya untuk melakukan sesuatu ia akan berusaha untuk memperoleh kebebasannya itu kembali. tetapi juga dimungkinkan timbulnya psychological reactan berdasarkan antisipasi ke masa depan. Orang di pantai berpakaian renang. Suatu hal yang unik pada teori ini adalah adanya set tingkah laku (behavioural setting) yang dipandang sebagai faktor tersendiri. orang berusaha mencari alternatif jalan lain. Set tingkah laku yang terjadi pada orang-orang yang memasuki ruangan itu adalah rangkaian tungkah laku murid yang belajar di kelas. sebuah meja tulis di depan ruangan. Ruangan itu berisi papan tulis. karena sudah tahu bahwa jalan-jalan tertentu macet total pada jam-jam tertentu. 7. sedangkan teori-teori sebelumnya pada umumnya hanya memberikan perhatian pada pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku saja. Set tingkah laku adalah pola tingkah laku kelompok (bukan tingkah laku individu) yang terjadi akibat kondisi lingkungan tertentu (physiccal milleu). kalau pilihan alternatif tidak ada. atau tingkah laku alternatif yang dicoba untuk dilakukan ternyata juga gagal mengatasi kendala dan ini terjadi berkali-kali maka orang itu akan mengalami perasaan putus asa atau tidak berdaya (learned helplessness). Set tingkah laku ini pada gilirannya tentu akan mempengaruhi tingkah laku masing-masing individu. Reaksi untuk mendapatkan kembali kebebasan itu dinamakan psychological reactance yang tidak selalu perlu terjadi hanya setelah individu langsung mengalami sendiri suatu situasi.

Berbeda dari teori-teori sebelumnya. dalam menghadapi masalah jalan raya. teori ini justru mengkhususkan diri pada pengaruh tingkah laku pada lingkungan. Namun. Leff (1998. Misalnya seorang karyawan mengatakan pada rekannya. Teori cara berpikir. di dalam acara resmi ada yang berpakaian biasa dan bersandal. Perbedaan cara berpikir ini menyebabkan perbedaan reaksi terhadap lingkungan. bukan manusia yang bersangkutan saja. Kalimat ini berarti bahwa sekalipun di kantor karyawan itu harus menjaga jarak antara dirinya sendiri dengan bapak direktur. menertibkan pejalan kaki dan pedagang kaki lima. 8.10-11) menyatakan bahwa ada dua macam cara orang berpikir dalam menanggapi rangsang dari lingkungan. Personal Space Manusia mempersepsikan ruang di sekitarnya lengkap. Ada faktor ledakan penduduk. Misalnya. orang yang berpikir sistem akan mengatakan bahwa faktor penyebab kemacetan jalan itu bermacam-macam. F. urbanisasi. Pertama adalah cara berpikir linier dan kedua adalah cara berpikir sistem. meningkatkan frekuensi dan daya tampung kendaraan umum. tidak berdiri sendiri. Ungkapan dalam kalimat sehari-hari dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya kualitas hubung antarmanusia terjadi. tetapi di rumah ia bisa lebih bebas ngobrol sambil berposisi berdekatan dengan . Semua itu ikut dipertimbangkan sehingga jalan keluar yang dipilih pun bisa bermacam-macam. kemiskinan. sementara yang lain berpakaian resmi maka yang mempersepsikan bahwa interaksi timbal balik antara individu dan lingkungan berada di luar batas toleransi atau batas optimal adalah seluruh anggota kelompok. Misalnya. masih termasuk keluarga dekat dengan saya”. Orang yang berpikir linier akan mengatakan bahwa kemacetan ini disebabkan oleh terlalu banyaknya kendaraan dibandingkan dengan panjang dan lebarnya jalan. rendahnya pendidikan. dan terbatasnya dana pemerintah. Untuk menjawabnya harus dilakukan pelebaran atau penambahan panjang jalan atau mengurangi jumlah kendaraan. Jiak isi ruang itu adalah manusia lain maka orang langsung akan membuat suatu jarak tertentu antaranya dirinya sendiri dengan orang lain itu dan jarak itu sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas hubungan antarorang itu. “Bapak direktur kita yang baru.

. aroma yang mungkin tidak menyedapkan bagi lawan interaksi.bapak direktur itu. Fisher dkk. “Aku akhir- akhir ini merasa makin jauh dari kamu”. Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat norma-norma yang mengatur cara berinteraksi. J. Itu berarti ia merasabahwa istrinya tidak mau di dekatinya lagi secara fisik sampai batas tertentu. Adapun fungsi dari ruang personal tersebut adalah: 1. Berdasarkan uraian di atas. Dalam psikologi lingkungan. Ruang personal mempunyai fungsi untuk mempertahankan diri dari ancaman emosi dan fisik pihak lawan komunikasinya. maka stimulasi yang berlebihan dapat berbentuk radiasi panas tubuh lawan interaksi. Sebagai sarana komunikasi antarindividu inilah persepsi ruang seseorang dinamakan personal space. Menjaga komunikasi yang nyaman. Di dalam proses interaksi terjadi suatu hubungan yang dinamis. Personal space di sekitar diri individu seakan-akan ada sebuah kapsul yang membatasi jarak dengan orang lain. Luas atau sempitnya kapsul itu bergantung pada kadar atau sifat hubungan antarindividu dengan individu lainnya. Hal ini berarti bahwa apabila lawan interaksi tidak mempunyai hubungan tertentu dengan dirinya. jarak antarindividu ini adalah juga sarana komunikasi. Atau jika seorang suami mengatakan pada istrinya. 4. maka ruang personal mempunyai fungsi tertetu. maka seseorang dapat mengatur keras lemahnya suara dalam berkomunikasi. Dengan demikian. Menjaga ruang dalam berinteraksi dengan orang lain. (1984:149) mendefinisikan personal space sebagai suatu batas maya yang mengelilingi diri kita yang tidak boleh dilalui oleh orang lain. 3. Dengan jarak yang memadai. 2. dari hubungan yang positif dapat berkembang menjadi negatif karena emosi yang terlibat dalam interaksi. Padahal sebelumnya sang suami tidak ada masalah dalam hal kedekatan fisik dengan istrinya. D. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kehidupan sehari-hari jarak yang diperkenankan oleh seseorang terhadap orang lainnya bergantung sekali pada bagaimana sikap dan pandangan orang yang bersangkutan terhadap orang lainnya itu. ruang personal dalam berinteraksi sangat diperlukan untuk menjaga norma masyarkat.

yaitu jarak untuk berhubungan seks. 1984:155) melaporka bahwa salah satu penentu perbedaan jarak dalam personal space yang bergantung pada diri individu itu sendiri adalah jenis kelamin dari individu yang bersangkutan. Faktor situasional Interaksi antara seseorang dengan orang lain. yaitu: 1. Tipe kepribadian pun berpengaruh pada personal space seseorang. dan sebagainya. Jarak intim (0-18 inci/ 0-0. 2.4 kaki/ 0. Jarak sosial (4 kaki. untuk saling merangkul antarkekasih.3 m).3 m). maka ia akan mengahmpirinya untuk berinteraksi dengannya. Faktor umur juga berpengaruh pada personal space seseorang. Menurut Iskandar (2012) faktor-faktor yang mempengaruhi ruang personal yaitu: 1. maka ia akan merasa tertarik untuk melakukan interaksi dengan pihak yang mempunyai daya tarik tersebut. yaitu untuk hubungan yang bersifat formal seperti bisnis. Jarak publik (12 kaki – 25 kaki/ 4 m – 8. sahabat atau anggota keluarga atau untuk melakukan olahraga kontak fisik seperti gulat dan tinju. Heshka dan Nelson (1972) (dalam Fisher.5 m. 1982:275 dan Fisher. 4. seseorang melihat orang lain yang memiliki makna.5 m). Jarak personal (18 inci.12 kaki/ 1. Menurut Hall (1963) (dalam Holahan. Seorang pebisnis ketika melihat seseorang yang memungkinkan dapat memberikan peluang untuk mengembangkan bisnisnya. yaitu jarak untuk percakapan antara dua sahabat atau antarorang yang sudah saling akrab. Menurut Holahan (1982:275) mendefinisikan personal space merupakan sebuah balon atau tabung yang menyelubungi diri kita dan tabung itu membesar dan mengecil bergantung dengan siapa kita sedang berhadapan. dapat diawali dari adanya dari tarik seseorang pada yang lain. Selanjutnya Holahan (1982:279) melaporkan bahwa latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang juga mempengaruhi personal space. 3. yaitu untuk hubungan yang lebih formal lagi seperti penceramah atau aktor dengan hadirinnya.1. Diawali dari proses persepsi. Ruang personal yang akan . 1984:153) ada empat macam jarak personal space.3 m – 4 m ).

Perbedaan individual Perbedaan individu disebabkan oleh faktor kepribadian yang menentukan pola perilaku seseorang. Selain adanya daya tarik dalam melakukan interaksi. Jika kita meminjam istilah psikoanalisis. Jarak interpersonal akan menentukan pola ruang personal dalam berinteraksi. Holahan (1982:237) pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis-jenis privacy dan ia mendapatkan bahwa ada enam jenis dalam privacy yang terbagi dalam dua golongan. Demikian pula halnya dengan luas sempitnya ruangan. Dalam situasi baru bagi seseorang. Demikian pula dapat terlihat perbedaan dalam menggunakan ruang personalnya ketika berinteraksi antara pria dan wanita. Faktor fisik Faktor arsitektural suatu bangunan akan berpengaruh pada ruang personal. akan mempengaruhi pula penggunaan ruang personal. privacy berarti dorongan untuk melindungi ego seseorang dari gangguan yang tidak dikehendakinya. 3. Posisi dalam suatu ruang. akan mempengaruhi ruang personal yang dibutuhkan oleh orang yang berinteraksi. maka ia akan mencari pihak lain yang memiliki kesamaan. . faktor budaya akan mempengaruhi pula dalam penggunaan ruang personal untuk berinteraksi. 2. dilakukannya sudah barang tentu dapat berkembang dari jarak sosial menjadi jarak personal. Pada setiap masyarakat memiliki tata krama dalam berinteraksi. ada pula situasi lain yang dapat mempengaruhi interaksi. Privacy Privacy adalah keinginan atau kecendrungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya. Usia juga mempengaruhi pula dalam penggunaan ruang personal dan yang terakhir. G. Pencahayaan pada suatu ruang akan mempengaruhi seseorang dalam melakukan interaksi dan menggunakan ruan personal.

sedangkan secrecy lebih mempunyai konotasi negatif. sedangkan personal space adalah perwujutan privacy itu dalam bentuk ruang (space). privacy adalah hasrat atau kehendak untuk mengontrol akses fisik maupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak orang lain. Menurut Warren dan Lasslet (1977) (dalam Holahan. Dari uraian diatas nampak bahwa privacy ini merupakan inti dari personal space. Keinginan untuk merahasiakan jati diri b. Dengan demikian. tidak disukai masyarakat dan tidak ada kaitannya dengan hak individu. tetapi jauh dari semua orang lainnya 2. Keinginan untuk menyendiri (solitude) b. a.1. privacy juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi. Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain c. Keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas (seclusion) c. antara privacy dan kerahasiaan ada perbedaan. privacy ini juga mempunyai fungsi dan merupakan bagian dari komunikasi. yaitu mengenal diri sendiri dan menilai diri sendiri. Menurut Holahan (1982:275). Keinginan untuk intim dengan orang-orang (misalnya dengan keluarga) atau orang tertentu saja (misalnya dengan pacar). apalagi . Tiga jenis privacy yang termasuk dalam golongan ini adalah: a. perbedaan antara kedua konsep itu adalah privacy merupakan konsensus masyarakat dan merupakan hak individu yang diakui masyarakat. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu. 1982:239). Namun. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga Khusus golongan kedua dari jenis privacy ini menunjukkan adanya kecendrungan untuk merahasiakan seseuatu tentang diri sendiri. Selain itu. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik. Jika privacy ini terganggu. Golongan ini terwujud dalam tingkah laku menarik diri (withdrawal) yang terdiri atas tiga jenis.

kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari. Faktor Situasional . Faktor Personal Perbedaan Latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Selain itu. Fungsi ketiga privasi adalah memgembangkan identitas pribadi. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh Westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan. Dalam penelitiannya. yaitu merasa semua orang tahu tentang rahasia diri sendiri sehingga timbul rasa malu menghadapi orang lain. Privasi dan perilaku manusia. Fungsi privasi kedua adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain. Schwartz (dalam Holahan. Hal-hal yang memperngaruhi privasi yaitu : 1. Fungsi-fungsi privasi. yaitu : 1. yang meliputi keintiman atau jarak dalam berhubungan dengan orang lain. Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah untuk mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial. 1987) 2. akan terjadi proses ketelanjangan sosial. 2. Fungsi pertama privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama-sama dengan orang lain. 3. Marshall (dalam Gifford. sedangkan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota yang lebih besar waktunya di kota akan lebih memilih kedaan anonim dan intimacy. juga terjadi proses deindividuasi di mana orang merasa bahwa individunya sudah tidak dihargai lagi karena itu ia tidak peduli pada harga diri sendiri maupun orang lain. ditemukan anak yang tumbuh di rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat dewasa.secara terus menerus.

H. tetapi juga dapat hanya merupakan kehendeak menguasai atau mengontrol suatu tempat. Dengan kata lain teritorial perwujudan privacy. dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan. Menurut Lang (1987). Konflik-konflik terirotialitas dapat terjadi karena memang manusia cenderung bertingkah laku tertentu dalam mewujudkan kepemilikan atau haknya atas teritori tertentu. personalisasi atau penandaan dari suatu . (Gifford. 1982:235) Fisher (1984:176) menyatakan bahwa kepemilikan atau hak dalam teritorialitas ditentukan oleh persepsi dari orang atau orang-orang yang bersangkutan sendiri. relatif tetap. 1987). Menurut Ley dan Cibriwsky (1976) (dalam Fischer. terdapat 4 Karakteristik Teritorialitas yaitu Kepemilikan atau hak dari suatu tempat. kecendrungan agresivitas teritorial pada manusia memang lebih besar daripada hewan. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar (Holahan. 1984:183). Dari beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengizinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford dalam Prabowo. Kecendrungan itu akan menjadi paling besar pada situasi-situasi dimana batas-batas teritori tidak jelas atau dapat dipermasalahkan. Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Faktor Budaya Terdapat perbedaan pandangan mengenai privasi atau bagaimana individu mendapatkan privasinya dalam setiap budaya di mana ia berada. Teritoriality merupakan tempat yang nyata. 3. antara lain menyatakan bahwa suatu tempat adalah memang miliknya atau haknya dan masih banyak tingkah laku yang lain. Teritoriality adalah suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas sebuah tempat atau suatu lokasi geografis. Territoriality Teritorialitas adalah perwujudan ego yang tidak ingin diganggu. Persepsi itu dapat aktual. Beberapa tingkah laku itu. 1998).

Stalls: suatu tempat yang dapat disewa atau dipergunakan dalam jangka waktu tertentu. 1984:177) adalah sebagai berikut: 1. Misalnya rumah dan ruangan kantor. dan pengatur dari beberapa fungsi. di mana pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat itu. yaitu tempat terbuka untuk umum. antrian bensin. 2. 3. Penggolongan yang diajukan oleh Altman (dalam Fisher. bisa terjadi tanpa kesadaran teritorialitas. yaitu tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang cukup saling mengenal. Fungsi teritori sebagai proses sentral dalam. Sebagai media komunikasi. lapangan tenis. Contohnya adalah kamar-kamar di hotel. Personalisasi dan penandaan . Teritori publik. Teritori primer. . Misalnya tempat rekreasi. Teritori sekunder. Use Space: teritori yang berupa ruang yang dimulai dari titik kedudukan seseorang ke titik kedudukan objek yang diamati seseorang. yaitu : 1. teritori juga terbagi dalam beberapa golongan. Berdasarkan pemakaiannya teritorial umum terbagi menjadi tiga. Turns dipakai orang dalam waktu yang singkat. Misalnya ruang kelas dan kantin sekolah. misalnya tempat antrian karcis.area tertentu. maka ruang antara objek lukisan dengan orang yang sedang mengamatinya adalah “use space” atau ruang terpakai yang dimiliki orang tersebut tidak dapat diganggu gugat selama orang tersebut masih mengamati lukisan tersebut. yaitu tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab hubungannya atau yang sudah mendapat izin khusus. sama halnya dengan personal space. Turns mirip dengan stalls. 3. hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar. hanya berbeda dalam jangka waktunya saja. dan sebagainya. mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan kebuthan estetika. tanda atau menempatkan di lokasi strategis. 2. yaitu: 1. Contohnya adalah seseorang yang sedang mengamati lukisan dalam suatu pameran lukisan. Personalisasi dan penandaan seperti memberi nama.

memberi nama kepemilikan. Suatu situasi terjadinya pelanggaran teritorial. . Masalah kebisingan tidak dipengaruhi secara langsung oleh faktor fisik. Faktor fisik dalam hal ini adalah . Pertahanan dengan kekerasan yang dilakukan seseorang akan semakin keras bila terjadi pelanggaran di teritori primernya dibandingkan dengan pelanggaran yang terjadi di ruang publik. Pengertian lain adalah bunyi yang tidak diinginkan dan dirasa menganggu pendengaran. Seperti membuat pagar batas. 2. Apabila dalam peristiwa konflik antarkelompok. Dominasi dan Kontrol . laut. Batasan bising aktivitas buatan manusia diarahkan kepada bising buatan yang sumbernya berasal dari lalu lintas darat. . keramaian di stasiun. 4. Teritorial sebagai batas keamanan . Dengan demikian. udara. Menurut Sarwono (1992) selama gelombang-gelombang suara itu tidak dirasakan menganggu manusia maka namanya adalah bunyi (voice) atau suara. Kebisingan Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan oleh seseorang. Suara bising tidak hanya suara yang keluar dari sumbernya dengan tekanan tinggi atau freuensi yang tinggi. Tetapi bukan berarti bahwa faktor fisik diabaikan. Penandaan juga dipakai untuk mempertahankan haknya di teritori publik. 3. . bising dapat didefinisikan secara sederhana. Dominasi dan kontrol umumnya banyak terjadi di teritori primer. dan pasar. Jika gelombang-gelombang suara itu dirasakan sebagai gangguan maka namanya adalah bising (noise). Kemampuan suatu tatanan ruang untuk menawarkan privasi melalui kontrol teritori menjadi penting. . yaitu bunyi yang tidak dikehendaki. . Teritorial dan Agresi . I. Agresi bisa terjadi disebabkan karena batas teritori tidak jelas. maka teritorial menjadi batas keamanan. seperti kursi di ruang publik atau naungan. maka setiap kelompok akan merasa aman bila berada di wilayahnya.

tinggi- rendahnya ditangkap sebagai suara tinggi (sopran) atau suara rendah (bas) yang dinamakan pitch. Pada telinga manusia. yaitu volume (dB atau phone). Dari faktor volume. dan pengendalian. kesan gangguan yang dtimbulkan akan lebih kecil daripada jika suara itu datang tiba-tiba atau tidak teratur. Artinya. Ada 3 faktor yang menyebabkan sebuah suara secara psikologik dianggap sebagai bising. Pertama aspek fisiologik. Ledakan gunung meletus. sudah barang tentu akan berproses dalam penginderaan pendengaran orang tersebut.gelombang suara yang diterima oleh indra pendengaran kita dan memberikan tekanan pada gendang telinga orang yang mendengarnya. Dalam ilmu fisika. gempa bumi atau suara angin puyuh adalah beberapa contoh dari kebisingan alamiah. Sumber dari kebisingan itu sendiri ialah suara bising lebih banyak bersumber dari lingkungan buatan daripada lingkungan alamiah. dampak dari kebisingan pada fisiologis ialah tekanan suara yang diterima oleh seseorang. Selain frekuensi. ilmu fisika juga dapat mengukur amplitudo suara. Tinggi-rendahnya microbars menentukan kesan keras dan lemahnya bunyi (volume). kalau suara bising itu dapat diperkirakan datangnya atau berbunyi secara teratur. Dari faktor pengendalian. orang menjadi tidak berdaya dan membiarkan saja bising itu walaupun stresnya bertambah besar. Tekanan suara yang dirasakan melebih kemampuan fisiologisnya. gelombang- gelombang suara ini dapat diukur frekuensinya (siklus per detik) dengan satuan ukuran cps (cyclus per second) ata Hz (Hertz). enurut Sarwono (1992) bunyi itu datang dari lingkungan berupa gelombang-gelombang suara. Lalu lintas dan bunyi industri adalah beberapa contoh dari kebisingan buatan. jelas bahwa suara yang makin keras akan dirasakan makin menganggu. tidak adanya kendali pada kebisingan ini menimbulkan stres yang jika berlangsung lama pada akhirnya menimbulkan reaksi learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Kedua aspek psikologik. maka akan . Dampak dari kebisingan ialah Menurut Iskandar (2012). perkiraan. Ada dua macam aspek kebisingan yaitu aspek fisiologik dan aspek psikologik. yaitu tinggi-rendahnya gelombang suara yang diukur dengan microbars. Dari faktor perkiraan.

dan sebagainya. Ciri kedua. Kebisingan dari jalan raya cukup untuk menyebabkan gangguan pada aliran darah dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. sedangkan kesesakan adalah respon subjektif terhadap ruang yang sesak. dan vertigo (sumber: wikipedia. Jadi. mungkin sudah tidak merasa sesak lagi (kepadatan tinggi. komunikasi verbal. tidak akan mempersepsikan kesesakan seperti yang dialami oleh penumpang kereta api. J. dapat mempengaruhi dinamika kelompok. orang yang biasa menggunakan . 1984:103). Hubungan antara kepadatan dan kesesakan mempunyai dua ciri. mengganggu konsentrasi. kesesakan rendah). Dampak kebisingan pada psikologi ialah dapat menimbulkan stres. Dampak kebisingan terhadap kesehatan fisik secara umum dapat meningkatkan tekanan darah. Tetapi kalau seseorang telah memliki intensi untuk agresi. Menurut Stokols (1972) (dalam Holahan.terjadi kerusakan pada fungsi fisiologis pendengarannya. 1982:198) menyatakan bahwa kepadatan adalah kendala keruangan. maka kebisingan akan meningkatkan perilaku agresi. 1974 dalam Fisher et al. sakit kepala. karena kesesakan adalah persepsi maka sifatnya subjektif. 1977 dan Miller. nyeril lambung. Kepadatan dan Kesesakan Menurut Iskandar (2012) menyebutkan bahwa kepadatan adalah suatu kepadatan yang dirasakan seseorang dan bersifat psikologis. orang tersebut akan mengalami ketulian. Hal ini berarti bahwa banyaknya orang tersebut dimaknakan sebagai kepadatan. fatigue. dkk (1980) menemukan dalam penelitiannya bahwa anak-anak sekolah yang berada di daerah bising atau suara dari lingkungan yang dapat memberikan tekanan memiliki tekanan darah yang tinggi. Org) Cohen. Orang yang berada sendirian di tengah sabana luas. mengganggu interaksi pada orang yang sedang berinteraksi. gangguan pencernaan. Sebaliknya. rasa mual. dan menyebabkan perilaku agresi. Ciri pertama. Atau dengan perkataan lain. tidak termasuk di dalamnya kepadatan dalam arti hal-hal lain yang non manusia. kesesakan adalah persepsi terhadap kepadatan dalam artian jumlah manusia. bahkan impotensia seksual (Cohen. Orang yang sudah biasa naik bus yang padat penumpangnya. dapat juga menimbulkan sakit kepala.

Berbagai penelitian pada manusia menunjukkan bahwa manusia pun menampakkan tingkah laku yang menyerupai tingkah laku yang aneh sebagai . Dalam hal kepadatan ruang. 2. dan Saegert (1973. Peneliti-peneliti lain seperti Carey (1972) dan Carson (1964) (dalam Holahan. tetapi bukanlah merupakan syarat yang mutlak harus ada. orang akan pulang karena merasa bahwa jika tidak hadir dalam pertemuan itu tuan rumah juga tidak akan mencari-carinya. Karena hubungan yang sangat erat antara kepadatan dan kesesakan. bisa merasa sesak dalam bus yang setengah kosong (kepadatan rendah. 1982:200) mengemukakan bahwa pada manusia terdapat kepadatan sosial di samping kepadatan ruangan. tetapi kepadatan di luar rendah. Dengan mengkombinasikan dua jenis kepadatan ini diperoleh empat jenis kepadatan. misalnya. reaksinya mungkin keluar ruangan dan mencari tempat lain di sekitar ruangan yang masih agak lega. Kepadatan kumuh di kota di mana kepadatan di luar maupun di dalam rumah tinggi. McGrew (1970). Reaksi orang terhadap kedua jenis kepadatan itu bisa berbeda. kepadatan itu dapat dipersepsikan bahwa ruangannya memang terlalu sempit untuk sekian banyak pengunjung (kepadatan ruang). yaitu: 1. tetapi kepadatan di luar rumah tinggi. sedangkan dalam hal kepadatan sosial. kesesakan tinggi). Kepadatan memagn merupakan syarat yang diperlukan untuk timbulnya persepsi kesesakan. 4. 1982:200) menemukan bahwa manusia membedakan kepadatan di dalam rumahnya dan di luar rumahnya. 3. Kepadatan pinggiran kota di mana kepadatan di dalam maupun di luar rumah rendah. Kepadatan pemukiman mewah di kota besar di mana kepadatan di dalam rumah rendah. Kepadatan pedesaan di mana kepadatan di dalam rumah tinggi.kendaraan pribadi. Loo (1973). tetapi bisa juga karena persepsi bahwa jumlah undangannya terlalu banyak untuk ruangan itu (kepadatan sosial). 1974) (dalam Holahan. Di sebuah ruangan pertemuan yang padat dengan pengunjung.

. Dampak pada penyakit dan patologi sosial . Suasana hati cenderung lebih murung. . dan kenakalan remaja. misalnya meningkatnya kejahatan. Dampak pada hasil usaha dan suasana hati . Reaksi fisiologik. . 2. . Menarik diri dari lingkungan sosial. bunuh diri. Holahan (1982:208-214) antara lain mencatat beberapa gejala sebagai berikut: 1. Agresi. . penyakit jiwa. misalnya meningkatnya tekanan darah.akibat dari kepadatan dan kesesakan. . 3. Berkurangnya tingkah laku menolong. Patologi sosial. Kecendrungan untuk lebih banyak melihat sisi jelek dari orang lain jika terlalu lama tinggal bersama orang lain itu di tempat yang padat atau sesak. Penyakit fisik. seperti psikosomatik dan meningkatnya angka kematian. . Hasil usaha atau prestasi kerja menurun. Dampak pada tingkah laku sosial .