You are on page 1of 3

lower part comes into contact with the subcutaneous fatty tissue.

There are blood vessels and nerves in some parts.
The components of the dermis comprise the fibrous tissue and
the dermal matrix formed by cells in the interstitial components
(Fig. 1.22). The major components mainly consist of collagen
fibers (mainly types I and III), with smaller amounts of elastic
fibers, reticular fibers and matrix. This matrix generally comprises
the extra-cellular matrix and ground substance made up of
proteoglycans and gelatin. Fibroblasts, macrophages, mast cells,
plasma cells, vascular channels and nerves are common cellular
components.
Collagen fibers account for 70% of the weight of dry dermis
(Fig. 1.23) and appear white to the naked eye. The collagen
fibrous component is poorly extensible; however, it is extremely
tough and especially resistant to tension parallel to the fibers.
This characteristic is important in maintaining the dynamic
strength of skin.
Collagen fibers form from aggregations of thin fibrils. The
more fibrils there are in the fiber, the thicker and stronger the
fiber. Thin collagen fibers are sparsely seen in the papillary layers
and subpapillary layers; however, collagen bundles, with fully
developed thick collagen fibers, are densely distributed in the
reticular dermal upper layers.
In light microscopy, the proteinaceous collagen fibers stain
well in eosin solution; they stain red in Van Gieson and blue after
Mallory staining. The fibril is observed by electron microscopy
as being very long, 100 nm to 500 nm in diameter with cross striations
that repeat at intervals of 60 nm to 70 nm (Figs. 1.23 and
1.24). Fibrils become collagen fibers by aggregating with glycoproteins.
A thick collagen bundle can reach 2 mm to 15 mm in
diameter.
Collagen fiber molecules are produced in the rough endoplasmic
reticulum of fibroblasts. Helical procollagens with three achains
are secreted and the molecular ends are cut by procollagen
peptidase to become tropocollagens. The molecules are crosslinked
to each other with a regular gap that forms the striped collagen
fiber (Fig. 1.23b).
Twenty subtypes of collagen molecules with a-chains of different
molecular structures are known to exist (Table 1.2); however,
type I collagen accounts for 80% of the collagen fibers that
make up the dermis. Reticular fibers, which distribute in the
perivascular regions as thin argyrophilic fibers and do not form
thick fiber bundles, are type III collagen, and these account for
about 15% of all fibers. Most of the remainder is thought to be
type V collagen. Types IV, VII and XVII are mainly found in the
basal membranes, associated with epidermal keratinocytes

Abstract: Malnutrition will occur when the body not have an enough supply nutrition. One of
infection disease that can cause malnutrition is diarrhea. Diarrhea on toddler at E room Prof. Dr. R.
D. Kandou Hospital Manado City is stand at the first place from ten disease’s and some of them have
malnutrition because of diarrhea. The aim of this study were to identify the diarrhea and incident of
malnutrition and to analyze relation between diarrhea and incident of malnutrition. The sample in this
study is 57 respondents were obtained using a purposive sampling technique. The design study is a
Cross Sectional design where the information will collecting by using the observation sheet.

Kandou Manado merupakan penyakit tertinggi diantara 10 penyakit yang ada dan beberapa balita mengalami malnutrisi akibat penyakit diare.5% dengan rentang 4.05). Dr. Kurang lebih 80% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan (Sodikin.2 juta kematian setiap tahun pada balita.000. Pada daerah dengan episode diare yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara diare dengan kejadian malnutrisi pada balita di Irina E Bawah RSUP Prof. Recommendations for further research are expected to examine about relation between diarrhea and incident of malnutrition in toddler. akan tetapi pada beberapa tempat dapat lebih dari 9 episode per tahun. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyatakan periode prevalensi nasional diare adalah 3. Hasil Penelitian uji Chi Square diperoleh nilai signifikan p = 0. Diare pada balita di Irina E Bawah RSUP Prof. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi penyakit diare dan kejadian malnutrisi serta untuk menganalisis hubungan antara diare dengan kejadian malnutrisi.D. R.000. Dr. Incident of Malnutrition Abstrak: Malnutrisi akan terjadi apabila tubuh tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kandou Manado (p ≤ 0. D. It is show there is have relationship between diarrhea and incident of malnutrition in toddler (p ≤ 0. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan malnutrisi. R. Salah satu penyakit infeksi yang dapat menyebabkan malnutrisi adalah diare. kejadian malnutrisi PENDAHULUAN Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. anak-anak mengalami diare rata-rata 3. seorang balita dapat menghabiskan 15% waktunya dengan diare. dengan perkiraan 1. Data nasional menyebutkan setiap tahunnya di ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 3. Sampel pada penelitian ini berjumlah 57 responden yang di dapat dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kata kunci : Diare.3 episode per tahun.3 miliar episode dan 3. 2011). Key words : Diarrhea. Nomor 1. Desain penelitian yang digunakan adalah desain Cross Sectional dan data dikumpulkan dari responden menggunakan lembar observasi. Secara keseluruhan.2%-18.Research results Chi Square test have significant value p = 0.9%. the other factors that can cause malnutrition.05). Februari 2015 2 .

000 balita meninggal dunia karena diare. diare merupakan penyakit tertinggi diantara 10 penyakit yang ada.Indonesia 100. yaitu terdapat hubungan antara diare kronis dengan kejadian malnutrisi pada balita. 2011). Sebaliknya penyakit infeksi juga dapat mempengaruhi status gizi karena asupan makanan menurun. (2010) malnutrisi atau kurang gizi dapat meningkatkan resiko terkena penyakit infeksi karena daya tahan tubuh menurun.9% kemudian meningkat lagi di tahun 2013 menjadi 19. Data dari WHO pada tahun 2010 menunjukkan sebanyak 18% anak usia dibawah 5 tahun di negara berkembang mengalami underweight. Penelitian yang dilakukan oleh Aulina (2008).D. malnutrisi merupakan suatu keadaan kurang energi protein dan defisiensi mikronutrien yang sampai saat ini masih merupakan masalah yang membutuhkan perhatian khusus terutama di negara-negara berkembang. Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka menangani kasus gizi buruk diantaranya melakukan pelatihan penanganan kasus gizi buruk bagi petugas kesehatan khususnya yang ada di kota Manado (Kemenkes RI. Berkaitan dengan status gizi. Malnutrisi atau gizi buruk merupakan masalah yang perlu penanganan yang serius karena gizi buruk dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan. lemak. vitamin dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang. 2004). Kandou Manado. dkk (2011). Pada tahun 2013. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Putra (2008) yang mengatakan bahwa malnutrisi merupakan penyakit penyerta pada diare persisten.4% menurun di tahun 2010 menjadi 17. Tetapi penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosari (2013) yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara diare dengan status gizi pada balita. Dr. untuk bertumbuh dan berkembang. Berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2013. 2006). provinsi Sulawesi Utara mempunyai kasus gizi buruk terbanyak dengan lima orang anak meninggal. sama dengan 11 jiwa meninggal setiap jamnya atau 1 jiwa meninggal setiap 5. transportasi. penyimpanan. Menurut Diah (2011). Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013). malabsorbsi dan katabolisme tubuh meningkat.Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia terutama pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi.5 menit akibat diare (Depkes RI. anak membutuhkan zat gizi yang esensial mencakup protein. Penelitian yang dilakukan oleh Iswari (2011) mengatakan bahwa kejadian diare memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi pada anak usia di bawah 2 tahun. karbohidrat. prevalensi gizi kurang pada balita memberikan gambaran yang fluktuatif dari tahun 2007 yaitu 18. Itu artinya setiap hari ada 273 balita yang meninggal dunia dengan sia-sia. Dari data yang diperoleh di irina E bawah RSUP Prof.6% (2013). Menurut Krisnansari D. mineral. Diare dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu makan dan gangguan pencernaan yang menyebabkan menurunnya absorbsi zat-zat nutrisi dalam tubuh sehingga menimbulkan malnutrisi. Diare merupakan keadaan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekwensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi & Yuliani. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diare tidak hanya menyebabkan kematian tetapi dapat juga menyebabkan malnutrisi. Dalam 5 bulan terakhir (Mei 2014 – . absorpsi. R. gizi merupakan suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti. Menurut Supariasa. dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahap usianya (Supartini.