You are on page 1of 13

TUGAS

HUKUM INTERNASIONAL

“Dasar Hukum Kenapa Hukum
Internasinal Menjadi Hukum Nasional”

Nama : Rachmat Djamaludin
NIM : 2014 – 21 – 037
Kelas : A

Universitas Pattimura
2017

Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hukum internasionaldayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehukum internasionalngga
saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Dasar hukum kenapa hukum internasinal
menjadi hukum nasional”

Makalah ilmiah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehukum internasionalngga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuHukum Nasionalnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
saya dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhukum internasionalr kata saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Ambon, 25 Agustus 2017

Penyusun
Daftar isi

Kata pengantar ............................................................................................i
Daftar isi ......................................................................................................ii

Bab I pendahuluan .......................................................................................1

A. Latar belakang ........................................................................................1
B. Rumusan masalah ....................................................................................2
C. Tujuan penulisan .................................................................................... 2

Bab II Pembahasan .......................................................................................3

A. Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional ...........3
B. Penerapan Hukum Internasional Ditingkat Nasional .........................6

Bab III Penutup ...........................................................................................13

A. Kesimpulan ............................................................................................13

Daftar pustaka .............................................................................................14
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Hukum internasional adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas berskala internasional.
Pada awalnya, Hukum Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan antar negara
namun dalam perkembangan pola hubungan internasional yang semakin kompleks pengertian ini
kemudian meluas sehinggahukum internasional juga mengurusi struktur dan perilakuorganisasi
internasional dan, pada batas tertentu,perusahaan multinasional dan individu.Hukum bangsa-
bangsa dipergunakan untuk menunjukkan pada kebiasaan danaturan hukum yang berlaku dalam
hubungan antara raja-raja zaman dahulu. Hukum antar bangsa atau hukum antar negara
menunjukkan pada kompleks kaedah dan asasyang mengatur hubungan antara anggota masyarakat
bangsa-bangsa atau negara. Hukum Internasional terdapat beberapa bentuk perwujudan atau pola
perkembanganyang khusus berlaku di suatu bagian dunia (region) tertentu :

(1) Hukum Internasional regional: Hukum Internasional yang berlaku/terbatas daerahlingkungan
berlakunya, seperti Hukum Internasional Amerika / Amerika Latin,seperti konsep landasan
kontinen (Continental Shelf) dan konsep perlindungankekayaan hayati laut (conservation of the
living resources of the sea) yang mula-mula tumbuh di Benua Amerika sehingga menjadi hukum
Internasional Umum.

(2) Hukum Internasional Khusus : Hukum Internasional dalam bentuk kaedah yangkhusus berlaku
bagi negara-negara tertentu seperti Konvensi Eropa mengenai HAM sebagai cerminan keadaan,
kebutuhan, taraf perkembangan dan tingkat integritas yang berbeda-beda dari bagian masyarakat
yang berlainan.

Berbeda dengan regionalyang tumbuh melalui proses hukum kebiasaan.Hukum Internasional
didasarkan atas pikiran adanya masyarakat internasionalyang terdiri atas sejumlah negara yang
berdaulat dan merdeka dalam arti masing-masing berdiri sendiri yang satu tidak dibawah
kekuasaan lain sehingga merupakan suatu tertib hukum koordinasi antara anggota masyarakat
internasional yangsederajat. Hukum Nasional di Indonesia merupakan campuran dari sistem
hukum hukumEropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut,
baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dariBelanda
karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahandengan sebutan Hindia
Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karenasebagian besar masyarakat Indonesia
menganut Islam, maka dominasi hukum atauSyari'at Islam lebih banyak terutama di bidang
perkawinan, kekeluargaan danwarisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat,
yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya - budaya yang
ada di wilayah Nusantara.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan hukum internasional dan hukum nasional?
2. Bagaimana penerapan hukum internasional ditingkat nasional?

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat untuk memnuhi tugas kuliah yang diberikan oleh dosen mata
kuliah Hukum Internasional.

BAB II
Pembahasan

A. Hubungan Antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

1. Tempat hukum internasional dalam tata hukum secara keseluruhan

Persoalan tempat hukum internasional dalam rangka hukum secara keseluruhan
didasarkan atas anggapan bahwa sebagai suatu bidang hukum :

“ Hukum Internasional merupakan bagian dari hukum pada umumnya. Hal ini tidak
dapat dielakan apabila kita hendak melihat hukum internasional sebagai perangkat
ketentuan dan asas yang efektif yang benar-benar hukum internasional dalam
kenyataan, sehukum internasional tidak mempunyai hubungan dengan hukum
nasional” Karena pentingnya hukum nasional masing-masing negara dalam konstelasi
politik dunia dewasa ini, dengan sendirinya penting pula persoalan bagaimanakah
hubungan antara berbagai hukum nasional itu dengan hukum internasional.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam teori ada dua pandangan tentang hukum
internasional yaitu:

- Pandangan yang dinamakan “Voluntarisme” yang mendasarkan berlakunya
hukum internasional ini pada kemauan negara.

- Pandangan yang “obyektivitas” yang menganggap ada dan berlakunya hukum
internasional ini pada kemauan negara.

Dari pandangan yang berbeda di atas menimbulkan akibat yang berbeda yaitu:
- Pandangan “Voluntarisme” mengakibatkan adanya hukum internasional dan
hukum nasional sebagai dua satuan perangkat hukum yang hukum internasionaldup
berdampingan dan terpisah

- Pandangan obyektivitas menganggapnya dua bagian dari satu kesatuan
perangkat hukum . hal ini erat hubunganya dengan persoalan hubungan hukum
internasionalerarki antara kedua perangkat hukum itu baik masing-masing berdiri
sendiri maupun dua perangkat hukum itu merupakan dari satu kesatuan dari satu
keseluruhan tata hukum yang sama.

a. Aliran Dualisme
Tokoh utama dari aliran ini ialah “Triepel” seorang pemuka aliran positivism dan
“Anzilotti” pemuka aliran positivisme dari italia.
Menurut paham dualism, “ daya ikat hukum internasional bersumber pada kemauan
negara”, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang
terpisah satu dari yang lainnya.

Alasan terletak atau didasarkan pada kenyataan diantaranya, yaitu :

1.) Kedua perangkat hukum tersebt yakni hukum nasional dan hukum internasional
mempunyai sumber yang berlainan, hukum nasional bersumber pada “kemauan
negara”, sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama
masyarakat negara.
2.) Berlaianan subyek hukumnya
Subyek hukum nasional dalah orang-perorangan, sedangkan subyek hukum dari
hukum internasional adalah negara.

3.) Perbedaan dalam strukturnya
Lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum dalam kenyataannya seperti,
mahkamah dan organ eksekutif hanya ada dalam hukum nasional.

4.) Daya laku atau keabsahan kaidah hukum nasional tidak terpengaruh oleh
kenyataan bahwa hukum nasional itu bertentangan dengan hukum internasional.
Akibat Pandangan Dualisme ini, antara lain :

1.) Kaidah-kaidah dari perangkat hukum yang satu tidak mungkin bersumber atau
berdasar pada perangkat hukum yang lain. (tidak ada persoalan hukum
internasionalerarki)
2.) Tidak mungkin ada pertentangan antara kedua perangkat hukum tersebut.
3.) Ketentuan hukum internasional memerlukan tarnsformasi menjadi hukum
nasional.

b. Paham Aliran Monisme
Paham monisme didasarkan atas pemikiran kesatuan dari seluruh hukum yang
mengatur hukum internasionaldup manusia. Dengan demikian hukum internasional
dan hukum nasional merupakan bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yaitu
hukum yang mengatur kehukum internasionaldupan manusia.

Akibat pandangan ini:
Ø Bahwa antara dua perangkat ketentuan hukum ini. mungkin ada hubungan hukum
internasionalerarki

Persoalan hukum internasionalerarki anatara dua perangkat hukum (hukum nasional
dan hukum internasional) ini. melahrkan beberapa sudut pandang yang berbeda dalam
aliran monisme. Mengenai hukum manakah yang utama. Ada pihak yang beranggapan
bahwa dalam hubungan antara hukum nasional dan hukum internasional yang utama
adalah hukum nasional dan ada pandangan yang sebalinya yaitu bahwa hukum
iternasional yang pertama disebut “Paham monisme dengan primat hukum nasional “
dan pandangan yang kedua disebut “ Paham monisme dengan primat hukum
internasional”

- Pandangan monisme dengan primat hukum nasional
Menurut pandangan monisme dengan primat nasional ini, hukum internasional itu
tidak lain dari atau merupakan lanjutan hukum nasional atau tidak lain dari hukum
nasional untuk urusan luar negeri atau “Auszeres Staatsrecht”

Pandangan monisme dengan primat hukum nasional ini pada hakikatnya menganggpa
bahwa hukum internasional itu bersumber pada hukum nasional.

Alasan utama anggapan ini ialah ;
1.) Bahwa tidak ada satu organisasi di atas negara-negara yang mengatur kehukum
internasionaldupan negara-negara di dunia
2.) Dasar hukum internasional yang mengatur hubungan internasional terletak dalam
wewenang negara untuk mengadakan perjanjian internasional

Kelemahan paham monisme ini, ialah :
1.) Terlalu memandang hukum itu sebagai hukum yang tertulis saja, sehukum
internasionalngga sebagai hukum internasional dianggap hanya hukum yang
bersumberkan perjanjian internasional saja.
2.) Bahwa pada hakikatnya pendirian paham monisme dengan primat hukum
nasional ini merupakan penyangkalan terhadap adanya hukum internasional , sebab
apabila terikatnya negara pada hukum internasional digantungkan pada hukum
nasional. Hal ini sama-sama saja menggantungkan berlakunya hukum internasional
itu pada kemauan negara.

- Paham monisme dengan primat hukum internasional
1.) Hukum nasional itu bersumber pada hukum internasional karena hukum ini
secara hukum internasionalerarkis lebih tinggi dari hukum nasional
2.) Hukum nasional tunduk pada hukum internasional dan pada hakikatnya
kekeuatan mengikatnya berdasarkan “ Pendelegasian wewenang “ dari hukum
internasional
Kelemahan paham monisme ini :
1.) Pandangan bahwa hukum nasional, itu tergantung kepada hukum internasional
(juga kekuatannya ) seolah-olah mendalilkan bahwa hukum internasional telah ada
lebih dahulu dari hukum nasional.
2.) Tidak benar bahwa hukum nasional itu kekeuatan mengikatnya diperoleh dari
hukum internasional.

B. Penerapan Hukum Internasional Ditingkat Nasional

Kedudukan hukum internasional dalam peradilan nasional suatu negara terkait dengan
doktrin “Inkorporasi” dan doktrin “Transformasi’ Doktrin ‘Inkorporasi’ menyatakan
bahwa : “Hukum Internasional dapat langsung menjadi bagian hukum nasional”

Misalnya :
Suatu negara menandatangani dan meratifikasi traktat, maka perjanjian tersebut dapat
secara langsung mengikat terhadap para warganya tanpa adanya legislasi terlebih
dahulu (AS, Inggris, Kanada, Australia, dll)
Doktrin “Transformasi’
Doktrin ini menyatakan sebaliknya; tidak terdapat hukum Internasional dalam hukum
nasional sebelum dilakukannya transformasi, yang berupa pernyataan terlebih dahulu
dari yang bersangkutan. Dengan kata lain traktat tidak dapat digunakan sebagai
sumber hukum nasional.

1. Penerapan dalam Praktek (Inggris)

a. Hukum Kebiasaan Internasional

Praktek di Inggris pada umumnya menunujukan bahwa hukum kebiasaan
internasional secara otomatis sebagai bagian dari hukumm nasional Inggris.
Pendekatan yang digunakan adalah doktrin “Inkorporasi”

Sepanjang mengenai Hukum Kebiasaan Internasional dapat dikatakan bahwa doktrin
Inkorporasi ini. berlaku dengan dua pengecualian yaitu :

- Bahwa ketentuan hukum kebiasaan Internasional tidak bertentangan dengan
suatu undang-undang baik yang telah berlaku maupun yang diundangkan
kemudian. Hal ini berarti bahwa Inggris lebih mendahulukan hukum
nasionalnya.

- Sekali ruang lingkup suatu ketentuan hukum kebiasaan internasional
ditetapkan oleh keputusan mahkamah yang tertinggi, maka semua pengadilan
terikat oleh keputusan itu sekalipun kemudan dapat terjadi perkembangan
suatu ketentuan hukum kebiasaan Internasional yang bersangkutan harus
merupakan ketentuan yang umum diterima masyarakat internasional.

-
Disamping pengecualian di atas, pengadilan di Inggris dalam pesoalan yang
menyangkut hukum Internasional “ Terikat” oleh tindakan atau sikap pemerintah
(eksekutif) dalam hal :

1.) Tindakan pemerintah seperti pernyataan perang, perebutan (aneksasi)
wilayah atau tindakan nasionalisasi tidak boleh diragukan keabsahannya oleh
pengadilan
2.) Pengadilan terikat untuk mengakui pernyataan pemerintah (wewenang
prerogatifnya) misalnya ; pengakuan suatu pemerintah atau negara dan lain
sebagainya.

Dalam membahas pengadilan Inggris tidak bisa kita lepaskan dari doktrin “Preseden”
atau “Stare decisis”. Lord Nenning dan Malcoln menyatakan bahwa hukum
internasional tidak mengenal apa yang disebut sebagai Stare decisis. Bila hukum
kebiasaan internasional mengalami perubahan maka pengadilan dapat menerapkan
perubahannya tersebut tanpa menunggu yang dilakukan oleh “ The House of Lord”

Doktrin inkorporasi sangat kuat tertanam pada hukum positif di Inggris. Hal ini
terbukti dengan adanya dua dalil yang dipegang teguh oleh pengadilan Inggris yakni:

1.) Dalil Konstruksi Hukum (Rule of Construction)
Menurut dalil ini UU yang dibuat oleh parlemen harus ditafsirkan sebagai tidak
bertentangan dengan hukum Internasional. Artinya : dalam mengkaji suatu UU ada
anggapan bahwa parlemen tidak berniat melakukan pelanggaran hukum Internasional.

2.) Dalil tentang pembuktian
Berlainan dengan hukum asing, hukum internasional tidak memerlukan kesaksian
para ahli di pengadilan Inggris untuk membuktikannya. Pengadilan di Inggris boleh
menetapkan sendiri ada tidaknya suatu ketentuan hukum Internasional, dengan
langsung menunjuk pada keputusan mahkamah lain sebagai bukti atau sumber-sumber
lain (doktrin) tentang adanya ketentuan hukum Internasional.

b. Perjanjian (traktat) Internasional

Mengenai traktat (agreements, traties) dapat dikatakan bahwa pada umumnya
perjanjian yang memerlukan persetujuan parlemen , memerlukan pula pengundangan
nasional, yang tidak memerlukan persetujuan badan ini dapat mengikat dan berlaku
secara langsung setelah penandatanganan dilakukan.

Dalam praktek di Inggris perjanjian Internasional yang memerlukan persetujuan
parlemen dan pengundangan nasional bagi berlakunya secara Intern antara lain :

1.) Yang memerlukan diadakannya perubahan dalam perundang-undangan nasional.
2.) Yang mengakibatkan perubahan dalam status atau garis batas wilayah negara
3.) Yang mempengaruhukum internasional hak sipil kaula negara Inggris atau
memerlukan penambahan wewenang atau kekuasaan pada raja (ratu) Inggris.
4.) Menambah beban keuangan negara secara langsung atau tidak pada pemerintahan
Inggris.

- Hukum nasional didepan pengadilan international.
Praktik di pengadilan international menunjukan bahwa:
1. Suatu negara tidak dapat menggunakan hukum nasional-nya yang
bertentangan dengan hukum internasional.
2. Suatu negara tidak dapat menggunakan alasan ketiadaan hukum nasional-nya
untuk menjustifikasi adanya pelanggaran hukum internasional.
3. Tanggung jawab international timbul hanya ketika suatu negara gagal
memenuhukum internasional kewajiban hukum internasional.
4. Hukum nasional hanya dapat diajukan didepan pengadilan internasional
apabila tidak bertentangan dengan hukum internasional.
5. Hukum nasional hanya dapat diajukan didepan pengadilan international
sebagai bukti adanya praktik hukum kebiasaan internasional.
6. Hukum nasional dapat digunakan didepan pengadilan international dalam
choice of law.
7. Pengadilan internasional dapat memutus bahwa suatu hukum nasional tak
cukup memenuhukum internasional kewajiban hukum internasional.

- Hukum internasional (hukum internasional) didepan pengadilan national
Dalam praktiknya antara satu negara dengan negara lain status dan perlakuan hukum
terhadap hukum internasional berbeda-beda. Mayoritas negara memiliki konstitusi
tertulis atau document sebagai ketentuan fundamental bagaimana hukum internasional
didepan pengadilan nasional mereka. Dalam praktiknya ada 2 doktrin yang banyak di
ikuti negara-negara :

1. Doktrin inkorporasi yaitu doktrin yang menyatakan bahwa hukum
internasional secara otomatis menjadi bagian hukum internasional jika telah
mengalami adopsi.
2. Doktrin transformasi yaitu doktrin yang menyatakan bahwa hukum
internasional tidak akan menjadi bagian hukum nasional jika tidak diterapkan.
- Praktek hukum internasional di berbagai negara.

Tahukah anda jika ternyata hukum internasional di inggris itu berbeda dengan di
amerika juga di indonesia. Seperti apa perbedaanya? Begini ceritanya.
 Di inggris hukum internasional mereka adalah hukum kebiasaan internasional.
Dimana hukum internasional akan terapkan sebagai hukum nasional asalakan
hukum kebiasaan tersebut didukung dengan bukti, tidak tunduk pada doktrin
stare delisis dan hukum kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan hukum
nasional.
 Di amerika hukum internasional menjadi bagian hukum nasional, dan hukum
kebiasaan internasional menempati kedudukan penting di pengadilan nasional
amerika.
 Di indonesia kita menganut teori dualisme dimana hukum internasional berdiri
sendiri dan hukum nasional berdiri sendiri.

- Hukum internasional (hukum internasional) dan hukum nasional (hukum
nasional) saling mempengaruhukum internasional

Dalam praktek hukum internasional & hukum nasional hari ini, ke-dua hukum ini
ternyata memiliki kebutuhan dan pengaruh satu sama lain. Dimana hukum
internasional hari ini lebih efektif jika dilaksanakan kedalam hukum nasional, selain
itu hukum internasional mampu membatasi hukum nasional di wilayah dan hukum
internasional mampu mengharmonisasikan hukum nasional, belum lagi ternyata
hukum internasional tumbuh dan berkembang dalam hukum nasional serta hukum
nasional hari ini tidak dapat dibuat jika bertentangan dengan hukum internasional.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut teori dualisme, hukum internasional dan hukum nasional, merupakan dua sistem hukum
yang secara keseluruhan berbeda. hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem
hukum yang terpisah, tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. berlakunya
hukum internasional dalam lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum
nasional. kalau ada pertentangan antar keduanya, maka yang diutamakan adalah hukum nasional
suatu negara. sedangkan menurut teori monisme, hukum internasional dan hukum nasional saling
berkaitan satu sama lainnya. menurut teori monisme, hukum internasional ituadalah lanjutan dari
hukum nasional, yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri.menurut teori ini, hukum nasional
kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukum internasional. hukum nasional tunduk dan
harus sesuai dengan hukum internasional.(burhan tsani, 1990; 26) berangkat dari pentingnya
hubungan lintas negara disegala sektor kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi dan lain
sebagainya, maka sangat diperlukan hukumyang diharap bisa menuntaskan segala masalah yang
timbul dari hubungan antar negara.hukum internasional ialah sekumpulan kaedah hukum wajib
yang mengatur hubungan antara person hukum internasional (negara dan organisasi internasional),
menentukan hak dan kewajiban badan tersebut serta membatasi hubungan yang terjadi antara
person hukum tersebut dengan masyarakat sipil.
DAFTAR PUSTAKA :

http://kicauanpenaku.blogspot.co.id/2012/12/hubungan-antara-hukum-internasional-dan.html
http://smilingagung.blogspot.co.id/2014/06/hubungan-hukum-internasional-dan-hukum.html