You are on page 1of 13

ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) Pada Anak

Posted on 21 September 2012 by dr. Silahuddin

ISPA terdiri dari infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi saluran
nafas atas terdiri dari: Rhinitis (common cold), sinusitis, pharingitis, epiglotitis, laringitis dan
otitis media. Sedangkan infeksi saluran napas bawah terdiri dari: bronkitis, bronkiolitis dan
pneumonia. Manifestinya tidak hanya terbatas pada organ pernafasan tapi bisa berefek secara
sistemik oleh karena potensi perkembangan infeksi atau toxin bakteri, peradangan dan
berkurangnya fungsi paru.

Kecuali selama masa perinatal, ISPA paling sering menyebabkan kesakitan dan kematian
pada anak di bawah usia 5 tahun. Meskipun perawatan secara medis dapat meredakan
keparahan dan fatalitas sampai taraf tertentu, dalam banyak kejadian, infeksi saluran
pernapasan bawah tidak berrespon terhadap pengobatan. Sebagian besar oleh karena
ketiadaan obat anti virus yang punya efektifitas tinggi. Bahkan, WHO memperkirakan bahwa
2 juta anak yang berusia di bawah 5 tahun meninggal karena pneumonia tiap tahunnya (Bryce
and others 2005).

Infeksi Saluran Napas Atas

Merupakan penyakit infeksi yang paling umum. Sebagian besar penyebabnya adalah virus.
Rhinovirus 25 – 30%, respiratory syncytial virus (RSVs), parainfluenza dan influenza virus,
human metapneumo virus dan adeno virus 25 – 35%. Corona virus 10% dan sisanya virus
yang belum teridentifikasi. Karena sebagian besar infeksi saluran nafas atas ini adalah bisa
sembuh sendiri, maka penanganan komplikasi akan menjadi lebih penting dari pada infeksi
itu sendiri. Infeksi virus akut dapat memberi kecenderungan terhadap anak untuk terjadinya
infeksi bakteri pada sinus dan telinga tengah. Tertelannya sekret dan sel yang terinfeksi dapat
menyebabkan terjading infeksi saluran napas bawah.

* Faringitis Akut

70 persen pharingitis akut disebabkan oleh virus pada anak usia muda. Infeksi streptokokus
jarang terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, tapi lebih sering pada yang lebih 5 tahun.
Gejala khasnya adalah kemerahan dan pembengkakan yang ringan pada faring serta
pembesaran tonsil.

Seringkali disertai dengan rhinitis, tonsilitis ataupun laringitis.

Yang paling sering menyerang anak-anak adalah bakteri streptokokus pneumoniae.Di negara dengan kondisi kehidupan dan populasi yang padat. * Sinusitis Sinusitis adalah infeksi pada mukosa rongga sinus paranasal. Dengan gejala hidung tersumbat. dan kronis jika berlangsung lebih dari 6 minggu. demam dan bisa juga malaise. Di negara berkembang yang pelayanan medisnya tidak adekuat. demam tinggi. bakteri dapat menginfeksi pula. Terjadinya bisa akut yang berlangsung kurang dari 30 hari. otalgia. Oleh karena akumulasi mukus dan cairan sebagai akibat dari odema pada tuba eustachius. berbau. bisa disertai batuk. Otitis media ini disebabkan oleh terbuntunya saluran tuba eustachius oleh karena rinitis dan bisa juga karena alergi. sub akut yang berlangsung antara 30 hari sampai dengan 6 minggu. gejala sisa setelah infeksi streptokokus seperti demam reumatik akut dan karditis adalah umum terjadi pada anak pra dan usia sekolah. sekret dari hidung yang kental jernih atau berwarna. haemophilus influenzae. . dan moraxella catharralis. Gejalanya ditandai dengan adanya peradangan lokal. penyakit ini mugkin yang berperan terjadinya perforasi kendang telinga atau ketulian. otorrhea. nyeri kepala dan malaise. nyeri tekan pada daerah wajah atau pipi. Infeksi telinga yang berulang dapat menyebabkan mastoiditis yang pada gilirannya dapat menyebarkan infeksi ke meningen (selaput otak). * Otitis Media Akut Otitis media akut terjadi hingga 30 % pada infeksi saluran nafas akut. yang mempunyai predisposisi genetik.

Perbaikan kondisi secara klinis dan radiologis dari pneumonia dalam sebuah uji klinis dengan vaksin konjugasi pneumokokus 9 valent. Dan seharusnya dapat dicegah dengan pemakaian masker serta cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita. alergi. mengestimasikan tentang problematika penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Sedangkan kultur faring tidak sensitive. Penyebab paling sering adalah respiratory syncytial virus (RSVs) yang berifat cenderung sangat musiman. haemophilus influenzae. dan moraxella catharralis. virus atau penyebab yang lain. Pemeriksaan baku sebagai gold standar untuk mengetahui pneumonia bakteri adalah dengan kultur bakteri dari aspirasi paru. * Pneumonia Penyebabnya bisa virus dan bakteri. Pneumonia bakteri disebabkan oleh streptococcus pneumoniae (pneumococcus) atau haemophilus influenzae sebagian besar tipe b (Hib) dan kadang staphylococcus aureus atau streptococcus yang lain. Adanya tarikan kedalam dari dada bawah menunjukkan adanya penyakit yang berat.Penyebab bisa oleh karena bakteri. berbeda dengan parainfluenza virus (penyebab yang paling umum untuk waktu yang akan datang). Sedangkan patogen yang lain seperti mycoplasma pneumoniae dan clamydia pneumoniae menyebabkan pneumonia atipik. infeksi gigi serta tumor. Bakteri penyebab yang paling sering adalah streptokokus pneumoniae. . Ditularkan lewat kontak langsung dengan penderita melalui udara. Sebuah studi di Gambia menunjukkan bahwa 37 % kasus pneumonia radiologis dapat dicegah dan dapat mengurangi angka kematian sampai 16%. seperti: polip. Infeksi Saluran Napas Bawah Infeksi saluran napas bawah yang paling sering terjadi adalah pneumonia dan bronchiolitis. Frekuensi napas adalah tanda klinis yang bernilai pada anak dengan batuk dan napas yang cepat.

tarikan dada bawah dan wheezing. Influenzae dan S. diagnosa dan pengobatan dini terhadap penyakit. Sisi yang lain. maka membedakannya menjadi sulit. Gambaran klinis nya adalah adanya pernafasan cepat. Hal ini mungkin bisa menjelaskan tentang kenaikan angka pneumonia pneumokokus yang beriringan dengan kejadian epidemi influenza dan RCV. sering terjadi superinfeksi oleh bakteri. pneumokokus. Intervensi untuk mengendalikan ISPA terbagi menjadi 4 dasar: Vaksinasi terhadap patogen khusus. Bronkiolitis sebagian besar terjadi pada tahun pertama kehidupan. Infeksi saluran napas atas oleh virus influenza atau RCVs dapat menyebabkan peningkatan kemampuan lapisan sel nasofaring untuk mengikat H. * Vaksin Hib Akhir-akhir ini telah tersedia vaksin konjugasi 3 Hib yang digunakan untuk bayi dan anak-anak. Menurun pada tahun kedua dan ketiga. Di negara berkembang. * Bronkiolitis Adalah terjadinya obstruksi karena peradangan pada saluran napas kecil yang bisa menyebabkan hiperventilasi paru dan kolapnya sebagian segmen. Penggunaan secara luas vaksinasi terhadap diphteri. Pneumoniae. Hib. Penyebab lainnya bisa human metapneumovirus (gejala hampir sama dengan RCVs). hampir 70-80% jika pada high season. dan virus parainfluenza tipe 3 serta virus influenza. pertussis. dan measles. dan influenza telah terbukti mempunyai potensi secara substansial mengurangi insiden ISPA di negara-negara berkembang. Satu sisi. campak. Oleh karena tampilan klinis sama dengan karekteristik pneumonia. RCVs adalah penyebab utama bronkiolitis di seluruh dunia. setiap infeksi virus influenza.Kolonisasi dari organisme yang berpotensi patogen dari saluran napas atas serta aspirasi dari sekret yang terkontaminasi telah dapat menyimpulkan bagaimana patogenesis pneumonia bakteri pada anak-anak. Perbaikan nutrisi serta lingkungan yang lebih aman. RCVs. Membedakan secara radiologis antara pneumonia virus dan bakteri adalah sulit. memang ada kemiripan. Dua hal yang dapat membantu adalah identifikasi berlangsungnya musim RCVs di lingkungan sekitar dan keahlian dalam menentukan adanya wheezing. Efikasi vaksin ini dalam upaya pencegahan penyakit invasif (utamanya . 40 – 50% penyebabnya adalah virus. pada bayi dan anak yang dirawat di rumah sakit oleh karena pneumonia.

Efikasi vaksin ini lebih bernilai terhadap anak yang lebih dari 2 tahun dari pada yang kurang. Walaupun beberapa penelitian di negara industri masih menunjukkan hasil yang kontroversi. bahwa vaksin ini mempunyai pengaruh terhadap pneumonia berat. Semua study menggambarkan tentang efikasi protektif terhadap penyakit invasif yang terkonfirmasi laboratorium tanpa tergantung dengan pilihan vaksinnya.meningitis. Pernapasan cepat . Vaksin ini juga mungkin berguna untuk kasus infeksi telinga di negara-negara berkembang yang seringkali dijumpai kasus otitis media kronis dan tuli konduksi. Para peneliti menyimpulkan berdasarkan penelitian yang mengevaluasi efikasi vaksin polisakarida ini pada anak-anak. * Vaksin Pneumokokus Sekarang ini telah tersedia 2 macam vaksin pneumokokus yakni vaksin polisakarida 23 valent yang lebih cocok untuk dewasa dari pada anak dan vaksin polisakarida protein konjugasi 7 valent. Konsekuensinya. Menejemen Kasus Penyederhanaan dan sistematisasi menejemen kasus untuk diagnosa dan pengobatan dini ISPA telah memungkinkan adanya penurunan kasus kematian di negara-negara berkembang di mana terdapat keterbatasan akses ke dokter spesialis anak. Tarikan dinding dada bawah . tapi bisa juga pneumonia) telah terdokumentasikan dengan baik di negara-negara industri. negara-negara industri telah memasukkan vaksin Hib ini dalam program imunisasai nasional mereka. Panduan klinis WHO untuk menejemen kasus ISPA memakai 2 tanda : .

and Others. oksigen diberikan pada yang mengalami tachipnea lebih dari 70 x permenit atau dengan retraksi dada bawah yang sangat.Jefry Chow. Pneumoniae atau H.Pernapasan cepat – sama dengan atau lebih dari 50 x permenit untuk bayi usia 2 – 11 bulan. ‘Pharmaceutical care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan’. Eric A. Tapi jika persediaan terbatas.6 kali. Bina Kefarmasian dan Alat kesehatan. ‘Acute Respiratory Infection in Children’. Amoxicillin dengan dosis lebih besar dari pemberian sebelumnya. direkomendasikan pemberian oksigen 0. Jika persediaan oksigen cukup. direkomendasikan oleh WHO untuk menggunakan chloramphenicol succinate intra muskular ½ dosis harian sebelum merujuk pasien.F Simous. sama dengan atau lebih dari 40 x permenit untuk anak usia 1-5 tahun – membedakan pneumonia dengan yang bukan pneumonia. hanya membutuhkan perawatan pneumonia rawat jalan dengan antibiotika. dianggap hanya ISPA biasa.5 liter permenit bagi usia kurang dari 2 bulan. Influenza. Karena bila terjadi hipoxemia. Thomas Cherian. setiap kasus pneumonia berat. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Pemilihan antibiotika berdasarkan hasil temuan kuat bahwa kebanyakan penyebab pneumonia bakteri pada anak-anak adalah S. Tanpa adanya dua tanda tersebut. 2. Hal ini berdasarkan pertimbangan kedaruratan. Pemberian oksigen pada pasien pneumonia berat sangatlah dibutuhkan bagi mereka yang hipoxemia. Untuk pneumonia berat.2 – 4. kemungkinan akan meningkatkan resiko kematian 1. Adanya pernafasan cepat saja. Rujukan: 1.Dasease Control Priorities in developing countries (25): 484 – 495. depatemen Kesehatan RI 2005. Berdasarkan adanya data-data resistensi terhadap penicillin dan cotrimoxazole. efek samping anemia aplastik yang sangat jarang pada pemberian chloramphenicol pada anak-anak dan tidak adanya bukti bahwa intra muskular chloramphenicol succinat lebih berbahaya dari preparat dan rute pemberian yang lain dan karena efikasinya telah diterima secara luas secara klinis. 1 liter pemenit bagi yang diatas 2 bulan. menjadi pilihan yang paling baik dibanding penicillin dan cotrimoxazole untuk kasus bukan pneumonia berat. . membedakan pneumonia berat yang mengharuskan untuk dirujuk ke rumah sakit dengan yang tidak. Tarikan dinding dada bawah ketika inspirasi.

laring) dan memiliki manifestasi klinis seperti demam. 1419). Tanda dan Gejala Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu. haemophylus influenzae. usia dari bayi/ neonatus. 1991. stridor. anorexia. . 1990. tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong. pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu. meningismus. bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts. 450). Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi. 1420). dan suara nafas wheezing. adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan. 1991. daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong. Usia bayi atau neonatus. abdominal pain. dan pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi saluran pernafasan (hidung. ukuran dari saluran pernafasan. Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim. dan tidak terdapatnya suara pernafasan. clamydia trachomatis. diare. sumbatan pada jalan nafas. kelelahan. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan Pincus Catzel & Ian Roberts. Etiologi Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. pharing. clamydia trachomatis. mycoplasma dan pneumokokus. 1418). Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. stapilococus. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. mycoplasma. 1991. crackless. Patofisiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman golongan A streptococus. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus.INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA ANAK Pengertian Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung. haemophylus influenzae. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas. anemia. Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi. batuk. vomiting. asthma serta kongesti paru. staphylococus. Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong.

adanya batuk. 7. Irama pernafasan. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum. Bisa juga didapati adanya cyanosis. Pola. Meningismus. gejalanya adalah nyeri kepala. nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.1990. pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret. biasa terdapat wheezing. cepat (tachynea) atau normal. bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan. kedalaman. Anorexia. 451). 8. 6. 3. nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum . pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. usaha serta irama dari pernafasan. Usaha. biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit. biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. 1991. 3. nafas normal. 5. Demam. Batuk. dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen. 4. Pemeriksaan Diagnostik Pengkajian terutama pada jalan nafas: Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola. tanda dan gejala yang muncul ialah: 1. Vomiting. mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk. suara nafas wheezing. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin. Abdominal pain. 9. kontinyu. 5. Suara nafas. 1419). crackless. dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong. terputus-putus.5OC. merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan. Diare (mild transient diare). 1. Suhu tubuh bisa mencapai 39. seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus. stridor. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. 2. terdapatnya tanda kernig dan brudzinski. 2.5OC-40. 4. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal. adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens. biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas. Kedalaman.

Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung. . Spasme bronkus meliputi konstriksi otot polos. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret. . hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman. 1990. reversibel dimana trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Penyakit asma bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten. edema mukosa dan mukus berlebihan dengan perlengketan di jalan nafas pada tahap lanjut. 452). Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah : . 2002 : 611) ada juga yang mengartikan sebagai : penyakit jalan nafas yang tidak dapat pulih yang terjadi karena spasme bronkus disebabkan oleh berbagai penyebab misalnya alergen. bengek. ASMA Penyakit Asma Bronkial. hitungan darah dan test Paul-bunnell. (Hudak.pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan Diagnosa Banding Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri. dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab. batuk dan juga sesak nafas. Oleh sebab itu bila penyakit paru asma ini kambuh akan menimbulkan gejala yang khas sekali yaitu bunyi nafas mengi. dan . mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana.pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab). Terapi dan Penatalaksanaan Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Bunyi mengi pada asma terdengar ketika seorang penderita menghembuskan nafasnya. laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia. serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akut yang sering disertai dengan muntah.pemeriksaan hitung darah (deferential count). infeksi. 1997 : 565) Penyakit asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang berkaitan erat dengan saluran nafas serta pernafasan. Serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap juga akan semakin memburuk jika tidak segera dilakukan tindakan pengobatan dan juga perawatan. latihan. Itu adalah pengertian penyakit asma bronkial menurut (Smeltzer.

bulu-bulu binatang ). Diperkirakan berkisar 300 juta orang di dunia menderita penyakit asma jenis ini. Angka ini akan jauh lebih besar jika kriteria diagnosanya diperlonggar atau ditambahi. tanda gejala asma Selanjutnya menginjak kepada penyebab asma bronkial ini. asap rokok. 2001 : 7) 2. mycoplasmal. (Suriadi. perubahan temperatur secara dratis. Penyebab dari asma bronchiale ini terdiri dari dua faktor yaitu faktor intrinsik dan juga faktor ekstrinsik. 5. Tanda serta gejalanya terbagi dalam dua kategori yaitu kategori stadium dini dan stadium kronik (lanjut). 6. Emosional : rasa takut. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus. Stadium Dini. Faktor Intrinsik ( asma non imunologi / asma non alergi ) : 1. 2. Polusi udara : Karbondioksida. pneumonia. 4. Di Indonesia negara kita tercinta ini. 1. serbuk-serbuk. Fisik : Cuaca yang dingin. Iritan : Kimia. Inhalasi (menghirup )alergen ( seperti halnya debu. diperkirakan sampai 10 persen penduduk ( kurang lebih sekitar 12 juta orang ) mengidap dalam berbagai jenis penyakit asma. Faktor Ekstrinsik ( asma imunologik / asma alergi) : 1. Dua hal tersebut yang bisa menyebabkan penyakit asma bronkial yaitu : 1. Selanjutnya kita melangkah ke tanda gejala penyakit asma bronkiale ini. penyebab asma. 2. Penyakit asma bronkial ini merupakan salah satu penyakit kronik (menahun) serta juga penyakit paru dan juga dengan pasien terbanyak di dunia. Reaksi antigen-antibodi. Infeksi : Parainfluenza virus.Penyakit Asma. cemas dan tegang. 3. Bila pada stadium dini ini faktor hipersekresi yang lebih menonjol maka tanda dan gejala yang didapatkan adalah : . parfum.

Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik. * Ronchi basah bila terdapat hipersekresi. ronchi 2. Batuk. 4. Hasil BGA Pa O2 kurang dari 80%. Sianosis. 8. Stadium Kronik ( Lanjut ) Tanda dan gejala penyakit asma bronkial pada stadium tingkat lanjut ini adalah : 1. * Wheezing. 3. * Hasil BGA belum patologis. * Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan. 5. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest). * Penurunan tekanan parsial O2. * Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga. 9. 2. * Belum ada kelainan bentuk thorak pada rontgen thorak pasien. * Suara wheezing belum ada. Rontgen paru terdapat adanya peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri. 7. Sedangkan bila pada stadium dini ini faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan maka tanda serta gejala yang didapatkan adalah : * Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum. * Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek. Thorak seperti barel chest. sifatnya hilang timbul. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus. 10. . 6.

Pada parenkim paru ini juga kuman cenderung lebih sedikit. . Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan dalam membantu menegakkan diagnosa penyakit asma ini yaitu diantaranya : * Spirometri (Tidal volume. Salah satunya adalah batuk yang lama dan berulang-ulang. Sahabat bisa membacanya di tanda dan gejala penyakit asma dan juga konsep baru mengenai asma ini. waspadalah jika anak Anda batuk dan tidak sembuh- sembuh. Penyakit TBC sangat mudah menular dari orangtua ke anak. Tuberkulosis (TB atau TBC) pada anak memang berbeda dengan TBC pada orang dewasa. Dan ada juga beberapa hal yang berkenaan dengan gejala tanda asma lainnya. Karena itu. maka TBC tidak menular antara sesama anak. kapasitas vital) * Pemeriksaan sputum dan pemeriksaan eosinofil total (biasanya meningkat dalam darah dan sputum). * Pemeriksaan alergi (Radioallergosorbent Test : RAST) : uji kulit. sehingga jarang ditemukan gejala TBC yang khas seperti batuk berdahak. TBC pada anak menginfeksi primer di parenkim paru yang tidak menyebabkan refleks batuk. kadar Ig E total dan Ig E specifik dalam sputum * Rontgen thorak. Sebab itu merupakan salah satu gejala TBC pada anak. tapi TBC tidak menular dari anak ke anak. * Analisa Gas Darah Mengenali berbagai penyakit Paru – Paru  Home  Kontak Kami  Kebijakan Privasi  Sitemap Gejala TBC Pada Anak You are here :Home » Informasi Penyakit Paru-paru » Gejala TBC Pada Anak Ada beberapa Gejala TBC yang biasa terjadi pada anak.

lelah. Maka diperlukan uji Tuberkulin atau uji Mantoux. Diagnosis TBC pada anak tidak bisa dilakukan dengan uji dahak (sputum test). tetapi tidak berdahak (tapi seringkali ini merupakan gejala asma)  Diare berulang Gejala TBC di atas merupakan gejala khas yang biasa terjadi pada penderita TBC. loyo. . Uji Tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan tuberkulin PPD intrakutan di volar lengan bawah. Namun tidak bisa dijadikan patokan. karena memang jarang pasien TBC anak mengalami batuk berdahak. foto rontgen pada anak juga tidak bisa memberikan diagnosa yang tepat. maka seluruh anggota keluarga dan orang dewasa lain yang kontak dekat dengan si anak harus diperiksa untuk mencari sumber penularan dan segera diobati. sebab gejala yang sama kadang mengindikasikan penyakit lain. Selain itu. Uji Tuberkulin positif menunjukkan adanya infeksi TBC. tapi tidak terlalu tinggi  Tidak ada nafsu makan (anoreksia)  Berat badan tidak naik-naik  Malnutrisi atau gangguan gizi  Multi L (lemah. Dan seringkali terjadi salah diagnosa. TBC adalah penyakit serius yang gampang menular secara langsung melalui udara. lemas letoy. Gejala TBC pada anak bisa ditandai dengan tanda-tanda berikut:  Demam lama atau berulang. Gejala TBC pada anak lebih susah didiagnosis karena bukan merupakan gejala khas TB. Pada anak jarang ditemukan gejala TBC seperti batuk berdahak seperti yang diderita pada orang dewasa. letih. agar rantai penularan dapat dihentikan. Reaksi obat dapat dilihat 48 sampai 72 jam setelah penyuntikan. karena gejala yang dialami bisa juga merupakan gejala penyakit lain. lambat)  Batuk lama atau berulang. Anak-anak dengan kekebalan tubuh buruk paling rentan tertular TB dari orang dewasa yang positif TB. Tapi TB tidak menular antara sesama anak. Ketika seorang anak sudah menderita penyakit TBC aktif yang awalnya berupa Gejala TBC saja. lesu.