You are on page 1of 53

dan kanan lapang. Konka licin, eutrofi, warna merah muda.

Pasade hidung +/+
- Tenggorok: Arkus faring simetris, uvula di tengah, tonsil T1-T1 tenang, dinding
posterior faring tenang
Pemeriksaan Penala

Telinga Kanan Telinga Kiri
Rinne (+) (+)
Schwabach Sama dengan pemeriksa memendek
Weber lateralisasi ke telinga kanan

2.2 Paparan
I. Klarifikasi Istilah

Istilah Definisi
Gangguan Ketidakmampuan secara parsial atau total untuk
pendengaran mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga

Berdenging Suara bising di telinga seperti deringan, dengung
raungan atau bunyi klik

Compos mentis Kesadaran normal, sadar sepenuhnya dapat menjawab
semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya
CAE lapang Saluran telinga luar

Membran timpani suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar
dan telinga tengah.
Eutrofi Keadaan nutrisi normal atau baik

Rinne Tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan
hantaran melalui tulang pada teling yang diperiksa
Weber Tes pendengaran untul membandingkan hantaran tulang
telinga kiri dengan tulang telinga kanan
Schwabach Tes untuk membandingkan hantaran tulang orang
diperiksa dengan pemeriksaan yang pendengaran
normal

1

Identifikasi Masalah Concern

Tn. Amran, 38 tahun, seorang pekerja di pabrik Batubara,
berobat ke poliklinik THT dengan keluhan utama
***
gangguan pendengaran pada telinga kiri yang makin lama
bertambah berat sejak 4 bulan yang lalu

Pasien mengeluh sulit untuk mendengar percakapan **
terutama di tempat ramai, dan telinga kiri terasa
berdenging terus-menerus.

Riwayat bekerja di pabrik Batubara bagian mekanik sudah *
9 tahun, dan tidak rutin menggunakan alat pelindung
telinga di tempat kerja.

2

III. Analisis Masalah

1. Tn. Amran, 38 tahun, seorang pekerja di pabrik Batubara, berobat ke
poliklinik THT dengan keluhan utama gangguan pendengaran pada telinga
kiri yang makin lama bertambah berat sejak 4 bulan yang lalu

a. Bagaimana seorang dapat dikatakan daripada mengalami gangguan
pendengaran ?

Jawab :

Ada 2 jenis gangguan pendengaran:
-Gangguan Pendengaran Konduktif terjadi apabila gelombang suara tidak dapat
ditransmisikan dengan benar dari lingkungan luar ke koklea/ rumah siput.
Masalahnya mungkin pada kanal telinga bagian luar, gendang telinga, tulang
telinga bagian tengah, ruang telinga bagian tengah.

Penyebab Umum Gangguan Pendengaran Konduktif meliputi:
 Penyumbatan di kanal telinga bagian luar yang disebabkan oleh kotoran,
benda asing atau infeksi (otitis eksterna).
 Perforasi pada gendang telinga – biasanya akibat trauma atau infeksi kronis.
 Tulang pendengaran bergeser, rusak atau kaku (malleus, incus, atau stapes)
– akibat trauma atau penyakit kronis yang mengikis tulang pendengaran setelah
sekian lama, atau otosklerosis yang menyebabkan tulang rawan harus diperbaiki.
 Otitis media – infeksi telinga bagian tengah, biasanya disertai cairan di
dalam ruang telinga bagian tengah.

-Gangguan Pendengaran Sensorineural terjadi apabila terdapat kerusakan pada
organ pendengaran (koklea/rumah siput) atau saraf pendengaran (saraf auditori).

3

Penyebab umum mencakup:
 Penuaan (presbycusis)
 Pemaparan yang akut dan kronis terhadap suara keras dapat menyebabkan
kerusakan pada sel sensor dalam koklea/rumah siput.
 Infeksi telinga bagian dalam oleh virus dan bakteri, seperti campak, cacar
dan infl uenza.
 Penyakit Ménière – adalah penyakit yang menyebabkan tinitus, gangguan
pendengaran dan pusing.
 Acoustic neuroma – tumor saraf vestibular, yang terletak dekat saraf
auditori dan mempengaruhi fungsinya.
 Obat Ototoxic – Sebagian obat dapat merusak saraf yang berperan untuk
pendengaran atau sel sensor dalam koklea/rumah siput. Contohnya mencakup:
i. Antibiotik, termasuk aminoglikosida (gentamicin, vancomycin)
ii. Diuretik, termasuk frusemide
iii. Antineoplastik (obat kanker)

b. Apakah hubungan pekerjaan Tn Amran dengan keluhan pada kasus?

Jawab :
Hubungan pekerjaan Tn. Amran 38 tahun seorang pekerja di pabrik batubara
bagian mekanik dengan keluhan pada kasus adalah lokasi tempat kerja Tn Amran
memiliki pajanan bising yang melebihi nilai ambang batas terus menerus dalam
jangka waktu yang lama. Frekuensi tinggi lebih cepat menyebabkan kerusakan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi seperti; frekuensi bising, intensitas bising,
periode pejanan setiap hari, kepekaan individu, umur, jenis kelamin.

c. Bagaimana anatomi dan fisiologi THT?

Jawab :
Struktur dan Anatomi Telinga

Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan). Anatominya juga sangat rumit. Indera

4

pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan
pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui
bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Telinga manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan
telinga bagian dalam.
a. Telinga luar (outer ear)

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang
dinamakan membrana timpani (gendang telinga).
b. Telinga tengah (middle ear)

Telinga tengah merupakan sebuah rongga yang berisi udara. Telinga bagian
tengah ini dibatasi dan dimulai dari membran timpani (gendang telinga) yang
didalamnya terdapat rongga kecil berisi udara yang terdiri atas tulang-tulang
pendengaran yang terdiri atas maleus (martil), inkus (landasan) dan stapes
(sanggurdi).
c. Telinga dalam (inner ear)
Pada bagian ini terdapat :
Labirin
Terdiri dari:
o Labirin tulang => ruang berliku berisi perilimfe (cairan yang serupa dengan
cairan serebrospinal).
Terdiri dari 3 bagian:
 Vestibular => bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan
koklea dengan saluran semisirkular.
 Saluran semisirkularis
 S. semisirkular anterior(superior) dan posterior mengarah
pada bidang vertikal di setiap sudut kanannya.
 S. semisirkular lateral => terletak horizontal

5

mengandung reseptor pendengaran (cabang N VIII = vestibulokoklear. penciutan ukuran akar atau kekacauan susunan stereosilia → fraktur akar sterosilia ○ kerusakan jaringan penyangga → kerusakan fibroblast membran basalis dan dinding lateral koklea ○ kerusakan stria vaskularis ○ kerusakan serabut saraf koklea ○ eksitoksisitas glutamat → vakuolisasi dan edema pada area bawah sel rambut dalam dan sel ganglion koklea menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising e. Koklea => membentuk 2. pemb. Mengapa keluhan Tn Amran bertambah parah sejak 4 bulan yang lalu? Jawab : Sesuai dengan yang terdapat pada kasus. Tn. Amran menderita gangguan pendengaran tuli sensorineural pada telinga kiri akibat suara bising yang berkepanjangan. Mahmud semakin memburuk. bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi. Bagaimana penyebab dan mekanisme daripada gangguan pendengaran yang dialami olen Tn Amran? Jawab : a. Jadi. Secara audiologi. 6 . Bekerja di pabrik selama 9 tahun menyebabkan Tn. bertambahnya intensitas dan durasi paparan tanpa terapi inilah yang membuat degenerasi terjadi terus menerus sehingga semakin lama pendengaran Tn.5 putaran di sekitar inti tulang. Frekuensi tertinggi berada di bagian depan d. darah. Bising dengan intensitas 80 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan reseptor pendengaran corti pada telinga dalam. hal ini menimbulkan degenerasi pada saraf yang dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. Amran terpapar suara bising secara terus menerus sehingga terjadi degenerasi stereosilia yang berlangsung secara kontinyu menjadikan sel-sel rambut mati. Jawab: kebisingan → diatas normal batas ambang (>85dB) : ○ kerusakan sel rambut luar koklea → kekakuan.

al. Pasien mengeluh sulit untuk mendengar percakapan terutama di tempat ramai. Sumber suara yang terlalu keras dapat menyebabkan tinnitus subyektif dikarenakan oleh impedansi yang terlalu kuat.. dan telinga kiri terasa berdenging terus-menerus. Suara dengan impedansi diatas 85 dB akan membuat stereosilia pada organon corti terdefleksi secara lebih kuat atau sudutnya menjadi lebih tajam. hal ini akan direspon oleh pusat pendengaran dengan suara berdenging. Bagaiamana penyebab dan mekanisme telinga berdenging terus-menerus? Jawab : Penyakit atau gangguan pada telinga merupakan sebab yang paling banyak sebagai etiologi tinnitus subyektif. yang kemudian akan mengakibatkan ketulian (hearing loss) ataupun tinnitus kronis dikarenakan oleh adanya hiperpolaritas dan hiperaktivitas sel rambut yang berakibat adanya impuls terus-menerus kepa ganglion saraf pendengaran (Folmer et. jika sumber suara tersebut berhenti maka stereosilia akan mengalami pemulihan ke posisi semula dalam beberapa menit atau beberapa jam. Namun jika impedansi terlalu tinggi atau suara yang didengar berulang-ulang (continous exposure) maka akan mengakibatkan kerusakan sel rambut dan stereosilia.2. b. yang kemudian disebut sebagai otologic disorderatau gangguan otologik. Mengapa di telinga kiri saja mengalami gangguan ? Jawab : Tn. Amran mengalami tuli persepsi pada kedua telinga. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan 7 . Gangguan pendengaran yang paling sering menyebabkan tinnitus subyektif adalah NIHL (noise induced hearing loss) karena adanya sumber suara eksternal yang terlalu kuat impedansinya(Crummer & Hassan. baik sensorineural ataupun konduktif. 2004). 2004). a. Sebagian besar tinnitus sebyektif disebabkan oleh hilangnya kemampuan pendengaran (hearing loss).

seperti streptomisisn. Riwayat bekerja di pabrik Batubara bagian mekanik sudah 9 tahun. Mengapa Tn Amran mengeluh sulit mendengar percakapan terutama di tempat ramai ? Jawab : Tn. garamisin. kanamisin. Apa dampak bekerja di pabrik Batubara bagian mekanik tanpa menggunakan alat pelindung telinga? Jawab : Dampaknya pendengeran penderita lama-kelamaan menjadi terganggu karena. kina. dan tidak rutin menggunakan alat pelindung telinga di tempat kerja. Kurang taatnya dia menggunakan penutup telinga dapat menyebabkan kerusakan sel rambut karena terpapr suara yang terlalu keras untuk jangka waktu yang lama. karena selama bekerja 9 tahun di pabrik Tn. memakai alat pelindung merupakan hal yang sangat penting dilakukan sebagai upaya untuk 8 . Dilihat dari lama bekerjanya. 9 tahun. Amran mendengar suara-suara bising yang melebihi ambang batas tingkat kebisingan yang telah ditetapkan. Kurang taatnya dia menggunakan penutup telinga dapat menyebabkan kerusakan sel rambut karena teterpapr suara yang terlalu keras untuk jangka waktu yang lama. Amran adalah pekerja pabrik di bagian mekanik yang selalu terpapar oleh bunyi bising mesin. pada tinjauan kasus ini. dan asetosal)  Jenis kelamin  Usia  Kelainan di telinga tengah 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan:  Intensitas kebisingan  Frekwensi kebisingan  Lamanya waktu pemaparan bising  Kerentanan individu (Mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga / obat ototoksik. a.c.

. gangguan tidur. angka 120dB ini juga disebut dengan threshold of pain. rasa tidak nyaman. Biasa terjadi pada anak-anak. c. b. Pendengaran yang telah terganggu akibat bising tidak dapat disembuhkan. gelisah. Riwayat keluar cairan dan telinga (-) Makna klinisnya adalah tidak ada riwayat infeksi telinga/otitis media yang menyebabkan pembengkakan tuba eustachii dan menyumbat cairan pelindung dari telinga tengah. menyelamatkan pendengaran yang masih baik. Pengaruh bising pada pekerja: 1. diangka 120dB telinga kita akan mulai merasakan sakit. Usaha pengobatan dan pencegahan ditujukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel rambut luar dari koklea. Pengaruh non auditorial : gangguan komunikasi. Apa tujan ditanyakan riwayat klinis ? Jawab : . Riwayat trauma kepala dan telinga (-) 9 . peningkatan tekanan darah. Berapa ambang batas pendengaran normal pada manusia? Jawab : Tabel Batas Kemampuan Dengar Telinga Manusia 90 dB 8 jam 92 dB 6 jam 95 dB 4 jam 97 dB 3 jam 100 dB 2 jam 105 dB 1 jam 110 dB 30 menit 115 dB 15 menit Telinga kita mempunyai ambang batas pendengaran di angka 120dB. Pengaruh auditorial : tuli akibat bising 2.

. Riwayat menderita kencing manis disangkal Diabetes melitus ditanyakan pada kasus ini karena DM dapat menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural akibat angiopati pada telinga dalam mengakibatkan gangguan pendengaran baik secara langsung dengan melibatkan suplai darah ke koklea akibat menurunnya transport nutrisi sebagai akibat penebalan dinding kapiler maupun secara tidak langsung. uvula di tengah. dapat unilateral atau bilateral. tinnitus dan vertigo. reflex cahaya (+) nomal Hidung : Kavum nasi kiri dan kanan lapang. . Konka licin. Gejala klinis timbul mendadak. Riwayat menderita darah tinggi disangkal Karena adanya hipertensi akan mengakibatkan iskemia yang disebabkan spasme pembuluh darah atau karena proses arteriosklerosis sehingga lumen dari pembuluh darah menjadi sempit. tonsil T1-T1 tenang. Pasade hidung +/+ Tenggorok: Arkus faring simetris. 1978) 4.Apabila ada riwayat trauma kepala dan telinga biasanya yang terjadi adalah tuli mendadak (sudden deafness). Penyempitan lumen pembuluh darah ini menyebabkan penurunan perfusi jaringan dan penurunan kemampuan sel otot untuk beraktivitas. warna merah muda. eutrofi. dan otot dari lapisan media menjadi atrofi. selanjutnya akan terjadi hipoksia jaringan yang menyebabkan kerusakan sel-sel rambut. kadang-kadang bersifat sementara atau berulang dalam serangan atau biasanya menetap. Mekanisme inilah yang dianggap sebagai penyebab gangguan pendengaran sensorik pada hipertensi. membran timpani intak. Status Lokalisata: Pemeriksaan THT : Telinga kanan dan kiri: CAE lapang. VIII (Taylor dan Irwin. dengan cara menurunkan aliran darah melalui pembuluh darah yang menyempit atau mengakibatkan degenerasi sekunder pada N. dinding posterior faring tenang 10 .

Pemeriksaan Penala Telinga Kanan Telinga Kiri Rinne (+) (+) Schwabach Sama dengan pemeriksa memendek Weber lateralisasi ke telinga kanan 11 . a. Amran Interpretasi Telinga kanan kiri CAE lapang Membran timpani Normal intak Refleks cahaya (+) Hidung Kavum nasi kiri dan kanan lapang Konka Licin Normal Konka eutrofi Konka warna merah muda Pasase hidung +/+ Tenggorok Arkus faring simetris Uvula di tengah Normal Tonsil T1-T1 tenang Dinding posterior faring tenang 5. Bagaimana intrepretasi dari status lokalisata ? Jawab : Tn.

telinga karena telah disingkirkan dimana suara dari garpu penala kanan normal kemungkinan – kemungkinan akan semakin mengecil yang lain dari pemeriksaan intensitasnya scwabach rinne dan weber sedangkan memendek di telinga kiri karena 12 . Bagaimana intrepretasi dan mekanisme abnormal? Jawab : Jenis Pemeriksaan Interpretasi Mekanisme Rinne +/+ Tes positif pada telinga yang Pada tuli sensorineural AC>BC diperiksa menunjukkan namun waktunya lebih memendek bahwa pasien bisa normal oleh karena itu dibutuhkan garpu atau tuli sensorineural penala yang lebih besar pada tuli sensorineural. a. terjadi hantaran kanan memberikan dua interpretasi: suara melalui tulang  hantaran hantaran tulang menjauhi sampai ke koklea  dilanjutkan telinga yang tuli sensorineural oleh perilimfe lalu endolimfe (ke telinga yang normal atau menuju organ korti yang dimana hantaran tulang menuju ke stereosilia sel rambutnya telah telinga yang tuli konduktif mengalami kerusakan  terganggunya defleksi stereosilia sel–sel rambut  terganggunya sistem kanal ion  depolarisasi syaraf auditorius terganggu  perspektif sensasi di korteks temporalis melemah sehingga lenih terasa lateralisasinya ke telinga yang normal Schwabach memendek Telinga kanan berarti normal Dilakukan tes scwabach yang di telinga kiri. Tidak terdapat kerusakan pada telinga luar maupun dalam oleh karena itu tesnya positif Weber lateralisasi ke Laterisasi ke telinga kanan Saat dilakukan tes.

13 . rusak sehingga tidak dapat lagi menangkap intensitas bunyi yang rendah  scwabach memendek b. telinga kiri terbukti mekanisme pendengaran yang mengalami ketulian terjadi pada telinga dalam telah sensorineural. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. Bagaimana cara pemeriksaan i) Weber Jawab : Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.  Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. maka di dengar sebelah kanan.  Tuli konduksi pada kedua telinga. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. b) Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:  Tuli konduksi sebelah kanan. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. missal adanya ototis media disebelah kanan. Menurut pasien. Interpretasi: a) Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan.

Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. terdapat 3 kemungkinan : 1. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. yaitu : a. ii) Rinne Jawab : Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya b. 2. Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Tuli persepsi pada kedua telinga.  Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. 14 . Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : ● Normal : tes rinne positif ● Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) ● Tuli persepsi. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) 3. Ada 2 macam tes rinne .

Hipotesis Tn amran 38 tahun menderita gangguan pendengaran akibat bising pada telinga kiri 15 . Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh hetaran yang datang melalui udara. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. iii) Schwabach Jawab : Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. IV. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. atau tidak mendengar suara. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. Getaran yang datang melalui tengkorak. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).

disertai tinitus atau tidak. Riwayat timbul ketulian dan progresifitasnya (gangguan pendengaran terjadi perlahan-lahan atau tiba-tiba) . Riwayat gangguan pendengaran sebelumnya . biasanya 5 tahun atau lebih. Riwayat penggunaan obat-obat ototoksik atau zat toksik lainnya . d) Lebih mudah berkomunikasi di tempat yang sunyi dan tenan  tuli sensori neural koklea 16 . Gejala-gejala gangguan pendengaran akibat bising : a) Berkurangnya pendengaran. Riwayat trauma kepala atau trauma telinga . Riwayat penggunaan alat proteksi pendengaran saat terpapar kebisingan . atau beraktifitas di luar rumah yang berhubungan dengan kebisingan) .a. otoskopi. Umur . percakapan keras pun akan sulit untuk ditangkap dan dimengerti. Riwayat infeksi telinga . dan lamanya bekerja (pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan yang bising dalam jangka waktu cukup lama. Keadaan ini disebut sebagai cocktail party deafness. Kadang disertai kesulitan menangkap pembicaraan dengan kekerasan suara yang biasa b) Bila sudah cukup berat. riwayat pekerjaan. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus? Jawab : Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. 1) Anamnesis : . Riwayat pekerjaan. serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran seperti audiometri. pemeriksaan fisik. sehingga bial orang tersebut berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengeri percakapan. c) Sangat terganggu dengan adanya background noise atau bising latar belakang. jenis pekerjaan. Riwayat gangguan pendengaran pada keluarga .

ganguan tidur. Webber : lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik . . Liang telinga lapang (tidak terdapat sumbatan) . Refleks cahaya positif (+) 3) Pemeriksaan audiologi  Pemeriksaan penala/garpu tala Didapatkan hasil kesan jenis ketuliannya yaitu tuli sensorineural. rasa tidak nyaman. peningkatan tekanan darah. Pada pemeriksaan otoskopi akan didapatkan hasil yang normal. Membran timpani intak (tidak ada perforasi) . didapatkan hasil tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz terdapat takik (notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. Schwabach memendek  Pemeriksaan audiometri (bila terdapat fasilitas pemeriksaan audiometri) Pada pemeriksaan audiometric nada murni. . Rinne : positif (+) . dll. 2) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik biasanya tidak dijumpai kelainan. Pada pemeriksaan pendengaran dengan alat audiometer terdapat tanda khas yaitu penurunan di frekuensi 4000 Hertz atau disebut sebagai ’Acoustic Notch’ (lihat gambar di 17 .e) Pengaruh non-auditorial akibat bising : gelisah.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penala 18 .  Pemeriksaan OAE (otoaukustik emission)  untuk mengukur fungsi sel rambut luar koklea. Didapatkan hasil : refer  Audilogi khusus : . Monoaural loudness balance (MLB) . OAE cukup sensitive untuk mendeteksi tanda-tanda awal terjadinya perubahan pada fungsi pendengaran. a. mendeteksi perubahan sel rambut luar akibat bising. Gangguan pendengaran akibat bising disebabkan oleh menurunnya fungsi koklea akibat kerusakan pada sel rambut luar.bawah). Audiometri tutur (speech audiometry)  hasil menunjukkan adanya fenomena rekrutmen (recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensori neural koklea. Audiometri Bekesy . Alternate binaural loudness balance (ABLB) . Short increment sensitivity index (SISI) .

Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus? Jawab : 19 . Apa saja diagnosis banding pada kasus? Jawab : 1. weber lateralisasi ketelinga sehat.MLB. b. Pemeriksaan OAE untuk mengukur fungsi sel rambut luar koklea. audiometri tutur) Hasil:fenomena rekrutmen yaitu fatognomonik tuli sensorineural koklea Rekrutmen Yaitu fenomena pada tuli sensorineural koklea dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitive terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. ini merupakan patognomonik untuk tuli sensorineural akibat bising Pemeriksaan OAE(otoacustic emissions) Hasilnya refer. gangguan pendengaran akibat darah tinggi 5. mendeteksi perubahan sel rambut luar akibat bising pada tahap awal Audiologi khusus (SISI. gangguan pendengaran akibat trauma kepala dan telinga 4.audiometri Bekesy. schwabach memendek) Pemeriksaan audiometri Tuli sensorineural pada frekuensi 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz terdapat takik (notch). gangguan pendengaran akibat infeksi 3. Tuli sensorineural ( rinne (+). ABLB. OAE cukup sensitive untuk mendeteksi tanda-tanda awal terjadi perubahan pada fungsi pendengaran. gangguan pendengaran akibat DM c. gangguan pendengaran akibat bising 2. Gangguan pendengaran akibat bising diketahui disebabkan oleh menurunnya fungsi koklea sebagai akibat kerusakan sel rambut luar.

OAE cukup sensitive untuk mendeteksi tanda-tanda awal terjadi perubahan pada fungsi pendengaran. ABLB. e. d. audiometri tutur) Hasil:fenomena rekrutmen yaitu fatognomonik tuli sensorineural koklea Rekrutmen Yaitu fenomena pada tuli sensorineural koklea dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitive terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. Pemeriksaan OAE untuk mengukur fungsi sel rambut luar koklea. schwabach memendek) Pemeriksaan audiometri Tuli sensorineural pada frekuensi 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz terdapat takik (notch). Pemeriksaan penala Tuli sensorineural ( rinne (+). Apa definisi dari diagnosis pada kasus? 20 . mendeteksi perubahan sel rambut luar akibat bising pada tahap awal Audiologi khusus (SISI. weber lateralisasi ketelinga sehat. ini merupakan patognomonik untuk tuli sensorineural akibat bising Pemeriksaan OAE(otoacustic emissions) Hasilnya refer.audiometri Bekesy. Apa diagnosis pada kasus? Jawab : Tn amran 38 tahun menderita gangguan pendengaran sensorineural telinga kiri akibat bising. Gangguan pendengaran akibat bising diketahui disebabkan oleh menurunnya fungsi koklea sebagai akibat kerusakan sel rambut luar.MLB.

tergantung pada intensitas dan durasi suara. Jawab : Tuli akibat bising (TAB) adalah tuli sensorineural yang terjadi akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama. A dkk (Semarang. N (1995) dalam suatu penelitian terhadap karyawan pabrik gula mendapati sebanyak 32.30 % dari pandai besi tersebut menderita sangkaan NIHL (Noise Induced Hearing Loss). dimana 10 juta orang diantaranya mengalami ketulian akibat terpapar bunyi yang keras pada tempat kerjanya. Sedangkan Harnita. derajat ringan sebanyak 116 telinga (55. g. A (1991) melakukan penelitian terhadap pandai besi yang berada di sekitar kota Medan.3%). f. Kamal. Ia mendapatkan sebanyak 92.2% menderita sangkaan NIHL.4%). derajat sedang 17 (8%) dan derajat berat 3 (1. Apa etiologi dari diagnosis pada kasus? Jawab : Paparan kebisingan dapat menyebabkan pergeseran ambang batas pendengaran yang bersifat sementara (temporary threshold shift/TTS) atau permanen (permanent threshold shift/PTS). Bagaimana epidemiologi dari diagnosis pada kasus? Jawab : Tuli akibat bising merupakan tuli sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis. Lebih dari 28 juta orang Amerika mengalami ketulian dengan berbagai macam derajat. sedangkan sebanyak 136 telinga telah mengalami pergeseran nilai ambang dengar. Rentang waktu dari kerusakan sementara dapat beberapa hari atau bahkan minggu 21 . Oetomo. Sedangkan Sataloff (1987) mendapati sebanyak 35 juta orang Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat kerja. 1993) dalam penelitiannya terhadap 105 karyawan pabrik dengan intensitas bising antara 79 s/d 100 dB didapati bahwa sebanyak 74 telinga belum terjadi pergeseran nilai ambang.

setelah paparan kebisingan. Selama 16-48 jam setelah paparan kebisingan. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparanakan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Semakin tinggi intensitas paparanbunyi. Bagaimana patogenesis dari diagnosis pada kasus? Jawab : 22 . Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut. sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Jika tidak dapat pulih dalam jangka waktu beberapa minggu. Bagaimana patofisiologi dari diagnosis pada kasus? Jawab : Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-selrambut. j. Biasa terjadi pada usia produktif.5 : 1 b. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Laki Laki : Perempuan  9.Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. kerusakan akan bersifat permanen dan sel-sel akan mati. yaitu 20-50 tahun Pekerja Pabrik/ Industri i. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. h. umumnya akan terjadi pemulihan jika kondisi dan kerusakan tidak terlalu parah. Apa saja faktor resiko dari diagnosis pada kasus? Jawab : Faktor risiko gangguan pendengaran sensori neural akibat bising : a. dapat timbul degenerasi pada saraf yangjuga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. menghasilkan pergeseran ambang batas permanen. Dengan hilangnya stereosilia.

yang dikontrol oleh tip links. Apabila depolarisasi mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa intraseluler. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut. Pergerakan daerah yang berlawanan akan menutup saluran serta menurunkan jumlah depolarisasi membran. yaitu jembatan kecil diantara silia bagian atas yang berhubungan satu sama lain. Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga sering mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinan merupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya bersinggungan dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah yang paling sering rusak. Pada daerah ini terjadi penyimpangan yang maksimal. Bagaimana energi mekanis ditransduksikan kedalam peristiwa intraseluler yang memacu pelepasan neurotransmitter ? Saluran transduksi berada pada membran plasma pada masing-masing silia. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Perubahan anatomi yang berhubungan dengan paparan bising Dari sudut makromekanikal ketika gelombang suara lewat. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan hilangnya stereosilia. Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen. Gerakan mekanis pada barisan yang paling atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+ dan Ca++ dan menghasilkan depolarisasi membran plasma. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal.Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. baik didaerah tip atau sepanjang tangkai ( shaft ). dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. membrana basilaris meregang sepanjang sisi ligamentum spiralis. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi. dimana bagian tengahnya tidak disokong. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Gerakan mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar 23 .

berkontraksi sehingga meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. 4. tanpa fraktur daerah basal atau kerusakan tip links yang luas. anoksia 2. Kerusakan pada serabut saraf dan “nerve ending“ Keadaan ini masih banyak dipertentangkan. Perubahan histopatologi telinga akibat kebisingan Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah sebagai berikut: 1. pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris c. degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis b. Fraktur daerah basal menyebabkan kematian sel. Apa saja gejala klinis dari diagnosis pada kasus? 24 . Liberman dan Dodds (1987) memperlihatkan keadaan akut dan kronis pada awal kejadian dan kemudian pada stimulasi yang lebih tinggi. Kerusakan pada sel sensoris a. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat. Hidrops endolimf k. fraktur daerah basal dan hubungan dengan hilangnya sensitifitas saraf akibat bising. Kerusakan sel rambut luar mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kekakuan silia berhubungan dengan tip links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut. tetapi pada umumnya kerusakan ini merupakan akibat sekunder dari kerusakan-kerusakan sel-sel sensoris. Kerusakan pada stria vaskularis Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi. 3. fraktur daerah basal dan perubahan-perubahan sel yang irreversibel. Paparan bising dengan intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia.

Hampir selalu bilateral c. tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan. Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah : a. seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. d. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ) Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB. 25 . 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 – 15 tahun. Ketulian biasanya bilateral. e. penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Jawab: Gangguan pada frekwensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. bising yang berlebihan juga mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara. dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Bersifat sensorineural b. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga ( ear plugs ). l. Bagaimana penatalaksanaan dari diagnosis pada kasus? Jawab : Sesuai dengan penyebab ketulian. Apabila paparan bising dihentikan. Selain itu tinnitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi. Dengan paparan bising yang konstan. Selain pengaruh terhadap pendengaran ( auditory ). gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi. 4000 dan 6000 Hz. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000. gangguan konsentrasi. tutup telinga ( ear muffs ) dan pelindung kepala ( helmet ). ketulian pada frekwensi 3000. f. Bunyi dengan nada tinggi.

Bagaimana cara pencegahan dari diagnosis pada kasus? Jawab : Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah terjadinya NIHL yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja. Analisa bising 26 . ear plugs ( sumbat telinga ) dan helmet ( pelindung kepala). 2. Latihan pendengaran ( auditory training ) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir ( lip reading ). sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat. Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap (irreversible). m. Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja. Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu : 13 1. Pengukuran pendengaran Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam. Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk. Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear muff ( tutup telinga ). bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa. -menempatkan suara bising ( mesin ) didalam suatu ruangan yang terpisah dari pekerja 3. perlu dilakukan psikoterapi supaya pasien dapat menerima keadaannya. Pengukuran pendengaran secara periodik. b. Pengendalian suara bising Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : a. b. dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar ( ABD ). Mengendalikan suara bising dari sumbernya. dapat dilakukan dengan cara : memasang peredam suara C. yaitu : a. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi.

pada tanda vital prognosisnya adalah dubia et bonam. Namun. Apa saja komplikasi dari diagnosis pada kasus? Jawab: 1) Permanent hearing loss 2) High-frequency hearing loss 3) Deafness o. maka prognosisnya. Bagaimana prognosis dari diagnosis pada kasus? Jawab : Dubia et malam. dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan. 27 . lama dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. frekwensi bising. Karena dari organ-organ pendengaran tidak terjadi keabnormalan. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan. Jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya menetap. Bagaimana SKDI dari diagnosis pada kasus? Jawab : Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. p. Oleh karena itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian. Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising. n. Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter .

Panjangnya kira – kira 2 ½ . tingkap bundar (round window) dan promontorium. Batas depan : tuba eustachius . Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. kanalis fasialis pars vertikalis . Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis) . Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Anatomi dan fisiologi THT  Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.V.3 cm. Batas luar : membran timpani . sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. tingkap lonjong (oval window). Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak) . Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah. seperti epitel mukosa saluran napas. Liang telinga berbentuk huruf S. Learning Issues a. sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Batas dalam : berturut – turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizontal. Pars flaksida hanya berlapis dua. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Shrapnell). Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat = kelenjar serumen) dan rambut. yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia. Batas belakang : aditus ad antrum. kanalis fasialis.  Telinga Tengah Telinga tengah berbentuk kubus dengan: . dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar. yaitu lapisan yang 28 . Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga.

maleus melekat pada inkus. Prosesu longus maleus melekat pada membran timpani. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum. dengan menrik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo. dan inkus melekat pada stapes. Membran timpani dibagi dalam empat kuadran. Hubungan antar tulang – tulang pendengaran merupakan persendian. untuk menyatakan letak perforasi membran timpani. Secara klinis reflek cahay ini dinilai.stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Bila melakukan miringotomi atau parasentesis. sesuai dengan arah serabut membran timpani. yaitu maleus. Reflek cahaya (cone of light) ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya reflex cahaya yang berupa kerucut itu. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) kea rah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. Di daerah ini tidak terdapat tulang pendengaran. Di membran timpani terdapat dua macam serabut. Di dalam teling tengah terdapat tulang – tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam.terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler pada bagian dalam. misalnya bila letak reflek cahaya mendatar. Pada flaksida terdapat daerah yang disebut atik. berarti terdapat gangguan pada tuba eustachius. 29 . atas-belakang. sirkuler dan radier. bawah-depan serta bawah- belakang. Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. inkus dan stapes. sehingga didapatkan bagian atas-depan. dibuat insisi di bagian bawah belakang membran timpani. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.

Pada membran ini terletak organ Corti. Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema. arteri ini bercabang 3 yaitu : 1. skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. yang membentuk organ Corti. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas. Vena akuaduktus koklearis 30 . mendarahi makula sakuli. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria. sebagian makula sakuli. auditori interna (a. Arteri koklearis yang memasuki modiolus dan menjadi pembuluh-pembuluh arteri spiral yang mendarahi organ Corti. Aliran vena pada telinga dalam melalui 3 jalur utama. Arteri vestibularis anterior yang mendarahi makula utrikuli. memnghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibule. basilaris yang merupakan suatu end arteri dan tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis. kanalis semisirkularis superior dan lateral serta sebagian dari utrikulus dan sakulus. Vena auditori interna mendarahi putaran tengah dan apikal koklea. Kanalis semi sirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. 2. bagian inferior utrikulus dan sakulus serta putaran basal dari koklea. kanalis semisirkularis posterior. Dasar skala vestibule disebut sebagai membran vestibule (Reissner’s membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. krista ampularis. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vetibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis semi sirkularis. Arteri vestibulokoklearis. sedangkan skala media berisi endolimfa. serebelli inferior anterior atau langsung dari a. Perdarahan Telinga dalam memperoleh perdarahan dari a. Hal ini penting untuk pendengaran. 3. skala timpani sebelum berakhir pada stria vaskularis. sel rambut luar dan kanalis Corti. Setelah memasuki meatus akustikus internus. dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam. skala vestibuli. labirintin) yang berasal dari a.

lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 – 40) di lobus tempolaris. sakulus dan utrikulus dan berakhir pada sinus petrosus inferior. sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius. Persarafan N. koklearis. sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran tektoria. Gangguan Fisiologis Telinga 31 . Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. Vena ini mengikuti duktus endolimfatikus dan masuk ke sinus sigmoid. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke teling tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Vena akuaduktus vestibularis mendarahi kanalis semisirkularis sampai utrikulus. FISIOLOGI PENDENGARAN Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel . akustikus bersama N. Pada dasar meatus akustikus internus terletak ganglion vestibulare dan pada modiolus terletak ganglion spirale.sel rambut.mendarahi putaran basiler koklea. vestibularis dan N. Getaran diteruskan melalui mebrana Reissner yang mendorong endolimfa. sehingga kanal ion terbukan dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. fasialis masuk ke dalam porus dari meatus akustikus internus dan bercabang dua sebagai N.

Setelah pemakaian obat ototoksik seperti streptomisin. nervus VIII atau di pusat pendengaran. sehingga timbul gangguan pengecap. misalnya dari garpu tala. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit. akan terdapat gejala gangguan pendengaran dan gangguan keseimbangan. Bila terdapat radang di telinga tengah atau truma mungkin korda timpani terjepit. piano. misalnya tumor nervus VIII (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif). Jadi jenis ketulian sesuai letak kelainan. sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural. Bunyi (frekuensi 20 Hz – 18. nada murni dan bising.000 Hz) merupakan frekuensi nada murni yang dapat didengar oleh telinga normal. disebabkan oleh kelainan atau penyakit di telinga luar atau telinga tengah. yang terdiri dari banyak frekuensi. Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara. sehingga saraf pendengaran rusak. 32 . Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan teling tengah dan akan terdapa tuli konduktif. Obat – obat dapat merusak stria vaskularis. dan terjadi tuli sensorineural. tuli sensorineural (sensorineural deafness) serta tuli campur (mixed deafness). hanya satu frekuensi.Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabka tuli konduktif. sedangkan tuli campur disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tuli sensorineural. terdiri atas beberapa frekuensi. Gangguan pada vena jugulare berupa aneurisma akan menyebabkan telinga berbunyi sesuai dengan denyut jantung. Antara inkus dan maleus berjalan cabang n. spektrumnya terbatas dan WN (white noise). yang terbagi atas tuli koklea dan tuli retrokoklea. misalnya radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit yang berlainan. Suara yang didengar dapat dibagi dalam bunyi. fasialis yang disebut korda timpani. Di dalam telinga terdapat alat keseimbangan dan alat pendengaran. Bising (noise) dibedakan antara: NB (narrow band). Tuli dibagi atas tuli konduktif. Nada murni (pure tone). Pada tuli sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam).

waktu dan tempat terjadinya bising. kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi. dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. Sedangkan secara audiologi. sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. lebih lama terpapar bising. Dengan hilangnya stereosilia. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Bising dengan intensitas 80 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan reseptor pendengaran corti pada telinga dalam. berfrekwensi tinggi. bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi. tergantung dari masing- masing individu. Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Tuli 33 . b. TULI AKIBAT BISING Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu dan tidak dikehendaki. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam ( 1 – 2 jam ). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama ( 10 – 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti.

sedang berat. pemakaian obat ototoksik. fenestra ovalis. transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai telinga dalam secara efektif. dan campuran. yaitu konduktif. Tingkat penurunan gangguan pendengaran terbagi menjadi ringan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention pada gangguan pendengaran konduktif terdapat masalah di dalam telinga luar atau tengah. dan sangat berat. pemaparan bising. 2002) faktor penyebab gangguan pendengaran adalah otitis media suppuratif kronik (OMSK). maupun jalur persyarafan pendengaran nervus vestibulokoklearis (N. sedangkan pada gangguan pendengaran sensorineural terdapat masalah di telinga bagian dalam dan saraf pendengaran. Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut: 1. Pada bentuk yang murni (tanpa komplikasi) biasanya tidak ada kerusakan pada telinga dalam.VIII). fenestra rotunda.Menurut Khabori dan Khandekar. Gangguan Pendengaran Jenis Konduktif Pada gangguan pendengaran jenis ini. ruang telinga tengah. gangguan pendengaran menggambarkan kehilangan pendengaran di salah satu atau kedua telinga. Ada riwayat keluarnya carian dari telinga atau riwayat infeksi telinga sebelumnya. tuli campuran disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tuli sensorineural. tuli sejak lahir. Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi pada kanal telinga luar. Sedangkan. dan tuba auditiva. Menurut WHO-SEARO (South East Asia Regional Office) Intercountry Meeting (Colombo. 34 . dan serumen prop. Ada tiga jenis gangguan pendengaran. berat. rantai tulang pendengaran. sedang. sensorineural.

Kanal telinga luar atau selaput gendang telinga tampak normal pada otosklerosis. dan gangguan pendengaran 35 . ataupun keluarnya cairan dari telinga tengah. Kadang-kadang penderita mendengar lebih jelas pada suasana ramai. biasanya penderita berbicara dengan suara lembut (soft voice) khususnya pada penderita otosklerosis. tes Scwabach didapati Schwabach memanjang (Soepardi dan Iskandar. palingsering disebabkan oleh otitis media kronik dan berat. kolesteatom palingsering menyebabkan labirinitis. Dengan menggunakan garputala 250 Hz dijumpai hantaran tulang lebih baik dari hantaran udara dan tes Weber didapati lateralisasi ke arah yang sakit. Gejala utamayang dapat timbul akibat ototoksisitas ini adalah tinnitus. dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengandung nada rendah. Labirinitis (oleh bakteri/ virus) Merupakan suatu proses radang yang melibatkan telinga dalam. Obat ototoksik Obat ototoksik merupakan obat yang dapat menimbulkan gangguanfungsi dan degenerasi seluler telinga dalam dan saraf vestibuler. Bila kedua telinga terkena. Koklea 1. Menurut Lalwani. pada pemeriksaan fisik atau otoskopi. 3.2. Dapat disertai tinitus (biasanya suara nada rendah atau mendengung). Gangguan Pendengaran Jenis Sensorineural Gangguan pendengaran jenis ini umumnya irreversibel. Perasaan seperti ada cairan dalam telinga dan seolah-olah bergerak dengan perubahan posisi kepala. 5. yaitu tes bisik. Penyebab lainnya bisadisebabkan oleh meningitis dan infeksi virus. yang mengakibatkan kehilangan pendengaranmulai dari yang ringan sampai yang berat 2. perforasi gendang telinga. Dengan menggunakan garputala 512 Hz. Pada otosklerosis terdapat gangguan pada rantai tulang pendengaran. Pada otitis. Pada tes fungsi pendengaran. Melalui tes garputala dijumpai Rinne negatif. vertigo. Penyebab tuli sensorineural dibagi menjadi: A. 2001). dijumpai ada sekret dalam kanal telinga luar. 4.

Degenerasi stria vaskularis. 3. Ethyrynic acid. Aminogliksida : streptomisin. Adapun faktor. dandiperburuk oleh penyakit yang menyertainya. Obat anti tumor : bleomisin. simetris pada kedua telinga. Amikasin dan yang baru adalah Netilmisin dan Sisomisin. dan bersifat progresif. presbikusis juga bisa 36 . Obat anti inflamasi: salisilat seperti aspirin . sebagian ketulian dapat dipulihkan. lalulintas. dan Bumetanides .Golongan macrolide: Eritromisin. 3.Ada beberapa obat yang tergolong ototoksik. diantaranya: .faktor tersebutdiantaranya adalah adanya suara bising yang berasal dari lingkungan kerja. alat-alat yang menghasilkan bunyi. cisplatin Kerusakan yang ditimbulkan oleh preparat ototoksik tersebut antara lain:1. Obat anti malaria: kina dan klorokuin . Presbikusis ini terjadi akibat dari proses degenerasi yang terjadi secara bertahap oleh karena efek kumulatif terhadap pajanan yang berulang. 2. akibat penggunaan antibiotikaaminoglikosida sel rambut luar lebih terpengaruh daripada sel rambutdalam. Secara kilnis ditandaidengan terjadinya kesulitan untuk memahami pembicaraan terutama pada tempatyang ribut/ bising. neomisin. Umumnya terjadi mulai usia65 tahun. kanamisin. Kelainan ini terjadi sekunder akibat adanyadegenerasi dari sel epitel sensori Umumnya efek yang ditimbulkan bersifat irreversible. kendatipun bila dideteksi cukup dini dan pemberian obat dihentikan.Presbikusis dipengaruhi oleh banyak faktor. Degenerasi sel ganglion. akibat mekanisme penuaan pada telinga dalam.Pada presbikusis terjadi beberapa keadaan patologik yaitu hilangnya sel-sel rambut dan gangguan pada neuron-neuron koklea.Antibiotic lain: kloramfenikol . Antibiotik . Kelainan patologi ini terjadi pada organkorti dan labirin vestibular. dan perubahan degeneratif ini terjadi dimulai dari basal kokleadan berlanjut terus hingga akhirnya sampai ke bagian apeks. Presbikusis Merupakan tuli sensorineural frekuensi tinggi yang terjadi pada orangtua. terutama faktor lingkungan. termasuk musik yang keras. gentamisin..Tobramisin. Loop diuretic : Furosemid. Kelainan patologi ini terjadi pada penggunaan semua jenis obat ototoksik. Degenerasi sel epitel sensori.yang bersifat sensorineural. Selain itu.

Tuli sensorineural kongenital dapat berdiri sendiri atau sebagai salah satu gejala darisuatu sindrom.Tuli mendadak didefinisikan sebagai penurunan pendengaran sensorineural 30 dB atau lebih paling sedikit tigafrekuensi berturut- turut pada pemeriksaan audiometri dan berlangsung dalamwaktu kurang dari tiga hari. Trauma Trauma pada telinga dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu traumaakustik dan trauma mekanis. keadaan ini dapt disebabkan oleh karena spasme.Fraktur tulang temporal dapat menyebabkan tuli sensorineural unilateraldan tuli konduksi. trauma akustik merupakan trauma paling umum penyabab tulisensorineural. Iskemia mengakibatkan degenerasi luas pada sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligamen spiralis. sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini koklea sangatmudah mengalami kerusakan. pangkal hidung yang melebar. 4. Sindrom Waardenburg (tuli sensorineural kongenitaldan canthus medial yang bergeser ke lateral. Tuli mendadak Tuli mendadak merupakan tuli sensorineural berat yang terjadi tiba-tibatanpa diketahui pasti penyebabnya.dipengaruhi oleh faktor herediter. dan penyakit-penyakitseperti aterosklerosis. Trauma tertutup ataupun langsung pada tulangtemporal bisa mengakibatkan terjadinya tuli sensorineural. obat ototoksik. ditemukan bahwa 60-70 % bersifat otosomresesif. Kerusakan sel-sel rambut tidak luasdan membrana basilaris jarang terkena. Iskemia koklea merupakan penyebab utama tulimendadak. 5. pada tuli kongenital atau onset-awal yangdisebabkan oleh faktor keturunan. 37 . trombosis atau perdarahan arteri auditiva interna. hipertensi. Pembuluh darah ini merupakan suatu end artery. antara lain Sindrom Usher (retinitis pigmentosa dan tulisensorineural kongenital). dan kebiasaan makanyang tinggi lemak.rambut putih bagian depan kepala dan heterokromia iridis) dan Sindrom Alport(tuli sensorineural kongenital dan nefritis) 6. Kongenital Menurut Konigsmark. kemudian diikuti dengan pembentukan jaringan ikat dan penulangan. diabetes. Diantara semuatrauma. 20-30% bersifat otosom dominan sedangkan 2% bersifat X-linked.

sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. sel-selrambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Dengan hilangnya stereosilia. Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama( 10 – 15 tahun ) akanmenyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi totalorgan Corti. lebihlama terpapar bising. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi. waktu dan tempat terjadinya bising. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparanakan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia.Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut.Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif. tergantungdari masing-masing individu. kepekaan individu dan faktor lain yang dapatmenimbulkan ketulian. Bising dengan intensitas 80 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakanreseptor pendengaran corti pada telinga dalam. Tuli akibat bising Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu dan tidak dikehendaki. Trauma dapat menimbulkan perpecahan pada foramen ovale sehingga perilymph bocor ke telinga. B. Hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi. Dengansemakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut. 7. Sedangkansecara audiologi. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangirespon terhadap stimulasi. Retrokoklea 38 . Hilangnya pendengaransementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam (1 – 2 jam ). Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. berfrekwensi tinggi.Tuli sensorineural terjadi jika fraktur tersebut melibatkanlabirin.Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkanadanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. dapat timbul degenerasi padasaraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. Pasien tiba-tiba mengalami kehilangan pendengaran. bersama dengan tinnitus dan vertigo. bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi.

Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler 4. Kedua gangguan tersebut dapat terjadi bersama- sama.1. Meningkatnya tekanan osmotik ruang kapiler 3. Misalnya trauma kepala yang berat sekaligus mengenai telinga tengah dan telinga dalam (Miyoso. Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul didugadisebabkan oleh: 1. trauma langsung terhadap nervus koklearis b. Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua komponen gejala gangguan pendengaran jenis hantaran dan sensorineural. 1985). 2. Penyakit Meniere Penyakit Meniere merupakan penyakit yang terdiri dari trias atausindrom Meniere yaitu vertigo. kemudian terkena infeksi otitis media. Gangguan Pendengaran Jenis Campuran Gangguan jenis ini merupakan kombinasi dari gangguan pendengaran jenis konduktif dan gangguan pendengaran jenis sensorineural. Mewengkang dan Aritomoyo. Pada pemeriksaan fisik atau otoskopi tanda-tanda yang dijumpai sama seperti pada gangguan 39 . mula-mula gangguan pendengaran jenis sensorineural. Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri 2. Lokasi tersering berada dicerebellopontin angel. Tuli akibat neuroma akustik ini terjadi akibat:a. Tersumbatnya jalan keluar sakus endolimfatikus sehingga terjadi penimbunancairan endolimfe. tinnitus dan tuli sensorineural. Mula-mula gangguan pendengaran jenis ini adalah jenis hantaran (misalnya otosklerosis). lalu kemudian disertai dengan gangguan hantaran (misalnya presbikusis). Hal-hal di atas pada awalnya menyebabkan pelebaran skala mediadimulai dari daerah apeks koklea kemudian dapat meluas mengenai bagiantengah dan basal koklea. gangguan suplai darah ke koklea. Gejala klinis penyakit ini disebabkan adanya hidrops endolimfe padakoklea dan vestibulum. Dapat pula sebaliknya. kemudian berkembang lebih lanjut menjadi gangguan sensorineural. Hal inilah yang menjelaskan terjadinya tulisensorineural nada rendah penyakit Meniere. Neuroma Akustik Neuroma akustik adalah tumor intrakrania yang berasal dari selubung sel Schwann nervus vestibuler atau nervus koklearis.

Schwabach memendek (Bhargava. Pada nilai normal tes berbisik ialah 5/6 – 6/6. yaitu tes bisik. Kemudian tangkai garputala segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bhargava and Shah. Tes garputala Rinne negatif. bila pemeriksa tidak dapat mendengar. Bila tidak terdengar disebut Rinne negatif. dan di dagu). hidung dan tenggorok. dahi. Bila masih terdengar disebut Rinne positif. 2002).pendengaran jenis sensorineural. Cara melakukan tes Weber adalah penala digetarkan dan tangkai garputala diletakkan di garis tengah kepala (di vertex. 2006). cara melakukan tes Rinne adalah penala digetarkan. Cara melakukan tes Schwabach adalah garputala digetarkan. Menurut Guyton dan Hall. yaitu garputala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih dulu. tangkai garputala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. tes pendengarn. Audiometri nada murni dapat mengukur nilai ambang hantaran udara dan hantaran tulang penderita 40 . Pemeriksaan dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Diagnosis meliputi anamnesis. Tes bisik merupakan suatu tes pendengaran dengan memberikan suara bisik berupa kata-kata kepada telinga penderita dengan jarak tertentu. Weber lateralisasi ke arah yang sehat. Bila penderita masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut Schwabach sama dengan pemeriksa (Medicastore. Tes garputala merupakan tes kualitatif. pemeriksaan fisik atau otoskopi telinga. Setelah tidak terdengar penala dipegang di depan teling kira-kira 2 ½ cm. Garputala 512 Hz tidak terlalu dipengaruhi suara bising disekitarnya. pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya. yaitu jarak antara pemeriksa dan penderita di mana suara bisik masih dapat didengar enam meter. tes garputala dan tes audiometri dan pemeriksaan penunjang. Tes ini meliputi audiometri nada murni dan audometri nada tutur. Tes audiometri merupakan tes pendengaran dengan alat elektroakustik. Pada tes bisik dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah maupun nada tinggi. pangkal hidung. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek. Apabila bunyi garputala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah teling mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi. tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. Hasil tes berupa jarak pendengaran.

gangguan pendengaran jenis sensorineural. dan berat) (Bhargava. Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi. Gangguan pendengaran akibat bising Gangguan pendengaran akibat bising ( noise induced hearing loss / NIHL ) adalah tuli akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. lebih lama terpapar bising. dengan alat elektroakustik. Bhargava dan Shah. Manfaat dari tes ini adalah dapat mengetahui keadaan fungsi pendengaran masing-masing telinga secara kualitatif (pendengaran normal. Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi 41 . Dapat mengetahui derajat kekurangan pendengaran secara kuantitatif (normal. ringan. berfrekuensi tinggi. Alat tersebut dapat menghasilkan nada-nada tunggal dengan frekuensi dan intensitasnya yang dapat diukur. sedangkan untuk mengukur hantaran tulangnya penderita menerima suara dari sumber suara lewat vibrator. Tuli akibat bising merupakan jenis ketulian sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis. sedang. gangguan pendengaran jenis hantaran. dan gangguan pendengaran jenis campuran). sedang berat. Bising yang intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada telinga dalam. Untuk mengukur nilai ambang hantaran udara penderita menerima suara dari sumber suara lewat heaphone. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua telinga. c. 2002). kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.

Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala. Oetomo. Dalam lingkungan industri. Sedangkan bagi pihak industri. derajat sedang 17 ( 8% ) dan derajat berat 3 ( 1. DEFINISI Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau tidak dikehendaki. karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen. A dkk ( Semarang. mengenai satu atau kedua telinga yang disebabkan oleh bising terus menerus dilingkungan tempat kerja. tergantung dari masing-masing individu. Cacat pendengaran akibat kerja ( occupational deafness / noise induced hearing loss ) adalah hilangnya sebahagian atau seluruh pendengaran seseorang yang bersifat permanen. 1993 ) dalam penelitiannya terhadap 105 karyawan pabrik dengan intensitas bising antara 79 s/d 100 dB didapati bahwa sebanyak 74 telinga belum terjadi pergeseran nilai ambang. Lebih dari 28 juta orang Amerika mengalami ketulian dengan berbagai macam derajat. sedangkan sebanyak 136 telinga telah mengalami pergeseran nilai ambang dengar.pendengaran para pekerja. Dari definisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif. waktu dan tempat terjadinya bising. derajat ringan sebanyak 116 telinga (55. Sedangkan Sataloff dan Sataloff (1987) mendapati sebanyak 35 juta orang Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat kerja. dimana 10 juta orang diantaranya mengalami ketulian akibat terpapar bunyi yang keras pada tempat kerjanya. bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya ganti rugi. semakin berat gangguan pendengaran yang ditimbulkan pada para pekerja tersebut. semakin tinggi intensitas kebisingan dan semakin lama waktu pemaparan kebisingan yang dialami oleh para pekerja.3%). 42 . EPIDEMIOLOGI Tuli akibat bising merupakan tuli sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis. Sedangkan secara audiologi. bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi.4% ).

Usia g.30 % dari pandai besi tersebut menderita sangkaan NIHL. Intensitas kebisingan b. A ( 1991 ) melakukan penelitian terhadap pandai besi yang berada di sekitar kota Medan. Kelainan di telinga tengah PENGARUH KEBISINGAN PADA PENDENGARAN Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekuensi bunyi. 2.2% menderita sangkaan NIHL. N ( 1995 ) dalam suatu penelitian terhadap karyawan pabrik gula mendapati sebanyak 32. intensitas dan lama waktu paparan.Kamal. Jenis kelamin f. Lamanya waktu pemaparan bising d. ETIOLOGI Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan : a. Adaptasi Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh kebisingan tersebut. Frekuensi kebisingan c. tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan. dapat berupa : 1. Sedangkan Harnita. Peningkatan ambang dengar sementara 43 . Kerentanan individu e. Ia mendapatkan sebanyak 92.

tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti. Proses ini belum jelas terjadinya.Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahanlahan akan kembali seperti semula. sehingga padatahap awal tidak disadari oleh para pekerja. Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. terutamaterjadi pada frekuensi 4000 Hz. Kenaikan ambang pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masing-masing individu. 3. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen. Hal ini hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan audiometri. Umumnya frekuensi pendengaran yang mengalami penurunan intensitas adalah antara 3000 – 6000 Hz dan kerusakan alat Corti untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekuensi 4000 Hz (4 K notch). Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam ( 1 – 2 jam ). Apabila bising dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama ( 10 – 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti. akhirnya 44 . Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Ini merupakan proses yang lambat dan tersembunyi.5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan. tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3. ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Peningkatan ambang dengar menetap Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan. tetapi bila pemeparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekuensi sekitarnya. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram.

yang disebut juga acoustic notch. Noise Induced Temporary Threshold Shift ( TTS ) 2. KLASIFIKASI Secara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu : 1. yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada frekuensi tinggi. tetapi apabila sudah menyebar sampai ke frekuensi yang lebih rendah (2000 dan 3000 45 . dan hal ini disebut dengan “occupational hearing loss“ atau kehilangan pendengaran karena pekerjaan atau nama lainnya ketulian akibat bising industri. tetapi hal ini bergantung juga kepada : a. b. kepekaan seseorang terhadap suara bising NIPTS biasanya terjadi disekitar frekuensi 4000 Hz dan perlahan-lahan meningkat dan menyebar ke frekuensi sekitarnya. Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara. Pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya. Noise Induced Temporary Threshold Shift ( NITTS ) Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai perubahan. Noise Induced Permanent Threshold Shift ( NIPTS ) Didalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat suara bising. yang disebut juga NITTS. tingkat suara bising b. NIPTS mula-mula tanpa keluhan. Noise Induced Permanent Threshold Shift ( NIPT a. Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat kembali normal. Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu bekerja dilingkungan bising selama 10 – 15 tahun. Pada gambaran audiometri tampak sebagai “ notch “ yang curam pada frekuensi 4000 Hz.pengaruh penurunan pendengaran akan menyebar ke frekuensi percakapan ( 500 – 2000 Hz ).

Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. 46 . Notch bermula pada frekuensi 3000 – 6000 Hz. Perubahan anatomi yang berhubungan dengan paparan bising Dari sudut makromekanikal ketika gelombang suara lewat. tetapi bila sudah menyebar ke frekuensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut. Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga sering mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinan merupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya bersinggungan dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah yang paling sering rusak. dimana bagian tengahnya tidak disokong. Dengan hilangnya stereosilia. Kehilangan pendengaran pada frekuensi 4000 Hz akan terus bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebih lambat. Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. PATOGENESIS Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Pada daerah ini terjadi penyimpangan yang maksimal. dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. membrana basilaris meregang sepanjang sisi ligamentum spiralis. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak.Hz) keluhan akan timbul. dan setelah beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada frekuensi yang lebih tinggi. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi.

baik didaerah tip atau sepanjang tangkai ( shaft ). Liberman dan Dodds (1987) memperlihatkan keadaan akut dan kronis pada awal kejadian dan kemudian pada stimulasi yang lebih tinggi. Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen. Kerusakan sel rambut luar mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kerusakan pada sel sensoris a. Fraktur daerah basal menyebabkan kematian sel. yaitu jembatan kecil diantara silia bagian atas yang berhubungan satu sama lain. yang dikontrol oleh tip links.Bagaimana energi mekanis ditransduksikan kedalam peristiwa intraseluler yang memacu pelepasan neurotransmitter ? Saluran transduksi berada pada membran plasma pada masing-masing silia. Gerakan mekanis pada barisan yang paling atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+ dan Ca++ dan menghasilkan depolarisasi membran plasma. Paparan bising dengan intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia. anoksia 47 . pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris c. tanpa fraktur daerah basal atau kerusakan tip links yang luas. Perubahan histopatologi telinga akibat kebisingan Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah sebagai berikut: 5. Gerakan mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar berkontraksi sehingga meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. fraktur daerah basal dan hubungan dengan hilangnya sensitifitas saraf akibat bising. Pergerakan daerah yang berlawanan akan menutup saluran serta menurunkan jumlah depolarisasi membran. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat. Apabila depolarisasi mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa intraseluler. degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis b. fraktur daerah basal dan perubahan-perubahan sel yang irreversibel. Kekakuan silia berhubungan dengan tip links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut.

Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ) Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB. Hampir selalu bilateral 3. ketulian pada frekuensi 3000. Selain itu tinnitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi. 8. Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising (noise induced hearing loss) adalah : 1. 6. 5. Kerusakan pada serabut saraf dan “nerve ending“ Keadaan ini masih banyak dipertentangkan. 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 – 15 tahun. 48 . 4000 dan 6000 Hz. Gangguan pada frekuensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi. 7. tetapi pada umumnya kerusakan ini merupakan akibat sekunder dari kerusakan-kerusakan sel-sel sensoris. seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Selain pengaruh terhadap pendengaran ( auditory ). Kerusakan pada stria vaskularis Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi. Hidrops endolimf GAMBARAN KLINIS Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (speech discrimination) dan fungsi sosial. Bersifat sensorineural 2. Dengan paparan bising yang konstan. bising yang berlebihan juga mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara. tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan. Ketulian biasanya bilateral.6. dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekuensi 4000 Hz. 4. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekuensi 3000. Apabila paparan bising dihentikan.

ABLB ( Alternate Binaural Loudness Balance ) dan Speech Audiometry menunjukkan adanya fenomena rekrutmen ( recruitment ) yang khas untuk tuli saraf koklea. Untuk menegakkan diagnosis klinik dari ketulian yang disebabkan oleh bising dan hubungannya dengan pekerja. Meneliti bising di tempat kerja. DIAGNOSIS Didalam menegakkan diagnosis NIHL. pemeriksaan fisik serta pemeriksaan audiologik. 5. Sedangkan pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI ( Short Increment Sensitivity Index ). 2. biasanya lebih dari 5 tahun. Ketulian timbul secara bertahap dalam jangka waktu bertahun-tahun. 3. Kesan jenis ketuliannya adalah tuli sensorineural yang biasanya mengenai kedua telinga. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi tinggi ( umumnya 3000 – 6000 Hz ) dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik ( notch ) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan tes penala didapatkan hasil Rinne positif. maka seorang dokter harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut : 1. gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi. Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan Schwabach memendek. 4. jenis pekerjaan dan lamanya bekerja. Riwayat penggunaan proteksi pendengaran.gangguan konsentrasi. Riwayat pekerjaan. Pentingnya mengetahui tingkat pendengaran awal para pekerja dengan melakukan pemeriksaan audiometri sebelum bekerja adalah bila audiogram 49 . Hasil pemeriksaan audiometri sebelum kerja dan berkala selama kerja. untuk menentukan intensitas dan durasi bising yang menyebabkan ketulian. yang biasanya terjadi dalam 8 – 10 tahun pertama paparan. Sedangkan pada pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Dari anamnesis didapati riwayat penah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama. Riwayat timbulnya ketulian dan progresifitasnya. harus dilakukan anamnesis yang teliti.

maka dapat diperkirakan berkurangnya pendengaran tersebut akibat kebisingan di tempat kerja. PENATALAKSANAAN Sesuai dengan penyebab ketulian. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga ( ear plugs ). Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu : 50 . bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Oleh sebab itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian. sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat. 6. PROGNOSIS Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya menetap. dan tidak dapat diobati secara medikamentosa maupun pembedahan. Latihan pendengaran ( auditory training ) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir ( lip reading ). maka prognosisnya kurang baik. PENCEGAHAN Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah terjadinya NIHL yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja. Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk. perlu dilakukan psikoterapi supaya pasien dapat menerima keadaannya. dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar ( ABD ). tutup telinga ( ear muffs ) dan pelindung kepala ( helmet ). Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap (irreversible).menunjukkan ketulian. Identifikasi penyebab untuk menyingkirkan penyebab ketulian non industrial seperti riwayat penggunaan obat-obat ototoksik atau riwayat penyakit sebelumnya. penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising.

Jaringan frekwensi B dimaksudkan mendekati reaksi telinga untuk batas antara 55 – 85 dB. dapat dilakukan dengan cara : i. 1. Pengukuran pendengaran Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam. b. Sound level meter ( slm ) SLM adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan. ear plugs ( sumbat telinga ) dan helmet ( pelindung kepala ). Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter. amplifier.000 Hz. 2. Analisa bising Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising. B dan C yang menentukan secara kasar frekwensi bising tersebut. Alat ini mengukur kebisingan antara 30 – 130 dB dan dari frekwensi 20 – 20. frekwensi bising. SLM dibuat berdasarkan standar ANSI ( American National Standard Institute ) tahun 1977 dan dilengkapi dengan alat pengukur 3 macam frekwensi yaitu A. Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja. Jaringan frekwensi A mendekati frekwensi karakteristik respon telinga untuk suara rendah yang kira-kira dibawah 55 dB . sirkuit “attenuator” dan beberapa alat lainnya. 51 . Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear muff ( tutup telinga ). lama dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. Sedangkan jaringan frekwensi C berhubungan dengan reaksi telinga untuk batas diatas 85 dB. yaitu : a. yang terdiri dari mikrofon. Pengukuran pendengaran secara periodik. memasang peredam suara ii. menempatkan suara bising ( mesin ) didalam suatu ruangan yang terpisah dari pekerja 3. b. Mengendalikan suara bising dari sumbernya. Pengendalian suara bising Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : a.

38 tahun Bekerja di pabrik Batubara bagian mekanik sudah 9 tahun Paparan bising berintensitas >85dB. Kerangka Konsep Tn.VI. Amran. terus menerus selama 9 tahun Kerusakan sel Kerusakan jaringan Kerusakan serabut rambut koklea penyanggar saraf koklea 52 .

Weber (lateralisasi ke Menaikkan ambang pendengaran telinga kanan). dan Schwabach (memendek) Hiperakustik / tinnitus 53 . Stereosilia sel-sel rambut luar Tuli sensorineural menjadi kaku Rinne (+).