You are on page 1of 11

PELECEHAN SEKSUAL

Perempuan dan laki-laki sama-sama mempunyai kebutuhan seksual. Apabila
pemenuhan kebutuhan tersebut dilakukan atas dasar kesepakatan atau kesukarelaan
antarakedua belah pihak (laki-laki dan perempuan), maka tidak akan timbul permasalahan.
Akan tetapi, apabila tindakan-tindakan yang berkaitan dengan kebutuhan seksual tidak
dilakukan atas dasar kesukarelaan (misalkan ada unsur pemaksaan atau kekerasan), maka
akan menimbulkan permasalahan dan keresahan.
Pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan
melalui kontak fisik maupun non fisik yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau
seksualitas seseorang sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, merendahkan martabat
seseorang, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan mengancam
keselamatan.
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau
mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh
orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci,
tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut.
Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal, komentar
berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian
tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan
iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan.
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Meskipun pada umumnya korban pelecehan seksual adalah kaum perempuan bukan
berarti bahwa kaum pria kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual.
Pengertian lain pelecehan seksual adalah tindakan yang mengganggu,menjengkelkan,
dan tidak diharapkan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang terhadap pihak lain,
yang berkaitan langsung dengan jenis kelamin pihak yang diganggunya dan dirasakan
menurunkan martabat dan harkat diri orang yang diganggunya.
Seorang manusia, siapapun atau dari kalangan apapun, sejak lahir telah memiliki hak
yang melekat dalam dirinya yang harus dipenuhi dan dihormati oleh siapapun, yang disebut
hak asasi manusia. Salah satu hak asasi adalah hak untuk bebas dari penyiksaan dan perilaku
buruk. Pelecehan dan kekerasan seksual termasuk dalam penyiksaan dan perilaku buruk.
Oleh karena itu, kepada siapapun pelecehan seksual dilakukan, hal itu selalu merupakan
tindakan yang salah.

dari yang ringan seperti lelucon seks hingga yang berat seperti pemerkosaan. b. menggoda secara terus menerus dengan kata-kata tentang hal-hal yang berkaitan dengan seks  Memegang ataupun menyentuh anggota tubuh. baik siang maupun malam. c. pernyataan yang bersifat mengancam. dan penuh tekanan. pabrik. gosip.  Secara berulang berdiri dengan dekat sekali atau hingga bersentuhan badan dan badan antar orang. Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. kartun. atau dipindahkan. atau hal lainnya yang terkait dengan seks. gerak-gerik yang bersifat seksual. Bentuk Visual : tatapan yang penuh nafsu. namun dapat membuat tempat kerja menjadi tidak tenang. Pelecehan seksual bisa juga terjadi tanpa ada janji atau ancaman. menepuk. Beberapa perilaku yang termasuk pelecehan seksual antara lain:  Lelucon seks. supermarket. Pelecehan seksual di tempat kerja seringkali disertai dengan janji imbalan pekerjaan atau kenaikan jabatan.  Menunjukkan gerak-gerik tubuh. Bentuk Verbal: siulan.  Membuat atau mengirimkan gambar-gambar. Kalau janji atau ajakan tidak diterima bisa kehilangan pekerjaan. tidak dipromosikan. meremas. Bahkan bisa disertai ancaman. A. mencubit. terutama organ reproduksi orang lain dengan tujuan seksual. Bentuk Fisik: sentuhan. tatapan mata. Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual Bentuk-bentuk pelecehan seksual sangat beragam. ada permusuhan. menyenggol dengan sengaja. mendekatkan diri tanpa diinginkan. taman. atau ekspresi lain yang memiliki maksud atau tujuan seksual. . baik secara terang-terangan ataupun tidak. untuk memaksa agar orang lain menuruti keinginan seksual sang pelaku kekerasan  Melakukan hubungan seksual dengan kekerasan (pemerkosaan) Ada 3 golongan bentuk pelecehan seksual yaitu: a. gurauan seks.  Melakukan tindakan yang mengarah ke perilaku seksual dengan unsur pemaksaan. misalkan mencium atau mengajak berhubungan seksual  Melakukan kekerasan. trotoar. tatapan yang mengancam. seperti di bus. termasuk memukuli atau menendangi.

Komentar/perlakuan negatif yang berdasar pada perbedaan jenis kelamin. Pemaksaan berhubungan seksual dengan iming-iming atau ancaman kekerasan atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan seksual. 2. namun secara umum kriteria pelecehan seksual yang dapat diterima akal sehat. antara lain memiliki 10 tipe-tipe pelecehan seksual seperti ini : 1. yaitu: . atau bagian tubuh lain dan dirasakan sangat tidak nyaman bagi korban. Perkosaan adalah pelecehan paling ekstrem. sudut pandang korban. merendahkan dan menghina. colekan. Bahasa tubuh yang dirasakan melecehkan. 7. d) Menyentuh tangan dengan nafsu seksual pada perempuan e) Memegang lutut tanpa alasan yang jelas f) Menyenderkan tubuh ke perempuan g) Memegang tubuh. h) Menepuk-nepuk bokong perempuan i) Berusaha mencium atau mengajak berhubungan seksual. 6. Mengungkapkan gurauan-gurauan bernada porno (humor porno) atau lelucon-lelucon cabul. Siulan nakal dari orang yang dikenal atau tidak dikenal. seperti : a) Cubitan. Meski berbagai kalangan berbeda pendapat dan pandangan mengenai pelecehan seksual. j) Mencuri cium dan kabur k) Gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual l) Ajakan berkencan dengan iming-iming m) Ajakan melakukan hubungan seksual 10. Main mata atau pandangan yang menyapu tubuh. B. tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu. dan lingkungan. 3. 4. dan sebagainya. Perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual Faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual pada perempuan dapat dilihat dari sudut pandang pelaku. Bisikan bernada seksual. Menggoda dengan ungkapan-ungkapan bernada penuh hasrat. biasanya dari atas kebawah bak “mata keranjang” penuh nafsu. Komentar yang berkonotasi seks atau kata-kata yang melecehkan harga diri 5. 9. 8. c) Menyentuh tangan ke paha. b) Meraba tubuh atau bagian tubuh sensitif.

Penyebab pelecehan seksual yang biasanya dilakukan oleh seseorang pelaku karena memiliki kekuasaan atau kekuatan terhadap korbannya. dengan disertai imingiming pekerjaan atau kenaikan penghasilan. mengawasi dan mempromosikan perempuan. Penyebab terjadinya pelecehan seksual pada perempuan. Penyebab terjadinya pelecehan seksual yang lain karena adanya kekuasaan serta penempatan posisi laki-laki lebih sering memungkinkan untuk memperkerjakan perempuan. sekaligus adanya anggapan perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah dan kurang bernilai dibandingkan lakilaki. Penyebab pelecehan seksual yang sering terjadi karena adanya daya tarik seksual atau rangsangan yang dialami dua jenis kelamin yang berbeda. Kebanyakan masyarakat cenderung lebih menyalahkan kaum perempuan sebagai korban sekaligus pemicu sehingga terjadi pelecehan seksual terhadapnya. Ditambah lagi perempuan yang menjadi korban tidak berani menolak perlakuan karena takut kehilangan pekerjaan. Faktor Lingkungan 1) Eksternal korban Fenomena yang ada pada perilaku pelecehan seksual tersebut disebabkan oleh banyak masalah pelecehan seksual yang di mengerti hanya sebagai masalah perorangan serta kurang informasi pada masyarakat tentang masalah pelecehan seksual. Karena keterbatasan itu perempuan menjadi susah untuk menghindari tindak pelecehan yang diterimanya.a. dan selalu melibatkan interaksi lebih dari satu orang. Pelecehan seksual dilihat dari sudut pandang pelaku Pelecehan seksual dilihat dari sudut pandang pelaku terjadi karena selama ini di dalam situasi di lingkungan antara laki-laki dan perempuan. dapat pula dikarenakan adanya struktur sosial dan sosialisasi dalam masyarakat yang mengutamakan dan menomorsatukan kepentingan dan cara pandang laki-laki. jika terdapat ruangan agak tertutup mempermudah terjadinya tindak pelecehan seksual. tidak seluas laki-laki. b. Bidang pekerjaan bagi perempuan umumnya terbatas. seperti: memecat. c. misalnya perempuan menempati posisi pekerjaan yang lebih rendah dari pada laki-laki. . Pelecehan seksual dilihat dari sudut pandang yang menjadi korban Tindak pelecehan seksual pada perempuan dapat terjadi dimana-mana. 2) Ruangan Situasi ruangan juga menjadi faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual.

Dampak Psikologis Beberapa penelitian menemukan bahwa korban pelecehan seksual merasakan beberapa gejala yang sangat bervariasi. b) Organization Model (model organisasi) Pelecehan seksual terjadi karena adanya faktor kekuasaan atau hubungan atasan bawahan. Dampak sosial yang dialami korban. Perasaan ini timbul akibat adanya harga diri yang rendah karena ia menjadi korban pelecehan seksual. antara lain adanya memar. Dampak fisik lain adalah kemungkinan penularan penyakit berupa infeksi menular seksual. tidak pantas dan juga merasa tidak layak untuk bergaul bersama teman-temannya. yang tentunya sangat berat adalah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. c) The Sosial Culture Model (model sosial budaya) Pelecehan seksual terjadi karena perwujudan dari sistem patrialisme yang lebih luas dimana laki-laki dianggap berkuasa. 3) Interaksi Interaksi juga merupakan penyebab terjadinya pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan di lingkungannya. yaitu : a) Biological Model (model biologis) Pelecehan seksual terjadi karena adanya daya tarik seksual yang alamiah antara dua jenis kelamin yang berbeda. Beberapa studi juga menunjukkan dampak pelecehan seksual sebagai berikut: 1. kecemasan. Dampak Pelecehan Seksual Dampak pelecehan seksual secara garis besar dapat dibagi menjadi dampak fisik. diantaranya merasa menurunnya harga diri. menurunnya kepercayaan diri. depresi. C. Dampak fisik yang biasa ditimbulkan akibat pelecehan seksual. ketakutan terhadap perkosaan serta meningkatnya ketakutan terhadap tindakan-tindakan kriminal lainnya. Pada perempuan. Dampak kejiwaan antara lain berupa kecurigaan dan ketakutan terhadap orang tertentu atau orang asing. Adapun berdasarkan data pelecehan seksual dimana korbannya adalah pelajar. terutama akibat stigma atau diskriminasi dari orang lain mengakibatkan korban ingin mengasingkan diri dari pergaulan. sehingga merasa tidak berharga. luka. hingga dampak sosial. didapatkan ”Sindrom Pelecehan Seksual” yang berhubungan dengan gejala . bahkan robek pada bagian-bagian tertentu. serta ketakutan pada tempat atau suasana tertentu. melalui tiga model teoritis. dampak psikologis.

gangguan makan. gangguan makan. rasa mual. Hal paling mendasar adalah mengetahui bagian-bagian tubuh yang boleh disentuh oleh orang tua. selain mengalami sakit kepala. Jika telah terjadi pelecehan seksual yang terbilang serius. berani menolak dan berbicara dengan tegas atau bahkan –bila perlu– melakukan pembelaan diri secara fisik. rasa tidak berdaya. serta menurun atau bertambahnya berat badan tanpa sebab yang jelas. agar tidak berlanjut menjadi pelecehan seksual yang lebih serius. dan naik turunnya berat badan. mencakup depresi. gangguan pencernaan (perut). merusak hubungan antara teman/rekan kerja. dan korban dengan tingkat frekuensi pelecehan yang tinggi lebih memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka. Selanjutnya. gangguan pencernaan (perut). D. merasa terasing (isolasi). psikologi. gunakan pakaian yang cukup tertutup terutama bila berada di tempat yang rawan kejahatan atau sepi. Remaja yang lebih dewasa harus mampu bersikap asertif. Bila tak dapat menghindari tempat yang rawan kejahatan. gelap dan sunyi. dalam keadaan tertentu diperlukan keberanian untuk berteriak atau meminta pertolongan ketika ada yang mengganggu atau menyentuh. dan menurunnya motivasi. . Upaya-Upaya Mencegah Terjadinya Pelecehan Seksual Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual. takut. Ini semua terjadi karena perbuatan tersebut menimbulkan rasa bersalah pada diri sendiri yang amat sangat. mudah marah. Dampak Fisik Dampak fisik berikut ini telah tercatat dalam literatur yang membahas tentang pelecehan seksual di antaranya yaitu sakit kepala. dan penyalahgunaan zat adiktif. mengurangi semangat bekerja. 3. mengganggu kinerja. menurunnya tingkat kepercayaan diri. dapat pula timbul kecenderungan bunuh diri pada korban. Kemudian bila memungkinkan. kecemasan. sedapat mungkin minta ditemani oleh rekan yang dapat dipercaya dan bisa memberi perlindungan saat berada di tempat-tempat tersebut. menurunnya produktivitas kerja. saudara atau orang lain serta mana yang tidak boleh disentuh. Korban pelecehan seksual di tempat kerja juga dapat memiliki komitmen yang rendah terhadap tempat kerjanya. 2. Dampak Sosial Dampak pelecehan seksual di tempat kerja adalah menurunnya kepuasaan kerja.

di antaranya: . korban dapat kehilangan hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (Pasal 28H(1)). Banyak pula korban yang kehilangan haknya atas pengakuan. Bila memungkinkan. jaminan. Dengan pemahaman akan hak-hak pribadi dan orang lain. hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia (Pasal 28G(2)). pembiaran terhadap terus berlanjutnya pelecehan seksual terhadap perempuan merampas hak perempuan sebagai warga negara untuk bebas dari perlakuan diskriminatif dan untuk mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminatif itu (Pasal 28I(2)). contohnya ruangan dibuat lebih terbuka atau sanksi berat terhadap pelaku bila terjadi pelecehan seksual di tempat tersebut. Negara adalah pihak utama yang bertanggung jawab untuk memenuhi hak-hak konstitusional berdasarkan Undang-Undang itu. dihargai dan tidak boleh dirampas. seseorang akan dapat menjaga dan menahan diri dari tindakan pelecehan seksual terhadap orang lain. Bahwa pelecehan seksual menyebabkan perampasan pada sejumlah hak warga negara menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganannya adalah amanat Undang. Akibat dari pelecehan seksual itu. Karena seringkali lahir dari ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan. sekaligus juga mengetahui bahwa dirinya berhak untuk bebas dari pelecehan seksual oleh orang lain. Untuk perusahaan yang mempekerjakan perempuan diharapkan dapat membuat peraturan khusus yang berkaitan dengan pelecehan seksual di tempat kerja. seseorang diharapkan dapat menghindari diri dari pola hubungan yang tidak setara di mana ada orang lain yang sangat berkuasa atas dirinya. E. dan bahkan mungkin kehilangan haknya untuk hidup (Pasal 28A). Secara khusus. tindak pelecehan seksual merampas hak korban sebagai warga negara atas jaminan perlindungan dan rasa aman yang telah dijamin di dalam konstitusi pada Pasal 28G(1). Mandat pemenuhan hak-hak tersebut juga telah ditegaskan dan diterjemahkan dalam berbagai landasan hukum. perlindungan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum (Pasal 27(1) dan Pasal 28D(1)) karena tidak dapat mengakses proses hukum yang berkeadilan.Undang. Perlindungan Hukum terhadap Korban Pelecehan Seksual Pelecehan seksual merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang telah dijamin dalam konstitusi kita. Hal lain yang penting untuk mencegah pelecehan seksual adalah mengenal hak pribadi dan hak orang lain serta memahami bahwa hak seseorang adalah hal yang harus dihormati. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

khususnya yang terdapat unsur pemaksaan dan kekerasan di dalamnya. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan  Undang-Undang No. menyenggol. 24 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga  Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 285. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia  Undang-Undang No. Polisi akan melakukan upaya penegakan hukum untuk kasus yang dialami korban. Yang Harus Dilakukan Bila Pelecehan Seksual Sudah Terjadi Seperti telah dijelaskan sebelumnya. Bentuk-bentuk seperti ini pada tahap awal dapat diadukan ke pihak yang dapat melindungi korban. yakni sejauh mana hal tersebut mengakibatkan rasa tidak nyaman atau merendahkan martabat korban. mendekatkan tubuh) ke pihak yang berwajib sangat bergantung pada masing-masing individu dan hal ini sifatnya sangat beragam.  Undang-Undang No. orang tua atau orang yang dipercaya oleh korban.  Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1365 tentang Perbuatan Melawan Hukum F. korban hendaknya tidak melenyapkan. Pasal 287. orang lain yang dipercaya oleh korban ataupun rekan sebaya untuk selanjutnya bersama korban melapor ke kantor polisi terdekat. hendaknya dilaporkan ke pihak yang berwajib.5 Tahun 1998 tentang Ratifikasi Anti Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Pasal 291. misalkan guru. korban juga dapat dipandu untuk menghubungi atau datang langsung ke Pusat Pelayanan . Pasal 289. rentang bentuk pelecehan seksual sangat luas. Jika membutuhkan perlindungan ataupun pendampingan dalam proses pelaporan dan permintaan visum. korban harus segera mengadukan hal ini ke pihak yang dapat melindungi korban. Korban harus segera melaporkan diri ke polisi. mulai dari bentuk visual. Jika mengalami kekerasan. verbal. Pasal 294. Dilaporkan atau tidaknya pelecehan seksual yang lebih ringan (pelecehan seksual bentuk visual dan verbal serta beberapa bentuk fisik yang ringan misalnya sentuhan. Pasal 286. termasuk membuat surat permintaan visum agar korban dapat segera diperiksa oleh dokter di Rumah Sakit terdekat dan mendapatkan visum. hingga fisik. Untuk pelecehan seksual bentuk fisik yang lebih berat. tidak membuang dan tidak menghilangkan bekas-bekas atau barang bukti kekerasan. misalkan guru. orang tua. Bila korban enggan melapor sendirian ke kantor polisi.

Situasi ini pula yang mendorong keluarga untuk mengambil keputusan bagi korban untuk tidak melapor. Korban dianggap bernasib sial karena harus menanggung balasan dari tindak kejahatan yang pernah dilakukan oleh keluarga atau para leluhurnya. ada banyak keragaman pengalaman perempuan akan perkosaan. Woman Crisis Center atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terdekat. Misalnya saja tentang perkosaan. G. Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). misalnya dengan memaksakan korban menikahi pelakunya. Cara pikir tentang “aib” seringkali menyudutkan korban. gangguan kejiwaan. Menceritakan tindak pelecehan seksual yang ia alami dianggap membongkar aib yang ada di dalam keluarganya. konsep aib juga dikaitkan dengan konsep nasib sial dan karma. sehingga perempuan tidak . ataupun pengakuan pada tindak pelecehan tersebut masih belum utuh. Kesemua hal ini menyebabkan korban tidak mampu atau tidak bersedia untuk melaporkan kasusnya. o Sekalipun ada penegasan pada hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. o Konsep moralitas dan aib mengakibatkan masyarakat cenderung menyalahkan korban. dikucilkan. berbagai jenis pelecehan seksual belum dikenali oleh hukum Indonesia. Pada sejumlah masyarakat. Trauma ini dapat termanifestasi pada kehilangan ingatan pada peristiwa yang dialaminya. Padahal. kehilangan kemampuan bahasa. atau diusir dari lingkungannya atau bahkan dipaksa untuk menjalani hidupnya dengan pelaku pelecehan. hukum Indonesia hanya mengakomodir tindak pemaksaan hubungan seksual yang berbentuk penetrasi penis ke vagina dan dengan bukti-bukti kekerasan fisik akibat penetrasi tersebut. meragukan kesaksian korban atau mendesak korban untuk bungkam. khususnya pada kasus pelecehan berat. Faktor-Faktor yang Menjadi Hambatan Bagi Korban Pelecehan Seksual dalam Memperoleh Keadilan dan Pemulihan Sungguh disayangkan. masih terdapat berbagai hambatan bagi korban pelecehan seksual dalam mengakses keadilan dan pemulihan. atau keinginan untuk melupakan dengan tidak membicarakan peristiwa yang melukainya itu. Faktor-faktor yang menyebabkan hal ini antara lain: o Korban kekerasan bisa menderita trauma mendalam akibat pelecehan seksual yang ia alami. rasa takut yang luar biasa.

unit dan prosedur ini belum tersedia di semua tingkat penyelenggaraan hukum dan belum didukung dengan fasilitas yang memadai. Pada sejumlah kasus. Yang Dapat Dilakukan Masyarakat untuk Ikut Mencegah dan Menangani Pelecehan Seksual? Karena pelecehan seksual kerap direkatkan dengan persoalan moralitas. Juga. Sayangnya. Tindakan suap atau penyogokan dalam proses penegakan hukum juga dapat menjadi hambatan bagi korban yang kehilangan keyakinan bahwa ia akan memperoleh proses hukum yang adil dan terpercaya. o Lembaga penegak hukum mulai membuat unit dan prosedur khusus untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Segera laporkan pada pihak berwajib  Temani korban pelecehan seksual. korban tidak mau melaporkan kasusnya karena khawatir balas dendam pelaku. penyikapan terhadap kasus tidak menunjukkan empati pada perempuan korban. terbebani oleh stigma sebagai “barang rusak” dan atau dikucilkan. namun tidak berarti memaksa korban untuk bicara di hadapan publik. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh anggota masyarakat untuk ikut mencegah dan menangani pelecehan seksual antara lain :  Bangun pemahaman tentang pelecehan seksual  Jangan tinggal diam bila mengetahui adanya tindak pelecehan seksual. peran serta masyarakat dan rekan sebaya untuk membantu korban agar memperoleh keadilan dan pemulihan adalah krusial. Langkah awal untuk penyikapan ini tentunya dengan mengenali pelecehan seksual. Persoalan lain adalah masalah ketersediaan perlindungan saksi dan korban yang memadai. bahkan cenderung ikut menyalahkan korban. dapat menuntut keadilan dengan menggunakan hukum yang hanya memiliki pengertian yang sempit atas tindak pelecehan seksual itu. Akibatnya. H. o Adanya penyelenggara hukum yang mengadopsi cara pandang masyarakat tentang moralitas dan pelecehan seksual. bangun keyakinan korban untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri . dianggap sebagai aib. Peran serta ini terutama penting untuk menguatkan korban agar tidak membungkam. khususnya pelecehan seksual. akar masalah dan dampaknya. Penyikapan ini sungguh berarti bagi korban pelecehan seksual. untuk memastikan korban mendapat dukungan dalam proses pemulihannya yang sangat terkait dengan keyakinan bahwa ia tidak akan disalahkan.

membicarakan sesuatu yang sesuai dengan pemahamannya sehari- hari. teman sekerja atau lainnya  Ajak mereka untuk ikut mendukung korban dengan cara tidak menyalahkan korban.  Temani dan dukung korban bila ia hendak melapor. tidak menstigma. memberikan dukungan. Tindakan Apa yang Dapat Dilakukan untuk Menangani Korban Pelecehan Seksual Beberapa tindakan dapat dilakukan untuk menangani dampak yang dialami korban pelecehan seksual.  Berikan informasi kepada korban hak-haknya dan juga keberadaan lembaga- lembaga yang dapat ia hubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut ataupun masukan bagi upaya pencarian keadilan dan pemulihan  Berikan informasi tentang pelecehan seksual kepada anggota keluarga.tetangga. jangan dihakimi keputusannya itu. menerima kehadirannya. ikut serta dalam kampanye atau dalam penggalangan dana bagi penanganan korban. Secara sosial dengan memberi dukungan sosial dan emosional. 3. tidak mengucilkan apalagi mengusir korban  Ikut serta dalam advokasi perubahan hukum untuk kepentingan korban pelecehan. Perlindungan dan penanganan kejiwaan (bisa dengan konsultasi. 2. Perlindungan dan penanganan secara fisik (contohnya penyembuhan atau terapi oleh dokter). 1. serta memberikan kesempatan untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungannya. terapi kejiwaan atau pendidikan mental spiritual). Bila korban enggan melapor. termasuk dengan memantau jalannya proses penegakan hukum  Dukung kerja-kerja lembaga pengada layanan bagi korban pelecehan dengan mengumpulkan informasi tentang pelecehan seksual yang terjadi disekelilingnya. 20 Bimbingan Teknis Kesehatan Reproduksi Dan Seksualitas Yang Komprehensif I. teman. (Buku Suplemen Bimbingan Teknis Kesehatan Reproduksi : PELECEHAN SEKSUAL November 2012) .