You are on page 1of 7

JKK, Tahun 2016, Volume 5(1), halaman 58-64 ISSN 2303-1077

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI TOKSISITAS EKSTRAK AKAR
MENTAWA (Artocarpus anisophyllus)
TERHADAP LARVA Artemia salina

Natia Afriani1*, Nora Idiawati1, Andi Hairil Alimuddin1
1
Progam Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura,
Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi 78124, Pontianak
*
email: natiaafriani@gmail.com

ABSTRAK
Daun dan batang mentawa sebagai tanaman obat diketahui mengandung flavonoid yang
berpotensi dilihat dari aktivitas antimikroba, antikanker dan antioksidannya yang tinggi, namun
belum ditemukan informasi tentang bioaktivitas pada bagian akarnya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui potensi akar mentawa sebagai zat yang mempunyai efek sitotoksik terhadap
larva Artemia salina dan kandungan metabolit sekundernya. Hasil skrining fitokimia
menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol akar mentawa mengandung alkaloid, flavonoid,
steroid/terpenoid dan tannin/polifenol. Fraksi metanol mengandung alkaloid dan
tannin/polifenol. Fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, dan steroid/terpenoid. Fraksi
kloroform mengandung alkaloid dan flavonoid. Fraksi n-heksana mengandung alkaloid dan
steroid/terpenoid. Uji toksisitas dilakukan dengan metode BSLT. Hasil uji toksisitas
menunjukkan nilai LC50 ekstrak kasar metanol, fraksi metanol, fraksi etil asetat, fraksi kloroform,
dan fraksi n-heksana berturut-turut adalah 583 ppm, 2167 ppm, 328 ppm, 1318 ppm, 2167
ppm. Berdasarkan nilai LC50 tersebut dapat disimpulkan ekstrak kasar metanol dan fraksi etil
asetat bersifat toksik terhadap larva Artemia.

Kata kunci: mentawa, toksisitas, Artemia salina, skrining fitokimia

PENDAHULUAN senyawa yang banyak diteliti dari tumbuhan
Artocarpus (Hakim, 2010). Senyawa
Sejak dulu masyarakat Indonesia telah
turunan flavonoid seperti flavonoid
menggunakan tumbuhan sebagai tanaman
terprenilasi yang memiliki manfaat secara
obat.Masyarakat menggunakannya secara
luas dalam bidang kesehatan. Beberapa
turun temurun berdasarkan pengalaman,
penelitian menunjukkan aktivitas anti kanker
masih terbatas tradisional dan belum
terhadap berbagai jenis sel kanker dari
banyak diketahui kandungan senyawa dan
Artocarpus seperti A. heterophylus, A.
manfaat lainnya (Aryanti dkk., 2005). Ma’at,
elasticus, A. lanceifolius, A. champeden dan
(2003) mengatakan banyak tumbuhan yang
A. lakoocha (Arung dkk., 2009).
telah diteliti sebagai antikanker seperti
Mentawa (A. anisophyllus) merupakan
sirsak, sarang semut, tumbuhan genus
spesies Artocarpus endemik Kalimantan.
Cruciferae, dan masih banyak lagi. Arung
Secara empiris, masyarakat dayak ngaju
dkk. (2009), menghubungkan potensi
Kalimantan tengah menggunakan daun
tumbuhan yang mengandung flavonoid
mentawa sebagai obat luka bakar (Setiowati
terprenilasi sebagai antikanker. Beberapa
dkk., 2005). Penelitian mengenai mentawa
hasil riset dari spesies Artocarpus yang
yang dilakukan oleh Nor’aini (2013)
mengandung flavonoid terprenilasi
menunjukkan batang dan kulit batang
menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap
mentawa memiliki aktivitas antibakteri, dan
sel kanker.
antioksidan. Aktivitas antibakteri dan
Kajian fitokimia beberapa spesies
antioksidan paling baik terdapat pada fraksi
Artocarpus menunjukkan jenis ini
diklorometan bagian batang. Nilai MIC
mengandung senyawa metabolit sekunder
aktivitas antibakteri yaitu sebesar 125 µg/
seperti terpenoid, dan flavonoid (stilbenoid,
mL dan nilai antioksidan sebesar 307,24 µg/
arilbenzofuran, neolignan, adduct Diels-
mL. Rahmani dkk. (2008) juga meneliti
Alder). Kelompok flavonoid merupakan

58

Sebelum tumbuhan ingin mengetahui potensi antikanker dalam mentawa dianalisis dilakukan determinasi di akar mentawa yang termasuk dalam genus Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Artocarpus. kloroform (CHCl3). dikocok perlahan. antibakteri dan pisah. Solis dkk. (CH3OH). endapan METODOLOGI PENELITIAN coklat dengan pereaksi Wagner dan Jingga Alat dengan pereaksi Deagendorff. Sampel akar mentawa yang diambil di kulit batang. lalu metode BSLT dapat digunakan sebagai dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain.1 µg/ Bahan yang digunakan dalam mL dari fraksi kloroform dan 4. rotary evaporator. Uji Flavonoid Uji flavonoid dilakukan dengan cara menambahkan asam klorida pekat dan 59 . Volume 5(1). salina. dimetil sulfoksida dalam satu spesies dengan spesies lain (DMSO). (HCl). kandungan senyawa kimiawi Burchard.). asam klorida Venkataraman (1972) mengatakan. penulis Kalimantan Barat. Berdasarkan LC50 dapat Ekstraksi dan Partisi diketahui tingkat aktivitas suatu senyawa. akuades (H2O). maserat di kentalkan dengan rotary Metode yang sering digunakan untuk evaporator. memiliki kesamaan tanggapan dengan kemudian ditambahkan 0. Artemia N.. Senyawa aktif Cara Kerja yang ditemukan dalam famili Artocarpus. 1000 ppm maka senyawa tersebut memiliki Maserat disaring dan ditampung. salina. dibiarkan terjadi digunakan sebagai hewan uji karena pemisahan.6H2O). Tahun 2016. Maka dari itu diharapkan dengan pemisahan. Kabupaten Sanggau. Kemudian 50% (LC50) untuk memastikan kandungan sampel akar dihaluskan dan diayak dengan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai ayakan 80 mess. halaman 58-64 ISSN 2303-1077 aktivitas antioksidan. dibiarkan terjadi 1993). langkah awal penemuan obat antikanker ditambah satu tetes pereaksi Mayer. mentawa.. 1982. lampu 25 watt. sampel akar pada berbagai bagian tumbuhan sama mentawa dan serbuk Mg. praktis. cepat tapi tidak Skrining Fitokimia mengesampingkan kekuatannya untuk a.6 µg/ mL dari penelitian ini adalah air laut. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain aerator. Tanjungpura. sederhana. Mayer. dari akar mentawa untuk menentukan Wagner dan Dragendorff. akar dan kulit akar (Hakim. dikocok perlahan. asam sulfat (H2SO4). botol vial. Uji Alkaloid skrining awal tanaman berpotensi anti Uji Alkaloid dilakukan dengan cara ekstrak kanker dengan menggunakan hewan uji ditambahkan 10 mL CHCl3 . antikanker (memiliki efek sitotoksik) dalam akar mentawa. 2008). 1982). Preparasi Sampel banyak yang berasal dalam ekstrak batang. n- begitu juga pada tumbuhan dengan spesies heksana (C6H14). Berdasarkan informasi ini. kecamatan Meliau. besi (III) klorida secara kemotaksonomi afinitas kimiawi heksahidrat (FeCl3. secara kualitatif tetapi berbeda secara kuantitatif (Rahmani. mamalia (Meyer dkk. Kelebihan metode ini adalah cukup asetat. kloroform. Lapisan CHCl3 diambil. fraksi petroleum eter.amoniak 0. Aktifitas sitoktoksik mentawa Bahan terhadap sel hela leukemia sebesar 2.. Wagner. Kemudian efek sitotoksik (Meyer dkk. corong b. 2010). sitiktoksik terhadap sel hela dari kulit batang tabung reaksi dan peralatan gelas. reagen Lieberman- yang sama. natrium hidroksida (NaOH). murah. Amonia (NH3). Ekstraksi menggunakan metode Apabila nilai LC50 suatu senyawa hasil maserasi.05 larva Artemia (A. Hasil positif aktivitas sitotoksiknya. Perlu dilakukan uji Lethal Concetrastion Sampel akar dikering anginkan.JKK. dan etil (BSLT). 2. adanya alkaloid bila terbentuk endapan putih dengan pereaksi Mayer.7 kg akar mentawa direndam isolasi atau ekstrak tumbuhan kurang dari menggunakan metanol selama 3x24 jam. Ekstrak kental metanol yang mengetahui potensi efek sitotoksik suatu dihasilkan kemudian dipartisi dengan senyawa adalah Brine Shrimp Lethality Test pelarut n-heksana. A. Sampel akar dibersihkan. Lapisan asamnya dipipet. metanol pada prinsipnya sama secara kualitatif.5 mL H2SO4 2 N.

didapatkan ekstrak kental terang setelah berumur 48 jam siap metanol sebanyak 33 g. kemudian . terjadi warna merah-jingga. Penetasan larva Artemia menggunakan reagen semprot AlCl3. kloroform dan etil asetat. Untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid. Partisi digunakan untuk uji toksisitas. + . sedangkan sampel ditambahkan asam asetat anhidrat sumbu y adalah % mortalitas). Volume 5(1). Untuk Flavonoid - setiap konsentrasi dilakukan 3 kali Steroid/ + . dengan ekstrak kental yaitu dari yang lebih Kadar larutan induk adalah 2000 ppm. + + pengulangan. - Pengamatan dilakukan setelah 24 jam Tanin/ + + . Tahun 2016. Uji toksisitas dengan metode BSLT Identifikasi senyawa flavonoid a. bagian dengan sekat berlubang dimasukkan air laut secukupnya. Hasil KLT diangin-anginkan hitam kebiruan pada sampel uji. Salah satu sisi kotak HASIL DAN PEMBAHASAN ditutup dengan alumunium foil. + + 10 larva udang dalam 100 μL air laut . Uji Terpenoid dan Uji Steroid (sumbu x ditransformasi ke bentuk Uji triterpenoid dan steroid dengan cara logaritma [log konsentrasi]. kemudian dihitung mortalitasnya seperti persamaan berikut : c. nonpolar hingga polar. . ekstrak. Uji Tanin/ Polifenol pelarutnya. Hasil Pembiakan udang dilakukan dalam sebuah positif flavonoid ditunjukkan dengan wadah yang telah dibagi menjadi dua terbentuknya noda kuning muda. . Hasil Skrining Fitokimia dengan cara 50 μl DMSO ditambahkan air Fraksi laut hingga 10 mL. Fitokimia Etil n- Kasar Metanol Kloroform Asetat heksana Alkaloid c. 500.JKK. . . halaman 58-64 ISSN 2303-1077 logam Mg pada ekstrak. . Hasil positif tannin/polifenol Selanjutnya dielusi dengan etil asetat : n- ditunjukkan dengan terbentuknya warna heksana (2:8). dan asam sulfat pekat dimana terbentuk warna merah positif untuk triterpenoid dan Kromatografi lapis tipis warna biru dan hijau positif untuk steroid. Uji Toksisitas Metode Meyer .Wagner + + + + + + + + + + dimasukkan ke dalam vial uji.Dragendorff ditambahkan 100 μL larutan sampel. 30 gram ekstrak kasar b.Mayer + . Uji Saponin Uji saponin dilakukan dengan mengocok lapisan air dalam tabung reaksi bila terbentuk busa yang tahan selama lebih kurang 15 menit berarti positif untuk uji Analisis Data saponin. Penyiapan sampel uji dilarutkan kembali dalam 500 mL metanol. kemudian ditotolkan sepanjang Uji tanin/polifenol dilakukan dengan plat 1 cm x 6 cm dengan menggunakan menambahkan larutan FeCl3 ke dalam pipet mikro pada jarak 1 cm dari garis. + dengan 100 μL larutan blanko kemudian Saponin - ditambahkan air laut hingga 100 μL. 250 dan 100 ppm. Larutan induk dibuat dengan melarutkan 20 Ekstrak kental dipartisi dari pelarut yang mg sampel dengan 100 μL DMSO dan memiliki tingkat kepolaran paling berbeda ditambahkan dengan air laut hingga 10 mL. dan diperiksa di bawah sinar UV pada panjang gelombang 366 nm dan 254 nm. kemudian kotak diletakkan di bawah lampu UV selama Hasil dari maserasi 2.7 kg serbuk akar 48 jam. semua ekstrak dilarutkan dalam e. Larva yang menembus daerah mentawa. - dengan menghitung jumlah larva udang Polifenol 60 . Skrining fitokimia Sebagai blanko tanpa larutan uji dibuat Tabel 1. Tes positif bila yang masih hidup dan yang sudah mati. menggunakan pelarut n-heksana. Nilai LC50 ditentukan secara statistik melalui persamaan regresi linier sederhana d. Sebagai kontrol dilakukan Terpenoid + . Sampel yang akan diuji disiapkan pada konsentrasi 1000.

halaman 58-64 ISSN 2303-1077 Metode yang digunakan berdasarkan alkaloid.33 1 Wilstater cyanidin. Uji ini digunakan untuk 500 4 3.33 4. Tabel 3. Tahun 2016. konsentrasi yang sama pada larutan stok.33 5. hasil positif (ppm) Kasar Metanol Etil Kloroform n- alkaloid ditunjukkan pada semua fraksi. Pengaruh Ekstrak Akar Mentawa Dragendorff ditunjukkan dengan adanya Terhadap Kematian Larva endapan berwarna coklat muda sampai Artemia salina Leach Konsentrasi Mortalitas rata-rata kuning. Volume 5(1). flavonoid. Hasil positif flavonoid pada larva. 0 0 0 Asetat 0 0 Heksana 0 Uji flavonoid dilakukan dengan metode 100 3. Pada penelitian ini. ppm merupakan konsentrasi kematian larva Penambahan serbuk Mg bertujuan agar tertinggi.67 3. Metode BSLT yang terhidrolisis menjadi glukosa dan dilakukan dengan cara pemaparan larutan senyawa lain.JKK. steroid/terpenoid dan pada reaksi pengendapan. 1000 4. Tidak larva Artemia salina Leach.67 2 mendeteksi senyawa yang mepunyai inti α. bahwa ekstrak akar n-Heksana dan fraksi metanol. Konsentrasi LC50 dari yang dalam fraksi metanol dan ekstrak kasar. Penelitian yang dilakukan semua fraksi menunjukkan hasil positif oleh Jema’on (2013) menunjukkan hasil alkaloid. steroid dan kalium-alkaloid. Hasil positif tannin/polifenol masing fraksi.33 250 3 2. terkecil hingga terbesar adalah fraksi etil Berdasarkan Tabel 1. Fraksi n-Heksana 1528 ppm Hasil positif triterpenoid ditunjukkan pada ekstrak kasar dan ekstrak n-heksana. Hasil positif Fraksi Etil Asetat 328 ppm steroid ditunjukkan pada fraksi etil asetat. Hasil positif pada uji dengan Lieberman-Buchard ditunjukkan dengan Fraksi Metanol 2167 ppm timbulnya warna hijau untuk steroid dan Fraksi Kloroform 1318 ppm merah untuk triterpenoid. Uji saponin menggunakan metode Larutan kontrol negatif berfungsi untuk Forth. Tabel 3 menunjukkan nilai LC50 Uji tannin dan polifenol menggunakan (Lethal Concentration 50) dari hasil masing- pereaksi FeCl3. fraksi kloroform. Hasil positif alkaloid pada uji Tabel 2. Timbulnya buih pada uji Forth menghilangkan pengaruh lain diluar ekstrak menunjukkan adanya glikosida dalam uji yang dapat menyebabkan kematian larva ekstrak tersebut yang mempunyai udang sehingga kematian larva murni dari kemampuan membentuk buih dalam air hanya dipengaruhi ekstrak. Hasil positif menyebabkan kematian sebesar 50 % dari tannin/polifenol pada penelitian ini ada hewan uji. Sedangkan pada konsentrasi 100 gugus karbonil Flavonoid berikatan dengan ppm merupakan konsentrasi dimana Mg dan fungsi penambahan HCl untuk kematian larva terendah.67 3 1 0. terbentuk busa.6 4 7. Fraksi etil mentawa mengandung metabolit sekunder 61 . Larutan kontrol negatif hanya penelitian ini ditunjukkan pada ekstrak mengandung air laut dan DMSO dengan kasar.66 4 benzopyron. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah-jingga.33 1. Hasil positif alkaloid pada triterpenoid. Hasil positif alkaloid pada uji Mayer skrining fitokimia ekstrak kasar metanol ditunjukkan dengan adanya endapan putih. tidak terdapat kematian merah-jingga. batang dan kulit batang mentawa Endapan diduga merupakan kompleks mengandung flavonoid. Uji dilakukan dengan menambahkan serbuk didapatkan hasil pada konsentrasi 1000 Mg dan HCl pada larutan ekstrak. dapat disimpulkan asetat. LC50 adalah konsentrasi ditunjukkan dengan terbentuknya warna ekstrak atau sampel yang dapat hitam kebiruan pada sampel uji. fraksi etil asetat dan kloroform. Pada larutan membentuk garam Flavilium yang berwarna kontrol negatif. Berdasarkan data dari Tabel 2. uji Wagner ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna coklat muda sampai Uji Toksisitas Dengan Metode BSLT kuning. Hasil uji saponin pada semua ekstrak senyawa yang diuji kepada fraksi menunjukkan hasil negatif. fraksi dari skrining fitokimia. Secara umum tanin/polifenol. Nilai LC50 Setiap Fraksi Sampel Uji Steroid/Terpenoid menggunakan reagen Lieberman-Buchard (Asam asetat Sampel Nilai LC50 anhidrat dan asam sulfat pekat) dan reagen Ekstrak Kasar 583 ppm Swalkovski.67 2.67 2. ekstrak kasar.

fraksi etil asetat Kromatografi Lapis Tipis memiliki aktivitas toksisitas akut paling Analisis senyawa aktif yang memiliki tinggi. Ada beberapa noda yang daya makan larva. Hal ini dalam pelarut yang bersifat semi polar dan mengakibatkan larva gagal mendapatkan nonpolar seperti kloroform. Aktivitas toksisitas dalam ekstrak komponen senyawa sebagai bercak yang kasar metanol diduga berasal dari senyawa gelap atau bercak dengan flourosensi yang terkandung didalam fraksi etil asetat terang (Gambar 1. dengan BSLT dari spesies Artocarpus Selanjutnya dilakukan identifikasi lainnya menunjukkan berbagai tingkat senyawa flavonoid dengan reagen semprot aktivitas toksisitas.). Komponen alat pencernaannya terganggu. Toksisitas akut fraksi etil asetat Jarak dan jumlah bercak noda (a) n- akar mentawa berkaitan dengan senyawa heksana. 2009). Berdasarkan data uji akar mentawa dilakukan dengan metode statistik dengan ANOVA menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). namun intensitasnya berbeda. namun UV dengan panjang gelombang emisi 254 tidak berbeda nyata dengan ekstrak kasar nm dan 366 nm untuk menampakkan metanol. Nguyen & Hal ini diduga yang mengakibatkan etil Widodo. etil asetat dan metanol fraksi etil asetat lebih intens dibanding fraksi A. Volume 5(1). Hal ini menunjukkan bahwa berhubungan dengan fungsi senyawa. Ekstrak n. diperkirakan aktivitas sitotoksik dari A. 1999). (c) etil asetat. halaman 58-64 ISSN 2303-1077 asetat dan ekstrak kasar memiliki nilai LC50 diduga karena senyawa turunan fenol yang < 1000. dkk. 1999.JKK. komponen senyawa pada setiap fraksi senyawa tersebut yang dapat menghambat berbeda. sesuai pernyataan Meyer et (Farid. asetat memiliki aktivitas toksik yang paling Hasil dari penelitian uji toksisitas tinggi dibandingkan fraksi lainnya. (1982).1 noda kuning diduga dikarenakan senyawa ppm. 2010). sehingga lanceifolius dikarenakan senyawa artelastin komponen didalamnya tidak terpisah. fraksi n-heksana.. lakoocha 62 . (e) ekstak kasar metanol berbeda- Mekanisme kematian larva diperkirakan beda. 367 ppm. Hasil yang LC50 sebesar 7. Artemia salina. Ekstrak petroluem dengan KLT ditunjukan dengan munculnya eter biji A.41 ppm (Taksim. Intensitas dan jumlah noda yang mengenali makanannya sehingga larva mati paling besar terdapat pada fraksi etil asetat. senyawa ini masuk ke dalam tubuh larva. (b) kloroform. (d) yang dikandungnya. kloroform. kelaparan ( Rita. al. Ekstrak metanol kulit mengandung flavonoid. A. Tidak muncul memiliki bersifat toksik dengan LC50 20. Menurut Harbourn (1987) hasil positif sukun bersifat tidak toksik LC50 3608. tersebut. Fraksi etil asetat batang A. oleh karena itu. yang berarti memiliki potensi memiliki cincin heteroatom di dalamnya toksisitas akut. Sifat toksik dari fraksi etil asetat A. serta antara perut. 2008. bila senyawa. Cara kerja senyawa menunjukkan nilai Rf yang sama antara tersebut dengan bertindak sebagai racun fraksi kloroform dan etil asetat. dan 845 ppm. 2012). asetat berbeda signifikan terhadap fraksi Pengamatan plat dilakukan dibawah lampu metanol. etil asetat dan n stimulus rasa sehingga tidak mampu heksana. lanceifolius ekstrak kasar (Gambar 2. Fraksi dan sikloartobiloxanton yang dikandungnya etil asetat dan kloroform positif (Hakim EH. Diduga flavonoid ini yang salina dengan nilai LC50 berturut-turut 780 berpengaruh sebagai senyawa toksik pada ppm. Eluen yang SPSS diketahui aktivitas toksisitas fraksi etil digunakan adalah n-Heksana : EA (8:2). 109 ppm.19 ppm dan ekstrak metanol dihasilkan berbeda dari identifikasi uji biji A. flavonoid. rigida toksik terhadap larva Artemia kloroform. chama bersifat toksik dengan LC50 fitokimia. Cahyadi 2009). kloroform dan etil asetat. 1991).89 flavonoid dengan reagen semprot AlCl3 ppm (Ramadhani. Ektrak etanol daun AlCl3.) (Gritter. n-heksana dan kloroform. yang dikandung masih kompleks. Selain itu senyawa tersebut diduga memiliki sifat semi senyawa ini juga menghambat reseptor polar hingga non polar sehingga terekstrak perasa pada daerah mulut larva. metanol. lakoocha memiliki bersifat toksik dan kloroform positif mengandung dengan nilai LC50 452.49 ppm. Flavonoid yang terdapat pada heksan. Tahun 2016. dilihat dari nilai LC50 yang paling kecil aktivitas toksik pada semua fraksi ekstrak dari yang lainnya.. Hasil negatif ditunjukkan pada 10. chama bersifat toksik dengan noda berwarna kuning muda. Pada penelitian ini.

2005. Yay Sarana Wana Jaya. Heyne K. Cermin Dunia Kedokteran. 2. 2(3): 146-156. Bioactivities Of Artocarpus (c) etil asetat. Identifikasi flavonoid pada plat (SKRIPSI). jilid 2. 2(4): 145-149.T.JKK. Tanaman Obat Untuk SIMPULAN Pengobatan Kanker. 45: 31–34. Malaysia. Isolasi Senyawa Antikanker dari Akar Berambut Artemisia Cina dan Aktifitas Inhibisinya Terhadap Sel Kanker Mulut Rahim.. 2009.) Terhadap kloroform. Wicaksono D. Golongan senyawa yang tedapat dalam Meyer. Fraksi etil asetat merupakan fraksi paling toksik dari semua ekstrak akar mentawa dengan nilai LC50 328 ppm. 1987. (b) kloroform. dalam fraksi etil asetat terdapat alkaloid.. (b) (Momordica charantia l. Ma’at. (d) metanol. J. Tumbuhan Berguna Indonesia. R. 2010. (d) Larva Artemia salina Leach dengan metanol. (e) ekstak kasar Metode Brine Lethality Test (BSLT). Mariska. Phytochemicals And (a) n-heksana. S. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Metanol dari Tanaman Anting- Anting (Acalpha indica Linn). steroid/terpenoid. 16 (4): 192-196. 1.M. Laughlin.. “Brine ekstrak kasar metanol akar mentawa Shrimp: Convenient General adalah alkaloid. (SKRIPSI) Hakim A. Penampakan KLT ekstrak akar Cahyadi. (i) Daftar Pustaka Arung E. Volume 5(1). dalam fraksi n-heksana terdapat alkaloid dan steroid/terpenoid. dan Bintang. ITB. 1982. 2013. 2011. (c) etil asetat. (e) Anisophyllus miq. flavonoid. UIN Maulana Malik Ibrahim. Metode Fitokimia. flavonoid dan polifenol/tanin. Bandung. dalam fraksi kloroform terdapat alkaloid dan flavonoid. Uji toksisitas Akut Mentawa dengan (i) UV 254 (ii) Ekstrak etanol Buah Pare UV 366 (a) n-heksana. halaman 58-64 ISSN 2303-1077 dalam fraksi metanol terdapat alkaloid. Ferrigini..B. Planta Medica.T. Diversity of secondary metabolites from Genus Artocarpus (Moraceae). 1987.. dan steroid/terpenoid. 2003. Nusantara Bioscience. Jakarta. UTM. 36(1): 20-23. Gambar 1. ekstak kasar metanol (Thesis).B. Bioassay for Active Constituent”.B. Harborne J. 63 . flavonoid. Majalah (ii) Farmasi Indonesia. Bahan Alam Indonesia. metanol Fakultas Semarang. Edisi ke dua. 2009. KLT dengan reagen semprot Jema’on N. Inayah F. Tahun 2016. Prenylated Flavonoid sebagai Senyawa Anti Kanker yang Berpotensi. Malang Gambar 2.. Sandra F. dan polifenol/tanin. Aryanti E.

.D. J.. Ali A. Science. Pudoc Scientific Solis P. Ee Microwell Cytotoxicity Assay Using G..A. Widodo. 64 . Medicinal and Aromatic Plant Phytochemistry.JKK.M. Philipson J. Go Artemia salina (brine shrimp).. 59: 250-252. Hasim N. Netherland. 2005. Cytotoxic and Medica. Tek.N. A. Siti S.M. A Rahmani M. Volume 5(1)..P. Publisher. In: Medicinal and Tengah. Swadaya. Poisinous Plant Research of South- East Asia 12. Alitheen N.L..B. Soedarsono R. Antibacterial Activities of Thirteen Venkataraman. di Daerah Timpah Kalimantan Momordica L. 31: 142-146. Ling. Planta R. Gupta M. 1972. dan S. H. 1999. Sukari M..H.. 1989. Jakarta. Penebar Setiowati FM. 2008.. Chemotaxonomy of The Moraceae. Anderson M. Wood Phenolic in The Species of Artocarpus (Moraceae).C. 11: 1571-1586. halaman 58-64 ISSN 2303-1077 Mudjiman.M. Makanan Ikan. J. 6(3): 502-510. 1993. Ekobotani Masyarakat Dayak Ngaju Nguyen. Wright C. Antioxidant. Tahun 2016.W.