You are on page 1of 54

LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT

IDENTIFIKASI PENGGUNAAN APAR “ALAT PEMADAM API
RINGAN” PADA WISMA ATLIT, LAPANGAN SKI AIR MAN
DINNING HALL DI JAKABARING SPORT CITY
PALEMBANG

OLEH:

Wini Karlina
(1380100027)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
2017

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan laporan
praktikum di instalasi K3 dan Limbah di BTKL PP Palembang.
Laporan ini adalah persyaratan yang diwajibkan kepada seluruh mahasiswa
Praktikum Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu sebagai
pertanggungjawaban terhadap kegiatan yang telah dilakukan, untuk itu pada
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. M. Amin, M.Si. selaku pembimbing dalam penyusunan laporan praktikum
kesehatan masyarakat yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta
bantuannya dalam menyelesaikan laporan ini.
2. Bapak Ir. Agus Ramon, M.Kes selaku pembimbing lapangan dalam praktikum
kesehatan masyarakat yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta
bantuannya dalam menyelesaikan laporan ini.
3. Ibu Wulan Anggraini, SKM., MKM. selaku dosen pembimbing lapangan
dalam praktikum kesehatan masyarakat yang telah memberikan arahan,
bimbingan, serta bantuannya dalam menyelesaikan laporan ini.
4. Ibu Dr. Dra. Indah Anggraini, M.Si., selaku Kepala BTKL PP Palembang
yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta bantuannya selama
praktikum kesehatan masyarakat ini
5. Bapak Heriyanto, ST.,M.KM. selaku Kasi PTL BTKL PP Palembang dalam
praktikum kesehatan masyarakat yang telah memberikan arahan, bimbingan,
serta bantuannya selama praktikum kesehatan masyarakat ini
6. Kedua orang tua yang telah membantu baik secara moril maupun material
dalam penyusunan laporan ini, sehingga penyusunan laporan ini dapat
diselesaikan dengan baik dan lancar.
7. Dan teman-teman yang senantiasa mendukung penulis sehingga dapat
menyelesaikan laporan ini.

iii

Semoga segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis
mendapat imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan
laporan ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan
dalam pembuatan laporan ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis
harapkan untuk perbaikan dan kesempurnaan. Semoga laporan ini bermanfaat
bagi pihak yang memerlukannya dan bagi siapa saja yang membacanya.

Bengkulu, Februari 2017

Penulis

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Identifikasi masalah .................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................... 3
1.4 Manfaat................................................................................ ..... 3
1.5 Ruang Lingkup ........................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi APAR.......................................................................... 5
2.2. Pemilihan APAR ...................................................................... 5
2.3. Tipe Kontraksi APAR............................................................... 7
2.4. Jenis-jenis APAR...................................................................... 7
2.5. Pemasangan APAR................................................................. . 10
2.6. Inspeksi APAR......................................................................... 12
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Lokasi ..................................................................... 14
3.2. Metode Penelitian .................................................................... 14
3.3. Alat Pemeriksaan APAR .......................................................... 14
3.4. Tehnik Pengumpulan Data......................................................... 14
3.5. Prosedur Pemeliharaan APAR.................................................. 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan ............................................................................... 19
4.3 Hasil ........................................................................................... 23
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 26
5.2 Saran .......................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 28
LAMPIRAN

v

..................................... Multipurpose dry chemical ........... 6 vi ...................... Halon ...... Wet chemical ........ 6 Gambar 2.............. 6 Gambar 3............................................................................................................................................. DAFTAR GAMBAR Gambar 1.

Dokumentasi vii . DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Laporan Praktikum Individu Lampiran 2. Laporan Praktikum Kelompok Lampiran 3.

Bagi pekerja.2008). Kebakaran merupakan hal yang sering terjadi pada gedung yang diawali dari kebakaran kecil yang kemudian menjadi besar dikarenakann kesiapan peralatan pemadam api yang kurang memadai atau ketidaksiapan peralatan tersebut pada saat hendak digunakan.2008 ). kalangan industri kini lebih menekankan peranan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) (Ridley. Salah satu upaya sebagai pencegahan dan penaggulangan kebakaran adalah dengan menyediakan . trauma. Sedangkan bagi perusahaan sendiri akan menimbulkan kerugian. salah satu jenis kecelakaan yang sering dijumpai dan menimbulkan kerugian yang sangat besar adalah kebakaran (Disnaker. begitu juga dengan dunia industri di indonesia turut serta merasakan manfaat dari hasil kemajuan teknologi di era globalisasi. seperti rusaknya dokumen.musnahnya properti. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. sehingga tuntunan peningkatan kuantitas dan kualitas produksi harus diiringi adanya pemanfaatan sumber daya produksi secara efisien. bahkan kehilangan pekerjaan. Sebagai kosekuensinya. K3 menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pekerjaan. kebakaran perusahaan dapat merupakan penderitaan dan malapetaka khususnya terhadap mereka yang tertimpa kecelakaan dan dapat berakibat cacat fisik. Oleh karena itu k3 harus dikelola sebagaimana pengelolaan produksi dan keuangan serta fungsi penting perusahaan yang lainya. Untuk meminimalisir terjadinya kebakaran maka perlu penerapan keselamatan dan kesehahtan kerja sebagai upaya pencegahan dan penaggulangan kecelakaan termasuk kebakaran. Kebakaran adalah terjadinya api yang tidak dihendaki. Efisiensi biaya dan peningkatan keuntungan semakin diperhatikan seiring dengan penekanan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.1 Latar Belakang Sekarang ini kemajuan dalam bidang ilmu penegetahuan dan teknologi sudah sangat maju dan berkembang pesat. Dunia industri menghadapi persaingan yang cukup ketat. serta terhentinya proses produksi.

taman. APAR merupakan salah satu alat pemadam kebakaran yang sangat efektif untuk memadamkan api yang masih kecil untuk mencegah semakin besarnya api tersebut (Gempur Santoso. C. Gedung Sky Air. Serta Sky Air juga merupakan area tempat olahraga Sky air yang digunakan para atlit dan dilengkapi dengan kolam seluas ± 1000 hektar. dan Area Penonton. jenis peralatan dan masa berlaku masih sangat penting dilakukan oleh perusahaan dalam menghindari titik-titik yang berbahaya .2004). 1. Gedung tersebut merupakan gedung milik pemerintah yang dilengkapi dengan kamar tidur. B. restaurant . 2 instalasi APAR. 2. maka penulis mengidentifikasi berbagai permasalahan yaitu sebagai berikut : 1. D adalah empat buah gedung yang berlantai tiga di Khususkan untuk menampung para atlit yang akan bertanding/berlomba pada saat ada perayaan olimpiade yang di adakan oleh perusahaan. . Sulit membedakan jenis-jenis Penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) pada saat terjadi kebakaran.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas. Sedangkan Man Dinning Hall adalah Sebuah ruangan yang digunakan untuk makan para tamu yang dilengkapi dapur dan kamar mandi. tempat bermain dan tempat olahraga/ tempat kebugaran. tata letak. tempat laundy. Masih kurangnya pemahaman masyarakat maupun pekerja dalam penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Dari ketiga tempat tersebut bagaimana penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di Jakabaring Sport City Palembang. posisi. Pengaruh pengelolaan. 3. ruang tamu. Peralatan proteksi kebakaran harus dikelola dengan baik dan terencana mulai dari letak. jenis peralatan dan masa berlaku dari peralatan proteksi kebakaran tersebut karena kecendrungan masyarakat selama ini hanya bereaksi setelah kebakaran itu terjadi bahkan bahaya kebakaran sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian Wisma Atlit A.

nyaman. 1. 1. selamat serta dapat mengurangi resiko terjadi kebakaran pada perusahaan. 1. pengetahuan serta sarana untuk pengembangan pengetahuan tentang ilmu Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam bidang pencegahan kecelakaan kerja akibat kebakaran. Man Dinning Hall di Jakabaring Sport City Palembang.3 Bagi Fakultas Kesehatan Dapat memberi masukan kepada Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhhamadiyah Bengkulu tentang penerapan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) pada saat jika terjadi kebakaran serta dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan.4.4 Manfaat Penulisan 1.1 Bagi perusahaan Sebagai masukan dan tambahan pengetahuan lebih rinci tentang Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam bidang pencegahan kecelakaan kerja akibat kebakaran sehingga menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk menentukan langkah-langkah dan upaya penerapan standar-standar penentuan dan penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).3 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) pada Wisma Atlit. 3 4. demi menciptakan lingkungan kerja yang aman. disesuaikan dengan disiplin ilmu yang didapat dari bangku kuliah dengan keadaan di lapangan serta mendapatkan pengamatan langsung untuk mengaplikasikan dan mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Sky Air. Masih Kurangnya pemeriksaan dan perawatan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang dapat mengakibatkan APAR tidak berfungsi dengan baik pada saat akan digunakan . 1.4. .2 Bagi Mahasiswa Di harapkan penulis dapat memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan wawasan sarana pemadam kebakaran khususnya APAR dalam upaya pencegahan dan penaggulangan bahaya kebakaran.4.

2. 4 1.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan laporan praktikum ini adalah : 1. Metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah dengan menggunakan lembar cheklis yang langsung digunakan di lapangan BTKLPP Palembang . Penulis hanya membahas tentang identifikasi penggunaan APAR (Alat Pelindung Api Ringan) secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif . .

Tipe APAR yang cocok digunakan untuk kelas A o Air . APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sebagai alat untuk memutuskan atau memisahkan rantai tiga unsur (sumber panas. Dengan terpisahnya tiga unsur tersebut. Oleh karena itu untuk menentukan APAR yang akan digunakan maka harus ditentukan terlebih dahulu klasifikasi bahaya kebakaran yang mungkin terjadi berdasarkan NFPA dijelaskan tipe APAR yang baik digunakan berdasarkan klasifikasi bahaya kebakaran. 2004). 2.1 Definisi APAR Peraturan menteri tenaga kerja dan trasmigrasi No. maka setiap alat pemadam api ringan harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja. 04/MEN/1980 mengatur tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan yang menyatakan bahwa dalam rangka untuk mensiap-siagakan pemberantasan pada mula terjadinya kebakaran. APAR (Alat Pemadam Api ringan ) adalah alat pemadam api berbentuk tabung (berat maksimal 16 kg) yang mudah dilayani/dioperasikan oleh satu orang untuk pemadam api pada awal terjadi kebakaran. yaitu a. udara dan bahan bakar). kebakaran dapat dihentikan (Gempur Santoso.2 Pemilihan APAR Pemilihan APAR ditentukan oleh karekterisik bahaya kebakaran yang akan diantisipasi. 5 BAB II TINJAUAN TEORI 2.

Multipurpose dry chemical Gambar 3. APAR yang digunakan untuk kelas B o Aqueous film-forming foam (AFFF) o Film-forming fluoroprotein foam (FFFP) o Carbon dioxside o Dry chemical type . Halon Gambar 2. Wet chemical b. 6 Gambar 1.

7 o Halogenated agent type c. yaitu mendinginkan dari permukaan dari bahan bakar tersebut. 2) Tipe Tabung bertekanan tetap (Stored Preasure Type) Adalah suatu pemadam yang bahan pemadamnya di dorong keluar gas kering tanpa bahan kimia aktif atau udara kering yang disimpan bersama dengan tepung pemadamnya dalam keadaan tertekan. APAR digunakan untuk kelas D Bahan pemadam untuk bahaya kelas D seharusnya menggunakan bahan pemadam spesifik untuk logam. 2. antara lain: a. APAR jenis air terdapat dalam bentuk strored pressure type (tersimpan bertekanan ) dan gas cartridge type (tabung gas). kulit. Sangat baik digunakan untuk pemadam kebakaran kelas A yaitu kebakaran bahan padat bukan logam. karton/kardus. mudah disimpan dan dipindahkan. contohnya : kayu. maka lebih baik digunakan APAR berbahan Halon d.4 Jenis APAR (Alat Pemadam Api Ringan ) Menurut Anizar. antara lain : 1) Tipe Tabung Gas (Gas Container Tipe) Adalah suatu bahan yang pemadamnya di dorong keluar oleh gas bertekanan yang dilepas dari tabung gas. pada umumnya mudah di peroleh. 2009 APAR (Alat Pemadam Api Ringan ) terdiri beberapa jenis. plastik. Jenis Air (Water) Sejak dulu air digunakan untuk memadamkan kebakaran dengan hasil yang memuskan (efektif dan ekonomis) karena harganya relatif murah. Sistem kerja dari APAR yang berisikan air ini adalah dengan menghilangkan unsur panas dari segitiga api. kain.3 Tipe Kontruksi APAR (Alat Pemadam Api Ringan) Apar memiliki dua tipe Kontruksi (Depnaker. aman dipakai. APAR jenis ini tidak boleh digunakan pada kebakaran jenis cairan mudah terbakar dan juga kebakaran . 2. kertas. APAR yang digunakan untuk kelas C Untuk kebakaran kelas C.1995).

yaitu : 1) Sodium Bicarbonate dan Natrium Bicarbonate 2) Gas CO2 atau Nitrogen sebagai pendorong 3) Khususnya untuk pemadaman kelas D (logam) seperti magnisium. yaitu untuk mencegah oksigen untuk tidak ikut dalam reaksi. 8 pada elektrik. dimana meningkatkan keefektifan dari pemadam api ini. Jenis Busa (foam) Jenis busa adalah bahan pemadam api yang efektif untuk kebakaran awal minyak. Secara umum. titanium. Ada beberapa Tepung serbuk kimia kering berisi dua macam bahan kimia. Jenis Tepung kimia Kering (Dry Chemical Powder) APAR jenis ini dikenal dengan nama tepung kering. yaitu memisahkan bahan bakar dari oksigen. c. zarcanium. b. Biasanya digunakan dari bahan tepung aluminium sulfat dan natrium bicarbonat yang keduanya dilarutkan dalam air. dimana partikel-partikel tepung kimia tersebut akan menyerap hidroksil dari api. APAR ini memadamkan api dengan menutup bahan bakar dengan lapisan dari bubuk Dry Chemical tersebut. Secara kimiawi yaitu memutuskan reaksi pembakaran. cara kerja tepung kimia memadamkan api adalah sebagai berikut : a. pemadam api oleh busa merupakan sistem isolasi. Bubuk tersebut juga menghentikan reaksi kimia. Hasinya adalah busa yang volumenya mencapai 10 kali lipat. Bahan pemadam api serbuk kimia kering (Dry Chemical Powder) efektif untuk kebakaran B dan C bisa juga untuk kelas A. Secara fisis yaitu memutuskan hubungan udara luar dengan benda yang terbakar (Smothering) atau penyelimutan bahan bakar sehingga tidak terjadi penyempurnaan antara oksigen dengan uap bahan bakar (Isolasi). b. dikarenakan air merupakan penghasil panas yang baik sehingga api akan semakin membesar.dan lain-lain digunakan metal .

APAR jenis ini jangan digunakan pada kebakaran tipe A dikarenakan api akan semakin membesar jika karbondioksida sudah habis. Selain itu jangan menggunakan APAR ini pada ruangan tertutup ketika masih ada orang ketika menggunakan alat pelindung pernapasan yang baik (dasar-dasar penanggulangan kebakaran). e. Biasanya APAR (Alat Pemadam Api Ringin) jenis BCF di pasang di bangunan gedung. Macam-macam Holin antara lain : 1) Halon 1211 Terdiri dari unsur Carbon (C). pabrik. Halon 1211 biasa disebut Bromochlorodifluormethane dan lebih populer dengan nama BCF. Bromide (Br). potasium. Jenis Halon APAR (Alat Pemadam Api Ringan) jenis Halon efektif untuk menanggulangi kebakaran jenis cairan mudah erbakar dan peralatan listrik bertegangan (kebakaran kelas Bdan C). Jenis CO2 Bahan pemadam jenis CO2 efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B (minyak) dan C (listrik). Chlorine (CI). dan barium chloride d.bromide dan iodine . . Fourine (F). Berfungsi untuk mengurangi kadar oksigen dan efektif untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di dalam ruangan (indoor) pemadam dengan menggunakan gas arang ini dapat mengurangi kadar oksigen sampai di bawah 12%. flourine. 2) Halon 1301 Terdiri unsur Carbon (C) . Fourine (F). Bromide (Br) sehingga Hallon 1301 juga disebut Bromotriflourmethane atau BTM. Bahan pemadam api gas Halon biasanya terdiri dari unsur-unsur kimia seperti : Chlorine. 9 dry-powder yaitu campuran dari sodium.

7) Setiap alat pemadam api ringan harus dipasang (ditempatkan) menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau dengan kontruksi penguat lainya atau ditempatkan dalam lemari atau peti (box) dapat dikunci. 3) Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran 4) Penempatan alat antara alat pemadam api yang satu dengan yang lainya atau kelompok satu dengan lainya tidak boleh melebihi 15 meter. kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja 5) Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah 6) Dilarang memasang dan menggunakan alat pemadam api ringan yang didapati sudah berlubang-lubang atau cacat karena karat. 11) Pemasangan alat pemadam api ringan harus sedemikian rupa sehingga bagian paling atas (Puncaknya) berada pada ketinggian 1. 10) Ukuran panjang dan lebar bingkai kaca aman (safety glass) harus disesuaikan dengan besarnya alat pemadam api ringan yang ada dalam lemari atau peti (box) sehingga mudah dikeluarkan. 10 2.2 m dari permukaan lantai kecuali jenis CO2 dan tepung kering (Dry Chemical) .5 Pemasangan APAR Berdasarkan Permen 04/1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR di jelaskan bahwa : 1) Setiap satu kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas. 2) Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut adalah 125 cm dari dasar lantai tepat di atas satu atau kelompok alat pemadam api ringan yang bersangkutan. mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan. 8) Lemari atau peti (box) dapat dikunci dengan syarat bagian depanya harus diberi kaca aman (safety glass) dengan tebal maximum 2mm 9) Sengkang atau kontruksi penguat lainya tidak boleh dikunci atau digembok atau diikat mati.

Setiap APAR harus digantung dengan penguat sekang atau dapat juga diletakkan di dalam lemari box yang dengan syarat lemari tersebut tidak terkunci. . dan tembus pandang (Kaca). biasanya jarak yang dipakai kurang lebih 15 cm. Setiap APAR harus diberi tanda pemasangan dengan ketentuan ukuran-ukuran yang telah ditentukan berdasarkan Per. 04/MEN/1980 yaitu. Jarak antara lantai dengan bagian paling atas dari APAR tidak boleh melebihi 1. berbentuk segitiga sama sisi dengan ukuran 35cm x 35 cm dengan dasar berwarna merah dan tulisan berwarna putih dengan tinggi huruf 3 cm dan tinggi tanda panah 7. 13) Alat pemadam api ringan yang ditempatkan di alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman. . mudah dicapai dan dijangkau misalnya jalan dekat dengan pintu keluar. . Jarak antara APAR satu dengan APAR lainya tergantung dari potensi bahaya kebakaranya.2 m (untuk berat APAR lebih dari 20 kg ) (SNI-03-3987-1995).5 cm. .5 m (untuk berat APAR kurang dari 20 kg) dan 1. . . Apar harus berada pada posisi yang mudah dilihat. 12) Alat pemedam api ringan tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 490C atau turun sampai 40C kecuali apabila alat pemadam api ringan tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut. Berdasarkan peraturan-peraturan diatas. maka dapat diambil kesimpulan bahwa penempatan APAR yang baik adalah sebagai berikut : . apabila terkunci maka setidaknya harus ada palu pemukul kaca yang diletakkan disamping APAR tersebut. jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang dari 15 cm dari permukaan lantai. Penempatan APAR tidak boleh dihalangi oleh barang apapun atau peralatan yang disimpan. 11 dapat di tempatkan lebih rendah dengan syarat.

Bila ternyata berat alat pemadam berkurang 10%. APAR yang telah ditempatkan tersebut tidak ada benda ataupun yang menghalangi untuk dijangkau atau APAR tersebut mudah dilihat. menimbang alat pemadam tersebut. . isinya terlalu banyak atau sedikit. bocor. Pastikan kunci pengaman dan segel penyongkel tidak rusak. atau tampak berkarat APAR harus menjalani pemeliharaan (perbaikan) pencatatan. yakinkan bahwa alat pemadam api penuh pengantar dan/atau diberikan tekanan penuh dengan memeriksa meteran tekanan. maka alat tersebut harus disingkirkan atau diganti. korasif dan bocor. tidak ada kerusakan fisik yang tampak oleh mata. Berdasarkan NFPA. c. Pastikan berat APAR. h. tekanan lemah. Alat-alat pemadam api harus diperiksa secara teratur untuk menyakinkan bahwa alat-alat tersebut bisa dapat dengan mudah dan dioperasikan. APAR berada ditempat pada lokasi yang sudah ditentukan b. Periksa apakah ada kerusakan fisik.6 Inspeksi APAR Inspeksi adalah suatu pemeriksaan cepat dari APAR yang memastikan bahwa APAR dapat beroperasi dengan baik. segel belum dibuka. f. d. Periksa ataukah instruksi pengoperasian pada alat mudah dibaca perbaikan. Petunjuk penggunaan dapat dibaca dengan jelas serta menghadap keluar. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan atau bila pemadamanya rusak. Inspeksi atau pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa pemadam berada ditempatnya. APAR sebaiknya dilakukan inspeksi dengan interval sebulan sekali. e. g. 12 2. periksa retakan-retakan dan kotoran atau tumpukan lemak. Periksa pipa semprot atau tonjolan penghalang. Hal ini dilakukan dengan memeriksa bahwa APAR berada di tempat yang telah ditentukan (yakinkan bahwa APAR tidak dipindahkan) dan APAR tidak dalam kondisi cacat atau rusak. dan tidak ada kondisi yang dapat merintangi jalanya operasi. NFPA juga menjelaskan bahwa pelaksanaan inspeksi sebaiknya dilakukan pengecekan sebagai berikut : a.

Minimal setiap bulan. Setiap petugas yang melakukan inspeksi harus mencatat semua APAR yang telah di inspeksi. Pencatatan seharusnya diletakkan pada APAR dan selain itu harus dicatat secara permanen dalam suatu file atau sistem elektronik. 13 a. termasuk pada penemuan- penemuan yang tidak sesuai untuk dilakukan tindakan perbaikan. b. . tanggal inspeksi yang telah dilakukan dan pekerja yang telah melakukan inspeksi tersebut di catat. c.

3. 3. Waktu Kegiatan praktikum Kesehatan Masyarakat ini dilaksanakan di ruang kesehatan keselamatan kerja (K3) selama 17 hari yaitu pada tanggal 10-27 januari 2017. 14 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Sky Air. Tehnik Wawancara . khususnya upaya pencegahan dan penaggulangan kebakaran dengan menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada dan peraturan yang berlaku. Lokasi Kegiatan ini dilaksanakan di BTKLPP Palembang yaitu di lapangan dan di ruang kerja kesehatan keselamatan kerja (k3).3 Alat Pemeriksaan APAR Dalam usaha mencegah terjadinya gagal fungsi pada APAR. 3.1 Waktu dan Lokasi 1. 2. Pemeriksaan yang dilakukan dengan mengisi lembar checklist yang ada pada kartu inspeksi peralatan yang terdapat di tabung APAR. maka alat pemadam ini harus selalu diperiksa secara berkala. 2. Man Dinning Hall.4 Tehnik Pengumpulan Data 1.2 Metode Penelitian Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu memberikan gambaran secara jelas terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Obsevasi di Lapangan Dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang di teliti yaitu Wisma Atlit.

Untuk alat pemadam jenis busa diperiksa dengan mencampurkan sedikit larutan sodium bicarbonate dan aluminium sulfat di luar tabung. f. Bagian luar tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan lebel harus selalu dalam keadaan baik. jika beratnya sesuai dengan aslinya dapat di pasang kembali. c. Cacat pada alat perlengkapan pemadam ringan yang di temui waktu pemeriksaan. apabila cukup kuat. Untuk alat pemadam api ringan hydrocarbon berhalogen kecuali jenis tetra chloride di periksa dengan cara meninbang. 15 Wawancara dilakukan kepada pengurus gedung . Sky Air. Mulut pancar tidak boleh tersumbat dan pipa pancar yang terpasang tidak boleh retak. rusak atau tidaknya segi pengaman tabung b. 3. Pemeriksaan dalam jangka 6 ( enam) bulan meliputi dengan cara : a. maka alat pemadam api ringan tersebut dipasang kembali. . berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung .5 Prosedur Pemeliharaan APAR 1. atau menunjuk tanda-tanda rusak. d. Berisi atau tidaknya tabung. e. Pemeriksaan dalam jangka 6 (enam) bulan b. Man Dinning Hall. Cara. 3. yaitu : a.cara pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan cara lain sesuai dengan perkembangan. Pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan. harus segera di perbaiki atau alat tersebut segera di ganti dengan yang tidak cacat. 2. mengenai APAR serta upaya pencegahan dan penaggulangan kebakaran di Wisma Atlit. Setiap alat pemadam api ringan harus di periksa 2 (dua) kali dalam setahun.

16 4. Untuk alat pemadam api jenis hydrocarbon berhalogen dilakukan dengan cara :  Isi tabung harus diisi dengan berat yang ditentukan  Pipa pelepas isi yang berada dala tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu . lalu di teliti :  Isi alat pemadam api harus sampai batas permukaan yang di tentukan.  Untuk jenis cairan busa yang dicampur sebelum dimasukkan larutanya harus dalam keadaan baik  Lapisan pelindung dari tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik  Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. dan saluran penyemprotan tidak boleh tersumbat  Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak. Untuk alat pemadam api ringan jenis busa dilakukan pemeriksaan dengan membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak. dapat bergerak dengan bebas. b.  Untuk alat pemadam api jenis busa harus tahan terhadap tekanan coba sebesar 20 kg per cm2. Pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan meliputi dengan cara : a. mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan bak gasket atau packing harus masih dalam keadaan baik  Gelang tertutup kepala harus dalam keadaan baik  Bagian dalam dari alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat karena karat.  Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu  Ulir tertutup kepala tidak boleh cacat.

7. c. . 17  Ulir tutup kepala tidak boleh rusak. Isinya dikosongkan secara normal b. Untuk jenis tabung gas hydrocarbon berhalogen. b. busa. bahan kimia. Percobaan tekan ulang satu setengah kali tekanan kerja. Percobaan tekanan ulang satu setengah kali tekanan kerja. Untuk jenis cairan busa yang di campur dahulu harus diisi 2 tahun sekali. Untuk tabung selainnya diisi selambat-lambatnya 5 tahun sekali. 5. Untuk alat pemadam api ringan jenis carbon dioxide (Co2) harus dilakukan percobaan tekan dengan syarat : a. Petunjuk cara-cara pemakaian alat pemadam api ringan harus dapat dibaca dengan jelas. Untuk setiap alat pemadam api ringan dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali dan harus kuat menahan tekanan coba. b. katup kepala dibuka dan tabung serta alat-alat diperiksa. harus diisi setahun sekali. d. 8. 9. Untuk asam soda. Setiap tabung alat pemadam api ringan harus diisi kembali dengan cara : a. tabung harus diisi 3 tahun sekali. 6. Semua alat pemadam api ringan sebelum diisi kembali harus dilakukan pemeriksaan atau tindakan sebagai berikut : a. dan saluran keluar tidak boleh tersumbat  Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik  Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik  Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. Setelah seluruh isi tabung dikeluarkan .

Ulir katup harus diberi gemuk tipis. Apabila gelang tutup terbuat dari karet harus dijaga gelang tersebut tidak terkena gemuk. Bagian dalam dan luar tabung harus diteliti untuk memastikan tidak terdapat lubang – lubang atau cacat d. e. f. gelang tutup ditempatkan kembali dan tutup kepala di pasang dengan mengunci sampai kuat. 18 c. . bulan dan tahun pengisian hharus dicatat pada badan alat pemadam api ringan tersebut g. Alat pemadam api ringan di tempatkan pada posisi yang tepat. Tanggal.

1 Upaya Penggunaan Dari hasil observasi di dapat bahwa upaya Wisma Atlit. di Sky Air terdapat 20 buah APAR. Sky Air. sudah dalam keadaan bertekanan dan sebagai pendorongnya adalah gas N2+ b) Cartridge Type Dimana serbuk kimia kering jenis sodium bicarbonate atau Natrium bicarbonate diisikan kedalam tabung pemadam . dan Man Dinning Hall untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran adalah menyediakan sarana pemadam kebakaran seperti APAR. 19 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1) Alat Pemadam Api Jenis Serbuk Kimia Kering (Drychemical Powder) APAR jenis ini yang dipasang di unit-unit kerja ada 2 macam.B. dan di Man Dinning Hall terdapat 12 buah APAR. Pasca Halon.1 Pembahasan 4. APAR (alat pemadam api ringan) APAR adalah alat pemadam api berbentuk tabung (berat maksimal 16 kg) yang mudah dilayani/dioperasikan oleh satu orang untuk pemadam api pada awal terjadi kebakaran di Wisma Atlit A. APAR terdiri dari berbagai jenis yaitu serbuk kimia kering (Drychemical powder).1. Untuk jenis Foam tersebut bukan termasuk APAR karena kapasitasnya 92 liter dan biasanya ditempatkan pada besi beroda dan biasanya dioperasikan oleh 2 orang atau lebih. Co2 dan Chemical Foam.C dan D terdapat 420 buah APAR. yaitu : a) Stored Pressure Type Dimana serbuk kimia kering jenis monnex diisikan kedalam tabung pemadam. a. BCF (Halon 1211).

APAR jenis Halon 1211 (BCF) biasanya dipasang di dinding-dinding kantor dan efektif digunakan pada ruangan. Sky Air dan Man Dinning Hall. sedang sebagai pendorong serbuk digunakan CO2 yang di simpan dalam cartridge. o Pen pengaman (safety pin) harus terpasang benar. Adapun pemeriksaan meliputi : a) Segel pengaman o Kawat segel pengaman tidak putus/kondisi desegel. 2) Alat pemadam api jenis Asam Arang (CO2) APAR jenis gas asam arang (CO2) biasanya dipasang di panel- panel listrik di seluruh area yang berpotensi menimbulkan bahaya. Sky Air dan Man Dinning Hall dilakukan 2 kali dalam 1 tahun yaitu pemeriksaan setiap 6 bulan dan pemekriksaan 12 bulan sekali. b) Alat pancar o Tuas atau pengatup untuk pengoperasian APAR (operating lever) harus dalam kondisi baik . biasanya di pasang di dinding-dinding kantor b. 3) Halon 1211 (BCF) Di Wisma Atlit. 4) Alat Pemadam Api jenis Gas Pasca Halon Gas Pasca Halon (PH) ini merupakan bahan pengganti halon. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. APAR Pemeriksaan APAR di Wisma Atlit. Penyediaan APAR jenis serbuk kering tersebar diberbagai area dan penempatanya telah disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada. karena dalam pemadam kebakaran bersifat mengisolir oksigen. 20 tidak dalam keadaan tertekan. 1) Pemeriksaan setiap bulan. pemeriksaan tersebut dilaksanakan oleh seksi perawatan dari bagian PMK. o Rantai pen pengaman (bila ada) harus terpasang dengan benar.

o Nomor inventaris Apar. cat kembali bila perlu o Isi tabung dapat dilihat pada petunjuk tekanan d) Kartu Pemeriksaan o Plastik pembungkus kartu pemeriksaan tidak robek/bocor o Hindari kartu pemeriksaan dari air dan kotoran o Pengisian kartu sesuai jadwal pemeriksaan. perbaiki dan cat kembali bila perlu) o Plastik pembungkus Apar bila rusak diganti baru. mungkin isinya kurang atau menjadi penggumpalan . harus sesuai dengan nomor penempatan 2) Pemeriksaan setiap 6 bulan a) Jenis serbuk kimia kering (Drychemical Powder) o Memeriksa kondisi serbuk. diberi tanggal dan ditanda tangani o Setiap apar harus dilengkapi dengan kartu pemeriksaan. 21 o Handel pegangan untuk menenteng APAR (carrying hadle) harus dalam kondisi baik o Selang pancar (hose) tidak bocor atau pecah o Mulut pancar atau corong dan nosel (horn and nozzle) tidak tersumbat o Seal pengaman pada mulut pancar tidak robek/Apar bekas digunakan. e) Penempatan Apar o Tempatkan Apar 120 cm dari permukaan lantai o Posisi Apar tidak terhalang dan mudah di jangkau o Setiap Apar diberi tanda segitiga warna merah scochlight o Kotak apar ( bila ada. c) Tabung o Tabung tidak terkorasi atau cacat.

5 kali tekanan kerja. o Memeriksa kondisi tabung. bila terkorosi ringan di bersihkan dan dicat kembali. pemadam dinyatakan afkir. Tekan tuas untuk mengeluarkan isi APAR . lakukan penimbangan APAR.bila berkurang berat semula. Penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) 1.5 kali tekanan kerja dan uji tekanan berikutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun. memeriksa kondisi cartridge. Arahkan selang ke titik pusat api 3. Untuk APAR jenis CO2 harus dilakukan uji tekan dengan syarat: o Uji tekan pertama minimal 1. bila berkorosi berat diganti dengan yang baru. o Apabila Apar berjenis Storage pressure . maka harus diuji tekan sebesar 1.5 tekanan kerja o Uji tekanan pertama tidak boleh lebih dari 10 tahun. apabila berat totalnya kurang 10% dari berat semula (biasanya tertera dalam tabung) maka CO2 cartridge harus diganti baru. o Uji tekan ulang 1. kemungkinan rusak atau tersumbat. o Memerika mulut pancar. Tarik/lepas pin pengunci tuas APAR 2. b. apabila beratnya kurang 10% diganti dengan yang baru. b) Jenis gas Asam Arang/ Carbon Dioxide/CO2 Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang tabung gas asam arang dari Apar tersebut. 22 o Apabila Apar berjenis cartridge. sedang uji tekan berikutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun o Apabila sewaktu dilakukan pemeriksaan rutin terdapat cacat karena karat.

Pemasangan ada yang digantung. Man Dinning Hall yang terdiri dari Drychemical Powder. kaca. Serta penggunaan tanggal Expired APAR masih berlaku yang masing-masing APAR rutin dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan. Sapukan secara merata sampai api padam dengan cara gerakkan ujung pipa kekiri dan kekanan untuk menyebarkan bahan pemadam api yang keluar dari tabung. penyediaan APAR dari cheklis inspeksi K3 di dapat. supaya media isi APAR yang sudah lama tidak digunakan bisa beroperasi dengan optimal. Sky Air.Berhati-hati terhadap sambaran balik api. . Halon 1211 (BDF). tersedianya 452 APAR di area Wisma Atlit. atau kode dan petunjuk.APAR di uji coba terlebih dahulu sebelum dipergunakan . harus selalu waspada. 23 4. Yang perlu diperhatikan : . . nomor urut. hammer. Tinggi tanda tersebut adalah ± 125 cm. Pasca Halon dan CO2 . 4.Selalu bersiap dan sigap untuk mundur kebelakang menghindari api .Ada APAR yang perlu dibalik terlebih dahulu sebelum dipergunakan.Pastikan ruang gerak cukup untuk mendekati api . Disetiap sudut dan dinding kantor sudah diberi APAR dengan penempatanya dilengkapi dengan tanda segitiga bertuliskan “Alat Pemadam Api” dan dilengkapi dengan kotak. caranya dengan menyemprotkan terlebih dahulu APAR ke udara sebelum mengoperasikan ke area terbakar.Posisi harus membelakangi arah angin. dan suhu pemasangan APAR ± 270C.Selalu memadamkan api dengan jarak maksimum antara tabung APAR mengarah langsung ke api .3 Hasil Dari hasil observasi dan wawancara diperoleh. ditempatkan dalam box dan ada pula yang ditempatkan . Tinggi pemasangan APAR ± 120 cm.Bergerak merunduk .

04/Men/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR yang dinyatakan bahhwa : a. Penempatan antara alat pemadam api yang satu dengan lainya atau kelompok satu dengan lainya tidak boleh melebihi 15 meter. Dilarang memasang dan menggunakan alat pemadam api ringan yang didapati sudah berlubang-lubang atau cacat karena karat. Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran d. Setiap alat pemadam api ringan harus dipasang (ditempatkan) menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau dengan kontruksi penguat lainya atau ditempatkan dalam lemari atau peti (box) dapat dikunci. Setiap satu kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas. 24 dalam rak yang terbuat dari besi. Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut adalah 125 cm dari dasar lantai tepat diatas satu atau kelompok alat pemadam api ringan yang bersangkutan c. Semua tabung alat pemadam ringan sebaiknya berwarna merah f. Lemari atau peti (box) dapat dikunci dengan syarat bagian depanya harus diberi kaca aman (safety glass) dengan tebal maximum 2mm . kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan b. e. Dalam pemasangan tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi No. g. karena apabila di didapati kondisi tabung dan cat yang rusak segera dilakukan perbaikan. Per. h.

Sengkang atau kontruksi penguat lainya tidak boleh dikunci atau digembok atau diikat mati. 25 i. Ukuran panjang dan lebar bingkai kaca aman (safety glass) harus disesuaikan dengan besarnya alat pemadam api ringan yang ada dalam lemari atau peti (box) sehingga mudah dikeluarkan. j. .

pemasanganya telah disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada. Sky Air dan Man Dinning Hall penulis menyimpulkan sebagai berikut : 1. Per. Ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi No. 2. 5.04/Men/1980 tentang syarat-syarat dan pemeliharaan APAR. APAR belum dilengkapi dengan tanda sebaiknya diberi tanda supaya pekerja mengetahui apabila di tempat tersebut terpasang APAR. Halon 1211/BCF yang terpasang di gedung sebaiknya segera diganti dengan jenis yang lebih ramah lingkungan. Pemeriksaan dan pemeliharaan APAR di Wisma Atlit. 26 BAB V PENUTUP 5. Di Wisma Atlit.04/Men/1980 tentang syarat-syarat dan pemeliharaan APAR. Per. 2. sehingga APAR tersebut dimanfaat untuk menanggulangi apabila terjadi kebakaran. Sky Air dan Man Dinning Hall dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran telah di pasang APAR sebagai upaya penanggulangan awal terjadinya kebakaran yang terpasang disetiap area . karena unsur BCF berdampak negatif pada lingkungan . Sky Air dan Man Dinning Hall di lakukan 2 kali 1 tahun yaitu pemeriksaan dalam jangka 6 bulan dan pemeriksaan dalam jangka 12 bulan hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi No.2 Saran Penulis mencoba memberikan saran-saran sebagai masukan kepada perusahaan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya untuk meningkatkan pencegahan dan penaggulangan bahaya kebakaran adapun saran-saranya antara lain : 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil hasil observasi dan pembahasan mengenai usaha pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang telah dilakukan di Wisma Atlit.

Hendaknya Pemeriksaan APAR dilakukan sesering mengkin agar semua alat APAR tidak mengalami kerusakan dan bisa digunakan pada saat terjadi kebakaran. . 27 3.

Kepmenaker RI No. 1995. Permenakertrans No. DAFTAR PUSTAKA Anizar. 1995. SNI. Training K3 Bidang Penanggulangan Kebakaran. Nasional Fire Protection Association.1998. 1985. 03-3987: Tata Cara Perencanaan. Jakarta: Sagung Seto. 02/ KPTS/1985 Tentang Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan Gedung.Jakarta : Depertemen Tenaga Kerja. Standar Portable Fire Extinguisher. 2009. KEP-186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.2008. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Jakarta : Prestasi Pustaka. 2004. RI. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Pemasangan Pemadam Api Ringan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung. Yogyakarta: Graha Ilmu. Suma’mur. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta Depnaker.Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. . Per. Kansas. Surabaya : Erlangga Santoso Gempur. Tehnik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri.J. Departemen Pekerjaan Gedung.2009. Ridley. Undang-undang No.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan Dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.

Sky Air. Prosedur Pemeliharaan APAR 10. Alat Pemeriksaan APAR Dalam usaha mencegah terjadinya gagal fungsi pada APAR.LAMPIRAN 1. 12. 11. Cacat pada alat perlengkapan pemadam ringan yang di temui waktu pemeriksaan. Pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan. Man Dinning Hall. Sky Air. Pemeriksaan dalam jangka 6 ( enam) bulan meliputi dengan cara : . C. Tehnik Wawancara Wawancara dilakukan kepada pengurus gedung . Setiap alat pemadam api ringan harus di periksa 2 (dua) kali dalam setahun. Pemeriksaan dalam jangka 6 (enam) bulan d. Man Dinning Hall. 4. B. Tehnik Pengumpulan Data 3. Laporan Praktikum Pemeriksaan APAR Di Jakabaring Sport City Palembang A. yaitu : c. Pemeriksaan yang dilakukan dengan mengisi lembar checklist yang ada pada kartu inspeksi peralatan yang terdapat di tabung APAR. maka alat pemadam ini harus selalu diperiksa secara berkala. mengenai APAR serta upaya pencegahan dan penaggulangan kebakaran di Wisma Atlit. harus segera di perbaiki atau alat tersebut segera di ganti dengan yang tidak cacat. Obsevasi di Lapangan Dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang di teliti yaitu Wisma Atlit.

k. Mulut pancar tidak boleh tersumbat dan pipa pancar yang terpasang tidak boleh retak.cara pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan cara lain sesuai dengan perkembangan. maka alat pemadam api ringan tersebut dipasang kembali. atau menunjuk tanda-tanda rusak. Untuk alat pemadam api ringan hydrocarbon berhalogen kecuali jenis tetra chloride di periksa dengan cara meninbang. dan saluran penyemprotan tidak boleh tersumbat  Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak. Untuk alat pemadam jenis busa diperiksa dengan mencampurkan sedikit larutan sodium bicarbonate dan aluminium sulfat di luar tabung.  Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu  Ulir tertutup kepala tidak boleh cacat. g. dapat bergerak dengan bebas. 13. i. berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung . jika beratnya sesuai dengan aslinya dapat di pasang kembali. mempunyai rusuk atau sisi . j. Pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan meliputi dengan cara : c. l. lalu di teliti :  Isi alat pemadam api harus sampai batas permukaan yang di tentukan. Bagian luar tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan lebel harus selalu dalam keadaan baik. Untuk alat pemadam api ringan jenis busa dilakukan pemeriksaan dengan membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak. rusak atau tidaknya segi pengaman tabung h. apabila cukup kuat. Cara. Berisi atau tidaknya tabung.

 Untuk jenis cairan busa yang dicampur sebelum dimasukkan larutanya harus dalam keadaan baik  Lapisan pelindung dari tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik  Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. Untuk alat pemadam api ringan jenis carbon dioxide (Co2) harus dilakukan percobaan tekan dengan syarat : . yang tajam dan bak gasket atau packing harus masih dalam keadaan baik  Gelang tertutup kepala harus dalam keadaan baik  Bagian dalam dari alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat karena karat. Untuk setiap alat pemadam api ringan dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali dan harus kuat menahan tekanan coba. Untuk alat pemadam api jenis hydrocarbon berhalogen dilakukan dengan cara :  Isi tabung harus diisi dengan berat yang ditentukan  Pipa pelepas isi yang berada dala tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu  Ulir tutup kepala tidak boleh rusak. d. 14. dan saluran keluar tidak boleh tersumbat  Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik  Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik  Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya. 16. Petunjuk cara-cara pemakaian alat pemadam api ringan harus dapat dibaca dengan jelas.  Untuk alat pemadam api jenis busa harus tahan terhadap tekanan coba sebesar 20 kg per cm2. 15.

busa. g. Isinya dikosongkan secara normal i. j. . Untuk asam soda. l. Untuk jenis cairan busa yang di campur dahulu harus diisi 2 tahun sekali. gelang tutup ditempatkan kembali dan tutup kepala di pasang dengan mengunci sampai kuat. harus diisi setahun sekali. f. bahan kimia. bulan dan tahun pengisian hharus dicatat pada badan alat pemadam api ringan tersebut n. d. Bagian dalam dan luar tabung harus diteliti untuk memastikan tidak terdapat lubang – lubang atau cacat k. Untuk tabung selainnya diisi selambat-lambatnya 5 tahun sekali. Untuk jenis tabung gas hydrocarbon berhalogen. 17. Percobaan tekan ulang satu setengah kali tekanan kerja. Ulir katup harus diberi gemuk tipis. 18. Percobaan tekanan ulang satu setengah kali tekanan kerja. Semua alat pemadam api ringan sebelum diisi kembali harus dilakukan pemeriksaan atau tindakan sebagai berikut : h. c. h. Setiap tabung alat pemadam api ringan harus diisi kembali dengan cara : e. katup kepala dibuka dan tabung serta alat-alat diperiksa. Tanggal. Alat pemadam api ringan di tempatkan pada posisi yang tepat. m. tabung harus diisi 3 tahun sekali. Apabila gelang tutup terbuat dari karet harus dijaga gelang tersebut tidak terkena gemuk. Setelah seluruh isi tabung dikeluarkan .

NH3 1. akan membentuk senyawa komplek indofenol yang berwarna biru. b) Larutan diencerkan hingga 1000 mL lalu homogenkan. Bahan a) Masukkan 3 mL H2SO4 97% ke dalam labu ukur 1000 mL yang telah berisi kurang lebih 200 mL air suling dingin yang diletakkan dalam penangas air es. Prinsip Amoniak dari udara ambien yang telah dijerap oleh larutan asam sulfat. d. Pengambilan contoh uji NH3 a. akan membentuk amonium sulfat. Hidupkan pompa penghisap udara dan atur laju alir 1 liter/menit sampai 2 liter/menit. Peralatan a) Peralatan pengambilan contoh uji amonik (setiap unit peralatan disambung dengan selang silikon dan tidak mengalami kebocoran) . Setelah 1 jan catat laju alir akhir (f2) dan kemudian matikan pompa penghisap. Lakukan pengambilan contoh uji selama satu jam dan catat temperatur dan tekanan udara e. Laporan Praktikum Pemeriksaan Kimia Udara Di Instalasi Kimia Udara BTKL PP Palembang A. 2. Kemudian direaksikan dengan fenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa. Masukkan larutan penjerap sebanyak 10 ml ke dalam botol penjerap. 4.LAMPIRAN 2. Temlpatkan botol penjerap sedemikian rupa sehingga terlindungi dari hujan dan sinar matahari secara langsung c. Susun peralatan pengambilan contoh uji b. Intensitas warna biru yang terbentuk diukut dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm. Setelah stabil catat laju alir awal (f1). 3.

1000 ml. 760 mmHg F1 : laju alir awal (L/menit) F2 : laju alir akhir (L/menit) t : waktu pengambilan contoh uji (menit) Pa : tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta : temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (0K) 298 : temperature pada kondisi normal 25 0C (0K) 760 : tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg) . Perhitungan V= F1 + F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760 Dengan pengertian : V : voleme udara yang di hisap dikoreksi pada kondisi normal 250C. 1 ml. dan 1000 ml d) Pipet volumetrik 0.1 mg k) Buret 50 ml l) Labu erlenmeyer 250 ml m) Kaca arloji n) Desikator o) Oven p) Termometer q) Barometer dan r) Penagas air 5. 5 ml.5 ml. dan 20 ml e) Pipet mikkro 1 ml f) Gelass ukur 100 ml g) Gelas piala 100 ml. b) Prefilter c) Labu ukur 100 ml. dan 2000 ml h) Tabung uji 25 ml i) Spektrofotometer j) Timbangan analitik dengan ketelitian 0. 500 ml.

Pengambilan Contoh Uji a) Susun peralatan pengambilan contoh uji b) Masukkan larutan penjerat Griess Saltzman sebanyak 10 mL kedalam botol penjerap. . 3. kemudian encerkan dengan air suling sampai tanda tera lalu homogenkan.1 g NEDA dengan air suling kedalam labu ukur 100 mL. e) Setalah 1 jam catat laju alir akhir (F2) dan kemudian matikan pompa penghisap.B. d) Larutan induk N-(1 naftil)-etilendiamil dihidroklorida (NEDA.4 L/menit. 2. 2) Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol coklat dan simpan dilemari pendingin. b) Larutan asam asetat glassial (CH3COOH pekat). c) Air suling bebas nitrit. f) Analisis dilakukan dilapangan segera setalah pengambilan contoh uji. c) Hidupkan pompa penghisap udara dan atur kecepatan alir 0. f) Larutan penjerap Griess Saltzman. e) Aseton (C3H6O). Bahan a) Hablur asam sulfanilat (H2NC6H4SO3H). d) Lakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan catat temperatur dan tekanan udara. Konsentrasi larutan ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 550 nm. NO2 1. Atur botol penjerap agar terlindungi dari hujan dan sinar matahari langsung. Prinsip Gas Nitrogen Dioksida dijerap dalam larutan Griess Saltzman sehingga membentuk suatu senyawa azzo dye beerwarna merah muda yang stabil setelah 15 menit. setelah stabil catat laju alir awal (F1). C12H16CL2N2). 1) Larutkan 0.

0. 500 mL dan 1000 mL f) Tabung uji 25 mL g) Spaktrofotometer dilengkapi kuvet h) Neraca analitik dengan ketelitian 0. 0. 0.1 mL. 4.0 mL atau buret mikro d) Gelas ukur 100 mL e) Gelas piala 100 mL. Peralatan a) Peralatan pengambilan contoh uji NO2 b) Labu ukur 100 mL dan 1000 mL c) Pipet mikro 0. 0. h) Larutsan standar nitrit NO2. 0.6 mL. g) Larutan induk nitrit (NO2) 1640 μg/mL.0 mL.82) 10/1000 : faktor pengenceran dari larutan induk NaNO2 106 : konversi dari gram ke μg .4 mL.2 mL. dan m) Kaca arloji 5.8 mL dan 1. Perhitungan NO2 = a x 46 x 1 x 10 x 106 100 69 f 1000 Dengan Pengertian : NO2 : jumlah NO2 dalam larutan standar NaNO2 (μg/mL) a : berat NaNO2 yang ditimbang (g) 46 : berat molekul NO2 69 : berat molekul NaNO2 F : faktor yang menunjukkan jumlah mol NaNO2 yang menghasilkan warna yang setara dengan 1 mol NO2 (nilai f = 0.1 mg i) Oven j) Botol pyrex berwarna gelap k) Desikator l) Alat destilasi.

c) Pipet volumetrik 1 ml. 3. SO2 1. Konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang 550 mm. catat laju alir akhir F2 (L/menit) dan kemudian matikan pompa penghisap. b) Tambahkan berturut-turut 5. c) Pindahkan kedalam labu ukur 1000 mL. Setelah 1 jam. Bahan a) Larutkan 10. kedalam senyawa diklorosulfanatomerkurat maka terbentuk senyawa pararosanilin metil sulfonat yang berwarna ungu. b) Pengambilan contoh uji selama 24 jam c) Lakukan pengambilan contoh uji selama 24 jam dan catat temperature dan tekanan udara. 5 ml. 100 ml. d) Gelas ukur 100 ml e) Gelas piala 100 ml. dan 1000 ml f) Tabung uji 25 ml . 2. dan 50 ml.96 g kalium klorida (KCL) dan 0. encerkan dengan air suling hingga tanda tera lalu homogenkan. catat laju alir akhir F2 (L/menit) dan kemudian matikan pompa penghisap. 250 ml.C. 2 ml. Pengambilan Contoh Uji Selama 1 jam : a) Lakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan catat temperature dan tekanan udara.86 g merkuri (II) klorida (HgCL2) dengan 800 mL air suling kedalam gelas piala 1000 mL.066 g EDTA [(HOCOCH2) 2N(CH2) 2N(CH2COONa) 2. lalu aduk sampai homogen. Prinsip Gas sulfur dioksida (SO2) diserap dalam larutan penjerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks lorodiklorosulfanatomerkurat. 250 ml. Setalah 24 jam. 500 ml. Dengan menambahkan larutan pararosanilin dan formaldehida.2H2O)]. dan 1000 ml. Peralatan a) Peralatan pengambilan uji SO2 b) Labu ukur 50 ml. 500 ml. 4.

dan p) Botol pereaksi 5. Pengambilan contoh uji a) Susun peralatan pengambilan contoh uji b) Masukkan larutan penjerap sebanyak 10 mL kedalam botol penjerap tempatkan botol penjerap sedemikian rupa sehingga terlindungi dari hujan dan sinar matahari secara langsung . g) Spektrofotometer UV-Vis dilengkapi kuvet h) Timbangan analitik dengan ketelitian 0. Perhitungan V = F1 + F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760 Dengan Pengertian : V : volume udara yang dihisap (L) F1 : laju alir awal (L/menit) F2 : lajun alir akhir (L/menit) t : durasi pengambilan contoh uji (menit) Pa : tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta : temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K) 298 : temperatur pada kondisi normal 25oC (K) 760 : tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg) D.1 mg i) Buret 50 mL j) Labu erlenmeyer asah bertutup 250 mL k) Oven l) Kaca arloji m) Termometer n) Barometer o) Pengaduk. H2S 1.

Prinsip Hidrogen sulfida dari udara ambien yang telah dijerat oleh larutan penjerat kadmium sulfat pada saat pengambilan contoh uji dilapangan.8 g NaOH dalam 250 mL air suling. c) Hidupkan pompa penghisap udara dan atur laju alir sehingga tidak melebihi 1. 1000 mL c) Pipet volumetrik d) Pipet tetos e) Gelas ukur 100 ml f) Gelas piala 100 ml. Bahan a) Lakukan masing-masing secara terpisah 4. Catat P (dengan menggunakan 10 mL larutan air suling dalam botol larutan penjerap d) Untuk pengambilan contoh uji. lakukan hal yang sama dengan menggunakan larutan penjerap. 4. 250 mL. direaksikan dengan P-amino di metil analin dan besi III klorida dalam suasana asam kuat sehingga membentuk senyawa biru metilen yang diukur absorbansinya pada panjang gelombang 670 mm. Campurkan kedua larutan tersebut ke dalam gelas piala 1000 mL kemudian tambhakan 10 g arabinogalaktan. 500 ml.3 g CdSO4 dan 1. pengambilan contoh uji maksimum selama 2 jam e) Catat rata-rata temperatur dan tekanan udara. dan 2000 ml g) Tabung uji 25 ml h) Spektrofotometer dilengkapi kuvet i) Timbangan analitik dengan ketelitian 4 desimal j) Buret 50 ml k) Labu Erlenmeyer 250 ml . 2. b) Encerkan larutan dengan air suling hingga 1000 mL lalu aduk hingga homogen. Peralatan a) Peralatan pengambilan contoh uji H2S b) Labu ukur 25 mL. 3.5 L/menit sampai stabil. 100 mL.

l) Desikator m) Oven n) Termometer dan o) Barometer 5. dan lanjutkan titrasi sampai titik akhir (warna biru tepat hilang). O3 (Ozon) 1. 760 mmHg (L) F : laju alir ( L/menit) T : waktu pengambilan contoh uji (menit) Pa : tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta : temperature rata-rata selama pengambilan contoh uji (0K) 298 : nilai temperature normal (0K) 760 : nilai tekanan normal (mmHg) E. Perhitungan V = F x t x Pa x 298 Ta 760 Dengan pengertian : V : volume contoh udara yang dihisap dalam kondisi normal pada 250C. Catat volume larutan penitar yang diperlukan f) Hitung normalitas natrium tiosulfat 2. Prinsip .35 g kalium iodat yang telah dipanaskan pada suhu 180 0 C selama 2 jam kedalam labu ukur 100 ml dan tambahkan air suling sampai tanda tera b) Pipet 25 ml larutan KLO3 diatas kedalam labu Erlenmayer c) Tambahkan satu gran KL dan 10 ml HCl (1:10) d) Titrasi dengan natrium tiosulfat sampai warna larutan kuning muda e) Tambahkan 5 ml indikator kanji. Pengambilan Contoh Uji a) Larutkan 0.

dan 1000 ml c) Pipet volumemetrik 0.6 g kalium hydrogen fosfat (KH2PO4) dengan 500 mL air suling dalam gelas piala. 500 ml.2 menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) 1% (b/v) atau asam fosfat (H3PO4) 1% (b/v). Bahan a) Larutkan 10 g kalium iodide (KI) dalam 200 mL air suling. 4. Perhitungan a) Jumlah oksidan dalam larutan standar ion .8 ± 0. e) Kemudian atur pH pada 6.1 mg i) Buret 50 ml j) Desikator k) Labu erlenmayer 250 ml l) Oven m) Termometer dan. 1 ml. 25 ml. b) Pada tempat yang lain larutkan 35. n) Barometer 5. dan 50 ml d) Gelas ukur 100 ml e) Gelas piala 100 ml dan 1000 ml f) Tabung uji 10 ml g) Spektrofotometer UV-Vis dilengkapi kuvet h) Neraca analitik dengan ketelitian 0. Oksidan dari udara ambien yang telah dijerap oleh larutan NBKI dan bereaksi dengan ion iodida membebaskan iot (l2) yang berwarna kuning muda. Konsentrasi larutan ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 352 nm. d) Encerkan larutan ini sampai volum 1000 mL dalam labu ukur dan diamkan selama paling sedikit 1 hari.82 g dinatrium hydrogen fosfat dodekahidrat (Na2HPO4.12H20) dan 13. 2 ml.5 ml. Peralatan a) Peralatan pengambil contoh uji oksidan b) Labu ukur 100 ml. 3. c) Tambahkan larutan kalium iodida sebagai larutan penyangga sambil diaduk sampai homogeny.

8 μ/ml) dibagi dengan normalitas Iod 0.05 N b) Volume contoh uji udara yang di ambil V = F1 + F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760 Dengan pengertian : V = volume udara yang dihisap di koreksi pada kondisi normal 250C.05 N hasil standarisasi 16 : jumlah ekivalen O3 (0. 760 mmHg F1 = laju alir awal (L/menit) F2 = laju alir akhir (L/menit) T = durasi pengambilan contoh (menit) Pa = tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta =temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (0K) 0 298 = konfersi temperature pada kondisi normal (25 C) kedalam kelvin 760 = tekanan udara standar (mmHg) . O3 = 16 x N2 Dengan pengertian O3 : jumlah oksidan (μg) N2 : normalitas Iod 0.

5 Kelembapan B-T B-T B-T Arah angin 0.6 0.2 53.6 54.1 CO 2.3 Kebisingan 54.3 μ/nm3/jam 60. Hasil Pengukuran Kualitas Udara Ambien di Jakabaring Bagian Timur sky Bagian tengah volume Hasil barat sky air sky air air 27.6 PM 10 .8 0C 33 34 Suhu 72.5 Kecepatan angin 51.6 μ/nm3/jam 2.0 14.1 1280.5 uls 0.2 μ/nm3/jam 34.9 5.3 33.4 O3 24.6 μ/nm3/jam 12.1 60 58.F.2 dB 52.2 NO2 1280.2 μ/nm3/jam 1280.3 SO2 13. Hasil Pengukuran Tabel 5.

Pemeriksaan jentik pada instalasi entomologi .LAMPIRAN 3. DOKUMENTASI Gambar 1. Penjelasan penengkapan nyamuk pada saat di instalasi entomologi Gambar 2.

Pengukuran Kimia Udara dengan alat epinjer gas sempler di Jakabaring Sport City Palembang . Pemeriksaan Angka Kuman di udara di instalasi biologi Gambar 4. Gambar 3.

Gambar 5. Pemeriksaa APAR pada Wisma Atlit Gambar 6. Penggunaan APD di Instalasi K3 Gambar 6. Pemeriksaan air bersih pada instalasi kimia air .

Lembar cheklish pemeriksaan APAR Instalasi K3 .Gambar 7.