You are on page 1of 10

Diagnosis dan Tatalaksana Osteoatrhtritis

Oleh: Kelompok F3

Ryan Samuel Pierre Palenewen 102011315

Dewi Suryanti 102013198

Yesi Manise 102014202

Krobilianto 102015022

Valentina Salim 102015044

Harry Sondrio Wibowo 102015109

Siti Tiara romadini 102015152
Priska Febriandini Putri 102015196

Deamira Meralda 102015237

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510

Telp. 021-56942061, Fax. 021-56731731

Abstrak

Semakin bertambah tua usia, tubuh semakin mengalami penurunan, mulai dari kualitas sel hingga
fungsi tubuh. Demikian juga, semakin bertambahnya usia, tubuh kita akan menjadi lebih rentan
terhadap penyakit, terutama penyakit degenerative. Osteoartritis adalah salah satu penyakit
degenerative sendi yang sering ditemui. Penyakit seperti ini hanya bisa dicegah, jika sudah terjadi,
maka tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan kondisi patologis.

Kata kunci: osteoarthritis, degenerative, sendi

Abstract

As soon as we grow old, our body function and quality start to decrease. As we grow old, our body
will become more vunerable to disease, such as degenerative disease. Osteoarthritis is some of joint’s
degenerative disease that we often see. A disease like osteoarthritis can not be cured, all we can do is
to prevent.

Keywords : osteoarthritis , degenerative, joint
Pendahuluan

Osteoartritis atau yang umumnya disebut ‘pengapuran sendi’, merupakan salah satu
masalah kesehatan yang banyak dijumpai di masyarakat belakangan ini. Hal ini dapat

1

Cairan sendi yang terbentuk biasanya akan menumpuk di sekitar daerah kapsul sendi yang resistensinya paling lemah dan mengakibatkan bentuk yang khas. Perubahan gaya hidup yang ingin semua serba cepat. Pada perabaan dengan menggunakan punggung tangan akan dirasakan adanya kenaikan suhu disekitar sendi yang mengalami inflamasi. ataupun berjalan. juga menjadi salah satu faktor pemicu timbulnya osteoartritis. untuk mengetahui secara lengkap dan jelas.2 2 . jongkok. Gangguan fungsional akan sangat memberatkan penderita osteoartritis. penurunan kekuatan otot. Penyakit ini sangat sering dijumpai pada pasien dengan usia di atas 50 tahun. kenaikan suhu sekitar sendi. Krepitus halus merupakan krepitus yang dapat didengar dengan menggunakan stetoskop dan tidak dihantarkan ke tulang di sekitarnya. diagnosis dan lain sebagainya. dimana penderita mengalami kesulitan pada saat bangkit dari duduk. dapat teraba krepitus pada waktu lutut difleksikan atau diekstensikan. Gambaran radiologis osteoartritis di Indonesia cukup tinggi. nodul. Osteoartritis merupakan salah satu penyakit degeneratif dan bersifat progresif.5% pada pria dan 12. Perempuan tersebut diduga mengalami osteoartritis. pola hidup masyarakat juga ikut mengalami perubahan. suaranya dapat terdengar dari jauh tanpa stetoskop dan dapat diraba sepanjang tulang. seorang seorang perempuan 60 berobat dengan keluhan nyeri pada kedua lutut sejak 2 tahun yang lalu. Bengkak sendi dapat disebabkan oleh cairan. Maka dari itu. dan berbagai aktivitas yang membebani lutut. Keadaan ini ditemukan pada radang sarung tendon. terutama pada sendi-sendi penyangga tubuh. nyeri raba.1.1 Krepitus merupakan bunyi berderak yang dapat diraba sepanjang gerakan struktur yang terserang. Keadaan ini akan semakin buruk bila terjadi pada usia lanjut akibat terjadinya perubahan hormonal yang memicu semakin cepatnya proses degenerasi struktur persendian. krepitus. naik-turun tangga. Keadaan ini disebabkan kerusakan rawan sendi atau tulang. baik dalam hal transportasi maupun pola makan. dan gangguan fungsi. Seiring dengan perkembangan jaman. Pada krepitus kasar. berdiri. khususnya sendi lutut.7% pada wanita. Sesuai dengan skenario. penulis akan membahas tentang osteoartritis mulai dari anamnesis. Pada waktu palpasi lutut. mencapai 15. bursa atau sinovia. Hal ini menunjukkan rawan sendi misalnya pada osteoartritis. jaringan lunak atau tulang. bengkak sendi. Aktivitas fisik yang kurang disertai kelebihan berat badan berpotensi menimbulkan pembebanan sendi yang semakin besar.diakibatkan oleh adanya perubahan pola hidup dan peningkatan usia harapan hidup penduduk Indonesia. Beberapa tanda yang dapat ditemukan pada penderita osteoartritis adalah perubahan gaya berjalan dan postur tubuh. pemeriksaan fisik.

bila terdapat kecocokan maka ahli tersebut dapat menentukan jenis penyakitnya.3 I. Reumatoid Artritis (RA)1. Differential Diagnosis Differential diagnosis atau diagnosis pembanding merupakan diagnosis yang dilakukan dengan membanding-bandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda klinis penyakit lain. kemudian menentukan diagnosis penyakit pasien tersebut sehingga dapat memberi pengobatan yang tepat dengan jenis penyakit (etiologik) maupun gejalanya (simptomatik). Proses diagnosa adalah proses yang dilakukan seorang ahli kesehatan untuk menentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. terutama pada perempuan. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan gejala yang dialami pasien. Semua gejala yang teramati kemudian dibandingkan dengan pengetahuan menenai penyakit dan ciri-cirinya yang dimiliki ahli tersebut. insidens puncak adalah antara usia 40 hingga 60 tahun. Insidens meningkat dengan bertambahnya usia. Reumatoid artritis kira-kira 2½ kali lebih sering menyerang perempuan dari pada laki-laki. Pannus tersebut akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang sehingga akan berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melakukan proses fagositosis yang menghasilkan enzim–enzim dalam sendi untuk memecah kolagen sehingga terjadi edema proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi.4 Suatu penyakit autoimun dimana persendian secara simetris mengalami peradangan. sehingga terjadi pembengkakan. Gejala yang ditimbulkan : 3 . pasien bias dicurigai menderita beberapa penyakit seperti: a.Diagnosis Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menangani suatu penyakit. Keadaan penyakit yang diderita dapat juga di ukur dengan memperhatikan gejala klinis.3 Diagnosa dilakukan berdasarkan prinsip bahwa suatu penyakit dapat dikenali dengan memperhatikan ciri gejala klinis pada tubuh pasien yang ditimbulkan penyakit tersebut.

siku. tofi merupakan penimbunan asam urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia. Arthritis yang simetris 5. Tofi terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu namun kemudian menghilang. Pada RA juga bisa disertai dengan demam. Tofi sering pecah dan agak sulit disembuhkan dengan obat sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder. Sering timbul di tulang rawan telinga sebagai benjolan keras. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan 4. Daerah khas yang paling sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari kaki sebelah dalam. 1. dan batu ginjal yang disebabkan karena terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Kekakuan pagi hari (lamanya paling tidak 1 jam) 2. B. Serangan seringkali terjadi pada malam hari. Penetapan diagnosis gout berdasarkan Subkomite The American Rheumatism Association: A. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10 tahun setelah serangan arthritis pertama. Sendi lutut sendiri juga merupakan predileksi kedua untuk serangan ini. Tofi seringkali terbentuk pada daerah telinga.4 Secara klinis. lutut. disebut podagra. dorsum pedis. Faktor reumatoid dalam serum 7. Arthritis pada tiga atau lebih sendi 3. tofi. Artritis Pirai (Gout)1. dan nafsu makan berkurang b. gout ditandai dengan timbulnya artritis. kemerahan. Manifestasi klinik selanjutnya adalah tofi. dan jaringan lunak. Bagian ini tampak membengkak. dan sebagainya. lemah. dan nyeri sekali bila disentuh. Nodul reumatoid 6. Tofi itu sendiri tidak sakit tapi dapat merusak tulang. Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi. dekat tendo Achilles pada metatasofalangeal digiti I. bursa. 4 . tulang rawan. Perubahan-perubahan radiologic (erosi atau dekalsifikasi tulang) 8.

genetik. Diagnosis lain. C. Hiperurisemia i. Etiologi Osteoartritis masih belum dapat diketahui secara jelas. suku bangsa. Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari c. Oligoarthritis (jumlah sendi meradang kurang dari 4) d. Kemerahan di sekitar sendi yang meradang e. jenis kelamin. panggul. berjalan progresif lambat. Penyakit ini bersifat kronik. Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut b. cedera sendi.5 Berdasarkan gejala-gejala yang timbul dapat disimpulkan kalau pasien perempuan tersebut menderita osteoartritis. tidak meradang. vertebra lumbal dan servikal. Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki) g. sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia. Etiologi Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. terutama wanita berusia lebih dari 45 tahun. Sendi yang paling sering terserang adalah 5 . antara lain lutut. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak f. dan jenis pekerjaan. Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan normal. Gangguan penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria. Tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi h. dan penyakit metabolik. Beberapa faktor yang dianggap sebagai pemicu timbulnya osteoartritis diantaranya faktor umur. seperti : a. kegemukan. Work Diagnosis Work Diagnosis atau diagnosis kerja merupakan suatu kesimpulan berupa hipotesis tentang kemungkinan penyakit yang ada pada pasien. Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja) II. dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendiaan. Setiap diagnosis kerja haruslah diiringi dengan diagnosis banding. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada wanita daripada pria dan terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Sendi yang paling sering terserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh.

Mengenai sekitar 7% populasi Amerika Serikat. Gambaran patologisnya adalah kerusakan progresif pada kartilago dengan terbentuknya fisura-fisura dan kemudian bisa sampai denudasi tulang. Terdapat peningkatan yang seiring dengan bertambahnya usia. Pola penurunan autosomal dominan telah teridentifikasi pada kelompok osteoartritis tertentu. lebih dari 85% pasien osteoarthritis tersebut terganggu aktivitasnya terutama untuk kegiatan jongkok. dan peningkatan densitas tulang. pertumbuhan.6 Patofisiologi Osteoartritis berdasarkan patogenesisnya dapat dibagi menjadi dua: primer dan sekunder. Arti dari gangguan jongkok dan menekuk lutut sangat penting bagi pasien osteoarthritis di Indonesia. metabolik. imobilisasi. sklerosis subkondral. Osteoarthritis primer disebut OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. . contohnya adalah lebih dari 80% pasien berusia > 75 tahun memiliki bukti radiologis adanya osteoartritis. lebih banyak pada kelompok usia > 65 tahun. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan endokrin. jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama. Tulang subkondral di bawahnya mengalami remodelisasi dan mungkin menyebabkan pembentukan kista dan sklerosis. obesitas. Faktor resiko osteoartritis primer meliputi peningkatan usia. Terdapat peningkatan risiko seiring dengan pertambahan usia. Kecenderungan wanita sedikit lebih tinggi secara keseluruhan.1. penggunaan sendi yang berlebihan berulang kali. vertebra lumbal dan servikal. Osteoartritis merupakan salah satu dari penyakit sendi yang paling sering dijumpai di Indonesia. 60% sampai 70% orang berusia lebih dari 65 tahun. Tonjolan-tonjolan tulang pada osteofitosis. naik tangga dan berjalan. dan kista tampak jelas pada foto rontgen polos dan mnjadi temuan radiologis utama OA. prevalensi meningkat dengan cepat pada populasi lansia.sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh. Prevalensi keseluruhan 12-15% pada paling sedikit satu sendi.6 6 .4 Epidemiologi Osteoartritis adalah bentuk penyakit sendi tersering di dunia. inflamasi. dan sendi-sendi pada jari. panggul. antara lain lutut. Oleh karena banyaknya kegiatan sehari-hari yang tergantung kegiatan ini khususnya sholat dan buang air besar. herediter. Hipertrofi tulang reaktif yang terjadi setelah hilangnya kartilago akan menimbulkan pembentukan osteofit yang khas.

krepitasi. terutama pada permukaan medial kartilago. kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. factor nekrosis tumor α. dan perubahan gaya berjalan. Manifestasi Klinik Gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena. Komponen kartilago mengalami disorganisasi dan degradasi pada OA. Degradasi matriks dan overhidrasi mengakibatkan kehilangan kekakuan dan elastisias kompresif pada transmisi yang memberikan tekanan mekanis besar ke tulang subkondral. Kartilago artikular menjadi overhidrasi dan membengkak. dan meningkatnya frekuensi penyakit pada kondisi yang menimbulkan stress mekanis abnormal. Bukti yang mendukung antara lain meningkatnya frekuensi osteoarthritis seiring dengan pertambahan usia. interleukin-6 meningkatkan inflamasi sendi dan degradasi kartilago. Meskipun osteoartritis bukan suatu proses wear-and-tear. Sitokin inflamasi (interleukin-1). dan warna kemerahan. mula-mula rasa kaku. Terdapat kehilangan matriks kartilago. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. seperti obesitas dan riwayat deformitas sendi. rasa hangat yang merata. mungkin dijumpai karena adanya sinovitis. Faktor mekanis yang menyebabkan pelepasan enzim (kolagenase dan stromelysin) menyebabkan pemecahan proteoglikan dan gangguan kolagen tipe II. Komplikasi Komplikasi dapat terjadi apabila osteoartritis tidak ditangani dengan serius. apofiseal tulang belakang. lutut dan paha.7 Mungkin pengaruh yang terpenting adalah efek penuaan dan efek mekanis. Lebih lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi tulang. dan nyeri malam hari akibat hipertensi intraoseus. Pada phalang distal timbul nodus Heberden dan pada sendi interphalang proksimal timbul nodus Bouchard. tidak diragukan lagi bahwa stress mekanis pada sendi berperan penting dalam pembentukannya. Nyeri OA dipercaya diakibatkan oleh tiga penyebab mayor: nyeri akibat gerakan dari factor mekanis. nyeri saat istirahat akibat inflamasi synovial. terutama waktu bergerak. pembesaran sendi. terdiri dari nyeri tekan. Tanda-tanda peradangan pada sendi tersebut tidak menonjol dan timbul belakangan. prostaglandin E2. gangguan gerak. timbulnya di sendi penahan beban. kaku pagi. Tempat predileksi osteoartritis adalah sendi karpometakarpal I. Terdapat dua macam komplikasi yaitu: 7 . metatarsophalangeal I. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi.

Bursitis Penatalaksanaan Pengobatan dibagi atas atas medica mentosa (menggunakan obat–obat yang di minum) dan juga non-medica mentosa (tidak mengonsumsi obat).  Analgesik Topikal  Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) Apabila dengan analgesik oral non opiat dan anagesik topikal tidak berhasil. para amino fenol (asetaminofen dan fenasetin). Pengaturan diet dan olahraga diperlukan untuk mencegah kelebihan 8 . diklofenak.  Steroid Intra-Artikuler Inflamasi kadang dijumpai pada pasien OA. Steroid dapat menyebabkan kerusakan rawan sendi secara langsung. Osteonekrosis . piroksikam. b) Non-medica mentosa Terapi Non-medica mentosa untuk OA meliputi. namubuton. Micrystaline arthrophy . a) Medica mentosa8  Analgesik Oral Non Opiat Obat-obat ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi secara simtomatik. meloksikam. Golongan AINS yang dapat diberikan antara lain asam mefenamat. yang terparah ialah terjadi kelumpuhan 2) Komplikasi Akut . dokter akan memberikan OAINS karena obat golongan ini mempunyai sifat analgesik juga mempunyai efek anti inflamasi. kortikosteroid intra artikuler dapat mengurangi rasa sakit walaupun hanya dalam waktu singkat. dan pirazolon. dan nimesulide. ibuprofen. dan pembedahan. terapi fisik. Semua AINS merupakan iritan mukosa lambung walaupun ada perbedaan gradasi antar nobat. indometasin. ketoprofen. Oleh karena itu. naproksen. diet dan olahraga. 1) Komplikasi Kronis Komplikasi kronis berupa malfungsi tulang yang signifikan. Golongan obat analgesik ini antara lain salisilat (aspirin/asetosal).

1380-9.33. dengan penanganan yang baik dan teratur.h. 2009.365-9. Jakarta: Penerbit Erlangga. Terapi fisik biasa dilakukan dengan berendam pada air hangat. Solusi tepat bagi penderita TORCH.h. Dengan pembedahan. Price SA. problem utama yang sering dijumpai adalah nyeri apabila sendi tersebut dipakai dan meningkatnya ketidakstbilan bila harus menanggung beban. berjalan progresif lambat. Masalah ini berarti bahwa orang tersebut harus membiasakan diri dengan cara hidup yang baru.19. 2007. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Juanda HA. Gleadle J. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Penerbit Erlangga. Edisi ke-8.h. Edisi ke-6 Volume 2. terutama bila menyerang sendi lutut. 5. Solo: PT Wangsa Jatra Lesatari. Jakarta: EGC. Pembedahan dilakukan Apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat. 2. Davey P. penyakit ini dapat segera diatasi. dan ditandai oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. Jakarta: EGC. 2012. Wilson LM. dapat memperbaiki bagian dari tulang. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 2005. 3. berat badan yang seringkali menjadi penyebab memburuknya nyeri sendi. 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Namun. akan dilakukan pembedahan. terutama pada lutut. 2005. 6 Kesimpulan Berdasarkan gejala-gejala yang timbul pada pasien. Bickley LS. atau alat penghangat lain untuk mengurangi nyeri dan kaku pada sendi. tidak meradang.1195-291. terutama pada sendi-sendi yang harus menopang berat badan. maka dapat disimpulkan bahwa pasien menderita osteoartritis.h.374. Penyakit ini bersifat kronik. 2007. Prognosis Osteoartritis biasanya berjalan lambat. Daftar Pustaka 1. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. 9 .h. Edisi ke- 4 Jilid 2. At a glance medicine. 6.h. Osteoartritis akan sangat mengganggu aktivitas pasien.

h. 2008. Brashers VL. Edisi ke-5. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.351-4. Farmakologi dan Terapi. 10 . 2008.h. Aplikasi klinis patofisiologi: pemeriksaan dan manajemen.535-7. 8. Jakarta: EGC.7. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.