You are on page 1of 50

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 0

LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 1

Materi Pokok: Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

3.1 Memahami teks tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik
melalui lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.1.1 Mampu menjawab/mengajukan pertanyaan isi teks cerpen yang dibaca.
3.1.2 Mampu menjelaskan struktur isi teks cerpen
3.1.3 Mampu menjelaskan ciri bahasa teks cerpen

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Berbagi pengalaman membaca cerpen
Kau pasti sudah pernah bahkan sering membaca cerpen! Ayo kita berbagi pengalaman.
Ceritakan di depan kelas apa judul cerpen yang pernah kamu baca, siapa saja tokohnya,
isi cerpennya tentang apa, apa yang menarik dalam cerpen tersebut, pelajaran apa yang
dapat kamu ambil. Lalu, apa sih cerpen itu?
2. Bacalah dengan saksama teks cerpen “Kupu-Kupu Ibu” yang terdapat pada buku teks
Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan SMP/MTs Kelas VII halaman 151 – 155!
3. Mari kita bermain “tanya-jawab” untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kita
terhadap isi cerpen tersebut! Caranya, ayo kita bentuk kelompok, masing-masing
kelompok beranggota 3 – 4 orang. Silakan tiap kelompok membuat 10 pertanyaan yang
terkait dengan isi cerpen tersebut. Pertanyaan tersebut silakan ditukarkan dengan
kelompok lain untuk dijawab. Tapi ingat, saat menjawab pertanyaan tidak diperbolehkan
membuka/membaca cerpennya. Sanggup? Ayo kita buktikan!
Kelompok Penanya : ....................................................................................
Kelompok Penjawab : ....................................................................................

No. Pertanyaan Jawaban Nilai

1.

2.

3.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 1
No. Pertanyaan Jawaban Nilai

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

4. Seperti halnya teks yang lain (misalnya teks laporan hasil observasi, teks tanggapan
deskriptif, teks eksposisi, dan teks eksplanasi), teks cerita pendek juga memiliki struktur
isi yang khas, yang membedakannya dengan jenis teks lainnya. Untuk memahami
struktur isi teks cerpen, mari kita diskusikan dalam kelompok masing-masing
permasalahan berikut!
No. Permasalahan Hasil Diskusi Nilai
1. Apa judul cerpen
tersebut?
2. Dalam cerpen pasti ada
sesuatu atau masalah
yang diceritakan. Apa
yang diceritakan dalam
cerpen tersebut?
3. Dalam cerpen pasti ada
pelaku ceritanya.
Sebutkan pelaku-
pelaku yang ada dalam
cerpen tersebut dan
simpulkan sifat/watak
masing-masing pelaku
tersebut!

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 2
No. Permasalahan Hasil Diskusi Nilai
4. Dalam cerpen tentu
diuraikan latar cerita,
yaitu di mana tempat
terjadinya peristiwa,
kapan peristiwa itu
terjadi, serta bagaimana
suasana yang
menyelimuti kejadian
tersebut. Ayo kita
temukan di mana saja
peristiwa dalam cerpen
tersebut? Kapan
peristiwa tersebut
terjadi? Bagaimana
suasananya?
5. Dalam cerpen tersebut
pelaku cerita
menghadapi beberapa
permasalahan.
Sebutkan masalah yang
dihadapi pelaku. Apa
yang melatarbelakangi
munculnya masalah
tersebut
6. Sebutkan permasalahan
yang paling
genting/gawat yang
dihadapi pelaku dalam
cerpen tersebut.
7. Bagaimana
penyelesaian dari
berbagai permasalahan
yang dihadapi pelaku
dalam cerpen tersebut?
8. Sebutkan pesan atau
pelajaran yang dapat
diambil dari cerpen
tersebut!

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 3
Berdasarkan hasil diskusi tersebut, mari kita simpulkan struktur isi teks cerpen!

CERPEN

5. Selain struktur isi, teks cerpen juga memiliki ciri-ciri bahasa yang berbeda dengan teks
yang lain. Ayo kita cari ciri bahasa teks cerpen!
Temukan kata-kata yang digunakan dalam cerpen dengan melengkapi tabel berikut!
No. Kategori Temuan dalam teks cerpen Jenis
kata

1. Kata-kata yang
digunakan untuk
menjelaskan sifat,
penampilan fisik, dan
kepribadian pelaku
2. Kata-kata yang
digunakan untuk
menggambarkan latar
(latar waktu, tempat,
dan suasana)

3. Kata-kata yang
digunakan untuk
menunjukkan
tindakan-tindakan
yang dilakukan atau
peristiwa-peristiwa
yang dialami para
pelaku

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 4
Ciri-ciri bahasa teks cerpen di antaranya adalah sebagai berikut.
a. .......................................................................................................................
b. .......................................................................................................................
c. .......................................................................................................................
d. .......................................................................................................................

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 5
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 2

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

4.1 Menangkap makna teks laporan hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi,
eksplanasi, dan cerita pendek baik secara lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

4.1.1 Mampu menjelaskan makna kalimat atau kata yang diucapkan tokoh dalam teks cerpen
yang dibaca

4.1.2 Mampu membuat kalimat lain yang maknanya sama dengan makna kalimat atau kata
yang diucapkan tokoh dalam teks cerpen yang dibaca.

4.1.3 Mampu menjawab/mengajukan pertanyaan terkait dengan isi teks cerpen (pertanyaan
literal, inferensial, integratif, kritis) dengan benar

4.1.4 Mampu menjelaskan keterkaitan isi cerpen dengan kehidupan nyata disertai
bukti/alasan yang tepat

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Bacalah dengan saksama teks cerpen berikut!

Bendera

MESKI sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi.
Sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Kalau sedang tidak libur, Amir bangun pagi untuk
bersiap ke sekolah. Amir selalu ingat nasehat Nenek, “Orang yang rajin bangun pagi akan
lebih mudah mendapat rezeki.”

Di mata Amir, Nenek adalah sosok perempuan tua yang bijak dan pintar. Amir tak tahu apa
makna nasehat Nenek itu, tapi ia merasa ada benarnya. Bangun pagi membuatnya tidak
terlambat tiba di sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran. Selain itu, bangun pagi sungguh
menyenangkan. Hanya pada waktu pagi kita bisa menikmati suasana alam yang paling
nyaman. Cahaya matahari masih hangat, udara masih bersih, tumbuhan pun tampak segar,
seolah semua lebih bugar setelah bangun tidur.

Pagi itu Amir mendapati Nenek duduk sendirian di beranda depan. Rupanya, Nenek sedang
menyulam bendera. Amir menyapa dan bertanya, “Selamat pagi, Nek. Benderanya kenapa?”

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 6
“Oh, cucuku yang ganteng sudah bangun!” sahut Nenek pura-pura kaget. “Bendera ini sedikit
robek karena sudah tua.”

“Kenapa tidak beli yang baru saja?”

Nenek tersenyum. “Belum perlu,” katanya. “Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik
memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih
penting.”

“Bendera tidak penting ya, Nek?”

“O, penting sekali. Justru karena sangat penting, Nenek tidak akan membuangnya.” Nenek
berhenti sejenak dan menatap cucunya. “Kelak, ketika kamu dewasa, Nenek harap kamu juga
menjadi penting seperti bendera ini.”

Amir mengamati bendera itu. Selembar sambungan kain merah dan putih. Tidak ada yang
istimewa. “Apa pentingnya, Nek? Apa bedanya dengan kain yang lain?”

Pertanyaan Amir membuat Nenek berhenti menyulam. Nenek diam. Pintar sekali anak ini,
kata Nenek dalam hati. Nenek merasa perlu memberi jawaban terbaik untuk setiap
pertanyaannya. Untunglah, Nenek teringat Eyang Coelho, seorang lelaki gaek yang cengeng
dan sedikit manja, yang membayangkan dirinya bersimpuh dan tersedu di tepi Sungai Paedra.
Eyang Coelho pernah menulis sebuah cerita tentang pensil. Nah, Nenek akan meniru cara
tokoh perempuan tua dalam cerita itu ketika memberikan penjelasan kepada sang cucu.

“Penting atau tidak, tergantung bagaimana kita menilainya,” akhirnya Nenek berkata.
Bendera ini, lanjutnya, bukan kain biasa. Ia punya beberapa keistimewaan yang
membedakannya dengan kain-kain lain. Keistimewaan itu yang patut kita tiru.

Pertama: semula ini memang kain biasa. Tapi, setelah dipadukan dengan urutan dan ukuran
seperti ini, ia berubah jadi bendera, menjadi lambang negara. Merah-putih ini lambang negara
kita, Indonesia. Setiap negara punya bendera yang berbeda. Dan semua warga negara
menghormati bendera negaranya. Tapi, jangan lupa, kain ini menjadi bendera bukan karena
dirinya sendiri, melainkan ada manusia yang membuatnya. Begitu pula kita bisa menjadi apa
saja, tapi jangan lupa ada kehendak Sang Mahapencipta.

Kedua: Pada waktu kain ini dijahit, tentu ia merasa sakit. Tapi sesudahnya, ia punya wujud
baru yang indah dan bermakna. Kita, manusia, hendaknya begitu juga. Sabar dan tabah
menghadapi sakit dan derita, karena daya tahan itulah yang membuat kita menjadi pribadi
yang kuat, tidak mudah menyerah.

Ketiga: Bendera akan tampak perkasa jika ada tiang yang membuatnya menjulang, ada angin
yang membuatnya berkibar. Artinya, seseorang bisa mencapai sukses dan berguna karena ada
dukungan dari pihak-pihak lain. Kita tak boleh melupakan jasa mereka.

Keempat: Makna bendera ini tidak ditentukan oleh tempat di mana ia dibeli, berapa harganya,
atau siapa yang mengibarkannya. Ia bermakna karena di balik bentuk dan susunan warnanya
ada gagasan dan pandangan yang diwakili. Begitulah, kita pun harus memperhatikan diri dan
menjaganya agar tetap selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup kita.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 7
Kelima: Seutas benang menjadi kain, lalu kain menjadi bendera, dan bendera punya makna;
karena diperjuangkan dan akhirnya dihormati. Kita juga seperti itu. Harus selalu berusaha
agar apa yang kita lakukan bisa bermakna. Jadikan dirimu bermakna bagi orang lain, jika
dirimu ingin dihormati.

“Begitulah, cucuku yang ganteng, sekarang kau mengerti?” ujar Nenek mengakhiri
penjelasannya.

Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis
besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.

“Sudah, sana mandi dulu. Nenek akan menyiapkan gudeg manggar lengkap dengan telor dan
daging ayam kampung empuk kesukaanmu.”

Amir menuruti saran Nenek. Ia masuk ke rumah sambil membayangkan kesegaran air sumur
pedesaan.

***

Pada kesempatan lain, Amir mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di
sekolahnya. Seiring dengan lagu “Indonesia Raya” yang dinyanyikan serentak oleh para guru
dan teman-temannya, ia menarik tali pengikat bendera agar Sang Saka Merah-Putih berkibar
di angkasa.

Ketika bendera mencapai puncak tiang, semua peserta upacara khusyuk memberikan
penghormatan. Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai
benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu
menganyam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.

Kelak setiap lembar kain akan berguna. Ada yang menjadi baju, celana, selimut, atau taplak
meja. Menjadi lap piring juga berjasa, meski tidak pernah dibanggakan dan murah harganya.
Sebaliknya, jika menjadi pakaian, sering dipamerkan dalam acara-acara gemerlapan dan
harganya bisa mencapai ratusan juta.

Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambang,
seperti bendera. (*)

2. Jelaskan makna kalimat atau kata yang diucapkan tokoh dalam teks cerpen tersebut!
No. Kalimat/Kata Makna

1. “Orang yang rajin bangun pagi
akan lebih mudah mendapat
rezeki.”

2. “Ini masih bisa diperbaiki.
Tidak baik memboroskan uang.
Lebih untung ditabung, siapa
tahu akan ada kebutuhan yang
lebih penting.”

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 8
No. Kalimat/Kata Makna

3. “O, penting sekali. Justru karena
sangat penting, Nenek tidak
akan membuangnya.”

4. “Kelak, ketika kamu dewasa,
Nenek harap kamu juga menjadi
penting seperti bendera ini.”

5. “Penting atau tidak, tergantung
bagaimana kita menilainya,”

6. Begitu pula kita bisa menjadi
apa saja, tapi jangan lupa ada
kehendak Sang Mahapencipta.
7. Sabar dan tabah menghadapi
sakit dan derita, karena daya
tahan itulah yang membuat kita
menjadi pribadi yang kuat, tidak
mudah menyerah.
8. Seseorang bisa mencapai sukses
dan berguna karena ada
dukungan dari pihak-pihak lain.
Kita tak boleh melupakan jasa
mereka.
9. Begitulah, kita pun harus
memperhatikan diri dan
menjaganya agar tetap selaras
dengan cita-cita dan tujuan
hidup kita.
10. Jadikan dirimu bermakna bagi
orang lain, jika dirimu ingin
dihormati.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 9
3. Susunlah kalimat lain yang maknanya sama dengan makna kalimat atau kata yang
diucapkan tokoh dalam teks cerpen tersebut!
No. Kalimat/Kata Kalimat lain

1. “Orang yang rajin bangun pagi
akan lebih mudah mendapat
rezeki.”
2. “Ini masih bisa diperbaiki.
Tidak baik memboroskan uang.
Lebih untung ditabung, siapa
tahu akan ada kebutuhan yang
lebih penting.”
3. “O, penting sekali. Justru karena
sangat penting, Nenek tidak
akan membuangnya.”

4. “Kelak, ketika kamu dewasa,
Nenek harap kamu juga menjadi
penting seperti bendera ini.”
5. “Penting atau tidak, tergantung
bagaimana kita menilainya,”

6. Begitu pula kita bisa menjadi
apa saja, tapi jangan lupa ada
kehendak Sang Mahapencipta.
7. Sabar dan tabah menghadapi
sakit dan derita, karena daya
tahan itulah yang membuat kita
menjadi pribadi yang kuat, tidak
mudah menyerah.
8. Seseorang bisa mencapai sukses
dan berguna karena ada
dukungan dari pihak-pihak lain.
Kita tak boleh melupakan jasa
mereka.
9. Begitulah, kita pun harus
memperhatikan diri dan
menjaganya agar tetap selaras
dengan cita-cita dan tujuan
hidup kita.
10. Jadikan dirimu bermakna bagi
orang lain, jika dirimu ingin
dihormati.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 10
4. Untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap isi cerpen tersebut, ayo kita selesaikan
permasalahan berikut!
a. Mengapa Nenek menganggap bahwa bendera itu merupakan benda yang sangat
penting?
b. Bagaimana sikap “Aku” terhadap bendera Merah Putih?
c. Apa arti bendera Merah Putih bagi bangsa Indonesia?
d. Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap keberadaan bendera Merah Putih?
e. Apa saja pelajaran yang dapat kita ambil dari isi cerpen tersebut?

5. Jelaskan keterkaitan isi cerpen tersebut dengan kehidupan nyata disertai bukti/alasan
yang tepat!

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 11
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 3

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

3.2 Membedakan teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita
pendek baik melalui lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.2.1 Mampu menjelaskan perbedaan teks cerita pendek dengan teks laporan hasil observasi
dilihat dari struktur isi
3.2.2 Mampu menjelaskan perbedaan teks cerita pendek dengan teks laporan hasil observasi
dilihat dari fitur/ciri bahasanya

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Bacalah dengan saksama dua jenis teks berikut!

Teks 1
Traktor
NYALANG mata Wo Rikan acapkali melihat derum benda itu. Meraung-
raung seperti tengah mentertawakan dirinya yang kini jadi sering menganggur
karena tak ada lagi pekerjaan. Padahal telah lama musim penghujan menjadi
mimpi indah dalam kepala lelaki gaek itu.

Ia mematung di pinggiran sawah dengan mulut mengerucut, menahan amarah
yang telah berhari-hari bersarang dalam dada. Telah hampir satu jam lelaki
berperawakan sedikit bungkuk itu menunggu di situ. Tak dipedulikannya
orang-orang yang lewat seraya bertanya, “Sedang apa, Wo?” Tak ada yang
dikerjakannya selain hanya mengamati benda itu dengan penuh kebencian.

“Aku mau yang cepat, Wo. Kalau pakai sapi kan lama? Mahal sedikit tak apa,
asal kerjanya bagus,” kalimat Haji Ali terus terngiang dalam telinganya.

Saat itu Wo Rikan tak mengerti. Berselang hari kemudian barulah ia paham
bahwa makhluk berisik itulah penyebabnya.

Tak cuma Haji Ali, semua orang yang semula pelanggan tetap Wo Rikan kini
beralih pula darinya. Hanya dalam seminggu, semua pekerjaan yang telah
enam bulan ditunggu habis tak bersisa!

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 12
“Kalau dengan traktor, dua kotak cuma butuh setengah hari. Biaya per
kotaknya pun cuma seratus ribu. Coba bandingkan jika aku menyewa
bajaknya Wo Rikan. Sehari cuma mampu menyelesaikan satu kotak, itu pun
lebih mahal dua puluh ribu. Jadi ya…,” begitu kata mereka. Membuat Wo
Rikan merasa dikhianati.

Kini ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, hanya dalam waktu satu
jam, separuh pekerjaan hampir selesai. Tanah terbajak sempurna, sementara
sang pengemudinya hanya terlihat duduk manis di sadel belakang. Terlihat
amat santai. Beda dengan dirinya ketika harus duduk di tuas belakang sapi,
yang disamping menjadi pengendali arah juga harus berusaha menjadi
pemberat agar mata bajak bisa lebih dalam menghujam tanah.

Kata orang-orang benda itu bahkan mulai merambah ke desa-desa lain.
Sungguh sebuah ancaman besar.

Kini tak ada pekerjaan yang tersisa selain mencangkul galengan [1] sawah.
Sayangnya Wo Rikan bukanlah tukang cangkul yang ulung. Lagipula
tubuhnya sudah ringkih. Habis mencangkul seharian, tiga hari berikutnya
tubuh tuanya serasa remuk dihajar pegal-pegal. Tak seperti ketika ia masih
muda dulu.

Wo Rikan benar-benar galau dengan masa depannya. Sepertinya ia akan mati
sampai di sini.

***

Malam merangkak pelan. Kedua mata Wo Rikan masih juga nyalang
menemani separuh rembulan yang terlihat di genting kaca di atas
pembaringan. Tadi istrinya baru saja meributkan dirinya yang menganggur
dan cuma hilir-mudik ke sana ke mari, tak mau cari-cari pekerjaan. Meskipun
tak punya anak, bukan berarti hidup bisa dibuat bersantai-santai saja. Justru di
masa tua begini harus rajin-rajin bekerja karena tak ada anak tempat
bergantung. Apalagi jika tubuh sering sakit-sakitan.

Wo Rikan hanya bisa menggerutu menanggapi kemarahan istrinya.
Perempuan itu tak tahu bahwa sebenarnya ia sedang sibuk memikirkan
sesuatu. Dan akhirnya ia telah menemukan sebuah rencana. Rencana itu akan
dikerjakannya malam ini juga.

Ia bangkit sambil terus mengawasi istrinya. Dibukanya pintu dengan pelan. Ia
tak mau perempuannya terbangun. Jika sampai itu terjadi, pasti perempuan itu
takkan pernah berhenti bertanya yang macam-macam.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 13
Dalam gelap Wo Rikan mengendap-endap. Terang betul matanya mengamati
keadaan sekeliling. Hening. Tak ada siapa pun. Dan memang inilah yang
diingininya. Tak ada seorang pun yang melihatnya ketika menuju sebuah
rumah yang belakangan ini sering diawasinya. Benda yang tengah diincarnya
itu ditambatkan di samping rumah layaknya peliharaan.

Namun sesampainya di tempat tujuan, Wo Rikan malah kebingungan. Ia tak
tahu bagaimana caranya menyakiti atau melumpuhkan benda keras itu. Ia
berputar-putar mencari titik lemah yang kiranya bisa menciderai musuhnya
itu.

***

Berhari-hari Wo Rikan menjadi orang bingung yang seringnya hanya duduk-
duduk melamun di blabak teras rumahnya. Mendengarkan radio menjadi
pekerjaan utama yang paling digandrungi. Lagu campursari dan cerita
pewayangan adalah acara yang paling ia cari. Meski Mbok Tu—istrinya,
sering marah-marah melampiaskan kejengkelannya. Wo Rikan terlihat tak
peduli.

Namun yang sebenarnya terjadi adalah Wo Rikan ingin melupakan
kebenciannya terhadap benda bernama traktor itu, karena ia tahu hal semacam
ini memang tak bisa dihindari. Ia ingat betul sebelum ada televisi, radionya
terbilang benda mahal yang kala itu tak semua orang bisa memiliki. Tapi kini,
radio telah menjadi sampah. Mungkin juga dirinya nanti, tak ada harganya
lagi. Zaman yang terus bergerak akan menyingkirkan mereka yang sudah tua.

Hal itu susah betul diterimanya secara penuh. Setiap berpapasan dengan Dikin
dan traktor piaraannya, kemarahan dalam dada Wo Rikan melonjak-lonjak.
Derum traktor terdengar bagai riuh kaum kala [2] ketika merusak ketentraman
kahyangan. Aneka rencana langsung berhamburan masuk tanpa permisi ke
dalam kepala, berebut untuk meraih persetujuannya.

Tak ada lagi pekerjaan yang bisa membuat Wo Rikan makan enak. Maka ia
pun tak balas marah-marah kepada pendamping hidupnya yang setia itu. Ia
biarkan perempuannya mengumpat-umpat dirinya sepuas hati saat melihat Wo
Rikan yang malas-malasan membantu pekerjaannya mengumpulkan daun
waru dan jati, berburu keong besusul, memanen genjer liar, juga mengambil
petet cina yang tumbuh liar di sepanjang pematang sungai pinggiran sawah.
Istrinya tak pernah tahu karena Wo Rikan memang tak pernah memberitahu
bahwa kemalasannya adalah tersebab malam-malamnya yang selalu sulit tidur
dan selalu dipenuhi dengan aneka rencana.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 14
Tak pernah ada yang tahu pula kenapa Wo Rikan tiba-tiba suka tersenyum
sendiri, terlebih ketika melihat Dikin yang selalu meributkan piaraannya.
Ketika Pak Madi, Pak Kandar, ataupun Haji Ali menegur kebiasaan aneh itu,
Wo Rikan hanya menjawab, “ Tadi malam Gatotkaca telah melumpuhkan
Kala Pracona!”

Pun ketika istrinya menegur karena teramat jengkel, Wo Rikan masih juga
menjawab, “Tadi malam Gatotkaca telah melumpuhkan Kala Pracona!” tak
peduli perempuannya semakin jengkel sampai pernah menyembunyikan radio
tua itu, hingga Wo Rikan meradang dan tak mau lagi bantu-bantu
pekerjaannya.

Wo Rikan tak peduli meski ia tak dipedulikan lagi. Oleh istrinya, oleh pemilik
sawah langganannya, bahkan oleh dunia sekalipun. Baginya, ketika Kala
Pracona berhasil dilumpuhkan berkali-kali oleh Gatotkaca—meski hanya
sementara—itu sudah sedikit mengurangi sakit hatinya.

***

“Kalau aku mati nanti, apa kau akan cari suami lagi?” tanya Wo Rikan
sebelum istrinya terlelap.

“Kalau aku tak ada lagi, apa yang akan kamu lakukan?” bertanya lagi karena
diacuhkan.

Wo Rikan menoleh. Ternyata istrinya telah benar-benar terlelap. Ia mencoba
memaklumi hal ini. Perempuannya memang selalu begini bila marah.
Terutama semenjak ia merelakan Ngatimah—keponakan yang pernah ia ambil
dari adik ipar semenjak masih umur tujuh—untuk kembali ke sisi orang
tuanya karena dua saudaranya telah menetap di kota jauh.

Mbok Tu sering tak peduli dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan Wo
Rikan selain ketika lelaki itu membantunya mencari kebutuhan makan. Maka
ketika shubuh itu lelakinya telah raib dari sisinya, ia pun lebih peduli dengan
pesanan daun, bothok keong dan bothok petet dari para tetangganya ketimbang
mencari tahu ke manakah gerangan suaminya pergi.

Hingga siang menjelang, dan seorang tetangganya terlihat tergopoh-gopoh
mendekatinya, “Wo Rikan ditangkap polisi, Mbok!”

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 15
***

“Kalau ingin Wo Rikan bebas, Mbok Tu harus mau mengganti rugi semua
biaya perbaikan traktor saya selama ini,” wajah Dikin terlihat memerah saat
menyebutkan satu per satu kerusakan yang pernah dibengkelkannya.

Mbok Tu melangkah ke arah teralis suaminya. Menggerutu pendek, lalu
mengakhirinya dengan kalimat, “Akan kujual salah satu sapimu.”

Wo Rikan tersenyum. Akhirnya dunia mengakui dan menghargai
keberadaannya juga! (*)

. Kalinyamatan – Jepara, September 2011

Catatan:
[1] Pembatas antar sawah
[2] Raksasa

Teks 2
Komodo, Binatang Melata Terberat di Dunia

Tahukah Anda binatang melata apakah yang paling besar? Binatang itu
adalah komodo. Binatang itu hidup di semak-semak belukar dan di daerah
hutan di sejumlah pulau di Indonesia.

Komodo adalah binatang melata terberat di dunia, mempunyai berat 100
kg atau lebih. Komodo terbesar yang pernah diukur mempunyai panjang lebih
dari 3 meter dan berat 166 kg, tetapi ukuran komodo rata-rata yang hidup
secara liar adalah sekitar 2,5 meter dengan berat 91 kg.

Komodo mempunyai kulit bersisik yang berwarna abu-abu, moncong
yang lancip, tungkai lengan yang kuat, dan ekor yang berotot. Komodo
menggunakan indera penciuman yang tajam untuk mendeteksi keberadaan
bangkai binatang yang terletak beberapa kilometer di kejauhan. Komodo
memburu binatang melata lainnya, seperti binatang mamalia yang besar,
bahkan kadang-kadang bertindak sebagai binatang kanibal.

Hampir semua bagian gigi komodo tertutup oleh gusi. Ketika komodo
sedang makan, gusinya berdarah dan menjadi media ideal bagi
berkembangnya bakteri yang berbahaya. Bakteri yang hidup dalam air liur
komodo menyebabkan darah korban yang digigit keracunan. Komodo akan
menggigit binatang mangsanya, lalu membuntutinya sampai binatang itu
lemas tidak berdaya untuk dibawa pergi.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 16
Spesies binatang melata ini terancam punah. Kenyataan itu, antara lain,
disebabkan oleh kegiatan perburuan yang tidak bertanggung jawab. Selain itu,
ancaman kepunahan komodo disebabkan oleh terbatasnya binatang yang
menjadi mangsanya dan habitatnya yang rusak.

2. Jelaskan perbedaan teks cerita pendek dengan teks laporan hasil observasi dilihat dari
struktur isi berdasarkan dua contoh teks di atas!
Teks 1 Teks 2

Jenis teks: Jenis teks:

Struktur teks: Struktur teks:
1. ....... 1. .......
2. ....... 2. .......
3. ....... 3. .......
4. ....... 4. .......
5. ....... 5. .......
Alasan/bukti/penjelasan: Alasan/bukti/penjelasan:

3. Jelaskan perbedaan teks cerita pendek dengan teks laporan hasil observasi dilihat dari
fitur/ciri bahasanya berdasarkan dua contoh teks di atas!
Teks 1 Teks 2

Ciri bahasa: Ciri bahasa:
1. ....... 1. .......
2. ....... 2. .......
3. ....... 3. .......
4. ....... 4. .......
Alasan/bukti/penjelasan: Alasan/bukti/penjelasan:

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 17
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 4

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

4.2 Menyusun teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita
pendek sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan maupun
tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

4.2.1 Mampu menemukan bahan untuk menulis cerpen dari berbagai sumber (pengalaman
pribadi, pengalaman orang lain, berita di televisi, koran, majalah, dll.)
4.2.2 Mampu mengembangkan garis besar kerangka/alur cerpen
4.2.3 Mampu menulis pembuka cerpen (orientasi/perkenalan tokoh dan peristiwanya)
4.2.4 Mampu menghidupkan tokoh dengan dialog
4.2.5 Mampu membuat klimaks cerita
4.2.6 Mampu mengembangkan latar untuk menghidupkan cerita
4.2.7 Mampu menulis penyelesaian cerpen
4.2.8 Mampu mempresentasikan cerpen yang telah dibuat dengan lafal dan intonasi serta
penghayatan yang tepat

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Menyusun teks cerita pendek secara kelompok
Untuk kegiatan menulis cerpen secara kelompok, silakan menyelesaikan tugas-tugas
yang terdapat dalam Kegiatan 2 Buku Siswa halaman 160 – 164! Selamat belajar
menulis cerpen!

2. Menyusun teks cerita pendek secara individu
Susunlah teks cerita pendek dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Pilihlah bahan
untuk menulis
cerpen dari
berbagai sumber,
bisa dari
pengalaman
pribadi,
pengalaman
orang lain, berita
di televisi, koran,
majalah, dan lain-
lain yang menarik

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 18
b. Pilihlah judul
yang menarik
agar membuat
pembaca
penasaran

c. Susunlah garis
besar
kerangka/alur
cerpen dengan
kriteria:
menggambarkan
keutuhan cerita,
runtut, unik,
menggambarkan
tahapan orientasi,
konflik, klimaks,
dan leraian.
d. Tulislah pembuka
cerpen dengan
kriteria mampu
menuntun
kesadaran
pembaca untuk
masuk ke dunia
imajinasi,
menarik,
memotivasi,
menimbulkan
rasa penasaran
melalui deskripsi
orang, tempat,
atau suasana.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 19
e. Susunlah dialog
tokoh dengan
kriteria
mengungkapkan
watak tokoh
cerita,
menunjukkan
emosi pembicara,
memberi plot,
dan
memunculkan
konflik/
menggerakkan
plot.

f. Tulislah klimaks
cerita dengan
kriteria:
menggambarkan
puncak
ketegangan
dalam cerita,
mendukung
keutuhan cerita,
dapat menyeret
emosi pembaca,
menimbulkan
tanda tanya pada
benak pembaca
akan
penyelesaiannya

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 20
g. Kembangkan
latar cerita yang
mengandung
unsur informatif
(informasi
mengenai banyak
tempat), emotif
(menghayatinya),
ekspresif
(mengungkapkan
kembali demi
kepentingan
cerita), dan
meliputi latar
tempat, waktu,
dan suasana.

h. Tulislah
penyelesaian
cerita dengan
kriteria: memiliki
satu jenis
penyelesaian
(senang, sedih,
menggantung),
dapat
mempermainkan
emosi pembaca,
mendukung
keseluruhan isi
cerpen, tokoh
benar-benar telah
selesai
mengalami
sesuatu

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 21
3. Ketiklah dengan rapi cerpen yang telah kamu tulis sesuai langkah-langkah di atas
dengan ketentuan:
a. ukuran kertas : A4
b. jenis huruf : Times New Roman
c. ukuran huruf : 12
d. spasi : 1,5
4. Presentasikan cerpen yang telah kamu susun dengan lafal yang jelas, intonasi yang
tepat, dan penghayatan yang tepat!
5. Berikan tanggapan, saran, masukan, dan kritik terhadap cerpen yang dipresentasikan
teman, baik dari sisi

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 22
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 5

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

3.3 Mengklasifikasi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita
pendek baik melalui lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.3.1 Mampumengelompokkan teks cerpen berdasarkan tema (sosial, budaya, agama, dll)
3.3.2 Mampumemberikan alasan yang menjadi dasar pengklasifikasian cerpen berdasarkan tema yang
diangkat.

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Bacalah dengan saksama empat teks cerpen (cerita anak) berikut! Klasifikasikan/kelompokkan
keempat teks cerpen tersebut berdasarkan temanya!Berikan alasan/bukti yang mendukung tema
tersebut!

Teks 1
SEBELAH TELINGA

Sejak papa mengganti komputer di rumah dengan komputer jinjing, Lala jadi lebih suka
mengisi akhir pekannya dengan bermain game. Apalagi ada banyak pilihan permainan
yang tersedia.
“Lalaaa..,” terdengar suara mama memanggil namanya. “Tolong matikan keran air
di kamar mandi.”
Lala yang sedang asyik tidak segera menyahut. Bukannya Lala tidak mendengar
tetapi permainan yang sedang dimainkannya sedang seru. Kalau ia menjawab panggilan
mama kemudian menghampiri mama, sudah dapat dipastikan ia akan kalah.
Sejak papa mengganti komputer di rumah dengan komputer jinjing, Lala jadi lebih suka
mengisi akhir pekannya dengan bermain game. Apalagi ada banyak pilihan permainan
yang tersedia.
“Lalaaa..,” terdengar suara mama memanggil namanya. “Tolong matikan keran air
di kamar mandi.”
Lala yang sedang asyik tidak segera menyahut. Bukannya Lala tidak mendengar
tetapi permainan yang sedang dimainkannya sedang seru. Kalau ia menjawab panggilan
mama kemudian menghampiri mama, sudah dapat dipastikan ia akan kalah.
“Lalaaa..,” suara mama kembali terdengar.
“Iyaa Maa..,” Lala akhirnya menyahut. Namun tatapan matanya tak lepas dari
layar komputer di depannya. Tangannya sibuk bergerak memainkan tombol tanda panah
yang ada di keyboard komputer.
“Lala!” panggilan itu kembali terdengar. Kali ini dengan nada menyentak dan
terdengar begitu dekat.
Lala tersentak kaget. Ia mendongak. Dilihatnya mama berdiri di hadapannya.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Sorot matanya begitu tajam. Buru-buru Lala
menekan salah satu tombol yanga ada di papan ketik. Permainan yang semula tampak di
layar komputer jinjingnya langsung berhenti.
“I.. I.. ya.. Maa..,” jawab Lala dengan takut-takut.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 23
“Lala dengar tidak mama memanggil-manggil sejak tadi?” tanya Mama.
“Dengar Ma,” jawab Lala.
Mama tidak berkata apa-apa hanya menatap Lala dengan tajam.
“Eh.. Nngg.. Anu.. Ma..” Lala tergagap-gagap. Tidak menemukan kalimat yang
tepat untuk dikatakan. Buru-buru Lala bangkit dari posisi telungkup. “Eh.. tadi mama
menyuruh apa ya?” Lala bertanya dengan takut-takut.
“Mama minta tolong Lala mematikan keran air,” jawab Mama. Matanya masih
menatap Lala dengan tajam. “Sekarang sudah mama matikan.”
“Maaf deh, Ma,” Lala berkata sambil menunduk. “Lala gak gitu lagi dehh..”
Mama kemudian berlalu. Lala menghela nafas lega. Mudah-mudahan mama tidak
menceritakan kejadian tadi kepada papa. Lala khawatir papa tidak membolehkannya lagi
bermain game.
“Aha..! Aku ada ide,” Lala menjentikkan jarinya. “Kalau mama memanggilku lagi,
aku harus cepat menjawab dan mengiyakannya supaya mama tidak marah,” Lala berkata
dalam hati. “Setelah itu aku baru mencari apa yang mama ingin aku lakukan. Biasanya
tidak jauh dari mematikan keran air, mengunci pintu pagar atau mematikan lampu.”
Lala begitu senang dengan idenya. Setelah kejadian itu, setiap kali mama
memanggil dan meminta tolong, Lala dengan cepat menyahut dan mengiyakan. Bukan
berarti ia langsung melakukan yang diminta mama. Setelah berhasil mennyelesaikan
permainan yang dimainkannya, Lala baru melakukan yang diminta mama.
“Lalaaaa..,” terdengar suara mama memanggilnya kemudian dilanjutkan dengan
permintaan tolong.
Lala buru-buru menyahut dan mengiyakan. Namun matanya tidak lepas dari layar
komputer jinjing yang ada di depannya.
“Yihaaaa… akhirnya aku berhasil juga mencapai level lima!” Lala berseru
gembira. Ditekannya tombol berhenti. Ditegakkannya tubuhnya yang sebelumnya
menelungkup. Setelah meregangkan tubuhnya yang kaku, Lala melangkah ke luar kamar.
Lala menuju kamar mandi. Dibukanya pintu kamar mandi. Dilihatnya tidak ada air
yang mengalir dari keran air. Ditutupnya pintu kamar mandi. Lala kemudian
memperhatikan lampu-lampu yang ada di dalam rumah. Tidak ada yang menyala. Lala
mengerutkan kening. “Mungkin pintu pagar belum dikunci,” pikir Lala. Lala
menyibakkan tirai dan melihat keluar. Dilihatnya pintu pagar tertutup rapat. “Tadi mama
minta tolong apa ya?” Lala berusaha mengingat-ingat namun walaupun keningnya sudah
berkerut, ia tidak dapat mengingat apa yang dikatakan mama.
“Uhh.. gara-gara asyik main game, aku jadi bingung,” kata Lala dalam hati.
Diperhatikannya sekelilingnya. Baru Lala sadar betapa sunyinya keadaan rumah!
“Maaa..,” Lala memanggil. Tidak terdengar sahutan mama. “Mamaaa…,”
panggilnya dengan suara lebih keras. Lala menajamkan pendengarannya. Tidak terdengar
suara apapun!
Lala bergegas menuju kamar mama. Dibukanya pintu kamar. Kosong! Lala
kemudian menuju dapur. Tidak ada siapapun disana! Aduuhh… mama kemana ya?
Setengah berlari Lala menuju halaman rumah. Dibukanya pintu pagar. Kadang-
kadang mama menemani Nino, adiknya yang baru berusia setahun berjalan-jalan.
Dilongokkannya kepalanya memandang ke ujung jalan. Tidak ada seorangpun di jalanan!
Lala menutup pintu pagar kemudian berlari menuju telepon. Dipencetnya no
telepon genggam mama. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, demikian suara
yang terdengar di telepon.
Lala meletakkan gagang telepon dengan lemas bercampur panik. Butir-butir
keringat membasahi keningnya. Jantungnya berdebar-debar. Mulutnya terasa kering.
Aduuhh.. Mama kemana ya?

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 24
Terdengar suara pagar terbuka. Lala melompat dari duduknya dan setengah berlari
menuju pagar. Dilihatnya mama sedang membuka pintu pagar sambil menggendong Nino.
“Mamaaa..!” Lala berseru gembira. “Mama kemana saja sih? Lala mencari-cari
mama sejak tadi lohh.. Lala coba menghubungi telepon genggam mama tetapi tidak bisa
tersambung,” Lala menyambut kedatangan mama dengan serentetan kata-kata.
Mama menatapnya heran. “Mama kan sudah memberitahu Lala kalau mama
hendak pergi ke minimarket di depan kompleks,” kata mama. “Telepon mama baterenya
habis. Memangnya Lala tidak lihat telepon genggam mama ada di dekat telepon?”
Lala tertegun. Ia teringat ketika mama memanggil namanya dan dirinya
mengiyakan tanpa menyimak baik-baik apa yang dikatakan oleh mama.
“Makanya kalau mama sedang bicara, jangan didengarkan hanya dengan sebelah
telinga,” komentar mama.
Lala meringis. Kalau saja ia mau menghentikan sebentar permainan yang ada di
komputer, tentu ia tidak akan kebingungan seperti tadi. Lala berjanji besok-besok ia akan
menyimak baik-baik sebelum berkata, Iyaa.. Maaa…

Diceritakan oleh Erlita Pratiwi
Teks 2
API, AIR, DAN ANGIN

Suatu hari, ada sebuah air kecil yang bernama Airi. Ia baru terbangun dari tidurnya, ia
tidur di daun di sebatang bunga.

"Hoaaam ... hari yang cerah!" Airi terbangun. Ia menguap dan lekas bergegas menuju
ibunya.

"Ibu! Ayo, kita akan berjalan-jalan, iya kan?" Airi membangunkan ibunya, ya, kemarin
ibu Airi berjanji kalau besok mereka akan berjalan-jalan.

Akhirnya merekapun segera turun dari bunga. Mereka berjalan-jalan di sebuah taman
yang indah. Airi meminta izin kepada ibunya, ia ingin menemui teman lamanya. Sebuah
bunga mawar, namanya Mawaru. Ibunya mengizinkannya.

Airi berlari menuju Mawaru, di tengah-tengah perjalanan, ia ceroboh. BRESS! Ia
menabrak sebuah api.

"Maaf ya, api. Tunggu... Hahahaha!" Airi tertawa terbahak-bahak, ia melihat sebagian
tubuh api hilang.
Api sedih, ia akhirnya meninggalkan Airi.

Setelah bermain dengan Mawaru, Airi dan ibunya pulang. Akan tetapi, ibu Airi lebih
memilih pulang lewat tanah.

"Ibu, aku merasa tidak enak! Kita belum pernah melewati jalan ini sebelumnya," Airi
tampak agak ketakutan.
"Iya nak, Ibu juga merasa agak bingung." Ibunya membalasnya.

Saat mereka sampai, mereka merasa berada di kumpulan air lainnya yang sangat banyak.
Ternyata, mereka sampai di bak mandi milik seorang manusia.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 25
Tidak lama kemudian, mereka diambil oleh manusia menggunakan gayung. Mereka lalu
'dimandikan' dengan air yang lain, mereka di mandikan di sebuah baskom yang besar.
Setelah 'mandi', mereka merasa agak panas. Tiba-tiba manusia itu mengangkat mereka
lagi, dan manusia itu menaruh mereka di sebuah kotak.

Manusia itu memasukkan Airi & Ibunya kedalam freezer. Beberapa menit kemudian,
mereka membeku, menjadi es batu.

Beberapa jam setelahnya, manusia mengangkat kotak itu dan menyimpannya di lantai,
manusia itu meninggalkan Airi dan ibunya, dan para air begitu saja, tiba-tiba, api dan
angin datang.

"Api, angin! Tolong selamatkan kami, para air! Kami telah membeku dan menjadi es!"
Airi berteriak sangat--sangat--sangat kencang.

Angin menurunkan seluruh air itu ke lantai, keluar dari kotak itu. Api melelehkan seluruh
air. Lalu, api, angin & para air berjalan bersama, keluar dari rumah milik manusia. Api
menghanguskan pintu rumah manusia, arang-arangnya ditiup oleh angin. Merekapun
keluar bersama-sama.

Dalam perjalanan pulang, Airi bercakap-cakap dengan api & angin.

"Terimakasih ya, air, angin. Tunggu... kau kan api tadi siang kan?, Maaf ya. Aku sudah
menghinamu," Airi meminta maaf kepada api.

"Tidak apa-apa. Oh ya, perkenalkan, aku Apia. Temanku, Anginu" jawab Apia.

"Senang bertemu denganmu," kata Anginu.

Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampai rumah masing-masing. Ah! Leganya ...,
dan Airi, Apia & Anginu menjadi sahabat sejati sejak itu.

(Adila Rahma W.)
Teks 3
PENGORBANAN

Sudin adalah penjual koran yang sering menjajakan dagangannya di kompleks
perumahan, perkantoran, dan perempatan jalan. Ia sangat rajin bekerja. Setiap pagi
sebelum berangkat sekolah, ia meletakkan koran-koran di depan rumah pelanggannya.
Demikian pula setelah pulang sekolah, Sudin bersama teman-temannya berlari ke sana ke
mari untuk menjual koran-korannya kepada pemakai jalan. Ia melakukan hal demikian,
karena untuk membantu ayahnya yang hanya bekerja sebagai pengemudi becak, dan
ibunya bekerja sebagai pembuat pecel. Ibu Sudin sering sakit-sakitan, sehingga jarang
bekerja. Sedangkan dua orang adiknya membutuhkan biaya untuk sekolah mereka.
Sudin anak yang pandai dan hemat, sehingga ia masih dapat menabung dari hasil
penjualan korannya. Ayah dan ibunya sangat menyayangi Sudin. Seperti biasanya, Sudin
sibuk mencari pembeli di perempatan jalan. Ia berlari sambil berteriak-teriak menawarkan
koran-korannya. Dengan penuh semangat, ia berjualan sampai tak menghiraukan panas
yang menyengat dan trotoar kota. Tiba tiba ia melihat anak kecil yang menyeberang jalan
sendirian. Dengan melongokkan kepalanya, Sudin sibuk mencari di mana keluarga anak

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 26
kecil itu. Secara spontan, Sudin berlari menghampiri anak tadi. Akan tetapi, malang nasib
Sudin yang telah berkorban untuk anak yang ditolongnya. Anak itu selamat, dan Sudin
tertabrak mobil. Kaki kanannya patah dan seluruh tubuhnya luka-luka.
Kemudian Sudin dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah diobati dan dirawat pihak
rumah sakit, Sudin akhirnya siuman. Ayah dan ibunya merasa lega sekali. Orang tua anak
kecil yang telah ditolongnya meminta maaf dan berterima kasih kepada Sudin. Mereka
sanggup membiayai pengobatan Sudin di rumah sakit. Setelah dipikir-pikir, Sudin pernah
bertemu dan mengenal ayah dan ibu si anak kecil. Kemudian Pak Adi (nama ayah anak
kecil yang ditolong Sudin) berbicara kepada Sudin dan mengatakan bahwa ia akan
menjadi orang tua asuh bagi Sudin. Sebetulnya Pak Adi sudah mengenal karena
berlangganan koran pada Sudin. Jadi, Sudin sangat gembira setelah menerima kabar
tersebut. Meskipun merasa sakit di sekujur tubuhnya, Sudin merasa bahagia sekali.
Memang Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba yang senantiasa
berbuat kebaikan.
Yeyen Putri [yeyeeenputri @yahoo .com]
Teks 4
SEPERTI TUMBUHAN PADI
Ditulis oleh Kakak Koko

Sepatu belum dilepas. Pakaian seragam sekolahnyapun belum juga diganti. Tas dilempar
di tempat tidurnya. Sigit langsung membantingkan dirinya sambil menggerutu dengan
wajah cemberut. Emosinya meledak.
Itulah sebabnya, maka ibunya memasang telinga di muka pintu Sigit. lngin mengetahui
apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak tunggalnya itu.
“Prok! Prok!” suara di dalam kamar itu mengejutkan ibu Sigit.
“Ada apa sih, Git?” tanya ibu Sigit dari balik pintu kamar.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Keluarlah nak…..!” pinta ibu Sigit halus.
Itupun tak dijawab oleh Sigit.
“Sebaiknya sepulang sekolah kamu cuci tangan dan makan dulu, Git…”
Tetap tidak ada sautan. Hal itu menyebabkan ibu Sigit geleng-geleng kepala dan akhirnya
berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Sigit selesai mandi. Kini wajahnya tak
secemberut siang tadi. Apa lagi tak lama kemudian Dullah datang membawa buah duku.

“Manis juga ya….” ujar Sigit sambil mengunyah duku.
“Mau yang masam?” kelakar Dullah.
“Nggak, ah….”
Ditengah-tengah keasyikan itu tiba-tiba ibu Sigit mendekatinya.
“Nah, hegitu dong, susah itu tak ada gunanya, bukan?” kata ibu Sigit.
“Benar nggak, Git! Dul…! Oya, sebenarnya ada kejadian apa sih, Dul, siang tadi?
Sepulang sekolah Sigit mengunci kamar menggerutu tak ada habisnya.”
Dua anak itu berpandang-pandangan. Dullah berpikir¬pikir.
“Apa sih, Git?” bisik Dullah kepada Sigit.
“Ridwan! Murid baru tadi!” jawab Sigit berbisik pula. Dullah jadi ingat.
“Oya Bu, di kelas kami ada seorang murid baru. Ridwan namanya. Dia berasal dari desa.
Dia pendiam tak banyak omong. Penakut barangkali. Oleh karena itulah maka Iping selalu
menyindirnya, mana anak udik! Anak tak becus dan sebagainya. Tetapi Ridwan tak marah
sedikit pun. Namun di balik itu semua, dia cerdas sekali. Tadi ketika ulangan matematika
dia mendapat nilai sepuluh. Bayangkan, Bu! Padahal lainnya paling tinggi hanya

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 27
mendapat tujuh. Termasuk Sigit yang biasanya mendapat nilai paling baik. Namun kali ini
ada yang mengungguli.”
Sigit menunduk.
“Itukah yang menyebabkan siang tadi kau cemberut, Git?” desak ibu Sigit. “Itu keliru.
Seharusnya teman baru yang lebih pandai harus bersyukur. Bahkan dapat kalian
manfaatkan. Kalian harus banyak belajar dari dia, agar nilai-nilaimu nanti dapat lebih
baik. Lebih dari itu ibu yakin dia mesti anak baik. Tidak sombong. Tidak suka
menonjolkan kepandaiannya. Ibarat tumbuhan padi. Menunduk karena berisi. Nah, kalian
harus meniru ilmu padi itu.”
Sigit dan Dullah saling berpandangan. Mereka mengerti maksud ibu Sigit.
“Baiklah, bu,” ucap Sigit tersendat.
“Kapan-kapan kita belajar bersama ke rumahnya,” sambung Dullah. “Karena memang
ujian sudah dekat.”
“Tentu!” jawab Sigit.***

No. Teks ke- Tema Bukti/Alasan
1. 1

2. 2

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 28
No. Teks ke- Tema Bukti/Alasan
3. 3

4. 4

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 29
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 6

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar

4.3 Menelaah dan merevisi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksplanasi, dan
cerpen sesuai dengan struktur dan kaidah teks, baik secara lisan maupun tulisan.

Indikator Pencapaian Kompetensi

4.3.1 Mampu menelaah teks cerpen yang telah ditulis kelompok/temanlain dariaspek judul,
alur, tokoh dan perwatakannya, latar, tema/amanat/pesan secara jujur
4.3.2 Mampu merevisi teks cerpen dari aspek bahasa (EYD).

Langkah-langkah Pembelajaran

A. Menelaah dan merevisi teks cerpen yang disediakan
1. Bacalah dengan saksama teks cerpen (cerita anak) berikut!

Kisah Burung Merak dan Kupu-Kupu

Dahulu, di dalam hutan yang masih asli terdapatlah perkampungan binatang
yang terdiri dari segala jenis binatang yang ada dihutan, Monyet, Kambing, Cicak,
Kadal, Singa, Burung Merak, Ulat Bulu dan lain-lain. Seperti biasanya, setiap pagi
Burung Merak selalu berkaca dan memuji dirinya seteleh selesai mandi
“Siapa yang paling tampan di hutan ini? Siapa yang paling mempesona di hutan
ini?” sambil bertanya dalam hati
“Akulah yang paling tampan dan paling mempesona” Jawabnya dengan bangga
selesai berdandan jalan-jalanlah Burung Merak keliling kampung dan setiap bertemu
dengan binatang dia selalu memamerkan keindahan bulunya dari binatang yang satu
ke binatang lainya.
Dan akhirnya bertemulah Burung Merak dengan segerombolan Ulat Bulu
kemudian dengan congkaknya dia berkata..
“Hei, Ulat Bulu jelek! cepat-cepat kamu pergi jauh dari hadapan ku, kamu itu
merusak pemandanganku” ejek Burung Merak kepada Ulat Bulu, sambil berjalan
“ngulet” dibiarkan saja Burung Merak menghinanya dan ini terjadi setiap kali bila
Burung Merak bertemu dengan Ulat Bulu.
Seperti biasanya setiap pagi Burung Merak yang selalu memamerkan bulunya
kepada semua binatang yang dia temui, dan suatu ketika agak takjub Burung Merak
melihat makhluk aneh yang baru dia lihat berada di dalam hutan.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 30
Dan dia pun tanpa sungkan-sungkan memamerkan bulunya, Makhluk yang
dianggap aneh oleh Burung Merak tersebut adalah seorang Manusia yang sedang
berburu. Melihat keindahaan bulu Burung Merak, si pemburu takjub dan ditangkaplah
si Burung Merak.
Tak jauh dari tempat kejadian, segerombolan Ulat Bulu melihat kejadian ini.
Melihat kondisi burung merak yang tidak berdaya Ulat Bulu pun membantu Burung
Merak untuk dibebaskan dan mereka pun menyerang si pemburu, akibat serangan
tersebut, si pemburu lari tunggang langgang tidak kuat terhadap gatal-gatal yang
diterimanya dan Burung Merak pun BEBAS.
Semenjak kejadian itu Burung Merak pun telah berubah, tidak pernah lagi
menyombongkan diri memamerkan keindahan bulunya ke semua binatang, dia hanya
memamerkan keindahan bulunya kepada makhluk sejenisnya saja dan pasangan
ketika pada saat musim kawin.
Selang beberapa hari kemudian, setelah mengalami proses metamorfosis dari
ulat bulu, kepompong, dan akhirnya Ulat bulu pun berubah menjadi seekor Kupu-
Kupu yang cantik.
Tetapi sekarang akibat ulah manusia yang telah merusak alam, menyebabkan
warna kupu-kupu berubah menjadi gelap.
Jangan pernah sombong, walaupun kamu secara fisik dilahirkan secara
sempurna, karena kesombongan dapat menyebabkan kerugian terhadap diri sendiri
(Burung Merak)
Jangan menilai sesuatu dari fisiknya, karena fisik yang kurang belum tentu
memiliki kekurangan bahkan bisa jadi menjadi sesuatu yang indah (Ulat Bulu, kupu-
kupu).
Jangan gampang percaya dan terbuka terhadap orang yang baru kamu lihat,
walaupun orang tersebut menakjubkan (Burung Merak terhadap manusia).
Om Gebe pesen, kita harus menjaga alam supaya habitat makhluk hidup akan
terus berlangsung dan tidak merubah fisik atau kemampuannya untuk bertahan hidup.

Diolah dari sumber http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/04/23/fabel-buat-
kakak-burung-merak-kupu-kupu

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 31
b. Telaahlah teks cerpen tersebut dariaspek judul, alur, tokoh dan perwatakannya,
latar, tema/amanat/pesan!
No. Aspek Hasil telaah
1. Judul

2. Alur

3. Tokoh dan
perwatakannya

4. latar

5. Tema/amanat/
pesan

c. Datalah kesalahan aspek bahasa (ejaan, pilihan kata, dan susunan kalimat)
dalam teks tersebut, lalu tulislah pembetulannya!
No. Kesalahan Revisi/pembetulan
1.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 32
No. Kesalahan Revisi/pembetulan

B. Menelaah dan merevisi teks cerpen yang ditulis teman
1. Silakan saling bertukar karya cerpen dengan teman. Telaahlah teks cerpen yang
ditulis teman dariaspek judul, alur, tokoh dan perwatakannya, latar,
tema/amanat/pesan!
No. Aspek Hasil telaah
1. Judul

2. Alur

3. Tokoh dan
perwatakannya

4. latar

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 33
No. Aspek Hasil telaah
5. Tema/amanat/
pesan

b. Datalah kesalahan aspek bahasa (ejaan, pilihan kata, dan susunan kalimat)
dalam teks cerpen yang ditulis teman tersebut, lalu tulislah pembetulannya!
No. Kesalahan Revisi/pembetulan
2.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 34
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 7

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar
3.4 Mengidentifikasi kekurangan teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi,
eksplanasi, dan cerita pendek berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun
tulisan
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.4.1 Mampu mengidentifikasi kelebihan/kekurangan teks cerpen dari salah satu unsur
pembangun cerpen dengan alasan atau data/kutipan yang mendukung.
3.4.2 Mampu mengidentifikasi kelebihan/kekurangan teks cerpen dari segi bahasa dengan
alasan atau data/kutipan yang mendukung

Langkah-langkah Pembelajaran
A. Tugas Kelompok
1. Bacalah dengan saksama teks berikut!

Rumah Kecil Di Bukit Sunyi

Di atas bangku bambu reyot, Pak Kerto meluruskan kedua kakinya. Beberapa
saat kemudian, ia beranjak dari bangku dan melangkah ke bilik belakang yang hanya
dibatasi oleh anyaman daun rumbia. Diambilnya beberapa potong ubi dari panci dan
diletakkannya di atas selembar daun pisang. Ia kembali ke depan dan menikmati ubi
rebus sambil meminum kopi.
Tiba-tiba pintu terbuka dan laki-laki dengan perut gendut muncul. “Ooo….
Juragan. Silakan, Gan”, sambut Pak Kerto sambil membungkuk. Dengan tergesa
dibersihkannya bangku bambu yang sudah reyot itu. “Bagaimana? Apakah semuanya
sudah beres?” tanya sang juragan.
“Sebagian sudah saya panen, Gan. Tinggal ladang sebelah kanan parit. Silakan
juragan periksa hasil panenan itu”.
“Di mana kau letakkan, Kerto?”
“Ada di samping rumah, Gan. Ada enam karung terigu. Bagus-bagus hasil
panenan kali ini”, kata Pak Kerto.
Kedua orang itu melangkah ke samping rumah. Sang juragan segera mendekati
tumpukan karung. Sesaat, dibukanya salah satu karung dan diambilnya sehelai daun
yang ada di dalamnya, kemudian sehelai daun itu diciumnya. “Ahhh, luar biasa!”
teriaknya kegirangan. “Bagus…bagus sekali panenan kali ini, Kerto”, lanjut juragan
itu sambil menepuk punggung Pak Kerto. Hati Pak Kerto bahagia telah membuat
juragan senang. Ia akan mendapat tambahan upah. Watak juragan memang begitu,
kalau sedang senang ia tak segan-segan memberi tambahan upah.
“Enam karung ini disimpan yang baik dan jangan sampai kena hujan. Dua hari
lagi aku akan kembali ke sini mengambil semua hasil panenan”, ucap juragan sambil
meninggalkan Pak Kerto.
Sepeninggal juragan, Pak Kerto berbaring sambil berselimut sarung. Ia tak dapat
tidur. Pikirannya menerawang jauh. Pak Kerto ingin membelikan kain kebaya buat
istrinya dan dua sandal plastik buat kedua anaknya. Hatinya bahagia karena sebentar
lagi ia akan pulang untuk melepas kerinduan pada istri dan kedua anaknya.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 35
Pikirannya tertuju pada pohon-pohon kecil di ladang sebelah kanan parit yang besok
harus dipanen. Ia tak habis berpikir, untuk apa juragan menyuruh menanam pohon-
pohon itu. Ia tidak tahu nama pohon yang bentuknya hampir mirip tanaman cabai.
Pak Kerto hanya tunduk dan patuh pada perintah juragan. Patuh adalah taat (pada
perintah, aturan, dsb.) dan berdisiplin. Ia merawat tanaman dengan baik. Ia tidak
bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Saat Pak Kerto hampir lelap, terdengar
suara orang mengetuk pintu. Pak Kerto berpikir sang juragan datang lagi. Dengan
langkah yang tergesa pak Kerto menuju ke pintu. “Sebentar Gan, sebentar…”, kata
pak Kerto sambil membuka palang pintu. “Biasanya kan langsung masuk, Gan”,
lanjutnya sambil menguak daun pintu.
Pak Kerto merasa aliran darahnya terhenti ketika di depannya berdiri empat
orang polisi dengan senjata di tangan.
“Jangan bergerak!”, gertak salah seorang polisi. Ketiga polisi lainnya langsung
masuk rumah kecil itu. Pak Kerto berdiri kaku, mematung, tidak tahu apa yang
terjadi.
“Maaf, Bapak saya tangkap”, kata polisi sambil mendekat dan memborgol kedua
tangan Pak Kerto.
“Apa salah saya, Pak?” tanya Pak Kerto terputus-putus.
“Bapak telah menanam dan menyimpan pohon ganja. Pemerintah melarang
menanam pohon itu”, jawab polisi itu tegas.
“Tapi saya hanya disuruh juragan. Saya hanya melaksanakan perintah juragan,
Pak”, kata pak Kerto tertunduk.
“Saya mengerti dan memahami keadaan Bapak. Juragan Bapak sekarang ada di
tahanan polisi”.
Polisi itu menyuruh Pak Kerto berjalan menuruni lereng perbukitan. Sedang
ketiga polisi lainnya memanggul beberapa karung terigu yang berisi daun ganja
dengan dibantu beberapa peladang yang kebetulan berada di sekitar perbukitan itu.
Pak Kerto tertunduk bisu. Inilah jawaban atas teka-teki tanaman itu, ya, dua tahun
lebih baru terjawab sekarang. Pipi keriput lelaki tua itu basah oleh air mata. Rumah
kecil di atas bukit semakin jauh ditinggalkan. Tuhan, jerit pak Kerto lirih.
Purbalingga, 1982
Diolah dari sumber Tri Astoto Kodarie: http://triastoto.wordpress.com/cerpen/

2. Diskusikan dalam kelompok (3 – 4 orang) kelebihan atau kekurangan teks tersebut
dilihat dari salah satu unsur pembangun cerpen dengan alasan atau data/kutipan yang
mendukung!
No. Unsur Kelebihan/kekurangan Bukti/alasan
1.

2.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 36
No. Unsur Kelebihan/kekurangan Bukti/alasan
3.

4.

3. Temukan kelebihan/kekurangan teks cerpen dari segi bahasa dengan alasan atau
data/kutipan yang mendukung!

No. Unsur Bahasa Kelebihan/kekurangan Bukti/alasan
1.

2.

3.

4.

4. Silakan pilih satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Kelompok lain dipersilakan menanggapi hasil diskusi kelompok yang tampil.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 37
B. Tugas Individu
1. Tukarkan teks cerpen yang telah kalian susun dengan teks yang disusun teman.
2. Silakan kalian analisis kelebihan atau kekurangan teks cerpen yang disusun teman
dilihat dari salah satu unsur pembangun cerpen dengan alasan atau data/kutipan yang
mendukung!
Judul Teks : ....
Nama Penyusun : ....
No. Unsur Hasil analisis/Temuan Bukti/alasan
1.

2.

3.

4.

3. Analisislah kelebihan/kekurangan teks cerpen dari segi bahasa dengan alasan atau
data/kutipan yang mendukung!
No. Unsur Bahasa Kelebihan/kekurangan Bukti/alasan
1.

2.

3.

4.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 38
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 8

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar
4.4 Meringkas teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita
pendek baik secara lisan maupun tulisan

Indikator Pencapaian Kompetensi
4.4.1 Mampu mengidentifikasi intisari teks mulai dari tahap perkenalan, konflik, klimaks,
dan penyelesaian
4.4.2 Mampu meringkas cerpen dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan
EYD

Langkah-langkah Pembelajaran
A. Tugas Kelompok
1. Bacalah dengan saksama teks cerpen berikut!

Rumah Kecil Di Bukit Sunyi

Di atas bangku bambu reyot, Pak Kerto meluruskan kedua kakinya. Beberapa
saat kemudian, ia beranjak dari bangku dan melangkah ke bilik belakang yang hanya
dibatasi oleh anyaman daun rumbia. Diambilnya beberapa potong ubi dari panci dan
diletakkannya di atas selembar daun pisang. Ia kembali ke depan dan menikmati ubi
rebus sambil meminum kopi.
Tiba-tiba pintu terbuka dan laki-laki dengan perut gendut muncul. “Ooo….
Juragan. Silakan, Gan”, sambut Pak Kerto sambil membungkuk. Dengan tergesa
dibersihkannya bangku bambu yang sudah reyot itu. “Bagaimana? Apakah semuanya
sudah beres?” tanya sang juragan.
“Sebagian sudah saya panen, Gan. Tinggal ladang sebelah kanan parit. Silakan
juragan periksa hasil panenan itu”.
“Di mana kau letakkan, Kerto?”
“Ada di samping rumah, Gan. Ada enam karung terigu. Bagus-bagus hasil
panenan kali ini”, kata Pak Kerto.
Kedua orang itu melangkah ke samping rumah. Sang juragan segera mendekati
tumpukan karung. Sesaat, dibukanya salah satu karung dan diambilnya sehelai daun
yang ada di dalamnya, kemudian sehelai daun itu diciumnya. “Ahhh, luar biasa!”
teriaknya kegirangan. “Bagus…bagus sekali panenan kali ini, Kerto”, lanjut juragan
itu sambil menepuk punggung Pak Kerto. Hati Pak Kerto bahagia telah membuat
juragan senang. Ia akan mendapat tambahan upah. Watak juragan memang begitu,
kalau sedang senang ia tak segan-segan memberi tambahan upah.
“Enam karung ini disimpan yang baik dan jangan sampai kena hujan. Dua hari
lagi aku akan kembali ke sini mengambil semua hasil panenan”, ucap juragan sambil
meninggalkan Pak Kerto.
Sepeninggal juragan, Pak Kerto berbaring sambil berselimut sarung. Ia tak dapat
tidur. Pikirannya menerawang jauh. Pak Kerto ingin membelikan kain kebaya buat
istrinya dan dua sandal plastik buat kedua anaknya. Hatinya bahagia karena sebentar
lagi ia akan pulang untuk melepas kerinduan pada istri dan kedua anaknya.
Pikirannya tertuju pada pohon-pohon kecil di ladang sebelah kanan parit yang besok

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 39
harus dipanen. Ia tak habis berpikir, untuk apa juragan menyuruh menanam pohon-
pohon itu. Ia tidak tahu nama pohon yang bentuknya hampir mirip tanaman cabai.
Pak Kerto hanya tunduk dan patuh pada perintah juragan. Patuh adalah taat (pada
perintah, aturan, dsb.) dan berdisiplin. Ia merawat tanaman dengan baik. Ia tidak
bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Saat Pak Kerto hampir lelap, terdengar
suara orang mengetuk pintu. Pak Kerto berpikir sang juragan datang lagi. Dengan
langkah yang tergesa pak Kerto menuju ke pintu. “Sebentar Gan, sebentar…”, kata
pak Kerto sambil membuka palang pintu. “Biasanya kan langsung masuk, Gan”,
lanjutnya sambil menguak daun pintu.
Pak Kerto merasa aliran darahnya terhenti ketika di depannya berdiri empat
orang polisi dengan senjata di tangan.
“Jangan bergerak!”, gertak salah seorang polisi. Ketiga polisi lainnya langsung
masuk rumah kecil itu. Pak Kerto berdiri kaku, mematung, tidak tahu apa yang
terjadi.
“Maaf, Bapak saya tangkap”, kata polisi sambil mendekat dan memborgol kedua
tangan Pak Kerto.
“Apa salah saya, Pak?” tanya Pak Kerto terputus-putus.
“Bapak telah menanam dan menyimpan pohon ganja. Pemerintah melarang
menanam pohon itu”, jawab polisi itu tegas.
“Tapi saya hanya disuruh juragan. Saya hanya melaksanakan perintah juragan,
Pak”, kata pak Kerto tertunduk.
“Saya mengerti dan memahami keadaan Bapak. Juragan Bapak sekarang ada di
tahanan polisi”.
Polisi itu menyuruh Pak Kerto berjalan menuruni lereng perbukitan. Sedang
ketiga polisi lainnya memanggul beberapa karung terigu yang berisi daun ganja
dengan dibantu beberapa peladang yang kebetulan berada di sekitar perbukitan itu.
Pak Kerto tertunduk bisu. Inilah jawaban atas teka-teki tanaman itu, ya, dua tahun
lebih baru terjawab sekarang. Pipi keriput lelaki tua itu basah oleh air mata. Rumah
kecil di atas bukit semakin jauh ditinggalkan. Tuhan, jerit pak Kerto lirih.
Purbalingga, 1982
Diolah dari sumber Tri Astoto Kodarie: http://triastoto.wordpress.com/cerpen/

2. Temukan intisari teks tersebut dengan cara menemukan ide pokok masing-masing
struktur teks (tahap perkenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian)!
No. Struktur Teks Ide Pokok
1. Perkenalan

2. Konflik

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 40
No. Struktur Teks Ide Pokok
3. Klimaks

4. Penyelesaian

3. Susunlah ringkasan teks tersebut dengan cara menggabungkan ide pokok masing-
masing struktur teks dengan menggunakan ejaan, tanda baca, pilihan kata, kalimat,
dan paragraf yang sesuai EYD!

4. Pilihlah satu kelompok untuk mempresentasikan ringkasan yang telah disusun untuk
ditanggapi kelompok lain!

B. Tugas Individu
1. Bacalah teks cerpen yang ditulis teman!
2. Tulislah intisari teks cerpen tersebut dengan cara menemukan ide pokok masing-
masing struktur teks (tahap perkenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian)!
3. Susunlah ringkasan teks tersebut dengan cara menggabungkan ide pokok masing-
masing struktur teks dengan menggunakan bahasa yang sesuai kaidah dalam EYD!

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 41
LEMBAR KEGIATAN SISWA 5. 9

Materi Pokok : Teks Cerita Pendek

Kompetensi Dasar
5. Memahami Unsur Kebahasaan

Indikator Pencapaian Kompetensi

5.1 Dapat melengkapi kalimat dengan menggunakan konjungsi yang tepat.
5.2 Dapat menjelaskan makna kata dalam teks cerpen sesuai dengan konteksnya.
5.3 Dapat mengidentifikasi kalimat sederhana atau kalimat tunggal dalam teks cerpen
5.4 Dapat mengidentifikasi kalimat majemuk atau kalimat kompleks dalam teks cerpen
5.5 Dapat mengidentifikasi pengulangan (repetisi) dalam paragraf teks cerpen
5.6 Dapat mengidentifikasi kata ganti dalam paragraf teks cerpen
5.7 Dapat mengidentifikasi kata penghubung (transisi) dalam paragraf teks cerpen

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Lengkapilah kalimat/paragraf berikut dengan konjungsi yang tepat!
a. Angsa-angsa putih menyelam, menyembul, ... [1] mengepak beberapa saat di atas
permukaan air, ... [2] mendarat kembali.
b. ... [3] melewati pemeriksaan yang melelahkan, sekitar lima jam, oleh petugas
pemerintah Israel yang muda-muda, kami bisa masuk Palestina.
c. Adzan subuh mengantar kami berbondong ke Masjidil Aqsha. Udara yang cukup
dingin, membuat kami menggigil. Waktu itu jamaah salat subuh tidak banyak.
... [4] habis salat lalu nyruput kopi dan makan bakso, o, alangkah lezatnya. Para
jamaah setempat berpakaian tebal ... [5] berkumpul menyatu. Kami sempat
berpotret-potretan dengan takmir masjid di depan mihrab, yang tidak mungkin
kami lakukan di mihrab Masjidil Haram ... [6] Masjid Nabawi, ... [7] Masjid
Istiqlal.
d. RUMAH sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk ... [8]
telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta
jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai yang menelan nasi
bungkus pada kemasan air minum yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah
seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat
Izrail. ... [9] adzan subuh terdengar, saya masih malas bangun dalam tidur duduk
dengan kepala terkulai di ranjang Astri, anak saya yang berumur 12 tahun. Astri
telah tiga hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak
tahu kenapa lama sekali Astri pingsan.Anak-anak yang sehat, energetik, ... [10]
periang, yang mewarisi watak saya yang selalu dalam keadaan senang,
sebenarnya tidak mungkin begitu mudah jatuh pingsan. Dunia memang penuh
penderitaan, ... [11] lupakanlah itu ... [12] rebutlah kegembiraan hidup untuk
selama-lamanya.

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 42
1. ... 5. ... 9. ...
2. ... 6. ... 10. ...
3. ... 7. ... 11. ...
4. ... 8. ... 12. ...

2. Bacalah penggalan cerpen berikut!

Cerpen Danarto

Lauk dari Langit
Dimuat di Republika 03/05/2006--- http://www.sriti.com/story_view.php?key=1813

Hari masih pagi ketika gadis kecil itu berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari sambil
berteriak-teriak, "Hujan ikan! Hujan Ikan!" Kepalanya menengadah menatap angkasa
mencari tahu apakah ada lubang menganga nun di atas sana dari mana ikan-ikan
melayang beramai-ramai terjun ke bumi. Gadis kecil itu juga berlari mengitari gubuk
tempat tinggalnya dengan teriakan tak berkeputusan, "Hujan ikan! Hujan ikan!"

Ayah dan ibunya, juga dua kakaknya muncul dari dalam gubuk sambil menatap ke
udara. Sesaat ratusan ekor ikan menghujani keluarga itu. Dengan mulut menganga,
beruntun ucapan "masya Allah", tak disadari keajaiban sedang berlangsung di
kediaman mereka.

"Hujan ikan! Hujan ikan!" teriakan gadis kecil itu terus-menerus penuh kegembiraan.

Keluarga itu lalu memunguti dengan cekatan ratusan ekor ikan yang berserakan di
rerumputan pelataran, kebun, dan atap gubuk mereka. "Subhanallah," berulang-ulang
terlantun dari mulut mereka. Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan
ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan
ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? Mereka
mencoba memahami kehendak Tuhan yang tak terduga, seperti halnya memahami
hidup mereka sendiri yang serba jauh dari pengandaian.

Kelihatan keluarga ini tak biasa berandai-andai. Hidup sehari-hari keluarga yang
berkebun sayuran ini penuh kepastian. Kerja keras dan bersyukur kepada Tuhan.
Sebuah keluarga dengan tiga anak, dua lelaki, satu perempuan, tahu apa yang harus
dilakukan. Hidup terpencil di sebuah bukit, mereka tampak bebas menggarap lahan
yang ada hampir-tak berbatas. Bayam, kangkung, kul, singkong, kacang panjang,
cabai, sudah bertahun-tahun menghidupi keluarga ini sejak pengantin baru.

Merasa tak bisa hidup di kota, suami istri itu memilih menetap di sebuah bukit.
Dengan tetangga yang berjauhan, keduanya merasakan kebebasan. Bukit yang tanpa
tuan, keduanya serta-merta -- sebagaimana para tetangganya -- menjadi pemilik
sepenggal lahan kebun yang dipilihnya secara bebas. Tangan-tangan Pemda boleh
jadi tidak memadai jumlahnya untuk bisa mengurusi lahan perkebunan atau pertanian

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 43
di daerah perbukitan itu, mengingat luasnya tanah dan sedikitnya minat penduduk
untuk tinggal di situ sehingga terkesan siapa pun boleh mengolah tanah itu seberapa
pun maunya. Mau menanam apa saja, tak ada yang melarang, tak ada juga yang
mengizinkan. Sampai akhirnya keduanya beranak-pinak. Mereka berbahagia.

Sebagaimana para tetangganya, setiap saat keluarga itu dapat memperluas lahannya
dengan leluasa. Disamping sayur-mayur, keluarga itu mencoba menanam kembang.
Di antaranya anggrek. Namun sejauh ini belum dapat diukur keberhasilan usaha
kebun anggrek itu. Sedang sayur-mayur yang menjadi kebutuhan sehari-hari, keluarga
itu menjualnya kepada pedagang yang mengambilnya dan memasarkannya di kota.
Dari sini keluarga itu hidup cukup memadai.

Jarak yang cukup jauh dari kota menyebabkan para penghuni perbukitan itu cukup
sulit menyekolahkan anak-anaknya. Si bungsu, gadis kecil itu, sekitar enam tahun
usianya, yangsuka berjingkrak-jingkrak, hidup menyatu dengan kangkung, bayam,
kacang panjang, burung, tikus, dan kijang. Gadis kecil itu sering ngobrol dengan
burung maupun tikus yang berseliweran di sekitar kebun itu. Pada suatu hari, dia
melihat kijang di kejauhan dan memanggilnya. Kijang itu nampak bengong, heran,
ada seorang gadis kecil yang barangkali terlalu berani memanggil binatang yang
punya tanduk itu. Kenapa tidak?
Jelaskan makna kata yang dicetak miring dalam teks tersebut sesuai dengan konteks
penggalan cerpen!
No. Kata Makna

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 44
3. Kalimat dapat dibedakan atas kalimat tunggal/sederhana dan kalimat
majemuk/kompleks.
Contoh:
e. Di sanalah mereka benar-benar dapat bahagia. (Kalimat tunggal)
f. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang
terbuka. (Kalimat majemuk)
Bacalah penggalan cerpen berikut!

MALINA DALAM BUS TUA

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia
hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula
tujuannya.

Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir,
dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin,
digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan
di antara kedua kaki.

Wajah cekung dan bibir kering tanpa pemerah menambah getir penampilannya.
Apalagi ia sama sekali tidak tersenyum pada siapa atau apa pun. Sesekali ia
semburkan napas keras-keras, amat disengaja. Seseorang di depannya kadang
menoleh. Mungkin terganggu. Mungkin penasaran. Ia tidak hirau. Wajahnya ia
tempelkan dengan ketat ke kaca jendela. Kalau ada orang di jalan yang memerhatikan,
mukanya pasti mirip kaleng penyok.

Di luar Malina melihat sawah, sedang hijau-hijaunya. Burung-burung kecil hinggap
dan terbang. Sebagian sawah yang lain, yang letaknya jauh ke dalam, mulai
menguning. Ia bayangkan di sana pasti lebih banyak burung-burung kecil, dan petani
pasti pula sangat sibuk menghalaunya agar menjauh. Sawah dan burung-burung kecil
itu membuat ia rindu pada kakek dan nenek di kampung. Mereka sudah tua tapi tetap
ingin pergi ke sawah. Di sanalah mereka benar-benar dapat bahagia. Memang begitu
jiwa seorang petani, kata ibunya memberinya pengertian bila ia --ketika itu ia masih
kecil-- bertanya kenapa kakek dan nenek tidak kerasan tinggal bersama mereka di
kota.

Apakah itu artinya kakek dan nenek bisa bermain lumpur seumur hidup mereka? Itu
pertanyaan lain yang mendekam di kepala Malina, namun tak mampu ia sampaikan
pada orang tuanya. Anak kecil tidak boleh terlampau ingin tahu semuanya, begitu
pendapat orang dewasa.

Ia hanya merasa alangkah senang kakek dan neneknya itu. Bermain kotor dan tidak
ada yang melarang (sesungguhnya ini bukan semata-mata masalah boleh bermain
kotor atau tidak, tapi tentang kebebasan yang diidamkan semua anak kecil).

Bus berhenti. Tubuh Malina terlonjak ke depan. Ia menarik tasnya yang sedikit
bergeser. Seseorang naik dan menempati kursi di sampingnya. Anak laki-laki sepuluh
tahunan dengan seragam pramuka yang lengkap. Seragam yang dulu amat disukainya
karena ia mengira sangat keren dengan rok warna coklat pekat. Berjam-jam ia akan

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 45
berdiri di depan cermin, mematut-matut penampilannya, sampai ibunya ngomel-
ngomel.

Anak lelaki di sampingnya menguap. Ia perhatikan wajah itu tampak berat. Wajah
cemberut yang menahan beban. Mungkinkah ia habis dimarahi? Bisa pula ia sedang
malas sekolah tapi dipaksa untuk tidak membolos oleh ibunya. Jangan-jangan ia
tengah ketakutan karena lupa membuat PR dan akibat dari itu ia pasti mendapat
hukuman berdiri di halaman sekolah sampai jam pelajaran berakhir.

Buru-buru Malina mengatakan pada dirinya agar berhenti memikirkan masalah di luar
kehidupannya. Hidupnya sendiri sudah terlampau rumit. Sekarang ia sedang menjauhi
kerumitan itu. Ia ingin memisahkan diri. Namun dalam bahasa orang-orang di
sekelilingnya, ia sedang ingin lari. Mau dibantah percuma. Maka ia benarkan
pendapat itu dengan keputusan yang membuatnya berada dalam bus tua --tempat ia
bertemu segala macam kejorokan yang dulu mungkin saja tidak terbayangkan bisa
sedekat ini.

Dalam bus tua, Malina meremas jemarinya seperti remaja yang baru saja melompat
dari jendela kamar dan menemukan ruang kosong yang terlalu lebar. Ia mengalami
euphoria yang justru membuatnya kebingungan akan melangkah ke mana.

***

Datalah kalimat tunggal/sederhana dan kalimat majemuk/kompleks (masing-masing
minimal 10 kalimat) dalam cerpen tersebut!
Kalimat tunggal/sederhana Kalimat majemuk/kompleks

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 46
Simpulkan ciri-ciri kalimat tunggal dan kalimat majemuk!
Kalimat tunggal/sederhana Kalimat majemuk/kompleks

4. Untuk menyusun paragraf yang utuh, dibutuhkan kemampuan menggunakan bentuk
pengulangan (repetisi), kata ganti, dan kata penghubung (transisi) dengan tepat.
Perhatikan contoh berikut!

Menurut yang sudah-sudah, Bu Geni bukan perias biasa. Beliau mampu mengubah
calon pengantin perempuan menjadi sedemikian cantiknya sehingga benar-benar
manglingi, tak dikenali lagi. Salah satu keistimewaan beliau adalah menyemburkan
asap rokok ke wajah calon pengantin. Menurut tradisi, katanya ini disembagani,
dijadikan seperti kulit tembaga. Bukan emas. Hampir semua perias pengantin
memakai cara yang sama, namun tak ada yang menyamai kelebihannya. Pernah
dalam satu hajatan, tuan rumah pingsan karena disangka anak perempuan yang
dinikahkan kabur. Ibu calon pengantin pingsan, bapak calon pengantin malu, dan
sanak saudara mulai mencari ke teman-temannya. Padahal, sang calon pengantin ada
di rumah. Bahkan setelah ditemukan, ibu calon pengantin masih menolak: “Itu
bukan anak saya. Itu bukan anak saya.”

Pengulangan yang terdapat dalam paragraf cerpen tersebut adalah kata “calon
pengantin” dan “ibu calon pengantin”. Kata ganti yang digunakan meliputi Bu Geni:
beliau, -nya. Sedangkan kata penghubung (transisi) yang digunakan antara lain
sehingga, namun, karena, dan, padahal, dan bahkan.

Bacalah penggalan cerpen berikut!
No. Penggalan Cerpen
13. GUGAT DI TANAH BLITAR
(1) Di sebuah tempat yang sepi, jauh dari perkotaan. Suasana dingin
yang selalu menyelimuti gubuk kecil yang terbuat dari bambu. memancarkan
sinar matahari disiang hari dan berselimut bintang-bintang serta rembulan di
malam hari, diiringi nyanyian hewan-hewan malam yang bersautan, menambah
keromantisan suasana. Hiduplah keluarga sangat sederhana tetapi bersahaja.
Keluarga itu ada empat orang, yaitu Pak Darmadi, Bu Darmadi, dan dua anak
laki-laki yaitu Supriyadi dan Wiyono. Walaupun hidup berdinding bambu dan
beratap sirap, namun keluarga itu selalu tentram dan damai.
(2) Suatu ketika keluarga Pak Darmadi mendapat cobaan. Ibu Darmadi
sakit keras. ibu Darmadi merasa hidupnya tidak lama lagi, oleh karena itu sisa
waktu digunakan sebaik-baiknya untuk memberikan wejangan hidup pads
anak-anaknya. "Le! Anakku mendekatlah Nah...ibu hendak berpesan padamu

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 47
Le, "kata Ibu Darmadi sambil terbaring lemah di tempat tidurnya. Mendengar
permintaan ibunya, Supriyadi dan Wiyono yang sejak kecil selalu patuh pada
kedua orang tuanya, mendekati ibunya dengan perasaan berdebar-debar.
Kemudian ibu Darmadi membisikkan kata-kata pada Supriyadi dan Wiyono "
Anak-anakku Supriyadi dan Wiyono....kalian jangan nakal, nanti kalau ibu
sudah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa....Kalian hares menjadi anak yang
berguna bagi nusa dan bangsa serta agama….kalian harus menjadi benteng bagi
bangsa kita yang selalu dijajah oleh bangsa lain". Pak Darmadi sangat terkejut
mendengar kata-kata isterinya, ia mempunyai firasat buruk bakal terjadi pada
orang yang dicintai selama ini. "Bu Ne!... Bu Ne!...jangan berkata seperti
itu...kamu pasti sembuh, "Kata Pak Darmadi menghentikan pembicaraan Ibu
dengan anaknya. "Kang …aku bangga bisa mengabdi pada Kakang!....Maafkan
aku Kang!....Aku juga bangga pada anak-anak kita Kang!....Jaga anak-anak ya
Kang….aku yakin Kakang pasti menjaga dan menjadikan akan-anak sebagai
pejuang-pejuang yang gagah berani nantinya....maafkan....maafkan
Kang....ashaduallah illahaillah waashadu anna muhammaddarrasulullah,
"Ucapan sahadat dari bibir Bu Darmadi mengiringi kepergiannya
meninggalkan dunia yang kejam.
(3) Pak Darmadi dan kedua anaknya tegar menghadapi cobaan hidup.
Dengan dipanggilnya seseorang yang sangat disayangi kehadapan Tuhan Yang
Maha Esa.
(4) Dua tahun kemudian Pak Darmadi dan kedua putranya pergi ke kota
Trenggalek. Pak Darmadi bekerja di Pemerintahan. Dia sangat sibuk dengan
pekerjaannya. Mengurus kedua anak-anaknya yang masih kecil-kecil juga
merupakan kesibukan sehari-hari. Demi kebahagian Supriyadi dan Wiyono,
Pak Darmadi terpaksa menikah lagi dengan orang kota. Pernikahan untuk
merawat anak-anaknya. Susilih, begitulah nama perempuan yang dinikahi pak
Darmadi. Walaupun Susilih orang kota, dia sangat baik dan menganggap
Supriyadi-Wiyono seperti anak kandungnya. Susilih mengasuh kedua putra Pak
Darmadi penuh dengan kasih sayang. Waktu itu Indonesia masih dibawah
kekuasaan Belanda. Orang pribumi jarang yang bersekolah bahkan
dilarangnya. Tetapi dengan sedikit kekayaan Susilih dan hasil jerih payah Pak
Darmadi, Supriyadi sebagai anak tertua disekolahkan di Mosvia Magelang,
Jawa Tengah. Mosvia adalah sejenis, sekolah kepamongprajaan, lulusannya
dapat diangkat menjadi pamong praja pemerintah.
....

Datalah pengulangan (repetisi), kata ganti, dan kata penghubung (transisi) yang
terdapat dalam penggalan cerpen di atas!
Paragraf Pengulangan Kata Ganti Kata Penghubung

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 48
Paragraf Pengulangan Kata Ganti Kata Penghubung

LKS BIN VII, 2: Teks Cerita Pendek Nik’s N 49