You are on page 1of 25

Presentasi / Kasus

DISTOSIA BAHU

Oleh:
Dwi Asrini 1210312024
Mutiarawati 1110311018

Preseptor:
dr. Roza Sriyanti, Sp.OG(K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG
2017
i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah swt. karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan presentasi / kasus
yang berjudul “Distosia Bahu”. Presentasi / kasus ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik di
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dr. Roza Sriyanti, Sp.OG(K)
sebagai pembimbing yang telah memberikan arahan dan petujuk, dan
semua pihak yang telah membantu dalam penulisan presentasi / kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa presentasi / kasus ini masih
memiliki banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis
harapkan. Akhir kata, semoga presentasi / kasus ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Padang, Juli 2017

Penulis

ii

Distosia 2 1. Tujuan Penulisan 1 C. Etiologi 12 3. Definisi 2 2. Diagnosis 13 4. PENDAHULUAN 1 A. TINJAUAN PUSTAKA 2 A. Diagnosis 11 B. Definisi 12 2. Metode Penulisan 1 BAB 2. Distosia Bahu 12 1. Latar Belakang 1 B. DISKUSI 23 DAFTAR PUSTAKA iii . Penatalaksanaan 13 BAB 3. DAFTAR ISI Sampul Depan Kata Pengantar ii Daftar Isi iii BAB 1. LAPORAN KASUS 16 BAB 4. Etiologi 2 3.

Dari angka tersebut. persalinan macet (distosia) 6. distosia. Seksio sesarea di Amerika Serikat dilaporkan meningkat setiap tahunnya.1% merupakan seksio sesarea primer.8%. tanpa komplikasi. fetal distress. Latar Belakang Data dari Reproductive Health Library menyatakan terdapat 180 sampai 200 juta kehamilan setiap tahun. Laporan American College of Obstretician and Gynaecologist (ACOG) menyatakan bahwa seksio sesarea primer terbanyak pada primigravida dengan fetus tunggal. Distosia merupakan indikasi terbanyak untuk seksio sesarea pada primigravida sebesar 66. Sebab kematian tersebut adalah perdarahan 24. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1 . preeklampsi. Dari angka tersebut terjadi 585.000 kematian maternal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. abortus 12. Metode Penulisan Penulisan ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan merujuk pada berbagai literatur. dan sebab langsung yang lain 7. C. etiologi. infeksi dan sepsis 14.7%.9%. presentasi vertex. dan elektif. diagnosis.9%.9%. 19. Pada tahun 2002 terdapat 27. dan tatalaksana distosia. B.9%. hipertensi dan preeklampsi/eklampsi 12. BAB 1 PENDAHULUAN A.6 % seksio sesarea dari seluruh proses kelahiran.9%. Tujuan Penulisan Penulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai definisi. Indikasi primigravida tersebut untuk seksio sesarea adalah presentasi bokong.

kekuatannya semakin lama semakin kuat dan sering serta mengalami fase relaksasi yang baik. sehingga distosia merupakan persalinan yang sulit. sehingga pada kondisi tersebut dilakukan induksi persalinan. Passage Pelvis (panggul) tersusun atas empat tulang: sakrum. koksigis. His normal yaitu his yang timbul dominan pada fundus uteri. Power Power adalah kekuatan ibu mendorong janin. yaitu kekuatan hisdan kekuatan ibu dalam mengejan. tidak ada kemajuan dalampersalinan atau merupakan persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi janin maupun ibu. simetris. Apabila kontraksi tidak adekuat. Distosia 1. Tulang-tulang inominata bersendi dengan sakrum pada sinkondrosis sakroiliaka dan bersendi dengan tulang inominata sebelahnya di simfisis pubis. a.2 Kontraksi uterus atau his secara normal terjadi pada awal persalinan yakni pada kala 1. dys atau dus berarti buruk atau jelek. Pada awal kala 1 his yang timbul masih jarang yaitu 1 kali dalam 15 menit dengan kekuatan 20 detik. dan dua tulang inominata yang terbentuk oleh fusi ilium.2 2 . dan apabila tidak ada kemajuan persalinan maka dilakukan seksio sesaria.1 2. iskium. dan pubis. his ini semakin lama akan timbul semakin cepat dan sering yakni interval 2 sampai 3 kali dalam 10 menit dengan kekuatan 50 sampai 100 detik. Etiologi Distosia terjadi karena beberapa faktor.A. maka serviks tidak akan mengalami pembukaan. tosia berasal dari tocos yang berarti persalinan. yaitu kelainan power. dan passanger.2 b. Definisi Distosia berasal dari bahasa Yunani. passage.

dibandingkan dengan pria. disebut sebagai konjugata obstetris. berfungsi untuk menyokong intestinum. Diameter anteroposterior yang penting dalam obstetrik adalah jarak terpendek antara promontorium sakrum dan simfisis pubis. konjugata obstetris berukuran 10 cm atau lebih. Terdapat tiga diameter pintu atas panggul yang biasa digunakan: diameter anteroposterior. Normalnya. terletak di atas bidang. cenderung lebih bulat daripada lonjong. Panggul sejati. terletak di bawah bidang. yaitu: . Konjugata vera tidak menggambarkan jarak terpendek antara promontorium sakrum dan simfisis pubis. Panggul palsu. tetapi diameter ini dapat sangat pendek pada panggul abnormal. Konjugata obstetris tidak dapat diukur secara langsung dengan pemeriksaan jari. Panggul memiliki empat bidang imajiner: 1) Bidang pintu atas panggul (apertura pelvis superior) Bentuk pintu atas panggul wanita. dan diameter oblik. konjugata obstetris diperkirakan secara tidak langsung dengan mengukur 3 . diameter transversal. bayi harus dapat melewati kedua pembukaan panggul sejati ini. .1 Anatomi pelvis anteroposteior2 Panggul dibagi menjadi dua regio oleh bidang imajiner yang ditarik dari promontorium sakrum ke pinggir atas simfisis pubis. Untuk tujuan klinis. Konjugata obsteris dibedakan dengan diameter anteroposterior lain yang dikenal sebagai konjugata vera. memiliki dua bukaan yaitu: apertura pelvis superior (pintu atas panggul) dan apretura pelvis inferior (pintu bawah panggul) Selama proses kelahiran pervaginam. Gambar 2.

jarak tepi bawah simfisis ke promontorium sakrum.3 Diameter AP dan T panggul atas dan tengah 2 3) Bidang pintu bawah panggul (apertura pelvis inferior) Pintu bawah panggul terdiri dari dua daerah yang menyerupai segitiga. berukuran 10 cm atau sedikit lebih besar. atau bidang dimensi panggul terkecil. Gambar 2.2 Diameter AP panggul atas dan panggul tengah 2 2) Bidang panggul tengah (dimensi panggul terkecil) Panggul tengah diukur setinggi spina iskiadika. biasanya merupakan diameter pelvis terkecil. Area-area ini memiliki dasar yang sama yaitu garis yang ditarik antara dua tuberositas iskium. yaitu konjugata diagonalis. dan hasilnya dikurangi 1.5-2 cm. Diameter interspinosus. Apeks dari segitiga posteriornya berada di ujung sakrum dan batas lateralnya adalah ligamentum sakroiskiadika dan 4 . 5cm. Memiliki makna khusus setelah engagement kepala janin pada partus macet. Gambar 2. Diameter anteroposterior setinggi spina iskiadika normal berukuran paling kecil 11.

ataupun platipeloid. Bentuk segmen-segmen ini menentukan klasifikasi panggul menjadi: panggul ginekoid. Klasifikasi Caldwell-Molloy didasarkan pada pengukuran diameter transversal terbesar di pintu atas panggul dan pembagiannya menjadi segmen anterior dan posterior. 2 Gambar 2. Tiga diameter pintu bawah panggul yang biasa digunakan yaitu: anteroposterior. android. 2 Gambar 2. transversal. Passanger 5 . anthropoid. Segitiga anterior dibentuk oleh area di bawah arkus pubis.5 Tipe panggul berdasarkan klasifikasi Caldwell-Moloy 2 c.4 Pintu bawah panggul2 4) Bidang dengan dimensi panggul terbesar (tidak memiliki arti klinis) Caldwell dan Moloy mengembangkan suatu klasifikasi panggul yang masih digunakan hingga saat ini.tuberositas iskium. dan sagital posterior.

Ubun-ubun besar atau anterior berbentuk belah ketupat. sutura. Diameter-diameter yang penting antara lain:2 1) Diameter oksipitofrontalis (11. sisanya merupakan tengkorak padat yang terdiri dari dua tulang frontalis. Sutura yang paling penting adalah sutura frontalis.6 Kepala janin pada kehamilan aterm yang memperlihatkan ubun-ubun. Pada usia kehamilan aterm. sutura sagitalis. wajah hanya merupakan sebagian kecil dari kepala. dan dua sutura lambdoidea. Lokasi ubun-ubun memberikan informasi penting mengenai presentasi dan posisi janin. Tulang-tulang tengkorak dipisahkan oleh ruangan membranosa yang disebut sutura. mengikuti garis dari titik tepat di atas pangkal hidung ke bagian yang paling menonjol dari tulang oksipitalis. Pada tempat pertemuan beberapa sutura terbentuk ruang ireguler. ditambah bagian atas tulang oksipitalis dan sayap sfenoid. terletak di perpotongan antara sutura sagitalis dan sutura lambdoidea. dua tulang parietalis. dan dua tulang temporalis. yang ditutupi oleh suatu membran yang disebut sebagai ubun-ubun. terletak di pertemuan antara sutura sagitalis dan sutura koronaria. dan diameter biparietal. dua sutura koronaria. Ubun-ubun kecil atau posterior berbentuk segitiga. Gambar 2.5 cm). 2 Biasanya dilakukan pengukuran beberapa diameter dan lingkar tertentu pada kepala neonatus. 6 .

Gambar 2.7 Diameter-diameter kepala janin cukup bulan 2 Lingkar tebesar kepala. Tulang- tulang kranium dalam keadaan normal dihubungkan hanya oleh sebuah lapisan tipis jaringan fibrosa yang memungkinkan masing-masing tulang bergeser untuk menyesuaikan dengan ukuran dan bentuk panggul ibu. 5) Diameter suboksipitobregmatikus (9. dari dagu ke bagian yang paling menonjol dari oksiput. Pada persalinan lewat bulan. berdasarkan bidang diameter oksipitofrontalis berukuran rata-rata 34. garis tengah transversal terpanjang pada kepala. mengikuti garis yang ditarik dari bagian tengah ubun-ubun besar ke permukaan bawah tulang oksipitalis tepat di pertemuan tulang ini dengan leher.5 cm. Lingkar terkecil kepala. 3) Diameter bitemporalis (8.5 cm). 4) Diameter oksipitomentalis (12. Bayi prematur memiliki tengkorak 7 .5 cm). osifikasi tengkorak telah terjadi sehingga kemampuan tulang-tulang tengkorak untuk bergerak menjadi berkuramg.5 cm). berukuran 32 cm. memanjang dari satu tulang parietalis ke tulang parietalis lainnya.2) Diameter biparietalis (9. jarak terjauh antara dua sutura temporalis. Proses ini disebut sebagai molding.0 cm). berdasarkan bidang suboksipitobregmatikus.

Posisi kepala dan derajat osifikasi menghasilkan spektrum plastisitas kranium yang bervariasi. Letak janin dapat bervariasi yaitu: longitudinal. Presentasi funik menyatakan presentasi tali pusat. namun kedua pemeriksaan memiliki derajat kesalahan yang tinggi. 8 . Presentasi campuran menyatakan bahwa terdapat lebih dari satu bagian tubuh janin pada pintu atas panggul. dan hal ini terjadi pada sekitar 5% persalinan. Janin dengan letak longitudinal memiliki presentasi wajah atau bokong. hal ini menimbulkan disproporsi fetopelvik yang menjadi indikasi utama seksio sesarea. Pada beberapa kasus. transversal. 2 Malpresentasi menunjuk pada presentasi selain verteks. 3) Presentasi janin Presentasi merupakan bagian terbawah janin yang paling dekat dengan jalan lahir. 2) Letak janin Letak janin menyatakan aksis janin relatif terhadap aksis longitudinal uterus. hanya janin dengan letak longitudinal yang dapat selamat melalui persalinan pervaginam. jarang terjadi. wajah. dari minimal hingga maksimal. Pada kehamilan tunggal. atau oblik. atau. Makrosomia fetus berkaitan dengan kegagalan trial of labor.yang lebih lunak dan sutura yang lebih lebar sehingga molding yang terjadi dapat berlebihan. Terdapat 6 variabel penting pada janin yang mempengaruhi proses melahirkan:2 1) Ukuran janin Ukuran janin dapat ditentukan secara klinis melalui palpasi abdomen atau melalui pemeriksaan ultrasonografi. Fetus dengan presentasi kepala diklasifikasikan berdasarkan bagian dari tulang tengkorak yang tampak yaitu oksiput (veteks). sinsiput.

8 Letak memanjang. (C) wajah. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan kemajuan persalinan. diameter suboksipitobregmatikus tampil pada pintu atas panggul. presentasi kepala. Diameter yang muncul pada pintu atas panggul meningkat sejalan dengan derajat ekstensi (defleksi) kepala. (B) sinsiput. posisi menjadi oksiput anterior kanan (ROA). Fleksi kepala penting dalam engagement kepala fetus pada panggul ibu. Hal ini dapat ditentukan melalui pemeriksaan vagina. Jika oksiput mengarah secara langsung ke anterior. oksiput menjadi acuan penilaian. Hal ini merupakan diameter terkecil yang dapat muncul pada presentasi kepala.2 5) Posisi janin Posisi janin menyatakan hubungan antara titik acuan pada bagian terbawah janin dengan sisi kanan atau kiri jalan lahir. Jika oksiput mengarah ke sisi kanan ibu. Pada presentasi kepala.Gambar 2. Arsitektur dinding pelvis bersama dengan peningkatan aktivitas uterus dapat memperbaiki derajat defleksi pada tahap awal persalinan. posisi menjadi oksiput anterior (OA).2 9 . variasi posisi janin dapat disingkat dengan membentuk arah jarum jam sebagai berikut. Perbedaan sikap tubuh janin pada presentasi (A) verteks. Jika dagu fetus mengalami fleksi optimal hingga mencapai dada. (D) dahi 2 4) Sikap atau postur janin Sikap menyatakan posisi kepala dalam hubungan dengan tulang belakang janin (derajat fleksi/ ekstensi kepala janin). Pada presentasi oksiput.

2 Gambar 2. Penentuan ini didasarkan pada pengukuran kuantitatif dalam sentimeter pada tepi awal tulang dari spina iskiadia. kepala mengalamai rotasi menjadi posisi OA. ROA. ataupun LOA. ataupun LOA. Sutura sagitalis merupakan sutura yang paling mudah dipalpasi. Pada presentasi verteks posisi dapat ditentukan dengan palpasi sutura janin.9 Bidang Hodge 10 . sakrum menjadi acuan penilaian. ROA. Titik tengah (station 0) didefinisikan sebagai bidang spina iskiadika ibu. Standar klasifikasi dinyatakan dalam derajat -5 sampai dengan +5. 6) Station Station merupakan pengukuran turunnya bagian janin melalui jalan lahir. Spina iskiadika ibu dapat dipalpasi pada pemeriksaan vagina. Pada persalinan sungsang. Biasanya kepala janin memasuki pintu atas panggul dalam posisi tranversal. kira-kira searah jam 8 ataupun jam 4. dan pada persalinan normal. Malposisi menunjukkan persalinan dengan posisi selain OA. Kebanyakan bayi dilahirkan dengan posisi OA.

Kriteria. Norman F. John C. Diagnosis Menurut ACOG Practice Bulletin: Dystocia and Augmentation of Labour (2003). Distosia Bahu 1. diagnosis distosia tidak dapat ditegakkan sebelum persalinan percobaan (trial of labor) yang adekuat tercapai. Katharine D. Abnormal Labor.3.1 Pola Kelainan Persalinan. Kenneth J. et al. New York. 2010 B. Definisi Distosia bahu adalah suatu keadaan dimana diperlukannya tambahan manuver obstetrik oleh karena terjadi impaksi bahu depan 11 . Williams Obstetrics 23rd Edition. In. Thw Mc Graw-Hill Companies. dan Metode Penanganan 2 Sumber: Cuningham F G. Tabel 2. Larry C.

dan merotasikan kedua kaki ke arah luar. b. b. d. obesitas. 4. 2. Manual remover posterior arm). Turtle sign: suatu keadaan dimana kepala sudah dilahirkan gagal melakukan putaran paksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antara bahu posterior dengan kepala. dan kehamilan postterm). Diagnosis Penegakan diagnosis pada kondisi terjadinya persalinan dengan distosia bahu antara lain: a. 3. c. Makrosomia (bayi yang dikandung oleh seorang ibu dengan diabetes mellitus. Etiologi Penyebab terjadinya distosia bahu antara lain : a.Manuver ini dapat 12 . b. a.diatas simphisis sehingga dengan tarikan ke arah belakang pada kepala bayi tidak bisa untuk melahirkan bayi. Ask for help Meminta bantuan asisten untuk melakukan pertolongan persalinan. c. Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu. Kegagalan bahu untuk melipat kedalam panggul. Kelainan bentuk panggul. memfleksikan kedua paha sehingga posisi lutut menjadi sedekat mungkin dengan dada. Lift the legs and buttocks Melakukan manuver McRoberts yang dimulai dengan memposisikan ibu dalam posisi McRoberts yaitu ibu terlentang. Anterior shoulder disimpaction. Lift the legs and buttocks. Kepala janin telah lahir namun masih menekan vulva dengan kencang. Rotation of posterior shoulder. Dagu tertarik dan menekan perineum. Penatalaksanaan Penanganan persalinan dengan distosia bahu dikenal dengan “ALARM“ (Ask for help.

10 Lift the legs and buttocks c. Manuver ini dilakukan dengan cara memasukkan tangan penolong sesuai dengan punggung bayi (jika punggung kanan gunakan tangan kanan.6 d.Mintalah asisten untuk melakukan penekanan suprasimphisis ke arah posterior menggunakan pangkal tangan (Manuver Massanti). dan sebaliknya) ke vagina dan diletakkan di belakang bahu janin. sedangkan disimpaksi bahu depan secara internal dapat dilakukan dengan menggunakan manuver rubin. Sementara itu lakukanlah tarikan pada kepala janin ke arah posterokaudal.Penekanan ini bertujuan untuk menekan bahu anterior agar mau masuk ke simphisis.6 Gambar 2. Rotation of posterior shoulder Melakukan rotasi bahu belakang dengan manuver Woods. Disimpaksi bahu depan secara eksternal dapat dilakukan dengan menggunakan manuver massanti. Bahu 13 . tekanlah daerah ketiak bayi sehingga bahu berputar menjadi posisi obliq atau transversa dan dengan bantuan penekanan simphisis maka akan membuat bahu bayi semakin abduksi sehingga diameternya mengecil.menyebabkan terjadinya pelurusan relatif dari sakrum terhadap vertebra lumbal disertai dengan rotasi simphisis phubis ke arah kepala ibu serta pengurangan sudut kemiringan panggul. Manuver Rubin dilakukan dengan cara (masih dalam manuver McRoberts) masukkan tangan pada bagian posterior vagina. Anterior shoulder disimpaction Melakukan disimpaksi bahu depan dengan menggunakan dua cara yaitu eksternal dan internal.

6 Gambar 2. Manual remover posterior arm Pelahiran bahu belakang secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan manuver Shwartz. Manuver ini dilakukan dengan cara memasukkan tangan ke vagina sepanjang humerus posterior janin yang dipisahkan ketika lengan disapukan ke arah dada.kemudian diputar 180 derajat ke anterior dengan gerakan seperti membuka tutup botol.12 Manual remover posterior arm 14 .6 Gambar 2. namun tetap terfleksi pada siku. Tangan janin digenggam dan ditarik sepanjang sisi wajah dan kemudian lengan belakang dilahirkan dari vagina.11 Rotation of posterior shoulder e.

Anak Besar. nyeri haid tidak ada. perdarahan (-).6 dan 8 bulan)  RHT : Mual (-). lamanya 5-7 hari.04. muntah (-). BAB 3 LAPORAN KASUS Nama : Ny.12 Pendidikan : Tamat SMA Pekerjaan : IRT Tanggal Masuk : 4 Juli 2017 Anamnesis : Seorang pasien wanita umur 24 tahun datang ke Ponek RSUD dr. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA 15 . banyaknya 2-3 kali ganti pembalut per hari. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien tidak pernah menderita penyakit jantung. RM : 10. muntah (-). RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG  Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari dirasakan sejak 8 jam yang lalu  Keluar lendir campur darah dari kemaluan sejak 8 jam yang lalu  Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada  Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada  Tidak haid sejak ± 9 bulan yang lalu  HPHT : lupa TP : sulit ditentukan  Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu  RHM : Mual (-).4. siklus haid teratur 1 x 28 hari. WY Umur : 24 tahun No. ginjal. perdarahan (-)  Riwayat menstruasi : Menarche usia 13 tahun.40 WIB. Adnaan WD Payakumbuh pada tanggal 4 Juli 2017 pukul 18. paru. DM dan hipertensi. kiriman dari bidan dengan G2P1A0H1 parturient aterm kala I fase aktif + Susp. hati.  ANC : kontrol ke bidan Puskesmas 4x sejak usia kehamilan 2 bulan (usia kehamilan 2.

wh-/- Abdomen : Status Obstetricus Genitalia : Status Obstetricus 16 . 3600 gram. Sekarang Riwayat Kontrasepsi : Tidak ada Riwayat Imunisasi : TT 1 kali di Puskesmas (bulan ke 6) Riwayat Pendidikan : Tamat SMA Riwayat Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Riwayat kebiasaan : Alkohol (-). cukup bulan. laki. Rh-/-. kelenjar tiroid tidak tampak membesar Palpasi : Kelenjar tiroid tidak teraba membesar Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar Thoraks : Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V Perkusi : Batas jantung normal Auskultasi : BJ I-II Reguler. dokter.45 kg/m2 Status Gizi : cukup Vital sign: Tekanan Darah : 120/70 mmHg Nadi : 88 x/menit Nafas : 20 x/menit Temperatur : 37 0C Mata : Konjungtiva tidak anemis. hidup 2. sklera tidak ikterik Leher : Inspeksi: JVP 5-2 cmH2O. narkoba (-). Tahun 2013. merokok (-) PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Sedang Kesadaran : compos mentis kooperatif Tinggi Badan : 156 cm BB sekarang : 69 Kg BB sebelum hamil : 57 kg LILA : 26 cm BMI : 23. Vacum Ekstraksi. murmur(-).Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit keturunan. menular dan kejiwaan Riwayat Perkawinan : 1 x tahun 2013 Riwayat Kehamilan/Abortus/Persalinan : 1/0/0 1. gallop (-) Pulmo Inspeksi : gerak nafas simetris kanan dan kiri Palpasi : fremitus taktil kanan = kiri Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler +/+.laki.

sikatrik (-) Pa : L1 : FUT teraba 3 jari dibawah processus xyphoideus Teraba massa besar. Teraba kepala UUK melalui HII-III Diagnosa : G2P1A0H1 parturien aterm kala I fase aktif + Susp Anak Besar Janin hidup tunggal intra uterine presentasi kepala UUK melintang H II-III Sikap :  Kontrol keadaan umum. Gerak anak (+) Pemeriksaan Fisik: Keadaan umum : sedang Kesadaran : compos mentis cooperatif Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi : 82 x/menit Nafas : 20 x/menit Suhu : 37º C Abdomen : 17 . noduler L2 : teraba tahanan terbesar disebelah kanan Teraba bagian-bagian kecil janin disebelah kiri L3 : teraba massa besar. pasien merasa kesakitan dan ingin mengejan. keras. DJJ : 135-145 x/menit Genitalia Inspeksi : V/U tenang. RF +/+. Ketuban (+). lunak.Ekstremitas : Edema -/-. terfiksir L4 : Sejajar FUT : 38 cm TBA : 4030 gr His : 3-4x/40”/S Pe : Tympani Au : BU (+) N. RP -/- Status Obstetrikus : Abdomen I : perut tampak membuncit sesuai dengan kehamilan aterm Linea mediana hiperpigmentasi. ppv (-) VT : Ø 7-8 cm. tanda vital.25 WIB Anamnesa: Keluar air-air yang banyak dari kemaluan berwarna keruh. his dan DJJ  Informed consent  Nilai Ulang 2 jam lagi Rencana : Partus Pervaginam 20. striae gravidarum (+).

His : 3-4x/40”/K Bunyi jantung Anak : 130-140 x/menit Genitalia : I : V/U tenang. Berat Badan : 4070 gram b.30 WIB Dilakukan episiotomi Lahir kepala sampai leher dengan tenaga mengedan ibu sendiri.Anak Besar Janin hidup tunggal intra uterine presentasi kepala UUK depan H III-IV Sikap : . Perdarahan selama tindakan : ± 100 cc. VS. namun tidak terjadi putar paksi luar  distosia bahu Pukul 20. 1 buah. ppv (-) VT : Ø lengkap. berat ± 600 gr.robert dan Massanti Lahir seorang bayi perempuan. dengan : a.33 WIB Lahir bahu  Manuver MC. DJJ . ketuban (-). ukuran 18x16x3.Kontrol KU. teraba kepala UUK depan HIII-IV Diagnosa : G2P1A0H1 parturient aterm kala II + Susp. sisa keruh.5 cm. lengkap. panjang tali pusat ± 60 cm. insersi parasentralis. Panjang Badan : 52 cm c. His.Pimpin mengejan Rencana : Partus Pervaginam Pukul 20. APGAR Score : 6/8 Plasenta lahir spontan. Diagnosis Post Tindakan : 18 .

pukul 08. ASI +/+. Refleks Fisiologis +/+. Refleks Patologis -/- Diagnosis : P2A0H2 Post Partus Pervaginam dengan Manuver Mc Robert + Massanti ai distosia bahu NH I Ibu dan anak baik Sikap :  Kontrol keadaan umum. PPV (-). awasi perdarahan IVFD RL drip oksitoxyn : methergyn = 1 : 1 FOLLOW UP Tanggal 5 Juli 2017. demam (-). sklera tidak ikterik Abdomen : Inspeksi : tidak tampak membuncit Palpasi : Fundus uteri teraba 3 jari di bawah pusat. perdarahan pervaginam  Diet tinggi kalori tinggi protein 19 . perdarahan pervaginam (-). kontraksi baik. lokhia (+) Ekstremitas : edema -/-. BAB (+) Pemeriksaan Fisik :  Keadaan Umum : Sedang  Kesadaran : Komposentis Kooperatif  Tekanan Darah : 120/80 mmHg  Nadi : 80 x/menit  Respirasi : 20 x/menit  Suhu : 36. nyeri lepas (-). BAK (+). Defense muscular (-) Perkusi : Timpani Auskultasi : Bising usus (+) normal Genitalia : vulva dan uretra tenang. tanda vital. nyeri tekan (-). luka episiotomi baik.P2A0H2 Post Partus Pervaginam dengan Manuver Mc Robert + Massanti ai distosia bahu Anak dan Ibu baik Sikap : Awasi Pasca Tindakan.00 WIB  Keluhan (-).7⁰C Mata : konjungtiva tidak anemis.

 Breast care dan vulva hygiene  Mobilisasi dini Terapi : Amoxicillin 3 x 500 mg Asam Mefenamat 3 x 500 mg Vitamin C 1 x 1 tab SF 1 x 1 tab Metil Ergometin 3 x 1 tab Rencana : Boleh pulang 20 .

BAB 4 DISKUSI 21 .

New York. Dalam : Buku Saku Patofisiologi. Hanifa. Williams Obstetrics 22nd Edition. John C.Alan. McGraw-Hill Companies. 22 . 2009. Kenneth J. Dalam. Breech Presentation. New York. Abnormal Labor. Bentuk dan Kelainan Panggul. Jakarta :EGC. Gynecology and Obstetric 6th edition. 5. et al. 2005 7. Norman F. Sinopsis obstetri. 4. Norman F. DeCherney. Katharine D. et al. Thw Mc Graw-Hill Companies. 2006. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Schiara J. Williams Obstetrics 23rd Edition. Larry C. Elizabeth J. Chicago. Lippincot-Raven Publisher. “Ilmu kebidanan” Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta 2. Thw Mc Graw-Hill Companies. 6.. DAFTAR PUSTAKA 1. John C. Winkjosastro.Ed 10. 784-785. Jakarta: 2002: 315-330. Cuningham F G. In. 2010 3. Muchtar R. Corwin. Kenneth J. 1997. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics &Gynecology. Katharine D. 2007. Larry C. et al. Sistem Reproduksi. Cuningham F G.