You are on page 1of 15

1

2006) Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya. a. Tempat : Meja masing – masing tim. et. Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim Kegiatan : 1) Ketua tim atau Pj tim membuka acara. Tujuan pre conference adalah: 1) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien. 5) Ketua tim atau Pj tim menutup acara b. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian). Konferensi terdiri dari pre conference dan post conference yaitu : a. merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil 2) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan 3) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien b. kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T. Post Conference Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. 1962). 2. maka pre conference ditiadakan. 2) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan. 4) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang. 3) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikutnya. Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP. sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan. Tujuan Pre dan Post Conference Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah. 4) Ketua tim atau Pj menutup acara. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas. 2006) Waktu : setelah operan Tempat : Meja masing – masing tim Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim Kegiatan : 1) Ketua tim atau Pj tim membuka acara 2) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing – masing perawat pelaksana 3) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu. Pre dan Post Conference dalam Manajemen Keperawatan Definisi Pre dan Post Conference Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari.al. Tujuan post conference adalah: 2 .Marelli.M. 1997). Juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan. dan tambahan rencana dari katim dan PJ tim(Modul MPKP. Pre Conference Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim.

kesalahan pemberian makan. TTV dan kesadaran d. kehadiran dokter yang dikonsulkan. Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan. Keluhan klien c. Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. umumnya tentang keadaan pasien. Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga. Ketepatan pemberian infuse. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus. Masalah keperawatan f. Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalaah yang tidak dapat diselesaikan. d. Syarat Pre dan Post Conference a. Ketepatan dokumentasi. Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan. Rencana medis. 3. Kelemahan : 3 . Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan. Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam. 6. Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi : a. Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi : a. Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan pre conference Sistem Penugasan Dalam Manajemen Ketenagaan Keperawatan Prinsip pemilihan metode penugasan adalah : jumlah tenaga. e. Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit c. 2. 2006). Kelebihan : a. 5. 3. Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian asuhan keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan b. c. 4. misalnya merawat luka kepada semua pasien di bangsal. kualifikasi staf dan klasifikasi pasien. Perubahan keadaan terapi medis. Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing. b. e. Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan. g. c. perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan d. Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana. 7. Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan. kebisikan pengunjung lain. ketelitian. Ketepatan pemberian obat / injeksi. pembagian tiugas yang jelas dan pengawasan yang baik. b. 1. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi. kejujuran dan kemajuan masing – masing perawatan asosiet. Metode Fungsional Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. h. ketua tim dan anggota tim 4. Rencana keperawatan hari ini. Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial. Manajemen klasik yang menekankan efisiensi. f. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut : 1. Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru. Topik yang dibicarakan harus dibatasi. sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman.Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai. Utama klien b.

Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja. Metode 4 . Konsep dasar metode primer : a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. c. b. kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Ada tanggungjawab dan tanggunggugat b. menguasai keperawatan klinik. Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan. Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda Konsep Metode Tim : a. Metode Perawatan Tim Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif. Biaya lebih besar 4. b. self direction. c. dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Bersifat kontinuitas dan komprehensif c. c. Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu. Metode Kasus Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu ). maka tanggung jawab dalam tim kabur 3. akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin. Mendorong praktek kemandirian perawat. Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar. 2. b. Jika pembagian tugas tidak jelas. Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat. ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya Kelemahannya : a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. c. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Kelebihan : a. b. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah. Metode Primer Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit.a. Tujuan Metode Tim : a. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. Ada otonomi c. Model tim akan berhasil baik jika didukung oleh kepala ruang. d. Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim. Kelemahan : a. b. melakukan. Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim. b. d. tidak dapat menerapkan proses keperawatan. c. Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri. Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif. Model praktek professional b. Ketertiban pasien dan keluarga Kelebihannya : a.

hal ini berarti PP mempunyai tanggung jawab membina performa PA agar melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai professional. termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan. mengatur pemberian asuhan keperawatan. Sehingga mampu memberi informasi tentang kondisi klien kepada profesional lain khususnya dokter. hubungan antar professional. MPKP Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur. 5 . e. PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional. yaitu ada garis koordinasi yang jelas antara PP dan PA. performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP. 2006). PP yang paling mengetahui perkembangan kondisi klien sejak awal masuk. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama. Sebagai seorang manajer. PP akan mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra sesuai kebutuhan klien. PP harus dibekali dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan pemimpin yang efektif. pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. Pada pelaksanaan dan evaluasi renpra. Perawat lebih memahami kasus per kasus b. metode pemberian asuhan keperawatan. proses dan nilai-nilai profesional). d. 1996). Nilai – nilai professional Pada model ini PP dan PA membangun kontrak dengan klien/keluarga.nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods. menjadi partner dalam memberikan asuhan keperawatan. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah Kekurangan : a. 2. Metode pemberian asuhan keperawatan Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur. Komponen MPKP Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan di berbagai rumah sakit. intensive care. umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi. Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab. Sistem kompensasi dan panghargaan. proses dan nilai. Dengan demikian. b. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan penghargaan berdasarkan prosedur. (Ratna sitorus & Yulia. Kelebihan : a. PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan. Hubungan antar professional Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP. PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan oleh PA. yang memfasilitasi perawat profesional. Pemberian informasi yang akurat akan membantu dalam penetapan rencana tindakan medik. b. Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP tediri lima komponen yaitu nilai – nilai professional yang merupakan inti MPKP. a. c. penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat. Pendekatan manajemen Pada model ini diberlakukan manajemen SDM.

Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. jadwal dinas dan daftar alokasi pasien. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya. e. selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim. Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok. b.dan tahunan) .Pengawasan . Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. d. Mengurangi konflik. . Metode Tim Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Manajemen asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan 5. dan manajemen konflik . Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri dari : . c.3. supervise. 4. staf perawat. Pada pelaksanaan nya hubungan professional secara interal artinya hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat.bulanan. Pilar I : Pendekatan manajemen keperawatan Dalam model praktik keperawatan mensyaratkaan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik perawatan professional yang pertama. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan. Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien. d. perawat dengan tim kesehatan dan lain – lain.seleksi kerja orientasi.Pengarahan Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi. harian. Pilar II: Sistem penghargaan Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik keperawatan professional berfokus pada proses rekruitmen. 6 . c. Pilar III: Hubungan professional Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan keluarga). menciptakan iklim motifasi. filosofi. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan. Pilar IV : manajemen asuhan keperawatan Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan keperawat dengan mengunakan manajemen asuhan keperawatan di MPKP tertentu. manajemen waktu. b. penilaian kinerja. Sedangkan hubungan professional secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap tim keperawatan. Macam – Macam Metode Asuhan Keperawatan a. tumpang tindih dan kekososongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawatan. Tujuan MPKP a.proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru. kebijakan dan rencana jangka pendek . misi. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi (perumusan visi.Pengendalian. Pilar – Pilar MPKP Dalam model praktik keperawatan professional terdiri dari empat pilar diantaranya adalah : a. komunikasi efektif yang mencangkup pre dan post conference.

Saling memberi pengalaman antar sesama tim. Perencanaan : Fungsi perencanaan dan fungsi ketenagaan .Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim . .Merumuskan system penugasan .Memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan yankep diruangan .Akuntabilitas dalam tim kabur.Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan/fsilitas ruangan .Menjelaskan rentang kendali di ruang rawat . Kekurangan metode tim: .Memperhatikan aspek legal dan etik keperawatan 7 .Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien . Peran Kepala Ruang dalam tahap: 1. Kelebihan metode tim : .Merencanakan lgistik ruangan/failitas ruangan .Melakukan pendokumentasian 3.Mengidentifikasi tingkat ketergantungan .Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Melakukan supervisi . Ketenagaan dari tim ini terdiri dari : .Memberikan pengarahan kepada ketua Tim .Pasien dilayani secara komfrehesif .Merencanakan strategi pelaksanaan keeperawatan .Membimbing bawahan .Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik .Memberi pujian kepada anggota Tim yang melaksanakan tugas dengan baik .Menunjuk Ka Tim . .Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal . Evaluasi Fungsi pengendalian: .Memberikan umpan balik pada kinserja katim .Mengevaluasi kinerja katim . ketrampilan dan sikap anggota Tim .Mengikuti serah terima klien .Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.Mengatasi masalah di ruang rawat dan menetapkan tidak lanjut .Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan diruang rawat .Terciptanya kaderisasi kepemimpinan .Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu- buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat. Pelakaana perawatan . .Mendelegasikan tugas kepada ketua Tim Fungsi pengarahan: . Ketua tim .Memberikan motivasi dalam meningkatkan pengetahuan.Menjelaskan rincian tugas Ketua Tim .Melakukan pelaporan dan pendokumentasian 4.Tercipta kerja sama yang baik . Pembantu perawatan Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia. . Pengkajian : Mengidentifikasi masalah terkait fungsi manajamen 2. . Implementasi : Fungsi pengorganisasian : .

Melaksanakan tugas yang diberikan oleh katim .Menyusun rencana asuhan keperawatan .Menunjang pelaporan.Bersama Karu melaksanakan serah terima tugas .Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Fungsi pengarahan : . Evaluasi: Fungsi pengendalian : . 2.Mengorientasikan klien baru pada lingkungan .Memberikan umpan balik pada pelaksana .Mengatur waktu istirahat anggota tim . Perencanaan: Fungsi perencanaan dan ketenagaan : .Menyesuaikan waktu istirahat dengan anggota tim lainnya .Menerima pengarahan dan bimbingan dari katim . Perencanaan : Fungsi perencanaan dan ketenagaan : .Melaksanakan program kolaborasi dengan tim kesehatan lain . mencatat tindakan keperawatan yang dilaksanakan Fungsi pengarahan : .Melakukan pelaporan dan pendokumantasian Peran pelaksana dalam tahap : 1.Bersama katim menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan .Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan .Memberikan pujian/motivasi kepada anggota tim .Menerima informasi yang berkaitan dengan askep dan melaksanakan askep dengan etik dan legal 8 .Melakukan pelaporan dan pendokumantasian 3.Menerima pembagian tugas dari katim .Mengikuti ronde keperawatan .Memberikan bimbingan pada anggota tim .Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan .Mendelegasikan proses asuhan keperawatan pada anggota tim . Implementasi Fungsi pengorganisasian: .Menerima pembagian tugas .Menerima klien baru 3.Memperhatikan aspek legal dan etik .Memberikan pengarahan kepada anggota tim .. Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Peran Ketua Tim dalam tahap 1.Bersama karu melaksanakan pembagian tugas . Implementasi Fungsi pengorganisasian : .Memberikan infromasi yang berhubungan dengan askep .Menerima penjelasan tujuan pengorganisasian tim . Pengkajian : mengumpukan data kesehatan klien 2.Melibatkan anggota tim sampai awal dan akhir kegiatan .Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan .Melakukan pelaporan dan pendokumentasian 4. Pengkajian:mengkaji kesiapan klien dan diri sendiri untuk melaksanakan asuhan keperawatan.Mengawasi proses pemberian askep .Melaksanakan asuhan keperawatan .Bersama Karu mengadakan serah terima tugas .Mengevaluasi asuhan keperawatan .Membagi pekerjaan sesuai tingkat ketergantungan pasien .Mampu mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama tim kesehatan lain .Membuat rincian tugas anggota tim dalam keperawatan .

Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer . .Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat . .Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat .Memberi penugasan pada perawat asisten. Kelemahan dari metode perawat primer: .Mengkoordinasi pelayanan .Setiap perawat primer adalah perawat bed. rencana. melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.Membuat tujuan . Evaluasi Fungsi pengendalian : . side.Mengkaji kebutuhan .Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.Menerima pasien . .Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan. Metode Primary Team Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan. Kelebihan dari metode perawat primer: .Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai asisten.Orientasi dan merencanakan karyawan baru .Evaluasi kerja .Menyusun jadwal dinas .Membuat rencana keperawatan .Menerima pasien .Menunjang pelaporan dan pendokumentasian 4. b. .Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA) .Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat . .Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan. pelaksanaan dan evaluasi.Mengkaji kebutuhan pasien untuk asuhan .Menyusun jadual dinas .Membuat tujuan.Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain. .Merencanakan /menyelenggarakan pengembangan staf Peran Perawat Primer : .Menyiapkan penyuluhan pulang Konsep dasar : .Menerima dan menyesuaikan rencana .Melakukan konferens untuk menjelaskan rencana asuhan kepada PA yang menjadi anggota timnya. Peran Kepala Ruang : . . Kepala bangsal : . 9 . .Ada keterlibatan pasien dan keluarganya Ketenagaan : . .Memberikan kepuasan kerja bagi perawat .Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer .Perawatan adalah perawatan komprehensif .Berkomunikasi langsung dengan Dokter .Orientasi dan merencanaka karyawan baru.Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.Ada tanggung jawab dan tanggung gugat .Menyiapkan menunjukkan bahan yang diperlukan untuk proses evaluasi serta ikut mengevaluasi kondisi pasien.Mendorong kemandirian perawat. Tugas perawat primer adalah : .Memahami pemahaman yang telah dicapai .Ada otonomi.

.Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan . .Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu. Kerugian metode fungsional: .Pelayanan terputus-putus .Melaksanakan asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh PP . Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat. . Kekurangan metode kasus : .Mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam catatan tindakan keperawatan.Mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain . .Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana. dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam. .Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.Pasien mendapat banyak perawat. intensive care. 10 . . Metode Fungsional Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua.Menerima dan menyesuaikan rencana .Memantau PA dalam melaksanakan rencana asuhan keperawatan. .Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu. 2002). . Metode Kasus Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas.Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien bertugas.Mengikuti konferens untuk menerima penjelasan tentang asuhan yang direncanakan oleh PP. catatan tindakan keperawatan) Peran Perawat Asosiat : . Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan.Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. c.Melakukan kolaborasi dengan t9im kesehatan lainnya..Menyiapkan penyuluhan untuk pulang . Kelebihan metode kasus: . d.Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai Kelebihan dari metode fungsional : .Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan. 2002). . . .Melakukan pendokumentasian (catatan perkembangan.Efisien. .Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas. perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam. .Membutuhkan banyak tenaga. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas bersama PA yang menjadi anggota timnya. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1 – 2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal.Memberi informasi/masukan yang diperlukan kepada PP tentang klien untuk keperluan asuahan keperawatan selanjutnya.Kebutuhan pasien terpenuhi.Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan. .Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai . .Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh .Sederhana .Pasien merasa puas.

9. Tenaga Administrasi ruangan . Kegiatan dalam MPKP a. membuat permintaan lab untuk obat. Proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan. Tingkatan MPKP a. 7. b. Perawat Pelaksana : . Sejak itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Metode Modul / Distrik Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan Metode perawatan primer. menyampaikan pesan. Menjawab telpon. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan. pasein dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan 3.Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai. Metode MPKP Suatu sistem (Struktur.. tugasnya : Merencanakan pekeriaan. membuat penugasan. 2. Kepala Ruangan.Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang. Metode ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang. menbenahi tempat tidur. mengembangkan kurikulum keperawatan dan mengembangkan standar praktik keperawatan. Keuntungan dan Kerugian : Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula Model ini menyerupai MPKP I.obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan. tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju profesional I. dan organisasi profesi dengan terus mengembangkan keperawatan diantaranya membuka pendidikan pada tingklat sarjana. Peran Staf MPKP 1. mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan. e. Pembantu Perawat : . Perawat staf : -Melakukan askep langsung pada pasien . sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based. melakulan supervisi. memberi informasi. khususnya penelitian klinis. mencatat pasien masuk dan pulang. menentukan kebutuhan perawatan pasein. Model Praktek Keperawatan Profesional II Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. 5. dan membagikan alat tenun bersih. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan. c. menerima instruksi dokter. Model Praktek Keperawatan Profesional I Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan. d. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer. 1996 dalam Sitorus. Departemen Kesehatan. f.2005). Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi. Model praktek Keperawatan Profesional III Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor. metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. membuat duplikat rostertena ruangan. Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indoneasia dimulai sejak diterima dan diakui sebagai suatu profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). 4. yang dapat menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart&Woods. 8. Timbang terima 11 .

Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru. Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu 4.intervensi kolaborasi dan dependensi .2006) Waktu : setelah operan Tempat : meja masing-masing perawat primer PJ : kepala primer atau penanggung jawab primer Kegiatan : 1. Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara c.dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien.hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah : . Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan kien. Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan reinforcement 5.timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan .tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan . tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas. b. Jika yang dinas pada primer tersebut hanya 1 orang. Persiapan -kedua kelompok dalam keadaan siap -kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan 2. rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan. Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara 2. pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya.identitas klien dan diagnosa medik . Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat.Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien .Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya. Post conference dipimpin oleh kepala primer atau penanggung jawab primer. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan rencana dari kepala primer dan penanggung jawab primer. (modul mpkp. persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin. Pelaksanaan Dalam penerapannya. Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan jelas. bertujuan : . misalnya operasi. Post conference Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikutnya. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci.rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya. Preconference Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ka primer atau penanggung jawab primer.Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya . dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung jawab: . maka pre conference ditiadakan. Isinya adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). . Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan rencana harian masing-masing perawat pelaksana 3. (modul mpkp. 2006) Waktu : sebelum operan ke dinas berikutnya 12 .masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul . Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi. Prosedur timbang terima Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi : 1. Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien.

Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien . Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan 3. Tempat : meja masing-masing primer PJ : kepala primer atau penanggung jawab primer Kegiatan : 1. Pasca ronde Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan.memberikan reinforcement . perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.Menjelaskan masalah keperawatan utama . Ronde keperawatan Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat. Pelaksanaan ronde .Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan . konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet.Penjelasan tentang klien oleh perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan .kosuler memfasilitasi kreatifitas .mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari Tahap pelaksanaan ronde keperawatan 1. Case studi 13 . Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara d.Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan 3.Menjelaskan tindakan selanjtunya .klien merupakan fokus kegiatan .meningkatkan vadilitas data klien .Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil Peran perawat primer lain dan atau konsuler . Peran perawat primer dan perawat asosiet Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain : . intervensi keperawatan serta.memberikan justifikasi . Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara 2.Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan . Tujuan : .menilai kemampuan justifikasi .meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja . Kepala primer atau penanggung jawab primer menyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikut nya 4.tindakan yang rasional .klien dilibatkan secara langsung . e.menilai kebenaran dari suatu masalah.perawat asosiet.meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan.mengarahkan dan koreksi . Pesiapan -Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde -Pemberian informed consent kepada klien/keluarga 2.menumbuhkan cara berfikir secara kritis . disamping klien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim.menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien . Karakteristik : . perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama .

dan dokumen. maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait. tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi. lingkungan. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul. wawancara. Langkah-langkah penelitian studi kasus 1. Peneliti sebagai instrurnen penelitian. jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. (c) kegiatan sekolah 3. sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia 2. guru dan mungkin tokoh kunci lainnya. Mikroethnografi. mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation). Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan. dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data. program. pengabdian hidup seseorang. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Topik persahabatan dan topik tertentu lainnya. dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. (b) satu kelompok siswa. kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil. Masa remaja. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal. dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. peristiwa. 6. Studi kasus observasi. Menurut bogdan dan bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . dan analisis dokumentasi. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah. Ary. Studi kasus kemasyarakatan. mulai dari siswa itu sendiri. jacobs. bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi. sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia. 5. dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian. Sementarayin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. 4. dan razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Studi ini sering kurang memungkinkan untuk diselenggarakan. serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak 3. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting. orang tuanya. sekolah. seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar. (2) sasaran- sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya. kepala sekolah. mengorganisasi. Studi kasus analisis situasi. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang. karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal. Jenis-jenis studi kasus 1. Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu. dan masvarakat atau unit sosial.. Studi kasus sejarah hidup. yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. 2. Data dapat diorganisasi secara kronologis. sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan 4. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi. dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas). dan lahir hingga sekarang. proses. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti 14 . latar. teman-temannya.

untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru. rnudah dibaca. data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok. dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif. 15 . sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. 5.