You are on page 1of 13

DIKLAT MANAJEMEN RISIKO DASAR UNTUK PELAKSANA

Latar Belakang /
Faktor Pendorong

Edisi September 2014
1
Agenda Pembelajaran
• Latar Belakang dan Faktor Pendorong
• Pengantar Manajemen Risiko
• Kebijakan dan Pedoman Manajemen Risiko di PLN
• Penetapan Konteks
• Asesmen Risiko
• Penanganan Risiko
• Pemantauan dan Pelaporan Manajemen Risiko
• Penerapan Proses Manajemen Risiko
• Praktek Penyusunan Kajian Risiko (Tugas Kelompok)

2
Latar Belakang : TUJUAN Penerapan

Meningkatkan kesiapan Perusahaan
dalam menghadapi ketidakpastian (uncertainty) yang
semakin tinggi di lingkungan global, regional maupun
lokal yang berpotensi mengancam sumber daya dan
bahkan kelangsungan Perusahaan.

Menjaga agar Perusahaan tetap dalam koridor
pengelolaan usaha yang berkehati-hatian (prudent
operation) dalam setiap aktifitas yang dilakukannya
sebagai bentuk tata kelola Perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance) guna meningkatkan nilai
tambah bagi Perusahaan.

3
Referensi : PERDIR 0355.K/DIR/2014
Faktor Pendorong

Internal Eksternal

Business
Manajemen Regulatory
Drivers Risiko Drivers

4
Faktor Pendorong : Business Drivers

• Meningkatnya uncertainty di lingkungan perusahaan
mengharuskan perusahaan meningkatkan kesiapan
(preparedness) guna menjaga kelangsungan usahanya.
• Terjadinya permasalahan, kegagalan, dan hambatan pada
beberapa inisiatif/ program strategis PLN harus diambil
sebagai lesson learned agar tidak terjadi di waktu yad.
• Tantangan dan tuntutan yang dihadapi perusahaan ke depan
semakin tinggi, dan hal itu tidak dapat lagi dikelola dengan
paradigma crisis management (pemadam kebakaran), tapi
harus beralih ke paradigma risk management (preventive
action).
• Keinginan setiap Perusahaan untuk meningkatkan
keuntungan atau menghindarkan kerugian.
• Keadaan tersebut di atas menuntut segenap pengelola
perusahaan untuk aware terhadap risiko yang dihadapi.
5
Business Drivers : Sasaran Penerapan

1. Menumbuhkan budaya manajemen risiko (preventif) dalam
setiap pengelolaan Perusahaan.
2. Memastikan setiap pemilik risiko dalam Perusahaan mampu
mengelola risikonya secara efektif dan efisien.
3. Meningkatkan keterpaduan dalam pengelolaan risiko dalam
pencapaian visi, misi dan rencana strategis Perusahaan
(jangka panjang maupun pendek).
4. Mendorong perbaikan (improvement) segenap proses bisnis
dengan mengintegrasikan (embedding) manajemen risiko ke
dalam proses bisnis tersebut.
5. Meningkatkan kualitas pengambilan keputusan
6
Referensi : PERDIR 0355.K/DIR/2014
Faktor Pendorong : Regulatory Drivers
• Manajemen Risiko adalah salah satu elemen GCG yang harus
diterapkan BUMN sesuai PERMEN BUMN No PER-01/MBU/2011.

• Komitmen Direksi untuk mengimplementasikan Manajemen Risiko
tertuang dalam PERDIR No 0355.K/DIR/2014.

• Pedoman Umum Manajemen Risiko PT PLN (Persero)

• Board Manual 2013.

• ISO 31000 : 2009 (Standar Internasional Manajemen Risiko) /
SNI ISO 31000:2011 (Manajemen Risiko, Prinsip & Panduan).

• COSO ERM 2004.

• Investor dan stakeholder lainnya menilai reputasi PLN (salah
satunya) ditentukan oleh implementasi manajemen risiko dan
komitmen segenap pengelola perusahaan terhadap pengelolaan
risiko.
7
PERMEN BUMN-RI No. PER-01/MBU/2011
tentang GCG BUMN

Bagian Keenam : Manajemen Risiko
Pasal 25

1. Direksi dlm setiap pengambilan Keputusan/ Tindakan,
harus mempertimbangkan risiko usaha.
2. Direksi wajib membangun & melaksanakan program
manajemen risiko korporasi secara terpadu yang
merupakan bagian dari pelaksanaan program GCG.
3. Pelaksanaan program manajemen risiko dapat
dilakukan, dengan :
a. Membentuk unit kerja tersendiri yang ada di bawah
Direksi; atau
b. Memberi penugasan kepada Unit Kerja yang ada dan
relevan untuk menjalankan fungsi manajemen risiko.
4. Direksi wajib menyampaikan Laporan Profil Manajemen
Risiko dan penanganannya bersamaan dengan
Laporan berkala Perusahaan.

8
Board Manual 2013 (1)

E. Pelaksanaan Tugas Pengurusan Perseroan oleh Direksi
8. Manajemen Risiko

Direksi mengembangkan sistem manajemen risiko dan melaksanakannya
secara konsisten pada pengelolaan proses bisnis Perseroan, dengan
kewajiban melakukan pengkajian dan pengelolaan risiko usaha yaitu suatu
proses untuk mengidentifikasi, menganalisis, menilai dan mengelola risiko
usaha yang relevan dengan cara:

a. Identifikasi Risiko, yaitu proses untuk mengenali jenis-jenis risiko yang
relevan dan berpotensi terjadi melalui pembuatan kajian risiko;
b. Pengukuran Risiko, yaitu proses untuk mengukur besaran dampak,
termasuk menetapkan kriteria dampak dan probabilitas dari hasil
identifikasi risiko;
c. Penanganan Risiko, yaitu proses untuk menetapkan upaya-upaya yang
dapat dilakukan untuk menangani risiko potensial;
d. Pemantauan Risiko, yaitu proses untuk melakukan pemantauan terhadap
berbagai faktor yang diduga dapat mengarahkan kemunculan risiko;
e. Evaluasi, yaitu proses kajian terhadap kecukupan keseluruhan aktivitas
manajemen risiko yang dilakukan di dalam Perusahaan; dan
f. Pelaporan dan Pengungkapan, yaitu proses untuk melaporkan sistem
manajemen risiko yang dilaksanakan oleh Perusahaan beserta
pengungkapannya pada pihak-pihak yang terkait sesuai ketentuan yang
berlaku.104
9
Board Manual 2013 (2)

10
PERDIR 0355.K/DIR/2014 :
Penerapan Manajemen Risiko PLN

1. Merupakan kebijakan ‘payung’
dan trigger bagi kebijakan
pengelolaan risiko yg lebih
spesifik

2. Mengatur Keselarasan
Implementasi Anak
Perusahaan

3. Merumuskan kembali Tugas
dan Peran dalam Manajemen
Risiko.

11
Pedoman GCG PLN 2003
GCG bukan hanya kebutuhan,
namun sudah menjadi suatu keharusan (halaman 5)

Sistem pengendalian internal yang terbaik bukan sekedar
sarana untuk melindungi Perusahaan terhadap
penyelewengan finansial dan hukum, tetapi mencakup
juga upaya untuk mengidentifikasi dan menangani risiko
dengan tujuan untuk memaksimalkan penggunaan sumber
daya perusahaan secara etis, efektif dan efisien, untuk
mencapai sasaran-sasaran perusahaan
(halaman 89)

Dinamika dan sifat perubahan lingkungan operasi PT PLN
(Persero) mengandung risiko yg dapat menimbulkan
dampak terhadap aspek financial, fisik, operasi dan
sumber daya manusia. Kejadian rutin seperti perputaran
karyawan, pengembangan layanan baru atau perubahan
regulasi dapat menimbulkan risiko (halaman 95)

Proses manajemen risiko harus menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari RJP & RKAP dan oleh karena itu bersifat
enterprise wide risk manajemen (halaman 96)

12
Terima Kasih

13