You are on page 1of 12

MAKNA MEA BAGI PETANI INDONESIA

Pendahuluan

Sejarah modern Asia Tenggara adalah sejarah konflik di antara negara-negara di kawasan tersebut.
Konfrontasi Indonesia-Malaysia, klaim Filipina atas Sabah, berpisahnya Singapura dari Malaysia,
Perang Vietnam hingga invasinya ke Kamboja. Berbagai konflik yang terjadi tersebut tidak lepas
dari peran negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Soviet (Rusia-red) dan Cina.

Memasuki penghujung akhir dekade 1960-an terutama dilatar belakangi peralihan kekuasaan di
Indonesia dan Filipina, konflik-konflik ini coba diredam dengan membangun sebuah kerjasama
kawasan, yang kemudian dikenal dengan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Tujuan
didirikannya ASEAN selain untuk menghindari konflik di antara negara-negara anggotanya yang
seringkali menjurus pada penggunaan kekuatan militer, juga dimaksudkan menghadang
penyebaran komunisme di kawasan Asia Tenggara.

Namun seiring perkembangan terutama pasca Perang Dingin, kerjasama ASEAN mengarah pada
pembangunan blok ekonomi. Berbagai perjanjian yang dibuat ASEAN didominasi oleh kesepakatan-
kesepakatan ekonomi yang mengarah pada liberalisasi ekonomi dan integrasi ekonomi kawasan.
Tonggak awal liberalisasi tersebut ditandai dengan disetujuinya Common Effective Prefential Tariff-
ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) pada tahun 1992.

Dalam perjalanannya ASEAN terus melakukan penyempurnaan atas kesepakatan-kesepakatan yang
telah dibuat guna terintegrasi secara penuh alam system pedagangan global, serta mentransformasi
ASEAN dari satu asosiasi bersifat longgar menjadi organisasi berdasarkan rule-based organization
dan mempunyai legal personality yang mengikat seluruh anggotanya. Wujud konkrit dari
pengintegrasian tersebut adalah disahkannya Bali Concord II (Declaration of ASEAN Concord II)
yang menyetujui pembentukan ASEAN Community, yang terdiri dari ASEAN Political-Security
Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC) dan ASEAN Social-Culture Community
(ASCC), serta Initiative for ASEAN Integration (IAI) dalam KTT ASEAN ke-9 di Bali, Indonesia tahun
2003.

Empat tahun kemudian, tepatnya 20 November 2007, KTT ASEAN ke-13 di Singapura, para kepala
negara/pemerintahan negara-negara anggota ASEAN menandatangani cetak biru masyarakat
ekonomi ASEAN (AEC Blueprint) bersama piagam ASEAN (ASEAN Charter). Piagam ASEAN mulai
berlaku pada tanggal 15 Desember 2008. Dengan berlakunya Piagam ASEAN resmilah ASEAN
menjadi sebuah rezim baru perdagangan bebas. Piagam ASEAN merupakan dokumen
konstitusional yang memuat tentang norma-norma, hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan
sejumlah kekuasaan-kekuasaan dalam proses legislatif, eksekutif dan yudisial yang wajib
diratifikasi oleh seluruh negara anggotanya. Dengan demikian setiap negara anggota dituntut untuk
menyesuaikan peraturan di negaranya masing-masing agar sesuai dengan substansi dan isi Piagam
ASEAN. Indonesia merupakan negara kesembilan yang telah meratifikasi piagam ASEAN melalui
UU No. 38 Tahun 2008 tentang Pengesahan Piagam ASEAN.

Pasar Tunggal dan Basis Produksi

ASEAN Economic Community merupakan bentuk dari integrasi ekonomi ASEAN yang mendekatkan
pasar regional untuk perdagangan. Capaian tertinggi dari AEC adalah Pasar Tunggal & Basis

serta mekanismenya. merupakan satu strategi ASEAN agar dapat mempertahankan keamanan pangan (food security) regional dalam jangka panjang. pada ASEAN Summit ke 14 tahun 2009 yang berisi mengenai program-program dan kegiatan penguatan ketahanan pangan regional dan membentuk cadangan terhadap ketahanan pangan regional. ASEAN membuat kesepakatan The ASEAN Integrated Food Security (AIFS) Framework dan The Strategic Plan of Action on ASEAN Food Security. dan arus modal yang lebih bebas (freer flow of capital)” Pelaksanaan Pasar Tunggal & Basis Produksi. and Forestry (FAF) Masuknya sector pertanian dan pangan dalam AEC.1 Guna mewujudkan pelaksaan CEPT. kemudian dibawah AEC. Pelaksanaan AIFS untuk mencapai tujuannya dilakukan dengan menyususn Strategic Plan of Action on Food Security (SPA-FS).Produksi (Single Market & Production Base). maka fokus utama dalam AIFS adalah peningkatan produksi yang sesungguhnya dimaksudkan untuk memenuhi permintaan pasar global. (5) mempromosikan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap komoditas pertanian. (2) mengurangi kehilangan atau kerusakan panen. Namun. (4) maximizing agricultural resources potential. Agriculture. dan (6) menjalankan regional food emergency relief arrangements. (3) reducing transaction costs. ATIGA mengamanatkan dilakukannya liberalisasi untuk 12 Priority Integration Sector (PIS) dan Food. pekerja profesional. dalam rangkan mengantisipasi krisis pangan. Ini tergambar jelas dalam ASEAN Economic Community Factbook yang menyatakan bahwa produksi pangan yang berkelanjutan dapat dicapai melalui (1) improving agricultural infrastructure development. sangat kompetitif. 1 Protocol to Amend the Agreement on the Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme for the ASEAN Free Trade Area (AFTA) . makmur. termasuk barang modal dan produk pertanian (tanpa terkecuali). (2) minimising post-harvest losses. pekerja berbakat dan buruh (free flow of skilled labour). bentuk integrasi ekonomi ASEAN bukanlah Customs Unions sebagaimana yang dipraktekan oleh Uni Eropa. Guna mempertahankan keamanan pangan regional tersebut. Penegasan AEC sebagai pasar tunggal dan basis produksi dinyatakan dalam pasal 1 ayat 5 ASEAN Charter yang berbunyi: “Menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil. (3) mempromosikan pasar dan perdagangan yang kondusif. dan terintegrasi secara ekonomis melalui fasilitasi yang efektif untuk perdagangan dan investasi. yang di dalamnya terdapat arus lalu lintas barang (free flow of goods). Dilihat dari rencana strategis diatas. yaitu: (1) meningkatkan produksi pangan. Tujuan utama dari AIFS adalah peningkatan produksi. Dalam Pasal 3 CEPT disebutkan bahwa CEPT berlaku untuk seluruh produk manufaktur dan semi manufaktur. melainkan common market. (4) memastikan kestabilan pangan. sebagaimana ditetapkan dalam AEC Blueprint merujuk pada Common Effective Prefential Tariff-ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) yang diatur dibawah skema ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). jasa-jasa (free flow of services) dan investasi yang bebas (free flow of investments). sebagaimana dialami ASEAN pada tahun 2008 lalu. terfasilitasinya pergerakan pelaku usaha. SPA-FS kemudian diturunkan dalam bentuk sasaran dari program ini.

tanaman obat. Pada usaha industry perkebunan keberadaan investasi asing untuk perbenihan diperbolehlan hingga 95 persen untuk usaha seluas lebih dari 25 hektar. dan kakao. sebaliknya. Dengan kata lain. pengembangan ilmu.04 juta jiwa pada tahun 2013 (BPS. serta teknologi rekayasa (maksimal 49 persen modal asing). plus industri pengolahannya. 11-13 Mei 2014. Sedangkan untuk usaha perkebunan. minyak atsiri. kelapa. kelapa sawit. buah semusim. (6) and accelerating transfer and adoption of new technologies. (5) promoting agricultural innovation including research and development on agricultural productivity. 2013)2. kacang hijau. hal 6 . kacang tanah. Lalu. 2 Sensus Pertanian 2013. pemberlakuan AEC akan semakin mengasingkan petani dari sumber kehidupan mereka.165 perusahaan menjadi sebanyak 5. buah beri. ada peningkatan jumlah perusahaan pertanian dari 4. apel. untuk usaha perbenihan dan budidaya hortikultura. sehingga mengesampingkan perlindungan terhadap hak-hak pertani dalam menjaga produktivitas perekonomian masyarakat di akar-rumput. Namun. Misalnya investasi asing dibolehkan hingga 49 persen untuk usaha budidaya tanaman pangan seluas lebih dari 25 hektar. sehingga menyebabkan kehidupan petani semakin susah dan terjebak dari perangkap kemiskinan yang tiada akhirnya. kopi. Proses pemiskinan petani tersebut tergambar dari hasil sensus pertanian 2013. rempah-rempah. 2013). Penerbitan Pepres ini menurut pemerintah bertujuan untuk menopang komitmen Indonesia dalam mewujudkan AEC pada 2015. ubi kayu. baik yang terintegrasi dengan unit pengolahan maupun tidak. investasi asing diperbolehkan maksimal hingga 30 persen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. tanaman hias dan jamur. tembakau. bahan baku tekstil dan kapas. jagung. dan karet. Kehadiran Pepres 39/2014 menunjukan dengan jelas bahwa AEC memiliki kecenderungan untuk berporos pada industri yang sangat menitikberatkan pada arus bebas barang dan jasa.922 unit di tahun 2013 (SPI.17 juta jiwa pada tahun 2003 menjadi 26. Tak ketinggalan untuk usaha pengolahan. Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyataan bahwa ada penurunan jumlah rumah tangga petani dari besaran 31. jambu mete. yang berlaku bagi tanaman jarak. penelitian. Masuknya Investasi Besar Sebagai bentuk nyata komitmen Indonesia mewujudkan ASEAN Economic Community. dan sayuran buah. dan ubi jalar. juga boleh dikuasai asing hingga 95 persen. tebu. kedelai. Badan Pusat Statistik. cengkeh. seperti padi. teh. sayuran umbi. dua pekan sebelum menghadiri KTT Ke-24 ASEAN di Myanmar. seperti anggur. usaha penelitian dan uji mutu hortikultura (maksimal 30 persen modal asing). jeruk. wisata agro hortikultura berikut usaha jasanya (masing-masing maksimal 30 persen modal asing). Kesemua hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan memberikan ruang sebesar-besarnya pada agrobased industry dan penciptaan pasar yang efektif melalui pelaksanaan mekanisme dalam ATIGA (Pasar tunggal & basis produksi). Sektor pertanian merupakan salah satu bidang usaha yang dibuka habis-habis oleh Pepres ini. dan lada. sayuran daun.

999 m2) pada tahun 2013 adalah sebanyak 3.45 persen bila dibandingkan dengan tahun 2003 yang tercatat sebanyak 3.Sumber.55 juta rumah tangga.50 Ha (5. 3 Ibid.000 m2) mendominasi jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia.50 Ha (5. yang tercatat sebanyak 9. Tercatat bahwa pada tahun 2013.38 juta rumah tangga.000–1.000–4. menurun sebanyak 83.10–0.000 m2). Kondisi yang hampir serupa terjadi pada tahun 2013. BPS.999 m2) tercatat mempunyai jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 6. Sedangkan untuk golongan luas lahan yang dikuasai lebih dari 0. Rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai antara 0.6 juta rumah tangga.75 persen dibandingkan tahun 2003.10 Ha (1.000m2) adalah sebesar 4. mengalami penurunan sebesar 53. Hal 10-11 . Sedangkan golongan luas lahan 0.58 ribu rumah tangga jika dibandingkan tahun 2003.34 juta rumah tangga. pada tahun 2003 terlihat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0.49 Ha (2. ST 2013 Apabila diklasifikasikan menurut golongan luas lahan.19 Ha (1. jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai kurang dari 0. jumlah usaha rumah tangga pertanian hasil ST2013 sedikit meningkat dibandingkan dengan hasil ST20033. menurun sebesar 1.20–0.73 juta rumah tangga pada ST2013.

14 juta rumah tangga usaha pertanian di Indonesia. . Hal yang menarik yang perlu dicermati adalah masih terdapat rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0.73 juta rumah tangga.50 Ha hasil ST2003 adalah sebanyak 11. ST 2013 Hasil ST 2013 juga menunjukkan bahwa rumah tangga usaha pertanian paling banyak menguasai lahan dengan luas antara 0.10 Ha pada ST2013.38 juta rumah tangga. Untuk rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan lebih dari 0. yaitu sebanyak 9.20–0.43 juta rumah tangga.51 juta rumah tangga. Dari sebanyak 26.70 persen) pada ST2013.10 Ha. yaitu sebanyak 6. meskipun jumlahnya menurun tajam dibanding ST2003. Angka ini sedikit meningkat (0. ST 2013 Rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan ternyata mendominasi rumah tangga usaha pertanian di Indonesia. yaitu menjadi sebanyak 11.49 Ha. Sumber. BPS. BPS.Sumber. Berbeda dengan yang terjadi pada ST 2003 jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak menguasai lahan dengan luas kurang dari 0.

4.67 persen (11.75 juta rumah tangga) merupakan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan.25 ha lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dalam catatanya akhri tahun 2014 menyatakan beberapa tahun belakangan ini ancaman terhadap eksistensi keluarga petani semakin menguat. Kelautan 6. 4 MP3EI dan ASEAN Connectivity Karpet merah bagi investasi skala besar pada sector pertanian tersebut sebelumnya telah pula dibentangkan Indonesia melalui program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang disusun untuk tahun 2011-2025. kelembagaan yang efektif serta mekanisme dan prosesnya (konektivitas kelembagaan). pada 17-19 November 2011. dan 0. Industri. kehutanan. Masuknya investasi besar ke sector pertanian. serta pemebadayaan kemansyarakatan (konektivitas rakyat ke rakyat).50 Ha) dan rumah tangga bukan petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan 0. melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi yan inklusif dan berkelanjutan dengan berfokus pada 8 program utama yaitu. Rumah tangga pertanian pengguna lahan dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar. MP3EI merupakan upaya “transformasi ekonomi Indonesia” yang bersifat ‘not business as usual’ yang hendak mengejar ketertinggalan Indonesia di berbagai bidang. konsorsium pembaruan agrarian.53 persen rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan. atau sebanyak 384 ribu rumah tangga. serta mengangkat Indonesia menjadi Negara maju dan masuk menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia di tahun 2030 dan 6 besar dunia di tahun 2050. pertambangan. Setiap menitnya 1 rumah tangga petani hilang. Koversi tanah pertanian rakyat yang cepat dan meluas ini ditandai pula dengan terkonsentrasi tanah-tanah tersebut ke unit-unit usaha skala besar (perkebunan.50 Ha atau lebih). 3.33 persennya (14. MP3EI merupakan bagian utuh dari Master Plan on ASEAN Connectivity yang ditetapkan pada Oktober 2010 di Hanoi dan kembali dikukuhkan dalam dokumen tentang ASEAN Connectivity pada KTT ASEAN ke-XIX di Bali. Telematika. hal 7 . Pariwisata 7.25 juta rumah tangga) merupakan rumah tangga petani gurem.53 persen (25. 1. Pengembangan kawasan strategis 4 Catatan akhir tahun 2014.47 persen. 5. ASEAN Connectivity adalah pelaksanaan percepatan pengkoneksian ASEAN di tahun 2011-2015 melalui peningkatan pembangunan infrastruktur fisik (konektivitas fisik). dan 8. sehingga berkontribusi besar terhadap kecenderungan menghilangnya kelas dan profesi petani. sebesar 55. pertambangan. energy. membuat hilangnya akses dan kontrol rakyat miskin di pedesaan dan pedalaman terhadap sumber-sumber agrarian. pertanian.sebesar 98. Sedangkan rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan hanya sebesar 1. sedangkan rumah tangga bukan petani gurem sebesar 44. yaitu rumah tangga petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0. 2. Hasil ST2013 menunjukkan bahwa dari 98.50 juta rumahtangga). infrastruktur).

19%). Di satu sisi rakyat dirampas hak atas tanah dan airnya. Koridor Sulawesi dan Koridor Maluku-Papua.55%) di sektor ini.97%). sehingga mengakibatkan terjadinya struktur ketimpangan agraria yang sangat masif.977. Konflik ini melibatkan sedikitnya 105. memperlihatkan bahwa sesungguhnya MP3EI yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jelas tidak memperhatikan pembangunan pedesaan dan rakyat desa. pelabuhan laut. sementara pada sisi yang lain penguasaan korporasi atas sumber sumber-sumber agraria semakin diperluas. pemilikan dan pengusahaan lahan secara besar-besaran dari masyarakat kepada pihak investor (domestik/asing) melalui program MP3EI. KPA mencatat sedikitnya telah terjadi 472 konflik agraria di seluruh Indonesia dengan luasan mencapai 2. Koridor Jawa. telah mendorong tingginya konflik agrarian yang disebabkan pembangunan infrastruktur sepanjang 2014. Untuk menghubungkan ke enam koridor ekonomi ini. 2011 Pembanguna infrastruktur besar-besaran untuk menarik investasi (asing dan domestic) masuk ke kawasan MP3EI. Menurut catatan KPA pelaksanaan proyek MP3EI yang menitik beratkan pada pembangunan infrastruktur.887 kepala keluarga (KK). perairan dan kelautan 4 . Koridor Bali .72%).860. Konflik agraria tertinggi pada tahun 2014 terjadi pada proyek proyek infrastruktur dengan jumlah kasus sebanyak 215 konflik agraria (45. Potensi Dampak Pemberlakukan AEC Perubahan penguasaan. pelabuhan udara. Koridor Kalimantan. Pembagian Koridor Ekonomi Indonesia dan Potensi Unggulannya Sumber: Dokumen MP3EI. pada gilirannya telah memberikan berkontribusi besar terhadap peningkatan konflik agraria.07 hektar. Selanjutnya ekspansi perluasan perkebunan menempati posisi kedua yaitu 185 konflik agraria (39.Pengembangan ke-8 program utama tersebut dilaksanakan dengan mendorong realisasi investasi skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama dengan membagi Indonesia menjadi 6 (enam) koridor ekonomi yaitu Koridor Sumatera. pertanian 20 (4. maka diperlukan adanya infrastruktur yang mendukung seperti: jalan.24%). pertambangan 14 (2. serta rel kereta dan pembangkit tenaga listrik. diikuti oleh sektor kehutanan 27 (5.Nusa Tenggara.

2014 Dari tahun ke tahun luasan areal konflik agraria terus meningkat. maka sejak 2004 hingga ujung 2014 telah terjadi 1.520 konflik agraria dengan luasan areal konflik seluas 6.951.48%). dan lebih dari 267 KK terampas tanahnya.9%. yang melibatkan 977.(0. 5 Sumber: Laporan akhir tahun KPA.103 KK.792 hektar tanah rakyat yang dirampas hak penguasaan dan pengelolaanya. berikut ini. Dalam satu hari.00 hektar. lain-lain 7 konflik (1. Grafik peningkatan luasan areal konflik ditunjukkan pada gambar di bawah ini. 5 Ibid.541. Dalam sepuluh tahun terakhir telah terjadi konflik agraria di areal seluas 6.541.85%). rata-rata hampir dua hari sekali terjadi konflik agraria. hal 11 . Sumber: Laporan akhir tahun KPA. Gambaran konflik dapat dilihat pada diagram. Dibandingkan dengan 2013 terjadi peningkatan jumlah konflik sebanyak 103 atau meningkat 27.00 hektar. ada 1.951. Dengan demikian. 2014 Jika dilihat dari catatan selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

hal 14 . 2014 6 Ibid. dan warga melawan asset milik TNI/POLRI 18 konflik. warga berhadapan dengan warga 75 konflik. warga melawan perusahaan negara 46 konflik. Sumber: Laporan akhir tahun KPA. warga melawan pemerintah (pusat/daerah) 115 konflik. 2014 Sementara para pihak terlibat dalam konflik agraria adalah sebagai berikut: konflik agrarian antara warga melawan perusahaan swasta sebanyak 221 konflik.Sumber: Laporan akhir tahun KPA. 6 Tingginya konflik antara warga dengan perusahaan mengambarkan masifnya ekspansi modal skala besar ke pedesaan dan pedalaman.

Gambaranlebih rinci ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Jika petani bertahan dengan tuntutan mereka untuk terus dapat bertani. Kita tidak mungkin bicara kedaulatan pangan tanpa ikut membicarakan tanah. Paradoksnya. Tetap bertahan dengan produktivitas hasil pertanian yang terus menurun 2. ancaman yang dihadapi bukan lagi produktivitas atau hasil panen yang semakin turun.Penguasaan dan pemilikan negara maupun swasta atas sumber-sumber agraria menjadi penyumbang utama konflik agraria. baik menjadi kaum miskin perkotaan atau buruh pabrik. Implikasinya: (1) Petani harus rela kehilangan tanah dan menjadi ‘buruh tani’ (petani penggarap) yang konsekuensinya hidup dari upah. ditengah luas lahan yang semakin menyusut dan ancaman ekspansi modal kaum industrialis ? Dalam keadaan seperti ini para petani dipaksa hanya menghadapi dua pilihan: 1. tercatat 26 konflik agraria yang mengharuskan warga berhadapan dengan pihak perkebunan BUMN. pembangunan dan industrialisasi membuat petani harus merelakan tanahnya. tetapi juga pentungan. (2) Bekerja ke kota untuk menyambung hidup. Menjual lahannya kepada pemilik modal. Sementara di sektor infrastruktur tercatat ada 76 perusahaan negara dan 41 perusahaan swasta yang mengakibatkan konflik agraria. dan 85 konflik dimana masyarakat lokal/setempat harus berhadapan dengan pihak perusahaan perkebunan swasta (mayoritas kelapa sawit). Lalu apa artinya integrasi ASEAN melalui AEC bagi petani. hal 20 . 7 Ibid. 2014 Kesimpulan Dari gambaran diatas tampak bahwa problem petani hari ini erat kaitannya dengan tanah.7 Sumber: Laporan akhir tahun KPA. Pada sektor perkebunan misalnya.

2014 Badan Pusat Statistik. Universitas Indonesia. Daftar Pustakan Burmansyah. “Setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya diwajibkan megerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif. infrastruktur dan lain-lain. padahal pengertian agrarian. “Tiap-tiap warganegara Indonesia. Kajian Atas Dampak Pasal 1 angka 5 ASEAN Charter Mengenai Pembentukan Pasar Tunggal & Basis Produksi (Single Market & Production Base) Terhadap Sektor Pangan di Indonesia. dengan menjamin perlindungan terhadap kepentingan golongan yang ekonomis lemah” Digantinya UUPA akan menghilangkan kewajiban Negara memberikan perlindungan terhadap petani. 5 tahun 1960 tentang Pedoman Dasar Pokok Agraria (dikenal sebagai UUPA). Edy. sementara pada pasal 10 dinyatakan. air dan ruang angkasa sebagai satu kesatuan Karena itu jika pemerintah Jokwi-Jk memaksakan lahirnya UU Pertanahan dan akan melikuidasi UUPA. Rezim Baru ASEAN. yang dimaksud dari agraria adalah bumi. Hilangnya UUPA berpotensi semakin meluaskanya kemiskinan karena masyarakat adat. diantaranya pasal 9 yang berbunyu. terutama petani kecil dan gurem ditengah ancaman pemberlakuan ASEAN Economic Community (AEC) yang akan mengusur petani dari sumber kehidupan akibat ekspasi besar-besar investasi skala besar ke sector pertanian. Catatam Akhir Tahun 2014. yang merupakan benteng terakhir yang mengamanatkan bahwa seluruh sektor agraria (tanah dan sumber daya alam) sebagai satu atap koordinasi dan diabdikan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. pertambangan. Sensus Pertanian 2013. Rachmi. “perbedaan dalam keadaan masyarakat dan keperluan hukum golongan rakyat di mana perlu dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diperhatikan. Jakarta 2014 . tanpa pernah memiliki kekhawatiran bahwa tanah mereka akan dirampas oleh korporasi atau siapapun. Jakarta. Insist dan RAG. RUU Pertanahan dikhawatirkan mengokohkan sektoralisme dan ujungnya. sebagaiman dinyatakan dalam pasal 15. 2014 Hertanti. termasuk Negara. Dalam kaitan tersebut. baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh sesuatu hak atas tanah serta untuk mendapat manfaat dan hasilnya baik bagi diri sendiri maupun keluarganya”. karena itu maka adalah kewajiban pemerintah untuk menjamin tanah tetap menjadi sumber penghidupan bagi petani.Dari disini dapat disimpulkan bahwa ASEAN Economic Community (AEC) pada kenyataannya tidak berpihak pada petani. Yogyakarta. bukan sebaliknya mendorong lahirnya UU Pertanahan yang baru. maka pemerintahan Jokowi-JK harus melaksanakan Undang-Undang No. perkebunan. 2012 Konsorsium Pembaruan Agraria. Memahami Rantai Pasokan dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. dengan mencegah cara-cara pemerasan” Disisi lain UUPA memberikan perlindungan yang jelas dan kuat terhadap petani kecil dan gurem. bukan sekedar tanah. petani gurem dan masyarakat tak bertanah kehilangan kesempatan untuk memiliki tanah sebagaimana diamanatkan oleh UUPA. Jakarta.

Jakarta 2013 Muslim. Bonnie. Opini. Pertanian Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN. 2014 UNDANG-UNDANG No.---------------------------------------. Makalah disampaikan pada workshop peningkatan kontribusi Iptek dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Jakarta. Edib. Mei 2012 Saragih. Mida. percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia 2011-2025. Jaringan Rantai Kapitalisme Global. Resist Book dan RAG. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria . Kompasiana. Yogyakarta. Laporan Akhir Tahun 2013. 2014 Setiawan. Saat dunia tiada lagi sama.