You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma)
untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh
masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat seringkali masih kita
jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada
masyarakat. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut
deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan
disebut devian (deviant).

Salah satu bentuk penyimpangan sosial yang sedang marak terjadi saat ini khususnya
di Indonesia adalah kasus penyimpangan sosial berupa tindak kekerasan dan
kejahatan seksual pada anak-anak yang sudah menelan begitu banyak korban. Di
Tanah Air kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan menjadi persoalan yang
belum kunjung tuntas. Alih-alih tuntas, justru kuantitas dan kualitas kekerasan ini
mengalami peningkatan.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dalam acara menyambut 25 tahun
konvensi hak anak dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Indonesia
gawat darurat. Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas PA, mengatakan meski Indonesia
sudah meratifikasi konvensi hak anak dari PBB selama 24 tahun, kekerasan anak
meningkat. Dari tahun 2014, laporan soal kekerasan anak yang masuk dari Januari-
September mencapai 2.726 kasus. Berdasarkan data dari Komnas PA tercatat tahun
2012 sebanyak 52 persen, tahun 2013, 62 persen dan kemudian pada September 2014
itu 58 persen. Kasus pedofilia di Sukabumi dengan pelaku Emon dengan jumlah
korban mencapai puluhan, kasus lain kekerasan seksual yang terjadi di TK Jakarta
International School (JIS). KPAI menjelaskan lebih dari 50 persen kejahatan terhadap
anak adalah kasus kekerasan seksual.

Hal inilah yang melatarbelakangi kami mengambil judul Makalah : Waspada
Pedofilia Sang Predator Anak. Mengingat banyaknya jumlah korban dari tindakan
penyimpangan yang sudah masuk pada kategori tindakan kejahatan ini tidaklah

sedikit, sudah sepatutnya kita lebih waspada dan melakukan upaya pencegahan demi
melindung anak-anak yang memang wajib mendapatkan perlindungan dan rasa aman
agar mereka tumbuh dengan baik karena mereka adalah aset terbaik yang dimiliki
sebuah bangsa untuk membangun negara.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu pedofilia dan adakah jenisnya?
2. Apa faktor penyebab terjadinya perilaku Pedofilia?
3. Apa dampak yang ditimbulkan dari perilaku Pedofilia ini?
4. Bagaimana upaya pencegahan untuk melindungi anak dari kejahatan Pedofilia?
5. Apa upaya yang harus dilakukan untuk menangani korban kejahatan Pedofilia?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kejahatn pedofilia dan jenis-jenisnya.
2. Untuk memahami faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya perilaku
Pedofilia.
3. Untuk memahami dampak yang ditimbulkan dari perilaku Pedofilia.
4. Untuk memahami upaya-upaya pencegahan demi melindungi anak dari kejahatan
pedofilia.
5. Untuk memahami upaya yang tepat guna menangani anak-anak korban kejahatan
pedofilia agar dapat pulih.

D. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Penulisan makalah ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan konsep penyimpangan sosial
terutama tentang perilaku menyimpang pedofilia yakni kejahatan dan kekerasan
seksual terhadap anak.

 Bagi Peneliti Berikutnya Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut. dan penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan. serta pemerintah secara umum guna meningkatkan kewaspadaan terhadap pelaku pedofil. .2. Manfaat Praktis  Bagi Penulis Menambah wawasan penulis mengenai perilaku menyimpang pedofilia.  Bagi Ilmu Pengetahuan Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan sehingga dapat memperkaya dan menambah wawasan.  Bagi Lembaga Pendidikan Sebagai masukan bagi para pendidik. untuk selanjutnya dijadikan sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku waspada terhadap perilaku menyimpang yang sudah termasuk dalam kategori kejahatan ini. serta referensi terhadap penelitian yang sejenis.

Lawang mendefinisikan penyimpangan sosial sebagai semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang. perbuatan atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada didalam masyarakat. . maka secara umum yang dimaksud dengan penyimpangan sosial adalah tingkah laku yang menyimpang dari tendensi sentral atau ciri-ciri karakteristik rata-rata dari rakyat kebanyakan/ populasi. Tingkah laku abnoramal/ menyimpang juga dapat diartikan sebagai tingkah laku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya dan tidak sesuai dengan nilai. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. BAB II Landasan Teori A. Z. Konsep Teori Perilaku Menyimpang 1. Pengertian Penyimpangan Sosial Robert M. deviasi social atau perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku. norma dan moral sosial yang ada. Van Der Zanden menurutnya perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi. James W. Berdasarkan definisi penyimpangan sosial menurut beberapa ahli diatas.

sikap dan tradisi sendiri serta cenderung untuk menolak norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang lebih luas sehingga menyebabkan keresahan. pedofil. . nilai. pengrusakan. perilaku menyimpang dibedakan menjadi dua.2. sodomi. lesbian. zina. Bentuk Penyimpangan Sosial a. namun bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. yaitu:  Penyimpangan Individual Adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.  Penyimpangan Bersama-sama/ Kolektif (Group Deviation) Penyimpangan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompoknya. transeksual). seks bebas. pencurian. biseksual. Berdasarkan Pelakunya Berdasarkan pelakunya. Penyimpangan ini terjadi dalam sub kebudayaan menyimpang yang umumnya telah memiliki norma. ketidaknyamanan. 4) tindak kriminal atau kejahatan (perampokan. ketidakamanan serta tindak kriminalitas di masyarakat. Macam-macam bentuk penyimpangan individual antara lain ialah: 1) penyalahgunaan narkoba 2) Pelacuran 3) penyimpangan seksual (homo. pemerkosaan dan lain-lain). pembunuhan.

pembunuhan.b.  Penyimpangan Sekunder Penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok. perjudian dan pemakaian narkotika. Contohnya: pemerkosaan. Contohnya adalah: bermunculan Wanita karier yang sejalan dengan emansipasi wanita. c. menjambret. menjadi pelacur. Cara yang dilakukan seolah-olah menyimpang dari norma padahal tidak. memakai narkoba. pencurian. . Bentuk deviasi sosial menurut pandangan Lemert (1951) Lemert mengemukakan pendapatnya mengenai bentuk deviasi sosial sebagai berikut :  Penyimpangan Primer Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas. buang sampah sembarangan. yakni:  Penyimpangan bersifat positif Penyimpangan ini terarah pada nilai sosial yang berlaku dan dianggap ideal dalam masyarakat dan mempunyai dampak yang bersifat positif. dan lain sebagainya.  Penyimpangan bersifat negatif Penyimpangan ini berwujud dalam tindakan yang mengarah pada nilai- nilai sosial yang dipandang rendah dan dianggap tercela dalam masayarakat. dan lain-lain. Bedasarkan Sifatnya Perilaku menyimpang dalam kategori ini dibedakan menjadi dua.

Ia menolak norma-norma pembagian warisan menurut norma agama. dan tradisi sendiri. Kuswanto dibedakan menjadi dua jenis sebagai berikut. norma-norma. Contoh: Kelompok (geng) kejahatan terorganisir yang melakukan penyelundupan dan perampokan. Ia mengabaikan saudara-saudaranya yang lain.  Penyimpangan Kelompok Penyimpangan kelompok terjadi apabila perilaku menyimpang dilakukan bersama-sama dalam kelompok tertentu. Fanatisme anggota terhadap kelompoknya dapat menyebabkan mereka merasa tidak melakukan perilaku menyimpang. Ia menjual semua peninggalan harta orang tuanya untuk kepentingan sendiri. Hanya satu individu yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku.d. sikap. Penyimpangan kelompok lebih berbahaya bila dibandingkan dengan penyimpangan individu. Contoh: Seorang anak dari beberapa saudara ingin menguasai harta peninggalan orang tuanya. Berdasarkan jumlah individu Berdasarkan jumlah individu yang terlibat dalam perilaku menyimpang maka penyimpangan sosial menurut Drs. Perilaku seperti ini secara nyata menolak norma-norma yang telah diterima secara umum dan berlaku dalam waktu yang relatif lama. Perilaku menyimpang kelompok ini agak rumit sebab kelompok-kelompok tersebut mempunyai nilai-nilai. Kelompok pengacau keamanan dengan tujuan-tujuan tertentu .  Penyimpangan Individu Penyimpangan dilakukan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain.

yakni:  Faktor Intern (subjektif) Faktor intern atau faktor dari dalam diri individu yang diidentifikasi dapat menyebabkan lahirnya penyimpangan sosial. yang akhirnya menempuh jalan pintas untuk hidup enak. 3. mereka berkelompok dalam. pergaulan dan media massa serta tidak sanggup mengikuti peraturan dalam masyarakat. “organisasi rahasia” (penyimpangan kelompok) dangan memeiliki norma yang mereka buat sendiri. Faktor Penyebab Munculnya Deviasi (Penyimpangan) Sosial a. pendidikan di sekolah. (teroris). usia. Mereka sering berpikir seperti anak orang yang berkecukupan. Misalnya: seseorang yang tidak normal dan pertambahan usia  Faktor Ekstern (objektif) Faktor yang berasal dari luar yang menyebabkan munculnya penyimpangan sosial yaitu kehidupan rumah tangga atau keluarga. Dibawah pimpinan seorang tokoh yang terpilih karena kenekatannya dan kebrutalannya. norma yang mereka buat bertentangan dengan norma umum yang berlaku dalam masyarakat. diantaranya adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan. biasanya merasa tersisih dari pergaulan dan kehidupan masyarakat. Secara umum terdapat dua faktor yang melatarbelakangi munculnya deviasi sosial/ perilaku menyimpang dalam masyarakat. Pada dasarnya. Kelompok yang ingin memisahkan diri dari suatu negara (separatis).  Penyimpangan Campuran Sebagian remaja yang putus sekolah (penyimpangan individu) dan pengangguran yang frustasi (penyimpangan individu). sikap mental yang tidak sehat. jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Misalnya: seorang anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat- .

dan susunan gigi yang abnormal.  Penyimpangan karena hasil proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang.  Sikap mental yang tidak sehat membuat orang tidak pernah merasa bersalah atau menyesali perilakunya yang dianggap menyimpang. media elektronik. obatan atau narkoba.  Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. (fisik/biologis)  Proses belajar yang menyimpang. Pergaulan individu yang berhubungan teman- temannya. b. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat.  Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seseorang. Berikut adalah sebab-sebab terjadinya perilaku menyimpang :  Perbedaan status (kesenjangan) sosial antara si kaya dan si miskin yang sangat mencolok mengakibatkan timbulnya rasa iri dan dengki sehingga terjadilah pencurian dan saling ejek. media massa. media cetak. Biasanya orang akan mengikuti dan .  Kriminolog Italia Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang. Subkebudayaan adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Hal itu dapat membuat seseorang ingin meniru tokoh yang ada di tayangan tersebut walaupun itu adalah termasuk perilaku menyimpang. kelainan pada mata yang khas. maka dapat dijelaskan secara lebih rinci sebab terjadinya perilaku menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Berdasarkan pernyataan di atas. jari-jari kaki serta tangan relatif besar. tangan-tangan. Karena ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadiannya maka seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan perilaku yang tidak pantas bagi masyarakat di sekitarnya.

Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang.  Ketidakharmonisan keluarga memicu stres terutama pada anak remaja. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang. Jika perlaku kelompok tersebut menyimpang maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang.  Banyaknya pemuda yang putus sekolah menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mencari kerja. sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri. maka terjadilah perilaku menyimpang.  Ikatan sosial yang berlainan.  Mencari perhatian juga menjadi sebab terjadinya perilaku menyimpang. Dalam hubungan ini individu akan memperoleh pola-pola sikap dari perilaku kelopoknya. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi diri dengan kelompokyang paling dihargainya. Contoh adalah seperti orang yang mencuri karena terdesak dengan kebutuhan pokoknya yang tidak terpenuhi. Kemungkinan itu disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orangtua dan gurunya sehingga dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain walaupun itu menyimpang. Mereka menjadi semakin labil karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya. Keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada .  Dorongan ekonomi biasanya menjadi faktor utama untuk melakukan suatu perilaku menyimpang. beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya walaupun itu sudah termasuk perilaku menyimpang.  Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial.  Kegagalan dalam proses sosialisasi. Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Akibatnya mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang walaupun itu termasuk perilaku menyimpang seperti mengemis atau mencuri.

 Labelling. Faktor pelabelan pertama kali di ungkapkan oleh Edwin M. . Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan. Menurutnya seseorang melakukan perilaku menyimpang diberi cap (label negatif) oleh masyarakat. Lemert dalam teori pelabelan. anak.

tidak ada seorang pun yang masuk kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun sepenuhnya penyimpang.4. seperti orang jenius yang mengemukakan pendapat baru yang kadangkadang bertentangan dengan pendapat umum. Bahkan orang yang tadinya penyimpang mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya dan akhirnya tidak menyimpang. penyimpangan yang dilakukan tiap orang cenderung relatif. Akibatnya antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. . melainkan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut. Secara umum. Ada beberapa penyimpangan yang diterima bahkan dipuji dan dihormati.  Penyimpangan Terhadap Budaya Nyata Ataukah Budaya Ideal Budaya ideal di sini adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. tetapi dalam kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan hukum yang berlaku.  Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak Umumnya pada masyarakat modern. Ciri-ciri Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat Penyimpangan sosial memiliki ciri sebagai berikut :  Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan Perilaku menyimpang bukanlah semata-mata ciri tindakan yang dilakukan orang.  Penyimpangan Bisa Diterima Bisa Juga Ditolak Perilaku menyimpang tidak selalu merupakan hal yang negatif.

Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka. masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan. Di lain pihak. Kita harus mengetahui. . Di satu pihak. sampai batas tertentu. Terdapat Norma-norma Penghindaran Dalam Penyimpangan Pada suatu masyarakat terdapat nilai atau norma yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang maka akan muncul "norma-norma penghindaran". tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka. perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain. anggotanya.  Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif (Menyesuaikan) Penyimpangan sosial tidak selalu menjadi ancaman karena kadangkadang dapat dianggap sebagai alat pemelihara stabilitas sosial. perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

Penjantanan ini dikaitkan dengan proses spiritual kepercayaan masyarakat Yunani masa itu. walaupun pubertas dapat bervariasi).B. SEJARAH PEDOFILIA Pedofilia sebenarnya telah terjadi sebelum masa modern. Beberapa definisi lainnya adalah :  Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda." 2. Sebagai contoh .  Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM). Fenomena yang hampir sama terjadi di budaya kita. "Pedofilia adalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak atau anak-anak. Kemudian menjadi perdebatan antara proses spiritual dan praktik erotisme.  Pedofilia adalah perbuatan seks yang tidak wajar dimana terdapat dorongan yang kuat beulang-ulang berupa hubungan kelamin dengan anak pra-pubertas atau kesuakaan abnormal terhadap anak. pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal. PENGERTIAN Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani: paidophilia pais ("anak-anak") dan philia ("cinta yang bersahabat" atau "persahabatan". Konsep Teori Perilaku Pedofilia 1. Pedofilia adalah kecenderungan seseorang yang telah dewasa baik pria maupun wanita untuk melakukan aktivitas seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual dengan anak-anak kecil. Di Yunani fenomena pedofilia di awal-awal dikenal sebagai bentuk penjantanan pada abad 6 Masehi. aktivitas seks terhadap anak-anak (Dorlan. 1998).  The American Heritage Stedman's Medical Dictionary menyatakan.

Sebuah jumlah yang signifikan di daerah penelitian telah terjadi sejak tahun 1980- an. yaitu hubungan erotis antara laki-laki dewasa dengan anak-anak laki-laki di luar keluarga dekat. KARATERISTIK PELAKU PEDOFILIA Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofilia :  Pola perilaku jangka panjang dan persisten. Memiliki latar belakang pelecehan seksual. c. Penyimpangan pada Fenomena warok dan gemblak menggambarkan tentang perilaku seksual orang dewasa (warok) kepada anak-anak di bawah umur (gemblak). Riwayat pernah dikeluarkan dari militer. sebuah budaya di negara kita ada fenomena pemeliharaan gemblak (anak-anak) oleh warok (laki-laki dewasa) dalam kebudayaan reog ponorogo namun dalam prakteknya diwarnai penyimpangan pada fenomena warok dan gemblak. Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofilia dan akan membuat dakwaan dan tuntutan terhadap mereka. Pada waktu remaja. dan adanya belief spiritualitas dalam bentuk erotisme . Perilaku orientasi seksual warok kepada gemblak dianggap wajar oleh masyarakat yang memiliki belief adanya daya magis atau power dibalik perilaku tersebut. Pedofilia pertama kali secara resmi diakui dan disebut pada akhir abad ke-19. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya. Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja. Dua contoh perjantanan tersebut menunjukkan kesamaan yaitu praktik seksual yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak di bawah umur. Terlepas dari penilaian benar salahnya perilaku tersebut. Praktek warok terhadap gemblak disebut sebagai proses penjantanan. 3. . a. pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka. karena adanya relativisme moral pada suatu budaya dianggap wajar dan di suatu budaya lain dianggap tidak wajar. Begitu juga pada suatu masa dianggap baik dan di masa yang berbeda dianggap kejahatan. b. penyebab pasti dari pedofilia belum ditetapkan secara meyakinkan . Saat ini.

tidak pernah menikah. Jika seseorang yang . Seorang laki-laki yang tinggal sendiri. Pedofil mempunyai preferensi seksual terhadap anak-anak. maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini. g. Bila tidak menikah. e. tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak. d. mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas. Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Sering berpindah tempat tinggal. g. Pedofilia menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama beberapa tahun. Pedofilia kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak.  Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual a. Memiliki teman-teman yang berusia muda. Akan menjadi lebih signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan indikator-indikator lain. Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas golongan remaja. mereka mempunyai kesulitan dalam berhubungan seksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu mereka tidak menikah. Percobaan berulang dan beresiko tinggi. d. Tinggal sendiri atau bersama orang tua. Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang pedofilia. Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada korban yang berlainan. f. Usia > 25 tahun. Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya. f. single. e. ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofilia. Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi karena perbuatan yang berulang-ulang. belum pernah menikah dan jarang berkencan . Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya. Korban banyak. b. Minat yang berlebih pada anak-anak. Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan cara yang sangat terampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang pedofilia. c. Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas. Bila menikah. mempunyai hubungan khusus dengan pasangan. jarang berkencan.

seringkali tidak melibatkan orang dewasa lain. Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. maka ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil. menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anak-anak. Pedofil mempunyai metode tersendiri untuk memperoleh akses ke anak-anak. semakin eksklusif preferensi umur. mereka menganggap anak-anak sebagai obyek. Menganggap anak bersih. dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat. memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak. tidak berdosa dan sebagai obyek. h. ada juga yang menyukai anak lelaki 6-12 tahun. i. Pedofilia memilih korban mereka. Terampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh. Mempunyai akses ke anak-anak. . teknik motivasi dan ancaman. Ada pedofil yang menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun . Berhubungan baik dengan anak. Pedofil menyukai anak pada usia dan gender tertentu. psikologi anak dan kelompok. subyek dan hak milik mereka. c. tahu cara mendengarkan anak. kompetisi. Terampil dalam memanipulasi anak. Preferensi umur dan gender. e. Pedofil menguunakan cara merayu. kebanyakan anak-anak korban broken home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Semakin tua preferensi umur. tekanan teman sebaya. Pedofilia selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi dimana tanpa kehadiran orang lain.  Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban a. murni. Ketrampilan ini berkembang dengan latihan dan pengalaman. Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak. Pedofil akan berada di tempat anak-anak bermain.Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan melalui tulisan dan bahasa. d. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak dengan baik. b.

mereka menghayalkan melakukan hubungan seks dengan mereka. mendengarkan.  Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak a. Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui komputer pada anak-anak. h. Kewaspadaan masyarakat akan adanya bahaya pedofilia perlu ditingkatkan. stereo. guru. Merayu dengan perhatian. boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk menarik perhatian anak-anak. Pedofilia memfoto anak-anak yang berpakaian lengkap. dll. Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak. Bila anak-anak mengalami perubahan perilaku. menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah. . berbicara. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan. Pedofilia yang tertarik pada remaja akan mendekorasi rumah mereka seperti seorang remaja lelaki. poster penyanyi rock. hendaknya orangtua peka dan dapat berkomunikasi dengan anak sehingga diperoleh pemecahan masalah yang dihadapi anak. kasih sayang dan hadiah. Pedofil mengkoleksi mainan. g. Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak. Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain. Pedofil merayu anak-anak dengan berteman. Memfoto anak-anak. Dekorasi rumah yang berorientasi remaja. tetangga. f. c. Pedofil menggunakan koleksi ini untuk mengancam korban agar tetap menjaga rahasia aktivitas seksual mereka. b. setelah selesai dicetak. Masing- masing keluarga juga harus meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak menjadi mangsa penderita pedofilia. memberi perhatian. Orang-orang terdekat dengan keluarga juga harus diwaspadai karena pelaku pedofilia adalah orang yang telah dikenal baik seperti saudara. Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak. dll.

Turki. sebagai hukuman pemberat. pemerintah dapat menerbitkan peraturan pengganti undang-undang atau perpu. diatur dalam Pasal 292 KUHP. Atau jika dirasa mendesak. dan Moldova. KETENTUAN HUKUM MENGENAI PEDOFILIA Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”). Selain jeratan Undang-undang usulan hukuman bagi para predator anak ini adalah usulan kebiri kimia yaitu kastrasi (kebiri) bukan dalam bentuk fisik dipotong alat kelaminnya.4. dengan pemberian hormon itu dampak terhadap yang bersangkutan lama. . ancaman pidana bagi orang yang melakukan perbuatan cabul dengan anak yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan pelaku perbuatan cabul. sebelum diberlakukannya UU No. sejak empat tahun yang lalu. Dahulu. Arist menyatakan kebiri kimia ini dapat diterapkan sebagai terobosan hukum oleh hakim. termasuk terhadap anak di bawah umur. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU Perlindungan Anak”). Sejumlah negara yang disebut telah menerapkan hukuman kebiri kimia itu antara lain Korea Selatan. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan kastrasi kimia itu merupakan salah satu bentuk pengobatan yang sudah dilakukan di sejumlah negara sebagai pencegahan bagi pelaku kejahatan seksual. Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak mengaku telah mengusulkan kebiri bagi pelaku kejahatan seksual pada anak. selama belum ada revisi undang-undang. diatur dalam Pasal 290 KUHP. perbuatan yang dikenal sebagai pedofilia adalah perbuatan cabul yang dilakukan seorang dewasa dengan seorang di bawah umur. perbuatan cabul. tetapi diberikan hormon atau bahan kimia lain.

Pedofilia. dan bahkan meskipun keamanan sekolah sudah sangat diperketat. karena dalam beberapa kasus. Menurut beliau. dalam beroperasi. Menurut dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. ada tiga jenis Pedofilia : Yang pertama. uang jajan atau permainan. yang biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun ke bawah. tanpa ada iming-iming tertentu. Teddy Hidayat. Pada diagnosa medis. Menurut Teddy. terutama para orang tua. pengidap Immature Pedophiles cenderung melakukan pendekatan kepada targetnya yang masih anak-anak di bawah umur. Betapapun protectivenya orang tua terhadap sang anak. atau disebut dengan bahasa psikologisnya. Anak harus minimal berusia lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 tahun ke atas) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia. si pelaku adalah orang yang justru memiliki hubungan yang cukup dekat dengan si korban. . tipe ini langsung main paksa terhadap korbannya. Memahami Pedofilia dan Jenis-jenisnya Beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. walaupun masa pubertas dapat bervariasi). Tipe yang kedua adalah Regressed Pedophiles. Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (usia 16 tahun ke atas). adalah Immature Pedophiles. BAB III Pembahasan 1. Salah satu faktor adalah. tetap saja kasus ini berulang kali terjadi. Tak jarang pasangan ini memiliki masalah seksual dalam rumah tangga mereka. Misalnya dengan cara mengiming-imingi korban dengan hal-hal menyenangkan seperti permen. Pemilik kelainan seksual ini biasanya memiliki istri sebagai kedok penyimpangan orientasi seksualnya. yang terjadi di Indonesia belakangan ini begitu mengejutkan dan meresahkan masyarakat.

pengidap kelainan ini diberi nama Agressive Pedophiles. sebagai energi psikis yang dimiliki individu yang . Penelitian membuktikan bahwa penderita Pedofilia pada umumnya adalah yang memiliki dua kemungkinan : pertama. Faktor Penyebab Terlahirnya Seorang Pedofil Tindak pidana kekerasan seksual pedofilia disebabkan oleh beberapa faktor baik yang datangnya dari dalam (intern) maupun yang datanguya dari luar (ekstern) antara lain adanya dampak negatif dari arus globalisasi dibidang komunikasi dan informasi. dulunya adalah juga korban pencabulan anak dan/atau kedua. Psikiater asal Wina. gemar mencari variasi dalam usaha mendapatkan kepuasan seksual. sehingga sifat dasar anak yang ingin tahunya besar terjerumus pada film porno yang merusak pikirannya tanpa arahan yang benar bahwa perbuatan tersebut sebenarnya adalah perbuatan senang-senang. bahkan tidak jarang berpotensi membunuh korbannya setelah dinikmati. Psychopathia Sexualis pada tahun 1886. dan berangsur2 menjadi kebiasaan. yaitu anak kecil. 2. Karena sifatnya itu. Orang tipe ini rata-rata memiliki perilaku anti-sosial di lingkungannya. ketika dia besar. menyatakan bahwa “Pseudopaedofilia” sebagai kondisi istimewa dimana “individu yang telah kehilangan libido (gairah seksual. Tipe ini biasanya memiliki keinginan untuk menyerang korbannya. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya hidup dan cara hidup orang tua. Tipe yang terakhir. otak mengendalikan hormon tubuhnya dan lebih terangsang pada anak-anak. memang sang Pedofil hanya tertarik pada anak-anak (atau remaja) sebagai media pemuas nafsu seks mereka. Intinya. Richard von Krafft- Ebing dalam tulisannya. Termasuk dari factor keluarga karena sejak dini kurang adanya pemberian pendidikan tentangseksual. bisa karena bosan dengan partner seksnya atau malah kesulitan mendapat partner seks dewasa. Austria. telah membawa perubaban social yang mendasar dalam kehidupan bermasyarakat seseorang. dia dapat melampiaskan perbuatan tersebut kepada orang yg dianggap lemah. lebih agresif.

perasaan tidak tenang  gangguan kejiwaan /skizofrenia yang berdampak pada perilakunya  terjadinya regresi moral. . anak mulai menjadi orang yg broken. merasa dikucilkan dsb. misalnya dalam KUHP bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak di hukum maksimal penjara 9 (Sembilan) tahun kemudian dengan adanya UU Perlindungan Anak di hukum 15 (limabelas) tahun sedangkan di Filipina bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak di hukum mati. Sama seperti si pelaku. korban pun memiliki kemungkinan untuk menjadi penderita Pedofilia. kaum pedofilia juga menggunakan fasilitas internet untuk mencari mangsanya. Dampaknya bagi korban adalah sebagai berikut :  Bisa terjadi histeria. b) Lemahnya perangkat keamanan di Indonesia dalam membendung aksi para pedofilia yang kian canggih. digunakan untuk perkembangan pribadi) untuk orang dewasa melalui masturbasi dan kemudian berbalik kepada anak-anak untuk pemuasan nafsu seksual mereka” dan menyatakan ini jauh lebih umum.  muncul sikap psikopati. Faktor-faktor penyebab kenapa Indonesia menjadi sasaran kaum phedofilia adalah sebagai berikut: a) Lemahnya hukum perlindungan anak dan penegakannya di Indonesia. bisa menjadi anti- sosial bahkan tidak mematuhi nilai dan norma lagi  terjadinya penyimpangan seksual bahkan dapat menjadi pelaku pedofil berikutnya. Dampak Perilaku pedofilia Sangat besar dampak kekerasan seksual terhadap penurunan kualitas kesehatan dan perkembangan mental anak yang dapat mengancam masa depan anak dan masa depan generasi bangsa. Pedofilia sendiri sudah menjadi jaringan internasional dan Indonesia merupakan salah satu daerah tujuan kaum pedofilia. c) Faktor kemiskinan di Indonesia yang kini semakin buruk membuat anak- anak kian rentan terhadap beberapa bentuk kejahatan dan eksploitasi. 3.

” ujarnya. di sekolah. Namun. saat ini.” ujarnya lagi. anak-anak mulai memegang organ intimnya. meski saudara terdekatpun) hendak memegang atau meraba organ intim mereka. Hal ini akan dilakukan anak hingga mereka dewasa. Pengenalan seks dini terhadap anak dapat menjadi salah satu solusi.”Anak harus jadi garda terdepan untuk melindungi dirinya sendiri. selalu ada cara bagi kita semua untuk setidaknya mengurangi rasa kekhawatiran tersebut. seperti menolak bila orang lain (siapapun. apabila ada yang ingin meraba organ intimnya. Ketua pertama Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) itu juga mengatakan.”Pada usia dua setengah sampai tiga tahun.upaya pencegahan untuk melindungi anak dari kejahatan Pedofilia Sebagai orang tua dan kita sebagai bagian dari masyarakat tentu rasa kekhawatiran kita terhadap keamanan dan keselamatan anak-anak akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kasus kejahatan seks terhadap anak-anak dan remaja di dalam negeri. orang tua dapat memperkenalkan tentang kesehatan reproduksi pada usia tersebut. memegang atau mengganggu organ intim orang lain. pendidikan seks bisa dimulai dari bagaimana menjaga kesehatan organ intim anak-anak. diperlukan juga koordinasi yang baik antara pihak orang tua dan pihak sekolah.4. Selain itu. Jangan lupa juga untuk mengingatkan anak untuk tidak meraba. Doktor Psikologi anak Universitas Indonesia (UI) yang biasa akrab dipanggil Kak Seto itu mengatakan pendidikan seks usia dini dapat dimulai sejak anak berusia dua setengah hingga tiga tahun. dan diharapkan keamanan dan keselamatan anak-anak di sekolah pun akan lebih terjaga. Anak juga perlu diajarkan berteriak dan melapor kepada orang tua. . mulai dari harus dibersihkan setiap saat hingga tidak boleh memegang organ intim saat tangan kotor. tanggung jawab akan peranan masing-masing akan dapat lebih ditingkatkan. Seto Mulyadi. terutama guru (wali kelas secara langsung) yang melalui waktu paling banyak bersama murid di lingkungan sekolah. Anak juga perlu diajarkan untuk menjaga organ intimnya. Mereka perlu tahu risiko penyakit- penyakit kelamin menular yang tidak diinginkan bila mereka tidak menjaga kebersihan organ intim mereka sendiri. Dengan adanya kerjasama dan komunikasi yang baik diantara orang tua dan guru kelas. Jadi.

baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Upaya pendampingan terhadap anak laki-laki korban kejahatan seksual sendiri relatif lebih sulit untuk dilaksanakan dibanding program untuk anak perempuan. korban dapat mengalami berbagai gangguan seperti mudah marah. 5.upaya untuk menangani korban kejahatan Pedofilia Keterangan tentang trauma psikis yang diderita korban kasus pedofilia dijelaskan. bukan untuk anak laki-laki. Kemudian masyarakat juga dapat berperan dalam mengawasi anak-anak agar tidak menjadi korban kejahatan pedofil ini dengan cara memantau anak-anak yang berada dilingkungan sekitar kita. saudara. susah tidur. cenderung mengasingkan diri dari pergaulan teman sebaya. tidak peduli anak-anak itu anak kita. seperti yang dilaksanakan beberapa crisis center yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini. bahkan anak orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Faktor budaya di sebagian masyarakat kita masih menjadi hambatan besar bagi anak laki-laki untuk mengungkap kasusnya. Kejahatan seksual biasanya diidentikkan dengan korban kalangan wanita dan anak-anak perempuan sehingga beberapa program pendampingan. anak tetangga. dan sering mengigau. Kenyataan-kenyataan ini semestinya menjadi perhatian lebih serius dari beberapa pihak terkait. Selama mereka ada dilingkungan kita maka kita bertanggungjawab untuk melindungi mereka karena mereka semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang baik. dalam program pendampingan terhadap anak-anak korban kejahatan seksual di Indonesia di masa datang. sering disalahartikan hanya untuk wanita dan anak-anak perempuan. . dan sebagainya menunjukkan perlunya program pendampingan khusus terhadap anak-anak korban kejahatan seksual dengan upaya sosialisasinya yang lebih luas. termasuk pendampingan khusus bagi korban dari kalangan anak laki-laki.

Kesimpulan Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (usia 16 tahun ke atas). pihak sekolah. BAB IV PENUTUP A. walaupun masa pubertas dapat bervariasi). Yang dikhawatirkan dari perilaku menyimpang yang masuk kategori kejahatan ini adalah bahwa korban menjadi Pedofilia. Oleh karena itu.Saran Semua lembaga harus bersatu dan bekerjasama melindungi anak-anak. jangan sampai jatuh korban lebih banyak lagi dari kejahatan ini. yang biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun ke bawah. masyarakat disekitar tempat tinggl sampai kepada pemerintah sebagi pembuat kebijakan lebih serius mengantisipasi agar kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak tidak lagi terjadi. memang Pedofil hanya tertarik pada anak-anak (atau remaja) sebagai media pemuas nafsu seks mereka. . Intinya. mulai dari orang tua. Jangan sampai semakin banyak masa depan anak bangsa yang hancur karena perilaku menyimpang anggota masyarakat yang tidak ditangani dengan baik. B. Anak harus minimal berusia lima tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 tahun ke atas) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia. kasus-kasus Pedofilia ini memang sudah menjadi ‘rantai lingkaran setan’ yang harus segera ‘diputuskan’.

org/wiki/Pedofilia http://www.com/read/tiga-jenis-paedofilia http://id.yahoo.blogspot.com/mediamhti/posts/1572643782950425:0 http://www.com/indonesia/berita_indonesia/2014/05/140515_kebiri_kimia_pedofil http://hedisasrawan.id/pedofilia-harus-segera-diputus-rantainya/ ) http://jurnalapapun.blogspot.com/2014/11/faktor-faktor-penyebab-pedofilia-di.oprah.co.com/2013/09/15-sebab-terjadinya-perilaku-menyimpang.net/publication/42354451_Tinjauan_Kriminologi_dan_Psikologi_Kr iminil_Terhadap_Tindak_Pidana_Kekerasan_Seksual_Pedofilia_(Studi_Kasus_di_Pengadila n_Negeri_Medan) .wikipedia.com/gbjgranpct94/pedofilia-di-indonesia/ https://www.researchgate.com/oprahshow/Meet-Masha_1/1 www.facebook.Daftar Pustaka https://prezi.bbc.hellodoctor.antaranews.com/berita/432518/kak-seto-pendidikan-seks-sejak-anak-25-tahun ( https://www.html https://id.answers.com/question/index?qid=20140426192321AAGGFhz http://www.html http://intisari-online.