You are on page 1of 9

PEMANFAATAN RHIZOBIUM UNTUK MENINGKATKAN

PERTUMBUHAN SEMAI SENGON (Paraserianthes falcataria) PADA


MEDIA TANAH BEKAS TAMBANG SEMEN
(Rhizobium Utilization to Accelerate Sengon (Paraseianthes falcataria)
Seedling Growing on Soil Media of Ex-Cement Mining)

Ceng Asmarahman dan Indra Gumay Febryano


Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Lampung
Email : ceng_ipk@yahoo.co.id

ABSTRACT

Ex-mining land use of cement was an alternative medium or planting medium, but this
alternative was to meet the constraints of low soil fertility levels. Therefore, one way that
could be attempted is creating suppressive soil in the form of applying biofertilizer such
as rhizobium (Nitrogen Fixing Bakteria). Research methods used a complete randomized
design. The first factor was the type of Rhizobium (control, Shinorhizobium sp (S8.4),
Rhizobium sp (S10.3.1) which was inoculated on the plant Paraserianthes falcataria.
Planting medium used was sterilized soil from ex-cement mining land. The results of
rhizobium inoculation on plants showed different effectiveness in enhancing the growth of
seedlings. Duncan test results of the influence of a single factor BFN showed
Shinorhizobium sp (S8.4) could be associated with P. falcataria, to improved seedling
growth and able to gave growth response better when compared with treatment of
Rhizobium sp (S10.3.1) and control at variable observations on seedling diameters (1.65
mm), number of leaves (10.9 pieces), N absorption (2.10 g/plant) and P absorption (0.16
g/plant).

Keywords: Paraserianthes falcataria, rhizobium, bacteria, seedlings, soil media of ex -


cement mining
PENDAHULUAN sebagai pensubsitusi bahan bakar
Sektor industri merupakan energi.
salah satu sektor pada bidang Dalam penanaman kayu energi
ekonomi dan telah memberikan kendala yang dihadapi pada tanah
kontribusi yang sangat besar dalam bekas tambang semen adalah tingkat
meningkatkan perekonomian kesuburan lahan yang rendah, lahan
nasional. Berdirinya pabrik diilhami berupa hamparan tanah kapur (CaO),
dengan berlimpahnya potensi sumber silika, (SiO2), aluminium oksida
daya alam khususnya industri semen (Al2O3), pasir besi (Fe2O3), gips dan
untuk bahan baku semen (batu kapur tanah liat, lahan miskin unsur hara,
dan tanah liat). Dalam pelaksanaan pH tinggi dan bakteri pengurai tidak
proses produksi-nya kebutuhan ada, sehingga tumbuhan sulit untuk
industri terhadap bahan bakar atau tumbuh di lahan tersebut, serta
sumber energi semakin meningkat berupa lahan tidur yang tidak
sementara itu persediaan bahan bakar termanfaatkan.
energi di alam semakin menipis. Alternatif perlakuan yang dapat
Untuk itu perlu dilakukan upaya digunakan untuk membantu
dengan penanaman kayu energi pertumbuhan tanaman pada lahan -

38
lahan yang memiliki sifat fisik, pertumbuhan semai kayu sengon
kimia, dan biologi tanah yang buruk, pada media tanah bekas tambang
seperti halnya pada tanah tambang semen.
adalah dengan menciptakan kondisi
tanah supresif. Tanah supresif METODOLOGI PENELITIAN
adalah tanah yang kaya akan Tempat dan waktu penelitian
mikroba tanah, sehingga kondusif Penelitian dilaksanakan di
untuk pertumbuhan tanaman, dan Green House PT. Holcim Indonesia
dapat menekan perkembangan Tbk Cibinong. Analisis kimia tanah
mikroba patogen (Van Brugen 2000; dilakukan di Pusat Penelitian dan
Biwas 2000; Doran 2000; Qualls Pengembangan Tanah dan Agro-
2000). Penggunaan mikroba tanah klimat Laboratorium Tanah, Depar-
dalam pertanaman dapat membantu temen Ilmu Tanah & Sumberdaya
penyediaan nitrat, fosfat dan kalium Lahan, Faperta IPB. Analisis
serta unsur hara lainnya sehingga jaringan tanaman dilakukan di
dapat meningkatkan kualitas Laboratorium Penelitian dan Uji
pertumbuhan tanaman di lapangan Tanah, Balai Besar Litbang
(Van Brugen 2000; Biwas 2000; Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan
Doran 2000; Qualls 2000). Penelitian dan Pengembangan
Salah satu upaya untuk Pertanian Bogor. Penelitian
meningkatkan kesuburan tanah bekas dilaksanakan pada Juli 2007 sampai
tambang semen tersebut di atas Mei 2008.
adalah dengan pemberian pupuk
hayati seperti bakteri fiksasi nitrogen Bahan dan Alat
(rhizobium). Jenis pohon legum Bahan:
seperti sengon (P. falcataria), Pasir steril, Tanah bekas
merupakan jenis - jenis pohon yang tambang semen (tailing) yang telah
termasuk jenis pohon serba guna di autoclave, benih tanaman P.
(multi - purpose tree species), falcataria, inokulan rhizobium,
kecepatan tumbuhnya tinggi (fast sodium hipoklorit 5%, aluminium
growing species) dan mampu foil, kertas label, tissu gulung, agar,
memfiksasi N2 (nitrogen - fixing manitol, yeast exstract, air steril serta
trees) (Turnbull et al. 1986). 0,8% gell gum, alkohol 70%, NaCL
Pertimbangan lain pemilihan jenis 0,7%.
pohon legum ini adalah tanaman
yang mempunyai nilai kalor yang Alat penelitian
relatif cukup tinggi yaitu berkisar Bak perkecambahan, gembor,
antara 4.464 Kkal per kg (Samingan ayakan tanah, autoclave, timbangan
1983). analitik, skapel, stirer, gelas ukur,
Tujuan diadakan penelitian ini beaker glass, pH Meter, corong,
adalah untuk: Mengetahui pengaruh volume pipet, botol vial, pensil,
inokulan rhizobium terhadap pipet, Erlenmeyer, ose, cawan petri,

39
laminar air flow, inkubator, shaker, selama 2 minggu, dan penyiraman
suntikan 5 ml, polybag, spidol dilakukan dengan melihat kondisi
permanen, penggaris, jangka sorong, media.
pisau, cangkul, sekop, gunting,
tabung reaksi, objek glass, cover Persiapan media tanam
glass, oven, kamera, dan mikroskop Media yang digunakan adalah
binokuler. tanah yang diperoleh disekitar lokasi
pasca penambangan semen PT.
Rancangan penelitian Holcim Indonesia Tbk Cibinong,
Rancangan yang digunakan yang diambil sampai kedalaman 20
RAL. Penelitian ini terdiri dari satu cm. Tanah dimasukkan ke dalam
faktor perlakuan, yaitu perlakuan karung, diayak dan sisterilisasi di
inokulan rhizobium terdiri dari 3 dalam autoclave pada suhu 121 C
taraf, yaitu: dengan tekanan 1 atm selama 30
B0 = Kontrol menit kemudian didiamkan sampai
B1 = Shinorhizobium sp (S8.4) dingin. Selanjutnya tanah
B2 = Rhizobium sp ( S10.3.1 ) dimasukkan ke dalam polybag
Dari faktor tersebut diulangan ukuran 10 x 15 cm.
10 kali sehingga didapat 30 unit
percobaan. Dengan tanaman yang Persiapan dan Perbanyakan
digunakan maka total pengamatan Inokulan Rhizobium
semuanya adalah 30 pengamatan. Isolat diperoleh dari Lab.
Mikrobiologi Pusat Penelitian dan
Prosedur penelitian Pengembangan Hutan dan
Persiapan media perkecambahan Konservasi Alam Bogor. Isolat
Media perkecambahan meng- diisolasi dari perakaran tegakan P.
gunakan pasir sungai yang telah falcataria pada lahan pasca tambang
disterilisasi dengan menggunakan batu bara PT. Bukit Asam. Isolat
autoclave pada suhu 121 C; tekanan rhizobium diperbanyak pada media
1 atm selama 30 menit. Media Yeast Manitol Agar (YMA),
didinginkan dan ditempatkan pada kemudian disimpan dalam inkubator
bak perkecambahan. selama 1 minggu.
Inokulan rhizobium hasil
Perkecambahan perbanyakan pada media YMA
Benih yang digunakan diisolasikan pada media Nutrient
direndam dalam Sodium hipoklorit Broth (NB), kemudian ditumbuhkan
5% selama 5 menit. Benih yang di atas shaker selama 3 hari dengan
terapung dibuang, dan dicuci dengan kecepatan 100 rpm. Setelah itu
air steril sampai bersih. Kemudian disentrifuse selama 10 menit dengan
disemai di atas bak perkecambahan kecepatan 4000 rpm sehingga air dan
dan ditutup kembali dengan media. pellet cell terpisah. Pellet cell
Waktu perkecambahan dilakukan bakteri yang diperoleh ditambahkan

40
larutan 0,7% NaCl, selanjutnya Teknik pengumpulan data
disentrifuse. Hal ini diulang Variabel utama
sebanyak 2 kali dengan waktu dan 1. Tinggi semai (cm)
kecepatan yang sama. Setelah Diukur dari bagian pangkal batang
selesai, larutan NaCl dibuang, sampai titik tumbuh tertinggi dari
kemudian ditambahakan air steril semai, pengukuran dilakukan dua
serta 0,8% gell gum. Dan inokulan minggu sekali selama empat
rhizobium siap digunakan. Rata - rata bulan.
CFU (coloni forming unit) dari jenis 2. Diameter semai (cm)
Rhizobium sp adalah 3,12 x 10 11/ml. Data diameter semai didapatkan
Sedangkan rata - rata CFU dari dengan mengukur diameter semai
Shinorhizobium sp adalah 2,23 x 10 jarak 1 cm dari leher akar
11
/ml. dengan menggunakan kaliper.
Data diameter semai diukur dua
Inokulasi Rhizobium minggu sekali selama empat
Kecambah P. falcataria yang bulan.
homogen dan sehat dipilih sebagai 3. Pertambahan jumlah helai daun
tanaman uji. Akarnya kemudian Data jumlah daun diambil dengan
dicuci sampai bersih, dan terakhir melakukan perhitungan secara
dicuci lagi dengan air steril. langsung pada masing - masing
Kemudian akar tanaman direndam tanaman dalam selang waktu dua
dalam media yang berisi inokulan minggu sekali selama empat
rhizobium selama 30 menit. Teknik bulan, jumlah daun awal dihitung
inokulasi rhizobium dengan cara pada saat semai disapih ke dalam
menyuntikan sebanyak 1 ml pada polybag.
akar dan sekitar lubang tanam. 4. Kualitas bibit
Kemudian lubang tanam ditutup dan Indek Mutu Bibit (Q)
posisi tanaman harus tegak. Q = BK Tajuk (g) + BK Akar (g)
Tinggi (cm) + BK Tajuk (g)
Penanaman dan pemeliharaan Diameter (mm) BK Akar (g)
Keterangan:
Tanaman ditanam selama 4
BK = Berat kering
bulan setelah inokulasi. Kriteria yang digunakan adalah
Pemeliharaan dilakukan dengan anakan dengan nilai Q kurang
menyiram tanaman pada pagi atau dari 0,09 kurang baik untuk bisa
sore hari sesuai dengan kondisi bertahan hidup pada kondisi
media tumbuh, bila kondisi lembab lapang. Untuk yang lebih dari
tidak perlu dilakukan penyiraman. 0,09 anakan bisa bertahan hidup
Pembersihan dari gulma dan hama dengan baik di lapangan
bila perlu. Tinggi tanaman, diameter (Bickelhaupt 1980).
batang dan jumlah daun dihitung 5. Berat segar tajuk dan berat segar
setiap dua minggu sekali. akar (g)

41
Pada saat pemanenan bagian serapan hara tanaman dihitung
tajuk dan akar tanaman dengan me-ngalikan berat kering
dipisahkan, caranya dengan tanaman terhadap kadar haranya
memotong antara pangkal batang (Harjono dan Warsito 1992.
dan bagian akar, kemudian
dilakukan penimbangan bagian Analisis data
tajuk dan akar tanaman Untuk mengetahui pengaruh
menggunakan timbangan perlakuan dan kombinasi perlakuan
analitik. terhadap variabel yang diukur
6. Berat kering total tanaman (g) digunakan analisis sidik ragam
Bagian tajuk dan akar tanaman dengan menggunakan software SPSS
dipisahkan dan dikeringkan versi 10.01. Untuk membedakan
dalam oven selama 48 jam pada rerata pengaruh antar perlakuan atau
suhu 70 C (Salisbury dan Ross antar kombinasi perlakuan digunakan
1995). Setelah kering, kemudian uji lanjutan pada taraf 5% yaitu
dilakukan penimbangan bagian dengan menggunakan metode
tajuk dan akar tanaman Duncans New Multiple Range test
menggunakan timbangan (Gomesz dan Gomez 1994).
analitik. Sedangkan untuk mengetahui
7. Jumlah bintil akar/ nodul efektif Hubungan persentase kolonisasi
Jumlah nodul efektif dihitung rhizobium dengan parameter
pada setiap tanaman ketika panen pertumbuhan P. falcataria dilakukan
dengan caranya memotong nodul uji korelasi Pearson pada taraf 1%.
pada posisi melintang, kriteria
nodul efektif terlihat apabila pada HASIL DAN PEMBAHASAN
saat nodul dibelah nodul Berdasarkan hasil analisis
berwarna kemerah - merahan. keragaman pada taraf 5% diketahui
8. Analisa serapan hara perlakuan rhizobium memberikan
Analisa serapan hara tanaman pengaruh nyata terhadap beberapa
meliputi serapan nitrogen dan variabel yang diukur pada tanaman
fosfor. Analisis nitrogen di- uji (Tabel 1)
lakukan dengan metode Kjeldahl
dan analisis fosfor dilakukan
dengan metode pengabuan
kering. Setelah diperoleh N dan
P pada setiap tanaman maka

42
Tabel 1 Hasil analisis keragaman pengaruh rhizobium terhadap beberapa variabel
pengamatan pada tanaman uji (P. falcataria).(Anova result of rhizobium
influence on several research variables on plant specimen (P.
falcataria))

Variabel pengamatan F-hitung


Tinggi semai 0,335tn
Diameter semai 3,861*
Jumlah daun 3,623*
Berat segar tajuk 2,517tn
Berat segar akar 2,945tn
Berat kering total 2,167tn
Serapan hara N 3,254**
Serapan hara P 3,705**
Index mutu bibit 2,236tn
C/N ratio 0,603tn
Jumlah nodul efektif 2,133tn
Ket: **) = Berbeda sangat nyata (P < 0,01)
tn) = Berbeda tidak nyata

Berdasarkan hasil analisis maka dilakukan uji Duncan. Hasil uji


keragaman pengaruh perlakuan Duncan pengaruh faktor tunggal
bakteri fiksasi nitrogen (BFN) pada BFN menunjukkan antara perlakuan
tanaman P. falcataria terhadap b0 (kontrol), b1 (Shinorhizobium sp)
parameter pertumbuhan yang diukur dan perlakuan b2 (Rhizobium sp)
menunjukan pengaruh beda nyata menunjukkan pengaruh beda nyata
pada beberapa variabel pengamatan untuk beberapa variabel pengamatan
(Tabel 1). Hasil analisis statistik diameter semai, jumlah daun,
pada tanaman P. falcataria me- serapan N dan Serapan P.
nunjukkan pengaruh sangat nyata
terhadap parameter pertumbuhan Diameter semai
diameter semai, jumlah helai daun, Inokulasi bakteri fiksasi
serapan hara N dan serapan hara P. nitrogen (BFN) berpengaruh nyata
pada tanaman P. falcataria dengan
Pengaruh inokulasi bakteri fiksasi nilai rerata diameter semai tertingi
nitrogen (BFN) terlihat pada perlakuan b1
Berdasarkan hasil sidik ragam, (Shinorhizobium sp) dengan nilai
inokulasi bakteri fiksasi nitrogen rerata diameter 1,65 mm.
(BFN) pada tanaman uji P. Dommergues et al. (1980)
Falcataria menunjukkan pengaruh menyatakan bahwa inokulasi BFN
beda nyata pada beberapa variabel tertentu terhadap tanaman dan
pengamatan. Untuk melihat per- memperlihatkan peningkatan
bedaan pengaruh perlakuan BFN pertumbuhan tanaman disebabkan
terhadap parameter yang diukur karena BFN tersebut mempunyai

43
peranan khusus seperti penghasil zat (Shinorhizobium sp) yaitu 2,10
pengatur tumbuh, pengagregasi g/tanaman. Nitrogen sangat
tanah, menyediakan unsur hara bagi dibutuhkan oleh tanaman, sebagai
tanaman dan sejumlah fungsi penyusun asam amino, protein dan
lainnya. komponen lainnya. Nitrogen juga
sangat penting dalam respirasi,
Jumlah daun meningkatkan reaksi enzimatik, dan
Perlakuan inokulasi BFN pada meningkatkan metabolisme sel
tanaman uji, untuk parameter jumlah (Bornner dan Galston 1952).
daun menunjukkan berpengaruh Nitrogen diserap akar dalam bentuk
nyata pada tanaman P. Falcataria. amonium atau ion nitrat. Nitrogen
Pada tanaman P. falcataria nilai rata yang dapat terikat oleh tanaman akan
- rata jumlah daun tertinggi terdapat selalu dan selalu dibutuhkan,
pada perlakuan b1 (Shinorhizobium sedangkan mengenai seberapa
sp) dengan nilai rerata 10,9 helai. banyaknya tergantung pada tanaman
Aktifitas sitokinin ditentukan oleh itu sendiri.
kondisi tanah, seperti ketersediaan
air, dan nitrogen yang termineralisasi Serapan hara P
(Goldsworthy dan Fisher 1992). Inokulasi BFN untuk
Adanya BFN yang terdapat dalam parameter serapan hara P
daerah rizosfer akan berpengaruh berpengaruh sangat nyata pada
terhadap kondisi tanah. Menurut tanaman P. falcataria. Untuk
Domergues et al. (1980), serapan hara P tertinggi terlihat pada
mikroorganisme dapat mem- perlakuan BFN jenis b1
pengaruhi produktifitas tanah secara (Shinorhizobium sp) yaitu 0,16
langsung dalam hal sifat fisik dan g/tanaman. Begitupun inokulasi BFN
kimia tanah dan dapat menghasilkan ternyata dapat meningkatkan serapan
sejumlah polisakarida sehingga N dan P, hal ini sesuai dengan
berpengaruh terhadap stabilitas tanah pendapat Pujianto (2001) dan
disekitar rizosfer. BFN juga dapat menurut Dommergues et al. (1980)
membantu meningkatkan keter- menyatakan bahwa inokulasi BFN
sediaan amonium dengan me- tertentu terhadap tanaman dan
lepaskannya dari N organik. memperlihatkan peningkatan per-
tumbuhan tanaman disebabkan
Serapan hara N karena BFN tersebut mempunyai
Pengaruh inokulasi BFN untuk peranan khusus seperti penghasil zat
parameter serapan hara N pengatur tumbuh, pengagregasi
berpengaruh nyata pada tanaman P. tanah, menyediakan unsur hara bagi
falcataria. Pada tanaman uji serapan tanaman dan sejumlah fungsi
hara N tertinggi terlihat pada lainnya.
perlakuan BFN jenis b1

44
Tabel 2.Hasil analisis korelasi antara jumlah nodul efektif dengan beberapa
parameter pertumbuhan bibit P. Falcataria.(The correlation analisys
result of effective nodule total with some P. falcataria seedling
growing parameters)
Nilai
Kriteria
Korelasi koefisien
hubungan
korelasi (r)
Jumlah nodul efektif dengan tinggi semai 0,951 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan diameter semai 0,955 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan jumlah helai daun 0,937 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan berat segar tajuk 0,994 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan berat segar akar 0,966 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan berat kering total 0,990 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan serapan N 0,984 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan serapan P 0,939 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan C/N ratio 0,359 Lemah
Jumlah nodul efektif dengan indek mutu bibit 0,979 Sangat kuat
Jumlah nodul efektif dengan penambahan
bakteri 0,230 Lemah

Analisis hubungan antara serta kondisi lingkungan yang


jumlah nodul efektif dengan berbagai kurang mendukung untuk
parameter pertumbuhan bibit P. berkembangnya jenis bakteri lain.
falcataria (Tabel 2). Data pada
Tabel 2 menunjukkan bahwa KESIMPULAN
hubungan antara jumlah nodul Bakteri Fiksasi Nitrogen (BFN)
efektif dengan parameter tinggi jenis Shinorhizobium sp (S8.4) dapat
semai, diameter semai, jumlah helai berasosiasi dengan P. falcataria,
daun, berat segar tajuk, berat segar dalam meningkatkan pertumbuhan
akar, berat kering total, indek mutu semai pada media tanah bekas
bibit, serapan hara N dan serapan tambang semen serta mampu
hara P merupakan hubungan yang memberikan respon pertumbuhan
sangat kuat. Hal ini diduga bahwa lebih baik bila dibandingkan dengan
nodul efektif mampu menghasilkan perlakuan Rhizobium sp (S10.3.1)
enzim fosfatase, sehingga enzim ini dan kontrol pada variabel
yang berperan dalam meningkatkan pengamatan diameter semai (1,65
pertumbuhan tanaman P. Falcataria. mm), jumlah daun (10,9 helai),
Hubungan jumlah nodul efektif serapan N (2,10 g/tanaman) dan
dengan C/N ratio dan penambahan Serapan P (0,16 g/tanaman).
jenis bakteri merupakan hubungan
yang lemah, hal ini diduga antara
nodul efektif yang terdapat pada DAFTAR PUSTAKA
tanaman P. Falcataria tidak
Bonner J, Galston AW. 1952.
kompatibel dengan jenis bakteri lain Principles of Plant

45
Physiology. San Francisco: Kelapa Sawit Pada Tanah
W.H. Freeman and Company. Masam. Menara Perkebunan .
Pujianto. 2001. Pemanfaatan Jasad
Bickelhaupt DH. 1980. Nursery Soil Mikro Jamur Mikoriza dan
and Seedling Analysis Bakteri Dalam Sistem
Methodology. Proc. North Pertanian Berkelanjutan di
American Forest Tree Indonesia: Tinjauan dari
Nursery Soil. Workshop. New PerspektifFalsafahSains.http:/
york: July 28 August 1980: /www.hayati_ipb.com/user/ru
237-260. dyct/indiv2001/pujianto.htm.
[Juni 2001].
Biwas JC. 2000. Rhizobia
Inoculation Improves Nutrient Qualls RG. 2000. Phosphorus
Uptake and Growth of Enrcment Effects Litter
Lowland Rice. Soil Sci. Soc. Decomposition, Imobilization
Am J (64): 1644-1650. and Soil Microbial
Phosphorus in wetland
Dommergues YR, Diem HD, Ganry Mesocosms. Soil Sci. Soc.
F. 1980. The Effect of Soil Am.J. (64): 799-808.
Microorganism on Plant
Productivity. In: Soil Research Samingan T. 1983. Dendrologi.
of Agroforestry. United Jakarta: PT Gramedia. 90 hal.
Kingdom. hlm 205-236.
Salisbury FB, Ross CW. 1995.
Doran JW. 2000. Soil Health and Fisiologi Tumbuhan. Jilid I.
Sustainability: Managing the Bandung: Institut Teknologi
Biotic Component of Soil Bandung.
Quality. Applied Soil
Ecology. (14): 223-229. Turnbull JW, Martenz PN, Hall N.
1986. Notes on Lesser-Known
Goldsworthy PR, Fisher NM. 1992. Australian Trees and Shrubs
Fisiologi Tanaman Budidaya with Potential for Wood and
Tropik. Yogyakarta: Gadjah Agroforestry. In:
Mada University Press. Multipurpose Australian Trees
and Shrubs, Lesser Known
Gomez KA, Gomez AA. 1995. Spezies for Fuelwood and
Prosedur Statistika untuk Agroforestry. (Turnbull,
Penelitian Pertanian. Edisi J.W.ed). ACIAR Canbera.
Kedua. Penerjemah; hlm.81-90.
Sjamsuddin E dan Baharsjah
JS. Jakarta. Terjemahan dari: Van Brugen AHC. 2000. In Search of
UI Press. 60(3): 85-89. Biological Indicators for
Soilhealth and Disease
Harjono A, Warsito. 1992. Pengaruh Supression. Applied Soil
Jenis Pupuk N, P, dan Mg Ecology (15) 25-36.
terhadap Pertumbuhan Bibit

46