BAB I

PENDAHULUAN
http://www.sastraku.com
http://www.bacagratisku.blogspot.com

A. Latar Belakang
Untuk menghindarkan kesalahpahaman serta menjaga terjadinya bermacammacam penafsiran dari judul bahasan “Efektifitas Pembelajaran Bahasa Arab dalam
upaya peningkatan prestasi siswa di MTs. ma’arif legok”. penulis perlu memaparkan
pengertian beberapa istilah sebagai berikut:
1. Efektifitas: Berhubungan dengan suatu kegiatan. Efektifitas dapat juga diartikan
sejauh mana hal-hal yang direncanakan dapat terlaksana.dalam arti bahwa apabila
hasilnya menunjukan presentase yang besar atau tidak jauh dari perencanaan maka
dapat dikatakan bahwa hal tersebut cukup efekif dan sebaliknya apabila hasilnya
jauh dari perencanaan yang ada maka dapat dikatakan hal tersebut tidak efektif.1
2. Pembelajaran bahasa Arab: Pembelajaran adalah suatu upaya membelajarkan siswa
untuk belajar,2 yang dalam hal ini tentang belajar bahasa Arab yang mana guru
bertindak sebagai fasilator.
3.Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan,
dikerjakan3.Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang
1 Henyat Soetomo Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara 1993),hal. 50

2 Muhaimin. Strategi Belajar Mengajar (Penerapan dalam Pembelajaran Pendidikan AgamaIslam ), Surabaya, 1996,
hal. 99

3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), 2003: 895

2

dicapai siswa dalam mata pelajaran bahasa arab yang dapat diketahui dari nilai
ulangan per kompetensi dan sejauh mana keberhasilan terhadap materi.

3

Bahasa merupakan alat komunikasi dan pendukung dalam pergaulan
manusia dalam sehari-hari baik antara individu dengan individu, individu dengan
masyarakat, maupun dengan bangsa tertentu. Adapun bahasa Arab merupakan
bahasa yang istimewa di dunia ini seperti yang kita ketahui, bahwasannya bahasa
Arab tidak hanya merupakan bahasa peradaban, melainkan juga sebagai bahasa
persatuan umat Islam di dunia. Bahasa Arab adalah selain merupakan bahasa AlQur’an (firman Allah atau kitab pedoman umat Islam) yang memiliki uslub yang
bermutu juga memiliki sastra yang sangat mengagungkan manusia dan manusia
tidak mampu untuk menandingi. Menurut Abdul Alim Ibrahim (1978;48) bahwa
bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab dan sekaligus juga merupakan bahasa
Islam.4
Bahasa-bahasa lain termasuk bahasa Indonesia, tidak dapat diandalkan
untuk memberikan kepastian arti yang tersurat dan tersirat yang terkandung dalam
Al-Qur’an (Ash Shidiqi,1975;2007) karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa
Arab, maka kaidah-kaidah yang diperlukan dalam memahami Al-Qur’an bersendi
atas kaidah-kaidah bahasa Arab, memahami asas-asasnya, merupakan uslubuslubnya dan mengetahui rahasia-rahasianya (Ash Shidgi, 1972;284) 5 Pengajaran
bahasa Arab adalah suatu proses pendidikan yang diarahkan untuk mendorong,
membimbing, mengembangkan serta membina kemampuan bahasa Arab, baik
secara aktif maupun pasif serta menumbuhkan sikap positif. Adapun yang
dimaksud dengan berbahasa Arab aktif yaitu kemampuan berkomunikasi dengan
4 Azhar Arsad, Bahasa Arab dan Beberapa Metode Pengajarannya, (Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2003), hal. 7

5 Ibid 9

4

baik dan benar secara lisan, yaitu dalam berkomunikasi atau berbicara dengan
orang lain maupun secara tertulis seperti membuat karangan. Sedangkan
kemampuan berbahasa pasif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan
orang lain dan kemampuan memahami isi bacaan. Kemampuan berbahasa Arab
serta sikap positif terhadap bahasa tersebut sangat penting karena dapat membantu
dalam memahami sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan hadits, dan kitab
bahasa Arab yang berkenaan dengan Islam. Oleh karena itu, bahasa Arab
merupakan bahasa Al-Qur’an dan menjadi salah satu alat komunikasi
internasional. Dengan demikian itu mempelajari bahasa Arab menjadi sesuatu
kebutuhan bagi setiap orang khususnya bagi umat Islam.itu dikarenakan bahasa
Arab merupakan bahasa istimewa dan juga menjadi bahasa pilihan karena telah
menjadi bahasa Al-Qur’an. Meskipun bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an
bukan berarti Al-Qur’an tersebut diturunkan untuk bangsa Arab saja, melainkan
untuk seluruh bangsa di seluruh dunia.
Dikarenakan bahasa tersebut disesuaikan dengan tingkat kemampuan
bangsa di seluruh dunia guna untuk memahaminya sebagai mana dalam firman
Allah SWT.

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa
kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.
Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk

5

kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi
Maha Bijaksana”. (QS.Ibrahim ayat 4).6
Jadi al–Qur’an dengan bahasanya tersebut telah diukur atau didesain
oleh Allah untuk dapat dipahami dan diamalkan oleh bangsa manapun. Tatkala
kita merasa kesulitan dengan hal apapun yang menyangkut bahasa Arab, bukan
berarti alasan dari kesulitan kita adalah bahasa Arab yang nota bena merupakan
bahasa asing bagi kita sebagai orang Indonesia. Pada dasarnya yang kita butuhkan
adalah kemauan yang besar untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan
bahasa Arab sehingga memperoleh hasil yang kita harapkan. Sebagai salah satu
contoh, siswa yang sedang mengikuti pelajaran bahasa Arab, hendaknya
menghilangkan kesan pertama kali bahasa Arab itu sulit, karena bahasa adalah
merupakan kebiasaan yang terus dilatih akan mudah memahaminya. Begitu juga
dengan guru hendaknya guru pengajar bahasa Arab haruslah memberi motivasi
terhadap anak didiknya, bahwa bahasa Arab itu mudah asalkan ada kemauan yang
besar untuk mempelajarinya. Dalam suatu sistem mempelajari bahasa Arab yang
ideal diharapkan siswa mempunyai ketrampilan atau melewati fase-fase bahasa
Arab antara lain:
1. Ketrampilan mendengar.
2. Ketrampilan berbicara.
3. Ketrampilan membaca.
4. Ketrampilan menulis.7
6 (QS.Ibrahim: 4) qur’an terjemah Departemen Agama Republik Indonesia
7 Maluddin Sukamto dan Akhmad Munawwir, Tata Bahasa Arab Sistematis, (Yogyakarta:Norma
Media Idea, 2004), hal. 5

6

Agar tujuan pembelajaran tercapai, guru hendaknya pandai-pandai
mengelola kelasnya dengan memperhatikan efektifitas dan efisien dari kegiatan
belajar mengajar yang telah direncanakan. Untuk tuntutan itu, guru harus
membantu para siswa untuk mencapai pembelajaran yang efektif dan efisien.
Adapun pembelajaran yang efektif adalah suatu upaya mengetahui
berhasil tidaknya pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab khususnya baik dari segi
proses maupun hasil. Maka peran guru tidak cukup sebagai pengajar saja.
Disamping para pengajar juga diharapkan pakar bahasa Arab sangat membantu
perkembangan pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Upaya yang dapat dilakukan
berupa pengadaan pusat latihan, laboratorium bahasa, media-media yang
menyajikan bahasa Arab yang praktis dan buku-buku karya ilmiah yang
menyajikan bahasa Arab yang mudah atau gamblang dan metodologis8
Keberhasilan seorang siswa dalam belajar dapat dilihat dari prestasi
belajar siswa yang bersangkutan. Di dalam pendidikan siswa akan dinilai
keberhasilannya melalui tes hasil belajar. Hasil yang diharapkan adalah prestasi
belajar yang baik karena setiap orang menginginkan prestasi yang tinggi, baik
siswa, guru, sekolah, maupun orang tua hingga masyarakat. Namun antara siswa
satu dengan siswa yang lainnya berbeda dalam pencapaian prestasi belajar. Ada
yang mampu mencapai prestasi yang tinggi, namun ada juga siswa yang rendah
prestasi belajarnya.

88Tayas Yusuf dan Syaiful Anwar. Metodologi Pengajaran dan Bahasa Arab, (Jakarta:Grafindo Persada
1995)

7

Adanya perbedaan prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang bersumber dari dalam
individu seperti kecerdasan, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan
kesiapan. Sedangkan faktor eksternal adalah semua faktor yang bersumber dari
luar seperti lingkungan. Lingkungan ini terdiri dari tiga yaitu lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga meliputi
cara orangtua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan
ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan.
Lingkungan sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan
siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah
dan lain-lain. Sedangkan lingkungan masyarakat meliputi keadaan siswa dalam
masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakakat

B. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas dalam penulisan
skripsi ini penulis ingin mengkaji metode pengajaran bahasa Arab dalam
rumusan :
(1) Bagaimana efektivitas pembelajaran bahasa arab di mts ma’arif legok
(2)metode apa saja yang digunakan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
bahasa arab di mts ma’arif legok
(3) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat prestasi siswa dalam
pembelajaran bahasa arab di mts ma’arif legok

8

C. Tujuan Penelitian dan kegunaan penelitian
Sedangkan tujuan dari yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran bahasa arab
2.

Untuk mengetahui metode apa saja yang digunakan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran bahasa Arab

3.

Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendukung dan menghambat prestasi siswa
dalam pembelajaran bahasa arab
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang merupakan studi kasus pada

Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Legok. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan
metode wawancara / interview dan dokumentasi. Sumber data penulis peroleh dari sumber
data primer, yaitu informan yang terdiri dari guru bahasa Arab. Dan sumber data sekunder
adalah sumber data tangan kedua tempat penyimpanan dokumen.
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka manfaat dari hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.

Penulisan skripsi ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran bagi para praktisi
dunia pendidikan dan bagi tenaga pengajar khususnya agar lebih memperhatikan
peranannya sebagi pengajar dalam kegiatan belajar mengajar di kelas serta dalam
memperhatikan penggunaan metode yang variatif demitercapainya tujuan pendidikan
yang diharapkan

2. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi guru atau
yang berkecimpung dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas
pendidikanya.

9

D. Langkah-langkah penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang merupakan studi kasus pada
Madrasah Tsanawiyah Maarif Legok. Pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan metode wawancara / interview dan dokumentasi. Sumber data penulis
peroleh dari sumber data primer, yaitu informan yang terdiri dari guru bahasa Arab
kelas. Dan sumber data sekunder adalah sumber data tangan kedua tempat penyimpanan
dokumen
3.

Populasi dan sampel
a. Populasi penelitian
populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di mts ma’arif legok sebanyak
125 orang dengan karakteristik yang sama memiliki stratifikasi berdasarkan
tingkatan kelas.
b. Dengan karakter populasi yang memiliki strata seperti digambarkan diatas, maka
sampel penelitian diambil dengan teknik stratied sampling,
yakni penelitian berdasarkan strata yang ada, yakni sebanyak 3 kelas
masing-masing kelas sebanyak 15 orang.

4.

Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi sebagai alat pengumpul data, banyak digunakan untuk mengukur tingkah
laku individu, ataupun proses terjadinya sesuatu yang dapat diamati baik dalam
situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan9. Metode ini digunakan untuk
memperoleh data tentang gambaran umum pembelajaran di Madrasah tsanawiyah

9Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru, 1989), hal. 109

10

ma’arif Legok dan untuk mengetahui kondisi fisik sarana dan prasarana dari obyek
penelitian, maka penulis menggunakan metode observasi secara langsung di
Madrasah Tsanawiyah Maarif Legok guna mengamati dan mencatat secara
sistematis fenomena-fenomena yang diteliti.10
b. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk mencari jumlah siswa yang ada pada Madrasah
Tsanawiyah Maarif Legok secara keseluruhan dan data-data yang berhubungan
dengan penelitian.
c. Metode Interview
Dalam mengumpulkan data penelitian penulis melakukannya dengan metode
interview guna mengetahui data tentang metodologi pembelajaran bahasa arab
dalam proses belajar mengajar dan kendala-kendala dalam pembelajaran bahasa
Arab. Metode ini digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan
cara Tanya jawab11 dan suatu komunikasi

verbal semacam percakapan yang

bertujuan memperoleh informasi.
d. Metode Angket
Metode ini digunakan untuk menjaring data yang akan dianalisis dalam penelitian
dan berkaitan dengan metodologi pembelajaran bahasa Arab.
5. Instrumen Penelitian
Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa instrumen penelitian sebagai berikut:
10Sutrisno Hadii, Metodologi Reseach, (Jakarta; Andi Offset, 1990), hal. 136

11 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, … hal. 27

11

a. Daftar pedoman interview dalam hal ini penulis hanya memuat atau mencantumkan
pokok-pokok pertanyaan saja. Selebihnya penulis mengembangkan sendiri
pertanyaan-pertanyaan itu dalam wawancara untuk mendapatkan data-data sesuai
dengan kepentingan penelitian.
b. Yang memuat pokok-pokok masalah yang hendak diobservasikan dengan
melakukan pengamatan dan pencatatan sendiri sesuai dengan kenyataan yang ada
di lapangan.
5. Teknik Analisis Data
Setelah pengumpulan data, langkah selanjutnya adalah proses analisis data. Pada
penelitian ini menggunakan data kualitatif yang mana penelitian kualitatif tidak dimulai
dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan, yakni fakta empiris atau induktif. Peneliti
terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang terjadi secara alami,
mencatat, menganalisis, menafsirkan, dan melaporkan serta menarik kesimpulankesimpulan dari proses tersebut. Data yang sudah masuk pada penulis akan dikumpulkan
sesuai dengan kelompok-kelompok data tertentu. Data tertentu kemudian dilakukan
analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif ini
dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian
dilakukan. Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis
sehingga dalam langkah penelitian tidak perlu merumuskan hipotesis, peneliti
menggunakan deskriptif kualitatif. Adapun langkahlangkahnya sebagai berikut:
a.Kata-Kata dan Tindakan
Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai sebagai sumber
data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekam
video dan pengambilan photo.
b.Sumber Tertulis

12

Walaupun dikatakan bahwa sumber tertulis merupakan sumber kedua setelah kata-kata
dan tindakan merupakan sumber kedua. Jelas hal itu tidak bisa diabaikan dilihat dari segi
sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dibagi atas buku dan
majalah ilmiah sumber dan arsip-arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.
c. Photo
Photo adalah sebagai alat yang dipakai untuk keperluan penelitian kualitatif, karena
dapat dipakai dalam berbagai keperluan. Photo menghasilkan data deskriptif yang cukup
berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi subyektif dan hasilnya sering
dianalisis secara induktif12
E. Sistematika Pembahasan
Bab I : Merupakan pendahuluan yang memberikan gambaran secara umum kepada
pembaca mengenai isi skripsi ini. Di dalamnya membahas tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, penegasan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian dan
sistematika pembahasan.
Bab II : Merupakan landasan teori yang menguraikan tentang pengertian efektivitas
pembelajaran bahasa Arab, tujuan pembelajaran bahasa Arab,serta keterkaitannya dengan
prestasi belajar siswa.
Bab III : Merupakan penyajian dan analisis data yang terdiri atas: profil mts ma’arif legok,
letak geografis struktur organisasi, sarana dan prasarana, pembelajaran bahasa Arab,serta
penyajian data mengenai prestasi belajar siswa.
Bab IV : Akhir dari bab ini merupakan kesimpulan dan saran sebagai akhir dari
pembahasan skripsi ini.

12Lexy J. Moloen, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung; Remaja Rosda Karya 2002), hal. 112-114

13

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Efektifitas pembelajaran bahasa arab
1. Pengertian Efektivitas
Ketika kita berbicara tentang efektif, kita akan mengalami kesulitan dalam memberikan
makna. Di mana efektifitas tidak memiliki patokan makna yang pasti dalam pengukurannya
berikut ini akan saya berikan definisi efektifitas dari beberapa pakar. Menurut CES, di dalam
ensiklopedia Indonesia adalah tujuan, suatu usaha. Menurut Burhani MS dan Hasbi Lawrence,
yang dimaksud efektifitas adalah ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan. Menurut T.
Hani Handoko, efektifitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan
yang tepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. 13 Dari definisi di atas dapat disimpulkan
bahwasannya efektifitas adalah suatu upaya untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan
pembelajaran bahasa Arab, khususnya baik dari segi proses maupun hasil.
Bagi seorang pengajar yang baik hendaknya mengetahui dan memahami tujuan-tujuan
yang akan dicapai dalam pembelajaran bahasa Arab. Sesuai dengan materi yang diajarkan
sehingga dapat menentukan metode yang tepat dalam pengetahuan bahasa Arab. Menetapkan
materi atau bahan pengajaran dalam perencanaan mengajar tidak akan menemui banyaknya
kesulitan, asal tujuan pembelajaran dirumuskan secara jelas dan terdapatnya sumber yang
berkenaan dengan bahan tersebut. 14 Materi atau bahan pembelajaran yang dipelajari siswa tidak
terlepas dari syarat-syarat memilih atau menetapkan materi pelajaran, yaitu:
a. Tujuan pengajaran Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada tujuan-tujuan
instruksional yang ingin dicapainya.
b. Pentingnya bahan
13 Hani Handoko, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: BPFE, 1987), h. 30
14 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algasindo,1987), h. 67-70

14

Materi yang diberikan hendaknya merupakan bahan yang betulbetul penting baik dilihat dari
tujuan yang ingin dicapai maupun fungsinya untuk mempelajari bahan berikutnya.
c. Nilai praktis
Materi yang dipilih hendaknya bermakna bagi siswa, dalam arti mengandung nilai praktis atau
bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
d. Tingkat perkembangan peserta didik
Kedalaman dan keluasan materi dipertimbangkan dengan jenjang sekolah dan perkembangan
psikologi siswa.
e. Tata urutan
Materi yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang memudahkan untuk mempelajari
keseluruhan materi pelajaran (sistematis). 15 Buku adalah sumber ilmu. Oleh karenanya
membaca buku adalah suatu keharusan bagi siswa dengan membaca buku, siswa akan lebih
banyak mengetahui bahan pelajaran yang akan diberikan guru, bahkan tidak mustahil siswa
terlebih dahulu mengetahui materi sebelum diberitahukan oleh guru.
Pendidik hendaknya jeli dalam memilih buku pedoman dalam mendidik anak didiknya, karena
sebuah kitab atau buku disebut efektif apabila kitab tersebut membawa hasil atau prestasi yang
memuaskan dan tidak jauh dari tujuan yang direncanakan sebelumnya, serta membawa manfaat
terbesar bagi penggunaannya. Begitu juga dengan kitab pelajaran bahasa Arab, hendaknya
membawa manfaat bagi anak didik setelah

2. Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab

15 Depdikbud, Institut Perguruan dan Ilmu Pengetahuan Surabaya, Belajar dan Pembelajaran I,… h. 96

15

Pengertian

Pembelajaran

adalah

upaya

untuk

belajar. Kegiatan

ini

akan

mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. 16 Sebagaimana hal
yang disebutkan oleh Nababan bahwasannya arti pembelajaran adalah nominalisasi proses
untuk

membelajarkan17.Seharusnya

pembelajaran bermakna “proses

membuat

atau

menyebabkan orang lainbelajar.
Adapun menurut Oemar Hamalik, Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun
meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran, dalam hal ini manusia terlibat dalam
sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, materi meliputi; buku-buku,
papan tulis dan lain-lainnya. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas dan
audiovisual. prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktek belajar,
ujian dan sebagainya. Pembelajaran18 disebut juga sebagai proses perilaku dengan arah positif
untuk memecahkan masalah personal, komunitas.
ekonomi, sosial dan politik yang ditemui oleh individu, kelompok dan dalam hal ini perilaku
diartikan sebagai sikap, ide, nilai ,keahlian dan minat individu. Sedangkan arah positif
merujuk kepada apa yang meningkatkan diri, orang lain dan komunitas. Pembelajaran
memungkinkan individu, kelompok, atau komunitas menjadi entities yang berfungsi, efektif
dan produktif di dalam masyarakat.19 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran (proses belajar mengajar) adalah suatu aktifitas (upaya) seorang pendidik yang
disengaja untuk memodifikasi (mengorganisasikan) berbagai komponen belajar mengajar

16 Muhaimin M.A. Dkk. Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), h99
17 Jos D Parera, Lingustik Edukasional, (Jakarta: Erlangga 1997), h. 24-25.
18 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 57
19 Agus Suryana, Panduan Praktis Mengelola Pelatihan, (Jakarta: Edsa Mahkota, 2006), h. 2922

16

yang diarahkan tercapainya tujuan yang ditentukan. Dari istilah proses belajar dan mengajar
terdapat hubungan yang sangat erat. Bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling pengaruhmempengaruhi dan saling menunjang satu sama yang lain adapun tujuan belajar merupakan
kriteria untuk mencapai derajat mutu dan efisiensi pembelajaran itu sendiri. Perbuatan belajar
adalah proses yang komplek. Proses itu sendiri sulit diamati, namun perbuatan atau tindakan
belajar dapat diamati berdasarkan perubahan tingkah laku yang dihasilkan oleh tindakan
belajar tersebut. Karena itu, untuk memahami suatu perbuatan belajar diperlukan kajian
terhadap perbuatan itu secara unsuriyah. Dengan kata lain, setiap perbuatan belajar
mengandung beberapa unsur, yang sifatnya dinamis. Unsur-unsur tersebut dikatakan dinamis
karena dapat berubah-ubah, dalam arti dapat menjadi lebih kuat atau menjadi lebih lemah.
Kedinamisan ini dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang ada dalam diri siswa dan yang ada di
luar siswa bersangkutan. Perubahan unsur-unsur tersebut sudah tentu ada pengaruhnya
terhadap kegiatan belajar dan hasil yang diperoleh. Unsur-unsur yang terkait dalam proses
belajar mengajar terdiri dari:
a. Motivasi belajar siswa
Dalam pembelajaran harus ada upaya-upaya agar motivasi yang sudah ada pada diri
pembelajaran tetap terpelihara dan ditingkatkan karena motivasi berguna untuk
menghubungkan pengalaman yang lama dengan bahan pelajaran yang baru, sebab setiap
siswa datang ke kelas dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dengan motivasi, siswa
tidak mengalami dalam belajar dan merasa terdorong untuk mempelajari bahan-bahan
baru,
b. Bahan ajar
Bahan belajar yang tersedia harus mendukung bagi pencapaian tujuan belajar siswa karena
itu penggunaan bahan belajar harus selektif dan disesuaikan dengan komponen-komponen
lainnya.

17

c. Alat bantu ajar
Suasana belajar perlu dikembangkan agar masing-masing siswa biasa kompetitif. Sebab
dengan kompetitif yang sehat akan memungkinkan setiap siswa dapat berprestasi secara
maksimal dan dapat mencapai prestasi yang setinggi mungkin
d. Suasana belajar
Suasana belajar penting artinya bagi kegiatan belajar. Suasana yang menyenangkan dapat
menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasana yang kacau, ramai, tak tenang dan
banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang efektif. Karena itu,
guru dan siswa
senantiasa dituntut agar menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan
menyenangkan, menantang dan menggairahkan. Hal ini berarti bahwa suasana belajar turut
menentukan motivasi, kegiatan, keberhasilan belajar siswa.
e. Kondisi subyek yang belajar
Kondisi subyek dapat dibedakan atas kondisi fisik ataupun psikis,kondisi fisik meliputi
ukuran tubuh, kekuatan tubuhnya, kesehatannya,aspirasinya dan harapannya oleh karena itu
kondisi siswa perlu diperhatikan. Dari kelima unsur inilah yang bersifat dinamis itu, yang
sering berubah, menguat atau melemah dan yang mempengaruhi proses belajar tersebut. 20
Sedangkan unsur-unsur dinamis pada guru meliputi:
a. Motivasi membelajarkan Siswa
Guru harus memiliki motivasi untuk membelajarkan siswa. motivasi itu timbul dari
kesadaran yang tinggi untuk mendidik para peserta didik lebih baik, jadi guru harus
memiliki hasrat untuk menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan.
20 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta; Bumi Aksara, 1994) hal 50 24

18

b.Kondisi Guru Siap Membelajarkan Siswa
Guru perlu memiliki kemampuan dalam proses pengajaran selain kemampuan dalam proses
pengajaran selain kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Maka guru
perlu berupaya meningkatkan kemampuannya agar senantiasa berada dalam kondisi siap
membelajarkan siswa.
3. Faktor-faktor penunjang Bahasa Arab
Pada hakekatnya suatu keberhasilan tidak akan tercapai dengan baik tanpa ada faktorfaktor yang mempengaruhinya, begitu pula dengan keberhasilan pengajaran, khususnya
dalam pengajaran bahasa Arab. Adapun faktor yang mempengaruhi tercapainya suatu
ketrampilan
berbahasa bagi siswa antara lain yaitu:
a. Untuk mendapatkan ketrampilan berbahasa yang berhasil ada peran guru dan peran siswa
tidak mungkin cara siswa aktif tidak terpengaruh dan dikendalikan oleh guru, jadi peran
guru masih besar dalam pembelajaran bahasa.
b. Metode yang berhasil adalah metode langsung dengan teknik monitoring atas kesalahan
tata bahasa dan kosa kata.
c. Keberhasilan belajar bahasa dimulai dengan belajar kosa kata dan tata bahasa, baru
kemudian membaca teks dengan konteks yang menarik dan berguna.
d.Pelatihan yang digunakan setiap hari untuk komponen-komponen kebahasaan dan
penugasan diberikan untuk melakukan kegiatan kebahasaan secara terpadu.
e. Mengingat, juga merupakan hal yang utama dalam pembelajaran bahasa.
f. Sering dilakukannya praktek berbicara dengan bahasa yang digunakan.
g. Pemakaian kamus sangat diperlukan.21
21 Jos Daniael Parera, Linguistik Edukasional (Jakarta: Erlangga,1997), h. 32

19

4. Ketrampilan Berbahasa Arab
a. Pengertian ketrampilan berbahasa Arab.
Sebelum diketahui apa pengertian ketrampilan berbahasa Arab seutuhnya terlebih dahulu
penulis akan menguraikan apa yang dimaksud dengan ketrampilan dan bahasa
Ketrampilan adalah kecekatan, kecakapan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu
dengan baik dan cermat. Sedangkan berbahasa adalah sebagaimana ciri prefeks -ber
pada bahasa Indonesia, menyatakan makna“kebiasaan melakukan sesuatu”. Bahasa suatu
sistem komunikasi, dialaminya dan hakekat bahasa sebenarnya adalah makna.22
b. Indikator ketrampilan berbahasa Arab.Tercapainya suatu keberhasilan dalam ketrampilan
berbahasa Arab ditandai beberapa kemahiran diantaranya yaitu;
1) Kemahiran menyimak (istima’)
Kemahiran menyimak (listening) skill dapat dicapai dengan latihan-latihan mendengar
perbedaan satu phoneme dengan phoneme yang lainnya antara satu ungkapan dengan
ungkapan lainnya, baik langsung dari native speaker atau melalui rekaman tape untuk
memahami bentuk dan arti dari apa yang didengar diperlukan latihanlatihan berupa
mendengarkan materi yang direkam dan pada waktu yang bersamaan melihat rangkaian
gambar yang mencerminkan arti dari isi apa yang didengarkan tersebut.
2) Kemahiran berbicara (kalam)
Kemahiran berbicara atau speaking skill merupakan kemahiran linguistic yang paling
rumit, karena ini menyangkut masalah berfikir atau memikirkan apa yang harus dikatakan
sementara menyatakan apa yang telah dipikirkan. Semua ini memerlukan persediaan kata
dan kalimat tertentu yang cocok dengan situasi yang dikehendaki dan memerlukan banyak

22Jos Daniel Parera, Linguistik, Edukasional, (Jakarta: Airlangga, 1997), h. 26-27

20

latihan ucapan dan ekspresi atau menyatakan pikiran dan perasaan secara lisan system
leksikal, gramatikal dan semantic digunakan simultan dengan intonasi tertentu.
3) Kemahiran membaca (Qiro’ah)
Kemahiran membaca mencakup dua hal yaitu mengenali simbul-simbul tertulis dan
memahami isinya dengan beberapa cara. Diantaranya dengan membekali murid dengan
perbendaharaan kata yang cukup. Aktifitas membaca, menyediakan input bahasa sama
seperti menyimak. Namun demikian membaca memiliki kelebihan dari menyimak dalam
hal pemberian butir linguistic yang lebih akurat. Disamping itu pembaca yang baik bersifat
otonom dan bisa berhubungan dengan melalui majalah, buku atau surat kabar berbahasa
Arab23 dengan cara seperti itu pembelajaran akan memperoleh kosakata dan bentuk-bentuk
bahasa dalam jumlah banyak yang sangat bermanfaat dalam interaksi komunikatif, faktor
tersebut jelas menunjukkan bahwa pengajaran membaca perlu memperoleh perhatian serius
dan wacana membaca tidak boleh hanya dipandang sebagai batu loncatan bagi aktivitas
berbicara dan menulis semata, tujuan pengajaran bahasa sebagaimana kita ketahui adalah
mengembangkan kemampuan bagi siswa, dengan demikian guru bertugas untuk
meyakinkan bahwa proses belajar mengajar akan menjadi pengalaman yang sangat
menyenangkan bagi para siswa.
4) Kemahiran menulis (Kitabah)
Kemahiran menulis menyangkut 3 hal yaitu:
a)Kemahiran membuat alphabet Kemahiran membuat alphabet dimaksud untuk
menyatakan bunyi berbeda-beda antara bahasa yang lain
b) Kemahiran mengeja

23 Furqonul Aziz dan Chaidar Al-Wasilah, Pengajaran Bahasa Komunikatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2000, Cet. II), h. 10828

21

Kemahiran mengeja ini akan berkembang menjadi modifikasi kalimat yaitu mengubah
kalimat yang ada dengan unsur yang lain, menyempurnakan kalimat yang belum selesai
atau mengubah kalimat aktif menjadi pasif, begitu sebaliknya.
c) Kemahiran menyatakan perasaan dan pikiran melalui tulisan atau yang lazimnya
disebut komposisi. Kemahiran ini dapat dicapai melalui latihan-latihan yang berupa:
(1) Merangkum bacaan terpilih dan menceritakan kembali dalambentuk tulisan, tetapi
menggunakan kata-kata siswa itu sendiri.
(2) Menceritakan gambaran yang dilihat atau pekerjaan yang dilakukan siswa seharihari.
(3) Membuat diskripsi suatu gambaran atau peristiwa sampai masalah sekecil-kecilnya.
(4) Menceritakan perbuatan yang biasanya dilakukan oleh siswa,seperti mengendarai
sepeda dan lain-lainnya.
5. Problematika dan Solusi dalam pembelajaran bahasa
Dalam proses pembelajaran, tidak terlepas dari adanya problematika dihadapi oleh para
pengajar, para peserta didik dan alat pembelajaran yang meliputi; buku pedoman belajar.
Problem sangat beragam sehingga problem dari kelas yang lain tidak sama, begitu juga
dengan problem pembelajaran bahasa Arab. Berikut ini paparan singkat tentang problem
pembelajaran bahasa Arab secara umum yang tentunya perlu diketahui oleh para guru dan
para siswa dalam pembelajaran bahasa Arab. Dengan demikian guru dapat mempersiapkan
solusi-solusi alternatif untuk mencapai pembelajaran yang efektif dan efisien.

a. Dari pihak guru

22

1. Guru tidak memahami metodologi pembelajaran yang terus berkembang sehingga
guru kurang memahami materi yang diajarkan. Untuk mengatasi masalah itu guru
harus menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan.
2. Guru kurang konsisten dalam penerapan tahapan-tahapan metode yang ada
3. Guru tidak memahami psikologi peserta anak didiknya sehingga proses pembelajaran
berjalan kaku dan tidak menarik bagi siswa. Untuk mengatasi masalah psikologi anak
didik diharapkan seorang guru mengenal watak atau karakter siswa sehingga
membantu aspek-aspek pribadi para siswa untuk meningkatkan kreatifitas
pembelajaran dikelas.
b. Dari pihak siswa
1. Siswa tidak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar, karena kurangnya dukungan
yang kuat dari orang-orang terdekat. Untuk mengatasi hal tersebut siswa hendaknya
dijelaskan tentang tujuan atau manfaat dari pembelajaran tersebut
2. Latar belakang lingkungan yang kurang mendukung kemajuan prestasi belajar, untuk
mengatasi problem tersebut siswa harus mempunyai prasyarat dalam hal ini siswa
harus mempunyai motivasi belajar dengan upaya pembelajaran.24
3. Siswa tidak memiliki rasa percaya diri terutama dalam
pembelajaran bahasa, ini dikarenakan orang yang belajar bahasa yang utama harus
memiliki rasa percaya diri untuk berkomunikasi tanpa hal itu siswa akan sulit
berkembang dalam mengatasi hal ini para siswa diperbolehkan untuk berbicara
meskipun mengabaikan grammar atau Qawaid.

B. Tinjauan prestasi belajar bahasa arab
1. Tujuan Mempelajari Bahasa Arab
24 Oemar Hamalik Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) h.67

23

Tujuan dalam mempelajari bahasa Arab adalah sebagai berikut:
1. Tujuan penting dalam rangka system pembelajaran yakni merupakan suatu komponen
system pembelajaran yang menjadi titik tolak dalam merancang sistem yang efektif, 25
yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan
siswa, mata ajaran dan guru itu sendiri.
Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan
dan diapresiasikan untuk dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang di inginkan. Guru
itu sendiri adalah sumber utama bagi para siswa dan dia harus mampu menulis dan
memilih tujuan-tujuan pendidik yang bermakna dan dapat diukur 26.Adapun tujuan umum
dalam mempelajari bahasa Arab yaitu; agar siswa dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits
sebagai sumber hukum agama Islam dan ajaran-ajarannya.
2. Dapat memahami dan mengerti buku-buku agama dan kebudayaan Islam yang
tertulis dalam bahasa Arab
3. Sebagai alat bantu sebagai alat pembantu keahlian lainnya.
4. Untuk membina ahli bahasa yang benar-benar profesional27.
2. Hakekat Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia
dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Perubahan
perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman. Dari
pengalaman yang satu ke pengalaman yang lain akan menyebabkan
proses perubahan. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan
25 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 75
26 Ibid. h, 76
27 Departemen Agama, Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam\IAIN, (Jakarta: Proyek
Pembinaan System Pendidikan Agama Islam, 1997), h. 117

24

penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga kecakapan, ketrampilan,
sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri. "Belajar
tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi,
kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam
keterampilan lain dan cita-cita" (Hamalik, 2002:45). Dengan demikian
seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang
yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi
dengan lingkungan.
13 Ciri-ciri Belajar
Hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku sehingga menurut Djamarah belajar
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1

1. Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.

2

2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.

3

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

4

4. Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.

5

5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.

6

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.28

7
Menurut aliran Humanis bahwa setiap orang menentukan sendiri tingkah lakunya.
Orang bebas memilih sesuai dengan kebutuhannya. Tidak terikat pada lingkungan. Hal ini
sesuai dengan Wasty Sumanto yang dikutip dari Darsono bahwa tujuan pendidikan adalah
membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang

28 Djamarah,Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta), h15

25

unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri masingmasing. 29
Menurut pandangan dan teori Konstruktivisme (Sardiman, 2006:37) belajar
merupakan proses aktif dari si subyek belajar untuk merekonstruksi makna, sesuatu entah tes,
kegiatan dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar merupakan proses mengasimilasi dan
Menghubungkan dengan pengalaman atau bagian yang dipelajarinya dari pengertian
yang dimiliki sehingga pengertiannya menjadi berkembang.30 Sehubungan dengan hal itu, ada
beberapa ciri atau prinsip dalam belajar menurut Paul Suparno sebagai berikut:

11. Belajar mencari makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat, dengar,
rasakan, dan alami.
22. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.
33. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan
pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan
tetapi perkembangan itu sendiri.
44. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subyek belajar dengan dunia fisik dengan
lingkungannya.
55. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek belajar, tujuan,
motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang telah dipelajari.31
6

29 Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. (Semarang: CV. IKIP Semarang
Press.), h18
30 Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.),h37
31 Ibid.h38

26

Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka proses mengajar bukanlah
kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa tetapi suatu kegiatan yang
memungkinkan

siswa

merekonstruksi

sendiri

pengetahuannya

dan

menggunakan

pengetahuan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru sangat
dibutuhkan untuk membantu belajar siswa sebagai perwujudan perannya sebagai mediator
dan fasilitator.

4. Prinsip-prinsip Belajar
Untuk melengkapi berbagai pengertian dan makna belajar, perlu dikemukakan
prinsip-prinsip yang berkaitan dengan belajar. Seorang guru atau calon guru perlu
mengetahui prinsip-prinsip belajar yaitu prinsip-prinsip belajar yang harus dilaksanakan
dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan oleh setiap siswa secara individual. Beberapa
prinsip belajar yang perlu diketahui antara lain:
71. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
1a. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat
dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional
2b. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa
untuk mencapai tujuan instruksional.
3c. Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak dapat mengembangkan
kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
4d. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
52. Sesuai hakikat belajar
6a. Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
7b. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

27

8c. Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan
pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan.
93. Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari
10a. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang
sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
11b. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan
instruksional yang harus dicapai.
124. Syarat keberhasilan belajar
13a. Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
14b.

Repetisi,

dalam

belajar

mengajar

perlu

ulangan

berkali-kali

agar

pengertian/ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa. 32
1
25. Teori-teori Belajar
Selama perkembangan sejarah psikologi, kita banyak sekali mengenal aliran
psikologi. Setiap aliran tersebut mempunyai pandangan sendiri mengenai belajar. Berikut ini
adalah beberapa teori tentang belajar:
1. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari bermacam-macam daya. Masing-masing daya
dapat dilatih dalam rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih daya itu dapat
digunakan berbagai cara atau bahan. Misalkan untuk melatih daya ingat dalam belajar
dengan menghafalkan kata-kata atau angka, istilah-istilah asing.
2. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian/unsur.
Sehingga dalam kegiatan belajar berawal dari pengamatan. Pengamatan itu penting
32 Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka
Cipta.),h 27-28

28

dilakukan secara menyeluruh. Sehingga berdasarkan teori ini mudah atau sukarnya suatu
pemecahan masalah tergantung pada pengamatan. Menurut aliran teori ini, seseorang
belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan
tertentu antara berbagai unsur dalam situasi tertentu.
Dari aliran ilmu jiwa Gestalt memberikan beberapa prinsip yang penting, antara lain:
a. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara
intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya.
b. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
c. Manusia berkembang secara keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan
segala aspek-aspeknya.
d. Belajar adalah perkembangan ke arah diferensiasi yang lebih luas.
e. Belajar hanya berhasil apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
1f. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi dorongan
yang menggerakkan seluruh organisme.
2g. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
3h. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang
diisi.
43. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Ilmu jiwa asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari
penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini ada dua teori yang
terkenal yakni:
2a. Teori Konektionisme
Teori ini mengatakan belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan
respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu hubungan

29

yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara
stimulus dan respon itu akan terbiasa, otomatis.
b. Teori Conditioning
Teori ini mengemukakan bahwa seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena
adanya suatu tanda. Kondisi yang diciptakan merupakan syarat memunculkan refleks
bersyarat.
1
2
34. Teori Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa
pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Secara sederhana
konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan kita merupakan konstruksi dari kita
yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan,
melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Jadi
seseorang yang belajar itu membentuk pengertian. 33
Bettencourt menyimpulkan bahwa konstruktivisme tidak bertujuan mengerti hakikat
realitas tetapi lebih hendak melihat bagaimana proses kita menjadi tahu tentang sesuatu.
Jadi menurut teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek
belajar membangun sendiri pengetahuannya. Subjek belajar juga mencari sendiri makna
dari sesuatu yang mereka pelajari.34
5. Teori belajar dari R. Gagne
Dalam masalah belajar, Gagne memberikan dua definisi:

33 Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada), hal 30-36
34 Ibid. h37

30

a. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan,
kebiasaan, dan tingkah laku.
b. Belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Gagne mengatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi
menjadi lima kategori yang disebut dengan the domainds of learning yaitu sebagai berikut
ini:
1
1
2

1) Keterampilan motoris (motor skill)
Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan misalnya melempar bola,
main tenis, mengemudi mobil dan sebagainya.
2) Informasi verbal
Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar, dalam hal
ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu perlu intelegensi.
3) Kemampuan intelektual
Manusia

mengadakan

interaksi

dengan

dunia

luar

dengan

simbol-simbol.

Kemampuan belajar dengan cara inilah yang disebut dengan “kemampuan intelektual”.
4) Strategi kognitif
Strategi kognitif merupakan organisasi keterampilan yang internal (internal organized
skill) yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda
dengan kemampuan intelektual, karena ditujukan ke dunia luar dan tidak dapat
dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-perbaikan terus
menerus.
5) Sikap

31

Kemampuan ini tak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak tergantung atau
dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang lain. Sikap ini penting
dalam proses belajar, tanpa kemampuan ini belajar tak akan berhasil dengan baik.
Berdasarkan teori-teori belajar yang dijelaskan di atas teori yang sesuai dengan
motivasi adalah teori belajar menurut R. Gagne yang menyebutkan bahwa belajar
adalah proses untuk memperoleh motivasi. Sedangkan teori yang sesuai
dengan faktor ekstern yang mempengaruhi prestasi yang sedang dikaji oleh peneliti
yaitu metode pembelajaran adalah teori konstruktivisme. Teori ini meyebutkan bahwa
proses belajar mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke
subjek belajar/siswa, tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan subjek belajar
merekonstruksi pengetahuannya. Mengajar adalah bentuk partisipasi dengan subjek
belajar dalam membentuk pengetahuan dan membuat makna, mencari kejelasan dan
membentuk justifikasi. Karena itu guru mempunyai peran yang penting sebagai
mediator dan fasilitator untuk membantu optimalisasi belajar siswa dengan cara
menggunakan metode-metode mengajar yang tepat.

1C. Pengertian Prestasi Belajar Bahasa Arab
"Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri,
baik dalam aspek kognitif, psikomotorik, maupun sikap".35 Ketiga aspek tersebut merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar mengajar harus
berjalan secara efektif agar mampu mempengaruhi hasil belajar siswa.

35Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. (Semarang: CV. IKIP Semarang
Press),h64

32

Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan.
Prestasi belajar adalah bukti keberhasilan dari seseorang setelah memperoleh pengalaman
belajar atau mempelajari sesuatu.36
prestasi

belajar

adalah

penguasaan

pengetahuan

atau

keterampilan

yang

dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai
yang diberikan oleh guru.37
Prestasi belajar bahasa arab merupakan hasil belajar yang telah dicapai pada mata
pelajaran bahasa arab yang ditunjukkan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru bahasa
arab. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar bahasa arab
merupakan hasil yang telah dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajar yang
ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai dari hasil evaluasi yang diberikan oleh guru
bahasa arab.
11. Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua macam yaitu faktor
internal dan faktor eksternal
11. Faktor Internal adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar seperti:
1 a. Faktor Jasmaniah, meliputi
2

a) Faktor kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan orang terganggu,
selain itu juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk,
kurang darah atau gangguan fungsi alat indera.

36 Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka),h895

37 Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. (Jakarta:
Grasindo),h75

33

b) Cacat tubuh
Cacat tubuh ini dapat berupa buta, tuli, patah kaki dan patah tangan.
2b. Faktor Psikologis, meliputi
3a) Intelegensi
Siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil
daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Siswa yang mempunyai
intelegensi tinggi dapat berhasil dengan baik dalam
belajarnya dikarenakan belajar dengan menerapkan metode belajar yang
efisien. Sedangkan yang mempunyai intelegensi rendah perlu mendapatkan
pendidikan khusus.38
b) Perhatian
Perhatian menurut Ghazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu
pun semata-mata tertuju kepada suatu obyek benda/hal atau sekumpulan obyek.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik maka siswa harus mempunyai
perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. 39
c) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar. Bahan
pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan karena
minat menambah kegiatan belajar.
d) Bakat

38 Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
39 Ibid.55

34

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi
menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
e) Motivasi
Seseorang akan berhasil dalam belajarnya bila mempunyai penggerak atau
pendorong untuk mencapai tujuan. Penggerak atau pendorong inilah yang disebut
dengan motivasi.
f) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di
mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajar akan
berhasil bila anak sudah siap (matang).
g) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberikan respon atau bereaksi. Kesiapan
ini perlu diperhatikan dalam proses belajar mengajar karena jika siswa sudah
memiliki kesiapan dalam belajar maka hasil belajarnya akan lebih baik.
1c. Faktor Kelelahan
Kelelahan dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan
rohani. Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglai, sedangkan kelelahan rohani
terlihat dengan kelesuan dan kebosanan.
2. Faktor Eksternal
a. Keadaan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan utama dalam proses belajar. Keadaan yang ada dalam
keluarga mempunyai pengaruh yang besar dalam pencapaian prestasi belajar misalnya
cara orang tua mendidik, relasi anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi
keluarga, pengertian orang tua.
b. Keadaan sekolah

35

Lingkungan sekolah adalah lingkungan di mana siswa belajar secara sistematis. Kondisi
ini meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan
siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, metode belajar dan fasilitas yang mendukung
lainnya.
c. Keadaan masyarakat
Siswa akan mudah kena pengaruh lingkungan masyarakat karena keberadaannya dalam
lingkungan tersebut. Kegiatan dalam masyarakat, mass media, teman bergaul,
lingkungan tetangga merupakan hal-hal yang dapat mempengaruhi siswa sehingga perlu
diusahakan lingkungan yang positif untuk mendukung belajar siswa.
Dari berbagai faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
maka peneliti mengkaji motivasi belajar dan metode pembelajaran.
12.2 Motivasi Belajar
22.2.1 Pengertian Motivasi
Melakukan perbuatan mengajar secara relatif tidak semudah melakukan kebiasaan
yang rutin dilakukan. Oleh karena itu diperlukan adanya sesuatu yang mendorong kegiatan
belajar agar semua tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut adalah adanya
motivasi. Menurut Whittaker motivasi adalah suatu istilah yang sifatnya luas yang digunakan
dalam psikologi yang meliputi kondisi-kondisi atau keadaan internal yang mengaktifkan atau
memberi kekuatan pada organisme dan mengarahkan tingkah laku organisme mencapai
tujuan. Sedangkan menurut Winkel motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada
saat-saat melakukan percobaan, sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang jauh
sebelum orang itu melakukan suatu perbuatan. 40 Menurut Nasution (2000: 73) motivasi
adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.41

40 Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. (Semarang: CV. IKIP
Semarang Press),h61

36

Sedangkan menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman (2006: 73) motivasi
adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Jadi dalam penelitian ini motivasi
belajar diartikan sebagai dorongan yang ada dan timbul dalam diri siswa untuk belajar atau
meningkatkan pengetahuan serta pemahaman bahsa arabnya42.
Sesuai dengan pengertian motivasi yang dijelaskan di atas, bahwa tidak perlu
dipertanyakan lagi pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar. Di dalam kenyataan
1motivasi belajar tidak selalu timbul dalam diri siswa. Ada sebagian siswa yang
mempunyai motivasi tinggi namun ada juga yang rendah motivasinya. Oleh karena itu
seorang guru harus bisa membangkitkan motivasi yang terdapat dalam diri siswa agar
dapat mencapai tujuan belajar. Bagi siswa yang sudah mempunyai motivasi, guru
bertugas untuk meningkatkan motivasinya, jika guru dapat membangun motivasi
siswa terhadap pelajaran yang diajarkan, diharapkan seterusnya siswa akan meminati
pelajaran tersebut
22. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
Dalam proses belajar motivasi dapat tumbuh maupun hilang atau berubah
dikarenakan adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar yaitu:
1. Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target
ini tidak sama bagi semua siswa. Cita-cita atau aspirasi adalah tujuan yang ditetapkan dalam
suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang, Aspirasi ini bisa bersifat positif dan
41 Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
(Jakarta: Bumi Aksara),h73
42 Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: (PT. Raja
Grafindo Persada),h73

37

negatif, ada yang menunjukkan keinginan untuk mendapatkan keberhasilan tapi ada juga
yang sebaliknya. Taraf keberhasilan biasanya ditentukan sendiri oleh siswa dan berharap
dapat mencapainya.43
12. Kemampuan Belajar
Dalam kemampuan belajar ini, taraf perkembangan berfikir siswa menjadi ukuran.
Jadi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi biasanya lebih termotivasi dalam
belajar.
3. Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar berhubungan dengan kondisi
fisik dan kondisi psikologis. Biasanya kondisi fisik lebih cepat terlihat karena lebih jelas
menunjukkan gejalanya daripada kondisi psikologis. Kondisi-kondisi tersebut dapat
mengurangi bahkan menghilangkan motivasi belajar siswa.
4. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah
dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap motivasi
belajar siswa.
5. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam
proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang
sama sekali, khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional.
6. Upaya Guru Membelajarkan Siswa
Guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi
sampai dengan mengevaluasi hasil belajar siswa. Upaya tersebut berorientasi pada
kepentingan siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar.
43 Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. (Semarang: CV. IKIP
Semarang Press),h96

38

13. Ciri-ciri motivasi belajar
Motivasi yang ada dalam diri seseorang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak
pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah (minat untuk sukses).
4. Mempunyai orientasi ke masa depan.
5. Lebih senang bekerja mandiri.
6. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang
begitu saja, sehingga kurang kreatif).
7. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).
8. Tidak pernah mudah melepaskan hal yang sudah diyakini.
9. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.44

Apabila seseorang telah memiliki ciri-ciri motivasi di atas maka orang tersebut selalu
memiliki motivasi yang cukup kuat. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik,
kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan
hambatan secara mandiri. Selain itu siswa juga harus peka dan responsif terhadap masalah
umum dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Siswa yang telah termotivasi memiliki
keinginan dan harapan untuk berhasil dan apabila mengalami kegagalan mereka akan
berusaha keras untuk mencapai keberhasilan itu yang ditunjukkan dalam prestasi belajarnya.
Dengan kata lain dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi
maka seseorang yang belajar akan melahirkan prestasi belajar yang baik.
14 Bentuk-bentuk motivasi
44 Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: (PT.
Raja Grafindo Persada),h83

39

1Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar di sekolah
21. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Bagi siswa angkaangka itu merupakan motivasi yang kuat. Sehingga yang biasa dikejar siswa adalah nilai
ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik.
2. Hadiah
Hadiah dapat dikatakan sebagai motivasi tetapi tidak selalu karena hadiah untuk suatu
pekerjaan mungkin tidak akan menarik perhatian bagi seseorang yang tidak senang dan tidak
berbakat dalam pekerjaan tersebut.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong
belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat
meningkatkan prestasi belajar.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan
menerima sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri
adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha
dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Memberi ulangan seperti
juga merupakan sarana motivasi.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan apalagi kalau terjadi kemajuan akan mendorong
siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui grafik hasil belajar semakin meningkat

40

maka ada motivasi dalam diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus
meningkat.

7. Pujian
Pujian ini merupakan suatu bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus
merupakan motivasi yang baik. Dengan pujian yang tepat yang menyenangkan dan
mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan
bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat
untuk belajar berarti pada diri anak didik memang ada motivasi untuk belajar sehingga
hasilnya akan baik.
10. Minat
Motivasi sangat erat hubungannya dengan minat. Motivasi muncul karena ada
kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepat kalau minat merupakan alat motivasi yang
pokok. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat.

111. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik olah siswa, merupakan alat motivasi
yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang hendak dicapai, karena dirasa
berguna dan menguntungkan maka akan timbul gairah untuk terus belajar.45
2.2.5 Jenis motivasi belajar
45 Ibid.92-95

41

Ada berbagai jenis motivasi, yaitu:
1

1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang aktif atau berfungsinya tidak perlu

dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan
sesuatu. Seorang siswa melakukan belajar karena didorong tujuan ingin mendapatkan
pengetahuan, nilai dan keterampilan.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya
perangsang dari luar. Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk
motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan
dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.46
22.2.6 Fungsi motivasi belajar
Motivasi selain berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi juga
berfungsi sebagai berikut:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang
melepaskan energi.
1

2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang telah dicapai.

2

3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan mana yang akan
dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan
yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.47
Dari pendapat beberapa ahli tersebut maka dapat dikemukakan indikator motivasi

belajar dalam penelitian ini adalah:
1. Tekun menghadapi tugas
46 Ibid.h89
47 Ibid.h85

42

2. Keinginan untuk sukses
3. Suka bekerja keras
4. Berorientasi jauh ke depan
D. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Mengajar adalah suatu usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit
menentukan bagaimana sebenarnya mengajar yang baik. Metode adalah
salah satu alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan "pembelajaran adalah
suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga
tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik"48.
Menurut Ahmadi yg dikutip oleh Yatik Hidayanti, metode pembelajaran
adalah

suatu

pengetahuan

tentang

cara-cara

mengajar

yang

dipergunakan oleh guru atau instruktur. 49 Pengertian lain mengatakan
bahwa metode pembelajaran merupakan teknik penyajian yang dikuasai
oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa
di dalam kelas, baik secara individual ataupun secara kelompok agar
pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa
dengan baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah
strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai media untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hal ini mendorong
seorang guru untuk mencari metode yang tepat dalam penyampaian
48 Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. (Semarang: CV. IKIP
Semarang Press),h24
49 Hidayanti, Yatik. 2006. Pengaruh Motivasi, Metode Pembelajaran dan
Lingkungan terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas X SMAN 12
Semarang. (UNNES: Skripsi)

43

materinya agar dapat diserap dengan baik oleh siswa. Mengajar secara
efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode
mengajar.
1. Pemilihan dan Penentuan Metode
Dalam proses belajar mengajar guru harus selalu mencari cara-cara baru
untuk menyesuaikan pengajarannya dengan situasi yang dihadapi.
Metode-metode

yang

digunakan

pun

haruslah

bervariasi

untuk

menghindari kejenuhan pada siswa. Namun metode yang bervariasi ini
tidak akan menguntungkan bila tidak sesuai dengan situasinya. Baik
tidaknya suatu metode pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Winarno Surakhmad dalam Djamarah mengatakan bahwa pemilihan dan
penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Anak didik Di ruang kelas guru akan berhadapan dengan sejumlah anak
dengan latar belakang kehidupan yang berlainan. Status sosial mereka
juga bermacam-macam. Demikian juga dengan jenis kelamin serta postur
tubuh. Pendek kata dari aspek fisik selalu ada perbedaan dan persamaan
pada setiap anak didik. Sedangkan dari segi intelektual pun sama ada
perbedaan yang ditunjukkan dari cepat dan lambatnya tanggapan anak
didik terhadap rangsangan yang diberikan dalam kegiatan belajar
mengajar. Aspek psikologis juga ada perbedaan yaitu adanya anak didik
yang pendiam, terbuka, dan lain-lain. Perbedaan dari aspek yang
disebutkan di atas mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode yang
mana sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kreatif dalam waktu yang relatif lama demi tercapainya tujuan pengajaran
yang telah dirumuskan secara operasional.

44

2. Tujuan yang akan dicapai Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap
kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat mempengaruhi penyeleksian
metode yang harus digunakan. Metode yang dipilih guru harus sesuai
dengan taraf kemampuan yang hendak diisi ke dalam diri setiap anak
didik. Jadi metode harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
3. Situasi belajar mengajar Situasi belajar mengajar yang diciptakan guru
tidak selamanya sama. Maka guru harus memilih metode mengajar yang
sesuai dengan situasi yang diciptakan. Di waktu lain, sesuai dengan sifat
bahan dan kemampuan yang ingin dicapai oleh tujuan maka guru
menciptakan lingkungan belajar secara berkelompok. Jadi situasi yang
diciptakan mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.
4. Fasilitas belajar mengajar Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi
pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan
yang menunjang belajar anak di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas
belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar.
5.

Guru.

Latar

belakang

pendidikan

guru

diakui

mempengaruhi

kompetensi. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode
menjadi kendala dalam memilih dan menentukan metode. Apalagi belum
memiliki pengalaman mengajar yang memadai. Tetapi ada juga yang
tepat memilihnya namun dalam pelaksanaannya menemui kendala
disebabkan labilnya kepribadian dan dangkalnya penguasaan atas metode
yang digunakan. Sedangkan kriteria pemilihan metode menurut Slameto
(1991:98) adalah
a.

Tujuan

pengajaran,

yaitu

tingkah

laku

yang

ditunjukkan siswa setelah proses belajar mengajar.

diharapkan

dapat

45

b. Materi pengajaran, yaitu bahan yang disajikan dalam pengajaran yang
berupa fakta yang memerlukan metode yang berbeda dari metode yang
dipakai untuk mengajarkan materi yang berupa konsep, prosedur atau
kaidah.
c. Besar kelas (jumlah kelas), yaitu banyaknya siswa yang mengikuti
pelajaran dalam kelas yang bersangkutan. Kelas dengan 5-10 orang siswa
memerlukan metode pengajaran yang berbeda dibandingkan kelas
dengan 50-100 orang siswa.
d. Kemampuan siswa, yaitu kemampuan siswa menangkap dan
mengembangkan bahan pengajaran yang diajarkan. Hal ini banyak
tergantung pada tingkat kematangan siswa baik mental, fisik dan
intelektualnya.
e. Kemampuan guru, yaitu kemampuan dalam menggunakan berbagai
jenis metode pengajaran yang optimal.
f. Fasilitas yang tersedia, bahan atau alat bantu serta fasilitas lain yang
dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pengajaran.
g.

Waktu

yang

tersedia,

jumlah

waktu

yang

direncanakan

atau

dialokasikan untuk menyajikan bahan pengajaran yang sudah ditentukan.
Untuk materi yang banyak akan disajikan dalam waktu yang singkat
memerlukan metode yang berbeda dengan bahan penyajian yang relatif
sedikit tetapi waktu penyajian yang relatif cukup banyak.50
Syarat-syarat

yang

harus

diperhatikan

dalam

penggunaan

metode

mengajar adalah:
50 Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta:
Rineka Cipta),h98

46

1. Metode mengajar harus dapat membangkitkan motif, minat atau gairah
belajar siswa.
2. Metode mengajar harus dapat menjamin perkembangan kegiatan
kepribadian siswa.
3. Metode mengajar harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa
untuk mewujudkan hasil karya.
4. Metode mengajar harus dapat merangsang keinginan siswa untuk
belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan).
5. Metode mengajar harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar
sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
6. Metode mengajar harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat
verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata
dan bertujuan.
7. Metode mengajar harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai
dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja
yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 51 Guru sebagai salah satu sumber
belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi
kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan yang harus
dilakukan adalah melakukan penentuan dan pemilihan metode. Suatu
metode yang digunakan oleh guru untuk mengajar harus benar-benar
dikuasai.

Sehingga

pada

saat

penggunaannya

dapat

menciptakan

suasana interaksi edukatif.
51 Hidayanti, Yatik. 2006. Pengaruh Motivasi, Metode Pembelajaran dan Lingkungan
terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas X SMAN 12 (Semarang. UNNES:
Skripsi).

47

Untuk menghindari kejemuan dan berhentinya minat siswa terhadap
pelajaran yang disampaikan maka hendaknya guru menggunakan metode
yang bervariasi. Bahkan metode yang digunakan dapat menumbuhkan
keinginan siswa untuk belajar secara mandiri dengan menggunakan
teknik tersendiri. Di dalam kelas guru menyampaikan bahan pelajaran.
Bahan pelajaran itu akan kurang memberikan dorongan kepada siswa
untuk belajar lebih lanjut bila penyampaiannya menggunakan strategi
yang

kurang

tepat.

Metode-metode

yang

dipilih

dipergunakan

berdasarkan manfaatnya, jadi seorang guru dikatakan kompeten bila ia
memiliki khazanah cara penyampaian yang kaya dan memiliki kriteria
yang akan digunakan untuk memilih cara-cara dalam menyajikan
pengalaman belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar juga
dibutuhkan alat bantu yang digunakan untuk menghilangkan verbalitas.
Sehingga siswa lebih cepat menyerap materi yang telah disampaikan.
Metode

pembelajaran

yang

diterapkan

guru

hendaknya

dapat

mewujudkan hasil karya siswa. Siswa dituntun untuk dapat berfikir kritis
dan kreatif

dengan memberikan kesempatan kepada siswa

untuk

menyampaikan ide-idenya. Pemilihan metode yang kurang tepat dengan
sifat

bahan

dan

tujuan

pembelajaran

menyebabkan

kelas

kurang

bergairah dan kondisi siswa kurang kreatif. Sehingga dengan penerapan
metode yang tepat dengan berbagai macam indikator tersebut dapat
meningkatkan minat siswa pada bahan pelajaran yang disampaikan dan
minat yang besar pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi
yang akan diraihnya.
2. Macam-macam Metode Pembelajaran

48

Banyak macam metode pembelajaran yang dapat digunakan. Berikut ini
adalah 9 macam metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan
belajar mengajar dan diungkapkan peneliti antara lain:
1. Metode ceramah Metode ceramah adalah suatu cara mengajar yang
digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian
tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.52
a. Kelebihan metode ceramah 1) Guru lebih menguasai kelas
2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas
3) Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar
4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
5) Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
b. Kelemahan metode ceramah
1) Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
2) Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar
menerima.
3) Membosankan bila selalu digunakan dan terlalu lama.
4) Sukar menyimpulkan siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya.
2. Metode tanya jawab Metode tanya jawab adalah metode mengajar
yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua
arah sebab pada saat yang sama terjadi
dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa
bertanya guru menjawab.
a. Kelebihan metode tanya jawab
1) Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.
52 Ibrahim, R. 2003. Perencanaan Pengajaran. (Jakarta: Rineka Cipta),h106

49

2) Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir,
termasuk daya ingatan. 3) Mengembangkan keberanian dan keterampilan
siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
b. Kelemahan metode tanya jawab
1) Siswa merasa takut bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk
berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang.
2) Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir
dan mudah dipahami siswa.
3) Sering membuang banyak waktu.
4) Kurangnya waktu untuk memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa.
3. Metode diskusi Metode diskusi adalah bertukar informasi, berpendapat,
dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk
mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang
permasalahan atau topik yang sedang dibahas.
a. Kelebihan metode diskusi
1) Merangsang kreatifitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan, prakarsa
dan terobosan baru dalam pemecahan masalah.
2) Mengembangkan sikap saling menghargai pendapat orang lain.
3) Memperluas wawasan.
4) Membina untuk terbiasa musyawarah dalam memecahkan suatu
masalah.
b. Kelemahan metode diskusi
1) Membutuhkan waktu yang panjang.
2) Tidak dapat dipakai untuk kelompok yang besar.
3) Peserta mendapat informasi yang terbatas.

50

4) Dikuasai orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.
4. Metode demonstrasi Metode demonstrasi merupakan metode mengajar
yang cukup efektif sebab membantu para siswa untuk memperoleh
jawaban dengan mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu.
a. Kelebihan metode demonstrasi
1) Menghindari verbalisme.
2) Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
3) Proses pengajaran lebih menarik.
4) Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori
dengan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri.
b. Kelemahan metode demonstrasi
1) Memerlukan keterampilan guru secara khusus.
2) Kurangnya fasilitas.
3) Membutuhkan waktu yang lama.
5. Metode Eksperimen Metode eksperimen adalah cara penyajian
pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.53
a. Kelebihan metode eksperimen
1) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan percobaan.
2) Membina siswa membuat terobosan baru.
3) Hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran
umat manusia.
b. Kelemahan metode eksperimen
53 Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta),h95

51

1) Cenderung sesuai bidang sains dan teknologi.
2) Kesulitan dalam fasilitas.
3) Menuntut ketelitian, kesabaran, dan ketabahan.
4) Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan.
6. Metode latihan (drill) Metode latihan adalah suatu teknik mengajar
yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan agar
memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang
dipelajari.
a. Kelebihan metode latihan
1) Untuk memperoleh kecakapan motoris.
2) Untuk memperoleh kecakapan mental.
3) Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat.
4) Pembentukan kebiasaan serta menambah ketepatan dan kecepatan
pelaksanaan.
5) Pemanfaatan kebiasaan yang tidak membutuhkan konsentrasi.
6) Pembentukan kebiasaaan yang lebih otomatis.
b. Kelemahan metode latihan
1) Menghambat bakat dan inisiatif siswa.
2) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3) Monoton, mudah membosankan.
4) Membentuk kebiasaan yang kaku.
5) Dapat menimbulkan verbalisme.
7. Metode pemberian tugas (resitasi) Metode resitasi adalah metode
penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar.

52

a. Kelebihan metode resitasi
1) Merangsang siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar baik individual
maupun kelompok.
2) Dapat mengembangkan kemandirian.
3) Membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
4) Mengembangkan kreatifitas siswa.
b. Kelemahan metode resitasi
1) Sulit dikontrol.
2) Khusus tugas kelompok yang aktif siswa tertentu.
3) Sulit memberikan tugas yang sesuai perbedaan individu.
4) Menimbulkan kebosanan.
8. Metode Karyawisata Melalui metode ini siswa-siswa diajak mengunjungi
tempat-tempat tertentu di luar sekolah. Tempat-tempat yang akan
dikunjungi dan hal-hal yang perlu diamati telah direncanakan terlebih
dahulu, dan setelah kegiatan siswa diminta membuat laporan.
a. Kelebihan metode karyawisata
1) Memiliki prinsip pengajaran modern dengan memanfaatkan lingkungan
nyata.
2) Membuat relevansi antara apa yang dipelajari dengan kebutuhan di
masyarakat.
3) Merangsang kreatifitas siswa.
4) Bahan pelajaran lebih luas dan aktual.
b. Kelemahan metode karyawisata
1) Kurangnya fasilitas.
2) Perlu perencanaan yang matang.

53

3) Perlu koordinasi agar tidak tumpah tindih waktu.
4) Mengabaikan unsur studi.
5) Kesulitan mengatur siswa yang banyak.
9. Metode Sosiodrama Metode yang digunakan untuk mengajarkan nilainilai dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan
sosial dengan orang-orang di lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Dalam pelaksanaannya siswa diberikan peran tertentu dan
melaksanakan peran tersebut serta mendiskusikannya di kelas.54
a. Kelebihan metode sosiodrama
1) Melatih siswa untuk melatih, memahami dan mengingat isi bahan yang
akan didramakan. 2) Melatih siswa berinisiatif dan berkreatif.
3) Memupuk bakat.
4) Menumbuhkan dan membina kerjasama.
5) Mendapat kebiasaan untuk membagi tanggung jawab.
6) Membina tata bahasa siswa.
b. Kelemahan metode sosiodrama
1) Kurang kreatif bagi anak yang tidak ikut dalam drama.
2) Banyak memakan waktu.
3) Memerlukan tempat yang luas.
4) Mengganggu kelas lain karena gaduh. Metode-metode yang sering
digunakan dalam kegiatan belajar mengajar akuntansi adalah metode
ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode latihan dan
metode resitasi.
54 Ibrahim, R. 2003. Perencanaan Pengajaran. (Jakarta: Rineka Cipta),h107

54

1
24. Kerangka Berpikir
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Belajar dikatakan berhasil bila
siswa dalam melakukan kegiatan berlangsung secara intensif dan optimal sehingga
menimbulkan pengaruh tingkah laku yang bersifat tetap. Perubahan tingkah laku sebagai
akibat belajar dipengaruhi banyak faktor. Dari faktor-faktor yang mempengaruhinya secara
garis besar dibedakan menjadi dua yaitu faktor intern (dari dalam) diri subjek belajar dan
faktor ekstern (dari luar) diri subjek belajar.
Dari pembicaraan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar tidak
hanya ditekankan pada faktor intern saja melainkan juga faktor ekstern. Faktor intern
menyangkut faktor jasmaniah, psikologis dan kelelahan. Faktor intern yang relevan dengan
persoalan reinforcement adalah faktor psikologis, sehingga faktor psikologis dijadikan
tinjauan khususnya dalam faktor intern. Sedangkan faktor ekstern menyangkut faktor
keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keseluruhan faktor yang berpengaruh terhadap belajar
mempunyai andil yang sama besar dalam memberikan dasar dan kemudahan dalam
pencapaian tujuan belajar yang optimal.
Faktor psikologis yang termasuk di dalamnya adalah intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motivasi, kematangan, kesiapan dan lainnya yang mempunyai peran penting dalam
pemahaman bahan pelajaran, dan pada akhirnya penguasaan terhadap bahan pelajaran
tersebut lebih cepat dan efektif. Di antara berbagai faktor psikologis tersebut motivasi
merupakan hal yang penting dan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar.
Motivasi merupakan salah satu unsur yang penting dalam melakukan kegiatan. Dalam
melakukan sesuatu motivasi dapat dijadikan sebagai pendorong atau penggerak. Motivasi
sangat dibutuhkan dalam pemahaman bahan pelajaran di sekolah. Bila belajar berhasil maka

55

akan timbul motivasi dengan sendirinya dan menimbulkan keinginan untuk lebih banyak
belajar. Sukses dalam belajar akan membangkitkan motivasi belajar. Masalah motivasi bukan
soal memberikan motivasi tetapi mengatur kondisi belajar sehingga memberikan
reinforcement.
Motivasi merupakan hal yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan
adanya motivasi maka prestasi belajar akan optimal. Semakin tepat motivasi yang diberikan
guru maka kegiatan belajar mengajar akan semakin berhasil. Motivasi akan senantiasa
menentukan intensitas usaha belajar peserta didik. Motivasi berkaitan dengan suatu tujuan.
Sehubungan dengan hal di atas, motivasi berfungsi sebagai penggerak atau motor
yang melepaskan energi, menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak
dicapai dan menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus
dikerjakan, yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang
tidak bermanfaat.55 Selain itu motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan
pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang
baik.
Belajar bahasa arab sering dianggap sulit tetapi bila siswa sudah memiliki motivasi
yang tinggi dalam belajar bahasa arab maka tidak akan mudah putus asa pada saat
menghadapi kesulitan dalam belajar bahasa arab. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi
akan berusaha mencari cara untuk mengatasi kesulitan belajarnya melalui buku-buku paket,
latihan soal, modul, belajar di perpustakaan, sampai belajar kelompok atau bertanya pada
orang yang sudah ahli atau menguasai. Berbeda dengan siswa yang motivasinya rendah maka
akan cepat menyerah dalam menghadapi kesulitan dalam belajar akuntansi. Hal ini dapat
mempengaruhi prestasi belajar bahasa arab.
55 Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada),h85

56

Berdasarkan keterangan di atas dapat dirumuskan bahwa motivasi belajar mempunyai
peran yang besar karena siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi akan giat dalam belajar
sehingga tujuan yang diharapkan yang ditunjukkan dengan prestasi belajar akan meningkat.
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi yang
mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Untuk mendapatkan
hasil belajar yang optimal banyak dipengaruhi oleh komponen belajar mengajar. Guru
sebagai salah satu sumber belajar hendaknya mampu menyediakan kondisi kelas yang
kondusif dalam kegiatan belajar akuntansi di kelas. Sebagai perwujudannya, salah satu
kegiatan yang harus dilakukan oleh guru adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode
pembelajaran yang tepat.
Dalam kegiatan belajar bahasa arab guru tidak harus berpatokan pada satu metode.
Ada kalanya dapat menggunakan metode ceramah kemudian latihan soal. Apabila dalam
kompetensi tertentu siswa sudah menguasai maka guru dapat menggunakan metode lain
seperti diskusi atau kerja kelompok sehingga suasana yang ada di kelas tidak monoton dan
membosankan. Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan
prestasi belajar.
Prestasi belajar bahasa arab adalah indikator proses belajar mengajar bahasa arab yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah metode pembelajaran. Keterampilan
mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek yaitu variasi dalam
gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pelajaran dan variasi dalam
interaksi antara guru dan siswa.56Penggunaan metode yang bervariasi akan mendorong siswa
berfikir kreatif dan kritis sehingga siswa tidak akan bosan dalam belajar akuntansi. Secara
otomatis motivasi untuk belajar akuntansi akan lebih tinggi pada akhirnya prestasi belajarnya
akan baik.
56 Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta),h180

57

5.Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya
masih harus diuji secara empiris dengan alat uji yang ada. Hipotesis dalam penelitian ini
adalah:
1. Terdapat pengaruh antara motivasi belajar dan metode pembelajaran terhadap prestasi
belajar Bahasa Arab siswa Mts ma’arif legok.
2. Terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Arab siswa Mts
ma’arif legok.
3. Terdapat pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar Bahasa Arab siswa Mts
ma’arif legok.

BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Kondisi Sekolah
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
MTs Al-Jamii'ah Teagallega terletak di kabupaten Sukabumi, tepatnya di desa
Tegallega, kecamatan Cidolog. Jaraknya dari kotamadya Sukabumi (Kota) kurang lebih 66
km dengan kondisi jalan yang berbelokbelok dan relatif buruk. Sedangkan kecamatan
Cidolog berada di sebelah selatan desa Tegallega. Di kecamatan ini terdapat dua sekolah
lanjutan yaitu Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii'ah itu sendiri dan sekolah tingkat Lanjutan
Pertama Negeri (SLTPN) yang berada di desa Cidolog yang notabene adalah kecamatan.
Jarak tempuh dari desa Tegallega ke kecamatan Cidolog adalah 7 km. Salah satu kecamatan

58

yang cukup penting untuk disebutkan di sini adalah Sagaranten karena ia merupakan tempat
alternatif yang menjadi sentral pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat dari daerahdaerah yang berada di selatannya selain harus ke kotamadya Sukabumi. Jarak tempuh antara
Tegallega dan Sagaranten adalah 13 km dan dari kota madya Sukabumi ke Sagaranten
berjarak 53 km.
Di kecamatan Sagaranten sendiri terdapat SLTP Negeri, Madrasah Tsanawiyah Negeri
dan Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Umum. Dari paparan di atas tergambar bahwa
MTs Al-Jamii'ah berada diantara kecamatan yang memilki sekolah negeri. Madrasah
Tsanawiyah Al-Jamii'ah memiliki bangunan sendiri yang terdiri dari enam lokal dengan
rincian:
a. Tiga lokal dipakai untuk kelas (I, II dan III);
b. Satu lokal untuk ruang guru (kantor);
c. Satu lokal untuk perpustakaan;
d. Dan satu mesjid untuk kegiatan shalat berjamaa'ah;
e. Asrama atau pondok untuk siswa-siswi yang rumahnya jauh dari
sekolah.
MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
Visi:
Visi MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi yaitu: Dengan ilmu kita tahu, dengan
agama kita bertakwa..
Misi:
Adapun yang menjadi misi dari MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi yaitu:
a. Mencetak kader yang berilmu dan beragama.

59

b. Membentuk karakter siswa/siswi dengan nilai-nilai ajaran Islam untuk melahirkan manusia
yang berakhlaqul karimah.
c. Mempersiapkan siswa/siswi untuk melanjutkan ke pendidikan berikutnya, baik jurusan
agama maupun umum.
d. Mempersiapkan siswa/siswi agar dapat mengaplikasikan ilmu
pengetahuan dan keterampilannya di tengah-tengah masyarakat.
Kegiatan belajar-mengajar di MTs Al-Jamii'ah ini dilaksanakan di pagi dan siang
hari. Sebagian siswa ada yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pagi hari, dan
sebagian siswa yang lain melaksanakan kegiatan belajar-mengajar pada siang hari. Hal itu
dilakukan secara bergantian mengingat tempat yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah
siswa yang ada. Keseluruhan siswa-siswi MTs Al-Jamii'ah Tegallega berjumlah 165 orang,
dengan jumlah siswa setiap kelas sebanyak 55 orang. Tenaga pengajar dan pengelola sekolah
MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi secara keseluruhan berjumlah 16 orang
dengan klasifikasi sebagai berikut:
a. Jenis Kelamin
Laki-laki : 11 orang.
Perempuan : 5 orang.
b. Tingkat Pendidikan
S1 : 10 orang.
D2 : 3 orang.
PGA : 1 orang.
SLTA : 2 orang.
Letak Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi berada pada lokasi
yang strategis, yakni di sekitarnya terdapat empat Sekolah Dasar (SD) yaitu:
a. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegallega.

60

b. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cipamingkis.
c. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Puncak Batu.
d. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cilengka.
Dan dua Madrasah Ibtidaiyah (MI), yaitu:
a. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibengang.
b. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cipari.
Siswa/siswi tingkat dasar tersebut antara 50%-70% meneruskan sekolahnya dan MTs AlJamii.ah Tegallega menjadi alternatif utama sekolah lanjutan karena jaraknya yang relatif
lebih dekat dengan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah yang berada di sekitarnya
disbanding sekolah lanjutan lainnya.

2. Sejarah Singkat Sekolah
Pembentukan Yayasan Pendidikan Islam (YASPI) Al-Jamii'ah Tegallega berawal dari
keinginan untuk membangun Madrasah Tsanawiyah yang kemudian berhasil didirikan pada
tanggal 23 Maret 1986 dengan tempat kegiatan belajar sementara berlokasi di Madrasah
Diniyah (MD) Annur, kampung Sinapeul, desa Tegallega kecamatan Cidolog.
Adapun para pendirinya adalah:
1). K.H. M. Mahmudin
2). K.H. M. Didin
3). H. Daradjat Sudrajat
4). H. Ridwan Syafe'i
5). M. Tabrani
6). Iim Ibrahim
7). M. Sarmaja (Alm)

61

Baru pada tanggal 9 Mei 1986 mendapat pengesahan dari Akte Notaris: Ibrahim Basya No. 5
dan terdaftar pada Pengadilan Negeri Sukabumi No. W8. DLHM 07.01.50/1986-PN-Smi.
Mts Al-Jamii'ah mulai beroperasi/membuka tahun ajaran baru pada tanggal 16 Juli 1986
dengan jumlah pendaftar perdana 42 siswa. Tujuan utama pendirian Madrasah Al-Jamii'ah ini
adalah untuk mencetak lulusan-lulusan yang berintelektual-santri dan bersantriintelektual.
Oleh karena itu dalam kegiatan dipadukan antara pengajaran di sekolah dan kegiatan
pengajian Al-Qur'an dengan materi ayat-ayat pilihan yang disesuaikan dengan pelajaran
agama di sekolah yang menggunakan metode tahfidz berikut terjemahannya terutama ayatayat yang berkenaan dengan akhlak (moral).
Pada tahun 1995 Madrasah Tsanawiyah Al-Jamii'ah resmi memiliki bangunan sendiri dengan
lima lokal dan menyediakan asrama putera/puteri bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh
namun bersungguh-sungguh untuk belajar di Madrasah Tsanawiyah tersebut. Sampai saat ini
Tsanawiyah Al-Jamii'ah Tegallega telah mengeluarkan 21 angkatan/lulusan. Adapun yang
menjabat sebagai ketua yayasan MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi saat ini adalah
Bapak H. Muhammad Mahmudin yang merupakan pendiri dan pemilik tanah sekaligus
sekolah MTs Al-Jamii.ah Tegallega Cidolog Sukabumi.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana yang tersedia di MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi adalah sebagai berikut:
1). Alat Praktek IPA
Alat praktek IPA yang ada di MTs Al-Jamii'ah yaitu:
a. Mikroskop.
b. Alat peraga tubuh/kerangka manusia.
c. Alat peraga elektronik sederhana
d. Jenis batu-batuan alam.
e. Alat Pengujian teori IPA sederhana.

62

2). Asrama siswa
3). Gedung sekolah milik sendiri
4). Mesjid
5). Lapangam Volley Ball
6). Lapangan Tenis Meja
Kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi rutinitas siswa/siswi Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog
Sukabumi yaitu:
a. Pramuka
b. Majlis Training Dakwah
c. Sepak bola
d. Volley Ball
e. Tenis Meja
B. Deskripsi Data
1. Gambaran Umum Tingkat Profesionalisme Guru MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog
Sukabumi.
Jumlah guru MTs Al-Jamii'ah Tegallega Cidolog Sukabumi
seluruhnya berjumlah 16 orang dengan latar belakang pendidikan sebagai
berikut:

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful