You are on page 1of 16

Pemanfaatan Sungai Tallo sebagai Potensi Waterway (Transportasi Sungai) yang berbasis Ekowisata

di Kota Makassar

Indira Satriani Nursalam1, Ananda Malaeika2, Dimas Prayogi Setyo3


Universitas Hasanuddin, Indonesia

e-mail: satrianiindira@gmail.com

Abstrak
Sungai Tallo dan segala potensinya yang begitu besar, belum dimanfaatkan secara optimal baik itu dari pihak
swasta maupun pihak pemerintah Penelitian ini bermaksud untuk mengoptimalkan potensi Sungai Tallo dalam
bidang transportasi demi mendukung Makassar sebagai Kota yang Berkelanjutan. Hal ini dikarenakan
pemanfaatan Sungai Tallo sebagai transportasi air dapat meningkatkan kualitas lingkungan baik air maupun
udara. Pemanfaatan Sungai Tallo juga diharapkan membangunkan sektor potensial lainnya seperti
pariwisata. Metode dalam penelitian ini ada metode deskiptif kualitatif seputar potensi-potensi yang ada, dan
kualitatif dalam pengolahan data kebutuhan dan keterkaitan aktivitas yang ada. Selanjutnya dilakukan
analisis yang mengintergasikan variabel satu dengan variabel lainnya guna menghasilkan suatu perencanaan
yang saling terintegrasi.

Kata kunci : transportasi air, ekowisata

Pendahuluan Selain sebagai kawasan wisata, Sungai Tallo


Makassar merupakan kota terbesar dan terpadat juga mempunyai potensi untuk jalur transportasi air,
kelima di Indonesia dengan jumlah penduduk kurang Sungai Tallo memiliki potensi untuk pengembangan
lebih 1.398.804. Selain sebagai Center Point Of sebagai media transportasi dalam Kota Makassar
Indonesia, Makassar juga merupakan kota budaya ditinjau dari geomorfologi hidrologis dan
dan perdagangan yang memungkinkan terjadi lalu geografisnya. Sungai Tallo menghubungkan pusat-
lintas orang, barang, dan jasa yang cukup besar. pusat kawasan strategis dan kawasan cepat tumbuh
Kondisi demikian menyebabkan jalu transportasi di Kota Makassar maupun daerah hinterland nya.
kota Makassar menjadi jalur yang strategis Sungai Tallo memiliki panjang 10 km. DAS Tallo
Beberapa potensi strategis kota Makassar yang mencakup 5 (lima) wilayah kecamatan, yaitu
belum dimaksimalkan seperti kawasan Sungai Tallo, Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Ujung
perlu dikelola sejak dini untuk menghindari Tanah, Tallo dan Manggala yang mencapai 50,75%
pertumbuhan kota secara organik tak terkendali. dari total pergerakan Kota Makassar tahun 2011.
Sungai Tallo memiliki potensi dimana jalur utama Pengembangan sistem transportasi air di Sungai
yang memanfaatkan Sungai Tallo sebagai sungai Tallo bisa pula dijadikan sebagai sarana alternatif
terbesar yang melintas tepat di tengah kota akan dalam mengatasi kasus kemacetan yang terus terjadi
melewati sebelah barat kawasan pergudangan di kota Makassar akibat tidak seimbangnya
terpadu. Jalur ini sekaligus sebagai kawasan pertumbuhan kendaraan dan ketersediaan
penghubung alami dengan kawasan riset terpadu infrastruktur jalan.
yang terletak di delta Lakkang, Kecamatan Tallo dan
kawasan pelabuhan terpadu. Selain itu adanya Rumusan Masalah
potensi pengembangan hutan mangrove di sungai Untuk menghindari pembahasan yang lebih luas
ini untuk biota sungai serta pemanfaatan lahan tidur dari lingkup pembahasan. Maka dirumuskan
si sepanjang bantaran Sungai Tallo. permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana Potensi Sungai Tallo sebagai Jalur memperhatikan bahwa pengelolaan sumber daya
Transportasi Sungai (Waterway) berbasis alam juga bertujuan untuk memberi manfaat pada
Ekowisata di Kota Makassar? masa yang akan datang.
2. Bagaimana konsep Perencanaan Transportasi
2. Infrastruktur Transportasi
Sungai (Waterway) berbasis Ekowisata yang
Transportasi didefinisikan sebagai kegiatan
ideal di Kota Makassar?
pemindahan orang dan barang dari suatu tempat ke
Tujuan tempat lainnya. Dalam transportasi terdapat unsur
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: pergerakan dan secara fisik terjadi perpindahan atas
1. Untuk mengidentifikasi Potensi Sungai Tallo orasng atau barang dengan atau tanpa alat
sebagai jalur Transportasi Sungai (Waterway) di pengangkutan ke tempat lain.
Kota Makassar; Transportasi merupakan bagian integral dari suatu
2. Untuk menghasilkan konsep yang ideal dalam fungsi masyarakat. Ia menunjukkan hubungan yang
mewujudkan Transportasi Sungai yang berbasis sangat erat dengan gaya hidup, jangkauan dan lokasi
Ekowisata di Kota Makassar. dari kegiatan yang produktif, dan selingan serta
barang-barang dan pelayanan yang tersedia untuk
Manfaat dikonsumsi. (Morlok:33).
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
3. Transportasi Sungai
sebagai berikut:
Jika sungai dimanfaatkan menjadi sarana
1. Bagi masyarakat, sebagai referensi dalam
transportasi, maka secara otomatis kedalaman, lebar,
membuka wawasan tentang Transportasi Sungai.
dan sedimentasi sungai selalu terpelihara sehingga
2. Bagi Pemerintah, memberikan kajian data dan
dapat mengontrol banjir. Namun, bila sungai di
materi untuk diajukan sebagai referensi konsep
perkotaan tidak dimanfaatkan sebagai sarana
sistem transportasi sungai yang ramah
transportasi, maka sungai menyempit dan dangkal
lingkungan dikawasan perotaan.
karena tidak ada pemeliharaan dan perhatian rutin.
3. Bagi Pendidikan, studi ini diharapkan dapat
"Transportasi sungai pun lebih ekonomis karena
menjadi tambahan referensi dalam penelitian-
tidak perlu aspal. Selain itu lebih efisien untuk
penelitian sejenis di masa yang akan datang.
angkutan barang, termasuk untuk container dan tidak
merusak jalan," (Pramesti, 2013).
Tinjauan Pustaka
Tema konsep pengembangan yang
1. Sungai direkomendasikan untuk diterapkan di kawasan
Sungai dapat didefinisikan sebagai massa air Sungai Tallo adalah strategi pengembangan kawasan
tawar yang mengalir secara alamiah mulai dari transportasi air (waterway) berbasis ekowisata.
sumber air sampai ke muara. Sungai adalah aliran air Aplikasi konsep tersebut mempertimbangkan
yang besar dan memanjang yang mengalir secara berbagai aspek: aspek sosial-budaya dan sosial-
terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir ekonomi masyarakat, aspek sumberdaya alam
(muara). Setiap sungai mempunyai daerah aliran kawasan termasuk ekologi darat dan perairan, aspek
sungai (DAS) dan setiap sungai tersebut memiliki kelestarian alam, aspek sumberdaya buatan, aspek
karakteristik dan kondisi DAS yang berbeda-beda. interkoneksi wilayah yang lebih makro, dan
DAS merupakan daerah yang berada di sekitar dukungan peratuan pemerintah. (Ibrahim dkk, 2013).
sungai. Pengembangan Kawasan Sungai Tallo: Sebuah
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan Upaya Peningkatan Kualitas Kota Makassar. Temu
wilayah yang paling tepat bagi pembangunan, tempat ilmiah IPLBI 2013 (jurnal)
bertemunya kepentingan nasional dengan
kepentingan setempat. Pembangunan ekonomi yang 4. Ekowisata
mengolah kekayaan alam Indonesia harus senantiasa Salah satu bentuk kegiatan wisata alam yang
berkembang saat ini adalah ekowisata. Ekowisata
lebih populer dan banyak dipergunakan 2. Tahapan Perencanaan
dibandingkan dengan terjemahan yang seharusnya Tahapan Perencanaan Kawasan Rekreasi yang
yaitu ecotourism yaitu ekoturisme. Menurut Fandeli dikemukakan oleh Gold (1980) dan menjelaskan
dan Mukhlison (2000), pengertian tentang ekowisata pendekatan sistematis yang dilakukan dalam
mengalami pengertian dari waktu ke waktu. Namun perencanaan kawasan rekreasi, yang menekankan
pada hakikatnya ekowisata dapat diartikan sebagai kondisi sumberdaya setempat dalam setiap proses
bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap perencanaan kebutuhan rekreasi. Berikut merupakan
kelestarian area yang masih alami, memberi manfaat tahapan dalam perumusan konsep perencanaan pada
secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan penelitian ini.
budaya bagi masyarakat.
Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang INVENTORY
sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam (identifikasieksisting)
pengembangan ekowisata juga menggunakan
strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata
sangat tepat dan berdaya guna dalam
ANALISIS
mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di
areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata,
kelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya. SINTESIS

5. Dermaga
MASTER PLAN
Dermaga merupakan bagian pelabuhan yang
berfungsi sebagai jembatan penghubung antara
bagian darat dan bagian air pelabuhan. Ketersediaan
dermaga yang layak disini yakni dermaga yang
benar-benar memberikan kesan aman kepada orang Detailed site & architectural design
yang hendak menggunakannya. Salah satu daya tarik Gambar 1. Alur Tahapan Intensis Hasil Analisis
pengguna jasa transportasi air adalah dermaga, Sumber: Gold, 1980
dimana masyarakat merasakan kenyamanan saat
menunggu kapal yang akan datang. Dermaga dengan Pembahasan
sarana seperti jembatan penghubung dengan kapal
1. Analisis
yang layak sangatlah dibutuhkan. Sebagai
a. Analisis Zona Kawasan Konservasi
penunjang, keberadaan dermaga yang layak, aman
Rencana pengalokasian kawasan konservasi,
dan nyaman akan meningkatkan volume pengguna
memerlukan setidaknya 4 (empat) tahap dalam
sarana transportasi air, terutama di Sungai Tallo.
proses pemilihan lokasi, yaitu: identifikasi habitat
Metode dan lingkungan kritis. teliti tingkat pemanfaatan
sumberdaya dan identifikasi sumbersumber
1. Jenis Perencanaan
degradasi di kawasan, petaka konflik pemanfaatan
Studi ini termasuk dalam jenis perencanaan yang
sumberdaya berbagai ancaman langsung (over
bersifat research and development, mencakup jenis
eksploitasi) dan tidak langsung (pencemaran)
penelitian yang bersifat deskriptif dan bertujuan
terhadap ekosistem dan sumberdaya.
untuk memberikan gambaran berupa deskripsi
Berdasarkan hasil survey, maka ditetapkan
berbagai fenomena atau permasalahan yang ada dan
zonasi kawasan konservasi. kawasan konservasi
membandingkannya dengan teori dan norma/standar
ditetapkan berdasarkan potensi ekosistem yang dapat
yang kemudian diolah menjadi produk perencanaan
dimanfaatkan, dilindungi, dilestarikan serta
baru. Fenomena tersebut dapat berupa bentuk dan
terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan.
karakteristik lokasi perencanaan serta berbagai
Penetapan zonasi konservasi di sepanjang Sungai
permasalahan/isu berdasarkan fakta yang ada.
Tallo menjadi agenda penting mengingat kerusakan 14.150
= =2
dampak sumberdaya pesisir akibat pencemaran yang 7.255
berasal dari wilayah pesisir dan sekitarnya. dampak 2) Kelurahan Tamalanrea Indah
pencemaran dan kerusakan lingkungan di wilayah Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar
pesisir dapat membahayakan kelestarian ekosisitem 81.218m2 dengan jumlah tanaman mangrove
pesisir. Ekosistem pesisir yang rusak dapat sebanyak 162.436.
mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia.
162.436
b. Analisis Potensi Mangrove = =2
81.218
Dari hasil survey mangrove di Sungai Tallo 3) Kelurahan Lakkang
diperoleh 2 jenis mangrove dominan yang terdiri dari Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 96.345
bakau (Rhizophora spp.) dan nipah (Nypa fruticants). m2 dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak
Berdasarkan potensi mangrove maka Sungai Tallo 192.690.
dapat dibagi menjadi 3 zona yakni zona 1 mulai
jembatan Sungai Tallo sampai dengan Pulau 192.690
= =2
Lakkang, zona 2 mulai dari Pulau Lakkang sampai 96.345
dengan Jembatan Tol, dan zona 3 mulai dari 4) Kelurahan Kapasa
Jembatan Tol sampai dengan muara Sungai Tallo. Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 12.630
m2 dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak
Tabel 1. Jenis Mangrove berdasarkan Zona
25.260.
Zona
No. Nama Spesies
A B
1 Bakau (Rhizophora spp.) - v 25.260
= =2
2 Nipah (Nypa fruticants) v v 12.630
Keterangan; v= Ada, - = Tidak Ada 5) Kelurahan Parangloe
Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 104.098
Pada zona 1 (muara Sungai Tallo Pulau
m2 dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak
Lakkang) terdapat jenis mangrove berupa tumbuhan
208.196.
Nipah (Nypa fruticans) dan zona 2 (Pulau Lakkang
Jembatan Tallo) terdapat tumbuhan Bakau 208.196
(Rhizophora conyugata) dan diselingi tumbuhan = =2
104.098
Nipa (Nypa fruticans). Data yang dikumpulkan 6) Kaluku Bodoa
meliputi: data mengenai jenis spesies, jumlah Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 8. 271m2
individu, dan diameter pohon. Data-data tersebut dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak 16.542.
kemudian diolah untuk mengetahui kerapatan setiap
spesies dan kerapatan total semua spesies.
Analisis potensi mangrove menggunakan rumus 16.542
kerapatan total di koridor Sungai Tallo Kerapatan = =2
8.271
Total adalah jumlah semua individu mangrove dalam 7) Kelurahan Tallo
suatu unit area yang dinyatakan sebagai berikut: Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 28.892
n m2 dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak
=
57.784
Keterangan:
KT : Kerapatan Total 57.784
n : Jumlah total individu seluruh spesies = =2
28.892
A : Luas area pengambilan contoh
Berdasarkan analisis diatas maka dapat
1) Kelurahan Tello Baru
disimpulkan bahwa ekosistem mangrove
Luas area mangrove pada lokasi ini sebesar 7.255m2
dengan jumlah tanaman mangrove sebanyak 14.510. disepanjang Sungai Tallo yang berbatasan
dengan enam kelurahan (Kelurahan Tello Baru, Berdasarkan hasil analisis maka indeks
Kelurahan Tamalanrea Indah, Kelurahan kesesuain wisata di Sungai Tallo untuk wisata
Lakkang, Kelurahan Kapasa, Kelurahan berperahu sebesar 66.67% sehingga ternasuk dalam
Parangloe, Kelurahan Kaluku Bodoa dan kategori S2 yakni cukup sesuai.
d. Analisis Daya Dukung Kawasan
Kelurahan Tallo) termasuk dalam kategori baik
Tabel 4. Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan
dengan tingkat kerapatan sangat padat sehingga wisata berperahu
memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai Waktu yang
Total waktu
dibutuhkan
lokasi wisata air berbasis ekologis (mangrove). No Kegiatan 1 hari (Wt)
(Wp)
c. Analisis Kesesuaian Ekowisata (jam/hari)
(jam/hari)
Kegiatan wisata yang akan dikembangkan Wisata
1 1 8
hendaknya disesuaikan dengan potensi sumberdaya berperahu
dan peruntukannya. Penentuan kesesuaian Sumber: Yulianda, 2007
13.000 1
berdasarkan perkalian skor dan bobot yang diperoleh = 1
50 8
dari setiap parameter.
= 1 260 0.125 = 32
Tabel 2. Matriks kesesuaian lahan untuk wisata pantai
kategori wisata mangrove Berdasarkan hasil analisis daya dukung kawasan
Parameter Bobot Hasil Skor Ni sungai tallo untuk kegiatan wisata berperahu maka
Ketebalan jumlah pengunjung yang dapat di tampung di Sungai
5 5-150m 2 10
Mangrove
Kerapatan Tallo untuk melakukan kegiatan ekowsiata
4 2 1 4 berparahu yakni sebesar 32 orang/hari.
Mangrove
Jenis
4 2 2 8
Mangrove Tabel 5. Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan
Pasang wisata mangrove
3 1.1 4 12
Surut Waktu yang
Ikan, Total waktu
dibutuhkan
udang, No Kegiatan 1 hari (Wt)
(Wp)
Kepiting, (jam/hari)
Objek (jam/hari)
3 Moluska, 4 12 Wisata
Biota 1 2 8
Reptile, mangrove
Burung
Sumber: Yulianda, 2007
28.084 2
Ni 46 = 1
IKW 60.52 50 8
Sumber: Hasil Analisis,2016 = 1 521.68 0.25 = 130.42
Berdasarkan hasil analisis daya dukung kawasan
Berdasarkan hasil analisis maka indeks mangrove maka jumlah pengunjung yang dapat di
kesesuain wisata di Sungai Tallo sebesar 60.52% tampung di Sungai Tallo untuk melakukan kegiatan
sehingga ternasuk dalam kategori S2 yakni cukup ekowsiata mangrove yakni sebesar 130 orang/hari.
sesuai. Dalam pengembangan Sungai Tallo sebagai e. Analisis Sirkulasi dan Aksesibilitas
objek wisata perlu meningkatkan potensi mangrove. Transportasi Darat
Tabel 3. Matriks kesesuaian lahan untuk wisata pantai Analisis sirkulasi transportasi darat menilai
kategori wisata berperahu secara hierarkis jaringan-jaringan jalan menuju
Parameter Bobot Hasil Skor Ni dermaga secara internal maupun eksternal.
Kedalaman 5 4-6m 2 10 Sedangkan aksesibilitas menilai tidak hanya sari
Sungai
Kecepatan 3 0,254m/s 2 6
aspek jarak dan waktu tempuh namun juga kualitas
Arus jalur jalan yang disediakan dalam mendukung akses
Ni 16 menuju lokasi dermaga dilihat dari jenis konstruksi,
IKW 66,67
Sumber: Peneliti, 2016
lebar dan kondisi jalan serta kemudahan moda ini sehingga secara hirarki dermaga ini tidak
transportasi untuk melintas. terintegrasi dengan BRT.

1) Analisis sirkulasi jalur menuju dermaga yang 2) Analisis Aksebilitas Transportasi Darat
terintegrasi dengan BRT (Bus Rapid Transit) Analisis aksesibilitas transportasi darat
Berdasarkan lokasinya terdapat tiga dermaga di berhubungan dengan kualitas jalan menuju objek
Sungai Tallo yang dapat diakses menggunakan jalur (dermaga). Kualitas jalan menuju dermaga diukur
darat, yakni Dermaga Kera Kera, Dermaga berdasarkan tiga aspek yaitu lebar jalan, jenis
Parangloe dan Dermaga Buloa, sedangkan Dermaga konstruksi (perkerasan) jalan dan kondisi jalan.
Lakkang I dan Lakkang II hanya dapat diakses Penilaian kualitas jalan berorientasi pada pencapaian
menggukan jalur air (waterway). Berikut merupakan objek yang dituju (dermaga) terhadap pusat kota,
penjelasan untuk 3 jenis dermaga terhadap Bus BRT pelabuhan dan bandara.
Mamminassata Kota Makassar. Dermaga Kera Kera
Dermaga Kera Kera Dilihat dari kondisi eksisiting jalan dermaga ini
Dermaga Kera Kera Kecamatan Tamalanrea, dinilai sudah baik untuk akses eksternal menuju
kawasan Kampus Universitas Hasanuddin Makassar. dermaga, ditinjau dari lebar jalan yang luas (jalur
Secara hierarkis jalur jalan menuju dermaga ini jalan arteri) dan jenis konstruksi aspal yang masih
melewati Jl. Perintis Kemerdekaan yang merupakan dalam kondisi baik. Kondisi jalan ini dilihat dari
salah satu rute moda transportasi BRT yaitu koridor orientasi dermaga terhadap pusat kota, pelabuhan
3. Terdapat halte bus yang disediakan berlokasi tepat dan bandara. Namun untuk akses internal dinilai
di depan portal pintu 2 Kampus Universitas kurang baik ditinjau dari lebar jalan yang sempit,
Hasanuddin. terdapat kerusakan pada material jalan dan tidak
terdapat jalur khusus menuju dermaga hanya
Tabel 6. Alternatif jalur akses menuju Dermaga Kera
Kera menggunakan jalan lingkungan di permukiman
Jenis Sirkulasi dari sekitar.
Jarak
Halte Bus BRT
No Nama Jalan Tempuh
Jl. Perintis
(km)
Kemerdekaan
Jl. Perintis
Kemerdekaan
A
Jl. Kampus
1 (Portal pintu 1 3,7
Unhas
Kampus)
Tamalanrea
Jl. Kera Kera
Jl. Perintis
Kemerdekaan Gambar 2. Jalan Setapak Dermaga Kera Kera
B
Jl. Kampus Sumber: Peneliti, 2016
2 (Portal pintu 2 2,5
Unhas
Kampus)
Tamalanrea
Jl. Kera Kera Dermaga Parangloe
Sumber: Peneliti, 2016 Akses eksternal dari titik bangkitan pusat kota,
pelabuhan dan bandara menuju kawasan dermaga ini
Ditinjau dari aspek sirkulasinya, dermaga ini dinilai sudah cukup baik, meskipun terdapat satu
dapat diakses menggunakan dua jalur alternatuif, jalur akses yang dinilai kurang baik yaitu Jl. Prof. Dr.
yaitu melalui portal pintu 1 dan 2 Kampus Ir. Sutami Lama. Jalan ini memiliki lebar jalan yang
Universitas Hasanuddin luas yaitu sebesar 8 meter namun tidak terdapat
material pada konstruksi jalan (permukaan tanah)
Dermaga Parangloe dan Dermaga Buloa
sehingga topografi jalan tidak rata (lubang). Kondisi
Kedua dermaga berada di jalur BRT
ini semakin terlihat pada jalur akses internal kawasan
Mamminasata namun tidak terdapat halte bus di jalur
Dermaga Parangloe, dimana kondisi jalan dinilai
masih kurang baik, meskipun memiliki perkerasan jalan yang masih terdapat kerusakan dan lebar jalan
jalan berupa paving block namun terlihat beberapa yang sempit (1,5 2 meter) sehingga untuk akses
kerusakan jalan akibat tanaman liar serta lebar jalan internal hanya dapat menggunkan kendaraan roda
hanya berkisar 1,5 meter menjadikan lokasi ini hanya dua.
dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua.

(a) (b)
Gambar 5. (a) Jalan Setapak Dermaga Lakkang I (b)
Jalan Setapak Dermaga Lakkang II
Gambar 3. Jalan Setapak Dermaga Parangloe Sumber: Peneliti, 2016
Sumber: Peneliti, 2016
f. Analisis Aksesbilitas Transportasi Air
Dermaga Buloa Disepanjang koridor Sungai Tallo, terdapat
Dinilai dari aspek kondisi jalan eksternal dari setidaknya 5 dermaga yang beroperasi dengan trayek
pusat kota, pelabuhan dan bandara menuju dermaga tertentu sebagai angkutan barang dan orang. Kelima
ini sudah baik, ditinjau dari jaringan jalan yang dermaga tersebut yaitu dermaga Kera Kera, Lakkang
digunakan adalah jalan arteri dengan lebar jalan 12- I, Lakkang II, Parangloe dan Buloa. Berikut
18 meter dilanjutkan dengan jalan kolektor lebar 8- merupakan ilustrasi sirkulasi eksisting transportasi
10 meter serta konstruksi jalan masih dalam kondisi air di sepanjang koridor Sungai Tallo.
baik. Jaringan jalan internal dalam kawasan dermaga
juga sudah cukup baik meskipun masih terlihat
beberapa kerusakan pada ruas jalan.

Gambar 4. Jalan Lingkungan Desa Buloa


Sumber: Peneliti, 2016

Dermaga Lakkang I dan II


Dermaga Lakkang I dan II hanya dapat diakses
menggunakan jalur transportasi air sehingga Gambar 6. Sirkulasi Eksisting Transportasi Air
penilaian akesibilitas transportasi darat hanya (Waterway) Sungai Tallo
Sumber: Peneliti, 2016
melihat dari akses internal kawasan dermaga. Dilihat
dari kondisi eksisting kedua dermaga ini dinilai
masih kurang baik, ditinjau dari material konstruksi
g. Analisis Fasilitas Dermaga diberikan fasilitas halte BRT berdasarkan trayek
Secara umum terdapat tiga fasilitas dermaga yang telah ditetapkan. Perencanaan meliputi
yang disediakan yaitu jalan setapak dalam kawasan perencanaan titik halte baru, teknik pelaynan
dermaga, jembatan penyeberangan penumpang transportasi darat, rencana sirkulasi feeder, &
menuju perahu dan unit perahu penyeberangan. perencanaan jaringan jalan.
1) Jalan Setapak, jalan setapak yang disediakan
sebagai akses menuju dermaga dilengkapi
dengan perkerasan paving block, namun terdapat
beberapa kerusakan material pada jalan. Lebar
1,5 meter
2) Jembatan Penyebrangan, jempabatan ini
berfungsi untuk menaik turunkan penumpang.
Terbuat dari kayu, yang dihubungkan langsung
antara dermaga dan perahu. Dengan panjang 3
meter dan lebar 2 meter
3) Unit Perahu Penyeberangan, hanya terdapat 1
unit perahu tiap waktu pemberangkatan dan
kedatangan. Perahu ini adalah moda angkutan
rakitan dengan material kayu untuk
permukaannya dan dua buah perahu pada sisi
bawahnya. Memiliki peneduh berupa terpal pada
sisi atasnya untuk melindungi penumpang dari
paparan matahari dan hujan. Dengan tenaga
motor dan dapat menampung 20 penumpang.
Perahu ini juga digunakan untuk mengangkut
barang.

2. Konsep Perencanaan
Terdapat tiga konsep perencanaan untuk
mengembangkan koridor Sungai Tallo agar Gambar 7. Hierarki Konsep Transportasi Darat
berfungsi sebagai jalur transportasi air (waterway) Sumber: Peneliti, 2016
yang efektif dan pengembangan wisata alam dan air
1) Rencana Titik Halte
berbasis lingkungan (ekowisata).
Jarak antar halte (station spacing) akan
a. Konsep Perencanaan Trnasportasi Darat
mempengaruhi kecepatan dan kapasitas sistem.
Konsep perencanaan transportasi darat ini secara
Rencana titik halte baru ini terintegrasi dengan
hierarkis terintegrasi dengan moda transportasi
Dermaga Parangloe & Dermaga Tallo. Berada pada
umum yakni BRT di Kota Makassar. 3 titik dermaga
koridor BRT yang sama yaitu koridor 1, jarak antara
yaitu Dermaga Kera Kera, Parangloe dan Tallo,
kedua halte ini sekitar 700 meter.
Tabel 7. Standar Jarak Antar Halte
No Sumber Jarak (meter)
Institute of Transportation Engineering (1976)
1 Tipe Layanan Lokal
CBD 120 240
Non CBD 300 450
2 Limited Stop
CBD 120 240
Non CBD 600 1500
3 Express
CBD 120 300
Non CBD 1600 4800
SK Dirjen Perhubungan Darat No. 687/2002
1 Pusat Kota 300 500
2 Pinggiran Kora 500 1000
BRT Planning Guide
300 1000, dengan jarak optimal 400 500 meter
(2007)
Sumber: Dirjen Perhubungan Darat, 2009

2) Rencana Sirkulasi Feeder angkutan pengumpan yang disediakan adalah


Sirkulasi angkutan pengumpan (feeder) angkutan kota (pete-pete) dan motor (ojek). Berikut
memerlukan jalur sirkulasi yang efektif dan efisien merupakan tabel penentuan moda angkutan
ditinjau dari jarak dan waktu tempuh serta penumpang yang sesuai untuk tiga titik dermaga.
kemudahan aksesnya.
Tabel 9. Rencana Moda Angkutan Sirkulasi Feeder
Tabel 8. Rencana Titik Halte BRT dan Jalur Feeder (Pengumpan)
(Pengumpan) Moda Angkutan
No Dermaga
Titik Halte Jalur Feeder Pengumpan
No Dermaga
BRT (Pengumpan) 1 Dermaga Kera Kera Pete-pete dan Motor
Jl. Kampus 2 Dermaga Parangloe Motor
Universitas 3 Dermaga Tallo Pete-pete dan Motor
Dermaga Kera Jl. Perintis
1 Hasanuddin Sumber: Peneliti, 2016
Kera Kemerdekaan
Tamalanrea Jl.
Kera Kera 3) Rencana Perbaikan Jaringan Jalan
Dermaga Jl. Prof. Dr. Jl. Prof. Dr. Ir. Untuk mendukung sistem transportasi yakni
2
Parangloe Ir. Sutami Sutami Lama
Jl. Sultan integrasi BRT dengan angukatan pengumpan
Jl. Sultan
3 Dermaga Tallo Abdullah Jl. (feeder), dibutuhkan jaringan jalan yang sesuai.
Abdullah A
Sultan Abdullah 3 Kesesuaian ini tidak hanya diukur dari lebar dan
Sumber: Peneliti, 2016 material/perkerasan jalan, namun komponen jalan
Adanya sirkulasi feeder ini membutuhkan jalur seperti penerangan juga dinilai.
jalan dan armada angkutan yang sesuai. Moda

Tabel 10. Rencana Komponen Jaringan Jalan Tiap Dermaga


Material Jalur
Pelebaran
Dermaga Nama Jalan Perkerasan Pejalan
Jalan (m)
Jalan Kaki
Jl. Kera Kera x x
Jalan Lingkungan dalam
Dermaga Kaw. Kampung Kera x x
Kera Kera Kera
Jalan Setapak Dermaga

Kera Kera
Dermaga Jl. Prof. Dr. Ir. Sutami
x
Parangloe Lama
Material Jalur
Pelebaran
Dermaga Nama Jalan Perkerasan Pejalan
Jalan (m)
Jalan Kaki
Jalan Setapak Dermaga
x
Parangloe
Dermaga
Jalan Sultan Abdullah 3 x x
Tallo
Dermaga Jalan Setapak Dermaga

Lakkang Lakkang
Sumber: Peneliti, 2016
Keterangan :
= Dilakukan perencanaan
x = Tidak dilakukan perencanaan

b. Konsep Perencanaan Transportasi Air Tallo berdasarkan kondisi eksistingnya agar di


Berikut merupakan tabel rencana dapatkan konsep rencana trayek transportasi air
pengembangan tiap titik dermaga di koridor Sungai yang lebih efektif dan efsien.

Tabel 11. Rencana Pengembangan Titik Dermaga Koridor Sungai Tallo


No Dermaga Rencana Pengembangan
Dermaga Dibutuhkan penambahan trayek transportasi air (waterway)
1
Kera Kera menuju dermaga lainnya.
Dermaga Lakkang I dijadikan dermaga utama dan memiliki
dua unit dermaga untuk kedatangan (arrival) dan
Dermaga keberangkatan (depature). Dermaga ini tidak hanya
2
Lakkang I berfungsi untuk transportasi air (waterway) akan tetapi juga
difungsikan sebagai dermaga wisata air berdasarkan
sirkulasi rekreasi yang telah ditetapkan.
Dermaga Lakkang II dinilai kurang efektif dalam
pengoperasiannya. Hal ini ditinjau dari hierarki trayek
eksisting yang berbelit-belit dan sulit untuk diakses.
Dermaga Lakkang II hanya dapat diakses melalui jalur darat
(Pulau Lakkang) dan dari Dermaga Parangloe. Jarak antara
Dermaga
3 kedua dermaga ini sekitar 70 meter. Apabila pengunjung
Lakkang II
ingin menuju Dermaga Parangloe maka harus mengambil
rute menuju Dermaga Lakkang I terlebih dahulu dan lewat
akses jalan darat menuju dermaga Lakkang II. Berdasarkan
hal ini maka fungsi dermaga ini dinilai masih kurang ekeftif
dan akan dihilangkan.
Dermaga Dibutuhkan penambahan trayek transportasi air (waterway)
4
Parangloe menuju dermaga lainnya.
Dermaga Buloa pada saat ini berlokasi di Kampung Buloa
tepatnya dibawah Flyover Jl. Tol Reformasi. Kesulitan
untuk merencanakan pengembangan dermaga dilokasi ini
Dermaga
5 yakni pada keterbatasan ruang/lahan. Sehingga perlu
Buloa
diadakan relokasi yakni memindahkan lokasi dermaga ke
tempat yang lebih strategis dan memiliki cukup ruang untuk
pengembangan.
Sumber: Peneliti, 2016
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka
peneliti merencanakan konsep transportasi baru
dengan mengeliminasi satu dermaga (Dermaga
Lakkang II) dan merelokasi Dermaga Buloa, serta
menambahkan trayek pada tiap dermaga yang ada.
Berikut merupakan gambaran trayek perencanaan
tranportasi air (waterway) koridor Sungai Tallo.

Gambar 9. Konsep Perencanaan Wisata Alam dan Air


Sumber: Peneliti, 2016

Berikut merupakan model konsep perencanaan


wisata alam (ekowisata) dan wisata air, yang
memperlihatkan wilauah area wisata alam dan wisata
air serta integrasinya dengan 3 dermaga lainnya
(Dermaga Tallo, Parangloe dan Kera Kera).

3. Siteplan Perencanaan
Site plan ini menggambarkan wujud
pembangunan kawasan untuk Dermaga Kera Kera,
Gambar 8. Konsep Perencanaan Transportasi Air
Lakkang dan Buloa. Perencanaan kawasan dermaga
Sumber: Peneliti, 2016
ini juga memperlihatkan fungsi kawasan masing-
masing dermaga dan kelengkapan fasilitas-fasilitas
c. Konsep Perencanaan Wisata
pendukung yang disediakan.
Berdasarkan hasil analisis kesesuaian ekowisata,
a. Dermaga Kera Kera
maka didapatkan indeks kesesuaian wisata di Sungai
Fungsi Dermaga Kera Kera adalah sebagai
Tallo sebesar 60.52%, masuk dalam kategori S2
dermaga penumpang, dengan 3 jenis trayek sirkulasi
yakni cukup sesuai, dimana pengembangan
transportasi air yaitu menuju Dermaga Lakkang,
wisatanya pelu meningkatkan potensi mangrove.
Parangloe dan Tallo. Dermaga ini perlu untuk
Sedangkan untuk kegiatan wisata berperahu, hasil
direncanakan terkait fasilitas pendukung dan areal
analisis indeks juga menunjukkan potensi sebesar
sekitarnya.
60.52% sehingga masuk dalam kategori S2 yakni
cukup sesuai.

Gambar 10. Siteplan Kawasan Dermaga Kera Kera


Sumber: Peneliti, 2016
b. Dermaga Lakkang sirkulasi transportasi air yaitu menuju Dermaga
Fungsi Dermaga Lakkang adalah dermaga Lakkang, Kera Kera dan Tallo. Dikarenakan
utama yang berfungsi sebagai dermaga wisata fungsi lahan sekitar dermaga berupa sawah dan
dan penumpang, dengan 3 jenis trayek sirkulasi tegalan dan tidak terdapat jalur akses yang luas
transportasi air yaitu menuju Dermaga Kera sehingga pengembangan dermaga ini
Kera, Parangloe dan Tallo. Dermaga ini perlu difokuskan hanya untuk transit.
untuk direncanakan terkait fasilitas pendukung
dan areal sekitarnya, serta tambahan fasilitas
untuk menunjang wisata alam (ekowisata) dan
wisata air.

Gambar 13. Siteplan Kawasan Dermaga Parangloe


Sumber: Peneliti, 2016

4. Rencana Detail
Rencana detail menggambarkan model
Gambar 11. Siteplan Kawasan Dermaga Lakkang
perencanaan kawasan berbasis 3D untuk
Sumber: Peneliti, 2016
pengembangan transportasi air (waterway) dan
c. Dermaga Tallo transportasi darat serta ekowisata di koridor Sungai
Fungsi Dermaga Tallo adalah sebagai Tallo.
dermaga penumpang, dengan 3 jenis trayek a. Perencanaan Transportasi Air dan Darat
sirkulasi transportasi air yaitu menuju Dermaga Perencanaan transportasi air adalah bentuk
Lakkang, Parangloe dan Kera Kera. pengembangan dari aspek penyediaan trayek yang
efektif dan efisien serta fasilitas pendukung yang
optimal. Untuk pengembangan fasilitas pendukung
kawasan dermaga disediakan unit ruang tunggu,
perparkiran, papan iformasi, dermaga dan loket
pembayaran, PKL, dan jalan inspeksi. Berikut
merupakan dekripsi setiap fasilitas pendukung di
kawasan dermaga.
Jembatan Penyeberangan Dermaga
Material yang digunakan untuk membuat
jembatan penyeberangan dermaga adalah jenis kayu
yang resistan terhadap air, plat baja dan bantalan
Gambar 12. Siteplan Kawasan Dermaga Tallo apung. Ketiga elemen ini akan meminimalkan
Sumber: Peneliti, 2016 pergerakan air sehingga tahan terhadap pergerakan
dari atas.
d. Dermaga Parangloe
Fungsi Dermaga Parangloe adalah sebagai
dermaga penumpang, dengan 3 jenis trayek
MATERIAL KAYU menunggu untuk perahu yang akan berangkat.
20 cm
PLAT BAJA Fasilitas yang disediakan bagi pengunjung untuk
BANTALAN APUNG BANTALAN APUNG beristirahat seperti kursi dan ruang publik lainnya.
BADAN AIR Papan Informasi
4m Papan informasi yang memberikan jadwal
Gambar 14. Model Jembatan Penyeberangan Dermaga
Sumber: Peneliti, 2016 keberangkatan dan trayek transportasi air serta tarif
yang ditentukan. Disediakan disetiap dermaga
Bollard Perahu Dermaga
sebagai sumber informasi bagi pengunjung.
Bollard perahu dermaga adalah fasilitas yang
disediakan pada jembatan penyeberangan, yang
berfungsi untuk mengaitkan perahu saat hendak
menepi. Bollard ini di desain menyatu dengan
jembatan penyeberangan di sisi tepi, berjarak sekitar 1,5m
2 meter dan dimensi 50 x 30 centimeter.

Gambar 17. Model Papan Informasi


Sumber: Peneliti, 2016
50cm
Papan informasi diletakkan dekat dengan loket
pembayaran, sehingga memudahkan bagi
pengunjung untuk menentukan pilihan trayek dan
BADAN AIR lokasi kunjungan. Jenis papan informasi ini adalah
30cm digital dan seringkali memberikan iklan wisata alam
Gambar 15. Model Bollard Perahu Dermaga dan air di Pulau Lakkang.
Sumber: Peneliti, 2016
Jalan Inspeksi
Bollard ini juga memiliki 3 elemen penyusun Jalan inspeksi ini adalah fasilitas khusus yng
yakni jenis kayu yang resistan terhadap air, plat baja disediakan untuk dermaga tallo melihat dari kondisi
dan bantalan apung, serta unit ini melekat pada sisi demografi kawasan yang belum memiliki jalur jalan
tepi jembatan penyeberangan sehingga cukup kuat tepi sungai menuju lokasi perahu yang ditetapkan.
untuk mengikat perahu walaupun dalam kondisi air
yang berombak.

Loket Pembayaran
Loket Pembayaran ini berfungsi sebagai tempat 3m
untuk mendapatkan tiket transportasi sungai. Loket
ini disediakan disetiap dermaga dengan dimensi 2 x
2 meter. Gambar 18. Model Jalan Inspeksi
Sumber: Peneliti, 2016

Tersedia jalan inspeksi tepi sungai sebagai jalur

4m2 akses menuju dermaga. Terdiri dari material beton


dengan lebar sebesar 2 meter. Jalan ini di desain
bertingkat agar pengunjung dapat melihat kedudukan
Gambar 16. Model Loket Pembayaran air.
Sumber: Peneliti, 2016
Bollard Jalan Inspeksi
Hanya terdapat 1 unit loket disetiap dermaga Bollard di tepi jalan inspeksi berfungsi sebagai
sehingga pengunjung harus mengantri dan alat keselamatan (pembatas) para pejalan kaki saat
hendak melintas. Terbuat dari semen dan memiliki ekowisata. Eekowisata ini dibagi kedalam dua jenis
dimensi 50 x 30 centimeter yang disusun dengan yakni wisata alam dan air. Wisata alam berupa
jarak sebesar 3 meter. tracking activity yakni paket perjalanan di hutan
mangrove serta wisata air berupa paket perjalanan
menggunakan perahu wisata dalam radius 2
kilometer dari Pulau Lakkang. Fasilitas pendukung
50cm untuk pengembangan ekowisata ini sebagai berikut.
Jembatan Penyeberangan
Jembatan penyeberangan adalah fasilitas khusus
Gambar 19. Model Bollard Jalan Inspeksi dalam sirkulasi wisata tracking mangrove. Jembatan
Sumber: Peneliti, 2016 ini tersusun dari material kayu dengan lebar 3,5 m
dan tinggi 2 m. Tracking Activity adalah bentuk paket
Perparkiran
wisata perjalanan dalam hutan mangrove. Terdapat
Disediakan zona parkir untuk kendaraan roda
dua portal yakni portal masuk dan keluar, dalam
empat dan roda dua. Fasilitas perparkiran disediakan
sehari dibatasi hanya untuk 130 orang berdasarkan
pada 3 dermaga yakni dermaga yang terintegrasi
analisis daya dukung kawasan wisata mangrove.
dengan jalur darat (dermaga kera kera, parangloe dan
tallo). Luas perparkiran disetiap dermaga berbeda-
beda disesuaikan dengan moda angkutan yang akan
ditampung dan probabilitas jumlah pengunjung. 2m
Pada area perparkiran juga disediakan taman. Fungsi
dari taman ini agar mobilitas pengunjung tidak
terpusat pada ruang publik dermaga. Taman ini juga 3,5
dapat menjadi ruang tunggu bagi para pengunjung Gambar 20. Model Jembatan Penyeberangans
dan ruang bermain anak karena dilengkapi dengan Sumber: Peneliti, 2016
rumput hijau dan pohon teduh. Jembatan ini juga dilengkapi dengan pagar
pengaman dikedua sisinya dengan tinggi 1,5 meter
sehingga cukup aman bagi pengunjung dewasa dan
anak-anak.
Gazebo
Unit PKL (Pedagang Kaki Lima)
Disediakan dua titik lokasi gazebo pada kawasan
Unit tempat berdagang PKL (Pedagang Kaki
wisata tracking area. Tiap lokasi terdiri dari 3 unit
Lima) mengadopsi desain salah satu project Kota
gazebo dengan luas per unitnya sebesar 63 m2.
Makassar yakni Kaki Limata untuk mengakomodasi
Gazebo ini berfungsi sebagai tempat beristirahat bagi
pengunjung yang hendak beristirahat dan menunggu.
pengunjung.
Fasilitas ini memiliki tersusun dari material kayu dan
aluminium/besi. Unit PKL di sediakan untuk
dermaga kera kera, lakkang dan tallo namun tidak di
sediakan pada dermaga parangloe karena fungsi
dermaga ini hanya untuk transit sehingga 63m2
pengunjung harus langsung meninggalkan area
dermaga saat tiba karena ruang tamping dermaga
yang terbatas. Gambar 21. Model Gazebo (Tracking Area)
Sumber: Peneliti, 2016
b. Perencanaan Kawasan Ekowisata
Perencanaan kawasan wisata adalah betuk Material penyusun gazebo adalah kayu dengan
pengembangan Pulau Lakkang sebagai kawasan pondasi dari beton sehingga kokoh diatas permukaan
tanah lunak. Jumlah pengunjung yang dapat di menjadi penghubung pusat-pusat kawasan strategis
tampung tiap titik lokasi gazebo adalah maksimal 10 dan kawasan cepat tumbuh di Kota Makassar
orang. maupun daerah hinterlandnya. Sungai Tallo
Loket Pembayaran memiliki panjang 10 km. DAS Tallo mencakup 5
Loket Pembayaran ini berfungsi sebagai (lima) wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan
tempat untuk mendapatkan tiket paket wisata Biringkanaya, Tamalanrea, Ujung Tanah, Tallo dan
jelajah hutan mangrove (tracking area). Manggala yang mencapai 50,75% dari total
pergerakan Kota Makassar tahun 2011.
Dimensi unit loket adalah 2 x 2 meter. Loket
Selain potensi pengembangan transportasi air,
pembayaran ini diletakkan pada portal masuk
Sungai Tallo juga dapat menjadi objek
wisata mangrove.
pengembangan wisata alam. Meninjau dari 3 aspek
Menara Pengawas wisata menurut Oka.A.Yoeti (1997) yakni
Menara pengawas berfungsi untuk Something to See, Something to Do dan Something to
memantau kondisi kawasan wisata khususnya Buy, Koridor Sungai Tallo memiliki potensi alam
pada wisata tracking area. Menara ini berada alami untuk dikembangkan sebagai objek wisata.
pada kawasan ruang publik dengan tinggi Selain itu dari hasil analisis kesesuaian ekowisata,
mencapai 20 meter, sehingga sangat mudah bagi untuk pengembangan wisata mangrove dan perahu di
pengawas untuk memantau situasi. Sungai Tallo masuk dalam kategori S2 yakni cukup
Tempat Duduk Pemancingan sesuai. Hal ini diperkuat dengan adanya potensi
Selain wisata air perahu juga disediakan wisata pengembangan hutan mangrove di sungai ini untuk
pemancingan bagi para pengunjung dan masyarakat biota sungai serta pemanfaatan lahan tidur si
setempat melihat kondisi eksisting kawasan. sepanjang bantaran sungai yang menjadi bentuk
Sehingga dibutuhkan fasilitas penunjang yakni realisasi dari Perda Rencana Tata Ruang Wilayah
tempat duduk untuk pemancingan. Kota Makassar tahun 2010-2030.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, peneliti
MATERIAL KAYU merumuskan tiga konsep perencanaan di Sungai
20 cm
PLAT BAJA Tallo yaitu :
BANTALAN APUNG BANTALAN APUNG a. Perencanaan transportasi darat yakni bentuk
pengembangan aksesibilitas menuju lokasi
BADAN AIR dermaga menggunakan jalur akses darat yang
3m
Gambar 22. Model Tempat Duduk Pemancingan terintegrasi dengan moda angkutan umum BRT
Sumber: Peneliti, 2016 Mamminasssata di Kota Makassar. Model
transportasi yang diterapkan adalah trunk feeder,
Fasilitas ini di desain mengelilingi separuh yakni bentuk alur transportasi menggunakan
kolam dan juga dibuat akses menuju tengah kolam. angkutan pengumpan (pete-pete atau motor)
Material yang digunakan sama seperti jembatan dalam skala yang lebih kecil untuk mengangkut
penyeberangan dermaga yakni kayu reistan air, plat penumpang dari lokasi halte menuju dermaga.
baja dan bantalan apung yang dapat menahan berat b. Perencanaan transportasi air yakni
dari atas. merencanakan model transportasi air yang lebih
Penutup efisien dan efektif ditinjau dari aspek jarak dan
waktu tempuh. Selain itu pengembangan fasilitas
1. Kesimpulan penunjang dermaga juga direncanakan agar
Koridor Sungai Tallo ditinjau dari kondisi sistem transportasi air ini dapat berjalan secara
geomorfologi hidrologis dan geografis dapat optimal. Selain itu peneliti juga melakukan
dikembangkan menjadi jalur tranasportasi air proses eliminasi dan relokasi dermaga. Dermaga
(waterway). Hal ini dikarenakan Sungai Tallo dapat yang dieliminasi adalah Dermaga Lakkang II,
hal ini dikarenakan dermaga ini dinilai kurang dalam radius 20 kilometer dari Pulau Lakkang.
efektif dari aspek aksesibilitas yang mana hanya Wisata air ini memberikan pemandangan alam
dapat diakses melalui jalur darat dari dermaga berupa hutan mangrove dan sunset diwaktu sore.
Lakkang I. Selain itu dermaga yang direlokasi 2. Saran
adalah dermaga Buloa menuju lokasi pesisir di Beberapa saran yang diajukan oleh tim peneliti yaitu:
kelurahan Tallo, hal ini dikarenakan kawasan 1. Mewujudkan konsep desain yang menyeluruh di
dermaga buloa secara fisik tidak dapat sepanjang koridor Sungai Tallo;
dikembangkan karena keterbatasan lahan dan 2. Perlu memperhatikan kelestarian dan
lokasi yang kurang strategis untuk integrasi pemeliharaan oleh berbagai pihak yang
moda angkutan BRT. berkepentingan baik dari pihak pemerintah
c. Perencanaan ekowisata yakni pengembangan maupun masyarakat; dan
potensi wisata alam dan air di Pulau Lakkang. 3. Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut
Pengembangan wisata alam dalam bentuk berkenaan dengan aspek dampak terhadap
tracking area berupa paket perjalanan wisata lingkungan dalam bentuk dokumen AMDAL
mangrove dan wisata pemancingan. Kemudian (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk
untuk pengembangan wisata air dalam bentuk realisasi perencanaan yang ada.
wisata perahu dengan moda angkutan khusus

Daftar Pustaka Ibrahim, Roslinda dkk. 2013. "Pengembangan


Kawasan Sungai Tallo: Sebuah Upaya
David, Fred. R. (2011). Strategic management: Peningkatan Kualitas Kota Makassar."
concepts and cases. Fred R. David.13th Prosiding Temu Ilmiah IPBLI 2013.
ed. Francis Marion University, Florence, http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/02/man
South Carolina. faat-transportasi-sungai-di-jakarta-
Hidayat, Ferry Taufik. 2014. Analisis SWOT dalam pelestari-ekologi. Diakses pada 10 Oktober
Meningkatkan Pelayanan Program 2016
Transjakarta. Skripsi FISIP UI 2014. Tamin, Ofyar Z. 1997. Perencanaan dan Pemodelan
Transportasi, penerbit ITB: Bandung.