You are on page 1of 3

ANALISIS DATA

1. Mengukur potensial osmotik irisan parademal epidermis bawah Rhoeo discolor


a. Menghitung molaritas konsentrasi gula
1000
Molaritas larutan = x

0 1000
Pada konsentrasi larutan 0%, Molaritas larutan 342 x =0M
5
5 1000
Pada konsentrasi larutan 5%, Molaritas larutan 342 x = 73,1 M
5
10 1000
Pada konsentrasi larutan 10%, Molaritas larutan 342 x = 146,2 M
5
15 1000
Pada konsentrasi larutan 15%, Molaritas larutan 342 x = 219,3 M
5

Dapat diketahui bahwa semakin tinggi molaritas larutan maka semakin banyak
rata-rata jumlah sel yang mengalami plasmolisis.
b. Menghitung presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis
Dari sejumlah beberapa sel yang terdapat dalam tiap irisan paradermal
epidermis bawah Rhoeo discolor yang dimasukkan pada larutan gula dengan
konsentrasi berbeda, presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah
Pada perlakuan pertama presentase jumlah sel yang mengalami
plasmolisis adalah
Pada konsentrasi 0%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 5,88%
Pada konsentrasi 5%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 2,5%
Pada konsentrasi 10%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 60,2 %
Pada konsentrasi 15%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 55%
Pada konsentrasi 20%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 57,8 %
Pada perlakuan kedua presentase jumlah sel yang mengalami
plasmolisis adalah
Pada konsentrasi 0%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 18,4%
Pada konsentrasi 5%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 43,9%
Pada konsentrasi 10%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 56,4%
Pada konsentrasi 15%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 83,7 %
Pada konsentrasi 20%, persentase sel yang mengalami plasmolisis 94,5 %
Dari kedua perlakuan tersebut dapat ditarik kesimpulan pada konsentrasi 0%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 12,14% , pada
konsentrasi 5% didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 23,2%,
pada konsentrasi 10% didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis
58,3%, pada konsentrasi 15% didapatkan presentase sel yang mengalami
plasmolisis 69,35%, pada konsentrasi 20% didapatkan presentase sel yang
mengalami plasmolisis 76,15%. Dari kedua perlakuan tersebut dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan , maka semakin tinggi
presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis.

PEMBAHASAN
1. Plasmolisis Rhoeo discolor
Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka
arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan
nilainya didalam sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke
dalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel
akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan
bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi
seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan
terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Menurut Salisbury and
Ross (1992) menyatakan bahwa Plasmolisis adalah suatu proses lepasnya protoplasma
dari dinding sel yang diakibatkan keluarnya sebagian air dari vakuola.
Terjadinya proses plasmolisis adalah dengan adanya tekanan yang terus
berkembang sampai di suatu titik dimana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel,
menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Proses penarikan air dari
daun disebabkan oleh proses osmosis. Proses osmosis adalah pergerakan langsung
larutan melewati suatu membran selektif permeabel yang membiarkan air lewat,
namun bukan molekulnya yang terlarut (Hopkin & Huner, 2009). Pergerakan air
tersebut dimungkinkan karena adanya perbedaan konsentrasi larutan.
Cara kerja dari plasmolisis sel adalah yakni dengan mengamati sayatan
paradermal Rhoe discolor dengan beberapa perlakuan yang ditentukan. Pengamatan
tersebut dilakukan pada mikroskop.
Dalam pengamatan sayatan paradermal tersebut ditemukan hasil bahwa pada
Dari kedua perlakuan tersebut dapat ditarik kesimpulan pada konsentrasi 0%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 12,14% , pada konsentrasi 5%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 23,2%, pada konsentrasi 10%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 58,3%, pada konsentrasi 15%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 69,35%, pada konsentrasi 20%
didapatkan presentase sel yang mengalami plasmolisis 76,15%. Dari kedua perlakuan
tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan , maka semakin
tinggi presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis.
Dapat diketahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan terjadinya
plasmolisis sel yang semakin tinggi molaritas larutan maka semakin banyak rata-rata
jumlah sel yang mengalami plasmolisis. Artinya semakin tinggi konsentrasi larutan
semakin tinggi presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis.