You are on page 1of 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN DENGAN
ISOLASI SOSIAL

Oleh :
NI PUTU INTAN MERTANINGSIH
1202106080

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

2009) mengatakan isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghidari interaksi dengan orang lain. tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman. b. 2011). Faktor tumbuh kembang Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipebuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Faktor predisposisi a.I. Kegagalan yang terjadi secara terus menerus dalam menghadapi stressor dan penolakan dari lingkungan akan mengakibatkan individu tidak mampu berpikir logis dimana individu akan berpikir bahwa dirinya tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan perannya sesuai tahap tumbuh kembang (Anjas Surtiningrum. Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan (Dalami. menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain. dkk. Kasus (Masalah Utama) Kerusakan Interaksi Sosial Definisi Menurut Keliat (1998 dalam Yosep. Yang termasuk masalah dalam berkomunikasi . II. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri. Proses Terjadinya Masalah Setiap individu akan menghadapi berbagai stressor di setiap proses tumbuh kembang sepanjang kehidupannya. 2009). Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Bila tugas- tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah. Faktor komunikasi dalam keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.

serta perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal. hormon tiroid. Dimensi waktu meliputi kapan stressor terjadi. penyakit kronis. Stressor biologis Stressor biologis yang berkaitan dengan isolasi sosial meliputi penyakit infeksi. d. Dapat disimpulkan stressor biologis . di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut. Selain sifat dan asal stressor. seperti atropi otak. dan beberapa neurotransmitter lain di otak. epinefrin. hormon pertumbuhan. LH/FSH. prolaktin. vasopressin. Faktor sosial budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Ini terkait juga dengan interaksi beberapa neuroendokrin. Faktor presipitasi dapat bersifat stressor biologis. waktu dan jumlah stressor juga merupakan komponen faktor presipitasi. a. yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak. dan penyandang cacat diasingkan dari lingkunagn sosialnya. psikologis. Organ tubuh yang dapat memengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak. sehinggan menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan di mana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga. Faktor biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam lingkungan sosial. berpenyakit kronis. ACTH. seberapa lama terpapar stressor. oksitosin. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga. Faktor presipitasi Faktor presipitasi pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stress seperti kehilangan. norepinefrin. dan adanya kelainan struktut otak. serta sosial budaya yang berasal dari dalam diri individu (internal) maupun dari lingkungan eksternal individu. insulin. dan frekuensi terpapar stressor. c.

Stressor lain yang dapat menjadi pencetus terjadinya perilaku isolasi sosial adalah kondisi lingkungan yang bermusuhan. Tanda dan Gejala Isolasi Sosial berikut ini adalah tanda dab gejala klien dengan isolasi sosial:  Kurang spontan  Apatis (acuh terhadap lingkungan)  Ekspresi wajah kurang berseri  Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri  Tidak ada atau kurang komunikasi verbal  Mengisolasi diri  Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sektarnya . berpisah dari orang yang berarti misalnya karena dirawat di rumah sakit. Stressor sosial budaya Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas keluarga. lingkungan penuh dengan kritik. misalnya kurangnya support sistem dalam keluarga dan kontak/hubungan yang kurang antar anggota keluarga. Sikap atau perilaku tertentu seperti harga diri rendah. tidak percaya diri. dan perilaku agresif merupakan presipitasi terjadinya skizofrenia. tekanan di tempat kerja atau kesulitan mendapatkan pekerjaan. ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tingkat tinggi. b. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan. merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya dapat menyebabkan gangguan berhubungan dengan orang lain. tidak memiliki keterampilan sosial. kemiskinan. dan stigma yang ada di lingkungan tempat tinggal seseorang. Stressor psikologis Respon sosial maladaptif merupakan hasil pengalaman negatif yang mempengaruhi pertumbuhan emosi seseorang. c. Stressor psikologis dapat berupa kondisi seperti hubungan keluarga yang tidak harmonis. berkaitan dengan adanya gangguan struktur dan fungsi tubuh serta sistem hormonal yang abnormal. ketidakpuasan kerja dan kesendirian.

orang lain bahkan lingkungan.  Asupan makanan dan minuman terganggu  Retensi urine dan feses  Aktivitas menurun  Rendah diri  Postur tubuh berubah. Bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut. bila system pendukungnya tidak baik (koping keluarga tidak efektif) maka akan mendukung seseorang memiliki harga diri rendah. sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri. Seseorang yang mempunyai harga diri rendah awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam hidupnya. Peranan keluarga cukup membantu dalam mendorong klien agar mampu menyelesaikan masalah. Oleh karena itu. Pohon Masalah AKIBAT Perubahan sensori persepsi : halusinasi Kerusakan Interaksi Sosial (KIS) Defisit perawatan diri (COR PROBLEM) ETIOLOGI Perilaku Kesehatan . misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur) Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah. sehingga orang tersebut berperilaku tidak normal (koping individu tidak efektif). makan akan menyebabkan perubahan persepsi sensori: halusinasi dan risiko tinggi mencederai diri.

Berikut adalah sikap yang termasuk respon adaptif. saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. c. d. seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain. Degan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Menarik diri. Ketergantungan. Respons maladaptif Adalah respons yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. Manipulasi. pikiran. Bekerja sama. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respons maladaptif a. Menyendiri. kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide. seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. Otonomi. dan perasaan dalam hubungan sosial. Respon adaptif Respon maladaptif Menyendiri Merasa sendiri Menarik diri Otonomi Depensi Ketergantungan Bekerja sama Curiga Manipulasi Independen Curiga Berikut ini dijelaskan tentang respon yang terjadi pada isolasi sosial Respon adaptif Adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. b. c.Rentang Respon Rentang respon pada klien dengan isolasi sosial. seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain b. Curiga. respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya. a. seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain. d. . Interdependen. kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada kontak mata jika diajak berinteraksi 3. Gairah seksual menurun dan ragu terhadap keyakinan 2. Mengisolasi diri 7. Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya 8. Afek tumpul. Klien ingin memukul/ melempar barang-barang . Klien merasa makan sesuatu 5. Kerusakan Interaksi Sosial Data Subyektif 1. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata 3. Ekspresi wajah kurang berseri 4. Orang lain melaporkan tentang pola interaksi yang bermasalah. Resiko perubahan persepsi . Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1. kurang energi (tenaga) 10. Keluarga atau orang terdekat klien melaporkan bahwa klien tidak dapat mempertahankan hubungan suportif yang stabil. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata 2. Intake makanan dan minuman terganggu 9. Data Obyektif 1. menurun atau tidak ada komunikasi secara verbal 6. Klien tampak menghindari orang lain 2. Harga diri rendah 11.sensori : halusinasi Data Subjektif 1. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus 4. 2. Aktifitas menurun. Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar 7. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya 6. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri 5. Menolak berhubungan dengan orang lain 12.III.

Klien sering kurang berhasil dalam kerja atau kejadian hidup lainnya Data obyektif: 1. Disorientasi 3. Perilaku Kekerasan Data subyektif: 1. postur. Ragu untuk mencoba hal-hal baru 3. Klien berbicara dan tertawa sendiri 2. Baju klien tampak kotor 3. Klien tampak lebih suka sendiri 4. Klien bersikap seperti mendengar/ melihat sesuatu 3. Penampilan klien tampak tidak terurus 2. Rambut klien tampak kotor dan bau . Pengungkapan diri yang negatif 3. gerakan) 5. Buruknya penampilan tubuh (kontak mata. Data Objektif 1. Klien menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan umpan balik negatif mengenai di 4. Klien mengatakan tiba-tiba ingin mengamuk dan melempar barang-barang 2. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu 4. Orang lain atau orang terdekat klien mengatakan jarang mandi 2. Klien mengatakan tidak ada keinginan untuk mandi Data objektif: 1. Defisit Perawatan Diri: Mandi/Hygiene Data subjektif: 1. Ekspresi rasa bersalah atau malu 2.

Defisit perawatan diri: mandi . Gigi klien tampak kuning 5. Kulit klien tampak kotor IV. Perilaku kekerasan 4. 4. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri 2. Diagnosa Keperawatan Maka didapat diagnosa keperawatan dari data yang perlu dikaji dan pada pohon masalah adalah sebagai berikut : 1. Perubahan sensori persepsi : halusinasi 3.

dkk. Jakarta: Trans Info Media.W. G. Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Sri. Pengaruh Terapi Perilaku Kognitif Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Klien Isolasi Sosial di RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang. & Laraia. I. Nyumrah. M. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Jiwa. 2011. 2005. (2009). Surtiningrum. . 2009. Principle and Practice of Psychiatric Nursing Eight Edition.T. Depok: FIK UI. Stuart. Pengaruh Terapi Suportif Terhadap Kemampuan Bersosialisasi Klien Isolasi Sosial di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr Amino Gondohutomo Semarang. St Louis Missouri. Yosep. DAFTAR PUSTAKA Dalami. 2012. USA: Elsevier Mosby. Bandung: Refika Aditama. Depok: FK IK UI. Anjas.

V.. hari • Pasien mampu sosial: siapa yang serumah. Identifikasi penyebab isolasi positif dari pasien ..x selama ..... Masukan pada jadwal kegiatan • Pasien dapat melaksanakan untuk latihan berkenalan hubungan social secara bertahap . dan apa sebabnya berikutnya sesuai lamanya 30 menit 2. social dan kerugian menarik 4. Latih cara berkenalan dengan diri anggota keluarga 5.. Kerugian tidak punya teman Kerusakan interaksi keuntungan berhubungan dan tidak bercakap‐cakap sosial. yang tidak ke intervensi Setiap pertemuan penyebab menarik diri dekat. Keuntungan punya teman dan kemampuan pasien Diharapkan klien • Pasien mampu bercakap-cakap Tidak mengalami menyebutkan 3. sebelum melanjutkan pertemuan dimana menyebutkan siapa yang dekat.. Rencana Tindakan Keperawatan Dx Perencanaan Tindakan Keperawatan Rasionalisasi Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Keperawatan Pada Pasien Kerusakan Setelah dilakukan • Pasien dapat membina SP I Harus mengetahui Interaksi Sosial Tindakan hubungan saling percaya tanggapan yang (KIS) keperawatan 1.

Latih cara berbicara saat rasa percaya diri pada melakukan kegiatan harian dirinya (latih 2 kegiatan) . Evaluasi kegiatan berkenalan kemampuan positif (berapa orang).• Pasien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan social • Pasien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan social • Pasien dapat memanfaatkan obat dengan baik SP 2 Mengajarkan untuk Memaksimalkan 1. Beri pujian agar pasien memiliki 2.

Evaluasi kegiatan latihan memaksimalkan berkenalan.berbicara saat melakukan kegiatan harian SP 3 Mengajarkan 1. 3. Beri pujian agar pasien memiliki 2. Masukkan pada jadual kegiatan untuk latihan berkenalan 4-5 orang. berbicara saat melakukan 4 kegiatan harian SP 4 Mengajarkan 1. bicara saat kemampuan positif . Evaluasi kegiatan latihan memaksimalkan berkenalan (berapa orang) & kemampuan positif bicara saat melakukan dua yang dimiliki pasien kegiatan harian. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan 2-3 orang tetangga atau tamu. Latih cara berbicara saat rasa percaya diri melakukan kegiatan harian (2 secara bertahap kegiatan baru) 3.

Beri secara bertahap pujian 2. Latih kegiatan harian 3. berbicara saat melakukan kegiatan harian dan sosialisasi SP 5 Mengajarkan mengoptimalkan 1. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan >5 orang. Beri pujian rasa percaya diri 2. Nilai kemampuan yang telah mandiri . orang baru. makan & rasa percaya diri minum. Evaluasi kegiatan latihan kemampuan positif perawatan diri: kebersihan agar pasien memiliki diri. melakukan empat kegiatan agar pasien memiliki harian. Latih cara bicara sosial: secara bertahap belanja ke warung meminta sesuatu. berdandan. menjawab pertanyan 3. BAB & BAK.

Diskusikan masalah yg untuk memberikan dirasakan dalam merawat perhatian dan pasien penghargaan pada 2. 4. Nilai apakah perawatan diri telah baik Tindakan Keperawatan Pada Keluarga SP 1 Membantu keluarga 1. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian SP 2 Meningkatkan . tanda & pasien gejala. dan proses terjadinya isolasi social (gunakan booklet) 3. berbicara saat melakukan kegiatan harian 5. Jelaskan pengertian. Latih dua cara merawat berkenalan. Jelaskan cara merawat isolasi social 4.

Evaluasi kegiatan keluarga kemampuan pasien dalam merawat/melatih pasien dalam berinteraksi berkenalan. Beri pujian orang lain 2. Latih cara membimbing pasien berbicara dan member pujian 4. Jelaskan cara melatih pasien . Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat melibatkan pasien berbicara (makan. Beri pujian 2. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal SP 3 Meningkatkan 1. sholat bersama) 3. 1. Evaluasi kegiatan keluarga kemampuan pasien dalam merawat/melatih pasien dalam berinteraksi berkenalan dan berbicara saat dengan orang lain melakukan kegiatan harian. berbicara saat dengan pihak melakukan kegiatan harian keluarga atau pun dan RT.

berbicara saat melakukan kegiatanharian/RT.rujukan 3. Evaluasi kegiatan keluarga kemampuan pasien . Beri pujian 2. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan pujian SP 4 Meningkatkan 1. Latih keluarga mengajak pasien belanja 4. Jelaskan follow up ke PKM. meminta sesuatu dll 3. Evaluasi kegiatan keluarga kemampuan pasien dalam merawat/melatih pasien dalam berinteraksi berkenalan. tanda kambuh. berbelanja. melakukan kegiatan social seperti berbelanja. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian SP 5 Meningkatkan 1.

berbicara saat melakukan kegiatan harian/RT. dalam merawat/melatih pasien dalam berinteraksi berkenalan. rujukan 3. berbelanja. Jelaskan follow up ke PKM. Beri pujian 2. tanda kambuh. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian .