You are on page 1of 25

Telah disetujui/diterima Pembimbing

Hari/Tanggal :
Tanda tangan :

ILMU KEPERAWATAN JIWA
PROGRAM PROFESI NERS

PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
PERILAKU KEKERASAN DI RUANG
CENDRAWASIH

Oleh :

MITRA YUNI RATNASARI INDAH PRAHITANINGTYAS
ARNELIA PUTRI MUFLIHATUN HASANAH
SRI RIZKI ULFA NUR ROHMA
HAFIZA KHORADIYAH ARUM KUSUMA NIRMALA
RINI DIANA SARI MALSIANA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
PERILAKU KEKERASAN DI RUANG CENDERAWASIH

Disusun oleh:

Mitra Yuni R 04064881618023
Arnelia Gumanti 04064881618024
Rini Diana Sari 04064881618026
Hafiza Khoradiyah 04064881618027
Sri Rizki 04064881618038

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal ______________________

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Akademik

(Maya Sari S.Kep, Ners) (Ns. Sri Maryatun, S. Kep.)

II. perawat akan melakukan “Terapi Aktivitas Kelompok Perilaku Kekerasan (TAK PK)” agar Klien tidak menciderai diri sendiri maupun orang lain. bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi. Oleh karena itu. maupun lingkungan (Fitria. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting. . baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Depkes. Latar Belakang Berdasarkan hasil observasi selama bertugas di ruang Cenderawasihi Rumah Sakit Ernaldi Bahar. maupun lingkungan dimana hal tersebut untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Stuart & Sundeen. RI. Frustation-aggresion theory: teori yang dikembangkan oleh pengikut freud ini berawal dari asumsi. 2009). Faktor Predisposisi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan yaitu : a. 2000) 2. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep. 2010). orang lain. Jadi hampir semua orang yang melakukan tindakan agrresif mempunyai riwayat perilaku agresif. Pertama insting hidup yang di ekspresikan dengan seksualitas dan kedua insting kematian yang di ekspresikan dengan agresivitas. Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri. sebagian besar klien masuk RS Ernaldi Bahar karena pasien memiliki riwayat melakukan perilaku kekerasan. Faktor psikologis Psychoanalytical theory: teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan akibat dari instinctual drives. 2005). Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri. Perilaku kekerasan 1. Definisi Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Landasan Teori A. orang lain. TERAPI AKTIVITAS BERFOKUS PADA PERILAKU KEKERASAN I.

Pelajaran ini bisa internal atau eksternal. Agresi dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi. Sehingga dapat membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara yang asertif. Faktor-faktor yang mendukung: . Ini menggunakan pendekatan bahwa manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak merusak. termasuk child abuse atau mengobservasi kekerasan dalam keluarga. yang mungkin telah merusak hubungan saling percaya dan harga diri. retardasi mental sehingga tidak mampu untuk menyelesaikan secara efektif. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus bidatang ternyata menimbulkan perilaku agresif. dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima. Faktor soosial budaya Social-Learning Theory: teory yang dikembangkan oleh Bandura (1977) dalam Yosep (2009) ini mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Jadi seseorang akan berespon terhadap kebangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang dipelajarinya. Faktor biologis Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agrsif mempunyai dasar biologis. sehingga membentuk pola pertahanan atau koping. 2) Severe emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa kanak-kanak. Jika kerusakan fungsi sistem limbik (untuk emosi dan perilaku). dopamin. Pandangan psikologi lainnya mengenai perilaku agresif. Beberapa contoh dari pengalaman tersebut: 1) Kerusakan otak organik.atau seduction parental. mendesis dll. mendukung pentingnya peran dari perkembangan presdiposisi atau pengalaman hidup. 3) Terpapar kekerasan selama masa perkembangan. norepineprine. acetilkolin dan asam amino GABA. Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. mengangkat ekornya. Rangsangan yang diberikan terutama pada nukleus periforniks hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan cakarnya. Neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif: serotonin. lobus frontal (untuk pemikiran rasional) dan lobus temporal. c. b.

Verbal 1) Bicara kasar 2) Suara tinggi. Fisik 1) Muka merah dan tegang 2) Mata melotot/ pandangan tajam 3) Tangan mengepal 4) Rahang mengatup 5) Postur tubuh kaku 6) Jalan mondar-mandir b. ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser. Faktor Presipitasi Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan (Yosep. 2009): a. Tanda dan Gejala Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut : a. penonton sepak bola. perkelahian masal dan sebagainya. kehilangan pekerjaan. padat) 3. c. membentak atau berteriak 3) Mengancam secara verbal atau fisik 4) Mengumpat dengan kata-kata kotor 5) Suara keras 6) Ketus . Kematian anggota keluarga yang terpenting. geng sekolah. b. e. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi. perubahan tahap 4. f. Ekspresi diri. 1) Masa kanak-kanak yang mendukung 2) Sering mengalami kegagalan 3) Kehidupan yang penuh tindakan agresif 4) Lingkungan yang tidak kondusif (bising. d.

kasar. mencuri. c. Frustasi : individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif. mengkritik pendapat orang lain. h. melarikan diri. Perhatian Bolos. kekerasan. Emosi Tidak adekuat. Rentang Respon Setiap orang mempunyai kapasitas berperilaku asertif. Respon Adaptif Respon Maladaptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan Gambar 1. Asertif : individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan. . sarkasme. g. Agresif : perilaku yang menyertai marah terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol. meremehkan. Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa : a. ejekan. Perilaku 1) Melempar atau memukul benda/orang lain 2) Menyerang orang lain 3) Melukai diri sendiri/orang lain 4) Merusak lingkungan 5) Amuk/agresif d. c. penyimpangan seksual. tidak perduli dan kasar. sindiran. Intelektual Mendominasi. ingin berkelahi. tidak aman dan nyaman. menyalahkan dan menuntut. 5. menyinggung perasaan orang lain. cerewet. berdebat. bermusuhan. tidak berdaya. f. rasa terganggu. pengasingan. Sosial Menarik diri. e. merasa diri benar. mengamuk. d. Rentang Respon Menurut Yosep (2007) perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari marah atau ketakutan (panik). pasif dan agresif sampai kekerasan. Pasif : individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya. penolakan. dendam dan jengkel. Spiritual Merasa diri berkuasa. b.

Represif. Proyeksi. yaitu menyatakan orang lain mengenal kesukaan/ keinginan tidak baik. 6. Displecement. yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap perilaku yang berlawanan. Sublimasi. Selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan. orang lain dan lingkungan). Kekerasan : perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol. Hal ini yang menyebabkan klien sering keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal (regimen terapeutik inefektif). Hal ini data berdampak pada keselamatan dirinya dan orang lain (resiko mencederai diri. b. merasa tidak dianggap. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain tidak dapat diatasi maka akan muncul halusinasi berupa suara-suara atau bayang- bayangan yang meminta klien untuk melakukan kekerasan. Perilaku kekerasan merupakan suatu rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang dimanivestasikan dalam bentuk fisik. Orang yang mengalami kemarahan sebenarnya ingin menyampaikan pesan bahwa ia ”tidak setuju. Reaksi formasi. f. tersinggung. yaitu melampiaskan masalah pada objek lain. d. maka dapat menyebabkan seseorang harga diri rendah (HDR). c. yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap/ perilaku yang berlawanan. Bila kondisi tersebut tidak teratasi. sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain. Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karna ditinggal oleh orang yang dianggap berpangaruh dalam hidupnya. e. merasa tidak dituruti atau diremehkan. Kemarahan tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu. e.” Rentang respon kemarahan individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon yang tidak normal (maladaptif). yaitu melepaskan perasaan tertekan dengan bermusuhan pada objek yang berbahaya. . dukungan keluarga yang kurang baik dalam mengahadapi kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif). Mekanisme Koping Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah: a.

dan menarik. kesamaan. Leader. orientasi realita. 3. Anggota kelompok merasa memiliki diakui. Kelompok merupakan laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal yang baik. Fokus terapi kelompok adalah membuat sadar diri peningkatan hubungan interpersonal. Tujuan Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah prtilaku ynag destruktif dan maladaptif. ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok. kesukaan. Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok. untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. dalam keadaan tenang. Terapi aktivitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu. takut. Klien dengan riwayat perilaku kekerasan. ketidaksamaan. Kriteria Pasien Kriteria pasien sebagai anggota yang mengikuti terapi aktifitas kelompok iniadalah: a. Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu. dan sosialisasi. dan dihargai eksistensinya oleh anggota kelompok yang lain. 2001). serta mengembangkan perilaku yang adaptif. stimulasi sensoris. c. kompetitif. atau ketiganya. Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagai pengalaman dan saling membantu satu sama lain.B. terapi aktivitas terapi aktivitas stimulasi realita. saling bergantung dan mempunyai norma yang sama ( Stuart & Laraia. . Terapi aktivitas kelompok dibagi empat yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi. Klien yang mengikuti TAK ini tidak mengalami perilaku agresif atau mengamuk. b. Klien dapat diajak kerjasama (cooperative) 4. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya. dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi. seperti agresif. Pengertian Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain. 2. terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori. Terapi Aktivitas Kelompok 1. bertugas: 1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan. Kekuatan kelompok ada pada konstribusi dari setiap anggota dan pemimpin dalam mencapai tujuannya. Pengorganisasian a. kebencian. membuat perubahan.

Setting tempat Keterangan : : Leader : Co-leader + Observer : Fasilitator : Klien . 3) Mengobservasi perilaku pasien 5. 2) Memimpin jalannya terapi kelompok 3) Memimpin diskusi. bertugas: 1) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok. Observer. 5) Bertanggung jawab terhadap program antisispasi masalah. 2) Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang. 2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan. 4) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan. 2) Mencatat semua aktivitas dalam terapi aktivitas kelompok. b. 4) Menggantikan leader jikaterhalang tugas. bertugas : 1) Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan. c. 3) Membimbing kelompok selama permainan diskusi. d. Fasilitator. 3) Membantu memimpin jalannya kegiatan. Co-Leader. bertugas : 1) Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai akhir.

Kapur/ spidol 3. Fasilitator 1 : Muflihatun Hasanah Fasilitator 2 : Ulfa Nur Rohma Fasilitator 3 : Indah Prahita Ningtyas Fasilitator 4 : Malsiana Fasilitator 5 : Rini Diana sari Fasilitator 6 : Sri Rizki Fasilitator 7 : Hafiza khoradiyah A. Ruangan nyaman dan tenang C. Alat : 1. 3. Pengorganisasian : 1. Bermain peran/ simulasi B. Buku catatan dan pulpen 4. Metode : 1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya. Setting : 1. 2.Terapi Stimulasi Persepsi terbagi dalam 5 sesi: Sesi 1: Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan A. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan). Dinamika kelompok 2. Speaker 6. Bola plastik kecil D. Persiapan a. Papan tulis / flipchart/ whiteboard 2. Tujuan : 1. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah). Langkah kegiatan : 1. Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif . Co Leader : Arnelia Putri 3. Terapis dan klien dapat duduk bersama dalam lingkaran 2. Diskusi dan tanya jawab 3. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan B. Jadwal kegiatan klien 5. Observer : Arum Kusuma Nirmala 4. Leader : Mitra Yuni Ratnasari 2. 4.

Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran /simulasi. Kontak 1) Menjelaskan tujuan kegiatan. mencederai/memukul orang lain. 2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard. d. Evaluasi 1) Menanyakan perasaan klien saat ini 2) Menanyakan masalah yang dirasakan c. i. 1) Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala) 2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard c. 2. . merusak lingkungan. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab marah sebelum perilaku kekerasan terjadi. 3) Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama) b. 1) Tanyakan pengalaman tiap klien 2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard b. h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien. 2) Menjelaskan aturan main berikut  Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan. b. yaitu mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Melakukan bermain eran/ simulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak berbahaya (terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang melakukan perilaku kekerasan). g.  Lama kegiatan 25 menit  Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai 3. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal. Tahap kerja a. Orientasi a. Mendiskusikan dampak/akibat perilaku kekerasan 1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan. upayakan semua klien terlibat. Dalam menjalankan a sampai h. Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering dilakukan untuk diperagakan e. Salam terapeutik 1) Salam dari terapis kepada klien 2) Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama). Membuat kontak dengan klien c. Mendiskusikan penyebab marah. harus minta izin kepada terapis. memukul diri sendiri) 1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah. f. 2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard.

mengenal tanda dan gejala. perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan. 2) Memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. kemampun yang diharapkan adalah mengetahui penyebab perilaku. b. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 1. Sesi 1: TAK Simulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Kemampuan Psikologis Memberi tanggapan tentang Penyebab No Nama Klien Tanda& Perilaku Akibat PK Gejala PK Kekerasan PK . tanda dan gejala. Formlir evaluasi sebagai berikut. tanda dan gejala. perilaku kekerasan dan akibat perilaku kekerasan. perilaku kekerasan dan akibatnya yang belum diceritakan. Evaluasi Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung. Evaluasi 1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat menghadapi kemarahan. serta akibat perilaku kekerasan. khususnya pada tahap kerja. 2) Menganjurkan klien mengingat penyebab . Beri kesimpulan penyebab. yaitu tanda dan gejala. perilaku kekerasan yang terjadi. Kontrak yang akan datang 1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan. Tindak lanjut 1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah. j. Tahap terminasi a. k. 4. c. 2) Menyepakati waktu dan TAK berikutnya. 5.

Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik A. Untuk tiap klien. Alat: 1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien 2. Fasilitator . Observer 4. Paralon D. perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan. tanda dan gejala dirasakan. akibat yang dirasakan (tangan sakit dan dibawa ke rumah sakit jiwa). Co-leader 3. Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien.Petunjuk: 1. Contoh: klien mengikuti sesi 1. Ruangan nyaman dan tenang C. Tujuan: 1. Klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan B. Beri tanda √ jika klienmampu dan tanda x jika klien tidak mampu. Kasur / kantong tinju/ gendang/bantal 2. 3. beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab perilakuk kekerasan. Bola 6. Anjurkan klien mengingat dan menyampaikan jika semua dirasakan selama dirumah sakit. mengenal tanda dan gejala yang dirasakan (“geregetan” dan “deg-degan”). 2. Jadwal kegiatan klien 5. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan. Papan tulis/ flipchart/ witheboard 3. Klien mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya (disalahkan dan tidak diberi uang). perilaku kekerasan yang dilakukan (memukul meja). Buku catatan dan pulpen 4. Pengorganisasian : 1. TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Setting: 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien 2. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkungan. Leader 2.

E. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok. Upayakan semua klien berperan aktif . senam. main bola. Salam dari terapis pada pasien 2. Orientasi a. dan memukul gendang. Tahap Kerja a. Langkah kegiatan: 1.\ 3. harus minta izin kepada terapis. Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan kemarahan secara sehat : tarik napas dalam. d. b. Salam terapeutik 1. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Kontrak 1. menjemur/memukul kasur/bantal. c. Evaluasi /validasi 1. b. Metode: 1. b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan 2. harian. Klien dan terapis pakai papan nama. Menanyakan perasaan klien saat ini 2. Menjelaskan aturan main berikut : a. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktikan cara penyaluran kemarahan f. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien 1) Tanyakan kegiatan : rumah tangga. tanda dan gejala. Bersama klien mempraktikan dua kegiatan yang dipilih 1) Terapis mempraktikan 2) klien melakukan redemonstrasi e. yaitu secara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan 2. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan. Dinamika kelompok 2. Diskusi dan tanya jawab 3. Bermain peran/ stimulasi F. dan olahraga yang biasa dilakukan klien 2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard b. perilaku kekerasan serta akibatnya. Persiapan a. memukul bantal pasir tinju. Lama kegiatan 35 menit c. c. menyikat kamar mandi. Menyanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan: penyebab. Menjelaskan tujuan kegiatan. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 1.

Contoh: klien mengikuti Sesi 2 TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung. 4. Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien.Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK 2. Formulir evaluasi sebagai berikut : Sesi 2 Stimulasi Persepsi Perilaku Pekerasan Kemampuan Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik Mempraktikan cara fisik Mempraktikan cara No Nama Klien yang pertama fisik yang kedua 1 2 Petunjuk : 1. tetapi belum mampu mempraktikkan pukul kasus dan bantal. Meyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya. Meyepakati untuk belajar cara baru yang lain. Menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan b. khususnya pada tahap kerja. 2. yaitu interaksi sosial yang asertif 2. Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien c. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu. klien mampu mempraktikkan tarik napas dalam. . Evaluasi 1. Tindak lanjut 1.Untuk setiap klien. Anjurkan dan bantu klien mempraktikkan di ruang rawat (buat jadwal). Evaluasi dan Dokumentasi 1. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 2. Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari 3. Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulus penyebab perilaku kekerasan 2. Kontrak yang akan datang 1. Tahap Terminasi a. 2. beri penilaian tentang kemampuan mempraktikan dua cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan. kemampuan yang di harapkan adalah 2 kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik.

Leader 2. c. B. 2. 3) Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan. a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok. 2) Menjelaskan aturan main berikut. Co-leader 3. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut Sesi 2. Diskusi dan tanya jawab 3. Evaluasi / validasi 1) Menanyakan perasaan klien saat ini. Bermain peran / simulasi F. Persiapan a. Jadwal kegiatan klien D. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa. 2) Klien dan terapis pakai papan nama. Langkah kegiatan 1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran. b. Pengorganisasian : 1. 2. Metode 1. Tujuan 1. b. Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial A. Observer 4. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan. C. Setting 1. Orientasi a. Dinamika kelompok 2. 2. Kontrak 1) Menjelaskan tujuan kegiatan. yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan. . Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan. Fasilitator E. Buku catatan dan pulpen 3. Papan tulis / flipchart/whiteboard dan alat tulis 2. Ruangan nyaman dan tenang. Alat 1. harus meminta izin kepada terapis. 2) Menanyakan apakah ada penyebab marah. tanda dan gejala marah serta perilaku kekerasan. Salam terapeutik 1) Salam dari terapis kepada klien.

. c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Kontrak yang akan datang 1. Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar. 3. c. yaitu “Saya perlu / ingin/ minta . yaitu kegiatan ibadah. Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain... Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya. Tahap terminasi a. 3. Ulangi d.. Formulir evaluasi sebagai berikut : .. Evaluasi 1.. yang akan saya gunakan untuk. 3. b. 2. Memberikan pujian pada peran serta klien. g. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.\ h. Ulangi h sampai semua klien mencoba. e. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari. Tahap kerja a. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain.” atau “Saya kesal dikatakan seperti . khususnya pada tahap kerja. 2. f.. Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung.. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 3. b. b) Lama kegiatan 45 menit.”.. 2. yaitu “Saya tidak dapat melakukan . Evaluasi dan Dokumentasi 1.”. d. Terapis mendemonstrasikan cara meninta sesuatu tanpa paksaan.” atau “Saya tidak menerima dikatakan . Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. kemampuan klien yang diharapkan adalah mencegah perilaku kekerasan secara sosial. Memberikan pujian pada peran serta klien. sampai semua klien mencoba. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin c. Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada orang lain. 4. Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian klien. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin d. j. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dn interaksi sosial yang asertif secara teratur. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosil yang asertif . jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi. c. i. Tindak lanjut 1..

Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa. mengungkapkan kekesalan dengan baik. 4. menolak dengan baik . Sesi 3: TAK Stimulasi persepsi perilaku kekerasan Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial Memperagakan Memperagakan Memperagakan cara No. TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Anjurkan klien mempraktikan di ruang rawat ( buat jadwal). 8. 3. 7. Petunjuk: 1. menolak dengan baik dan mengungkapkan kekerasan. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien. 2. 6. beri penilaian akan kemampuan mempraktikan pencegahan perilaku kekerasan secara social : meminta tanpa paksa. 2. Contoh: klien mengikuti sesi 3. . Beri tanda centang jika klien mampu dan tanda silang jika klien tidak mampu. Untuk tiap klien. 2. Nama klien cara meminta cara menolak mengungkapkan tanpa paksa yang baik kekerasan yang baik 1. 5.

Observer : Rini Diana sari 4. Co-leader : Hafiza khoradiyah 3. Pengorganisasian : 1. Leader : Arnelia Putri 2. Evaluas/validasi 1) Menanyakan perasaan klien saat ini 2) Menanyakan apakah ada penyebab marah. Diskusi dan Tanya jawab 3. Langkah Kegiatan 1. Alat 1. . Ruangan nyaman dan tenang. Salam terapeutik 1) Salam dari terapis kepada klien 2) Klien dan terapis pakai papan nama b. tanda dan gejala marah. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi b. Tujuan Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur. Sesi 4 : Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual A. Bermain peran /simulasi F. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran. serta perilaku kekerasan 3) Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi social yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan. yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan. Orientasi a. kaset rekaman D. Metode 1. c. Menyiapkan alat dan tempat 2. C. 2. Fasilitator 1 : Arum kusuma nirmala Fasilitator 2 : Muflihatun hasanah Fasilitator 3 : Sri Riski Fasilitator 4 : Rini diana sari Fasilitator 5 : Mitra yuni ratnasari Fasilitator 6 : Indah Prahita ningtyas E. Kontrak 1) Menjelaskan tujuan kegiatan. Dinamika kelompok 2. Persiapan a. Setting 1. 2) Menjelaskan aturan main berikut. speker 2. B.

khususnya pada tahap kerja. Memberikan pujian pada meditasi klien. Evaluasi 1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. b. dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. 3. dan kegiatan ibadah secara teratur. 2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik. Kontrak yang akan dating 1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain. Evaluasi dan Dokumentasi 1. a. Formulir evaluasi sebagai berikut: . Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 4. c. b. 2) Menanyakan sejauh mana hati nurani tersentuh 3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar. 3) Memasukkan kegiatan ibadah atau meditasi pada jadwal kegiatan harian klien. Menanyakan agama dan kepercayaan masing masing klien. harus meminta izin kepada terapis. Klien fokus mendengarkan suara rekaman d. interaksi sosial yang asertif. interaksi social yang asertif. Jika ada klien yang meninggalkan kelompok. 2) Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya. kemampuan klien yang diharapkan adalah perilaku 2 kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan. Klien disuruh tutup mata c. Evaluasi Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung. b. 4. Tahap kerja a. Tahap terminasi a. yaitu minum obat teratur. Tindak lanjut 1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik. Lama kegiatan 45 menit c.

2. Untuk tiap klien. . 5. Petunjuk: 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien. 4.Contoh : klien mengikuti sesi 4 . 7. Klien mampu memperagakan dua cara ibadah. Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimilki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Beri tanda centang jika klien mampu dan tanda silang klien tidak mampu. Sesi 4 : TAK Stimulasi persepsi perilaku kekerasan Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual Nama Mempraktikkan Menyatakan perasaan No Klien Cara meditasi Sebelum meditasi Setelah meditasi 1. TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Anjurkan klien melakukannya secara teratur di ruangan( buat jadwal). beri penilaian tentang kemampuan mempraktikkan kegiatan ibadah pada saat TAK. 8. 2. 3. 6.

Orientasi a. C. Sesi 5 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengkonsumsi Obat A. B. 3) Tanyakan apakah kegiatan fisik. c. Persiapan a. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan. Tujuan : 1. Evaluasi/validasi 1) Menanyakan perasaan klien saat ini 2) Menanyakan apakah ada penyebab marah. Terapis danKlien duduk bersama dalam lingkaran. interaksi social yang asertif dan kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan. Metode : 1. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut Sesi 4 b. . Langkah kegiatan : 1. Diskusi dan tanya jawab F. Jadwal kegiatan klien 4. Co-leader : 3. Salam terapeutik 1) Salam dari terapis kepada klien 2) Klien dan terapis pakai papan nama b. Ruangan nyaman dan tenang. 2. Setting : 1. serta perilaku kekerasan. Pengorganisasian : 1. Fasilitator : 4. 2. b) Klien dapat menyebutkan akibat/kerugian tidak patuh minum obat. yaitu patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan. Khusus : a) Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat. Buku catatan dan pulpen 3. Observer : E. tanda dan gejala marah. Kontrak 1) Menjelaskan tujuan kegiatan. Umum : Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh mengkonsumsi obat. Dinamika kelompok 2. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis 2. Alat : 1. Leader : 2. Beberapa contoh obat E. 2. c) Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat.

Berikan pujian pada klien yang benar. Tuliskan di whiteboard hasil a dan b. e. 3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar. Menjelaskan keuntungan patuh minum obat. i. secara bergiliran. d. b. benar waktu minum obat. l. kegiatan ibadah. benar dosis obat. c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Tindak lanjut 1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik. Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien. Tahap kerja a. benar orang yang minum obat. benar cara minum obat. yaitu kejadian perilaku kekerasan/kambuh. Mendiskusikan peranan klien jika teratur minum obat (catat di whiteboard). Menjelaskan lima benar minum obat. 4. Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di whiteboard) h. yaitu salah satu cara mencegah perilaku kekerasan/kambuh. . dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan. harus meminta izin kepada terapis b) Lama kegiatan 45 menit. 2) Menjelaskan aturan main berikut : a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok. Member pujian setiap kali klien benar. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian tidak patuh minum obat. c. Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien : nama dan warna (upayakan tiap klien menyampaikan) b. Menjelaskan tentang prinsip 5 benar dan meminta klien menyebutkan lima benar cara minum obat. 3. 2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari. Evaluasi 1) Terapis menyanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. f. yaitu benar obat. c. interaksi social asertif. Menjelaskan akibat/kerugian jika tidak patuh minum obat. 2) Memasukkan minum obat dalam jadwal kegiatan harian klien. dan disepakati jika klien perlu TAK yang lain. Kontrak yang akan datang Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan. j. Tahap terminasi a. g. k.

Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 5. keuntungan minum obat. Klien mampu menyebutkan lima benar cara minum obat. 2. Formulir evaluasi sebagai berikut : Sesi 5 : TAK Stimulasi persepsi perilaku kekerasan Kemampuan mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat Menyebutkan Menyebutkan Menyebutkan akibat Nama No lima benar keuntungan tidak patuh minum Klien minum obat minum obat obat Petunjuk : 1. beri penilaian tentang kemampuan menyebutkan lima benar cara minum obat. . belum dapat menyebutkan keuntungan minum obat dan akibat tidak minum obat. Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien pada cartatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 5. Anjurkan klien mempraktikan lima benar cara minum obat. dan akibat tidak patuh minum obat. kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui lima benar cara minum obat. Untuk tiap klien. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. dan akibat tidak minum obat. TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. keuntungan minum obat.Evaluasi dan Dokumentasi Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap keraj. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien. Beri tanda v jika klien mampu dan tanda x jika klien tidak mampu. bantu klien merasakan keuntungan minum obat. dan akibat tidak patuh minum obat.

Jakarta : EGC Farida Kusumawati. Budi Anna dan Akemat.dkk. Keperawatan Jiwa : Terapi Aktivitas Kelompok. 2005. 2010. Jakarta: EGC . DAFTAR PUSTAKA Keliat. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.