You are on page 1of 2

Madrasah Cinta

Terkadang mentari tak secerah cahaya yang ia tampakkan pada fajar sampai senja
hari, karena awan yang cukup tebal menghalangi, tapi ia tetap mampu memberikan
cahayanya meski kehangatan yang ia hantarkan tak maksimal. Begitu pun cinta yang
mungkin setiap individu akan berbeda memaknainya, berbeda cinta pada Rabb-Nya,
orang tua, keluarga, suami, istri, anak, bahkan lawan jenis bagi yang belum menikah,
meski ada halangan pada cinta pada mahluk, maka tetap ada hantaran yang selalu
dirasakan meski itu tak sampai.

Pengaandaian itu aku alami selama aku masuk kebangku kuliah, aku baru mengenal
tarbiyah ketika itu, sejak itu pun aku membangun prinsip untuk tidak mengenal lelaki
melalui suatu ungkapan yang sudah menggema sampai seantero dunia, yaitu pacaran.
Banyak hal yang aku lakukan belum sesuai ketika aku belum mengenal tarbiyah
banyak kode-kode etik yang aku langgar, dulunya aku merasa biasa saja jika berbica
dengan lawan jenis, berdua, kemudian bergoncengan, berjabat tangan, meski tidak
ada ikatan apa-apa, ternyata memang itu perbuatan yang tidak tepat, karena aku
belum paham ketika itu, walaupun aku tahu bahwa lelaki dan perempuan itu bukanlah
muhrim dan haram apabila mereka bersentuhan, tetapi begitulah tidak aku aplikasikan
di kehidupan. Maha benar Tuhan yang memberikan hidayah pada setiap hamba-
hamba yang ia kehendaki semoga Tuhan tidak menyabut hidayah-Nya amin.

Begitulah hingga saat ini ditahun kedua aku duduk dibangku kuliah aku masih
berpegang pada prinsip yang aku bangun. Hari-hariku ku isi dengan kegiatan
perkuliahan dan organisasi-organisasi yang keduanya sempat dapat mendukung
prinsipku, karena kesibukan yang aku lakukan. Setiap langkah yang kita ambil
tentulah akan mengalami jalanan yang tidak selalu mulus, hati dan perasaanku di uji.

Awal-awal semester aku tidak terlalu menghiraukan perasaan hatiku. . tingkah yang apa adanya yang mungkin orang-orang setelah mengenalku aku adalah orang yang aneh. Aku mengenal laki-laki yang dikatakan didapat pastilah tak semudah apa dengan meski aku kan melalui terkadang ia pun redup karena hambataWajah manis dan anggun merupakan paras yang sering orang katakan padaku saat awal-awal bertemu. meski itu semua aku sangkal karena orang belum terlalu mengenalku. aku disibukkan dengan awal-awal masa kuliah yang cukup menyibukan.