You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Seiring dengan perkembangan jaman, arsitektur pun ikut semakin berkembang pesat.
Hal ini, tidak lain disebabkan oleh perkembangan kehidupan manusia. Semakin peradaban
manusia berkembang, maka semakin menuntut perkembangan dunia arsitektur agar dapat
memenuhi kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu, demi memenuhi kebutuhan hidup
manusia, arsitektur harus berkembang sesuai dengan jaman dan lokasi keberadaannya.
Karena, pada lokasi yang berbeda, meiliki tingkat peradaban dan kebudayaan yang berbeda
pula. Hal ini sangatlah mempengaruhi perkembangan arsitektur. Setiap wilayah di dunia,
memiliki cirri khas masing – masing, termasuk pula wilayah Jawa. Kebudayaan Jawa
merupakan salah satu kebudayaan tertua di Indonesia. Secara umum, dapat kita katakan
sebagai Arsitektur Jawa.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :
1. Bagaimanakah filosofi yang mendasari arsitektur tradisional jawa?
2. Bagaimanakah tipologi dan penggolongan rumah tradisional Jawa ?
3. Apa saja contoh-contoh rumah tradisional Jawa?

1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
1. Mengetahui filosofi yang mendasari arsitektur tradisional jawa.
2. Mengetahui tipologi dan penggolongan rumah tradisional Jawa.
3. Mengetahui contoh-contoh rumah tradisional Jawa.

Page 1

e) Dalam perkembangan selanjutnya. bangun limasan atau joglo atau kampung tetapi sebaliknya menggunakan bangun sinom mangkurat untuk Sasana Prabasuyasa. cetak pintu utama rumah. arah. Bangun limasan atau joglo hanyalah untuk bangunan pelengkap saja. perlengkapan. kesejahteraan. kemakmuran. latar belakang sosial. Dalam suasana kehidupan feodal. misalnya tidak dibenarkan membangun rumah tempat tinggal (dhatulaya. Bagi golongan ningrat (bangsawan sentana dalem) dan abdi dalem derajat tertentu berhak membuat rumah tempat tingga. dan sebagainya. letak. limasan. pertemuan. misalnya daragepak. agar dalam usaha pembangunan rumah baru tersebut memperoleh keselamatan. ataupun joglo.1 FILOSOFI ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA Adapun filosofi-filosofi yang mendasari arsitektur tradisional jawa adalah : a) Masing-masing rumah dibedakan kepemilikannya berdasarkan status sosial ataupun kedudukan pemiliknya dalam masyarakat. setiap akan membuat rumah baru. c) Agar memperoleh ketentraman. Di samping itu. sethong. bangunan rumah adat Jawa berkembang sesuai dengan kemajuan. misalnya untuk kantor. sebagai raja. d) Di dalam suasana kehidupan kepercayaan masyarakat Jawa. joglo. b) Di dalam bangunan rumah adat Jawa tersebut ditentukan ukuran. kerangka. sinom. BAB II PEMBAHASAN 2. istana) dengan menggunakan bangun sinom mangkurat untuk Sasana Prabasuyasa. kondisi perawatan rumah. paseban dan sejenisnya. kalabang nyander. dangh yang desa. kerangka rumah. yaitu benda-benda tertentu yang disajikan untuk badan halus. ukuran dan bangunan rumah yang akan dibuat. tajug. maka bangunan rumah adat Jawa digolongkan menjadi lima macam yaitu. letak pintu pekarangan. dan kampong. dengan bentuk limasan. kemulan desa dan sebagainya. maka sebelum membuat rumah di’petang’ (diperhitungkan) dahulu tentang waktu. Berdasarkan tinjauan perubahan atapnya. tidak dilupakan adanya sesajen. Sedangkan untuk bangunan pelengkap boleh membuat bangun rumah yang lain yang tingkatannya lebih rendah. Page 2 . dan kepercayaannya ikut berperan. bentuk panggang pe. dan sebagainya. yang dikaitkan dengan status pemiliknya. dan ruang-ruang di dalam rumah serta situasi di sekeliling rumah.

2.3 CONTOH RUMAH TRADISIONAL JAWA Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasarinya sebagai bentuk rumah tinggal yaitu : Page 3 . Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan adanya penambahan-penambahan ruang pada sisi bagian bangunannya dan tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup masyarakat jawa. Pangan (minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Dimana kehidupan orang jawa mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup yaitu mencakup : Sandang (pakaian yang wajar). Gambar ”Omah” 2.2 TIPOLOGI RUMAH ADAT JAWA Tipologi rumah atau tempat tinggal yang digunakan sebagai tempat bernaung bagi masyarakat di pulau jawa disebut “omah”. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana.

Bangunan “panggangpe” ini merupakan bangunan pertama yang dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin. Rumah “panggangpe” merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan merupakan bentuk bangunan dasar. Berikut merupakan jenis-jenis dari Rumah Panggangpe : 1) Panggang Pe Pokok 2) Panggang Pe Trajumas 3) Panggang Pe Empyak Setangkep 4) Panggang Pe Gedhang Selirang 5) Panggang Pe Gedhang Setangkep 6) Panggang Pe Cere Gancet 7) Panggang Pe bentuk kios 8) Panggang Pe Kodokan (jengki) 9) Panggang Pe Barengan 10) Panggang Pe Cere Gancet Gambar. dingin. Ciri-ciri dari rumah tradisional jawa bentuk panggang pe adalah sebagai berikut : Bangunannya berbentuk sederhana Mempunyai bentuk pokok berupa tiang atau “saka” sebanyak 4 atau 6 buah. Pada bagian sisi sekelilingnya diberi dinding yang hanya sekedar untuk menahan hawa lingkungan sekitar atau dapat dikatakan sebagai bentuk perlindungan yang lebih bersifat privat dari gangguan alam. panas matahari dan hujan. Rumah Panggangpe Page 4 .A. Pada perkembangannya bentuk rumah “panggangpe” ini mengalami perubahan menjadi variasi bentukan yang lain. Rumah Panggangpe Panggang-pe : berasal dari kata panggang (dipanaskan diatas bara api) dan epe (dijemur sinar matahari).

Gedhang. dapat diketahui dari relief pada dinding candi Borobudur dan Prambanan. Rumah bentuk kampung dapat dibedakan menjadi: 1) Rumah Kampung Pokok Merupakan rumah dengan dua buah atap persegi panjang yang ditangkupkan. Gambar. 2) Rumah Kampung Pacul Gowang Adalah Rumah Kampung yang beratap emper pada salah satu sisi panjang. Gedhang-Selirang. Sehingga ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa rumah kampung sebagian besar dimiliki oleh orang-orang desa yang kemampuan finansial/ ekonominya berada di bawah. terbentuk dari empat tiang dengan satu bidang atap persegi panjang yang lereng. Rumah bentuk Kampung adalah rumah dengan denah empat persegi panjang. Rumah ini kebanyakan dimiliki oleh orang kampung atau orang jawa menyebutnya desa.Setangkep. Empyak Setangkep B. sedangkan sisi lain tanpa atap emper. Kampung berarti desa. ketela pohon dan lain-lain. 3) Rumah Kampung Dara Gepak Rumah Kampung yang beratap emper pada keempat sisinya.Rumah Kampung Kampung : berasal dari bahasa Jawa yang berarti desa atau dusun. Panggang-pe pokok ini kemudian berkembang menjadi berbagai jenis dengan pengembangan atau penggabungan dari bentuk dasarnya : Traju Mas. Ragam ini dulu memang banyak digunakan sebagai tempat menjemur daun teh. Merupakan ragam arsitektur yang paling tua dan sederhana. Kodhokan Jengki. Cerengacet. bertiang empat dengan dua buah atap persegi panjang pada sisi samping atas ditutup dengan tutup keyong. Empyak Setangkep. Page 5 . Kios. Pada masa lalu rumah bentuk kampung merupakan tempat tinggal yang paling banyak ditemukan. Barengan dan lain-lain.

11) Rumah Kampung Cere Gencet Rumah Kampung bergandengan terdiri dari dua buah. Sedangkan sisi samping yang lain tidak diberi atap emper. masing-masing bagian disebut rongrongan. 5) Rumah Kampung Klabang Nyander Rumah Kampung bertiang lebih dari delapan buah atan berpengerat lebih dari empat buah. 8) Rumah Kampung Gajah Ngombe Rumah Kampung dengan sebuah atap emper pada salah satu sisi samping. 6) Rumah Kampung Apitan Rumah Kampung dengan ander satu buah di tengah –tengah molo. 13) Rumah Kampung Semar Pinondong Rumah Kampung dengan tiang-tiang berjajar di tengah menurut panjangnya rumah. 7) Rumah Kampung Lambang Teplok Semar Tinandu Disebut Lambang Teplok karena penghubung atap brunjung dan atap penanggap masih merupakan satu tiang. Misalnya pada atap emper atau sebuah blandar sesamanya 12) Rumah Kampung Trajumas Rumah Kampung bertiang enam buah atau mempunyai tiga buah pengerat sehingga rumah ini terbagi dua.4) Rumah Kampung Gotong Mayit Rumah Kampung bergandengan tiga buah pada sebuah blandar sesamanya. tetapi kedua jenis atap dihubungkan dengan tiang utama. 10) Rumah Kampung Lambang Teplok Rumah Kampung yang mempunyai renggangan antara atap brunjung dan atap penanggap. Atap ditopang balok yang dipasang horisontal pada tiang tersebut Page 6 . 9) Rumah Kampung Gajah Njerum Merupakan Rumah Kampung dengan tiga buah emper terdiri dari dua atap emper di muka dan belakang dan sebuah lagi pada sisi samping. Disebut Semar Tinandu karena tiang penyangga di atas bertumpu pada balok blandar yang ditopang oleh tiang-tiang di pinggir atau tiang- tiangnya tidak langsung sampai ke dasar rumah.

dengan empat bidang atap. dengan denah persegi panjang bertiang empat. Pada masa lampau ada anggapan bahwa yang menggunakan ragam kampung adalah kalangan bawah yang kurang mampu. karena jenis rumah tradisional ini mempunyai denah empat persegi panjang atau berbentuk limas. Semar Tinandu dan lain-lain. Rumah Limasan Limasan : ragam Limasan mempunyai denah empat persegi panjang. Akan tetapi dewasa ini digunakan untuk 12 berbagai macam bangunan (rumah tinggal. Gambar Pacul Gowang C. Gajah Ngombe. dua bidang atap lereng yang dipertemukan pada sisi atasnya dan ditutup dengan “tutup keyong”. Jawa Timur dan beberapa daerah di Jawa barat serta pesisir pantai utara dan selatan. kantor. sekolah) bagi segenap lapisan masyarakat. Rumah Limasan merupakan salah satu bentuk rumah tradisional jawa yang dipergunakan sebagai tempat tinggal. Gambar Rumah Kampung Merupakan ragam arsitektur yang setingkat lebih sempurna dari pada Panggang-pe. Klabang Nyander. khususnya di daerah Jawa Tengah. Jompongan. Ragam dengan bentuk dasar kampung- pokok semacam ini kemudian berkembang menjadi berbagai jenis : Paculgowang. Ciri-ciri rumah Limasan :  Dinamakan Limasan. Page 7 . Srontong.

Rumah Limasan dapat dibedakan menjadi: 1) Rumah Limasan Ceblokan Rumah Limasan yang sebagian tiangnya (ujung bawah) terdapat bagian terpendam. Kejen berbentuk segi tiga sama kaki seperti enam atap keyong. namun memiliki fungsi yang berbeda.  Sistim dari kostruksi bangunannya dapat dibongkar pasang (knock down) tanpa merusak keadaan rumah tersebut. 5) Rumah Limasan Pacul Gowang Adalah Rumah Limasan memakai sebuah atap emper terletak pada salah satu sisi panjangnya. 2) Rumah Limasan Klabang Nyander Rumah Limasan yang mempunyai pengeret lebih dari empat buah sehingga kelihatan panjang. 4) Rumah Limasan Lawakan Adalah semacam Rumah Limasan Klabang nyander. konstruksi dinding pengisi juga terbuat dari lembaran kayu solid dengan bukaan-bukaan jendela yang juga terbuat dari kayu.  Selain dari Kontruksi utamanya yang terbuat dari kayu. Pada perkembangan selanjutnya rumah limasan diberi penambahan pada sisi-sisinya yang disebut empyak emper atau atap emper. Bentuk rumah ini semata-mata dilihat banyaknya pengeret dan tiang (tengah) serta susunan tiang. 3) Rumah Limasan Apitan Adalah Rumah Limasan bertiang empat dengan sebuah ander yang menopang molo di tengahtengahnya. sedangkan sisi lainnya memakai atap kejen.  Menggunakan material kayu jati secara keseluruhan pada sistem konstruksinya. Bentuk ini sering diberi atap emper tetapi pada sisi Page 8 . sedangkan pada lainnya diberi atap cukit (atap tritisan) dan sisi samping dengan atap trebil. 6) Rumah Limasan Gajah Mungkur Rumah Limasan yang memakai tutup keong pada salah satu sisi pendek. susunan tiangnya seperti Limasan Trajumas yang diberi atap emper pada keempat sisinya. dua buah atap bernama kejen/ cocor serta dua buah atap bernama bronjong yang berbentuk jajaran genjang sama kaki.  Terdiri dari empat buah atap. Bentuk ini semata-mata dapat dilihat dari cara bertumpunya tiang. Pada masa lalu rumah jenis ini kebanyakan dimiliki oleh masyarakat dengan status ekonomi menengah.

11) Rumah Limasan Cere Gancet Rumah Limasan ini dapat bergandengan pada salah satu emper masing-masing atau bergandengan/ memakai salah satu blandar sesamanya. tetapi pada bentuk ini diberi penyangga yang disebut bahu danyang. Jika bergandengan pada salah satu blandar sesamanya disebut Rumah Limasan Kepala Dua. Pada dasarnya rumah ini sama dengan Rumah Limasan Semar Tinandu. yang memakai tutup keong tidak diberi atap emper. 10) Rumah Limasan Bapangan Rumah limasan yang panjang blandarnya lebih panjang dari pada jumlah panjang pengeret biasanya memakai empat buah tiang. Sehingga bentuknya setengah limasan dan setengah kampung. 9) Rumah Limasan Semar Tinandu Rumah Limasan dengan dua buah tiang berjajar pada memanjangnya rumah dan terletak di tengah-tengah. Jika ada empernya maka diberi tiang emper. Page 9 . 7) Rumah Limasan Gajah Ngombe Adalah Rumah Limasan memakai sebuah empyak (atap) emper terletak pada salah satu sisi samping (sisi pendek). Bentuk ini biasanya untuk regol / pintu gerbang atau los pasar. 14) Rumah Limasan Semar Tinandu Rumah Limasan Tinandu terdapat pada Masjid Besar Yogyakarta. baik bergandengan pada blandar sesamanya atau pada atap emper sesamanya. Sedangkan sisi lainnya memakai atap trebil. 13) Rumah Limasan Lambangsari Rumah Limasan yang memakai lambangsari / balok pengandeng atap brunjung dan atap penanggap. sedangkan sisi lainnya memakai trebil dan kedua sisi panjang diberi cukit atau atap tritisan. bila dilihat dari depan (pintu gerbang). Tiang utama tidak kelihatan 15) Rumah Limasan Semar Pinondong Pindong artinya digendong. 12) Rumah Limasan Gotong Mayit Rumah Limasan bergandengan tiga. 8) Rumah Limasan Gajah Njerum Merupakan Rumah Limasan yang memakai dua buah atap emper pada kedua sisi panjang dan sebuah atap emper pada salah satu sisi samping (sisi pendek).

kantor. dan lain-lain. Jenis rumah tipe ini kebanyakan dimiliki oleh anggota masyarakat dengan strata sosial menengah ke atas. “kampung” dan “limasan” yang merupakan tradisi bentuk bangunan rumah di tanah Jawa. bentuk Limasan pokok tersebut diberi tambahan pada sisi-sisinya yang disebut Empat Emper. baik itu Page 10 . Terciptalah berbagai jenis Limasan. Gambar Rumah Limasan Yang dua bidang berbentuk segi tiga samakaki yang disebut Kejen atau Cocor. Limasan ini memiliki beberapa jenis antara lain Gambar Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang D. Rumah Joglo Joglo atau Tikelan : merupakan ragam arsitektur yang paling sempurna dan canggih. Ragam ini banyak digunakan baik untuk rumah rakyat. rumah bangsawan. Bentuk Rumah Joglo mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan dengan bentuk bangunan lainnya seperti “panggangpe”. dengan ukuran yang lebih besar dari dibandingkan ragam-ragam yang lain. Dalam perkembangannya. Joglo merupakan bangunan yang paling populer. regol. sedang dua bidang lainya disebut Brunjung. sekolah . bangsal. bahkan masyarakat awam sering menganggap jenis rumah tradisional ini sebagai satu-satunya bentuk rumah tradisional masyarakat Jawa. Disebut joglo karena atapnya yang berbentuk joglo. maupun fungsi-fungsi baru seperti rumah sakit.

serta kilil. yaitu tanah yang diratakan dan lebih tinggi dari tanah disekelilingnya. karena bentuk rumah Joglo membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan lahan yang lebih luas daripada jenis rumah yang lain. Ciri-ciri dari rumah joglo ini adalah :  Bentuk denah persegi panjang  Memakai pondasi bebatur. sunduk.  Uleng/ruang yang terbentuk oleh balok tumpang di bawah atap ada 2 (uleng ganda)  Terdapat godhegan sebagai stabilisator yang biasanya berbentuk ragam hias ular- ularan. serta pananggap dan penangkur di bagian bawah  Terdapat balok molo pada bagian paling atas yang diikat oleh kecer dan dudur. balok ke dua disebut tumpang. masing-masing saka ditopang oleh umpak menggunakan sistem purus  Memakai blandar. balok ke tiga dan empat disebut tumpangsari.  Menggunakan atap sistem empyak. Hal ini dapat dipahami.  Menggunakan usuk peniyung yaitu usuk yang dipasang miring atau memusat ke molo. Diatas bebatur ini dipasang umpak yang sudah diberi purus wedokan.  Terdapat 4 saka guru sebagai penahan atap brunjung yang membentuk ruang pamidangan yang merupakan ruang pusat dan 12 saka pananggap yang menyangga atap pananggap (tiang pengikut). Sehingga sangat memungkinkan untuk membuat tambahan ruangan.golongan bangsawan ataupun priyayi. Joglo ini juga tidak memiliki emper  Pada umumnya bangunan ini menggunakan bahan-bahan kayu yang lebih banyak. Mungkin karena faktor itu pula. Page 11 . 4 sistem empyak yang digunakan : brunjung dan cocor pada bagian atas. melainkan hanya dapat dimiliki orang terpandang atau terhormat. Balok pertama disebut pananggap.  Menggunakan tumpang dengan 5 tingkat. dan balok terakhir merupakan tutup kepuh yang berfungsi sebagai balok tumpuan ujung. muncul mitos dalam masyarakat bahwa joglo tidak pantas untuk dimiliki oleh rakyat jelata. pengeret. masing.masing blandar dan pengeret dilengkapi dengan sunduk dan kili sebagai stabilisator.ujung usuk atap.

Rumah Joglo Wantah Apitan Ciri umum bentuk bangunan Joglo adalah empat tiang di tengah yang disebut Saka Guru. istana raja dan pangeran. Bentuk dasar Joglo berkembang keempat arah. Page 12 . Mangkuran Limolasan. Rumah Joglo Apitan 7. Rumah Joglo Semar Tinandu 10. 2. Pada masa lampau ragam Joglo hanya diperkenankan untuk rumah kaum bangsawan. 12. Rumah Joglo Hageng (besar) 11. Rumah Joglo Pengrawit 5. Rumah Joglo Mangkurat. Macam-macam jenis Joglo adalah anatar lain : Jompongan. Rumah Joglo Ceblokan 6. ada yang berupa penambahan saja. serta orang yang terpandang saja. Rumah Joglo Kepuhan Limasan. Parang Apitan. Ceblokan. Wantah Apitan. akan tetapi ada juga yang mengakibatkan perubahan struktur secara keseluruhan. Akan tetapi dewasa ini digunakan oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain seperti gedung pertemuan dan kantor-kantor. dan digunakanya blandar bersususn yang disebut tumpang sari. Rumah Joglo Kepuhan Lawakan 3. Rumah Joglo Apitan/ Rumah Joglo Trajumas 9. Lambang Sari dan lain-lain. Gambar Rumah Joglo Jenis-jenis rumah joglo terdiri dari : 1. Kepuhan. Rumah Joglo Jempongan 4. Rumah Joglo Lambangsari 8.

Potongan Joglo Lambangsari Gambar 9. Potongan Joglo Semar Tinandu Page 13 . Denah Joglo Semar Tinandu Gambar 10. Denah Joglo Lambangsari Gambar 8. Gambar Joglo Jompongan Contoh gambar beberapa jenis rumah joglo : Gambar 7.

Orang yang masuk sentong inipun harus hatihati dan bersifat menghormati tuan rumah dalam hal ini Dewi Sri.  Sentong kiwo ( Kiri) Sentong ini merupakan tempat tidur bagi anak perempuan yang telah dinikahkan. Karena dianggap sakral.Bagian-bagian dari rumah joglo: 1. maka tidak sembarangan orang boleh memasukinya kecuali ada keperluan. Gandok berfungsi sebagai tempat penyimpanan perabot dapur. Selain itu ada lampu minyak yang selalu menyala.Gandok Gandok merupakan bangunan yang terletak di samping (pavilium). 2. Pedaringan atau Krobongan.Sentong Bagian ini pada prinsipnya digunakan sebagai tempat tidur. ruang makan dan terkadang berfungsi sebagai dapur. maka yang digunakan adalah dinding dari kayu yang mudah dibuka atau gebyok. Secara filosofis.Pendopo Pendopo merupakan bangunan terdepan dari rumah joglo yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau tempat mengadakan upacara-upacara adat. cermin dan sisir. Pada umumnya pendopo selalu terbuka atau tidak diberi dinding penutup. Sentong ini dianggap sakral dan digunakan untuk pemujaan. Sentong baru dibuka atau dipakai untuk tidur setelah anaknya dinikahkan. Masyarakat Jawa yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada bidang pertanian. 3. Di sentong tengah ini diletakkan tempat tidur atau kantil lengkap dengan bantal guling. percaya bahwa Sentong Tengah adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang yakni Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan. Sentong ini terbagi menjadi tiga yaitu:  Sentong Tengen ( Kanan ) Sentong Tengen dipergunakan sebagai tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah dinikahkan. maka pintu sentong akan selalu tertutup atau terkunci. Tetapi sebelum orang tua menikahkan anaknya. Arah membujur gandok melintang pada rumah belakang. Kalaupun memakai penutup. Biasanya menempel dengan bangunan bagian belakang. 4.  Sentong Tengah Sentong Tengah disebut juga Petanen. Pasren. hal ini menggambarkan adanya prinsip keterbukaan yang dianut oleh tuan rumah.Pringgitan Page 14 . baik di siang hari maupun malam hari.

Pringgitan merupakan bangunan yang biasanya terletak di antara pendopo dan dalem. Gambar Interior Rumah Joglo Page 15 .Kuncung Kuncung adalah bangunan yang terletak di samping atau depan pendopo yang berfungsi sebagai tempat bersantai misalnya minum teh atau membaca koran. Pawon Pawon merupakan bagaian dari suatu rumah joglo yang dipergunakan sebagai tempat untuk memasak. 5. 6. Bangunan ini dipakai untuk pementasan wayang/ ringgit.

Bentuk ini tidak jauh berbeda dengan rumah tradisional bali. Rumah ini digolongkan menjadi 5 bagian yaitu. dan kampung. Masing-masing rumah memiliki ciri khas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan status sosial kepemilikan dan kedudukan pemiliknya dalam lingkungan masyarakat.1 KESIMPULAN Rumah tradisional jawa merupakan salah satu kekayaan arsitektur nusantara yang patut dilestarikan. BAB III PENUTUP 3. Tiap-tiap rumah diatas juga memiliki jenis-jenis rumah yang beraneka ragam pula. limasan. tajug. rumah ini juga terdiri dari saka-saka yang menopangnya. panggangpe. joglo. Bentuk fisik dari rumah adat jawa ini sangatlah sederhana dengan bentuk serupa yaitu bujursangkar. dan dengan atap berbentuk limasan. Page 16 . Selain itu.