You are on page 1of 4

Manusia di Panggung Sandiwara

manusia ini... manusia yang pernah menyatakan cinta dan kasih pada gadis lain. Manusia ini juga
yang pernah mengucap janji untuk selalu bersama walau apapun yang terjadi. Manusia ini yang
meminta untuk sigadis mempertahankan cintanya. Janji dan sumpah sudah terucap. Seiyah sekata
dan serasa sudah menjadi ikatan. Yah... mausia inilah yang memiliki banyak warna... terkadang
manusia ini memakai banyak warna untk melukis dan berkreasi sesuka hatinya. Tapi walau begitu
apapun warna dari manusia ini. Banyak orang yang menikmatinya. Waktu berjalan dan bergulir.
Manusia ini melaluinya setapak demi setapak. Tapi disaat keadaan dan waktu menekan dan manusia
dipaksa untuk memilih. Manusia ini memilih untuk mengambil jalan yang semestinya. Tanpa bicara
sepatah kata pada orang yang pernah serasa dengan nya. Manusia ini juga yang mengambil
keputusan sepihak. Tanpa melihat dan memandang hati sekitanya. Aku menulis ini.. aku adalah dia...
aku yang pernah kau temani. Yang kau sempat menggerai rambut ku dan kau juga yang sempat
membersihkan lukaku. Aku ... aku sealu berharap untuk menjadi orang disampingmu. Aku tak
bermakna lagi dimatanmu. Sadarkah kau... bahwa mimpi ku dan indahku tlah berlalu begitu saja.
Salahkah aku yang menyayangimu walau kutahu ku takkan pernah ada dihatimu. Egokah aku jika aku
memintamu untuk berbicara padaku. Kuharap kau mampu mengambil keputusan. Aku menangsi
mu.... karena sikapmu yang amburadul. Aku menangis bukan karena aku tak milikimu. Bagiku
kebahagiaan itu cukup sederhana. Dengan melihat tersenyum itu sajah sudah lebih dari ckup. Aku
tak pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku juga tak menyesal sudah pernah jatuh dipelukanmu.
Tapi aku sedih dan kecewa... dimana kau curangi aku. Dimana kau dustai aku. Kau akhiri hubungan ini
sepihak. Kau mainkan hati dan perasaanku. Kau tarik ulur hatiku. Aku terlalu bodoh dalam cintamu.
Aku terlalu hanyt dalam jalanmu. Samapi aku tak mampu untuk membedakan mana bahagia itu dan
mana sedih itu.
gambaranmu... gambar itu.. bayangan itu.. membuatku seakan tak mampu lagi untuk berdiri tegar.
Melihatmu seakana dunia ini merupakan panggung sandiwara.

Kembali sebuah perumpamaan menghampiri mereka. Ibarat saat sebuah perahu layar ditengah
lautan luas yang gelombang nya sangat menakutkan. Dan gelombang ini ingin menelan habis perahu
layar ini. Nahkodanya merasa bingung hendak apa yang ingin dilakukannya. Akhirnya nahkoda ini pun
mengambil pelampung dan tanpa mencari awak kapal lainya. Nahkoda ini menyelama
manusia ini... Dia adalah sesosok orang yang bijaksana. Dia adalah orang yang tak terlalu banyak
bicara. Dia merupakan orang yang sangat simpel dan penuh dengan misteri. Dia penuh dengan
makna. Dia mampu untuk melakukan hal-hal yang tak terfikirkan. Tidak mudah untuk menjadi bagian
dari perhatiannya. Karena Dia bukanlah manusia yanag terlalu mudah untuk memperhatikan. Hal
inilah yang selalu membuat orang-orang disekitarnya merasa penasaran dan kagum. Manusia ini
manusia yang sangat misteri. Kemisteriannya inilah yang membuatnya mendapat banyak simpatik
dan kagum dari lawan jenisnya.

Manusia ini entah sudah berapa kali mengucap kata cinta pada yang lain. Dan manusia ini juga yang
entah sudah berapa kali juga mengatakan kata aku peduli pada lawan jenisnya. Manusia ini selalu
saja membuat sesuatu hal yang akhirnya meluluhkan hati lawan jenisnya. Cukup heran dengan
manusia ini. Tapi inilah gambaran dan cuplikannya sebelum pembaca mengetahui lebih lagi tentang
manusia ini.

Mungkin ... manusia ini bukan sekali ataupun duakali dalam pengucapan kata cinta terhadap orang
yang berbeda. Tapi manusia ini masih mempercayai mitos tentang cinta pertamabahwa cinta
pertama itu sulit untuk dimusnahkan walau cinta pertamanya tak bisa dimilikinya. Manusia ini
memiliki cinta pertama yang sampai sekarang dia tak mampu untuk melupakannya. Manusia ini
sudah tahu bahwa cinta pertamanya sudah tak kan mungkin lagi bisa menjadi miliknya. Begitu juga
dengan sebaliknya. Mereka tak kan bisa saling memiliki. Tapi manusia yang satu ini masih saja
berjuang dan berjuang lagi untuk bisa bertemu dan berbicara dari hati kehati pada cinta pertamanya.
Walau lawan jenisnya itu mengatakan bahwa cinta kita dulu adalah cinta monyet tapi manusia ini
tetap pada hatinya. Dan manusia ini masih saja pada ketetapan hatinya. Bahwa walau kita tak
bersama namun aku masih punya hati pada cinta pertamaku.

Tak tahu sampai berapa lama mereka menjalin hubungan yang tak ada ikatan. Tapi mungkin mereka
menikmati hubungan mereka. Karena itu dapat terlihat dengan jelas bahwa manusia ini tak pernah
mau melihat cinta pertamanya mengeluh atau merasa tak nyaman. Dan tak tahu sampai sejauh mana
hubungan mereka. Tapi akhirnya cinta pertamanya pergi keluar kota dan melangsungkan hidup di
sana tanpa membawa kekasihnya. Jarak memisahkan kedua insan ini. Tapi manusia ini masih tetap
memantaunya dari jarak kejauhan dengan berbagai cara. Sungguh bukti yang sangat nyata untuk
mitos cinta pertama.

Setapak jalan terlalui dan seiring pergantian musim salju. Manusia ini mencoba untuk bersikap lebih
dewasa dan bijksana lagi dalam tiap hal. Yah... dalam tiap hal dan tiap insan yang berbeda. Dan untuk
kesekian kalinya.. manusia ini kembali memenangkan 1 hati lagi. Tak tahu bagaimana cara manusia
ini untuk dapat memenangkan tiap hati lawan jenisnya. Tapi sungguh nyata bahwa manusia ini
memang pantas untuk mendapatkan hati yang lainya.

Dapat dilihat... bahwa manusia ini dapat membuat nyaman orang yang ada disampingnya. Dan
manusia ini bukan hanya memenangkan hati. Bahkan jiwa raga dia telah dimenangkan oleh manusia
ini. Lembut dan Halus perawakannya, sopan dan santun tuturnya. Membuat dia menjadi sangat
berharga dan nyaman berada disisi dan di samping manusia ini. Bagaimana tidak merasa nyaman?
Soalnya tiap menit bahkan detiknya, manusia ini selalu memperhatikan dia. Kita sebut saja dia itu
adalah Laras. Yah.. Laras memang cukp nyaman berada didekat manusia ini. Dan Laras tiada pernah
membatasi diri terhadap manusia ini. Laras selalu menganggap manusia ini adalah cerminannya.
Cerminan. Laras mengibaratkan dimana saat Laras sedang memandang manusia ini seperti Laras
sedang bercermin. Mesra dan harmonis mereka jalani bersama. Janji dan sumpah terucap. Bahwa
cinta yang menyatukan dan cinta jugalah yang bakalan memisahkan. Sungguh suatu fatamorgana.
Dimana disaat hujan mulai berjatuhan dengan butiran kecilnya, dibawah atap pondok cinta. Kedua
insan ini menyatukan hati dan cinta. Mengucap kata seia sekata bahkan serasa. Terkadang bukan
hanya hujan yang menyatukan. Namun bulan bintang dan matahari menyaksikan kedua insan ini
saling mengikat janji dan saling mengatakan I Love You always and forever.

Tak selesai sampai disini. Kedua insan banyak mengalami suatu penekanan dan tantangan. Namun
begitulah sebuah pelayaran. Kedua insan ini meyakini bahwa tak ada lautan yang tak bergelombang.
Dan jika memang takut gelombang buat apa berlayar. Kalimat inilah yang mereka pegang... buat apa
bercinta jika takut masalah dan kecewa karena namanya perjalanan tak akan selamanya berjalan
dengan mulus.

Manusia ini selalu memberi semangat yang tak berkesudahan pada Laras agar menguatkan hati jika
apapun yang terjadi. Walau badai menerpa namun manusia ini berjanji untuk selalu menggenggam
erat tangan Laras. Bukan hanya sekedar erat bahkan mengikat dengan tali mati bahwa Laras akan
tetap dipertahankannya. Dan Tak kan pernah ingin berniat mengingkarinya.

Namun saat keadaan dan waktu begitu menyesak sampai kian menekan yang mengakibatkan kedua
insan ini sulit bernafas. Karena diperhadapkan didalam sebuah dilema yang menyiksa. Dan kedua
insan ini harus terpaku oleh detik. Dan kedua insan ini berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap
tenang dan pasrah. Namun Laras tetap pada 1 hati dan 1 janji. Namun mulailah Manusia ini ragu
akan hatinya. Kembali Laras meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja. Namun apalah daya.
Cinta tak selamanya berpihak pada kedua insan ini. Akhirnya kedua insan ini berdiam diri untuk
waktu dan keributan. Berdiam. Yah.. diam. Manusia ini berdiam seorang diri. Sementara Laras juga
berdiam dan kembali masih mempercayai janji itu. Sementara manusia ini sudah mulai ragu dan
bimbang.

Laras selalu berupaya mencari tahu apa dan bagaimana dan mengapa dengan semua hal yang terjadi
pada mereka. Namun tak mendapat sedikitpun kata bahkan huruf dari manusia ini. Laras masih
memegang teguh pada sumpah dan janji cinta mereka. Diamdiamdan diam tanpa isyarat
sedikitpun itulah yang dilakukan manusia ini. Sehingga rasa penasaran, gelisah tak menentu dan
ketakutan beradu menjadi satu rasa. Tapi semakin Laras mencari tahu semakin manusia itu menjauh
darinya. Yang akhirnya membuat Laras berpasrah pada kenyataan dan menerima segala cara dan
tingkah yang dilakukan manusia itu padanya.

Laras masih menanti. Hingga suatu malam, Laras hendak mengenang massa dimana saat saat
terindahnya dan tanpa disangka sangka, akhirnya manusia itu memberi kabar dan isyarat. Sungguh
mengejutkan buat hati Laras. Hampir memasuki bulan ke-3 tanpa kabar. Akhirnya manusia ini
memberi kabar. Manusia ini menyatakan perasaannya tentang kerinduan yang mendalam pada Laras,
menyatakan bahwa batinnya tersiksa dengan orang disekelilingnya, menyatakan bahwa manusia ini
begitu mencintai dan menyayangi Laras. Akhirnya Laras yang hatinya memang masih
menginginkannya. Kembali lagi meresponnya. Dan mereka saling mengucap kata rindu dan sayang.

Tapi apa yang terjadi?? Apa menurut kalian mereka kembali bersatu? Ternyata tidak. Ucapan
manusia itu hanyalah ucapan semata saja. Manusia itu berbohong, manusia itu bersandiwara.
Manusia itu hanya berniat untuk menyuci dan membersihkan nama sendiri. Manusia itu tidak
dengan sungguh sungguh mengucapkan kerinduannya. Sungguh malang dan tragis hati Laras
yang dipermainkan dan hanya di lukai. Dan tak sekedar hanya itu, manusia itu malah member cerita
pada orang disekitarnya tentang perasaan Laras yang begitu bodoh mencintainya. Mungkin manusia
ini dengan kebanggaannya menceritakan semuanya dan menjadikan cinta Laras sebagai bahan
perbincangan yang menarik dan layak ditertawakan.

Tapi adakah yang bisa dilakukan Laras? Selain hanya menangis. Menangis dan menangis. Meratapi
dan mengingat janji manis itu. Manusia itu yang tak mau tahu lagi dengan Laras. Manusia itu yang
tak mau mempertanggungjawabkan semua masalah hati itu. Manusia itu yang memulai tapi manusia
itu juga yang mengakhiri. Manusia itu yang berjanji dan manusia itu pula yang ingkari. Hanya
perbedaan nya, saat ingin merajut tali kasih mereka bersama membuat kesepakatan, namun saat
ingin memutuskan benang cinta itu, manusia itu memutuskan dengan sepihak. Tanpa menanyakan
atau melihat bagaimana keadaan jarum dan benang itu, sehingga saat benang itu diputuskannya,
jarum itu mengenai si Laras. Laras memang tak berdarah, Laras memang tak tergores. Namun Laras
tetap merasakan perih dan luka yang mendalam.

Sebenarnya Laras tak terima dengan perlakuan manusia ini. Namun Laras berusaha menunjukkan
bahwa cintanya bukanlah cinta biasa. Laras mencoba memahami dan mengerti alur permainan
manusia ini. Mencoba menyelesaikan masalah hati ini sendiri dan mulai berserah pada Tuhan. Dan
akhirnya Laras mengerti bahwa cinta tak harus selalu memiliki. Tapi Laras selalu mencoba bertanya
Tanya pada hati nya, salahkah aku yang mencintaimu tanpa sebab walau ku tahu ku tak kan pernah
ada dihatimu? dan egokah aku jika aku meminta kau berbicara untuk terakhir kalinya buatku dan
mengembalikan cinta dan hatiku . Tapi akhirnya Laras selalu berfikir positif dan tidak mau
mengambil pusing lagi dengan tingkah manusia itu. Namun 1 hal yang tak kan pernah lekang di
pikiran Laras adalah semua manusia laki laki itu tak ada yang bisa dipercaya, semuanya hanyalah
penipu saja

Dan tanpa ada titik pertemuan semua berlalu ditelan waktu. Laras dan manusia ini bertingkah seolah
tak pernah terjadi apapun. Walau terkadang hati Laras rindu dan benci. Tapi Laras selalu berusaha
menjauhkan rasa benci itu dari benaknya. Laras selalu berusaha mengingat pesan manusia itu saat
mereka saling berpeluk mesra. Bahwa Laras harus menjadi lebih dewasa lagi. Laras tak ingin
membencinya, karena jika Laras membencinya berarti Laras menyakiti dirinya sendiri.

Laras tetap menyayanginya. Benar menyayanginya, tapi bukan berarti manusia itu bisa sesuka
hatinya datang dan pergi kedalam kehidupannya. Dalam Doa Laras pasti selalu mengikutkan nama
manusia itu.

Manusia itu kini tak pernah lagi terlihat oleh mata bahkan hati. Namun Laras selau berfikir bahwa
manusia ini adalah manusia yang cukup beruntung yang memiliki banyak orang yang menyayanginya.
Saat Laras rindu sosok manusia itu, Laras selau pergi kemanapun daerah tempat dimana Laras sering
dibawanya. Dan 1 terindah yang tak kan pernah Laras lupakan. Tempat pertama dan tempat terakhir
Laras pernah dibawa. Dan saat Laras ingat kecurangan manusia itu. Laras selalu berkata Terimakasih
ntuk luka yang kau beri. Namun saat Laras mengingat massa indahnya, Laras selalu berkata kau tak
mudah kulupakan, kau begitu merasuk kejiwaku.

Dan sampai sekarang Laras tak mau bermain bahkan mendekati yang namanya area cinta. Baginya
cinta itu hanya kata yang artinya tak pernah habis. Cinta yang berada dipanggung sandiwara..