You are on page 1of 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

M DENGAN

GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULAR

HIPERTENSI DI RUANG MENGKUDU

RSU Dr. RM. DJOELHAM

KOTA BINJAI

DI

OLEH :

1. Deni ariansyah

2. Chairul saleh

AKADEMI KEPERAWATAN SEHAT BINJAI


T.A 2011-2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis mengucapkan kehadirat Allah SWT atas segalanya


berkat limpahan rahmatnya yang mana telah memberikan hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan
Gangguan Sistem Kardiovascular Hipertensi di Ruang Mengkudu RSUD Dr.RM
Djoelham Binjai.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan baik
dari segi penulisan, isi dan juga penggunaan tata bahasa yang baik dalam
penulisan laporan ilmiah ini. Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak, baik dalam bantuan moril maupun materil, maka pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak H. Hasan Basri Nasution,SKM,M.Kes selaku Ketua Yayasan Akademi


Keperawatan Sehat Binjai
2. Bapak Ilham Syahputra Siregar,S.Kep selaku Direktur Akademi Keperawatan
Sehat Binjai
3. Bapak Dr.Mahim M.S Siregar Mars selaku Direktur RSUD RM Djoelham Kota
Binjai
4. Ibu Tukinem AMK selaku Kepala Ruangan Mengkudu yang banyak membantu
dalam proses penyelesaian laporan kasus ini
5. Ibu Rahayu Kumala Dewi,S.Kep selaku Dosen Pembimbing yang telah member
pengarahan dalam menyusun laporan kasus ini
6. Para staff dosen Akademi Keperawatan Sehat Binjai
7. Kepada orang tua tercinta yang telah member dukungan baik itu moril maupun
materil, serta selalu mendoakan penulisa dalam menjalankan pendidikan di
Akademi Keperawatan Sehat Binjai
8. Rekan mahasiswa/i Akper Sehat Binjai atas motivasi serta saran dan kritik
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.

Akhir dengan rendah hati dan hanya kepada Allah SWT penulis berserah
diri. Semoga laporan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan
pembaca pada umumnya, semoga Allah SWT memberi berkahnya bagi kita
semua. Amiin

Binjai, April 2012


Tim
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I :................................................................................................................
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Ruang Lingkup Masalah
1.3.
Tujuan Penulisan
1.3.1.
Tujuan Umum
1.3.2.
Tujuan Khusus
1.4.
Metode Penulisan

BAB II :................................................................................................................
TINJAUAN TEORITIS
2.1. ............................................................................................................................
Hipertensi
2.1.1. . Defenisi
2.1.2. Anatomi Fisiologi
2.1.3. . Etiologi
2.1.4. . Patofisiologi
2.1.5. . Tanda dan gejala
2.1.6. . Komplikasi
2.1.7. . Penatalaksanaan
2.1.8. Pencegahan
2.1.9. Pengobatan
2.1.10. Pemeriksaan penunjang......................................................................

2.2. ............................................................................................................................
Asuhan Keperawatan
2.2.1. . Pengertian
2.2.2. . Diagnosa keperawatan
2.2.3. . Intervensi
2.2.4. . Implementasi
2.2.5... Evaluasi

BAB III .................................................................................................................


: TINJAUAN KASUS
3.1. .... Pengkajian
3.1.1... Identitas pasien
...................................................................................................................................
3.1.2. Keluhan utama pasien
...................................................................................................................................
3.1.3 Riwayat kesehatan sekarang
...................................................................................................................................
3.1.4 Riwayat kesehatan dahulu
...................................................................................................................................
3.1.5 Riwayat kesehatan keluarga
...................................................................................................................................
3.1.6. Riwayat / keadaan psikososial
...................................................................................................................................
3.1.7. Pemeriksaan fisik
...................................................................................................................................
3.1.8. Pengkajian pola fungsional
...................................................................................................................................
3.1.9 Data penunjang
...................................................................................................................................
3.1.10 Analisa data
...................................................................................................................................
3.1.11 Diagnosa keperawatan

BAB IV :................................................................................................................
PEMBAHASAN
4.1. ............................................................................................................................
Pengkajian
4.2. ............................................................................................................................
Diagnosa keperawatan
4.3..............................................................................................................................
Perencanaan
4.4..............................................................................................................................
Pelaksanaan
4.5..............................................................................................................................
Evaluasi

BAB V :................................................................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Negara industri hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan

utama. Di Indonesia Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu

diperbaikan oleh dokter yang bekerja pada kesehatan primer, karena angka

prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang di timbulkannya.

Berdasrkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu : Hipertensi primer,

yang tidak di ketahui penyebabnya atau diopatik, Hipertensi sekunder yaitu

hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.

(Suyono, 2001, h 453)

Di Indonesia banyak penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang, tetapi

hanya 4%, yang merupaka hipertensi terkontrol. Privalensi 6-15% pada orang

dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga

mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan

tidak mengetahui faktor resikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial. Hasil

peneltian dari MONICA (multinational monitoring kardiovascular diseases),

angka kejadian di Indonesia berkisar 2-18% diberbagai daerah, jadi di Indonesia

saat ini kira-kira terdapat 20 juta orang penderita hipertensi.


(Weblog, ririns)

Perjalanan penyakit hipertensi sangatlah perlahan. Penderita hipertensi

mungkin tidak menunjukan gejala selama bertahun-tahun, masa laten ini

menyelubungi perkembangan penyakit, sampai terjadi kerusakan organ yang


penting. Bila terdapat gejala maka biasanya bersifat non-spesifik. Misalnya sakit

kepala atau pusing, apabila hipertensi tetap tidak diketahui dan tidak dirawat

mengakibatkan kelemahan karena stroke atau gagal ginjal mekanis.


(Sylvia Anderson, 2006 : h 583)

Penyakit jantung hipertensi ditegakan bila dapat dideteksi hipertrofi

ventrikel kiri sebagai akibat langsung dari peningkatan bertahap tahanan

pembuluh ferifer dan beban aktif ventrikel kiri. Faktor yang menentukan

hipertrofi ventrikel kiri adalah derajat dan lamanya peningkatan diastolik.

Pengaruh faktor genetik disini lebih jelas.


(Mansjoer, 2001 : h 441)

Hipertensi biasanya dimulai diam-diam umumnya setelah usia 30 tahun

atau 40 tahun. Dalam kasus-kasus pencegahan, penyakit ini bisa dimulai lebih

awal. Pada tahap awal, tekanannya mungkin naik secara berkala, misalnya pada

situasi stress biasanya, ketika mengendarai mobil jarak jauh, dan kembali ke

normal lebih lama dari biasanya. Atau tekanannya mungkin hanya naik saat

bekerja, tidak pada istirahat atau berlibur. Pada kasus-kasus seperti ini kita

membicarakan hipertensi labil. Atau jika angkanya terletak diatas kesasaran

normal, kita menyebutnya hipertensi perbatasan namun, jika angkanya diatas

normal secara konsisten, penyakitnya telah berkembang ketahap stabil

hipertensi kronis bisa memiliki berbagai bentuk. Contohnya sangat banyak,

bahkan setiap rumah sakit mengetahui orang-orang muda dengan tekanan darah

yang sangat tinggi, dari 200/120 samapi 250-140.


(Hans p. wolf. 2006 : h 63)
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang

lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik) angka yang lebih

rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik) tekanan darah kurang

dari 120/80 mmHg di defenisikan sebagai normal pada tekanan darah tinggi

bisanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi

pada tekanan darah 140/90 mmHg atau keatas, diukur kedua lengan iga dalam

jangka beberapa minggu.


(weblog, Wikipedia-indonesia/)

1.2 Ruang lingkup

Dalam penulisan kasus ini penulisa akan mengambil kasus yaitu Asuhan

Keperawatan pada Tn.M dengan Gangguan Sistem Kardiovascular Hipertensi di

Ruang Mengkudu di RSUD DR.RM Djoelham Kota Binjai.

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk menerapkan dan mengetahui gambaran Asuan Keperawatan pada

Tn.M dengan Gangguan Sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang Mengkudu

RSUD Dr. RM Djoelham kota binjai.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada Tn.M dengan gangguan

sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham

kota Binjai

b. Dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem

Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota

Binjai

c. Mampu menyusun perencanaan keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem

Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota

Binjai

d. Mampu melaksanakan pelaksanaan keperawatan pada Tn.M dengan gangguan

sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham

kota Binjai

e. Mampu melaksanakan evaluasi pada Tn.M dengan gangguan sistem

Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota

Binjai.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis dalam penulisan Karya Ilmiah ini adalah

metode kognitif yang metode ilmiah yang bersifat menggambarkan keadaan yang

sebenarnya dan metode deskriptif yang memaparkan pokok masalah yaitu dengan

cara :

a. Study kepustakaan
Yaitu dengan membaca dan mempelajari buku-buku yang mengacu dan

berhubungan dengan pembahasan yang dibahas pada kardiovascular hipertensi

b. Study kasus

Yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung atau melaksanakan asuhan

keperawatan langsung pada pasien melalui wawancara, observasi langsung dan

dokumentasi.

- Wawancara

Yaitu melakukan wawancara langsung pada pasien maupun pada kelurga pasien

dan juga perawat yang ada diruangan tersebut untuk memperoleh keterangan yang

jelas, baik subjektif maupun objektif.

- Dokumentasi

Yaitu penulisan memperoleh data dari status pasien dan medical record.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi

Imu pengobatan mendefinisikan hipertensi sebagai suatu peningkatan

kronis (yaitu meningkat secara berlahan-lahan, bersifat menetap) dalam tekanan

darah arteri sistolik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi tidak peduli

apa penyebabnya, mengikuti suau pola yang khas. (Wolff.2006 : h 62)

Hipertensi didefenisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik

sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastoliknya sedikitnya 90 mmHg. Istilah

tradisional tentang hipertensi ringan dan sedang gagal menjelaskan pengaruh

utama tekanan darah tinggi pada penyakit kardiovaskular. (Anderson : 2006. h

582)

Darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah

seseorang berada pada tingkatan diatas normal. Konsekwensi dan keadaan ini

adalah timbulnya penyakit yang menggangu tubuh penderita. Dalam penyakit

hipertensi merupakan masalah kesehatan dan memerlukan penanggulangan

dengan baik. (Sudjaswandi : 2002. h 17)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi

peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka lama) penderita yang

mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90


mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan

darah tinggi adalah salah satu resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal

jantung, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. (weblog,

wikipedia indonesia)

2.1.2 Anatomi Fisiologi

Sistem peredaran darah manusia terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan

saluran limfe. Jantung merupakan organ penting yang memompa darah dan

memelihara peredaran melalui saluran tubuh.

Arteri membawa darah dari jantung

Vena membawa dara ke jantung

Kapiler menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya dan

merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan buangan. Disini juga terjadi

pertukaran gas dalam cairan ekstra seluler atau intershil. Saluran limfe

mengumpulkan, menggiring dan menyalurkan kembali ke dalam limfenya yang

dikeluarkan melalui dinaing kapiler halus untuk membersihkan jaringan. Saluran

limfe ini juga dapat dianggap menjadi bagian sistem peredaran.

Denyut arteri adalah suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah

dipompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba ditempat arteri temporalis

diatas tulang temporal atau arteri dorsalis pedis di belokan mata kaki. Kecepatan

denyut jantung dalam keadaan sehat berbeda-beda, dipengaruhi penghidupan,

pekerjaan, makanan, umur dan emosi. Irama dan denyut sesuai dengan siklus

jantung jumlah denyut jantung 70 berarti siklus jantung 70 kali per menit.

Kecepatan normal denyut nadi per menit :


Pada bayi yang baru lahir 140

Selama tahun pertama 120

Selama tahun kedua 110

Pada umur 5 tahun 96-100

Pada umur 10 tahun 80-90

Pada orang dewasa 60-80


(Pearce. 2009 : h 151)

Tekanan Darah

Tekanan darah sangat penting dalam sirkulasi darah dan selalu diperlukan

untuk daya dorong yang mengalirkan darah didalam arteri, arteriola, kapiler dan

sistem vena sehingga darah didalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena

sehingga terbentuk aliran darah yang menetap. Jantung bekerja sebagai pemompa

darah dapat memindahkan darah dari pembuluh vena ke pembuluh arteri. Pada

sirkulasi tertutup aktivitas pompa jantug berlangsung dengan cara mengadakan

kontraksi dan relaksasi sehingga menimbulkan perubahan tekanan darah dan

sirkulasi darah. Pada tekanan darah didalam arteri kenaikan arteri pada puncaknya

sekitar 120 mmHg tekanan ini disebut tekanan stroke. Kenaikan ini menyebabkan

aorta mengalami distensi sehingga tekanan didalamnya turun sedikit. Pada saat

diastole ventrikel, tekanan aorta cenderung menurun sampai dengan 80 mmHg.

Tekanan ini dalam pemeriksaan disebut dengan tekanan diastole.

Kecepatan Tekanan

Kecepatan aliran darah bergantung pada ukuran palung dari pembuluh

darah. Darah dalam aorta bergerak cepat, dalam arteri kecepatan berkurang dan
sangat lambat pada kapiler, dalam arteri kecepatan berkurang dan sangat lambat

pada kapiler. Faktor lain yang membantu aliran darah kejantung maupun gerakan

otot kerangka mengeluarkan tekanan diatas vena, gerakkan yang dihasilkan

pernafasan dengan naik turunnya diafragma yang bekerja sebagai pemopa, isapan

yang dikeluarkan oleh atrium yang kosong sewaktu diastole menarik darah dari

vena dan tekanan darah arterial mendorong darah maju. Perubahan tekanan nadi

pengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi tekanan darah, misalnya pengaruh usia

dan penyakit arteriosklerosis. Pada keadaan arteriosklorosis, olasitias pembuluh

darah kurang bahkan menghilang sama sekali, sehingga tekanan nadi meningkat.

Kecepatan aliran darah dibagian tengah dan pada bagian tepi (ferifer) yang

dekat dengan permukaan bagian dalam dinding arteri adalah sama, aliran bersifat

sejajar yang konsentris dengan arah yang sama jika dijumpai suatu aliran darah

dalam arteri yang mengarah kesegala jurusan sehingga memberikan gambaran

aliran yang yang tidak lancer. Keadaan dapat terjadi pada darah yang mengatur

melalui bagian pembuluh darah yang mengalami sumbatan atau vasokonstriksi.

(Drs_H.Syaifuddin. 2006 : h 130)

2.1.3 Etiologi

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan

penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

prevalensi hipertensi seperti umur, obesitas, asupan garam yang tinggi adanya

riwayat hipertensi dalam keluarga.

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya

disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus banyak faktor yang
mempengaruhi seperti genetik, lingkungan hiperaktivitas susunan saraf simpatis.

Dalam defekekstesi Na peningkatan Na dan Ca intra selular dan faktor-faktor

yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.

2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab

spesifiknya diketahui seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal. Hipertensi

vascular renal dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain.

(Arif Manjoer. 2001 : h 518)

Penyebab hipertensi lainnya adalah feokromositoma, yaitu tumor pada

kalenjar adrenal yang menghasilkan hormone edinefrin (adrenalim) atau

noredinefrin (noradrenalin) kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif

(malas), stress, alkohol, atau garam dalam makanan bisa memicu terjadinya

hipertensi pada orang-orang yang memiliki kenaikan yang diturunkan stress

cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu. Jika

stress berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. (Weblog,

Wikipedia indonesia)

2.1.4 Patofisiologi

Pada stadium permulaan hipertensi hipertrofi yang terjadi adalah difusi

(konsentik). Pada masa dan volume akhir diastolik ventrikel kiri. Pada stadium

selanjutnya, karena penyakit berlanjut terus, hipertrofi menjadi tak teratur dan

akhirnya akibat terbatasnya aliran darah koroner menjadi eksentrik, berkurangnya

rasio antara masa dan volume jantung akibat peningkatan volume diastolik akhir

adalah khas pada jantung dengan hipertrofi eksentrik. Hal ini diperlihatkan

sebagai penurunan secara menyeluruh fungsi pompa (penurunan fraksieleksi)


penigkatan tegangan dinding ventrikel pada saat sistolik peningkatan konsumsi

oksigen ke otot jantung serta penurunan efek-efek mekanik pompa jantung.

Diperburuk lagi bila disertai dengAn penyakit dalam jantung koroner.

Walaupun tekanan perkusi koroner meningkat, tahanan pembumluh darah

koroner juga meningkat sehingga cadangan aliran darah koroner berkurang.

Perubahan hemodinamik sirkulasi koroner pada hipertensi berhubungan erat

dengan derajat hipertrofi otot jantung.

Ada 2 faktor utama penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner yaitu :

1. Penebalan arteriol koroner, yaitu bagian dari hipertrofi otot polar dalam resitensi

seluruh badan. Kemudian terjadi valensi garam dan air mengakibatkan

berkurangnya compliance pembuluh ini dan meningkatnya tahanan perifer.

2. Peningkatan hipertrofi mengakibatkan berkurangnya kepadatan kapiler per unit

otot jantung bila timbul hipertrofi menjadi faktor utama pada stadium lanjut dan

gambaran hemodinamik ini

Jadi faktor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat penyakit

meskipun tampak sebagai penyebab patologis yang utama dari gangguan aktivitas

mekanik ventrikel kiri. (Arif Manjoer. 2001 : h 441)

2.1.5 Tanda dan Gejala

Pemeriksaan yang paling sederhana adalah palpasi hipertensi karateristik

lama, untuk bertambah bila terjadi dibatasi ventrikel kiri iktusikordis bergerak kiri

bawah, pada kultasi Pasien dengan hipertensi konsentri dapat ditemukan 5 bila
sudah terjadi jantung didapatkan tanda-tanda rusiensi mitra velature. (Arif

Mansjoer. 2001 : h 442)

Pada stadium ini hipertensi, tampak tanda-tanda rangsangan sipatis yang

diakibatkan peningkatan aktivitas system neohormonal disertai hipertomia pada

stadium, selanjutnya mekanisme kopensasi pada otot jantung berupa hiperpeuti.

(Arir Mansjoer. 2001 : h 442)

Gambaran klinis seperti sakit kepala adalah serta gejala gangguan fungsi

distolik dan peningkatan tekanan pengsien ventrikel walaupun fungsi distolik

masih normal, bila berkembang terus terjadi hipertensi eksentri dan akhirnya

menjadi dilarasi ventrikel kemudian gejal banyak datang. Stadium ini kadang kala

disertai dengan sirkulasi ada cadangan aliran darah ovoner dan makin membentuk

kelaianan fungsi mekanik/pompa jantung yang selektif. (Mansjor, 2001 : h 442)

2.1.6 Komplikasi

Organ-organ tubuh sering terserang akibat hipertensi antara lain masa

berupa pendarahan vetria, bahkan gangguan pada penglihatan sampai kebutahan,

gagal jantung, pecahnya darah otak. (Arif Mansjoer, 2001)

2.1.7 Penatalaksanaan

Pengbobatan dirujukan untuk menurunkan tekanan darah menjadi normal,

pengobatan jantung karena hipertensi, mengurangi morbilitas dan moralitas

terhadap penyakit kardiovascular dan menurunkan faktor resiko terhadap penyakit

kardiovascular semaksimal mungkin.

Untuk menurunkan tekanan darah, dapat ditujukan 3 faktor fisiologis yaitu

: menurunkan isi cairan intravascular dan non darah dengan neolistik menurunkan
aktivitas susunan saraf simpatis dan respon kardiovascular terhadap rangsangan

tahanan prifer dengan obat vasediator. (Arif Manjoer, 2001)

2.1.8 Pencegahan

1. Berhenti merokok secara total dan tidak mengkonsumsi alkohol

2. Melakukan antisipasi fisik secara teratur atau berolaraga secara teratur dapat

mengurangi ketegangan pikiran (strees) membantu menurunkan berat badan,

dapat membakar lemak yang berlebihan.

3. Diet rendah garam atau makanan, kegemukan (kelebihan berat badan harus segera

di kurangi)

4. Latihan ohlaraga yang dapat seperti senam aerobic, jalan cepat, dan bersepeda

paling sedikit 7 kali dalam seminggu.

5. Memperbanyak minum air putih, minum 8- 10 gelas/ hari.

6. Memeriksakan tekanan darah secara normal / berkala terutama bagi seseorabg

yang memiliki riwayat penderita hipertensi.

7. Menjalani gaya hidup yang wajar mempelejari cara yang tepat untuk

mengendalikan stress.

(Bambang Sadewo, 2004)

2.1.9 Pengobatan

Jenis-jenis pengobatan

1. Arti hipertensi non Farmokologis


Tindakan pengobatan supparat, sesuai anjuran dari natural cammitoe dictation

evalution treatmori of high blood preasure

a. Tumpukan berat badan obesitas

b. Konsumsi garam dapur

c. Kurangi alkohol

d. Menghentikan merokok

e. Olaraga teratur

f. Diet rendah lemak penuh

g. Pemberian kalium dalam bentuk makanan sayur dan buah

2. Obat anti hipertensi


a. Dioverika, pelancar kencing yang diterapkan kurangin volume input

b. Penyakit beta (B.Blocker)

c. Antoganis kalsium

d. Lanbi ACE (Anti Canvertity Enzyine)

e. Obat anti hipertensi santral (simpatokolim)

f. Obat penyekar ben

g. Vasodilatov

(Arif Mansjoer, 2001, 522)

3. Perubahan gaya hidup

Dilain pihak gaya hidup yang baik untuk menghindari terjangkitnya penyakit

hipertensi dan berbagai penyakit digeneratif lainnya.

Mengkurangi konsumsi garam

Melakukan olaraga secara teratur dan dinamik


Membiasakan bersikap dinamik seperti memilih menggunakan tangga dari pada

limfa

Menghentikan kebiasaan merokok

Menjaga kestabilan BB

Menjauhkan dan menghindari stress dengan pendalaman angka sebagai salah satu

upayahnya.

2.1.10 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum melakukan terapi

bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor lain atau mencari

penyebab hipertensi, biasanya diperiksa unaralis darah perifer lengkap kemih

darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolestrol total, kolestrol HDI,

dan EKG).

Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens

kreatinin protein urine 24 jam, asam urat, kolestrol LDL, TSH dan ekokardiografi.

(Mansjoer Arif,2000 : 49)

2.2 Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan

dalam praktek keperawatan. Hal ini biasanya disebut sebagai suatu pendekatan

problem solving yang memerlukan ilmu teknik dan keterampilan interversional

dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien.


(Iyert el, al, 1996)

2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui

kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dapat pasien guna

mengetahui berbagai permasalahan yang ada.


(Aziz Alimul. 2009 : h 85)

Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al (2001)

adalah

1. Aktivitas istirahat

Gejala : Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup

Tanda : - Frekuensi jantung meningkat

- Perubahan trauma jantung (takipnea)

2. Sirkulasi

Gejala : Riwayat hipertensi ateros klerosis, penyakit jantung koroner / katup dan penyakit

screbiovakuolar, episode palpitasi, perpirasi.

Tanda : - Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan untuk menaikkan

diagnosis

- Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen otak)

- Nada denyutan jelas dari karotis, juguralis, radialis

- Denyut apical : Pm, kemungkinan bergeser dan sangat kuat

- Frekuensi/irama : Tarikardia berbagai distrimia

- Bunyi, jantung terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini) S4 (pengerasan vertikel kiri

/ hipertrofi vertical kiri).

3. Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi eufuria atau jarah kronis (dapat

mengidentifikasi kerusakan serebral ) faktor-faktor inulhfel, hubungan keuangan

yang berkaitan dengan pekerjaan.

Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu perhatian, tangisan yang

meledak, gerak tangan empeti otot muka tegang (khususnya sekitar mata)

gerakkan fisik cepat, pernafasan mengelam peningkatan pola bicara.

4. Eliminasi

Gejala : Gangguan ginjal sakit ini atau yang lalu

5. Makanan/Cairan

Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak,

tinggi kolestrol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkatkan/menurun)

riwayat pengguna diuretik.

Tanda : - Berat badan normal atau obesitas

- Adanya edema (mungkin umum atau tertentu)

- Kongestiva

- Glikosuria (hampir 10% hipertensi adalah diabetik).

6. Neurosensori

Gejala : - Keluhan pening/pusing

- Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara

spontan setelah beberapa jam)

- Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh


- Gangguan penglihatan

- Episode epistaksis

Tanda : - Status mental perubahan keterjagaan orientasi, pola isi bicara, efek, proses fikir

atau memori.

7. Nyeri/Ketidak nyamanan

Gejala : - Angma (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung)

- Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi

- Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya

- Nyeri abdomen / massa

8. Pernapasan

Gejala : - Dispenea yang berkaitan dengan aktivitas kerja

- Riwayat merokok, batuk dengan / tanpa seputum

Tanda : - Distres respirasi

- Bunyi nafas tambahan


- Sianosis

9. Keamanan

Gejala : - Gangguan koordinas / cara berjalan

- Hipotesia pastural

Tanda : - Frekuensi jantung meningkat

- Perubahan trauma jantung (takipnea)

10. Pembelajaran/Penyebab

Gejala : Faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis, penyakit jantung, DM


2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang,

keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses

kehidupan yang aktual atau potensial. (Aziz Alimul, 2009 : h 92)

Nanda menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik

tentang respon individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan

aktual atau potensial. Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk

mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Semua

diagnosa keperawatan harus didukung oleh data. Dimana menurut Nanda

diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut dinamakan

tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai yang dirasakan

oleh klien.

Menurut Doengoes, et al (2001), diagnosa keperawatan yang

mungkin ditemukan pada pasien dengan hipertensi adalah :

1. Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan afterload,


vasokontriksi, iskemia miokardia, hipertrofi d/d tidak dapat diterapkan adanya
tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis aktual
2. Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d
melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regiu suboksipital. Terjadi
pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu
3. Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum d/d laporan verbal tentang kelebihan atau
kelemahan
4. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan dengan
kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan
bentuk tubuh
5. Koping, individual, infektif b/d krisis situasional/maturasional, perubahan hidup
beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi atau meminta
bantuan
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan
b/d kurang pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah, meminta informasi.

2.2.3 Perencanaan

Perencanaan adalah proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan

yang dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi masalah

pasien.

(Aziz Alimul. 2009 : h 106)

Perencanaan keperawatan pada pasien dengan hipertensi menurut dongoes

et al (2000) adalah :

Diagnosa keperawatan I

Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan

afterload, vasokontruksi, iskemia miorkadia, hipertrofi b/d tidak dapat diterapkan

adanya tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis actual.

Intervensi :

Pantau TD

Catat keberadaan

Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas


Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas/keributan lingkungan

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

Rasionalisasi

Perbandingan dari tekanan memberi gambaran yang lebih lengkap tentang

keterlibatan/bidang masalah kaskuler

Mencerminkan efek dari kosakontraksi (peningkatan SVR 0 dan kongesti vena)

Dapat mengidentifikasi kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal

jantung kronik

Adanya pucat, dingin, kulit, lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin

keterkaitan dengan kosokentreksi atau mencerminkan kekomposisi/penurunan

curah jantung

Dapat mengidentifikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler

Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis meningkatkan relaksasi

Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi TP dan perjalanan

penyakit hipertensi

Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang

sehingga tak menurunkan TD

Karena efek samping obat tersebut maka penting untuk menggunakan obat dalam

jumlah penting sedikit dan dosis paling rendah.

Diagnosa Keperawatan II
Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d

melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regium suboksipital.

Terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu.

Intervensi :

Kaji respon pasien terhadap aktivitas

Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas

Instruksikan pasien terhadap teknik penghematan energi

Rasionalisasi :

Tekhnik menghemat energy, mengurangi penggunaan energy, membantu


keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Kemajuan aktifitas berharap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba

Diagnosa keperawatan III

Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum b/d laporan verbal tentang

kelebihan atau kelemahan.

Intervensi :

Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak,

garam dan gula sesuai indikasi

Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan

Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet


Rasionalisasi :

Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi


Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat /

memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan

komlikasinya

Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala adanya

peningkatan tekanan vaskuler serebral

Pusing dan penglihatan kabur sehingga b/d sakit kepala

Menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simfatis

Dapat mengurangi tegangan dan ketidak nyamanan yang diperberat.

Diagnosa IV

Nutrisi perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan

dengan kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk

tinggi dan bentuk tubuh.

Intervensi :

Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku

Saraf laporan gangguan tidur

Bantu pasien untuk mengidentifikasi sresor spesifik dan kemungkinan startegi

untuk mengatasinya

Dorong pasien untuk mengevaluasi prioitas tubuh.

Rasionalisasi :

Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproporsi

antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan

peningkatan masa tubuh


Kesalahan kebiasaan makanan menunjang terjadinya ateroskelrosis dan

kegemukan yang merupakan preposisi untuk hipertensi dan komlikasinya

Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal, individu harus

berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama

sekali tidak berhasil

Mengindikasikan kekuatan/kelemahan dalam menentukan kebutuhan individu

untuk penyesuaian / penyuluhan

Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 50 kalori per hari secara teori

dapat menurunkan BB 0,5 kg/hari

Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat

mengontrol perubahan

Penting untuk mencegah perkembangan heterogenesis

Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.

Diagnosa V

Koping, individual, infektif b/d krisis situasional / maturasional,

perubahan hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi

atau meminta bantuan.

Intervensi :

Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar

Tetapkan dan nyatakan batas Hd normal

Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular

Bahan pentingnya menghentikan merokok

Rasionalisasi :
Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang mengatasi

hipertensi klanik menginterasikan tetapi yang diharuskan ke dalam kehidupan

sehari-hari

Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin merupakan indicator yang

ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD distolik

Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative terhadap pandangan

pasien tentang apa yang diinginkan

Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari

rasa yang tidak menentu dan tidak berdaya.

Diagnosa keperawatan IV

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana

pengobatan b/d pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah, menerima

informasi

Intervensi :

Bela penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan

mempertahankan perjanjian tindak lanjut

Jelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional

Sarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring

Rasionalisasi :
Bila pasien tidak menerima realities bahwa membutuhkan pengobatan kontinyu,

maka perubahan perilaku tidak akan dipertahanakan

Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk

memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketidak merasa sehat

Faktor-faktor ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan

penyakit kardiovaskular

Nikotin meningkatakan pelepasan katekolomamin, mengakibatkan peningkatan

frekwensi jantung, TD fasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan dan

meningkatkan beban kerja miokardium.

(Doengoes et al, 2001 : 41-49)

2.2.4 Implementasi

Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai

strategis keperawatan (tindakan keperawatan) yaitu telah direncanakan. (Aziz

Alimuml. 2001 : h 11)

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan

yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan pencegahan

penyakit. Pemulihan kesehatan dan mempasilitas koping perencanaan tindakan

keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika klien mempunyai

keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan selama

tahap pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih

tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien tindakan.


Adapun implementasi pada pasien hipertensi adalah :

Diagnosa keperawatan I :

Memantau TD

Mencatat keberadaan

Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas

Memberikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas / keributan

lingkungan

Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

Diagnosa keperawatan II :

Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas

Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas

Mengintruksikan pasien terhadap teknik penghematan energy

Diagnosa keperawatan III :

Membicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan

lemak, garam dan gula sesuai indikasi

Menetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan

Mengkaji ulang masukkan kalori harian dan pilihan diet

Diagnosa keperawatan IV

Mengkaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku

Mencatat laporan gangguan tidur


Membantu pasien untuk mengidentifikasi stesor spesifik dan kemungkinan

strategi untuk mengatasinya

Mendorong pasien untuk mengevaluasi prioritas tubuh

Diagnosa keperawatan V

Mengkaji kesiapan dan hambatan dalam belajar

Menetapkan dan nyatakan batas Hd normal

Membantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler

Membahas pentingnya menghentikan merokok


Diagnosa keperawatan VI :

Memberi penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan

mempertahankan perjanjian tindak lanjut

Menjelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional

Menyarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring

2.2.5 Evaluasi

Evaluasi adalah tahap terakhir proses keperawatan dengan cara menilai

sejauh mana tujuan diri rencana keperawatan tercapai atau tidak. (Aziz Alimul.

2009 : hi 12)

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam

mencapai tujuan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan mengadakan hubungan

dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang

diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan:

1. Mengakhiri tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan)


2. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih

lama untuk mencapai tujuan)

(lyer, at al, 1996)

Adapun evaluasi keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah :

Diagnosa I

Berpatisipasi dalam aktivitas yang menurunkan Td beban kerja jantung

Mempertahankan Td dalam rentang individu yang dapat diterima

Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien

Diagnosa II

Berpatisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan

Melaporkan tindakan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur

Menunjukkan penurunan dalam tanda intoleransi fisiologi

Diagnosa III

Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan hilang / terkontrol

Mengungkan metode yang memberikan pengurangan

Mengikuti reqman farmokologi yang diresepkan