You are on page 1of 62

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Teori Medis

1. Pengertian IUD

Pengertian IUD adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang
sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya),
diletakkan dalam kavum uteri sebagai usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan
menyulitkan telur berimplementasi dalam uterus (Hidayati, 2009).
Pengertian AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastic
yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormone dan di masukkan
ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang (Handayani, 2010).
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang
bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polythyline), ada yang dililit tembaga
(Cu) ada pula yang tidak, tetapi ada pula yang dililit dengan tembaga bercampur perak
(Ag). Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone. (Kusmarjati, 2011).
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah dan konsepsi yang
berarti pertemuan antara sel telur dengan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan,
sehingga kontrasepsi adalah upaya untuk 10 mencegah terjadinya kehamilan dengan cara
mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma atau menghalangi
pertemuan sel telur dengan sel sperma (Wiknjosastro, 2003).

2. Profil

Menurut Saifudin (2010), Profil pemakaian IUD adalah:


a. Sangat efektif, reversible dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun: CuT-380A)

b. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak

c. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan

d. Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi

e. Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada Infeksi Menular Seksual (IMS).
3. Jenis Jenis IUD

Jenis - jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain :


a. Copper-T
Menurut Imbarwati,(2009). IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada
bagian vertikalnya diberi lilitan kawat 11 tembaga halus. Lilitan tembaga halus ini
mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik. Menurut ILUNI FKUI (
2010). Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan dengan cara
menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim dan dapat dipakai selama 10
tahun.

b. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat
digunakan untuk kontrasepsi darurat Copper-7. Menurut Imbarwati (2009). IUD ini
berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai
ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga luas
permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T.

c. Multi load
Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan
kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6
cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 12
mm 2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load yaitu standar, small,
dan mini.

d. Lippes loop
Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf spiral atau
huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya Lippes
loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A
berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm
(benang kuning) dan tipe D berukuran 30 mm dan tebal (benang putih). Lippes loop
mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan dari pemakaian IUD jenis ini
adalah bila terjadi perforasi, jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab
terbuat dari bahan plasti.
4. Cara Kerja
Menurut Saifudin (2010), Cara kerja IUD adalah:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ketuba falopi 13
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

c. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
kemampuan sperma untuk fertilisasi.

d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

5. Efektivitas
Keefektivitasan IUD adalah: Sangat efektif yaitu 0,5 1 kehamilan per 100 perempuan
selama 1 tahun pertama penggunaan (Sujiyantini dan Arum, 2009).

6. Keuntungan
Menurut Saifudin (2010), Keuntungan IUD yaitu:
a. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi
Sangat efektif 0,6 - 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertama ( 1
kegagalan dalam 125 170 kehamilan).
b. AKDR dapat efektik segera setelah pemasangan.c. Metode jangka panjang ( 10 tahun
proteksi dari CuT 380A dan tidak perlu diganti)
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat ingat

e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil


g. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT -380A)
14
h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI

i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi
infeksi)

j. Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)

k. Tidak ada interaksi dengan obat obat

l. Membantu mencegah kehamilan ektopik.

7. Kerugian

Menurut Saifudin (2010), Kerugian IUD:


a. Efek samping yang mungkin terjadi:

1) Perubahan siklus haid ( umum pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3
bulan)

2) Haid lebih lama dan banyak

3) Perdarahan ( spotting ) antar menstruasi

4) Saat haid lebih sakit

b. Komplikasi Lain:

1) Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan

2) Merasa sakit dan kejang selama 3 5 hari setelah pemasangan

3) Perdarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang memungkinkan penyebab
anemia

4) Perforasi dinding uteru (sangat jarang apabila pemasangannya benar)


15
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan

e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR. PRP
dapat memicu infertilitas

f. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik terganggu karena fungsi AKDR untuk
mencegah kehamilan normal

8. Mekanisme Kerja

a. Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, ada yang
berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang menimbulkan reaksi radang
setempat, dengan sebutan leukosit yang dapat melarutkan blastosis atau seperma.
Mekanisme kerja AKDR yang dililiti kawat tembaga mungkin berlainan. Tembaga dalam
konsentrasi kecil yang dikeluarkan ke dalam rongga uterus juga menghambat
khasiatanhidrase karbon dan fosfatase alkali. AKDR yang mengeluarkanhormon juga
menebalkan lender sehingga menghalangi pasasi sperma (Prawirohardjo, 2005).

b. Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan pasti, kini pendapat
yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan
endometrium yang disertai dengan sebutan leukosit yang dapat menghancurkan blastokista
atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan perubahan pada
pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista
16
tidak dapat hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya terjadi nidasi, penyelidik-
penyelidik lain menemukan sering adanya kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang
dapat menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkan oleh meningkatnya kadar prostaglandin
dalam uterus pada wanita (Wiknjoastro, 2005).

c. Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan sexual terjadi) AKDR
mengubah transportasi tuba dalam rahim dan mempengaruhi sel elur dan sperma sehingga
pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi darurat (dipasang setelah hubungan sexual
terjadi) dalam beberapa kasus mungkin memiliki mekanisme yang lebih mungkin adalah
dengan mencegah terjadinya implantasi atau penyerangan sel telur yang telah dibuahi ke
dalam dinding rahim

d. Menurut Saefuddin (2003), mekanisme kerja IUD adalah:

1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi

2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri

3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu walaupun AKDR
membuat sperma sulit ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan
sperma untuk fertilisasi

4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur ke dalam uterus.

9. Kontra Indikasi

Menurut Kusumaningrum (2009), Kontra indikasi dari IUD:


a. Hamil atau diduga hamil
17
b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin

c. Pernah menderita radang rongga panggul

d. Penderita perdarahan pervaginam yang abnormal

e. Riwayat kehamilan ektopik

f. Penderita kanker alat kelamin.

10. Efeksamping

Menurut Sujiantini dan arum (2009), Efeksamping IUD:


a. Perdarahan ( menoragia atau spotting menoragia)

b. Rasa nyeri dan kejang perut

c. Terganggunya siklus menstruasi (umumnya terjadi pada 3 bulan pertama pemakaian)

d. Disminore

e. Gangguan pada suami ( sensasi keberadaan benang iud darasakan sakit atau
mengganggu bagi pasangan saat melakukan aktifitas seksual)

f. Inveksi pelvis dan endometrium

Menurut Zahra (2008), Efek samping dari penggunaan IUD meliputi,pada minggu
pertama, mungkin ada pendarahan kecil. Ada perempuan-perempuan pemakai spiral yang
mengalami perubahan haid, menjadi lebih berat dan lebih lama, bahkan lebih
menyakitkan. Tetapi biasanya semua gejala ini akan lenyap dengan sendirinya sesudah 3
bulan. 18
11. Peralatan Pemasangan IUD

Gambar 2.4 alat untuk memasang IUD (Sunjiantini dan arum : 2009)
Menurut Sujiantini dan arum (2009), Peralatan Pemasangan IUD:
a. Bivalue speculum ( speculum cocor bebek )

b. Tampontang

c. Tenakulum

d. Gunting

e. Mangkuk untuk larutan antiseptic

f. Sarung tangan dan barakscort

g. Duk steril

h. Kapas cebok

i. Cairan antiseptic ( betadin )

12. Perlengkapan Pemasangan IU

Gambar 2.5 Perlengkapan pemasangan IUD (Sujiantini dan arum : 2009) 19


Menurut Sujiantini dan arum (2009), Perlengkapan Pemasangan IUD:
a. Meja ginekologi

b. Lampu sorot / lampu senter

c. Kursi duduk

d. Tempat klorin 0,5 %

e. Tempat sampah basah

13. Pemasangan IUD

Menurut Prawirohardjo (2008), IUD dapat dipasang dalam keadaan:


a. Sewaktu haid sedang berlangsung

Karena keuntungannya pemasangan lebih mudah oleh karena servik pada waktu agak
terbuka dan lembek. Rasa nyeri tidak seberapa keras, perdarahan yang timbul sebagai
akibat pemasangan tidak seberapa dirasakan, kemungkinana pemasangan IUD pada uterus
yang sedang hamil tidak ada.
b. Sewaktu post partum

Pemasangan IUD setelah melahirkan dapat dilakukan:


1) Secara dini yaitu dipasang pada wanita yang melairkan sebelum dipulangkan dari
rumah sakit

2) Secara langsung yaitu IUD dipasang dalam masa 3 bulan setelah partus atau abortus

3) Secara tidak langsung yaitu IUD dipasang sesudah masa tiga bulan setelah partus atau
abortus

c. Sewaktu abortus
20
d. Beberapa hari setelah haid terakhir

14. Kunjungan Ulang Setelah Pemasangan IUD

Kunjungan ulang setelah pemasangan IUD Menurut BKKBN (2003):


a. 1 minggu pasca pemasangan

b. 2 bulan pasca pemasang

c. Setiap 6 bulan berikutnya

d. 1 tahun sekali

e. Bila terlambat haid 1 minggu

f. Perdarahan banyak dan tidak teratur

Menurut Prawirohardjo (2008), pemeriksaan sesudah IUD dipasang dilakukan pada:


a. 1 minggu pasca pemasangan

b. 3 bulan berikutnya

c. Berikutnya setiap 6 bulan


15. Pemeriksaan Pada Saat Kunjungan Ulang

Menurut Varney, Kriebs dan Gegor (2006), Setelah IUD dipasang seorang klien wanita, ia
harus diarahkan untuk menggunakan preparat spermisida dan kondom pada bulan pertama.
Tindakan ini akan memberi perlindungan penuh dari konsepsi karena IUD menghambat
serviks, uterus, dan saluran falopii tempat yang memungkinkan pembuahan dan
penanaman sel telur dan ini merupakan kurun waktu IUD dapat terlepas secara spontan.
Klien harus melakukan kunjungan ulang pertamanya dalam waktu kurang lebih enam
minggu. Kunjungan ini harus 21
dilakukan setelah masa menstruasi pertamanya pasca pamasangan IUD. Pada waktu ini,
bulan pertama kemungkinan insiden IUD lebih tinggi untuk terlepas secara spontan telah
berakhir. IUD dapat diperiksa untuk menentukannya masih berada pada posisi yang tepat.
Selain itu, seorang wanita harus memiliki pengalaman melakukan pemeriksaan IUD secara
mandiri dan beberapa efeksamping langsung harus sudah diatasi. Kunjungan ulang
member kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan member semangat serta meyakinkan
klien. Diharapkan, hal ini membuahkan hasil berupa peningkatan jumlah pengguna IUD.
Data-data terkait IUD berikut dapat diperoleh pada kunjungan ulang ini.
a. Riwayat
1) Masa menstruasi (dibandingkan dengan menstruasi sebelum menggunakan IUD)

a) Tanggal

b) Lamanya

c) Jumlah aliran

d) Nyeri

2) Diantara waktu menstruasi (dibading dengan sebelum menggunakan IUD)

a) Bercak darah atau perdarahan: amanya, jumlah

b) Kram: lamanya, tingkat keparahan

c) Nyeri punggung: lokasi, lamanya, tingkat keparahan.


22
d) Rabas vagina: lamanya, warna, bau, rasa gatal, rasa terbakar saat berkemih (sebelum
atau setelah urine mulai mengalir)

3) Pemeriksaan benang

a) Tanggal pemeriksaan benang yang terakhir

b) Benang dapat dirasakan oleh pasangan selama melakukan hubungan seksual

4) Kepuasaan terhadap metode yang digunakan (baik pada wanita maupun pasangannya)

5) Setiap obat yang digunakan: yang mana, mengapa

6) Setiap kunjungan ke dokter atau keruang gawat darurat sejak pemasangan IUD:
mengapa

7) Penggunaan preparat spermisida dan kondom: kapan, apakah ada masalah

8) Tanda-tanda dugaankehamilan jika ada indikasi


b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada bagian bawah
abdomen

2) Pemeriksaan untuk mengetahui adanya nyeri tekan akibat CVA, jika diindikasikan
untuk diagnose banding

3) Tanda-tanda kemungkinan kehamil, jika ada indikasi.


c. Pemeriksaan pelvic
1) Pemeriksaan speculum
a) Benang terlihat
23
b) Panjang benang: pemotongan benang bila ada indikasi

c) Rabas vagina: catat karakteristik dan lakukan kultur dan apusan basah bila
diindikasikan.
2) Pemeriksaan bimanual

a) Nyeri ketika serviks atau uterus bergerak

b) Nyeri tekan pada uterus

c) Pembesaran uterus

d) Nyeri tekan pada daerah sekitar

e) Tanda-tanda kemungkinan kehamilan bila diindikasikan


d. Laboratorium
1) Hemoglobin atau hematokrit

2) Urinalis rutin sesuai indikasi untuk diagnosis banding

3) Kultur serviks dan apusan basah, jika ada indikasi

4) Tes kehamilan, jika ada indikasi

Apabila hasil pemeriksaan diatas memuaskan, maka klien akan mendapatkan jadwal untuk
melakukan pemeriksaan fisik rutinnya. Pada kunjungan tersebut bidan akan melakukan
hal-hal seperti mengkaji riwayat penapisan umum yaitu pemeriksaan fisik dan pelvic, pap
smear, kultur klamedia dan gonorea, tes laboratorium rutin lain dan pengulangan
kunjungan ulang IUD seperti dijelaskan diatas. Pengarahan supaya klien memeriksakan
IUD nya, kapan harus menghubungi bila muncul masalah atau untuk membuat perjanjian
24
sebelum kunjungan tahunnya dapat ditinjau kembali bersama klien selama kunjungan
ulang ini.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PADA PEMASANGAN KB IUD
PELAYANAN KONTRASEPSI IUD / ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM
(AKDR) DI PUSKESMAS BANGETAYU
A. KELENGKAPAN SARANA DAN TENAGA

1. Sarana non Medis

a. Ruang konsultasi dan pemeriksaan ukuran: (3x3) m2

b. Meja + kursi untuk konsultasi 1 set

c. Bed periksa pasien: Tinggi 70cm, lebar 90cm, panjang 200cm

d. Sarung bantal, sprei, duk, karet laken

e. Bed / meja ginekologi

f. Meja untuk peralatan 1 buah

g. Lampu periksa

h. Handuk : 5 buah

i. Alat tulis : pensil, pena, penghapus, tippex masing-masing 1 buah

j. Tissue gulung : 1 buah

k. Penggaris lurus : 1 buah

l. Status KB : 3500 lembar

m. Buku register KB : 1 set

n. Buku pedoman standar pelayanan KB 1 buah

o. Formulir rujkan (umum, Askes, JPS) masing-masing 1 buku


34
p. Kertas resep : 1 buku
q. Kamar kecil / WC ukuran minimal 2x1 m2 dengan bak / ember terisi air, gayung dan
sabun
r. Bahan KIE (poster, leafet)
s. Ember atau tempat sampah lain, ditempatkan dibawah meja pemeriksaan.
2. Sarana Medis
a. IUD Kit (Copper T 380 A) : 1 buah
b. Bivalve Speculum : ukuran kecil, sedang, besar masing-masing 1 buah
c. Tankulum : 1 buah
d. Forcep : 1 buah
e. Korentang (tang penjepit / pengambil alat) : 1 buah
f. Gunting mayo steril : 1 buah
g. Sarung tangan ( handschoen) steril : 2 pasang
h. Masker : 2 buah
i. Larutan klorin 0,5% : 1 botol
j. Larutan povidon lodin 10% : 1 botol
k. Alcohol 70% 1 botol (200cc)
l. Mangkuk kecil (untuk larutan antiseptic) : 1 buah
m. Kain kasa / kapas : 1 bungkus
n. Lidi kapas dan kaca slide
o. Neerbeken / bengkok : 1 buah
p. Baskom perendam peralatan : 1 buah 34

q. Sonde uterus

r. Container perlatan : 1 buah

s. Sterilisator

t. Emergensi kit : ambubag, suction apparatus, endotrakheal tube, laringoskop, O2 tank +


O2 , infuse set + cairannya, obat-obatan ( adrenalin, kortison, antihistamin)

u. Sabun dan detergent

3. Sarana Tenaga

a. Tenaga kesehatan atau bidan yang sudah mendapat pelatihan keluarga berencana : 2
orang

b. Tenaga administrasi 1 orang

C. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Tekanan Darah


1. Meminta ijin ibu / pengantur untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah : ibu
bolehkan saya memeriksa tekanan darah ibu ?
2. Mempersilahkan ibu istirahat kurang lebih 5 menitsebelum pengukuran bila ibu baru
dating dari tempat jauh, berjalan, atau tidak sempat duduk menunggu giliran.
3. Meminta ibu untuk membuka lengan atas yang akan diperiksa, sehingga tidak menutupi
arteri brachialis.
4. Meminta ibu untuk duduk dengan nyaman dan santai :
a. Memasang manset 2-3 cm diatas fossa kubiti, melingkari lengan tempat pemeriksaan
setinggi jantung dan balon karet menekan tepat diatas arteri brachialis.
b. Menanyakan pada ibu apakah manset dengan sphygmomano meter Hg, posisi tegak dan
level air raksa setinggi jantung.
c. Meraba denyut arteri brachialis pada lipatan siku untuk meletakkan stetoskop
d. Meraba arteri radialis dengan jari telunjuk dan jari tengah (memastikan tidak ada
penekanan)
e. Menutup katub pengontrol pada pompa manset
f. Meletakkan stetoskop ketelinga, meraba denyut arteri brachialis
g. Memopa manset sampai denyut arteri radialis tidak teraba lagi, kemudian menambah
pompa lagi 20-30 mmHg
41
h. Meletakkan stetoskop diatas arteri brachialis di fossa kubiti / lipatan siku sebelah dalam

i. Melihat air raksa dengan posisi mata sejajar air raksa, sambil melepaskan katub
pengontrol pelan, sehingga air raksa turun dengan kecepatan 2-3 mmHg / detik atau skala /
detik

j. Memastikan tinggi air raksa saat terdengar perubahan detakan pertama arteri brachialis
(korotkoff I) : disebut tekanan systole

k. Lanjutkan menurunkan air raksa saat terjadi perubahan suara yang tiba-tiba melemah
(korotkoff IV) : disebut tekanan diastole

l. Melepas stetoskop dari telinga dan lepas manset dari lengan pasien

m. Bersihkan carpiece dan diaphragma stetoskop dengan kapas alcohol

5. Menginformasikan pada pasien hasil pengukuran, mencatat tapa kartu status pasien

6. Menanyakan kepada pasien apakah ada yang ingin ditanyakan tentang hasil tekanan
darahnya.

Pemeriksaan Perut bagian bawah, alat kelamin dan pemasangan IUD


1. Menjelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan pemeriksaan fisik pada perut bawah dan
alat kelaminnya serta pengambilan cairan alat kelaminnya untuk diperiksa adanya IMS
sebelum pemasangan IUD serta meminta persetujuan ibu dan suaminya:

Bu, Pak, kami akan memeriksa dan mengambil cairan pada perut bagian bawah dan alat
kelamin ibu untuk diperiksa adanya IMS 42
sebelum pemasangan IUD, dan untuk itu kami meminta persetujuan ibu dan bapak
sebelum dilakukan pemeriksaan:
a. Membacakan inform consent

b. Meminta ibu dan suaminya untuk menanda tangani formulir inform consent

2. Meminta ibu untuk buang air kecil untuk mengosongkan kandung kemihnya terlebih
dahulu dan membersihkan alat kelaminnya dikamar mandi

3. Mencuci tangan pemeriksa dengan sabun dan air yang mengalir dengan cara:

a. Mendekatkan bahan dan alat yang dibutuhkan seperti sabun dan handuk bersih
pengering

b. Meninggalkan semua perhiasan (jika memakai)

c. Membasahi tangan dengan air

d. Menggosok dengan air secara merata pada celah jari tangan

e. Menggosok pergelangan dengan melingkar salah satu tangan yang lain memebrsihkan
kuku dan bawah kuku sampai bersih (dapat digunakan sikat yang lembut)

f. Membilas tangan dan telapak tangan dari arah jari-jari kearah pergelangan hingga bersih

g. Mengeringkan jari tangan dan pergelangan tangan dengan henduk bersih kering, atau
membiarkan mongering dengan sendirinya (jika handuk tidak ada)
43
4. Memasang sarung tangan pada kedua tangan dengan cara:

a. Mengambil sarung tangan steril dari tromol / tempat steril dengan menggunakan
korentang dengan menggunakan tangan kanan

b. Tangan kiri menerima sarung tangan dengan memegang bagian dalam dari sarung
tangan

c. Mengurai sarung tangan yang terlipat dari lipatannya

d. Memegang sarung tangan bagian kanan yang akan dipakai terlebih dahulu

e. Meletakkan sarung tangan kiri yang akan belakangan ditempat yang steril

f. Mengecek kebocoran sarung tangan kanan dengan cara mnggembngkan sarung tangan
tersebut hingga terisi udara (tapi jangan ditiup), lalu tutup lubang pada bagian tangan yang
akan masuk, lalau mengempiskan sarung tangan yang sudah menggembung tersebut.
Merasakan, mendengarkan dan mengamati apakah ada aliran udara yang keluar melalui
lubanh selain lubang pergelangan tangan dari sarung tangan tersebut. Mendeteksi adanya
suara udara ngowos atau mendesis melalui lubang kecil dari bagian sarung tangan serta
memperhatikan volume udara di sarung tangan kian habis / berkurang. Jika ada kebocoran,
maka buang sarung tangan.

g. Memakai sarung tangan steril, caranya : meletakkan sarung tangan kiri ditempat yang
steril. Memegang sarung tangan dengan tangan
44
kiri pada bagian dalam sarung tangan, masukkan jari-jari perlahan sampai semua jari pas
pada bagiannya, lalu dengan tangan kiri tetap memegang bagian dalam sarung tangan,
menarik sarung tangan kedalam hingga sarung tangan terpakai dengan sempurna.

h. Mengambil sarung tangan kiri dengan tangan kanan dengan memegang bagian luar
sarung tangan

i. Mengecek adanya kebocoran sarung tangan kiri dengan dengan cara menggembungkan
sarung tangan tersebut hingga terisi udara (tapi jangan ditiup), lalu tutup lubang pada
bagian tangan yang akan masuk, lalau mengempiskan sarung tangan yang sudah
menggembung tersebut. Merasakan, mendengarkan dan mengamati apakah ada aliran
udara yang keluar melalui lubanh selain lubang pergelangan tangan dari sarung tangan
tersebut.

j. Memakai sarung tangan kiri dengan bantuan dengan tangan kanan dengan menariknya
kedalam menyesuaikan posisi jari-jari sampai sarung tangan terpasang dengan sempurna
pada tangan kiri.

5. Mempersilahkan ibu untuk membuka celana dalamnya dan naik ketempat periksa (meja
ginekologik) dengan posisi berbaring terlentang dengan kedua lutu ditekuk (posisi
litotomi) pada penyangga di meja ginekologik

6. Menjelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan pemeriksaan pada perut bagian bawah,
pemeriksaan alat kelamin, memasang speculum, mengambil cairan dari alat kelamin dan
memasang IUD.
45
Mempersilahkan ibu untuk mengajukan pertanyaan bila ada keterangan yang kurang jelas

7. Setelah ibu siap dilakukan pemeriksaan pada perut bagian bawah dan genitalianya:

Bu, sekarang kami akan melakukan pemeriksaan pada perut bagian bawah dan alat
kelamin serta mengambil sedikit cairan dari alat kelamin ibu untuk diperiksa adanya
penyakit IMS atau tidak, sebelum pemasangan IUD
8. Melakukan palpasi perut bagian bawah diatas simpisis pubis, apakah ada benjolan,
dimana lokasinya, konsistensinya, apakah ada nyeri tekan ?

9. Melakukan palpasi pada sekitar lipatan paha apakah pembesaran kelnjar getah bening:
lokasinya, konsistensinya, perlekatan, nyeri / tidak nyeri

10. Memeriksa adanya kelainan didaerah perineum, perianal dan anal, apakah ada lecet,
bintil-bintil atau pembengkakan

11. Mencatat hasil pemeriksaan pada kartu status dan memberitahukan hasilnya pada ibu
dan menanyakan apakah ada yang ditanyakan mengenai hasil pemeriksaan, melnjutkan
pemeriksaan

12. Memeriksa keadaan vulva dengan cara membuka labia mayor dan minor dengan
tangan kanan dan kiri, melihat apakah ada pembengkakan, lecet, ulkus dan kemerahan.
Melihat apakah duh tubuh / cairan keputihan (jumlahnya, serosalmukopurulen / purulen,
berbau /
46
tidak, warnanya). Bila ada kulkus pada vulva dan sekitarnya, maka lakukan pengambilan
specimen dengan menggunakan kapas lidi steril. Mengoleskan ujung kapas lidi, pada
ulkus dan buat sediaan hapus di atas kaca benda, berikan kepada petugas laboratorium
untuk pemeriksaan

13. Memeriksa orificium urethrae externum (saluran vagina bagian luar) dengan cara
membuka mulut vagina menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan, adakah
pembesaran pada kelenjar bartholini, bila ada, tekan sedikit dan tanyakan pada ibu apakah
terasa nyeri atau tidak. Memeriksa apakah ada duh tubuh (jumlah, serosa / mukosa /
mukopurulen / purulen, berbau / tidak, warana)

14. Melakukan pengambilan specimen duh tubuh dengan cara:

a. Menyiapkan kaca objek untuk specimen dan member nomor

b. Mengambil kapas lidi, mengusapkan kapas lidi pada vagina bagian luar dengan gerakan
melingkar ke kanan dan diamkan beberapa saat untuk penyerapan cairan / secret

c. Mengolekan secret yang ada diujung lidi kapas pada kaca objek yang telah diberi nomor
untuk dibuat sediaan

15. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan pemasangan speculum dan kemungkinan akan
terasa sedikit sakit, namun tidak berbahaya

16. Mengusap mulut vagina bagian luar (sisi kanan dan kiri labia minor) dengan larutan
antiseptic povidon iodine 10% 2 sampai 3 kali. Cara mengusapnya dari atas ke bawah.
47
17. Melakukan pemasangan speculum dengan cara:

Speculum dipegang dengan tangan kiri, dimiringkan dengan posisi peganggan speculum
disamping paha kanan ibu, dan mulut speculum mengarah ke lubang vagina, lalu dengan
pelan-pelan memasukkan speculum kedalam vagina, setelah masuk sampai leher
speculum, lalu pegangan speculum diputar mengarah ke bawah, kemuan speculum dibuka
dan di fiksasi pada kuncinya (skrupnya). Pada saat memasukkan speculum, meminta ibu
untuk menrik nafas panjang dan menanyakan apakah ada rasa nyeri di bagian perut bawah.
18. Memeriksa saluran vagina adakah duh tubuh, ulkus dengan cara:

a. Menyiapkan dan menyalakan lampu periksa

b. Melakukan pengambilan specimen duh tubuh pada saluaran vagina

c. Mengambil kaps lidi yang baru, mengusapkan kapas lidi pada saluran vagina bagian
dalam dengan gerakan melingkar ke kana dan diamkan beberapa saat untuk penyerapan
cairan / secret

19. Memeriksa portio cervix : licin, eritema, erosi, duh tubuh

20. Melakukan pengambilan specimen pada portio servix:

a. Mengambil kapas lidi yang baru dengan tangan kanan, tangan kiri memfiksasi /
memegang pegangan speculum

b. Memasukkan ujung kapas lidi dan mengoleskan pada daerah portio servix. Gerakkan
kapas lidi melingkar kekanan dan diamkan beberapa saat untuk penyerapan cairan / sekret
48
c. Mengoleskan secret yang ada diujung lidi kapas pada kaca objek yang telah diberikan
nomer untuk dibuat sediaan.

21. Melakukan pengambilan specimen pada leher servix:

a. Mengambil kapas lidid yang baru dengan tangan kanan, tangan kiri memfiksasi /
memegang pegangan speculum.

b. Memasukkan ujung kapas lidi dan mengoleskan dan menggerakkan kapas lidi
melingkar ke kanan sekeliling daerah leher servix, dan diamkan beberapa saat untuk
pnyerapan cairan / secret

c. Mengoleskan secret yang ada di ujung lidi kapas pada kaca objek yang sama untuk
dibuat sediaan.

d. Memberikan sediaan specimen kepada asisten untuk dikirim kelaboratorium

22. Bila pada pemeriksaan ada gejala-gejala IMS, maka beritahukan pada ibu hasilnya dan
pemasangan IUD ditunda dan mengajurkan ibu untuk memakai kontrasepsi barier
(kondom) samapi IMS nya selesai diobati dan sembuh

23. Melepaskan speculum dengan melonggarkan skrupnya, menutup mulut speculum,


memutar speculum sampai pegangan mengarah ke paha kanan ibu, lalu menarik speculum
keluar dari saluran vagina

24. Mempersilahkan ibu untuk turun dari meja ginekologi dan memakai celananya.
Kemudian mempersilahkan ibu duduk di kursi yang tersedia
49
25. Mengkonsulkan hasil pemeriksaan pada dokter untuk diberi obat sesuai jenis IMS nya

26. Mencatat hasil pemeriksaan pada kartu status dan memberitahukan hasilnya pada ibu
dan menyanyakan apakah ada yang ditanyakan mengenai hasilpemeriksaan

27. Bila pada pemeriksaan tidak ada gejala-gejala IMS, maka melakukan persiapan untuk
pemasangan IUD tanpa melepas speculum

28. Memberitahukan pada ibu bahwa akan dilakukan pemasangan IUD, tanyakan pada ibu,
apakah ada yang ingin ditanyakan sebelum IUD di pasang

29. Memeriksa tanggal kadaluarsa kemasan IUD

30. Memasukkan lengan IUD kedalam kemasan sterilnya dengan cara:

a. Meletakkan kemasan diatas permukaan datar, keras dan bersih, dengan kertas penutup
yang transparan menghadap keatas. Membuka kertas penutup dibagian ujung yang
berlawanan dari tempat IUD sampai kira-kira sepanjang setengah jarak dengan leher biru
pada inserter

b. Mengangkat kemasan dengan memegang bagian yang sudah dibuka. Kedua bagian
kertas penutup yang sudah terbuka dilipat kesetiap sisinya dan dipegang saat mengangkat,
sehingga pendorong tetap steril waktu dimasukkan kedalam tabung inserter. Dengan
tangan yang lain memasukkan pendorong kedalam tabung
50
inserter dan mendorong dengan hati-hati sampai menyentuh ujung batang IUD.

c. Meletakkan kembali kemasan pada tempat datar dengan bagian transparan menghadap
keatas

d. Memegang dan menahan kedua ujung lengan IUD dari atas penutup transparan dengan
jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri. Tangan kanan mendorong kertas pengukur dari ujung
kemasan yang sudah dibuka sampai ke ujung kemasan yang masih tertutup, sehingga
lengan IUD berada diatas kertas pengukur. Sambil tetap memegang ujung kedua lengan
IUD, dorong inserter dengan tangan kanan sampai kepangkal lengan sehingga ke dua
lengan IUD akan terlipat mendekati tabung inserter.

e. Tahan kedua lengan IUD yang sudah terlipat dengan menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk tangan kiri. Tarik tabung inserter melewati kedua ujung lengan, kemudian dorong
kembali dan putar sampai ke dua ujung lengan masuk kedalam tabung inserter dan terasa
ada tahanan yaitu pada lempengan tembaga

f. Pegang leher biru pada tabung inseter dari atas penutup transparan dan dorong tabung
inserter sampai jarak antara ujung lengan yang terlipat dengan ujung leher biru bagian
depan (dekat batang IUD) sama pangjangnya dengan kedalaman kavum uteri yang telah
diukur dengan sonde. Putar tabung inserter sampai sumbu panjang
51
leher biru berada pada posisi horizontal sebidang dengan lengan IUD.

g. IUD siap dipasang pada uterus. Membuka seluruh penutup transparan dengan hati-hati

31. Menyiapkan dan menyalakan lampu periksa untuk melihat servix. Memeriksa kembali
apakah posisi speculum tetap terfiksasi dan portio servix terlihat jelas.

32. Menjepit servix dengan tenakulum pada posisi fertikal (pada posisi jam 10.00 / 12.00)
secara hati-hati. Jepit pada 1 posisi saja.

33. Memasukkan sonde uterus dengan teknik denga tidak menyentuh dinding vagina atau
bibi speculum (no touch technique) secara perlahan dan hati-hati. Menentukan posisi
uterus dan kedalaman kavum uteri dengan melihat posisi sonde yang sudah masuk
keuterus. Kemudian mengeluarkan sonde.

34. Memasang IUD kedalam uterus dengan cara:

a. Menarik tenakulum (dengan posisi masih menjepit servix), sehingga kavum uteri,
kanalis servikalis vagina berada dalam satu garis lurus.

b. Memasukkan tabung inserter yang berisi IUD dengan pelan dan hati-hati kedalam
kanalis servikalis dengan mempertahankan posisi leher biru dalam arah horizontal, sampai
terasa ada tahanan dari vundus uteri. Memastikan leher biru tetap dalam horizontal.
52
c. Memegang dan menahan tenakulum dan mendorong dengan satu tangan, sedangkan
tangan yang lain menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong.

d. Mengeluarkan pendorong dengan tetap memegang dan menahan tabung inserter setelah
pendorong keluar dari tabung inserter, dorong kembali tabung inserter dengan pelan dan
hati-hati sampai terasa ada tahanan fundus. Menanyakan pada ibu apakah ada rasa sakit
atau nyeri disekitar perutnya.

e. Mengeluarkan sebagian tabung inserter dari kanalis servikalis. Pada waktu benang
tampang menyembulkeluar dari lubang servix sepanjang 3-4 cm, potong benang dengan
gunting mayo yang tajam.

f. Mengeluarkan seluruh tabung inserter dari kanali servikalis.

g. Melepaskan jepitan tenakulum. Bila ada perdarahan tekan dengan kasa steril sampai
perdarahan berhenti

35. Melepaskan speculum dengan melonggarkan skrupnya, menutup mulut speculum,


memutar speculum sampai peganggan mengarah ke paha kanan ibu, lalu menarik
speculum keluar dari saluran vagina

36. Melepaskan sarung tangan setelah memindahkan peralatan yang telah dipakai kedalam
baskom / ember yang berisi larutan klorin

37. Memberitahukan pada ibu bahwa pemasangan IUD sudah selesai, dan menanyakan
pada ibu apakah ada rasa sakit / nyeri di sekitar perutnya
53
38. Mempersilahkan ibu untuk turun dari meja ginekologi dan memakai celananya,
kemudian mempersilahkan ibu duduk di kursi yang tersedia

39. Mencatat hasil pemasangan IUD pada kartu status dan melengkapi kartu IUD untuk
ibu. Memberitahukan hasilnya pada ibu dan mananyakan apakah ada ditanyakan mengenai
hasil pemasanga IUD. Membuat rekam medic dan melakukan pencatatan pada buku
register / catatan akseptor

40. Mengucapkan terima kasih pada ibu atas kunjungannya:

Bu, terima kasih atas kunjungannya, semoga KB nya berhasil.


D. PENYULUHAN KEPADA IBU

1. Memberitahu kapan ibu harus dating kembali untuk control dan mengingatkan kembali
masa pemakaian IUD. Control setelah 4-6 minggu setelah pemasangan IUD

2. Memberitahukan pada ibu cara memeriksa sendiri benang IUD, yaitu dengan cara
memasukkan jari tangan yang sudah dicuci sebelumnya kedalam alat kelaminnya, dan
mencari / meraba apakah ada benang seperti senar didalamnya.

3. Menganjurkan ibu untuk kembali memeriksakan diri bila:

a. Tidak dapat meraba benang IUD

b. Merasakan bagian yang keras dari IUD

c. IUD terlepas

d. Siklus haid terganggu


54
e. Mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina

f. Adanya gejala infeksi pada alat kelamin yaitu cairan barbau, bengkak, kemerahan, nyeri,
panas.

g. Nyeri setelah senggama

h. Perdarahan setelah senggama

i. Kram / kejang pada perut bagian bawah

4. Memberitahukan pada ibu bahwa IUD Copper T-380 A perlu dilepas setelah 10 tahun
atau kurang dari saat pemasangan

5. Menanyakan kepada ibu apakah ada yang mau ditanyakan lagi tentang hasil
penyuluhannya

E. SETELAH PEMASANGAN IUD

1. Melakukan proses dokontaminasi pada semua peralatan yang dipakai dengan merendam
dalam larutan klorin 0,5% dan membersihkan permukaan yang terkontaminasi dengan
mengelap dengan kain basah

2. Membuang sampah medis (kassa, sarung tangan sekali pakai dll) dan sampah non medis
ke tempat sampah yang sesuai, tanpa melepaskan sarung tangan

3. Melepaskan sarung tangan pakai ulang dan rendam dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi

4. Mencuci tangan dengan air sabun kemudian mengeringkan dengan kain atau henduk
bersih.
Konsep Dasar
1. Tubektomi (Kontrasepsi Mantap Pada Wanita)
a. Defenisi
Tubektomi adalah suatu kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan
cara tindakan pada kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel
telur (ovum) dengan sel mani / sperma.

b. Keuntungannya
Wanita tersebut mengalami kenikmatan yang lebih besar dari hubungan sexual
bebas.
Komplikasi yang dijumpai lebih sedikit dan enteng.
Sangat efektif dan permanen.
Tidak ada efek samping jangka panjang.

c. Kerugiannya
Perlu tindakan operasi kecil.
Menghindari kemampuan untuk melahirkan.

d. Indikasi Sterilisasi
Indikasi medis umum yaitu: adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi
lebih berat bila wanita ini hamil lagi.
o Gangguan fisik: tuberkulosis pulmonum, penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker
payudara, multiple sklerosis dan sebagainya.
o Gangguan psikis: skizopernia (psikosis), sering menderita psikosa nifas dan lain-
lain.
Indikasi medis obstetrik yaitu toksemia gravidarum yang berulang, seksio
sesarea berulah, histerektomi obstetrik dan sebagainya.
Indikasi medis ginekologik: pada waktu melakukan operasi ginekologik dapat
pula dipertimbangkan untuk sekaligus melakukan sterilisasi.
Indikasi sosial ekonomi yaitu indikasi berdasarkan beban sosial ekonomi yang
sekarang ini terasa bertambah lama bertambah berat.

e. Kontra Indikasi
1) Kontra indikasi mutlak
Peradangan dalam rongga panggul.
Peradangan liang senggama akut.
Kelainan adneksa patologik.
Penyakit lain yang tidak memungkinkan akseptor berada dalam posisi
genupektoral.
2) Kontra indikasi relatif
Obesitas berlebihan.
Bekas laparatomi.

f. Komplikasi
1) Komplikasi selama operasi
Waktu fungsi dan memasukkantrokar mungkin terkena organ-organ pelvis dan
rektum sehingga terjadi perdarahan dan syok.
Sesak nafas (apnoe).

2) Komplikasi pasca bedah


Nyeri perut, perut kembung, nyeri dada.
Infeksi dan febris.
Disparenea karena pertumbuhan jaringan granulasi pada bekas luka kolpotomi.

2. Vasektomi (Sterilisasi Pria)


a. Defenisi
Vasektomi adalah tindakan memotong dan penutup saluran mani
(vasdeferens) yang menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya
di testis.

b. Keuntungan
Teknik operasi kecil yang sederhana dapat dikerjakan kapan saja dan dimana
saja.
Komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan.
Hasil yang diperoleh (efektivitas) hampir 100%.
Biaya murah.

c. Kekurangan
Cara ini tidak langsung efektif.
Karena namanya masih merupakan tindakan operasi maka para pria masih
merasa takut.
Walaupun pada prinsipnya dapat disambungkan kembali, namun masih
diperlukan banyak tenaga terlatih untuk melakukannya.

d. Indikasinya
Memenuhi syarat kontap sukarela bahagia kesehatan sudah diperiksa.
Untuk tujuan kontrasepsi yang permanen.
Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi
reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan
pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kwalitas keluarga.

e. Kontra Indikasinya
Kontra indikasi relatif adalah beberapa kelainan setempat yaitu
peradangan kulit / jamur di daerah krotum hydroceletestis, orchitis / epidemitis.

f. Efek Samping
Kulit membiru atau lecet pembengkakan dan rasa sakit.
Timbulnya anti body dan masalah psikologis.

3. Pelaksanaan Operasi
a. Konseling Prabedah
Kenalkan diri anda dan sapa klien dengan hangat.
Tanyakan pada klien jumlah anak dan riwayat obstetrinya.
Telaah catatan medik untuk memungkinkan kontra indikasinya.
Jelaskan tentang teknik operasi anastesi lokal kemungkinan rasa sakit tidak enak
selama operasi.
Jelaskan bahwa operasi akan berjalan singkat.

b. Persiapan Prabedah
Langkah:
Periksa perlengkapan peralatan bedah dan obat operasi anastesi.
Pasang tensi meter, periksa dan catat tensi, nadi pernafasan setiap 15 menit.
Pasang wingnedle.
Jika klien memerlukan tambahan, selesai mendapat diazepam / oral berikan
pethidin 1 mg kg BB (im) dan tunggu 30 45 menit.

c. Prosedur Operasi
Langkah:
Pakai pakaian kamar operasi topi dan masker.
Cuci dan sikat tangan dengan larutan antiseptik selama 3 menit.
Pakai sarung tangan steril atau desinfeksi tingkat tinggi.
Usap genitalia eksterna dan perineum dengan kasa beri aseptik dan lakukan
kateterisasi.
Lakukan pemeriksaan pelvik secara bimanual, nilai posisi dan besar uterus serta
kelainan dalam pelvic.
Pasang spekulum dan nilai servik dan vagina kemudian lakukan tindakan obsesi
pada portrio dan vagina.
Pasang tenakulum pada jam 12 dan lakukan sondase.
Pasang elevator uterus.
Ikatkan gagang elevator pada gagang tenakulum untuk mempertahankan posisi
uterus.
Lepas sarung tangan pakai gaun operasi dan sarung tangan steril.

d. Persiapan Lapangan Operasi Dan Penentuan Tempat Insisi


Instruksikan pada perawat untuk menyuntik diazepam 0,1 mg / kg BB (iv) dan
tunggu 3 menit kemudian suntikkan ketalar 0,5 mg / kg BB (iv) tunggu 3 menit.
Tentukan tempat insisi pada dinding perut dengan jalan menggerakkan elevator
uetrus ke bawah sehingga fundus uteri menyentuh dinding perut 2 3 di atas
simpisis pubis.
Lakukan tindakan asepsi (betadin atau jodium).
Suntikan secara infiltrasi 3 4 cc anastesi lokal (lignokain 26 di bawah kulit pada
tempat insisi tunggu menit).
Lakukan insisi melintang pada kulit atau jaringan subcutan sepanjang 3 cm pada
lokasi yang telah ditentukan.
Pisahkan jaringan subcutan secara tumpul.
Jepit fasra dengan kocher pada dua tempat pada arah pertikal dengan jarak 2 cm
lakukan insisi horizontal.
Pisahkan jaringan otot secara tumpul pada garis tengah dan jari telunjuk atau
klem arteri sehingga tampak peritorium dan lakukan anestesi lokal 3 cc.
Jepit peritonium dengan 2 klem.
Gunting

e. Memotong Tuba (Cara Pomeroy)


Langkah:
Jepit tuba pada 1/3 proksimal dengan klem babcock angkat sampai tuba
melengkung, tentukan daerah mesosalping tanpa pembuluh darah.
Tusukan jarum bulat dengan catgut dengan no: 0 pada jarak 2 cm dari puncak
lengkungan dan ikat salah satu pangkal lengkungan tuba.
Ikat kedua pangkal lengkungan tuba secara bersama-sama dengan
menggunakan benang sama.
Potong tuba tepat di atas ikatan benang.
Periksa pendarahan pada tunggul tuba dan periksa kuman tuba untuk
meyakinkan tuba terpotong.
Potong benang catgut 1 cm dari tuba dan masukkan kembali tuba ke dalam
rongga abdomen.
Lakukan tindakan sama pada tuba dan sisi yang lain.

f. Menutup Dinding Abdomen


Langkah:
Periksa rongga abdomen (kemungkinan pendarahan atau laserasi usus) dan
keluarkan kasa gulung.
Jahit fasia dengan jahitan simpul atau angka 8 memakai benang chromic catgut.
Jahit subcutis dengan jahitan simpul memakai benang plain catgut.
Jahit kulit dengan jahitan simpul memakai benang no: 0.

g. Tehnik Vasektomi Standar


Celana dibuka dan baringkan pasien dalam posisi terlentang.
Daeah kulit skrotum penis pubis dan bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan
dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang seperti larutan adofor
(betadine) 0,75%.
Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang
pada tempat skrotum ditonjolkan keluar.
Tepat di linea mediana di atas vasdeferens kulit skrotum diberi anastesi lokal
(prokain atau novakain) 16,05 ml lalu jarum diteruskan masuk di daerah distal
serta proksimal vasdeferens dideponir lagi masing-masing 0,5 ml.
Setelah kulit dibuka, vas deferens dipegang dengan klem, disiangi sampai
tampak vasdeferens mengkilat seperti mutiara, perdarahan dirawat dengan
cermat sebaiknya ditambah lagi obat anastesi ke dalam fasia vas deferens dan
baru kemudian fasia disayat longitudinal sepanjang 0,5 cm usahakan tepi sayatan
rata.
Jepitlah vasdeferens dengan klem pada dua tempat dengan jarak 1 2 cm dan
ikat dengan benang kedua ujungnya setelah diikat jangan dipotong lagi.
Potonglah diantara dua ikatan tersebut sepanjang 1 cm gunakan benang sutra
no: 00,0 atau satu untuk mengikat vas tersebut ikatan tidak boleh terlalu longgar
tetapi jangan terlalu keras karena dapat memotong vasdeferens.
Setelah selesai, tutuplah kulit dengan 1 2 jahitan plain catgut no: 000 kemudian
rawat luka operasi.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan untuk
pengumpulan data yang akurat dan sistimatis dengan cara wawancara dan
observasi.
a. Wawancara adalah yang dilakukan langsung terhadap pasien dan keluarga.
b. Observasi adalah dalam hal ini mengamati langsung segala tingkah laku dan
kondisi penderita.
c. Riwayat keperawatan.
d. Riwayat penyakit.
e. Riwayat keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan tindakan operasi /
terputusnya jaringan d/d adanya luka operasi.
b. Resiko tinggi terjadinya b/d tindakan operasi kontap d/d adanya luka operasi.
c. Intoleransi aktifitas b/d pasca operasi / post operasi kontap d/d adanya luka
operasi kontap.
d. Gangguan pada istirahat tidur b/d nyeri pada luka operasi d/d luka operasi kontap,
pasien mengantuk, pasien gelisah.
e. Kurang pengetahuan pasien b/d kurangnya informasi tentang kontap d/d pasien
bertanya-tanya tentang kontap.

3. Perencanaan
DX 1
Gangguan rasa nyaman nyeri b/d tindakan operasi / terputusnya jaringan ditandai
adanya luka operasi.
Tujuan:
Rasa nyaman terpenuhi.
Kriteria hasil:
Nyeri tidak ada.
Intervensi Rasional
Kaji lokasi, intensitas skala Memudahkan teknik
nyeri perawatan
Ajarkan teknik relaksasi Mengurangi tingkat nyeri
Kolaborasi dengan dokter Mengurangi tingkat nyeri
dalam pemberian obat
analgetik (mengurangi rasa
sakit)

DX 2
Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d tindakan operasi kontap d/d luka operasi.
Tujuan:
Infeksi tidak ada.
Kriteria hasil:
Luka operasi kering.
Intervensi Rasional
Kaji tanda-tanda infeksi Memudahkan penanganan
(dolor, kolor, rubor tumor) selanjutnya
fungsiolesa Meminimalkan resiko terjadi
Perawatan luka operasi infeksi
secara steril Meminimalkan resiko terjadi
Kolaborasi dengan dokter infeksi
dalam pemberian obat
antibiotik

DX 3
Intoleransi aktifitas b/d pasca operasi / post operasi kontap.
Tujuan:
Mobilitas terpenuhi.
Kriteria hasil:
Os bisa berjalan sendiri.
Intervensi Rasional
Ajarkan aktifitas ringan Aktifitas berat dapat
(miring kiri miring kanan) menambah nyeri
Bantu dalam pemenuhan Meminimalkan rasa nyeri
kebutuhan personal hygiene yang meningkat

DX 4
Gangguan pada istirahat tidur b/d nyeri pada luka operasi d/d luka operasi kontap
pasien mengantuk, pasien gelisah.
Tujuan:
Pola istirahat tidur terpenuhi.
Kriteria hasil:
Tidur 6 8 jam.
Intervensi Rasional
Kaji jam tidur pasien Memudahkan perawat
menentukan perawatan
selanjutnya
Ciptakan lingkungan yang Pasien tidak terganggu bila
tenang dan nyaman saat tidur
Batasi jumlah pengunjung Pasien tidak terlalu
selama periode istirahat berbincang-bincang dengan
pengunjung
Batasi tidur pola siang hari, Memudahkan pasien dapat
agar pada malam hari, pasien tidur pada malam hari
bisa tidur

DX 5
Kurang pengetahuan pasien b/d kurangnya informasi tentang kontap d/d pasien
bertanya-tanya tentang kontap.
Tujuan:
Pasien mengerti tentang kontap.
Kriteria hasil:
Pasien dapat menjelaskan pengertian kontap.

Intervensi Rasional
Kaji tingkat pengetahuan Membantu perawat dalam
pasien tentang kontap menentukan penjelasan
kontap
Beri penjelasan tentang Mengatasi kurang informasi
kontap Membantu pasien mengerti
Libatkan keluarga dalam dan mempercepat proses
perawatan dan pengobatan peningkatan pengetahuan
pasien pasien
DAFTAR PUSTAKA

Mochtar R, 1998, Sinopsis Obstetri, Jakarta, EGC.


Prawirohardjo, S, 1981, Ilmu Kebidanan, Edisi Kedua, Jakarta, Yayasan Bina
Pustaka.
Prawirohardjo, S, 2003, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta,
Yayasan Bina Pustaka.
Bobak, 2005, Rencana Asuhan Keperawatan Maternitas, Jakarta, EGC.