You are on page 1of 13

Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

FORMULASI MOUTHWASH MINYAK ATSIRI DAUN KEMANGI


(Ocimum sanctum L.) dan KAYU MANIS (Cinnamomum zeylanicum)
DENGAN MENGGUNAKAN TWEEN 80 SEBAGAI SURFAKTAN

Adhisty Kharisma Justicia, Ade Ferdinan, Mariani Maya


Akademi Farmasi Yarsi Pontianak, Jl. Panglima Aim Pontianak, Indonesia
e-mail : adhisty.kharisma@gmail.com

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai Formulasi Mouthwash Minyak Atsiri


Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) Dan Kayu Manis (Cinnamomum zeylanicum)
dengan menggunakan Tween 80 sebagai Surfaktan. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh konsentrasi surfaktan yang baik dalam formulasi mouthwash minyak
atsiri daun kemangi dan minyak atsiri kayu manis dan stabil secara fisik. Metode
penelitian yang dilakukan meliputi dua tahap yaitu pembuatan sediaan mouthwash
dan uji evaluasi sediaan mouthwash. Pada pembuatan mouthwash minyak atsiri
daun kemangi (Ocimum sanctum L.) dan kayu manis (Cinnamomum zeylanicum)
dengan menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan menggunakan variasi
konsentrasi Tween 80 yaitu 3,75%, 7,5%, dan 15%. Pada formula mouthwash
dilakukan pengujian sebelum dan sesudah kondisi penyimpanan dipercepat.
Parameter yang diuji meliputi pengujian organoleptis, penentuan massa jenis,
penentuan viskositas dan pengukuran pH. Dari hasil penelitian Formula II
menghasilkan formula yang lebih baik dibandingkan dengan formula I dan III.
Kata Kunci : Mouthwash, Minyak Atsiri Daun Kemangi dan Kayu Manis, Tween
80.
Abstract

This research is about The Mouthwash Formulation of Essential Oil Basil


Leaf (Ocimum sanctum L.) and Cinnamon (Cinnamomum zeylanicum) using Tween
80 as Surfactan This research aimed to find is the best surfactan formulation of
mouthwash from essential oli basil leaf and cinnamon and physically stable. The
method of this research was did surround two steps there are the production of
mouthwash and test evaluation of mouthwash. On the production mouthwash of
atsiri basil leaf (Ocimum sanctum L.) and cinnamon (Cinnamomum zeylanicum) by
using tween 80 as surfaktan used variation concentration tween 80 is 3,75%, 7,5%,
and 15%. At the mouthwash formulation have done the tested before and after
condition of saving accelerated on temperature 5C and 40C alternting during 6
cycles, parameter that have test surround by organoleptis test, determine of good
variety mass formula I, determine the good viskositas formula I and II, and
measuring the good pH formula III.
Keywords : Mouthwash, Atsiri basil leaf oil and Atsiri cinnamon oil, Tween 80

Artikel diterima: 23 Februari 2017 134


Diterima untuk diterbitkan: 23 Maret 2017
Diterbitkan: 30 Maret 2017
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

PENDAHULUAN
Tanaman daun kemangi Tanaman selanjutnya yang
(Ocimum sanctum L.) ini merupakan dapat dijadikan antibakteri adalah
salah satu familia Lamiaceae. Daun Kayu Manis (Cinnamomum
Kemangi dapat berkhasiat sebagai zeylanicum) ini merupakan salah satu
antibakterial, Kemangi mengandung familia Lauraceae. Kayu Manis
tanin, flavonoid, steroid/triterpenoid, banyak dimanfaatkan untuk penyedap
minyak atsiri, asam heksauronat, pada makanan, pengobatan medis,
pentosa, xilosa, asam metil serta tak jarang digunakan sebagai
homoanisat, molludistin serta asam dupa dalam upacara keagamaan. Kulit
ursolat (Hendrawati, 2009). Daun kayu manis mempunyai rasa pedas
kemangi mengandung saponin, dan manis, berbau wangi, serta
flavonoid, polifenol dan tannin bersifat hangat. Beberapa bahan
(Pujianta, 2010). Daun Kemangi kimia yang terkandung dalam kayu
mengandung betakaroten (provitamin manis diantaranya minyak atsiri,
A), vitamin c dan daun kemangi juga eugenol, cinnamic aldehida, safrol,
mengandung komponen non gizi, tannin. kalsium oksalat, dammar, dan
antara lain senyawa flavonoid dan zat penyamak (Hariana,2007).
eugenol, arginin, anetol, boron, dan Minyak atsiri yang berasal dari kulit
minyak atsiri. Senyawa ini juga komponen terbesarnya ialah
bersifat antimikroba yang mampu cinnaldehida 6070% ditambah
mencegah masuknya bakteri, virus, dengan eugenol, beberapa jenis
atau jamur yang membahayakan aldehida, benzyl- benzoat,
tubuh (Putra, 2012). Daun kemangi phelandrene dan lainlainnya. Kadar
berkhasiat untuk mengatasi sariawan, eugenol ratarata 8066%. Dalam
panu, mual, masalah-masalah untuk kulit masih banyak komponen-
pria dan bau mulut (Putra, 2012). komponen kimiawi misalnya: damar,
Minyak atsiri daun kemangi 1 % pelekat, tanin, zat penyamak, gula,
memiliki nilai % Penghambatan kalsium, oksalat, dua jenis insektisida
bakteri sebesar 87,50 3,33 cinnzelanin dan cinnzelanol, cumarin
(Yosephine, 2013). dan sebagainya (Rismunandar,1995).

135
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

Minyak Atsiri Kayu Manis memiliki bakteri gram positif dan gram
nilai KHM sebesar 1,67 % . Minyak negatif, jamur, dan kapang. Minyak
atsiri dari kayu manis mempunyai atsiri daun kemangi dapat juga
daya bunuh terhadap mikroorganisme dikembangkan dalam bentuk sediaan
(antiseptis), membangkitkan selera mouthwash untuk menjaga
atau menguatkan lambung (stomakik) kebersihan dan kesehatan pada daerah
juga memiliki efek untuk rongga mulut. Bakteri mulut
mengeluarkan angin (karminatif). merupakan masalah yang harus
Minyak atsiri Kayu Manis merupakan dihadapi semua orang karena
preparat antimikroba alami yang menyebabkan plak dan bau mulut.
dapat bekerja terhadap bakteri, virus, Mouthwash Daun Kemangi dan Kayu
dan jamur (Yuliani dan Satuhu, Manis dikombinasikan ini
2012). Efek farmakologis yang membedakan dari pada yang lain,
dimiliki kayu manis diantara sebagai mouthwash Daun kemangi tersendiri
peluruh kentut (carminative), peluruh sudah biasa dilakukan oleh
keringat (diaphoretic), antirematik, masyarakat dan pada penelitian
penambah nafsu makan (stomachica) sebelumnya sediaan mouthwash yang
dan penghilang rasa sakit (analgesic) sudah dibuat hanya menggunakan
(Hariana, 2007). salah satu dari bahan alam tersebut.
Minyak atsiri merupakan salah Tanaman ini dikombinasikan karena
satu metabolit sekunder tanaman kedua bahan alam tersebut
yang banyak dilaporkan memiliki mengandung zat antibakteri.
aktivitas antibakteri. Minyak atsiri Mouthwash bisa digunakan
merupakan preparat antimikroba sebagai agen terapetik dan juga
alami yang dapat bekerja terhadap kosmetik. Mouthwash sebagai agen
bakteri, virus, dan jamur (Yuliani dan terapetik dapat digunakan untuk
Satuhu, 2012). Suppakul dkk (2003) mengatasi plak, gingivitis, karies gigi,
juga menyebutkan dalam dan stomatitis. Mouthwash sebagai
penelitiannya bahwa minyak atsiri kosmetik ditujukan untuk
daun kemangi menunjukkan aktivitas mengurangi bau mulut dengan cara
antimikroba terhadap sebagian besar menambahkan bahan antimikrobial

136
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

atau penambah rasa ke dalam dan Minyak Atsiri Kayu Manis


formulanya (Nairn, 2000). Salah satu (Cinnamonum zeylanicum), gliserin,
bahan penyusun sediaan mouthwash tween 80, Natrium Benzoate, Na-
yaitu surfaktan. Surfaktan yang Sakarin, Peppermint oil,dan aquadest.
digunakan dalam formulasi ini yaitu Formulasi Mouthwash
Tween 80. Tween 80 digunakan Disiapkan alat-alat yang
karena merupakan surfaktan nonionik digunakan, kemudian semua bahan
hidrofilik yang digunakan sebagai ditimbang sesuai dengan yang
emulgator pada sediaan stabil minyak dibutuhkan, Pada tahap pertama fase
dalam air. Selain itu Tween 80 air dan bahan yang larut air disiapkan
digunakan sebagai agen pelarut untuk yaitu aquadest,Na-Benzoat,Na-
beberapa zat termasuk minyak Sakarin,tween 80,serta gliserin,
esensial (Rowe et al,. 2009) kemudian bahan yang tidak larut air
METODE PENELITIAN dicampurkan seperti minyak atsiri
Peralatan yang digunakan daun kemangi (Ocimum sanctum L.)
dalam penelitian ini adalah batang dan Kayu Manis (Cinnamonum
pengaduk, beaker glass 100 ml, zeylanicum) dan Peppermint oil,
erlenmeyer, kaca arloji, gelas ukur kedua fase ini kemuadian
100 ml, botol infus, pH meter, pipet dicampurkan bersama sambil diaduk
tetes, sendok stainless steel, hingga larut lalu disaring dan
timbangan analitik, viscometer dimasukan dalam botol kaca bening.
ostwald,dan Piknometer. Mouthwash Daun Kemangi dan Kayu
Bahan yang digunakan dalam Manis yang dihasilkan diuji evaluasi
pembuatan adalah Minyak Atsiri stabilitasnya. Formulasi mouthwash
Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) dapat dilihat pada tabel berikut

137
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

Tabel. Rancangan Formula Mouthwash minyak atsiri daun kemangi (Ocimum


sanctum L.) dan Kayu Manis (Cinnamonum zeylanicum)
Setiap 50 mL mouthwash mengandung :
BAHAN FORMULA (%) FUNGSI
I II III
Minyak atsiri daun
kemangi 1 1 1 Zat aktif
Minyak atsiri kayu manis 1.67 1.67 1.67 Zat aktif
Tween 80 3.75 7.5 15 Emulgator
Gliserin 5 5 5 Wetting Agent
Peppermint oil 0.3 0.3 0.3 Flavors
Natrium Benzoat 0.4 0.4 0.4 Preservative
Natrium sakarin 1 1 1 Sweetener
Aquadest ad 100 ad 100 ad 100 Pelarut

Evaluasi Stabilitas Sediaan Penetapan Massa Jenis


Mouthwash Penetapan massa jenis ini
Untuk mengetahui stabilitas menggunakan piknometer, pada
sediaan mouthwash maka dilakukan penggunaan piknometer ini pertama
pengujian kestabilan sebelum dan cuci piknometer dengan aquadest,
sesudah penyimpanan dipercepat bilas dengan alcohol/asetot,
pada suhu 5C dan 40C selama 6 keringkan di oven (1000C), dinginkan
siklus. Satu siklus terdiri dari dalam eksikator, kemudian timbang
penyimpanan selama 24 jam pada piknometer kosong (a gram),
suhu 5C dan 24 jam pada suhu 40C kemudian timbang piknometer berisi
(Banker, 1979). Evaluasi ini meliputi sampel cair (c gram).
uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, ()
Rumus : () =

dan penetapan massa jenis.
Uji Viskositas
Uji Organoleptis
Uji viskositas menggunakan
Uji organoleptis dilakukan
viskometer ostwald, dalam
dengan melihat kejernihan,mencium
pengerjaan ini pertama bersihkan
bau dan warna dari mouthwash yang
dengan air, bilas dengan alcohol,
dibuat (Rahayu, 1994).
masukkan air suling (sebagai cairan
pembanding), kemudian dipipet air

138
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

yang tadi disebelah kanan hingga stopwatch pada saat tangan


batas atas, setelah itu tahan dilepaskan dan ukur waktunya dari
menggunakan tangan pada saat pipet batas atas hingga batas bawah
dilepaskan. Setelah itu siapkan (Yosephine, 2013).
2 2 2
Rumus : =
1 1 1

Ket: 2: viskositas cairan pembanding (sentipoice (cP))


1: viskositas cairan sampel (sentipoice (cP))
2 : Massa Jenis dalam cairan pembanding (gram/mL)
1: Massa Jenis dalam cairan sampel (gram/mL)
t2 : waktu aliran cairan pembanding (Detik)
t1 : waktu aliran cairan sampel (Detik)
Pengujian pH Untuk mengetahui kestabilan
Setiap sampel mouthwash diukur Mouthwash dalam penyimpanan
nilai pH. Pengukuran dilakukan maka dilakukan beberapa evaluasi
dengan cara elektroda dibilas dengan kestabilan fisik yang meliputi uji
aquadest dan dikeringkan dengan organoleptis, uji Penetapan Massa
kertas tissue. kemudian elktroda Jenis, uji Viskositas, dan uji pH pada
dicelupkan pada larutan sampel dan kondisi sebelum dan sesudah
dibiarkan beberapa saat sampai penyimpanan dipercepat. Kondisi
diperoleh bacaan yang stabil, lalu penyimpanan dipercepat yang sering
nilai pH dicatat (Apriyantono dkk, digunakan untuk mengevaluasi
1989). kestabilan adalah penyimpanan pada
HASIL DAN PEMBAHASAN saat beberapa periode waktu pada dua
Penambahan emulgator (Tween suhu yang lebih tinggi dan lebih
80) dapat mempengaruhi kelarutan rendah dari suhu kamar.
suatu zat. Penambahan emulgator Satu cara yang dapat
dalam larutan akan menyebabkan dilakukan untuk menentukan
turunnya tegangan permukaan kestabilan adalah dengan
larutan. Setelah mencapai konsentrasi penyimpanan antara dua suhu yaitu
tertentu, tegangan permukaan akan pada suhu 5C dan 40C secara
konstan walaupun konsentrasi bergantian masing-masing 24 jam
emulgator ditingkatkan. selama 6 siklus, kedua suhu tersebut

139
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

lebih dipilih dalam metode kondisi Terjadinya perubahan organoleptis


dipercepat karena waktu yang bau,kejernihan dan warna mouthwash
diperlukan untuk penelitian lebih dapat menggambarkan adanya
singkat dibandingkan dengan suhu perubahan kualitas atau
lain yang disarankan (Banker, 1979). ketidakstabilan mouthwash.
Pengujian Organoleptis Hasil Pengujian organoleptis
Uji Organoleptis merupakan terhadap mouthwash sebelum dan
salah satu parameter fisik untuk sesudah kondisi dipercepat dapat
mengetahui kestabilan mouthwash. dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Data Hasil Pengujian Organoleptis Terhadap Mouthwash Sebelum dan
Sesudah Kondisi Dipercepat
Formula Kondisi sebelum dipercepat Kondisi sesudah dipercepat
mouthwash Kejernihan Warna Bau Kejernihan Warna Bau
I Keruh Putih Khas Keruh Putih Khas
II Keruh Putih Khas Keruh Putih Khas
III Keruh Putih Khas Keruh Putih Khas

Dari hasil pengujian dan minyak atsiri kayu manis yang


organoleptis dari formula I, II, dan III akan merubah warna sediaan menjadi
tidak ada perubahan terhadap keruh putih. Kandungan eugenol
mouthwash sebelum dan sesudah (fenol) dari minyak atsiri akan
kondisi dipercepat yaitu warna putih, menyebabkan tween 80 mengendap
kejernihan pada sediaan mouthwash saat dicampurkan sehingga dalam
keruh, dan berbau khas minyak atsiri pengujian dan penggunaanya harus
kemangi dan kayu manis. Warna dikocok terlebih dahulu.
keruh putih disebabkan adanya reaksi Pengujian Massa Jenis
antara Tween 80 dengan minyak atsiri Selain Organoleptis, pH,
pada sediaan mouthwash, Tween 80 Viskositas, Massa Jenis juga menjadi
incompatile/tidak tercampur dengan salah satu uji yang menjadi syarat
senyawa fenol yang terkandung mutlak sediaan mouthwash. Hal ini
dalam minyak atsiri daun kemangi dapat dilihat pada gambar 1.

140
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

1,046 1,0449
1,044 1,0422
1,042 1,0412
Massa Jenis (gr/mL) 1,0394
1,04
1,038
1,036 SEBELUM
1,034 1,033 1,0328 SESUDAH
1,032
1,03
1,028
1,026
FORMULA I FORMULA II FORMULA III

Gambar 1. Diagram Hasil uji massa jenis pada saat sebelum dan sesudah kondisi
dipercepat
Adanya perbedaan ini dilihat pada gambar 1 Nilai massa
disebabkan oleh perbedaan jumlah jenis semakin menaik seiring dengan
tween 80 yang ditambahkan pada bertambahnya konsentrasi Tween 80
masing-masing Formula. Dari pada kondisi sebelum dan sesudah
pengujian massa jenis, semakin besar dipercepat. Dari gambar 1 telah
konsentrasi Tween 80 maka akan diketahui perbedaan massa jenis
semakin berat massa jenisnya. sediaan mouthwash sebelum dan
Gliserin juga mempengaruhi massa sesudah dipercepat, pada kondisi
jenis mouthwash, karena gliserin sebelum dipercepat massa jenis lebih
sebagai wetting agent menurunkan tinggi dibanding kondisi sesudah
tegangan permukaan bahan dengan dipercepat. Berdasarkan evaluasi nilai
air (sudut kontak) dan meningkatkan massa jenis formula yang baik adalah
dipersi bahan tidak larut. Literatur Formula I dengan konsentrasi 3,75%.
menunjukkan bahwa nilai massa jenis Hal ini dikarenakan pada Formula I
tween 80 lebih besar dari pada air tidak jauh selisih massa jenis ketika
yaitu sebesar 1,06-1,09 g/mL kondisi sebelum dan sesudah
(Budavari,1996). Oleh karena itu dipercepat.
dapat dikatakan bahwa penambahan Pengujian Viskositas
tween 80 dapat meningkatkan nilai Pengujian Viskositas
massa jenis mouthwash. Hal ini bisa merupakan salah satu parameter yang

141
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

berguna untuk memperbaiki Viskositas pada pembuatan


kemampuan tuang dari mouthwash mouthwash dari Minyak Atsiri Daun
(Martin A, 1993). Pengujian Kemangi dan Kayu Manis sebelum
viskositas menggunakan alat dan sesudah kondisi dipercepat dapat
viskometer ostwald. Hasil pengujian dilihat pada gambar 2.
0,02
0,0174 0,0177
0,018
0,016
Viskositas (Poise)

0,014
0,012 0,0099 0,0098 0,0107
0,01 0,0092 SEBELUM
0,008 SESUDAH
0,006
0,004
0,002
0
FORMULA I FORMULA II FORMULA III

Gambar 2. Diagram Hasil pengukuran Viskositas Sebelum dan Sesudah Kondisi


dipercepat
Viskositas merupakan ukuran formula akan mengubah nilai
resistensi zat cair untuk mengalir. viskositasnya secara signifikan. Nilai
Makin besar resistensi suatu zat cair viskositas pada mouthwash semakin
untuk mengalir makin besar pula meningkat seiring dengan menaiknya
viskositasnya. Daya tuang suatu jumlah Tween 80 yang digunakan,
sediaan cair dipengaruhi oleh nilai viskositasnya mengalami
viskositas suatu sediaan. Penentuan peningkatan pada ketiga formula
viskositas dapat menggunakan (Yosephine, 2013). Semakin dekat
Viskometer ostwald (Martin A, 1993). tingkat viskositas suatu produk
Pada gambar 2 dapat dilihat bahwa formulasi obat kumur dengan tingkat
terjadi perubahan viskositas pada viskositas air maka semakin mudah
seluruh sediaan mouthwash sesudah dan nyaman produk tersebut
penyimpanan kondisi dipercepat. Hal digunakan untuk berkumur, tingkat
ini menunjukkan bahwa penambahan viskositas air murni adalah 1002
Tween 80 pada masing-masing Pa.S atau sekitar 1 cp = 1/100 poise

142
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

(Pradewa,M.R.,2008). Berdasarkan terutama molekul zat yang berada


hasil penelitian dapat disimpulkan pada permukaan cairan berbentuk
bahwa viskositas mouthwash yang lapisan monomolecular yang disebut
paling baik adalah pada formula I dan dngan molekul surfaktan (Wahyuni,
II dengan konsentrasi 3,75% dan 2012).
7,5% karena tingkat viskositasnya Pengujian pH
mendekati viskositas air. Gambar 2 Pengujian pH merupakan
juga menunjukkan bahwa setelah salah satu parameter yang bertujuan
dipercepat viskositas mouthwash untuk menilai apakah sediaan aman
semakin besar. Pada dasarnya atau tidak saat digunakan pada
tegangan permukaan suatu zat cair rentang pH7. Hasil pengujian pH
dipengaruhi oleh beberapa faktor pada pembuatan mouthwash dari
diantaranya suhu dan zat terlarut. Minyak Atsiri Daun Kemangi dan
Dimana keberadaan zat terlarut dalam Minyak Atsiri Kayu Manis sebelum
suatu cairan akan mempengaruhi dan sesudah kondisi dipercepat dapat
besarnya tegangan permukaan dilihat pada gambar 3.
6,6 6,53 6,53
6,43 6,4
6,4
6,2 6,13

6
pH 5,77 SEBELUM
5,8
SESUDAH
5,6
5,4
5,2
FORMULA I FORMULA II FORMULA III

Gambar 3. Diagram pH sebelum dan sesudah kondisi dipercepat


Pada Gambar 3 dapat dilihat naik (0,3), Formula III naik (0,13).
bahwa pada sediaan mouthwash pH Dari gambar 3 menunjukkan ada
jauh berbeda pada saat keadaan perubahan pada pH saat kondisi
kondisi sebelum dipercepat dan sesudah dipercepat, pH sediaan
sesudah dipercepat, perbandingan pH dipengaruhi oleh bahan-bahan yang
sebelum ke sesudah dipercepat pada terkandung didalam formula.
formula I naik (0,76), pada Formula II Termasuk salah satunya yang paling

143
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

berpengaruh yaitu tween 80, suhu paling baik adalah Formula II karena
juga berpengaruh terhadap pH dari hasil viskositas dan pH nya .
mouthwash. Pengaruh tween 80 dapat
menurunkan tegangan antarmuka, KESIMPULAN
salah satu sifat penting dari surfaktan Formula mouthwash II dengan
adalah kemampuan untuk konsentrasi emulgator tween 80 7.5%
meningkatkan kelarutan bahan yang menghasilkan sediaan yang lebih baik
tidak larut atau sedikit larut dalam dibandingkan dengan formula I dan
medium dispersi. Surfaktan pada III setelah diuji kestabilan fisik
konsentrasi rendah, menurunkan dipercepat yang meliputi uji
tegangan permukaan dan menaikkan organoleptis, massa jenis, viskositas
laju kelarutan (Martinet al., 1993). dan pH.
Dari ketiga formula tersebut DAFTAR PUSTAKA
ketiganya masih memiliki nilai Apriyantono, A, Fardiaz, D,
Puspitasari, N,L, Sedarnawati,
standar pH yg bagus untuk mulut dan Y, dan Budianto, S, 1989,
dilihat pada diagram pH sediaan Petunjuk laboraturium Analisis
Pangan, PAU Pangan dan Gizi,
mouthwash yang paling mendekati IPB, Bogor.
pada rentang pH 7 yaitu Formula III. Backer, A.K. 1990,Hanbook of
Nonpresciption Drugs 9th
Penelitian ini menggunakan suatu
Edition, American
emulgator dari golongan nonionik Pharmaceutical, Washington.
yaitu Tween 80 dengan konsentrasi Banker, GS and Rodes, CT. 1979,
yang berbeda. Konsentrasi Modern Pharmaceutis,
Second edition, New York:
yang berbeda tersebut ditujukan Marsel Dokker Inc.
untuk mengetahui adanya pengaruh Depkes RI, 1979, Farmakope
konsentrasi Tween 80 yang terlarut Indonesia, Edisi Ketiga,
Departemen Kesehatan
terhadap sediaan, dan dilihat pada
Republik Indonesia, Jakarta.
Pengujian Organoleptis, massa jenis, Gunawan, Mulyani, 2004,Ilmu obat
viskositas dan pH. Dari hasil alam (farmakognosi), Penebar
Swadaya, Jakarta.
penelitian menunjukkan bahwa
Giertsen, E, Emberland, H,
mouthwash minyak atsiri kemangi danScheie, A, A, A, 1999,
dan minyak atsiri kayu manis yang Effect of Mouth Rinses with
Xylitol and Flouride on Dental

144
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

Plaque and Saliva, Caries Res, Fakultas Kedokteran.


33 (1), 23-31. Putra, S. R., 2012, Khasiat Ajaib
Hariana A, 2007,Tumbuhan obat dan Kemangi., DIVA Press,
khasiatnya, Seri 1,Penebar Jogjakarta.
Swadaya, Jakarta. Rahayu, W.P, 1994, Penuntun
Harris R, 1990, Tanaman minyak Praktikum Penelitian
atsiri, Pene-bar Swadaya, Organoleptik, Jurusan
Jakarta. Teknologi Pangan dan Gizi,
HendrawatiAninditaRosendaEka,20 Fateta IPB, Bogor.
09,UjiToksisitasAkutEkstrak Raymond C.R, Paul J.S dan Marian
Kental Etanol Daun Kemangi
E.Q, 2009, Handbook
(Ocimum basilicumL),
Terhadap Larva Pharmaceutical
ArtemiaSalinaLeachDengan Exipients,Sixth Edition
Metode Bring Shrime Published, Pharmaceutical
Lethalitytest (BST), Fakultas Prees and American
Kedokteran, Semarang. Association, Washington.
Madigan MT, Martinko JM, Brock Rismunandar, Farry BP, 2001,Kayu
TD, 2000,Brocks biology of manis:budi daya dan
microorganisms,11th Ed, pengolahan, Penebar
Pearson Prentice Hall, New Swadaya, Jakarta.
Jersey. Rismunandar, Ferry B. Paimin, 2009,
Martin, Alfred, James Swarbrick, Kayu manis: Budi Daya dan
Arthur Cammarata, 1993, Pengolahan, Edisi Revisi,
Farmasi Fisika, Jilid 2, Edisi Cetakan ke 8, Penebar
ketiga, Universitas Indonesia Swadaya, Jakarta.
Press, Jakarta, 1154- Sastrohamidjojo, H, 2004., Kimia
1157,1163. Minyak atsiri, Gajah Mada
Nairn, J, G, 2000, Solutions, University Press, Yogyakarta.
Emulsion, Suspension, and
Sagarin, E. Dan S.D. Gershon. 1972,
Extracts dalam Gennaro, A. R,
Remington : The Science dan Cosmetics, Science and
nd
Practice of Pharmacy, 20th Technology, 2 Edition,
edition, 728-7729, Lipincott Volume 1, John Wiley and
Williams & Wilkins, Baltimore. Sons, Inc, New York.
Pujianta, S, 2010, UjiAktifitas Daya Suppakul,P.,Miltz,J.,Sonneveld,K.,da
AntiBakteri Ekstrak Daun nBigger,S.W.,2003,Antimicro
Kemangi (Ocimumsanctum bial PropertiesofBasil
L) Terhadap Bakteri andItsPossible Application
Escherichia coli ATCC inFood
11229 dan Staphylococcus Packaging,JournalofAgricultu
aureus ATCC 6538 Secara ral danFood
Invitro Daun Kemangi Chemistry,51(11),3197-3207.
(OcimumsanctumL),

145
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2 (1), 134-146 Adhisty Kharisma Justicia

Wulanjati, M. P., Yosephine, A. D.,


Sari, Y. A. K., dan
Widhaningtyas, A., 2011,
Formulasi Sediaan
Mouthwash Antibakteri dari
Minyak Atsiri Daun Kemangi
(Ocimum basilicum L.),
Laporan Penelitian PKM,
Fakultas farmasi Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yousem, D.M., Chalian, A.A., 1998.
Oral Cavity and Pharynx.
Head and Neck Surgery.
Radiologic Clinic Of North
America.
Yosephine, D.A, 2013, Mouthwash
Formulation of basil oil
(Ocimum basilicum L.) and in
vitro Antibacterial and
Antibiofilm Activities Against
Streptococcus mutans, UGM,
Yogyakarta.
Yuliani Sri., dan Satuhu Suyanti.,
2012, Panduan Lengkap
Minyak Atsiri., Penebar
swadaya, Jakarta.

146