You are on page 1of 14

PRINSIP ETIK AKUNTAN PUBLIK

Pengertian Etika Profesional


Etika profesi menurut Keiser dalam ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 ) adalah sikap
hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan
penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa
kewajiban terhadap masyarakat. Kode etik profesi adalah sistem norma, nilai, dan aturan
profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang
tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar
atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode
etik yaitu agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau
nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk
meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. Profesionalisme adalah sebutan yang
mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk
senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa etika propesional yakni suatu ilmu yang membahas
perilaku perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia
terhadap pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu
pengetahuan khusus.
Kebutuhan Khusus Terhadap Kode Etik Profesi
Professional berarti tanggung jawab untuk berperilaku lebih dari sekedar memenuhi
tanggung jawab secara individu dan ketentuan dalam peraturan dan hukum masyarakat.
Seorang akuntan public sebagai seorang professional, harus menyadari bahwa adanya
tanggung jawab pada public, pada klien dan pada sesama rekan praktisi, termasuk perilaku
yang terhormat, bahkan jika hal tersebut berarti harus melakukan pengorbanan atas
kepentingan pribadi.
Alasan adanya harapan begitu tinggi pada penerapan etika bagi para professional
adalah kebutuhan akan kepercayaan public dalam kualitas pelayanan yang diberikan oleh
para professional tersebut, bagaimana pun individu-individu yang memberikan jasa tersebut.
Jika para pengguna jasa tidak memiliki kepercayaan, maka professional tersebut akan
kehilangan kemampuan untuk melayani klien dan juga masyarakat umum secara efektif.
Kepercayaan public terhadap kualitas jasa professional yang diberikan akan
meningkat bila profesi mendorong diterapkannya standar kinerja dan standar perilaku yang
tinggi bagi para para praktisinya.

PRINSIP ETIKA PROFESI MENURUT IAPI


Cara-cara yang Dilakukan oleh Akuntan Publik untuk Berlaku Profesional
Cara para praktisi berperilaku dan menjalankan audit dipengaruhi oleh kewajiban hukum
KAP. Dua factor penting yang berpengaruh bagi profesi akuntan public di Indonesia yaitu
PCAOB dan SEC dan Kode Etik Pofesional adlah Kode Etik IAPI dan Kementrian
Keuangan dan Bapepam-LK. Kode Etik dimaksudkan untuk memberikan standar perilaku
bagi seluruh anggota IAPI . Bapepam-LK berwenang untuk menetapkan standar etika dan
independensi bagi para auditor perusahaan public.
Kode etik IAPI memberikan standar umum atas perilaku yang ideal dan ketetapan peraturan
yang spesifik yang mengatur perilaku. Saat ini IAPI sedang mengadopsi Kode Etik bagi Para
Akuntan Profesional dari IFAC (IFAC Code of Ethics for Proffesional Accountants). Kode
etik tersebut akan segera diterapkan pada seluruh anggota IAPI.
Kode etik tersebut terdiri dari tiga bagian, ditambah sebuah bagian yang berisi
definisi-definisi penting, yang meliputi bagian-bagian sebagai berikut
Bagiian A : Penerapan Umum atas Kode Etik
Bagian B : Anggota dalam Praktik Publik
Bagian C : Anggota dalam Bisnis
Bagian A mengidentifikasikan tanggung jawab bertindak untuk kepentingan public
sebagai unsur pembeda dalam profesi akuntansi. Bagian A pasal 100 mendefiniskan
kepentingan publik sebagai kesejahteraan kolektif komunitas masyarakat dan lembaga-
lembaga yang dilayani oleh anggota. Komunitas ini terdiri dari para klien, pemberi kredit,
pemerintah, pemberi kerja, karyawan, investor, komunitas bisnis dan keuangan, serta lainnya
yang mengandalkan objektivitas dan integritas dari para anggota untuk membantu dalam
menjaga fungsi perdagangan agar berjalan teratur.
Bagian A juga menetapkan mengenai prinsip-prinsip dasar etika professional bagi
para anggota, serta memberikan kerangka konseptual untuk menerapkan prinsip-prinsip
tersebut. Bagian B dan C menggambarkan bagaimana kerangka konseptual tersebut
diterapkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi ancaman dalam situasi-situasi tersebut.
Prinsip-prinsip Dasar Etika Profesional
Kelima prinsip etika dalam bagian A kode etik professional dimaksudkan untuk diterapkan
pada seluruh anggota dan bukan hanya mereke yang melakukan praktik publik. Kelima
prinsip yang harus diterapkan auditor adalah sebagai berikut.
1. Integritas. Para auditor harus terang dan jujur serta melakukan praktik secara adil dan
sebenar-benarnya dalam hubungan professional mereka.
2. Objektivitas. Para auditor harus tidak berkompromi dalam memberikan
pertimbangan profesionalnya karena adanya bias, konflik kepentingan atau karena
adanyapengaruh dari orang lain yang tidak semestinya. Hal ini mengharuskan auditor
untuk menjaga perilaku yang netral ketika menjalankan audit, menginterpretasikan
bukti audit dan melaporkan laporan keuangan yang merupakan hasil dari penelaahan
yang mereka lakukan.
3. Kompetensi professional dan kecermatan. Auditor harus menjagapengetahuan dan
keterampilan professional mereka dala tingkat yang cukup tinggi, dan tekun dalama
menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka ketika memberikan jasa
professional. Sehingga, para auditor harus menahan diri dari memberikan jasa yang
mereka tidak memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas tersebut, dan harus
menjalankan tugas profesionalmereka sesuai dengan seluruh standar teknis dan
profesi.
4. Kerahasiaan. Para auditor harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh
selama tugas professional maupun hubungan dengan klien. Para auditor tidak boleh
menggunakan informai yang sifatnya rahasia dari hubungan professional mereka, baik
untuk kepentingan pribadi maupun demi kepentingan pihak lain. Para auditor tidak
boleh mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia kepada pihak lain tanpa seizing
klien mereka, kecuali jika ada kewajiban hukum yang mengharuskan mereka untuk
mengungkapkan informasi tersebut.
5. Perilaku professional. Para auditor harus menahan diri dari setiap perilaku yang akan
mendiskreditkan profesi mereka, termasuk melakukan kelalaian. Mereka tidak boleh
membesar-besarkan kualifikasi atau pun kemampuan mereka, dan tidak boleh
membuat perbandingan yang melecehkan atu tidak berdasar terhadap pesaing.

Prinsip-prinsip Umum
Kode Etik Akuntan Profesional (The Code of Ethics for Profesional Accountants)
mengadopsi prinsip-prinsip umum, karena tidak mungkin untuk mengantisipasi setiap
kemungkinan situasi yang akan menimbulkan masalah etika bagi akuntan professional.
Dengan demikian, prinsip-prinsip umum ini akan memberikan dasar untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan mengatasi ancaman terhadap prinsip-prinsip utama.
Ancaman Umumnya, ancaman muncul akibat dari salah satu sebab berikut.

Kepentingan peribadi-ketika kepentingan keuangan dari auditor atau kerabatnya


terlibat.

Penelaahan pribadi- ketika seorang auditor menelaah suatu situasi yang merupakan
konsekuensi penilaian sebelumnya atau nasihat dari auditor atau perusahaan tempat
sang auditor bekerja.

Advokasi- ketika auditor mendukung suatu posisi atau opini yang mengakibatkan
berkurangnya objektivitas auditor tersebut.

Kesepahaman-ketika seoraang auditor menjadi sangat perhatian terhadap kepentingan


pihak lain disebabkan karena hubungan dekat dengan pihak tersebut.

Intimidasi- ketika tindakan yang akan dilakukan auditor dapat dinegosiasikan dengan
menggunakan ancaman nyata ataupun ancaman palsu.
Pengamanan Kode etik mengidentifikasi dua kategori pengamanan yang mampu
mengurangi ancaman smpai pada tingkat yang dapat diterima. Berikut ini adalah hal-hal yang
terkait dengan pengaman.

Profesi, legislasi, dan regulasi-mencangkup pendidikan, pelatihan dan ketentuan


pendidikan professional erkelanjutan, peraturan tata kelola perusahaan, standar
profesi, pengawasan hokum atau profesi atau penegakan hokum.

Lingkungan kerja- sangat bergantung pada kultur dan proses yang ditetapkan pada
kantor akuntan public tersebut. Hal ini dibahas dalam kode etik bagian B dan C.

Resolusi Konflik Kode etik mendukung proses penyelesaian konflik etika yang konsiten
dengan pendekatan enam langkah untuk mengatasi dilemma etika yang telah didentifikasi
sebelumnya pada bab ini. Kode etik ii menyarankan dilakukannya langkah-langkah berikut
sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah etika.
1. Fakta-fakta terkait (langkah 1)

2. Masalah etika yang erkait (langkah 2)

3. Prinsip-prinsip umum yang terkait dengan masalah yang dipertanyakan, termasuk


identifikasi ancaman terhadap prinsup-prinsip tersebut (langkah 1,2,3)

4. Melakukan prosedur internal yang mencerminkan pengamanan terhadap ancaman


yang telah diidentifikasikan (langkah 1,2,3)

5. Alternatif tindakan yang dilakukan (langkah 4,5)

Panduan Khusus dalam Kode Etik Profesi


Kode Etik Bagian B dan C menyatakan secara jelas aturan yang harus dipatuhi oleh setiap
akuntan public dalam memberikan jasa akuntansi publik. Karena pasal aturan perilaku
tersebut merupakan satu-satunya bagian dalam kode etik yang dapat ditetapkan, sehingga
pasal ini dapat disajikan dalam bahasa yang lebih tepat dan terperinci dibandingkan dengan
pasal lainnya dalam kode etik ini..
Perbedaan antara standar perilaku yang ditetapkan oleh prinsip-prinsip etika dan standar
perilaku yang digambarkan secara lebih nyata dalam contoh dan panduan yang terdapat
dalam panduan B dan C dari Kode ETIK ditunjukkan dalam figur :

Standar Perilaku Akuntan Publik


Perilaku Ideal Prinsip-prinsip etika

Perilaku minimal Perilaku di bawah standar minimal Panduan khusus


Ketika praktisi berperilaku dalam standar minimal seperti pada figure diatas, tidak berarti
perilaku praktisi tersebut tidak memuaskan. Hal ini dikarenakan adanya asumsi bahwa profesi
telah menetapkan standar perilaku yang cukup tinggi, seperti yang termasuk dalam Bagian B
dan C dari kode etik, untuk menjamin bahwa perilaku minimum tersebut sudah memuaskan.
Adanya perbedaan antara tingkat perilaku minimum dan tingkat perilaku ideal
memberikan lingkup penelaahan lebih lanjut. Untuk mengurangi kesenjangan ini
membutuhkan biaya yang mungkin akan mengurangi nilai jasa professional yang diberikan.
Hal ini menimbulkan banyak perdebatan terkait dengan independensi auditor dan persyaratan
diberikannya jasa non audit oleh auditor.
Muatan Kode Etik Bagian B dan C yang berisi 9 pasal utama :

210 penunjukan professional

220 komplit kepentingan

230 second opinion

240 Imbalan jasa audit dan jenis-jenis imbalan jasa lainnya

250 pemasaran jasa professional

260 hadiah dan fasilitas

270 perlindungan aset klien

280 objektivitas-semua jasa yang diberikan

290 independensi-kontrak kerja audit

Kesemua hal di atas sangat penting bagi auditor dan hampir semuanya memiliki
implikasi, atau secara langsung memengaruhi, independensi. Pasal 290 memberikan
penekanan khusus pada masalah krusial ini. Pasal 290 terdiri dari bagian-bagian berikut:
1. 290.1 -34 memberikan kerangka independensi bagi konrak kerja audit.

2. 290.100- dan berikutnya, memberikan panduan penerapan atas kerangka


independensi untuk situasi-situasi tertentu.

3. Interpretasi pasal 290 diterbitkan untuk membahas masalah-masalah teknis tertentu


beserta interpretasi atas Kode Etik tersebut.

4. Lampiran pasal 290 menyajikan pernyataan independensi auditor.

Independensi
Independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak bias dalam
melakukan pengujian audit, evaluasi atas hasil pengujian dan penerbitan laporan audit.
Independensi merupakan dasar dari prinsip intregitas dan objektivitas. Jika auditor
merupakan advokat, atau dipengaruhi oleh karyawan atau manajemen klien, maka kreditor
atau individu-individu yang berkepentingan tersebut akan memandang auditor atau memiliki
independensi atau objektivitas. Kode Etik membahas independensi dalam konteks terbebas
dari segala kepentingan yang akan merusak integritas dan objektivitas.
Sebagian besar persyaratan independensi IAPI sesuai dengan persyaratan
independensi Bapepam-LK. Namun karena kode etik tersebut cenderung bersifat principle-
based maka kode etik IAPI dan Bapepam-LK saling melengkapi satu sama lain, sehingga
memberikan panduan yang bermanfaat bagi para auditor.
Auditor tidak hanya diharuskan untuk menjaga sikap mental independen dalam
menjalankan tanggung jawabnya, namun juga penting bagi para pengguna laporan keuangan
untuk memiliki kepercayaan terhadap independensi auditor. Kedua unsur independensi ini
sering kali diidentifikasi sebagai independen dalam fakta atau independen dalam penampilan.

PRINSIP ETIK AKUNTANSI INDONESIA MENURUT IAI


Kode Etik Akuntan Indonesia
Kode Etik Akuntan Indonesia adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntan Indonesia
untuk bertugas secara bertanggung jawab dan obyektif.
Pernyataan Etika Profesi
Saat itu (rumusan kode etik yang dihasilkan tahun 1994) Kode Etik Akuntan terdiri atas
delapan bab (11 pasal) dan 6 pernyataan etika profesi. Pernyataan tersebut adalah:
1. Pernyataan etika profesi Nomor 1 tentang INTEGRITAS, OBJEKTIVITAS DAN
INDEPENDENSI

2. Pernyataan etika profesi Nomor 2 tentang KECAKAPAN PROFESIONAL

3. Pernyataan etika profesi Nomor 3 tentang PENGUNGKAPAN INFORMASI


RAHASIA KLIEN

4. Pernyataan etika profesi Nomor 4 tentang IKLAN BAGI KANTOR AKUNTAN


PUBLIK

5. Pernyataan etika profesi Nomor 5 tentang KOMUNIKASI ANTAR AKUNTAN


PUBLIK

6. Pernyataan etika profesi Nomor 6 tentang PERPINDAHAN STAFFIPARTNER DARI


SATU KANTOR AKUNTAN KE KANTOR AKUNTAN LAIN.

Rumusan Kode Etik Akuntan Indonesia saat itu, meliputi:


KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
Setiap manusia yang memberikan jasa dari pengetahuan dan keahliannya pada pisak
lain seharusnya memiliki rasa tanggung jawab pada pihak-pihak yang dipengaruhi oleh
jasanya itu.
Akuntan yang pemakaian gelarnya dilindungi oleh UU No.34/1954 adalah profesi
yang berdiri di atas landasan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian dalam
melaksanakan tugasnya akuntan harus mengutamakan kepentingan masyarakat,
pemerintah dan dunia usaha.

BAB I: KEPRIBADIAN
Pasal 1
(1) Setiap anggota harus mempertahankan nama baik profesi dan menjunjung tinggi
peraturan dan etika profesi serta hokum negara dimana ia melaksanakan
pekerjaannya.

(2) Setiap anggota harus mempertahankan integritas dan objektivitas dalam


melaksanakan tugasnya. Dengan mempertahankan integritas, ia akan bertindak
jujur, tegas dan tanpa prestasi

BAB II: KECAKAPAN PROFESSIONAL


Pasal 2
(1) (a) seorang anggota harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar teknis
dan professional yang relevan.

(b) jika seorang anggota mempekerjakan staf dan ahli lainnya untuk pelaksanaan
tugas profesionalnya, ia menjelaskan kepada mereka, keterikatan akuntan pada
kode etik. Dan ia tetap bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut secara
keseluruhan. Ia juga berkewajiban untuk bertindak sesuai kode etik, jika ia
memilih ahli lain untuk memberi saran atau bila merekomendasikan ahli lain itu
kepada kliennya.
(2) Setiap anggota harus meningkatkan kecakapan profesionalnya, agar mampu
memberikan manfaat optimum dalam pelaksanaan tugasnya.

(3) Setiap anggota harus menolak setiap penugasan yang tidak akan dapat
diselesaikannya.

Pasal 3
Setiap anggota yang tidak bekerja sebagai akuntan publik tidak boleh
memberikan pernyataan pendapat akuntan, kecuali bagi akuntan yang menurut
perundang-undangan yang berlaku harus memberikan pernyataan pendapat akuntan.
BAB III: TANGGUNG JAWAB
Pasal 4
Setiap anggota harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dalam
tugasnya. Dann tidak boleh terlibat dalam pengungkapan dan pemanfaatan informasi
tersebut, tanpa seijin pihak yang memberi tugas, kecuali jika hal itu dikehendaki oleh
norma profesi, hokum, atau Negara.
Pasal 5
setiap anggota harus bisa mempertanggungjawabkan mutu pekerjaan atau
pelaksanaan tugasnya. Ia tidak boleh telibat dalam usaha atau pekerjaan lain pada saat
yang bersamaan, yang bisa menyebabkan penyimpangan objektivitas atau ketidak
konsistensian dalam pekerjaannya.
BAB IV: KETENTUAN KHUSUS
Pasal 6
jika terlibat dalam profesi akuntan public, setiap anggota:
(1) Harus mempertahankan sikap independen. Ia harus bebas dari semua
kepentingan yang bisa dipandang tidak sesuai dengan integritas maupun
objektivasnya. Tanpa tergantung efek sebenarnya dari kepentingan itu.

(2) Harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan Standar Profesional Akuntan


Publik.

(3) Harus memberi penjelasan yang cukup mengenai tujuan pembubuhan tanda
tangan untuk hal-hal yang telah diatur dalam Standar Profesional Akuntan
Pubik.

(4) Harus menegaskan bahwa ia tidak menjamin terwujudnya lamaran atau


proyeksi, jika ia melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan ramalan
atau proyeksi.

(5) Dalam melaksanakan penugasan pemeriksaan laporan keuangan, dilarang


menerima imbalan lain selain honorarium untuk penugasan yang
bersangkutan. Honorarium tersebut tidak boleh tergantung pada manfaat yang
akan doperolah kliennya.

(6) Herus memelihara hubungan baik dengan rekan seprofesi. Hal ini terutama
berlaku bila ia mengganti atau diganti oleh rekan seprofesi atau bila ada
kebutuhan untuk bekerja sama.
(7) Tidak boleh member saran atau pandangan mengenai pendapat atau
pemeriksaan akuntan publik lain tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan
rekan yang bersangkutan.

(8) Dilarang mengiklankan atau mengizinkan orang lain untuk mengiklankan


nama atau jasa yang diberikannya, kecuali yang sifatnya pemberitahuan.

(9) Tidak boleh menawarkan jasanya secara tertulis kepada calon klien, kecuali
atas permintaan calon klien yang bersangkutan.

(10) Dalam usaha memperolah penugasan, dilarang memberikan imbalan


dalam bentuk apapun kepada pihak-pihak yang secara langsung atau tidak
langsung turut menentukan penugasan tersebut, kecuali dalam hal
pengambilalihan sebagian atau seluruh pekerjaan akuntan publik lain.

BAB V: PELAKSANAAN KODE ETIK


Pasal 7
(1) Setiap anggota wajib menghayati dan mengamalkan kode etik ini dengan
penuh rasa tanggung jawab, baik secara perorangan maupun bersama
dengan rekan anggota lainnya.

(2) Setiap anggota harus selalu berusaha untuk saling mengingatkan sesama
anggota terhadap tindakan-tindakan yang dinilai tidak etis.

(3) Setiap anggota harus meminta petunjuk dari Komite Kode Etik Ikatan
Akuntan Indonesia, dalam hal adanya masalah etika yang tidak jelas
pengaturannya.

(4) Setiap anggota harus melaporkan setiap tindakan yang melanggar kode
etik ini, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pasal 8
(1) Dewan Pertimbangan Profesi bertugas untuk menjaga ketaatan terhadap
kode etik. Tata cara mengenai Dewan Pertimbngan Profesi diatur dalam
ketentuan tersendiri.

(2) Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Psal ini,
Dewan Pertimbangan Profesi dapat mengenakan sanksi atas pelanggaran
kode etik, sebagaimana diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga Ikatan Akuntan Indonesia.

BAB VI: SUPLEMEN DAN PENYEMPURNAAN


Pasal 9
(1) Komite Kode Etik akan menerbitkan suplemen yang memperjelas
pelaksanaan kode etik ini untuk masalah-masalah tertentu.
(2) Untuk pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3),
Komite Kode Etik akan memberikan petunjuk tertulis, yang diterbitkan
dengan pernyataanya sebagai interpretasi kode etik.

(3) Penyempurnaan kode etik dilakukan oleh kongres.

BAB VII: PENUTUP


Pasal 10
Kode etik ini mengikat seluruh anggota Ikatan Akuntan Indonesia
BAB VIII: PENGESAHAN
Pasal 11
(1) Ketentuan Kode Etik Akuntan Indonesia ini disahkan dan mulai berlaku
sejak tanggal 22 September 1990.

(2) Ketentuan Kode Etik Akuntan Indonesia ini ditetapkan sebagai Keputusan
Kongres IAI ke-6 di Jakarta, tanggal 22 September 1990 jam 14.30.

Dalam kongres ke-7 Ikatan Akuntan Indonesia bulan September 1998 diadakan beberapa
perubahan mengenai Kode Etik, sebagai berikut:
1. Komite Kode Etik tidak ada lagi di struktur organisaisi IAI

2. Kerangka Kode Etik IAI menjadi:

Prinsip Etika

Aturan Etika

Interpretasi Aturan Etika

Tanya dan Jawab

Prinsip Etika mengikat seluruh anggota IAI, dan merupakan produk kongres.
Aturan Etika mengikat kepada anggota kompartemen dan merupakan produk Rapat
Anggota Kompartemen. Aturan Etika tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Etika.
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang
dibentuk oleh Kompartemen setelah memperhatikan tanggapan dari anggota dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika,
tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.
Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat itu dapat dipakai sebagai interpretasi dan
atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk
menggantikannya.
3. Prinsip Etika Profesi, yang merupakan landasan perilaku etika professional, terdiri
dari 8 prinsip yaitu:

1) Tanggup Jawab Profesi

2) Kepentingan Umum (Publik)

3) Integritas

4) Obyektivitas

5) Kompetensi dan kehati-hatian Profesional

6) Kerahasian

7) Perilaku Profesional

8) Standar Teknis

Contoh Kasus Pelanggaran Etika Profesional


Contoh kasus yang terjadi pada KAP Andersen dan Enron adalah sebuah pelanggaran
etika profesi akuntansi dan prinsip etika profesi, yaitu berupa pelanggaran tanggung jawab
yang salah satunya adalah memelihara kepercayaan masyarakat terhadap jasa profesional
seorang akuntan. Pelanggaran prinsip kedua yaitu kepentingan publik, pada kasus KAP
Andersen dan Enron tersebut kurang dipegang teguhnya kepercayaan masyarakat, dan
tanggung jawab yang tidak semata-mata hanya untuk kepentingan kliennya tetapi juga
menitikberatkan pada kepentingan public. Jadi seharusnya KAP Andersen dalam melakukan
tugasnya sebagai akuntan harus melakukan tindakan berdasarkan etika profesi akuntansi dan
prinsip etika profesi.
Tanggung Jawab Hukum Akuntan Publik
Profesi akuntan diseluruh dunia merupakan potensi yang mengghadapi resiko yang
sangat tinggi. Hampir semua akuntan publik menyadari bahwa mereka harus memberikan
jasa propesional sesuai denngan standar propesionalnya sesui dengan standar propesional
akuntan publik,menaati kode etik akuntan publik dan memiliki standar pengendalian mutu.
Jika tidak maka akuntan publik bisa salah dalam memberikan opini, karena memberikan
opini Wajar Tanpa Pengecualin padahal laporan keuangan mengandung salah saji material
(ini disebut audit failure).sejak terjadinya kasus enron, World Comp, Xerox dan lain-lain
yang menyebabkan dititupnya KAP Artur Anderson, kepercayaan masyarakat terhadap
propesi akuntan publik menurun drastis.
Di Amerika dikeluarkan Sarbanes Oxley Act untuk mencegah terulangnya kasus
serupa. Indonesia pun tidak mau ketinggalan, saat ini sudah dikeluarkan Undang-Undang
Akuntan Publik Nomor 5 Tahun 2011 tanggal 3 mai 2011 yang salah satu pasalnya
menyebutkan akuntan publik bisa dikenakan sanksi pidana jika terbukti lalai dalam
menjalankan tugasnya dan terbukti terlibat tindakan pidana.
Bapepam LK dan PPAJP depertemen keungan pun membuat sebagai aturan, antara
lain menyangkut indenpendensi akuntan publik, pembatasan jangka waktu pemberian jasa
audit ( 3 tahun untuk akuntan publik dan 6 tahun untuk KAP yang memiliki lebih dari satu
patner).
Akuntan publik bisa dituntut secara hukum oleh klien jika tidak memenuhi kontrak
yang dibuat dengan klien atau tidak hati-hati (lalai) dalm memberikan jasa propesionalnya.
Menurut arens (2011: 93)Audit propesional have a responsibility under cummon low
to fulfill implied or expressed contracts with clients.They are liable to their clients for
negligence and /or breach of countrats should they fail to provide the servise or not excercise
due care in their perpomnce.
Tuntutan hukum juga bisa terjadi karena bisiness failure, audit failure, dan audit risk.
Bisness failure terjadi manakala perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya atau
tidak bisa memenuhi harapan investor kerena kondisi ekonomi atau bisnis yang
memberatkan .
Audit failure terjadi manakala akuntan publik memberikan opini yang salah karena
gagal mematuhi apa yang diatur dalam standar auditing.
Audit Risk manakala akuntan publik menyimpulkan bahwa laporan keuanagan
disajikan secara wajar dan memberikan opini wajar tanpa pengecualin padahal dalam
kenyataannya laporan keungan mengandung salah saji material.
Tanggung jawab hukum akuntan publik terjadi jika timbul kelalain atau akuntan
publik tersangkut fraud. Jenis pelanggaran dapat dibedakan menjadi :

Ordinary negligence ( kesalahan ringan, menusiawi, tidak disengaja) ini merukan


pelanggaran ringan.

Gross negligence ( kesalahan agak berat, harusnya tidak terjadi jika auditor
menerapakan due profesional care )

Counstructive fraud ( pelanggaran berat, akuntan publik terlibat secara langsung atau
tidak langsung membantu dalam fraud yang dilakukan manajemen )

Faud ( pelanggaran sangat berat, akuntan publik secara sadar terlibaat secara sadar
bersama manajeman dalam melakukan fraud).

Di indonesia tuntutan hukum bisa berasal dari :

Klien

(Calon) investor

Bapepem-LK

PPAJP-Depertemen keuangan

Bank Indonesia
Pengguna laporan keungan

Sanksi yang di berikan oleh PPAJP-Depertemen Keuangaan bisa dalam bentuk


peringatan tertulis, penghentian sementara pemberian jasa akuntan publik atau, usulan
kepada mentri keuangan untuk pencabutan izin praktik akuntan publiki tergantung berat atau
ringanya pelanggaran.
Sanksi yang diberikan Bapepem-LK dalam bentuk peringatan tertulis, larangan
pemberian jasa di pasar madal. Pihak lainya (klien, investor BI, pengguna laporan keuangan)
bisa mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan jika merasa dirugikan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan akuntan publik untuk menghindari tuntutan hukum
antara lain :

Jangan sembarangan menerima klien, pilih klien yang memiliki integritas.

Pilih audit staf yang qualified dan memiliki integritas.

Pertahankan indenfendensi (in fach, in appearance, dan in mind).

Patuhi standar auditing, kode etik akuntan publik.

Miliki sistem pengendalian mutu.

Pahami betul bisnis klien.

Lakukan bisnis yang berkwalitas.

Dukung laporan audit dengan kertas kerja yang lengkap.

Untuk setiap penugasan harus ada kontak kerja ( engagement letter).

Dapatkan surat pernyataan langganan sebelum mengeluarkan audit repotr.

Jaga data confidential klient.

Jika memungkinkan asuransikan jasa profesional yang diberikan.

Jika memungkinkan memiliki penasihat hukum.

Terapkan sikap skeptis yang propesional.

Selain itu ikatan profesi ( IAI, IAPI ) juga bisa membantu anggotanya dengan
cara :

Menyediakan pelatihan bagi anggotanya melalui PPL denagn biaya yang


reasonable.

Menerapkan peer review.


Mengupdate standar auditing dan aturan etika.

Melakukan research di bidang auditing.

Melakukan lobby ke legulator untuk mencegah undang-undang dan peraturan


yang. merugikan anggota.

Memberikan edukasi kepada pengguna laporan keuangan.

Berikan sanksi yang tegas untuk anggota yang melakukan pelanggaran.