You are on page 1of 4

Penggerek pucuk (Scirpophaga excerptalis Walker)

Gejala: Serangan dapat dimulai dari tunas umur 2 minggu sampai tanaman dewasa.
Menyerang melalui tulang daun pupus dengan membuat lorong gerek menuju ke bagian
tengah pucuk tanaman sampai ruas muda, merusak titik tumbuh dan tanaman menjadi
mati.

Biologi: Telur: Diletakkan secara berkelompok di bawah permukaan daun dan ditutupi bulu-
bulu berwarna coklat kekuningan, panjang kelompok telur sekitar 22 mm. Larva: Setelah
menetas larva menggerek dan menembus daun muda yang masih belum membuka, menuju
ke tulang daun untuk membuat lorong gerekan ke titik tumbuh. Ulat muda berwarna putih
dan ulat dewasa putih kekuningan, panjang sekitar 30 mm. Pupa: Berada di dalam lubang
gerekan, berwana kuning pucat, panjang sekitar 20 mm. Dewasa: Ngengat berwarna putih,
panjang sekitar 20 mm. Seberkas rambut merah oranye di ujung abdomen ngengat betina.

Pengendalian: (1) Menggunakan benih bebas penggerek, (2) Varietas tahan penggerek
antara lain PSJT 941, PS 851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144, (3) Rogesan, pemotongan
sedikit demi sedikit (3 cm) dari pucuk ke bawah, dimulai tanaman tebu berumur 2 bulan dan
diakhiri sampai tanaman tebu berumur 6 bulan. Rogesan dapat menyelamatkan gula 580
kg/ha, (4) Pengendalian hayati dengan pelepasan parasitoid telur Trichogramma.

2. Penggerek batang (Chilo auricilius Dudgeon)

Gejala: Serangan biasanya dijumpai pada tanaman tebu berumur 5 bulan ke atas. Bercak-
bercak tampak transparan berbentuk bulat oval di daun. Ulat masuk lewat pelepah dan
batang tanaman tebu, kadang menyebabkan mati puser. Lubang gerek di dalam batang
lurus, lubang keluar batang bulat. Kadang gerekan mengenai mata tunas. Serangan ruas 20%
menyebabkan penurunan hasil gula sekurang-kurang 10%.

Biologi: Telur: Diletakkan secara berkelompok, panjang sekitar 20 mm terdapat di bawah


permukaan daun, bentuk lonjong berwarna putih kelabu. Larva: Setelah menetas larva
bergerak lewat pelepah dan batang tebu. Ulat putih kekuningan dengan ukuran panjang
sekitar 25 mm. Pupa: Diletakkan didalam lubang gerekan berwarna kuning pucat. Panjang
pupa sekitar 15 mm. Dewasa: Ngengat jantan lebih kecil disbanding betina, sayap depan
coklat terang sampai coklat kusam. Ngengat jantan sayap belakang berwarna putih-coklat,
betinanya berwarna putih sutera. Satu betina mampu bertelur 60-70 butir.

Pengendalian: (1) Menggunakan benih bebas penggerek , (2) Varietas tahan penggerek
antara lain PSJT 941, PS 851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144, (3) Pengendalian hayati
dengan parasit Lalat Jatiroto, 30 pasang/ha parasitoid telur Trichogramma 50 pias @ 2000
ekor/minggu pada tanaman tebu berumur 1-4 bulan.

3. Kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera Zehntner)

Gejala: Kutu menyerang helaian daun bagian bawah, berkoloni, kutu berwarna putih berada
di kanan kiri ibu tulang daun. Helai daun permukaan atas tertutup lapisan jamur seperti
jelaga. Serangan berat daun menjadi kuning dan mongering terjadi di awal atau akhir
musim hujan. Kutu ini dapat menyebabkan kerugian gula 2,6 ton/ha dan penurunan
rendemen dari 12% menjadi 8%

Biologi: Nimfa muda dan dewasa bersayap dan tidak bersayap dijumpai pada daun yang
sama. Nimfa tidak bersayap lama hidup 23-32 hari, sedang yang bersayap 32-40 hari. Rata-
rata reproduksi di laboratorium 3-5 ekor per hari dengan total satu individu dewasa selama
hidup 41-56 ekor.

Pengendalian: (1) Pengendalian mekanis dilakukan efektif pada awal serangan sewaktu
populasi kutu masih sedikit, (2) Pengendalian dapat dilakukan dengan mengulas daun yang
terserang dengan kain basah, (3) Daun yang terserang dipotong dan dikumpulkan kemudian
dimusnahkan, (4) Penggunaan varietas yang mudah diklentek, misalnya PS 881.

4. Uret (Lepidiota stigma, Hollotrichia sp., Leucopholis sp., dan Anomalasp.)

Gejala: Uret yang banyak dijumpai jenis Lepidiota stigma. Tanaman yang terserang uret
akan layu, daun menguning kemudian menjadi kering. Bagian pangkal batang tanaman
terdapat luka atau kerusakan bekas digerek dan akar-akarnya dimakan uret. Serangan berat
menyebabkan tanaman mudah roboh dan mudah dicabut. Kerusakan akar terutama
disebabkan oleh uret instar 3. Apabila dijumpai 3 ekor uret per rumpun makin besar
kerusakannya. Populasi 3-4 ekor per rumpun dinilai secara ekonomi merugikan.

Biologi: Telur: Diletakkan dalam tanah yang cukup lembab dengan kedalaman bervariasi
dari 5 cm sampai 30 cm. Telur menetas setelah berumur 1 sampai 2 minggu (di laboratorium
12-13 hari). Larva: Uret instar satu memakan sisa-sisa tanaman yang mati atau akar-akar
tanaman di sekitarnya, selanjutnya memasuki instar kedua makan perakaran tanaman yang
hidup. Uret L. stigma berkembang dalam empat instar dimana instar yang paling ganas dan
merugikan adalah instar tiga. Uret dapat mencapai panjang 4 cm dan masa perkembangnya
membutuhkan waktu 380 hari. Serangan L. stigma pada tanaman tebu terberat terjadi pada
bulan Februari sampai dengan Juni dan kerusakan terparah banyak terjadi disekitar tempat
hinggapnya kumbang. Pupa: Telur dan larva (uret) berada dalam tanah sampai menjadi fase
kepompong (sekitar 6-9 bulan). Dewasa: Kumbang meletakkan telurnya di tempat tertentu
sesuai dengan jenis inang atau habitat inangnya.

Pengendalian: (1) Belum diperoleh varietas tebu yang toleran terhadap hama uret, namun
diinformasikan varietas tahan misalnya BZ 109 (M 134-32) pernah berhasil dicoba di
Mauritus, (2) Manipulasi waktu tanam dan tebang, pengolahan tanah secara intensif diikuti
pekerja untuk mengambil uret secara manual dan memusnahkannya, (3) Pengumpulan
serangga dewasa saat penerbangan kumbang di awal musim hujan bulan November-
Desember.
(/Subiyakto/Peneliti Balittas)

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)