You are on page 1of 10

LAPORAN KASUS TUBERCULOSIS

DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA


Elsa Noviranty
102014091/ FF2
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
elsanoviranty@gmail.com

Pendahuluan
Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia
merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari
total jumlah pasien TB di dunia. Pada tahun 2004, ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000
orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2006).
Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TB paru dan sekitar
140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TB paru. Bahkan, Indonesia adalah
negara ketiga terbesar dengan masalah TB paru di dunia setelah India dan Cina. Terdapat sekitar
9 juta kasus baru dan kirakira 2 juta kematian karena TB paru pada tahun 2005. Perkiraan
insidensinya adalah 8,9 juta kasus baru TB paru pada tahun 2005. Diperkirakan 1.6 juta orang
(27/100,000) meninggal karena TB paru pada tahun 2005, termasuk mereka yang juga
memperoleh infeksi HIV (219,000).

Penemuan kasus di Indonesia pada tahun 2005 adalah 68%, telah mendekati target global untuk
penemuan kasus pada tahun 2005 yaitu sebesar 70% (Depkes RI, 2008 ). Penularan TB paru terjadi
melalui batuk, bersin, berbicara atau meludah. Mereka akan mengeluarkan kuman TB ke udara
yang dikenal sebagai basil. (WHO, 2007). Basil ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2
jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultra violet, ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam
suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan (Suhaymi,
2008). Penderita TB paru dengan status BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat menularkan
sekurangkurangnya kepada 10-15 orang lain. Seseorang yang tertular dengan kuman TB belum
tentu menjadi sakit TB paru. Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama bertahun-
tahun dengan membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila sistem kekebalan
tubuh seseorang menurun, kemungkinan menjadi sakit TB paru menjadi lebih besar (Depkes RI,
2008).
A. Pasien Utama

Identitas Pasien

1. Nama : Usman

2. Umur : 66 tahun

3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Pekerjaan : Pembantu masjid

5. Pendidikan : SMA

6. Alamat : Jl. Jelambar Baru 5 No. 26 RT/RW 09/07, Jelambar, Jakarta Barat

7. Telepon : 081280002554

B. Analisa Kasus
Pak Usman mengeluh batuk-batuk disertai dahak, demam dan sering merasa sesak. Pada
saat hari raya lebaran, kurang lebih satu bulan yang lalu Pak Usman mengeluh mengalami radang
pada tenggorokan. Sebelum pergi ke puskesmas bapak ini juga mengeluh mengalami penurunan
berat badan sebesar 2 kilogram dari berat sebelumnya.

Pak Usman juga mengatakan bahwa sekitar 20 tahun yang lalu Ia pernah di diagnosa
menderita Tuberculosis paru dan telah selesai melakukan terapi OAT (Obat Anti Tuberculosis)
selama 6 bulan lalu dinyatakan sembuh.

Karena pengalamannya tersebut dan merasakan gejala klinis yang sama seperti pada saat
Ia di diagnosa mengalami Tuberculosis paru, pada tanggal 18 Juli 2017 dia melakukan
pemeriksaan BTA. Dan sedang menunggu hasil dari BTA tersebut.

Pada pemeriksaan fisik saat kunjungan tidak didapatkan apa-apa, tapi pada saat melakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital, didapati tekanan darah yang cukup tinggi. Dari anamnesis juga
diketahui bahwa pasien sudah 8 bulan tinggal dan bekerja di masjid seorang diri.

Riwayat Keluarga
Berdasarkan anamnesis yang telah dilakukan, diketahui bahwa Ayah serta Adik laki-
lakinya mengalami Asma dan Ibunya mengidap kanker paru. Lalu kaka perempuannya meninggal
akibat perdarahan post partum.

Riwayat Kebiasaan Sosial

Setiap pagi Pak Usman berolahraga menggunakan sepeda mengelilingi komplek. Beliau
sudah berhenti merokok sejak 15 tahun yang lalu. Tidak minum alkohol serta memiliki pola makan
yang teratur.

Hubungan Psikologis dengan Keluarga

Hubungan Psikologis dengan keluarga baik, walaupun sudah bercerai dan pisah rumah
dengan istri dan anaknya yang sekarang berdomisili di Garut.

Aktifitas Sosial

Beliau aktif bergabung dengan organisasi dalam masjid untuk mengadakan acara-acara
rohani.

Kegiatan Kerohanian

Beliau melakukan sholat 5 waktu serta rutin mengaji.

C. Keluarga

Beliau tinggal sendiri di Jakarta sementara keluarganya berada di Bogor. Jumlah anggota
keluarganya adalah 6 orang. Ayahnya sudah meninggal sekitar 15 tahun karena sudah berumur,
dan memiliki riwayat penyakit asma semasa hidupnya. Ibunya juga sudah meninggal sekitar 25
tahun yang lalu karena menderita kanker paru. Kaka perempuannya sudah meninggal sekitar 10
tahun yang lalu karena perdarahan post partum. Adiknya tinggal berumur 43 tahun tinggal di
Bogor dengan memiliki riwayat asma. Tidak ada kecacatan dan penyakit menular dalam keluarga.
Tempat pelayanan kesehatan berupa puskesmas yang berjarak 1 km dari rumah.

D. Identifikasi Keadaan Rumah/Lingkungan


a. Keadaan rumah
a. Lokasi :
Letak tempat tinggal di daerah pemukiman yang padat penduduk, serta jarak rumah
antar yang lain saling berdekatan.

Jl. Jelambar Baru 5 No. 26 RT/RW 09/07, Jelambar, Jakarta Barat.

b. Kondisi :
Jenis bangunan adalah rumah ibadah. Bangunan terlihat kokoh, dinding bangunan
terlihat baik, tidak bertingkat, lantai bangunan terbuat dari keramik, terdapat
banyak ventilasi pada bangunan tersebut, tersedianya beberapa jendela besar yang
mengelilingi ruang ibadah, pencahayaan pun cukup. Di dalam ruang ibadah
terdapat beberapa kipas angin yang menempel pada atap bangunan. Kebersihan
bangunan bersih, tertata rapi. Pak Usman tidur di area belakang ruang ibadah, yaitu
berupa ruang terbuka dengan tidur beralaskan karpet.

b. Luas rumah : 300 m2

c. Pembagian bangunan :
Bangunan ini dibagi menjadi 1 ruangan untuk ibadah, 1 kamar mandi, 1 tempat wudhu, 1
gudang, serta teras yang digunakan sebagai tempat parkir.

d. Penerangan
Baik.

e. Kebersihan
Kebersihan sekitar bangunan baik, tetapi karpet sedikit berdebu.

f. Ventilasi
Baik.

g. Dapur
Tidak terdapat dapur, beliau membeli makan di warung dan tidak jarang di sediakan oleh
pihak masjid.

h. Sanitasi dasar
Sumber air minum berasal dari air galon yang telah disediakan pihak masjid. Terdapat 1
kamar mandi, dan menggunakan jamban jongkok, serta tidak terdapat pencemaran air.
Sanitasi lingkungan baik.
i. Pemanfaatan perkarangan
Di manfaatkan sebagai tempat parkir untuk para jamaah yang melaksanakan ibadah.

j. Tempat pembuangan sampah


Terdapat tempat pembuangan sampah berupa ember yang berada di teras masjid.
Tingkat Ekonomi
Tingkat ekonomi pasien cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Pasien mengikuti program BPJS
kesehatan.

Keyakinan Tentang Kesehatan

Baik.

E. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik

Tanda vital : Nadi 90x/menit, pernapasan 23x/menit, TD 130/100, suhu 36,7


derajat

Status gizi : Baik

Pemeriksaan hygiene : Pemeriksaan kuku pada kaki dan tangan bersih, kukunya juga
normal tidak ada luka ataupun kotoran.

F. Pemeriksaan Penunjang yang Dianjurkan


1. Pemeriksaan dahak mikroskopik.
2. Pemeriksaan radiologis.

G. Diagnosis
Sebelumnya pasien sudah pernah mengalami Tuberculosis paru sekitar 20 tahun yang lalu dan
dinyatakan sembuh. Lalu, saat ini mengalami gejala klinis yang beliau rasakan dan sedang
menunggu hasil pemeriksaan dahak mikroskopik Berdasarkan anamnesis tersebut pasien di curigai
suspect Tuberculosis paru relaps.

D/Biologi : Suspect Tuberculosis paru relaps (Kategori II)

H. Diagnosis Banding
Berdasarkan gejala klinis, bisa diambil diagnosis banding yaitu Ca paru, Asma dan PPOK.

I. Penatalaksaan Penyakit dan Edukasi


Setelah hasil pemeriksaan dahak mikroskopis telah diperoleh dan hasilnya (+), pasien
dianjurkan untuk melakukan pengobatan tuberculosis paru relaps yaitu kategori II yang berupa
(2HRZES/HRZE/5H3R3E3). Tahap intensif diberikan selama 3 bulan, yang terdiri dari 2 bulan
dengan Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E) dan suntikan streptomicin
setiap hari, lanjutkan 1 bulan dengan Isoniazid (H), Rifampicin (R),Pirazinamid (Z) dan etambutol
(E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang
diberikan tiga kali dalam seminggu.
Serta melakukan pemeriksaan radiologis guna memperlihat apakah ada kecenderungan
mengarah tuberculosis atau tidak.

Health Promotion

Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan memberikan pengetahuan serta


memberikan penyuluhan berupa informasi tentang Tuberculosis.

Untuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh kader kesehatan adalah peningkatan pengetahuan di
lingkungan tentang penanggulangan TBC melalui penyuluhan, dan penyebarluasan informasi.

Spesific Protection

Melakukan system ventilasi yang baik, pengendalian kebersihan, gizi ,kebersihan lingkungan
dan cara minum obat yang benar dan teratur seperti melalui system DOTS. Selain itu bisa juga
dilakukan pengecekan lebih dini untuk diperiksa melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, tuberculin test, dan BTA SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu)

Untuk petugas kesehatan, dapat melakukan kegiatan seperti penyuluhan untuk mendorong pasien
TBC bertahan pada pengobatan yang diberikan dan ini dilaksanakan oleh pengawas obat atau
juru TBC. Selanjutnya, bisa juga melakukan pengamatan langsung mengenai perawatan pasien
di tempat kerja. Case Finding secara aktif mencakup identifikasi TBC pada orang yang dicurigai
dan rujukan pemeriksaan dahak dengan mikroskopis berkala.

Kuratif dan Rehabilitatif

Pengobatan TBC bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah


kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi
dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6-8.

Pelaksanaan minum obat dan kemajuan hasil pengobatan harus dipantau. Agar terlaksananya
program penanggulangan TBC. Keberhasilan program pengobatan TBC tergantung dari
kepatuhan pasien untuk minum OAT yang teratur. Dalam hal ini, PMO (Pengawas Minum Obat)
akan sangat membantu kesuksesan penanggulangan TBC.

Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka
disarankan pasien untuk menjalani pemeriksaan darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen
setia 3 bulan.

Adapun obat-obatan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan Rifampisin sebagai
pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan
kedua obat tersebut, makan perlu dikombinasikan dengan pirazinamid dan ethambutol.
Prognosis
Prognosisnya baik selama pasien dan keluarga juga mendukung untuk minum obat yang teratur
dan tidak putus obat. Serta perbaikan ventilasi di rumahnya juga sangat mempengaruhi proses
penyembuhannya, penambahan sinar matahari sangat mempengaruhi agent (M. Tuberculosis),
karena agent sangat sensitive terhadap matahari.

Resume
Telah diperiksa pasien 34 tahun dengan keluhan batuk lebih dari 3 minggu, sering merasa sesak
dan kesemutan serta keringat malam hari. Nafsu makan baik, akan tetapi terdapat perubahan pola
makan, karena Ibu Hervika sedang mengurangi makan-makanan yang mengandung gula tinggi.
Sebelumnya pasien juga mengalami TBC, dan lalai dalam pengobatan. Penyakit lain yang sedang
dideritanya tidak ada.

Lampiran : FOTO-FOTO PERILAKU DAN LINGKUNGAN RUMAH


Gambar Jalanan dan Depan Rumah

Gambar Ruang Tamu


Gambar Ruang Keluarga Sekaligus Tempat Cuci Baju

Gambar Dapur dan Tempat Sholat

Gambar WC pasien
Gambar kamar pasien