You are on page 1of 21

LAPORAN PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTIK DALAM KONTEKS

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA DI BANGSALANGGREK


RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA PUCANG GADING SEMARANG

OLEH :

KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
LAPORAN PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTIK DALAM KONTEKS
ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA DI BANGSALANGGREK
RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA PUCANG GADING SEMARANG

OLEH :

KELOMPOK 3

YAYUK NUR AFIFAH G3A016234

SUSHMITA DEWI ANGGRIANI G3A016235

HASBI ASSYDIQI G3A016236

KHUSNUL KHOTIMAH G3A016237

SRI WAHYU HANDAYANI G3A016238

Pembimbing : Ns. Siti Aisah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kom

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lanjut usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikarunia
usia panjang, terjadi tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat berupaya untuk
menghambat kejadiannya (Arya, 2008). Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun
kesehatan jiwa secara khusus pada lansia (Kuntjoro, 2002).
Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Lansia banyak
menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi
(Akhmadi, 2009).Menurut Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut
sebagai perubahan `senesens` dan perubahan 'senilitas'. Perubahan `senesens' adalah perubahan-
perubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubahan 'senilitas' adalah perubahan-
perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin memburuknya kondisi badan pada
usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang dihadapi lansia pada umumnya adalah pada bidang
klinik, kesehatan jiwa dan problema bidang sosio ekonomi. Oleh karena itu lansia adalah
kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental.
Lansia sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering diwarnai dengan kondisi
hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Oleh karena itu dalam pendekatan pelayanan kesehatan
pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik,
psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan
menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan suatu pelayanan yang
komprehensif.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia yang mengalami gangguan psikososial?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan lansia yang mengalami
gangguan psikososial.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang Konsep Teori Lansia
b. Mengetahui tentang Teori Psikososial Lansia
c. Mengetahui tentang Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia
d. Mengetahui tentang Perubahan Psikososial pada Lansia
e. Mengetahui tentang Macam-macam Masalah Keperawatan Psikososial
f. Mengetahui tentang Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Lansia


1. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
a. Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.
2. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui
tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho,
1992). Tiga tahapan ini berbeda baik secara biologis maupun secara psikologis. Memasuki
masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun secara psikis. Kemunduran
fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut putih, penurunan pendengaran,
penglihatan menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas
emosional meningkat.

B. Teori Psikososial Lansia


1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri yang utuh.
Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat lansia berusaha menuntun
generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan sudut pandangnya. Lansia yang tidak
mencapai integritas diri akan merasa putus asa dan menyesali masa lalunya karena tidak
merasakan hidupnya bermakna (Anonim, 2006). Sedangkan menurut Erikson yang dikutip
oleh Arya (2010) perubahan psikososial lansia adalah perubahan yang meliputi pencapaian
keintiman, generatif dan integritas yang utuh.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia


Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial lansia
menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
a. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik
yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang,
energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara
umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan
secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi
fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga
kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan
kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk
mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu
mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara
seimbang.
b. Penurunan Fungsi dan Potensial Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan
dengan berbagai gangguan fisik seperti:
1) Gangguan jantung
2) Gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus
3) Vaginitis
4) Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
5) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan
sangatkurang
6) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain:
1) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
2) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya .
3) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
4) Pasangan hidup telah meninggal
5) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya
misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
c. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,
pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia
menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang
berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang
berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan
aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan
tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak
banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak
diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya
3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat
dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka
pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka
pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit
dari kedukaannya.
4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki
lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-
kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.
5) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya
terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung
membuat susah dirinya.
d. Perubahan Yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun
dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai
kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi
setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya
seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia?
Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa
pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa
senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun
(pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia
dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih
berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan
kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk
kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara
berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika
perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki
kegiatan yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan
memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah
minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang
sangat banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan
langsung terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa
disamping pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup
menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan bahwa
setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan berkurang dan
sebagainya.
e. Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia.
Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur
dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan
semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus
muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan
barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain
sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang
memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung
karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya
ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun
bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau
punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal,
apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disinilah pentingnya
adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di
samping sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan
bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan
kehidupan dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup
sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lansia.

3. Perubahan Psikososial yang terjadi pada Lansia


Ada beberapa macam perubahan psikososial yang terjadi pada lansia menurut
Anonim (2006) antara lain :
1) Perubahan fungsi sosial
Perubahan yang dialami oleh lansia yang berhubungan dengan aktivitas-aktivitas sosial
pada tahap sebelumnya baik itu dengan lingkungan keluarga atau masyarakat luas.
2) Perubahan peran sesuai dengan tugas perkembangan
Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan
usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Apabila
pada tahap perkembangan sebelumnya melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur
dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang di sekitarnya, maka pada
usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan pada tahap
perkembangan sebelumnya.
3) Perubahan tingkat depresi
Tingkat depresi adalah kemampuan lansia dalam menjalani hidup dengan tenang, damai,
serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih
sayang.
4) Perubahan stabilitas emosi
Kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat
perubahan perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan
kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan
dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme
psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dirinya tanpa
menimbulkan masalah baru.

4. Macam-macam Masalah Keperawatan Psikologi dan Psikososial


a. Depresi
1) Pengertian
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor, konsentrasi, keielahan, rasa putus asa dan
tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kap'an dan Sadock, 1998).
2) Tanda Dan Gejala Depresi
Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996) meliputi beberapa
aspek seperti:
a) Afektif
Kemarahan, ansietas, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan, kemurungan, rasa
bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian, harga diri rendah, kesedihan.
b) Fisiologik
Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing, keletihan,
gangguan pencernaan, insomnia, perubahan haid, makan berlebihan/kurang,
gangguan tidur, dan perubahan berat badan.
c) Kognitif
Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan minat
dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran yang
destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian.
d) Perilaku
Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas, kecanduan obat,
intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung,
kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, dan menarik diri.
b. Berduka Cita
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau
keseluruhan. Periode duka cita merupakan suatu periode yang sangat rawan bagi seorang
penderita lanjut usia. Meninggalnya pasangan hidup, seorang teman dekat atau bahkan
seekor hewan yang sangat disanyangi bias mendadak memutuskan ketahanan kejiwaan
yang sudah rapuh dari seorang lansia, yang selanjutnya akan memicu terjadinya gangguan
fisik dn kesehatannya. Periode 2 tahun pertama setelah ditinggal mati pasangan hidup
atau teman dekat tersebut merupakan periode yang sangat rawan. Pada periode ini orang
tersebut justru harus dibiarkan untuk dapat mengekspresikan dukacita tersebut. Sering
diawali dengan perasaan kosong, kemudian diikuti dengan menangis dan kemudian suatu
periode depresi. Depresi akibat duka-cita pada usia lanjut biasanya tidak bersifat self
limiting. Dokter atau petugas kesehatan harus memberi kesempatan pada episode tersebut
berlalu. Diperlukan pendamping yang dengan penuh empati mendengarkan keluhan,
memberikan hiburan dimana perlu dan tidak membiarkan tiap episode berkepanjangan
dan berjalan terlalu berat. Apabila upaya diatas tidak berhasil, bahkan timbul depresi
berat, konsultasi psikiatrik mungkin diperlukan, dengan kemungkinan diberikan obat anti
depresan.
c. Kesepian
Kesepian atau loneliness, biasanya dialami oleh seseorang lanjut usia pada saat
meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat, terutama bila dirinya sendiri saat itu juga
mengalami berbagai penurunan status kesehatan, misalnya menderita berbagai penyakit
fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik, terutama gangguan pendengaran
(Brocklehurts-Allen, 1987).
Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri. Banyak di antara lansia hidup
sendiri tidak mengalami kesepian, karena aktivitas social yang masih tinggi, tetapi dilain
pihak terdapat lansia yang walaupun hidup di lingkungan yang beranggotakan cukup
banyak, tohh mengalami kesepian.
Pada penderita kesepian ini peran dari organisasi social sangat berarti, karena bias
bertindak menghibur, memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran social
penderita, di samping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan di rumah bila memang
terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut.
d. Dementia
1. Pengertian
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia
bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan
beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan
tingkahlaku.
2. Karakteristik Demensia
Menurut John (1994) bahwa lansia yang mengalami demensia juga akan
mengalami keadaan yang sama seperti orang depresi yaitu akan mengalami deficit
aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS), gejala yang sering menyertai demensia adalah :
a) Gejala Awal
- Kinerja mental menurun
- Fatique
- Mudah lupa
- Gagal dalam tugas
b) Gejala Lanjut
- Gangguan kognitif
- Gangguan afektif
- Gangguan perilaku
c) Gejala Umum
- Mudah lupa
- Aktivitas sehari-hari terganggu
- Disorientasi
- Cepat marah
- Kurang konsentrasi
- Resti jatuh
C. Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia
1. Pengkajian
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi massalah keperawatan meliputi aspek
a. Fisik
- Wawancara
- Pemeriksaan fisik: Head to Toe dan system tubuh
b. Psikologis
Pemeriksaan psikologis dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan Status Mental.
Pemeriksaan status mental meliputi bagaimana penderita berpikir (proses pikir),
merasakan dan bertingkah laku selama pemeriksaan. Keadaan umum penderita adalah
termasuk penampilan, aktivitas psikomotorik, sikap terhadap pemeriksa dan aktifitas
bicara.
Gangguan motorik, antara lain gaya berjalan menyeret, posisi tubuh membungkuk,
gerakan jari seperti memilin pil, tremor dan asimetri tubuh perlu dicatat (Kaplan et al,
1997). Banyak penderita depresi mungkin lambat dalam bicara dan gerakannya. Wajah
seperti topeng terdapat pada penderita penyakit Parkinson (Kaplan et al, 1997; Hamilton,
1985).
Bicara penderita dalam keadaan teragitasi dan cemas mungkin tertekan. Keluar air
mata dan menangis ditemukan pada gangguan depresi dan gangguan kognitif, terutama
jika penderita merasa frustasi karena tidak mampu menjawab pertanyaan pemeriksa
(Weinberg, 1995; Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985). Adanya alat bantu dengar atau
indikasi lain bahwa penderita menderita gangguan pendegaran, misalnya selalu minta
pertanyaan diulang, harus dicatat (Gunadi, 1984).
Sikap penderita pada pemeriksa untuk bekerjasama, curiga, bertahan dan tak
berterima kasih dapat memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya reaksi
transferensi. Penderita lanjut usia dapat bereaksi pada dokter muda seolah-olah dokter
adalah seorang tokoh yang lebih tua, tidak peduli, terhadap adanya perbedaan usia
(Weinberg, 1995; Laitman, 1990).
1) Gangguan Persepsi.
Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia merupakan fenomena yang disebabkan oleh
penurunan ketajaman sensorik. Pemeriksa harus mencatat apakah penderita
mengalami kebingungan terhadap waktu atau tempat selama periode halusinasi.
Adanya kebingungan menyatakan suatu kindisi organic. Halusinasi dapat disebabkan
oleh tumor otak dan patologi fokal yang lain. Pemeriksaan yang lebih lanjut
siperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti (Hamilton, 1985).
2) Fungsi Visuospasial.
Suatu penurunan kapasitas visuospasial adalah normal dengan lanjutnya usia.
Meminta penderita untuk mencontoh gambar atau menggambar mungkin membantu
dalam penilaian. Pemeriksaan neuropsikologis harus dilaksanakan jika
fungsi visuospasial sangat terganggu (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985).
3) Proses Berpikir.
Gangguan pada progesi pikiran adalah neologisme, gado-gado kata,
sirkumstansialitas, asosiasi longgar, asosiasi bunyi, flight of ideas, dan retardasi.
Hilangnya kemampuan untuk dapat mengerti pikiran abstrak mungkin merupakan
tanda awal dementia.
4) Isi pikiran harus diperiksa adanya obsesi, preokupasi somatic, kompulsi atau waham.
Gagasan tentang bunuh diri atau pembunuhan harus dicari. Pemeriksa harus
menetukan apakah terdapat waham dan bagaimana waham tersebut mempengaruhi
kehidupan penderita. Waham mungkin merupakan alas an untuk dirawat. Pasien yang
sulit mendengar mungkin secara keliru diklasifikasikan sebagai paranoid atau
pencuriga (Weinberg, 1995; Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985; Laitman, 1990).
5) Sensorium dan Kognisi.
Sensorium mempermasalahkan fungsi dari indra tertentu, sedangkan kognisi
mempermasalahkan informasi dan intelektual (Hamilton, 1985; Weinberg, 1995).
6) Kesadaran.
Indicator yang peka terhadap disfungsi otak adalah adanya perubahan kesadaran ,
adanya fluktuasi tingkat kesadaran atau tampak letargik. Pada keadaan yang berat
penderita dalam keadaan somnolen atau stupor (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985).
7) Orientasi.
Gangguan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang berhubungan dengan
gangguan kognisi. Gangguan orientasi sering ditemukan pada gangguan kognitif,
gangguan kecemasan,. Gangguan buatan, gangguan konversi dan gangguan
kepribadian, terutama selama periode stress fisik atau lingkungan yang tidak
mendukung (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985). Pemeriksa harus menguji orientasi
terhadap tempat dengan meminta penderita menggambar lokasi saat ini. Orientasi
terhadap orang mungkin dinilai dengan dua cara: apakah penderita, mengenali
namanya sendiri, dan apakah juga mengenali perawat dan dokter. Orientasi waktu
diuji dengan menanyakan tanggal, tahun, bulan dan hari.
8) Daya Ingat.
Daya ingat dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang, pendek dan segera. Tes
yang siberikan pada penderita dengan memberikan angka enam digit dan penderita
diminta untuk mengulangi maju dan mundur. Penderita dengan daya ingat yang tak
terganggu biasanya dapat mengingat enam angka maju dan lima angka mundur. Daya
ingat jangka panjang diuji dengan menanyakan tempat dan tanggal lahir, nama dan
hari ulang tahun anak-anak penderita. Daya ingat jangka pendek dapat diperiksa
dengan beberapa cara, misalnya menyebut tiga benda pada awal wawancara dan
meminta penderita mengingat kembali benda tersebut diakhir wawancara. Atau
dengan mengulangi cerita tadi secara tepat/persis (Hamilton, 1985).
9) Fungsi Intelektual, Konsentrasi, Informasi dan Kecerdasan.
Sejumlah fungsi intelektual mungkin diajukan untuk menilai pengetahuan umum
dan fungsi intelektual. Menghitung dapat diujikan dengan meminta penderita untuk
mengurangi 7 angka dari 100 dan mengurangi 7 lagi dari hasil akhir dan seterusnya
samapi dicapai angka 2. Pemeriksa mencatat respons sebagai dasar untuk pengujian
selanjutnya. Pemeriksa juga dapat meminta penderita untuk menghitung mundur dari
20 ke 1, dan mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pemeriksaan
tersebut (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985).
10) Pengetahuan umum adalah yang berhubungan dengan kecerdasan.
Penderita ditanya nama presiden Indonesia, nama kota besar di Indonesia.
Pemeriksa harus memperhitungkan tingkat pendidikan penderitam status social
ekonomi dan pengalaman hidup penderita dalam menilai hasil dari beberapa
pengujian tersebut.
11) Membaca dan Menulis.
Penting bagi klinisi untuk memeriksa kemampuan membaca dan menulis dan
menetukan apakah penderita mempunyai deficit bicara khusus. Pemeriksa dapat
meminta penderita membaca kisah singkat dengan suara keras atau menulis pada
penderita. Apakah menulis dengan tangan kiri atau kanan juga perlu dicatat.
(Hamilton, 1985).
12) Pertimbangan.
Pertimbangan (judgement) adalah kapasitas untuk bertindak sesuai dengan berbagai
situasi. Apakah penderita menunjukkan gangguan pertimbangan, apa yang akan
dilakukan oleh penderita, misalnya jika ia menemukan surat tertutup, berperangko
dan ada alamatnya di jalan anu? Apa yang akan dilakukan oleh penderita bila ia
mencium bau asap di sebuah gedung bioskop? Apakah penderita mampu
mengadakan pembedaan? Apakah penderita mampu membedakan antara seorang
kerdil dan seorang anak? Mengapa seorang memerlukan KTP atau surat kawin? Dan
seterusnya.
c. Spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970)
Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini terlihat dalam berfikir dan
bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970). Perawat harus bias memberikan
ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang
dianutinya dalam keadaan sakit atau mendeteksi kematian. Sehubungan dengan
pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian, DR. Tony
Styobuhi mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Rasa semacam
ini didasari oleh berbagai macam faktor, seperti ketidakpastian akan pengalaman
selanjutnya, adanya rasa sakit dan kegelisahan ngumpul lagi dengan keluarga dan
lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan
memberika reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara menghadapi hidup
ini. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat harus
dapat menyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun keluarga tadi di tinggalkan, masih ada
orang lain yang mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran
lanjut usia. Umumny pada waktu kematian akan dating agama atau kepercayaan
seseorang merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran seorang
iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. Dengan demikian
pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan
perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Isolasi sosial berhubungan dengan menarik diri
Tujuan :
- Pasien mampu mengekspresikan perasaannya
- Pasien mampu kembali bersosialisasi dengan lingkungan
Intervensi
- Bina hubungan saling percaya
- Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.
- Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positf / adaptif dan
memberikan kepuasan timbal balik :
1) Beri penguatan dan kritikan yang positif
2) Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien bertanya.
3) Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif
4) Hindari ketergantungan klien
- Libatkan dalam kegiatan ruangan.
- Ciptakan lingkungan terapeutik
- Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi masalah klien.

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan konsep diri dan depresi
Tujuan :
- Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya
- Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan masalahnya
Intervensi
- Bicara secara langsung dengan klien, hargai individu dan ruang pribadinya jika tepat
- Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan perawatan
- Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab terhadap perawatan dirinya
- Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh : minta pasien
memilih apakah mau mandi, sikat gigi atau gunting kuku.
- Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk mencapai tujuan.
Contoh : Jika pasien memilih mandi, bantu pasien untuk menetapkan aktifitas untuk
mandi (bawa sabun, handuk, pakaian bersih.
- Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
- Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
- Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.
- Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat ini
- Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih
dimiliki pasien.
- Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki.
- Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas


Tujuan :
- Pasien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur
- Pasien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Intervensi
- Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola yang biasanya
- Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur
- Kurangi tidur pada siang hari
- Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur
- Hindarkan minum yang mengandung kafein dan coca cola
- Mandi air hangat sebelum tidur
- Dengarkan musik yang lembut sebelum tidur
- Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan kebutuhannya)
- Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan
tidurnya
- Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang untuk memfasilitasi
agar pasien dapat tidur.
d. Resiko perilaku kekerasan berhubungan dengan perasaan tidak berharga dan putusasa
Tujuan :
- Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri
- Pasien mampu memilih alternatif penyelesaian masalah yang konstruktif
Intervensi
- Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri
- Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab timbulnya ide bunuh diri.
- Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang konstruktif.
- Bantu pasien untuk memilih cara yang palin tepat untuk menyelesaikan masalah
secara konstruktif.
- Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan tepat.
- Anjurkan pasien mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada di lingkungannya
- Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri
- Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki klien dalam
menyelesaikan masalah

e. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap
respon kehilangan pasangan.
Tujuan :
- Klien merasa harga dirinya naik.
- Klien mengunakan koping yang adaptif.
- Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.
Intervensi
- Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
- Maksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
- Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
- Bantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain melalui
keterbukaan.
- Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada
klien.
- Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif terhadap masalahnya.
- Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
- Bantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk merubah respon
maladaptif dan mempertahankan respon koping yang adaptif.
- Identifikasi dukungan yang positif dengan mengaitkan terhadap kenyataan.
- Berikan kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan perasaannya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahwa pelayanan geriatrik di Indonesia sudah saatnya diupayakan di seluruh jenjang
pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk itu pengetahuan mengenai geriatric harus sudah
merupakan pengetahuan yang harus diajarkan pada semua tenaga kesehatan. Dalam hal ini
pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa pada usia lanjut merupakan salah satu di
antara berbagai pengetahuan yang perlu diketahui. Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh
karena itu sering disertakan dalam pemeriksaan/assesmen geriatric, antara lain mengenai
pemeriksaan gangguan mental. Kognitif, depresi dan beberapa pemeriksaan lain.

B. Saran
Melalui makalah ini kami mengharapkan mahasiswa dapat mengetahui mengenai askep lansia
masalah psikososial, mulai dari konsep psikososial, masalah psikososial pada lansia serta asuhan
keperawatan terkait dengan masalah psikososial tersebut.