You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan obat-obat berbahaya. Narkotika dan zat-
zat yang berbahaya bersama-sama sering disebut NAPZA, yaitu singkatan dari narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif. Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alami
maupun sintetis, yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan sistam saraf
pusat, serta dapat menimbulkan ketergantungan atau ketagihan. Zat yang termasuk golongan
psikotropika diantaranya adalah amfetamin, ekstasi, dan sabu-sabu. Sedangkan penggolongan
psikotropika dan contoh masing-masing secara lengkap diterangkan dengan UU No. 5 tahun
1997.1
Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1997, narkoba jenis psikotropika dibedakan
menjadi 4 golongan. Contoh derivat amfetamin yang populer adalah MDMA yang lebih
dikenal dengan nama ekstasi merupakan psikotropika golongan I, yakni dapat mempunyai
potensi yang sangat kuat dalam menyebabkan potensi yang sangat kuat dalam menyebabkan
ketergantungan. Amfetamin dan metamfetamin sendiri masuk ke dalam golongan II, yang
mempunyai potensi kuat dalam menyebabkan ketergantungan.1
Selama lebih dari 25 tahun terakhir ini, penggunaan amfetamin di dunia ini telah
meningkat. Amfetamin dapat menyebabkan euforia dan efek stimulan, seperti peningkatan
atensi dan peningkatan energi. Amfetamin dapat digunakan secara oral, intravena, dihisap
ataupun dihirup. Kepopuleran amfetamin mengalahkan kokain karena sekali memakai
metamfetamin, dapat membuat orang melayang selama 6-12 jam, sedangkan penggunaan
kokain hanya membuat orang yang mengkonsumsinya melayang selama 0,5-1 jam.2
Berdasarkan data Direktorat tindak pidana narkoba Bareskrim Polri dan BNN pada
Maret 2012, didapatkan data kasus pidana dari NAPZA. Didapatkan jumlah kasus tindak
pidana akibat narkotika adalah 69.553 dari tahun 2007 sampai 2011, dengan jumlah terbesar
adalah pada tahun 2011 sebanyak 19.128. Jumlah penggunaan bahan adiktif lainnya adalah
39.164 dengan jumlah paling besar adalah pada tahun 2009 sebanyak 10.964. Psikotropika
sendiri jumlah sebanyak 30.633 dengan jumlah paling besar pada tahun 2008. Berdasarkan
data UPT terapi dan rehabilitasi BNN pada tahun 2011 methampetamin menduduki peringkat
teratas sebanyak 699 pengguna dan MDMA menduduki peringkat keempat, yakni 304
pengguna.2

Page | 1

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan toksikologi secara umum?
2. Apa yang dimaksud dengan amfetamin?
3. Bagaimana cara amfetamin mempengaruhi tubuh manusia?
4. Bagaimana peran toksikologi forensik terhadap keracunan amfetamin?
5. Bagaimana aspek medikolegal dari penggunaan narkotika, dan khususnya
amfetamin sebagai psikotropika?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan toksikologi secara umum.
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan amfetamin.
3. Mengetahui bagaimana cara amfetamin mempengaruhi tubuh manusia.
4. Mengetahui bagaimana toksikologi forensik terhadap kasus keracunan
amfetamin.
5. Mengetahui bagaimana aspek medikolegal dari penggunaan narkotika, dan
khususnya amfetamin sebagai psikotropika.

1.4 Manfaat
1. Memberikan informasi toksikologi secara umum.
2. Memberikan informasi bahaya penyalahgunaan amfetamin.
3. Memberikan informasi mengenai prevalensi pengguna amfetamin di
Indonesia.
4. Memberikan informasi bagaimana peran toksikologi forensik terhadap
keracunan amfetamin.
5. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan
amfetamin.

Page | 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Toksikologi Umum
Toksikologi merupakan suatu cabang ilmu yang membahas seputar efek merugikan
berbagai efek samping yang merugikan dari berbagai agen kimiawi terhadap semua sistem
makhluk hidup. Pada bidang biomedis, ahli toksikologi akan menangani efek samping yang
timbul pada manusia akibat pajanan obat dan zat kimiawi lainnya, serta pembuktian
keamanan atau bahaya potensial yang terkait penggunaannya. Toksikologi forensik sendiri
berkaitan dengan penerapan ilmu toksikologi pada berbagai kasus dan permasalahan
kriminalitas dimana obat-obatan dan bahan-bahan kimia yang dapat menimbulkan
konsekuensi medikolegal serta untuk menjadi bukti dalam pengadilan. Metode-metode yang
dapat digunakan dalam toksikologi forensik ini terus berkembang di berbagai belahan dunia.
Penemuan-penemuan baru mengenai obat-obatan klinis dan cara uji laboratoris sangat
membantu dalam penggunaan metode tertentu, alat-alat yang diperlukan, serta interpretasi
hasil dari pengujian sampel tersebut. 3,4
Menurut Society of Forensic Toxicologist, Inc. (SOFT), bidang kerja toksikologi
forensik meliputi:4
 Analisis dan evaluasi racun penyebab kematian.
 Analisis ada/tidaknya kandungan alkohol, obat terlarang di dalam cairan tubuh atau
nafas yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku (menurunnya kemampuan
mengendarai kendaraan bermotor dijalan raya, tindak kekerasan dan kejahatan serta
penggunaan dopping).
 Analisis obat terlarang di darah dan urin pada kasus penyalahgunaan narkotika,
psikotropika dan obat terlarang lainnya.
Tujuan lain dari analisis toksikologi forensik adalah dapat membuat suatu rekaan
rekonstruksi suatu peristiwa yang telah terjadi, sampai mana obat tersebut telah dapat
mengakibatkan suatu perubahan perilaku.5,6

2.1.1 Peranan Toksikologi Forensik Dalam Hukum
Toksikologi forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang racun dan
pengidentifikasian bahan racun yang diduga ada dalam organ atau jaringan tubuh dan cairan
korban. Mengingat sulitnya pengungkapan kejahatan terutama yang menggunakan racun,
Page | 3

Aspek–aspek utama yang menjadi perhatian khusus dalam toksikologi forensik bukanlah keluaran aspek hukum dari investigasi secara toksikologi. tapi jelas menyebutkan penyebab kematiannya akibat keracunan zat-zat. melainkan mengenai teknologi dan teknik dalam meperoleh serta menginterpretasi hasil seperti: pemahaman perilaku zat. Menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP). khususnya mengenai catatan adanya gejala fisik. Surat keterangan yang diberikan adalah berupa suatu Visum et Repertum. menyusun dan menilai barang bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan tujuan agar dapat membuat terang suatu kasus pembunuhan yang ada indikasi korbannya meninggal akibat racun. Toksikologi Forensik sangat penting diberikan kepada penyidik dalam rangka membantu penyidik polisi dalam pengusutan perkara yaitu : mencari. residu jejak dan zat toksik (kimia) apapun yang ditemukan. berapa jumlah konsentrasinya.dan racun tertentu atau dengan kata lain ditemukannya gangguan pada organ-organ tubuhnya akibat sesuatu zat-zat. serta efek apa yang mungkin terjadi akibat zat toksik terhadap tubuh korban. ataupun kecelakaan. obat-obatan. interpretasi data terkait dengan gejala atau efek atau dampak yang timbul serta bukti lain yang tersedia.8 Pada umumnya.10.9 Hasil analisis dan interpretasinya temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu laporan yang sesuai dengan hukum dan perundang-undangan.7 Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui latar belakang toksikologi digunakan dalam proses pembuktian pembunuhan serta manfaat toksikologi sebagai media pengungkap dalam proses penyidikan tindak pidana pembunuhan yang menggunakan racun. sumber penyebab keracunan atau pencemaran. pembunuhan.11 Page | 4 . seorang ahli forensik harus mampu mempertimbangkan keadaan suatu investigasi. laporan ini dapat disebut dengan Surat Keterangan Ahli atau surat keterangan.maka saat ini sangat diperlukan aparat penegak hukum khususnya polisi yang mempunyai pengetahuan yang memadai baik teori maupun teknik melakukan penyidikan secara cepat dan tepat dalam rangka pengungkapan kejahatan pembunuhan khususnya kasus pembunuhan yang ada indikasi korbannya meninggal karena diracun. seorang ahli teknologi forensik kemudian harus dapat menentukan senyawa toksik apa yang terdapat dalam sampel. Dengan informasi tersebut serta sejumlah sampel yang akan diteliti. dan bukti apapun yang didapatkan dan berhasil dikumpulkan dalam lokasi kejahatan yang dapat mengerucutkan pencarian. serbuk. Dokter pemeriksa pada bab kesimpulan Visum et Repertum tidak akan menyebutkan korban mati akibat bunuh diri. metode pengambilan sampel dan metode analisa. menghimpun. misalnya adanya barang bukti seperti obat-obatan. obat-obatan dan racun tertentu tersebut.

kematian pada kebakaran. yang meliputi: kematian mendadak. alat kesehatan.12 Dalam menangani kasus kematian akibat keracunan perlu dilakukan beberapa pemeriksaan penting. Tidak semua kasus yang ditemukan perlu melakukan toksikologi forensik. yang tidak memenuhi standar kesehatan (kasus-kasus forensik farmasi). yaitu : 1) Pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) Pemeriksaan di tempat kejadian perkara perlu dilakukan untuk membantu penentuan penyebab kematian dan menentukan cara kematian. belum ada kecurigaan terhadap kemungkinan keracunan. dan kematian medis yang disebabkan oleh efek samping obat atau kesalahan penanganan medis. yang dapat mengancam keselamatan nyawa sendiri ataupun orang lain. kosmetika. kematian di penjara. c) Penyalahgunaan narkoba dan kasus-kasus keracunan yang terkait dengan akibat pemakaian obat.2 Pemeriksaan Toksikologi Forensik Korban mati akibat keracunan umumnya dapat dibagi menjadi 2 golongan. Kasus- kasus tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan besar. bila pada autopsi ditemukan kelainan yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu. Kasus-kasus tersebut antara lain: a) Kematian akibat keracunan. dan bahan berbahaya lainnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin tentang perkiraan saat kematian serta mengumpulkan barang bukti.12 2) Pemeriksaan luar Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemeriksaan luar kasus keracunan diantaranya: 12 Page | 5 .1 2. atau pun narkoba. misalnya lebam mayat yang tidak biasa. yang sejak semula sudah dicurigai kematian akibat keracunan dan kasus yang sampai saat sebelum di autopsi dilakukan. b) Kecelakaan fatal maupun tidak fatal.1. makanan. luka bekas suntikan sepanjang vena dan keluarnya buih dari mulut dan hidung serta bila pada autopsi tidak ditemukan penyebab kematian. yang umumnya diakibatkan oleh pengaruh obat-obatan. Harus dipikirkan kemungkinan kematian akibat keracuan bila pada pemeriksaan setempat (scene investigation) terdapat kecurigaan akan keracunan. alkohol.

karbon tetraklorida. Kulit berwarna kelabu kebirubiruan akibat keracunan perak (Ag) kronik (deposisi perak dalam jaringan ikat dan korium kulit). Pada hiperpigmentasi atau melanosis dan keratosis pada telapak tangan dan kaki pada keracunan arsen kronik.  Segera. air raksa dan boraks. arsen. Kebotakan (alopesia) dapat ditemukan pada keracunan talium.  Perubahan warna kulit.  Pakaian.  Lebam mayat. Segera setelah pemeriksa berada di samping mayat ia harus menekan dada mayat untuk menentukan apakah ada suatu bau yang tidak biasa keluar dari lubang-lubang hidung dan mulut. karena warna lebam mayat pada dasarnya adalah manifestasi warna darah yang tampak pada kulit. Keracunan arsen kronik dapat ditemukan kuku yang menebal yang tidak teratur. Page | 6 .  Kuku. Misalnya bercak berwarna coklat karena asam sulfat atau kuning karena asam nitrat. Pemeriksa harus segera berada di samping mayat sesegera mungkin dan pemeriksa juga harus menekan dada mayat dan menentukan apakah ada suatu bau yang tidak biasa keluar dari lubang hidung dan mulut. Metode pemeriksaan pada rambut adalh dengan ekstrak dan pretreatment. Pada keracunan Talium kronik ditemukan kelainan trofik pada kuku. Kulit akan berwarna kuning pada keracunan tembaga (Cu) dan fosforakibat hemolisis juga pada keracunan insektisida hidrokarbon dan arsen karena terjadi gangguan fungsi hati. Perdarahan pada pemakaian dicoumarol atau akibat bisa ular. Dari bau yang tercium dapat diperoleh petunjuk racun apa yang kiranya ditelan oleh korban. Warna lebam mayat yang tidak biasa juga mempunyai makna. Pada pakaian dapat ditemukan bercak-barcak yang disebabkan oleh tercecernya racun yang ditelan atau oleh muntahan.  Rambut. Bau.  Sklera. Tampak ikterik pada keracunan zat hepatotoksik seperti fosfor.

diambil dari vena iliaka komunis bukan darah dari vena porta. diambil 500 gram. o Empedu. Secara umum sampel yang harus diambil adalah:13 o Lambung dan isinya o Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada pada usus setiap jarak sekitar 60 cm o Darah. o Otak.3 Pengambilan Sampel pada Toksikologi Forensik Memastikan dimana racun itu berada. Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyak- banyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan histopatolgik. o Hati. o Ginjal. kuku dan cairan otak. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida. disesuaikan dengan jenis racun yang masuk kedalam tubuh. o Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan. Darah tepi sebanyak 30-50 ml. didasarkan dari anamnesa dan tanda klinis yang dijumpai pada pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Selanjutnya menentukan sampel yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi. khususnya pada tes penyaring untuk keracunan narkotika. o Urine. alkohol dan stimulan. Karena pada umunya racun akan diekskresikan melalui urin.13 Lebih baik mengambil bahan dalam keadaan segar dan lengkap pada waktu autopsi daripada kemudian harus mengadakan penggalian kubur untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan melakukan analisis toksikologik atas jaringan yang sudah busuk atau sudah diawetkan. Pengambilan darah dari jantung dilakukan secara terpisah dari sebelah kanan dan sebelah kiri masing-masing sebnayak 50 ml. dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan. yang pertama diberi pengawet NaF 1% dan yang lain tanpa pengawet. sebagai tempat detoksifikasi . diambil 2 contoh darah masing- masing 5 ml. diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat khususnya atau bila urine tidak tersedia. Pada korban yang meninggal. diperlukan informasi sisa racun dan dicocokkan dengan kelainan yang dijumpai pada jenazah. diambil karena tempat ekskresi berbagai racun. diambil seluruhnya. Page | 7 .2. jaringan otot. Pada korban yang masih hidup.1. lemak di bawah kulit dinding perut. diambil sebanyak 500 gram. darah adalah bahan yang terpenting. rambut.

Penggunaan intravena akan langsung mencapai otak dalam beberapa detik.13 2. Kadar plasma puncak setelah penggunaan oral terjadi 1-3 jam. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl mercuric nitrate khusus untuk pengawet urine. dihisap atau dihirup. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat digunakan untuk sampel cair.14 Subsitusi gugus methil pada ion hidrogen dalam gugus amino menghasilkan metamfetamin yang mempunyai efek stimulasi sentral terhadap susunan saraf pusat dan sangat potensial untuk disalahgunakan. Analog amfetamin dihasilkan dengan merubah cincin fenil atau etilamin pada rantai lain. pada penggunaan yang dihirup pertama kali dikondensasi di paru-paru dan secara cepat diabsorbsi kedalam pembuluh darah.14 Amfetamin sangat baik diabsorbsi melalui permukaan mukosa dari saluran cerna. hal ini bervariasi tergantung pada aktivitas fisik dan jumlah makanan dalam lambung Amfetamin mengalami degradasi luas Page | 8 . diseksi tetap menjadi pilihan utama dalam tindakan.2. cabang trakheobronkhus dan vagina. Serbuk metamfetamin dapat digunakan secara suntikan. inhalasi. Akan tetapi. Menempatkan satu atau lebih gugus metoksi pada cincin fenil menghasilkan obat dengan efek halusinogen misalnya meskalin. digunakan alkohol dan larutan garam jenuh pada sampel padat atau organ.2 Amfetamin 2. Struktur kimia penting yang berkaitan dengan efek farmakologis biokimia amfetamin yaitu tidak digantinya cincin fenil kelompok alfa metil. Penggantian rantai lain pada gugus siklik seperti metilfenidat menimbulkan efek stimulasi susunan saraf pusat dan menurunkan efek kardiovaskuler. Manipulasi dari struktur dasar molekul amfetamin bertujuan untuk menurunkan efek yang tidak diinginkan dan menonjolkan efek yang diinginkan. Perbaikan atau modifikasi struktur kimia akan menonjolkan atau melemahkan variasi aksi dari amfetamin dan komponen sejenisnya. nasofaring. terdapat teknik lain dalam melihat kelainan tanpa melakukan diseksi. Penambahan gugus metil terhadap rantai alfa karbonik menghasilkan fenteramin yang mempunyai aktivitas anoreksi.1 Struktur Kimia dan Farmakonetik Amfetamin merupakan suatu senyawa sintetik analog dengan epinefrin dan merupakan suatu agonis ketekolamin tak langsung. dua rantai karbon diantara cincin fenil dan nitrogen serta kelompok amino utama. Pada pemeriksaan intoksikasi. Alat–alat untuk diagnosa seperti endoskopi dan MRI dapat digunakan untuk melihat kelainan internal tanpa melakukan diseksi pada tubuh korban. Selain pengambilan sampel melalui autopsi secara diseksi. Sedangkan MDMA biasanya dikonsumsi secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul.

norepinefrin dan dopamin. Strukturnya sangat mirip dengan katekolamin endogen seperti epinefrin.2 Mekanisme Kerja dan Neurokimiawi Amfetamin adalah senyawa yang mempunyai efek simpatomimetik tak langsung dengan aktivitas sentral maupun perifer. Amfetamin juga mempunyai efek menghalangi re-uptake dari katekolamin oleh neuron presinap dan menginhibisi aktivitas monoamin aksidase. norepinefrin dan serotonis atau ketiganya dari tempat penyimpanan pada presinap yang terletak pada akhiran saraf.2. sehingga konsentrasi dari neurotransmitter cenderung meningkat dalam sinaps. Efek alfa dan beta adrenergik disebabkan oleh keluarnya neurotransmiter dari daerah presinap. Bentuk yang tidak dirubah dan metabolitnya akan diekskresi melalui urine. 2. Mekanisme kerja amfetamin pada susunan saraf pusat dipengaruhi oleh pelepasan biogenik amine yaitu dopamin. Para hidroksi amfetamin yang merupakan metabolit inti dari proses ini secara biologi mempunyai efek tiga kali lebih kuat dalam menginhibisi uptake noradrenalin dibandingkan dengan amfetamin  Beta hidroksilasi Proses ini dilakukan oleh enzim dopamin beta hidroksilase yang merubah dopamin menjadi norepinefrin dan hal ini rupanya terbatas untuk senyawa amine utama.dalam hati dengan menghasilkan sejumlah metabolit. Bila cincin metabolit hidroksilasi (misalnya p-hidroksilasi amfetamin) mengalami beta hidroksilasi akan dihasilkan p-hidroksilasi norefedrin dan dapat diserap kedalam ujung-ujung saraf norepinefrin dan kemungkinan dapat bereaksi sebagai neurotransmiter palsu dengan demikian akan meningkatkan efek amfetamin. Efek yang dihasilkan dapat melibatkan neurotransmitter atau sistim monoamine oxidase (MAO) pada ujung presinaps saraf. antara lain:14  Aromatik hidroksilasi Pada proses ini akan dihasilkan fenolik amin yang kemudian akan diekskresi melalui urine atau berkonjugasi dulu dengan sulfat sebelum diekskresi. Metabolisme amfetamin hati terjadi melalui beberapa cara. Dari beberapa penelitian pada binatang diketahui pengaruh amfetamin terhadap ketiga biogenik amin tersebut yaitu:14 Page | 9 . beberapa diantaranya masih mempunyai aktifitas farmakologi.

 Norepinefrin Amfetamin memblok re uptake norepinefrin dan juga menyebabkan pelepasan norepinefrin baru. Stimulasi pada sistim dopaminergik pada otak menimbulkan gejala yang mirip dengan skizofrenia dari psikosa amphetamine. Moller Nielsen dan Dubnick bahwa devirat amfetamin dengan elektron kuat yang menarik penggantian pada cincin fenil akan mempengaruhi sistim serotoninergik. Aktivitas susunan saraf pusat terjadi melalui kedua jaras adrenergik dan dopaminergik dalam otak dan masing-masing menimbulkan aktivitas lokomortor serta kepribadian stereotopik.14 Amfetamin diekresi melalui urine Ekskresi melalui ginjal secara kuat ditentukan oleh pH urine. Stimulasi pada ascending reticular activating system (ARAS) menimbulkan peningkatan aktivitas motorik dan menurunkan rasa lelah. penambahan atau pengurangan karbon diantara cincin fenil dan nitrogen melemahkan efek amfetamin pada pelepasan re uptake norepinefrin. Dengan demikian pengobatan dari overdosis adalah dengan pengasaman urine. dalam urine dengan pH asam (misalnya pH5) kurang lebih 99% dari dosis amfetamin di ionisasi oleh filtrasi glomerulus dan sisanya diabsorpsi kedalam sistem sirkulasi.  Dopamin Amfetamin menghambat re-uptake dan secara langsung melepaskan dopamin yang baru disintesa. Menurut Fletscher p-chloro-N-metilamfetamin mengosongkan kadar 5 hidroksi triptopfan (5-HT) dan 4 hidroksi indolasetik acid (5-HIAA). Stimulasi pada pusat motorik di daerah media otak depan (medial forebrain) menyebabkan peningkatan dari kadar norepinefrin dalam sinaps dan menimbulkan euforia serta meningkatkan libido.  Serotonin Secara umum. sementara kadar norepinefrin dan dopamin tidak berubah. amfetamin tidak mempunyai efek yang kuat pada sistem serotoninergik.14 Page | 10 . Pada penelitian didapatkan bahwa isomer dekstro dan levo amfetamin mempunyai potensi yang sama dalam menghambat up take dopaminergik dari sinaps otonom di hipothalamus dan korpus striatum tikus. Hasil yang sama dilaporkan juga oleh Fuller dan Molloy.

Penelitian pada kera yang diberi injeksi metamfetamin selama 1 tahun menunjukkan perubahan yang luas dari arteriola kecil dan pembuluh kapiler. satelit dan nekrohemorrhage pada serebelum dan hypothalamus. Rumbaugh melaporkan pada pemakaian amfetamin kronis dengan dosis tinggi mempengaruhi vaskularisasi otak.2. Efek toksik penggunaan amfetamin kronis dengan dosis tinggi terhadap: 14 a. Kadar dopamin terdepresi hanya pada darah. Otak Penggunaan amfetamin secara kronis dengan dosis tinggi akan menginduksi perubahan toksik pada sistim monoaminergik pusat. Dosis toksik Page | 11 . Seiden dan kawan-kawan melakukan penelitian pada kera dengan menyuntikkan sebanyak 8 kali/hari (dosis 3- 6. medula. b. hipothalamus dan korteks frontal). Katekolamin mempengaruhi sensitivitas miokardium pada stimulus ektopik. Efek perifer yang lain adalah terhadap pengaruh suhu (thermo-regulation).3 Patofisiologi Penggunaan amfetamin kronis dan dosis tinggi menimbulkan perubahan toksik secara patofisiologi. Amfetamin mempengaruhi pengaturan suhu secara sentral di otak oleh peningkatan aktivitas hipothalamus anterior. Mekanisme toksisitas dari amfetamin terutama melalui aktivitas sistim saraf simpatis melalui situmulasi susunan saraf pusat. Setelah 24 jam pemberian dosis terakhir memperlihatkan kekosongan norepinefrin pada semua bagian otak (pons. norepinefrin masih tetap rendah di otak tengah dan korteks frontal. Perifer Efek yang menonjol adalah terhadap kerja jantung. Setelah 3-6 bulan suntikan terakhir.2. hal ini diperlihatkan dengan perubahan aktivitas triptophan hidroksilase terutama pada penggunaan fenfluramin. Kondisi toksik amfetamin ini juga mempengaruhi sistim serotoninergik. Penyebab kematian yang besar pada toksisitas amfetamin disebabkan oleh hiperpireksia. otak tengah.5 mg/kg) selama 3-6 bulan. Sedangkan pada hipothalamus dan pons kadar norepinefrin sudah meningkat. Selanjutnya dapat terjadi hilangnya sel neuron dan berkembangnya sel-sel glia. bagian otak lain tidak terpengaruh. pengeluaran katekholamin perifer. inhibisi re-uptake katekholamine atau inhibisi dari monoamin aksidase. karena itu akan menambah resiko dari aritmia jantung yang fatal.

biasanya hanya sedikit diatas dosis biasa. membuat individu akan meningkatkan dosis untuk mendapatkan efek yang lebih besar.5 – 20 mg. yang dimaksud dosis rendah sampai sedang adalah 2. Oleh karena itu. yaitu pemakaian zat secara berulang-ulang sesuai frekuensi perubahan mood. sedangkan yang dikategorikan dosis tinggi adalah lebih dari 100 mg. biasanya secara intravena. Pada fase ini individu mulai binge. Page | 12 . Met-amfetamin bahkan lebih poten. Fase awal Selama fase ini efek akut dari amfetamin ditentukan oleh efek farmakologinya (pelepasan dopamin) dan akan menimbulkan: o Euforia o Energi yang meningkat o Menambah kemampuan bekerja dan interaksi sosial Efek ini timbul sesaat setelah mengkonsumsi 2.4 Pengaruh terhadap Pengguna Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada jenis amfetamin. dan cara menggunakannya. Efek amfetamin yang berhubungan dengan penyalahguaan dapat dibedakan dalam 2 fase: 14 1. jumlah yang digunakan.15 Dosis kecil semua jenis amfetamin akan menaikkan tekanan darah. Binge ini dapat berlangsung dalam 12-18 jam tetapi dapat lebih panjang lagi mencapai 2 sampai 3 atau bahkan 7 hari. biasanya secara oral. mempercepat denyut nadi. Amfetamin juga merupakan obat/zat yang sering disalahgunakan. Fase konsolidasi Konsumsi yang lama dan intermiten.14 2. mudah terpacu. meningkatkan kewaspadaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk amfetamin sendiri yang dikategorikan dosis rendah sampai sedang adalah 5 – 50 mg. individu menggunakan amfetamin yang bereaksi cepat. menghilangkan kantuk. melebarkan bronkus. Pada pemakaian yang terus-menerus individu akan meningkatkan frekuensi dan dosis zat untuk merasakan flash atau rush dari penggunaan amfetamin. sedangkan dosis tinggi adalah 50 mg atau lebih. yaitu secara intravena atau dihisap.2. Selama masa transisi penggunaan dosis tinggi. Untuk dekstroamfetamin. rentang dosis untuk dosis rendah dan menengah maupun untuk dosis tinggi adalah lebih kecil. menimbulkan euphoria. menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar.

5 jam. banyak berkeringat.15 Dosis toksik amfetamin sangat bervariasi. penglihatan kabur. Pada penggunaan jangka lama met-amfetamin. dan 15-20 menit pada penggunaan secara oral. Pada mereka yang sudah mengalami toleransi. Reaksi yang hebat dapat timbul pada dosis kecil (20 – 30mg) sekalipun. mulut kering (haus). Perubahan ini tampak ireversibel karena pengaruh met-amfetamin terhadap neuron dopaminergic dan serotonergic dapat berlangsung lebih dari satu tahun. Perubahan perilaku yang jelas tidak terlihat. panic. waham curiga. menghilangkan kantuk. dan anoreksia yang berat. 3-5 menit pada penggunaan secara disedot melalui hidung. bahkan bisa tetap hidup dengan dosis yang lebih besar leagi. dan berakhir sesudah 3-4 jam.meningkatkan aktivitas motorik. menimbulkan tremor ringan.15 Met-amfetamin mempunyai masa kerja 6 – 8 jam. dan kebingungan. gigi berkerut-kerut.15 Page | 13 . fungsi seksual. menakan nafsu makan. terjadi pengurangan kepadatan dan jumlah neuron di lobus frontalis dan ganglia basalis. meningkatnya kemampuan hubungan interpersonal. lebih mudah menghayati perasaan orang lain. gelisah. tekanan darah meningkat. Euforia yang begitu kuat atau rush dicapai dalam beberapa menit pada penggunaan dengan cara dirokok atau suntikan intravena. Walaupun penampilan motoric meningkat. gangguan motoric dan psikosis dengan waham mirip skizofrenia paranoid. ada juga yang tetap hidup pada dosis 400 – 500mg. tiba-tiba agresif. yaitu perbuatan yang diulang terus-menerus tanpa mempunyai tujuan. dan merasa kuat. ansietas. Tidak seperti pada psikosis akibat kokain. mencegah lelah.15 Dosis sedang amfetamin (20 – 50 mg) akan menstimulasi pernapasan. Penggunaan met-amfetamin dalam dosis tinggi berulang kali sering dihubungkan dengan perilaku kekerasan dan psikosis paranoid. Intoksikasi MDMA ditandai dengan euphoria. gerakan otot tidak terkendali (tripping). denyut jantung bertambah cepat. melakukan tindak kekerasan. otot berkontraksi sehingga terjadi bruksisme. agitasi. depresi. psikosis akibat met-amfetamin dapat berlangsung beberapa minggu lamanya. gerakan cepat bola mata. emosi menjadi labil. banyak bicara. dapat terjadi gangguan deksteritas dan ketrampilan motorik halus.15 MDMA (methylene dioxy methamphetamine) sebanyak 75-150 mg yang dikonsumsi secara oral akan memperlihatkan gejala setelah 30 menit dengan puncak gejala tercapai sesudah 1-1. tetapi pada orang yang belum mengalami toleransi. dan mengurangi tidur. Dosis yang demikian tinggi dan berulang itu menyebabkan berkurangnya dopamine dan serotonin untuk jangka waktu yang lama.15 Penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan perilaku stereotipikal. seperti yang terjadi pada penggunaan kronis kokain. insomnia. tetapi dapat menimbulkan perubahan pola tidur. mual. meningkatkan aktivitas motoric.

belajar. met-amfetamin meningkatkan suhu badan dan kejang. stroke. mengurangi nafsu makan. mengalami hambatan dalam pertumbuhan. penggunaan jangka pendek met-amfetamin akan meningkatkan perhatian. euphoria. tetapi sudah terbukti bahwa bayi yang lahir dari seorang perempuan pengguna amfetamin akan mempunyai berat badan yang kurang. dan nafsu makan berkurang. serta perdarahan intraserebral. aritmia jantung.2. penyakit infeksi akibat kurang menjaga kesehatan tubuh. dan gangguan penyesuaian diri.15 Met-amfetamin dalam jumlah banyak merusak ujung sel saraf. serta penyakit lain akibat efek langsung amfetamin sendiri. kemampuan akademik yang buruk. kejang. bayi tersebut akan mengalami defisit pada psikometrik. atau penggunaan alat suntik yang tidak steril. dan hipertermia. perlambatan fungsi kognitif.15 Belum dapat dibuktikan bahwa amfetamin dapat menimbulkan cacat kongenital. aktivitas motoric berulang.5 Komplikasi Medis Penggunaan amfetamin melalui suntikan dapat menyebabkan terjadinya angiitis atau perdarahan intraserebral. hal ini dapat menyebabkan terjadinya psikosis dan gangguan mental lain.15 Page | 14 .15 Selain komplikasi medis. Met- amfetamin dapat menimbulkan gangguan kardiovaskular. Penggunaan MDMA bersamaan dengan alcohol sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal. halusinasi. social. Penggunaan amfetamin yang paling sering menyebabkan psikosis. endocarditis. pengurangan berat badan. napas cepat. kurang tidur.15 Pada penggunaan amfetamin dosis tinggi. dan koma. Pada penggunaan jangka panjang. met-amfetamin dapat menimbulkan waham. dan tidur.15 Penggunaan kronis MDMA mengganggu daya ingat. konsentrasi. dan pekerjaan. seperti takikardia. mengurangi rasa letih. Dalam dosis tinggi. abses pada kulit (pengguna intravena). atau akibat kebiasaan makan yang buruk. penggunaan amfetamin yang kronis akan mengalami kemunduruan dalam kehidupan individual. tekanan darah naik. gangguan afek. yang bisa berakibat kematian. Penggunaan yang kronis MDMA dapat merusak ginjal dan system kardiovaskular. masalah perilaku. Setelah besar. Seperti amfetamin.2.

Bila terjadi takikardi. Reaksi silang ini tentunya memberikan hasil positif palsu. b. f. Hasil dari immunoassay test ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Jika di dalam materi terdapat obat dan metabolitnya (antigen-target) maka dia akan berikatan dengan “anti- drug antibody”. c. beri haloperidol 3 kali 2-5 mg. bukan untuk menarik kesimpulan. Teknik ini menggunakan “anti-drug antibody” untuk mengidentifikasi obat dan metabolitnya di dalam sampel (materi biologic). b. c. Untuk mempercepat ekskresi amfetamin. spserti “enzyme linked immunoassay” (ELISA). yang sekaligus juga untuk menurunkan tekanan darah. atau selimut hipotermik.3. Obat batuk yang mengandung pseudoefedrin akan memberi reaksi positif palsu terhadap tes immunoassay dari antibodi Page | 15 . enzyme multiplied immunoassay technique (EMIT). e. Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya.3 Toksikologi Forensik pada Kasus Amfetamin 2.1 Teknik Immunoassay Teknik immunoassay adalah teknik yang sangat umum digunakan dalam analisis obat terlarang dalam materi biologi. d. Dapat diberikan anti depresi. berikan diazepam 10-30mg per oral atau parenteral. berikan obat anti hipertensi. Penatalaksanaan putus amfetamin:15 a. Bila timbul gejala psikosis atau agitasi. minum air dingin. Waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri. Bila suhu badan naik. atau klordiazepoksid 10-25mg per oral secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit. berikan kompres dingin. Bila kejang. lakukan asidifikasi air seni dengan memberi amonium klorida 500 mg per oral setiap 3-4 jam.2. berikan bet-blocker. namun jika tidak ada antigen-target maka “anti-drug antibody” akan berikatan dengan “antigen-penanda”. karena kemungkinan antibodi yang digunakan dapat bereaksi dengan berbagai senyawa yang memiliki baik bentuk struktur molekul maupun bangun yang hampir sama. seperti propranolol. cloned enzyme-donor immunoassay (CEDIA). dan radio immunoassay (RIA). 2.2. Bila tekanan darah naik.6 Penatalaksanaan Penatalaksanaan intoksikasi amfetamin15 a. Terdapat berbagai metode/ teknik untuk mendeteksi ikatan antigen-antibodi ini. fluorescence polarization immunoassay (FPIA).

dosis yang digunakan.3.metamfetamin.dapat ditemukan sejumlah kecil bubuk pada saat hidung dibuka atau melalui swab methanol pada septum hidung.2 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Merupakan metode analitik yang relative murah dan mudah pengerjaannya. Uji pemastian umumnya menggunakan teknik kromatografi. Hasil yang positif akan terlihat dalam 1-4 hari namun juga bisa lebih. Jika obat dihirup. sampai 1 minggu setelah pemakaian yang berlebihan. Dengan menggunakan spektrofotodensitometri analit yang telah terpisah dengan KLT dapat dideteksi spektrumnya. dan bekas suntikan biasanya sulit dilihat. Data analisis kuantitatif analit akan sangat berguna bagi toksikolog forensik dalam menginterpretasikan hasil analisis seperti jenis senyawa yang terlibat. Pada injeksi biasanya digunakan jarum insulin. Ekskresi metamfetamin dalam urin sangat dipengaruhi oleh pH urin. maka tes urin dinyatakan positif.16 Hasil uji penapisan dapat dijadikan petunjuk bukan untuk menarik kesimpulan bahwa seseorang telah terpapar atau menggunakan obat terlarang.3. Sedangkan hasil uji pemastian dapat dijadikan dasar untuk memastikan atau menarik kesimpulan apakah seseorang telah menggunakan obat terlarang yang dituduhkan. namun KLT kurang sensitive jika dibandingkan dengan teknik immunoassay.16 Untuk uji metamfetamin sendiri biasanya digunakan tes urin. dapat juga dilakukan tes darah. dan jalur paparan. Jika didapatkan kadar matamfetamin atau metabolitnya minimal 200 ng/mL atau lebih.3 Tes Konfirmasi Uji ini bertujuan untuk memastikan identitas analit dan menetapkan kadarnya. bergantung dari dosisnya.3.16 2. pada uji ini juga dilakukan penetapan kadar dari analit. Di samping melakukan uji identifikasi potensial positif analit (hasil uji penapisan).16 2.4 Temuan dalam Otopsi . Oleh sebab itu hasil dari reaksi immunoassay harus diuji lagi dengan uji pemastian (tes konfirmatori). Waktu paruh yang cukup lama menyebabkan obat dapat dideteksi dalam waktu beberapa jam. Metabolisme menghasilkan amfetamin sebagai metabolit pertama dari metamfetamin dan rasio pada darah dan urin dapat membantu menentukan penggunaan akut atau kronis. waktu terjadinya paparan. Kaca pembesar biasanya dapat Page | 16 .16 Selain tes urin.16 2.

jaringan hepar. Sampel autopsy harus menyertakan darah perifer. Rambut juga dapat dianalisis untuk melihat positif tidaknya penggunaan MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) yang terkenal dengan sebutan Ecstasy. cairan spinal dan jaringan dapat positif untuk beberapa hari setelah penggunaan pertama. terdapat tanda terbakar pada jari telunjuk bagian palmar yang digunakan untuk memegang pipa panas pada penggunaan oral. Terkadang bekas tato diatas vena menyembunyikan bekas tusukan. urin. hal ini kemungkinan karna kurangnya suplai darah. Jika obat dihisap atau dikonsumsi secara oral. Urin. Disamping informasi lain. empedu. dan positif untuk waktu yang lebih lama pada penggunaan kronis. isi lambung. Penemuan pada jantung : jantung adalah target organ.17 . digunakan untuk melihat bekas suntikan dan bekas suntikan tersebut kemungkinan tidak ditemukan perdarahan. biasanya berat masing-masing 400 gram sampai 500 gram.17 . paru-paru pada intoksikasi amfetamin menjadi berat. Penemuan pada paru-paru : pada pemeriksaan internal. Pada salah satu kasus terdapat inhalasi isi gaster. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan kongesti dari organ dengan edema. dapat ditemukan benda asing pada paru. Pada dua orang lainnya ditemukan hemoragi intra alveolar. Level serotonin berkurang 50%-80% pada region yang berbeda pada otak. rambut. edema dan degenerasi neuron tampak pada lokus ceruleus. Pada salah satu kasus terdapat nekrosis glandula hipofisis. bekas tusukan cenderung banyak dan berkumpul di sekitar vena yang sering digunakan. Ketika pengguna cenderung menggunakan amfetamin berulang kali untuk meningkatkan efek.17 . Sebuah studi post mortem terhadap 6 orang pengguna amphetamine.ditemukan infark pulmonal pada salah seorang pengguna. Juga dapat ditemukan peningkatan sejumlah partikel karbon. mungkin tidak ada manifestasi eksternal yang ditemukan.17 . Jika digunakan secara intravena. Penemuan pada otak : studi post mortem memperlihatkan perubahan level serotonin dan metabolit utamanya pada otak pada penggunaan jangka panjang amfetamin. 2 orang memperlihatkan fokal hemoragi pada otak.terkadang terjadi penambahan berat. Bisa juga terlihat nekrosis Page | 17 . Sebuah studi post mortem terhadap 6 orang pengguna amfetamin. pada perbandingan dengan yang tidak menggunakan amfetamin. Dapat memperlihatkan gambaran disseminated intravascular coagulation (DIC).terutama pada hipertrofi ventrikel kiri dan pembesaran jantung bagian kanan. tapi berat paru-paru bisa sampai 1000 gram atau bahkan lebih.

Identifikasi amfetamin dengan menggunakan saliva telah ada dan dapat dipergunakan untuk tes simple yang non invasive. dilatasi sinusoidal dan inflamasi juga ditemukan. Pemeriksaan darah. Kasus intoksikasi yang menyebabkan hipertermia dengan kegagalan fungsi hati sering terdapat nekrosis hepatis massif. Ritodrine sebuah beta simpatomimetik yang dulu digunakan dalam manajemen persalinan preterm dan derivate fenotiazin seperti clorpromazin dan prometazin juga diketahui menggganggu identifikasi. Buflomedil adalah vasodilator untuk penyakit cerebrovaskuler dan arteri perifer yang bercampur dengan enzim multiplied immunoassay (EMIT) untuk amfetamin. Spektroskopi non akueos elektroforesis- flouresen kapiler telah di evaluasi dan dipergunakan sebagai metode deteksi cepat untuk emfetamin. Trazodon telah dilaporkan menyebabkan hasil false positif.17 . bergantung dari dosisnya. Ketika mengambil specimen darah pada orang yang sudah meninggal. Analisis isomer kuantitatif dapat menyelesaikan masalah ini. Penemuan pada hepar: dapat terdapat pembesaran hepatosit dan pada sitoplasma bisa mengandung banyak vakuola. lebih direkomendasikan untuk mengambil darah pada bagian perifer daripada dekat dengan bagian jantung. Blockade histamine (H2) seperti ranitidi adalah penyebab utama dari false positif. pada jantung sering terdapat area iskemi dan mionekrosis yang dikelilingi neutrophil dan makrofag. Selegiline dimetaboliasi menjadi L-amfetamin dan L-metamfetamin dan menyebabkan hasil positif. waktu paruh yang cukup lama menyebabkan obat dapat dideteksi pada darah dalam waktu beberapa jam. myofibril.17 . Kebanyakan tes skring darah untuk amfetami adalah tehnik immunoassay. Hal ini karena redistribusi amfetamin pada jantung mengakibatkan kadar amfetamin yang lebih tinggi.19 Obat-obat dan bahan kimia yang lain dapat saja mengganggu dengan identifikasi amfetamin. Klobenzorex sebuah obat anorektik yang diresepkan di meksiko. Metabolism menghasilkan amfetamin sebagai metabolit pertama dari metamfetamin dan rasio pada darah dan urin dapat menentukan penggunaan akut atau kronis.19 Page | 18 . perlemakan. Sejak diketahui bahwa obat ini merupakan stimulator katekolamin. Dapat juga dengan menggunakan gas kromatografi dan analisis spektroskopi. Pencapaian terbaru dalam mendeteksi amfetamin adalah menggunakan spektroskopi dengan transmisi inframerah. di metabolisasi menjadi amfetamin memeberikan hasil positif pada tes dengan gas kromatografi dan analasis spektroskopi. dan menyebabkan terjadinya peningkatan katekol dalam darah.18.

Yang paling sering adalah derivate metamfetamin.19 . Tes rambut secara umum memerlukan sekitar 1. Periode deteksi amfetamin dipengaruhi beberapa factor seperti pH dan status hidrasi. Tes urin pengguna MDMA akan memperlihatkan hasil positif pada amphetamine (metode umum) dan metamfetamin (metode tes yang baru dan lebih jarang digunakan). Alat ini dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan amphetamine dalam urin. . Hal ini akan mengakibatkan terjadinya saturasi pada area tes tersebut. jika kadar amphetamine dalam specimen urinadalah > 1000 ng/ml. Tes rambut : analisis rambut juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi amfetamin dan derifatnya. Jika hanya terdapat garis merah pada area kontrol.19 . dan timbul bila terjadi overdosis. tidak akan terjadi saturasi pada binding site. Biasanya terjadi bila amfetamin digunakan secara intravena. periode deteksinya akan lebih pendek.3. namun penggunaannya tidak direkomendasikan. menunjukkan hasil negatif. Obat-obatan (amphetamine) yang terdapat didalam specimen urin akan berkompetisi melawan konjugasi amphetamine untuk berikatan dengan binding site yang dilapisi dengan antibody.19 2.5 inci. antibody yang terdapat di binding site hanya akan berikatan dengan konjugasi amphetamine saja. Jika antibody berikatan dengan konjugasi amphetamine maka terbentuklah garis warna merah pada area tes. Ini menyediakan periode deteksi sekitar 90 hari. maka hasilnya positif. Prinsip : AMP one step Amphetamine Test Device (Urine) adalah immunoassay chromatographic yang didasarkan pada prinsip Competitive Binding. Terbentuknya garis merah di area tes dan kontrol. Jika rambut seseorang kurang dari 1. akan terjadi kompetisi antara amphetamine dan konjugasinya dalam berikatan dengan antibody di binding site.18. Sebaliknya. Sedangkan metamfetamin dapat menyebakan proliferative glomeronefritis akibat dari suatu sistemik necrotizing vasculitis. Merupakan keadaan yang jarang terjadi. Jika didalam urin terdapat amphetamine sejumlah <1000 ng/ml. Penemuan pada ginjal: pada ginjal amfetamin mengakibatkan myoglobunuric tubular nekrosis.19 Page | 19 .5 Pemeriksaan Amfetamin Metode : one step amfetamin test (urine) – visual screening immunoassay. sehingga tidak akan terbentuk garis berwarna merah.5 inci dari rambut. Sehingga.

sehingga peraturannya masih mengacu pada undang undang nomor 5 tahun 1997. atau Page | 20 . 6. Sampel negatif amfetamin ditandai dengan munculnya 2 garis pink atau ungu. Mencelupkan strip ke sampel urin. sedangkan yang berkaitan dengan Penyalahguna narkotika. 5.4 Tindak Pidana Narkotika dan Psikotropika Undang-undang narkotika terbaru sebagaimana tertulis diatas adalah No. Meletakkan bahan dan alat di suhu ruang. Ketinggian urin harus mencapai garis maksimum yang tertera pada strip.1 Undang undang nomor 5 tahun 1997 Tentang Psikotropika20 Pasal 59 1) Barangsiapa : a. ditemukan dalam pasal 111 sampai dengan pasal 126. 22 Tahun 1997. maka ini mengindikasikan level obat-obatan diatas level sensitivitas. diatur dalam pasal 110 sampai pasal 148. Jika pada tes region tidak muncul garis. 3. UU ini menggantikan peraturan narkotika sebelumnya.Membaca hasil selama 3-8 menit setelahnya. 2.Menahan strip pada urin hingga warna kemerahan muncul.Alat dan Bahan Alat: 1. 4. Menggunakan psikotropika golongan I selain dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) .19 2. Mengeluarkan strip tes dari bungkus. disudut bagian bawah membrane tes kira kira 10 detik. yakni UU No. Pemberantasan peredaran narkotika. Sedangkan jika hasil positif akan muncul 1 garis pink atau ungu. ditemukan pada pasal 127 dan 128.1 Ketentuan pidana dalam undang undang No. 35/2009. 5. Sedangkan undang-undang psikotropika hingga sekarang belum ada yang baru. Strip 2. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Wadah penampung Bahan: Urin Cara Kerja:19 1. Mengangkat strip di tempat yang bersih dan kering .

200.000. kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar Rp.000. 750. maka di samping dipidananya pelaku tindak pidana. dan paling banyak Rp. 150. Mengimpor psikotropika golongan I selain untuk kepentingan ilmu pengetahuan.000. Mengedarkan psikotropika golongan I tidak memenuhi ke-tentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3). memproduksi psikotropika selain yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 5. atau c.000. atau d.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). 2) Barangsiapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. Memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi psikotropika golongan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.000. Pasal 60 1) Barangsiapa : a.000. menyimpan dan/atau membawa psikotropika golongan I dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun. 2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda sebesar Rp. Secara tanpa hak memiliki. atau c. atau b.00 (seratus lima puluh juta rupiah). b.000.00 (seratus juta rupiah).000.100. 750.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.000.000.000. Page | 21 .000. 5. paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.00 (dua ratus juta rupiah). 3) Jika tindak pidana dalam pasal ini dilakukan oleh korporasi. atau e. memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.00 (lima milyar rupiah).

00 (enam puluh juta rupiah). Page | 22 . Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100. 4) Barangsiapa menyerahkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1).000. 60.000. mengekspor atau mengimpor psikotropika selain yang ditentukan dalam Pasal 16. memiliki. 60. Apabila yang menerima penyerahan itu pengguna. 5) Barangsiapa menerima penyerahan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (3). menyimpan dan/atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.00 (tiga ratus juta rupiah). 2) Barangsiapa tidak menyerahkan surat persetujuan ekspor kepada orang yang bertanggung jawab atas pengangkutan ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) atau Pasal 22 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.000.000. 60.00 (enam puluh juta rupiah).00 (seratus juta rupiah).000. dan Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.000.000.000. mengekspor atau mengimpor psikotropika tanpa surat persetujuan ekspor atau surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Pasal 62 Barangsiapa secara tanpa hak.000.00 (enam puluh juta rupiah). 60. melaksanakan pengangkutan ekspor atau impor psikotropika tanpa dilengkapi dengan surat persetujuan ekspor atau surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) atau Pasal 22 ayat (4). 3) Barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 300. Pasal 14 ayat (3). Pasal 14 ayat (2).000. atau c. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. atau b.00 (enam puluh juta rupiah). Pasal 61 1) Barangsiapa : a. maka dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan.000.000.

000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. tidak mencantumkan label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 . atau d. 60. Pasal 64 Barangsiapa : a. atau b. atau b. dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi yang tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (3). mencantumkan tulisan berupa keterangan dalam label yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1).00 (seratus juta rupiah). 2) Barangsiapa : a. 100.000. atau c.000. melakukan perubahan negara tujuan ekspor yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. menghalang-halangi penderita sindroma ketergantungan untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37. melakukan pengemasan kembali psikotropika tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.00 (enam puluh juta rupiah). Pasal 65 Barangsiapa tidak melaporkan adanya penyalahgunaan dan/atau pemilikan psikotropika secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) dipidana dengan pidana Page | 23 .000.00 (dua puluh juta rupiah).000. 20. melakukan pemusnahan psikotropika tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) atau Pasal 53 ayat (3). atau c. atau b.Pasal 63 1) Barangsiapa: a. melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.000. mengiklankan psikotropika selain yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1). dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.

00 (dua puluh juta rupiah). Pasal 63. kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar 2 (dua) kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana tersebut dan dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.000. Pasal 67 1) Kepada warga negara asing yang melakukan tindak pidana psikotropika dan telah selesai menjalani hukuman pidana dengan putusan pengadilan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagaimana diatur dalam undang-undang ini dilakukan pengusiran keluar wilayah negara Republik Indonesia. Pasal 68 Tindak pidana di bidang psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan. alamat atau hal-hal yang dapat terungkapnya identitas pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1). Pasal 62. Pasal 61. dan Pasal 64 dilakukan oleh korporasi. Pasal 69 Percobaan atau perbantuan untuk melakukan tindak pidana psikotropika sebagaimana diatur alam undang-undang ini dipidana sama dengan jika tindak pidana tersebut dilakukan. Pasal 66 Saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan perkara psikotropika yang sedang dalam pemeriksaan di sidang pengadilan yang menyebut nama. maka disamping dipidananya pelaku tindak pidana.000. Pasal 70 Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60. 2) Warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat kembali ke Indonesia setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan putusan pengadilan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun. 20. Page | 24 .penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.

menganjurkan atau mengorganisasikan suatu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60. membantu.21 Page | 25 .Pasal 71 1) Barangsiapa bersekongkol atau bersepakat untuk melakukan. menyuruh turut melakukan. yang dalam dosis toksik. Intoksikasi Amphetamine Pasal yang menerangkan tentang intoksikasi ( keracunan ) MDMA adalah pasal 133 (1) KUHP. yang berbunyi : Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. ancaman pidana ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut. Pasal 72 Jika tindak pidana psikotropika dilakukan dengan menggunakan anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah atau orang yang di bawah pengampuan atau ketika melakukan tindak pidana belum lewat dua tahun sejak selesai menjalani seluruhnya atau sebagian pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya. Pasal 62. hal mana dapat berakhir dengan penyakit atau kematian”. selalu menyebabkan gangguan fungsi tubuh. pengertian atau batasan dari racun itu sendiri tidak dijelaskan. Pengertian yang paling banyak dianut adalah “ racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan secara faali. 2) Pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut. keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana. atau Pasal 63 dipidana sebagai permufakatan jahat. melaksanakan. dengan demikian dipakai pengertian racun yang telah disepakati oleh para ahli. Pasal 61.

Tekanan darah pasien adalah 110/80 mmHg.5 jam sejak kedatangan. Kelainan tersebut diidentifikasi dengan dilakukannya pemeriksaan laboratorium darah sebagai berikut: Pemeriksaan Darah Hasil Ureum 64 mg/dl Kreatinin 1. Ambulan didatangkan berdasarkan panggilan tetangganya yang mendengar suara tangisan minta tolong. Berdasarkan hasil konsultasi dengan telepon pasien dikirim ke bagian hemodinamik untuk terapi lebih lanjut mencakup angiografi koroner dan bila perlu dilakukan angioplasti. Pada pemeriksaan fisik saat kedatangan. Suhu badan pasien 39. Pada pemeriksaan elektrokardiografi pertama tidak didapatkan kelainan. Page | 26 .4 ng/ml Troponin T 204.Ilustrasi Kasus22 Pada 23 Maret 2015. seorang lelaki 42 tahun datang ke instalasi gawat darurat karena dehidrasi.4 ng/l  5575 ng/l Na 144 mmol/l K 3. Pemeriksaan EKG kedua dilakukan 1. pasien sadar penuh tetapi tanpa kontak verbal yang logis dan respon pupil terhadap cahaya yang lambat.8 C. didapatkan elevasi segmen ST di lead V3- V5.5 mg/l % saturasi oksigen 74. Frekuensi jantung 160x/menit regular. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penunjang maka pasien didiagnosis dengan infark miokard akut anterolateral.96 mg/dl CRP 9.6% CK-MB 131.4 mmol/l Pada pemeriksaan radiologi mencakup CT-scan kepala dan foto rontgen X-Ray thorax tidak didapatkan adanya kelainan.

RBBB. Rekaman EKG. Dilakukan Page | 27 .22 Pada saat pasien sampai di rumah sakit selanjutnya pasien dalam kondisi kritis. Pemijatan jantung luar dilakukan dan infus dopamin diteruskan. Resusitasi dilakukan dan pasien diintubasi diikuti dengan bantuan ventilasi mekanis. Atrial fibrilasi dengan frekuensi 100x/menit.Gambar 1.50 am pasien mengalami gagal napas diikuti dengan henti jantung. meskipun telah diberikan infus secara kontinyu dengan Levonor dan Dobutamin tekanan darah pasien tidak terdeteksi. Pada EKG didapatkan elevasi segmen ST pada anterolateral. Pada pemeriksaan ekokardiografi didapatkan hipokinesis menyeluruh dari ventrikel jantung kiri dengan kontraksi jantung kanan yang turun. Pasien tidak sadarkan diri. elevasi segmen ST di lead V3- V5. Setelah pasien dikirim ke bagian cardiac intensive care unit pada 9.

Amfetamin dideteksi dengan konstrasi 269.0 pg/ml Procalcitonin 2. Pada pemeriksaan patologi anatomi didapatkan fokus nekrosis kardiomiosit dengan gambaran miositolisis tanpa reaksi seluler. menyempit sekitar 25%. Pada arteri koroner kanan didapatkan plak aterosklerosis rata berlokasi sekitar 15 mm dari ostium arteri. bagaimanapun gagal untuk menunjukkan lesi patologis lain. Meskipun telah dilakukan terapi intensif. pemeriksaan lain dan rekam medik untuk tujuan medikolegal. Hasilnya didapatkan positif terdapat amfetamin. Analisis kemotoksikologi pada darah pasien dilakukan untuk melihat adanya substrat seperti alkohol mencakup amfetamin. Tidak didapatkan etil alkhol dari pemeriksaan gas kromatografi pada darah dan humor vitreous. hemodinamik yang efektif tidak dapat tercapai. Tidak didapatkan lesi aterosklerosis pada arteri koroner kiri. Page | 28 .EKG selanjutnya dan didapatkan AV blok derajat 3. Pemeriksaan Darah Hasil Troponin T 5978 ng/l CK-MB > 300. Dikarenakan adanya nistagmus vertikal dan dilatasi pupil yang tidak responsif terhadap rangsang cahaya maka sampel darah dan urin diambil untuk dilakukan test untuk zat psikoaktif. selain penemuan lain. Lalu dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dengan hasil sebagai berikut. opiat dan THC. Pada otopsi medikolegal. Pada 10.5 ng/ml (konsentrasi toksik pada 500 ng/ml). kokain.50 pasien diumumkan telah meninggal. penyebab paling mungkin dari miokard infark adalah keracunan amfetamin.00 ng/ml NT-proBNP 1529. disimpulkan bahwa penyebab kematian pasien tersebut adalah gagal jantung pulmonal diakibatkan infark miokard akut. Frekuensi jantung menurun secara stabil dengan didapatkan pelebaran dari kompleks QRS pada EKG. Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap pada tubuh mencakup otopsi. tidak ratanya warna dari otot jantung (dari merah pucat keabuan menjadi merah keabuan) dan lesi aterosklerosis minimal mencakup aterosklerosis koroner. benzodiazepin. Berdasarkan dari pemeriksaan arteri koroner dan toksikologi. Sampel dari organ lain.94 ug/l Dengan didapatkan hasil meningginya parameter inflamasi dengan disfungsi organ multipel.

Gambar 2. Nekrosis serat miokardial (pewarnaan H&E) 22 Page | 29 .

Page | 30 . Menurut Society of Forensic Toxicologist. Efek yang dihasilkan dapat melibatkan neurotransmitter atau sistem monoamine oxidase (MAO) pada ujung presinaps saraf. Amfetamin merupakan psikotropika golongan II. Amfetamin merupakan suatu senyawa sintetik analog dengan epinefrin dan merupakan suatu agonis ketekolamin tak langsung. pasal 59 sampai 72. tes konfirmasi. bidang kerja toksikologi forensik meliputi analisis dan evaluasi racun penyebab kematian. norepinefrin dan serotonis atau ketiganya dari tempat penyimpanan pada presinaps yang terletak pada akhiran saraf. yakni UU No. sehingga peraturannya masih mengacu pada undang undang nomor 5 tahun 1997. UU ini menggantikan peraturan narkotika sebelumnya. Amfetamin mempunyai efek simpatomimetik tak langsung dengan aktivitas sentral maupun perifer. Inc. Undang-undang narkotika terbaru adalah No. Sedangkan undang-undang psikotropika hingga sekarang belum ada yang baru. Amfetamin juga mempunyai efek menghalangi re-uptake dari katekolamin oleh neuron presinap dan menginhibisi aktivitas monoamin aksidase. psikotropika dan obat terlarang lainnya. dan pemeriksaan amfetamin dengan metode one step amfetamin test (urine) – visual screening immunoassay. temuan dalam otopsi. Forensik klinik berperan dalam penyalahgunaan amfetamin yaitu dengan pemeriksaan-pemeriksaan yang mendukung analisis kadar amfetamin dalam tubuh seperti teknik immunoassay. BAB III PENUTUP 3. obat terlarang di dalam cairan tubuh atau nafas yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan analisis obat terlarang di darah dan urin pada kasus penyalahgunaan narkotika. (SOFT). yang mempunyai potensi kuat dalam menyebabkan ketergantungan. Toksikologi forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang racun dan pengidentifikasian bahan racun yang diduga ada dalam organ atau jaringan tubuh dan cairan korban. kromatografi lapisan tipis.1 Kesimpulan Toksikologi merupakan suatu cabang ilmu yang membahas seputar efek merugikan berbagai efek samping yang merugikan dari berbagai agen kimiawi terhadap semua sistem makhluk hidup. sehingga konsentrasi dari neurotransmitter cenderung meningkat dalam sinaps. 22 Tahun 1997. Mekanisme kerja amfetamin pada susunan saraf pusat dipengaruhi oleh pelepasan biogenik amine yaitu dopamin. 35/2009. analisis ada/tidaknya kandungan alkohol.

terutama dalam hal data serta tindak lanjut preventif. Namun masih banyak kekurangan dalam karya tulis ini yang diharapkan adanya penulis lain yang melanjutkan karya tulis ini sehingga dapat mengembangkan ilmu.3.2 Saran Dengan diketahuinya toksikologi secara umum dan efek amfetamin pada tubuh berserta aspek medikolegalnya secara khusus bagi tubuh diharapkan dapat mendukung berkurangnya penggunaan psikotropika khususnya amfetamin. Page | 31 . rehabilitatif serta aspek hokum yang terus berkembang. kuratif.

Wirasuta. Toxicology Section).. Bertam G. 13. 2010. Palmar. Forensic Toxicology Laboratory Guidelines.55. Kenji. Jakarta. [disitasi 2014 November 30]. 11.org/files/WHATISFO RENSICTOXICOLOGY. Surabaya.abft. Arum.1(1):47.1(1):47-55. J of Legal and Forensic Sciences. V.pdf. M. Investigasi Kematian Dengan Toksikologi Forensik. 14.) and AAFS (the American Academy of Forensic Sciences. 9. J of Legal and Forensic Sciences. I M. 4. 10. Erdaliza. Analityc Toxicology (6): 57-61. Ind. 10:31. 1982.Ilmu Kedokteran Kehakiman. 1 (1). 2008. Jakarta. Teungku A. M. FKUNRI.K. Peranan Toksikologi Forensik dalam mengunkap kasus keracunan dan pencemaran lingkungan. Budiawan. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 2 Ed. Inc. M.go. Japardi. SOFT (Society of Forensic Toxicologist. Waluyadi. Riau. Merezes. 7. 2006. J Of Forensic Toxicol by Springer. I. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri dan BNN.8.2008. 2010.2002. 3. K. Salemba Medika Glance.id/portal/_uploads/perundangan/2009/10/27/uu-nomor-35- tahun-2009-tentang-narkotika-ok.2008. The American Board of Forensic Toxicology (ABFT). 17-23. Diunduh dari: http://www. Board of Forensic Toxicology (ABFT).G. The Forensic Toxicology Council.pdf/ 5. B. Dharma S.. Efek Neurologis dari Ectasay dan Shabu-Shabu. 2002. 2013.. SOFT / AAFS. 8. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.. Djambatan. 2.Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis. FK USU Bagian Bedah. M. 2007.. Miyaguchi. Maret 2012. Comparasion of Sample Preparation Methods for Zolpidhem Extraction from Hair. 2011. Finkle. 4 November 2016. Ind. Int J of Medical Toxicology and Forensic Medicine.. R. Progress in Forensic Toxicology: Beyond Analytical Chemistry. Autopsy: Changing Trends. 12. DAFTAR PUSTAKA 1.S. Abstrac.. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. 6. Page | 32 . Mohanty.G. Briefing: What is Forensic Toxicology?. Katzung.bnn. Tersedia dari:http://http://www.A. J.

go. Berent J. Jakarta: Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences.id/front/pdf/UU51997. 2001. Edisi 1. Wirasuta MAG. 20. 2004. Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis. Investigation of death from drug abuse. 22. CMAJ[serial online] Oct 2. In: Dart RC (editor).ca 19.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Ed 2. 4 November 2016.pdf. Smedra A.15.Available from : URL :http://www. 21. Amphetamine-related myocardial infarction in a 42- year old man. h. 65 (3): 173-81. 18. Spitz DJ. Bab 12: Amfetamin. Arch Med Sad Kryminol 2015. 165(7):917-28. Watson WA. 4 th ed. 2008.USA. 329 – 46.136-8. H. 2001.depkes.Spitz and Fisher’s Medicolegal Investigation of Death. Page | 33 . 2005.cmaj. Charles Thomas Publisher LTD. Diunduh dari: http://e-pharm. Stephen BG. Joewana S. Idries AM. The Pharmacology and Toxicology of ”ecstasy” (MDMA)and Related Drug. Leikin JB. Jakarta: EGC. Interpretationn of Analytical Result inForensic Toxycology. 3th edition. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. 1997. 17. Dalam: Pedoman ilmu kedokteran forensik. Szustowski S. Kalant H. In: Spitz WU. 16. Medical Toxicology. Jakarta: Binarupa Aksara. Keracunan. 1(1):47-55. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba.