You are on page 1of 18

PEMBAHASAN

Psoriasis Vulgaris merupakan penyakit autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama kasar,
berlapis-lapis dan transparan; disertai dengan fenomenon tetesan lilin, Auspitz, dan
Kobner.1,2 Pada Pasien ini didapatkan dari anamnesis terdapat bercak – bercak
kemerahan yang meninggi yang disertai sisik tebal dan berlapis – lapis, dan pasien juga
pernah mengalamin penyakit yang sama jadi kemungkinan penyakit pasien ini bersifat
residif, dari hasil pemeriksaan penunjang nya dilakukan fenomena tetesan lilin dengan
menggoreskan penggaris pada lesi primer lalu tampak skuama putih seperti lilin yang
digores, pemeriksaan auspitz dengan cara lesi primer dikerok dengan penggaris ,
hingga skuama berlapis – lapis tersebut habis lalu akan tampak bintik – bintik
perdarahan, dan tidak dilakukan pemeriksan Kobner.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, auspitz dan kobner (isomorfik)
kedua fenomena yang disebutkan lebih dahulu dianggap khas, sedangkan fenomena
kobner tidak khas, hanya kira – kira 47 % yang positif dan didapatkan pula penyakit
lain, misalnya liken planus dan veruka plana juvenils.
Secara epidemiologi dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara
20 – 30 tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara 50 – 60 tahun.8 Insiden pada orang
kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Faktor-faktor lain yang
diduga menimbulkan penyakit ini antara lain genetik, imunologik, dan beberapa faktor
pencetus lainnya seperti stres psikik, infeksi lokal, truma, gangguan metabolik, obat,
juga alkohol dan merokok.2,3,4Pada kasus ini usia Tn.R 20 tahun merupakan faktor
dalam insiden tertinggi dan dari anmnesis didapatkan bahwa Tn. R mengeluhkan
banyak pikiran dan merupakan perokok aktif ini bisa menjadi faktor pencetus terjadinya
psoriasis vulgaris. Dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama
seperti yang dialami oleh pasien, berdasarkan teori faktor genetik dan imunologik turut
berperan dalam etipatogenesis psoriasis. Bila orang tua tidak menderita psoriasis resiko
menederita 12%, sedangkan jika salah satu menderita psoriasis resiko mencapai 34 –
39%. Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel
yaitu limfosit T, sel penyaji antigen (dermal) atau keratinosit.

numular.6 Skuama berlapis-lapis.1.2. bisa pecah dan menimbulkan nyeri.5.2. serta kuku.6 Pada pasien ini hanya terdapat di punggung. sampai plakat.8 Besar kelainan bervariasi dari milier. dengan ukuran yang bervariasi. . dan berkonfluensi. kasar dan berwarna putih seperti mika (mica-like scale). telapak kaki dan tangan. Pasien mengaku pernah berobat 3 bulan yang lalu kemudian pasien tidak mengambil obat lagi dan penyakit nya kambuh lagi . bisa juga timbul gatal- gatal. kedua tungkai atas bawah berarti sesuai dengan tempat predikleksi psoriasis. tertutup dengan sisik keperakan. serta transparan. parakeratosis. kedua lengan atas dan bawah. daerah intertigo (lipat paha. lumbosakral). umbilikus. lutut. Pada kasus ini didapatkan dari pemeriksaan hanya di temukan plak eritematosa multiple dengan ukuran numular disertai dengan skuama yang berlapis – lapis (psoriaformis) jadi pada kasus ini sesuai dan didapatkan juga hipopigmentasi multiple dengan ukuran numular disebabkan krn penyembuhan dari plak eritematosa dari psoriasis vulgaris dalam teori nya seharusnya tahap penyembuhannya eritema yang ditengahnya harusnya menghilang dan hanya dipinggir saja. perbatasan skalp dengan muka. makin melebar. skalp.6. lentikular.2. hal ini terjadi kerena sifat penyakit psoriasis yang residif. pelebaran pembuluh darah dan inflamasi. Tempat predileksi pada ekstremitas bagian ekstensor terutama (siku. akantosis. perineum.3 Pada stadium penyembuhannya sering eritema yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pingir. Psoriasis Vulgaris mengeluh adanya bercak kemerahan yang menonjol pada kulit dengan pinggiran merah. aksila). tungkai atas dan bawah. Plak eritematous yang tebal menandakan adanya hiperkeratosis.

2 ) 4. desquamasi dan indurasi dapat dilakukan dengan menggunaka Skor Psoriasis area severity index (PASI). Psoriasis Area and Severity Index. dihitung persentasi daerah yg terkena . Daerah Predileksi Psoriasis vulgaris Penilaian luasnya area yang terkena dengan derajat keparahan eritema. Gambar 6.3 ) 3. Badan ( 30% = 0. badan. 4 ) 2. Kepala ( 10% = 0. Lengan ( 20% = 0. terdiri atas 4 bagian ( P / Presentase ) : 1. skor 0 – 6 Persentase Cakupan Area yang Terkena = Skor / Nilai ( A )  0%=0 .1 ) AREA : Setiap Area tubuh. extremitas atas dan ekstremitas bawah. Kaki ( 40% = 0. Untuk perhitungan PASI. empat area utama yang di nilai adalah kepala.

badan) x A.kepala x 0. Gatal dalam prosiasi ini ada lah sifat nya kronik.kaki) x A.4 4. jenis plaque atau eritema bisa berubah. Pasien mengaku merasa gatal dan mengaruk sampai mengakibatkan terkelupas.2 = Total lengan =>(0.kepala+I.3) x 4 x (3+3+1) = 8. Kepala : (E.kaki+I.4 = Totalkaki =>(0. kepala terkena sekitar70-89% % Skor pada kepala : Akepala adalah : 0 2.kaki+S.kepala) x A. Badan terkena sekitar 50-69% skor pada badan : Abadan adalah : 4 4.lengan+I.body x 0.2) x 4 x (2+1+1) = 3. kaki terkena sekitar 50-69% skor pada kaki : Akaki adalah : 4 KEPARAHAN Dihitung berdasar 3 parameter :  Eritema ( E )  Scaling ( S )  Indurasi ( I ) Setiap parameter ini dihitung berdasarkan tingkat keparahan Non = 0 Ringan = 1 Sedang = 2 Berat = 3 Amat Berat = 4 Total PASI di hitung dr penjumlahan : 1.kaki x 0.1 = Total kepala = >(0.1) x 0 x (3+3+1) = 0 2. sehingga sulit menginterpretasikannya.lengan x 0.badan+S. Lengan : (E. R adalah 19.lengan+S.3 = Totalbadan = >(0. Badan : (E. Kaki : (E.6 berat” Penilaian beradasarkan PASI bersifat subjektif. Lengan terkena sekitar 50-69% skor pada lengan : Alengan adalah : 4 3.badan+I. mekanisme yang mendasari berbagai .kepala+S.  < 10 % = 1  10 – 29 % = 2  30 % – 49 % = 3  50 % – 69 % = 4  70 % – 89 % = 5  90 % – 100 % = 6 Jadi Tn.4) x 4 x (2+2+1) =8 PENILAIAN PASI PASI< 7 Ringan PASI 7 – 12 Sedang PASI > 12 Berat “Jadi total PASI pada Tn. karena tidak ada standar pengukuran yg pasti.2 3.lengan) x A. R yang terkena : 1.

2. dan memori. Diagnosa banding pada kasus ini yaitu psoariasis vulgaris adalah tinea coporis.jenis pruritus kronis yang kompleks.6 Pada kasus ini tempat predileksi dari tinea coporis sama dengan psoriasis. Mereka membentuk sinaps dengan neuron sekunder yang menyeberang ke traktus spinotalamikus kontralateral dan naik ke beberapa daerah otak yang terlibat dalam sensasi . penghargaan . dapat pla terlihat sebagai lesi dengan pinggir yang polisiklik. kadang – kadang dengan vesikel dan papul di tepi.1. seperti panas dan menggaruk . Sejumlah mediator yang terlibat dalam sensasi gatal Sinyal gatal ditularkan terutama oleh kecil. Kelainan klinis merupakan lesi bulat atau lonjong. lengan.neuron dan dipicu non histamin mungkin terlibat. terpisah satu dengan yang lain.  Ptiriasis rosea Ptiriasis rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya. berbats tegas terdiri atas eritema. auspitz.5. skuama.  Tinea Coporis Tinea coporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik lesi inflamsi maupun non inflamasi pada glabrous skin ( kulit tubuh yang tidak berambut) seperti muka. pada psoriasis didapatkan plak eritema dengan skuama yang tebal. liken simplek kronis. kasar dan berlapis – lapis sedangkan pada tinea coporis hanya terdapat eritema dengan skuama yang halus untuk menyikirkan diagnosis banding dilakukan pada psoriasis fenomena tetesan lilin. ptiriasis rosea. kadang – kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan pada permulaan penederita merasa sangat gatal. parapsoriasis. saraf gatal peka bereaksi berlebihan terhadap rangsangan berbahaya yang biasanya menghambat gatal. kobner sedangkan untuk tinea coporis di lakukan pemeriksan dengan KOH 10%. emosi . dimulai dengan sebuah lesi insial berbentuk eritema dan skuama halus. badan. Pasien dengan gatal kronis sering memiliki perifer serta hypersensitivitas saraf pusat. Pemeriksaan sediaan langsung KOH diperoleh positif. lengan dan paha atas dan dilipatan kulit . proses evaluatif . akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. gatal merupakan selektif serat C yang bermylin berasal di kulit kemudian akan memicu histamin neuron . tungkai dan gluteal. Daerah ini akan di hantar kan sebagai respon dari nyeri. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. leher. Dalam keadaan ini. kemudian disusul oleh lesi – lesi yang lebih kecil dibadan.

punggung.6 Penatalaksanaan dari psoriasis vulgaris secara primer adalah menghindari pasien dari kebiasaan menggaruk dan menggosok secara terus-menerus. Untuk membedakan dengan psoriasis vulgaris biasanya dari lesiny tunggal pada awalnya berupa plak eritematosa.2.5. terdapat likenifikasi dan ekskoriasi. batas dengan kulit normal tidak jelas. sedikit edematosa. muka dan tangan. sehingga menyerupai pohon cemara terbalik. tidak terdapat pada kulit kepala. lambat laun edema dan eritema menghilang. Tempat predileksi pada daerah yang tertutup seperti daerah dada. sirkumskrip. Ini dapat dilakukan . biasanya sembuh dalam waktu 3 – 8 minggu. lengan atas dan paha. sekitarnya hiperpigmentasi.5.1.2. bagan tengah berskuama dan menebal.2. Keluhan dan gejala dapat muncul dalam waktu hitungan minggu sampai bertahun- tahun. gambaran yang khas yang membedkan dengan psoriasis vulgaris adalah lesi yang tersusun sejajar dengan kosta. tempat predileksi nya hampir sama dengan psoriasis vulgaris.1. hanya yang mebedakan nya adalah pada psoriasis skuama yang berlapis – lapis dan tedapat fenomena tetesan lilin dan auspitz dan kobner sedang kan pada ptriasis rosea ruam nya skuama nya halus dan biasanya menyerupai seperti pohon cemara terbalik dan terdapat papul – papul milier. lengan atas dan paha.6  Parapsoriasis Parapsoriasis merupakan penyakit kulit yang blum diketahui penyebabnya. ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak menonjol (likenifisikasi) menyerupai kulit batang kayu.  Liken Simplek Kronis Liken Simplek kronis atau juga dikenal dengan Neurodermatitis sirkumkripta merupakan suatu peradangan kronis.5. Penderita mengeluh kan gatal ringan dan lesi nya umumnya eritema yang berbentuk oval dan anular dengan skuama halus dipinggir. kadang – kadang berkonfluensi dan umumnya simetrik.1. Keluhan utama yang dirasakan pasien dapat berupa gatal dan seringkali bersifat paroxismal. gatal. akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan pruritogenik. tempat predikleksi nya badan.6 pada kasus ini ruam nya sama eritema dengan skuama yang halus dan bisa tebal jika sering terjadi gesekan atau tekanan. Biasanya pasien mengeluhkan eritema dan skuama dapat hemoragik sedangkan pada pasien psoriasis didapatkan skuama yang berlapis – lapis dan tebal.

obat sitostatik. Siklosporin.5 mg. Etretinat. seperti memotong kuku pasien. ditranol. methemoglobinemia dan agranulositosis. tazaroten.5mg dengan interval 12 jam dalam seminggi dengan dosis total 7. dosis tunggal/ terbagi.  DDS (Diaminodifenilsulfon) Dipakai untuk pengobatan psoriasis pustulosa tipe barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. dan pemberian obat topikal seperti preparat tar.  Etretinat dan asitretin Etretinat merupakan retinoid aromatik. hipotensi dan gangguan psikis. jika tidak tampak perbaikan dosis dinaikkan 2.  Obat sitostatik Obat yang digunakan adalah metotreksat. kortikosteroid. emolien.  Levodopa Obat ini di pakai untuk parkinson . DDS. pengobatan dengan penyinaran. Pada psoriasis obat tersebut mengurangin proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal. sedang dan kerja lama.dengan berbagai cara. kemudian bisa diberika dosis pemeliharan. Dosis pada bulan pertama . Efek samping nya anemia hemolitik. Pada psorisis bisa diberika prednison dengan dosis ekuivalen 30 mg per hari. glukokortikoid topical atau intralesional. anoreksia. memberikan antipruritus. dengan dosis 2 x 250 mg – 3 x 500 mg. efek samping nya berupa mual. levodopa. muntah.5 mg – 5 mg per minggu. Dosis mulai dari 3 x 2. pada kortikosteroid ada yang kerja singkat. 1. calcipotriol. setelah membaik dosis diturunkan perlahan – lahan. Pengobatan sistemik  Kortikosteroid Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis. diantara nya penderita parkinson sekaligus psoriasis. mekanisme kerja obat ini yang spesifik dalam menghambat terjadi inflamasi dan tidak menimbulkan efek samping seperti obat-obat golongna NSAID. digunakan bagi psoriasis yang sukar di sembuhkan dengan obat – obat lain menginggat efek sampingnya. bisa juga diberikan metilprednisolon dengan dosis mulai dari 4 mg – 48 mg perhari.

01% atau 0. hidrokortison valerat 0. diberikan 1mg/kgBB. hanya setelah obat dihentikan dapat terjadi ke kambuhan.2 .1%. Diflorasone Diasetat. jika belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikan menjadi 1 ½ mg/kbb. Fluocinolone 0.3. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi sel leukosit polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler.2 . biasanya sangat efektif (3mg/ml). Asitretin merupakan metabolik aktif etetinat yang utama. Yang menjadi pilihan adalah kortikosteroid dengan potensi tinggi seperti Clobetassol Propionat. dengan menekan mitosis dan menambah sintesi protein yang mengurangi inflamasi dan menyebabkan vasokontriksi. Pemberian kortikosteroid berupa Triamcinolone secara intralesi.  Siklosporin Efeknya ialah imunosupresif.025%.5% atau ointment Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. bersifat nefrototoksik dan hepatotoksik. Betametahasone dipropionate cream 0.025%. Pengobatan topikal  Kortikosteroid1. dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari.05% Merupakan anti inflamasi kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler.11 Kortikosteroid Topikal. fluocionida.5. atau bethamethason dipropionat 0.01% atau 0. 2. triamcinolone. dosis nya 6 mg/kgbb sehari.6. Clobetasol Topical steroid super poten kelas I. . Namun harus sangat diperhatikan karena pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan atropi. Triamcinolone 0.025% . Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian dibalut dengan perban oklusif kering. 0. Fluocinolone 0. Kelebihannya hanya waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari.2.10. 0.2 . hasil pengobtan untuk psoriasis baik. sampai saat ini masih merupakan pilihan pengobatan.2%.05%.

dimana ter batubara lebih efektif dari pada ter kayu. Lesi yang melibatkan area yang luas sehingga pemakaian steroid topikal kurang bijaksana.  Antihistamin1. Pada kasus ini asam salisiat diberikan hanya 3%. Efeknya akan meningkat bila dikombinasi dengan asam salisilat 2-5%. konsentrasi tinggi 3 -20% bersifat keratolitik dan dipake untuk keadaan dermatosis yang hiperkeratotik. sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi juga jauh lebih besar.3.2  Preparat Ter1. mempunyai sifat imunosupresif dan anti inflamasi. yang efeknya adalah anti radang. Topical kosrtikosteroid potensi tinggi yang mengahmbat proliferasi sel . sebaliknya psoriasis akut dipilih ter dari kayu. Pada psoriasis yang menahun lebih baik digunakan ter yang beasal dari batubara. 3.4. efek desmolitik asam salisilat ini terbukti meningkatkan penetrasi kortikosteroid topikal.2. Beberapa obat antihistamin lainnya yaitu:2 . Preparat tar seperti liquor carbonis detergent 2-5% dalam salep dipakai untuk pengobatan psoriasis yang kronis. Ter dari kayu dan batubara yang efektif untuk psoriasis.3.6. dan kaki.8 Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter. Asam salisilat merupakan zat keratolitik yang tertua yang dikenal dalam pengobatan topikal.namun peran dan keuntungannya dalam mengatasi pruritus lokal sangat rendah. Bila psoriasis telah resisten terhadap steroid topikal sejak awal atau takhifilaksis oleh karena pemakaian pada lesi luas.8 Pemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk mengurangi keluhan pruritus dengan memblokir efek pelepasan anti histamine secara endogen.2. efeknya ialah mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratinisasi yang terganggu. 2. akan efektif jika diaplikasikan pada daerah-daerah yang optimal misalnya lengan. Bila obat-obat oral merupakan kontra indikasi oleh karena terdapat penyakit sistemik. Konsentrasi rendah (1-2%) mempunyai efek keratoplastik yaitu menunjang pembentukan keratin yang baru. Diduga mempunyai efek yang menghambat proliferasi keratinosit.Preparat ter berguna pada keadaan-keadaan: 1.

diantaranya . untuk anxietas yang disertai pruritus. dan eritroderma psoriatik. .6 Tazaroten tersedia dalam bentuk gel dan krim dengan konsentrasi 0. Loratadine merupakan suatu antihistamin trisiklik yang bekerja cukup lama (Long acting). bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori .8 % dalam pasta.2 – 0. Dapat menekan aktiviras histamine diregio subkortikal sistem saraf pusat . Bila dikombinasikan dengan steroid topical potensi sedang dan kuat akan mempercepat penyembuhan dan mengurangin iritasi. misalnya etretinat atau acitretin. digunakan sinar ulraviolet artifisial. termasuk system limbic dan pembentukan reticular. mempunyai selektivitas tinggi pada reseptor histamin . Hidroxyzine.½ jam sehari sekali untuk mencegah iritasi. Klonazepam. terbukti lebih nyaman dan menguntungkan karena tidak menimbulkan efek mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas pasien. Karena itu. Mempunyai efek menghentikan diferensiasi dan proliferasi keratinosit dan bersifat anti inflamasi. Lama pemakaian hanya ¼ . chlorpheniramine. salep atau krim. tetapi sayang tidak dapt diukur dan jika berlebihan maka akan memperparah psoriasis.1%. Berikatan dengan reseptor- reseptor di SSP.untuk mengurangi gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan histamine . . Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.  Tazaroten Merupakan derivat vitamin A. dipenhidramin.  Pengobatan dengan sinar Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis. dengan menghambat fungsi netrofil. .05 % dan 0. penyembuhan dalam 3 minggu. sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. reseptor H1 antagonis di perifer.  Ditranol (antralin) Konsentrasi yang digunakan biasanya 0. Cara yang terbaik adalah dengan penyinaran secara alamiah. .2.H1 perifer dan tidak menimbulkan efek sedasi atau antikolinergik. Cetirizin HCl adalah antihistamin antagonis H1 generasi kedua. Dipakai untuk pengobatan psoriasis pustulosa generalisata ataupun lokalisata.

terbukti lebih nyaman dan menguntungkan karena tidak menimbulkan efek mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas pasien. juga tidak menimbulkan jantung berdebar dan penggunaannya cukup satu kali sehari. .2.2. metoksalen) dan disebut PUVA. mencegah garukan dan gosokan . Dilakukan 2x seminggu.11 Karena psoralen bersifat fotoaktif.2 Pada kasus ini tatalaksana meliputi tatalaksana umum dan khusus. maka degan UVA akan terjadi efek sinergik. Alasan Pada pasien ini diberikan antihistamin antagonis H1 generasi kedua. Diberikan 0. Sistemik: 1.5.6 mg/kgbb secara oral 2 jam sebelum penyinaran ultraviolet.6 . cukup istirahat . mengingat obat ini hanya diberikan jika diperlukan saja. Selain itu. Cetirizin HCl 1 x 10 mg jika gatal. menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya .9. Penatalaksanaan umum yaitu dengan memberikan edukasi kepada pasien. kesembuhan terjadi 2-4 kali pengobatan. .1.10. seperti:1.2 Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8-metoksipsoralen. berupa: . menghindari faktor pencetus. Selanjutnya dilakukan pengobatan rumatan (maintenance) tiap 2 bulan. Penatalaksanaan khusus pada kasus ini yaitu dengan memberikan farmakologi. hindari stres dan kelelahan. sinar A yang dikenal sebagai UVA. obat ini aman diberikan dalam jangka panjang.6. atau bersama-sama dengan preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.

05% karena obat ini merupakan anti inflamasi kulit yang berespon baik terhadap steroid. Efek anti inflamasi. psoriasis eritroderma. leukosit memegang peranan dan steroid topikal dapat menurunkan inflamasi. gangguan penyembuhan luka. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi sel leukosit polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler. kelemahan otot. R ini umumnya tidak menyebabkan kematian. R ini adalah baik. 2. 1. katarak.2 . resistensi terhadap infeksi menurun. 2. Alasan pemilihan Betametason dipropionat 0. Pada Tn. Metilprednisolon 3 x 4 mg selama 7 hari.Salep Betametason dipropionat 0. 3. cushing syndrome. Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya. misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh. insufisiensi adrenal. gaangguan pertumbuhan pada anak-anak. tetapi bersifat kronis dan residif. Komplikasinya menimbulkan arthitis psoriasis. Topikal: . Menurunkan turnover sel dengan memperlambat proliferasi seluler. dimana diketahui pada psoriasis. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain.05% yang dioleskan tipis-tipis pada lesi yang diberikan 2 kali sehari terutama pada pagi dan malam hari. Efektifitas cetirizin HCl lebih baik jika dibandingkan dengan antihistamin generasi kedua lain yaitu loratadin dalam hal menurunkan kemerahan pada kulit. Vasokonstriksi untuk mengurangi eritema. secara umum prognosis dari kasus Tn. tukak lambung. meningkatnya tekanan darah. Kerja steroid topikal pada psoriasis diketahui melalui beberapa cara. yaitu: 1. osteoporosis. efek samping nya biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar. Dosis metilprednisolon 4 – 48 mg perhari dengan pemberian 3x4mg/hari diharapkan dapat mengurangi efek inflamasi yang dapat menimbulkan rasa gatal pada pasien ini. psoriasis pustulosa.

dan harus dilakukan fenomena tetesan lilin.Diskusi 1. obat. Mengapa diagnosa bandingnya dengan Liken Simplek Kronik ? bagaimana cara menyingkirkan diangnosa bandingnya? Jawab : Liken Simplek kronis atau juga dikenal dengan Neurodermatitis sirkumkripta merupakan suatu peradangan kronis. imunologik dan faktor pencetus lain nya seperti stess psikik. trauma. juga alkohol atau merokok. Salah satu faktor pencetus dari Tn. sirkumskrip. Apakah perlu diberikan anti histamin pada pasien ini ? Jawab : Dalam patogenesis nya pruritus yang disebabkan oleh mekanisme yang mendasari berbagai jenis pruritus kronis yang kompleks. R ini adalah stres dan merokok. akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan pruritogenik. infeksi lokal. dan memori. daerah ini akan di hantar kan sebagai respon dari nyeri. gatal. emosi . 3. Mereka membentuk sinaps dengan neuron sekunder yang menyeberang ke traktus spinotalamikus kontralateral dan naik ke beberapa daerah otak yang terlibat dalam sensasi .neuron dan non histamin mungkin terlibat. auspitz. Dalam keadaan ini. Tujuan di tanyakan pasien banyak pikiran untuk apa? Jawab : Kerena sesuai dengan etiopatogenesis dari psoriasis vulgaris dimana salah satu nya adalah faktor genetik. saraf gatal . penghargaan . 2. proses evaluatif . Untu menyingkirkan diagnosa bandingnya dalam psoriasis skuama nya berlapis – lapis dan transparan. gangguan metabolik. ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak menonjol (likenifisikasi) menyerupai kulit batang kayu. gatal sehingga memiliki perifer serta hypersensitivitas saraf pusat. Sejumlah mediator yang terlibat dalam sensasi gatal Sinyal gatal dihantarkan ke selektif serat C yang bermylin berasal di kulit kemudian akan memicu histamin neuron .

Jadi dalam kasus ini diberikan antihistamin H1 bermanfaat mengobatin reaksi hipersensitifitas. jadi pada pasien ini diberikan antihistamin cetirizin HCL 10 mg kerena lebih nyaman dan tidak menyebabkan mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas pasien. . seperti panas dan menggaruk .peka bereaksi berlebihan terhadap rangsangan berbahaya yang biasanya menghambat gatal. sehingga antagonis H1 dapat merangsang maupun menghambat SSP. Anti histamin antagonis H1 generasi pertam menimbulkan efek samping sedasi dan mempunyai senyawa koligenik dan adregenik yang tidak diinginkan.

TUGAS 1.4 Al ( El + Il + Dl) .2 Au (Eu + Iu + Du) + 0. terlebih dahulu harus diketahui pembagian area tubuh untuk kepentingan ini.1 Ah (Eh + Ih + Dh) +0. Keparahan mulai dari 0-4 (tidak ada- berat) Formula: Formula PASI ialah sebagai berikut: PASI score = 0. dan Deskuamasi (scale). Skor PASI Definisi Suatu indeks untuk mengukur derajat keparahan psoriasis yang berelemenkan tingkat keparahan lesi dan area yang dipengaruhi dengan rentang skor 0 (tanpa penyakit) hingga 72 (penyakit derajat terberat/maksimal).3At (Et + It + Dt) + 0. Indurasi (ketebalan). dilihat tanda klinis berupa Eritem (kemerahan). Kalkulasi Untuk menghitung Skor PASI. Area tubuh dibagi menjadi: Kepala (H) --> 10% Lengan (A) --> 20% Trunkus (T) --> 30% Tungkai (L) --> 40% Kemudian perlu diketahui pula persentase yang mempresentasikan derajat: 0% --> derajat 0 < 10% --> derajat 1 10-29% --> derajat 2 30-49% --> derajat 3 50-69% --> derajat 4 70-89% --> derajat 5 90-100%--> derajat 6 Untuk setiap area.

fagositosis non imun Manifestasi Demam. Pembentukan pembuluh darah vaskular peningkatan baru (jaringan granulasi) permeabilitas Eksudasi + - cairan dan edema Tanda + - Inflamasi Nekrosis . perbaikan immunoglobulin. fagositosis. properdin. makrofag. berat sistemik badan turun. anemia Perubahan Leukositosis neutrofil. makrofag Limfosit. operatf komplemen. seringkali tinggi Demam berderajat rendah. + (kolagen) Respon hospes Faktor plasma: Respon imun. Perbedaan akut dan kronik Akut Kronis Durasi Singkat (harian) Lama (mingguan atau bulanan) Awitan Akut Tersembunyi Spesifitas Spesifik Non spesifik Sel radang Neutrofil. sel plasma.(biasa) + (terus menerus) jaringan + (radang supuratif dan nekrotikan) Fibrosis .2. neutrofil. fibroblas Perubahan Vasodilatasi aktif. dsb. perubahan . Sering tidak terjadi.

pada psoriasis tidak terlihat gambaran hifa. Cara mengerjakannya demukian : skuama yang berlapis-lapis dikerok. seperti lilin yang digores.5 2. virus) peningkatan immunoglobulin plasma 1. Pemeriksan kobner Fenomena Kobner trauma pada kulit penderita psoriasis misalnya oleh garukansehingga menimbulkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis. yaitu dengan cara mengambil potongan jaringan yang akan diperiksa. Setelah skuamanya habis. Cara menggores dapat dengan pinggir gelas alas. Timbulkira-kira setelah 3 minggu. jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik. Pemeriksaan Histopatologi1. melainkan perdarahan yang merata. Misalnya KOH 10% untuk menyikirkan diagnosis dermatofitosis. Pemeriksan Auspitz Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkanoleh papilomatous. Caranya diambil kerokan di bagian yang terkena kemudian diteteskan KOH 10% dan dilihat diatas miskoskop pembesaran mulai dari 10x kemudian 40x dan dilihat akan terlihat hifa dan spora terlihat gambaran hifa sebagai dua garis sejajar terbagi oleh sekat dan bercabang maupun spora berderet (artrospora) pada Tinea (Dermatofitosis) dan terlihat campuran hifa pendek dan spora spora bulat yang dapat berkelompok ( gambaran Meat ball and spagheti) pada Pitiriasis Versikolor (panu). Pemeriksan tetes lilin Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan. maka pengerokan harus dilakukan perlahan-lahan. misalnya dengan pinggir gelas alas.4 Pemeriksaan histopatologi. 2.3. darah perifer limfositosis (infeksi sel darah putih bervariasi.2. Jaringan yang sudah dipotong difiksasi dengan larutan fiksasi seperti formalin 10% supaya sel menjadi keras dan sel-selnya mati. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium disini tujuannya untu menyingkirkan diagnosa banding. 4. 3.1. disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Pewarnaan .4.2.

6 .1. lapisan sel granuler menghilang. yaitu perpanjangan (akantosis) reteridges dengan bentuk clubike. mikro abses munro (kumpulan netrofil leukosit polimorfonuklear yang menyerupai pustul spongiform kecil) dalam stratum korneum.2. dilatasi kapiler papila dermis dan pembuluh darah berkelok-kelok.dilakukan dengan Hematosilin Eosin (HE) atau dengan orselin dan giemsa Psoriasis memberikan gambaran histopatologi. penebalan suprapapiler epidermis (menyebabkan tanda Auspitz). perpanjangan papila dermis. infiltrat inflamasi limfohistiositik ringan sampai sedang dalam papila dermis atas. parakeratosis.5.