You are on page 1of 33

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi Skrining
Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada satu atau
sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang
diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit (Rajab, 2009). Tes skrining
merupakan salah satu cara yang dipergunakan pada epidemiologi untuk
mengetahui prevalensi suatu penyakit yang tidak dapat didiagnosis atau keadaan
ketika angka kesakitan tinggi pada sekelompok individu atau masyarakat berisiko
tinggi serta pada keadaan yang kritis dan serius yang memerlukan penanganan
segera. Namun demikian, masih harus dilengkapi dengan pemeriksaan lain untuk
menentukan diagnosis definitif (Chandra, 2009).
Berbeda dengan diagnosis, yang merupakan suatu tindakan untuk
menganalisis suatu permasalahan, mengidentifikasi penyebabnya secara tepat
untuk tujuan pengambilan keputusan dan hasil keputusan tersebut dilaporkan
dalam bentuk deskriptif (Yang dan Embretson, 2007). Skrining bukanlah
diagnosis sehingga hasil yang diperoleh betul-betul hanya didasarkan pada hasil
pemeriksaan tes skrining tertentu, sedangkan kepastian diagnosis klinis dilakukan
kemudian secara terpisah, jika hasil dari skrining tersebut menunjukkan hasil
yang positif (Noor, 2008).
Uji skrining digunakan untuk mengidentifikasi suatu penanda awal
perkembangan penyakit sehingga intervensi dapat diterapkan untuk menghambat
proses penyakit. Selanjutnya, akan digunakan istilah “penyakit” untuk menyebut
setiap peristiwa dalam proses penyakit, termasuk perkembangannya atau setiap
komplikasinya. Pada umumnya, skrining dilakukan hanya ketika syarat-syarat
terpenuhi, yakni penyakit tersebut merupakan penyebab utama kematian dan
kesakitan, terdapat sebuah uji yang sudah terbukti dan dapat diterima untuk
mendeteksi individu-individu pada suatu tahap awal penyakit yang dapat
1

dimodifikasi, dan terdapat pengobatan yang aman dan efektif untuk mencegah
penyakit atau akibat-akibat penyakit (Morton, 2008).
Jadi, screening adalah suatu strtegi yang digunkan dalam suatu populasi untuk
mendeteksi penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu, atau
suatu usaha secara aktif untuk mendeteksi atau mencari pendeerita penyakit tertentu
yang tampak gejala atau tidak tampak dalam suatu masyarakat atau kelompok
tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana dapat
memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita,
yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.

B. Dasar Pemikiran Adanya Skrining
1. Yang diketahui dari gambaran spectrum penyakit hanya sebagian kecil saja
sehingga dapat diumpamakan sebagai puncak gunung es sedangkan sebagian
besar masih tersamar.
2. Diagnosis dini dan pengobatan secara tuntas memudahkan kesembuhan.
3. Biasanya penderita datang mencari mencari pengobatan setelah timbul gejala atau
penyakit telah berada dlm stadium lanjut hingga pengobatan menjadi sulit atau
bahkan tidak dapat disembuhkan lagi.
4. Penderita tanpa gejala mempunyai potensi untuk menularkan penyakit.

C. Tujuan dan Manfaat Skrining
Skrining mempunyai tujuan diantaranya (Rajab, 2009):
1. Menemukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit sedini mungkin
sehingga dapat dengan segera memperoleh pengobatan.
2. Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat.
3. Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini
mungkin.
4. Mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang sifat
penyakit dan untuk selalu waspada melakukan pengamatan terhadap gejala
dini.

2

5. Mendapatkan keterangan epodemiologis yang berguna bagi klinis dan
peneliti.
Beberapa manfaat tes skrining di masyarakat antara lain, biaya yang
dikeluarkan relatif murah serta dapat dilaksanakan dengan efektif, selain itu
melalui tes skrining dapat lebih cepat memperoleh keterangan tentang sifat dan
situasi penyakit dalam masyarakat untuk usaha penanggulangan penyakit yang
akan timbul. Skrining juga dapat mendeteksi kondisi medis pada tahap awal
sebelum gejala ditemukan sedangkan pengobatan lebih efektif ketika penyakit
tersebut sudah terdeteksi keberadaannya (Chandra, 2009).

D. Sasaran Skrining

Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus yang memerlukan pengawasan akibat
pertumbuhan dan perkembangannya ( Nasrul Effendi. 1998) :

1 Kelompok ibu hamil
2 Kelompok ibu bersalin
3 Kelompok Ibu nifas
4 Kelompok bayi dan anak balita
5 Kelompok anak usia sekolah
6 Kelompok lansia

E. Jenis Skrining
1. Penyaringan Massal (Mass Screening)
Penyaringan yang melibatkan populasi secara keseluruhan.
Contoh: screening prakanker leher rahim dengan metode IVA pada 22.000 wanita
2. Penyaringan Multiple
Penyaringan yang dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik uji
penyaringan pada saat yang sama.
Contoh: skrining pada penyakit aids
3. Penyaringan yg. Ditargetkan

3

e. Penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti dalam masyarakat dan dapat mengancam derajat kesehatan masyarakat tersebut. d. 2008): a. Tersediannya fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti bagi mereka yang dinyatakan positif serta tersediannya biaya pengobatan bagi mereka yang dinyatakan positif melalui diagnosis klinis. F. Tes penyaringan hanya dilakukan bila memenuhi syarat untuk tingkat sensitivitas dan spesifitasnya karena kedua hal tersebut merupakan standard untuk mengetahui apakah di suatu daerah yang dilakukan skrining berkurang atau malah bertambah frekuensi endemiknya. Semua bentuk atau teknis dan cara pemeriksaan dalam tes penyaringan harus dapat diterima oleh masyarakat secara umum. 4. Syarat Skrining Untuk dapat menyusun suatu program penyaringan. Penyaringan Oportunistik Penyaringan yang dilakukan hanya terbatas pada penderita – penderita yang berkonsultasi kepada praktisi kesehatan Contoh: screening pada klien yang berkonsultasi kepada seorang dokter. c. Tes penyaringan terutama ditujukan pada penyakit yang masa latennya cukup lama dan dapat diketahui melalui pemeriksaan atau tes khusus. Penyaringan yg dilakukan pada kelompok – kelompok yang terkena paparan yang spesifik. antara lain (Noor. diharuskan memenuhi beberapa kriteria atau ketentuan-ketentuan khusus yang merupakan persyaratan suatu tes penyaringan. b. Contoh : Screening pada pekerja pabrik yang terpapar dengan bahan Timbal. f. 4 . Tersediannya obat yang potensial dan memungkinkan pengobatan bagi mereka yang dinyatakan menderita penyakit yang mengalami tes. Keadaan penyediaan obat dan jangkauan biaya pengobatan dapat mempengaruhi tingkat atau kekuatan tes yang dipilih.

Biaya yang digunakan dalam melaksanakan tes penyaringan sampai pada titik akhir pemeriksaan harus seimbang dengan resiko biaya bila tanpa melakukan tes tersebut. j. Melihat hal tersebut penyakit HIV/AIDS dan Ca paru serta penyakit yang tidak diketahui pasti perjalanan penyakitnya tidak dibenarkan untuk dilakukan skrining namun jika dilihat dari sisi lamanya perkembangan penyakit. Proses Pelaksanaan Skrining Bagan proses pelaksanaan skrining (Noor. HIV/AIDS merupakan penyakit yang memenuhi persyaratan skrining (Noor. 2008). Sifat perjalanan penyakit yang akan dilakukan tes harus diketahui dengan pasti. i. Pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan (tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif. Harus dimungkinkan untuk diadakan pemantauan (follow up) terhadap penyakit tersebut serta penemuan penderita secara berkesinambungan. G. sedangkan pada individu dengan hasil tes positif 5 .g. 2008). Individu dengan hasil negatif pada suatu saat dapat dilakukan tes ulang. Adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut. h.

Pemeriksaan diatas harus dapat dilakukan : 1. Ini berarti bahwa proses skrining adalah pemeriksaan pada tahap pertama (Budiarto dan Anggraeni. 2003).dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila hasilnya positif dilakukan pengobatan secara intensif. maka tes ini dapat pula dilakukan secara selektif (misalnya khusus pada wanita dewasa) maupun secara random yang sarannya ditujukan terutama kepada mereka dengan risiko tinggi. Dengan cepat tanpa memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut (pemeriksaan diagnostik). Tidak mahal. Tes ini dapat dilakukan khusus untuk satu jenis penyakit tertentu. 2008). Bagi hasil pemeriksaan yang negatif dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik. Pemeriksaan gula darah. misalnya : a. sedangkan individu dengan hasil tes negatif dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai penderita semua penderita terjaring. Namun demikian bila suatu penyakit diperkirakan mempunyai sifat risiko tinggi pada kelompok populasi tertentu. 3. tetapi bila hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit dan tidak memerlukan pengobatan. tetapi dapat pula dilakukan secara serentak untuk lebih dari satu penyakit (Noor. 2. Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada suatu kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan 6 . Uji skrining terdiri dari dua tahap. tahap pertama melakukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negatif maka dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit. Pemeriksaan radiologis untuk uji skrining penyakit TBC. Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk uji tapis dapat berupa pemeriksaan laboratorium atau radiologis. b. Bila hasil tes positif maka dilakukan pemeriksaan tahap kedua yaitu pemeriksaan diagnostik yang bila hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapatkan pengobatan.

Kedua nilai tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Validitas merupakan petunjuk tentang kemampuan suatu alat ukur (test) dapat mengukur secara benar dan tepat apa yang akan diukur. maka spesifisitas akan menurun. 7 . Besarnya nilai kedua parameter tersebut tentunya ditentukan dengan alat diagnostik di luar tes penyaringan. Contoh pemanfaatan skrining :  Mammografi untuk mendeteksi ca mammae  Pap smear untuk mendeteksi ca cervix  Pemeriksaan Tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi  Pemeriksaan reduksi untuk mendeteksi deabetes mellitus  Pemeriksaan urine untuk mendeteksi kehamilan  Pemeriksaan EKG untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner (Bustan. begitu pula sebaliknya. Kriteria Evaluasi Suatu alat (test) skrining yang baik adalah mempunyai tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi. ataukah mengarah pada mereka yang betul-betul sehat. 4. H. 2000). apakah mengutamakan semua penderita terjaring termasuk yang tidak menderita. Sensitivitas: kemampuan untuk menentukkan orang sakit. yaitu mendekati 100%. 2003). yakni bila sensitivitas meningkat. Validitas mempunyai 2 komponen. 2. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa (Budiarto dan Anggraeni. Untuk menentukan batas standar yang digunakan pada tes penyaringan. 1. harus ditentukan tujuan penyaringan. yaitu: 1. Spesifisitas: kemampuan untuk menentukan orang yang tidak sakit. Selain kedua nilai tersebut. dalam memilih tes untuk skrining dibutuhkan juga nilai prediktif (Predictive Values). Validitas Validitas adalah kemampuan dari tes penyaringan untuk memisahkan mereka yang benar-benar sakit terhadap yang sehat.

b. Nilai prediktif positif sangat dipengaruhi oleh besarnya prevalensi penyakit dalam masyarakat dengan ketentuan. Nilai prediktif dapat positif artinya mereka dengan tes positif juga menderita penyakit. c. True positive. d. False positive. dapat pula diketahui beberapa nilai lainnya seperti: a. makin tinggi prevalensi penyakit dalam masyarakat. sedangkan nilai prediktif negatif artinya mereka yang dinyatakan negatif juga ternyata tidak menderita penyakit. False negative. Disamping nilai sensitivitas dan nilai spesifisitas. yang menunjuk pada banyaknya kasus yang benar-benar menderita penyakit dengan hasil tes positif pula. True negative. makin tinggi pula nilai prediktif positif dan sebaiknya. yang menunjuk pada banyaknnya kasus yang sebenarnya menderita penyakit tetapi hasil test negatif. Contoh “Dari suatu penyaringan yanng dilakukan untuk penyakit A dengan mempergunakan jenis pemeriksaan B ditemukan hasil sebagai berikut:” PENYAKIT JUMLAH POSITIF NEGATIF (F/T) (F/T) HASIL POSITIF A B A+B PEMERIKSAAN NEGATIF C D C+D JUMLAH A+C B+D A+B+C+D Dari tabel diatas dapat dihitung nilai-nilai yang dimaksud yakni : 8 . Nilai prediktif adalah besarnya kemungkinan dengan menggunakan nilai sensitivitas dan spesivitas serta prevalensi dengan proporsi penduduk yang menderita. yang menunjukkan pada banyaknya kasus yang sebenarnya tidak sakit tetapi test menunjukkan hasil yang positif. menunjukkan pada banyaknya kasus yang tidak sakit dengan hasil test yang negatif pula.

695 JUMLAH 177 64. Negative predictive value : x 100 % Contoh soal 1: 64. False positive : B → % False positive : x 100 % e.Sementara pada 63. True negative : D f.633 64. Jumlah positif palsu b. False negative : C → % False negative : x 100 % g.650 63.810 wanita usia 40-46 tahun mengikuti program skrining untuk mendeteksi kanker payudara melalui mamografi dengan pemeriksaan fisik. Jumlah negatif palsu d. Setelah 5 tahun.810 9 . True positive : A d. dari 1115 hasil tes skrining yang positif dikonfirmasi 132 terdiagnosis pasti kanker payudara. Spesifisitas : x 100 % c. Hitunglah a. Positive predictive value : x 100 % h. a. Nilai prediktif (-) Kanker payudara JUMLAH POSITIF NEGATIF TES POSITIF 132 983 1115 MAMOGRAFI NEGATIF 45 63. Sensitivitas : x 100 % b. Nilai spesifisitas tes e. Nilai prediktif (+) f.695 peserta yang hasil tes skriningnya negatif. Nilai sensitivitas tes c. ternyata hanya 45 orang yang menderita kanker payudara.

a.838 % f. Sensitivitas = x 100 % = x 100 % = 66. Jumlah negatif palsu = 45 d. Sensitivitas = x 100 % = x 100 % = x 100 % = 74. True negative = 67 f.52 % e. False negative = 3 → %FN = x 100% = 33. Spesifisitas = x 100 % = x 100 % = 73.929 % Contoh soal 2: Hubungan penyakit kanker serviks dengan tes IVA positif Kanker serviks JUMLAH POSITIF NEGATIF TES IVA POSITIF 6 24 30 NEGATIF 3 67 70 JUMLAH 9 91 100 Hitunglah nilai-nilainya. True positive = 6 d.33% 10 .576 % c. Nilai prediktif (+) = x 100 % = x 100 % = 11. False positive = 24 → %FP = x 100% = 26.67 % b.62 % c.37% e. a. Nilai prediktif (-) = x 100 % = x 100 % = 99. Jumlah positif palsu = 983 b. Spesifisitas = x 100 % = x 100 % = x 100 % = 1.

Positive predictive value = x 100% = x 100% = 20% h. Umumnya. marah. Latihan intensif pemeriksa. Stabilitas reagen b. gembira. b.7% 2. dikatakan reliabel. 3. makin konsisten hasil pemeriksaan. g. 2003): 1. Variasi eksterna ialah variasi yang terjadi bila satu sediaan dilakukan pemeriksaan oleh beberapa orang. Misalnya: lelah. Variabilitas alat yang dapat ditimbulkan oleh: a. 11 . 2. Standarisasi reagen dan alat ukur. Stabilitas alat ukur yang digunakan Stabilitas reagen dan alat ukur sangat penting karena makin stabil reagen dan alalt ukur. penyakit dalam masa tunas. Upaya untuk mengurangi berbagai variasi diatas dapat dilakukan dengan mengadakan: 1. variasi ini sulit diukurterutama faktor psikis. Variabilitas pemeriksa. Variliabilitas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut (Budiarto. Kondisi fisik. 2. Reliabilitas Bila tes yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan hasil yang konsisten. sebelum digunakan hendaknya kedua hasil tersebut ditera atau diuji ulang ketepatannya. penyakit yang berat. Negative predictive value = x 100% = x 100% = 95. Variabilitas orang yang diperiksa. kurang tidur. psikis. stadium penyakit atau penyakit dalam masa tunas.Oleh karena itu. sedih. Variasi pemeriksa dapat berupa: a. Variasi interna. merupakan variasi yang terjadi pada hasil pemeriksaan yang dilakukan berulang-ulang oleh orang yang sama.

terutama penyakit-penyakit kronis seperti TBC. hipertensi. 4. 2003). Bagi penyakit-penyakit yang jarang dilakukan uji tapis akan mendapatkan yield yang tinggi karena banyaknya penyakit tanpa gejala yang terdapat di masyarakat. Penerangan kepada orang yang diperiksa. 3. akan menghasilkan yield yang tinggi. dan diabetes melitus. Sebaliknya. Hasil ini dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut (Budiarto. Sensitivitas alat uji tapis. Makin tinggi prevalensi penyakit tanpa gejala yang terdapat di masyarakat akan meningkatkan yield. Bila alat yang digunakan untuk uji tapis mempunyai sensitivitas yang rendah. Penentuan kriteria yang jelas. 4. akan dihasilkan sedikit negatif semu yang berarti sedikit pula penderita yang tidak terdiagnosis. karsinoma. 12 . Pemeriksaan dilakukan dengan cepat. bila suatu penyakit telah dilakukan uji tapis sebelumnya maka yield akan rendah karena banyak penyakit tanpa gejala yang telah terdiagnosis. 2003): 1. bila alat yang digunakan mempunyai sensitivitas yang tinggi. 5. 3. Kesadaran yang tinggi terhadap masalah kesehatan di masyarakat akan meningkatkan partisipasi dalam uji tapis hingga kemungkinan banyak penyakit tanpa gejala yang dapat terdeteksi dan dengan demikian yield akan meningkat (Budiarto. Prevalensi penyakit yang tidak tampak. 2. Kesadaran masyarakat. 3. Jadi. Hal ini dikatakan bahwa uji tapis dengan yield yang rendah. Uji tapis yang dilakukan sebelumnya. Yield Yield merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari uji tapis. sensitivitas alat dan yield mempunyai korelasi yang positif. Sebaliknya.

Permasalahan yang Terjadi Pada Lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia. Permasalahan umum 1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan. 5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia. terlantar dan cacat. 3) Rendahnya produktifitas kerja lansia.1999) a. Permasalahan khusus 1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. b. 2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.I. 3) Lahirnya kelompok masyarakat industri. 2. Perubahan yang Terjadi Pada Lansia 13 . 4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia. dihargai dan dihormati. antara lain: (Setiabudhi. mental maupun sosial. 5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. 4) Banyaknya lansia yang miskin. Skrining Kesehatan pada kelompok lansia 1. 2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan . 6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia.

2011). Kolagen sebagai pendukung utama kulit. Perubahan Fisik 1) Sistem Indra Sistem pendengaran yaitu Prebiakusis (gangguan pada pen dengaran) oleh karena hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam. 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun. tulang. tetapi juga kognitif. tidak hanya perubahan fisik. a. perasaan. sosial dan sexual (Azizah. 2) Sistem Intergumen Pada lansia kulit mengalami atropi. tendon. a) Kartilago 14 . timbul pigmen berwarna coklat pada k ulit dikenal dengan liver spot. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan berbercak. terjadi proses penuaan secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia. kendur. tidak elastis kering dan berkerut. terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi. sulit dimengerti kata-kata. 3) Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia antara lain sebagai berikut: Jaringan penghubung (kolagen dan elastin). suara yang tidak jelas.Semakin bertambahnya umur manusia. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea dan glandula sudoritera. kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur.

jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon. vertikel kiri mengalami hipertropi dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin dan klasifikasi Sa nude dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat. kemudian kemampuan kartilago untuk regeneras i berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung kearah progresif. peningkatan jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negatif. 4) Sistem kardiovaskuler Massa jantung bertambah. penurunan jumlah dan ukuran serabut otot. 5) Sistem respirasi 15 . ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas. c) Otot Perubahan struktur otot pada penuaan sangat berfariasi. b) Tulang Berkurangnya kepadatan tualng setelah di obserfasi adalah bagian dari penuaan fisiologi akan mengakibatkan osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri. konsekuensinya kartilago pada persendiaan menjadi rentan terhadap gesekan. Jaringan kartilago pada persendian lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata. d) Sendi Pada lansia. deformitas dan fraktur.

kartilago dan sendi torak mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang. ekskresi. dan reabsorpsi oleh ginjal. d) Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan. berkurangnya aliran darah. 6) Pencernaan dan Metabolisme Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan. udara yang mengalir ke paru berkurang. b) Indra pengecap menurun. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. 8) Sistem saraf Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia. contohnya laju filtrasi. seperti penurunan produksi sebagai kemunduran fungsi yang nyata : a) Kehilangan gigi. tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengompensasi kenaikan ruang rugi paru. c) Rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun). 7) Sistem perkemihan Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Pada penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru. Perubahan pada otot. 9) Sistem reproduksi 16 . kapasitas total paru tetap. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran.

8) Rangkaian dari kehilangan. timbul kebutaan dan ketulian. yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa. Ingatan) 2) IQ (Intellegent Quocient) 3) Kemampuan Belajar (Learning) 4) Kemampuan Pemahaman (Comprehension) 5) Pemecahan Masalah (Problem Solving) 6) Pengambilan Keputusan (Decission Making) 7) Kebijaksanaan (Wisdom) 8) Kinerja (Performance) 9) Motivasi c. Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan uterus. khsusnya organ perasa. meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. Terjadi atropi payudara. Perubahan Kognitif 1) Memory (Daya ingat. 7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan. b. 17 . Perubahan mental Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental : 1) Pertama-tama perubahan fisik. 2) Kesehatan umum 3) Tingkat pendidikan 4) Keturunan (hereditas) 5) Lingkungan 6) Gangguan syaraf panca indera.

gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan. teman dekat. 4) Gangguan cemas 18 . seperti menderita penyakit fisik berat. 9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. Perubahan spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow. d. 1970) e. perubahan konsep diri. Kesehatan Psikososial 1) Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama jika lansia mengalami penurunan kesehatan. 1970). 3) Depresi Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong. Depres i juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya kemampuan adaptasi. lalu diikuti dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi. perubahan terhadap gambaran diri. 2) Duka cita (Bereavement) Meninggalnya pasangan hidup. atau bahkan hewan kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada lansia. hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner.

depresi. panik. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain- main dengan feses dan urin nya. gangguan cemas umum. Dibagi dalam beberapa golongan: fobia. gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif. Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan 19 . serta pemulihan. 6) Sindroma Diogenes Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan per ilaku sangat mengganggu. a. gangguan-gangguan tersebu t merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis. Jenis pelayanan kesehatan Jenis pelayanan kes ehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan. Walaupun telah dibersihkan. pembatasan kecacatan. Promotif Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk menigkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. ditandai dengan waham (curiga). 3.pencegahan (prevention). diagnosis dini dan pengobatan. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial. yaitu peningkatan (promotion). efek samping obat. lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat membunuhnya. atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat. sering menumpuk barang dengan tidak teratur. keadaan tersebut dapat terulang kembali. 5) Parafrenia Suatu bentuk skizofrenia pada lansia.

dilakukan dengan tujuan mengurangi jatuh. bertujuan untuk mengurangi penggunaan semprotan bahan-bahan kimia. 4) Meningkatkan pe rhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut yang bertujuan untuk mengurangi karies gigi serta memelihara kebersihan gigi dan mulut. 1) Melakukan pencegahan primer. Preventif Mencakup pencegahan primer. Upaya promotif dilakukan untuk membantu orang-orang mengubah gaya hidup mereka dan bergerak kea rah keadaan kesehatan yang optimal serta mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilih an yang sehat tentang prilaku hidup mereka. mengurangi bahaya kebakaran dalam rumah. meningkatkan pengelolaan rumah tangga terhadap bahan berbahaya. Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia adalah sebagai berikut: 1) Mengurangi cedera. b. tidak ada penyakit dan promosi kesehatan. 20 . mengurangi radiasi di rumah. tenaga professional dan masyarakat t e rhadap praktik kesehatan yang positif menjadi norma-norma social.. 3) Menigkatkan perlindungan dari kua litas udara yang buruk. serta mengurangi kontaminasi makanan dan obat-obatan. meliputi pencegahan pada lansia sehat. terdapat factor resiko. 2) Meningkatkan kemanan ditempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi terpapar dengan bahan-bahan kimia dan menigkatkan penggunaan system keamanan kerja. meningkatkan penggunaan alat pengaman dan mengurangi kejadian keracunan makanan atau zat kimia. sekunder dan tersier. dukungan klien.

(2) rehabilitasi pasien rawat jalan. serta perawatan bertahap. dan mengidap factor resiko. b) Manajemen stress. tahap (1) perawatan di rumah sakit. a) Program imunisasi. c) Penggunaan medikasi yang tepat 2) Melakukan pencegahan sekunder. b) Deteksi dan pengobatan kanker. meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala. dan (3) perawatan jangka panjang. gigi mulut dan lain-lain. mencegah cacat bertam bah dan ketergantungan. papsmear. mammogram. dari awal penyakit hingga terjadi gejala penyakit belum tampak secara klinis. b) Konseling : berhenti merokok dan minum beralkohol. Jenis pelayanan pencegahan primer adalah sebagai berikut. 3) Melakukan pencegahan tersier. c) Dukungan nutrisi. a) Keamanan didalam dan disekitar rumah. a) Control hipertensi. dilakukan sesudah terdapat gejala penyakit dan cacat. c) Screening : pemeriksaan rectal. Jenis pelayanan pencegahan sekunder antara lain adalah sebagai berikut. Exircise. misalnya vaksin influenza. 21 .

Penyakit Jantung 22 . Skrining Kesehatan pada Kelompok Khusus Lansia Di negara maju. duduk dan berdiri dengan selang beberapa waktu. a) Mencegah berkembangnya gejala dengan memfas ilitasi rehabilitasi dan membatasi ketidakmampuan akibat kondisi kronis. b) Mendukung usaha untuk mempertahankan kemampuan berfungsi. Pengukuran tekanan darah pada lansia sebaiknya dilakukan dalam keadaan berbaring. penyakit jantung atau bahkan kematian. skrining atau test saringan. Misalnya osteoporosis atau inkontinensia urine/fekal. ditemukan bahwa bila 40 orang diobati selama 5 tahun akan dapat mencegah 1 (satu) kejadian stroke. Pada hipertensi dilakukan pengkajian secara lengkap (anamnesis dan pemeriksaan fisik). keganasan dan cerebrovascular accident (CVA) seperti yang dijelaskan sebagai berikut. 4. Penyakit Hipertensi Tindakan skrining sangat bermanfaat. Pencegahannya akan dapat mempengaruhi resiko timbulnya stroke. baik terhadap hipertensi sisto likmaupun diastolic. skrining pada umumnya ditunjukan pada penyakit kardiovaskuler. Pelayanan pencegahan tersier adalah sebagai berikut. dan (2) tekanan diastolic ◊'3d 90 mmHg. a. Dari hasil study. yaitu dengan mengetahui kemungkinan adanya hipertensi ortostatik b. Hal yang penting dilakukan disini adalah pengukuran tekanan darah sebagai patokan diambil batas normal tekanan darah bagi lansia adalah: (1) tekanan sistol ik 120-160 mmHg.

dan foto toraks. Penyakit Ginjal Selain pengkajian secara lengkap (anamnesis dan pemeriksaan fisik). Juga penyakit kanker serviks dengan cara Pap Smear. pemeriksaan kadar gula darah dan funduskopi. selain dengan cara endoskopi untuk kelainan dalam sigmoid dan kolon terutama pada penderita yang menunjukkan adanya keluhan. f. skrining yang perlu dilakukan pada lansia dengan dugaan kelainan jantung antara lain pemeriksaan EKG. Tetapi ini dapat mengurangi resiko kanker payudara. treadmill. Adapun caranya adalah deng an pengujian laboratorium terhadap darah samar di dalam feses. yaitu dengan cara BSE. d. skrining yang perlu dilakukan pada lansia dengan dugaan kelainan ginjal adalah pemeriksaan laboratorium test fungsi ginjal dan foto IVP. Juga fraktur akibat osteoporosis. skrining yang diperlukan dilakukan pada lansia dengan dugaan diabetes antara lain pemeriksaan reduksi urine. Selain pengkajian secara lengkap (anamnesis dan pemeriksaan fisik). Keganasann Skrining terhadap keganasan terutama ditunjukkan terhadap penyakit kanker payudara. e. Wanita Menopause Tindakan skrining ditujukkan untuk memastikan a pakah diperlukan tetapi hormone pengganti estrogen. c. Diabetes Militus Selain pengkajian secara lengkap (anamnesa dan pemeriksaan fisik). Selanjutnya skrining juga dilakukan terhadap kanker kolon dan rectum. Namun perlu 23 .

dan menurut hasil penelitian dikatakan mencapai 80% dari hasil yang diperoleh melalui pemeriksaan dengan audioskop. Skrining Pendengaran Dengan tes bisik membisikkan enam kata-kata dan jara k tertentu ke telinga pasien serta dari luar lapang pandang. yaitu terutama pada pengelihatan dan pendengaran seperti berikut. di mana untuk mencegahnya dapat diajukan agar diberik an secara bersamaan dengan hormon progesterone.000 Hz. tetapi juga akan meningkatkan status fungsional dan psikologis. h. Cara ini cukup sensitif. yang meliputi hygiene perorangan dan indikasi kelainan gizi yang dapat dinilai dengan melihat rambut warna kusam dan atau mudah 24 . yaitu koreksi dengan ukuran kaca mata yang sesuai. yaitu dihasilkan nada murni dengan frekuensi 500. Tindakan skrining juga biasanya ditunjukkan bagi kelainan pada sistem indra. Skrining Kesehatan pada kelompok Usia Sekolah 1. Adapun faktor resiko untuk degenerasi macula adalah adanya riwayat keluarga dan faktor merokok. PEMERIKSAAN KEADAAN UMUM Penilaian keadaan umum peserta didik dimaksudkan untuk menilai keadaan fisik secara umum. J. 2. Me ngenai pemeriksaan dengan audioskop. Skrining Ketajaman Visus Skrining ketajaman visus dengan tin dakan sederhana. yaitu pada ambang 25-40 dB.000 dan 4.000. Selanjutnya minta pasien untuk mengulanginya lagi. g. 1. degenerasi macula dan retinopati diabetes. Skrining dengan alat fundusk opi dapat mendeteksi penyakit glaucoma. Bagi kasus katarak dengan tindakan ekekstraksi lensa tidak saja akan memperbaiki pengelihatan. diwaspadai kemungkina timbulnya kanker endometrium.

penilaian status gizi siswa dilakukan melalui pengukuran antropometri yaitu mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). denyut nadi dan kelainan jantung. Diperiksa pula tekanan darah. Jika berada di bawah garis SD -3 berarti status kurus sekali d. Indeks tersebut diperoleh dengan membandingkan berat badan (BB) dalam kilogram terhadap tinggi badan (TB) dalam meter kuadrat. Kebersihan mulut 25 . ukuran tubuh (antropometri) dan penunjang (laboratorium). bibir kering. Dengan menghitung indeks massa tubuh ini akan diketahui status gizi siswa. Jika berada di atas garis SD +2 sampai dengan SD +3 berarti anak tersebut berstatus overweight atau gemuk e. Jika berada di bawah garis SD -2 sampai SD -3 anak tersebut berstatus kurus c. PEMERIKSAAN GIGI DAN DAN MULUT Pemeriksaan gigi dan mulut secara klinis yang sederhana bertujuan untuk mengetahui keadaan kesehatan gigi dan mulut peserta didik dan menentukan prioritas sasaran untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun program kesehatan gigi dan mulut di sekolah. IMT adalah indeks untuk menentukan status gizi. Jika berada di garis Standar Deviasi (SD) +2 sampai -2 maka anak tersebut berstatus gizi normal b. pecah pecah dan mudah berdarah. Jika tidak ada kalkulator dapat menggunakan tabel IMT yang tersedia. pecah pecah dan kulit tampak pucat/keriput. sudut mulut luka. Jika berasa diatas SD +3 berarti status obesitas. Selanjutnya angka indeks di plot pada grafik BMI sesuai dengan jenis kelamin. PENILAIAN STATUS GIZI Untuk menilai status gizi anak dapat dilakukan pemeriksaan secara klinis. Keadaan rongga mulut b. dicabut. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: a. 2. riwayat asupan makanan. Dalam kegiatan penjaringan. Lihat posisi plot tadi berada pada area mana: a. 3.

Meningkatkan cakupan program cacingan terutama pada anak sekolah 26 . Pemeriksaan Tajam Pendengaran / kelainan organik 1) Ruang yang kedap suara untuk melakukan tes berbisik 2) Garputala 3) Senter 4) Otoskop 5. Keadaan gigi 4. Melalui pemeriksaan faces untuk mendeteksi ada tidaknya infeksi cacing pada seorang murid. a. Tujuannya adalah: . Pemeriksaan Tajam Penglihatan / Kelainan Organik 1) Snellen chart / E chart untuk memeriksa visus 2) Penutup 1 mata (okluder) 3) Pinhole (cakram berlubang) 4) Loupe 5) Senter b. Meningkatkan mutu intelektual anak sekolah . Keadaan gusi d. Untuk menjaring anak sekolah yang menderita cacingan . Alat bantu yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah. c. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan dalam penjaringan peserta didik SD/MI adalah pemeriksaan feces dan anemia. Selanjutnya pada tengah tahun dilakukan pemeriksaan ulang (berkala) untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan sebelumnya atau menilai perbaikan atas koreksi yang dilakukan. PEMERIKSAAN INDERA PENGLIHATAN DAN PENDENGARAN Pemeriksaan indera penglihatan dan pendengaran adalah pemeriksaan yang dilakukan setiap awal tahn ajaran baru (penjaringan) untuk mengetahui adanya kelainan tajam penglihatan dan kelainan tajam pendengaran serta kelainan organik pada mata dan telinga setiap siswa baru.

menyendiri atau merasa sedih sepanjang waktu. agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. maka dilakukan pengobatan secara masal (mass blanket) dan bila pemeriksaan feces ditemukan 6. Alat yang digunakan untuk deteksi ini adalah Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) yang terdiri dari 12 pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional. mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan terhadap hal hal yang sudah biasa dihadapinya) b. atau menyiksa binatang atau anak anak lainnya) dan tampak tidak peduli dengan nasihat nasihat yang sudah diberikan kepadanya. Kuesioner pemantauan kelainan mental emosional terdiri dari: a. Apakah anak anda terlihat berperilaku merusak dan menentang terhadap lingkungan di sekitarnya? (seperti melanggar peraturan yang ada. mencuri. Meningkatkan kemitraan dalam penanggulangan cacingan dengan melibatkan lintas program / lintas sektor Bila pemeriksaan feces >50% posiitf. Apakah anak anda seringkali terlihat marah tanpa sebab yang jelas? (seperti banyak menangis. Deteksi dini dilakukan pada anak peserta didik yang menurut pengamatan guru dalam kesehariannya menunjukkan sikap dan perilaku yang diduga “perlu mendapat perhatian”. kehilangan minat terhadap hal hal yang biasa sangat dinikmati) c. Apakah anak anda tampak menghindar dari teman teman atau anggota keluarganya? (seperti ingin merasa sendirian. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN MENTAL EMOSIONAL Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan /pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional. seringkali melakukan perbuatan yang berbahaya bagi dirinya. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. 27 . .

Baring duduk d. Melakukan pemanasan sebelum tes Tes kebugaran jasmani hanya boleh diikuti oleh peserta didik yang telah selesai menjalankan tahap penjaringan kesehatan dan dinyatakan oleh dokter tidak mengalami kontra indikasi untuk dites. Lari cepat b. Pemantauan tumbuh kembang bayi. tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti dan masih memiliki tenaga cadangan untuk melakukan aktifitas fisik lainnya. PENGUKURAN KEBUGARAN JASMANI Adalah kesanggupan atau kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari hari. Mengerti dan memahami cara pelaksanaan tes b. Peserta dalam keadaan sehat dan siap melaksanakan tes b. K. Apakah anak anda melakukan perbuatan yang berulang ulang tanpa alasan yang jelas? 7. Loncat tegak e. TKJI terdiri dari 5 tes. TKJI merupakan rangkaian tes yang harus dilakukan secara berurutan. Disarankan memakai pakaian dan sepatu olahraga d. Lari jarak sedang Persyaratan untuk mengikuti TKJI adalah sebagai berikut: a. Hal ini dilaksanakan untuk menentukan tingkat kebugaran jasmani peserta didik. Skrining Kesehatan pada kelompok bayi dan balita 1. Apakah anak anda akan memperlihatkan adanya perasaan ketakutan atau kecemasan berlebihan yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan tidak sebanding dengan anak lain seusianya? e. balita dan anak prasekolah/ deteksi dini 28 . yaitu: a. Instrumen tes kebugaran jasmani yang digunakan adalah Tes KeBugaran Jasmani Indonesia (TKJI). Diharapkan sudah makan sedikitnya 2 jam sebelum melakukan tes c. Gantung siku tekuk / gantung angkat tubuh c. d.

Deteksi dini penyimpangan mental omosional Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan / pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional. berupa: Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan. Tes daya lihat 3. Skrining merupakan abnormal dan untuk membuat diagnosa banding.meliputi: a. balita dan anak prasekolah adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. dilakukan untuk: . Skrining Kesehatan pada kelompok Ibu Hamil Tujuan skrining adalah untuk melakukan deteksi dini suatu keadaan yang abnormal dan untuk membuat diagnosa banding. maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) b. Kunjungan I (sebelum 14 minggu). agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Tindakan yang umum dilakukan oleh bidan adalah melakukan skrining secara berkala pada ibu untuk mendeteksi setiap penyimpangan dari keadaan normal. autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak.Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil 29 . Ada tiga jenis deteksi dini tubuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya. Skrining merupakan fungsi utama seorang bidan dalam melakukan asuhan kebidanan. Skrining / pemeriksaan perkembangan anak menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) b. Pengukuran lingkar kepala 2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan. Tes daya dengar c. a. L. meliputi: a. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui. Deteksi dini tumbuh kembang bayi.

d. dan periksa proteinurin). c. dan penggunaan praktik tradisional yang merugikan. Kunjungan IV (setelah 36 minggu).Melakukan tindakan pencegahana seperti tetanus neonatorum. . atau kondisi lain yang membutuhkan kelahiran di Rumah Sakit. dilakukan untuk: . ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklamsia (tanya ibu mengenai gejala-gejala preeklamsia. seorang bidan dapat melakukan skrining pada ibu hamil untuk mendeteksi kondisi yang abnormal. Dengan demikian. ditambah deteksi dini letak bayi yang tidak normal. dilakukan untuk: . dilakukan untuk: .Mendeteksi masalah dan menanganinya . Pengetahuan menyeluruh seorang bidan mengenai tanda dan gejala adanya komplikasi kehamilan sangat diperlukan untuk mengenali penyimpangan dari kondisi normal. evaluasi edema.Sama seperti kunjungan pertama. Kunjungan II (14-28 minggu). pantau tekanan darah.Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III. anemia.Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi . . b.Mendorong perilaku yang sehat. 30 .ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.Sama seperti kunjungan kedua. Kunjungan III (28-36 minggu).

mendeteksi kondisi medis pada tahap awal sebelum gejala menyajikan sedangkan pengobatan lebih efektif daripada untuk nanti deteksi. 31 . Tujuan skrining adalah menemukan orang terkena penyakit sedini mungkin. Sedangkan manfaat skrining adalah biaya yang dikeluarkan relatif murah. BAB III KESIMPULAN 1. tersediannya obat yang potensial. adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut. ditujukan pada penyakit kronis seperti kanker. Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada satu atau sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit. 2. mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat. fasilitas dan biaya untuk diagnosis. membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin. 3. dan mendapatkan keterangan epodemiologis yang berguna bagi klinis dan peneliti. Syarat yang harus diperhatikan dalam proses skrining adalah penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti.

Lantz P. reliabilitas dan yield. Rajab. A.. Noor. Proses skrining dilakukan dengan mengacu pada kriteria sensitivitas dan spesifisitas. 2000. Kriteria evaluasi dalam skrining terdiri dari validitas. Budiman. dan Robert J. DAFTAR PUSTAKA Budiarto dan Anggraeni. Nur Nasry. Bustan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.” Journal Public Health Management Practice.. 2003. Jakarta: Rineka Cipta. Richard. Richard Hebel. Remington P. 4. Wahyudin. Jakarta: Rineka Cipta.. Morton.Pengantar Epidemiologi Edisi 2. L. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pengantar Epidemiologi. 2009. 32 . Viekant R. McCarter. D. Panduan Studi Epidemiologi dan Biostatistika. Epidemiologi. Eaker. 5. 2001. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. E. 2008. 2007. Chandra.. 2008. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan & Komunitas. Jaros L. “A Controlled Community Intervention to Increase Breast and Cervical Cancer Screening: Women’s Health Alliance Intervention Study. Construct Validity and Cognitive Diagnostic Assessment: Theory and Applications. Yang dan Embretson. New York: Cambridge University Press.

wordpress. 2014.scribd.go. Pengantar Keperawatan Komunitas 2. Available : http://dinkes.com/doc/106996346/Konsep-Dasar-Screening-1 Diakses tanggal 16 Maret 2016 pukul 16. Aepnurul.pdf Diakses pada 16 Maret 2016 33 .2006. Diakses pada 16 Maret 2016 Mubarak.id/docmodul/epidemiologi_kebida nan/bab6-skrinning.kulonprogokab.Vie.Jakarta: EGC Gunadarma. 2012.pdf. (online).Keperawata Komunitas Teori dan Praktik. Konsep Dasar Screening. Available:http://elearning. 2013.Wahit Iqbal.com/2014/03/19/skrining- kesehatan/. STATUS KESEHATAN ANAK SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2014. Elizabeth T. elearning.gunadarma. Jakarta: Salemba Medik KARUNIAWATI . Skrining Keseha tan.2015. Epidemiologi K ebidanan Skrining. Available : https://www. Diakses pada 16 Maret 2016 Hidayat.55 Wita Anderson. Available:https://aepnurulhidayat. 2009.ac.id/files/Status_kes_anak_SD_2014. NATALIA SRI.