You are on page 1of 17

A.

Morfologi dan Taksonomi Tanaman Patah Tulang

Patah tulang (Euphorbia tirucalli) merupakan tumbuhan yang berasal dari suku

Euphorbiaceae. Patah tulang sendiri banyak ditemukan di indonesia karena

tanaman ini merupakan tanaman yang hidup di daerah tropis dan menyukai

tempat terbuka agar terpapar oleh matahari secara langsung (Absor, 2006). Patah

tulang yang memiliki nama lain atau nama daerah seperti kayu urip dalam bahasa

Jawa, kayu tabar dalam bahasa Madura, dan susuru pada bahasa Sunda dan di

Tiongkok disebut Lu San Hu (Dalimartha, 2007).

Pengelompokan tanaman patah tulang dalam sistem binomial menurut Mwine dan

Damme (2011) adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Bangsa : Malpighiales

Suku : Euphorbiaceae

Marga : Euphorbia

Jenis : Euphorbia tirucalli

Daun dari tanaman ini sangat mudah rontok. Daunnya memiliki panjang 1. Daun muda.Bagian tumbuhan Keterangan Ranting berwarna hijau dan berbentuk silinder seperti pensil dengan diameter 5-7 1. Batang tua-coklat-coklat tua. Ranting yang masih muda berwarna hijau muda dan lunak. Ranting mm dan bercabang-cabang. Mengelurkan getah berwarna putih susu apabila dipotong.5 cm Tumbuh disetiap percabangan ranting 2. tumbuhan ini hanya mengeluarkan bunga 3. Permukaan luar kulit terasa kasar dan berlubang-lubang. Diameter batang tumbuhan ini adalah 7-10 cm. ranting tua berwarna hijau tua dan lebih keras.1. batang juga menghasilkan getah namun warnanya lebih kekuningan dibanding dengan . Batang berwarna gradasi hijau-hijau 4. Bunga pada bulan tertentu yaitu bulan mei. Bunga terdapat di ujung ranting muda.

dan kaki dan tangan mati rasa (Dalimartha. aktivitas antimikrobia. wasir. kusta. rematik. Batang kayu digunakan untuk mengobati sakit kulit. aktivitas anti-arthritic. Buah terdapat diujung ranting. dan kawan-kawan. . dan sifilis (Dalimartha. 2007). tulang terasa sakit. Buah B. Bentuk akar tanaman patah tulang adalah akar serabut yang akan memanjang dan 5. Buahnya berwarna hijau kekuningan. rantingnya. Kegunaan Tanaman Patah Tulang Masing-masing bagian dari tanaman patah tulang memiliki khasiat yang berbeda-beda seperti akar dan ranting dapat digunakan untuk mengobati nyeri lambung. Akar berkayu ketika dewasa. antara lain aktivitas oxytoxic.. Akar dari tanaman ini juga dapat digunakan sebagai antimikrobia (Parekh. Tanaman patah tulang memiliki aktivitas farmakologi. aktivitas molluscicide. 2007). nyeri syaraf. 6. tukak rongga hidung. 2005).

2010). (2010) tanaman patah tulang memiliki kemampuan antibakteri dan antifungi. Tanaman patah tulang tidak memiliki hama atau penyakit dikarenakan tanaman ini memiliki getah yang bersifat karsinogenik (Mwine dan Damme. dan kawan-kawan (2012). aktivitas imunomodulator. tapi juga mematikan bagi hama (Toana dan Nasir. dan antivirus (Wal dan kawan-kawan. Kompleks protein-senyawa fenolik terbentuk dengan ikatan yang lemah. dan kawan-kawan. 2011). Banyak orang yang menggunakan tanaman patah tulang sebagai pestisida botani yang aman.. Senyawa fenolik berinteraksi dengan protein membran sel melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen dengan cara terikat pada bagian hidrofilik dari membran sel. sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel dan membentuk kompleks dengan protein membran sel. Absor (2006). Senyawa lain yang terkandung pada ekstrak adalah senyawa tanin yang merupakan senyawa fenolik. sehingga akan segera mengalami peruraian kemudian diikuti penetrasi . 2010). Menurut Sanjesh. Ekstrak ranting patah tulang mengandung senyawa flavonoida yang bersifat antibakterial dengan cara kerja mengganggu aktivitas transpeptidase peptidoglikan sehingga pembentukan dinding sel terganggu dan menyebabkan lisis sel. Prasad dankawan-kawan (2011). Tanin bekerja mengganggu sintesis peptidoglikan sehingga pembentukan dinding tidak sempurna pada bakteri (Parahita.aktivitas antiherpetik. 2013). aktivitas hepatoprotektif. aktivitas antioksidan. Upadhyay. Senyawa fenolik (flavonoida dan tanin) dan saponin bersifat larut dalam air dan mengandung gugus fungsi hidroksil (-OH). 2013). dan kawan-kawan. Senyawa kimia yang berperan penting dalam aktivitas antimikrobia tanaman patah tulang adalah flavonoida dan tanin (Upadhyay. aktivitas sitotoksik.

Antimikrobia Antimikrobia dapat terdiri dari beberapa jenis meliputi antibakteri. Zat antimikrobia memiliki fungsi untuk mengeliminasi mikroorganisme infektif agar mencegah terjadinya infeksi. 2014).albicans. Alkaloida bekerja dengan menghambat biosistesa asam nukleat pada jamur (Mc Charty dan kawan-kawan. 1990).. Antimikrobia adalah zat biokimia yang diproduksi oleh mikroorganisme atau herba yang dalam jumlah kecil dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme tertentu. Sedangkan antifungal merupakan senyawa antimikrobia yang menghambat pertumbuhan jamur (Schunack dan kawan-kawan. Anti bakteri merupakan senyawa antimikrobia yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. penelitian lain juga menunjukkan bahwa alkaloida dapat menghambat pertumbuhan C. sehingga mengakibatkan lisisnya membran sel jamur (Setyowati. dan antivirus. Antibakteri dan antifungal sama-sama termasuk ke dalam antimikrobia.. . antiprotozoa.. Selain senyawa fenolik yang bekerja sebagai anti jamur. antifungal. dan kawan-kawan. 1992). 2005). 2006). Komponen lain yang bekerja sebagai anti jamur adalah saponin.. Kerusakan pada membran sel menyebabkan perubahan permeabilitas pada membran.senyawa fenolik ke dalam membran sel yang menyebabkan presipitasi dan terdenaturasinya protein membran sel. saponin bekerja dengan membentuk komplek dengan sterol dan memengaruhi perubahan permeabilitas membran kapang dan khamir (Simons dan kawan-kawan. Flavonoida selain bekerja dengan melisiskan membran sel jamur juga bekerja dengan mengganggu pembentukan pseudohifa selama proses patogenesis (Cushnie dan Lamb.

2003). Zat aktif yang bekerja sebagai antimikrobia dari tumbuhan misalnya flavonoida. Suatu tanaman dikatakan memiliki potensi yang tinggi sebagai antimikrobia jika pada konsentrasi rendah mempunyai daya hambat yang besar (Absor. 1995). Inkubasi yang dilakukan pada suhu 37°C selama 18-24 jam. Prinsip uji potensi antimikrobia berdasarkan Farmakope Indonesia edisi IV 1995 adalah membandingkan potensi antimikrobia antara sampel dengan antimikrobia standar yang telah disahkan penggunaannya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. dll. saponin. tanin. Setelah penginkubasian akan didapatkan diameter hambat jernih sebagai . alkaloida. Uji Potensi Antimikrobia Potensi antimikrobia adalah ukuran daya hambat atau daya bunuh zat aktif terhadap mikrobia tertentu. karena kelompok obat ini diproduksi oleh suatu mikroorganisme dan memiliki derajat toksisitas yang berbeda-beda terhadap mikroorganisme lain (Campbell. 2006).Antimikrobia memiliki suatu sifat toksisitas selektif. Uji sensitivitas antimikrobia dapat dilakukan dengan 2 cara. yaitu: 1. Metode difusi agar menggunakan lubang sumuran atau menggunakan kertas cakram yang mengandung antimikrobia. Metode difusi agar Prinsip metode difusi agar adalah mengukur potensi antimikrobia berdasarkan pengamatan diameter daerah hambatan mikrobia sebagai akibat dari berdifusinya ekstrak dari titik awal pemberian ke daerah difusi.

daripada jumlah inokulum lebih besar maka akan dihasilkan daerah hambat yang kecil. memengaruhi kecepatan difusi antibakteri dan memengaruhi kecepatan pertumbuhan antibakteri. yaitu : a. 2009).. Pradifusi. jumlah inokulum yang lebih sedikit menyebabkan obat dapat berdifusi lebih jauh.daya antimikrobia (Jawetz dan kawan-kawan. sehingga akan memengaruhi diameter hambat. kebanyakan bakteri tumbuh baik pada suhu 37°C. sehingga jarak difusi berubah. Ketebalan medium agar adalah penting untuk memperoleh sensitivitas yang optimal. Faktor-faktor yang memengaruhi metode difusi agar (Rostinawati. e. perubahan komposisi medium dapat mengubah sifat medium. perbedaan waktu pradifusi memengaruhi jarak difusi dari zat uji b. Medium agar berpengaruh terhadap ukuran daerah hambat dalam hal memengaruhi aktivitas beberapa bakteri. Suhu inkubasi. . Komposisi medium agar. Makin tebal medium yang digunakan akan makin kecil diameter hambat yang terjadi. sehingga daerah yang dihasilkan lebih besar. Kerapatan inokulum. d. Perbedaan ketebalan medium agar memengaruhi difusi dari zat uji ke dalam agar. ukuran inokulum merupakan faktor terpenting yang memengaruhi lebar daerah hambat. 1996). c.

1996). Waktu inkubasi disesuaikan dengan pertumbuhan bakteri. Pengaruh pH.f. setelah diinokulasikan pada medium agar. Metode dilusi agar Konsentrasi larutan uji yang sudah disiapkan ditambahkan suspensi mikrobia dalam medium cair. Potensi antimikrobia dapat ditentukan dengan melihat konsentrasi terendah yang dapat menghambat mikrobia (McKane dan Kandel. adanya perbedaan pH medium yang digunakan dapat menyebabkan perbedaan jumlah zat uji yang berdifusi. Campuran tersebut diinkubasi dan diamati pertumbuhan mikrobia uji berdasarkan kekeruhan medium. maka daerah hambat dapat diamati segera setelah adanya pertumbuhan bakteri. metode yang sering digunakan untuk mengetahui potensi antimikrobia terhadap mikrobia uji disebut dengan metode Kirby-Baurer. karena luas daerah hambat ditentukan beberapa jam pertama. Menurut Cappucino and Sherman (2011). 2. pH juga menentukan jumlah molekul zat uji yang mengion. Prinsip metode ini adalah menentukan eketifitas suatu agen antimikrobia dengan mengukur diameter zona jernih yang dihasilkan dari antimikrobia tersebut yang . g. Metode ini tergolong metode difusi standar. Medium yang kekeruhannya paling tipis merupakan medium dengan konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia. Selain itu pH berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri.

Diameter zona hambat 0-5 mm : Antimikrobia Konsentrasi Hambat Minimum Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) adalah konsentrasi terendah senyawa antimikrobia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan mikrobia uji (Cappuccino dan Sherman. metode uji dan ditentukan pula oleh KHM. adalah sebagai berikut: 1. Aktivitas antimikrobia ditentukan oleh diameter daya hambat. yang kemudian diturunkan konsentrasinya menjadi deretan konsentrasi antimikrobia untuk mendapatkan konsentrasi paling kecil dengan daya hambat tetap tinggi. Diameter zona hambat 5-10 mm: Antimikrobia sedang 3.membuktikan adanya daya hambat bahkan daya bunuh mikrobia uji. KHM yang dilakukan pada penelitian Kusumaningtyas dan kawan-kawan. 2011). Kriteriakekuatan antimikrobia metode David Stout dalam Suryawiria (1978). (2008) dan Absor (2006) menggunakan metode Kirby-Baurer. (1991). Perawatan saluran akar merupakan perawatan atau tindakan yang dilakukan untuk mengeliminasi bakteri yang terdapat dalam saluran akar sehingga . Menurut Wattimena dan kawan-kawan. Diameter zona hambat 10-20 mm: Antimikrobia kuat 2. suatu bakteri dikatakan mempunyai aktivitas yang tinggi bila KHM terjadi pada kadar antimikrobia yang rendah tetapi mempunyai daya hambat yang tinggi. Penetapan konsentrasi daya hambat minimum dapat dilakukan dengan melakukan pengenceran terhadap konsentrasi paling efektif yang dihasilkan dari uji potensi antimikrobia.

Pembersihan saluran akar dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang dapat diterima secara biologis (Chng. ia bisa menjadi sangat sitotoksik dan bersifat . Larutan irigasi yang paling baik adalah mempunyai daya antimikroba yang maksimal dengan toksisitas yang minimal (Yanti. larutan irigasi harus dapat membantu dan menyempurnakan preparasi endodontik Harty (2010). dan debris dentin juga masih tersisa didalam sistem saluran akar yang tidak teratur.. Perawatan saluran akar dilakukan bila terdapat pulpitis ireversibel.2012). pulpa non vital. 2004). Sisa-sisa jaringan pulpa.dkk. Prinsip tersebut sangat penting dan sangat berpengaruh dalam keberhasilan perawatan Hession (1981 dalam Sari. Namun. 2000). dan ekonimis. juga perawatan saluran akar gigi yang dilakukan pada pulpa vital untuk alasan restoratif (Chng. 2004). bakteri. Suatu larutan irigasi saluran akar yang baik harus mampu melarutkan kotoran organik dan anorganik.mencegah terjadinya infeksi.. Sodium hypochlorite beraktivitas pada jaringan nekrotik maupun jaringan vital serta sifat antibakteri dan sifat pelumnasnya yang menjadikan sodium hypochlorite sebagai pilihan bahan irigasi saluran akar pada perawatan endodontik (Mehra. Penggunaan sodium hypochlorite (NaOCl) sebagai bahan kimia setelah pengambilan isi saluran akar secara mekanis yang merupakan suatu prosedur yang sering di lakukan di dalam perawatan endodontik (Mehra.dkk. Prinsip utama dalam perawatan saluran akar meliputi triad enodontik yaitu preparasi akses.dkk. tujuan dilakukan perawatan saluran akar yaitu untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang. melancarkan alat endodontik. agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitar sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik. bakteri dan toksin dari sitem saluran akar.dkk. Keberhasilan dari suatu pembersihan dan pembentukan saluran akar adalah dengan menyingkirkan sisa-sisa jaringan pulpa... tidak toksik. 2008). 2000). 2000). Sodium Hypochlorite (NaOCl) Salah satu bahan irigasi saluran akar adalah Sodium hypochlorite (NaOCl) dimana NaOCl merupakan suatu material proteolitik yang telah digunakan sejak 85 tahun yang lalu (Farren. atau ketika pulpa secara infeksi secara mekanis atau trauma. Oleh karena itu. preparasi saluran akar ( pembersihan dan pembentukan saluran akar) dan pengisian saluran akar. jika sodium hypochlorite berkontak dengan jaringan lunak yang vital. membunuh mikroba. A.

Berbagai konsentrasi sodium hypochlorite yang . yaitu dari kontainer dan pipa metal d. Jaringan-jaringan dan debris dilarutkan melalui proses biokemis yang kompleks. Surfactant (amine oxide). yaitu pecahan dari reaksi sodium hypochlorite b. yaitu dapat mengekalkan stabilitas pH yang tinggi c. Sodium hypochlorite adalah bahan yang paling efektif diantara antiseptik yang telah diuji. yaitu dari hasil reaksi NaOH yang berlebihan h. akan berperan sebagai pelumnas.25%. Sodium chlorate. pelarut jaringan pulpa.destruktif. namun konsentrasi yang sudah di pergunakan di kedokteran gigi mencapai 5. Asam lemak. 1.5%. perdarahan jaringan periapikal. Sifat-Sifat Sodium hypochlorite Sodium hypochlorite (NaOCl) merupakan suatu bahan yang bersifat proteolitik. Pada konsentrasi 5. antara lain komplikasi yang sering adalah injeksi sodium hypochlorite yang tidak disengajaka masuk ke dalam jaringan periradikular. Metallic ion. Ini dapat menyebabkan rasa sakit. yaitu bahan tambahan dalam pemutih domestik f.2002). Sodium hydroxide. serta pembengkakan yang luas (Spangberg. Sodium chloride.2002). Sodium hypochlorite (NaOCl) merupakan bahan irigasi yang megandung klorin yang mengandung sekitar 5% klorin yang tersedia. Konsentrasi yang telah ditetapkan adalah 0. yaitu dari reaksi organik e. yaitu pecahan dari reaksi sodium hypochlorite 2. Chloramine (trihalomethanes). 1995). yaitu untuk meningkatkan upaya pemutihan g. Komponen-Komponen Sodium Hypochlorite Komponen yang terdiri di dalam kandungan sodium hypochlorite menurut Clarkson dan Moule (1998) adalah a. Terdapat beberapa komplikasi klinikal akibat penggunaan sodium hypochlorite. antiseptik dan pemutih. terutama pada daerah periapikal (Spangberg. Bila saluran akar diisi dengan larutan tersebut selama prosedur pembersihan. Pafum. tetapi keefektifannya berkurang bila dicairkan (Grossman.25% adalah sangat toksik terhadap jaringan vital.

2002). Pada konsentrasi 1% cukup untuk melarutkan jaringan serta mempunyai efek antimikroba. 2002).dkk. Asam hypochlorous merupakan komponen yang terkandung didalam larutan sodium hypochlorite yang bertindak sebagai pelarut apabila berkontak dengan jaringan organik.2002). bervariasi dari 0. Ion hydroxil yang dilepaskan akan bertindak terhadap protein membran sehingga protein membran mengalami denaturasi (Estrela. Kemasan larutan sodium hypochloritemerupakan alkali kuat. Reaksi ini akan mengurangi tegangan permukaan larutan selebihnya (Mehra. Mekanisme Kerja Sodium Hypochlorite Sodium hypochlorite (NaOCl) membentuk suatu keseimbangan dinamik seperti yang ditunjukan pada reaksi di bawah ini: NaOCl + H2O NaOH + HOCl + Na[+] + OH[-] + H2O + OCl[-] Sodium hypochlorite bertindak sebagai pelarut organik dan lemak yang akan memecahkan asam lemak. Konsentrasi sodium hypochlorite yang lebih tinggi akan merusak jaringan-jaringan vital serta tidak meningkatkan penurunan jumlah bakteri ketika perawatan endodonti (Spangberg. 2000). Klorin merupakan agen pengoksida yang kuat memberikan sifat antibakteri yang dapat menghambat enzim-enzim .dkk. kemudian menukarnya menjadi garam asam lemak (sabun) dan gliserol (alkohol). semakin tinggi konsentrasi maka sodium hypochlorite semakin tidak stabil (Clarkson dan Moule. 1998). Selanjutnya sodium hypochlorite akan menetralkan asam amino untuk membentuk air dan garam. Klorin yang bergabung dengan kelompok protein amino akan membentuk Chloramine (Estrela.5. hipertonik.dkk.14% klorin yang tersedia.5% ..25% telah digunakan. dan akan membebaskan klorin. dan biasanya mempunyai konsentrasi 10% .. 3. ion hydroxil akan dilepaskan dan akan menyebabkan pH menurun. Klorin yang berlebihan dalam sodium hypochlorite dapat menyebabkan larutan asam yang tidak stabil. Dengan hal ini..

. 2002). B. bakteri dengan membentuk pengoksidaan irreversibel grup SH (sulphydryl). akan tetapi H2O disini merupakan H2O yang telah didistilasi atau dimurnikan. .dkk.dkk. Bahan Irigasi Akuades Akuades Salah satu bahan irigasi terhadap gigi adalah aquades. enzim esensia bakteri (Estrela. Lalu aquades adalah larutan yang sangat netral dan tidak memberikan perubahan terhadap kekerasan gigi (Nerwich. aquades memiliki rumus kimia H2O.. 1993).

J. 2003. N. 6(2).J. Bogor. Biologi.6(23):4905-4914. S. Universitas Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Linn). (Euphorbiaceae) . Antimicrobial activity of flavonoida. Pearson Benjamin Cummings. Absor. Dalimartha.. Dalimartha. Atlas tanaman obat Indonesia.413. 2012.. Hal 130-132. Iqbal. Jilid I. J. Institut Pertanian Bogor. 112. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Scientific Research and Essays. Vol. dan Sherman.G. 2003. Linn). Puspa Swara. Antimicrobial Irrigants in the Endodontic Therapy.P.A. Jakarta: Trubus Agriwidya. Cushnie T. Qassim University. Euphorbia tirucalli L. Van Damme P. Aktivitas Antibakteri Tanaman Patah Tulang (Euphorbia tirucalli.. Nat. 2005. Jakarta. . Farmakope Indonesia Edisi IV. Atlas Tanaman Obat Indonesia.153-158. Skripsi Sarjana Sains Program Studi Biokimia IPB Bogor Fakultas Matematika dan IPA dengan Judul Aktivitas Antibakteri Ranting Patah Tulang (Euphorbia tirucalli. 2014. Prod. 26(5): 343 – 356. 2006. Cappucino. S. Jakarta. N.Sari. Naskah Skripsi S-1. 2011. Penerbit Erlangga.A.O. 1995. U. dan A. International Journal of Health Sciences. San Fransisco. Campbell. 2007. Lamb. Microbiology a Laboratory Manual 9th edition. Jakarta. 2011.The Miracle Tree. Mwine J.

dan J. Geewanda. D.240.J.Jawetz. 55(11): 1664 – 1668.) sebagai Zat Aktif dan Sediaan Gel terhadpa Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 dan Bacillus substilis ATCC 6633. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20.P. J. E. 1996. 1992. Parekh. Daya Antibakteri Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.. Melnick dan Adelberg. J. McCharty P. D. E.. 2008.A. New York. M. dan Gholib... 805-812.R. pp. Skripsi. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.. Jatinagor. McKane. Fakultas Farmasi. E. Efficacy of Aqueous and Methanol Extracts of Some Medicinal Plants for Potential Antibacterial Activity. Universitas Sanata Dharma. Pomponi. M..K. Nat. Prod. Kandel. Borges dan S. . 234. Penelitian Mandiri. 2005.. 396-398. Universitas Padjajaran. Parahita.) terhadap Escherichia coli. dan Maulany. Jakarta. R. Pitts. J. Mc Graw Hill Inc. 2009. Kusumaningtyas. I.A. E.L. pp. Antifungal activity of meridine. L. Uji Daya Hambat Ekstrak dan Krim Ekstrak Daun Sirih (Piper betle) terhadap Candida albicans dan Trychophyton mentagrophytes. diterjemahkan oleh Nugroho. Naskah Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner. Widiati. Rostinawati. a natural product from the marine sponge Corticumsp. 2013.. T. Jadeja dan S. Chanda. EGC. Salmonella thypi dan Streptococcus aureus dengan Metode Difusi Agar. 1996. T. Microbology: Essentials and Applications. Turkish Biology Journal 29: 203–210.

P.. Nelly CS. M.2. Simons. Jurnal Farmasi. ke -2. Mikroba Lingkungan. . H.Z.P. 2 (4) : 65-77. W. Farmakodinamika dan Terapi Antibiotik. P. Rr. Wattimenna. Yogyakarta.. Csukai. Yarrow dan A. 2010. Hanifah.. Ankita. W. B. Wal. 2010. Setyowati. Ethno-medical. UGM Press. Latijnhouwers. Dual effects of plant steroidal alkaloidas on Saccharomyces cerevisiae. H. JPSBR. Garima V. Nishi G. Journal of Phytologty. 17(1):47-55.. A. Schunack. dan Mathilda BW. A. and Antimicrobial Studies of Euphorbia tirucalli L. 2012. Phytochemical. dan Nugraheni. Penerjemah. K. Nasir. Ed.H.. (Euphorbiaceae) sebagai Insektisida Botani Alternatif. dan B.. Ed. International Journal of Pharmaceutical & Biological Archives. B. Sanjesh. Morrissey. Medical Value of Euphorbia tirucalli.. Wattimena JR. dan R. 2014.. ITB. 2013.S Srivasta. M. K. Kanu. 2 (1):25-29.Toana. J.. C. Semarang. 1991.. 4 (1): 31-40. Bandung. dan Kumar.R. dan Subito. Upadhyay. Pranay. ke. Krim Kulit Buah Durian (Durio zibethinus L. V. 50(8): 2732 – 2740. Suryawiria U. M. 1978. UGM Press.P. Agroland Journal. Cleaver. Yogyakarta. Senyawa Obat. Mayer. J. Isolation of Herbal Plants: Antifungal and Antibacterial Activities. Osbourn. Antimicrob Agents Chemother. Studi Bioaktivitas dan Isolasi Senyawa Bioaktif Tanaman Euphorbia tirucalli L. Singh.. R. dan Haake. 1990.) sebagai Obat Herbal Pengobatan Infeksi Jamur Candida albicans.. M. dan Vaidhun.. 2006.