You are on page 1of 7

Gejala Klinis

Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula akan timbul papul,
kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linier atau berkelok-kelok (snakelike
appearance) yang terasa sangat gatal, menimbul dengan diameter 2-3 mm dan panjang 3-4 cm,
dan berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva
tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari.1
Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok,
polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang
beberapa cm. Umumnya pasien hanya memiliki satu atau tiga lintasan dengan panjang 2-5 cm.
Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari sehingga pasien seringkali mengalami kesulitan
tidur. Terjadi rasa gatal pada ujung lesi yang bertambah panjang karena terdapat larva. Larva
filariform pada manusia tidak berkembang menjadi dewasa, infeksi larva terbatas hanya pada
lapisan epidermis, yang menyebabkan kelainan berupa garis merah berbentuk serpiginosa yang
disebut creeping eruption.1,2

Gambar . Cutaneous larva migran.
Seorang pria, 42 tahun dengan
keluhan lesi menimbul yang dirasa
amat gatal pada kaki kanan, yang
dialami setelah berlibur dari Nigeria.
Lesinya bertambah panjang beberapa
mm – cm setiap hari. Pada
pemeriksaan fisis, ditemukan lesi
terowongan yang berkelok-kelok,
serpiginosa, menimbul dan berwarna
kemerahan pada kaki kanan.3

Masuknya larva ke kulit dapat menimbulkan erupsi yang tidak spesifik, dapat berupa sensasi
tingling atau prickling yang dapat timbul paling cepat 30 menit setelah infeksi, meskipun pernah
dilaporkan late onset dari CLM. Lesi di kulit muncul pada 1-5 hari setelah paparan. Lesi vesikuler
atau bullosa dapat timbul pada lokasi penetrasi larva di kulit dan dijumpai pada sekitar 15% pasien
CLM. Lebar lesi sekitar 3 mm, dengan panjang dapat mencapai 15-20 cm, lesi dapat tunggal atau
multipel. Larva cacing dapat bergerak maju beberapa mm-cm sehari. Suatu reaksi imun alergi pada

2. 2. akan mengering dan menjadi krusta.2.1 (A) (D) (B) (C) (E) Gambar . stratum korneum atau dermis. dan bila pasien sering menggaruk. baik saat beraktivitas.6.4 Setelah penetrasi ke kulit. juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada.7 . plantar. akan terbentuk terowongan sempit intrakutan. anus. jari tangan. dapat menimbulkan iritasi yang rentan terhadap infeksi sekunder. dan paha. tangan. seperti pada tungkai. Terowongan yang sudah lama. bahkan kadang terasa nyeri. Larva nematode dapat ditemukan terperangkap dalam kanal folikuler. Penyakit ini self limited dengan kematian larva dalam waktu 1-2 bulan. dan (e). (c) tungkai bawah.5. Lesi berupa vesikel dan bullosa pada creeping eruption yang menyertai kelainan kulit pada creeping eruption.pasien yang disebabkan dari produk keluaran larva mengakibatkan timbulnya jalur eritematous pruritus.4. duduk atau berbaring. bokong. Cutaneous larva migran pada berbagai tempat predileksi : (a) Pergelangan tangan.4 Gambar . larva dapat tidur selama beberapa mingu atau bulan atau segera memulai aktifitasnya. (d) jari kaki. Dalam beberapa hari berikutnya.2 Tempat predileksi adalah di tempat-tempat yang kontak langsung dengan tanah. (b) bokong.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan histopatologik berupa biopsi kulit sedikit membantu bila ada sisa reaksi inflamasi pada lokasi gigitan parasit. kumpulan eosinofil dapat ditemukan dalam epidermis dan folikel . manifestasi sistemik antara lain eosinophilia perifer (Loeffler’s syndrome) dan inflitrat pulmoner migratori yang jarang ditemui. Tanda dan gejala sistemik (mengi. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari. urtikaria) dapat dijumpai pada beberapa pasien. histiosit. Terkadang.2. lesi jejak dari larva tunggal dapat berprogres dalam beberapa minggu atau bulan. terdapat infiltrat radang campuran yang terdiri atas limfosit. Anamnesis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa yaitu riwayat pajanan epidemiologi dan gejala klinis yang khas. Pemeriksaan Fisis Pada pemeriksaan fisis. Lebih sering ditemukan kavitas yang ditinggalkan oleh larva yang berlokasi di dalam stratum korneum dan terkait dengan spongiosis. selanjutnya membentuk terowongan (burrow) mencapai panjang beberapa cm. Tempat predileksi yaitu tungkai. anus. ditemukan kelainan kulit berupa papul pada awalnya. dan paha. menimbul dengan diameter 2-3 mm dan berwarna kemerahan. Karena larva umumnya jarang menyebar di luar kulit. Biasanya ada riwayat kontak dengan tanah secara langsung. Umumnya sulit menemukan parasit secara langsung pada spesimen biopsi. Pada infeksi yang berat.2 3. plantar. juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada. ratusan lesi dapat dijumpai. tangan. batuk kering. Pada beberapa pasien juga dapat dijumpai folikulitis yang terdiri atas 20-100 papul dan pustule folikuler eosinofilik. namun terkadang larva dapat ditemukan dalam epidemis. dan sejumlah eosinofil. dan dapat menghilang secara spontan. Masuknya larva ke kulit biasanya disertai dengan rasa gatal dan panas pada kulit yang terkena.2 2. Pada dermis. kemudian di ikuti bentuk yang khas berbentuk linier atau berkelok-kelok. bokong.4 Diagnosis 1. Bila tidak diobati.

tidur bersama. 2. namun umumnya jarang ditemukan. (A) Juga melalui kontak tidak langsung (melalui benda). Menemukan tungau merupakan hal pada sela-sela jari tangan dan buku-buku jari.1. misalnya berjabat tangan. bantal. (C) Pemeriksaa histopatologik pada ekstraksi biopsy menunjukkan gambaran larva cacing yang intak dengan sebukan eosinofilik yang banyak pada lapisan epidermis. (A) Sejumlah lesi terowongan berwarna putih berbentuk garis lurus papul atau vesikel. Cara penularan bias melalui kontak langsung (kontak dengan kulit). 8 Diagnosis Banding 1.rambut.4 Gambar . dan hubungan seksual. dan lain- lain. (B) Pemeriksaan mikroskopik dari gerusan lesi yang paling diagnostik. adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan. Skabies.2 Scabies memiliki gejala klinis seperti pruritus nocturnal. rata- (B) rata panjang 1 cm. berbentuk garis lurus atau berkelok. handuk. sprei. misalnya pakaian. Cutaneous larva migran.2 . Scabies Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var. (A) Lesi serpiginosa pada aspek plantar kaki kanan. hominis dan produknya. Penyakit ini menyerang terowongan menunjukkan tungau betina dengan telurnya yang oval berwarna abu-abu. pada ujung terowongan ditemukan Gambar . (B) Gambaran mikroskop konfokal refketansi menunjukka larva berbentuk oval yang tampak sangat berbelok (panah). Pemeriksaan laboratorik dapat berupa peningkatan eosinofil dan IgE serum.

Daerah yang sering terkena adalah daerah torakal.2 3. Dengan melihat adanya terowongan harus dibedakan dengan scabies. Kelainan kulit disebabkan oleh masuknya zat farmakologis aktif dan sensitisasi antigen dari hewan tersebut. Pada scabies. Terkadang reaksi primer berlangsung subklinis.manusia secara berkelompok (misalnya keluarga).1. Terdapat reaksi bullosa dan papul persisten yang seringkali disertai urticarial disertai papul eritema. Dalam beberapa menit akan muncul Gambar . malaise. Sedangkan gejala lokal yakni seperti nyeri otot & tulang. Insect Bite Insect bite merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh gigitan dari hewan. terowongan yang dibentuk tidak akan sepanjang seperti pada creeping eruption.2 Lokalisasi unilateral dan bersifat dermatomal sesuai tempat persarafan. pusing. Gigitan serangga dapat menyerupai urtikaria. Herpes Zoster. papul-papul lesi dini sering menyerupai herpes zoster stadium permulaan. Herpes Zoster Bila invasi larva yang multipel timbul serentak. Insect bite (bedbug). dan sebagainya. pegal.2 2. Terdapat gejala prodromal sistemik seperti demam.9 . thorakal dengan lesi eritem disertai pembentukan vesikel berkelompok. Stadium awal dari herpes zoster yang melibatkan dermatom pembesaran kelenjar getah bening regional. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah reaksi primer. Di samping berupa papul yang timbul serentak dijumpai Gambar . Herpes zoster merupakan penyakit yang disebabkan infeksi virus varicela zoster yang menyerang kulit dan mukosa. gatal.

9 .central hemmorhagic punctum. Pada permulaan timbulnya creeping eruption akan ditemukan papul yang menyerupai insect bites. Reaksi bullosa sering terjadi pada kaki anak-anak.

Elsevier Publishing: 2011.1948. 2386-2388. 18(6):11. James WD.REFERENSI 1. editor. Dermatology Online Journal. Goldsmith LA. 2008. 3. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7. Chauhan PS. 6. 1279. 5. 2011. Bolognia JL.125-126. Lancet. Burns T. Venerology and Leprology. Paller AS. 1283.Jorizzo JL.418-419. p. p. 79(3). 1. Silva CS. Purdy KS. LR. Creeping Eruption – Cutaneous Larva Migrans. McGraw Hill. Cox N. Baden. editors.2383. Griffiths C. Andrew’s Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 374:14. 9. 2559-2560. Breathnach S. Dermatology Second Edition Vol. 2549- 2552. Jakarta: Badan Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Leffell DJ. Gilchrest BA. The New England Journal of Medicine. editors. Webb AN. 2016.p. Indian Journal of Dermatology. Upendra Y. editors. 2013. Wolff K. Belda W. Chander B. 8th ed.1276. 2012. 2013. Berger TG.Rapini RP. Cutaneous Larca Migrans. New York : Mosby Elsevier. P. 8. Cutaneous Larca Migrans. Katz SI.435 . Waish N. Hamzah M. Djuanda A. 2012. Cutaneous Larca Migrans: A Bad Souvenir from the Vacation. 11th ed. Mehta KS. 4. Blackwell Publishing: 3716-3717. Vasconcellos C. Elston DM. 377. Haldane L. 2569-2570. 8th ed. Aisah S. Mahajan VK. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2. Edisi Keenam. editors. Criado PR. Langley JS. Rook’s Textbook of Dermatology.