You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUHAN DEPARTEMEN MATERNITAS

KANKER SERVIKS

Oleh:

Putri Perdana sari (135070201111026)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

A. Perubahan yang tidak wajar hanya ditemukan pada permukaan serviks.(Price dan Wilson. Ini termasuk kondisi pra-kanker yang bisa diobati dengan tingkat kesembuhan mendekati 100%. 2011). 1995).kanker ini dapat berkembang menjadi kanker setelah beberapa tahun. Stadium 0 Stadium ini disebut juga”Carsinoma in-situ” yang berarti kanker yang berada di tempatnya” belum menyerang bagian lain. Stadium 1A 2: Kanker telah tumbuh antara 3-5 mm ke dalam jaringan-jaringan serviks. dan lebarnya kurang dari 7 mm. 2. 2005). b. KLASIFIKASI Stadium Kanker Leher Rahim dapat dibagi menjadi beberapa tahap menurut Federation International of Gynecology and Obstetricts(FIGO) yaitu: 1. Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI. Kanker serviks adalah keganasan nomor tiga paling sering dari alat kandungan dan menempati urutan ke delapan dari keganasan pada perempuan di Amerika (Yatim. Stadium 1A 1: pertumbuhannya begitu kecil sehingga kanker hanya bisa dilihat dengan sebuah mikroskop atau kolposkop. . PENGERTIAN Kanker serviks adalah karsinoma pada leher rahim dan menempati urutan pertama di dunia. Pada stadium ini. Stadium ini dibagi menjadi: a. Pap smear dapat menemukan karsinoma in-situ dan dapat disembuhkan dengan mengambil daerah permukaan serviks yang sel-selnya mengalami perubahan tidak wajar. B. maka pra. Namun bila dibiarkan. 2005). Stadium 1 Stadium 1 berarti bahwa kanker baru berada di leher rahim. kanker telah tumbuh kurang dari 3 mm ke dalam jaringan serviks. tetapi lebarnya masih kurang dari 7mm. (Sjamjuhidayat. Kanker serviks adalah keadaan di mana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel serviks uteri.

d. e. Stadium 3 Pada stadium 3. Stadium ini dibagi menjadi: a. 3. b. Stadium 3A: kanker telah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina tetapi masih belum ke dinding panggul. Dapat diobati dengan gabungan radioterapi dan kemoterapi. kanker servisk telah menyebar jauh dari serviks menuju ke dalam struktur di sekitar daerah panggul. Kanker ini bisa dilihat tanpa menggunakan mikroskop. Stadium ini dibagi menjadi: . Stadium 2A 2: kanker berukuran lebih dari 4 cm. Kanker telah menyebar ke organ-organ tubuh di luar serviks dan rahim. tetapi kadang tidak selalu demikian. d. Tetapi kanker belum tumbuh ke dalam otot-otot atau ligament dinding panggul atau menuju ke vagina bagian bawah. Stadium 4 Kanker serviks stadium 4 adalah kanker yang paling parah. Stadium 2 Kanker mulai menyebar ke luar dari leher rahim menuju ke jaringan-jaringan di sekitarnya. b. Stadium 2B: ada penyebaran ke dalam jaringan sekitar serviks. c. Stadium 3B: kanker telah tumbuh menuju ke dinding panggul atau memblokir satu atau kedua saluran pembuangan ginjal. Stadium 2A: kanker telah menyebar ke vagina bagian atas. Dapat diobati dengan gabungan radioterapi atau pembedahan atau keduanya. Stadium 1B: Area kanker lebih luas. 5. Stadium 2A 1: kanker berukuran 4 cm atau kurang. Stadium 1B2: kanker lebih besar dari 4 cm(ukuran horizontal). Dan kemungkinan juga kanker telah tumbuh memblokir saluran kencing. Stadium 1B 1: kanker tidak lebih besar dari 4 cm. Stadium ini biasanya bisa diobati dengan radioterapi dan kemoterapi. c. Kanker mungkin telah tumbuh ke dalam vagina bagian bawah dan otot-otot serta ligament yang melapisi dinding panggul. c. 4. tetapi kanker masih berada dalam jaringan serviks dan biasanya belum menyebar. Stadium 2 dibagi menjadi 2 yaitu: a.

Infeksi Virus Human Papilloma (HVP) Faktor resiko dari infeksi HPV adalah factor yang terpenting dalam timbulnya penyakit kanker serviks ini. Stadium 4B: kanker telah menyebar ke organ tubuh yang sangat jauh misalnya paru-paru. Stadium 4A: kanker telah menyebar ke organ-organ seperti kandung kemih dan dubur. apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian terjadi infeksi virus HPV. maka virus ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan terbentuknya sel-sel pra kanker karena virus ini dapat mengubah permukaan sel-sel vagina. ditularkan melalui kontak kulit seperti vaginal. Organ reproduksi wanita pada usia remaja (12-20 tahun) sedang aktif berkembang. Virus ini berasal dari familia Papovaridaedan genus Papilloma virus. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan peluang seorang wanita untuk terkena kanker serviks.18. radioterapi. dan kemoterapi atau kombinasi segalanya.33 dan 45). et. Human Papilloma Virus adalah sekelompok lebih dari 100 virus yang berhubungan yang dapat menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit.al.al. anal. Saat ini sudah ada beberapa vaksin yang dapat mencegah terjadinya infeksi dari beberapa jenis HPV (Koss. Hubungan seks yang tidak aman terutama pada usia muda atau melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan. 2001). Tetapi pada virus yang beresiko tinggi(tipe 16. Infeksi virus HPV dapat terjadi dalam 2-3 tahun pertama mereka aktif secara seksual (Bosch. Bila terjadi rangsangan oleh penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal. C.31. a. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. 2001). atau oral seks(Bosch et. Oleh karena itu bila tidak terdeteksi secara dini dalam jangka waktu yang lama virus itu dapat menyebabkan terbentuknya sel-sel pra kanker serviks. memungkinkan terjadinya infeksi HPV. . 1989). b. Virus HPV berisiko rendah dapat menimbulkan penyakit kutil kelamin yang akan dapat sembuh dengan sendirinya oleh karena kekebalan tubuh. Pada stadium ini kanker diobati dengan pembedahan.

tahap pra kanker.2004). hingga menjadi kanker serviks memakan waktu sekitar 10-20 tahun. Semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seks maka semakin besar resiko terkena kanker serviks. Usia Pertama Melakukan Hubungan Seks Wanita yang melakukan hubungan seks pertama sekali pada umur dibawah 17 tahun hampir selalu 3x . Sebenarnya sebagian besar HPV akan menghilang dengan sendirinya oleh kekebalan tubuh alami. Juga resiko akan meningkat bila berhubungan seks dengan pria yang beresiko tinggi (laki-laki yang berhubungan seks dengan banyak wanita atau mengidap kandiloma akuminata (Aziz.lebih mungkin terkena kanker serviks di usia tuanya (Gant. Hal ini disebabkan karena alat reproduksi wanita pada usia ini belum matang dan sangat sensitif.al. Resiko kanker serviks lebih dari 10 kali bila berhubungan dengan 6 atau lebih mitra seks (Mardiana. 2010). Penelitian menunjukkan lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya terdapat di dalam rokok. 2002). 2010. Wijaya. tetapi ada beberapa tipe HPV yang tidak hilang oleh karena kekebalan tubuh alami dan justru menetap. Jumlah Anak Wanita yang sering melahirkan mempunyai resiko 3-5 x lebih besar terkena kanker leher rahim. Menurut berapa . Pasangan Seksual yang Berganti-Ganti Dari berbagai penelitian yang dilakukan timbulnya penyakit kanker serviks berkaitan erat dengan perilaku seksual seperti mitra seks yang berganti-ganti. Tipe inilah yang menetap dan menyebabkan perubahan sel normal serviks menjadi tidak normal. Produk sampingan rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari wanita perokok (Bosch et. Wijaya. 2001. 2. 2010). Terjadinya trauma pada bagian leher rahim yang tipis dapat merupakan penyebab timbulnya suatu peradangan dan selanjutnya berubah menjadi kanker. Merokok Tembakau atau rokok mengandung bahan-bahan karsinogenik baik yang dikunyah atau dihisap sebagai rokok atau sigaret. Perjalanan kanker serviks dari infeksi HPV. 5. 3. 4.

diet rendah sayuran dan buah-buahan. D. 6. Bila wanita mempunyai Ibu atau kakak perempuan yang terkena kanker rahim. Kekebalan Tubuh Seseorang yang melakukan diet ketat. pakar. maka pada kanker leher rahim juga akan meningkatkan resiko terkena pada wanita yang mempunyai keluarga (Ibu atau kakak perempuan) terkena kanker leher rahim. 7. Kontrasepsi Pil KB yang dipakai dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks. termasuk HPV. Keluar cairan encer dari vagina(keputihan). rendahnya konsumsi vitamin A. Pendarahan setelah sanggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi pendarahan yang abnormal. 8. b. Riwayat Keluarga Sama seperti jenis kanker lainnya. sehingga oang tersebut gampang terinfeksi oleh berbagai kuman.C. dan E setiap hari dapat menyebabkan kurangnya daya tahan tubuh.Dari beberapa penelitian menemukan bahwa resiko kanker serviks meningkat berkaitan dengan semakin lama wanita tersebut menggunakan pil KB. MANIFESTASI KLINIS Menurut Sukaca (2009) gejala penderita kanker serviks diklasifikasikan menjadi dua yaitu gejala pra kanker serviks dan gejala kanker serviks. dan cenderung akan menurun pada saat pil tersebut dihentikan(Bosch et. 1. Gejala pra kanker serviks ditandai dengan gejala: a.al. 2001). Penurunan kekebalan tubuh dapat juga mempercepat pertumbuhan sel kanker dari noninvasive menjadi invasif. jumlah kelahiran yang lebih dari 3 akan meningkatkan resiko wanita terkena kanker serviks (Wijaya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pemakaian pil KB akan menyebabkan wanita lebih sensitive terhadap HPV sehingga makin meningkatkan resiko terkena kanker serviks. maka wanita tersebut mempunyai resiko terkena kanker ini 2 atau 3 x lebih besar dari orang lain yang tidak mempunyai riwayat keluarga. . 2010).

periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya. Pendarahan pada vagina yang tidak normal. Pemeriksaan Pap smear Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yang tidak memberikan keluhan. c. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Rasa sakit saat berhubungan seksual. dll. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi. c. intravenous urography. kolposkopi. Pemeriksaan ini . nyeri panggul. maka muncul gejala-gejala sebagai berikut: a. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis. Ditandai dengan pendarahan diantara periode menstruasi yang regular. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut (Suharto. keluar tinja dari vagina. pendarahan setelah hubungan seksual. kelelehan. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. berbau dan dapat bercampur dengan darah. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. venografi. Interpretasi dari limfangografi. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau diperut bagian bawah bila ada radang panggul. d. Sel kanker dapat diketahui pada sekret yang diambil dari porsi serviks. Bila kanker telah berkembang makin lanjut maka dapat timbul gejala-gejala seperti penurunan berat badan. CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif. proktoskopi. Pada fase invasive dapat keluar cairan berwarna kekuning- kuningan. inspeksi. histeroskopi. 2007): 1. arteriografi. sistoskopi. berkurangnya nafsu makan. ultrasonografi. Gejala Kanker Serviks: Bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi kanker serviks. laparoskopi. E. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk pemeriksaan klinis. kuretase endoserviks. 2. b. e.

Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. b.1999): a. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya). akibatnya angka kematian akibat kanker leher rahim pun menurun sampai lebih dari 50%. Normal. Apabila selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil pemeriksaan yang normal. Pemeriksaan DNA HPV Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Pap’s smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim secara akurat dan dengan biaya yang tidak mahal. harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. maka pemeriksaan pap smear bisa dilakukan setiap 2 atau 3 tahun sekali. deteksi DNA HPV yang positif yang ditentukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV yang persisten. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali setiap tahun. Apabila hal ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31. 2. d. Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%. . Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas). e. Setelah tiga kali hasil pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar). Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu. Sehingga.

1997). enema barium. pielogram intravena (IVP). 1999). yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal. dan sigmoidoskopi. Pada serviks normal akan membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel serviks karena adanya glikogen. b. karena kolposkopi memerlukan keterampilan dan kemampuan kolposkopis dalam mengetes darah yang abnormal (Prayetni. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor dan / atau terkenanya nodus limpa regional (Gale & charette. Radiologi a.3. Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih dan rektum yang meliputi sitoskopi. 1997). Pemeriksaan intravena urografi. Tes Schiller Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan yodium. Jaringan yang diambil dari daerah bawah kanal servikal. Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear. . Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar) Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yang terkena proses metaplasia. yang dapat menunjukkan adanya gangguan pada saluran pelvik atau peroartik limfe. Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu kanker invasif atau hanya tumor saja (Prayetni. 6. 5. 1997). 4. Biopsi ini dilakukan untuk melengkapi hasil pap smear. Sedangkan pada sel epitel serviks yang mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah karena tidak ada glikogen ( Prayetni. Biopsi Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks. Pelvik limphangiografi. atau jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. Biopsi dilakukan untuk mengetahui kelainan yang ada pada serviks. yang dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut. Teknik yang biasa dilakukan adalah punch biopsy yang tidak memerlukan anestesi dan teknik cone biopsy yang menggunakan anestesi.

Pasien juga harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung. Dengan pengobatan tersebut. atau bila keadaan umum baik. 2005). 1. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi. dan rencana penderita untuk hamil lagi. Histerektomi adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi.F. seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. keadaan umum penderita. Umur pasien sebaiknya sebelum menopause. . Pembedahan Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar). penderita masih bisa memiliki anak. Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa kriosurgeri (pembekuan). usia. juga disebut diatermi). pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di sekitarnya dan LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi (Wiknjosastro. stadium penyakit. dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan. kauterisasi (pembakaran. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif maupun paliatif. PENATALAKSANAAN Terapi karsinoma serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan la njutan (tim kanker/tim onkologi). dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Karena kanker bisa kembali kambuh. Pemilihan pengobatan kanker leher rahim tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. ginjal dan hepar. Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut.

Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu. maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. atau intramuskuler. Terapi penyinaran (radioterapi) Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. III. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. vesika urinaria. ini disebut . IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Dalam hal lain. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul. Kanker serviks stadium II B. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum. Metoda radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiag nosis. Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan kemoterapi. tablet. 3. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit.2. Efek samping dari terapi penyinaran adalah iritasi rektum dan vagina. pengobatan mungkin hanya diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh. 2000). Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B. usus halus. Kemoterapi Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus. ureter. kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium berhenti berfungsi (Gale & Charette.

Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir. . Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan.pengobatan adjuvant. Dalam beberapa kasus. kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh. PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain –lain (Prayetni. 1997). Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin).

Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. DAFTAR PUSTAKA Aziz. Deteksi Dini Kanker. 97-110. Wilson. In: Ramli. Suharto O. Buku 1 Patofisiologi “Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit”. Skrining dan Deteksi Dini Kanker Serviks. H. Edisi 6.. M. et. Hubungan Antara Karakteristik Ibu Dengan Partisipasi Ibu Melakukan Pemeriksaan Papsmear di Klinik Adhiwarga PKBI Yogyakarta. Cara Cerdas Menghadapi Kanker Serviks (Leher Rahim). Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Jakarta : EGC. . et al. 2002. Yogyakarta: Genius Printika. Wijaya. 2005.al. Ilmu Kandungan. 2005. Pembunuh Ganas Itu Bernama Kanker Serviks. H. H. eds. eds. Jakarta: Penerbit Pustaka Populer Obor. Gangguan Sistem Reproduksi Perempuan.F.M.. 2010. Kista Indung Telur. Kanker Rahim/Leher Rahim serta Gangguan Lainnya. 1294-1296. Wiknjosastro. (Skripsi) Yogyakarta : Universitas Ahmad Dahlan. Bosch. Penyakit Kandungan Myoma. 2007. Yatim. A. Jakarta: EGC. et al. 2001. Yogyakarta:Niaga Swadaya. Sylvia. (1995). Price. edisi : 4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. F... M. Sukaca. In: Hartanto. 2009. Lorraine.