You are on page 1of 9

HISTEREKTOMI RADIKAL

A. Tipe Histerektomi
Tahun 1974, Piver dkk mengklasifikasikan 5 tipe histerektomi, yaitu:
a. Histerektomi ekstrafasial (tipe I)
Ini merupakan simple histerektomi. Maksud dari histerektomi tipe ini adalah
untuk mengangkat semua jaringan serviks. Deteksi & retraksi ureter kea rah
lateral tanpa diseksi dari uretral bed memungkinkan clamping jaringan
paraservikal tampa melakukan diseksi kearah jaringan serviks itu sendiri.
Tindakan ini sesuai untuk kanker serviks stadium IA1.
b. Histerektomi radikal yg dimodifikasi (tipe II)
Tujuannya adalah untuk mengangkat jaringan paraservikal lebih banyak,
namun tetap mempertahankan aliran darah ke ureter sebelah distal & kandung
kemih. Ureter dibebaskan dari posisi paraservikal, namun tidak di diseksi di luar
ligamentum pubovesikal. Ligamentum kardinale & 1/3 atas vagina diangkat.
Tindakan ini biasanya dilakukan pada kanker serviks stadium IA2.
c. Histerektomi radikal (tipe III)
Tindakan operasi ini sering dilakukan pada kanker serviks stadium IB. tujuan
prosedur ini adalah eksisi radikal yg luas dari jaringan parametrium &
paravesikal, serta pengangkatan KGB pelvis. Arteri uterine di ligasi dari asalnya
di arteri iliakan interna. Dilakukan diseksi ureter dari ligamentum pubovesikal
hingga ke masuknya ureter ke kandung kemih, kecuali sebagian kecil lateral dari
ligamentum dipertahankan antara ujung bawah ureter & arteri vesikalis superior,
yg akan mempertahankan aliran darah ke ureter sebelah distal. Ligamentum
uterosakral di eksisi pada pertemuannya dengan sacrum, sedangkan
ligamentum kardinale di eksisi pada dinding pelvis. ½ bagian vagina juga
diangkat.
d. Histerektomi radikal yg diperluas (tipe IV)
Tujuan operasi ini adlaah pengangkatan seluruh jaringan periuretral.
Tindakan ini berbeda dari histerektomi tipe III yaitu dari aspek: dilakukan diseksi
ureter seluruhnya dari ligamentum pubovesikal, arteri vesikalis superior
dikorbankan dan ¾ vagina dieksisi. Resiko terjadinya fistula ureter meningkat
dengan prosedur ini.
e. Eksentrasi parsial (tipe V)
Tujuan operasi ini adalah pengangkatan kanker yg mengalami rekuren
sentral yg melibatkan ureter sebelah distal atau kandung kemih. Prgan yg
bersangkutan di eksisi secara parsial & ureter di implantasikan kembali ke dalam
kandung kemih. Perosedur ini biasanya dilakukan jika tidak sengaja ditemukan
kanker yg melibatkan ureter sebelah distal pada saat dilakukan histerektomi
radikal. Alternative lain, operasi dapat dilibatkan & pasien diterapi dg radiasi.
Klasifikasi histerektomi radikal berdasarkan luas pengangkatan jaringan
paraservikal yaitu (International Gynecologic Cancer Society):
 Kelas A: reseksi minimal jaringan paraservikal  serviks diangkat secara intoto

Vagina dibersihkan dengan larutan providon iodine h. Pasien diberikan antibiotic profilaksis C. Pasien diberikan informasi mengenai prosedur dan konsekuensi yg mungkin terjadi i. Kateter transurethral  dipasang saat operasi untuk memonitor ekskresi renal f. semua organ di palpasi secara sistematis & jika diduga ada oenyebaran & metastase dilakukan pemeriksaan potong beku Histerektomi radikal Dengan uterus yg dilakukan traksi.  Kelas B: reseksi jaringan paraservikal pada daerah ureter  reseksi komponen fibrous  Kelas C: reseksi jaringan paraservikal pada daerah dinding pelvis  reseksi seluruh jaringan paraservikal  Kelas D: perluasan reseksi sesuai struktur anatomi dinding pelvis  prosedur eksenterasi B.12 jam sebelum operasi & kolon dikosongkan sepenuhnya jika memungkinkan g. Ureter diidentifikasi & rongga paravesikal & pararektal dibuka dengan diseksi secara tumpul & tajam Pemisahan kandung Plika vesikouterina dibuka & dibebaskan dari serviks kemih anterior & bagian atas vagina Ligasu arteri uterine Arteri uterine diligasi pada pangkal percabangan dengan arteri hipogastrika . Persiapan Histerektomi Radikal Persiapan untuk operasi. Teknik Histerektomi Radikal Insisi Dinding abdomen dibuka melalui insisi lower midline yg diperluas ke sebelah kiri umbilicus atau melalui insisi low transverse Maylard atau Cherney Eksplorasi Setelah memasuki rongga peritoneum. inkontinensia) e. Urografi intravena  menilai abnormalitas fungsional & anatomis dari traktus urinarius b. Penilaian urodinamik  menunjukkan abnormalitas yg sebelumnya (ex. a. kita memasuki retroperitoneum melalui ligamentum rotundum kiri & kanan. Tujuan persiapan operasi adalah untuk meminimalisasi resiko komplikasi intraoperatif & post operatif. Kultur urin  menilai ada tidaknya infeksi pada traktus urinarius d. Sistokopi  dapat menunjukkan bullous edema atau invasi tumor ke kandung kemih c. terutama operasi radikal. termasuk didalamnya adalah anamnesa riwayat medis & operatif (disertai hasil patologi jika ada). Persipan kolon  pasien puasa min. pemeriksaan fisik diagnostic untuk menilai kondisi umum pasien & toleransi operasi serta menilai penyebaran/perluasan penyakit.

Jika ovarium hendak dipertahankan. emboli paru. Jika ovarium hendak diangkat. burst abdomen. c. disfungsi seksual . & saraf. thrombosis vena. ovarium dibebaskan dari fundus melalui transeksi lgamentum ovarium & tuba falopi Reseksi vagina Seberapa panjang vagina yg hendak diangkat tergantung dari lesi primer & temuan koloskopi di vagina Limfadenektomi Bila ada pembesaran KGB pelvis atau paraaorta yg pelvis dikonfirmasi dengan frozen section. Komplikasi intraoperatif Cedera pada kandung kemih. Komplikasi post-operatif Infeksi traktus urinarius. fistula uterovaginal. fistula vesikovaginal. ligamentum kardinale di klem sedekat mungkin ke dinding pelvis. rectum dipisahkan dari vagina posterior & ligamentum uterosakral & ligamentum tersebut di potong pada pertengahannya Diseksi lateral Setelah ligamentum uterosakral terbagi. pembuluh darah pelvis. usus. obstruksi ureter. maka yg diangkat atau dibuang hanya kelenjar getah bening yg membesar & untuk menghilangkan mikromestatase dapat dilakukan radiasi eksternal. Komplikasi a. limfadema. demam. Diseksi ureter Masing2 ureter dibebaskan dari perlengketan dengan peritoneum & juga dibebaskan dari sisi uterus sampai ke tempat muara ureter dengan kandung kemih Diseksi posterior Peritoneum yg melewati kavum Douglas di insisi & rongga rektovaginal diidentifikasi dengan melakukan traksi pada rectum. ureter. Komplikasi lanjut histerektomi Disfungsi kandung kemih yg memanjang. Jika tidak ada KGB yg dicurigai. Dapat pula terjadi banyak kehilangan darah yg kadang membutuhkan transfuse darah. Peritoneum pelvis tidak ditutup & tidak dipasang drain kecuali ada kekhawatiran hemostasis D. ligamentum infundibulopelvikum di klem & dipotong. maka dilakukan limfadenektomi pelvis seluruhnya Post ekstirpasi Rongga peritoneum di irigasi menggunakan air hangat atau saline. ileus. Dengan menggunakan diseksi tajam & tumpul. b.

PATHWAY Usia koitus pertama Sering paritas Berganti-ganti Hygiene Merokok kali <16 tahun pasangan Sering terjadi Penggunaan Lender serviks Sel mukosa pada perlukaan di organ Resiko tertular antiseptic mengandung nikotin serviks belum reproduksi penyakit menular berlebihan matang seksual tinggi Menurunkan daya Port de enrtry Iritasi mukosa tahan serviks Rentan terhadap kuman terbuka rangsangan Mukosa rentan Rentan terhadap Infeksi virus HPV terhadap rangsangan invasi virus Masuknya mutagen Metaplasia sel Neoplasia intraepitelia serviks Dysplasia sel Deferensiasi sel2 epitel Perubahan struktur sel & fungsi sel2 normal Aktivitas regenerasi sel meningkat Sel2 ganas/karsinoma Menekan jaringan Kurang sekitar pengetahuan tentang proses penyakit Ulkus nekrosis Iskemia jaringan jaringan Ansietas Pengeluaran Perdarahan saat Jaringan sekitar Perdarahan massif bradikinin. histamine koitus serviks rapuh Deficit volume Penekanan ujung Ketidakpuasan saat Kerusakan cairan saraf simpatik koitus integritas jaringan Respon nyeri Perubahan pola seksual Nyeri akut Radikal Histerektomi Pre operasi Intra operasi Post operasi Kurang Prosedur pengetahuan pembedahan Efek anastesi saat Pembedahan pada Perlukaan pada tentang prosedur pembedahan vesika urinaria bekas pembedahan pembedahan Diskontinuitas jaringan Penurunan Sensai rangsang Terbukanya port de Ansietas kesadaran VU menurun entry kuman Perdarahan massif Tingkat Kesulitan Resiko infeksi Deficit volume kewaspadaan pengosongan VU cairan berkurang Retensi urin Resiko cedera .

Gangguan pola eliminasi .

kompres akan membuat klien rileks dan nyaman hangat/dingin sehingga dapat mengurangi nyeri Tingkatkan istirahat Istirahat akan membuat klien merasa nyaman. Riwayat psikososial g. pekerjaan. selanjutnya frekuensi. dll) b. Identitas pasien dan penanggung jawab (nama. dan pemeriksaan head to toe) i. alamat. Riwayat penyakit sekarang d. Diagnosa dan Intervensi Nyeri akut Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam klien tidak mengalami nyeri Kriteria hasil :  klien melaporkan nyeri berkurang  klien mengatakan mampu mengontrol nyeri  klien mampu mengenali nyeri INTERVENSI RASIONAL Lakukan pengkajian nyeri secara Memudahkan menentukan inetrvensi komprehensif termasuk lokasi nyeri. sehingga nyeri dapat berkurang Kolaborasi: Penggunaan agens-agens farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. untuk mengurangi atau menghilangkan seperti nyeri Resiko Infeksi . distraksi. Pemeriksaan penunjang 2. pola aktivitas dan latihan. pola istirahat dan tidur) h. tanda-tanda vital. usia. pencahayaan. Riwayat kesehatan masa lalu e. Pengkajian Pengkajian meliputi: a. pola eliminasi. Pemeriksaan fisik (pemeriksaan kesadaran. Riwayat kesehatan keluarga f. relaksasi. Keluhan utama c. pendidikan. dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Apabila faktor pencetus berkurang maka intensitas nyeri akan berkurang Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan Dukungan dari keluarga dapat menemukan dukungan membantu klien mengatasi nyeri Ajarkan tentang teknik non farmakologi: Teknik non farmakologi yang benar napas dada. kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari Mengidentifikasi adanya nyeri pada ketidaknyamanan klien Kontrol tekanan darah klien Perubahan tekanan darah dapat mengindikasikan adanya reaksi dari pemberian obat-obatan Kontrol lingkungan yang dapat Mengurangi faktor pencetus nyeri mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan. durasi. Pola kebiasaan sehari-hari (pola nutrisi. ASUHAN KEPERAWATAN 1. jenis kelamin.

hasil-hasil yg berbeda. dan malnutrisi) Pantau hasil laboratorium (DPL. persepsi persepsi akan mengurangi kecemasan klien Dengarkan dengan penuh perhatian Membuat klien merasa tenang dan mengurangi kekhawatiran klien . ketakutan. lesi kulit. mengidentifikasikan adanya infeksi protein serum. pembuangan. keletihan. dan perasaan. tanggap imun infeksi berkembang leboh cepat rendah.usia lanjut. penampilan urin. denyut jantung. genitourinaria dalam batas normal INTERVENSI RASIONAL Pantau tanda/gejala infeksi (missal. infeksi dan mengurangi keparahan suhu kulit. bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan  Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas  Klien mampu mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas INTERVENSI RASIONAL Identifikasi tingkat kecemasan Membantu menentukan intervensi selanjutnya Bantu klien mengenali situasi yang Mengidentifikasi sumber kecemasan klien menimbulkan kecemasan Dorong klien untuk mengungkapkan Mengungkapkan perasaan. malaise) infeksi yg mungkin sudah terjadi Kaji faktor yg meningkatkan serangan Faktor pemberat dapat mengakibatkan infeksi (missal. gastrointestinal.Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam resiko infeksi tidak menjadi aktual Kriteria hasil :  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi  Klien menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi  Jumlah leukosit dalam batas normal  Klienmenunjukkan perilaku hidup sehat  Status imun. memungkinkan pencegahan terhadap penampilan luka. hitung Perubahan hasil laboratorium granulosit absolut.suhu Mengetahui tanda infeksi secara dini tubuh. ekspresi wajah. ketakutan. sekresi. dan albumin) Ajarkan pasien teknik mencuci tangan yg Cuci tangan dengan benar dapat benar mencegah transmisi organism Ajarkan kepada pasien dan keluarganya Pengetahuan tentang tanda gejala tanda/gejala infeksi dan kapan harus infeksi memungkinkan pencegahan melaporkannya ke pusat kesehatan infeksi lebih dini Berikan terapi antibiotic bila diperlukan Mencegah infeksi Ansietas Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam kecemasan klien teratasi Kriteria hasil :  TTV klien dalam batas normal  Postur tubuh.

.. D. Temani klien untuk memberikan keamanan Memberikan keamanan pada klien dan dan mengurangi takut mengurangi takut Jelaskan semua prosedur dan apa yang Mengurangi kecemasan klien. http://repository. 2010. Bare.pdf. NANDA.ac. Brunner & Suddarth Textbook of Medical Surgical Nursing 10th Edition. 2005. Adam Malik Medan Januari 2002-Desember 2006. Brenda G. Jakarta: EGC. Tesis: Histerektomi Radikal pada Kanker Serviks di RSUP H. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Suzanne C.usu. dirasakan selama prosedur meningkatkan pemahaman klien mengenai prosedur tindakan yang akan dilakukan Libatkan keluarga untuk mendampingi klien Keluarga dapat member dukungan positif kepada klien Instruksikan pada klien untuk menggunakan Untuk mengurangi kecemasan yang teknik relaksasi dirasakan klien Kolaborasi: Pemberian obat anti cemas sesuai dengan Berikan obat anti cemas kebutuhan klien dapat mengurangi kecemasan klien DAFTAR PUSTAKA Faradina. Smeltzer. Lippincott Williams & Wilkins. 2009.id/bitstream/123456789/6451/1/09E00708.