You are on page 1of 8

PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS

DINAS KESEHATAN
UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSKESMAS RANTAU TIJANG
Jl. Raya Rantau Tijang Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus

KEPUTUSAN
KEPALA UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG
NOMOR : SK/ 059 /AK/I/27/2017

TENTANG

PENETAPAN SISTEM PENGELOLAAN RUJUKAN
PADA UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG

KEPALA UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemantapan kinerja pada kegiatan / program lingkup
UPT Puskesmas Rantau Tijang, Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus.
b. bahwa untuk peningkatan pelayanan di tingkat puskesmas perlu dan
penetapan system Pengeloaan Rujukan pada Puskesmas Rantau Tijang.
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b
perlu ditetapkan dengan keputusan Kepala UPT Puskesmas Rantau Tijang;

Mengjngat : 1. Undang-Undang Nomor 02 tahun 1997 tentang pembentukan Daerah
Kabupaten Tingkat II Tanggamus (lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3667);
2. Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang
Sistem Kesehatan Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 193;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014
tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 1676);
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 46 Tahun 2015 tentang Akreditasi
Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat
Praktik Mandiri Dokter Gigi;
6. Peraturan Daerah Kabupaten Tanggamus Nomor 08 Tahun 2016 tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Tanggamus
(Lembaran Daerah Kabupaten Tahun 2016 Nomor 142, tambahan lembaran
Daerah Kabupaten Tanggamus Nomor 47). Peraturan Daerah Kabupaten
Tanggamus Nomor 16 Tahun 2008, Tentang Organisasi Dan Tata Kerja
Dinas – Dinas Kesehatan;

1

MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG TENTANG PENETAPAN SISTEM PENGELOLAAN RUJUKAN UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANGGAMUS Kesatu : Untuk kelancaran system Pengelolaan Rujukan di UPT Puskesmas Rantau Tijang dibuat Pedoman Sistem rujukan sebagaimana terlampir yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keputusan ini Kedua : Segala biaya yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan keputusan ini akan dibebankan kepada Anggaran UPT Puskesmas Rantau Tijang apabila memungkinkan Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal Januari 2017 dan apabila terjadi kekeliruan didalamnya maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya Ditetapkan di : Rantau Tijang Pada tanggal : 21 Desember 2016 KEPALA UPT PUSKESMAS RANTAU TIJANG KABUPATEN TANGGAMUS ERMAN SUSILO HADI. 2 . Tentang Pembebasan Biaya Pelayanan Kesehatan Dasar. 7. Peraturan Bupati Nomor 6 Tahun 2008. SKM.

..LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALAPUSKESMAS NOMOR :.. Prosedur Klinis:  Melakukan anamnesis.....  Rujukan kasus yang memerlukan standart kompetensi tertentu (sub spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tingkat I (Puskesmas.... Bidan Praktek.. TENTANG : SISTEM PELAYANAN RUJUKAN 1......  Pasien (pada point 4) diantar dengan kendaraan ambulans dan diserah terimakan oleh petugas.  Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan dan memastikan bahwa unit pelayanan tujuan dapat menerima pasien  Untuk pasien gawat darurat harus didampingi tenaga kesehatan yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien. Prosedur Rujukan Pasien dari Puskesmas ke RS A............. Klinik) dapat merujuk langsung ke rumah sakit rujukan yang memiliki kompetensi tersebut B. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medik untuk menentukan diagnosis utama dan diagnosis banding.  Memberikan tindakan stabilisasi sesuai kasus berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO).. Prosedur Administratif: 3 .Dokter Praktek... agar petugas dan kendaraan pengantar tetap menunggu sampai pasien di IGD mendapat kepastian pelayanan. apakah akan dirujuk atau ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

nama puskesmas/dokter keluarga. Informasi balasan hasil 4 . Lembar kedua untuk surat rujukan balik ke puskesmas.  Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien. C. Prosedur Administratif: Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat informasi tersebut di buku register pasien rujukan.kemajuan pengobatan. status jaminan kesehatan yang dimiliki.  Menyiapkan sarana transportasi  Menghubungi rumah sakit yang akan dituju dengan menggunakan sarana komunikasi dan menjelaskan kondisi pasien. dan yang ke 3 untuk arsip pasien. Prosedur Klinis:  Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh Rumah Sakit yang terakhir merawat pasien tersebut.  Pengoperasian mobil ambulan sesuai aturan lalu lintas. b. 1. tujuan rujukan penerima. Prosedur sistem informasi rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit: a. yang berisikan antara lain : nomor surat. 3. nama pasien yang dirujuk. jenis pemeriksaan yang diminta.  Perkembangan dan tindakan yang diberikan terhadap pasien di dalam ambulance dicatat dalam catatan perkembangan pasien/surat rujukan 4. Surat Rujukan Spesimen). Surat Rujukan Tersedia informasi tentang kerjasama dengan fasilitas rujukan lain. tanggal. nama dan tandatangan dokter/bidan yang memberikan pelayanan serta keterangan tambahan yang dianggap perlu dan penting. jenis/bahan/asal spesimen. c. RujukanSpesimen Informasi rujukan spesimen dibuat oleh pihak pengirim dengan mengisi surat rujukan spesimen. Prosedur Pengelolaan pasien di ambulans  Pasien yang dirujuk didampingi oleh petugas kesehatan yang mampu mengawasi dan antisipasi kegawatdaruratan. nama dan identitas pasien. tanggal pengambilan spesimen. nomor spesimen yang dikirim. (format surat balasan rujukan terlampir). lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan. Surat balasan rujukan yang dikirimkan kepada pengirim pasien rujukan.  Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan memantau kondisi klinis pasien sampai sembuh. Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan dicatat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan. yang berisikan antara lain: no rujukan.  Pengiriman dan penyerahan pasien disertai surat rujukan ke tempat rujukan yang dituju. tindakan dan obat yang telah diberikan. nama kabupaten/kota. serta diagnosis klinis.  Di dalam ambulan tersedia sarana prasarana life saving ( sesuai kondisi pasien ). hasil diagnosa setelah dirawat.  Membuat rekam medis pasien.  Menjelaskan/memberikan Informed Consernt (persetujuan/penolakan rujukan)  Membuat surat rujukan pasien rangkap 3. kemudian menyimpannya pada rekam medis pasien yang bersangkutan dan memberi tanda tanggal / jam telah ditindaklanjuti. 2. diagnosa.  Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan medis.  Adanya komunikasi antar petugas yang ada di ambulan dengan rumah sakit perujuk. memuat : nomor surat. Prosedur Operasional menerima rujukan balik pasien. kondisi pasien saat keluar dari perawatan dan tindak lanjut yang diperlukan. nama dan identitas pasien. tanggal. BalasanRujukan Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah merawat pasien rujukan tulisan balasan rujukan harus jelas dan dapat dibaca oleh petugas kesehatan di Puskesmas. status jaminan kesehatanyang dimiliki pasien baik pemerintah maupun swasta. (Lihat format R/2. termasuk pemeriksaan penunjang diagnostik. tujuan rujukan penerima. status jaminan kesehatan yang dimiliki.

pemeriksaan bahan / spesimen yang dirujuk dibuat oleh pihak laboratorium penerima dan segera disampaikan pada pihak pengirim dengan menggunakan format yang berlaku di laboratorium yang bersangkutan. hal ini perlu dilakukan agar penanganan kegawatan dapat segera diberikan. Sehingga kecepatan rujukan sangat penting. Namun untuk kasus – kasus gawat darurat seperti  Perdarahan pada kehamilan dini o Abortus imminen o Abortus inkompletus dan missed abortion o Mola hidatidosa o Kehamilan Ektopik o Abortus kompletus  Perdarahan Pada Trimester 3  Perdarahan Ante Partum o Abrupsio Plasenta  Perdarahan Post Partum o Atonia Uteri o Retensi Plasenta o Ruptur Perineum Derajat Iii –Iv Atau Robekan Serviks  Hipertensi (PEB atau Eklampsia)  Penyulit Pada Persalinan o Tali Pusat Menumbung o Fetal Distress o Distosia Bahu o Presentasi Majemuk  Penyakit Lain Yang Mengancam Keselamatan Ibu Bersalin o Sesak ( Asma Serangan ) o Krisis Tiroid o Demam Tinggi/Ketuban Pecah8 Jam  Persalinan Pre-Term <37 Minggu  Partus Macet/Kemajuan Persalinan Tidak Normal 5 . tidak di puskesmas. terutama untuk kasus-kasus gawat darurat. dimana pasien datang berdua dan haruslah kembali minimal 2 orang atau lebih tidak boleh kurang. Prosedur Rujukan Gawat Darurat untuk Kasus KIA Rujukan pada kasus KIA sangatlah sensitif karena menyangkut dua nyawa. 5. Pada awal kehamilan tenaga medis yang melakukan ANC baik bidan maupun dokter umum di puskesmas harus memberikan edukasi apakah ibu termasuk dalam kategori beresiko seperti memiliki :  Hiperemesis Gravidarum  Hipertensi Dalam Kehamilan o Hipertensi dalam kehamilan o Pre-eklamsi  Gejala dan Penyakit lain yang memerlukan manajemen khusus o Sesak o Riwayat Diabetes Melitus o Memiliki Resiko HIV o Demam Tinggi o dll  Pertumbuhan janin terhambat (PJT) : tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan  Kelainan kehamilan (hubungan yang abnormal antara janin dan panggul) o Gemelli o Kelainan letak. posisi o DKP (Disproporsi Kepala Panggul) Apabila terdapat ibu hamil dengan kasus tersebut maka wajib bagi puskesmas untuk mengedukasi ibu agar melakukan persalinan di Rumah Sakit PONEK terdekat dari lokasi tinggal.

 Setelah mendapat pelayanan persalinan di rumahsakit. Pertemuan perencanaan minimal dilakukan sebulan sekali. apabila RS PONEK tujuan bekerja sama dengan BPJS maka lebih baik 6.  Dilakukan koordinasi dengan Dokter Spesialis yang memimpin rapat-rapat teknis medik di RS untuk menyiapkan tindakan kepada ibu-ibu yang akan masuk ke RS.  Dengan demikian Ibu-ibu yang termasuk ke dalam kelompok bermasalah perlu mendapat rujukan terencana. Pertimbangan untuk memilih Rumah Sakit PONEK adalah  Jarak yang dekat  Kompetensi serta kelengkapan peralatan rumah sakit  Jaminan kesehatan yang dapat digunakan. Prosedur Administratif rujukan KIA pada ibu yang diprediksi bermasalah:  Puskesmas atau bidan melaporkan daftar ibu-ibu gawat darurat ke sudinkes melalui laporan K1-K4  Dinas Kesehatan menyerahkan data ibu-ibu kelompok A ke RS PONEK 24 jam untuk persiapan pelayanan medis sesuai pedoman pelayanan klinis (PPK) atau clinical guidelines yang dikembangkan oleh tim klinik. apabila ternyata tidak terjadi komplikasi yang telah diprediksi sebelumnya 7. Contoh kondisi pasien yang masuk didalam kategori ini adalah  Pasien dengan penyakit kanker yang memerlukan kemoterapi rutin  Pasien dengan cacat tubuh menetap  Pasien gagal ginjal kronis yang membutuhkan cuci darah rutin  Pasien lain dengan kondisi sakit menetap 9. Prosedur Administratif:  Mencatat di buku register hasil pemeriksaan untuk arsip sebagai pasien dengan kondisi tetap 6 . Prosedur Rujukan Khusus untuk Pasien dengan kondisi sakit menetap Pasien yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien dengan kondisi sakit menetap sehingga dikhawatirkan mobilisasi terlalu banyak dapat memperburuk kondisinya tersebut. o Grafik Partograf Menunjukan Persalinan Mendekati Garis Bertindak o Persalinan Per Vaginam melalui Induksi Atau Stimulasi o Persalinan Pervaginam Dengan Tindakan Pada kasus-kasus gawat darurat tersebut puskesmas atau bidan dapat segera merujuk ke Rumah Sakit PONEK terdekat untuk segera dilakukan tindakan.  Pada hari yang ditentukan ibu-ibu yang bermasalah diantar sehingga ibu-ibu ini dapat sampai di rumahsakit dan mendapat pelayanan. maka bidan/dokter penolong pertama harus memutuskan secara cepat dan tepat untuk melakukan rujukan setelah dilakukan stabilisasi  Pasien / ibu bersalin yang telah didiagnosis memiliki komplikasi pada persalinan segera dipersiapkan untuk dirujuk ke rumah sakit PONEK  Bidan menelpon atau SMS ke RS PONEK 24 jam sembari merujuk pasien 8.  Dilakukan perencanaan persalinan di RS PONEK oleh tim rujukan. karena merupakan kasus yang telah diprediksi dapat menimbulkan komplikasi apabila ditangani di fasilitas kesehatan primer atau oleh bidan. Dimasyarakat perlu ada tim pengantar.  Ibu-ibu yang bermasalah dapat pula bersalin dengan normal. Bidan desa akan mengantar sampai ke rumahsakit dan melakukan serah terima. Tim pengantar ini sebaiknya didanai oleh masyarakat. sekaligus sebagai monitoring. tanpa perlu menelepon. ibu dan bayi yang selamat akan kembali ke rumah dengan pengantaran dari rumahsakit atau dijemput kembali oleh masyarakat. dan Rumah Sakit PONEK wajib melakukan tindakan pada pasien itu. Prosedur administratif Rujukan KIA pada ibu dengan kondisi Gawat Darurat  Puskesmas/bidan menerima ibu hamil yang akan bersalin  Apabila ternyata ada penyulit pada persalinan.

11.  Pasien dapat dirujuk tanpa perlu datang ke puskesmas 10.  Prosedur Administratif o Meneliti isi surat rujukan spesimen dan penunjang diagnostik lainnya yang diterima secara cermat dan jelas termasuk nomor surat dan jaminan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Prosedur Menerima Rujukan Spesimen Prosedur standar menerima rujukan spesimen dan penunjang diagnostik lainnya  Prosedur Klinis o Menerima dan memeriksa spesimen/penunjang diagnostik lainnya sesuai dengan kondisi pasien/bahan yang diterima dengan memperhatikan aspek : sterilisasi. pemeriksaan laboratorium darah pada saat reagen habis. reagen guna tes mantoux. o Memastikan bahwa spesimen yang diterima tersebut layak untuk diperiksa sesuai dengan permintaan yang diinginkan. 13. Spesimen dapat dikirim dan diperiksa tanpa disertai pasien yang bersangkutan.  Untuk spesimen. Prosedur Klinis:  Menyiapkan pasien/spesimen untuk pemeriksaan lanjutan. 7 . orang lain dan kelayakan untuk pemeriksaan. Prosedur rujukan horizontal (Puskesmas ke Puskesmas) Rujukan horizontal dilakukan pada kondisi tertentu dimana puskesmas tidak memiliki kelengkapan yang seharusnya ada didalam puskesmas seperti. o Mencacat informasi yang diperlukan di buku register / arsip yang telah ditentukan masing-masing instansinya. maka spesimen tersebut dikembalikan. Biaya untuk puskesmas rujukan akan diambil dari kapitasi puskesmas yang merujuk. pemeriksaan rontgen thorax. Prosedur Merujuk Spesimen  Pemeriksaan Spesimen dan Penunjang Diagnostik lainnya dapat dirujuk apabila pemeriksaannya memerlukan peralatan medik/teknik pemeriksaan laboratorium dan penunjang diagnostik yang lebih lengkap. 14.  Mengirim surat rujukan spesimen/penunjang diagnostik lainya ke alamat tujuan dan lembar kedua disimpan sebagai arsip. keselamatan pasien.  Memastikan bahwa pasien/spesimen yang dikirim tersebut sudah sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan identitas yang jelas (dilengkapi jam pengambilan). kontaminasi penularan penyakit. informasi pemeriksaan yang diinginkan. Prosedur Administratif:  Mengisi format dan surat rujukan spesimen/penunjang diagnostik lainnya secara cermat dan jelas termasuk nomor surat dan jaminan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.Prosedur standar pengiriman rujukan spesimen dan Penunjang Diagnostik lainnya 12. dll. pemeriksaan EKG pada saat kertas EKG habis maupun rusak. informasi jenis spesimen/penunjang diagnostik lainnya pemeriksaan yang diinginkan. keselamatan pasien dan orang lain serta kelayakan untuk jenis pemeriksaan yang diinginkan. kontaminasi penularan penyakit. identitas pasien dan diagnosa sementara serta identitas pengirim.  Rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan spesimen tersebut harus mengirimkan laporan hasil pemeriksaan spesimen yang telah diperiksanya. o Memastikan kerahasiaan pasien terjamin.  Mencacat informasi yang diperlukan di buku register yang telah ditentukan masing-masing intansinya. perlu dikemas sesuai dengan kondisi bahan yang akan dikirim dengan memperhatikan aspek sterilitas. o Mengerjakan pemeriksaan laboratoris atau patologis dan penunjang diagnostik lainnya dengan mutu standar dan sesuai dengan jenis dan cara pemeriksaan yang diminta oleh pengirim. identitas pasien dan diagnosa sementara serta identitas pengiriman o apabila specimen yang diterima tidak layak.

o Mengirimkan hasil pemeriksaan tersebut secara tertulis dengan format standar masing- masing sarana kepada pimpinan institusi pengirim. 8 .