You are on page 1of 23

Taufik Hidayat Zein

Bulan: Maret 2014
Teori yang berhubungan dengan
penalaran (Tugas)
A. PENALARAN DALAM TEORI AKUNTANSI

Penalaran marupakan proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi
suatu keyakinan (belief) terhadap suatu pernyataan atau asersi (assertion).Penalaran melibatkan
proses penurunan konsekuensi logis dan proses penarikan simpulan / konklusi dari serangkaian
pernyataan atau asersi.

Unsur dan Strukur Penalaran

Struktur dan proses penalaran didasari atas tiga konsep penting, yaitu :

1. Asersi, suatu pernyataan ( biasanya positif ) yang menegaskan bahwa sesuatu (misalnya teori )
adalah benar. Asersi mempunyai fungsi ganda dalam penalaran yaitu sebagai elemen pembentuk
argumen dan sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran ( berupa kesimpulan).

2. Keyakinan, merupakan tingkat kebersediaan untuk menerima suatu pernyataan atau teori (
penjelasan ) mengenai suatu fenomena atau gejala ( alam atau sosial ) adalah benar.

3. Argumen, merupakan serangkaian asersi beserta keterkaitan ( artikulasi ) daan inferensi atau
penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Dalam hal ini argumen
merupakan unsur yang paling penting karena digunakan untuk membentuk, memelihara, atau
mengubah suatu keyakinan.

Jenis Asersi

Asersi dapat diklasifikasi menjadi :

1. Asumsi, merupakan asersi yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat mengajukan atau
menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara meyakinkan.

2. Hipotesis, merupakan asersi yang kebenarannya belum atau tidak diketahui tetapi diyakini
bahwa asersi tersebut dapat diuji kebenarannya. Agar disebut sebagai suatu hipotesis maka suatu
asersi juga harus mengandung kemungkinan salah, karena jika asersi adalah benar maka asersi
akan menjadi pernyataan fakta.

3. Pernyataan fakta, merupaakan asersi yang bukti tentang kebenarannya diyakini sangat kuat
atau bahkan tidak dibantah.

Jenis Argumen

Argumen dapat diklasifikasi sebagai berikut :

1.Argumen Deduktif, atau argumen logis merupakan argumen yang asersi konklusinya tersirat
atau dapat diturunkan dari asersi – asersi lain yang diajukan.

2. Argumen Induktif, argumen ini lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya. Akan tetapi
dalam argumen ini konklusi tidak selalu benar walaupun kedua premis benar.

Bukti adalah sesuatu yang memberi dasar rasional dalam pertimbangan (judgement) untuk
menetapkan kebenaran suatu pernyataan (to establish the truth). Dalam hal teori akuntansi,
pertimbangan diperlukan untuk menetapkan relevansi atau keefektifan suatu perlakuan akuntansi
untuk mencapai tujuan akuntansi.

Keyakinan yang diperoleh seseorang karena kekuatan atau kelemahan argument adalah terpisah
dengan masalah apakah pernyataan yang diyakini itu benar (true) atau salah (false). Dapat saja
seseorang memegang kuat keyakinan terhadap sesuatu yang salah atau sebaliknya, menolak
suatu pernyataan yang benar (valid).

Properitas Keyakinan

Pemahaman terhadap beberapa prosperitas (sifat) keyakinan sangat penting dalam mencapai
keberhasilan berargument. Berikut ini prosperitas keyakinan yang perlu disadari dalam
berargumen : keadabenaran, bukan pendapat, bertingkat, berbias, bermuatan nilai, berkekuatan,
veridikal ( tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas ), dan berketempaan ( kelentukan
keyakinan berkaitan dengan mudah tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi
yang relevan ).

Kecohan (Fallacy )

Kecohan merupakan kesalahan dalam menerima suatu asersi yang ada kenyataannya asersi
tersebut membujuk dan dianut banyak orang padahal seharusnya tidak.

Salah Nalar

Kesalahan nalar dapat terjadi jika penyimpulan tidak di dasarkan pada kaidah – kaidah penalaran
yang valid. Walaupun salah nalar dapat dipakai sebagai suatu strategem ( pendekatan atau cara –
cara untuk mempengaruhi keyakinan orang dengan cara selain mengajukan argumen yang valid

atau masuk akal ). tidak selayaknya jika kaidah penalaran yang sangat baik ditolak semata – mata karena argumen sering di salah gunakan. Jika besar dua sudut pada suatu segitiga adalah 600 dan 1000 maka sudut yang ketiga adalah 1800 – (1000 + 600) = 200. yang kemudian dibuktikan secara deduktif. 1. B. Dengan demikian. kita dapat menyimak bahwa suatu kesimpulan dapat ditentukan setelah terjadi proses analisis terhadap fakta-fakta yang ada yang telah diketahui. Hal ini didasarkan pada teori matematika yang menyatakan bahwa jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga adalah 1800. Pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala). jujur dan komunikatif pada siswa. maka Andi akan lebih tinggi dari Chandra. maka Amir berumur 12 tahun. kemudian disimpulkan menjadi yang bersifat umum. Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati. memperkirakan hasil baru yang diharapkan. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Jadi. yaitu penalaran atas dasar dari hal-hal yang bersifat khusus. yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penerapan cara kerja matematika diharapkan dapat membentuk sikap kritis. secara bahasa berarti penalaran yang bersifat induksi. . penalaran deduktif berarti penalaran yang bersifat deduksi. kreatif. Menurut kaidah bahasa Indonesia. Penalaran Induktif dan Deduktif Penalaran dalam matematika dapat dibedakan menjadi dua macam. Dengan demikian 998 + 1236 sama nilainya dengan 1000 + 1234 yang bernilai 2234. ada baiknya anda simak beberapa contoh berikut ini: 1• Jika Andi lebih tinggi dari Bani dan Bani lebih tinggi dari Chandra. 1• Jika Johan berumur 10 tahun dan Amir berumur dua tahun lebih tua. PENALARAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MI Untuk memahami pengertian penalaran dalam pembelajaran matematika. yaitu penalaran atas dasar hal-hal yang bersifat umum kemudian diturunkan ke hal-hal yang khusus. Untuk menentukan hasil dari 998 + 1236 maka dapat dilakukan dengan cara mengambil (meminjam) 2 nilai dari 1236 untuk ditambahkan ke 998 sehingga menjadi 1000. 998 + 1236 = 1000 + 1234 = 2234. Sedangkan penalaran induktif. cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Dari contoh-contoh yang telah diuraikan di atas. Proses pengambilan kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang ada tersebut dikenal dengan istilah penalaran.

2+3=5. misal ‘tiga’ dikaitkan dengan simbol ‘3’. . dipelajari secara roting atau hafalan. Di sini kita menghadapi sesuatu atau objek yang abstrak (dan disimbolkan) dan sistem simbolis (prinsip-prinsip operasi dan hukum-hukum). Kita mulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati.Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. 0 diperoleh dari 3 – 3 3 ´ (-1) = …. 7 x 8 = 56 (fakta yang dapat dideduksi dari penjumlahan berulang). dapat ditunjukkan bahwa 3 ´ (-1) = -3. dan seterusnya. Kemudian hasil ini kita buktikan secara deduktif. tuliskan 0 sebagai 1 + (– 1). dalam matematika bukti dengan cara seperti ini belum sah (walaupun cara ini bisa dibenarkan untuk pengajaran matematika tingkat elementer atau sekolah dasar). 6 diperoleh dari 9 – 3 3 ´ 1 = 3. 3 diperoleh dari 6 – 3 3 ´ 0 = 0. Misalkan untuk menunjukkan 3 x (-1) = -3. 3 ´ 2 = 6. Dalam matematika konsep ‘himpunan’ merupakan istilah yang tidak terdefinisi. hal tersebut dibuktikan dengan menggunakan sifat distributif atau penyebaran dalam operasi penjumlahan sebagai berikut: 3 ´ 0 = 0 + 0 + 0 = 0. Buatlah daftar sifat yang muncul (sebagai gejala). Terdapat 4 jenis objek (gagasan-gagasan) pada matematika. kecuali yang konsep primitif atau paling seperti himpunan dan elemen. yaitu : Fakta. hubungan antar sisi. Secara deduktif. misalnya segitiga memerlukan pengertian banyak sisi. Hampir tiap konsep dibangun dari konsep-konsep sebelumnya. 2+3=5. Sekarang perhatikan pola perkalian berikut 3 ´ 3 = 9. Tetapi. Apabila kita kaji lanjut. Konsep. matematika merupakan serangkaian sistem simbolis yang abstrak dan saling berhubungan. Namun demikian. Dari pola tersebut. dan sebagainya. dipelajari dengan membutuhkan pemahaman tertentu. 2 x 4 = 4 + 4 = 8. Telah kita ketahui bahwa pengertian perkalian diartikan sebagai penjumlahan berulang seperti 2 x 3 = 3 + 3 = 6. dapat ditunjukkan secara induktif melalui pengertian pola perkalian. sehingga 3 ´ [1 + (– 1)] = 3 ´ 1 + 3 ´ (-1) = 3 + 3 ´ (-1) = 0 Jadi. 3 ´ (-1) = 0 – 3 = -3. kemudian perkirakan hasil baru yang diharapkan. dapat pula dideduksi dari teori himpunan gabungan dangan diagram Venn.

proses kreatif yang terjadi kadang- kadang menggunakan penalaran induktif. aksioma. misalnya teorema. perhatikan dari beberapa kasus khusus seperti: 5 + 3 = 3 + 5. operasi. Penalaran induktif sering digunakan para ilmuwan (scientist). yang akan menjadi pondasi pengetahuan matematika berikutnya yang harus dibuktikan secara deduktif. dan lema. Pernyataan seperti itu lalu dianggap bernilai benar dan dikenal dengan aksioma atau postulat. Pada awalnya proses matematisasi yang dilakukan dan dihasilkan para matematikawan adalah proses induksi atau penalaran induktif. intuisi. pernyataan yang mengkaitkan antara dua atau lebih objek matematika (fakta. konsep. orang telah percaya pada teori sebelumya bahwa bumilah yang merupakan pusat dari jagat raya itu. menambah. Dimulai dari kasus-kasus khusus yang kemudian digeneralisasikan sehingga menjadi pernyataan umum (general). Namun pada akhirnya penemuan dari proses kreatif tersebut harus diorganisasikan dengan pembuktian secara deduktif. Prinsip. berfungsi untuk melakukan hubungan yang mempunyai arti dari objek matematika yang satu ke objek yang lain. 6 + (-2) = (-2) + 6. Hal inilah yang menjadi suatu kelebihan dari penalaran induktif dibandingkan dengan penalaran deduktif. 2. Kebanyakan teori-teori dalam bidang sains ditemukan berawal dari proses penalaran induktif. Sedangkan kebenaran dalam matematika didasarkan atas sistem aksioma yang terdiri atas empat bagian penting. menghitung. dan teorema. bahkan dengan coba-coba (trial and error). Teori yang menyatakan . istilah terdefinisi. mengukur panjang. mengali. Proses berikutnya adalah proses formalisasi pengetahuan matamatika dengan terlebih dahulu menetapkan sifat pangkal (aksioma) dan pengertian pangkal. aksioma. Kelebihan dan Kelemahan Penalaran Induktif dan Deduktif Penarikan kesimpulan pada induksi yang bersifat umum akan menjadi sangat penting. Dari aksioma atau postulat ini dapat dikembangkan bangunan matematika.Operasi. Secara umum dapat kita simpulkan bahwa: 1. Untuk memperjelas pernyataan di atas. yaitu: istilah tak terdefinisi. Dulu sebelum lahirnya teori Copernicus tentang matahari sebagai pusat tata surya. Teorema-teorema yang diperoleh secara deduktif itu kemudian dipergunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah termasuk masalah-masalah dalam kehidupan nyata. misalnya pemasangan anggota dua himpunan. ataupun antar prinsip). serta beberapa kasus lainnya akan didapat suatu sifat umum pada penjumlahan yaitu a + b = b + a. Walaupun matematika menggunakan penalaran induktif. yang kemudian kita kenal dengan sifat komutatif pada penjumlahan. Namun hasil yang didapat dari proses induksi kadang-kadang masih berpeluang untuk menjadi salah. dan sebagainya. 2. karena ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang tanpa adanya penarikan kesimpulan ataupun pembuatan pernyataan baru yang bersifat umum.

matematika humanistik. pernyataan George Polya (1973: VII). dilanjutkan dengan kegiatan bereksplorasi. serta CTL (Contextual Teaching & Learning). deductive science.” Pendapat Polya ini telah menunjukkan pengakuan beliau tentang pentingnya penalaran induktif (induksi) dalam pengembangan matematika. but mathematics in the making appears as an experimental. it is the rigorous science of Euclid but it is also something else. Proses pembelajaran seperti ini. Dengan demikian sebenarnya antara penalaran induktif dengan penalaran deduktif saling melengkapi satu sama lain. Dugaan tersebut lalu akan dikukuhkan menjadi suatu teorema jika sudah dapat dibuktikan kebenarannya dengan penalaran deduktif. maka proses pembelajaran di kelas sudah seharusnya dimulai dari masalah nyata yang pernah dialami atau dapat dipikirkan para siswa. pada tahap-tahap awalnya akan lebih menggunakan penalaran induktif daripada deduktif seperti yang dinyatakan Polya tadi. Mudah- mudahan dengan proses pembelajaran seperti ini. Mathematics presented in the Euclidean way appears as a systematic.bahwa bumi merupakan pusat tata surya telah salah adanya. inductive science. Jika pada masa lalu. maka pada masa sekarang. Sebagai guru matematika. ‘masalah’ tersebut diberikan sebelum teorinya didapatkan para siswa. Implikasi Penalaran dalam Pembelajaran Matematika MI Sejalan dengan teori pembelajaran terbaru seperti konstruktivisme dan munculnya pendekatan baru seperti RME (Realistic Mathematics Education). PBL (Problem Based Learning). mathematics has two faces. maka pada masa kini. 3. ‘masalah’ diberikan setelah teorinya didapatkan para siswa. siswa belajar matematika secara deduktif aksiomatis. para siswa dituntun ataupun difasilitasi untuk belajar sehingga para siswa dapat menemukan kembali (reinvent) atau mengkonstruksi kembali (reconstruct) pengetahuannya yang dikenal dengan kontekstual learning. ataupun matematika realistik. akan tetapi para siswa dilatih dan dibiasakan untuk belajar memecahkan masalah selama proses pembelajaran di kelas sedang berlangsung. Hal tersebut menjadi salah satu kelemahan dari penalaran induktif dibandingkan dengan penalaran deduktif. dan digantikan dengan teori baru bahwa mataharilah yang merupakan pusat tata surya. dengan munculnya teori-teori belajar seperti belajar bermakna dari Ausubel (belajar bermakna). Suatu teori yang bernilai benar pada suatu saat. Dengan cara seperti itu. dan diakhiri dengan belajar matematika secara formal. kesimpulan yang diperoleh dari proses penalaran induktif masih disebut dengan dugaan (conjekuture). teori belajar dari Piaget serta Vigotsky (kontruktivisme sosial). yang menyatakan bahwa: “Yes. berikut perlu mendapat perhatian kita. dapat saja bernilai salah pada tahun-tahun berikutnya jika telah ditemukan suatu contoh sangkalan (counter example). Jika pada masa-masa lalu. pada akhirnya akan muncul penemu-penemu besar dari negara tercinta kita. Oleh karena itu di dalam matematika. lalu para siswa akan belajar matematika secara informal. para siswa kita tidak hanya dicekoki dengan teori-teori dan rumus-rumus matematika yang sudah jadi. Indonesia. Sumber : .

2. http://xsaelicia. analisis data dan interpretasi temuan. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam.com/2013/03/teori-penalaran_22.com/2013/02/penalaran-reasoning-teori-akuntansi. maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis.id/jurnal/132-penalaran-dalam-pembelajaran-matematika-mi http://hertynfrianka. yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.blogspot. jika tidak dikatakan sama.html .html .com/2011/11/penalaran-deduktif.go. Mar22 Teori yang berhubungan dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah (Tugas) Metode ilmiah merupakan suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan- pertimbangan logis. Karena itu. diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta. pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Tujuan metode ilmiah itu sendiri adalah: 1.blogspot. ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Dalam proses karakterisasi. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali. . Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen.kemenag. Selain itu.html http://bdkbandung.http://nanangbudianas. pengumpulan data yang relevan.blogspot. hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah. penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali. proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan. Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional. 3. Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan tiga langkah berikut: – Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran) Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi.

Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui. – Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas) Setelah prediksi dibuat. hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Sebagai contoh. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel. dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan.Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Syarat-syarat Metode Ilmiah. atau dipetakan. Rasional: sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia 2. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam. – Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran) Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. diantaranya : 1. seperti laboratorium. Metode Ilmiah memiliki ciri-ciri keilmuan. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi. yaitu : 1. digambarkan dalam bentuk grafik. .Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen. Sistematis: menggunakan proses dengan langkah-langkah logis. hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Obyektif. artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris. spektroskop. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi. Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati dengan menggunakan panca indera 3. teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati. maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. atau voltmeter.

3. Dasar teori berguna sebagai dasar menarik hipotesis. kedudukan. Sifat Metode Ilmiah : 1.2. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir silogismus dan terkait dengan rasionalisme. artinya pengetahuan ilmiah diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol. waktu). tidak berdiri sendiri. Universal. artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem. Induktif: Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum. 2. artinya pengetahuan tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja tetapi semua orang melalui eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama. satu dengan yang lain saling berkaitan. Penyusunan Kerangka Berpikir/ Dasar Teori Penyusunan Kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antara berbagai faktor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Wawancara dengan pakar. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan- pernyataan yang mempunyai ruang lingkup terbatas dalam menyusun argumentasi dan terkait dengan empirisme. biaya. Efisien dalam penggunaan sumber daya (tenaga. Pola pikir dalam metode ilmiah : 1. Metodik. Teruji (prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan). Perumusan masalah Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan. 3. atau melalui pengamatan langsung (observasi) di lapangan. Sistematik. 2. . sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersbut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek secara tertulis. Deduktif: Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus. dan alternatif cara untuk memecahkannya. 2. Keterangan keterangan dalam menyusun suatu dasar teori dapat diperoleh dari buku-buku laporan hasil penelitian orang lain. Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja). Struktur metode ilmiah memiliki beberapa langkah sebagai berikut: 1. 4.

Data kuantitatif harus diolah dalam bentuk tabel. – Data kuantitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk angka. Kebenarannya belum bersifat empiris. Dalam melakukan eksperimen diperlukan beberapa variabel penelitian. – Variabel Terikat adalah variabel yang muncul akibat perlakuan dari variabel bebas. Penarikan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan terhadap permasalahan atau pertanyaan yang diajukan berdasarkan kesimpulan kerangka berpikir/dasar teori. Bukan pula untuk menuruti kemauan pihak tertentu . Dengan adanya variabel penelitian akan diperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dalam eksperimen sehingga lebih mudah untuk menarik kesimpulan. grafik. atau diagram sehingga mudah dipahami orang lain Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan harus mengacu pada hasil eksperimen. – Variabel Kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Jenis-jenis penelitian sebagai berikut: – Variabel Bebas adalah variabel yang sengaja dibuat tidak sama dalam eksperimen.3. 4. Data hasil eksperimen dapat dibedakan menjadi 2 jenis sebagai berikut: – Data kualitatif yaitu data yang tidak disajikan dalam bentuk angka tetapi dalam bentuk deskripsi. Variabel penelitian tersebut ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Dari eksperimen atau percobaan tersebut akan diperoleh data. Variabel penelitian adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam suatu eksperimen. Data inilah yang akan dianalisa untuk memudahkan penarikan kesimpulan. Contoh data hasil pengukuran tinggi batang suatu tanaman. Penarikan kesimpulan bukan berdasarkan hasil rekayasa atau keinginan peneliti. Contoh data ciri morfologi. Analisis Data Data diperoleh dari hasil eksperimen. Dikatakan sebagai jawaban sementara karena hipotesis ini baru mengandung kebenarannya yang bersifat logis dan teoritis. Eksperimen/Percobaan Untuk menguji hipotesis dapat dilakukan dengan melakukan observasi dan percobaan atau eksperimen. Kesimpulan dari suatu penelitian harus diambil berdasarkan semua data yang diperoleh. karena belum terbukti melalui eksperimen.

2. Setelah menganalisa data. Sebuah contoh dari hukum biologi adalah bahwa semua makhluk hidup terdiri dari sel. dan memang faktanya ibukota Indonesia adalah Jakarta. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta. Jika hasil terus mendukung teori. Sebuah hukum ilmiah adalah fakta seragam atau konstan di alam. Dalam hal ini hipotesis baru yang dirancang dan diuji sampai teori baru muncul. Ada 2 kemungkinan yang ada dalam pengambilan kesimpulan. Teori pragmatis. Jika data dari percobaan diulang mendukung hipotesis. Tantangan berulang terhadap teori disajikan. Teori korespondensi : pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Jika hipotesis diuji dan dikonfirmasi cukup sering. ilmuwan akan mempublikasikan hipotesis dan eksperimental data untuk ilmuwan lain untuk meninjau dan membahas. Misalnya : setiap manusia akan mati. Sebuah kesimpulan yang valid harus didasarkan pada fakta-fakta yang diamati dalam percobaan. teori memperoleh status ilmiah hukum. Ketika hipotesis melewati tes itu diadopsi sebagai teori benar menjelaskan berbagai fenomena dapat setiap saat dipalsukan oleh bukti eksperimental baru.dengan cara memanipulasi data. selalu diingat bahwa teori lama mungkin gagal untuk menjelaskan percobaan baru dan pengamatan. yaitu hipotesis diterima dan hipotesis ditolak Teori Kebenaran Ilmiah 1. maka kesimpulan pasti akan mati. Ketika menjelajahi satu set baru atau fenomena ilmuwan menggunakan teori-teori yang ada namun. Kritik ini didasarkan pada salah tafsir dari metode ilmiah. karena ini merupakan daerah baru penyelidikan. Teori dan hukum Ilmuwan lain mungkin tidak hanya mengulangi percobaan tetapi mungkin melakukan percobaan tambahan untuk menantang temuan. Kemudian berbagai eksperimen tambahan menguji teori menggunakan metode eksperimental yang ketat. komunitas ilmiah menyebut hipotesis tersebut teori. Sebuah kritik sering diajukan dalam metode ilmiah hal ini disebabkan karena ia tidak dapat menampung apa saja yang belum terbukti. Kesimpulan harus memiliki hubungan yang jelas dengan permasalahannya dan hipotesis. ialah kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau memiliki kegunaan dalam kehidupan manusia. Teori koherensi : pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifata koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. 3. Sumber : . ilmuwan menarik kesimpulan. Argumen kemudian menunjukkan bahwa banyak hal yang dianggap mustahil di masa lalu kini menjadi realitas sehari-hari.

maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. .http://agusthinuz. Karena itu.com/2008/10/karya-tulis-ilmiah-ciri-dan-sikap.com/2013/06/06/metode-ilmiah/ Tahap Langkah Metode Ilmiah http://berbagireferensi. analisis data dan interpretasi temuan. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali. Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah.com/2013/03/metode-ilmiah. digambarkan dalam bentuk grafik. 3. pengumpulan data yang relevan. Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional. hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.blogspot. yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. 2. atau dipetakan.blogspot. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam.wordpress. seperti laboratorium.com/2010/06/lebih-jauh-tentang-pengertian-sikap. diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Dalam proses karakterisasi. penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel. spektroskop. Tujuan metode ilmiah itu sendiri adalah: 1. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol. Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer. ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen.html http://mulyonoprabowo.blogspot. dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan tiga langkah berikut: – Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran) Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta. atau voltmeter. dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan. jika tidak dikatakan sama. Selain itu.html http://menulisbukuilmiah.html Metode ilmiah merupakan suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan- pertimbangan logis.

Rasional: sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia 2. yaitu : 1. 3. Obyektif. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam. maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. 2. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati. maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Sebagai contoh. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis. Metode Ilmiah memiliki ciri-ciri keilmuan. tidak berdiri sendiri. artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem. hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi. Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati dengan menggunakan panca indera 3. artinya pengetahuan ilmiah diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen. hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris. Syarat-syarat Metode Ilmiah.– Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran) Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Metodik. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. satu dengan yang lain saling berkaitan. – Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas) Setelah prediksi dibuat. . Sistematis: menggunakan proses dengan langkah-langkah logis. hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi. teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan. diantaranya : 1. Sistematik.

Penyusunan Kerangka Berpikir/ Dasar Teori Penyusunan Kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antara berbagai faktor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. 3. Deduktif: Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus. biaya. Induktif: Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum. 3. waktu). kedudukan. atau melalui pengamatan langsung (observasi) di lapangan. Pola pikir dalam metode ilmiah : 1. Dasar teori berguna sebagai dasar menarik hipotesis. Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja). dan alternatif cara untuk memecahkannya.4. Teruji (prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan). Penarikan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan terhadap permasalahan atau pertanyaan yang diajukan berdasarkan kesimpulan kerangka berpikir/dasar teori. 2. Sifat Metode Ilmiah : 1. Efisien dalam penggunaan sumber daya (tenaga. sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersbut. Universal. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek secara tertulis. 2. 2. Dikatakan sebagai jawaban . artinya pengetahuan tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja tetapi semua orang melalui eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama. Keterangan keterangan dalam menyusun suatu dasar teori dapat diperoleh dari buku-buku laporan hasil penelitian orang lain. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir silogismus dan terkait dengan rasionalisme. Perumusan masalah Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan. Wawancara dengan pakar. Struktur metode ilmiah memiliki beberapa langkah sebagai berikut: 1. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan- pernyataan yang mempunyai ruang lingkup terbatas dalam menyusun argumentasi dan terkait dengan empirisme.

4. Kesimpulan harus memiliki hubungan yang jelas dengan permasalahannya dan hipotesis. Data kuantitatif harus diolah dalam bentuk tabel. karena belum terbukti melalui eksperimen. Data hasil eksperimen dapat dibedakan menjadi 2 jenis sebagai berikut: – Data kualitatif yaitu data yang tidak disajikan dalam bentuk angka tetapi dalam bentuk deskripsi. Kesimpulan dari suatu penelitian harus diambil berdasarkan semua data yang diperoleh. Data inilah yang akan dianalisa untuk memudahkan penarikan kesimpulan. – Data kuantitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk angka.sementara karena hipotesis ini baru mengandung kebenarannya yang bersifat logis dan teoritis. atau diagram sehingga mudah dipahami orang lain Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan harus mengacu pada hasil eksperimen. Eksperimen/Percobaan Untuk menguji hipotesis dapat dilakukan dengan melakukan observasi dan percobaan atau eksperimen. Variabel penelitian adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam suatu eksperimen. – Variabel Terikat adalah variabel yang muncul akibat perlakuan dari variabel bebas. Variabel penelitian tersebut ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. – Variabel Kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Contoh data ciri morfologi. Jenis-jenis penelitian sebagai berikut: – Variabel Bebas adalah variabel yang sengaja dibuat tidak sama dalam eksperimen. Penarikan kesimpulan bukan berdasarkan hasil rekayasa atau keinginan peneliti. grafik. Ada 2 kemungkinan yang ada dalam pengambilan kesimpulan. Bukan pula untuk menuruti kemauan pihak tertentu dengan cara memanipulasi data. Dari eksperimen atau percobaan tersebut akan diperoleh data. Contoh data hasil pengukuran tinggi batang suatu tanaman. yaitu hipotesis diterima dan hipotesis ditolak . Analisis Data Data diperoleh dari hasil eksperimen. Dengan adanya variabel penelitian akan diperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dalam eksperimen sehingga lebih mudah untuk menarik kesimpulan. Dalam melakukan eksperimen diperlukan beberapa variabel penelitian. Kebenarannya belum bersifat empiris.

Sebuah contoh dari hukum biologi adalah bahwa semua makhluk hidup terdiri dari sel.html http://mulyonoprabowo. Sebuah hukum ilmiah adalah fakta seragam atau konstan di alam. Teori dan hukum Ilmuwan lain mungkin tidak hanya mengulangi percobaan tetapi mungkin melakukan percobaan tambahan untuk menantang temuan. Jika hipotesis diuji dan dikonfirmasi cukup sering. Ketika menjelajahi satu set baru atau fenomena ilmuwan menggunakan teori-teori yang ada namun. ialah kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau memiliki kegunaan dalam kehidupan manusia. Misalnya : setiap manusia akan mati. Ketika hipotesis melewati tes itu diadopsi sebagai teori benar menjelaskan berbagai fenomena dapat setiap saat dipalsukan oleh bukti eksperimental baru. ilmuwan menarik kesimpulan. Setelah menganalisa data. Jika data dari percobaan diulang mendukung hipotesis. Jika hasil terus mendukung teori. Kemudian berbagai eksperimen tambahan menguji teori menggunakan metode eksperimental yang ketat. karena ini merupakan daerah baru penyelidikan. Sumber : http://agusthinuz. dan memang faktanya ibukota Indonesia adalah Jakarta. Tantangan berulang terhadap teori disajikan. maka kesimpulan pasti akan mati. Dalam hal ini hipotesis baru yang dirancang dan diuji sampai teori baru muncul. selalu diingat bahwa teori lama mungkin gagal untuk menjelaskan percobaan baru dan pengamatan. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta.Teori Kebenaran Ilmiah 1. Sebuah kritik sering diajukan dalam metode ilmiah hal ini disebabkan karena ia tidak dapat menampung apa saja yang belum terbukti.com/2013/06/06/metode-ilmiah/ Tahap Langkah Metode Ilmiah . Teori korespondensi : pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. ilmuwan akan mempublikasikan hipotesis dan eksperimental data untuk ilmuwan lain untuk meninjau dan membahas.wordpress. Argumen kemudian menunjukkan bahwa banyak hal yang dianggap mustahil di masa lalu kini menjadi realitas sehari-hari. 3. teori memperoleh status ilmiah hukum. 2. Teori koherensi : pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifata koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.blogspot. Sebuah kesimpulan yang valid harus didasarkan pada fakta-fakta yang diamati dalam percobaan. Teori pragmatis. komunitas ilmiah menyebut hipotesis tersebut teori.com/2013/03/metode-ilmiah. Kritik ini didasarkan pada salah tafsir dari metode ilmiah.

Dalam proses karakterisasi.http://berbagireferensi. atau dipetakan.blogspot. Pengukuran .html http://menulisbukuilmiah. atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.html Mar22 Pemakaian metode ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah (Tulisan) Metode ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. pengumpulan data melalui observasi dan eksperimen. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis. seperti laboratorium. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel. dan kesimpulan yang memvalidasi atau memodifikasi hipotesis. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol. dan perumusan dan pengujian hipotesis. – Prinsip-prinsip dan proses empiris penemuan dan demonstrasi dianggap karakteristik atau diperlukan untuk penyelidikan ilmiah.com/2008/10/karya-tulis-ilmiah-ciri-dan-sikap. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. spektroskop. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer. eksperimen untuk menunjukkan kebenaran atau kepalsuan dari hipotesis. proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan. Ini mengikuti serangkaian langkah-langkah yang mengevaluasi kebenaran atau kelayakan prediksi melalui penelitian dan percobaan dari mana informasi yang diperoleh akan digunakan sebagai dasar dalam membuat kesimpulan. verifikasi dan mengintegrasikan pengetahuan sebelumnya.com/2010/06/lebih-jauh-tentang-pengertian-sikap. menyelidiki fenomena. dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Selain itu. digambarkan dalam bentuk grafik. – Suatu pendekatan sistematis untuk memecahkan masalah dengan menemukan pengetahuan. ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Berikut ini pengertian lain dari metode ilmiah menurut beberapa sumber: – prinsip dan prosedur untuk mengejar sistematis pengetahuan yang melibatkan pengakuan dan perumusan masalah. umumnya melibatkan pengamatan fenomena. perumusan hipotesis tentang fenomena. atau voltmeter. pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.blogspot. Karakterisasi Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi.

Dalam mengajukan jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Hipotesis Seperti yang sering kita dengar bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan yang diajukan. Fakta seperti itu mungkin adalah hal yang biasa bagi orang biasa yang bukan peneliti. hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Peneliti ingin selalu mencari jawaban dari apa yang diamatinya. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. dan hasil bacaannya. Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. pengetahuannya. Di samping itu. Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui. hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Itu adalah fakta. jawaban sementara itu hendaknya bisa diuji kebenarannya. Sebagai contoh. Seorang ilmuwan yang baik akan selalu melakukan pengamatan terhadap gejala dan kejadian sehari-hari yang terjadi di sekitarnya. Tentu saja gejala dan kejadian yang menarik perhatian peneliti itu adalah yang berhubungan dengan bidang kajiannya. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati. lalu peneliti mengajukan pertanyaan atau masalah yang berkaitan. Prediksi dari sebuah Hipotesa Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur. Pengertian observasi di sini adalah luas. Tetapi jawaban sementara tentu tidak muncul begitu saja tanpa landasan yang jelas. Masalah atau Pertanyaan Berdasarkan pengamatan yang dilakukannya. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam. Bisa saja pengamatan itu adalah terhadap bacaan sumber pustaka yang sedang ada di hadapannya. peneliti menggunakan pengalaman pribadinya. Peneliti mengamati dan mempelajari laporan-laporan penelitian yang dibuat oleh peneliti sebelumnya. teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan.dalam karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar-benar akan terjadi atau tidak). Observasi Ini adalah langkah pertama dari metode ilmiah: observasi (pengamatan). Percobaan/Eksperimen . Tetapi fakta seperti itu bagi peneliti adalah sesuatu yang menarik dan menimbulkan keingintahuan.

yaitu berulang. dan karakterisasi didasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh orang lain. melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Dapat pula ilmuwan lain memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut pada tahap yang manapun. Pencatatan yang detail sangatlah penting dalam eksperimen.merriam-webster. atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Ketidakberhasilan suatu hipotesis dalam menghasilkan prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian. hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang telah dilakukan dan membentuk hipotesis mereka sendiri. Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut.Setelah prediksi dibuat. Bergantung pada prediksi yang dibuat.answers. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi. Apakah jawaban sementara itu bisa diterima atau tidak? Evaluasi Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis. Pada langkah yang manapun.org/wiki/Metode_ilmiah https://sites.biology-online. maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. Sumber http://id.com/dictionary/scientific%20method http://www.org/dictionary/Scientific_method http://www. Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis.google. seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena pertimbangan tertentu. maka hipotesis yang sedang diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. hipotesis yang mendasarinya.com/site/tulisanilmiah/metode-ilmiah http://www. Sering kali eksperimen dalam proses ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis. Ilmuwan kemudian melakukan percobaan untuk menguji jawaban sementara yang diajukan. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari. untuk membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan.wikipedia. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi. berupa-rupa eksperimen dapat dilakukan. atau mengadopsi hipotesis yang telah dibuat dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri.com/topic/scientific-method . Eksperimen bahkan dapat berupa mengemudikan pesawat dari New York ke Paris dalam rangka menguji hipotesis aerodinamisme yang digunakan untuk membuat pesawat tersebut. Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.

Mar22 Konsep Penalaran ilmiah dan kaitannya dengan penulisan ilmiah (tulisan) Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Pembentukan konsep.Sebab-Akibat : Semua peristiwa harus ada penyebabnya. orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Studi-studi tentang penalaran deduktif yang mendasarkan pada mekanisme mental hampir sama tua dengan psikologi eksperimen. Dalam penalaran. Metode dalam penalaran Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif. Oleh . Krantz. dan Kunda (1983) berargumen bahwa penalaran induktif merupakan aktivitas manusia dalam pemecahan masalah yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan berada dimana-mana. Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. 2.Generalisasi : Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum. DEDUKTIF Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan informasi baru yang berdasarkan informasi lama (yang tersimpan dalam ingatan). berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar. Jepson.Analogi : Kesimpulan tentang kebenaran sesuatu ditarik berdasarkan gejala yang memiliki kemiripan. dan tindakan membuat penalaran induktif. Proses inilah yang disebut menalar. Jenis induktif: 1. INDUKTIF Menurut Nisbet. generalisasi contoh-contoh. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis. 3. namun seringkali orang sampai pada kesimpulan yang salah karena proses penarikan kesimpulan tidak sah. proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Penalaran deduktif bertujuan untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang shahih.

Properitas keyakinan dalam penalaran Penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi(pernyataan) yang menjadi konklusi penalaran. sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait.Dalam penalaran. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. beberapa penelitian juga masih terus dilakukan para ahli.Keadabenaran 5. untuk mewujudkannya diperlukan simbol. diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat. pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. 2.Bermuatan nilai . Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Konsep penalaran Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak. Berikut ini beberapa sifat yang dapat mempengaruhi kebenaran suatu argumen: 1. Jadi semua premis harus benar. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat. Pemahaman terhadap beberapa properitas(sifat) keyakinan sangat penting dalam mencapai keberhasilan argumen.karena terdapat masalah yang kontraversional berkaitan dengan fenomena penalaran deduktif. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa. sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen. Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi: 1.

Sumber: http://id. disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Atas dasar itu.Berkekuatan 3.Bertingkat 7.wikipedia.Veridikal 4.Berbias 8. sebuah karya tulis ilmiah harus memenuhi tiga syarat: 1.sahih dan relevan 2.Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah 3.Analisis kajian yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.2. sama sekali tidak dapat ditinggalkan.Argumentasi teoritik yang benar.Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah 2.Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.Bukan sutu pendapat 6. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah.Dukungan fakta empirik 3. Oleh karena itu. peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu. dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif. sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya: 1. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi.org/wiki/Penalaran .Berketertempaan Hubungan Menulis Karya Ilmiah dengan Penalaran Penulisan ilmiah adalah tulisan yang dibuat berdasarkan suatu pengamatan.

com/2013/10/21/-kemampuan-penalaran-603476.http://mardiya.com/2010/11/29/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah-oleh- mardiya/ http://edukasi.html .kompasiana.wordpress.