You are on page 1of 286

Nomor 21 Tahun XVII April 2017

ISSN 1907-3232

Pengantar Redaksi

IKIP PGRI Bali merupakan salah satu institusi yang berkonsentrasi pada ilmu
pendidikan. Dinamika ilmu pendidikan amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah
untuk menghimpun dan mempublikasikan perkembangan ilmu pendidikan itu. Berdasarkan
kesadaran dan komitmen civitas akademika, IKIP PGRI Bali berhasil mewujudkan idealisme
ilmiahnya melalui jurnal pendidikan Widyadari yang terbit dua kali dalam setahun, yakni
bulan April dan Oktober. Apa yang ada ditangan pembaca yang budiman saat ini merupakan
jurnal pendidikan Widyadari Nomor 21 Tahun XVII April 2017.
Jurnal pendidikan Widyadari ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini
disebarkan baik secara internal di kampus IKIP PGRI Bali, dan juga disebarkan pada alumni
beserta komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Pendidikan Widyadari kali ini memuat
tiga belas artikel ilmiah dari dosen di lingkungan IKIP PGRI Bali dan alumi IKIP PGRI Bali.
Adanya sumbangan dari alumni kampus IKIP PGRI Bali diharapkan memperluas cakrawala
ilmiah komunitas akademik.
Semoga penerbitan Jurnal Pendididkan Widyadari ini menjadi wahana yang baik
untuk membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran
dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutnya.

Redaksi

i
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

MOTIVASI BERPRESTASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI
BELAJAR SISWA PADA SMP NEGERI 3 SUKAWATI GIANYAR TAHUN 2016

I Nyoman Rajeg Mulyawan

ABSTRACT

There are various factors that affect student achievement included in is achievement
motivation. The influence of these factors will vary and satigt depending on the student's
personal circumstances. This study aims to determine the effect achievement motivation on
student achievement at SMP Negeri 3 Sukawati, Gianyar. This study is the expos facto where
data achievement motivation students facto there has been fairly disclosed to the instrument
scale of achievement motivation. Student achievement data collected by the method of
documentation of data analyzed by product moment sampling technique that is stratified
sampling random. Base on 285 samples were collected data on student achievement
motivation and student achievement. The result showed that the value of r count which is the
direction of correlation showed a significant level 0,221. Base on 5% and n 285, the value is
equal to 0.138 rxy table. There are considerable differences signifikan between r count with
product moment value in the table. Thus the null hypothesis is rejected and the alternative
hypothesis proposed is accepted, Contribution variable X to variable Y is calculated by
diterminan coefficient, KP = r 2 X 100% = 4.8%.

Keywords: achievement motivation, academic achievement

A.PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan segala potensi manusia dan
untuk memperluas cakrawala pengetahuannya dalam rangka membentuk nilai, sikap, dan
perilaku serta keterampilan atau kompetensi. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem pendidikan Nasional terutama pada fasal 1 dinyatakan bahwa tujuan
pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqua kepada Tuhan yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi Warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Secara khusus tujuan pendidikan pada aspek kognitif, berupaya untuk
mengembangkan pengetahuan peserta didik sesuai materi pembelajaran yang dipilih untuk

1526
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

mencapai tujuan tersebut. Wujud nyata hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari prestasi
yang dicapai setelah mengikuti ujian.
Hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif merupakan intruksional effect atau
dampak langsung dari proses pembelajaran. Dengan semakin majunya pembenahan atau
perbaikan pada system pendidikan nasional terutama yang tertuang pada Permen No 32
tahun 2013 tentang perubahan atas Permen No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan sudah lengkap diatur baik tentang standar proses maupun standar mutu lulusan
lembaga pendidikan. Dengan semakin baik mutu proses pendidikan diharapkan berpengaruh
juga pada mutu hasil termasuk hasil belajar peserta didik semakin meningkat. Tingkat
kualitas mutu proses pendidikan (pembelajaran) akan berdampak pada hasil pendidikan/
pembelajaran baik pada aspek kognitif, afektif maupun pada aspek psikomotor. Berkaitan
dengan hal ini ada beberapa gejala yang dapat digunakan untuk menandai rendahnya mutu
hasil pendidikan. Secara kognitif rendahnya hasil belajar siswa ditandai dengan hasil belajar
tidak sesuai dengan harapan kurikulum (ketuntasan belajar), hasil belajar di bawah rata-rata
kelas, hasil belajar tidak sebanding dengan kemampuan (potensi yang dimiliki siswa).
Sementara secara afektif rendahnya kualitas pendidikan/ pembelajaran ditandai dengan sikap
yang kurang menghargai baik terhadap diri maupun terhadap lingkungannya dan rendahnya
motivasi belajar serta rendahnya motivasi berprestasi siswa. Jika dilihat dari segi psikomotor/
keterampilan atau kompetensi, output/ outcome belum menunjukkan kompetensi yang
memadai pada bidangnya masing-masing. Sebagai contoh banyak lulusan pendidikan formal
yang belum dapat memenuhi kriteria tuntutan lapangan kerja tersedia, apalagi menciptakan
lapangan kerja baru
Banyak faktor yang turut memengaruhi rendahnya kualitas pendidikan. Apabila
pendidikan dilihat sebagai suatu sistem maka faktor yang turut memengaruhi kualitas
pendidikan tersebut, menurut Deming (dalam Hamzah B.Uno 2007 : 6) meliputi : (1) input
mentah atau siswa, (2) lingkungan intruksional, (3) proses pendidikan dan (4) output
pendidikan. Dalam proses pendidikan, di dalamnya terdapat aktivitas guru mengajar, peran
serta siswa dalam belajar, sistem pengelolaan administrasi, serta mekanisme kepemimpinan
kepala sekolah.
Berkaitan dengan masalah proses belajar mengajar di sekolah siswa maupun guru
yang akan melakukan dinaminasi, dalam arti proses belajar mengajar merupakan sarana
untuk mengembangkan diri dan ilmu pengetahuan, sikap, maupun ahlak. Hanya saja proses
1527
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

belajar tersebut tidak selamanya berjalan tanpa hambatan. Hambatan atau rintangan akan
senantiasa muncul setiap waktu. Hambatan atau rintangan itu antara lain : keadaan kelas yang
kurang kondusif, kebersihan kelas yang kurang, penyampaian materi yang kurang jelas,
sarana dan fasilitas yang belum memadai, metode mengajar yang menoton. Adanya hambatan
itu, akan memunculkan suatu permasalahan. Salah satunya adalah permasalahan yang sering
dialami siswa yaitu terjadinya penurunan prestasi belajar. Di SMP Negeri 3 Sukawati
terjadinya penurunan prestasi belajar dilihat dari rata-rata nilai akhir belajar (rapor) dan rata
hasil ujian akhir siswa. Dalam hal ini, motivasi untuk berprestasi akan sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Motivasi berprestasi memegang peranan penting
dalam proses dan pencapaian hasil belajar. Hal-hal seperti di atas menjadi alasan penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi
belajar siswa SMP Negeri 3 Sukawati Tahun 2016". Sehingga dengan demikian hasil
penelitian ini akan bermanfaat dalam perbaikan proses pembelajaran yang berujung pada
perbaikan hasil belajar siswa.

B. Landasan Teori
Menurut McClelland dan Atkinson (1953:75) bahwa Achiement motivation should be
characterzed by high hopes of success rather than by fear of failure artinya motivasi
berprestasi merupakan ciri seorang yang mempunyai harapan tinggi untuk mencapai
keberhasilan daripada ketakutan kegagalan. Selanjutnya dinyatakan McClelland (1953:78)
bahwa motivasi berprestasi merupakan kecenderungan seseorang dalam mengarahkan dan
mempertahankan tingkah laku untuk mencapai suatu standar prestasi. Pencapaian standar
prestasi digunakan oleh siswa untuk menilai kegiatan yang pernah dilakukan. Siswa yang
menginginkan prestasi yang baik akan menilai apakah kegiatan yang dilakukannya telah
sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Ahli lain yakni Gellermen (1963:67) menyatakan bahwa orang yang mempunyai
motivasi berprestasi tinggi akan sangat senang kalau ia berhasil memenangkan suatu
persaingan. Ia berani menanggung segala resiko sebagai konsekwensi dari usahanya untuk
mencapai tujuan. Sedangkan motivasi berprestasi menurut Tapiardi (1996:105) adalah
sebagai suatu cara berfikir tertentu apabila terjadi pada diri seseorang cenderung membuat
orang itu bertingkah laku secara giat untuk meraih suatu hasil atau prestasi. Dari pendapat
tersebut dapat dinyatakan bahwa dengan adanya motivasi berprestasi dalam diri individu
1528
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

akan menumbuhkan jiwa kompetisi yang sehat, akan menumbuhkan individu-individu yang
bertanggung jawab dan dengan motivasi berprestasi yang tinggi juga akan membentuk
individu menjadi pribadi yang kreatif.
Komarudin (1994) menyebutkan bahwa motivasi berprestasi meliputi pertama
kecenderungan atau upaya untuk berhasil atau mencapai tujuan yang dikehendaki; kedua
keterlibatan ego individu dalam suatu tugas; ketiga harapan suatu tugas yang terlihat oleh
tanggapnya subyek; keempat motif untuk mengatasi rintangan atau berupaya berbuat sesuatu
dengan cepat dan baik.
Aspek motivasi berprestasi yang dikemukakan McClelland (dalam Marwisni Hasan
2006) menyatakan bahwa orang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi,
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) mempunyai tanggung jawab pribadi. Siswa yang
mempunyai motivasi berprestasi akan melakukan tugas sekolah atau bertanggung jawab
terhadap pekerjaannya. Siswa yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan akan puas dengan
hasil pekerjaan karena merupakan hasil usahanya sendiri; (2) menetapkan nilai yang akan
dicapai atau menetapkan standar unggulan. Siswa menetapkan nilai yang akan dicapai. Nilai
itu lebih tinggi dari nilai sendiri (internal) atau lebih tinggi dengan nilai yang dicapai oleh
orang lain (eksternal). Untuk mencapai nilai yang sesuai dengan standar keunggulan, siswa
harus menguasai secara tuntas materi pelajaran; (3) berusaha bekerja kreatif. Siswa yang
bermotivasi tinggi, gigih dan giat mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikan tugas
sekolahnya. Siswa mempergunakan beberapa cara belajar yang diciptakannya sendiri,
sehingga siswa lebih menguasai materi pelajaran dan akhirnya memperoleh prestasi yang
tinggi; (4) berusaha mencapai cita-cita. Siswa yang mempunyai cita-cita akan berusaha
sebaik-baiknya dalam belajar atau mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar. Siswa
akan rajin mengerjakan tugas, belajar dengan keras, tekun dan ulet dan tidak mundur waktu
belajar. Siswa akan mengerjakan tugas sampai selesai dan bila mengalami kesulitan ia akan
membaca kembali bahan bacaan yang telah diterangkan guru, mengulangi mengerjakan tugas
yang belum selesai. Keberhasilan pada setiap kegiatan sekolah dan memperoleh hasil yang
baik akan memungkinkan siswa mencapai cita-citanya; (5) memiliki tugas yang moderat.
Memiliki tugas yang moderat yaitu memiliki tugas yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu
mudah. Siswa dengan motivasi berprestasi yang tinggi, yang harus mengerjakan tugas yang
sangat sukar, akan tetapi mengerjakan tugas tersebut dengan membagi tugas menjadi
beberapa bagian, yang tiap bagian lebih mudah menyelesaikannya; (6) melakukan kegiatan
1529
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sebaik-baiknya. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan melakukan
semua kegiatan belajar sebaik mungkin dan tidak ada kegiatan lupa di kerjakan. Siswa
membuat kegiatan belajar dari mentaati jadwal tersebut. Siswa selalu mengikuti kegiatan
belajar dan mengerjakan soal-soal latihan walaupun tidak disuruh guru serta memperbaiki
tugas yang salah. Siswa juga akan melakukan kegiatan belajar jika ia mempunyai buku
pelajaran dan perlengkapan belajar yang dibutuhkan dan melakukan kegiatan belajar sendiri
atau bersama secara berkelompok; (7) mengadakan antisipasi. Mengadakan atisipasi
maksudnya melakukan kegiatan untuk menghindari kegagalan atau kesulitan yang mungkin
terjadi. Antisipasi dapat dilakukan siswa dengan menyiapkan semua keperluan atau peralatan
sebelum pergi ke sekolah. Siswa datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal belajar atau jadwal
ujian, mencari soal atau jawaban untuk latihan. Siswa menyokong persiapan belajar yang
pelu dan membaca materi pelajaran yang akan di berikan guru pada hari berikutnya.
Dalam hubungan ini Linhdgren menyatakan bahwa motivasi berprestasi (Achievement
Motive) itu mengandung kebutuhan untuk menguasai, memanipulasi dan mengatur
lingkungan sosial maupun fisik, mengatasi rintangan-rintangan dan memelihara kualitas kerja
yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi perbuatan orang lain (Jurnal
Psikologi, 1979 : 44).
Sementara prestasi belajar adalah hasil usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk
nilai atau skor, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dapat
dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu. Hal ini sesuai pendapat Nawawi (2002 : 34)
mengatakan bahwa : "Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan anak didik dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor yang
diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Sementara Tirtonegoro
(1992 : 87) mengatakan bahwa : "Prestasi belajar merupakan penilaian hasil usaha belajar
yang berupa angka, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai
setiap anak dalam periode tertentu".
Kegiatan belajar bagi setiap individu atau peserta didik, tidak selamanya akan
berlangsung secara wajar. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi
terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi, kadang-kadang lancar, kadang-kadang
tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari dan terkadang terasa amat sulit.
Sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar pada anak didik.

1530
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dari kajian teori di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian bahwa ada pengaruh

motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 3 Sukawati tahun 2016.

C. Metode penelitian

Penelitian ini merupakan ex post pacto dimana tidak dilakukan intervensi atau

perlakuan terhadap subjek dari populasi. Penelitian hanya mengungkapkan data berdasarkan

hasil pengukuran pada gejala yang telah ada secara wajar pada diri responden. Kerlinger

memberi batasan penelitian ex post pacto, ini sebagai penyelidikan empiris secara sistematis

dimana peneliti tidak mengendalikan ubahan bebas secara langsung, karena ubahan tersebut

pada dasarnya memang tidak dapat dimanipulasi.

Populasi penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 3 Sukawati tahun 2016 dengan
jumlah siswa 989 orang (kelas VII ada 335, kelas VIII ada 317 dan kelas IX ada 337 orang).
Teknik sampling yang digunakan yaitu Startified Proporsional Random Sampling, yaitu
penentuan subjek penelitian dengan memperhitungkan perbandingan jumlah pada sub
populasi dan lapisan-lapisan yang ada. Berdasarkan penghitungan jumlah sampel minimal
maka ditetapkan jumlah sampel (n) = 285 orang.

Data dikumpulkan dengan instrument Skala Motivasi Berprestasi dan Pencatatan

Dokumen. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Product Moment dan

formulasi analisisnya adalah sebagai berikut :

Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variable X terhadap Y
2
dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan sebagai berikut : KP = r x 100%

(Riduwan, 2004: 136)

1531
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari hasil analisis data diperoleh hasil penghitungan angka statistik sebagai berikut:

Sampel (n) ΣX ΣY ΣX 2 ΣY 2 ΣXY rxy KP

285 29639 22121 2457644 1720587 2048894 0,211 4,8 %

Menguji Nilai rxy

Berdasarkan taraf signifikan 5% dan N = 285, maka nilai rxytabel adalah sebesar

0,138. Sedangkan nilai rxypenelitian adalah sebesar 0,221. Dengan demikian nilai rxy

penelitian > nilai rxy tabel. Hal ini berarti nilai rxy penelitian signifikan, sehingga hipotesis nol

yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar

siswa SMP Negeri 3 Sukawati Tahun 2016 ditolak. Sehingga hipotesis alternatif yang

diajukan diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada pengaruh motivasi

berprestasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 3 Sukawati Tahun 2016. Tentang

besarnya pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa adalah 4.8%

sebagaimana tertera pada hasil penghitungan berikut.

KP = r2 x 100%
KP = 0,2212 x 100%
= 0,048 x 100%
= 4,8%

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh tingkat motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar siswa. Namun demikian tingkat kontribusinya hanya 4.8%, hal ini
berarti ada factor lain yang lebih besar (95.2%) yang berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa namun tidak diungkap dalam penelitian ini.
1532
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Rendahnya tingkat motivasi berprestasi yang dapat menjelaskan tentang prestasi
belajar siswa dapat dijelaskan dengan beberapa teori berikut. Ada beberapa teori tentang
motivasi dalam pekerjaan atau aktivitas individu (Hamzah B. Uno, 2007: (1)Teori keadilan
(equity). Teori ini menonjolkan kenyataan bahwa motivasi seseorang mungkin dipengaruhi
oleh perasaan seberapa baikkah mereka diperlakukan di dalam organisasi apabila
dibandingkan dengan orang lain. Dalam konteks ini perlakuan guru terhadap semua siswa
semestinya memenuhi azas keadilan perlakuan, perhatian dan sebagainya. Bila hal ini tidak
dilakukan maka tingkat motivasinya cenderung rendah. (2) Teori sasaran (goal). Teori ini
didasarkan pada kepercayaan bahwa sasaran orang ditentukan oleh cara mereka berperilaku
dalam pekerjaan dan jumlah upaya yang mereka gunakan. Berkaitan dengan hal ini ada
indikasi bahwa memiliki sasaran yang benar-benar jelas memang dapat membantu
mendorong minat siswa untuk belajar atau mengerjakan suatu tugas. Peran guru hendaknya
menyampaikan dengan jelas tujuan belajar pada setiap pokok bahasan. Jika tujuan belajar
tidak dipahami dengan jelas oleh para siswa maka motivasi berprestasi dalam belajar akan
rendah dan berbuntut pada prestasi juga rendah. (3) Teori perlambang (attribution) Teori ini
menyatakan bahwa motivasi tergantung pada factor-faktor internal seperti atribut pribadi
seseorang dan factor-faktor luar yang mungkin berupa kebijakan organisasi, derajat kesulitan
aktivitas yang dilakukan. Berkaitan dengan ini suasana pembelajaran penting untuk
diperhatikan oleh guru bahwa selingan dalam belajar penting dilakukan dengan hal-hal yang
menyenangkan bagi siswa.

1533
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Syani. 2005. Pengantar Metode Statistik Non Paramerik. Jakarta : PT. Dunia
Pustaka Jaya.

Alex Sabur. 1996. Pendidikan Dewasa. Tarsito Dandung.

Djohar. 2009. Catatan Pendidikan Budi Pekerti Dalam Pendidikan; Harian Jogja
Kamis
12 November 2009, Yogyakarta.

Gallermen. 1993. Tehnik Menumbuhkan Kreativitas Anak. Jakarta : PT. Eresco.

Hamzah. 2007. Teori Motivasi Dan Pengukurannya. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Kerlinger. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

Meclelland, and Atkinson. 1973. Education Research Competencies For Analisi and
Application, second edition, howell Company. (Online),
(http://mrian.blogspot.com, diakses Februari 2012 teori-motivasi-berprestasi-
david-mc.html)

Nawawi. 2002. Psikologi Belajar. Bandung : PT Eresco.

Riduwan. 2004. Metode & Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta

1534
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PEMANFAATAN EKSTRAK KENTOS KELAPA UNTUK
MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG TANAH
(Arachis hypogeae L.) DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI

I Wayan Suanda dan Ni Wayan Ratnadi

ABSTRACT

This study was aimed to determine the benefits of kentos extract of coconut (Cocos
nucifera) for vegetative growth of peanuts. This type of research could be categorized as a
research experiment. The data collected in this study was data on the plant height and number
of leaves and wet weight of the peanuts. The results obtained by the analysis of the plant
height was difference by 3.0; the difference on the number of leaves of the plant was as much
as 3.6 strands and the difference on the wet weight of the peanut plants was 2.9 grams against
the control treatment.

keywords: kentos extracts, vegetative growth, peanuts
PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran IPA yaitu pembelajaran biologi pada materi pertumbuhan,
khususnya pertumbuhan pada tanaman. Untuk memudahkan peserta didik memahami materi
pelajaran yang berkaitan dengan pertumbuhan, maka bisa dilakukan suatu kegiatan percobaan
sederhana. Percobaan yang dilakukan ini bisa memudahkan peserta didik menerima dan
memahami materi pelajaran yang diberikan dan dapat memotivasi untuk melakukan
percobaan selanjutnya.
Kacang tanah (Arachis hypogeae L.) merupakan salah satu tanaman leguminose
(polong-polongan) sebagai sumber pangan yang cukup penting, yaitu sebagai sumber protein
nabati (Adisarwanto, 2003). Kacang tanah memiliki kandungan protein 25-30%, lemak 40-
50%, karbohidrat 12% serta vitamin B1 dan menempatkan kacang tanah dalam hal
pemenuhan gizi setelah tanaman kedelai. Kacang tanah juga sebagai bahan baku industri,
seperti keju, margarin, sabun dan minyak, serta brangkasannya untuk pakan ternak dan pupuk
(Marzuki, 2007). Produktivitas kacang tanah di Indonesia cenderung stagnan pada tingkatan
rendah. Kondisi ini di samping disebabkan oleh teknik budi daya yang masih sederhana dan
cekaman biotik-abiotik, juga berkaitan dengan sifat tanaman kacang tanah yang kurang
respon terhadap pemberian pupuk. Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik, maka
pertumbuhan tanaman harus diperhatikan misalnya penggunaan bahan organik dan kebutuhan
akan air. Manfaat lain dari penggunaan bahan organik untuk pertanian adalah untuk
1535
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

mengurangi pemakaian pupuk kimia (Kabelan, 2009). Cara lain yang dapat digunakan
untuk membantu mempercepat pertumbuhan tanaman yaitu dengan menggunakan ekstrak
kentos kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai pengganti pupuk kimia.
Buah kelapa yang cukup masak atau tua, dagingnya (lembaga atau embrio) akan
tumbuh membentuk tunas kelapa (calon tanaman) dengan membentuk suatu alat pengisap
makanan yang disebut kentos (bahasa Bali = tombong). Kentos bersifat sebagai penghubung
antara calon tanaman dengan tempat cadangan makanan (endosperm), dengan jalan
mengeluarkan enzim dan merupakan unsur hara bagi lembaga. Kentos ini merupakan
cadangan makanan dan merupakan lembaga yang akan tumbuh menjadi calon individu baru.
Kentos semakin lama akan semakin membesar dan apabila kelapa tidak dibelah maka akan
menghasilkan tunas baru dan mengeluarkan daun.
Air kelapa selain mengandung hormon tumbuh auksin dan siotokinin, juga
mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air
kelapa kaya akan kalium, mineral diantaranya Kalsium (Ca), Natrium (Na), Magnesium
(Mg), Ferum (Fe), Cuprum (Cu), dan Sulfur (S), gula dan protein. Disamping kaya akan
mineral, dalam air kelapa juga terdapat 2 hormon alami yaitu auksin dan sitokinin yang
berperan sebagai pendukung pembelahan sel (Suryanto, 2009). Tunas kelapa pada biji kelapa
akan tumbuh membesar dengan memanfaatkan nutrisi, seperti endosperm (daging kelapa) dan
air kelapa yang ada dalam biji kelapa tersebut, sehingga semakin besar tunas kelapa maka biji
kelapa menjadi gosong. Demikian juga kentos yang ada dalam biji kelapa juga menjadi sumber
nutrisi bagi pertumbuhan tunas kelapa. Berdasarkan hal tersebut penulis menduga bahwa pada
kentos kelapa mengandung nutrisi yang cukup banyak untuk pertumbuhan vegetatif tanaman.
Kentos kelapa oleh masyarakat di pasar dan di rumah tangga tidak dimanfaatkan dan dibuang
begitu saja sebagai sampah. Oleh karena itu maka penulis ingin mencoba memanfaatkan kentos
kelapa dalam bentuk ekstrak untuk mempercepat pertumbuhan kacang tanah (Arachis
hypogeae).

1536
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

2 3
1 1

Gambar Kentos kelapa
1= kentos; 2= endosperm; 3= endocarp

METODE PNELITIAN
Penelitian ini bersifat eksplorasi dan tergolong penelitian eksperimental yang dilakukan
secara in vivo di rumah kaca. Dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan 4 kali pengulangan dengan masing-masing unit terdiri atas 10 tanaman kacang
tanah. Untuk mengetahui adanya perbedaan pertumbuhan tanaman kacang tanah yang diberi
perlakuan ekstrak kentos (P1) dengan pertumbuhan tanaman kacang tanah yang tanpa
diberikan ekstrak kentos (P0), maka dilakukan uji BNT pada taraf 5%.
Penyediaan kentos kelapa didapat dari pedagang kelapa Semat Desa Adat Canggu
Permai, Kuta Utara dan industri kelapa parut di rumah tangga di sekitar Kota Denpasar. Kentos
kelapa diblender dan disaring sehingga mendapatkan cairan yang disebut ekstrak kentos.
Ekstrak kentos ini kemudian ditambahkan air steril dengan perbandingan ekstrak kentos: air
steril (1:1), sehingga diasumsikan konsentrasi ekstrak kentos menjadi 50%. Perlakuan ekstrak
kentos (P1) dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan perlakuan kontrol (P0) dilakukan
penyiraman dengan air steril setiap hari sampai tanaman berumur 30 hari setelah tanam (HST).
Pengamatan dilakukan pada saat tanaman kacang tanah berumur 30 HST. Variabel yang
diamati berupa pertumbuhan vegetatif yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun tanaman dan
berat basah tanaman kacang tanah.

1537
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil percobaan di rumah kaca didapat bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman kacang
tanah (Arachis hypogeae) yang meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun tanaman dan berat basah
tanaman kacang tanah yang diberikan ekstrak kentos kelapa (P1) terhadap tanaman kacang
tanah yang hanya disiram dengan air (P0) sebagai kontrol, seperti disajikan pada Tabel

Tabel 1
Pertumbuhan vegetatif tanaman kacang tanah
Rata-rata pertumbuhan vegetatif tanaman kacang tanah (umur 30 HST)

No. Perlakuan Tinggi tanaman Jumlah daun tanaman Berat basah tanaman

(cm) (helai) (gram)

1. P1 10,7 18,9 10,1

2. P0 7,7 15,3 7,2

3. Peningkatan 3,0 3,6 2,9

Berdasarkan data pada Tabel 1, bahwa tinggi tanaman, jumlah daun tanaman dan
berat basah tanaman kacang tanah yang diberikan ekstrak kentos kelapa (P1) memiliki selisih
yang cukup besar dan menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) terhadap tanaman kacang tanah
yang hanya disiram dengan air (P0) sebagai kontrol. Adanya peningkatan pertumbuhan
vegetatif tanaman kacang tanah yang diaplikasikan ekstrak kentos terhadap perlakuan kontrol
karena ekstrak kentos mengandung hormon tumbuh auksin dan siotokinin. Hal ini didukung
oleh Suryanto, (2009) yang menyatakan bahwa air kelapa kaya mineral, juga terdapat 2
hormon alami yaitu auksin dan sitokinin yang berperan sebagai pendukung pembelahan sel.
Zat tersebut mempergiat pembelahan sel dan mempunyai pengaruh terhadap
perkecambahan dan pertumbuhan diantaranya perkecambahan dan pertumbuhan tunas dan
akar. Menurut Plantus (2006), bahwa Air kelapa kaya akan potasium (kalium) hingga 17 %.
Selain kaya mineral, air kelapa juga mengandung gula antara 1,7-2,6 % dan protein 0,07
hingga 0,55 %. Mineral lainnya antara lain natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg),
ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P) dan sulfur (S).

1538
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Phosfor dan kinetin juga merupakan kandungan yang terdapat pada kelapa
(Dwidjoseputro, 1994). Zat tersebut mempergiat pembelahan sel dan mempunyai pengaruh
terhadap perkecambahan dan pertumbuhan diantaranya perkecambahan dan pertumbuhan
tunas dan akar. Lebih lanjut Karimah et al. (2013), juga melaporkan bahwa di dalam air
kelapa juga terdapat hormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yaitu hormon
sitokinin (5,8 mg/l), auksin (0,07 mg/l) dan hormon giberelin dalam jumlah yang sedikit serta
senyawa lainnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Wulandari et al. (2013),
juga menggunakan air kelapa dengan berbagai konsentrasi untuk meningkatkan pertumbuhan
setek melati putih (Jasminum sambac), hasil yang terbaik diperoleh pada pemberian air
kelapa dengan konsentrasi 60%.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan penelitian ini bahwa ekstrak kentos kelapa dapat meningkatkan
pertumbuhan vegetatif tanaman kacang tanah. Tinggi tanaman ada perbedaan sebesar 3,0 cm;
jumlah daun tanaman ada perbedaan sebanyak 3,6 helai dan berat basah tanaman kacang
tanah ada perbedaan seberat 2,9 gram dan menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) terhadap
perlakuan kontrol.
Saran yang dapat disampaikan 1) agar kentos yang ada pada biji kelapa dapat dimanfaatkan
untuk dijadikan ekstrak. 2) perlunya percobaan perlakuan konsentrasi ekstrak yang bervariasi
untuk mendapatkan konsentrasi optimal.

1539
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, T. 2003. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Dwijosaputro. 1994. Budidaya Kelapa: Yogyakarta: Lembaga Pendidikan.

Harsono, A. 1998. Teknologi untuk Peningkatan Produksi dan Nilai Tambah Kacang Tanah.
Edisi khusus Balitkabi No. 12-1998. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor.

Karimah, A., S. Purwanti., dan R. Rogomulyo. 2013.Kajian perendaman rimpang temulawak
(Curcuma xanthorriza Roxb.) dalam urin sapi dan air kelapa untuk mempercepat
pertunasan. Jurnal Vegetika 2(2):1-6.

Kabelan, K. 2009. Macam-Macam Bahan Organik. (online). (http://cerianet-
agricultur.blogspot.com/2009/12/macam-macam-bahan-organik.html). 26 Maret 2010
12:03:25 GMT.

Marzuki, R. 2007. Bertanam Kacang Tanah. Jakarta : Penebar Swadaya.

Plantus.2006. Air Kelapa Pemacu Pertumbuhan dan Pembungaan Anggrek.
http://anekaplanta.wordpress.com/2010/01/19/air-kelapa-pemacu pertumbuhan-dan-
pembungaan -anggrek/, diakses tanggal 7 April 2011 ).

Suryanto, E. 2009. Air Kelapa Dalam Media Kultur Anggrek. (online).
(http://wawaorchid.wordpress.com/200 9.html). 12 Feb 2010 10:05:15 GMT.

Wulandari, R.C.L., Mukarlina, R. 2013. Pertumbuhan setek meranti putih (Jasminum) dengan
pemberian air kelapa dan IBA. Jurnal Protobiont 2 (2):39-43.

CURRICULUM VITAE
Nama : Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si
NIP / NIDN : 19651231 199103 1 015 / 0031126547
Pangkat / Golongan : Pembina Utama Muda, Gol. IV/c
Jabatan : Lektor Kepala
Tempat / Tgl lahir : Denpasar, 31 Desember 1965
Agama : Hindu
Alamat Rumah : Jln. Pulau Bungin Gg. Safari No. 6 Denpasar
Tlp.081236766665 – 081999290909
Email : suanda_wayan65@yahoo.co.id
Perguruan Tinggi/Fak/Prodi : IKIP PGRI Bali / FPMIPA / Pendidikan Biologi
Alamat Kantor : Jln. Seroja Tonja - Denpasar Utara
Tlp/Fax (0361) 431434

Pengalaman Jabatan
1. Dosen PNS Kopertis Wilayah VIII dpk pada Jurusan Pend. Biologi FPMIPA Univ. Katolok Widya
Mandira (Unwira) Kupang, tahun 1991 – 1993.
1540
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

2. Dosen PNS Kopertis Wilayah VIII dpk pada Jurusan Pend. Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali,
tahun 1993 - sekarang.
2. Ketua Jurusan Pend. Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali, tahun 1994 - 1999.
3. PD III FPMIPA IKIP PGRI Bali, tahun 1999 - 2004.
4. Ketua Jurusan Pend. Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali, tahun 2004 - 2011.
5. Dekan FPMIPA IKIP PGRI Bali, 2 April 2011 - 1 April 2015.
6. Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) IKIP PGRI Bali, 1 April 2015 - sekarang.

Nama : Ni Wayan Ratnadi, S.Pd., M.Pd
NIP : 19670510 199303 2 007
Pangkat / Golongan : Pembina, IV/a
Jabatan : Guru Madya
Tempat / Tgl lahir : Denpasar, 10 Mei 1967
Agama : Hindu
Alamat Rumah : Jln. Pulau Bungin Gg. Safari No. 6 Denpasar (80222)
Tlp.08123974024
Email : wratnadi@yahoo.com
Intansi Tempat Kerja : SMPN 11 Denpasar
Alamat Kantor : Jl. Tukad Punggawa No.14 Serangan- Denpasar Selatan
Tlp. (0361) 8951021
Email: smpnsebelasdenpasar@ymail.com

1541
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FPIPS IKIP PGRI BALI TAHUN 2016

I Ketut Westra

ABSTRACT

This study aims to determine the effectiveness of Practice Field Experience (PPL) to the
students of Economic Education Teachers' Training College FPIPS PGRI Bali in 2016 in
terms of aspects context / context, input / input, process / processes, and product / products.
This study uses ex-post facto approach to quantitative evaluation. Subjects in this study was
125 respondents. This research data analysis techniques using a T-score. The results showed:
1) aspect of context / context shows that f (+) = 6> f (-) = 4. Based on these results, it can be
concluded that the implementation of the Practice Field Experience (PPL) to the students of
Economic Education Teachers' Training College FPIPS PGRI Bali 2016 in the variable
context / context relatively effective, 2) aspects of input / feedback shows that f (+) = 13> f (-
) = 7. Based on these results, it can be concluded that the implementation of the Practice
Field experience (PPL) on students of FPIPS Economic Education Teachers' Training
College PGRI Bali in 2016 at a variable input / feedback relatively effective, 3) aspects of the
process / process shows that f (+) = 63> f (-) = 42. Based on these results, it can be concluded
that the implementation of the Practice Field experience ( PPL) on students of Economic
Education Teachers' Training College FPIPS PGRI Bali in 2016 on variable process / process
relatively effective, and 4) aspects of the product / product shows that f (+) = 65> f (-) = 30.
Based on these results, it can be concluded that the implementation of the Practice Field
experience (PPL) to the students of Economic Education Teachers' Training College FPIPS
PGRI Bali in 2016 at a variable product / products classified as effective. The analysis finds
that the implementation of the Practice Field Experience (PPL) to the students of Economic
Education FPIPS Teachers' Training College PGRI Bali in 2016 classified as affective from
the variable context / context, input / input, process / processes, and product / products with
the result (+ + + +).

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi dewasa ini, pendidikan menjadi suatu hal yang sangat penting. Bekal
pendidikan yang telah dimiliki oleh masyarakat akan berkembang secara baik, dan tidak dapat
dipungkiri lagi, masyarakat tersebut semakin berkualitas serta mampu bersaing secara kompetitif pada
era persaingan yang semakin ketat dan keras dalam berbagai sudut aktifitas kehidupan (Supardi,
2014).

1542
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pendidikan dianggap sebagai salah satu dari beberapa aspek yang memiliki peranan penting
di dalam membentuk generasi mendatang yang diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas
dan bertanggung jawab serta mampu mengantisipasi kehidupan di masa mendatang. Pendidikan selalu
disertai dengan perubahan-perubahan dan perkembangan umat manusia dan berupaya
untuk senantiasa membimbing perubahan perkembangan hidup serta kehidupan manusia.

Guru sebagai pendidik adalah tokoh yang paling banyak bergaul dan berinteraksi dengan para
murid dibandingkan dengan personil lainnya di sekolah. Guru bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan,
melakukan penelitian dan pengkajian, dan membuka komunikasi dengan masyarakat (Sagala, 2009).

Untuk merealisasikan hakikat mengajar yang sesungguhnya, guru harus memiliki
pengetahuan yang diajarkan secara luas dan mendalam, mempunyai itikad baik untuk membagi ilmu
yang dimiliki kepada para siswa, dan mempunyai komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat
(Suyanto dan Djihad, 2013). Dalam konteks ini guru terus belajar pada bidang ilmu yang diajarkan
dan apabila guru merasa yakin ilmu yang dimilikinya maka guru harus memperbaikinya melalui
berbagai program pelatihan.

Sebagai calon guru, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali
juga diharapkan berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap
masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual. Dengan demikian,
mahasiswa harus bisa menjadi teladan di dalam masyarakat sekitarnya dan lebih luas lagi, atau dengan
singkat mengadakan sosialisasi intelektual untuk memajukan kehidupan di dalam masyarakat melalui
kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Dalam upaya menghasilkan calon pendidik yang profesional dan memiliki wawasan serta
pengalaman dalam menjalankan keahlian bidang pendidikan, kegiatan PPL sebagai dasar pijakan awal
untuk pembelajaran pendidikan berikutnya. Bertolak dari hal tersebut, keberadaan mahasiswa sebagai
calon guru dipersiapkan untuk membentuk karakternya sebagai tenaga pendidikan yang profesional
sesuai dengan bidang keahlian masing-masing dengan cara mengikuti PPL.

PPL adalah serangkaian kegiatan yang diprogramkan bagi mahasiswa LPTK, yang meliputi
baik latihan mangajar maupun latihan di luar mengajar” (Hamalik, 2009). PPL merupakan salah satu
mata kuliah wajib tempuh bagi mahasiswa kependidikan di IKIP PGRI Bali. PPL dilaksanakan di
sekolah-sekolah yang telah ditunjuk oleh pihak universitas sebagai tempat untuk praktik mengajar.
Kegiatan ini merupakan ajang untuk membentuk dan membina kompetensi-kompetensi profesional

1543
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

yang diisyaratkan oleh pekerjaan guru atau tenaga kependidikan. Selain itu, PPL ditunjukan untuk
melatih mahasiswa untuk menerapkan teori proses belajar mengajar dalam skala kecil, bersifat
sebagai simulasi dari proses mengajar sesungguhnya.

Kegiatan PPL dilakukan untuk dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa
terutama dalam hal pengalaman mengajar, memperluas wawasan, melatih dan mengembangkan
kompetensi yang diperlukan dalam bidangnya, meningkatkan keterampilan, kemandirian, tanggung
jawab, dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Kegiatan ini mempunyai sasaran masyarakat
sekolah, baik dalam kegiatan yang terkait dengan pembelajaran maupun kegiatan yang mendukung
berlangsungnya pembelajaran.

PPL ini sangat penting sekali bagi mahasiswa kependidikan, sebagai bekal dalam terjun di
dunia kerja. Diharapkan dengan pengalaman yang diperoleh akan menambah kesiapan dalam
menghadapi persaingan dan masalah yang dihadapi di dunia kerja kependidikan. PPL bertujuan agar
lulusan mahasiswa calon guru dapat mencapai suatu tingkat keahlian tertentu yang diperoleh di
sekolah tempat mereka praktik. Kegiatan PPL dilapangan memberikan pelajaran kepada mahasiswa
untuk menghadapi langsung pada permasalahan yang ada dalam PPL.

Dalam pelaksanaan PPL ini, mahasiswa dapat melaksanakan praktik mengajar seluas-luasnya
baik di kampus maupun di sekolah, sehingga mahasiswa akan semakin luwes dan terampil dalam
menyampaikan pelajaran kepada siswa. Sehingga diharapkan mahasiswa calon guru akan lebih siap
untuk menjadi guru, karena mereka telah memiliki keterampilan/pengetahuan yang memadai serta
adanya perubahan sikap dan perilaku yang mencerminkan sebagai seorang guru yang profesional.
Selain itu mahasiswa juga dapat mengenal, mempelajari, dan menghayati permasalahan sekolah atau
lembaga baik yang terkait dengan proses pembelajaran maupun kegiatan manajerial kelembagaan.
Pengalaman yang didapat pada saat PPL, yaitu penyusunan perangkat persiapan pembelajaran, praktik
mengajar terbimbing dan mandiri, menyusun dan mengembangkan alat evaluasi, menerapkan inovasi
pembelajaran, mempelajari administrasi guru, serta kegiatan lain yang menunjang kompetensi
mengajar.

Dalam menilai berhasil tidaknya kegiatan PPL mahasiswa Program Studi Pendidikan
Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali maka diperlukan suatu evaluasi. Evaluasi adalah tindakan atau
proses untuk menentukan nilai dari pada suatu program. Evaluasi adalah penelitian yang sistematik
atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa program (Tayibnapis, 2000). Evaluasi adalah
pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat
dipertanggungjawabkan. Proses evaluasi menyangkut penentuan tujuan dan sasaran yang harus
1544
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dicapai, penentuan cara pencapaian tujuan tersebut dan penemuan apakah tujuan tersebut tercapai atau
tidak. Tujuan merupakan suatu hal yang penting dan bersifat substantif, dan alat atau cara untuk
mencapai tujuan tidak dapat di abaikan sama sekali. Alat yang dipakai untuk mencapai tujuan
hendaknya dipertimbangkan dari aspek efesiensi dan evektivitasnya.

Evaluasi program adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya suatu
program yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan pilihan yang tepat dalam
mengambil sebuah keputusan. Dengan melakukan evaluasi maka akan ditemukan fakta pelaksanaan
kebijakan di lapangan yang hasilnya bisa positif ataupun negatif. Evaluasi adalah pembuatan
pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan
Fattah (2001). Evaluasi dapat menjadi dua fungsi, yaitu fungsi formatif evaluasi dipakai untuk
perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk, dan
sebagainya) fungsi sumatif, evaluasi dipakai untuk mempertanggungjawabkan kete-rangan, seleksi
atau lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu
program, kebaikan program, pertanggung jawaban, seleksi, motifasi, menambah pengetahuan dan
dukungan dari mereka yang terlibat

Salah satu model evaluasi yang digunakan dalam mengevaluasi sebuah program adalah model
evaluasi CIPP (context, input, process, product). Model evaluasi CIPP tersebut merupakan sasaran
evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. Dengan kata lain,
model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievalusi sebagai sebuah sistem.
CIPP memberikan arahan kepada evaluator tentang bagaimana mempelajari tiap-tiap komponen
dalam setiap program yang akan dievaluasi (Arikunto & Jabar, 2014).

Langkah-langkah evaluasi program dengan menggunakan CIPP, mencakup: 1) Evaluasi
context/ konteks, upaya untuk menggambar-kan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak
terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek, 2) evaluasi input/masukan,
kemampuan awal untuk mengetahui lebih dalam tentang populasi dan sampel dalam rangka
melaksanakan program tersebut, 3) evaluasi process/proses, diarahkan pada seberapa jauh kegiatan
yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksanan sesuai rencana, dan 4) evaluasi
product/produk, diarahkan yang pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi masukan.

Pelaksanaan model evaluasi CIPP ini sangat dibutuhkan karena pemahaman mahasiswa
sebagai calon guru mengenai pentingnya pelaksanaan PPL di sekolah-sekolah masih kurang,
penyusunan perangkat persiapan pembelajaran yang akan digunakan dalam PPL belum sempurna,

1545
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sarana dan prasarana di masing-masing sekolah tidak sama, dan bahkan kurangnya dukungan
bimbingan oleh guru pamong dan dosen pembimbing di setiap sekolah.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) efektifitas
pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan
Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 ditinjau dari aspek context/konteks, 2) efektifitas
pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan
Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 ditinjau dari aspek input/masukan, 3) efektifitas
pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan
Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 ditinjau dari aspek process/proses, dan 4) efektifitas
pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan
Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 ditinjau dari aspek product/produk.

METODE PENELITIAN

Dilihat dari pendekatannya, penelitian ini menggunakan pendekatan empiric (ex-post facto).
Dengan pendekatan ex post facto, peneliti berhubungan dengan variable yang telah terjadi dan peneliti
tidak perlu memberikan perlakuan terhadap variabel yang diteliti. Menurut Sugiyono (2005),
pendekatan ex-post facto adalah peneliti meneliti peristiwa yang telah terjadi, dan kemudian merunut
kebelakang melalui data tersebut untuk menemukan faktor-faktor penyebab terjadinya peristiwa yang
diteliti. Secara metodelogis, penelitian yang dilakukan termasuk pada penelitian evaluasi kuantitatif
yang dilakukan berdasarkan pendekatan evaluasi program yang berorientasi pada pelaksanaan
program.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pihak yang ikut serta dalam program praktik
pengalaman lapangan (PPL) pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun
2016. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling
(teknik pengambilan sampel bertujuan). Menurut Usman (2000), purposive sampling digunakan
apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya. Subjek dalam
penelitian ini terdiri dari 95 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI
Bali tahun 2016, 10 orang dosen pembimbing, 10 orang Kepala Sekolah, dan 10 Guru Pamong.

Dalam evaluasi model CIPP, variabel penelitian ini ada empat, yaitu: 1) variabel
context/konteks, meliputi: visi program, misi program, tujuan program, 2) variabel input/masukan,
meliputi: silabus, bahan ajar, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia, 3) variabel
process/proses, meliputi: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan respon siswa,
1546
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dan 4) variabel product/produk, yaitu: hasil program PPL. Instrumen yang digunakan untuk
mengukur variabel penelitian ini adalah kuesioner.

Untuk menjawab permasalahan penelitian ini, maka data dari masing-masing variabel yang
telah diolah kemudian dianalisis secara deskritif. Untuk menemukan tingkat efektivitas PPL dilakukan
analisis terhadap variabel context/konteks, input/masukan, evaluasi process/ proses, dan
product/produk melalui analisis kuadran Glickman. Kualitas skor pada masing-masing variabel adalah
positif dan negatif yang dihitung menggunakan T-skor. Jika T-skor > 50 arahnya adalah positif (+),
dan T-skor < 50 arahnya adalah negatif (-).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data variabel context/konteks yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden
menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai responden sebesar 113 dan skor terendah yang
dicapai responden sebesar 83 dengan rata-rata sebesar 103,7. Bila dilihat dari skor yang telah
dikonversikan ke dalam T-skor menunjukkan bahwa f(+) = 6 > f(-) = 4. Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa
Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel context/konteks
tergolong efektif.

Data variabel input/masukan yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden
menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai responden sebesar 132 dan skor terendah yang
dicapai responden sebesar 70 dengan rata-rata sebesar 109,6. Bila dilihat dari skor yang telah
dikonversikan ke dalam T-skor menunjukkan bahwa f(+) = 13 > f(-) = 7. Berdasarkan hasil
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa
Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel input/masukan
tergolong efektif.

Data variabel process/proses yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden
menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai responden sebesar 80 dan skor terendah yang dicapai
responden sebesar 40 dengan rata-rata sebesar 68. Bila dilihat dari skor yang telah dikonversikan ke
dalam T-skor menunjukkan bahwa f(+) = 63 > f(-) = 42. Berdasarkan hasil tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel process/proses tergolong
efektif.

1547
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Data variabel product/produk yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden
menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai responden sebesar 86 dan skor terendah yang dicapai
responden sebesar 54 dengan rata-rata sebesar 76. Bila dilihat dari skor yang telah dikonversikan ke
dalam T-skor menunjukkan bahwa f(+) = 65 > f(-) = 30. Berdasarkan hasil tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel product/produk tergolong
efektif.

Rekapitulasi pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 disajikan pada tabel berikut.

Rekapitulasi Perhitungan Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali Tahun 2016

No Variabel Frekuensi Keterangan

f+ f- Hasil

1 Context/Konteks 6 4 + Positif

2 Input/Masukan 13 7 + Positif

3 Process/Proses 63 42 + Positif

4 Product/Produk 65 30 + Positif

Hasil ++++ Positif, Positif, Positif,
Positif

Hasil analisis menemukan bahwa pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada
mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 tergolong efektif
dilihat dari variabel context/konteks, input/masukan, process/proses, dan product/produk dengan hasil
(+ + + +).
Evaluasi program pendidikan merupakan studi yang sistematis dan didesain, dilaksanakan,
serta dilaporkan untuk membantu klien memutuskan, meningkatkan keberhargaan, dan manfaat
program-program pendidikan.
Dalam hal ini, model CIPP (context, input, process, product) memiliki keunikan pada
perangkat pengambil keputusan yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program PPL.
Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan
evaluasi tersebut di atas.

1548
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Evaluasi adalah proses penilaian sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah
ditetapkan, yang diteruskan dengan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi.
Evaluasi program PPL meliputi: 1) pembuatan standar untuk menilai kualitas dan
memutuskan apakah standar tersebut bersifat relatif atau absolut, 2) pengumpulan informasi yang
relevan, dan 3) penerapan standar tadi untuk menentukan nilai, kualitas, manfaat, efektivitas, atau
signifikansi. Arah evaluasi ialah memberikan rekomendasi untuk mengoptimalkan evaluan sesuai
dengan tujuan-tujuan evaluan atau untuk membantu pihak-pihak terkait memutuskan apakah evaluan
akan diperbaiki, dilanjutkan, atau dikembangkan.
Dalam variabel konteks, efektifnya program PPL ini terlihat dari keberadaan kepala sekolah
dan dosen pembimbing yang sangat membantu untuk membangun hubungan antar guru dan
mahasiswa. Dalam hal ini, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri,
semua warga sekolah duduk bersama merumuskan misi sekolah dan dalam merumuskan misi sekolah
melibatkan guru pamong sebagai wakil dari perguruan tinggi.
Dalam variabel input, efektifnya program PPL ini terlihat dari program sekolah disusun
berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sekolah, program sekolah
dirumuskan dalam bentuk prestasi akademik dan non akademik, setiap program sekolah dilaksanakan
berdasarkan dana yang dimiliki oleh sekolah, penyebaran kurikulum kedalam bentuk silabus dan RPP,
buku paket yang tersedia cukup di perpustakaan, kepala sekolah mengoptimalkan sumber daya yang
ada di sekolah dengan jalan mengikutsertakan dalam setiap pelatihan, kepala sekolah dan guru
berusaha mengembangkan dan meningkatkan inovasi-inovasi pembelajaran untuk meningkatkan mutu
pendidikan, dan sekolah bekerja sama dengan lembaga lain dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan di sekolah.
Dalam variabel proses, efektifnya program PPL ini terlihat dari mahasiswa selalu membuat
dan menyusun silabus setiap bidang studi yang diajarkan. Kompetensi seorang guru didukung oleh
lima komponen, yaitu: komponen bahan pengajaran (the teaching subject component), komponen
profesional (the profesional component), komponen proses (the process component), komponen
penyesuaian (the adjusment componen), dan komponen sikap (attitude component), guru selalu
menyusun RPP dalam setiap materi yang diajarkan, mahasiswa sebagai guru memberi pelajaran
tambahan bagi anak-anak yang kurang, guru selalu memberikan evaluasi setiap akhir materi pelajaran.
Evaluasi memiliki fungsi-fungsi motivasi, umpan balik, guru memberikan pekerjaan rumah (PR) bagi
siswa agar mau belajar di rumah, hasil evaluasi ditindaklanjuti oleh guru sehingga guru mengetahui
kekurangannya dalam menyampaikan materi pelajaran (feedback), dan adanya evaluasi akhir sekolah
untuk menentukan tingkat keberhasilan atau kelulusan anak-anak/siswa.

1549
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dalam variabel produk, efektifnya program PPL ini terlihat dari peningkatan prestasi
akademik mahasiswa, adanya peningkatan rata-rata nilai mahasiswa, kemampuan mahasiswa dalam
upaya meningkatkan kemampuan mengajar dengan baik semakin meningkat.

PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa: 1) pelaksanaan Praktik Pengalaman
Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun
2016 pada variabel context/konteks tergolong efektif, 2) pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan
(PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada
variabel input/masukan tergolong efektif, 3) pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada
mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel
process/proses tergolong efektif, dan pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada
mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Bali tahun 2016 pada variabel
product/produk tergolong efektif.
Berdasarkan temuan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI
Bali tahun 2016 tergolong efektif dilihat dari variabel context/konteks, input/masukan, process/proses,
dan product/produk dengan hasil (+ + + +).
Berdasarkan simpulan di atas, dapat diberikan saran-saran sebagai berikut: 1) perlunya untuk
meningkatkan visi misi dari program PPL, 2) perlunya meningkatkan sarana prasarana untuk
menunjang kesesuaian program PPL, 3) perlunya untuk meningkatkan perencanaan pembelajaran
yang sesuai dengan kaidah pembuatan perencanaan pembelajaran, dan 4) perlunya meningkatkan
hasil dari program PPL dimana masih ada beberapa mahasiswa yang mendapatkan nilai negatif.

1550
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S., & Jabar, C.S.A. 2014. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Fattah, N. 2001. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah. Bandung: Pustaka Bani
Quarisy.

Hamalik, O. 2009. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Sagala, S. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2005. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Supardi. 2014. Kinerja Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suyanto & Djihad, A. 2013. Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru Profesional. Yogyakarta:
Multi Pressindo.

Tayibnapis, F.Y. 2010. Evaluasi Program. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Usman, H. 2000. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.

1551
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pengembangan Model Konseling Kelompok Dengan Teknik Manajemen Diri Untuk
Meningkatkan Efikasi Diri Siswa

Ni Komang Sri Yuliastini

ABSTRACT

The purposes of this research are: (1) to find out the execution of counselling groups, (2) to
produces a model of counselling services group with self management techniques, (3) to
knowing the effectiveness model of counseling groups with self management techniques to
improve students 'self efficacy. Method of this research is reseach and development with
these steps: (1) preparation of model development, (2) formulating hypothetical model, (3)
test the feasibility of an hypothetical model, (4) the improvement of hypothetical model, (5)
field test, (6) the end result product. Generate model development group counseling with self
management techniques to improve students ' self-efficacy. The level of self-efficacy of
students experience increased after following a group counseling activities with self
management techniques, proven effective for increasing self-efficacy of students. Before
students are given treatment (pre test) and after (post test) by 113 points. The results of a
wilcoxon test calculation of statistical tests also show the 0.012 can be concluded so that 0.05
< that group counselling services with effective self management techniques. Advice to
always improve the competence of counselors as a counseling model BK and practitioner
groups with self management techniques can be presented as one model of services in helping
improve students self-efficacy.

Keywords: Group Counselling, Self Management, Self Efficacy

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di zaman modern diperhatikan pada semua
aspek, baik itu aspek perekonomian, sosial, politik, budaya dan pendidikan. Di samping itu
sumber daya manusia yang berkualitas akan berpengaruh juga pada kesuksesan sebuah
negara di mana negara yang memiliki sumber daya manusia yang bagus akan dapat mengolah
hasil sumber daya alam dengan baik dan demikian juga sebaliknya jika sumber daya manusia
kurang berkualitas maka sumber daya alam tidak akan dapat diolah dan dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya.

SMA dan SMK merupakan jenjang pendidikan sekolah menengah. Perbedaannya
adalah siswa SMA menempuh pendidikan di lingkungan sekolah, siswa SMK memiliki
program kegiatan pendidikan yang memberikan pengalaman praktek di luar sekolah sesuai
1552
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

bidang penjurusan yang mereka tekuni yang disebut PRAKERIN (Praktek Kerja Industri).
Siswa SMK diwajibkan mengikuti kegiatan ini selama kurang lebih 4 (empat) bulan. Dalam
prosesnya, peserta didik yang sedang menempuh PRAKERIN di waktu yang sama
menempuh pendidikan penuh yaitu setiap hari sabtu guna memenuhi kewajiban peserta didik
pada mata pelajaran teori.

Di satu sisi, situasi tersebut akan menimbulkan masalah pada peserta didik, beberapa
peserta didik merasa tidak yakin dengan kemampuannya seperti: tidak bertanggung jawab,
perasaan tak berdaya, cemas, khawatir dan sebagainya (Hurlock, 1990; Yusuf, 2004). Tidak
bertanggung jawab antara kewajiban PRAKERIN dengan mengikuti pelajaran di sekolah,
perasaan tak berdaya akan rendahnya keyakinan untuk melaksanakan tugas secara
bersamaan, cemas akan prestasi yang menurun serta perasaan khawatir jika terjadi ketidak
mampuan menuntaskan kedua kegiatan tersebut. Di sisi lain, menurut salah satu guru mata
pelajaran, ketika mereka mengumpulkan tugas cenderung dengan kondisi seadanya (asal jadi)
kemudian mengikuti kegiatan belajar di kelas pun kurang bersemangat.

Mampu menyeimbangkan antara melaksanakan tugas praktikum dan menempuh
mata pelajaran di sekolah adalah hal yang sangat diharapkan bagi peserta didik SMK.
Memiliki manajemen diri merupakan modal yang penting bagi peserta didik untuk
menghadapi situasi pendidikan dengan sistem ganda, namun manajemen diri akan berfungsi
optimal jika diperkuat dengan aspek lain yaitu adanya efikasi diri tinggi dari dalam diri
peserta didik. Efikasi diri tinggi ketika seseorang tersebut merasa yakin bahwa dirinya
percaya mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan apa yang diinginkan dan diharapkan.
Nelson dan Jones (2011: 437) mengatakan bahwa “Untuk melaksanakan kinerja yang ahli
orang perlu memiliki keterampilan yang dipersyaratkan dan keyakinan akan efikasinya untuk
menggunakannya”. Oleh karena itu untuk menghadapi tuntutan praktikum dan menempuh
mata pelajaran di sekolah, disamping memiliki manajemen diri mereka harus pula
ditingkatkan efikasi diri peserta didik tersebut.

Memberikan pelatihan efikasi diri dapat menurunkan kecemasan siswa dalam
menghadapi Ujian Nasional dengan membandingkan siswa- siswi yang mendapatkan dan
tidak mendapatkan pelatihan efikasi diri (Nurlaila, 2013). Efikasi Diri, Kebutuhan Akan
Prestasi serta Lokus Kendali juga berpengaruh terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa
dengan mengikuti kuliah umum, seminar, takshow, pelatihan motivasi, manajemen waktu dan
kewirausahaan (Yuhendri, 2011).

Upaya mengoptimalkan layanan BK untuk meningkatkan efikasi diri dilakukan dengan
berbagai cara. Secara umum, konseling kognitif perilaku adalah suatu bentuk konseling yang
memadukan prinsip dan prosedur konseling kognitif dan konseling perilaku dalam upaya
membantu konseli mencapai perubahan perilaku yang diharapkan (Ramli, 2005: 43). Dengan
kata lain, pendekatan kognitif perilaku adalah proses kognisi yang merupakan mediasi bagi
perilaku, pengamanan dan perubahan perilaku yang diharapkan, karena aspek kognitif
1553
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

memiliki peran penting terutama dalam mempertimbangkan berbagai tindakan yang hendak
dilakukan, menentukan pilihan-pilihan tindakan itu dan mengambil keputusan tindakan
perilakunya.

Salah satu teknik dalam konseling kognitif perilaku adalah manajemen diri. Teknik
manajemen diri merupakan suatu teknik untuk mengubah dan pengembangan perilaku yang
menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi untuk mengubah dan mengembangkan
perilakunya sendiri. Pengubahan perilaku ini dalam prosesnya lebih banyak dilakukan oleh
individu (konseli) yang bersangkutan, bukan diarahkan atau bahkan dipaksakan oleh orang
lain (konselor).

Teknik manajemen diri merupakan suatu teknik untuk mengubahan dan
pengembangan perilaku yang menekankan pentingnya ikhtiar dan tanggung jawab pribadi
untuk mengubah dan mengembangkan perilakunya sendiri. Pengubahan perilaku ini dalam
prosesnya lebih banyak dilakukan oleh individu (konseli) yang bersangkutan, bukan
diarahkan atau bahkan dipaksakan oleh orang lain (konselor).

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut salah satu layanan konseling kelompok
dipandang efektif dalam meningkatkan efikasi diri peserta didik adalah layanan konseling
kelompok dengan teknik manajemen diri. Maka penelitian ini berjudul “Pengembangan
Model Konseling Kelompok dengan Teknik Manajemen Diri untuk Meningkatkan
Efikasi Diri Siswa”.

METODE

Tujuan akhir dari penelitian ini adalah tersusunnya rumusan model konseling
kelompok dengan teknik manajemen diri untuk meningkatkan efikasi diri siswa. Kerangka
model tersusun berdasarkan kajian teoritis, empiris, dan kondisi faktual tentang konseling
kelompok serta rendahnya efikasi diri siswa. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan
metode dan desain penelitian pengambangan (research and development) yang didasarkan
pada prinsip-prinsip dan langkah-langkah Borg & Gall. Menurut Borg & Gall (Sugiyono,
2013: 409).

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK TI Bali Global Denpasar dengan
jumlah sampel sebanyak 8 orang siswa kelas XI. Pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian ini, diperoleh dari skala perilaku
bullying dan perilaku agresif siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Kondisi Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok di SMK TI Bali Global
Denpasar
1554
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Gambaran tentang pelaksanaan layanan konseling kelompok, peneliti melaporkan
berdasarkan hasil wawancara pada guru Bimbingan dan Konseling dan beberapa guru BK
atau konselor lainnya. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti berfokus pada data yang
berkaitan dengan: (a) perencanaan konseling kelompok, (b) pelaksanaan konseling kelompok,
(c) materi atau permasalahan dalam konseling kelompok, (d) waktu dan jadwal konseling
kelompok, (e) sasaran yang digunakan dalam kegiatan konseling kelompok, (f) evaluasi dan
tindak lanjut, (g) faktor penunjang dan penghambat. (H) evaluasi pelaksanaan konseling
kelompok yang berupa penilaian segera (laiseg).

2. Model Konseling Kelompok Dengan Teknik Manajemen Diri Untuk
Meningkatkan Efikasi Diri Siswa

Penelitian ini untuk mengetahui tinggi rendahnya efikasi diri siswa diukur dengan
skala efikasi diri yang ditinjau dari efikasi diri yang terdiri dari 8 indikator yang dijabarkan
pada 60 butir dan 47 butir yang teruji validitasnya dengan jumlah siswa 119. Kategori yang
digunakan untuk menentukan efikasi diri adalah tinggi, sedang, rendah, kurang. Untuk
pelaksanaan intervensi dan subjek penelitian dilaksanakan di SMK TI Bali Global dengan
pertimbangan bahwa dari 8 indikator efikasi diri, kebanyakan dialami oleh siswa SMK TI
Bali Global. Untuk itu penelitian ini dilaksanakan di SMK TI Bali Global Denpasar. Efikasi
diri siswa SMK TI Bali Global Denpasar dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat Efikasi Diri Siswa di SMK TI Bali Global Denpasar

Frekuensi Kriteria dan Porsentase
No Indikator
T % S % R % SR %
1 Memahami materi yang 6 5,04 49 41,18 64 53,78 0 0,00
sulit.
2 Mengatasi hambatan
dalam tingkat kesulitan 0 0,00 23 19,33 96 80,67 0 0,00
tugas yang dihadapinya.
3 Mencapai prestasi yang
14 11,76 61 51,26 44 36,97 0 0,00
tinggi.
4 Memiliki kemampuan
dalam berbagai macam 16 13,45 72 60,50 31 26,05 0 0,00
tugas.
5 Membagi waktu antara
6 5,04 81 68,07 32 26,89 0 0,00
belajar dan praktikum.
6 Pengalaman buruk tidak
akan menghalangi 11 9,24 56 47,06 48 40,34 4 3,36
pencapaian keberhasilan
7 Mengerjakan tugas dalam
berbagai situasi dan 12 10,08 42 35,29 65 54,62 0 0,00
kondisi.
8 Menyelesaikan tugas 48 40,34 54 45,38 17 14,29 0 0,00
dengan tuntas.
1555
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

3. Hasil Uji Efektifitas Model Untuk Meningkatkan Efikasi Diri Siswa

Uji keefektivan model layanan konseling kelompok dengan teknik manjemen diri

untuk meningkatkan efikasi diri siswa dianalisa dengan Uji wilcoxon melalui program SPSS.

Syarat uji wilcoxon adalah perbedaan dua kelompok data berdistribusi normal. Peneliti

terlebih dahulu harus melakukan dahulu uji normalitas pada perbedaan kedua kelompok

tersebut. Peneliti melakukan uji normalitas dengan Shapiro Wilk dan diperoleh nilai

signifikan sebesar 0,273 (p > 0,05 berarti data adalah tersebut normal. Selanjutnya dilakukan

analisis dengan uji wilcoxon. Berikut ini akan diuraikan hasil rangkuman pengujian

keefektivan model layanan konseling kelompok dengan teknik manajemen diri untuk

meningkatkan efikasi diri siswa. Hasil uji wilcoxon dijelaskan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Wilcoxon

b
Test Statistics
postes - pretes
a
Z -2.521
Asymp. Sig. (2-tailed) .012
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Pembahasan

Model konseling kelompok yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah konseling
kelompok dengan memanfaatkan teknik manajemen diri untuk meningkatkkan efikasi diri
siswa. Asumsi bahwa permasalahan efikasi diri siswa perlu untuk dikembangkan secara
optimal secara optimal dikarenakan efikasi diri memiliki sumbangan besar terhadap
keberhasilan siswa dalam memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya sehingga siswa
mencapai keberhasilan dan berprestasi dalam kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat.

Efikasi diri dapat dijelaskan adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh individu secara
sadar serta memiliki komitmen ke arah yang positif untuk kemajuan individu tersebut dengan
mengacu pada pengelolaan diri yang baik. Dengan memiliki keyakinan diri, individu dapat
1556
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

bertindak tanpa adanya perasaan ragu-ragu, berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai
tujuan yang diharapkan.

Pertimbangan memanfaatkan teknik manajemen diri dalam konseling kelompok
bahwa manajemen diri merupakan suatu teknik untuk mengubahan dan pengembangan
perilaku yang menekankan pentingnya ikhtiar dan tanggung jawab pribadi untuk mengubah
dan mengembangkan perilakunya sendiri. Pengubahan perilaku ini dalam prosesnya lebih
banyak dilakukan oleh individu (konseli) yang bersangkutan, bukan diarahkan atau bahkan
dipaksakan oleh orang lain (konselor).

Konseling kelompok dengan teknik manajemen diri dapat digunakan dalam
meningkatkan efikasi diri siswa. Dilakukan dalam situasi konseling kelompok dalam
dinamika kelompok agar siswa efektif dalam mengungkapkan permasalahan mengenai
efikasi diri secara bersama-sama dengna anggota lain. melalui tahapan konseling kelompok,
yaitu: (1) tahap pembentukan, (2) tahap peralihan, (3) tahap kegiatan, (4) tahap pengakhiran.
Teknik manajemen diri akan dilaksanakan dalam tahapan ke-3 (tahap kegiatan) dalam
konseling kelompok. Pada tahap kegiatan dalam konseling kelompok, pemimpin kelompok
akan memberikan strategi teknik manajemen diri untuk meningkatkan efikasi diri siswa
melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) Self Monitoring, (2) Self Reward, (3) Self
Contracting dan (4) Stimulus Control.

Pengalaman peneliti sebagai pemimpin kelompok dalam kegiatan konseling
kelompok dengan memanfaatkan teknik manajemen diri untuk meningkatkan efikasi diri
siswa, ditemukan bahwa prosedur pelaksanaan layanan peningkatan efikasi diri siswa dengan
model konseling kelompok melalui teknik manajemen diri memberikan peluang yang sama
pada masing-masing kelompok untuk terlibat dan aktif selama kegiatan berlangsung. Mulai
dari tahap pembentukan sampai pada tahap pengakhiran.

Hal yang sama sesuai dengan pernyataan Rusmana (2009: 56) yang menegaskan
bahwa penyelenggaraan layanan konseling kelompok yang berkualitas melalui penerapan
kegiatan dinamika kelompok yang efektif ditandai dengan hadirnya suasana kejiwaan yang
sehat diantara peserta layanan, meningkatkan spontanitas, lahirnya perasaan yang positif.
Mampu meningkatkan minat untuk terlibat dalam seluruh proses kegiatan, memungkinkan
terjadinya katarsis serta meningkatnya pengetahuan dan efikasi diri siswa.

PENUTUP

Konseling kelompok dengan teknik manajemen diri dapat digunakan dalam
meningkatkan efikasi diri siswa. Dilakukan dalam situasi konseling kelompok dalam
dinamika kelompok agar siswa efektif dalam mengungkapkan permasalahan mengenai
efikasi diri secara bersama-sama dengna anggota lain. melalui tahapan konseling kelompok,
yaitu: (1) tahap pembentukan, (2) tahap peralihan, (3) tahap kegiatan, (4) tahap pengakhiran.
Teknik manajemen diri akan dilaksanakan dalam tahapan ke-3 (tahap kegiatan) dalam
1557
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

konseling kelompok. Pada tahap kegiatan dalam konseling kelompok, pemimpin kelompok
akan memberikan strategi teknik manajemen diri untuk meningkatkan efikasi diri siswa
melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) Self Monitoring, (2) Self Reward, (3) Self
Contracting dan (4) Stimulus Control.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara nilai rata-rata skor efikasi diri siswa sebelum menerima layanan konseling kelompok
dan nilai rata-rata skor efikasi diri siswa sesudah menerima layanan konseling kelompok. Hal
ini mengandung arti bahwa pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik
manajemen diri efektif dalam meningkatan efikasi diri siswa.

Saran yang dapat di kemukakan bagi peneliti yang ingin melaksanakan penelitian
mengenai efikasi diri siswa, agar model ini dapat dikembangkan untuk mengkaji pada
indikator perkembangan yang lain yang ada pada diri siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Nelson, R. & Jones. 2011. Teori dan Praktek Konseling dan Terapi (Terjemahan Edisi ke
empat). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurlaila, S. 2011. Pelatihan Efikasi Diri Untuk Menurunkan Kecemasan Pada Siswa-Siswi
Yang Akan Menghadapi Ujian Akhir Nasional. Jurnal GUIDENA.

Rusmana, N. 2009. Konseling Kelompok Bagi Anak Berpengalaman Traumatis. Bandung:
RIZKY PRESS.

Sugiyono. 2010. Statistik Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
RnD). Bandung: Alfabeta.

Yuhendri. 2011. Pengaruh Kebutuhan Akan Prestasi, Lokus Kendali dan Efikasi Diri
Terhadap Minat berwirausaha : Survey pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Padang. Tesis SPs UPI : Bandung. Tidak Diterbitkan.

Yusuf, S. L.N. 2004 Mental Hygiene.Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

1558
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PEMECAHAN
MASALAH BERORIENTASI MASALAH MATEMATIKA TERBUKA PADA
MAHASISWA SEMESTER V FP-MIPA IKIP PGRI BALI
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

I Komang Sukendra

ABSTRACT

The Formulated of The Problem in This Reseach was Wheter or There was Influence of
Problem Solving Learning Model Oriented Open Ended Problem in V Semester Students
of FP MIPA IKIP PGRI Bali in 2016/2017.
In the present time, me then arics learning process done by tecturers by learning and
explaining in can man form is contived by giving formal goes example with the step of
question solving and the students imitate. The students ability to slove mathematics problem
belong belongs to be poor. It was caused by the problem served by the tecturars was domina
with closed problem presentation, lack of emphasizing in inteqred problem solving, and the
presentation didn’t give chance for the student to do their crecivity. By the application of
opened match problem solving learning model, mathematic problem was formulated in a
such way, hence it could have more than one corect answers, by any solving problem
possibilities. The formulated of the problem in this reseach was wheter or there was influence
of problem solving learning model oriented open ended problem in V Semester students of FP
MIPA IKIP PGRI Bali in 2016/2017.
The aim of the research was to know whether or not there was the imflvence of
problem solving learning model application oriented with opened mathematic problem in V
semester students of FP MIPA IKIP PGRI Bali in 2016/2017. The methology was oppearence
experiment, with reseach plan none eguiuden posttest-only control group design. In this
research, there was free variable, it was learning model, this model was differed into two
levels problem solving learning model oriented with open endded problem and problem
solving learning model, one bound variable, namely studying result as well.
The population of the is researct was all of the V semester students of FP-MIPA IKIP
PGRI Bali 2016/2017 consisting of 3 calss of 83 student, The taken sample of this research
was done by “teknik random sampling”,but random technigue is for the class. Before the
sample were taken, the equivelance of by using uji-t had been done, the data collection was
done by using the result of mathematics learning.
Based on data analysis result above, it was found that t hitung was equal to 2.91, it was
significant grade 5% and freedom of grade for db = 46 – 2 = 44. It was obtained t tabel =
1,988 so t hitung > t tabel . It could be concluded that alternatif hifotesis H1 was accepted,
zero hipotesis was rejected. it meant that, there was influence of problem solving learning
model application oriented open-ended to learning result of the V semester student of FP-
MIPA IKIP PGRI Bali in 2016/2017.

Keywords : influence, learning model, learning outcomes

1559
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENDAHULUAN
Matematika bukan lagi dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan. Ini dapat dilihat
dari banyaknya siswa atau mahasiswa yang mulai senang dengan pelajaran matematika di
sekolah menengah maupun di perguruan tinggi. Pelajaran matematika merupakan dasar dari
semua pelajaran khususnya pelajaran yang menggunakan hitungan seperti fisika kimia dan
lain lain. Dalam pencapaian tujuan pembelajaran peran guru atau dosen sangat penting dalam
memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan dalam proses
pembelajaran. Ketepatan dalam memilih metode dan model pembelajaran dapat memberikan
motivasi mahasiswa dalam meningkatkan hasil belajar.
Dalam perkuliahan di kampus, masih ada mahasiswa yang kurang aktif dalam mengikuti
perkuliahan sehingga dosen harus memiliki inovasi untuk merubah strategis dan model
pembelajaran agar mahasiswa lebih aktif dalam mengikuti perkuliahan. Dosen memberikan
materi perkuliahan serta disuruh mencari materi perkuliahan yang sudah ditentukan topiknya,
dari buku atau internet, serta disuruh membuat makalah yang dipresentasikan secara
berkelompok di depan kelas menggunakan bantuan power point. Meskipun mahasiswa sudah
membuat makalah untuk dipresentasikan namun masih ada beberapa mahasiswa yang tidak
paham atau mengerti tentang apa yang dijelaskan meskipun dosen sudah beberapa kali
mengingatkan, sebelum presentasi untuk mempelajari materi secara mendalam dan membuat
soal-soal yang perlu dijawab oleh temanya agar mahasiswa yang lain lebih aktif
memperhatikan temannya yang pesentasi. Untuk membangkitkan motivasi mahasiswa, dosen
akan diberikan nilai point bagi mahasiswa yang bisa menjawab soal yang diberikan oleh
penyaji. Dosen akan menjelaskan apabila ada mahasiswa yang belum mengerti dengan
penjelasan temannya.
Beberapa masalah yang sering dihadapi seperti (1) Rendahnya kualitas pendidikan yang
dihasilkan tidak terlepas dari berbagai faktor diantaranya adalah proses pembelajaran. Proses
pembelajaran matematika selama ini dilakukan dosen cenderung melalui pembelajaran dan
penjelasan bentuk umum dilanjutkan dengan menjelaskan contoh soal formal dengan
langkah-langkah pengerjaannya dan mahasiswa menirukan. Proses pembelajaran yang
diterapkan dosen belum mampu merangsang mahasiswa untuk meningkatkan motivasi dalam
memecahkan suatu permasalahan, (2) Kemampuan pemecahan masalah matematika
mahasiswa yang masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan masih ada dosen yang kurang
kreatif untuk mengarahkan mahasiswa agar mampu memacu semangat setiap mahasiswa
untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya, dan masalah yang disajikan
oleh dosen didominasi oleh penyajian masalah tertutup, kurang menekankan pada
pengintegrasian pemecahan masalah, dan cenderung hanya dihadapkan pada penyajian
masalah yang kurang memberikan ruang pada mahasiswa untuk berkreativitas, (3)
Pembelajaran yang dilaksanakan di kelas masih bersifat klasikal, kurang melibatkan
mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran, dan cenderung mengakui kelas sebagai
suatu yang seragam sehingga pembelajaran bersifat kompetitif.
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di kampus, banyak model pembelajaran
yang bisa dikembangkan. Namun masih ada beberapa dosen yang menggunakan model
pembelajaran konvensional yang mengacu pada materi yang ada pada buku bahan mata
kuliahnya. Hal ini cendrung berdampak kurang sempurna dalam pemahaman mahasiswa
terhadap mata kuliah yang sedang diajarkan, sehingga motivasi dan hasil belajar mahasiswa
menjadi rendah. Dengan demikian dosen dituntut trampil dalam memilih model pembelajaran
yang digunakan pada saat proses pembelajaran di kampus agar mahasiswa lebih mudah
1560
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

memahami materi yang sedang dipelajari. Dengan kemajuan teknologi informatika,
mahasiswa tidak hanya terpaku pada materi yang diberikan oleh dosen, tetapi mahasiswa juga
di suruh mencari materi dari sumber lain seperti buku yang sesuai dan internet sehingga
materi perkulihan semakin bagus dengan berbagai literatur.
Untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, dosen dituntut untuk lebih inovasi
dalam mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi perkuliahan. dengan
model pemecahan masalah saja belum bisa meningkatkan motivasi belajar mahasiswa,
sehingga model ini perlu dikembangkan menjadi model pembelajaran pemecahan masalah
berorientasi masalah matematika terbuka. Dengan mengembangkan model pembelajaran
pemecahan masalah menjadi model pemebelajaran pemecahan masalah berorientasi masalah
matematika terbuka, diharapkan akan meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Model
pembelajaran pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka, yaitu dengan
masalah matematika yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki lebih dari satu
jawaban yang benar, dengan berbagai prosedur pemecahannya. Karena selama ini
pembelajaran sering menggunakan masalah matematika dalam bentuk tertutup, artinya
masalah matematika dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki satu jawaban yang
benar dan satu cara penyelesaiannya, sehingga mahasiswa harus menjawab sesuai dengan apa
yang dimaksud oleh dosennya tanpa ada pengembangan alur berfikir karena beda cara
penyelesaian dianggap salah. Dengan penerapan model pembelajaran pemecahan masalah
berorientasi masalah matematika terbuka mahasiswa diharapkan lebih bisa membuka
wawasan mereka terhadap materi yang dipelajari, sehingga mahasiswa dituntut untuk
berperan aktif dalam proses pembelajaran dan pendapat mahasiswa dihargai dengan baik
serta lebih termotivasi karena terjadi interaksi maksimum antara dosen dan mahasiswa dalam
proses pembelajaran di dalam kelas.
Untuk memperoleh kemampuan dalam pemecahkan masalah, siswa harus banyak
memiliki pengalaman dalam memecahkan berbagai masalah. Dengan diterapkannya model
pemecahan masalah terbuka akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
konsep-konsep matematika melalui langkah-langkah pembelajaran yang dimuat dalam model
pembelajaran ini. Melalui langkah-langkah pembelajaran tersebut nantinya siswa akan
diantarkan pada penemuan konsep-konsep matematika, serta mengorganisasikan mereka
untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Dengan penerapan model pemecahan
masalah berorientasi masalah matematika terbuka diharapkan dapat menambah nuansa baru
dalam pembelajaran matematika, serta mampu mengembangkan kemampuan dalam
pemecahan masalah, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
mahasiswa.
Berdasarkan paparan di atas, penelitian yang memberikan pembuktian empiris mengenai
model pembelajaran pemecahan masalah berorientasi pada masalah matematika terbuka yang
berkaitan dengan hasi belajar mahasiswa. Dengan demikian Penulis tertarik dan memandang
perlu melakukan penelitian yang berjudul: “ Pengaruh Penerapan Model Pebelajaran
Pemecahan Masalah Berorientasi Masalah Matematika Terbuka Pada Mahasiswa Semester
V FP-MIPA IKIP PGRI Bali Tahun Pelajaran 2016/2017”.

1561
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

METODE PENELITIAN

Rancangan Peneliatian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu.
Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas yaitu model pembelajaran, dimana model
pembelajaran dibedakan menjadi dua level yaitu model pembelajaran pemecahan masalah
berorientasi masalah matematika terbuka dan model pembelajaran pemecahan masalah, serta
satu variabel terikat yaitu hasil belajar. Rancangan penelitian None Equivalen Posstest-Only
Control Group Design.

Intract Class Eksprimen variabel Post-tes

KE X O

KK Y O

Dengan : KE = Kelompok Eksprimen
KK = Kelompok Kontrol

Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiwa semester V FP-MIPA IKIP PGRI
Bali tahun pelajaran 2016/2017 yang terdiri dari 3 kelas dengan jumlah 83 mahasiswa.
Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling, tetapi
yang dirandom adalah kelas.
Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian, atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Beberapa variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah Kelompok Eksprimen (X1),
Kelompok Kontrol (X2). dan Hasil belajar (Y). Pada kelompok eksprimen diberikan
perlakuan berupa model pemecahan masalah yaitu model pembelajaran pemecahan masalah
yang berorientasi masalah matematika terbuka, sedangkan pada kelompok kontrol hanya
diberikan model pembelajaran pemecahan masalah. Setelah itu kedua kelompok diberikan
post-test.

Analisis Data
Pengujian analisis adalah untuk mengetahui apakah data tersedia dapat dianalisis
dengan statistis paramatrik atau tidak. Teknik analisis data yang dipakai adalah analisis
statistik, karena dalam penelitian ini data berupa angka-angka (kuantitatif). Data tentang hasil
belajar matematika akan dianalisis menggunakan rumus ANAVA.

1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran data yang diperoleh apakah
berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, pengujian normalitas dilakukan dengan

1562
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

menggunakan Uji Chi Kuadrat. Apabila  2 hitung   2 tabel, maka sampel populasi berasal
dari populasi yang berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui data yang dibandingkan variansnya
homogenitas atau tidak. Pada penelitian ini, pengujian homogenitas dilakukan dengan
menggunakan uji Bartlet. Kreteria pengujian varians homogen jika  2 hitung   2 tab pada
taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan k-1.

2. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dari penelitian ini digunakan uji statistik yaitu Anava. Jika data
berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesis nol (Ho) pada penelitian ini
digunakan uji-t (statistik parametrik) dengan taraf signifikansi 5%. Untuk uji hipotesis
digunakan uji-t. Dalam pengujian ini, digunakan taraf signifikansi 5% dan db = N-1. Jika
dalam perhitungan t hitung  ttabel maka nilai t tersebut signifikan. Hal ini berarti bahwa
hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima, dan bila diperoleh harga
t hitung  ttabel maka nilai t tidak signifikan, hal ini berarti hipotesis nol (Ho) diterima dan
hipotesis alternatif (H1) ditolak.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji hipotesis dalam penelitian ini digunakan melalui metode statistik, adalah uji t.
Untuk pengujian Normalitas, terlebih dulu mencari nilai Chi kuadrat
Dari hasil perhitungan dipeoleh χ2hitung = 5,3061 sedangkan nilai χ2tabel df = jumlah kelas
interval l= 6–1 = 5 dengan taraf signifikansi 5% = 11,070. Karena harga χ2hitung < χ2tabel yaitu
5,3061 <11,070 maka dapat disimpulkan data sampel kelompok kontrol berdistribusi normal.
Dengan bantuan SPSS di peroleh hasil seperti berikut.

Tests of Normality

Kolmogorov-
Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statis Statis
tic df Sig. tic df Sig.
A1 .163 23 .114 .919 23 .064
A2 .163 23 .115 .938 23 .161
a Lilliefors Significance Correction
Dari tabel di atas Sig 0,114 untuk A1 dan Sig.. 0,115 untuk A2 lebih besar dari 0,05, maka
kedua kelompok tersebut memiliki didtribusi normal.

Pengujian Homogenitas Data
Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji varians (Uji F). Adapun
langkah-langkah yang ditempuh dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut.
a. Menghitung nilai varian dari masing-masing kelompok
Untuk menghitung varians (SD2) dari masing-masing kelompok ditentukan dari tabel
distribusi frekuensi pada masing-masing kelompok tersebut yang sudah dihitung pada
pengujian normalitas data sebelumnya,
1563
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

(1) Analisis varian kelompok eksperimen

SD2 =

2
144.894 1.819 
=   = 6.299,74 – 6.241
23  23 
= 58,74
(2) Analisis varian kelompok kontrol

SD2 =

2
121.277 1.661 
=   = 5.272,91 – 5.212,84
23  23 
= 60,07
Menghitung nilai Fhitung dengan rumus sebagai berikut.
F = = = 1,02

Didapat Fhitung = 1,02. Nilai derajat kebebasan untuk db pembilang = 23 -1 = 22 dan nilai
derajat kebebasan db penyebut = 23 – 1 = 22. Dengan taraf signifikansi 5% maka diperoleh
Ftabel = 1,66. Dengan demikian diperoleh nilai Fhitung < Ftabel yaitu 1,02 < 1,66 maka varian-
varian data kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tersebut adalah homogen.
Hal ini juga didukung oleh hasil SPSS Uji Homogenitas Levene's Test of Equality of Error
Variances(a)
Dependent Variable: h.belajar
F df1 df2 Sig.
.135 1 44 .715

Diperoleh nilai Sig. 0,75 lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan kedua kelompok data
mempunyai varian yang sama atau homogeny.
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: hasil belajar
Type III
Sum of Mean
Source Squares df Square F Sig.
Correct
665.761( 10.99
ed 1 665.761 .002
a) 1
Model
Intercep 252044.0 252044.0 4160.
1 .000
t 22 22 988
model 10.99
665.761 1 665.761 .002
1
Error 2665.217 44 60.573

1564
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232
Total 255375.0
46
00
Correct
3330.978 45
ed Total
a R Squared = .200 (Adjusted R Squared = .182)

Teknik Analisis Data
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus t-test
1. Rata-rata nilai masing-masing kelompok diambil dari rata-rata yang telah dihitung pada
pengujian normalitas data sebelumnya. Rata-rata Nilai Kelompok Eksperimen ( ) = 79
dan Rata-rata Nilai Kelompok Kontrol ( ) = 72,2
2. Nilai varian dari masing-masing kelompok diambil dari nilai varian yang telah dihitung
pada pengujian homogenitas data sebelumnya.
Varian Kelompok Eksperimen (
= 7,72 = 57,29
Varian Kelompok Kontrol (
= 7,82 = 60,84
3. Mencari thitung, dengan rumus
thitung =

= =

= = 2,91

Berdasarkan hasil analisis data di atas diperoleh thitung = 2,91. Dengan taraf signifikansi
5% dan derajat kebebasan untuk db = 46 – 2 = 44, maka diperoleh ttabel = 1,988 sedangkan
sehingga thitung > ttabel , dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif (H1) diterima dan
hipotesis nol (Ho) ditolak. Ini berarti ada pengaruh penerapan model pembelajaraan
pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka terhadap hasil belajar
mahasiswa semester V FP-MIPA IKIP PGRI Bali pada tahun pelajaran 2016/2017.

PEMBAHASAN
Dari hasil tes hasil belajar dipeoleh bahwa rata-rata (mean) dari nilai siswa yang
diberikan pembelajaran menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah berorientasi
masalah masalah matematika terbuka sebesar 79. Sedangkan rata-rata (mean) nilai
mahasiswa yang diberikan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran pemecahan
masalah biasa adalah 72,2. Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar matematika sebesar 6,8
antara mahasiswa yang belajar menggunakan pendekatan model pembelajaran pemecahan

1565
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

masalah berorientasi masalah matematika tebuka dengan mahasiswa yang belajar dengan
penerapan model pembelajaran pemecahan masalah biasa.
Demikian juga dari hasil analisis t-test diperoleh nilai thitung = 2,91 sedangkan ttabel =
1,988 sehingga thitung > ttabel, ini berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Hasil menunjukkan hasil
belajar matematika mahasiswa yang diberikan model pembelajaran dengan menggunakan
penerapan model pembelajaran pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka
lebih baik daripada hasil belajar mahasiswa yang diberikan penerapan model pembelajaran
pemecahan masalah.
Dengan diterapkannya model pemecahan masalah terbuka akan memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan konsep-konsep matematika melalui
langkah-langkah pembelajaran yang dimuat dalam model pembelajaran ini. Melalui langkah-
langkah pembelajaran tersebut nantinya mahasiswa akan diantarkan pada penemuan konsep-
konsep matematika, serta mengorganisasikan mereka untuk menyelesaikan permasalahan
yang dihadapi.
Aktivitas mahasiswa saat diterapkan model pemecahan masalah berorientasi masalah
matematika terbuka termasuk kategori aktif sedangkan pada mahasiswa yang diterapkan
model pembelajaran pemecahan masalah biasa termasuk kategori cukup aktif. Dengan sering
adanya tanya jawab dapat memancing mahasiswa dalam mengeluarkan pendapat,
dibandingkan dengan model pembelajaran pemecahan masalah yang hanya menerima
informasi dari dosen tanpa ikut aktif mengeluarkan pendapat. Selain itu, pendekatan model
pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka yang khusus diterapkan dalam
pembelajaran geometri transformasi melibatkan materi translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi
yang dapat menarik perhatian mahasiswa melalui penyajiannya sehingga mahasiswa tertarik
untuk aktif baik dalam mengeluarkan pendapat, menjawab pertanyaan, memperhatikan
dengan baik pendapat dosen maupun teman lainnya serta mengajukan pertanyaan pada
bagian materi yang belum dimengerti. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata aktivitas yang
lebih baik dibandingkan mahasiswa yang belajar menggunakan model
pembelajaranpemecahan masalah biasa.
Pada pendekatan model pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka
ini, mahasiswa dituntut untuk lebih aktif karena di setiap tahapannya lebih cenderung
berpusat pada mahasiswa untuk mencari tahu sendiri hal yang menyangkut materi yang
diberikan dengan diarahkan oleh dosen. Dengan proses menemukan sendiri konsep geometri
transformasi yang sesuai dengan tahapannya maka mahasiswa dapat merekam dan
menyimpan jawaban dari permasalahan yang diberikan sehingga terjadi proses belajar secara
bermakna dan bermuara pada meningkatnya hasil belajar mahasiswa.
Berdasarkan hasil uji signifikansi 5% dengan derajat kebebasan 44 didapat ttabel = 1,988, jika
thitung = 2,91 maka thitung > ttabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penerapan
model pembelajaraan pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka terhadap
hasil belajar mahasiswa semester V FP-MIPA IKIP PGRI Bali pada tahun pelajaran
2016/2017.

1566
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa ” ada pengaruh
penerapan model pembelajaraan pemecahan masalah berorientasi masalah matematika
terbuka terhadap hasil belajar mahasiswa semester V FP-MIPA IKIP PGRI Bali pada tahun
pelajaran 2016/2017. Ini disebabkan pada pererapan model pembelajaran pemecahan masalah
berorientasi masalah matematikata terbuka diberikan penekanan-penekanan pada
permasalahan persoalan matematika sehingga mahasiswa lebih aktif dan termotivasi dalam
menyelesaikan permasalahan yang diberikan dosen.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat dikemukakan
saran-saran guna peningkatan kualitas pembelajaran matematika ke depan sebagai berikut.
1. Bagi dosen matematika, dalam proses belajar mengajar terutama dalam penerapan model
pembelajaranpemecahan masalah matematika diharapkan menggunakan pendekatan
model pembelajaran pemecahan masalah berorientasi masalah matematika terbuka dalam
pembelajarannya.
2. Bagi mahasiswa, diharapkan dalam pembelajaran matematika menyarankan kepada
dosen yang mengajar agar menggunakan penerapan model pembelajaran pemecahan
masalah berorientasi masalah matematika terbuka.
3. Karena penelitian ini dilaksanakan terbatas pada mahasiswa semester V FP-MIPA IKIP
PGRI Bali tahun pelajaran 2016/2017, maka disarankan kepada peneliti yang menaruh
perhatian terhadap pendidikan, untuk mengadakan penelitian yang sama dalam ruang
lingkup yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi. 2004. Menciptakan Pembelajaran yang Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Ahmad. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta : Kencana
Ani, S. 2004. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Arikunto, S. 2006 Dasar-Dasar Evaluaasi Pendidikan (Edisi revisi cetakan ke-5) Jakarta :
Bumi Aksara
Candisa, I Made. 2010. Statistik Mutivariat (disertai petunjuk analisis dengan SPSS).
Singaraja : Undiksha. Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Edisi 20.
Darmadi, 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Djamarah, 2002. Prestasi Belajar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Fraenkel, J and Wallen, Norman.2009. How to Design and Evaluuate Research in Education.
New York: McGraw-Hill Companes, Inc.

1567
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Khodijah, Nyanyu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.
Koyan, I W. 2012. Statistik Pendidikan teknik Analitis Data Kuantitatif. Universiitas
Pendidikan Ganesha Press.
Krulik, S. & Rudnick, J. A. 1996. The New Sourcebook For Teaching Reasoning and
Problem Solving in Junior and High School. Boston: Allyn and Bacon.

Riduwan & Sunarto. 2014. Pengantar Statistika. Bandung : Alfabeta.

Rostina, 2014. Statistik Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Sariyasa, I. W. 2004. “Model Problem Solving dan Reasoning sebagai Alternatif
Pembelajaran Inovatif”. Makalah disajikan dalam Konvensi Nasional Pendidikan
Indonesia (Konaspi) V, IKIP Negeri Singaraja. Surabaya, 5 - 9 Oktober 2004.

Shimada, S & Becker, P. 1997. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teacing
Mathematics. NY: NCTM

Sudiarta, I. G. P. 2005. Pengembangan Model PembelajaranMatematika Berorientasi
Pemecahan Masalah Open Ended, Jurnal Pendidikan danPengajaran IKIP Negeri
Singaraja, Edisi Oktober 2005.

Sudiarta, P. 2007c. Prospek Pengembangan dan Penerapan model Pembelajaran
Matematika Beroientasi Masalah Open-Ended di Sekolah Dasar di Provinsi Bali.
Jurnal pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Depdiknas, September 2007.
Sudjana, N. 1989. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung; Rosdakarya.
Sugiyono, 2011. Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suherman, E, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.

Suhito, 2003. Pembelajaran Matematika. Bandung: Alfabeta.
Suyitno, A. 2004. Dasar-Dasar dan Proses PembelajaranMatematika. Semarang Fmipa
Unnes.

Susanto, 2013. Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Syah Muhibbin, 2005. Psikologi Belajar, PT Raja Grafundo Persada, Jakarta

1568
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pameran Sebagai Media Pembelajaran Materi Seni Rupa (sejarah seni rupa barat)

Agus Mediana Adiputra

ABSTRACT

Fine art exhibition is a forum/activity/media to express their ideas which is presented in the
form of artworks, fine art exhibition or often called “Visual Art exhibition” becomes an important
momentum for artists to show their expression which is presented in the form of artworks, as
described in the book “Weigh in a space setting up an appearance” then an artist or painter needs to
know details of what to be done in presenting an exhibition.

The type of exhibition being performed is using reconstructive approach that is an approach
which presenting object as something which has a meaning ethnographically (ethnic) and tries to
inform a cultural story, in this case to inform about the material of western visual art history. The aim
of this exhibition is more of appreciative in nature (appreciation) that is aiming more on the issue and
interest of education for public (students), so that artworks being showed included with description of
work which is surely related to the history of western visual art.

Concept, curation or the theme of exhibition is to raise the material of western visual art history
as a subject in the exhibition, namely about the extent of development of western visual art history,
such as the development of classical visual art, then renaissance art, and modern visual art. The
concept of exhibition aims to introduce the material of Western Visual Art History among students of
SMKN1 Sukawati (SMSR) who studying Fine Arts, because the History of Visual Art is a basic
thinking or basic understanding regarding visual art either from technical aspect or reasoning which
has developed earlier, so that in the work we can use History as reference and development in the
world of Visual Art.

Key words: Exhibition, Appreciation, History of Western Visual Art.

1569
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pendahuluan

Seni merupakan salah satu kebutuhan kedua setelah kebutuhan primer dari kehidupan
manusia. Salah satu bagian panca indera manusia yaitu indera mata membutuhkan sebuah keindahan
yang dapat dibentuk atau diwujudkan oleh seni khususnya seni rupa. Menurut catatan sejarah seni
rupa sudah mulai berkembang dari zaman batu (prasejarah) yaitu lukisan yang terdapat dalam gua
Altamira, pada era sekarang sentuhan seni sudah terdapat dalam setiap kehidupan manusia sehari-hari
seperti desain produk, hiasan dinding dan lain sebagainya, disamping itu banyak pemerintahan yang
menggunakan unsur seni sebagai media layanan masyarakat yang bertujuan memberikan pesan atau
anjuran kepada masyarakat, seperti desain poster, ataupun lukisan dinding pada ruang publik, hal
tersebut dipaparkan dalam sebuah pengantar estetika bahwa hal-hal yang dapat memberikan rasa
senang dan puas dengan perwujudan yang indah disebut dengan seni (A.A.M. Djelantik, 1999:16)
bahwa jelas dunia seni tidak hanya bisa dinikmati atau dilakukan oleh seniman saja, tetapi seni dapat
dinikmati oleh semua kalangan, maka dari itu dasar seni menjadi hal yang penting untuk di ketahui
dan pelajari.

Dalam ruang akademis dasar juga sudah mulai memperkenalkan seni salah satunya cabang
Seni Rupa sebagai pembentukan mental dan pengenalan tentang warna seperti, PAUD (Pendidikan
Anak Usia Dini) dan TK (Taman Kanak-Kanak) Kemudian pengenalan seni selanjutnya tentang
bentuk, dan teknis pada tingkat pendidikan SD (sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah
Pertama). Dari sana munculah atau terseleksinya minat dan bakat siswa tentang seni, yang kemudian
dapat memilih untuk melanjutkan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mempelajari
tentang seni.

Indonesia memiliki program pendidikan berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang
mempelajari tentang Seni khususnya Seni Rupa yang dikenal dengan SMSR (Sekolah Menengah Seni
Rupa) yang sekarang sudah disetarakan menjadi SMK N 1 Sukawati. Pada program pendidikan
(SMSR) inilah dasar-dasar seni dan teori seni tentang perwujudan dan teknis dipelajari lebih
mendalam. Sekaligus sebagai wadah atau sekolah yang melahirkan Seniman dan perupa Indonesia.

Latar Belakang

IKIP PGRI Bali (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia)
Bali merupakan tingkat pendidikan lanjut setelah menempuh Sekolah Menengah Atas yang
mendapatkan atau mempelajari ilmu pendidikan sebagai seorang pengajar. IKIP PGRI Bali juga
mempunyai lima fakultas salah satunya FPBS (fakultas pertunjukan bahasa dan seni) dalam fakultas

1570
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

FPBS terdapat jurusan Seni Rupa yang mempelajari materi tentang seni, teori seni, teknis perwujudan
dan cabang-cabang seni rupa secara umum yaitu Seni Lukis, Seni Patung dan Seni Grafis. Disamping
itu juga dipelajari tentang teori-teori tentang seni dasar seperti Estetika, Kritik Seni dan Sejarah Seni.
Salah satu materi seni yang di pelajari ialah Sejarah Seni Yaitu Sejarah Seni Rupa Barat, yang
membahas tentang perkembangan seni rupa dari jaman Pra Sejarah, Seni Rupa Klasik, Seni
renaissance dan Seni Modern.

Sejarah Seni Rupa Barat merupakan materi yang cukup penting untuk diketahui seorang
Perupa, Seniman maupun Tenaga Pengajar Jurusan Seni Rupa, karena Seni Rupa dalam hal
pendidikan (kurikulum) maupun dunia Seni yang berkembang di Indonesia pada era sekarang
cenderung mengacu pada Seni rupa Barat dan alangkah baiknya jika Sejarah Seni Rupa Barat
dipelajari oleh siswa SMK yang mempelajari tentang ilmu seni rupa.

Sejarah Seni Rupa Barat mempelajari berbagai pembahasan teori, paham atau konsep dalam
setiap eranya dan teknis dalam perwujudan yang dibedakan menurut paham dan zamannya. Hal
tersebut dapat menjadi landasan dalam pembelajaran Seni Rupa dalam hal pengenalan tentang materi,
teknis berkarya maupun konsep berkesenian secara objektif dan Subjektif.

Berangkat dari pemikiran atau latar belakang tersebut menjadi pendorong keinginan untuk
menyelenggarakan pameran seni rupa yang bertajuk “Sejarah Seni Rupa Barat” yang membawakan
materi atau cerita tentang perkembangan Seni Rupa Barat dan menyuguhkannya dalam bentuk karya
seni. Karya seni yang akan diwujudkan merupakan hasil pembelajaran dari setiap sub materi Sejarah
Seni Rupa Barat yang berdasarkan atas beberapa sumber berupa literatur, dan untuk memperlengkap
data diambil dari media internet.

Tujuan

Acara penyelenggaraan pameran Yang tertajuk “Sejarah Seni Rupa Barat” ini akan
membawakan cerita tentang Perkembangan sejarah seni rupa barat yang didalamnya membahas
tentang hakikat dari setiap Sub materinya yang berupa konsep secara subjektif dan konsep secara
perwujudan (objektif). Adapun tujuan dari penyelengagaraan pameran ini ialah:

1. Untuk memberikan atau memperkenalkan materi sejarah seni rupa barat secara umum kepada
siswa seni rupa di SMSR
2. Memberikan penjelasan dalam hal hakikat atau prinsip berkesenian yang berkaitan dengan
sub-sub materi sejarah seni rupa barat.

1571
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

3. Menjadi sebuah landasan, referensi atau acuan dalam mempelajari teknis perwujudan karya
seni rupa terkait dengan seni rupa modern terhadap siswa SMSR.

Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diterima dalam pergelaran pameran seni rupa yang bertajuk
“Sejarah Seni Rupa Barat” ini adalah:

1. Dapat memberikan pemahaman dari segi objektif dan subjektif tentang perkembangan sejarah
seni rupa barat secara umum.
2. Memberikan referensi tentang perkembangan seni rupa barat yang dapat digunakan dalam
perwujudan karya seni bagi para siswa.

Landasan teori

Secara umum pameran seni rupa merupakan sebuah wadah atau media untuk
mengekspresikan ide maupun gagasan yang telah dituangkan dalam karya seni, dimana karya seni di
pajang dalam ruang yang dapat dilihat oleh publik, maka dari itu diperlukan beberapa pengertian
tentang apa dan bagaimana sebuah pameranitu digelar seperti: jenis pameran apa yang akan di
kemukakan, siapa saja sasaran publiknya, bagaimana mengolah penataan atau display ruang dan
karya. dalam hal ini digunakan beberapa literatur sebagai acuan diantaranya buku “Menimbang Ruang
Menata Rupa” oleh mikke susanto, dan “Trilogi Seni, Penciptaan Eksistensi Dan Kegunaan Seni”
oleh Soedarso Sp.

Pameran seni rupa merupakan kegiatan yang tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan, menentukan konsep
maupun gagasan pameran, kemudian jenis pameran seperti apa yang akan dikerjakan, menentukan
target sasaran audien atau apresiator, menentukan tempat pergelaran pameran, menentukan bentuk
publikasi promosi publik seperti katalog, poster pameran dan baliho serta media massa yang
dibutuhkan, memperkirakan budget yang diperlukan untuk acara tersebut dan terakhir diperlukan
untuk membentuk tim kordinator proyek yang membantu kurator dan nantinya akan mengurus
masing-masing pekerjaan.

Untuk dapat menyampaikan gagasan kepada sasaran publik perlu juga dipertimbangkan
tentang muatan apa saja yang akan dihadirkan dalam ruang pameran yang banyak mengacu pada
“Kritik Seni Rupa” oleh Sem C. Bangun dan beberapa pemikiran tentang penekanan karya seni agar

1572
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dapat memberikan interpretasi yang baik banyak mengacu pada pendekatan teori M. Dwi Marianto
yaitu “Menempa Quanta Mengurai Seni” tentang keindahan dan kenyamanan sudut pandang dari
panca indra seorang penikmat atau publik tentunya dibutuhkan beberapa acuan dari teori “Sebuah
Pengantar Estetika” oleh A. A. M. Djelantik. Dan tentunya materi pokok bahasan yaitu tentang
sejarah seni rupa banyak diambil dari Buku Bahan ajar diktat “Sejarah Seni Rupa Barat” oleh
Wardoyo Sugianto yang banyak membahas tentang seni rupa klasik dan renaissance, sedangkan untuk
seni rupa modern banyak menggunakan materi dari buku “Sejarah Perkembangan Seni Rupa
Modern” oleh Soedarso Sp. Dan untuk melengkapi data konsep pameran juga di ambil dari media
internet.

Konsep Bentuk/Format Pameran

Dalam materi sejarah seni rupa barat dibahas tentang bagaimana perkembangan sejarah seni
rupa modern, teknis dan paham yang dianaut dalam setiap eranya. Kegiatan pameran ini akan
“mempetakan” materi tersebut berupa perwujudan visual karya seni yang mengacu pada masing-
masing paham eranya dan juga tulisan konsep atau deskripsi dari setiap era dan karyanya. Cerita
sejarah seni akan diambil mulai dari jaman Seni Rupa “Klasik”, Seni Renaissance, Seni Modern
(Realisme hingga Popart) dan sedikit tentang Postmodern (Gerakan Seni Rupa Baru)

“Pemetaan” sejarah seni ini tentunya juga mempertimbangkan penggunakan visual atau
bahasa ungkap sehingga dapat mencapai tujuan pameran yaitu agar dapat dipahami oleh siswa.
Perwujudannya pameran ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu, dimana setiap judul atau era
dalam sejarah seni dijabarkan secara tertulis berupa print-out (binder) yang menjelaskan: latar
belakang, paham yang dianut atau inti cerita (yang ditekankan membahas kearah kebentukan) dan
kesimpulan. Kemudian tulisan tersebut akan didampingi oleh karya-karya yang diwujudkan
menggunakan konsep atau tulisan pada masing-masing era tersebut,

Perwujudan karya seni yang mendampingi tulisan menggambarkan atau mengikuti apa yang
terdapat dalam konsep atau paham yang dianut dalam masing-masing era seperti halnya: teknik
pengambilan atau penangkapan objek, penggunaan teknis perwujudan dan penggunaan unsur dasar
seni rupa (garis, warna, bentuk, bidang, ruang, tekstur), perwujudan ide (sudut pandang). Perwujudan
tersebut menjadi hal penting yang dapat membedakan paham yang berkembang pada setiap era dalam
cerita Sejarah Seni Rupa. Tidak menutup kemungkinan karya tersebut juga akan didampingi oleh
perupanya sehingga jika ada pertanyaan dari siswa dapat segera dijelaskan lebih lanjut.

1573
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Demikian kiranya konsep bentuk atau format pameran yang bertajuk “Sejarah Seni Rupa
Barat” yang akan diselenggarakan di SMK N 1 Sukawati (SMSR) yang bertujuan untuk dapat
memberikan perkenalan tentang materi Sejarah Seni, besar harapan untuk dapat menjadi atau sebagai
landasan berkesenian oleh siswa sekaligus calon perupa Indonesia dan Bali pada khususnya.

Isi Pameran

1. Seni Klasik

Latar Belakang: Seni klasik merupakan kesenian yang berkembang setelah Seni Prasejarah.
Kesenian yang termasuk dalam seni klasik ialah Seni Yunani, Romawi dan Seni Gothik.
Kehidupan pada waktu itu cenderung religius, pola pikir agak mistis.

Peradaban Berkesenian: Seni klasik belum menemukan prinsip perspektif, dan ilmu anatomi, dan
teknik melukis halus (sfumato) oleh karena itu lukisan klasik masih terkesan datar, bentuk anatomi
manusianya belum sempurna, dan banyak menggunakan unsur garis sebagai outline bentuk objek.

Kesimpulan: Seni klasik banyak menggambarkan tema2 religius, cerita tentang Dewa, Raja
maupun kegiatan religi atau budaya mereka.

2. Seni Renaissance

Latar Belakang: Seni Renaissance melahirkan beberapa prinsip penting dalam seni rupa yaitu,
Prinsip perspektif, ilmu anatomi tubuh manusia, teknik penggambaran drapery dan penemuan
bahan cat minyak.

Peradaban Berkesenian: Ada beberapa faktor yang mendukung pesatnya perkembangan seni
renaissance yaitu, faktor keamanan dalam kehidupan masyarakat yang dijaga aparat militer,
maraknya semangat untuk menemukan hal baru dalam berkesenian (teknis), banyaknya sponsor
seni yang mengaprersiasi seni tinggi dan memberikan sponsor kepada seniman, didirikannya
sekolah-sekolah seni lukis.

Seniman Renaissance Puncak: Leonardo Da Vince, Raphael Sansio, Michelangelo, Donatello,
Corregio.

Kesimpulan: Jaman renaissance dapat dikatakan merupakan puncak dari peradaban kesenian
sebelumnya (seni klasik), hal ini didukung oleh keadaan lingkungan yang “mapan”, selalu mencari
dan mencoba hal yang baru (eksplorasi) melalui pengamatan mendalam terhadap objek
(observasi).
1574
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

3. Seni Modern

Secara umum seni modern merupakan pandangan yang menitikberatkan pada kreatifitas (seni
kreatif) seperti, membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada dalam hal wujud dan konsep,
menjadikan objek sebagai acuan dalam menciptakan ide yang baru, selalu berfikir untuk
menemukan bentuk yang baru. Seni modern banyak melahirkan “isme” yaitu paham atau aliran
seni.

A. Seni Modern “Realisme”

Prinsip Berkesenian: Seni realisme menggambarkan sesuatu yang ada dan memang nyata, aliran
realisme melihat sebuah objek dengan cara menghayati setiap bentuk dan esensinya.

Kesimpulan: Aliran realisme memiliki prinsip bahwa melukis adalah memindahkan sebuah objek
yang ada dan nyata kedalam lukisan (secara apa adanya) yang tentunya melakukan pengamatan
terhadap objek untuk mendapatkan kesan yang sebenarnya, hal tersebut diwujudkan dengan
menggunakan teknik seni lukis.

“Naturalisme”, Aliran ini juga dapat digolongkan dalam aliran “realisme” namun dalam aliran
“naturalisme” lebih banyak menggambarkan alam (keindahan)

B. Impresionisme

Aliran “impresionisme” lebih menekankan pada pencahayaan sehingga lukisan yang dibuat
terkesan blur.

Ciri-Ciri “Impresionisme” , Aliran Impresionisme menghindari penggunaan garis yang tegas,
aliran ini lebih memanfaatkan teknik sapuan kuas kering (brush stroke), tidak menggunakan warna
hitam.

C. Ekspresionisme (Ekspresi Jiwa),

Aliran ekspresionisme melukiskan karyanya dengan cara distorsi (merubah bentuk dan warna
dengan cara melebih-lebihkan) untuk memberikan kesan suasana perasaan : kesedihan,
kekejaman dan tekanan batin yang mendalam. Ekspresionisme lebih banyak menggambarkan
perasaan atau jiwanya sendiri.

Ciri-Ciri “Ekspresionisme” , Menggunakan warna dominan gelap atau suram untuk dapat
menggambarkan suasana hatinya yang suram, mewujudkan lukisan yang mampu mempengaruhi

1575
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

perasaan yang melihat lukisan tersebut dengan cara mengolah bentuk dan warna secara kasar
(distorsi). Aliran ini menganggap bahwa seni tanpa kedalaman jiwa hanyalah sebuah kebohongan.

D. Kubisme,

Melakuakan analisa terhadap bagian setiap bagian objek, kemudian dipecah menurut bagian-
bagiannya (permukaan yang rata) dan dilihat dari beberapa sudut pandang kemudian dilukiskan
sekaligus.

Kesimpulan : Aliran Kubisme mengesampingkan prinsip perspektif, aliran ini lebih tertarik
menganalisa sebuah objek, memecahnya menjadi bagian-bagian yang datar sehingga
menggambarkan garis-garis tegas dan menggambarkan bentuk geometris.

E. Seni Abstrak,

Aliran Abstrak merukapan sebuah perwujudan karya seni dengan menggunakan unsur garis,
bidang, warna, bentuk yang tidak mengacu pada bentuk yang ada di alam. Prinsip aliran abstrak
adalah berusaha meninggalkan bentuk dan objek yang ada di alam. Seni abstrak mengembalikan
kemurnian unsur seni yaitu garis dan warna sehingga bentuk-bentuk yang muncul adalah bentuk
geometrik.

F. Dadaisme

Latar Belakang, Aliran dadaisme berkembang dalam masa perang dunia satu, sehingga pemikiran
aliran dadaisme menolak unsur seni yang sudah ada (unsur moral dan estetika). Aliran ini membuat
karya seni dengan cara bermain-main.

Kesimpulan, Dadaisme menggunakan konsep “raedy-mades” yaitu memebawa atau menggunakan
benda pakai dengan memberi sedikit sentuhan (respon) dari senimannya dengan prinsip bermain-
main usaha untuk menimbulkan kesan mistis dan meimbulkan sebuah kejutan.

G. Surrealisme,

Aliran surrealisme membuat karyanya dengan menggunakan fantasi dan imajinasi yang
mendalam untuk menimbulkan perwujudan yang imajinatif dengan cara mengolah prinsip
perspektif den mengubah persepsi dari setiap objek.

1576
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

H. Popart,

Aliran Popart menggambarkan desain produk sehari-hari (seni rendah) dengan cara teknik
seni tinggi (seni lukis) contoh, menggambarkan objek desain minuman ataupun menggambar figur
komik.

I. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB),

GSRB merupakan sebuah gerakan yang menghilangkan batas antara seni murni yaitu seni
patung, seni lukis dan seni grafis. GSRB mewujudkan tiga prinsip seni yang berbeda tersebut
dalam satu bentuk karya seni.

Penutup

Pameran seni rupa merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan seorang perupa
yaitu untuk memberikan pengalaman dalam proses berkesenian maupun masukan dalam hal kritik dan
saran bagi perupa. Pameran seni rupa yang bertajuk sejarah seni rupa barat ini disamping bertujuan
untuk memamerkan hasil karya seni, juga bertujuan untuk memperkenalkan sejarah tentang seni rupa.

Lampiran

1577
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

1578
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Daftar Rujukan / Pustaka

Abdullah, Thamrin, Tantri Francis. 2013. Manajemen Pemasaran. PT. Raja Grafindo.
Jakarta.

Aghinta Hidayat, Medhy. 2012. Menggugat Modernisme, Mengenali Rentang pemikiran
Postmodernisme Jaen Baodrillard. Jalasutra Anggota IKAPI. Yogyakarta

Djalantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Bandung

Marianto, M. Dwi. 2011. Menempa Quanta Mengurai Seni, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta. Yogyakarta

Sem C., Bangun. 2001. Kritik Seni. ITB. Bandung

Tedjoworo, H. 2001. Imaji dan Imajinasi, Suatu telaah Filsafat Postmodern. KANISIUS
(Anggota IKAPI). Yogyakarta

Susanto, Mikke. 2011. Diksi Rupa, Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa. Dicti Art Lab.
Yogyakarta dan Jagad Art Space. Bali

Susanto, Mikke. 2004. Menimbang Ruang Menata Rupa, Wjah Dan Tata Pameran Seni Rupa.
Galang Press (Anggota IKAPI). Yogyakarta

Sp, Soedarso. 2006. TRILOGI SENI, Penciptaan, Eksistensi dan Kegunaan Seni. BP ISI
Yogyakarta. Yogyakarta

1579
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENGARUH THE POWER OF TWO TERHADAP PRESTASI PERKULIAHAN
PENGANTAR STATISTIKA DENGAN

MENGONTROL PENGETAHUAN AWAL

Imam Suseno

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the effect of the learning method to
control the power of two prior knowledge on learning outcomes in introductory statistics
Prodi English Uninversitas Indraprasta PGRI Jakarta. The hypothesis of this study is that
there is the influence of the power of two of the introductory learning outcomes statistics, by
controlling the initial knowledge of students. This research was conducted in the English
department of the University of Indraprasta PGRI Jakarta. The method used is experiment
with 2 x 2 factorial design, totaling 60 samples taken at random from the population that are
divided into four groups, each group consisted of 15 students. Instruments used in the study is
twofold: (1) test prior knowledge of statistics, (2) achievement test introductory statistics.
Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) two lanes and do further testing
because there are interactions between factors. Hypothesis testing results indicate: (1)
Students who are knowledgeable high initial and taught by the method of the power of two
study results higher than the students have prior knowledge of high taught by conventional,
(2) Students who are knowledgeable lower initial and taught by the power of two higher
learning outcomes than students who are knowledgeable lower initial taught by conventional.
The implication of this research is teaching introductory statistics by using the power of two
can improve student learning outcomes Prodi English.
Keywords: prior knowledge, learning outcomes introductory statistics, the power of two.

PENDAHULUAN

Mata kuliah pengantar statistika berada dalam kelompok mata kuliah wajib yang
harus diambil oleh setiap mahasiswa dari program studi pendidikan bahasa Inggris dengan
jumlah bobot 3 SKS. Merupakan tantangan tersendiri bagi sebagian dosen pengantar
statistika untuk menyampaikan ilmu mata kuliah tersebut. Karena dosen harus berhadapan

1580
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dengan pandangan yang telah menjadi suatu persepsi umum pada sebagian besar mahasiswa.
Pandangan yang melekat selama ini bahwa mata kuliah pengantar statistika ini sulit, rumit
dan menyusahkan. Persepsi tersebut dapat dipahami jika melihat pada karakteristik ilmu
pengantar statistika yang sangat berbeda dengan ilmu pendidikan bahasa Inggris yang
menjadi konsentrasi pembelajarannya.

Karakteristik ilmu pengantar statistika adalah bekerja dengan angka, digunakan
sebagai alat untuk mencari fakta, mengungkap kenyataan, mengumpulkan, mengklasifikasi,
menggolongkan dan manganalisis data penelitian, mempelajarinya membutuhkan lebih
banyak mencoba penggunaan berbagai rumus statistika yang ada. Sedangkan karakteristik
ilmu pendidikan bahasa Inggris adalah menjadikan peserta didik mampu mengemukakan
gagasan dan perasaan, partisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta
menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif dalam dirinya. Artinya ilmu bahasa lebih
menitik beratkan pada kompetensi mengingat, menghafal dan mengerti bentuk tata bahasa
dan arti bahasa Inggris.

Perbedaan karakteristik kedua jenis ilmu tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri
bagi dosen pengampu mata kuliah pengantar statistika untuk menyampaikan, mengajarkan
dan mendorong kepada mahasiswa untuk dapat menguasainya dengan baik. Meskipun
sebelumnya mahasiswa telah memperoleh materi pengantar statistika ketika duduk di bangku
sekolah menengah tingkat atas. Namun begitu tingkat pemahaman dan pengetahuan awal
yang dimiliki setiap mahasiswa berbeda.

Peran dan fungsi ilmu statistika dalam dunia pendidikan sangat vital, tidak hanya
membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir atau membuat skripsi misalnya,
tetapi ketika sudah menjadi seorang guru ia memiliki tugas pokok diantaranya yaitu
melakukan penilaian dan evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Untuk melakukan peran dan
fungsi penilaian prestasi belajar siswa tersebut membutuhkan metode dan cara sebagaimana
hal ada dalam ilmu statistika.

Selain itu dalam kegiatan penelitian kependidikan misalnya, statistika memiliki peran
penting, baik dalam hal mendiskripsikan data kuantitatif, penyusunan model, perumusan
hipotesis, pengembangan instrumen penelitian, penyusunan desain penelitian, menentukan

1581
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sampel dan dalam analisis data penelitian. Dalam hal pengolahan dan analisis data tidak lepas
dari penerapan teknik dan metode statistika tertentu, untuk memberikan dasar dalam
menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi. Statistik dapat digunakan sebagai instrumen
untuk mengetahui apakah hubungan kausalitas empiris ataukah hubungan tersebut hanya
bersifat random atau kebetulan saja.

Situasi kelas mata kuliah pengantar statistika di jurusan pendidikan bahasa Inggris
cenderung kurang dinamis. Hal yang bisa dilihat oleh peneliti, terjadinya situasi tersebut
dimungkinkan karena sebab diantaranya adanya persepsi mahasiswa yang salah terhadap
ilmu pengantar statistika, karakteristik mata kuliah pengantar statistika sendiri, metode
pembelajaran yang dijalankan oleh dosen, bahan penunjang perkuliahan, sistem penilaian
prestasi belajar dan sebagainya.

Oleh karena itu tugas dosen menjadikan mata kuliah pengantar statistika sebagai ilmu
yang dapat dimengerti, difahami dan dikuasai oleh mahasiswa. Indikator yang dapat dilihat
keberhasilan pembelajaran mata kuliah ini adalah pada prestasi belajar mahasiswa. Untuk
mencapai tujuan tersebut perlu difahami bahwa pencapaian prestasi belajar mahasiswa sangat
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Menurut Slameto (1998: 54-71) bahwa prestasi
akademik dipengaruhi faktor intern, faktor ekstern, faktor sekolah dan faktor masyarakat.
Faktor sekolah diantaranya yaitu: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa siswa, disiplin sekolah dan alat pelajaran.

Salah satu faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa dapat
disebabkan pengetahuan awal yang dimiliki mahasiswa. Pengetahuan awal akan berpengaruh
pada proses pembelajaran. Karena pengetahuan awal siswa merupakan prasyarat awal yang
harus dimiliki mahasiswa agar proses pembelajaran yang dilakukan mahasiswa dapat berjalan
dengan baik.

Sedangkan berkaitan dengan metode pembelajaran, dosen statistika sering bervariasi
dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran. Dari metode pembelajaran yang bersifat
pasif menjadi pembelajaran siswa aktif. Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif
memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1). Penekanan proses pembelajaran
bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan

1582
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas, 2).
Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang
berkaitan dengan materi pelajaran, 3). Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap
berkenaan dengan materi pelajaran, 4). Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis,
menganalisa dan melakukan evaluasi, 5). Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada
proses pembelajaran.

Oleh karena itu peneliti mencoba untuk memperbaiki hasil belajar mahasiswa melalui
penerapan metode pembelajaran yang berbeda yaitu the power of two. Metode pembelajaran
the power of two merupakan metode pembelajaran siswa aktif yaitu menggabungkan dua
kekuatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini dengan mempertimbangkan ada relasi antar
siswa, dikarenakan sifat dan karakteristik pengantar statistika yang memerlukan banyak
mencoba berbagai rumus dalam menganalisis data penelitian. Rumusan masalah penelitian
ini ialah apakah terhadap pengaruh positif metode The Power of Two dengan mengontrol
pengetahuan awal terhadap hasil belajar pengantar statistika ?

TINJAUAN PUSTAKA

Hasil Belajar Pengantar Statistika

Hasil belajar menurut Winkel (1996: 15) diartikan sebagai perubahan-perubahan
dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat konstan/menetap.
Perubahan-perubahan yang dimaksud adalah adanya perbedaan antara sebelum belajar
dengan setelah belajar, yang sebelumnya tidak tahu/paham kemudian setelah belajar menjadi
tahu/paham.

Sedangkan Nana Sudjana (2004: 22) menyatakan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki mahasiswa setelah menerima pengalaman belajar.
Artinya mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan akan memperoleh hasil belajar berupa
kemampuan yang sebelumnya tidak didapatkan, tetapi kemampuan itu akan diperolehnya
ketika ia mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Slameto (2003: 2) mengartikan belajar sebagai suatu proses yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil

1583
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Maksudnya bahwa belajar itu
membutuhkan proses yang harus dilaluinya dan dampaknya akan membuat perubahan
tingkah laku seseorang setelah melalui kegiatan pengalaman tersebut.

Hamalik (2001:159) menyatakan bahwa hasil belajar menunjukkan kepada prestasi
belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah
laku siswa. Artinya hasil belajar menunjukan kepada prestasi belajar peserta didik, apabila
hasil belajarnya bagus berarti prestasi belajar peserta didik tersebut meningkat begitupun
sebaliknya. Hasil belajar bisa menjadi sebuah indikator untuk melihat perubahan tingkah laku
dalam diri peserta didik.

Sedangkan kata statistika menurut Sudjana (2005: 2-3) adalah pengetahuan yang
berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan atau penganalisisannya dan
penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang telah dilakukan.
Artinya statistika merupakan ilmu pengetahuan yang berbicara cara pengumpulan data,
pengolahan, penafsiran serta penarikan kesimpulan berdasarkan data tersebut.

Nurgiyantoro, dkk (2009: 2) menafsirkan statistik sebagai suatu alat, cara, sarana,
yaitu alat untuk menggarap dan menafsirkan data secara bertanggungjawab, sehingga
kesimpulan dan atau keputusan yang dibuat, yang mungkin sekali memiliki dampak yang
tidak kecil, juga merupakan kesimpulan dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Maksudnya bahwa statistika diartikan sebagai suatu alat untuk melakukan kegiatan analisis
data bertujuan untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang dapat dipertanggung
jawabkan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut diatas yang dimaksud dengan hasil
belajar pengantar statistika adalah prestasi belajar atau kemampuan yang diperoleh berupa
pengetahuan, pemahaman, dalam menggunakan alat, cara dan sarana untuk mengumpulkan
serta melakukan analisis data yang bertujuan untuk mengambil kesimpulan yang dapat
dipertanggunjawabkan.

1584
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pengetahuan Awal

Dick dan Carey (1990) mengartikan kemampuan atau pengetahuan awal adalah
kemampuan-kemampuan yang sudah dikuasai sebelum proses pembelajaran pokok bahasan
tertentu dimulai. Maksudnya bahwa sebelum mengikuti proses pembelajaran setidaknya
sudah memiliki dasar pengetahuan sebagai titik tolak keikutsertaan supaya dapat mengikut
pembelajaran dengan baik. Perbedaan individu dapat mempengaruhi tingkat penguasaan
materi bahan ajar antara masing-masing mahasiswa. Meskipun belum tentu siswa yang
kemampuan awalnya tinggi, dapat lebih berhasil mencapai prestasi dari pada siswa yang lain.

Menurut Winkel (1991) kemampuan atau pengetahuan awal merupakan jembatan
untuk menuju pada kemampuan final. Setiap proses pembelajaran mempunyai titik tolaknya
sendiri atau berpangkal pada kemampuan awal siswa tertentu untuk dikembangkan menjadi
kemampuan baru, setiap apa yang menjadi tujuan dalam proses pembelajaran.

Sedangkan Sudjana (2005) menyatakan pengetahuan atau kemampuan awal lebih
rendah dari pada pengetahuan yang baru, sehingga menyimpulkan bahwa kemampuan awal
adalah hasil dari proses pembelajaran yang didapat sebelum mendapatkan kemampuan yang
lebih tinggi. Setiap individu mempunyai kemampuan belajar yang berlainan. Kemampuan
awal siswa adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh siswa sebelum mengikuti
pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal ini menggambarkan kesiapan siswa
dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

Oleh karena itu pengetahuan awal peserta didik penting untuk diketahui sebelum
pendidik memulai dengan pembelajarannya, dengan demikian dapat di ketahui apakah siswa
telah mempunyai atau pengetahuan yang merupakan prasyarat untuk mengikuti pembelajaran
dan sejauh mana siswa telah mengetahui materi apa yang akan di sajikan. Dengan
mengetahui hal tersebut, guru akan dapat merancang pembelajaran dengan lebih baik. Sebab
apabila siswa di beri materi yang telah diketahui maka akan merasa cepat bosan. Pengetahuan
awal siswa dapat diukur melalui tes awal, interview atau cara-cara lain yang cukup sederhana
seperti melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara acak dengan perwakilan siswa yang
representatif.

1585
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

The Power Of Two

Silberman (2006: 173) menyatakan model The Power Of Two berarti menggabungkan
kekuatan dua kepala. Menggabungkan dua kepala dalam hal ini adalah membentuk kelompok
kecil, yaitu masing-masing siswa berpasangan. Kegiatan ini dilakukan agar munculnya suatu
sinergi yakni dua kepala lebih baik dari satu.

Strategi belajar kekuatan berdua (the power of two) dalam tulisan Mafatih (2007)
termasuk bagian dari belajar kooperatif adalah belajar dalam kelompok kecil dengan
menumbuhkan kerja sama secara maksimal melalui kegiatan pembelajaran oleh teman sendiri
dengan anggota dua orang di dalamnya untuk mencapai kompentensi dasar. Kerjasama dalam
kegiatan belajar dapat menjadi media yang tepat bagi siswa untuk mengukur kemampuan
kemudian saling mengisi kekurangan sehingga anggota kelompok tersebut dapat
mengerjakan materi pembelajaran dengan baik.

Sedangkan menurut Muqowin (2007), strategi belajar kekuatan berdua (the power of
two) adalah kegiatan dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong
munculnya keuntungan dari sinergi itu, sebab dua orang tentu lebih baik daripada satu.
Belajar kolaboratif tentu menguntungkan bagi pelaku (siswa) menjadi lebih berenergi dan
bersemangat mengikuti pembelajar dan mengerjakan tugas-tugas dari pengajar.

Masing-masing strategi pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini
sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai, pengguna strategi (guru, dosen),
ketersediaan fasilitas, dan kondisi siswa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa strategi atau
metode sebaik bagaimanapun tanpa adanya kondisi yang mendukung pelaksanaan strategi
atau metode tersebut, maka hasil belajar yang diperoleh tidak mencapai tujuan yang
dikehendaki. Proses belajar akan lebih efektif jika guru mengkondisikan agar setiap siswa
terlibat secara aktif dan terjadi hubungan yang dinamis dan saling mendukung antara siswa
satu dengan siswa yang lain, seperti halnya dalam strategi the power of two.

Sebagai suatu strategi pembelajaran, menurut Ismail (2009) strategi pembelajaran the
power of two mempunyai beberapa keunggulan diantaranya: 1) Siswa tidak terlalu
menggantungkan guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir
sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa lain,
1586
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

2) Mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan dengan membandingkan ide-ide atau gagasan-gagasan orang lain, 3) Membantu
anak agar dapat bekerja sama dengan orang lain, dan menyadari segala keterbatasannya serta
menerima segala kekurangannya, 4) Membantu siswa untuk lebih bertanggung jawab
dalam melaksanakan tuganya, 5) Meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk
berfikir, 6) Meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial.

Di samping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran the power of two juga
memiliki kelemahan diantaranya: 1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang,
disamping itu memerlukan banyak tenaga, pemikiran dan waktu, 2) Agar proses
pembelajaran berjalan dengan lancar, maka dibutuhkan fasilitas alat dan biaya, 3) Saat
diskusi kelas terkadan didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi
pasif.

Strategi the power of two merupakan salah satu strategi pembelajaran. Strategi the
power of two merupakan pembelajaran kooperatif yang memperkuat pentingnya hubungan
yang sinergi antara anggota kelompok. Strategi pembelajaran ini terdiri dari 2 orang sehingga
kerjasama dan komunikasi lebih terjalin dengan baik. Pembelajaran dengan strategi the power
of two ini juga menuntut siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mengajar sehingga siswa
tidak merasa bosan karena pembelajaran lebih menarik dan menuntut partisipasi siswa
terhadap materi pelajaran.

Prosedur penerapan strategi the power of two menurut Sanaky (2006) dapat dilakukan
sebagai berikut: 1). Guru memberi peserta didik satu atau lebih pertanyaan yang
membutuhkan refleksi dan pikiran, 2). Guru meminta peserta didik untuk menjawab
pertanyaan sendiri-sendiri, 3) Setelah semua melengkapi jawabannya, guru membentuk siswa
ke dalam pasangan dan meminta mereka untuk berbagi (sharing) jawabannya dengan
jawaban yang dibuat teman yang lain, 4). Guru meminta pasangan tadi untuk membuat
jawaban baru untuk masing-masing pertanyaan dengan memperbaiki respons masing-masing
individu, 5). Ketika semua pasangan selesai menulis jawaban baru, guru membandingkan
jawaban dari masing-masing pasangan ke pasangan yang lain.

1587
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta pada Program
Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2012-2013.

Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian eksperimen dengan
desain faktorial 2x2, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh
dari stategi the power of two dengan mengontrol pengetahuan awal terhadap hasil belajar
pengantar statistika.

Adapun desain penelitian sebagai berikut:

Tabel 1.

Desain Faktorial 2x2

Strategi Pembelajaran
Pengetahuan
The Power of Two Konvensional ∑b
Awal
(A1) (A2)

Tinggi (B1) A1B1 A2B1 B1

Rendah (B2) A1B2 A2B2 B2

∑K A1 A2

Keterangan :

A1 : Mahasiswa yang diajar dengan metode the power of two.

A2 : Mahasiswa yang diajar dengan konvensional.

B1 : Mahasiswa yang mempunyai pengetahuan awal tinggi.

B2 : Mahasiswa yang mempunyai pengetahuan awal rendah.

1588
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

A1B1 : Hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan metode the power of
two dan mempunyai pengetahuan awal tinggi.

A1B2 : Hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan metode the power
of two dan mempunyai pengetahuan awal rendah.

A2B1 : Hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan metode
konvensional dan mempunyai pengetahuan awal tinggi.

A2B2 : Hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan metode
konvensional dan mempunyai pengetahuan awal rendah.

Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa prodi bahasa
Inggris semester VI tahun ajaran 2012-2013. Dimana yang ditetapkan sebagai sampel
sebanyak 60 mahasiswa dari kelas R6E dan R6F masing-masing diambil sebanyak 30
mahasiswa diambil secara simple random sampling.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data

Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 17.0.
Hasil olah data tentang deskripsi data diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 2.

Descriptive Statistics

Dependent Variable:Pengantar Statistik

Metode Pengetahuan Std.
Pemberlajaran Awal Mean Deviation N

1589
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

The Power of Pnget Awal 81.3333 5.49892 15
Two Tinggi

Pnget Awal 64.3333 7.76132 15
Rendah

Total 72.8333 10.88207 30

Konvensional Pnget Awal 67.0000 8.82367 15
Tinggi

Pnget Awal 62.0000 8.61892 15
Rendah

Total 64.5000 8.93945 30

Total Pnget Awal 74.1667 10.26236 30
Tinggi

Pnget Awal 63.1667 8.14559 30
Rendah

Total 68.6667 10.73039 60

Berdasarkan tabel 2 diketahui nilai rata-rata kelas eksperimen dengan strategi the
power of two dan pengetahuan awal tinggi (A1B1) memiliki nilai = 81,33 lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok lainya. Pada indek persebaran data (standard deviation)
kelompok eksperimen (A1B1) paling rendah yaitu 5,499 dibandingkan dengan kelompok yang
lain, artinya persebaran nilai yang diperoleh kelompok mahasiswa tersebut terendah.
Sedangkan indeks persebaran data tertinggi berada pada kelompok kontrol dengan
pengetahuan awal tinggi (A2B1).

1590
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Uji Persyaratan Analisis Data

Sebagai persyaratan untuk pengujian hipotesis pada statistik inferensial, dilakukan
pengujian tentang asumsi distribusi normal dan homogentas (Kadir, 2010.)

Kriteria uji normalitas dapat menggunakan nilai sig hasil output SPSS sebagai
berikut:

Sig < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal.

Sig > 0,05 maka data berdistribusi normal.

Hasil olah data untuk pengecekan normalitas data diperoleh ouput SPSS sebagai
berikut:
Tabel 3
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

A1 A2 B1 B2 A1B1 A1B2 A2B1 A2B2

N 30 30 30 30 15 15 15 15

Normal Mean 72.833 64.50 74.166 63.16 81.33 64.33 67.00 62.00
Parametersa,,b 3 00 7 67 33 33 00 00

Std. Deviation 10.882 8.939 10.262 8.145 5.498 7.761 8.823 8.618
07 45 36 59 92 32 67 92

Most Extreme Absolute .146 .164 .199 .122 .262 .178 .233 .169
Differences
Positive .114 .156 .118 .118 .262 .178 .180 .125

Negative -.146 -.164 -.199 -.122 -.142 -.155 -.233 -.169

Kolmogorov-Smirnov Z .797 .899 1.090 .670 1.017 .691 .903 .656

Asymp. Sig. (2-tailed) .548 .394 .186 .760 .253 .727 .389 .782

1591
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Berdasarkan hasil perhitungan untuk uji normalitas data kelompok eksperimen sig =
0,548 dan kelompok kontrol sig = 0,394. Kedua kelompok tersebut dengan nilai sig > 0,05.
Artinya kelompok ekperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.

Pengujian asumsi homogenitas ini bermakna untuk menjaga komparabilitas terutama
untuk pengujian hipotesis tentang perbedaan rata-rata melalaui uji-t dan uji-F.

Kriteria yang digunakan untuk pengujian homogenitas sebagai berikut :

Fhitung < Ftabel maka data bersifat homogen

Fhitung > Ftabel maka data bersitat tidak homogen.

Berdasarkan output SPSS diperoleh nilai sebagai berikut:

Tabel 4

Levene's Test of Equality of Error
Variancesa

Dependent Variable:Pengantar Statistik

F df1 df2 Sig.

1.852 3 56 .148

Tests the null hypothesis that the error
variance of the dependent variable is
equal across groups.

a. Design: Intercept + A + B + A * B

Harga levene’s Test menunjukkan nilai Fhitung = 1,852. Sedangkan nilai Ftabel (0,05)(3, 56)
= 2,78. Artinya pada α= 0,05 dan derajat kebebasan (db) pembilang = 3 dan db penyebut = 56
1592
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

diperoleh nilai Ftabel = 2,78. Maka keempat kelompok sampel adalah mempunyai varians
sama atau bersifat homogen.

Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian, menggunakan anova dua arah, dengan hasil penelitian
terlihat pada tabel berikut :

Tabel 5.

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pengantar Statistik

Type II Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.

Corrected 3396.667a 3 1132.222 18.667 .000
Model

Intercept 282906.667 1 282906.667 4664.212 .000

A 1041.667 1 1041.667 17.174 .000

B 1815.000 1 1815.000 29.923 .000

A*B 540.000 1 540.000 8.903 .004

Error 3396.667 56 60.655

Total 289700.000 60

Corrected Total 6793.333 59

a. R Squared = .500 (Adjusted R Squared = .473)

Dari tabel 5 memperlihatkan :

1593
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pengaruh Utama (Main Effect)

H0 : µA1 ≤ µA2
H1 : µA1 > µA2

Fhitung (A) = 17,174 dengan sig = 0,00 < 0,05, atau Ho ditolak.

Hal ini berarti metode pembelajaran The Power of Two berpengaruh terhadap hasil belajar
pengantar statistik.

H0 : µB1 ≤ µB2
H1 : µB1 > µB2

Fhitung (B) = 29,923 dengan sig = 0,00 < 0,05, atau Ho ditolak.

Hal ini berarti pengetahuan awal mahasiswa berpengaruh terhadap hasil belajar pengantar
statistik.

Pengaruh Interaksi (Interaction Effect)

H0 : Interaksi A x B = 0
H1 : Interaksi A x B ≠ 0

Fhitung (AB) = 8,903 dengan sig =0,004 < 0,05, atau Ho ditolak.

Hal ini berarti ada pengaruh interaksi antara faktor A (The Power Of Two) dan faktor B
(Pengetahuan Awal Mahasiswa). Atau pengaruh The Power of Two terhadap hasil belajar
pengantar statistik bergantung kepada pengetahuan awal mahasiswa.

Tabel 6.

Contrast Tests

Cont Value of Std. Sig. (2-
rast Contrast Error t df tailed)

Pengantar Assume equal 1 14.3333 2.84382 5.040 56 .000

1594
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Statistik variances 2 2.3333 2.84382 .820 56 .415

3 19.3333 2.84382 6.798 56 .000

4 2.6667 2.84382 .938 56 .352

Does not assume 1 14.3333 2.68446 5.339 23.449 .000
equal variances
2 2.3333 2.99470 .779 27.698 .442

3 19.3333 2.63975 7.324 23.777 .000

4 2.6667 3.03420 .879 27.552 .387

Pengaruh sederhana (simple effect)

Karena pengujian hipotesis pengaruh interaksi bersifat ada pengaruh maka dilanjutkan pada
pengujian pengaruh sederhana atau simple effect. Adapun hipotesis yang diuji adalah sebagai
berikut:

H0 : µ11 = µ12 = µ21 = µ22

H1 : Bukan H0
Berdasarkan tabel 5 pada baris corrected model, diperoleh Fhitung = 18,667 dan sig = 0,00 <
0,05, berarti H0 ditolak. Dengan demikian terdapat perbedaan rata-rata keempat kelompok
tersebut.

Pengujian Simple Effect untuk B1
Perbedaan antara A pada B1 (A1B1 dan A2B1)
thitung (A1B1 – A2B1) = 5,040 dan ttabel (0,05, 28) = 1,701, sehingga thitung > ttabel H0 ditolak.
Artinya hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan the power of two
lebih tinggi dari pada metode konvensional pada kelompok pengetahuan awal tinggi.

1595
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pengujian Simple Effect untuk B2
Perbedaan antara A pada B2 (A1B2 dan A2B2)
thitung (A1B2 – A2B2) = 0,820 dan ttabel (0,05, 28) = 1,701, sehingga thitung < ttabel H0 diterima.
Artinya hasil belajar pengantar statistik mahasiswa yang diajar dengan the power of two lebih
rendah dari pada yang diajar dengan metode konvensional pada kelompok pengetahuan awal
rendah.

Pengujian Simple Effect untuk A1
Perbedaan antara A1 pada B (A1B1 dan A1B2)
thitung (A1B1 – A1B2) = 6,798 dan ttabel (0,05, 28) = 1,701, sehingga thitung > ttabel H0 ditolak.
Artinya hasil belajar pengantar statistik mahasiswa yang diajar dengan the power of two dan
pengetahuan awal tinggi, lebih tinggi dari pada yang diajar dengan the power of two dan
berpengetahuan awal rendah.

Pengujian Simple Effect untuk A2
Perbedaan antara A2 pada B (A2B1 dan A2B2)
thitung (A2B1 – A2B2) = 0,938 dan ttabel (0,05, 28) = 1,701, sehingga thitung > ttabel H0 ditolak.
Artinya hasil belajar pengantar statistik mahasiswa yang diajar dengan konvensional dan
berpengetahuan awal tinggi, lebih rendah dari pada yang diajar dengan konvensional dan
berpengetahuan awal rendah.

Tabel 7

Parameter Estimates

Dependent Variable:Pengantar Statistik

95% Confidence Interval

Parameter B Std. Error T Sig. Lower Bound Upper Bound

Intercept 62.000 2.011 30.832 .000 57.972 66.028

1596
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

[A=1.00] 2.333 2.844 .820 .415 -3.364 8.030

[A=2.00] 0a . . . . .

[B=1.00] 5.000 2.844 1.758 .084 -.697 10.697

[B=2.00] 0a . . . . .

[A=1.00] * 12.000 4.022 2.984 .004 3.943 20.057
[B=1.00]

[A=1.00] * 0a . . . . .
[B=2.00]

[A=2.00] * 0a . . . . .
[B=1.00]

[A=2.00] * 0a . . . . .
[B=2.00]

a. This parameter is set to zero because it is redundant.

Dari tabel 7 parameter estimates dapat membentuk model regresi dan persamaan fungsi
regresi perlakuan metode The Power of Two terhadap hasil belajar pengantar statistka,
sebagai berikut:

Pembahasan

Hasil analisis data setelah diadakan uji persyaratan data bersifat normal dan homogen,
maka penelitian ini dapat di interpretasikan sebagai berikut:

1597
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

1. Terdapat perbedaan hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang diajar dengan
metode The power of two dengan metode konvensional. Hal ini terlihat pada nilai rata-
rata mahasiswa yang diajar dengan metode The Power Of Two (µA1) = 68.3333 dan nilai
rata-rata mahasiswa yang diajar dengan metode konvensional (µA2) = 57,833 serta
dibuktikan adanya nilai sig pada tabel anova yaitu sig = 0,00 < 0,05.
2. Terdapat perbedaan hasil belajar pengantar statistika mahasiswa yang memiliki
pengetahuan awal tinggi dengan pengetahuan awal rendah. Hal ini terlihat pada nilai rata-
rata mahasiswa yang memiliki pengetahuan awal tinggi (µB1) = 72,5 dan nilai rata-rata
mahasiswa yang memiliki pengetahuan awal rendah (µB1) = 53,6667 serta dibuktikan
adanya nilai sig pada tabel anova yaitu sig = 0,00 < 0,05.
3. Terdapat interaksi antara metode The Power Of Two dan Pengetahuan Awal terhadap
hasil belajar pengantar statistika, hal ini dibuktikan adanya nilai sig pada tabel anova
yaitu sig =0,004 > 0,05.
4. Pengaruh sederhana antar sel pada matriks menunjukkan adanya adanya perbedaan rata-
rata dan varians pada keempat kelompok tersebut dengan diperoleh Fhitung = 18,667 dan
sig = 0,00 < 0,05.
5. Pengaruh sederhana antar sel menunjukkan hasil belajar pengantar statistika mahasiswa
yang diajar dengan the power of two lebih tinggi dari pada metode konvensional pada
kelompok pengetahuan awal tinggi. Hal ini terlihat pada nilai thitung = 5,040 > ttabel =
1,701.
6. Pengaruh sederhana antar sel menunjukkan hasil belajar pengantar statistik mahasiswa
yang diajar dengan the power of two lebih rendah dari pada yang diajar dengan metode
konvensional pada kelompok pengetahuan awal rendah. Hal ini terlihat pada nilai thitung =
0,820 < ttabel = 1,701.
7. Pengaruh sederhana antar sel menunjukkan hasil belajar pengantar statistik mahasiswa
yang diajar dengan the power of two dan berpengetahuan awal tinggi, lebih tinggi dari
pada yang diajar dengan the power of two dan berpengetahuan awal rendah. Hal ini
terlihat pada nilai thitung = 6,798 > ttabel = 1,701.
8. Pengaruh sederhana antar sel menunjukkan hasil belajar pengantar statistik mahasiswa
yang diajar dengan konvensional dan berpengetahuan awal tinggi, lebih rendah dari pada

1598
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

yang diajar dengan konvensional dan berpengetahuan awal rendah. Hal ini terlihat pada
nilai thitung = 0,938 < ttabel = 1,701.

PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini berdasarkan hasil pengujian
hipotesis dan pembahasan hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Rata-rata nilai hasil belajar pengantar statistika menunjukkan adanya perbedaan diantara
kelompok eksperimen dengan metode pembelajaran The power of two dan kelompok
kontrol dengan metode pembelajaran konvensional. Yaitu rata-rata nilai kelas eksperimen
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol.
2. Terdapat interaksi antara metode pembelajaran The Power Of Two dan pengetahuan awal
mahasiswa terhadap hasil belajar pengantar statistik. Artinya metode pembelajaran the
power of two bersama-sama dengan pengetahuan awal memiliki pengaruh terhadap hasil
belajar pengantar statistika.
3. Pada kelompok berpengetahuan awal tinggi hasil belajar pengantar statistika yang diajar
dengan metode the power of two lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.
Demikian juga hasil belajar statistika yang diajar dengan the power of two dan
berpengetahuan awal tinggi, lebih tinggi dari pada yang diajar dengan the power of two
dan berpengetahuan awal rendah.
4. Pada kelompok berpengetahuan awal rendah menunjukkan hasil belajar pengantar
statistik mahasiswa yang diajar dengan the power of two lebih rendah dari pada yang
diajar dengan metode konvensional. Demikian pula mahasiswa yang diajar dengan
konvensional dan berpengetahuan awal tinggi, lebih rendah dari pada yang diajar dengan
konvensional dan berpengetahuan awal rendah.

1599
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Daftar Pustaka

Bonwell, C.C. 1995. Active Learning: Creating excitement in the classroom. Center for
Teaching and Learning, St. Louis College of Pharmacy.

Hamalik, Oemar. 2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Ismail SM. 2009. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Semarang:
RaSAIL Media Group.

Kadir. 2010. Statistika Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Rosemata Sampurna.

Mafatih, Ahmad Bisyri Hadi. 2007. Makalah Strategi Belajar Dengan Cara Kooperatif
(Bidang Studi IPS). http://media.diknas.go-id. (Diakses pada tanggal 28 Mei 2008).

Muqowin. 2007. Strategi Pembelajaran. http://muqowin.com. (Diakses tanggal 25 April
2008).

Nurgiyantoro, Gunawan dan Marzuki. 2009. Statistik Terapan Untuk penelitian Ilmu-ilmu
Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Prees.

Sanaky, Hujair H. 2006. Metode dan Strategi Pembelajaran Berorientasi pada
Pemberdayaan Peserta Didik. http://sanaky.com. (Diakses pada tanggal 2 Maret
2008).

Silberman, Melvin. 2006. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan
Raisul Muttaqien) Bandung : Nusamedia.

Slameto. 1998. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Pembelajaran. Jakarta:
Rineka.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

1600
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PELATIHAN MENGGIRING BOLA MEMBENTUK BINTANG DENGAN JARAK
25 METER 10 REPETISI 2 SET DAN 5 REPETISI 4 SET TERHADAP
PENINGKATAN KELINCAHAN MENGGRING
BOLA SISWA PUTRA KELAS VII SMPK ST THOMAS
AQUINO PADANG TAWANG MENGWI
TAHUN AJARAN 2014/2015

Agustinus Dei

ABSTRACT

Based on the initial observation on field, SMP Thomas Aquino Padang Tawang
Mengwi Badung has often participated football competition whether at Regency or Province
level but has not yet able to show maximum achievement, so the researcher hold a research
with title of The ball dribbling training in star formation with distance of 25 meters 10
repetitions of 2 sets and 5 repetitions of 4 sets to the improvement of ball dribbling agility of
the male students of VII grade of SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi
Badung Academic Year 2014/2015. Based on the problem background above problem in this
research is that is there any influence and influence difference of the The ball dribbling
training in star formation with distance of 25 meters 10 repetitions of 2 sets and 5 repetitions
of 4 sets to the improvement of ball dribbling agility of the male students of VII grade of
SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Academic Year 2014/2015?
The purpose of this research is to find out whether there is any influence of The ball dribbling
training in star formation with distance of 25 meters 10 repetitions of 2 sets and 5 repetitions
of 4 sets to the improvement of ball dribbling agility of the male students of VII grade of
SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Academic Year 2014/2015.
Populations in this research are the male students of VII grade of SMPK ST. Thomas Aquino
Padang Tawang Mengwi Badung Academic Year 2014/2015 with total of 52 people, in this
research the population amount used as sample is 52 people. Data analysis used the analysis
statistic method with formula of t-test. From data analysis result it is obtained the difference
based on the significance level of 5% and db = 50, it is obtained the zero hypothesis
acceptance score limit in the table the t values are 1.349, whereas the t value obtained in the
research is 2.021. This means that the value obtained is greater than the zero hypothesis
refusal score limit.
Based on the above analysis, by using the significance level of 5%, it can be
concluded that there is no influence difference of the ball dribbling training in star formation
with distance of 25 meters 10 repetitions of 2 sets and 5 repetitions of 4 sets to the
improvement of ball dribbling agility of the male students of VII grade of SMPK ST. Thomas
Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Academic Year 2014/2015. In other words, the
alternative hypothesis proposed in front is accepted. This can be proved that the t-count
value is 1.349 is smaller than the t-table value of 2.021.

Keywords: dribbling ball in star formation, agility
1601
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENDAHULUAN

Kelincahan sangat berperan dalam cabang olah raga mana pun, apalagi dalam sepak
bola bagi seorang pemain harus mampu menampilkan kemampuan tubuh untuk mengubah
arah gerakan secara mendadak dalam kecepatan yang tinggi, maka diperlukan satu metode
pelatihan tentang kelincahan. Untuk mencapai prestasi dibutuhkan adanya: kekuatan, daya
tahan, kecepatan dan kelincahan. Kelincahan dalam sepaka bola seperti lari cepat berkelak –
kelok, belak –belok, bolak-balik, berkelit atau mengelak dengan tetap berdiri di tempat dan
sebagainya. Ada beberapa macam unsur yang berhubungan dengan kelincahan khususnya
seperti: panjang lengan, bentuk tubuh, berat badan, genitika, dan kebugaran fisik.
Kenyataan yang ada di lapangan sangat berbeda dengan harapan guru olahraga SMP
Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi, dimana setiap kali mengikuti kejuaraan sepak bola
tingkat sekolah sampai tingkat daerah siswanya belum mampu menunjukkan prestasi yang
maksimal. Hal ini disebabkan tidak ada program latihan dengan metode metode pelatihan
yang sesuai dengan program latihan sepak bola. Mengingat hal tersebut, maka peniliti
mengadakan suatu penelitian dengan judul Pelatihan menggiring bola membentuk bintang
dengan jarak 25 meter 10 repetisi 2 set dan 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan kelincahan
menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi
Badung Tahun Pelajaran 2014/2015.
Berdasarkan atas latar belakang masalah tersebut di atas. maka dapat dibuat rumusan
masalah sebagai berikut:
Apakah ada pengaruh dan perbedaan pengaruh Pelatihan menggiring bola membentuk
bintang dengan jarak 25 meter 10 repetisi 2 set dan 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan
kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang
Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian, Populasi dan Sampel
Penelitian menggunakan teknik populasi studi. Subjek terdapat 26 siswa per
keloompok. Penelitian ini dilakukan di lapangan SMPK St Thomas Aquino Padang Tawang
mulai bulan Maret sampai Mei 2015. Populasi target penelitian adalah siswa putra kelas VII
SMPK St Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung 2014/2015 yang berjumlah 52
orang.
Variabel Penelitian dan Data Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pelatihan menggiring bola berjarak 25
meter 10 repetisi 2 set dan 5 repetisi 4 set, sedangkan variabel terikat adalah peningkatan
kelincahan menggiring bola. Dalam penelitian ini tes yang diberikan adalah tes awal dan tes
akhir adalah tes kelincahan menggiring bola jarak 10 meter sebanyak lima kali, data

1602
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kecepatan waktu yang terbaik dipergunakan sebagai data penelitian dengan alat ukur
stopwatch dalam satuan detik.
ANALISA DATA

Data diolah dan dianalissi dengan langkah - langkah sebagai berikut :
1). Merumuskan hipotesis nol
2) Menyusun tabel kerja
3). Memasukkan data kedalam rumus
4) Menentukan taraf signifikan
5) Menguji nilai t; dan
6). Menarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini dipergunakanya analisis statistik dengan formulasi rumusnya
sebagai berikut:
X1  X 2
t=
SD 2
N  ( N  1)
(Sutrisnohadi, l990)

Taraf signifkansi yang digunakan untuk menguji hipotesis diatas adalah taraf
signiflkasi 5 % dengan derajat kebebasan (N - 1). Apabila ternyata nilai t - test yang dapat
dalam penelitian ini lebih besar atau sama dengan nilai t pada table, maka hipotesis nol yang
diuji ditolak. Demikian seballiknya, apabila ternyata nilai t - test yang akan dapat dalam
penelitian ini lebih kecil dari nilai t pada tabel, maka hipotesis nol yang diuji diterima.

Tabel Kerja tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen I

NO X1 X2 D SD SD2

1 18,52 21,2 -2,68 -0,77 0,60

2 18,4 20,36 -1,96 -0,05 0,00

3 19,31 22,11 -2,8 -0,89 0,80

4 21,01 23,04 -2,03 -0,12 0,01

5 20,05 23,43 -3,38 -1,47 2,17

6 19,74 22,35 -2,61 -0,70 0,49

7 19,21 21,04 -1,83 0,08 0,01

1603
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

8 18,05 20,01 -1,96 -0,05 0,00

9 17,42 19,17 -1,75 0,16 0,03

10 18,33 19,52 -1,19 0,72 0,52

11 19,64 21,43 -1,79 0,12 0,01

12 22,35 24,01 -1,66 0,25 0,06

13 20,4 23,14 -2,74 -0,83 0,69

14 21,3 24,21 -2,91 -1,00 1,00

15 22,36 25,87 -3,51 -1,60 2,57

16 17,91 19,53 -1,62 0,29 0,08

17 18,99 20 -1,01 0,90 0,81

18 19,2 19,82 -0,62 1,29 1,66

19 19,05 20,11 -1,06 0,85 0,72

20 20,02 21,87 -1,85 0,06 0,00

21 19,3 20,93 -1,63 0,28 0,08

22 22,42 21,31 1,11 3,02 9,11

23 23,05 24,81 -1,76 0,15 0,02

24 20,03 22,86 -2,56 -0,65 0,42

25 17,25 22,20 -2,95 -3,02 9,11

26 19,21 22,18 -2,97 -2,87 8,23

 476,33 522,13 -45,8

X 19,84708 21,75542 -1,90833 21,86

1604
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

X1  X 2
t =
ΣSD 2
N(N  1)
19,84708  21,75542
=
21,86
26(26  1)
1,90833
=
21,86
552
1,9083
=
0,039601
1,90833
=
0,198999
= -9,589566
= 9,589

Berdasarkan taraf signifikansi 5% dan db = 25 didapat batas angka penolakan
hipotesis nol dalam tabel nilai-nilai sebesar 2,064, sedangkan nilai sedang diperoleh dalam
penelitian sebesar 9,589. Hal ini berarti bahwa nilai yang didapat lebih besar dari batas angka
penolakan hipotesis nol.
Dari uji t di atas, dengan menggunakan taraf signifikansi 5 %, dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh Pelatihan menggiring bola membentuk bintang dengan jarak 25 meter
10 repetisi 2 set terhadap peningkatan kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII
SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015.
Dengan kata lain, hipotesis alternatif yang telah dikemukakan di muka diterima. Hal ini
dapat dibuktikan bahwa nilai t-hitung sebesar 9,589 lebih besar daripada nilai t-tabel sebesar
2,064.

Tabel Kerja hasil tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen II

NO X1 X2 D SD SD2

1 17,2 20,47 -3,27 -0,84 0,70

2 17,43 21,93 -4,5 -2,07 4,27

3 19,19 20,17 -0,98 1,45 2,11

4 19,24 19,71 -0,47 1,96 3,86

1605
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

5 19,87 20,05 -0,18 2,25 5,08

6 18,5 20,21 -1,71 0,72 0,52

7 17,32 21,94 -4,62 -2,19 4,78

8 18,4 19,32 -0,92 1,51 2,29

9 20,11 22,19 -2,08 0,35 0,13

10 19,3 22,43 -3,13 -0,70 0,48

11 19,09 20,04 -0,95 1,48 2,20

12 22,15 23,02 -0,87 1,56 2,45

13 18,23 20,18 -1,95 0,48 0,23

14 21,2 24,97 -3,77 -1,34 1,78

15 18,37 22,43 -4,06 -1,63 2,64

16 18,15 21,79 -3,64 -1,21 1,45

17 17,75 20,43 -2,68 -0,25 0,06

18 19,82 21,65 -1,83 0,60 0,37

19 19,31 19,94 -0,63 1,80 3,26

20 17,23 20,91 -3,68 -1,25 1,55

21 17,83 21,93 -4,1 -1,67 2,78

22 17,98 22,47 -4,49 -2,06 4,23

23 18,52 21 -2,48 -0,05 0,00

24 19,3 20,73 -1,43 1,00 1,01

25 17,25 22,20 -2,95 -0,51 2,260

26 19,21 22,18 -2,97 -0,53 2,809

 451,49 509,91 58,42 48,23

X 18,81208 21,24625 2,4347

1606
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

X1  X 2
t =
ΣSD 2
N(N  1)
18,81208  21,24625
=
48,23
26(26  1)
 2,43417
=
48,23
552
 2,43417
=
0,295604
 02,43417
=
0,295604
= -8,23455

Berdasarkan taraf signiflkansi 5% dan db = 25, didapat batas angka penolakan
hipotesis nol dalam label nilai-nilai t sebesar 2,064 sedangkan nilai t yang diperoleh dalam
penelitian sebesar 8,234 Hal ini berarti bahwa nilai yang didapat lebih besar dari batas angka
penolakan hipotesis nol. Dari uji t di atas, dengan menggunakan taraf signifikansi 5 %, dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh Pelatihan menggiring bola membentuk bintang dengan
jarak 25 meter 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan kelincahan menggiring bola siswa putra
kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran
2014/2015. Dengan kata lain, hipotesis alternatif yang telah dikemukakan di muka diterima.
Hal ini dapat dibuktikan bahwa nilai t-hitung sebesar 8,234 lebih besar daripada nilai t-tabel
sebesar 2,064.

Tabel kerja perbedaan hasil tes awal dan tes akhir Kelompok Eksperimen I dan
Kelompok eksperimen II

NO X1 X2 D SD SD2

1 -2,68 -3,27 0,59 0,06 0,00

2 -1,96 -4,5 2,54 2,01 4,06

3 -2,8 -0,98 -1,82 -2,35 5,50

4 -2,03 -0,47 -1,56 -2,09 4,35

1607
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

5 -3,38 -0,18 -3,2 -3,73 13,88

6 -2,61 -1,71 -0,9 -1,43 2,03

7 -1,83 -4,62 2,79 2,26 5,13

8 -1,96 -0,92 -1,04 -1,57 2,45

9 -1,75 -2,08 0,33 -0,20 0,04

10 -1,19 -3,13 1,94 1,41 2,00

11 -1,79 -0,95 -0,84 -1,37 1,87

12 -1,66 -0,87 -0,79 -1,32 1,73

13 -2,74 -1,95 -0,79 -1,32 1,73

14 -2,91 -3,77 0,86 0,33 0,11

15 -3,51 -4,06 0,55 0,02 0,00

16 -1,62 -3,64 2,02 1,49 2,23

17 -1,01 -2,68 1,67 1,14 1,31

18 -0,62 -1,83 1,21 0,68 0,47

19 -1,06 -0,63 -0,43 -0,96 0,91

20 -1,85 -3,68 1,83 1,30 1,70

21 -1,63 -4,1 2,47 1,94 3,78

22 1,11 -4,49 5,6 5,07 25,75

23 -1,76 -2,48 0,72 0,19 0,04

24 -2,56 -1,43 -1,13 -1,66 2,74

25 -2,95 -0,51 2,260 2,26 5,107

26 -2,97 -0,53 2,809 2,48 6,150

 -45,8 -58,42 12,62 0 83,82

X -1,90833 -2,4344 0,525833

1608
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

X1  X 2
t =
ΣSD 2
N(N  1)
 1,9083333  2,43417
=
83,82
26(26  1)
0,52583333
=
83,82
552
0,5258333
=
0,151842723
0,5258333
=
0,389670019
= 1,349

Berdasarkan taraf signifikansi 5% dan db = 50, didapat batas angka penerimaan
hipotesis nol dalam tabel nilai-nilai t sebesar 1,349, sedangkan nilai t yang diperoleh dalam
penelitian sebesar 2,021. Hal ini berarti bahwa nilai yang didapat lebih besar dari batas angka
penolakan hipotesis nol.
Berdasarkan analisis di atas, dengan menggunakan taraf signifikansi 5 %, dapat
disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh Pelatihan menggiring bola membentuk
bintang dengan jarak 25 meter 10 repetisi 2 set dan 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan
kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang
Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015. Dengan kata lain, hipotesis alternatif
yang telah dikemukakan di muka diterima. Hal ini dapat dibuktikan bahwa nilai t-hitung
sebesar 1,349 lebih kecil daripada nilai t-tabel sebesar 2,021.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data maka dapat disimpulkan bahwa Ada pengaruh yang
signifikan Pelatihan menggiring bola membentuk bintang dengan jarak 25 meter 5 repetisi 4
set terhadap peningkatan kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST.
Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal ini dapat
dibuktikan dari hasil pengolahan secara statistik dengan signifikansi 5%. Terbukti hasil t-
hitung menunjukkan 9,589 Angka ini lebih besar dari angka batas penolakan hipotesis nol
dalam tabel nilai t sebesar 2,064 dengan taraf signifikansi 5%, db = 25. Dengan demikian
hipotesis nolnya ditolak. sedangkan hipotesis alternatif diterima.
1609
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Ada pengaruh yang signifikan Pelatihan menggiring bola membentuk bintang dengan
jarak 25 meter 10 repetisi 2 set erhadap peningkatan kelincahan menggiring bola siswa putra
kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran
2014/2015. Hal ini dapat dibukiikan dari hasil pengolahan secara statistik dengan signifikansi
5%. Terbukti hasil t-hitung menunjukkan 8,234 Angka ini lebih besar dari angka batas
penulakan hipotesis nol dalam tabel nilai t sebesar 2,064 dengan taraf signifikansi 5%, db =
25. Dengan demikian hipotesis nolnya ditolak, sedangkan hipolesis alternatif diterima.
Tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan Pelatihan menggiring bola membentuk
bintang dengan jarak 25 meter 10 repetisi 2 set dan 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan
kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang
Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil
pengolahan secara statistik dengan signifikansi 5%. Terbukti hasii t-hitung menunjukkan
1,349 Angka ini lebih rendah dari angka batas penolakan hipotesis nol dalam tabel nilai t
sebesar 2,021 dengan taraf signifikansi 5%, db = 50 Dengan demikian hipotesis nolnya
diterima, sedangkan hipotesis alternatif ditolak.

Saran

Dianjurkan kepada guru, pembina dan pelatih olahraga dalam meningkatkan
kelincahan menggiring bola, dapat memberikan Pelatihan menggiring bola membentuk
bintang dengan jarak 25 meter 10 repetisi 2 set atau 5 repetisi 4 set terhadap peningkatan
kelincahan menggiring bola siswa putra kelas VII SMPK ST. Thomas Aquino Padang
Tawang Mengwi Badung Tahun Pelajaran 2014/2015, karena kedua bentuk pelatihan ini
tidak memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kelincahan siswa.

DAFTAR PUSTAKA

A. Hamidsyah Noer. 1995. Kepelatihan Dasar. Jakarta: Depdikbud.
A. Hamidsyah Noer. 1998. Kepelatihan Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Adiatmika. 2003. Pemeriksaan Kebugaran Fisik. Denpasar: Udayana.
Aif Syarifuddin. 1991. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Ballesteros, J.M. 1990. Pedoman Dasar Melatih Atletik Program Pendidikan dan Sistem
Sertifikat Pelatihan Atletik. PASI. Stadion Medha.
Bernadib. 1991. Metode Penentuan Subyek Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional.
Dantes Nyoman. 2012. Variasi Penelitian dan Perumusan Hipotesis. Singaraja: FKIP Unud.
Djumidar, Drs. 2001. Dasar-Dasar Atletik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Engkos Kosasih. 1995. Olahraga, Teknik dan Program Latihan. Jakarta:
Akademika Pressindo.
Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: PT. Cipta
Adi Pustaka.
1610
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Haag H. 2002. Dasar-Dasar Pengajaran Pelatihan Umum. PT. Rosida Jaya. Hasan Alwi.
2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hasnan Said. 1990. Daya Tahan Sebagai Unsur Utama Pembinaan Kesegaran Jasmani.
Jakarta: Balai Pustaka.
ISPI. 1991. Scoring Tables of Men's Strack and Field Events. Jakarta: Balai Pustaka.
Kama, Ketut. 1993. Olot dan Gerakan Dalam Olahraga. Denpasar: Yayasan Ilmu Faal
Widya Laksana.
Lutan Rusli. 2002. Asas-Asas Pendidikan Jasmani : Pendekatan Pendidikan Gerak di
Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas-Ditjen.
Nala, Ngurah. 2011. Kesegaran Jasmani. Denpasar: Yayasan Ilmu Faal Widya Laksana.
Netra, Ida Bagus. 1997. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Marta Dinata. 2008. Bola Basket Konsep dan Teknik Bermain Bola Basket. Jakarta : Cerdas
Jaya
Poerwadarminta, W.J.S. 1990. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Baku
Pustaka.
Redhana Wirata. 1997. Kapita Selekta Dalam Pelatihan Olahraga. Denpasar: Balai
Pelatihan Guru.
Roripandy. 1990. F.E.G. Lari. Lompat, Lempar. Jakarta.
Sadoso Sumosardjono. 1990. Pengetahuan Praktis Kesehatan Dalam Olahraga. Jakarta:
Gramedia.
Samsudin, 2001. Tes Kebugaran Fisik. PT. Intan Pariwara.
Sembiring. Olahraga Kesehatan II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soebroto. 2001. Teknik dan Taktik Meningkatkan Prestasi Olahraga, Jakarta: PT. Gramedia.
Soekarman. 2004. Peningkatan Prestasi Melalui Kebiasaan Berolahraga. Semarang:
Dahara Prize.
Suharno, HP. 1992. Ilmu Kepelatihan Olahraga, Monograf Yang Diperbanyak oleh FPOK.
Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto. 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sujana. 2005. Kompenen Biomotorik. Jakarta: PT. Gramedia.
Sunarya, 1990. Tuntunan Mengajar Atletik, Proyek Pembina Permasalahan Olahraga.
Sutrisno Hadi. 1990. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset. Sutrisno Hadi. 2000.
Statistikl. Yogyakarta: Andi Offset.
Wahjoedi. 2000. Tes Pengukuran Untuk Bidang Olahraga, Kedokteran, dan Psikologis.
Jakarta: Usaha Nasional.
Wahjoedi. 2001. Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani.
Winarno Surakhmad. 1993. Pengantar Penelitian Ilmiah Metode Teknik. Bandung:
Tarsito.

1611
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

OPTIMALISASI PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIDATO MELALUI
PENERAPAN TEKNIK MEMORITER

Ni Wayan Sudarti

ABSTRACT

This study aimed (1) to determine the effectiveness of the technique memoriter can
improve student speech in Indonesian Language and Literature Education 3rd semester, (2) to
identify any obstacles obtained in the application of engineering students memoriter on
Language Education and Indonesian literature semesters 3. Theory referenced in this study
were (1) the understanding of speech, (2) the purpose of the speech, (3) the kinds of speech,
(4) a method of speech, (5) the situation of speech, (6) pronunciation (the accuracy of
speech), (7 ) sounds in speech, (8) diction (word choice), (9) the sentence in the speech, (10)
the structure of the speech, (11) memorization and fluency, (12) the attitude and appearance
in speech, (13) gesture and expression , (14) contact (eyes), (15) the preparation steps
compose speeches, and (16) the preparation of self and material.
In this study used several methods: the method of determining the subject of research,
approach the subject of research, data collection methods, and data processing method. In
determining the subject of research, used methods of population. Method approach to the
subject of research is the empirical method is an approach of research subjects whose
symptoms have no reasonable basis. Symptoms fair question in this research is the ability to
make a speech through memoriter engineering student Indonesian Language and Literature
Education semesters 3. It is said there is reasonable because the lecturer had given a speech
learning through techniques memoriter. Data collection method used is the method test (test
measures) and observation. The data obtained were then processed using descriptive
statistical methods.
Based on data analysis can be summarized as follows. (1) The ability of speech
through memoriter engineering student Indonesian Language and Literature Education 3rd
semester is good. The conclusions drawn by the average value obtained was 80. (2) Based on
analysis of student weakness Indonesian Language and Literature Education 3rd semester in
speech through memoriter techniques, most prominent weakness is eye contact to an
audience of students, which is 15 people (11 , 42%) eye contact with the audience less, 5
(2.14%) no eye contact with the audience, and only 26 people (86.42%) were good eye
contact with the audience. Judging from his attitude can be proved from 46 students in a
speech tests through techniques memoriter, 35 students (75%) expressed the attitude is good.

Keywords: Mechanical Memoriter, speech capability

1612
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENDAHULUAN

Bahasa adalah alat komunikasi yang paling penting bagi manusia. Semua orang
menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa
bahasa. Melalui bahasa kita dapat berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar
dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Melalui bahasa, kebudayaan suatu
bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dikembangkan serta dapat diturunkan kepada generasi-
generasi mendatang. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang
berada di sekitar manusia mendapat tanggapan dalam pikiran manusia, disusun dan
diungkapkan kembali kepada orang lain sebagai bahan komunikasi. Komunikasi melalui
bahasa ini memungkinkan tiap orang untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik
dan lingkungan sosialnya. Ia memungkinkan tiap orang untuk mempelajari kebiasaan, adat
istiadat, kebudayaan, serta latar belakangnya masing-masing (Keraf, 1980:1).

Bahasa dan masyarakat merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa
yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lain. Bahasa yang utama adalah bahasa lisan dan
bahasa yang kedua adalah bahasa tulis yang ditemukan manusia setelah tingkat peradaban
manusia itu meningkat. Itu sebabnya, bangsa yang masih primitif tingkat peradabannya tidak
mengenal tulisan dan bahasa tulis. Bahasa menjadi warisan secara turun-temurun. Generasi
demi generasi melakukan estafet pewarisan bahasa. Tiap generasi tentu saja bukan sekadar
menerima warisan dari generasi terdahulu, melainkan juga melakukan pembaharuan,
pengembangan, penciptaan sehingga terasa bahwa bahasa itu terus berubah dan diubah sesuai
dengan kebutuhan dan zaman.

Jika ditinjau dari sejarah pertumbuhan bahasa sejak awal sampai sekarang, salah satu
fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara adalah sebagai alat
komunikasi resmi. Sebagai suatu bangsa, kita ingin tampil di permukaan pergaulan bangsa-
bangsa, sebagai bangsa yang beradab, memiliki identitas, dan sebagai bangsa yang
berkepribadian. Bagi bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan salah satu sarana untuk
mengungkapkan ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak
diterima oleh orang lain. Secara sosial juga dapat dikatakan bahwa bahasa itu terus
memahami fungsi sosialnya di segala bidang, sebagai wadah dari prilaku dan aktivitas
masyarakat.
1613
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi. Berdasarkan media yag
digunakan, komunikasi dibedakan atas dua jenis yaitu komunikasi verbal artinya komunikasi
menggunakan bahasa dan komunikasi nonverbal atau komunikasi menggunakan media selain
bahasa. Komunikasi verbal dapat dibedakan atas dua macam, yaitu komunikasi tulis dan
komunikasi lisan. Berkomunikasi secara lisan ini yag sering disebut dengan berbicara.
Dengan kata lain, berbicara merupakan tindakan penyampaian pikiran atau perasaan dengan
bahasa lisan yang ditujukan kepada orang lain. Berbicara dapat dilakukan secara langsung
atau tatap muka dan secara tidak langsung misalnya berbicara menggunakan saluran telepon,
televisi, atau media elektronik lainnya. Berbicara di depan umum disebut berpidato
(Ekasriadi, 2001:14,19).

Pada kehidupan sehari-hari penggunaan keempat keterampilan berbahasa itu tidak
sama. Kegiatan berbicara lebih banyak dilakukan orang dalam kehidupan bermasyarakat
setelah keterampilan menyimak. Kegiatan berbicara ada di mana-mana dengan topik yang
bermacam-macam, dan bermacam-macam pula nama yang diberikan kepada bentuk kegiatan
berbicara tersebut. Salah satunya bentuk kegiatan berbicara adalah berpidato.

Tampil dan berbicara di depan umum merupakan momok semua orang yang belum
terbiasa. Tidaklah dapat disangkal bahwa berbicara mempunyai peranan sosial yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Berbicara merupakan alat komunikasi tatap muka yang
sangat vital. Kemampuan berbicara seseorang turut menentukan keberhasilan atau kesuksesan
kariernya. Di satu sisi, kemampuan berbicara merupakan suatu daya pemersatu yang ampuh,
seperti mempersatukan kelompok-kelompok sosial. Di pihak lain, berbicara dapat pula
bertindak sebagai suatu daya pemecah-belah, mempertajam perbedaan-perbedaan antara
kelompok sosial. Dengan kata lain, berbicara dapat membawa kedamaian dan dapat pula
menimbulkan konflik. Karena itu, keterampilan berbicara sangat penting ditanamkan oleh
para guru bahasa Indonesia kepada peserta didiknya.

Berpidato merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan dengan berbicara atau
bentuk keterampilan berbahasa dengan menggunakan bahasa lisan. Berpidato tidak bisa
dilakukan hanya dalam hati. Seseorang akan terlihat berwibawa dengan kemampuan
berpidatonya di depan umum. Dengan pidato, seseorang dapat menarik simpati masa dan juga
dapat mempengaruhi orang lain. Dalam hal ini orang yang dapat menyampaikan pidato
1614
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

adalah orang yang mampu berbicara, bukan orang bisu. Seseorang akan dapat menyampaikan
gagasannya dalam pidato dengan baik apabila telah mempunyai skill di dalam berbahasa
khususnya bahasa lisan.

Berpidato tidak berarti orang hanya mampu mengucapkan atau asal berbicara. Orang
yang berpidato harus mampu mendalami permasalahan yang akan disampaikan. Hal ini orang
akan dapat mengatur power suaranya, kecepatan, serta pemenggalan-pemenggalannya.
Berpidato juga memerlukan mental yang sangat bagus, dalam hal ini siap untuk tampil di
depan umum atau publik. Apabila seseorang yang berpidato mempunyai mental yang kurang
siap atau gugup, maka penampilannya akan mengecewakan. Selain mengecewakan bagi diri
sendiri juga mengecewakan umum atau publik yang mendengar pidato yang disampaikan.
Mental yang kurang siap atau gugup dapat mempengaruhi keutuhan gagasan-gagasan yang
akan disampaikan serta dapat mengabaikan tujuan dari pidato itu sendiri.

Metode memoriter merupakan salah satu bagian dari metode berpidato, yaitu dengan
cara mempersiapkan naskah terlebih dahulu. Pada Metode ini terdapat dua teknik berpidato,
yakni teknik memoriter (menghafal naskah pidato yang dibuat) dan teknik ekstemporan
(membuat garis-garis besar atau outline). Dipilihnya teknik menghafal atau memoriter
karena mahasiswa dapat menuangkan ide-idenya terlebih dahulu dalam bentuk tulisan. Jika
ada kesalahan, dengan mudah mahasiswa dapat memperbaikinya. Sebelum ide-ide tersebut
disampaikan dengan bahasa lisan terlebih dahulu mahasiswa menghafalnya, dengan tidak
menutup kemungkinan mahasiswa boleh mengembangkan ide tersebut pada saat berpidato
berlangsung, sehingga Berpidato dengan metode menghafal tadi, dapat melatih mahasiswa
untuk berbicara dan menjadi terbiasa berbicara dengan bahasa yang baik dan benar di depan
umum.

Bertolak dari uraian di atas penulis merasa tertarik untuk meneliti kemampuan
berpidato melalui teknik memoriter pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
semester 3.

1615
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

LANDASAN TEORI

Pengertian Pidato

Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada
orang banyak atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak, dengan
maksud agar para pendengar dapat mengetahui, memahami, menerima, serta diharapkan
bersedia melaksanakan segala sesuatu yang disampaikan terhadap mereka (Hadinegoro,
2006:1). Dengan kata lain, pidato merupakan seni berbicara di depan umum. Karena
dikatakan seni, maka pidato harus dilaksanakan dengan seindah mungkin sehingga orang
yang mendengarkan pidato tersebut merasa senang dan tertarik untuk mendengarkan uraian-
uraian yang disampaikan oleh sang orator.

Tujuan Pidato

Tujuan pidato ada bermacam-macam. Setiap pembicara dapat merumuskan tujuan,
karena tujuan sebuah pidato tergantung dari keadaan dan apa yang dikehendaki oleh
pembicara. Namun secara umum tujuan pidato dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
memberitahukan, menghibur atau menyenang-nyenangkan, dan membujuk atau
mempengaruhi.

Jenis-Jenis Pidato

Jenis pidato ditentukan oleh beberapa faktor seperti: situasi, tempat, tujuan, da, isi
pembicaraan. Faktor-faktor yang menjadi patokan untuk menentukan jenis pidato adalah
sebagai berikut : Bidang Politik, Kesempatan Khusus, Kesempatan Resmi, dan Pertemuan
Informatif.

Metode Pidato

Ada tiga macam metode untuk membawakan sebuah pidato. Adapun metode tersebut
adalah sebagai berikut. (1). Metode Naskah atau Membaca Teks Penuh (Manuskrip), (2).
Metode Mempersiapkan Bahan Terlebih Dahulu, (3) Metode Impromtu atau Metode
Spontanitas

1616
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Situasi Pidato

Secara garis besar situasi pidato dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1) situasi resmi,
2) situasi setengah resmi, dan 3) situasi tidak resmi.

Lafal (Ketepatan Ucapan)

Pelafalan adalah cara mengucapkan kata-kata secara jelas, enak, dan mudah
didengarkan sesuai dengan makna atau maksud yang terkandung dalam kata-kata yang
diucapkan itu (Wiyanto, 2001:85). Pelafalan bunyi-bunyi bahasa yang kurang tepat akan
menimbulkan kebosanan, tidak menyenangkan atau kurang menarik dan dapat mengalihkan
perhatian pendengar. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat apabila menyimpang
terlalu jauh dari ragam bahasa lisan. Melakukan latihan sebelum tampil berpidato, merupakan
upaya untuk memperoleh pelafalan yang baik.

Suara dalam Pidato

Agar mendapatkan gambaran yang sedikit lengkap mengenai suara dalam pidato, maka
secara berturut-turut akan dikemukankan sebagai berikut. (1) Volume Suara, dan (2) Intonasi

Diksi (Pilihan Kata)

Sebagai pembicara yang baik hendaknya selalu menyadari bahwa kata-kata yang
diucapkan tidak selaludiartikan sama oleh orang lain. Misalnya kata pembangunan dapat
berarti pembuatan jalan, gedung, dan sebagainya. Seorang pembicara semestinya memahami
ketentuan-ketentuan dalam berbahasa lisan terutama dalam memilih kata-kata, yaitu
menggunakan kata-kata yang jelas, tepat, dan menarik

Kalimat dalam Pidato

Dalam berpidato sebaiknya menggunakan kalimat yang efektif, sehingga mudah
dimengerti oleh audiens. Kalimat yang efektif menjadi alat pengungkap satuan gagasan
dalam berkomunikasi. Dengan kalimat efektif, pembicara akan dapat mengungkapkan
gagasan dengan jelas dan audiens akan memahami gagasan pembicara dengan jelas pula.

1617
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Struktur Naskah Pidato

Secara sederhana struktur naskah pidato dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1)
pembukaan, 2) bagian isi atau uraian, dan 3) bagian penutup.

Hafalan dan Kelancaran

Sesuai dengan namanya memoriter atau menghafal, berpidato dengan teknik ini
pembicara harus menghafal naskah yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Naskah tersebut
dibaca berulang-ulang sampai benar-benar hafal. Untuk memudahkan pembicara dalam
menghafal, naskah pidatonya dibuat pendek tetapi tidak mengurangi sistematika dari pidato.

Sikap dan Penampilan Dalam Berpidato

Sikap dan penampilan dalam berpidato selalu disesuaikan dalam situasi apa dan
bagaimana, dalam acara apa dan untuk apa acara itu diselenggarakan. Acara itu apakah
formal atau tidak formal (Kusuma, 2000:45).

Gesture dan Ekspresi

Menurut Kusuma (2000:57), gesture merupakan pidato yang hidup atau meriah,
semarak, dimana komunikasi menggunakan gerakan-gerakan anggota tubuh yaitu tangan,
kepala, ekspresi wajah dan juga anggota tubuh yang lain.

Kontak (Pandangan Mata)

Menurut Nugroho (2005:21), di dalam berbipato seseorang diharapkan untuk bisa
melakukan kontak pandang dengan hadirin untuk menjalin apa yang diungkapkan agar
berjalan dengan baik. Hindari sikap terlalu suka menunduk, mata kemana-mana, menatap
kosong kedepan, dan hanya memandang kerumunan tertentu saja.

Langkah-Langkah Persiapan Menyusun Pidato

Wiyanto (2001:28-30) mengemukakan bahwa persiapan pidato dapat dilakukan dengan
mengikuti tahapan berikut : Menentukan tujuan pidato, Memilih dan menyempitkan pokok,
Menganalisis pendengar dan suasana, Mengumpulkan bahan, Membuat kerangka atau
outline, Menguraikan secara mendetail, dan Melatih dengan suara nyaring
1618
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

METODE PENELITIAN

Metode Penentuan Subjek Penelitian

Metode penentuan subjek penelitian adalah suatu metode yang digunakan untuk dapat
menentukan subjek penelitian. Subjek penelitian adalah individu yang kita selidiki. Yang
menjadi subjek penelitian pada penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia semester 3.

Metode Pendekatan Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini metode pendekatan subjek penelitian yang digunakan adalah
metode empiris. Gejala yang dimaksud yaitu kemampuan berpidato melalui teknik memoriter
mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3. Dikatakan sudah ada secara
wajar karena mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3 telah
mendapatkan pembelajaran berpidato melalui teknik memoriter.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah golongan metode yang khusus digunakan sebagai
alat untuk mengumpulkan atau mencari data. Ada beberapa jenis metode pengumpulan data
yang umum digunakan dalam penelitian pendidikan: 1) tes, dan 2) observasi (Netra,
1974:45).

Metode Tes

Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tindakan, yaitu mahasiswa
membawakan pidato ke depan kelas melalui teknik menghafal/memoriter

Metode Observasi

Metode observasi adalah metode yang dilaksanakan dengan mengadakan pengamatan
langsung di lapangan (Netra, 1974:43). Observasi dalam penelitian ini digunakan atas
pertimbangan, bahwa dalam penelitian yang bersifat deskriptif dapat memberikan sumbangan
pikiran yang cukup besar. Data yang diperoleh dalam observasi merupakan data sekunder
yang dapat menunjang data primer atau hasil tes.

1619
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Metode Pengolahan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan data, yakni 1) mengubah skor
mentah menjadi skor standar, 2) menentukan predikat, 3) mengelompokkan kemampuan
mahasiswa, 4) mencari skor rata-rata, 5) menganalisis kelemahan mahasiswa, dan (5)
menarik kesimpulan.

PENYAJIAN HASIL PENELITIAN

Skor Standar yang Diperoleh Mahaiswa

Skor mentah yang diperoleh mahasiswa dalam tes berpidato melalui teknik
memoriter belum dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kemampuan mahasiswa
dalam berpidato melalui teknik memoriter. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan data dari
skor mentah menjadi skor standar. Untuk mengubah skor mentah menjadi skor standar dalam
penelitian ini digunakan norma absolut seratus.

Predikat Kemampuan Mahasiswa dalam Berpidato dengan Teknik Memoriter

Setelah skor standar dari masing-masing mahasiswa diperoleh, maka dapat
ditafsirkan apakah kemampuan mahasiswa tersebut termasuk kategori baik, cukup, atau
kurang.

Pengelompokan Kemampuan Mahasiswa dalam Berpidato dengan Teknik Memoriter

Dari hasil pengelompokan tersebut, dapat diketahui berapa orang atau berapa persen
mahasiswa yang memiliki kemampuan sangat baik, baik, cukup, atau kurang. Selain itu,
dapat juga diketahui berapa orang atau berapa persen mahasiswa yang telah memenuhi
kriteria di dalam berpidato melalui teknik memoriter. Data mahasiswa yang telah memenuhi
kriteria ketuntasan minimal dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Mahasiswa yang mendapatkan predikat sangat baik
2. Mahasiswa yang mendapatkan predikat baik
Mahasiswa yang mendapatkan predikat cukup
1620
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Skor Rata-rata yang Diperoleh Mahasiswa dalam Berpidato dengan Teknik Memoriter

Berdasarkan perhitungan skor rata-rata yang diperoleh adalah 80. Seperti terlihat pada
uraian di atas, skor rata-rata yang diperoleh dalam berpidato melalui teknik memoriter pada
mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah 80. Sesuai dengan kriteria
predikat yang ada skor standar 80 tergolong kategori baik. Berdasarkan hal ini dapat
disimpulkan bahwa kemampuan berpidato melalui teknik memoriter pada mahasiswa
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah baik. Jika dilihat dari kriteria diperoleh 35
orang atau 82,86% yang sudah memenuhi kriteria dan 11 orang atau 17,14% yang dinyatakan
belum memenuhi kriteria.

Kelemahan Mahasiswa dalam Berpidato dengan Teknik Memoriter

Berdasarkan hasil pengamatan dan catatan peneliti mahasiswa dalam tes berpidato
melalui teknik memoriter terdapat beberapa kelemahan yang dialami mahasiswa ketika
tampil berpidato. Kelemahan-kelemahan tersebut akan diuraikan lebih rinci di bawah ini.

1. Berdasarkan pengamatan dan penilaian dari peneliti, mahasiswa yang masih kurang
dalam aspek lafal
2. Dilihat dari aspek intonasi kelemahan mahasiswa terlihat pada pada tempo.
3. Dilihat dari volume suara mahasiswa pada saat berpidato, volume suaranya masih kurang
besar sehingga tidak terdengar jelas oleh audiens yang paling belakang.
4. Dilihat dari struktur pidatonya terdapat kekurang dalam hal pembukaan atau pendahuluan
di dalam berpidato. Pembukaan yang disampaikan mahasiswa cenderung kurang menarik
sehingga tidak ada respon dari audiens. Dilihat dari isi pidatonya pemaparan materinya
kurang sehingga terlihat dipaksakan untuk menutup pidatonya padahal masih banyak hal
yang perlu diungkapkan. Dilihat dari bagian penutupnya, terdapat simpulan dari materi,
ajakan serta himbauan terhadap audiens kurang.
5. Dilihat dari gesture dan ekspresi mahasiswa, terdapat ekspresi dan gerak tubuhnya kurang
sesuai dan tidak ada ekspresi dan gerak tubuh. Mahasiswa cenderung terlihat
memaksakan gerak tubuhnya dan tidak sesuai dengan konteks yang diucapkan sehingga
kelihatan kaku. Terdapat juga beberapa mahasiswa yang memposisikan tangannya di satu

1621
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

tempat sampai akhir pidato, misalnya di saku, dilipat kebelakang, di perut dan lain
sebagainya.
6. Dilihat dari kontak pandang pada dengan audiens pada saat berpidato, mahasiswa
cenderung tidak memandang audiens dan mengalihkan pandangan ke tempat yang
kosong.
7. Dilihat dari segi sikap ketika berpidato, mahasiswa cenderung kurang tenang, kurang
tegap.
Berdasarkan hasil analisis di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kelemahan
mahasiswa yang paling menonjol dalam berpidato dengan teknik memoriter ini terletak pada
kontak pandang mahasiswa dengan audiens dan sikap mahasiswa ketika berpidato.

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data maka data yang dihasilkan adalah sebagai berikut.

Kemampuan berpidato melalui teknik memoriter mahasiswa tergolong baik. Hasil simpulan

ini berpijak dari nilai rata-rata yang diperoleh, yakni 80. Berdasarkan ketuntasan individu

yang dicapai oleh 46 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian, hanya 35 orang (82,86%)

mahasiswa nilai 80 ke atas. Sedangkan mahasiswa sebanyak 11 orang (17,14%) dengan

memperoleh nilai di bawah 80. Berdasarkan hasil analisis kelemahan mahasiswa dalam

berpidato dengan teknik memoriter, kelemahan yang paling menonjol adalah kontak pandang

mahasiswa terhadap audiens dan sikap mahasiswa ketika tampil berpidato. Hal ini dapat

dibuktikan dari 46 mahasiswa yang di tes berpidato dengan teknik memoriter, 26 orang

(86,42%) kontak pandang dengan audiens kurang, 15 orang (11,42%) tidak ada kontak

pandang dengan audiens, dan hanya 5 orang (2.14%) yang kontak pandang dengan audiens

baik. Dilihat dari sikap dapat dibuktikan dari 46 mahasiswa yang di tes berpidato dengan

teknik memoriter, 35 (75%) orang dinyatakan sikap kurang baik

1622
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR PUSTAKA

Ekasriadi, Ida Ayu Agung. 2006. ”Diktat Kuliah Berbicara I:. Denpasar: Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali.
Hadinegoro, Luqman. 2006. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut.
Keraf, Gorys. 1986. Disksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kusuma. 2000. Teknik Berpidato. Yogyakarta: Bintang Cemerlang.
Netra. 1974. Metodelogi Penelitian. Singraja : FKIP UNUD.
Nugroho, Adi. 2005. Teknik Mahir Berpidato. Surabaya: Indah.
Wiyanto, Asul. 2001. Pidato, Ceramah dan Diskusi. Gersik: CV. Bintang Pelajar.
Wiyanto, Asul. 2001. Terampil Pidato. Jakarta: CV. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

1623
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Studi Tentang Kemampuan Manajerial Pimpinan, Budaya Organisasi dan Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Dosen di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP PGRI
Bali Tahun 2016)

NI LUH PUTU CAHAYANI

ABSTRACT

This study aims to determine the contribution kemampuam managerial faculty leadership,
organizational culture and work motivation on the professionalism of the lecturers in the
Faculty of Social Sciences of Education (FPIPS) Teachers' Training College PGRI Bali. The
study population was all lecturers in the Faculty of Education Social Sciences (FPIPS)
Teachers' Training College PGRI Bali with a total of 89 lecturers. Sampling was done by
Multi Stage Random Sampling technique using a design of ex-post facto. Data collected by
questionnaire and observation sheet. Data were analyzed with regression, correlation and
analysis of determination. The results showed that: (1) The results of the analysis were found:
(1) there is a positive and significant contribution between managerial ability Faculty Leaders
of the professionalism of lecturers through the regression equation Y = 48.602 + 0.577 X1
with a contribution of 44% and the effective contribution of 24.7 %, (2) there is a significant
and positive contribution of the organizational culture of professionalism through the
regression line equation: Y = 17.624 + 0.887 X2 with a contribution of 37.9% and the
effective contribution of 15.2% (3) there is a positive and significant contribution between
motivation to work towards professionalism through the regression equation Y = 49.332 +
0.658 X3 with sebsar contributed 42.7% and the effective contribution of 26.0% and (4) there
is a significant and positive contribution jointly between managerial leadership ability,
organizational culture, motivation to work in the professionalism of lecturers through the
regression equation Y = 14.298 + 0.323 +0.357 X1 X2 + 0,400 X3 with a contribution of
65.9%. Based on these findings we can conclude that there is a positive and significant
contribution between managerial leadership ability, organizational culture and work
motivation on the professionalism of the lecturers in the Faculty of Education Social Sciences
(FPIPS) Teachers' Training College PGRI Bali separately or silmultan. Thus all three of these
factors can be used as predictors of professionalism tingakt tendency lecturer in the Faculty
of Education Social Sciences (FPIPS) Teachers' Training College PGRI Bali.

Keyworld : Ability Of Managerial, Organizational Culture, Motivation And Performance Lecturer

1624
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perguruan tinggi swasta sebagai mitra perguruan tinggi negeri, sebagaimana
disebutkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999, bahwa perguruan tinggi
swasta sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional perlu terus didorong untuk
meningkatkan pertumbuhan, peranan, tanggung jawab dan mutu pendidikan dengan tetap
mengindahkan ciri khas perguruan tinggi swasta yang bersangkutan serta syarat-syarat
pendidikan secara umum. Hal ini berarti bahwa perguruan tinggi harus memperkuat
kemampuan jajaran /civitas akademika supaya lebih profesional dan berkualitas. Menurut
Swasto (1995), peran dosen disamping sebagai pengajar juga sebagai peneliti dan penyebar
informasi. Hal ini berarti prestasi dosen juga ditentukan dari banyaknya makalah yang
dipresentasikan dalam seminar, penulisan artikel dalam jurnal ilmiah dan penyusunan buku
yang berbobot. Selain itu dosen perlu mempunyai kemampuan berpikir logis dan kritis,
menguasai prinsip dan metode penelitian serta mampu mengkomunikasikan hasil-hasil
penelitian. Dengan demikian dosen selalu tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan sosial kemasyarakatan. Tumbuh kembangnya suatu organisasi banyak
ditentukan oleh sumber daya manusianya yang berkualitas. Dengan demikian sumber daya
manusia harus diperhatikan dengan baik termasuk factor-faktor kompensasinya yang
diharapkan bisa meningkatkan produktivitas dan profesionalismenya dalam bekerja.
Kontribusi perguruan tinggi dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas
adalah sangat signifikan. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Sisdiknas), dijelaskan bahwa:
1. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi dan vokasi
2. Pendidikan profesi; pendidikan tinggi setelah program sarjana untuk memiliki
pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus
3. Pendidikan vokasi; pendidikan tinggi maksial setara program sarjana untuk memiliki
pekerjaan dengan persyaratan keahlian terapan tertentu
Hal ini menegaskan pula akan persyaratan keahlian atau kompetensi dalam pendidikan tinggi.
Menyikapi tuntutan tersebut, banyak perguruan tinggi yang mengembangkan kurikulumnya
dengan berbasis kompetensi yang menggeser kurikulum berbasis substansi. Memang tidak
semua jurusan atau program studi akan cocok dengan kurikulum berbasis kompetensi
tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberikan landasan ataupun
solusi guna pengembangan sumber daya manusia unggul untuk kepentingan pembangunan
bangsa dan negara, yaitu dengan berbagai cara 1) Meningkatkan profesionalisme dosen di
fakultas pendidikan ilmu pengetahuan social IKIP OGRI Bali . 2) Meningkatkan kompetensi
lulusan sesuai kebutuhan stakeholder dan pasar kerja di era globalisasi.Di samping itu, tujuan
dari penelitian ini juga untuk membuktikan secara empiris bahwa profesionalisme dosen
dipengaruhi kemampuan manajerial pimpinan,budaya organisasi dan motivasi kerja.
Kepuasan stakeholder dipengaruhi oleh kompetensi lulusan baik secara langsung maupun
tidak langsung melalui komitmen organisasi dan komitmen profesi sebagai mediasi Pasal 3,
ayat 1 Undang-undang Guru dan Dosen No.4 Tahun 2005, dikemukakan bahwa Guru dan
Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan tinggi
yang diangkat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Lebih jauh dikemukakan bahwa

1625
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama menstransformasikan,
mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui
pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendidikan Tinggi

Pengertian Pendidikan Tinggi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999
adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi daripada pendidikan menengah di jalur
pendidikan sekolah. Selanjutnya, perguruan tinggi sebagai satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu
jalur akademik dan professional. Berdasarkan pengertian di atas, mahasiswa sebagai
peserta didik menempati posisi yang prestisius dalam masyarakat serta diharapkan
mempunyai kualitas yang tinggi. Menurut Tanjung (1995), perguruan tinggi merupakan
jenjang pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan manusia-manusia terdidik
yang memiliki derajat kualitas tertentu. Dengan aktivitas pendidikan dan pengajaran,
penelitian serta pengabdian masyarakat diharapkan menghasilkan berbagai jenis tenaga
ahli yang memiliki kesadaran intelektual dan kemampuan professional. Pasal 2 Peraturan
Pemerintah Nomor 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi, disebutkan bahwa tujuan
pendidikan tinggi sebagai berikut :
1. Menyiapkan peserta didik untuk menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan
akademik dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan
menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat
dan memperkaya kebudayaan nasional.
Perguruan tinggi sebagai wadah untuk membentuk kader-kader pemimpin bangsa
memerlukan suatu cara pengelolaan khusus yang berbeda dengan pengelolaan instansi
non pendidikan tinggi, karena dalam wadah ini terkumpul kelompok sumber daya
manusia yang berilmu dan bernalar. Prasarana dan sarana perguruan tinggi yang
dikemukakan oleh Darjowidjojo (1992) antara lain : (1) Sarana untuk Pendidikan dan
Pengajaran. (2) Sarana untuk Penelitian. (3) Sarana untuk Pengabdian Masyarakat. (4)
Pembinaan Mental. (5) Faktor Eksternal. (6) Kurikulum. (7) Biaya Pendidikan. (8) Sistem
Informasi Manajemen.

2.2 Kinerja Dosen
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, disebutkan bahwa dosen adalah pendidik
profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat (Tridarma Perguruan Tinggi). Kinerja Depdiknas (2004),
menyatakan kinerja dosen adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang
1626
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dimiliki dosen dalam menyelesaikan suatu pekerjaannya. Kinerja atau performansi dapat
diartikan sebagai presentasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja atau unjuk
kerja (LAN, 2004). Sejalan dengan itu Smith (1982: 393) menyatakan, kinerja adalah
“..output drive from processes, human or otherwise.” Jadi, kinerja merupakan hasil atau
keluaran dari suatu proses. Untuk lebih memahami tentang kinerja dosen. Kriteria kinerja
pendidikan menurut Blazey, et al. (2001: 31) bertujuan untuk: (1) meningkatkan kinerja,
kapabilitas, dan output pendidikan, (2) mempermudah komunikasi dantukar menukar
informasi tentang praktik pendidikan yang terbaik dengan berbagai tipe institusi pendidikan,
dan (3) sebagai alat untuk memahami dan meningkatkan kinerja institusi pendidikan serta
pedoman dalam perencanaan stratejik.

2.3 Motivasi Kerja
Motivasi adalah sesuatu yang memulai gerakan, sesuatu yang membuat orang
bertindak atau berperilaku dalam cara-cara tertentu. Memotivasi orang adalah menunjukkan
arah tertentu kepada mereka dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk memastikan
bahwa mereka sampai kesuatu tujuan. Motivasi lahir dari berbagai konsep teory diantaranya
adalah need theory, equity theory, dan expectancy theory. Analisis mengenai motivasi harus
memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong dan mengarahkan kegiatan
seseorang. Seorang ahli menekankan pada aspek motivasi yang mengarah pada tujuan.
Reksohadiprodjo (1990) mendefinisikan motivasi sebagai keadaan dalam pribadi seseorang
yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk
mencapai suatu tujuan. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh suatu
kekuasaan dari dalam diri orang tersebut. Kekuatan pendorong inilah yang disebut motivasi.
Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada
tujuan mencapai sasaran kepuasan kerja. Moekijat (1992) mengemukakan bahwa motivasi
merupakan proses atau factor yang mendorong orang untuk bertindak atau berperilaku
dengan cara tertentu. Proses motivasi mencakup tiga hal, yaitu: pengenalan dan penilaian
kebutuhan yang belum terpuaskan, penentuan tujuan yang akan menentukan kepuasan, serta
penentuan tindakan yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan. Motivasi penting karena
dengan motivasi diharapkan setiap individu bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil
kerja yang tinggi. Motivasi kerja secara umum dapat diidentifikasikan sebagai serangkaian
kekuatan penggerak yang muncul dari dalam dan diluar diri masing-masing individu. Kedua
kekuatan itu menimbulkan minat kerja dan berhubungan dengan tingkah laku dan
menentukan arah, intensitas dan durasi dari tingkah laku atau kebiasaan individual. Tujuan
pemberian motivasi menurut Hasibuan M.S.P (1996) antara lain : (1) Mendorong gairah dan
semangat kerja karyawan. (2) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan. (3)
Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan. (4) Meningkatkan
kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan. (5) Menciptakan suasana dan
hubungan kerja yang baik. (6) Meningkatkan kreativitas, partisipasi dan kesejahteraan
karyawan. (7) Meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap tugas, meningkatkan
produktivitas kerja dan meningkatkan efesiensi.

2.4 Budaya Organisasi
Komitmen organisasi cenderung didefinisikan sebagai suatu perpaduan antara sikap
dan perilaku. Komitmen organisasional menyangkut tiga sikap yaitu, rasa mengidentifikasi
dengan tujuan organisasi, rasa keterlibatan dengan tugas organisasi, dan rasa kesetiaan

1627
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kepada organisasi. Kalbers dan Fogarty (1995) menggunakan dua pandangan tentang
komitmen organisasional yaitu, affective dan continuence. Hasil penelitiannya
mengungkapkan bahwa komitmen organisasi affective berhubungan dengan satu pandangan
profesionalisme yaitu pengabdian pada profesi, sedangkan komitmen organisasi continuance
berhubungan secara positif dengan pengalaman dan secara negatif dengan pandangan
profesionalisme kewajiban
sosial. Buchanan (1974, dalam Vandenberg 1992) mendefinisikan komitmen adalah sebagai
penerimaan karyawan atas nilai-nilai organisasi (identification), keterlibatan secara
psikologis (psychological immerson), dan loyalitas (affection/attachement). Komitmen
merupakan sebuah sikap dan perilaku yang saling mendorong (reinforce) antara satu dengan
yang lain. Karyawan
yang komit terhadap organisasi akan menunjukkan sikap dan perilaku yang positif terhadap
lembaganya, karyawan akan memiliki jiwa untuk tetap membela organisasinya, berusaha
meningkatkan prestasi, dan memiliki keyakinan yang pasti untuk membantu mewujudkan
tujuan organisasi. Dengan kata lain komitmen karyawan terhadap organisasinya adalah
kesetiaan karyawan terhadap organisasinya, di samping juga akan menumbuhkan loyalitas
serta mendorong keterlibatan diri karyawan dalam mengambil berbagai keputusan. Oleh
karenanya komitmen akan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging) bagi
karyawan terhadap organisasi. Hal itu diharapkan dapat berjalan dengan baik sehingga
mencapai kesuksesan dan kesejahteraan organisasi dalam jangka panjang.

2.5 Komitmen Profesi
Komitmen profesi adalah tingkat loyalitas individu pada profesinya seperti yang
dipersepsikan oleh individu tersebut. Komitmen profesional yang didasari oleh pemahaman
perilaku, sikap dan orientasi profesional seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas
merupakan cerminan dari normanorma, aturan dan kode etik profesinya. Norma, aturan dan
kode etik profesi ini berfungsi sebagai suatu mekanisme pengendalian yang akan menentukan
kualitas pekerjaannya. Ini berarti bahwa dalam diri seorang profesional terdapat suatu sistem
nilai atau norma yang akan mengatur perilaku mereka dalam proses pelaksanaan tugas atau
pekerjaan mereka. Tingkat keinginan untuk mempertahankan sikap profesional tersebut dapat
berbeda-beda antara satu pekerja dengan pekerja lainnya, tergantung persepsi individu
masing-masing. Hal ini tentunya akan memberikan nuansa komitmen profesional yang
berbeda-beda. Karena itulah di dalam suatu asosiasi profesi ditekankan akan adanya tingkat
komitmen profesional yang setinggitingginya yang diwujudkan dengan kinerja yang
berkualitas sekaligus sebagai jaminan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas/pekerjaan yang
dihadapinya.

2.6 Pengaruh Komitmen Organisasi, Komitmen Profesi dan Motivasi Terhadap Kinerja Dosen
Seseorang yang bergabung dengan suatu organisasi tentunya membawa keinginan-
keinginan, kebutuhan dan pengalaman masa lalu yang membentuk harapan kerja baginya,
dan bersamasama dengan organisasinya berusaha mencapai tujuan bersama. Untuk dapat
bekerja sama dan berprestasi kerja dengan baik, seorang dosen harus mempunyai komitmen
yang tinggi pada organisasinya. Komitmen organisasi akan mempengaruhi berbagai perilaku
penting agar organisasi berfungsi efektif. Komitmen organisasi dapat tumbuh mana kala
harapan kerja dapat terpenuhi oleh organisasi dengan baik. Selanjutnya dengan terpenuhinya
harapan kerja ini akan menimbulkan kepuasan kerja. Tingkat kepuasan kerja banyak
menunjukkan kesesuaiannya dengan harapan kerja yang sering merupakan motivasi kerja.
1628
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Menurut Reksohadiprodjo (1990) motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatankegiatan tertentu untuk mencapai
suatu tujuan. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh suatu kekuasaan
dari dalam diri orang tersebut. Kekuatan pendorong inilah yang disebut motivasi. Motivasi
yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan guna
mencapai sasaran akhir yaitu kepuasan kerja. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
kepuasan kerja berhubungan langsung dengan motivasi kerja (Rahardja, 2000).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

Responden penelitian adalah seluruh dosen di fakultas pendidikan ilmu
pengetahuan social IKIP PGRI Bali, yaitu dosen yang diangkat yayasan dan dosen
pegawai negeri sipil atau dosen kopertis yang dipekerjakan (DPK) pada perguruan tinggi
swasta yang terdaftar pada Direktori PTS Kopertis Wilayah VIII dengan jenjang
pendidikan S1, S2, S3 yang sudah mempunyai masa kerja minimal tiga tahun dan bukan
tenaga struktural, sebanyak 89 dosen (sebagai responden).Data diperoleh dengan
menggunakan kuesioner yang dibagikan secara langsung kepada responden.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh
dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah terstruktur dengan tujuan untuk
mengumpulkan jawaban kuesioner dari dosen FPIPS IKIP PGRI Bali sebagai responden
dalam penelitian ini. Sumber data dalam penelitian ini adalah skor total yang diperoleh
dari pengisian kuesioner yang telah dibagika kepada para dosen – dosen pada fakultas
pendidikan ilmu pengetahuan social IKIP PGRI Bali

3.3. Prosedur Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan secara langsung kepada
responden. Untu menjaga kerahasiaan responden maka kuesioner dirancang tanpa
mencantumkan identitas diri. Penjelasan petunjuk pengisian kuesioner dibuat sederhana
sehingga memudahkan pengisian jawaban sesungguhnya dengan lengkap. Pengiriman
kuesioner selain dikirimkan sendiri oleh peneliti secara langsung kepada masing-masing
dosen mengetahui secara langsung obyek penelitian, selain itu agar tingkat pengembalian
(response rate) kuesioner bisa lebih tinggi. Adapun untuk pengambilan kuesioner dari
responden, peneliti dibantu oleh pembantu umum dengan penetapan batas akhir tanggal
pengambilan kuesioner dari responden adalah satu bulan setelah tanggal penerimaan
kuesioner, dengan masa tenggangu waktu satu bulan untuk pengiriman dan dua bulan
untuk pengambilan kuesioner.

3.4 Teknik Analisis
1629
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Data yang diperoleh dalam penelitian perlu dianalisis agar dapat ditarik suatu
kesimpulan yang tepat. Oleh karena itu perlu ditetapkan teknik analisis yang sesuai
dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai, juga untuk menguji kebenaran hipotesa
(Cooper dan Emory, 1995). Pada penelitian ini ada beberapa tahap dalam analisis data,
yaitu :
Tahap pertama,
Yang harus dilakukan adalahmelakukan uji validitas dan uji reliabilitas instrumen. Uji
validitas dilakukan untuk memastikan bahwa masing-masing item dalam instrument
penelitian mampu mengukur variabel yang ditetapkan dalam penelitian ini. Sebuah
instrumen
dikatakan valid, jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data
dari variable yang diteliti secara tepat (Ghozali, 2001:45). Uji validitas dilakukan dengan
analisa item, dimana setiap nilai yang diperoleh untuk setiap item dikorelasikan dengan
nilai total seluruh item suatu variabel. Uji korelasi yang digunakan adalah Korelasi
Product Moment, dengan syarat minimum suatu item dianggap valid adalah nilai r ≥ 0,30
(Sugiyono, 2001:116). Sedangkan uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui
sejauhmana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau
lebih terhadap pernyataan yang sama menggunakan alat ukur yang sama pula. Uji
reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Cronbach Alpha (α), dimana suatu
instrument dapat dikatakan handal (reliabel), bila memiliki koefisien kehandalan atau
cronbach alpha ≥ 0,6 (Nunally, 1981). Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan bantuan program
Tahap kedua,
Menganalisis pengaruh komitmen organisasi, komitmen professi, dan motivasi
terhadap kinerja dosen. Alat uji yang digunakan disesuaikan dengan model penelitian.
Untuk penelitian ini, data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan regresi linear
berganda (multiple linear regression). Analisis regresi linear berganda digunakan untuk
menentukan ketepatan prediksi apakah ada pengaruh yang kuat antara variable
independen dengan variable dependen. Model analisis regresi linear berganda pada
penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Keterangan :
Y = variabel dependen
a = Intercep
b1 = koefisien variabel kemampuan manajerial pimpinan
b2 = koefisien variabel budaya organisasi
b3 = koefisien variabel motivasi
X1 = variabel kemampuan manajerial pimpinan
X2 = variabel budaya organisasi
X3 = variabel motivasi
E = tingkat kesalahan (error)

Level confidence pada penelitian ini adalah 95% dengan level toleransi kesalahan
(tingkat
signifikansi 5%). Kesimpulan hasil analisis pada penelitian ini diarahkan pada nilai–p (p
value). Bila nilai-p (p-value) lebih besar dari batas toleransi 5% berarti hasil analisis
1630
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

menerima hipotesis null atau hasil analisis tidak signifikan.Tetapi bila nilai-p (pvalue) lebih
kecil dari batas toleransi 5% maka hasil analisis menolak hipotesis null atau hasil analisis
adalah signifikan. Analisis data dijalankan dengan bantuan SPSS 15.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Data

4.1.1 Uji Validitas
Validitas konstruk dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan corrected item-
total correlation, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor total dengan skor yang diperoleh
pada masingmasing butir pertanyaan. Dengan jumlah responden n = 117 dan tingkat
signifikansi 5%, butir kuesioner dinyatakan valid jika koefisien korelasi r adalah lebih dari
0,11 (Santoso, 2001). Nilai koefisien korelasi r kuesioner penelitian dapat dilihat pada
corrected item-total correlation. Jika sebuah butir kuesioner tidak valid, maka butir tersebut
akan dihapus. Kuesioner untuk variable budaya organisasi dihapus tiga butir. Jumlah butir
kuesioner yang dihapus karena tidak valid dapat dilihat pada tabel 2.

4.1.2 Uji Reliabilitas
Analisa reliabilitas dilakukan dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbach
sebesar 0,6 untuk setiap kuesioner masing-masing variabel. Reliabilitas menunjukkan
konsistensi alat pengukur didalam mengukur gejala yang sama. Suatu alat pengukur
dikatakan reliabel jika nilai koefisien Alpha diatas 0,6 ( α > 0,6 ). Pengujian reliabilitas
dilakukan setelah uji validitas, yang mana butirbutir yang valid saja yang dimasukkan ke
dalam uji ini.

4.2 Uji Hipotesis I
Hipotesis I dinyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh langsung terhadap
kinerja (KD) adalah sebesar 0,562 dengan nilai P sebesar 0,575. Dengan nilai ini maka
hipotesis I ditolak, sebab nilai C.R. dan P tidak memenuhi syarat signifikansi yaitu sebesar
1,96 dan 0,05. Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapat dikatakan bahwa tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel komitmen organisasi terhadap variabel
kinerja dosen
4.2.1 Uji Hipotesis II
Hipotesis II dinyatakan bahwa komitmen profesi berpengaruh langsung terhadap
kinerja
dosen. Pada hasil pengolahan data pada lampiran 1. diketahui bahwa nilai C.R dan P pada
hubungan variable komitmen profesi (KP) dengan kinerja dosen (KD) adalah sebesar 1,089
dengan nilai P sebesar 0,279. Berdasarkan nilai tersebut, maka hipotesis ke II pada penelitian
ini dinyatakan ditolak, karena tidak memenuhi syarat signifikansi. Dengan hasil ini maka
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel komitmen
profesi terhadap variabel kinerja dosen.
4.2.2 Uji Hiptesis III
Hipotesis III dinyatakan bahwa variable motivasi berpengaruh terhadap kinerja dosen.
Berdasarkan hasil pengolahan data yang menunjukkan bahwa nilai C. R dan P pada hubungan
1631
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

antara variabel komitmen organisasi dan motivasi adalah sebesar 22,618 dengan nilai P
sebesar 0,000 maka dapat dikatakan bahwa hipotesis III diterima, karena nilai C.R dan P
telah memenuhi syarat signifikansi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh signifikan variabel komitmen organisasi terhadap variabel motivasi.

4.2.3 Uji Hipotesis IV
Hipotesis IV dinyatakan bahwa variable komitmen profesi mempunyai pengaruh yang
paling dominan terhadap kinerja dosen. Berdasarkan hasil pengolahan data yang
menunjukkan bahwa nilai C.R pada hubungan antara variable komitmen profesi dengan
motivasi adalah sebesar 1,163 dengan nilai P sebesar 0.247 tidak memenuhi syarat
signifikansi, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis IV ditolak. Dengan demikian
disimpulkan bahwa variabel komitmen profesi tidak berpengaruh paling dominan
terhadap kinerja dosen

Implikasi Hasil Penelitian
Hasil pengujian model menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh signifikan terhadap
kinerja dosen. Dengan demikian, dapat diambil implikasi bahwa peningkatan kinerja dosen
dapat dilakukan dengan cara memberikan motivasi. Adapun motivasi tersebut dapat berupa
reward bagi dosen yang berprestasi dan panisme bagi dosen yang melanggar aturan yang
sudah ditetapkan. Disamping itu, cara yang dilakukan oleh para pimpinan perguruan tinggi
untuk memotivasi para dosennya agar dosen tersebut melaksanakan tugas utamanya yaitu Tri
darma perguruan tinggi adalah dengan melakukan evaluasi terhadap masingmasing dosen
setiap semester. Setiap awal semester dosen diwajibkan untuk membuat rencana kerja yang
akan dilaksanakan selama satu semester. Kemudian setiap akhir semester dosen harus
membuat laporan BKD (beban kerja dosen). Berdasarkan BKD yang dilaporkan oleh para
dosen tersebut kemudian dilakukan evaluasi dan penilaian dengan kriteria yang sudah
ditetapkan oleh DIKTI. Khususnya dosen yang sudah mendapatkan sertifikasi, jika setelah
dievaluasi ternyata BKD nyatidak memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka tunjangan
sertifikasi dihentikan. Dengan demikian, para dosen akan menjadi lebih aktif dan produktif,
sehingga kinerjanya akan menjadi lebih baik dan optimal.

KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menyatakan bahwa motivasi mempunyai pengaruh paling dominan
terhadap kinerja dosen. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi bagi para dosen adalah penting
untuk meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu, bagi para pimpinan institusi pendidikan
tinggi hendaknya memberikan motivasi kepada para dosennya agar kinerja dosen menjadi
lebih baik dan optimal. Sebaliknya, dosen yang melakukan pelanggaran terhadap institusi
hendaknya diberikan panisme sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Dosen yang mempunyai
komitmen dan loyal terhadap institusinya pasti memiliki motivasi yang tinggi untuk bisa
menjadi dosen yang lebih baik dan berprestasi. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah :
1. Setiap awal semester para dosen disarankan untuk membuat rancangan beban kerja dosen.
Pada akhir semester pihak institusi diwajibkan untuk mengevaluasi dan menilai hasil dari
kegiatan para dosen selama satu semester. Disamping itu, para dosen juga diwajibkan untuk
melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan baik.
1632
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

2. Para pimpinan institusi disarankan untuk mengadakan penilaian terhadap dosen yang
mempunyai prestasi, baik prestasi di bidang akademik maupun non-akademik. Bagi dosen
yang berprestasi hendaknya diberikan reward baik berupa finansial maupun non-finansial.
Dengan demikian, para dosen akan menjadi termotivasi untuk meraih prestasi.

DAFTAR PUSTAKA
Bateman, T., and S. Strasser. (1984). “ A
Longitudinal analysis of the antecedents
organizational commitment “. Academy of
Manajement Journal 27 : 95-112.
Daryono Rahardjo dan Waridin. (2000). An
Assessment of Organizational Commitment
Among Univerity Officers in Indonesia (A
Study at Diponegoro University Semarang).
Directory Perguruan Tinggi Swasta Kopertis
Wilayah VII Jawa Timur. 2007

MASASE PARTIAL 30 MENIT DAN MASASE GENERAL 60 MENIT

1633
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

MENINGKATKAN KELINCAHAN PADA MAHASISWA
PRODI PENJASKESREK SEMESTER VI A DAN D
FPOK IKIP PGRI BALI

Komang Ayu Tri Widhiyanti

ABSTRACT
Partial massage is given only on certain parts on the surface or part of the segment
with the appropriate boundaries of the corner of anatomy and function of the area of the body
or limbs. General or somatic massage Massage is a massage that is given to all parts of the
body. To achieve an athlete's performance is maximized, it is necessary to know the factors
that can affect sports performance of an athlete. One such factor is the recovery of the body.
A good recovery process is when someone who has done this process will not feel tired
anymore as a result of physical activity done before and are ready to do physical activity
further. Sports activities are often conducted that use agility. This type of research used in
this study is an experimental research. The design of the study is a randomized the pretest-
posttest control group design with repeated measurement. In this study, the population used is
the Teachers' Training College students majoring PENJASKESREK FPOK PGRI BALI class
A and D class of 2014 as many as 73 people. The sample used in this study as many as 36
people, who were divided into two groups according to the study design. There is a
significant relationship between the treatment of general massage techniques and massage
partial towards agility by 1.92 in other words it can be said that the general and partial
massage techniques can improve agility.

Keywords : partial massage, massage general, and agility

PENDAHULUAN
Di Indonesia banyak istilah mengenai masase seperti pijat atau lulut, yang telah
dilakukan sejak zaman nenek moyang kita terdahulu. Orang-orang yang dipercayai pandai
me-masase atau memijat ini lazimnya disebut dengan panggilan dukun pijat, dukun urut
ataupun dukun bayi. Selama 30 tahun terakhir,di negara barat telah banyak dilakukan
penelitian tentang manfaat sentuhan dan pijat. Dan kini masase sendiri telah berkembang di
seluruh dunia. Bukan hanya di salon kecantikan atau di panti pijat tetapi juga berkembang di
rumah sakit bahkan di klub-klub olahraga. Sport Massage atau masase olahraga merupakan
salah satu dari banyak jenis masase. Masase olahraga adalah suatu tahap awal dalam metode
fisioterafi sejak 3000 tahun yang lalu. Ketika terjadi luka, pijat menjadi treatment yang
1634
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sangat efektif untuk mengatasi kebanyakan keluhan dan ia juga mampu membantu proses
penyembuhan. Dimana pijat dipandang sebagai obat preventif.. Banyak atlet, pria maupun
wanita yang melakukan terapi pijat untuk mengurangi ketegangan syaraf dan merilekskan
pikiran sebelum melakukan event penting.
Masase adalah pemijatan atau pengurutan pada bagian badan tertentu dengan tangan
atau alat-alat khusus untuk melancarkan peredaran darah sebagai cara pengobatan atau untuk
menghilangkan rasa lelah. Selain itu, masase berperan penting dalam mengembangkan
kualitas fisik dalam membentuk dan mempertahankan bentuk serta kondisi fisik olahragawan.
Masase membantu terhadap kemampuan prestasi olahragawan, jadi tidak hanya dengan
latihan-latihan saja. Untuk mencapai suatu prestasi atlet yang maksimal, maka perlu
mengetahui faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga seorang atlet. Salah
satu faktor tersebut adalah pemulihan kondisi tubuh. Proses pemulihan yang baik ialah
apabila seseorang yang telah melakukan proses pemulihan tersebut tidak merasa lelah lagi
akibat aktifitas fisik yang dilakukan sebelumnya dan siap melakukan aktifitas fisik
selanjutnya. Aktifitas olahraga yang sering dilakukan yaitu menggunakan kelincahan.

Kelincahan dapat berupa tipuan bagian tubuh atas (berkelit) misalnya pada cabang
olahraga bola basket, saat pemain bola basket berusaha mengecoh lawan yang dihadapi agar
bola dapat dialihkan dengan aman kepada teman atau dilemparkan langsung ke keranjang.
Contoh lainnya adalah gerakan badan bagian atas petinju yang menghindari pukulan lawan
yang datang tiba-tiba. Pada saat itu atlet tersebut telapak kakinya tetap di tempat, yang
bergerak hanya tubuh bagian atas. Semua gerakan dilakukan dengan serba cepat. Contoh
gerakan kelincahan dimana gerakan kaki berpindah atau terjadi gerakan seluruh tubuh yakni
sewaktu pemain sepakbola berlari cepat meliuk-liuk sambil menggiring bola melewati
pemain lawan untuk menuju ke gawang lawan.

KAJIAN PUSTAKA

Massage berasal dari bahasa Perancis “masser” yang berarti menggosok atau dari kata Arab
“mash” yang berarti menekan dengan lembut atau dari kata Yunani “massien” yang berarti
memijat atau melulut (Soetopo, Sayarti dkk. 2000). Massage adalah manipulasi manual yang
menggunakan tekanan dan gerakan yang bervariasi untuk memanipulasi otot dan jaringan
lunak biasanya otot, tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan
1635
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

posisi sendi untuk meredakan nyeri/pegal, memberikan efek relaksasi, dan atau memperbaiki
sirkulasi peredaran darah.
Cara melakukan masase atau manipulasi masih menggunakan istilah-istilah dalam
bahasa Perancis. Manipulasi-manipulasi tersebut dilaksanakan dengan tangan secara
sistematis yang bertujuan menimbulkan efek pada system otot, susunan syaraf serta sirkulasi
darah secara keseluruhan (general) maupun setempat (lokal).
Masase akan menimbulkan suatu pengaruh fisiologis dan mekanis yang
mendatangkan suatu relaksasi atau rasa sakit yang berkurang akibat adanya pembengkakan
(haematome). Selain itu masase juga menimbulkan pengaruh secara psikologis yang dapat
menumbuhkan rasa percaya diri (self confidence).
Banyak para ahli berpendapat bahwa teknik manipulasi dengan tangan memberikan
hasil yang lebih baik daripada menggunakan alat-alat elektris, karena teknik manipulasi
dengan tangan dapat memberikan sentuhan yang sensitife alamiah.
Menurut fungsinya masase dapat digunakan sebagai berikut : masase untuk tujuan
terapi (therapy massage) adalah upaya masase untuk memberikan pengaruh yang baik
terhadap suatu kondisi cedera atau penyakit (patologi), masase kecantikan (beauty massage)
adalah upaya masase untuk menghindarkan kekeriputan dan kekeringan kulit, masase
kesehatan (hygiene massage) adalah upaya masase untuk memelihara kebugaran tubuh,
menormalkan fungsi organ serta menghindarkan diri dari penyakit atau kelainan, dan masase
olahraga (sport massage) adalah upaya masase dengan menggunakan teknik menipulasi yang
bermacam-macam untuk memperbaiki dan mempertahankan kondisi tubuh olahragawan serta
menghilangkan kelainan-kelainan akibat olahraga yang ditimbulkan. Masase olahraga
mempunyai tujuan dalam menunjang pencapaian prestasi suatu pertandingan atau
perlombaan. Hal ini tersebut dilakukan untuk tujuan preparatif, preventif dan kuratif.
1. Preparatif, adalah tujuan masase untuk mempersiapkan olahragawan memiliki kondisi
badan yang baik sehingga dapat menghadapi dan menanggulangi ketegangan-ketegangan
yang timbul dalam suatu pertandingan atau perlombaan.
2. Prefentif, adalah tujuan masase dalam mempertahankan dan mengembalikan fungsi alat
gerak (pulih asal) agar tetap dapat berfungsi dengan baik.

1636
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

3. Kuratif, adalah tujuan masase untuk memperbaiki kembali kondisi tubuh setelah
mengalami cedera atau mengurangi rasa sakit pada otot yang ditimbulkan oleh
tertimbunnya asam laktat (lactyt acid).

MASASE PARTIAL DAN MASASE GENERAL
Masase partial hanya diberikan pada bagian-bagian tertentu pada permukaan atau
bagian segmen dengan batas-batas yang sesuai dari sudut anatomi dan fungsi pada daerah
tubuh atau anggota tubuh. Masase partial diberikan pada bagian yang bidangnya kecil dan
pada beberapa elemen somatik, seperti pada persendian, sekumpulan otot pada pembuluh
darah, atau pada sebuah tendon. Masase partial dilakukan selama 20-30 menit. Masase
general atau masase somatik adalah masase yang diberikan pada seluruh bagian tubuh.
Masase general ini dilakukan selama 50-60 menit.
Masase partial menghasilkan panas setempat (area yang dimasase saja) sedangkan
masase general menaikkan temperatur suhu tubuh sedikit lebih tinggi dan ke seluruh tubuh.
Efek lain dari masase general adalah merangsang pengeluaran kotoran dari kulit dan ginjal.
Masase ini membuat pengeluaran air kencing bertambah.
KELINCAHAN
Kelincahan pada umumnya didefinisikan sebagai kemampuan mengubah arah secara
efektif dan cepat sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendaki dengan kecepatan
tinggi. Kelincahan adalah kemampuan tubuh atau bagian tubuh untuk mengubah arah gerakan
secara mendadak dalam kecepatan yang tinggi (Nala, 2011).
Ada 2 macam kelincahan yakni kelincahan umum (general agility), kelincahan
seseorang untuk menghadapi situasi hidup sesuai dengan lingkungannya, dan kelincahan
khusus (special agility), kelincahan seseorang untuk melakukan cabang olahraga khusus,
dimana dalam cabang olahraga lain tidak diperlukan (loncat indah, bola voli, acrobat, dan
lain-lain). Faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan seseorang adalah kecepatan reaksi
dan gerak yang baik, kemampuan tubuh dalam mengatur keseimbangan, kelentukan sendi-
sendi tubuh, dan kemampuan menghentikan gerakan tubuh dengan cepat.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen .
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu
terhadap variabel lain dengan kontrol yang ketat (Sedarmayanti dan Syarifudin, 2002:33).
1637
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk
mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan
Sugiyono (2012:109). Percobaan yang dirancang secara khusus guna membangkitkan data
yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Margono, 2005: 110).

RANCANGAN PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah randomized the pretest-postest control
group design with repeated measurement (Pocock, 2008). Rancangan penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

P1 P1
2
T1 T T3

P R S RA
P2 P2
4 5
T T T6

Gambar 1. Rancangan Penelitian

Keterangan :
P = Populasi
R = Random
S = Sampel
RA = Random Alokasi
T1 s/d T3 = Tes kelincahan (lari bolak-balik) kelompok perlakuan masase general
T4 s/d T6 = Tes kelincahan (lari bolak-balik) kelompok perlakuan masase partial
p1 = Pemulihan pasif menggunakan teknik masase general
p2 = Pemulihan pasif menggunakan teknik masase partial

POPULASI DAN SAMPEL

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah mahasiswa jurusan
PENJASKESREK FPOK IKIP PGRI BALI kelas A dan D angkatan 2014 sebanyak 73 orang.

1638
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 36 orang, yang dibagi menjadi
2 kelompok sesuai dengan rancangan penelitian.

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Tes kelincahan (lari bolak-balik) 8 x 5 meter dengan lebar 1,2 meter dan panjang 5 meter
2. Stopwatch
3. Meteran
4. Peluit
5. Alat tulis
6. Kertas
7. Minyak zaitun
8. Lepekan
9. Handuk kecil
10. Masseur/Masseuse
Masseur yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebanyak 36 orang, yaitu mahasiswa yang
telah lulus mata kuliah gerak terapeutik dan dengan kemampuan yang sama.
TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Lokasi penelitian yaitu Kampus pusat IKIP PGRI BALI yang terletak di jalan Seroja
Gatsu Timur, Denpasar. Waktu penelitian selama 1 hari pada hari Selasa, 8 November 2016
pukul 07.00 - 13.00 Wita.
PROSEDUR PENELITIAN
1. Sebelum tes kelincahan dilakukan testee melakukan pemanasan 10 menit, testee
menggunakan start berdiri di belakang garis start, saat tester memberi aba-aba “bersedia”
testee mengambil sikap siap untuk berlari, dan saat tester memberi aba-aba “ya” diikuti
bunyi peluit saat itu stopwatch dihidupkan dan saat itu juga testee berlari secepat-
cepatnya menuju garis yang berada di samping dan berputar kembali ke garis start. Testee
melakukan gerakan tersebut sebanyak 8 kali, 1 kali diartikan sebagai satu kali lari bolak-
balik.
2. Setelah testee melakukan tes, testee melakukan pendinginan selama 10 menit, setelah itu
melakukan pemulihan selama 60 menit untuk kelompok pertama dan pemulihan selama
1639
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

30 menit pada kelompok kedua. Pada kelompok pertama diberikan masase general
sedangkan kelompok kedua diberikan masase partial.
3. Setelah proses pemulihan selesai testee kembali melakukan tes kelincahan (lari bolak-
balik) dengan prosedur yang sama pada point 1. Tes ini dilakukan sebanyak 3 kali dan
melakukan pemulihan sebanyak 2 kali

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan perhitungan manual, hasil penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut :

Tabel 1. Deskripsi rata-rata kelincahan kelompok pertama

Deskripsi Tes 1 (m/s) Tes 2 (m/s) Tes 3 (m/s) d1 d2

Rata-rata 16,28 16,15 16,01 0,13 0,14

Standart Deviasi 0,49 0,42 0,37 0,07 0,05

Varians 0,21 0,17 0,14 0,04 0,03

Nilai Maksimal 15,06 15,04 14,98 0,02 0,06

Nilai Minimal 17,15 16,90 16,66 0,25 0,26

Perubahan% -0,8% -1,6%

Dari hasil tabel 1 tersebut, bahwa ada kelincahan pada kelompok pertama sesudah
pemulihan pertama sebesar -0,8% sedangkan pemulihan kedua sebesar -1,6%, yang berarti
bahwa setelah pemulihan pertama mengalami penurunan sebesar 0,8%, sedangkan pemulihan
kedua sebesar 1,6%.

Tabel 2. Deskripsi rata-rata kelincahan kelompok kedua

Deskripsi Tes 1 (m/s) Tes 2 (m/s) Tes 3 (m/s) d1 d2

Rata-rata 16,57 16,41 16,23 0,16 0,18

1640
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Standart Deviasi 0,52 0,45 0,39 0,07 0,06

Varians 0,23 0,18 0,13 0,05 0,05

Nilai Maksimal 17,22 17,18 17,10 0,04 0,08

Nilai Minimal 19,02 18,74 18,48 0,28 0,26

Perubahan% -1,1% -1,9%

Dari hasil tabel 2 tersebut, bahwa ada kelincahan pada kelompok kedua sesudah
pemulihan pertama sebesar -1,1% sedangkan pemulihan kedua sebesar -1,9%, yang berarti
bahwa setelah pemulihan pertama mengalami penurunan sebesar 1,1%, sedangkan pemulihan
kedua sebesar 1,9%.

Tabel 3. Uji Normalitas Data Kelompok Pertama dan Kelompok Kedua

Variabel x2 hitung x2 tabel Keterangan

Test 1 Kelompok Pertama 4,192 9,498 Normal

Test 2 Kelompok Pertama 0,974 9,498 Normal

Test 3 Kelompok Pertama 6,787 9,498 Normal

Test 1 Kelompok Kedua 0,999 9,498 Normal

Test 2 Kelompok Kedua 1,691 9,498 Normal

Test 3 Kelompok Kedua 1,889 9,498 Normal

Dari hasil tabel 3 menyatakan, bahwa semua data kelompok pertama dan kelompok
kedua mempunyai nilai x2 hitung < x2 tabel, berdasarkan kriteria pengujian maka dapat
dikatakan bahwa semua data berdistribusi normal.

1641
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Tabel 4. Uji Homogenitas Kelompok Pertama Dengan Kelompok Kedua

Variabel Fhitung Ftabel Dk Keterangan

Kelompok Pertama 1,92 2,56 (18;18) Homogen

dan

Kelompok Kedua

Dari hasil tabel 4 tersebut menyatakan bahwa data antara kelompok pertama dan
kelompok kedua mempunyai Fhitung < Ftabel, berdasarkan kriteria pengujian, maka dapat
dikatakan bahwa kelompok pertama dan kelompok kedua sebelum dilakukan perlakuan
bersifat homogen.

Uji Paired Sampel t Tes (uji beda rata-rata untuk sampel berpasangan) kelompok
perlakuan dapat disimpulkan bahwa Ha dierima Ho ditolak karena thitung 1,92 < ttabel 2,56.
Dengan kata lain bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan kelincahan
mahasiswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan teknik masase general pada kelompok
pertama .

Uji Independent Sample t Test (uji beda rata-rata antar kelompok) dapat disimpulkan
bahwa Ha ditolak dan Ho diterima karena nilai thitung 2,392 > ttabel 2,358. Dengan kata lain
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan kelincahan mahasiswa pada
kelompok pertama dan kelompok kedua sesudah diberikan pemulihan

SIMPULAN

Ada pengaruh yang signifikan antara perlakuan teknik masase general dan masase partial
terhadap kelincahan sebesar 1,92 dengan kata lain dapat dikatakan bahwa teknik masase
general dan partial dapat meningkatkan kelincahan.

1642
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

SARAN

Bagi pelaku olahraga (pembina olahraga, pelatih olahraga, guru olahraga dan atlet)
dan masyarakat disarankan untuk melakukan teknik masase general dan partial sebagai salah
satu cara untuk meningkatkan kelincahan.

DAFTAR PUSTAKA

Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nala. 2011. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Denpasar : UNUD.
Pocock, S.J. 2008. Clinical Trials A Pratical Approach. New York : A Willey Medical
Publication.
Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat. 2002. Metodologi Penelitian Bandung: Mandar Maju.
Soetopo, Sayarti dkk. 2000. P3K dan Pencegahan Cidera. Jakarta : Universitas Terbuka.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

1643
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

MENCIPTAKAN SUASANA KERJA YANG NYAMAN MELALUI
PENDEKATAN ERGONOMI

Ni Nyoman Murniasih

ABSTRACT

Ergonomics approach how we interact with our working environment and how these
interactions can be improved so that our well being is maximized and comfort situation in
physical environmental including noise, lighting, temperature. Any ergonomics intervention
must be viewed in light of it is effect on productivity and the best ergonomic solution will
often improve productivity.
Here are same ergonomic factor to consider when setting up or adjusting your work
space. Simply put reducing unnecessary or awkward poture and exertion almost necessarily
reduce the time it takes to comple a given task, thus improving productivity. By ergonomics
principle we strive for tool,ways, and environment for work process so that it all would be
mach with ability, capacity, and limited of human,
Keyworld : works, comfort, ergonomic

1. Pendahuluan

Persaingan Global dan lingkungan kerja yang telah banyak berubah dalam dekade
terakhir ini, mempengaruhi perilaku pekerja dan manejemen dalam pekerjaannya. Persaingan
yang semakin kompetitif dan perubahan budaya memberikan tekanan kepada pekerja untuk
tetap bekerja produktif. Agar bisa bekerja efektif , efesien dan produktivitas kerja meningkat,
maka perlu dilakukan pendekatan yang memperhatikan kemampuan dan batasan manusia
sebagai perkerja.
Ergonomi merupakan salah satu pendekatan yang bisa dilakukan untuk menserasikan
kemampuan, kebolehan dan batasan manusia dengan alat,cara dan lingkungan kerja demi
tercapainya kesehatan, keamanan, kenyamanan dan efisiensi kerja yang setinggi-tingginya.
Jika pekerja tidak nyaman dapat menjadi sebuah gangguan atau bahkan akan menimbulkan
efek psikologis atau salah satu nyeri fisiologis. Kenyamanan merupakan suatu proses biologi
yang sederhana untuk semua pekerja.
Kenyamanan suhu dan faktor iklim pada ruang kerja ( indoor climate ) adalah suatu
kondisi fisik sekeliling dimana perkerja melakukan suatu aktivitas tertentu yang meliputi hal-

1644
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

hal sebagai berikut : temperature udara, temperature permukaan sekeliling,kelembaban udara
dan aliran perpidahan udara.
Suatu core temperature ( temperatur inti ) yang konstan adalah merupakan prasyarat
untuk fungsi normal dan fungsi vital yang paling penting untuk bisa beraktivitas ( bekerja )
dengan efektif, efisien dan produktif. Jika pekerja merasa nyaman dalam melakukan
aktivitasnya hal ini akan mendorong dia bekerja sebaik mungkin. Pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan dengan senang ini akan memberikan hasil kerja yang maksimun. Dengan
motivasi kerja akan memberikan energi, mengarahkan dan mempertahankan perilaku dalam
bekerja sehingga sasaran kerja akan tercapai secara maksimal.

2. Pembahasan

2.1 Suasana Kerja

Setiap organisasi dikelola oleh manusia . Tanpa manusia organisasi itu tidak ada ,
tantangan, peluang dan juga frustasi dalam menciptakan dan mengelola organisasi kerapkali
bersumber dari masalah-masalah yang ada kaitanya dengan manusia.Agar organisasi dapat
memaksimunkan aktivitasnya maka diharapkan mampu memanfaatkan sumber daya manusia
sebagai pekerja secara bijaksana.Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mengelola
pekerja selaku sumber daya manusia adalah melalui pendekatan ergonomi.
Pendekatan ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki performans kerja manusia .
Seperti menambah kecepatan kerja , acurancy ,keselamatan kerja disamping untuk
mengurangi timbulnya kelelahan yang terlalu cepat. Disiplin ergonomi diharapkan mampu
memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia sebagai pekerja , serta meminimalkan
kerusakan peralatan yang disebabkan oleh manusia.
Melalui total ergonomic approach yaitu suatu pendekatan yang titik fokusnya
memecahkan masalah melihat aspek manusia, lingkungan , kondisinya, serta pengaruh tugas
terhadap tubuh manusia secara serentak . Musibah kerja sering terjadi karena human error.
Agar pekerja bisa bekerja dengan nyaman, maka yang perlu diperhatikan adalah lingkungan
fisik dan lingkungan psikisnya.Suatu organisasi yang mencari keunggulan kopetitif melalui
manusia sebagai pekerjanya harus mampu mengelola perilaku pekerjanya dengan baik.

1645
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Jika pekerja bekerja melampau batas yang harus dipikulnya, maka bisa jadi akan
menimbulkan stres kerja. Stres sebagai suatu istilah payung yang merangkum tekanan beban
konflik, keletihan , ketegangan,panik perasaan gemuruh, anxiety, kemurungan dan hilang
daya. Stres kerja menunjukan suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidak
seimbangan fisik dan psikis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seorang
pekerja.
Stres yang terlalu berat dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungan , sebagai hasilnya pada diri pekerja berkembng berbagai macam gejala stress
yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.Orang-orang yang mengalami stress bisa
menjadi nervous dan merasakan kekhawatiran kronis.Mereka sering menjadi mudah marah
dan agresif tidak dapat rileks atau menunjukan sikap yang kurang kooperatif. Stres dapat
mempengaruhi, kehidupan, kesehatan, produktivitas dan penghasilan.Produktivitas yang
dimaksud dalam hal ini adalah rasio keluaran( out put ) terhadap masukan ( input ).

2.2 Lingkungan Fisik Yang Berpengaruh Terhadap Kenyamanan
Lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap kenyamanan pekerja adalah kondisi yang
ada disekitar nya yang berpengaruh langsung dalam beraktivitas antara lain :

2.2.1 Kebisingan.
Lingkungan kerja yang bising yang melampau nilai ambang batas (N A B) akan
berpengaruh terhadap kenyamanan bekerja lebih-lebih jika pekerjaan itu memerlukan
konsentrasi dan ketelitian, maka usahakanlah suasana kerja jauh dari kebisingan. Akibat yang
ditimbulkan dari tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas (N A B) yang
direkomendasikan adalah gangguan fisiologis, gangguan psikologis maupun gangguan
komunikasi.
Bising adalah suara-suara yang tidak dikehendaki, maka dari itu kebisingan sering
mengganggu. Adapun gangguan fisiologis yang dimaksud dalam hal ini adalah kebisingan
yang bernada tinggi sangat mengganggu kenyamanan kerja lebih-lebih yang datangnya secara
terputus-putus atau yang datangnya secara tiba-tiba tak terduga. Gangguan dapat terjadi pada
peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi, batal metabolisme, kontraksi pembuluh darah
kecil terutama pada tangan, kaki dan dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.Secara

1646
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

psikologis bising juga bisa menimbulkan stres kerja. Jika ini dialami oleh pekerja maka
pekerja akan cepat emosi, suasana hati yang galau yang disebabkan oleh suatu tuntutan antara
tingkat harapan dengan kemampuan seseorang untuk menghadapi pekerjaanya.Hal ini juga
akan menyebabkan pekerja sulit untuk mengatasi tuntutan-tuntutan pada situasi kerja yang
dihadapinya.Gangguan yang juga bisa ditimbulkan jika bising melampau nilai ambang batas
(N A B) akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaranya.

2.2.2 Cahaya.
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang dapat berpengaruh terhadap
hasil kerja. Pencahayaan yang kurang dapat menimbulkan kesalahan kerja dan mata cepat
menjadi lelah. Maka dengan demikian penerangan yang baik merupakan salah satu faktor
memberikan kondisi penglihatan yang cukup baik. Penerangan dapat mempengaruhi dalam
melihat obyek-obyek. Obyek (pekerjaan) akan terlihat dengan jelas, cepat mencarinya tanpa
menimbulkan kesalahan yang berarti.Sebaliknya jika pencahayaan kurang akan menyebabkan
mata menjadi lelah. Kelelahan mata yang terlalu lama akan menyebabkan kerusakan pada
mata dan akibatnya juga berpengaruh pada kelelahan mental.

2.2.3 Temperatur.
Temperatur udara ( untuk pertukaran panas) dalam ruangan juga perlu diperhatikan
dalam bekerja.Usahakan tempertur udara dalam ruangan tetap kostan, artinya tidak terlalu
panas atau terlalu dingin.Karena kalau terlalu panas akan menyebabkan berkeringat,
mengganggu aliran darah, gerakan otot yang cepat.Sebaliknya jika temperature sangat dingin
maka akan ada perbedaan temperatur yang menjolok ( steep temperature gradient ) pada
bagian kulit yaitu dari bagian dalam kulit kearah keluar kulit.
Tingkat temperature akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh
manusia seperti;
- Temperatur kurang lebih 49 derajat Celsius pengaruhnya terhadap tubuh, temperature
yang dapat di tahan sekitas satu jam, tapi jauh dari tingkat kemampuan fisik dan
mental

1647
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

- Temperatur kurang lebih 30 derajat Celsius pengaruhnya terhadap tubuh, aktivitas
mental dan daya tanggap mulai menurun dan cendrung membuat kesalahan dalam
pekerjaan, timbul kelelahan fisik
- Temperatur kurang lebih 24 – 27 derajat Celsius pengaruhnya terhadap tubuh, kondisi
optimum. Produktivitas kerja akan mencapai tingkat yang lebih tinggi
- Temperature kurang lebih 10 derajat Celsius pengaruh terhadap tubuh terjadi
kelelahan fisik yang ekstrim
Berdasarkan tingkat temperature, maka tempat kerja diusahakan berada pada
temperature kisaran 24 – 27 derajat Celsius.

2.3 Tugas/Task
Agar pekerja dapat beraktivitas dengan nyaman, maka perlu diperhatikan peralatan
kerja yang digunakan. Peralatan kerja yang dipakai disesuaikan dengan kebutuhan
pekerjaannya. Manusia sebagai mahluk sempurna tidak luput dari kekurangan dalam
artian bahwa kemampuannya dipengaruhi oleh beberapa factor. Faktor-faktor tersebut
bisa datang dari dirinya (internal) atau mungkin pengaruh dari luar (eksternal).
Salah satu faktor yang daatang dari luar ialah kondisi lingkungan kerja yaitu semua
keadaan yang terdapat disekitar tempat kerja seperti kebisingan, temperature,
pencahayaan dan lain-lain. Hal ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap hasil
kerja manusia. Dalam rangka meningkatkan mutu kerja yang setinggi-tingginya disemua
lapangan kerja hal-hal yang perlu diperhatikan juga beban pekerjaan, peralatan kerja,
lingkungan kerja, organisasi kerja dan yang perlu juga diantisipasi adalah adanya
penyakit akibat kerja atau gangguan kesehatan para pekerja.
Jadi penerapan ergonomic berkontribusi dalam mendisain pekerjaan dalam suatu
organisasi, misalnya penentuan jumlah jam beristirahat, pergantian jadwal waktu kerja
(shift kerja), meningkatkan variasi pekerjaan dan lain-lain. Ergonomi juga memberikan
peranan penting dalam meningkatkan factor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya:
Desain suatu sistim kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistim kerangka
dan otot manusia, desain stasiun kerja untuk alat peraga visual (visual display unit
station). Hal ini adalah untuk mengurangi ketidak nyamanan visual dan postur kerja,
desain suatu perkakas kerja (handtools) untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu

1648
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

peletakan instrument dan sistim pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer
informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang cepat dengan meminimalisir resiko
kesalahan supaya didapat optimasi, efesiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat
metode kerja yang kurang tepat
Dalam pendekatan ergonomi, tenaga kerja dipandang sebagai” Human Investmen”,
bukan sebagai faktor produksi yang bisa dipekerjakan dengan keras tanpa melihat kesesuain
dan keterbatasan yang ada pada manusia.
Jika pekerja (SDM) dikelola dengan baik sehingga merasa nyaman maka akan
memberikan banyak kontribusi di tempat kerjanya antara lain :
a. Membantu organisasi mencapai sasarannya.
b. Memanfaatkan ketrampilan dan kemampuan kerjanya secara efisien
c. Termotivasi untuk bekerja
d. Meningkatkan kepuasan kerja aktualisasi secara maksimal
e. Mengembangkan dan mempertahankan kualitas kehidupan kerja yang membuat
pekerjaan menyenangkan
f. Mengkomunikasikan setiap kebijakan kepada seluruh pekerja
g. Bertanggung jawab secara moral
h. Mengelola perubahan untuk keuntungan bersama

3. Penutup.
Melalui pendekatan Ergonomi diharapkan pimpinan dalam suatu organisasi lebih
memperhatikan pekerjanya. Pekerja (SDM) dapat menciptakan keunggulan kompetitif
(coparative advantage) bagi suatu organisasi. Dengan menciptakan rasa nyaman kepada
pekerja maka hal ini akan memberikan umpan balik kepada organisasi. Pekerja akan bekerja
dengan senang, bekerja secara efektif,efisien dan mampu meningkatkan produktivitas
kerjanya. Jika pekerja loyal terhadap organisasi kerjanya , maka apa yang menjadi tujuan
organisasi akan terwujud dengan baik.
Kenyamanan kerja sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik yaitu; tingkat
kebisingan direkomendasikan sebesar 20 dB, pencahayaan 250 Lux dan temperatur berkisar
24 – 27 derajat Celsius

1649
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana Manuaba, 1998. Appropriate Technology Approach With is “Buil In Global
Ergonomic Elsevier, Amsterdam-Lausianne-New York-Oxford-Shannon-Singapore-
Tokyo.
Adiputra, N. 1998. Metodologi Ergonomi. Karya Tulis pada Program Studi Ergonomi,
Fisiologi Kerja, Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Bagas,P. 1998. Desain Produk Industri. Bandung: Yayasan Deapan-Sepuluh
……….. 2002. Manajemen Desain, Bandung: Yayasan Depan-Sepuluh
Irawan dan Suparmoko, 2002. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta BPFE Universitas
Gajah Mada.
Kaswan, 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Keunggulan Bersaing Organisasi,
Graha Ilmu, Yogyakarta
Nurmianto, 1998. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Guna Widya, Jakarta.
Susila I.G.N. 2000. Work Posture and Musculoskeletal Discomport of Stone Carver: Dalam
Lim K.Y.Ed. Proceeding of the Joint Conference of APCH and ASEAN Ergonomics.
Singapore.
Wignyo Soebrotoe,S, 1995. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu,Guna Widya, Surabaya.

1650
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

KOMPETENSI PROFESIONALISME DOSEN

PRODI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

IKIP PGRI BALI

Ni Wayan Ary Rusitayanti

ABSTRACT

The Profile of Lecturers‟ Professionalism of Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan
Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali. The aim of this research was to describe the lecturers‟
professionalism at Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali
in academic year 2015/2016. This is a descriptive research with a survey method, which was
carried out by distributing questionnaires. They were 300 students spreading from semester
1 to semester 7 from seventeen classes as the samples of the study, wich determined
purposively based on the classes taught by the lecturers concerned. The finding proves that
(1) the lecturers‟ professionalism of Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi was
assessed good by the students (mean: 4,48), (2) from the four competencies, personality
competency reached the highest score (mean: 3,93), followed by social competency (mean:
3,92), professional competency (mean: 3,79). and finally Pedagogikal competency
(mean:3,85), and (3) all competence with both categories but there was some criticism from
students who need attention.

Keywords : competency, professionalism

PENDAHULUAN

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang
memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya
manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dimana berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional
bertujuan untuk mengembangkan/berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan maka kegiatan pembelajaran tidak
dapat dipisahkan atau terlepas dari peran seorang pendidik, dengan itu pemerintah telah
menetapkan Standar Nasional Pendidikan sebagai ukuran yang menjadikan dasar penilaian
minimal tentang system pendidikan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1651
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan diatur bahwa
terdapat delapan Standar Nasional Pendidikan yang perlu diperhatikan dalam mendesain
dan melaksanakan kurikulum suatu unit pendidikan, yaitu Standar Isi, Standar Proses,
Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana
dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian
Pendidikan

Dalam salah satu standar tersebut, standar pendidik dan tenaga kependidikan
merupakan salah satu faktor penentuan sukses tidaknya proses pembelajaran. Dengan
demikian, pendidik dan tenaga kependidikan sekaligus merupakan subjek dari standar
proses, karena yang mempersiapkan dan mengimplementasikan proses pembelarajan
adalah mereka. Oleh karena itu pendidik dan tenaga kependidikan memegang peran yang
sangat sentral dalam pendidikan. Pendidikan yang bermutu sangat tergantung dari
keberadaan guru atau dosen yang bermutu. Guru atau dosen yang bermutu adalah mereka
yang melaksanakan pekerjaannya secara profesional. Sejalan dengan hal ini, Koster (2006)
menegaskan pendidikan yang bermutu tergantung pada keberadaan guru yang bermutu,
yakni guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat. Dantes (2006) menekankan bahwa
sebagai upaya untuk memiliki sistem pendidikan tinggi yang baik, maka peran dosen tidak
bisa dikesampingkan. Dosen adalah pendidik yang memiliki strategis dalam pendidikan
formal. Tanggung jawab dosen bukan hanya meningkatkan kemampuan kognitif mahasiswa
(instructional effect), tetapi juga meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan pada mahasiswa
(murturant effect). Sujipta (dalam Alam, 2012: 2) menegaskan bahwa “selengkap dan
sesempurna apa pun kurikulum dan fasilitas yang dimiliki oleh sebuah universitas, tetapi bila
para dosennya malas, tidak kreatif, dan menganggap kegiatan mengajar merupakan
kegiatan rutinitas yang statik, maka niscaya pendidikan yang berkualitas dapat dicapai”.
Sudiana (2003) menekankan bahwa dosen yang profesional adalah mereka yang memiliki
kinerja yang tinggi yang dapat memuaskan semua pihak yang berkepentingan
(stakeholders), yaitu mahasiswa, orang tua, dan masyarakat dalam arti luas termasuk
kepuasan diri sendiri. Dantes (2011) menambahkan bahwa guru (dosen) sebagai pendidik
profesional harus mampu menjiwai dan mentransformasikan berbagai nilai-nilai kehidupan
baik yang menyangkut hard skill maupun soft skill pada kehidupan dan pertumbuhan
kehidupan peserta didik. Dengan demikian, mereka akan mampu menyelenggarakan dan
menerjadikan proses pembelajaran yang bermakna. Itu berarti peran guru atau dosen
sangat penting dalam ikut memberdayakan peserta didik berkembang menjadi manusia
yang berkualitas, sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah.

Agar dapat menjadi guru atau dosen yang profesional, maka ada sejumlah
kompetensi yang harus dikuasai. Arikunto (2002) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang
harus dimiliki guru, yaitu kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional. Kompetensi personal berhubungan dengan kemampuan guru untuk memiliki
sikap kepribadian yang baik dan terpuji sehingga layak menjadi teladan dan panutan bagi
siswanya. Kompetensi sosial berhubungan dengan partisipasi sosial guru dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat, baik di tempat kerja dan di tempat tinggalnya, dan kompetensi
profesional adalah kemampuan yang berfokus pada pelaksanaan proses belajar mengajar
1652
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dan dengan hasil belajar siswa. Sudiana (2003) menjelaskan 4 kompetensi yang harus
dimiliki oleh dosen, yaitu kompetensi bidang studi, kompetensi pemahaman tentang peserta
didik, kompetensi pembelajaran yang mendidik, dan kompetensi pengembangan
kepribadian dan keprofesionalan. Sementara, Dates (2009) dan Santyasa (2011)
menyebutkan empat kompetensi yang harus dikuasai oleh guru atau dosen yaitu
kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi personal.
Kompetensi pedagogi berhubungan dengan kemampuan dalam mempersiapkan dan
melaksanakan pembelajaran, seperti memahami karakteristik peserta didik dan gaya
belajarnya, mengembangkan perangkat pembelajaran, mengembangkan strategi belajar,
mengelola pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, menggunakan teknologi dalam
pembelajaran, dan memberikan layanan bimbingan, kompetensi profesional menyangkut
kemampuan dalam bidang studi yang ditekuni, yang termasuk kompetensi keterampilan dan
pengembangan dan implementasi pengetahuan, sementara kompetensi sosial berhubungan
dengan kemampuan berinteraksi dengan efektif dan tata cara yang sopan, dan adaptif
dengan berbagai kelas sosial di masyarakat, terbuka dan menghargai pendapat serta kritik
orang lain. Kompetensi kepribadian terkait dengan kemampuan untuk bersikap dan
berperilaku sesuai dengan norma dan agama, aturan dan sosial budaya Indonesia, sebagai
individu yang hormat, jujur, adil, berkarisma, dan memiliki integritas, loyal terhadap institusi,
bertanggung jawab, dan memiliki etos kerja yang tinggi, menjunjung etika profesi, kreatif,
adaptif, inovatif, dan produktif, dan menunjukkan kepemimpinan yang visioner.

Dapat disimpulkan, bahwa sebagai agen pendidik yang profesional, terdapat empat
kompetensi utama yang harus dikuasai oleh dosen, antara lain kompetensi Pedagogik,
kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.

Penelitian terkait dengan profesionalisme dosen khususnya di Prodi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi belum pernah dilakukan sebelumnya, maka focus dari
penelitian ini adalah untuk meng identifikasi profil profesionalisme dosen Prodi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi tahun akademik 2015/2016, yang dikaji dari empat
kompetensi yang telah diuraikan di atas.

Gilley dan Eggland (dalam Karsidi, 2011) mendefinisikan profesi sebagai bidang
usaha manusia berdasarkan pengetahuan, yakni keahlian dan pengalaman pelakunya
diperlukan oleh masyarakat. Definisi ini meliputi aspek yaitu: (a) Ilmu pengetahuan tertentu,
(b) Aplikasi kemampuan/kecakapan dan (c) Berkaitan dengan kepentingan umum. Lebih
jauh dikatakan bahwa pengertian profesional dapat didekati dengan empat prespektif
pendekatan yaitu orientasi filosofis, perkembangan, karakteristik, dan non tradisional. Ada
tiga pendekatan dalam orientasi filosofi, yaitu pertama lambang keprofesionalan adalah
adanya sertifikat, lisensi, dan akreditasi. Pendekatan kedua yang digunakan untuk tingkat
keprofesionalan adalah pendekatan sikap individu, yaitu pengembangan sikap individual,
kebebasan personal, pelayanan umum dan aturan yang bersifat pribadi. Yang penting
bahwa layanan individu pemegang profesi diakui oelh dan bermanfaat bagi penggunanya.
Pendekatan ketiga : electic, yaitu pendekatan yang menggunakan prosedur, teknik, metode
dan konsep dari berbagai sumber, sistem, dan pemikiran akademis. Proses profesionalisasi
dianggap merupakan kesatuan dari kemampuan, hasil kesepakatan dan standar tertentu.

1653
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pendekatan ini berpandangan bahwa pandangan individu tidak akan lebih barik dari
pandangan kolektif yang disepakati bersama. Sertifikasi profesi memang diperlukan, tetapi
tergantung pada tuntutan penggunanya.

Perspektif yang kedua, yaitu orientasi perkembangan. Orientasi perkembangan
menekankan pada enam langkah pengembangan menekankan pada enam langkah
pengembangan profesionalisasi, yaitu : (a) Dimulai dari adanya asoasiasi informal individu-
individu yang memiliki minat terhadap profesi, (b) Identifikasi dan adopsi pengetahuan
tertentu, (c) Para praktisi biasanya lalu terorganisasi secara formal pada suatu lembaga, (d)
Penyepakatan adanya persyaratan profesi berdasarkan pengalaman atau kualifikasi
tertentu, (e) Penentuan kode etik, dan (f) Revisi persyaratan berdasarkan kualifikasi tertentu
(termasuk syarat akademis) dan pengalaman kerja di lapangan.

Perspektif profesional ketiga dilihat dari orientasi karakteristik. Profesionalisasi juga
dapat ditinjau dari karakteristik profesi/pekerjaan. Ada delapan karakteristik pembangunan
profesioanlisasi, satu dengan yang lain saling terkait : (a) Kode Etik, (b) Pengetahuan yang
terorganisir, (c) Keahlian dan kompetensi yang bersifat khusus, (d) Tingkat pendidikan
minimal yang dipersyaratkan, (e) Sertifikat keahlian, (f) Proses tertentu sebelum memangku
profesi untuk bisa memangku tugas dan tanggung jawab, (g) Kesempatan untuk
penyebarluasan dan pertukaran ide di antara anggota profesi, (h) Adanya tindakan disiplin
dan batasan tertentu jika terjadi malpraktek oleh anggota profesi.

Orientasi keempat adalah perspektif non tradisional yang menyatakan bahwa
seseorang dengan bidang ilmu tertentu diharapkan mampu melihat dan merumuskan
karakteristik yang unik dan kebutuhan dari sebuah profesi. Oleh karena itu perlu dilakukan
identifikasi elemen-elemen penting untuk sebuah profesi, misalnya termasuk pentingnya
sertifikasi profesional dan perlunya standardisasi profesi untuk menguji kelayakannya
dengan kebutuhan lapangan.

Mengacu pada ketentuan umum, yaitu UU No. 14 Tahun 2005 (Dantes, 2012),
profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menjadi guru adalah sebuah profesi atau
pekerjaan yang memberikan penghasilan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan,
keahlian, dan pengalaman yang memenuhi standar tertentu. Semua komponen yang
dibutuhkan untuk menjadi guru didapatkan pada lembaga formal, yaitu institusi yang khusus
memberikan pendidikan profesi, yang dapat dilihat dari empat perspektif umum, yaitu
orientasi filosofis, perkembangan terhadap, karakteristik, dan nontradisional.

Lebih jauh, Dantes (2012) mengemukakan bahwa kompetensi sikap, keterampilan
dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melakukan tugas
keprofesionalannya, sedangkan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
1654
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

memerlukan pendidikan profisi (Ketentuan Umum UU No. 14 Tahun 2005). Ketentuan di
atas secara eksplisit menyiratkan bahwa profesi guru atau dosen terkait dengan konteks
layanan ahli dalam bidang Keguruan-kependidikan, karena terapan layanan ahli
kependidikan itu selalu berlandaskan penguasaan akademik yang solid. Pendidik
profesional harus mampu menjiwai dan mentransformasikan berbagai nilai kehidupan baik
yang menyangkut hard skill maupun soft skill pada kehidupan dan pertumbuhan peserta
didik. Guru hendaknya mampu menguasai pilar-pilar pendidikan dan pembelajaran (learning
to know, learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to live
sustainably), sehingga guru dapat menerjadikan proses pembelajaran yang bermakna dan
peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang utuh yang menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, menyadari hak dan kewajiban, dapat melangsungkan kehidupannya, dan
melestarikan lingkungan sebagai tempat kehidupannya.

Walker (dalam Yuwon & Harbon, 201:148) menjelaskan bahwa guru Olahraga
disebut profesional bila mereka menguasai tiga hal utama, yaitu (1) memiliki kualifikasi
pendidikan, (2) memiliki pengetahuan yang baik terhadap bidang studi yang diajarkan, dan
(3) menjadi praktisi yang cakap di dalam kelas. Dapat dikatakan bahwa konsep Walker di
atas lebih menekankan pada aspek hard skill, yaitu kompetensi pengetahuan dan
keterampilan yang harus dimiliki oleh guru olahraga yang menyebabkan yang bersangkutan
mendapatkan kualifikasi atau sertifikat profesi. Sementara itu, Dantes (2012)
mendeskripsikan bahwa guru yang utuh adalah guru yang dilihat dari tiga perspektif, yaitu
otak, tubuh, dan hati. Dilihat dari otak guru yang profesional adalah seorang ahli di bidang
yang diajarkan, dilihat dari tubuh, guru yang profesional memiliki penampilan sebagai
seorang guru yang menjadi teladan, sedangkan hati mengacu pada ketulusan hati dalam
memberikan pelayanan pendidikan, sehingga guru tersebut menjadi guru di hati peserta
didik. Sejalan dengan Walker (dalam Yuwono dan Harbon, 2011). Dantes (2012)
menambahkan bahwa sebagai prasyarat dari praktisi yang cakap, seorang guru seharusnya
menguasai karakteristik peserta didik yang diampu dan dilayani secara mendalam dengan
berbagai variasi karakter dan cara pendekatannya, menguasai bidang ilmu sumber (bahan
ajar) dari segi disciplinary content maupun Pedagogikal content, menguasai pendekatan
pembelajaran yang mendidik dan memandirikan baik menyangkut perancangan, maupun
implementasinya, serta mengembangkan kemampuan profesioanl secara berkelanjutan.
Penguasaan dimensi-dimensi konsep akademik yang berhubungan dengan layanan ahli
Keguruan-kependidikan tersebut serta pengalaman mengaplikasikan dalam profesinya
sebagai guru, akan menimbulkan secara berkelanjutan moturant effects pada kemampuan
sosial dan kemampuan personal yang pada gilirannya akan berkontribusi pada kepribadian
guru secara makro.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagai pendidik yang profesional,
dosen wajib menguasai bidang studi yang diajarkan (disciplinary content) dan berbagai
pengetahuan terkait dengan pendekatan pembelajaran (Pedagogikal content) yang secara
berkelanjutan hendaknya dikembangkan sesuai dengan perkembangan IPTEK terkini.
Penguasaan kedua bidang ini akan berdampak pada murturant effect, yakni kompetensi
personal dan sosial, yang mendukung kompetensi profesional dan kompetensi Pedagogik.

1655
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Berdasarkan UU No. 14 tahun 2005 dan PP No. 19 tahun 2005 bahwa kompetensi
yang harus dimiliki kompetensi profesional, kompetensi Pedagogik, kompetensi kepribadian,
dan kompetensi sosial. Adapun aspek-aspek yang nilai pada setiap kompetensi bagi para
dosen di FPOK IKIP PGRI Bali adalah sebagai berikut.

Untuk kompetensi Pedagogik, aspek-aspek yang dinilai adalah (1) kesiapan
memberikan kuliah dan/atau praktikum, (2) keteraturan dan ketertiban penyelenggaraan
perkuliahan, (3) kemampuan menghidupkan suasana kelas, (4) kejelasan penyampaian
materi dan jawaban terhadap pertanyaan di kelas, (5) pemanfaatan media dan teknologi
pembelajaran, (6) keanekaragaman cara pengukuran hasil belajar, (7) pemberian umpan
balik terhadap tugas, (8) kesesuaian materi ujian dan/atau tugas mata kuliah, dan (9)
kesesuaian nilai yang diberikan dengan hasil belajar.

Untuk kompetensi profesional, aspek-aspek yang dinilai adalah (1) kemampuan
menjelaskan pokok bahasan/topic secara tepat, (2) kemampuan memberi contoh relevan
dari konsep yang diajarkan, (3) kemampuan menjelaskan keterkaitan bidang/topic lain, (4)
kemampuan menjelaskan keterkaitan bidang/topic yang diajarkan dengan konteks
kehidupan, (5) penguasaan akan isu-isu mutakhir dalam bidang yang diajarkan, (6)
penggunaan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas perkuliahan, (7) pelibatan
mahasiswa dalam penelitian/kajian dan/atau pengembangan rekayasa/desain yang
dilakukan dosen, dan (8) kemampuan menggunakan beragam teknologi komunikasi.

Aspek-aspek yang dinilai dalam kompetensi kepribadian adalah (1) kewibawaan
sebagai pribadi dosen, (2) kearifan dalam mengambil keputusan, (3) menjadi contoh dalam
bersikap dan berperilaku, (4) satunya kata dan perbuatan, (5) kemampuan mengendalikan
diri dalam berbagai situasi kondisi, dan (6) adil dalam memperlakukan mahasiswa.

Dalam kompetensi sosial, aspek-aspek yang dinilai adalah (1) kemampuan
menyampaikan pendapat, (2) kemampuan menerima kritik saran dan pendapat orang lain,
(3) mengenal dengan baik mahasiswa yang mengikuti kuliahnya, (4) mudah bergaul di
kalangan sejawat, karyawan. dan mahasiswa, dan (5) toleransi terhadap keberagaman
mahasiswa.

Menurut Mahmud (dalam Sudiana. 2003), kualitas profesional dosen dilaporkan
masih rendah. Dalam berbagai kasus. dinyatakan bahwa guru-guru olahraga di Indonesia
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat terbatas pada sarana praktiknya,
sehingga banyak guru mengandalkan atau mengoptimalkan sarana yang tersedia sehingga
hasil atau tujuan dari pembelajaran belum tercapai dengan sempurna. Dari segi motif
memasuki profesi guru, hasil penelitian melaporkan beberapa motif menjadi guru, antara lain
niat yang tulus menjadi guru, tugas religius, kesulitan finansial, kecintaan terhadap olahraga,
dan kegagalan memasuki profesi lainnya. Sementara dilihat dari penghargaan, secara
umum semua guru mengakui bahwa menjadi guru di Indonesia tidak mendapat gaji yang
pantas. Mereka menyatakan bahwa profesi mengajar dan profesionalisme mereka belum
diberikan penghargaan yang semestinya, walaupun mereka telah bekerja keras untuk
memenuhi tuntutan orangtua dan masyarakat. Namun demikian, terdapat beberapa guru
yang menegaskan bahwa penghargaan finansial bukan merupakan isu utama bagi guru.
1656
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Tanpa memandang penghargaan, para guru menegaskan bahwa mereka harus tetap
profesional. Bagi beberapa guru, penghargaan finasial itu relatif. Gaji cukup bila seseorang
berpikir cukup, dan tidak cukup bila seseorang tidak pernah puas. Bahkan ada guru yang
berpendapat bahwa penghargaan finansial yang lebih tinggi tidak menjamin profesionalisme
Seseorang. Lebih jauh dilaporkan bahwa dengan rendahnya gaji yang didapatkan guru,
terdapat fenomena umum bahwa guru melakukan pekerjaan kedua. Lebih dari setengah
jumlah guru yang diwawancarai mengakui mereka melakukan pekerjaan tambahan, yaitu
memberikan les atau tutorial privat di luar jam sekolah untuk siswa dan sekolah-sekolah
lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, profesionalisme dosen di Prodi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali perlu diteliti untuk mengetahui
bagaimana sesungguhnya profil kompetensi mereka. Penelitian ini ingin mengetahui
profesionalisme dosen Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI
Bali dinilai oleh mahasiswa dilihat dari empat kompetensi, yakni profesional, Pedagogik,
sosial, dan kepribadian. Profesional merujuk pada penguasaan pengetahuan yang diampu
(knowledge), pedagogik mengacu pada keahlian (skill), sosial dan kepribadian menyangkut
rentang karakter (character).

METODE PENELITIAN

Pendekatan dari penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan rancangan
penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Peneliti mendeskripsikan secara apa adanya
temuan penelitian yang bersumber dari instrumen utama berupa angket yang disebarkan
kepada mahasiswa Prodi Pendidikan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK
IKIP PGRI Bali tahun akadeniik 2015/2016. Populasi penelitian adalah semua mahasiswa
Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali pada tahun
2015/2016 yang berjumlah 584 dan sampel penelitian adalah 300 mahasiswa dari 17 kelas
yang ditentukan secara purposif berdasarkan kelas yang diajar oleh dosen yang
bersangkutan. Objek dari penelitian ini adalah profesionalisme dosen Prodi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali pada tahun akademik 2015/2016,
yang dilihat dari empat kompetensi, yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial, yang melibatkan 31 orang dosen.
Instrumen utama dari penelitian ini adalah angket yang disebarkan kepada mahasiswa yang
diajar oleh dosen yang bersangkutan sesuai dengan mata kuliah yang muncul pada
semester tersebut.

Teknik pengumpulan data dari penelitian ini mengikuti langkah-langkah, yaitu (1)
para korti dari semester satu sampai dengan semester tujuh dikumpulkan dan diberikan
pengarahan agar mereka memberikan penilaiannya secara objektif ketiga mengisi angket,
(2) para korti tersebut kemudian diberikan masing-masing sejumlah 20 angket untuk menilai
satu orang dosen, dan (3) angket yang sudah diisi segera dikembalikan kepada peneliti
untuk ditabulasikan dan dianalisis.

1657
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Teknik analisis yang dilakukan adalah mencari nilai rerata (mean score) pada
masing-masing kompetensi, kompetensi Pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial.
Setelah itu dicari nilai rerata kompetensi dosen secara keseluruhan maupun per kompetensi
dari 4 kompetensi. Di samping itu, analisis data juga dilakukan dengan mencari persentase
jumlah dosen yang mendapatkan skor tertentu berdasarkan kategorinya. Selain keempat
kompetensi yang dianalisis, masukan yang diberikan oleh mahasiswa pada pernyataan
terbuka juga dilaporkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari evaluasi dosen yang dinilai oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani
Kesehatan dan Rekreasi dapat dilihat pada Tabel 1

No Kompetensi yang Dinilai
Rerata
Item Pedagogik Profesional Kepribadian Sosial

1 3,05 3,12 2.34 2,73 2.81

2 3,16 2,55 3,51 2,92 3.04

3 4,22 4,41 4,48 4,37 4,37

4 4,42 4,23 4,03 4,21 4,22

5 4,21 4.05 4,48 4,21 4.24

6 3,05 3,12 2.34 2,73 2.81

7 3,16 2,55 3,51 2,92 3.04

8 3,48 3,30 4,11 3,42 3,58

9 2,04 2,08 2,31 2,43 2.22

10 3,97 3,69 4,34 3.97 3.99

11 3,41 3,83 3,60 3,50 3,59

12 4,71 4,44 4.57 4,68 4,60

13 4,02 4,07 4,05 3.95 4,02

14 3,87 3,89 4,06 4,29 4,03

1658
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

15 3,89 4,11 3,96 4.16 4,03

16 3,95 4,01 3,89 4,05 3,98

17 4.11 3,85 4,26 4.12 4.09

18 3,97 3,97 3,85 4.06 3.96

19 3.49 3,41 3,58 3,71 3,55

20 4,19 4,03 4,36 4,21 4,20

21 4,06 3,89 4,26 4,30 4,13

22 3 96 3,85 3 99 4 06 3,97

23 4,06 4,28 4,30 4.45 4,27

24 4,22 4,41 4,48 4,37 4,37

25 4,42 4,23 4,03 4,21 4,22

26 4.11 3,85 4,26 4.12 4.09

27 3,97 3,97 3,85 4.06 3.96

28 4,06 3,89 4,26 4,30 4,13

29 3 96 3,85 3 99 4 06 3,97

30 4,06 4,28 4,30 4.45 4,27

31 4,22 4,41 4,48 4,37 4,37

Total 119,47 117,62 121,83 121,93 120,12

Rerata 3,85 3,79 3,93 3,92 3,87

Jumlah Rerata Keempat Kompetensi 19,37

Rerata Total dari Keempat Kompetensi 4,48

Dari Tabel 1 diatas, dapat dilihat bahwa jumlah rerata total dari keempat
kompetensi dosen Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali
mencapai angkat 4,48. Nilai dengan rata-rata terkecil 2,22 dan rata tertinggi 4,60. Untuk nilai
kategori 3>N>2 (nilai lebih tinggi dari 2 dan lebih kecil dari 3) ada sebanyak 2 buah.
Sedangkan untuk kategori 4>N/3 (nilai lebih tinggi dari 3 dan lebih kecil dari 4) terdapat 9
buah nilai dan untuk kategori N>4 (nilai lebih besar dari 4) ada sebanyak 12 nilai. Setelah

1659
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

mendapatkan hasil, didapatlah jumlah keseluruhan per kompetensi yang terletak pada baris
„Total‟

Secara keseluruhan, Tabel 1 menunjukkan bahwa kompetensi Dosen Olahraga
dapat digolongkan baik dengan capaian rerata 4,84. Bila dilihat 4 kompetensi dan masing-
masing dosen yang dievaluasi oleh mahasiswa, terdapat hanya 1 dosen (3,23%) yang
memiliki nilai rerata kompetensi 5 (kategori sangat baik), 26 dosen (83,87%) mencapai nilai
rerata kompetensi 4 (kategori baik). Namun demikian, 3 dosen (9,68%) mencapai nilai rerata
kompetensi 3 (kategori cukup) dan 1 dosen (3,23%) mencapai nilai rerata kompetensi 2
(kategori kurang).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada Tabel 1, dapat dilihat
bahwa kompetensi dosen secara umum terkategori baik (rerata 4,84) dari empat
kompetensi. Penilaian yang diberikan oleh mahasiswa membuktikan bahwa dosen Prodi
Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP PGRI Bali pada tahun 2015
memiliki kriteria kompetensi yang baik. Hasil penelitian ini sekaligus menggambarkan bahwa
dosen hendaknya memiliki keahlian (skill), pengetahuan (knowledge). dan karakter yang
memadai sebagai agen pembelajaran yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar
mahasiswa.

Namun demikian, jika dilihat per kompetensi. penilaian mahasiswa membuktikan
bahwa di antara 4 kompetensi yang dinilai, kompetensi pedagogik dan profesional lebih
rendah dibandingkan sosial dan kepribadian. Kompetensi kepribadian memiliki nilai rerata
yang paling tinggi, yaitu 3,93. Data ini membuktikan bahwa mahasiswa menilai baik
kepribadian semua dosen Prodi Penjaskesrek FPOK IKIP PGRI Bali. Adapun aspek
penilaian yang mencakup kompetensi kepribadian adalah kewibawaan sebagai dosen,
kearifan dalam mengambi keputusan, menjadi contoh dalam bersikap dan berperilaku,
satunya kata dan perbuatan, kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan
kondisi, adil dalam memperlakukan mahasiswa. Mengacu pada Dantes (2007), kompetensi
kepribadian hendaknya menjadi landasan bagi tiga kompetensi lainnya, yaitu kompetensi
sosial. kompetensi profesional, dan kompetensi pedagogik. Dengan demikian, penelitian ini
mendukung teori dari Dantes (2007) dan Santyasa (2011) bahwa terbukti kompetensi
kepribadian dosen FPOK IKIP PGRI Bali yang dinilai baik oleh mahasiswa menjadi fondasi
bagi tiga kompetensi lainnya.

Demikian pula dilihat dari kompetensi sosial (rerata 3,92), mahasiswa menilai baik
kemampuan semua dosen FPOK IKIP PGRI Bali dalam berinteraksi dengan mahasiswa
maupun di antara dosen melalui 5 aspek penilaian, yaitu kemampuan menyampaikan
pendapat, kemampuan menerima kritik, saran dari pendapat orang lain, mengenal dengan
baik mahasiswa yang mengikuti kuliahnya, mudah bergaul di kalangan sejawat, karyawan,
mahasiswa, dan toleransi terhadap keberagaman mahasiswa. Penilaian kompetensi sosial
pada dosen merupakan aspek cerminan dan ketiga kompetensi lainnya sekaligus
merupakan prasyarat dan praktisi yang cakap sebagaimana diungkapkan oleh Dantes
(2012) dan Santyasa (2011) bahwa seorang guru seharusnya menguasai karakteristik
peserta didik yang diampu dan dilayani secara mendalam dengan berbagai variasi karakter

1660
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dan cara pendekatannya. Dengan pemahaman terhadap berbagai keberagaman peserta
didik, dosen dapat memberikan pelayanan yang memadai kepada mereka. Di samping itu,
kemampuan dosen bergaul dengan teman sejawat, Karyawan, dan mahasiswa
mencerminkan bahwa dosen adalah makhluk yang bergaul, yang tidak dapat hidup tanpa
kehadiran orang lain. Tirtarahardja dan Sulo (2005) menegaskan bahwa seseorang hanya
dapat mengembangkan individualitasnya dalam pergaulan sosial. Hanya dengan
berinteraksi dengan sesamanya (memberi atau menerima), seseorang dapat menyadari dan
menghayati kemanusiaannya. Konsep memberi dan menerima terkait dengan kemanipuan
menyampaikan pendapat, menerima kritik dan saran dalam pengembangan kompetensinya
sebagai dosen yang cakap. Mengutip seorang filsuf terkenal Immanuel Kant (dalam
Tirtarahadja & Sulo, 2005: 19) bahwa manusia hanya menjadi manusia bila berada di antara
manusia. Dengan demikian, dapat disarikan bahwa dosen yang cakap adalah dosen yang
selalu menyadari keberadaannya bersama orang lain, yang mampu mengenali semua
peserta didik yang diajar dengan berbagai keberagamannya, mudah bergaul dengan teman
sejawat, dan diterima oleh semua karyawan dalam menjalankan profesinya.

Selanjutnya, kompetensi profesional merupakan kompetensi yang paling penting
yang harus dimiliki oleh dosen mencapai nilai rerata 3,79 dikategorikan baik. Kompetensi ini
dinilai oleh mahasiswa Prodi Penjaskesrek FPOK IKIP PGRI Bali melalui kemampuan dosen
dalam menjelaskan pokok bahasan/topik secara tepat, kemampuan dosen dalam memberi
contoh relevan dari konsep yang diajarkan, kemampuan dosen dalam menjelaskan
keterkaitan bidang/topik yang diajarkan dengan bidang/topik lain, kemampuan dosen
menjelaskan keterkaitan bidang/topik yang diajarkan dengan konteks kehidupan,
penguasaan yang dimiliki dosen atas isu-isu mutakhir dalam bidang yang diajarkan,
penggunaan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas perkuliahan oleh dosen,
pelibatan mahasiswa dalam penelitian atau kajian dan atau pengembangan rekayasa/desain
yang dilakukan dosen. kemampuan dosen dalam menggunakan beragam teknologi
komunikasi. Dilihat dan aspek penilaian tersebut, dapat dikatakan bahwa kompetensi
profesional adalah aspek penting dan utama yang harus dimiliki seorang pengajar, karena
hal utama yang harus dapat dilakukan oleh seorang pengajar adalah menyampaikan
pengetahuan kepada anak didiknya. Kompetensi ini harus memenuhi standar mutu,
sehingga pembelajaran yang dilakukan oleh dosen terkait dalam bidang yang diampu
hendaknya juga memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan oleh kurikulum dan silabus.
Standar umum yang dimaksudkan sejalan dengan Walker (dalam Yuwono & Harbon. 2011:
148) bahwa terdapat tiga hal mendasar yang menjadi prasyarat pengajar yang profesional,
yaitu memiliki kualifikasi pendidikan, memiliki pengetahuan yang baik terhadap bidang studi
yang diajarkan, dan menjadi praktisi yang cakap di dalam kelas. Dapat disimpulkan bahwa
dosen Prodi Penjaskesrek FPOK IKIP PGRI Bali telah memenuhi persyaratan kualitas yang
baik dilihat dari segi kompetensi profesional. Dibandingkan dengan penelitian yang
dilakukan Dardjowidjojo pada tahun 2000 (dalam Harbon & Yuwono, 2011) dapat
dikemukakan bahwa kompetensi profesional para dosen Prodi Penjaskesrek berbeda,
karena para dosen sudah memiliki kompetensi profesional di bidang studi yang diemban
dengan baik. Temua penelitian ini sejalan dengan paparan Surya (2009), yang menegaskan
bahwa seorang dosen yang profesional hendaknya memiliki keahlian dalam materi keilmuan
dan keterampilan metodologi dalam bidang yang diampu.
1661
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dan yang terakhir kompetensi Pedagogik dinilai oleh mahasiswa (rerata 3,85)
dikategorikan baik. Adapun aspek penilaian dari kompetensi Pedagogik yaitu: kesiapan
dosen dalam memberi perkuliahan atau praktikum, keturunan dan keterbitan
penyelenggaraan perkuliahan oleh dosen, kemampuan dosen dalam menghidupkan
suasana kelas, kejelasan penyampaian materi dan jawaban terhadap pertanyaan di kelas
oleh dosen, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran oleh dosen, keanekaragaman
cara pengukuran hasil belajar yang dilakukan dosen, pemberian umpan balik terhadap
tugas, kesesuaian materi ujian dan/atau tugas dengan tujuan mata kuliah, dan kesesuaian
nilai yang diberikan dengan hasil belajar oleh dosen. Kompetensi ini juga merupakan
kompetensi penting selain kompetensi profesional karena kompetensi ini melingkupi
bagaimana seorang pengajar mampu menyiapkan dan menyampaikan materi secara benar
serta mampu melayani segala pertanyaan dari peserta didik.

Penilaian mahasiswa Prodi Penjaskesrek FPOK IKIP PGRI Bali terhadap ke empat
kompetensi dalam katagori baik. Ada beberapa kritik dan saran yang mereka tuliskan pada
pertanyaan terbuka pada kuesioner terkait dengan kompetensi professional yaitu dalam hal
meningkatkan kemampuan dosen dalam menggunaan hasil-hasil penelitian untuk
meningkatkan kualitas perkuliahan oleh dosen, pelibatan mahasiswa dalam penelitian atau
kajian dan atau pengembangan rekayasa/desain yang dilakukan dosen serta kemampuan
dosen dalam menggunakan beragam teknologi komunikasi. Sedangkan pada kompetensi
Pedagogik perlu mendapatkan perhatian mengenai pemanfaatan media dan teknologi
pembelajaran oleh dosen.

Sesungguhnya kompetensi professional dan Pedagogik adalah kompetensi yang
penting terutama terkait dengan bagaimana seorang dosen menjelaskan dan melaksanakan
pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Dantes (2009) dan Santyasa (2011),
memahami karakteristik peserta didik dan gaya belajarnya, menggunakan teknologi dalam
pembelajaran, dan memberikan layanan bimbingan merupakan kompetensi utama. Hal ini
menjadi penting karena tugas seorang dosen adalah untuk membuat pembelajaran
berkualitas dan mudah diterima oleh peserta didik, yang akan berpengaruh terhadap hasil
belajar mereka. Bila pembelajaran tidak dikemas dan disampaikan dengan baik, maka hasil
yang dicapai tidak akan maksimal.

Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa dosen FPOK IKIP PGRI Bali
harus lebih meningkatkan kompetensi profesional dan Pedagogik yang sudah baik. Begitu
pula kedua kompetensi lainnya yaitu kepribadian dan social yang sudah baik, juga masih
perlu ditingkatkan, supaya bisa menjadi sangat baik. Dengan demikian, dosen yang utuh
adalah dosen yang bukan hanya berkompetensi terkategori baik sebagai individu dengan
kepribadiannya, tetapi juga baik secara sosial dalam pergaulannya dengan orang-orang di
sekelilingnya, yaitu mahasiswa, teman sejawat, dan karyawan, dan yang utama adalah
berkompetensi baik secara profesional dan Pedagogik. Dua yang terakhir sangat
menentukan seorang dengan keahlian dan kemahiran dalam bidang studi yang diemban
(disciplinary contents) dan pelaksanaan pembelajaran (Pedagogikal contents).

SIMPULAN

1662
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Secara umum kompetensi dosen Prodi Penjaskesrek FPOK IKIP PGRI Bali pada
tahun akademik 2015/2016 terkategori baik. Kompetensi kepribadian dinilai paling tinggi
dibandingkan kompetensi-kompetensi lainnya, yang mengindikasikan bahwa sebagai
pribadi, dosen Prodi Penjaskesrek adalah pribadi-pribadi yang baik yang patut diteladani
oleh mahasiswa. Kompetensi sosial juga dinilai baik oleh mahasiswa yang berarti bahwa
secara sosial, dosen Prodi pendidikan adalah dosen yang dapat bergaul dan berkomunikasi
dengan baik bukan hanya kepada mahasiswa, teman sejawat, tetapi juga karyawan.
Kompetensi Pedagogik dinilai baik dan dapat dimaknai bahwa dosen Prodi Penjaskesrek
memiliki kemahiran dan penguasaan yang baik terhadap bidang studi yang diajarkan
(disciplinary contents) perlu di perhatikan kritik yang akan meningkatkan kinerja dosen.
Kompetensi profesional terkategori baik tapi terdapat kritik yang perlu dikaji dan diperhatikan
kedepannya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penilaian mahasiswa sudah baik tapi
mereka memberikan catatan pada kompetensi ini, yaitu kemampuan dosen dalam
penggunaan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas perkuliahan oleh dosen,
pelibatan mahasiswa dalam penelitian atau kajian dan atau pengembangan rekayasa/desain
yang dilakukan dosen dan kemampuan dosen dalam menggunakan beragam teknologi
komunikasi dan pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran oleh dosen.

Sesuai dengan simpulan di atas, hal-hal yang perlu disarankan (1) dosen Prodi
Penjaskesrek hendaknya dapat meningkatkan kompetensinya sebagai usaha meningkatkan
kualitas pembelajaran, (2) kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial hendaknya dapat
ditingkatkan, (3) kompetensi professional dan kompetensi Pedagogik yang dinilai baik
namun mendapat saran oleh mahasiswa, hendaknya menjadi perhatian khusus semua
dosen Prodi Penjaskesrek. Dosen hendaknya lebih meenggunaan hasil-hasil penelitian
untuk meningkatkan kualitas perkuliahan oleh dosen, pelibatan mahasiswa dalam penelitian
atau kajian dan atau pengembangan rekayasa/desain yang dilakukan dosen dan
kemampuan dosen dalam menggunakan beragam teknologi komunikasi dan pemanfaatan
media dan teknologi pembelajaran oleh dosen.

DAFTAR RUJUKAN

Alam. H.S. 2012. A Study of Lecturers’ Professionalism in STMJK STIKOM Indonesia, Bali.

Tesis tidak diterbitkan. Program Studi Pendidikan Bahasa. Singaraja: Universims Pendidikan

Ganesha.

Arikunto, S. 2002. Frosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Fraktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Dantes, N. 2006. Peningkatan Profesionalisme Dosen sebagai Tenaga Akademik. Materi
Pelatihan Teknis Fungsional Pengembangan STSI Denpasar yang diselenggarakan
tanggal 24 Agustus 2006.

1663
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dantes, N. 2007. Pengantar Pendidikan don Inovasi Pembelajaran. Singaraja: Program
Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha Dantes, N. 2009. Standar
Kompetensi Dosen. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Dantes, N. 2011. Pembinaan Guru Profesional Berbasis Karakter (Suatu Rangkaian
Perspeknf dan Kebijakan Pendidikan Menghadapi Tantangan Global). Materi
Pendidikan dan Latihan Profesi Guni. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Dantes. N. 2012. Profesi Guru Dalam Kaitannva Dengan Peningkatan Profesionalisine Guru
(ReJ7eksi Tentang Siruktur Progain LFTK. (Online),
(http://nyomandantes.wordpress.com/page/2/, diakses tanggal 28 Januari 2012).

Karsidi, R. 2011. Profesionalisme Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Otonomi
Daerah. (Online), (http//www.uns.ac.idtdatat002 3 .pdf, diakses tanggal 19
Desember 2011).

Koster, W. 2006. Memperjuangkan Nasib Guru dan Dosen, Sikap dan Pandangan Seorang
Anggota Fraksi PDIP DPR RI dalam Pembenttikan dan Pelaksanaan UU Guru dan
Dosen. Hak Cipta @ Wayan Koster, November 2006.

Nurchayati.20 12. Persepsi Mahasiswa terhadap Profesionalisme Dosen Akutansi Fakultas
Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Serat Acitva Jurnal Iimiah
UWTAG Semarangl(1): 1-10.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan. 2005. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.

Rahardja, T.& Sub, S.I. La. 2005. Penganrar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Santyasa, I W. 2011. Dimensi-Dimensi Teoretis Peningkatan Profesionalisme Guru.
(Online). (http://staipumajalengka.Files. Word- press .coml2009109/dimensiteoriti
sprofesionalisguru.pdf, diakses 19 Desember 2011).

Sudiana, I N. 2003. Peranan Profesionalisme Tenaga Pengajar (Dosen) terhadap Proses
Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri
Singaraja. (Online), 3 6(4). (http:!fwww. lemlit.undiksha.ac .id/images/img_item/680
.doc, diakses 28 Desember 2015).

Surya, M. 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: Aneka Ilmu.

Yuwono. G.I. dan Harbon. L. 2010. English Teacher Professionalism and Professional
Development: Some Common Issues in Indonesia. The Asian EFL Journal
Quarterly. 12(3): 145-163.

1664
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

1665
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN RAMBUTAN (Nephelium
lappaceum L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH
MENCIT (Mus musculus L.)

Oleh
A.A.Istri Mirah Dharmadewi dan I Gusti Agung Gede Wiadnyana

ABSTRACT
Rambutan (Nephelium lappaceum L.) is one of the medicinal plants that
grow in Indonesia, which can cure various diseases Diabetes mellitus is one of
them. Diabetes mellitus is caused due to deficiency of the hormone insulin
functions utilize glucose as an energy source and function in synthesizing fat.
Where the result of glucose in the blood is congested (hyperglycemia) and finally
secreted through the urine (glycosuria) without being used so greatly increased
urinary output and lead to people often secrete urine, frequent thirst, feeling tired
and weight decreased. Formulation of the problem of this research is the provision
of rambutan leaf extract can lower blood glucose levels in mice. The method used
antidiabetic test method. The design used RAL (completely randomized design)
with 6 groups and 5 replications. Results from this study showed that the leaf
extract of rambutan with a concentration of 250 mg / BB, 500 mg / BB and 1000
mg / BB can lower blood glucose levels in mice. Where this rambutan leaf extract
lowered blood glucose levels compared with controls. The suggestion of this
research is to conduct further research on the effect of the leaf extract of rambutan
to the decrease in blood glucose levels with different concentrations.

Keywords: Leaf Extract Rambutan, Blood Glucose, white rat

PENDAHULUAN

Seiring dengan berubahnya gaya hidup dan meningkatnya tingkat
kemakmuran, mengakibatkan penderita diabetes mellitus semakin meningkat.
Sebagian besar orang menganggap bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit
yang diderita oleh orang tua atau penyakit yang timbul karena adanya faktor
keturunan. Jika dilihat dari pergeseran pola hidup masyarakat setiap orang dapat
mengidap penyakit diabetes mellitus baik tua maupun muda.
Diabetes mellitus (DM) merupakan istilah kedokteran untuk sebutan
penyakit yang dikenal dengan nama penyakit gula atau kencing manis. Penyakit ini
merupakan penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang
disebabkan karena berkurangnya sekresi insulin (DM tipe 1) atau penurunan
1665
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sensitivitas jaringan tubuh dalam memproduksi insulin (DM tipe 2) (Guyton and
Hall, 2006). Penderita yang terkena diabetes, tidak dapat memproduksi insulin
dalam jumlah yang cukup sehingga terjadilah kelebihan gula didalam darah
(Misnadiarly, 2006).
Salah satu upaya penanganan DM yaitu salah satunya dengan
memanfaatkan tumbuhan sebagai obat alternatif. Obat alternatif banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan karena mudah didapat, harganya murah
dan mempunyai efek samping yang relatif kecil. Salah satu tumbuhan yang
digunakan sebagai obat alternatif adalah daun rambutan (Nephelium lappaceum
L.). Daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) termasuk kedalam suku
Sapindaceae, pada umumnya digunakan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai
macam penyakit. Daun rambutan banyak digunakan sebagai menghitamkan
rambut, penangkal radikal bebas. Namun data ilmiah mengenai efek daun rambutan
terhadap penurunan kadar glukosa pada penderita DM belum ada. Hal inilah yang
mendasari dilakukannya penelitian mengenai efek daun rambutan terhadap
penurunan kadar glukosa darah.
Penelitian ilmiah untuk mngetahui aktivitas penurunan kadar glukosa darah
(antidiabetes) dari daun rambutan belum dilaporkan. Namun ada penelitian
mengenai rambutan namun yang digunakan biji buahnya dimana efek infusa biji
buah rambutan dilaporkan memiliki efek antidiabetes (Zakir, 2008). Menurut
Erdtman (1963), metode kemotaksonomi merupakan prinsip yang menyatakan
bahwa penyebaran suatu kandungan kimia yang sama akan terjadi pada tumbuhan
yang masih memiliki kekerabatan dalam satu suku yang sama. Sehingga dapat
diduga bahwa daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) juga memiliki kandungan
kimia yang sama sebagai agen antidiabetes sebagaimana halnya dengan biji buah
rambutan.
Penelitian ini dilakkan dalam beberapa tahap yaitu pertama ekstraksi daun
rambutan (Nephelium lappaceum L.) dengan etanol 95% dilanjutan dengan uji
fitokimia ekstrak daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan uji antidiabetes
ektrak etanol daun rambutan secara in vitro pada mencit jantan

METODE PENELITIAN
1666
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Pengumpulan dan preparasi sampel

Sampel daun rambutan rapiah (Nephelium lappaceum L.) diperoleh di wilayah
Kesiman, Denpasar. Setelah sampel daun tersebut dikumpulkan, kemudian dicuci
dan dikering anginkan. Daun yang suah kering angin diblender hingga diperoleh
serbuk. Serbuk daun rambutan lalu dibungkus dan disimpan di tempat kering.

Pembuatan ekstrak etanol daun rambutan (Nephelium lappaceum L.)
Daun rambutan diekstrak dengan menggunakan metode ekstraksi dari Oyun
(2006), dengan cara bubuk daun rambutan dimaserasi dengan menggunakan 100
mL metanol 95% selama satu hari, lalu disaring. Ampasnya dimaserasi kembali
dengan 2 kali pengulangan masing-masing menggunakan 100 mL metanol 95%
selama satu hari, sehingga total jumlah metanol yang digunakan sebanyak 200 mL.
Maserat yang diperoleh melalui penyaringan ditampung dan diuapkan dengan
vaccum rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental. Setelah didapatkan
kental, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitis.
Uji potensi antidiabetes
A. Pembuatan larutan glibenklamid
Pada penelitian Akbar dkk.,(2008), dosis glibenklamid yang digunakan
pada mencit jantan untuk penurunan kadar glukosa darah yaitu 1,89 mg/kg
BB. Penetapan ini didasarkan atas konversi dari dosis terapi manusia yaitu:

- Manusia (50 kg) dosis sekali pakai : 5 mg
- Dosis sehari : 5 mg x 3 = 15 mg
- Manusia (70 kg) dosis sehari : 70/50 x 15 mg = 21 mg
- Mencit (200 g) dosis sehari : 0,018 x 21 mg = 0,378 mg/200 g BB
= 1,89 mg/kg BB

Larutan stok glibenklamid dibuat dengan kadar konsentrasi 2,835 mg/
15mL dengan larutan CMC-Na 1 % digunakan sebagai larutan pembawa.

B. Pembuatan larutan CMC-Na 1 %
Dua gram CMC-Na ditimbang kemudian dilarutkan dengan aquadest panas
sedikit demi sedikit sampai semua CMC-Na larut. Sisa aquadest kemudian
1667
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

ditambahkan sampai didapatkan volume larutan CMC-Na sebanyak 100
mL.
C. Pembuatan larutan glukosa monohidrat
Dosis larutan glukosa monohidrat yang digunakan sesuai dengan hasil
orientasi dois glukosa monohidrat yaitu 2 g/kgBB. Larutan stok 15 g/50 mL
glukosa monohidrat dibuat dengan cara dilarutkan dalam air hangat.
D. Perlakuan hewan uji
Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit yang dibagi menjadi 6
kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif, kelompok
kontrol positif, kelompok perlakuan 1, kelompok perlakuan 2 dan kelompok
perlakuan 3 dengan masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor mencit dan 5 kali
ulangan dari setiap perlakuan. Sebelum diberi perlakuan mencit dipuaskan selama
12-18 jam kemudian diperiksa kadar gula darah awal. Selanjutnya, diberikan
perlakuan oral sebagai berikut :
1. Kelompok I (kontrol glibenklamid) sebanyak 5 ekor
Kelompok ini mencit tidak diberi apapun baik glukosa monohidrat oral,
larutan glibenklamid, maupun ekstrak dari dun rambutan (Nephelium
lappaceum L.) melainkan kelompok ini hanya diberikan larutan CMC-Na
1%.
2. Kelompok II (kontrol positif) sebanyak 5 ekor
Kelompok ini mencit diberi larutan glibenklamid dosis 1,89 mg/BB secara
oral.
3. Kelompok III ( kontrol negatif ) sebanyak 5 ekor
Kelompok ini mencit hanya diberi perlakuan larutan glukosa monohidrat.
4. Kelompok IV (perlakuan 1) sebanyak 5 ekor
Kelompok ini mencit diberi suspensi ekstrak daun rambutan dengan dosis
250 mg/kgBB.
5. Kelompok V (perlakuan 2) sebanyak 5 ekor
Kelompok ini mencit diberi suspensi ekstrak daun rambutan dengan dosis
500 mg/kgBB.
6. Kelompok VI (perlakuan 3) sebanyak 5 ekor

1668
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Kelompok ini mencit diberi suspensi ekstrak daun rambutan dengan dosis
1000 mg/kgBB.
Tiga puluh menit kemudian, semua kelompok kecuali kelompok kotrol
normal diberikan pembebanan glukosa monohidrat per oral dengan dosis 2 g/kgBB.
Sampel darah diambil pada menit ke-30, 60, 90 dan 120 menit dihitundari saat
pembebenan glukosa. Pengambilan sampel darah diambil memotong sedikit ujung
ekor tikus.Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan dengan meneteskan sampel
darah yang diambil dari ekor tikus pada strip yang telah dipasang pada
Glukomeeter Easy Touch ditunggu selama 5 detik, kemudian kadar glukosa darah
akan muncul pada layar monitor alat.
Data kadar gula darah yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik
dengan metode ANOVA ( analysis of variant) pada SPSS 17.0 for Windows
dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi data dan Levene test
untuk melihat kehomogenan data. Apabila distribusi data normal dan homogen,
maka dianalisis denga pola searah (ANOVA- one way) dengan taraf kepercayaan
95% dan apabila terjadi perbedaan antara masing-masing kelompok dilanjutkan
dengan uji LSD.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Pemberian ekstrak daun rambutan dengan konsentrasi berbeda dengan
analisis statistik ANOVA yaitu memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)
terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit

Tabel 1. Tabel Penurunan Kadar Glukosa Darah Mencit Setelah Perlakuan 7 hari
Kelompok Kadar glukosa darah (mg/dl)
perlakuan Sesudah Sesudah Persentase
diinduksi Perlakuan Penurunan Penurunan
glibenklamid
KG 143,2 111 32,2 22,48
KP 141,2 157 -15,8 -11,28

1669
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

KN 98 110 -12 -12,24
EDR1 150,8 133 17,8 11,80
EDR2 148,75 118 30,75 20,8
EDR3 144,5 109 35,5 24,5

Keterangan :
KG = glibenklamid dosis 1,89 mg/kg BB
KP = kontrol positif CMC-Na 1%
KN = kontrol negatif
EDR1 = kelompok perlakuan I (ekstrak daun rambutan dosis 250 mg/kgBB)
EDR2 = kelompok perlakuan II (ekstrak daun rambutan dosis 500 mg/kgBB)
EDR3 = kelompok perlakuan III (ekstrak daun rambutan dosis 1000 mg/kgBB)

Pembahasan
Tabel 1 menunjukan bahwa ekstrak daun rambutan dosis 250, 500 dan 1000
mg/kgBB menurunkan kadar glukosa darah mencit. Untuk mengetahui penurunan
kadar glukosa darah antar kelompok setelah perlakuan, dilakukan uji analisis
ANOVA. Dimana dari hasil uji ANOVA didaptkan F hitung lebih besar daripada F
tabel, hal ini menunjukan bahwa adanya perbedaan penurunan kadar glukosa darah
yang signifikan. Untuk melihat kelompok mana yang berbeda dilanjutkan dengan
uji LSD.

Gambar 1 . Penurunan Kadar Glukosa Darah Setelah Perlakuan 7 Hari

1670
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa ekstrak daun rambutan memberikan
pengaruh terhadap kadar glukosa darah mencit. Uji normlitas dan uji homogenitas
telah dilakukan terhadap data kadar gukosa darah hasil orientasi glukosa
monohidrat. Hasil menunjukan data terdistribusi normal dan homogen. Hasil uji
ANOVA menunjukan nilai p < 0,05 yang menunjukn hasil bahwa penelitian ini
memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit.
Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Fitria (2004), mengenai ekstrak
etanol biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) dalam menurukan kadar glukosa
darah puasa mencit model diabet bahwa biji rambutan dengan dosis 240 mg/kgBB
memiliki efek sebagai antidiabetes. Dimana senyawa aktif pada ekstrak air pada
biji rambutan yang diduga sebagai antidiabetes adalah flavonoid, tanin dan
polifenol. Ketiga senyawa ini sinergis dalam menurunkan kadar glukosa darah pada
mencit.
Kadar glukosa darah ini, pasca puasa selama 7 hari perlakuan setiap
kelompok dibandingkan dan kemudian di analisis secara statistik dengan
menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukan perbedaan
yang tidak signfikan pada kelompok kontrol dan mengalami perbedaan yang
signifikan pada semua kelompok perlakuan. Hal ini berarti glibenklamid dan
ekstrak daun rambutan ini dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit.
Berdasarkan analisis ANOVA didapatkan dengan hasil sig 0,0001, hal ini
menunjukan bahwa pemberian ekstrak daun rambutan dengan konsentrasi 250
mg/BB, 500 mg/BB dan 1000 mg/BB meurunkan kadar glukosa darah mencit.
Penurunan kadar glukosa darah kelompok pemberian ekstrak daun
rambutan dengan konsentrasi 250 mg/BB, 500 mg/BB dan 1000 mg/BB tidak
memberikan pengaruh dibandingkan dengan kelompok pembanding. Dengan
demikian pemberian ekstrak daun rambutan dengan dosis dosis 250 mg/BB, 50
mg/BB dan 1000 mg/BB setara dengan Glibenklamid dalam menurunkan glukosa
darah. Kelompok ekstrak daun rambutan menunjukkan penurunan kadar glukosa
darah yang tidak bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif, sehingga ekstrak

1671
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

daun rambutan dengan konsentrasi 250 mg/BB, 500 mg/BB dan 1000 mg/BB
menurunkan glukosa darah mencapai kadar glukosa darah.
Adapun bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ektrak daun
rambutan . Ekstrak daun rambutan diduga mengandung furanone, corilagin dan
geraniin, sama halnya dengan biji rambutan. Penelitian in vitro menunjukkan
bahwa ekstrak daun rambutan memiliki aktivitas penghambatan α-glukosidase
yang tinggi dengan nilai IC50 9,92 μg/ml, lebih aktif dibanding glucobay 37,25
μg/ml11. Penurunan glukosa darah oleh ekstrak daun rambutan diduga karena
ekstrak daun rambutan mengandung tanin dan geraniin. Hal ini sesuai dengan
penelitian oleh Palanisamy et al. (2010) secara in vitro bahwa geraniin menurunkan
glukosa darah karena memiliki aktivitas penghambatan enzim hidrolisis
karbohidrat, α-glukosidase, α-amilase, aldosa.
Senyawa lain yang dapat menurunkan glukosa darah adalah corilagin.
Berdasarkan penelitian Atsushi Honma et al. (2010), corilagin pada ekstrak daun
maple jepang (Acer amoenum) menurunkan kadar glukosa darah mencit yang
diinduksi glukosa dan sukrosa melalui penghambatan α-glukosidase

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN
Simpulan dari penelitian ini yaitu Senyawa yang terkandung pada daun
rambutan rapiah diantaranya : steroid, flavonoid, polifenol, saponin, dan tanin dan
Ekstrak etanol daun rambutan memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar
glukosa darah mencit. Dengan konsentrasi 250 mg/BB, 500 mg/BB, 1000 mg/BB.

SARAN
Perlu dilakukan uji bioaktivitas yang lain dari ekstrak tanaman jenis lain
serta dengan menggunakan konsentrasi ekstrak yang berbeda serata penelitian lebih
lanjut untuk mengetahui lethal dose dari pemberian eksrak etanol daun rambutan

DAFTAR PUSTAKA
1672
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Adnyana, I.K., Yulinah, E., Andreanus, A., Kumolosasi, E., Iwo, M.I., Sigit, J.I.,
Suwendar, dan Endang, K. (2004). Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak
Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.). Acta Pharmaceutica
Indonesia. 29(2): 43-49.
Akbar, Z., H. Anggraini dan N. Yuniarti. 2008. Pengujian Efek Anti Diabetes
Mellitus Tipe II dari Ekstrak Etaanolik Buah Buncis ( Phaseolus vulgaris
L.) Terhadap Tikus Jantan Galur Sparague Dawley. Prosiding Kongres
Ilmiah XVI ISFI, hal.208-218
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Backer, C.A., and Van Der Brink, R.C., 1965, Flora of Java, Noordhoff
Groningen, The Netherland: (2) 138, (3) 138
Buchler, D.R., dan Miranda, C. (2000). Antioxidant Activities of Flavanoids.
Diakses tanggal 5 Juni 2012. http:lpi.oregonstate.edu/f-w0/flavonoid.html.
Chaverri, J.P., Rodriguez, N.M., Ibarra, M.O., dan Rojas, J.M.P. (2008). Medicinal
Properties of Mangosteen. Journal Food and Chemical Toxicology. (46):
3227-3239.

Dalimartha, S., dan Adrian, F. (2003). Makanan & Herbal Untuk Penderita
Diabetes Mellitus. Jakarta: Penebar Swadatya. Hal. 5-14, 80-91. Depkes
RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Hal. 7, 744, 748.
Robinson, 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, diterjemahkan oleh
Padmawinata, K., Sudiro, I., Penerbit ITB, Bandung hal 71-72
Sari, L. O. R. K. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional dengan Pertimbangan
Manfaat dan Keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol.3 (1) : hal. 1-
7.
Sthal, E. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung :
ITB
Suharmiati. 2003. Pengujian Bioaktivitas Anti Diabetes Mellitus Tumbuhan Obat.
Cermin Dunia Kedokteran, No. 140: hal 8-13

Tedong, L., Dzeufiet, P.D., Dimo, T., Asongalem, E.A., Sokeng, S.N.,
Flejou, J.F., Callard, P., Kamtchouing, P., 2007, Acute and
Subchronic Toxicity of Anacardium Occidentalle Linn
(Anacardiaceae) Leaves Hexane Extract in Mice, Afr. J. Trad. CAM
, 4 (2): 140 – 147

1673
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) SEBAGAI BAHAN BIODIESEL
UNTUK MENGATASI KELANGKAAN BBM

Kadek Yuniari Suryatini

ABSTRACT

Jatropha curcas L. as sources of biodiesel to overcame the scarcity of fuel
oil
Jatropha curcas L. is a plant that is potentially used as raw materials for
biofuels, in this case the biodiesel fuel. This study is a qualitative research by
conducting research journals and observe the phenomenon of the use of jatropha as
a biodiesel. Based on the review of relevant journals can be concluded that jatropha
is very prospective to be developed as an alternative source of solar energy.
Jatropha oil has the same characteristics even better than diesel so that jatropha oil

1674
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

as biodiesel provides the advantage that the engine exhaust fumes are cleaner,
better lubricating and machines can be more durable.

Keywords:Jatroph,biodiesel.

PENDAHULUAN
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu tanaman yang
potensial dijadikan bahan baku bahan bakar nabati, dalam hal ini bahan bakar
biodiesel (Tim Nasional Pengembangan BBN, 2008). Pemanfaatan minyak jarak
pagar sebagai biodiesel merupakan alternatif yang ideal untuk mengurangi tekanan
permintaan bahan bakar minyak (Istiana dan Sadikin, 2008). Sejak terjadinya krisis
minyak pada tahun 1970an dan berkurangnya cadangan minyak dunia, minyak dari
tumbuh– tumbuhan mulai diperhitungkan sebagai salah satu alternatif pengganti
cadangan minyak (Henning, 2002).
Jarak pagar merupakan salah satu tanaman yang diunggulkan di Indonesia
sebagai penghasil minyak untuk biodiesel (Hasnam et al., 2007). Salah satu
keunggulan jarak pagar yang dapat digunakan sebagai bahan baku energi
terbarukan adalah tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis (Kamal et al.,
2011). Selain itu, minyak jarak pagar tidak termasuk dalam kategori minyak makan
(edible oil) sehingga pemanfaatannya sebagai biodiesel tidak akan mengganggu
penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, kebutuhan industri oleokimia, dan
ekspor Crude Palm Oil (CPO) (Hambali et al., 2007) dan dapat beradaptasi pada
kondisi kering serta lahan marginal (Hedayati et al., 2013).
Saat ini, jarak pagar sebagai salah satu sumber biodiesel cukup diminati
karena minyak jarak pagar merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan dan
lebih fleksibel dibandingkan dengan kelapa sawit dari segi biaya, perawatan dan
produksinya (Giwangkara, 2006). Pada tahun 2010 pemanfaatan biodiesel dapat
mensubstitusi 2% dari konsumsi solar nasional atau setara dengan 720 kiloliter
(Puslitbangbun, 2005).

1675
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Hasil penelitian Suhartana dan Arifin (2008) terhadap karakteristik bahar
bakar yang dikembangkan dari minyak jarak pagar diperoleh minyak jarak pagar
memiliki karakteristik yang sama bahkan pada beberapa item terutama pada hasil
perhitungan nilai kalor memiliki karakteristik yang lebih baik dari solar. Besarnya
emisi gas buang berupa kepekatan asap mengalami penurunan paling besar yaitu
penurunan rata–rata sebesar 82%, dengan campuran paling baik pada fraksi sebesar
20%. Fatah dan Soebandi (2016) juga melakukan penelitian pemanfaatan minyak
jarak pagar pada mesin pertanian. Minyak mentah jarak pagar yang diproses
menjadi biodiesel dapat dimanfaatkan pada mesin disel pertanian satu silinder
tanpa dicampur dengan biosolar. Keuntungan menggunakan biodiesel adalah asap
knalpot mesin lebih bersih, pelumasannya lebih baik serta mesin dapat lebih tahan
lama. Berdasarkan berbagai keunggulan yang dimiliki jarak pagar sebagai bahan
biodiesel maka pengembangan yang lebih dalam dapat memberikan harapan yang
lebih besar untuk dijadikan opsi dalam penyediaan bahan bakar di Indonesia.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan
pemanfaatan jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai bahan biodiesel. Deskripsi
dilakukan berdasarkan hasil telaah jurnal terkait dan pengamatan terhadap
fenomena yang berkembang saat ini terkait tanaman jarak pagar sebagai bahan
biodiesel.

BIOLOGI TANAMAN JARAK PAGAR
Jarak pagar berasal dari Meksiko, Amerika Tengah (Syufri, 2007). Menurut
Punia (2007), Genus Jatropha dari famili Euphorbiaceae ini memiliki 175 spesies
di dunia . Tanaman dari famili Euphorbiaceae ini banyak ditemukan di Afrika
Tengah dan Selatan, Asia Tenggara dan India (Giwangkara et al., 2005). Syah

1676
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

(2006) menyebutkan pada awalnya jarak pagar kemungkinan didistribusikan oleh
pelaut Portugis dari Karibia melalui pulau Cape Verde dan Guinea Bissau ke
negara lain di Afrika dan Asia. Klasifikasi jarak pagar sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha curcas L.
Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1 – 7 m, bercabang tidak
teratur. Batangnya berkayu, silindris, dan bila terluka mengeluarkan getah. Bagian
– bagian jarak pagar antara lain :
(a) Daun. Daun tanaman jarak pagar adalah daun tunggal berlekuk dan bersudut 3
atau 5. Daun tersebar di sepanjang batang. Permukaan atas dan bawah daun
berwarna hijau dengan bagian bawah lebih pucat dibanding permukaan atas.
Daunnya lebar dan berbentuk jantung atau bulat telur melebar dengan panjang 5 –
15 cm. Helai daunnya bertoreh, berlekuk, dan ujungnya meruncing. Tulang daun
menjari denganjumlah 5 – 7 tulang daun utama. Panjang tangkai daun antara 4 – 15
cm,
(b) Bunga. Bunga tanaman jarak pagar adalah bunga majemuk berbentuk malai,
berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal, dan berumah satu. Bunga betina 4
– 5 kali lebih banyak dari bunga jantan. Bunga jantan maupun bunga betina
tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan yang tumbuh di ujung batang atau
ketiak daun. Bunganya mempunyai 5 kelopak berbentuk bulat telur dengan panjang
kurang lebih 4 mm. Benang sari mengumpul pada pangkal dan berwarna kuning.
Bunganya mempunyai 5 mahkota berwarna keunguan. Setiap tandan terdapat lebih
dari 15 bunga. Jarak termasuk tanaman monoecious dan bunganya uniseksual.
Kadangkala muncul bunga hermaprodit yang berbentuk cawan berwarna hijau
kekuningan,

1677
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

(c) Buah. Buah tanaman jarak pagar berupa buah kotak berbentuk bulat telur
dengan diameter 2 – 4 cm. Panjang buah 2 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm. Buah
berwarna hijau ketika muda serta abu – abu kecoklatan atau kehitaman ketika
masak. Buah jarak terbagi menjadi 3 ruang, masing – masing ruang berisi 1 biji
sehingga dalam setiap buah terdapat 3 biji. Biji berbentuk bulat lonjong dan
berwarna coklat kehitaman dan mengandung toksin sehingga tidak dapat dimakan
(Hambali et al., 2007).
(d) Biji. Biji jarak pagar rata – rata memiliki ukuran 18 x 11 x 9 mm, berat 0,62
gram, dan terdiri atas 58,1 % biji inti berupa daging (kernel) dan 41,9 % kulit.
Bagian kulit mengandung 0,8 % ekstrak eter. Kadar minyak (trigliserida) dalam inti
biji ekuivalen dengan 55 % atau 33 % dari berat total biji. Asam lemak penyusun
minyak jarak pagar terdiri atas 22,7 % asam lemak jenuh dan 77,3 % asam tak
jenuh. Kadar asam lemak minyak terdiri 17 % asam palmitat, 5,6 % asam stearat,
37,1 % asam oleat, dan 40,2 % asam linoleat (Susilo, 2006).
Jarak pagar tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 500 m di
atas permukaan laut. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman jarak pagar adalah
625 mm/tahun, namun tanaman ini dapat tumbuh pada daerah dengan curah hujan
antara 300 – 2389 mm/tahun (Hambali et al., 2007). Pertumbuhan jarak pagar
sangat cepat. Waktu yang paling baik untuk menanam jarak pagar adalah pada
musim panas atau sebelum musim hujan (Syah, 2006).
Tanaman jarak pagar mempunyai sistem perakaran yang mampu menahan
air dan tanah sehingga tahan terhadap kekeringan serta berfungsi sebagai tanaman
penahan erosi. Jarak pagar dapat tumbuh pada berbagai ragam tekstur dan jenis
tanah, baik tanah berbatu, tanah berpasir, maupun tanah berlempung atau tanah liat.
Di samping itu, jarak pagar juga dapat beradaptasi pada tanah yang kurang subur
atau tanah bergaram, memiliki drainase baik, tidak tergenang, dan pH antara 5 –
6,5. Kisaran suhu yang sesuai untuk bertanam jarak adalah 20 – 26o C. Pada daerah
dengan suhu terlalu tinggi (di atas 35o C) atau terlalu rendah (di bawah 15o C) akan
menghambat pertumbuhan serta mengurangi kadar minyak dalam biji dan
mengubah komposisinya (Hambali et al., 2007).

1678
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

BIODIESEL SEBAGAI SOLUSI KELANGKAAN ENERGI
Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak diesel (solar). Komoditas perkebunan penghasil minyak nabati
di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel cukup banyak
diantaranya minyak kelapa sawit, kelapa, dan jarak pagar. Namun mengingat
minyak kelapa sawit dan minyak kelapa banyak dimanfaatkan sebagai minyak
makan (edible oil) maka peluang pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai bahan
baku biodiesel lebih besar (Hambali et al., 2007).
Berbagai keuntungan dapat diperoleh dengan pemakaian biodiesel. Jenis
bahan bakar ini tidak mengandung sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik,
sehingga biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih mudah
ditangani dibandingkan dengan solar. Perbedaan antara biodiesel dan solar
terutama pada komposisinya. Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati,
sedangkan solar adalah hidrokarbon. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca
seperti halnya solar karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon.
Energi yang dihasilkan biodiesel serupa dengan solar sehingga engine torque dan
tenaga kuda yang dihasilkan juga serupa. Selain itu biodiesel menghasilkan tingkat
pelumasan mesin yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar (Kholiq, 2015).
Menurut Susilo (2006), biodiesel sudah banyak dikenal di negara – negara
asing khususnya negara – negara bukan anggota OPEC dan pengimpor minyak.
Pada negara – negara tersebut biodiesel sudah diproduksi dan digunakan dalam
skala komersial. Data produksi biodiesel pada beberapa negara di Eropa dapat
dilihat pada
Tabel1

Tabel 1. Produksi Biodiesel di beberapa Negara di Eropa (dalam 1000 ton)
Tahun
Negara
2002 2003 2004 2005
Jerman 450 715 1088 1900 – 2100
Perancis 366 357 502 600 – 800
1679
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Italia 210 273 419 500 – 550
Austria 25 32 100 150
Denmark 10 41 44 30 – 40
Inggris 3 9 15 250

Di Indonesia biodiesel belum dikembangkan untuk skala komersial namun
masih terbatas dalam skala penelitian, padahal Indonesia memiliki potensi yang
sangat besar dibanding negara lain. Penyesuaian harga BBM dengan harga pasar
BBM dunia memacu percepatan pengembangan dan penggunaan biodiesel sebagai
bahan bakar alternatif sebagai pengganti solar (Susilo, 2006).

PROSPEK JARAK PAGAR SEBAGAI BIODIESEL
Jarak pagar adalah salah satu tumbuhan yang memiliki banyak kegunaan
(Fitriani, 2013). Berdasarkan hasil penelitian dilaporkan bahwa minyak jarak pagar
digunakan untuk minyak pelumas, sebagai salah satu bahan pembuatan sabun,
digunakan dalam industri insektisida, fungisida, dan molluskasida (Mulyani et al.,
2006). Jarak pagar juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dengan
menggunakan biji, daun, dan getah (Sarimole et al., 2014).
Saat ini, jarak pagar semakin mendapat perhatian karena potensi minyak
bijinya yang dapat dipakai sebagai alternatif biodiesel (Fitriani, 2013). Jarak pagar
semakin popular ketika membahas energi alternatif ramah lingkungan.
Pengembangannya dapat dilakukan di daerah kering dan lahan marginal sehingga
tidak terlalu banyak bersaing dengan kebutuhan lahan untuk pertanian tanaman
pangan (Mulkandya et al., 2013). Tanaman jarak pagar mampu beradaptasi dengan
baik pada lahan marginal dan merupakan tanaman perdu yang dapat hidup hingga
50 tahun dengan tinggi mencapai 5 m. Kondisi tersebut mendorong upaya
pengembangan jarak pagar secara besar – besaran (Istiana dan Sadikin, 2008).
Produktivitas jarak pagar setelah berumur 5 tahun berkisar 3 – 4 kg
biji/pohon/tahun. Produksi akan stabil setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun.
Dengan tingkat populasi tanaman 2500 pohon/ha, tingkat produktivitas rata – rata
antara 7,5 – 10 ton biji/ha tergantung pada kualitas benih, agroklimat, tingkat

1680
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kesuburan tanah, dan pemeliharaan. Jika kandungan minyak sebesar 30% dan yang
dapat terekstrak sebesar 25%, setiap ha lahan dapat diperoleh 1,9 – 2,5 ton
minyak/ha/tahun (Hambali et al., 2007).
Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk
pengembangan pertanian. Luas daratan 188,20 juta ha terbagi atas 148 juta ha
lahan kering dan 40,20 juta ha lahan basah, memungkinkan sebagian lahan untuk
ditanami tanaman penghasil bioenergi (Mulyani dan Las, 2008). Data pertanian
untuk perluasan lahan kering untuk komoditas bioenergi mencapai luas total 22,3
juta ha dengan peluang tanaman lahan kering tahunan sebesar 15,3 juta ha yang
tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku,
dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007). Berdasarkan
penelitian Syakir (2013), potensi ketersediaan lahan yang sesuai untuk jarak pagar
di Indonesia menunjukkan bahwa lahan yang sangat sesuai tersedia 14,28 juta ha,
cukup sesuai 5,53 juta ha, dan sesuai marginal 29,72 ha.

KENDALA PENGEMBANGAN JARAK PAGAR SEBAGAI BAHAN
BIODIESEL DI INDONESIA
Pengembangan energi alternatif di Indonesia cenderung lambat (Elinur et
al., 2010). Demikian pula halnya dengan pengembangan jarak pagar sebagai salah
satu sumber energi alternatif yaitu biodiesel. Hasil penelitian Syakir (2010)
menyatakan pengembangan jarak pagar saat ini masih sangat terbatas. Kendala atau
masalahnya adalah varietas yang dihasilkan produktivitasnya masih rendah, nilai
keekonomian jarak pagar masih belum jelas, belum adanya kelembagaan yang
berkaitan dengan usahatani jarak pagar dan belum tertatanya koordinasi antar
lembaga dalam pengembangan jarak pagar.
Masalah utama perlu diprioritaskan dalam membantu percepatan
pengembangan komoditas jarak pagar selain pengembangan komponen teknologi
budidaya adalah mencari terobosan baru untuk meningkatkan produktivitas melalui
bioteknologi rekayasa genetika serta mencari sumber keragaman baru genetika
jarak pagar dari negara asal jarak pagar, termasuk dari negara – negara Amerika
Latin yang diduga sebagai sumber asal jarak pagar (Syakir, 2010).

1681
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Menurut Fitriani (2013), tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di
Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal dan mudah
diperbanyak dengan stek. Namun masih ada permasalahan yang dihadapi yaitu
belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial. Usaha untuk
mendapatkan varietas unggul memerlukan pengelolaan plasma nutfah tanaman
jarak pagar yang efisien.

SIMPULAN
Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman penghasil bahan
biodiesel yang sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai sumber energi
alternatif pengganti solar. Minyak jarak pagar memiliki karakteristik yang sama
bahkan lebih baik dari solar sehingga minyak jarak pagar sebagai biodiesel
memberikan keuntungan yaitu asap knalpot mesin lebih bersih, pelumasannya
lebih baik dan mesin dapat lebih tahan lama.

SARAN
1. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari varietas unggul jarak pagar yang
dapat dipakai sebagai bahan biodiesel.
2. Pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih besar dalam
pengembangan jarak pagar sebagai bahan biodiesel di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah
Pengembangan Agribisnis. Aspek Kesesuaian Lahan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Elinur, Priyarsono, D. S., dan Tambunan, M. 2010. Perkembangan Konsumsi dan
Penyediaan Energi dalam Perekonomian Indonesia. Indonesian Journal of
Agricultural Economic (IJAE) 2 (1) : 97 – 119.
Fatah, G. S. A. dan Soebandi, M. 2016. Pengolahan dan Pemanfaatan Biodiesel
Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas) pada Mesin Pertanian. Prosiding
Seminar Nasional “Kontribusi Akademisi dalam Pencapaian
Pembangunan Berkelanjutan”. Universitas Brawijaya. Malang.

1682
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Fitriani, H. 2013. Analisis Keragaman Genetik Mutan Jarak Pagar (Jatropha
curcas L.) Hasil Perlakuan Mutagen Kolkisin Berdasarkan Penanda
Molekuler RAPD.
Giwangkara. E. G. 2006. Jarak pagar Lebih Fleksibel dari Kelapa Sawit.
https://persembahanku.wordpress.com/2006/07/29/jarak-pagar-lebih-
fleksibel-dari-kelapa-sawit/
Hambali, E., Ani, S., Dadang, Hariyadi, Hasim, H., Iman, K.R., Mira, R., Ihsanur,
M., Prayoga, S., Soekisman, T., Tatang, H.S., Theresia, P., Tirto, P., dan
Wahyu, P. 2007. Jarak Pagar : Tanaman Penghasil Biodiesel. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Hasnam, C., Syukur, R. S.,Hartati, S. Wahyuni, D. Pranowo, E. Susilowati, E.
Puslani, B. Heliyanto. 2007. Pengadaan Bahan Tanaman Jarak Pagar di
Indonesia : Desa Mandiri Energi Serta Strategi Penelitian di Masa
Datang. Buletin Agronomi 36 (2) : 168 – 175.
Hedayati, A., Alizadeh, O., Sharafzadeh, S., Abbasi, M., dan Azarpanah, A. 2013.
Journal of Agriculture and Crops Science 5 (7) : 695 – 703.
Henning, R. 2002. The Jatropha Manual. A Guide to The Integrated Exploitation of
The Jatropha Plant in Zambia.
Istiana, H. dan Sadikin, I. 2008. Cara Pengujian Media Tumbuh Pada Pembibitan
Tanaman Jarak Pagar. Buletin Teknik Pertanian 13 (1) : 16 – 18.
http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/bt131085.pdf
Kamal, S., Manmohan, S., dan Birendra, S. 2011. A Review on Chemical and
Medicobiological Application of Jatropha curcas. International Research
Journal of Pharmacy 2 (4) : 61 – 66.
Kholiq, I. 2015. Pemanfaatan Energi Alternatif sebagai Energi Terbarukan untuk
Mendukung Substitusi BBM. Jurnal IPTEK. 19 (2) : 75 – 91.
Mulkandya, A., Susilo, B., dan Komar, N. 2013. Studi Ekstraksi Bertingkat
Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas, L) dengan Menggunakan Mesin
Press Ulir. Jurnal Bioproses Komoditas Tropis. 1(2) : 40 – 47.
Mulyani, A., Agus, F., dan Allelorung, D. 2006. Potensi Sumber Daya Lahan
Untuk Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas l.) di Indonesia. Jurnal
Litbang Pertanian 25 (4) : 130 – 138.
Mulyani, A. dan Las, I. 2008. Potensi Sumber Daya Lahan dan Optimalisasi
Pengembangan Komoditas Penghasil Bioenergi di Indonesia. Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Pertanian 27 (1) : 31 – 41.
Punia, M. S. 2007. Cultivation and Use of Jatropha for Biodiesel Production in
India. Paper Biodiesel Production in India.
Puslitbangbun. 2005. Petunjuk Teknis : Jarak Pagar (Jatropha curcas L.).
Departemen pertanian. Jakarta.
Sarimole, E., Martosupono, M., Semangun, H., dan Mangimbulude, J. C. 2014.
Manfaat Jarak Pagar (Jatropha curcas) sebagai Obat Tradisional.

1683
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Prosiding Seminar Nasional Raja Ampat. Waisai, 12 – 13 Agustus 2014.
Hlm : B9 - B12.
Suhartana dan Arifin, Z. 2008. Pemanfaatan Minyak Jarak Pagar sebagai Bahan
Bakar Alternatif Mesin Diesel. Jurnal Penelitian Saintek 13(1) : 19 – 46.
Susilo, B. 2006. Biodiesel. Penerbit Trubus Agrisarana. Jakarta.
Syakir, M. 2010. Prospek dan Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)
Sebagai Bahan Bakar Nabati di Indonesia. Jurnal Perspektif 9 (2) : 55 – 65.
Syufri, A. 2007. Bertanam Jarak Pagar. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Sumatra Barat.
Syah, A.N.A. 2006. Biodiesel Jarak Pagar : Bahan Bakar Alternatif yang Ramah
Lingkungan. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.
Tim Nasional Pengembangan BBN. 2008. BBN (Bahan Bakar Nabati). Penebar
Swadaya. Jakarta.

1684
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF TERHADAP
PRESTASI BELAJAR DAN KECERDASAN EMOSIONAL
DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

I Gusti Agung Gede Wiadnyana

ABSTRACT
The aims of this study was to analyze: (1) the differences of learning
outcomes and emotional intelligence between students who studied through
collaborative learning and their counterparts who studied through expository
learning model, (2) the differences of learning outcomes between students who
studied through collaborative learning and their counterparts who studied through
expository learning model, and (3) the differences of emotional intelligence
between students who studied through collaborative learning and their counterparts
who studied through expository learning model. This study was a quasi
experimental study using pretest-posttest control group design. The population in
this study were all semester 1 students collage department of biology education
faculty of mathematics and natural sciences education IKIP PGRI Bali. The
samples of the class for this study was determined by random sampling technique.
The data were analyzed by descriptive statistics and one way MANOVA. The
result showed that (1) there were differences on learning model of learning
outcomes and emotional intelligence (F=85,889, p<0,05), (2) there were
differences on variables learning outcomes between students who studied through
collaborative learning and their counterparts who studied through expository
learning model (F=8,815,p<0,05), and (3) there were differences on variables of
emotional intelligence between students who studied through collaborative learning
and their counterparts who studied through expository learning model (F=33,232,
p<0,05).

Keywords : collaborative learning, learning outcomes, and emotional intelligence

PENDAHULUAN
Salah satu tujuan dari pendidikan tinggi adalah berkembangnya potensi
mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil,
kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa. (UU No. 12 Tahun 2012
Tentang Pendidikan Tinggi). Untuk mewujudkan itu diperlukan langkah nyata

1685
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dalam proses pembelajaran yang ada di perguruan tinggi supaya berlangsung
efektif. Proses pembelajaran dapat berlangsung efektif apabila aktivitas belajar
yang terjadi berlangsung dengan baik. Tanpa adanya aktivitas, proses belajar tdak
mungkin berlangsung dengan baik. Pada proses aktivitas pembelajaran harus
melibatkan seluruh aspek peserta didik, baik jasmani maupun rohani sehingga
perubahan perilakunya dapat berubah dengan cepat, tepat, mudah, dan benar, baik
berkaitan dengan aspek kognitif afektif maupun psikomotor (Hanafiah et al, 2010).
Tujuan proses belajar mengajar yaitu hasil belajar pada hakikatnya adalah
rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh seseorang setelah
menempuh pengalaman belajarnya (Sudjana, 2006). Gagne membagi lima kategori
hasil belajar, yakni (a) keterampilan intelektual, (b) informasi herbal, (c) strategi
kognitif, (d) keterampilan motoris, dan (e) sikap (dalam Muisman, 2003). Lebih
lanjut Menurut taksonomi Bloom, hasil belajar secara garis besar dapat
diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah
afektif (affective domain), dan ranah psikomotoris (psychomotor domain)
(Arikunto, 2005).
Hasil belajar pada dasarnya merupakan tujuan belajar yang berhasil dicapai
oleh seseorang (Muisman, 2003). Tingkat ketercapaian tujuan belajar ini biasanya
diukur dengan skor yang diperoleh pebelajar dalam menyelesaikan sebuah tes hasil
belajar. Materi pelajaran fisika yang dijadikan isi tes hasil belajar berbentuk fakta,
konsep, dan generalisasi yang dipelajari pebelajar melalui proses observasi,
inferensi serta eksperimentasi yang dilakukan pada saat pembelajaran mata
pelajaran fisika di kelas. Walaupun tes hasil belajar hanya mencakup aspek
kognitif, tidak berarti aspek lain tidak tersentuh di dalam proses belajar mengajar.
Keberadaannya hanya sebagai efek pengiring hasil belajar bukan efek utama hasil
belajar seperti yang telah dirumuskan sebagai tujuan pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran pengembangan kecerdasan emosional juga
sangat penting untuk dilakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Goleman (2004),
para psikolog sepakat bahwa yang mempengaruhi keberhasilan seseorang, IQ
hanya menyumbang 20 persen sedangkan faktor lain menyumbang sisanya di mana
salah satunya adalah kecerdasan emosional. Lebih lanjut Hartini (2002)

1686
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

mengemukakan bahwa pebelajar yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi
adalah pebelajar yang bahagia, percaya diri, populer, dan lebih sukses.
Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional rendah lebih terlihat
menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial seperti, lebih suka menyendiri dan
kurang bersemangat, sering cemas dan depresi, serta nakal dan agresif (Goleman,
2004). Lebih lanjut Hartini (2002) menyatakan bahwa sekarang semakin banyak
orang yang memiliki ciri-ciri tersebut, yang menandakan adanya kemerosotan
emosi/penurunan kecerdasan emosional. Salovey et al., (dalam Winanti, 2007)
menambahkan bahwa seseorang yang cerdas secara emosi memiliki kemampuan
untuk memahami emosi diri diri sendiri, dan orang lain, dan menggunakan emosi
sebagai informasi untuk memandu pikiran dan tindakan.
Goleman (2004) mengemukakan lima komponen kecerdasan emosional
yaitu 1) pengenalan emosi diri, menunjukan kesadaran diri atau pengenalan
terhadap perasaan yang dialami sehingga mampu mengendalikan kehidupannya, 2)
pengelolaan emosi, menunjukan bagaimana kemampuan untuk mengendalikan
emosi yang terlalu dalam yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan seseorang
agar dapat mencapai keseimbangan, 3) memotivasi diri sendiri, yaitu mengatur
emosi agar seseorang dapat memusatkan perhatian dan motivasi diri menjadi
kreatif dan berusaha untuk mencapai cita-cita atau tujuan hidup, 4) mengenali
emosi orang lain, yaitu mampu membaca tanda-tanda nonverbal dan mengerti
perasaan dan emosi orang lain sehingga mampu menyesuaikan diri dengan sikap
dan tindakan yang ditampilkan oleh orang lain, 5) mengendalikan hubungan
dengan orang lain, yaitu kemampuan untuk menjaga hubungan dengan sesama
serta mengenali emosi setiap orang.
Menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif
pebelajar mengkonstruksi pengetahuan. Seorang pengajar berperan sebagai
mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar pebelajar berjalan
dengan baik. sehingga dalam konstruktivisme, pebelajarlah yang aktif membangun
pengetahuannya sendiri melalui pengalaman belajar (Sutarto, 2009). Hasil belajar
dan kecerdasan emosional tidak dapat dipelajari secara efektif dengan metode
ceramah, karena hasil belajar dan kecerdasan emosional merupakan proses aktif.

1687
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Biyarti et al., (2013) mengemukakan bahwa model pembelajaran
ekspositori yang bersifar teacher centered selama ini masih banyak digunakan
dalam pembelajaran. Hal serupa juga disampaikan oleh Septiana et al., (2013) yang
menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan saat ini cenderung masih
menggunakan metode ceramah. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh
informasi bahwa pembelajar masih beranggapan kalau pebelajar dikhawatirkan
tidak dapat belajar secara maksimal bila tidak menggunakan metode ceramah.
Model pembelajaran ini dikenal dengan nama model pembelajaran ekspositori.
Model pembelajaran kolaboratif adalah salah satu model pembelajaran yang
sesuai dengan model pembelajaran konstruktivistik. Menurut Johnsons (dalam
Lasidos et al, 2015) sekurang-kurangnya terdapat lima unsur dasar agar dalam
suatu kelompok terjadi pembelajaran kolaboratif, yaitu: 1) saling ketergantungan
positif, 2) pertanggungjawaban individu, 3) keterampilan berkolaborasi, dan 4)
keefektifan proses kelompok. Hill (dalam Suryani 2010) mengemukakan dua unsur
sangat penting dalam berbagai aktivitas kooperatif, yaitu 1) kesamaan tujuan dan 2)
saling ketergantungan secara positif.
Lebih lanjut Suryani (2010), menyatakan langkah-langkah pembelajaran
kolaboratif yaitu 1) para mahasiswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar
dan membagi tugas sendiri-sendiri, 2) semua mahasiswa dalam kelompok
membaca, berdiskusi, dan menulis, 3) kelompok kolaboratif bekerja secara
bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan
memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah yang ditemukan sendiri, 4)
setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-
masing pebelajar menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap, 5) dosen
menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua
kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi
kelompok kolaboratifnya di depan kelas, mahasiswa pada kelompok lain
mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan
menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit, 6) masing-
masing mahasiswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi,
dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan, 7) laporan

1688
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

masing-masing mahasiswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun
perkelompok kolaboratif, 8) laporan mahasiswa dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan. Sehingga diharapkan
dengan langkah-langkah pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar
dan kecerdasan emosional pebelajar.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, penggunaan model pembelajaran
kolaboratif diduga mampu membantu pebelajar dalam mengembangkan hasil
belajar dan kecerdasan emosional. Hal ini juga didukung oleh Teague (2008), yang
menemukan bahwa pembelajaran kolaboratif akan membuat hasil belajar
meningkat dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, menarik, dan interaktif
sehingga kecerdasan emosional juga dapat ditingkatkan.
Berdasarkan permasalahan yang telah dibahas dan solusi yang diajukan
tentang keunggulan model pembelajaran, maka sebuah penelitian eksperimen
dilakukan untuk memperoleh jawaban atas tiga permasalahan penelitian yaitu 1)
apakah terdapat perbedaan hasil belajar dan kecerdasan emosional antara kelompok
mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif dan
kelompok mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran
ekspositori? 2) apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok mahasiswa
yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif dan kelompok
mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori? 3)
apakah terdapat perbedaan kecerdasan emosional antara kelompok mahasiswa yang
belajar dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif dan kelompok
mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori?
Sejalan dengan rumusan masalah yang diajukan, maka hipotesis yang diuji
pada penelitian ini yaitu (1) terdapat perbedaan hasil belajar dan kecerdasan
emosional antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran kolaboratif dan kelompok mahasiswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran ekspositori. (2) Terdapat perbedaan hasil
belajar antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran kolaboratif dan kelompok mahasiswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran ekspositori. (3) Terdapat perbedaan kecerdasan

1689
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

emosional antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran kolaboratif dan kelompok mahasiswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran ekspositori.

METODE
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain pretest-
posttest control group design. Desain penelitian disajikan pada Gambar 1.

Eksperimen O1 X1 O2

Kontrol O3 X2 O4

Gambar 1. Desain penelitian pretest-posttest control group design
(Sugiyono, 2010).

Pada penelitian ini, kelompok eksperimen dikenai perlakuan berupa model
pembelajaran kolaboratif, sedangkan kelompok kontrol dikenai model
pembelajaran ekspositori dalam jangka waktu tertentu, kemudian kedua kelompok
dikenai pengukuran yang sama. Perbedaan hasil pengukuran yang timbul dianggap
sebagai akibat dari model pembelajaran yang diterapkan.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan
Biologi semester 1 tahun 2016 IKIP PGRI Bali pada mata kuliah Fisika Dasar yang
terdistribusi dalam tiga kelas setara secara akademik. Pemilihan sampel yang
digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan teknik
simple random sampling, yaitu pemilihan sampel dari populasi dilakukan secara
acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Berdasarkan hasil
pengundian didapat kelas 1A yang menggunakan model pembelajaran kolaboratif
(kelompok eksperimen) dan kelas 1B yang menggunakan model pembelajaran
ekspositori (kelompok kontrol).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi hasil belajar yang
diukur menggunakan instrumen hasil belajar dan kecerdasan emosional yang
diukur dengan kuisioner kecerdasan emosional. Reliabilitas tes hasil belajar adalah
1690
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sebesar 0,895. Kuisioner kecerdasan emosional mengukur lima aspek, yaitu
mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang
lain, dan membina hubungan. Kuisioner kecerdasan emosional terdiri dari 50 butir
soal dan memiliki rentang skor 0-5. Reliabilitas tes kecerdasan emosional adalah
sebesar 0,957.
Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan analisis varian
multivariat (MANOVA) satu jalur. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk
mendeskripsikan persentase, skor rata-rata atau mean (M), standar deviasi (SD),
dan skor gain ternormalisasi. Teknik analisis multivariat (MANOVA) satu jalur
digunakan untuk menyelidiki pengaruh satu variabel bebas terhadap dua variabel
terikat. Sebelum dilakukan uji hipotesis, maka terlebih dahulu data penelitian harus
memenuhi beberapa uji prasyarat yang meliputi uji normalitas sebaran data, uji
homogenitas varians, uji homogenitas matrik varian, dan uji multikolinearitas.
Untuk menguji hipotesis digunakan uji F melalui analisis multivariat. Uji
multivariate atau pengujian antar subjek yang dilakukan terhadap angka-angka
signifikansi dari nilai F statistic Pillai,s Trace, Wilk‟Lamda, Hotelling‟ Trace,
Roy‟s Largest Root (Hair et. al, 1995). Angka signifikansi lebih kecil dari 0,05
berarti Ho ditolak yang artinya terdapat perbedaan variabel dependen antar
kelompok menurut sumber. Untuk menganalisis perbedaan masing-masing variabel
hasil belajar dan kecerdasan emosional mahasiswa, digunakan angka-angka uji
pengaruh antar subjek atau variabel (test of between subject effect). Jika
signifikansi < 0,05 maka H0 di tolak yang artinya terdapat perbedaan variabel
dependen antar kelompok menurut sumber. Sebagai tindak lanjut MANOVA satu
jalur adalah uji signifikansi skor rata-rata antarkelompok yang menggunakan Least
Significant Diference (LSD) (Montgomery, 2001).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Secara umum hasil penelitian yang dideskripsikan pada bagian ini, yaitu
skor hasil belajar dan nilai kecerdasan emosional yang telah dicapai mahasiswa

1691
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

antarkelompok setelah mengikuti model pembelajaran kolaboratif (pada kelompok
eksperimen) dan model pembelajaran ekspositori (pada kelompok kontrol).
Ringkasan analisis deskriptif disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Deskripsi skor hasil belajar

Model Pembelajaran Kolaboratif Model Pembelajaran Ekspositori
Statistik Pretest Posttest Pretest Posttest
g g
Mean 34,20 80,70 0,71 36,30 73,57 0,59
Nilai maksimum 60,30 86,00 0,65 62,30 85 0,60
Nilai minimum 20,30 66,00 0,57 20 59 0,49
Standar deviasi 9,32 7,77 10,04 5,65
Varians 86,86 60,45 100,80 31,98

Keterangan: g  gain skor ternormalisasi

Tabel 2. Deskripsi nilai kecerdasan emosional

Model Pembelajaran Kolaboratif Model Pembelajaran Ekspositori
Statistik Pretest Posttest Pretest Posttest
g g
Mean 44,20 83,90 0,71 46,37 68,17 0,41
Nilai maksimum 58,50 89,00 0,73 60,50 80,00 0,49
Nilai minimum 35,50 69,00 0,51 30,70 60,00 0,42
Standar deviasi 5,50 7,40 6,25 4,94
Varians 30,25 54,77 39,06 24,42

Apabila dikualifikasikan, maka skor gain hasil belajar kelompok
eksperimen tergolong tinggi yaitu 0,71, sedangkan kelompok kontrol yang
mengikuti pembelajaran ekspositori, skor gain yang diperoleh lebih rendah yaitu
0,59 dengan kualifikasi sedang. Berdasarkan data tersebut terlihat adanya
perbedaan efektivitas model pembelajaran terhadap hasil belajar, di mana
efektivitas model pembelajaran kolaboratif terhadap hasil belajar cenderung lebih
unggul dibandingkan model pembelajaran ekspositori. Kedua, rata-rata skor gain
ternormalisasi kecerdasan emosional pada mahasiswa kelompok eksperimen yang
mengikuti model pembelajaran kolaboratif adalah 0,71 dengan kualifikasi tinggi,
sedangkan pada kelompok kontrol, skor gain ternormalisasi yang diperoleh yaitu
1692
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

sebesar 0,41 dengan kualifikasi sedang. Berdasarkan data tersebut, terlihat adanya
perbedaan secara deskriptif di mana efektivitas model pembelajaran kolaboratif
terhadap kecerdasan emosional mahasiswa cenderung lebih unggul dibandingkan
model pembelajaran ekspositori. Selanjutnya nilai rata-rata skor gain ternormalisasi
per indikator kecerdasan emosional disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rangkuman deskripsi skor gain ternormalisasi per indikator kecerdasan
emosional
Nilai Rata-Rata Skor Gain Ternormalisasi
Indikator
No. Model pembelajaran Model Pembelajaran
Kecerdasan Emosional
Kolaboratif Ekspositori
1 Mengenali emosi diri 0,76 0,29
2 Mengelola emosi 0,69 0,31
3 Memotivasi diri 0,60 0,36
4 Mengenali emosi orang lain 0,60 0,31
5 Membina hubungan 0,65 0,37

Secara umum terdapat perbedaan rata-rata skor gain ternormalisasi
mahasiswa per indikator kecerdasan emosional pada kelompok eksperimen (model
pembelajaran kolaboratif) dan kelompok kontrol (MP ekspositori). Secara
deskriptif, rata-rata skor gain ternormalisasi kelompok eksperimen lebih baik
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa model
pembelajaran kolaboratif lebih unggul dan efektif dalam mengembangkan serta
meningkatkan kecerdasan emosional mahasiswa.

Pengujian Hipotesis
Setelah melalui uji prasyarat, data hasil belajar dan kecerdasan emosional
dalam penelitian memiliki sebaran data normal, varian homogen, matriks varian
homogen, dan tidak kolinier antarvariabel sehingga analisis MANOVA untuk
pengujian hipotesis dapat dilanjutkan. Pengujian hipotesis pertama menggunakan
uji multivariat yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Ringkasan uji multivariat
Effect Value F Hypothesis df Error df Sig.
b
Model Pillai's Trace 0,851 85,889 2,000 30,000 ,000
1693
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Wilks' Lambda 0,149 85,889b 2,000 30,000 ,000
Hotelling's Trace 5,726 85,889b 2,000 30,000 ,000
Roy's Largest Root 5,726 85,889b 2,000 30,000 ,000

Berdasarkan Tabel 4 diperoleh angka statistik F sama denga 85,889 dan
angka signifikansi kurang dari 0,05 untuk Pillai's Trace, Wilks' Lambda,
Hotelling's Trace, dan Roy's Largest Root. Jadi hipotesis null (Ho) yang berbunyi
“tidak terdapat perbedaan hasil belajar dan kecerdasan emosional antara mahasiswa
yang belajar dengan model pembelajaran kolaboratif dan mahasiswa yang belajar
dengan model pembelajaran ekspositori” ditolak karena angka signifikansi kurang
dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dan
kecerdasan emosional antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran
kolaboratif dan mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran ekspositori.
Pengujian hipotesis kedua dan ketiga menggunakan uji pengaruh antarsubjek yang
disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Ringkasan uji pengaruh antarsubjek

Dependent Type III Sum Mean
Source df F Sig.
Variable of Squares Square
Corrected Hasil
354,793a 1 354,793 8,815 ,006
Model Belajar
b
EI 1723,674 1 1723,674 51,867 ,000
Intercept KBK 165863,157 1 165863,157 4120,817 ,000
EI 161184,523 1 161184,523 4850,222 ,000
Model Hasil
354,793 1 354,793 8,815 ,006
Belajar
EI 1723,674 1 1723,674 51,867 ,000
Error Hasil
1247,752 31 40,250
Belajar
EI 1030,204 31 33,232
Total Hasil
190845,000 33
Belajar
EI 178319,000 33
Corrected Hasil
1602,545 32
Total Belajar
EI
2753,879 32

1694
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Berdasarkan Tabel 5 untuk hipotesis 2 diperoleh angka statistik F sama dengan
8,815 dan angka signifikansi p<0,05. Jadi hipotesis null (Ho) yang berbunyi “Tidak
terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang belajar dengan model
pembelajaran kolaboratif dan mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran
ekspositori” ditolak karena angka signifikansi kurang dari 0,05, sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang belajar
dengan model pembelajaran kolaboratif dengan mahasiswa yang belajar dengan
model pembelajaran ekspositori. Hasil ini diperkuat dengan hasil uji Least
Significant Differnce (LSD) yang menunjukkan bahwa model pembelajaran
kolaboratif lebih unggul dibandingkan dengan model pembelajaran ekspositori
dalam mengembangkan hasil belajar mahasiswa. Perbedaan nilai rata-rata pasangan
model pembelajaran kolaboratif dengan model pembelajaran ekspositori dengan
metode LSD untuk taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh nilai t(0,025;33) sebesar 2,360
dan batas penolakan LSD = 7,135, sementara itu perbedaan nilai rata-rata hasil
belajar antara mahasiswa kelompok eksperimen (model pembelajaran kolaboratif)
dan mahasiswa kelompok kontrol (model pembelajaran ekspositori) adalah Δµ =
[µ(model pembelajaran kolaboratif)) - µ(model pembelajaran ekspositori)] sebesar
2,270. Nilai Δµ lebih besar daripada nilai batas penolakan LSD. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa pada taraf signifikansi 0,05 skor rata-rata hasil belajar
mahasiswa pada kelompok eksperimen (model pembelajaran kolaboratif) dan
kelompok kontrol (model pembelajaran ekspositori) berbeda secara signifikan.
Pengujian hipotesis 3 diperoleh angka statistik F sama dengan 33,232 dan
angka signifikansi p<0,05. Jadi hipotesis null (Ho) yang berbunyi “tidak terdapat
perbedaan kecerdasan emosional antara mahasiswa yang belajar dengan model
pembelajaran kolaboratif dan kelompok mahasiswa yang belajar dengan model
pembelajaran ekspositori” ditolak karena angka signifikansi kurang dari 0,05,
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecerdasan emosional
antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran kolaboratif dan
mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran ekspositori. Hasil ini
diperkuat dengan hasil uji LSD untuk taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh nilai
t(0,025;33) sebesar 2,360 dan batas penolakan LSD = 15,726, sementara itu perbedaan

1695
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

nilai rata-rata kecerdasan emosional antara mahasiswa kelompok eksperimen
(model pembelajaran kolaboratif) dan mahasiswa kelompok kontrol (model
pembelajaran ekspositori) adalah Δµ = [µ(model pembelajaran kolaboratif) -
µ(model pembelajaran ekspositori)] sebesar 4,330. Nilai Δµ lebih besar daripada
nilai batas penolakan LSD. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada taraf signifikansi
0,05 skor rata-rata kecerdasan emosional mahasiswa pada kelompok model
pembelajaran kolaboratif dan model pembelajaran ekspositori. berbeda secara
signifikan.

Pembahasan
Hasil pengujian hipotesis secara keseluruhan yang telah dijabarkan
sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran kolaboratif terbukti
memiliki pengaruh yang lebih unggul terhadap hasil belajar dan kecerdasan
emosional mahasiswa dibandingkan dengan model pembelajaran ekspositori.
Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Teague (2008), yang menemukan
bahwa pembelajaran kolaboratif akan membuat hasil belajar meningkat dan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, menarik, dan interaktif sehingga
kecerdasan emosional juga dapat ditingkatkan. Sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran kolaboratif yang dikemukakan oleh Suryani (2010) mulai langkah
pertama mahasiswa sudah mulai berkomunikasi dengan anggota kelompok untuk
membagi tugas masing-masing. Mahasiswa memandang bahwa mereka yang
menjadi pusat pembelajaran karena mahasiswa dituntut aktif mengkonstruksi
pengetahuan mereka sendiri. Memasuki langkah pembelajaran yang kedua
mahasiswa selain aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri mereka juga
mulai berinteraksi secara aktif dengan mahasiswa yang lain. Mereka mulai
melakukan diskusi dan kerjasama. Mereka aktif dan mulai melakukan kerjasama
sehingga selain meningkatkan pengetahuan mahasiswa juga meningkatkan
kecerdasan emosional mereka melalui interaksi yang dilakukan. Membaca,
berdiskusi, dan menulis membuat mahasiswa menjadi fokus untuk belajar pada
materi yang didapat. Mahasiswa juga mengemukakan pendapat mereka masing-
masing dan berdiskusi secara aktif untuk menyelesaikan tugas yang didapat.

1696
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Memasuki langkah ketiga mahasiswa dituntut untuk bekerja secara
kolaboratif dan bersinergi dengan anggota kelompoknya mulai dari
mengidentifikasi, mendemon-strasikan, dan memformulasikan jawaban-jawaban
mereka.
Melalui ketiga langkah ini saja mahasiswa dapat mengenali emosi diri, dan
menunjukan kesadaran diri atau pengenalan terhadap perasaan yang dialami
sehingga mampu menyelesaikan bagian atau tugas yang didapat, melakukan
pengelolaan emosi, sehingga emosi yang terlalu dalam yang dapat mengganggu
stabilitas mahasiswa dapat dikendalikan. Dapat memotivasi diri sendiri, sehingga
bagian yang didapat dari pembagian tugas dalam kelompoknya dapat diselesaikan.
Selain itu mengenali emosi orang lain atau mahasiswa lainnya juga dapat
dikembangkan terutama dalam langkah yang ketiga ini sehingga mahasiswa dapat
menyesuaikan diri dengan sikap dan tindakan yang ditampilkan. Mengendalikan
hubungan dengan orang lain juga dapat berkembang dengan baik pada proses yang
ketiga ini sehingga hubungan dengan sesama dapat dilakukan dengan baik dengan
mengenali emosi mahasiswa lainnya.
Memasuki langkah keempat setelah kelompok kolaboratif menyepakati
hasil pemecahan masalah, masing-masing mahasiswa menulis laporan sendiri-
sendiri secara lengkap. Pada langkah ini mahasiswa aktif berdiskusi untuk
membuat keputusan. Seluruh mahasiswa juga aktif membuat laporan sehingga
tidak ada mahasiswa yang hanya mengandalkan temannya saja.
Memasuki tahap kelima dosen menunjuk salah satu kelompok secara acak
(dan tetap mengupayakan kelomok lainnya) untuk juga bisa tampil melakukan
presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, mahasiswa pada
kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut,
dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit. Melalui
kegiatan ini seluruh mahasiswa dituntut untuk aktif menyimak, aktif berdiskusi,
sehingga mahasiswa semakin merasa bahwa merekalah pusat pembelajaran. Dalam
langkah ini seluruh mahasiswa juga membangun sikap saling menghargai terutama
saat mereka lain pendapat. Sehingga mereka bisa mengndalikan diri dan mau
memahami orang lain. Memasuki langkah ketujuh masing-masing mahasiswa

1697
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila
diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan. 7) laporan masing-masing
mahasiswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok
kolaboratif, 8) laporan mahasiswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan
pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan. Sehingga diharapkan dengan
langkah-langkah pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar dan
kecerdasan emosional mahasiswa.
Pembelajaran kolaboratif yang dalam proses pembelajaran memandang
mahasiswa adalah mahasiswa yang aktif, mahasiswa aktif mengkonstruksi makna,
dan sering melalui negosiasi interpersonal, pengetahuan terkonstruksi secara
personal dan sosial, pembelajar juga membawa konsepsi mereka dalam situasi
belajar sehingga mempengaruhi cara pembelajar berinteraksi dengan mahasiswa.
Pengajaran tidak mentransmisi pengetahuan tetapi mengorganisasi situasi di dalam
kelas yang memudahkan mahasiswa menemukan makna dan aktif mengkonstuksi
pengetahuan mereka.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Azis et al (2013) yang
menyatakan bahwa tahapan pembelajaran kolaboratif yang diterapkan telah
berhasil meningkatkan aktifitas belajar sehingga hasil belajar juga meningkat. Hal
ini dikarenakan, seluruh tahapan kegiatan pembelajaran sangat menekankan pada
keterlibatan siswa dari awal sampai akhir pembelajaran. Disamping itu, pembelajar
atau dosen juga memposisikan diri sebagai fasilitator dan pendamping yang baik
bagi aktivitas belajar di dalam kelas.
Hasil penelitian ini juga konsisten dengan hasil penelitian yang
dikemukakan oleh Santoso (2013) yang menemukan perlakuan model
pembelajaran kolaboratif terhadap pebelajar mendapatkan hasil belajar yang lebih
tinggi dibandingkan dengan yang mendapat perlakuan metode ceramah atau
ekspositori. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Kusumastuti et al (2012) yang
menemukan hasil belajar pebelajar yang menggunakan model kolaboratif lebih
tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
Temuan lain yang perlu untuk dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah
terkait dengan capaian hasil belajar dan kecerdasan emosional pebelajar. Meskipun

1698
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

model pembelajaran kolaboratif terevaluasi lebih unggul dan efektif dibandingkan
model pembelajaran ekspositori, namun perkembangan hasil belajar dan
kecerdasan emosional mahasiswa belum berkembang dengan maksimal.

PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut. 1) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kecerdasan
emosional antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran kolaboratif
dan mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran ekspositori, 2) Terdapat
perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran
kolaboratif dan mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran ekspositori,
dan 3) Terdapat perbedaan kecerdasan emosional antara mahasiswa yang belajar
dengan model pembelajaran kolaboratif dan mahasiswa yang belajar dengan model
pembelajaran ekspositori.
Berdasarkan berbagai temuan-temuan pada penelitian maka dapat
disarankan beberapa hal, yaitu pembelajar disarankan untuk mengimplementasikan
model pembelajaran kolaboratif dalam rangka mengembangkan hasil belajar dan
kecerdasan emosional mahasiswa, karena hasil belajar dan kecerdasan emosional
yang baik adalah awal mahasiswa untuk meraih prestasi belajar yang lebih tinggi
dan bekal untuk mengarungi kehidupan di masa mendatang. Kerjasama antar
mahasiswa perlu dilatih sejak dini karena kedepannya dalam menghadapi
persaingan di era pasar bebas ini kita di dalam harus bisa saling bersatu dalam
membangun bangsa ini.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2005. Dasar-dasar evaluasi pendidikan (Edisi revisi, Cet.5). Jakarta:
Bumi Aksara.
Azis, A.A., Adnan, Muis. A., Musawwir, & Faisal. Penerapan pembelajaran
kolaboratif untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa kelas xi ipa 3 melalui
lesson study berbasis sekolah di SMA Negeri 8 Makassar. Artikel. Tersedia
pada: http://ojs.unm.ac.id/index.php/bionature/article/viewFile/1446/517.
Diakses tanggal 5 Mei 2016.

1699
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Biyarti, T., Riyadi, & Sujadi I. 2013. Eksperimentasi Model Pembelajaran Think
Pair Share Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Materi Logaritma Ditinjau
Dari Kecerdasan Matematis Logis siswa Kelas X Pada Sekolah Menengah
Atas di Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Elektronik
Pembelajaran Matematika Vol.1, No.7, (690-699).
Goleman, D. 2004. Kecerdasan Emosional; Alih Bahasa T. Hermaya. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Hanafiah, N., & Suhana, C. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika
Aditama
Hartini, N. 2002. Optimalisasi Perkembangan Kecerdasan Emosi Siswa. Jurnal
Insan Media Psikologi Vol.4 No. 1..
Kusumastuti, E.C., Prihandono, T., & Supriadi, B. 2012. Penerapan model
pembelajaran kolaboratif dengan media sederhana pada pembelajaran fisika di
smp. Jurnal Pembelajaran Fisika Vol. 1 No. 2 (200-205).
Lasidos, P.A., Matondang, Z. 2015. Penerapan model pembelajaran kolaboratif
untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar rencana anggaran biaya siswa
kelas xii kompetensi keahlian teknik gambar bangunan SMKN 2 Siatas Barita
– Tapanuli Utara. Jurnal Educational Building Vol. 1, No. 1. (13-22).
Montgomery, D. C. 2001. Design and analysis of experiment. Fith edition. New
York: John Wiley & Sons.
Muisman. 2003. Analisis jalur hasil belajar matapelajaran ekonomi berdasarkan
kecerdasan strategi-strategi metakognitif dan pengetahuan awal. Tesis.
Program Pasca Sarjana IKIP Negeri Singaraja.
Santoso, S. 2013. Pengaruh model pembelajaran kolaboratif dan motivasi belajar
terhadap peningkatan hasil belajar fisika siswa kelas x Sma Negeri 1
Purwantoro Wonogiri, Jawa Tengah. Berkala Fisika Indonesia, Vo. 5 No. 1
(15-19).
Septiana, D. & Cahyowati, E. T. D., 2013. Penerapan Model Pembelajaran
Learning Cycle 6e Untuk Meningkatkan Hasil belajar Matematika Pada Siswa
Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Ngasem Kediri. Artikel. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Sudjana, N. 2006. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryani, N. 2010. Implementasi Model Pembelajaran Kolaboratif untuk
Meningkatkan Ketrampilan Sosial Siswa. Majalah Ilmiah Pembelajaran, 8(2).
Sutarto. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Bersifat Konstruktivis pada Topik
Klasifikasi Hewan Arthropoda. Jurnal Pengajaran MIPA. 13(1). 23-33.
Teague, D. & Roe, P. 2008. Collaborative Learning – towards a solution for novice
programmers. Paper. This paper appeared at the Tenth Australasian
Computing Education Conference (ACE2008), Wollongong, Australia,
January 2008. Conferences in Research and Practice in Information
Technology, Vol. 78.

1700
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. Tersedia
Pada: http://sumberdaya.ristekdikti.go. id/wp-content/uploads/2016/02/uu-
nomor-12-tahun-2012-ttg-pendidikan-tinggi.pdf. Diakses tanggal 15 Mei 2016.
Winanti S., Respati W. P., & Arifin, E. 2001. Gambaran Kecerdasan Emosional
Siswa Berbakat di Kelas Akselerasi SMA di Jakarta. Jurnal Psikologi Vol. 5
No. 1.

KONTRIBUSI MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA

TERHADAP KINERJA KARYAWAN

DI CV. PADILLA

Oleh

Ni Luh Putu Yesy Anggreni

ABSTRACT

The success of a company in improving the performance of its employees is
strongly influenced by the company's ability to manage human resources (Human
Resources) that is owned maximally, human resources is the most important
resources owned by the company or organization, in addition to the motors driving
the company HR is also the spearhead in the company, Because the company's
performance can be seen from how the employee's performance on the company,
the better the employee's performance the better the company's performance.

Humans as one of the resources that are dynamic and have the ability to
continue to grow need to get the attention of the company. This concern is
necessary considering that in carrying out its activities, the company will always be
dealing with the human resources it has. Thus, guidance on human resources needs
to continue to get attention given the large human resource messages within a
company. Humans always play an active and dominant role in every organization.
The best programs created by the company will be difficult to run without the
active role of employees owned by the company. From these statements can be
known the importance of employees in a company.
1701
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Based on the above description of this study was conducted to find out
more in how the "Contribution of Work Motivation and Work Environment on
Employee Performance in CV. Padilla "

Hypothesis proposed is Alternative Hypothesis (Ha) states that, "There is
Contribution of Work Motivation and Work Environment on Employee
Performance in CV. Padilla ".
The method used in data processing is the method of regression analysis. In the
hypothesis testing, two regression analyzes are used to analyze the contribution
between two independent variables and one dependent variable, and seek relative
contribution (SR) between the independent variables and effective contribution
(SE).

Based on two predictors predictive analysis, predictor X1 (Work
Motivation) and X2 (Work Environment) to Y (Employee Performance), obtained
Freg price equal to 13,2824. With (N-m-1) in this case db = 32/2, with a
significance level of 5% Ftable value of 3.28. This means that, the regression line
in the analysis is significant to be the basis of prediction because there is a
significant contribution between the criterion (Y) and the predictors (X1, X2). The
relative contribution (SR) in% of each predictor is: Predictors X1 = 72,059% and
Predictor X2 = 27,941% against criterium Y on CV. Padillla. Based on the results
of the regression line of 45.36% consisting of effective contribution of predictors
X1 (Work Motivation) = 32.69%. And the effective contribution of predictor X2
(Work Environment) = 12.67%. While the rest equal to 54,64% influenced by other
factors.

Based on the results of the analysis and conclusions it can be advised to
maintain the existing work motivation in employees in CV. Padilla through various
efforts such as attention to discipline and continuous employee supervision and
continuous, attention to the needs of employees and provide comfort to employees
in doing the job.

Keywords: Work Motivation, Work Environment and Performance

1. Pendahuluan
Dalam peningkatan produksi barang dan jasa pada berbagai sektor akan berakibat
pada peningkatan pendapatan bagi tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi dan
kinerja karyawan itu sendiri, tetapi semua itu tidak mungkin dilaksanakan dengan baik
tanpa adanya sumber-sumber atau sarana-sarana yang harus dimanfaatkan dan digunakan
dengan tepat.

1702
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Motivasi kerja karyawan akan terus terbina dengan baik jika mereka mempunyai
rasa aman terhadap masa depan profesi mereka. Untuk menciptakan rasa aman menghadapi
masa depan, maka ada beberapa perusahaan yang melaksanakan program pensiun bagi
karyawannya.

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong karyawan
bekerja secara maksimal untuk kemajuan perusahaan. Kebutuhan manusia bermacam-
macam dan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat diartikan bila
kebutuhan karyawan dalam suatu perusahaan dapat dipenuhi, mereka akan mendukung dan
patuh menjalankan perintah pimpinannya. (Nitisemito, 2005:105)

Di dalam mencapai keseimbangan dalam menyatukan tujuan perusahaan dengan
tujuan individu karyawan, sering timbul masalah antara karyawan dengan pihak perusahaan.
Dimana pihak karyawan menginginkan pemberian imbalan diresmikan dengan prestasi
kerja yang telah dicapainya. Sedangkan pihak perusahaan menginginkan perolehan
keuntungan maksimal yang kadang-kadang tanpa memperhatikan kesejahteraan
karyawannya.

Perusahaan dan karyawan pada hakekatnya saling membutuhkan, karyawan adalah
asset perusahaan karena tanpa adanya sumber daya manusia maka perusahaan tidak akan
bisa berjalan, begitu juga karyawan tidak dapat menunjang kesejahteraan hidupnya tanpa
adanya perusahaan sebagai tempat mencari nafkah sekaligus implementasi dari disiplin ilmu
yang mereka miliki sendiri. Maka karyawan harus diperhatikan kesejahteraannya jangan
hanya dituntut kewajibannya saja dengan berbagai macam beban pekerjaan, begitu pula
dengan karyawan yang jangan hanya menuntut hak mereka tetapi pekerjaan dan tanggung
jawab sebagai karyawan tidak diselesaikan. Namun masih ada perusahaan yang kurang
memperhatikan karyawannya sehingga karyawan menjadi kehilangan motivasi, malas, dan
terkesan tidak baik hasil pekerjaannya. Sehingga mereka beranggapan bahwa sekeras apa
pun mereka bekerja perusahaan tidak mempedulikan mereka, apalagi untuk memberikan
kesejahteraan dan imbalan yang layak untuk mereka.

Untuk mencegah terjadinya tindakan karyawan yang tidak diinginkan oleh
perusahaan, maka tugas manajemen perusahaan yang harus memenuhi tuntutan karyawan
dengan memberikan kesejahteraan yang adil dan bijaksana, semua itu dilakukan demi
terciptanya kesejahteraan karyawan dan kesejahteraan perusahaan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian yang dituangkan dalam judul “Kontribusi Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan CV. Padilla”

2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di CV. Padilla. Yang menjadi subyek penelitian adalah
karyawan di CV. Padilla. Sedangkan objek penelitian adalah kinerja karyawan di CV.
Padilla. Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan Metode analisis merupakan suatu cara

1703
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

untuk mengolah data yang mendasarkan pada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi. Dalam
pengelolahan data ini penulis mempergunakan analisis regresi.

X1

Y

X2

Gambar 3.1: Konstelasi Variabel Penelitian

Keterangan:

X1 = Variabel motivasi kerja

X2 = Variabel lingkungan kerja

Y = Variabel kinerja karyawan

= Arah pengaruh.

3. Hasil Penelitian

1) Deskripsi

Ada tiga variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu Motivasi
Kerja (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) sebagai variabel bebas, serta Kinerja
Karyawan (Y) sebagai variable terikat. Data masing-masing variable dapat disajikan
dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.4
Motivasi Kerja, Lingkungan Kerja dan Kinerja Karyawan
CV. Padilla Tahun 2012
Kinerja
No. Motivasi kerja Lingkungan
Nama Karyawan
Resp (X1) Kerja
(Y)

1704
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

(X2)

1 I Gusti Putu Suparba 130 154 143

2 Sayu Kadek Yuliani 127 155 146

3 I Putu Edy Arizona 155 137 155

4 Victoria Yunita Rumyatsu 138 143 147

5 Junza Kuswanto 133 138 133

6 Ni Made Aris Febriyanti 145 137 144

7 Ni Luh Eka Vita Loka 129 129 144

8 Wardani Kadek 135 129 140

9 Sudarti Ni Luh 124 117 132

10 Endrawati Ni Luh 146 144 144

11 Sariani Ni Luh 145 136 145

12 Ni Luh Suwardani 134 143 141

13 Astiniasih Ketut 139 140 150

14 Mundri Ni Wayan 135 135 140

15 Yulia Septiana Rimawati 142 144 160

16 Sayani Ni Nyoman 131 132 147

17 Parmiani Ketut 131 144 158

18 Desiani Ni Luh 125 131 134

19 Padmawati Ni Luh 130 138 165

20 Alit Sudiasih Putu 147 134 162

21 Wiratni Ni Made 128 133 161

22 Nanik Anggereni Ni Wayan 155 142 163

23 Tiaga Made 127 154 163

24 Wientariati Ni Ketut 157 135 157

1705
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

25 Padmawati Ni Nyoman 146 152 162

26 Suarjaya Nyoman 150 152 152

27 Gadung Ni Made 146 147 159

28 Mawa Luh 150 162 166

29 Suriani Ni Luh 155 154 160

30 Teddy Setiawan I Wayan 166 127 168

31 Jhumiati Mali Ina 153 144 169

32 Sudita I Kadek 152 155 162

33 Rinny Bulan 153 143 163

34 Putra Johan Imanuel Kameo 156 144 162

35 I Wayan Suarsana 160 158 165

Sumber: CV. Padilla

2) Analisis Data
Dalam penelitian ini data yangv dikumpulkan dari kuesioner yang disebarkan kepada
35 orang karyawan CV. Padilla. Langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data
adalah:

a) Analisis Data

Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi “Bahwa ada kontribusi Motivasi Kerja dan
Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan CV. Padilla”.

Untuk kepentingan analisis, hipotesis yang diajukan telah diubah menjadi hipotesis
nol sehingga berbunyi “Bahwa tidak ada kontribusi antara Motivasi Kerja dan
Lingkungan kerja terhadap Kinerja karyawan di CV. Padilla”.

b) Tabulasi data

Setelah merumuskan hipotesis nol, selanjutnya dilakukan tabulasi data yang dapat
dilihat pada table 4.5 dibawah ini :

Tabel 4.5
Tabulasi Data Motivasi Kerja, Lingkungan Kerja
dan Kinerja Karyawan di CV. Padilla
Tahun 2012

1706
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Lingkungan Kinerja
No. Motivasi kerja Kerja Karyawan
Subjek (X1)
(X2) (Y)

1 130 154 143

2 127 155 146

3 155 137 155

4 138 143 147

5 133 138 133

6 145 137 144

7 129 129 144

8 135 129 140

9 124 117 132

10 146 144 144

11 145 136 145

12 134 143 141

13 139 140 150

14 135 135 140

15 142 144 160

16 131 132 147

17 131 144 158

18 125 131 134

19 130 138 165

20 147 134 162

21 128 133 161

22 155 142 163

23 127 154 163

1707
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

24 157 135 157

25 146 152 162

26 150 152 152

27 146 147 159

28 150 162 166

29 155 154 160

30 166 127 168

31 153 144 169

32 152 155 162

33 153 143 163

34 156 144 162

35 160 158 165

3) Menyusun Tabel Kerja

Menyusun tabel kerja digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengetesan
hipotesis tentang “Kontribusi Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja
Karyawan di CV. Padilla”. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini :

Tabel 4.6

Tabel Kerja Pengetesan Hipotesis Tentang Kontribusi Motivasi Kerja dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di CV. Padilla Tahun 2012

NO X1 X2 Y X12 X22 Y2 X1X2 X1Y X2Y

1 130 154 143 16900 23716 20449 20020 18590 22022

2 127 155 146 16129 24025 21316 19685 18542 22630

3 155 137 155 24025 18769 24025 21235 24025 21235

4 138 143 147 19044 20449 21609 19734 20286 21021

5 133 138 133 17689 19044 17689 18354 17689 18354

6 145 137 144 21025 18769 20736 19865 20880 19728

1708
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

7 129 129 144 16641 16641 20736 16641 18576 18576

8 135 129 140 18225 16641 19600 17415 18900 18060

9 124 117 132 15376 13689 17424 14508 16368 15444

10 146 144 144 21316 20736 20736 21024 21024 20736

11 145 136 145 21025 18496 21025 19720 21025 19720

12 134 143 141 17956 20449 19881 19162 18894 20163

13 139 140 150 19321 19600 22500 19460 20850 21000

14 135 135 140 18225 18225 19600 18225 18900 18900

15 142 144 160 20164 20736 25600 20448 22720 23040

16 131 132 147 17161 17424 21609 17292 19257 19404

17 131 144 158 17161 20736 24964 18864 20698 22752

18 125 131 134 15625 17161 17956 16375 16750 17554

19 130 138 165 16900 19044 27225 17940 21450 22770

20 147 134 162 21609 17956 26244 19698 23814 21708

21 128 133 161 16384 17689 25921 17024 20608 21413

22 155 142 163 24025 20164 26569 22010 25265 23146

23 127 154 163 16129 23716 26569 19558 20701 25102

24 157 135 157 24649 18225 24649 21195 24649 21195

25 146 152 162 21316 23104 26244 22192 23652 24624

26 150 152 152 22500 23104 23104 22800 22800 23104

27 146 147 159 21316 21609 25281 21462 23214 23373

28 150 162 166 22500 26244 27556 24300 24900 26892

29 155 154 160 24025 23716 25600 23870 24800 24640

30 166 127 168 27556 16129 28224 21082 27888 21336

31 153 144 169 23409 20736 28561 22032 25857 24336

1709
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

32 152 155 162 23104 24025 26244 23560 24624 25110

33 153 143 163 23409 20449 26569 21879 24939 23309

34 156 144 162 24336 20736 26244 22464 25272 23328

35 160 158 165 25600 24964 27225 25280 26400 26070

N=35 4975 4962 5362 711775 706916 825484 706373 764807 761795

4) Mensubtitusikan ke dalam Rumus

Dalam penelitian ini digunakan analisis Regresi Linear Dua Prediktor dengan rumus
sebagai berikut:

Ry(1,2) = a1 x1y + a2 x2y
y2
Berdasarkan Tabel Kerja di atas diketahui :

∑X1 = 4.975 ∑Y2 = 825.484
∑X2 = 4.962 ∑X1X2 = 706.373
∑Y = 5.362 ∑X1Y = 764.807
∑X12 = 711.775 ∑X2Y = 761.795
∑X22 = 706.916 ∑N = 35

Langkah selanjutnya data tersebut kan diolah dengan mengubah hasil perhitungan
ke dalam skor divisi. Perhitungan adalah sebagai berikut ini:

(4.975)2
x12 = X12 – (X1) 2
= 711.775 –
N 35

(4.975) (4.975)
= 711.775 –
35

24.750.625
= 711.775 –

1710
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

35

= 711.775 – 707.160,71

= 4.614,29

(4.962)2
x22 = X22 – (X2)2 =
706.916 –
N
35

= (4.962) (4.962)
706.916 –
35

= 24.621.444
706.916 –
35
=
706.916 – 703.469,83
=
3.446,17

(5.362)2
y2 = Y2 – (Y)2 = 825.484 –
N 35

(5.362)(5.362)
= 825.484 –
35

28.751.044
= 825.484 –
35

= 825.484 – 821.458,4

= 4.025,6

(X1) (X2)
x1x2 = X1X2 -
N

1711
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

(4.975) (4.962)
= 706.373 –
35

24.685.950
= 706.373 –
35

= 706.373 – 705.312,86

= 1.060,14

(X1) (Y)
x1y = X1Y -
N

(4.975) (5.362)
= 764.807 –
35

26.675.950
= 764.807 –
35

= 764.807 – 762.170

= 2.637

(X2) (Y)
x2y = X2Y -
N

(4.962) (5.362)
= 761.795 –
35

26.606.244
= 761.795 –
35

= 761.795 – 760178,4

= 1.616,6

1712
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Persamaan simultan untuk menemukan a1 dan a2 adalah:
(1) x1y = a1 x12 + a2 x1x2
(2) x2y = a1 x1x2 + a2 x22

Diisi dan dikerjakan:
(1) 2.637 = 4.614,29 a1 + 1.060,14a2

(2) 1.616,6 = 1.060,14a1 + 3.446,17a2

(1) : 1.060,14 = (3) 2,4874 = 4,35251a1+a2

(2) : 3.446,17 = (4) 0,4691 = 0,30763a1+a2 _

(3) – (4) = (5)2,0183 = 4,04488a1

a1 = 2,0183
4,04488
= 0,49898

(4) 0,4691 = 0,30763a1 + a2
=
(0,30763) (0,49898) + a2
a2 = 0,4691 - 0,1535
= 0,3156

Menentukan nilai R2y:

a1 x1y + a2 x2y
Ry(1,2) =
 y2

(0,49898) (2.637) + (0,3156) (1.616,6)
Ry(1,2) =
 4.025,6

1315,7999 + 510,2001
=
 4.025,6

1.826
=
 4.025,6

1713
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

=  0,4536

Ry(1,2) = 0,6735

R2y(1,2) = 0,4536

5) Menguji Harga F

Untuk mengetahui apakah Ry(1,2) = 0,6735 signifikan atau tidak, maka langkah
selanjutnya perlu dilakukan Analisis Regresi. Dari Analisis Regresi akan dapat ditemukan
harga F garis regresi, yang kemudian dapat diuji apakah F itu signifikan atau tidak. Rumus
F yang paling efesien, jika koefisien kolerasi kriterium dengan prediktor-prediktornya telah
ditemukan, adalah :

R 2 (N – m - 1)
Freg = M(1 – R2)

= 0,4536 (35-2-1)

= 2 (1 – 0,4536)
0,4536 (32)
=
2 (0,5464)
Jadi Freg =
14,515104
1,092806
13,2824

Derajat kebebasan atau db untuk menguji signifikasi harga F regresi adalah
db = m lawan (N-m-1) atau 2 lawan 32 dengan harga Ft5% = 3,28 (lihat Lampiran).
Jadi harga Freg = 13,2824 > Ft5% = 3,28. Hal ini berarti ada kontribusi yang
signifikan antara motivasi kerja (X1) dan lingkungan kerja (X2) terhadap kinerja karyawan
(Y).

Dari keseluruhan proses analisis di atas diikuti secara lebih rinci, maka akan
nampak sebagai berikut:

JKreg = R2 (y2)
= (0,4536) (4.025,6)
= 1.826

dbreg = m= 2

JKreg
RKreg = dbreg
=
1.826
1714
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

= 2

913

JKres = (1-R2) (y2)

= (1-0,4536) (4.025,6)

= (0,5464) (4.025,6)

= 2.199,6

dbres = N – m – 1 = 35 – 2 – 1 = 32

JKres
RKres =
dbres

= 2.199,6

= 32

68,7375

Rkreg
Freg =
RKres

913
=
68,7375
Jadi Freg =

13,2824

Jadi hasil analisis regresi di atas kemudian dimasukkan ke dalam
tabel ringkasan analisis sebagai berikut:
Tabel 4.7
Ringkasan Analisis Regresi

1715
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Sumber Variasi Db JK RK F Ft5%
1.826 913 13,2824
Regresi (reg) 2 3,28
2.199,6 68,7375
Residu (res) 32 - -
4.025,6
Total 34 - - -

6) Mencari Sumbangan Relatif (SR)
Berdasarkan tabel 4.7, yaitu tabel ringkasan analisis regresi dapat ditarik
kesimpulan bahwa:
(1) JK Regresi merupakan sebagian dari JK Total yang terkumpul dari N
kasus dengan m = dua prediktor (X1 dan X2).
(2) JK Regresi juga tersusun dari dua komponen, yaitu a1x1y dari
prediktor X1 dan a2x2y dari prediktor X2 .
(3) Sumbangan prediktor X1 dapat diketahui dari harga komponen a1x1y
terhadap keseluruhan JK regresi, sedangkan sumbangan prediktor X2
dapat diketahui dari harga komponen a2x2y terhadap keseluruhan JK
regresi.
Dari analisis regresi dua prediktor diperoleh:
JKreg = a1x1y + a2x2y
= (0,49898) (2.637) + (0,3156) (1.616,6)
=
= 1.315,8 + 510,2
1.826

Sumbangan Relatif (SR), dari analisis di atas diketahui:
a1x1y
Prediktor X1 : SR% = x 100%
JKreg

1.315,8
= x 100%
1.826

= 0,72059 X 100% = 72,059 %

1716
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

a2x2y
Prediktor X2 : SR% = x 100%
JKreg

510,2
= x 100%
1.826

= 0,27941 x 100% = 27,941 % +
100

7) Mencari Sumbangan Efektif (SE)
Sumbangan efektif merupakan sumbangan relatif tiap prediktor yang
dihitung dari keseluruhan prediksi. Dalam menentukan sumbangan efektif,
maka haruslah dihitung terlebih dahulu efektivitas garis regresinya yang
merupakan perbandingan antara JK regresi terhadap JK total, dengan
menggunakan rumus:
JKreg
Efektivitas garis regresi =
JKtot

1.826
= X 00%
4.025,6
=
= 0,4536 X 100 %

45,36 %

Sumbangan efektif dalam persen (SE%), untuk masing-masing prediktor X1
dan X2 dihitung dengan rumus:
SE % X1 = SR X1 x efektivitas garis regresi
SE % X2 = SR X2 x efektivitas garis regresi
Sehingga:

SE % X1 = 72,059% x 45,36% = 32,69%

SE % X2 = 27,941% x 45,36% = 12,67%

S
i
Total = 45,36%
s
anya sebesar (100% - 45,36% = 54,64%) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
1717
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

4. Simpulan Analisis

Berdasarkan hasil perhitungan analisis di atas, dapat ditarik simpulan sebagai
berikut:

a. Melalui hasil prediksi dengan prediktor X1 (Motivasi Kerja) dan X2 (Lingkungan
Kerja) terhadap Y (Kinerja Karyawan), diperoleh harga Freg sebesar 13,2824.
Dengan (N-m-1) dalam kasus ini db = 32/2, dengan taraf signifikasi 5% nilai Ftabel
sebesar 3,28. Ini berarti bahwa, garis regresi yang di analisis signifikan untuk
dijadikan landasan prediksi karena antara kriterium (Y) dan prediktor-prediktor
(X1, X2) terdapat hubungan signifikan. Freg lebih besar dibandingkan dengan nilai
F tabel atau 13,2824 > 3,28. Sehingga Hipotesis Nol yang diuji ditolak dan
Hipotesis Alternasif diterima yang menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan
antara Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan di CV.
Padilla.
b. Sumbangan Relatif (SR%) untuk masing-masing prediktor yaitu X1 (Motivasi
Kerja) = 72,059%, dan X2 (Lingkungan Kerja) = 27,941%. Sedangkan garis
regresinya sebesar 45,36% yang terdiri dari sumbangan efektif prediktor X1
(Motivasi Kerja) = 32,69%. Dan sumbangan efektif prediktor X2 (Lingkungan
Kerja) = 12,67%. Sedangkan sisanya sebesar 54,64% (100% - 45,36%)
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Dilihat dari perhiungan di atas maka prediktor
X1 (Motivasi Kerja) lebih dominan berkontribusi pada Kinerja Karyawan (Y)
dibandingkan dengan prediktor X2 (Lingkungan Kerja).

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifudin. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Pustaka Remaja

Faustino Cardoso Gomes. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: ANDI.

Gorda, IGN. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Denpasar: Widya Kriya Gematama

Hariandja, Efendi. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Grasindo.

Hasibuan. 2003. Organisasi dan Motivasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hasibuan. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Bumi
Aksara

Lucky Wulan Analisa. 2011. Analisis Pengaruh Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja
terhadap Kinerja Karyawan. Terdapat di:
http://eprints.undip.ac.id/26826/1/skripsi_MSDM_-_Lucky(r).pdf

Mahsun, Mohamad. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE.
1718
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Makmur, syarif. 2008. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dan efektivitas Organisasi.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Mangkunegara, Prabu Anwar. 2007. Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: PT. Refika
Adiatma.

Mangkunegara. 2005. Perilaku dan Budaya Organisasi. Cetakan ke-1. Bandung: PT.
Refika Aditama

Nasution. 2007. Metode Research Penelitian Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara

Nitisemito Alex. S. 2000. Manajemen Personalia, Manajemen Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nitisemito.2005. Pengertian Lingkungan Kerja. Terdapat di:
http://www.majalahpendidikan.com/2011/10/pengertian-lingkungan-kerja.html

Robbin. 2006. Perilaku Organisasi, Konsep, Kontrovesi, Aplikasi. Edisi Kesepuluh.
Jakarta: PT. Indeks.

Ruslan, Rosady. 2004. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktifitas Kerja. Bandung: Mandar
Maju.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidian Pendektan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta

Suryabrata, Sumadi. 2006. Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.

Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB.2005. Performance Appraisal. Rajagrafindo Persada.

Winardi. 2004. Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen. Jakarta. PT. Grafindo
Persada.

Zuriah, Nurul. 2005. Metode Penelitian Sosial dan Pendidian. Jakarta: PT. Bumi Aksara

1719
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Materialistis Masyarakat Bali Sebagai Sumber Ide Penciptaan
Karya Seni Lukis

I Putu Karsana

ABSTRACT

The people must be seeking happiness and enjoyment in their life.
Denotation of happiness is a peaceful life, fortunate, and lucky inner and outer
within, while enjoyment is a physically fulfillment of things and luxury. It is
reached in various ways, either legal or illegal. The society tends to pursue
happiness and enjoyment in whatsoever tactics.
Our Balinese society seems to seek happiness and enjoyment in various
ways until permit their illegal action. It‟s known as a hedonic and tolerable
behavior. The consumable of life style also contributes social value degradation
within our society. We can find this kind of hedonic life style easily in our daily
living. Many changes of life style go on such as moral degradation, spiritual crisis,
disappearance of life value, etc. These phenomena are attracted to be visualized in
painting art. Therefore many problems are arisen: how do we visualize and convert
the materialistic world into painting art? How do we turn up the materialistic
symbol into painting art? How do we expose the current values of materialistic
world into painting art?
There are some steps to create art work: Saturation, Incubation, and
Illumination. First, Saturation is done by direct observation of facts within society
and environment. Another exploration is to observe printing media i.e. books,
catalogs, magazines, and also electronic media. The next step is Incubation done
through rough sketch of forms and symbols, representing of the current phenomena
before establishing into canvas. The last is Illumination. It‟s a step of establishment
is a result of the selected sketch of creator to be visualized on canvas. This process
is an important thing to create an attractive creation. The steps of process are

1720
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

preparation of equipments, materials, technique and process of creation. The
process of creation set up the two dimensional art and the title of this creation is:
(1) Sugesti Ultraviolet Batu Akik, (2) Terjerat (3) Jalan Pintas (4) Terlena
Kenikmatan, (5) Gila Merk, (6) Ambisius, and (7) Racun Sosmed by using airbrush
technique.

Key words : Materialistic A Balinese Society Expression, Hedonic and Pragmatic

1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia terus mengalami perkembangan seiring kemajuan ilmu
dan teknologi. Dalam perkembangan tersebut banyak terjadi berbagai perubahan
yang mendasar terutama pola pikir dan tindakan manusia seperti, hidup instant atau
serba cepat, efektif, efisien tepat guna dan lain sebagainya kondisi ini seolah-olah
menawarkan pola dan tata cara hidup yang memberi kebahagiaan dan kesejahteraan
bagi umat manusia, namun ternyata perkembangan tersebut menimbulkan banyak
masalah terhadap kehidupan manusia. pada abad ini cenderung hidup berpacu
dengan waktu, nilai sosial semakin mengalami kemunduran, dan mengutamakan
kebutuhan hidup pada dunia materi semata.
Berbagai pemicu dominasi sifat materialistis masyarakat pada era
modernisasi dewasa ini ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala
bidang. Kemajuan pariwisata, teknologi informasi dan komunikasi, telah
menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-
dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan sikap
manusia saat ini. Promosi bertubi-tubi yang dilancarkan oleh berbagai media massa
tentang keunggulan suatu produk berbagai kemudahan dan kenikmatan hidup
dewasa ini dan yang lebih menyeret manusia mengarah pada pola hidup konsumtif.
Gaya hidup yang di tuntut dan dikejar oleh hampir setiap orang sebagai pelaku
1721
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kehidupan modern adalah kehidupan yang bebas tanpa batas, sehingga tak jarang
melewati batas etika kesopanan, dan norma-norma yang berlaku. Rotasi kehidupan
yang semakin cepat, sehingga menjadi ajang kompetisi yang ketat, khususnya di
bidang ekonomi dan cara-cara kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup. Memaksa
manusia untuk mengesampingkan sisi spiritualitas.
Dalam agama hindu sebenarnya ada ajaran tentang dasar dan tujuan hidup
manusia seperti pada kitab suci weda : "Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah",
artinya bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan
ketentraman rohani. Ajaran tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi Catur
Purusa Artha atau Catur Warga yang berarti empat dasar dan tujuan hidup
manusia yaitu : Dharma merupakan kebenaran absolut yang mengarahkan manusia
untuk berbudi pekerti luhur sesuai dengan ajaran agama yang menjadi dasar hidup.
(1) Dharma itulah yang mengatur dan menjamin kebenaran hidup manusia.
Keutamaan Dharma sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan,
memberikan keteguhan budi, dan menjadi dasar dan jiwa dari segala usaha tingkah
laku manusia. (2) Artha adalah kekayaan dalam bentuk materi/benda-benda
duniawi yang merupakan penunjang hidup manusia. Pengadaan dan pemilikan
harta benda sangat mutlak adanya, tetapi yang perlu diingat agar kita jangan sampai
diperbudak oleh nafsu keserakahan yang berakibat mengaburkan Wiweka
(pertimbangan rasional) tidak mampu membedakan salah ataupun benar. Nafsu
keserakahan materi melumpuhkan sendi-sendi kehidupan beragama,
menghilangkan kewibawaan. Bahwa Artha merupakan unsur sosial ekonomi
bersifat tidak kekal berfungsi selaku penunjang hidup dan bukan tujuan hidup.
Artha perlu diamalkan (Dana Punia) bagi kepentingan kemanusiaan (fakir miskin,
yatim piatu, dan lain- lain). (3) Kama adalah keinginan untuk memperoleh
kenikmatan (Wisaya). Kama berfungsi sebagai penunjang hidup yang bersifat tidak
kekal. Manusia dalam hidup memiliki kecenderungan untuk memuaskan nafsu,
tetapi sebagai mahluk berbudi mampu menilai perilaku mana yang baik dan benar
untuk diterapkan. Dengan ungkapan lain bahwa perilaku yang baik dimaksudkan
adalah selarasnya kebutuhan manusia dengan norma kebenaran yang berlaku. (4)
Moksa adalah kelepasan, kebebasan atau kemerdekaan (Kadyatmikan atau

1722
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Nirwana) manunggalnya hidup dengan Pencipta (Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai
tujuan utama, tertinggi, dan terakhir, bebasnya atman dan pengaruh maya serta
ikatan Subha Asubha Karma (Suka tan pawali duka). Akan tetapi dalam kenyataan
masyarakat sekarang lebih cenderung menekanan pada Artha ( kekayaan) dan
Kama (nafsu) (Ngurah, dkk. 1999 : 74)
Pengaruh budaya barat dapat menyebabkan cara berpikir dan tingkah laku
masyarakat Bali yang dahulu lebih kolektif, gotong royong dan tolerasi dengan
mementingkan kepentingan bersama, kini berubah menjadi individual.

2. Landasan Teori
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, materialisme berarti “pandangan hidup
yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam
alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang
mengatasi alam indera. Dalam psikologi, materialisme didefinisikan pandangan
yang berisi orientasi, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai hidup yang menekankan
atau mementingkan kepemilikan barang- barang material atau kekayaan material di
atas nilai-nilai hidup lainnya, seperti yang berkenaan dengan hal-hal spiritual,
intelektual, sosial, dan budaya (Kasser, 2002).
Pada definisi yang lain, materialisme mencerminkan suatu set keyakinan
yang berkenaan dengan seberapa penting perolehan dan pemilikan objek (barang)
dalam hidup (Richins & Dawson, 1992). Materialisme adalah “A preoccupation
with, desire for, and emphasize on, material goods and money to the neglect of
other matters”(Garðarsdóttir, Janković, & Dittmar, 2008). Ia mengacu pada
kepuasan dan kebahagiaan yang orang ekspektasikan diperoleh dari barang-barang
material, merupakan orientasi yang menekankan barang milik dan uang demi
kebahagiaan personal dan peningkatan status sosial.
Faktor yang berperan dan konsekuensi materialisme merupakan bukan
tanpa sebab. Berbagai faktor yang mempengaruhi orientasi materialistis seseorang.
Ada berbagai pengaruh eksternal maupun internal yang tidak sehat, yang
mengaktivasi materialisme pada diri seseorang, seperti: (1) Faktor psikologis
berupa harga diri yang rendah, kecemasan akan kematian dan rasa tidak aman, (2)

1723
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Faktor keluarga berupa pengasuhan keluarga yang tidak suportif dalam
membangun Self-esteem yang positif, orangtua yang tidak menuntun, hanya
menekankan kesuksesan dan stres dan konflik dalam keluarga. (3) Faktor pergaulan
berupa penolakan teman dan pengaruh teman yang materialistis, serta
perbandingan sosial dengan teman atau figur di media. (4) Faktor lingkungan
berupa lingkungan yang menggoda dan media yang mendorong konsumerisme. (5)
Faktor religius berupa rendahnya religiositas dan kebersyukuran.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa materialistis adalah
sebuah sikap yang berorientasi pada harta dan kekayaan semata. Seperti dalam
penciptaan karya seni lukis yang pencipta visualkan, yaitu materialistis, konsumtif,
hedonis, dan prestise, yang teramati dari segi sosial, budaya, dan politik yang
terjadi saat ini di Bali. Masyarakat saat tampak seperti ini gila dengan menunjukan
jati dirinya dengan status kemewahan, glamor, dan kenikmatan fisik yang bersifat
skuler atau duniawi.
Dalam seni rupa Indonesia, istilah kontemporer muncul awal 70-an, ketika
Gregorius Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk menamai pameran seni
patung pada waktu itu. Suwarno Wisetrotomo, seorang pengamat seni rupa,
berpendapat bahwa seni rupa kontemporer pada konsep dasar adalah upaya
pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah baku atau mungkin
dianggap usang. Pendapat lain dari Yustiono, staf pengajar FSRD ITB, melihat
bahwa seni rupa kontemporer di Indonesia tidak lepas dari pecahnya isu
postmodernisme (akhir 1993 dan awal 1994), dimana sepanjang tahun 1993
menyulut perdebatan dan perbincangan luas baik di seminar-seminar maupun di
media massa pada waktu itu. Sedangkan kaitan seni kontemporer dan (seni)
postmodern. menurut pandangan Yasraf Amir Pilliang, pemerhati seni, pengertian
seni kontemporer adalah seni yang dibuat masa kini, jadi berkaitan dengan waktu,
dengan catatan khusus bahwa seni postmodern adalah seni yang mengumpulkan
idiom-idiom baru. Lebih jelasnya dikatakan bahwa tidak semua seni masa kini
(kontemporer) itu bisa dikategorikan sebagai seni postmodern, seni postmodern
sendiri di satu sisi memberi pengertian, memungut masa lalu tetapi di sisi lain juga
melompat kedepan (bersifat futuris)

1724
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

2.2 Material
Menurut (W.J.S. Poerwadarminta, 1950 : 58) material berarti bahan, bakal,
barang yang akan dijadikan atau untuk membuat barang yang lain.
Dalam mengekspresikan ide, dituntut kepiawaian dalam memilih material
yang cocok, agar ide yang akan diekspresikan sesuai dengan yang direncanakan,
seperti pendapat (Fajar Sidik, 1978 : 10) Pemilihan bahan dalam penciptaan karya
seni selain menjadi unsure estetik juga terdapat makan yang ingin disampaikan dari
bahan tersebut.
Karya ini menggunakan bahan kanvas berukuran 200 cm x 200 cm dan cat
Nippon paint. Pemilihan bahan dan media didasarkan atas pertimbangan bahwa Cat
Nippon memiliki warna yang cerah dan mudah kering diterapkan.
2.3 Teknik
Teknik merupakan salah satu proses dalam pembuatan sebuah karya,
menyangkut bidang penguasaan dalam pengembangan bentuk. (Poerwadarminta,
1999 : 15) adalah cara atau kepandaian membuat sesuatu atau melakukan yang
berhubungan dengan seni. Teknik merupakan hal yang amat penting dalam karya
seni.
Untuk mencapai wujud suatu karya yang ingin di ciptakan harus mengenal
karakteristik media dan menyesuaikanya dengan teknik yang diu gunakan. Adapun
tehnik yang digunakan dalam berkarya yaitu teknik Airbrush.

3. METODE PENCIPTAAN
3.1 Proses Penciptaan
Pada pencipta akan uraikan tentang proses penciptaan sampai terwujudnya
karya lukis dengan tema “Dunia materialistis sebagai sumber ide penciptaan karya
seni lukis”. Proses pengungkapan gagasan menjadi karya seni juga sering disebut
proses kreativitas dengan tahapan-tahapan yang mutlak harus dilewati. Perwujudan
dari gagasan yang sebelumnya sangat abstrak menjadi sebuah karya seni yang
nyata dan dapat dinikmati oleh indra manusia. Proses ini bukanlah suatu hal yang

1725
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

terjadi karena kebetulan saja, tetapi sebuah proses yang didasari dengan eksplorasi
berbagai objek kemudian disatukan dalam sebuah konsep yang jelas didukung
dengan kemauan kesungguhan untuk mencapai tujuan dan dicurahkan sepenuhnya
agar karya seni tersebut memiliki nilai estetis serta mampu dipertanggung
jawabkan secara akademis.
Dalam penciptaan karya seni lukis, diperlukan suatu metode untuk
menjelaskan jalannya tahapan-tahapan proses penciptaan. Pengertian metode
adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar
tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk
memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Ada beberapa metode penciptaan dalam praktik seni lukis, salah satunya dalam
proses penciptaan karya seni lukis ini, yaitu menggunakan metode yang
dikembangkan oleh Hawkins (dalam Soedarsono, 2001 : 207) yang secara garis
besar meliputi: (1) eksplorasi, pada tahap awal ini proses eksplorasi visual dan
referensi dari tema yang telah ditentukan sebelumnya, (2) eksperimentasi,
merupakan tahapan di mana penekanannya lebih pada eksperimentasi medium
(material, teknik, dan alat) yang akan digunakan, serta pengorganisasian elemen
rupa pembentuk nilai estetik karya lukis nanti, (3) Pembentukan, sebagai wahana
ekspresinya. Sebagaimana dinyatakan Sudiarja bahwa ekspresi menuntut adanya
suatu perwujudan material, supaya seni tidak hanya berhenti sebagai imajinasi
belaka (Sudiarja, 1983: 80)
Selain metode yang dikembangkan oleh Hawkins juga melalui proses
kreatif dimulai dari pikiran, perasaan atau imajinasi kreatif kemudian dituangkan
menggunakan media dan teknik tertentu, sehingga melahirkan karya-karya kreatif.
Potensi kreatif, proses kreatif dan produk kreatif. Proses kreativitas melelui
kegiatan seni berarti terjadi suatu proses kreatif (Eny Kusumastut, 1990)

3.2 Persiapan Bahan
Persiapan bahan dan pemilihan bahan dalam berkarya seni ini sangat
penting di dengan bahan yang berkualitas karya akan lebih baik dan menarik untuk
dilihat. Dalam hal ini pertama yang perlu disiapkan yaitu spanram dengan bahan

1726
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kayu damar karena kayu damar memiliki keawetan dan tidak mudah melengkung
saat direntangkan kanvas. Kedua menentukan bahan cat dasar untuk kanvas dengan
cat tembok Vinilec dan Aquaproof bahan tesebut sangat baik dipergunakan sebagai
cat dasar kanvas karena mempunyai lapisan anti bocor sehingga dalam proses
melukis warna tidak tembus dan diserap oleh cat dasar tersebut. Ketiga
menggunakan bahan cat Nippon dengan warna primer bahan ini mempunyai
kualitas yang baik dan cepat kering selain itu juga menggunakan cat Wington
sebagai bahan dalam berkarya karena dalam karya ini juga menggunakan bahan
tersebut membuat aksen-aksen tertentu seperti garis yang sangat kecil maupun
detail.

3.3 Persiapan Alat
Adapun alat yang digunakan dalam penciptaan karya seni ini kompresor
angin dan Penbrush yang tediri dari selang udara dan Air filter untuk menyaring
udara agar tidak mengandung uap air yang berasal dari kompresor.

3.4 Proses Kerja
Proses kerja yang dilalui dalam penciptaan karya adalah sebagai berikut :
Pertama yaitu : persiapan spanran, kain kanvas yang belum diberi cat dasar. Cat
dasar menggunakan bahan cat tembok yang dicampur dengan lem rajawali. Dalam
proses ini di butuh tiga kali lapisan cat dasar untuk memperoleh hasil yang
maksimal.
Selanjutnya proses pembentukan secara global, dengan membuat sketsa
awal dengan menggunakan pensil 2B yang diterapkan diatas kertas HVS ukuran
A4. Dalam proses sketsa banyak kendala yang terjadi yaitu pemilihan bentuk
memahami bentuk yang sangat matang dan tidak lupa pula juga dengan
mengabadikan dengan kamera untuk memperoleh bentuk yang di inginkan.
Berbagai macam bentuk sketsa kasar sebelum di terapkan kedalam kanvas
sehingga mampu mereprentasikan makna yang ingin disampaikan.

1727
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Tahap selanjutnya setelah sketsa yang terpilih sesuai dengan yang inginkan,
barulah sketsa tersebut diterapkan ke dalam bidang kanvas. Kesulitan dalam sketsa
awal kedalam bidang kanvas tentu membutuhkan ketepatan dalam proses sketsa
karena yang dihadapai berupa bidang kanvas yang cukup besar membutuhkan
pandangan dari jarak jauh untuk mendapat hasil yang maksimal.

4. WUJUD KARYA
4.1 Ideoplastis
Ide gagasan secara keseluruhan dapat dipandang melalui kehidupan
manusia saat ini yang telah di pengaruhi kunsumtif dan kemajuan jaman.
Masyarakat masa kini dalam memenuhi kebutuhan tampak lebih mengedepankan
kesenangan dari pada kebutuhan pokoknya.
Hal tersebut biasa dilihat dari kehidupan masyarakat saat ini yang sangat
materialistis mengutamakan uang atau kesenangan duniawi semestinya dalam
kehidupan hendaknya berjalan seimbang. Kepuasan materi menjadi kebutuhan
utama dalam kehidupan masyarakat masa kini. Kenyataanya tampak pada remaja
masa kini, adanya teknologi yang semakin canggih seperti : handphone dengan
harga yang mahal dan bermerk, sehingga dianggap dapat meningkatkan martabat
bagi penggunanya, tanpa memperdulikan bagaimana cara untuk mendapatkanya.
Selain itu pula materi yaitu uang penyebab utama dalam terjadinya kriminal
seperti: perampokan, pencurian bahkan pembunuhan.

4.2 Fissioplastis
Fissioplastis dalam hal penciptaan karya seni ini berpedoman pada elemen-
elemen seni rupa terdiri dari : garis, bentuk, tekstur, warna, ruang. Selain
berpedoman pada elemen- elemen seni rupa juga berpedoman pada prinsip-prinsip
seni rupa seperti : komposisi, proporsi, pusat perhatian, kesatuan, keseimbangan,
irama, dan kontras. Dengan demikian dalam penyusunan tersebut dipandang perlu
di dalam menciptakan karya seni.

1728
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

5. Lampiran

Karya Pertama Karya Kedua
Judul : “Sugesti Ultraviolet Batu Akik” Judul : “Terjerat”
Bahan : Media Campur Bahan : Media Campur
Ukuran : 200 x 200 cm Ukuran : 200 x 200 cm
Tahun : 2015 Tahun : 2015

1729
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Karya Ketiga Karya Keempat
Judul : “Jalan Pintas” Judul : “Terlena Kenikmatan”
Bahan : Media Campur Bahan : Media Campur
Ukuran : 200 x 200 cm Ukuran : 200 x 200 cm
Tahun : 2015 Tahun : 2015

SIMPULAN

1. Memvisualkan dan mengomunikasikan dunia materialistis
Karya Keenam ke dalam karya
Judul : “Ambisius”
seni lukis dengan cara mengidentifikasi dunia
Bahanmaterialistis dilingkungan
: Media Campur
Ukuran
masyarakat dalam berbagai persoalan tingkah : 200 xkonsumtif,
laku, gaya hidup 200 cm
Tahun
Karya Kelima : 2015
: “Gila Merk”
Judul Karya Ketujuh
Bahan Judul : Media:Campur
“Racun Sosmed”
1730
Ukuran Bahan : Media
: 200 x 200 cm Campur
Tahun Ukuran : 2015 : 200 x 200 cm
Tahun : 2015
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

hedonistik dijadikan judul dan di metamorfosiskan dengan hewan lalat
sebagai sebagai simbol penciptaan karya.

2. Dalam mewujudkan karya pencipta sudah tentu banyak melakukan
beberapa percobaan bahan dan teknik yang akan diterapkanakan tetapi
pencipta lebih tertarik menggunakan teknik Airbrush karena dalam proses
tersebut ingin mendapatkan kesan dimensi, kesan blur, garis tidak terkesan
tegas. Sedangkan bahan yang digunakan dengan cat Nippon dan Thinner A
Special karena cat tersebut mempunyai sifat tahan air dan tidak mudah
kusam, serta tahan cuaca.

3. Mewujudkan simbol-simbol dunia materialistis kedalam karya seni lukis,
dengan mengadopsi bentuk-bentuk hewan lalat secara ikonografik sebagai
simbol dan metaforik serta menganalogikan kemiripan sifat masyarakat
dewasa ini seperti tampil beda serta glamor, bergerombol sesama
komunitasnya, mudah terpengaruh hal negatif, dll.
Nilai-nilai kekinian dalam konteks dunia materialistis dengan melakukan
observasi prilaku masyarakat dewasa ini sesuai fakta-fakta yang terjadi
seperti : Konsumtif, hedonistik, dan individualistik serta beberapa teori
pendukung dalam proses berkarya yaitu : teori materialisme yang
merupakan pandangan yang berisi orentasi, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai
hidup yang menekankan atau mementingkan kepemilikan barang-barang
material atau kekayaan. Teori konsumerisme tindakan individual berupa
suatu keinginan yang keluar dari dalam diri untuk membeli komoditi
tertentu yang di anggap akan memberikan suatu pengakuan identitas baru,
teori simbol yaitu satu tanda bentuk tanda yang semu natural, tidak
sepenuhnya arbirter ( bentuk begitu saja), atau termotivasi, dan teori
metafor merupakan bentuk perbandingan dua hal secara langsung, tetapi
dalam bentuk yang singkat.

1731
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR SUMBER

Buadrillard, Jean P. Masyarakat Konsumsi. Terjemahan oleh Wahyunto.
Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2004.

Cassirer, Ernest, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia.
Terjemahan, 1987.

Djelantik, A.A.M. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: MSPI (Masyarakat Seni
Pertunjukkan Indonesia), 1999.
Dhohiri, Taufiq Rohman.. Pengenalan Sosiologi, Jakarta : Ghalia Indonesia
Printing, 2006.

Gazalba, Sidi. Sistematika Filsafat. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996.

Garðarsdóttir, R., Janković, J, & Dittmar, H. Is this as good as it gets?
Materialistic values and wellbeing? Dalam H. Dittmar. Consumer
Culture, Identity, and Well-Being(pp. 71-94). Hove, East Sussex:
Psychology Press, 2004.

Gustami SP. Butir-Butir Mutiara Estetika. Yogyakarta : Prasisita, 2007.

Hestiningsih, R., Martini dan L. Santoso. Potensi Lalat Sinantropik sebagai Vektor
Mekanis Gastrointestinal Desease (kajian deskriptif dan aspek
mikrobiologi). Laporan penelitian dosen muda. Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Diponegoro, 2003.

Ishak, Zulkarnaen. Money Magics. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Matra Books,
2014.

1732
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Kartika, Dharsono Sony. Seni Rupa modern. Cetakan Pertama. Bandung :
Rekayasa Sains, 2004.

Kasser, T. The high price of materialism London : MIT Press, 2002.

Kartikasari. Dampak Vektor Lalat Terhadap Kesehatan. Universitas Sumatera
Utara, 2008.

Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Keraf, Sony. Etika Lingkungan. Jakarta : PT. kompas Media Nusantara, 2006.

Parera, Djos Daniel. Teori Semantik. Jakarta : Erlangga, 2004.

Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampai Batas-batas
Kebudayaan. Yogyakarta : Jalasutra, 2004.

Pradopo, Rahmat Djoko. Stilistika dalam Buletin Humaniora No.1 tahun
1994.Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM, 1994.

Poerwodarminto, W.J.S. Ensiklopedia Indonesia, 1950.

Ratna, Nyoman Kutha. Estetika Sastra dan Budaya, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar,2007

Richins, M. L. & Dawson, S. A consumer values orientation for materialism and
its measurement : scale development and validation. Journal of
Consumer Research, 1992.

Sanyoto, Sadjiman Ebdi. Dasar-Dasar Tata Rupa & Desain Nirmana. Cetakan
Pertama. Yogyakarta : Arti Bumi Intara, 2005.
1733
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Sidik, Fadjar. Diktat Kritik Seni, Yogyakarta : STSRI-ASRI, 1978.

Sidik, Fajar. Dkk. Disain Elementer. Cetakan IV. Yogyakarta : Sekolah Tinggi
Seni Rupa (ASRI), 1994.

Susanto, Mikke. Diksi Rupa Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta :Kanisius
anggota IKAPI, 2002.

Susanto, Mikke. Menimbang Ruang Menata Rupa. Yogyakarta : Galang Press,
2004.
____________. Diksi Rupa: Kumpulan Istilah & Gerakan Seni Rupa (edisi revisi).
Yogyakarta: Dicti Art Lab & Djagad Art House, 2011.

Sudarmadji. Dasar-dasar Kritik Seni Rupa, Jakarta; Dinas Museum dan Sejarah,
Pemerintah DKI, 1979.

Sumartono, Orisinalitas Karya Seni Rupa dan Pengakuan Internasional, dalam
SENI, 1992.

Sunatyo, A. Nirmana 1. Hand Out Mata Kuliah. Jurusan, Seni rupa : FPBS IKIP
Semarang, 2002.

Sudiarja, A.. “Susanne K. Langer : Pendekatan Baru dalam Estetika, Gramedia,
Jakarta, 1983.

___________. The Lexicon Webster Dictionary, The English Language
Institute of America, 1978.

Soedjatmiko, Haryanto. Saya Berbelanja Maka Saya Ada Cetakan I. Bandung :
Jalasutra, 2008.

1734
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Soedarsono, R.M. Metodologi Penelitian: Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, MSPI
(Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia), Bandung, 2001.

Zajuli, M. Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas
Semarang, 2001.

http://www.merdeka.com/peristiwa/rebutan-lahan-parkir-2-ormas-di-denpasar-
terlibat-bentrok.html

http://doddyestiara74.blogspot.co.id/2012/10/klasifikasi-lalat-hijau-lucilia-
sericata.html

1735
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARCS
(ATENTTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, SATISFACTION)

I Wayan Sumandya

ABSTRACT

The aim of research was to determine (1) Whether or not the application of
learning models ARCS influence on learning outcomes math class XI student of
SMK Wira Harapan of the academic year 2016/2017, (2) To determine the
students' response to the application of ARCS model of learning in mathematics.
This research was conducted on a class XI student of SMK Wira Hope in the
academic year 2016/2017. This study included quasi-experimental as well as with
Matched Group Design. The population in this study are all class XI student of
SMK Wira Harapan as many as 560 people and involved a sample of 60 people
taken by simple random sampling technique. Student learning outcomes through
mathematics achievement test. This study were analyzed by t-test, but previously
tested the prerequisites are: normality test of data distribution and homogeneity of
variance test. The results of learning achievement data analysis with significance
level of 5% was obtained = 2,188, whereas = 2,045. Thus, greater than, means that
the null hypothesis (Ho) is rejected and the alternative hypothesis (Ha) is accepted.
This, showing no effects of the application of learning model ARCS on learning
outcomes math class XI student of SMK Wira Harapan half of the school year
2016/2017. From the analysis of students' response to the application of ARCS
learning model in the study of mathematics belongs in the positive.

Keywords: ARCS Leraning Model, Task Summarizing.

1736
LATAR BELAKANG MASALAH

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern
yang mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu serta memajukan daya pikir
manusia (Depdiknas, 2006). Matematika juga merupakan sarana berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif. Matematika juga disebut sebagai ratunya ilmu atau dapat dikatakan
sebagai sumber dari disiplin ilmu yang lain. Sehingga, matematika merupakan kunci utama dari
pengetahuan-pengetahuan lain yang dipelajari di sekolah. Dengan demikian matematika menjadi
mata pelajaran yang sangat penting dalam pendidikan dan wajib dipelajari pada setiap jenjang
pendidikan.

Matematika juga merupakan mata pelajaran yang banyak berkaitan dengan konsep-konsep
yang abstrak. Konsep-konsep dalam matematika tersebut sering membingungkan siswa di dalam
mempelajari maupun memahaminya. Matematika juga menutut siswa untuk melakukan analisa
dan perhitungan-perhitungan. Sehingga, matematika bagi sebagian besar siswa masih dianggap
sebagai pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Hal tersebut, menyebabkan pelajaran matematika
tidak disukai oleh sebagian siswa. Akibatnya, siswa enggan untuk mempelajari matematika dan
mudah pesimis dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan guru. Kondisi ini,
menyebabkan hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa menjadi rendah.

Rendahnya hasil belajar yang dicapai seorang siswa juga dipengaruhi oleh berbagai faktor,
salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran.
Kecenderungan guru dalam menggunakan model pembelajaran yang bersifat tradisional masih
dapat kita rasakan hingga kini. Akibatnya, pembelajaran menjadi monoton dan kurang
menggairahkan siswa untuk aktif belajar. Dari hal tersebut, guru diharapkan dapat memilih dan
menggunakan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran. Dengan menggunakan model
pembelajaran yang tepat diharapkan dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang
memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih
hasil belajar secara optimal.

Selain model pembelajaran yang digunakan guru, motivasi belajar siswa juga berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Tingkat motivasi belajar cenderung berkorelasi positif dengan hasil
belajar artinya semakin kuat motivasi belajar, semakin baik pula hasil belajar siswa (Suciati,
2003). Selama proses pembelajaran berlangsung, guru diharapkan mampu mengelola motivasi
siswa untuk belajar. Dengan mengelola motivasi siswa, akan mendorong motivasi siswa untuk
berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas. Sehingga hasil belajar siswa dapat tercapai
secara optimal.

1737
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu model pembelajaran yang tidak hanya terfokus
pada pola penyampaian materi dan penggunaan media pembelajaran saja tetapi juga lebih
menekankan pada pengelolaan dan peningkatan motivasi belajar siswa, sehingga tercapai tujuan
dan hasil pembelajaran yang optimal. Model pembelajaran ARCS (Atenttion, Relevance,
Confidence, Satisfaction) merupakan salah satu model pembelajaran yang menitik beratkan pada
pengelolaan motivasi. Model pembelajaran ARCS mempunyai kelebihan yaitu, dalam
pembelajaran siswa diberikan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan siswa, model motivasi
yang diperkuat oleh rancangan bentuk pembelajaran berpusat pada siswa, penerapan model
ARCS meningkatkan motivasi untuk mengulang kembali materi lainnya yang pada hakekatnya
kurang menarik, dan penilaian menyeluruh terhadap kemampuan-kemampuan yang lebih dari
karakteristik siswa agar strategi pembelajaran lebih efektif. Tetapi juga memiliki kelemahan
yaitu, hasil afektif siswa sulit dinilai secara kuantitatif serta memerlukan waktu yang cukup
banyak dalam penerapannya (Hamoraon, 2010). Dengan model pembelajaran ARCS, diharapkan
dapat dipergunakan guru dalam mendesain pembelajaran yang mampu membangkitkan motivasi
belajar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan, diakui dari pihak sekolah bahwa hasil belajar
matematika siswa masih banyak yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
yaitu sebesar 76. Ada dugaan bahwa hal tersebut disebabkan oleh pembelajaran yang tidak
didasarkan pada model pembelajaran tertentu atau juga penggunaan model pembelajaran yang
kurang tepat. Selain itu, motivasi siswa yang kurang dalam mengikuti pelajaran matematika.
Berdasarkan hal tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Penerapan Model Pembelajaran ARCS (Atenttion, Relevance, Confidence, Satisfaction)
Terhadap Hasil belajar Matematika Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun
Pelajaran 2016/2017”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran
2016/2017. Penelitian ini termasuk eksperimen semu (Quasi Experiment) serta dengan Matched
Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK Wira Harapan
sebanyak 560 orang dan melibatkan sampel sebanyak 60 orang yang diambil dengan teknik
simple random sampling. Data hasil belajar siswa yang diperloeh melalui tes hasil belajar
matematika. Data hasil penelitian ini dianalisis dengan uji-t, namun sebelumnya dilakukan uji
prasyarat yaitu: uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1738
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data hasil belajar matematika siswa
yang diperoleh melalui post test yang dilaksanakan setelah pemberian perlakuan selesai dan
respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran
ARCS yang dikumpulkan melalui angket yang diisi oleh masing-masing siswa kelompok
eksperimen pada akhir perlakuan. Adapun hasil post test yang diperoleh disajikan dalam tabel
distribusi berikut:

Tabel 01 : Distribusi Frekuensi Data Kelompok Eksperimen

No. Kelas Interval Frekuensi

1 48 - 56 3

2 57 - 65 6

3 66 - 74 4

4 75 - 83 7

5 84 - 92 5

6 93 - 101 5

Jumlah 30

Tabel 02: Distribusi Frekuensi Data Kelompok Kontrol

No. Kelas Interval Frekuensi

1 35 - 41 1

2 42 - 48 6

3 49 - 55 7

4 56 - 62 3

5 63 - 69 7

6 70 - 76 6

Jumlah 24

1739
Berdasarkan hasil analisis data tersebut yang telah dilakukan, ternyata diperoleh nilai t hitung
= 2,188. Sedangkan t tabel dengan db = 29 dan taraf signifikan 5% adalah 2,045. Dengan
demikian t hitung yang diperoleh lebih besar dari nilai t tabel maka hipotesis nol ditolak dan
hipotesis alternatif diterima. Oleh karena itu dapat diinterpretasikan bahwa ada pengaruh
penerapan model pembelajaran ARCS terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI
Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran 2016/2017.

Temuan ini menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran ARCS terhadap hasil
belajar matematika siswa kelas XI Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran
2016/2017. Dengan kata lain, pembelajaran matematika dengan menggunakan model
pembelajaran ARCS memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam meningkatkan hasil
belajar matematika siswa. Dari hasil analisis respon siswa terhadap mempelajaran melalui model
pembelajaran ARCS yang dikumpulkan melalui angket pada siswa kelompok eksperimen.
Menunjukkan bahwa respon yang diberikan tergolong ke dalam kategori positif. Hal tersebut
disebabkan karena dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran
ARCS, guru dituntut untuk selalu menjaga perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran, karena
tanpa perhatian siswa pembelajaran tidak dapat berlangsung secara optimal. Dengan perhatian
dari siswa selama proses pembelajaran berlangsung diharapkan dapat menimbulkan minat yaitu
kecenderungan siswa yang menetap untuk merasa tertarik pada pelajaran atau pokok bahasan
tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu dan dapat berperan positif dalam proses
belajar mengajar selanjutnya.

Dalam model pembelajaran ARCS guru juga dituntut untuk menyesuaikan materi
pembelajaran dengan pengalaman belajar siswa pembelajaran dengan kebutuhan, minat dan
motif belajar siswa. Dengan hal tersebut diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar di
dalam diri siswa karena siswa merasa bahwa materi pelajaran yang disajikan mempunyaai
manfaat langsung secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, guru juga dituntut
menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri siswa. Dengan rasa percaya diri ini, siswa lebih aktif
dalam pembelajaran dan diharapkan mampu dalam menemukan pengetahuannya sendiri. Dan
yang terakhir dalam model pembelajaran ARCS guru dituntut membangkitkan rasa puas dalam
diri siswa. Dengan hal tersebut, diharapkan siswa merasa puas karena mampu menerapkan
keterampilan-keterampilan yang telah dipelajarinya, perasaan ini dapat meningkat rasa percaya
diri siswa yang nantinya membangkitkan semangat belajar siswa.

Dengan menerapkan model pembelajaran ARCS dalam pembelajaran matematika,
diharapkan pelajaran matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang sulit, membingungkan,
membosankan, dan tidak menarik tetapi menjadi pelajaran yang menarik, lebih terasa
1740
manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, siswa merasa percaya diri dalam mempelajarinya, serta
siswa merasa puas karena dapat menerapakan konsep-konsep dalam matematika itu sendiri.
Dengan kondisi tersebut, akan menumbuhkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya akan
meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan seperti yang telah diuraikan di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Ada pengaruh penerapan model pembelajaran
ARCS (Atenttion, Relevance, Confidence, Satisfaction) terhadap hasil belajar matematika siswa
kelas XI Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran 2016/2017; (2) Respon siswa
terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ARCS (Atenttion, Relevance,
Confidence, Satisfaction) pada siswa kelas XI Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun
Pelajaran 2016/2017 tergolong positif.

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat dikemukakan
saran-saran sebagai berikut: (1) Mengingat hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh
penerapan model pembelajaran ARCS (Atenttion, Relevance, Confidence, Satisfaction) terhadap
hasil belajar matematika siswa kelas XI Semester Ganjil SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran
2016/2017, maka disarankan pada guru khusunya guru matematika untuk menggunakan model
pembelajaran ARCS sebagai salah satu alternatif dalam merapkan model pembelajaran
matematika; (2) Karena penelitian ini dilaksanakan terbatas pada siswa kelas XI Semester Ganjil
SMK Wira Harapan Tahun Pelajaran 2016/2017, maka disarankan kepada peneliti yang menaruh
perhatian terhadap dunia pendidikan untuk mengadakan penelitian yang sama dalam ruang
lingkup yang lebih luas; (3) Karena penelitian ini dilaksanakan terbatas pada pengaruh penerapan
model pembelajaran ARCS terhadap hasil belajar matematika siswa, maka disarankan kepada
peneliti yang menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan untuk mengadakan penelitian yang
sama tetapi tidak hanya pada aspek prestasi saja melainkan aspek-aspek yang lain misalnya pada
aspek motivasi, aktivitas belajar siswa, minat dan aspek-aspek lainnya. Serta tidak hanya pada
hasil belajar matematika saja melainkan pada mata pelajaran yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, dan Supriyono. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Badudu, dan Zain. 2009. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

1741
Depdiknas. 2013. Kurikulum 2013 Kompetensi Dasar Untuk Sekolah Menengah. Jakarta :
Depdiknas
. 2016. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:
Depdiknas.
Hadi, Efran, 2015. ”Model Pembelajaran ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and
Satisfaction)”. Tersedia Pada http://syu3f.blogspot.com/2010/03/model-pembelajaran-
arcs-attention.html (diakses tanggal 22 Oktober 2015).
Hadi, Sutrisno. 2007. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset.
Hamoraon. 2015. “Model ARCS Keller” Tersedia Pada
http://eduzona.blogspot.com/2010/10/model-arcs-keller.html (diakses pada 29 Oktober
2015).
Nurkancana. 1992. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Setyosari, H Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Dan Pengembangan. Jakarta: Kencana.
Suciati, dkk. 2003. Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sunartombs. 2015. ”Pengertian Hasil belajar”. Tersedia Pada
http://sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/ (diakses pada 29
Desember 2015).
Tim Penyusun Kamus. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

1742
PENGARUH PEMBELAJARAN BERBANTUAN MEDIA INOVATIF DAN
KURIOSITAS SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS
VIII SMP NEGERI 3 ABIANSEMAL

I Gusti Agung Ngurah Trisna Jayantika & Edy Hermawan

ABSTRACT

The main objective of this studywas to determine the effec of inovative media assisted learning
toward he learning outcomes of mathematics with regard curiosity as mderator. The population
of this research is all students in class VIII SMP Negeri 3 Abiansemal, with the number of
sample obtained as many as 48 students to experimental class and 45 for control class. Sampling
was done by simple random sampling technique where randomization is done on a class rather
than individual. Data were collected by questionnaire curiosity and mathematic achievement test.
Data were analyzed using two way analysis of variance. The results showed that: (1) there were
differences in mathematics learning outcomes of students who take an innovatives media assisted
learning with students who follow the conventional learning, where the results obtained F test of
4,595 with sig. = 0,036, (2) there were differences in mathematics learning outcomes between
students who have high curiosity with students who have a low curiosity with a F value of
579,509 and sig. = 0,000,(3) there was an interaction between learning model with curiosity
toward mathematics learning outcomes, with F value of 14,586 and sig. = 0,000, (4) mathematics
learning outcomes of students who take innovative media assisted learning better than students
who follow conventional learning to students with high curiosity, wth Q-count of 2,96 more than
Q-table of 2,82, (5) mathemtics learning outcomes of students who take conventional learning
better than students who take an innovative media assisted learning to students with low
curiosity, with Q-count of 3,70 more than Q-table of 2,82.

Key Words: innovative media assisted learning, curiosity and mathematics learning outcomes

PENDAHULUAN
Tantangan pembangunan Indonesia di masa mendatang makin dihadapkan pada
masalah yang sangat kompleks. Salah satu penyebabnya adalah semakin meningkatnya tuntutan
bangsa dalam memenuhi kebutuhan serta keinginannya untuk maju. Kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi turut mewarnai dunia pendidikan dewasa ini. Tantangan tentang peningkatan
mutu, relevansi dan efektivitas pendidikan sebagai tuntutan nasional sekolah dengan
perkembangan dan kemajuan masyarakat, berimplikasi secara nyata dalam program pendidikan
dan kurikulum sekolah.
Tujuan dari program kurikulum dapat tercapai dengan baik jika programnya didesain
secara jelas dan aplikatif. Dalam hubungan inilah para guru dituntut untuk memiliki kemampuan
mendesain programnya dan sekaligus menentukan strategi instruksional yang harus ditempuh.

1743
Para guru harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan metode mengajar untuk
diterapkan dalam sistem pembelajaran yang efektif.
Perubahan paradigma menuntut terjadinya perubahan pada proses pembelajaran di
kelas. Perubahan pembelajaran yang dimaksud adalah terjadinya pergeseran dari teacher-
centered ke student-centered dimana siswa diharapkan aktif di kelas. Namun pada penerapannya
di lapangan tidak semulus teorinya karena konsep matematika bersifat abstrak. Dengan kondisi
ini diduga tahapan-tahapan tersebut di atas tidak dapat berjalan dengan maksimal utamanya pada
tahapan mengamati dan menanya karena untuk mampu menyampaikan pertanyaan siswa tentu
harus mampu minimal membayangkan apa yang sedang dibahas sehingga dalam pembelajaran di
kelas diperlukan suatu media yang mampu menjembatani konsep tersebut agar lebih real.
Media pembelajaran adalah suatu alat bantu yang digunakan sebagai perantara
komunikasi dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran akan lebih
efektif jika memiliki pemahaman bagaimana pebelajar belajar. Salah satu media pembelajaran
yang dapat dimanfaatkan adalah media komputer berbasis geogebra. Media komputer sebagai
media pembelajaran mampu menampilkan konsep-konsep yang awalnya bersifat abstrak menjadi
lebih real serta dengan tampilan yang lebih menarik mampu menarik minat siswa untuk ikut
dalam proses eksplorasi. Aplikasi media inovatif dalam pembelajaran di kelas diharapkan
mampu memperbaiki proses pembelajaran di kelas menuju pembelajaran yang lebih inovaatif
yang menekankan pada partisipasi aktif pebelajar. Dengan proses yang baik cenderung akan
memberikan hasil yang baik pula sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) perbedaan hasil belajar
matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media inovatif dna siswa
yang mengikuti pembelajaran konvensional, (2) perbedaan hasil belajar matematika antara siswa
dengan kuriositas tinggi dan siswa dengan kuriositas rendah, (3) pengaruh interaksi antara model
pembelajaran dan kuriositas siswa terhadap hasil belajar matematika, (4) perbedaan hasil belajar
matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media inovatif dan siswa
yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa yang memiliki kuriositas tinggi, (5)
perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media
inovatif dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa yang memiliki
kuriositas rendah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi exsperiment). Penelitian ini
memiliki batasan tertentu, sehingga tidak semua variabel yang berpengaruh terhadap varibel
terikat dapat dikontrol. Selain itu, penentuan sampel juga tidak bisa dilakukan dengan random
penuh. Berdasarkan jenis penelitian yang dipilih, maka desain penelitian yang akan digunakan
adalah post test only design. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa penelitian eksperimen semu
tidak memungkinkan dilakukan random subyek secara penuh.
Pengujian hipotesis dilakukan analisis varians dua jalur dengan uji F pada taraf
signifikansi 5%. Teknik analisis varians dua jalur ini digunakan untuk mengetahui pengaruh
pembelajaran berbantuan media inovatif dan kuriositas siswa. Jika hasil pengujian hasil analisis
varians dua jalur menunjukkan adanya pengaruh serta terdapat interaksi antara pembelajaran dan
kuriositas siswa terhadap hasil belajar matematika siswa maka akan dilajutkan dengan uji lanjut
yang menggunakan uji tukey (Q).

1744
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data tentang kuriositas dan hasil belajar
matematika.
Ringkasan hasil perhitungan data kuriositas dan hasil belajar matematika tersaji pada
tabel berikut.
Tabel 1. Ringkasan Hasil Perhitungan Data Penelitian
Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Variance
Deviation
A1B1 16 15 82,50 97,50 1430,00 89,37 4,61 21,25
A1B2 16 30 40,00 70,00 877,50 54,84 9,19 84,56
A2B1 16 20 75,00 95,00 1370,00 85,62 5,36 28,75
A2B2 16 30 40,00 70,00 952,50 59,53 8,43 71,02
Valid N 16
(listwise)

Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, dari hasil uji
analisis varians dua jalur didapatkan nilai F sebesar 4,595 dengan nilai sig. = 0,036 < 0,05. Hasil
ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan hasil belajar
matematika siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media inovatif dengan siswa yang
mengikuti pembelajaran konvensional.
Kedua, dari hasil uji analisis varians dua jalur didapatkan nilai F sebesar 579,509 dengan
nilai sig. = 0,000, dimana nilai sig. yang didapatkan kurang dari 0,05. Hasil ini menunjukkan
bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya terdapat perbedaan hasil belajar matematika
siswa yang memiliki kuriositas tinggi dengan siswa yang memiliki kuriositas rendah.
Ketiga, dari uji analisis varians dua jalur untuk mengetahui terdapatnya interaksi antara
model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil belajar matematika didapatkan nilai F
sebesar 14,586 dengan nilai sig. = 0,000 dimana nilai sig. yang didapatkan kurang dari 0,05. Hal
ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya bahwa terdapat interaksi
antara model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil belajar matematika. Berikut adalah
grafik interaksi model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil belajar matematika.

1745
Dengan terdapatnya interaksi antara model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil
belajar matematika, selanjutnya akan dilakukan uji lanjut untuk menentukan kelompok dengan
hasil belajar yang lebih baik untuk tingkat kuriositas tinggi maupun kuriositas rendah. Uji lanjut
dilakukan dengan menggunakan uji Tukey.
Perhitungan uji Tukey untuk hipotesis Keempat sebagai berikut.
_ _
YA1B1  YA 2 B189,38  85,63 3,75
Q    2,96
RJKD 25,736 1,27
n 16
Dengan melihat tabel Q dengan dk = 60, k = 2 pada taraf signifikansi 0,05, diperoleh nilai
Q-tabel = 2,82. Q-hitung yang didapatkan adalah 2,96 lebih dari Q tabel = 2,82. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan
media inovatif lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional untuk siswa
dengan kuriositas tinggi.
Perhitungan uji Tkey untuk hipotesis kelima sebaga berikut.
_ _
YA2 B 2  YA1B 259,53  54,84 4,69
Q    3,70
RJKD 25,736 1,27
n 16
Dengan melihat tabel Q dengan dk = 60, k = 2 pada taraf signifikansi 0,05, diperoleh Q-
tabel sebesar 2,82. Q-hitung yang didapatkan sebesar 3,70 yang lebih dari Q-tabel = 2,82. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media inovatif
untuk siswa dengan tingkat kuriositas rendah.
PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan maka dapt ditarik kesimpulan
sebagai berikut.
Pertama, nilai F dari uji analisis varians sebesar 4,595 dengan nilai sig. = 0,036 < 0,05.
Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran berbantuan media inovatif dengan siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional.
Kedua, nilai F dari uji analisis varians sebesar 579,509 dengan nilai sig. = 0,000 < 0,05.
Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara
siswa yang memiliki kuriositas tinggi dengan siswa yang memiliki kuriositas rendah.
Ketiga, dari uji analisis varians dua jalur untuk mengetahui terdapatnya interaksi antara
model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil belajar matematika didapatkan nilai F
sebesar 14,586 dengan nilai sig. = 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi
antara model pembelajaran dengan kuriositas terhadap hasil belajar matematika.
Keempat, dari uji lanjut dengan uji Tukey didapatkan Q-hitung sebesar 2,96. Jika
membandingkan dengan Q-tabel sebesar 2,82 maka Q-hitung lebih dari Q-tabel. Hasil ini
menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan
media inovatif lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional untuk siswa
dengan kuriositas tinggi.

1746
Kelima, dari uji lanjut uji Tukey didapatkan Q-hitung sebesar 3,70. Jika dibandingkan
dengan Q-tabel sebesar 2,82 maka Q-hitung lebih dari Q-tabel. Hasil ini menunjukkan bahwa
hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional lebih baik daripada
siswa yang mengikuti pembelajaran berbantuan media inovatif untuk siswa dengan kuriositas
rendah.
Berdasarkan simpulan penelitian yang telah dipaparkan, maka dapat diajukan beberapa
saran guna meningkatkan kualitas pembelajaran matematika sebagai berikut.
Kepada guru, guru diharapkan menyadari bahwa pembelajaran inovatif mampu
memberikan inovasi dalam pembelajaran sehingga diharapkan konsep matematika yang bersifat
abstrak dapat dipahami siswa dengan bantuan media inovatif.
Kepada peneliti lainnya, Penelitian ini telah dilakukan dengan maksimal dengan hasil
yang maksimal pula, namun peneliti menyadari masih terdapat kekurangan sehingga perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut. Adapun beberapa hal yang dipandang kurang dalam penelitian
ini adalah Penelitian ini dilaksanakan hanya terbatas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3
Abiansemal, sehingga sangat diharapkan bagi penulis lain yang berminat untuk melanjutkan
penelitian ini untuk populasi yang lain.

DAFTAR RUJUKAN
Candiasa, I.M.2010.Statistik Univariat dan Bivariat Disertai Aplikasi SPSS.Singaraja: Unit
Penerbitan Universitas Pendidikan Ganesha

Hamalik, Oemar. 2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Asara

Mulyasa.2007. implementasi Kurikulum 2004: Perpaduan Pembelajaran KBK. Bandung: Rosda

Parwati, dkk.2013.Pendampingan Implementasi Media Pembelajaran Inovatif Pada Sekolah
Dasar di Kecamatan Penebel. Tidak diterbitkan. Singaraja:Undiksha

Slameto. 1995. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2001. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syah, Muhibin.2006. Psikologi belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

1747
MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI

JEJAK-JEJAK SEJARAH

Oleh: I Gede Wayan Wisnuwardana

ABSTRACT

Character education is an effort to tackle the current multidimensional crisis. This
is done by cultivating values in education. Curriculum center formulates at least
18 values of character education, ie religious, honest, tolerance, discipline, hard
work, creative, independent, democratic, curiosity, spirit of nationality, love of the
homeland, appreciate achievement, friendly communicative, Love to read, care
about the environment, social care, and responsibility. In historical education,
these values can be integrated in learning. History education plays a role in
character education because history lessons has a strategic meaning in the
formation of the character and civilization of a dignified nation and in the
formation of Indonesian people who have a sense of nationality and love of the
country. The strengthening of history lessons as character education can be
applied from the objectives, the implementation of learning, the material, the
sources and the media, up to the assessment.

Keywords: Character Education, History Learning

PENDAHULUAN

Pendidikan karakter saat ini memang menjadi itu utama pendidikan, selain manjadi
bagain dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter inipun diharapkan
mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Dalam UU No 20
Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan
1748
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Selanjutnya pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas
pendidikan formal, nonformal, dan informal dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan, pendidikan informal
sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan.
Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolaj hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari
30%, selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika
dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30 %
terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan
kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetansi dan pemben-tukan karakter peserta
didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang
tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar dan
pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan
pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yatu memadukan dan mengoptimalkan
kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam
hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil
belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.

Berdasarkan kondisi tersebut pendidikan karakter mendapatkan posisi yang sangat
penting dalam tujuan pendidikan di negara kita, sebagai upaya untuk memberikan penyadaran
tentang karakter bangsa dan menanamkannya dalam hati sanubari generasi penerus bangsa.
Berbicara tentang pentingnya pendidikan karakter juga bukan hal yang sama sekali baru, dalam
praktik di lapangan sering terjadi pertentangan tentang bagaimana sebenarnya pola pendidikan

1749
karakter di Indonesia, apakah mandiri sebagai suatu disiplin ilmu, ataukah terintegrasi menjadi
bagian dari setiap mata pelajaran dalam kurikulum persekolahan.

Inovasi yang dikembangkan dalam praktik pembelajaran adalah memasukkan nilai-nilai
pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran mulai dari penyusunan perangkat pemebelajaran
seperti RPP berkarakter yang dalam pelaksanaannya terkadang para guru melupakan nilai-nilai
karakter tersebut. Sebagai salah satu bidang studi, pendidikan sejarah menjadi sangat relevan
dalam pembelajaran pendidikan karakter. Untuk dapat membentuk karakter pendidikan sejarah
harus diarahkan pada upaya rekonstruksi dan reaktualisasi nilai-nilai luhur dalam setiap narasi
sejarah sebagai upaya penanaman pendidikan karakter bangsa.

PENDIDIKAN KARAKTER

Secara historis-genealogis, pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-
spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966).
Ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter menurut Foerster. Pertama, keteraturan interior
dengan setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap
tindakan. Kedua, koheransi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.
Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas sesorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang
mengintenalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Itu dapat dilihat
lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh oleh atau desakan dari pihak lain.
Keempat keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini
apa yang dipandang baik. Kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang
dipilih. Karakter itulah yang menentukan bentuk seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Selain itu pula pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai
“the deliberate use of all dimensions of scholl life to foster optimal character development”.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus

1750
dilibatkan termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau
kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh
warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku
warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai
sebagai berikut : “character education is the deliberate effort to help people understand, care
abaout, and act upon core athical values. When we think abaout the kind of character we want
for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, and then do what
they belive to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan
guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak
peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru , cara guru berbicara atau
menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama
dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak,
supaya menjadi manusia baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik bagi suatu
masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang baik dipengaruhi
oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam
konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang
bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi
muda.

Oleh karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila, dan
landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928,
ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka
bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka
dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukkan suatu kebutuhan
yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralism tersebut. Kenyataan sejarah dan
1751
sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti symbol “Bhineka Tunggal Ika” pada
lambing negara Indonesia.

Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal,
dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke
depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan
bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi
sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga
menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan budaya bangsa.

POTENSI PENDIDIKAN SEJARAH DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam peradaban bangsa yang bermartabat
serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Dengan karakter materi yang dinyatakan dalam Peraturan Mendiknas, pemdidikan sejarah, baik
sebagai bagian IPS mau pun sebagai mata pelajaran merupakan salah satu mata pelajaran yang
memiliki potensi besar dalam mengembangkan pendidikan karakter. Meskipun program sejarah
merupakan salah satu bagian dari orkestra pendidikan karakter, materi pendidikan sejarah yang
khas dan penuh dengan nilai memiliki potensi paling kuat untuk memperkenalkan kepada peserta
didik tentang bangsa dan aspirasinya di masa lampau. Melalui pelajaran sejarah peserta didik
dapat melakukan kajian mengenai apa dan bila, mengapa, bagaimana, serta akibat apa yang
timbul dari jawaban masyarakat bangsa di masa lampau tersebut terhadap tantangan yang mereka
hadapi serta dampaknya bagi kehidupan pada masa sesudah peristiwa itu dan masa kini. Materi
pendidikan sejarah mampu mengembangkan potensi peserta didik untuk mengenal nilai-nilai
bangsa yang diperjuangkan pada masa lalu, dipertahankan dan disesuaikan untuk kehidupan
masa kini, dan dikembangkan lebih lanjut untuk kehidupan masa depan. Bangsa Indonesia masa
kini beserta seluruh nilai dan kehidupan yang terjadi adalah hasil perjuangan bangsa pada masa
lalu dan akan menjadi modal untuk perjuangan kehidupan pada masa mendatang.

1752
Materi sejarah memberikan informasi mengenai keberhasilan dan kegagalan bangsa
dalam menjawab tantangan zaman sehingga menjadi milik bangsa masa kini. Tindakan apa yang
dilakukan para pelaku sejarah yang tidak berhasil mencapai tujuan dan perbuatan apa yang
mereka lakukan yang berhasil mencapai tujuan. Materi yang tercantum dalam cerita sejarah
bukan hanya cerita sukses tetapi juga cerita kegagalan adalh hal yang terjadi dalam kehidupan
nyata manusia. Kedua sisi kehidupan itu, keberhasilan dan kegagalan menjadi pelajaran penting.
Dengan sifat meteri yang demikian, dalam mengembangkan pendidikan karakter, materi
pendidikan sejarah merupakan mengembangkan fungsi pendidikan sjarah sebagai “bank of
examples for solving present problems and chartering future action” (Wineburg, 2001) terkikis
oleh suasana batin bangsa dan keterbatasan kebijakan pendidikan yang menempatkan
pengetahuan di atas segalanya.

Selanjutnya, sebagaimana yang dikemukakan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo (1997), salah
satu fungsi belajar sejarah untuk mengenal siapa diri kita sebagai bangsa. Pengenalan jati diri
yang dikemukakan Sartono sangat penting sebagaimana dikatakan Cartwright (1999:4) bahwa
“our personal identity is the most important thing we posess” dan kehilangan jati diri berarti
kehilangan eksisitensi bangsa. Sebagaimana dikemukakan Cartwright identitas pribadi atau
kelompok tersebut “defines who and what we are. The way we feel about ourselves and the way
other people see us are all vital elements in the composition of our individual personality”.
Dalam fungsi ini materi pendidikan sejarah harus mampu mengembangkan memori kolektif
sebagai bangsa pada diri peserta didik.

Bangsa Indonesia dilahirkan oleh para pemimpin bangsa yang mengembangkan
kepemimpinan dan mendapt legalitas dari masyrakat Nusantara. Para pemimpin bangsa tersebut
bukan berasal dari organisasi politik tradisional (kerajaan) yang telah ada di nusan-tara tetapi
keberadaan negara-negara Nusantara itu telah menjadi aspirasi dan inspirasi mereka untuk
membangun sebuah negara dan bangsa. Mereka adalah pemimpin bangsa atas dasar organisasi
baru yaitu organisasi agama, ekonomi, politik, sosial, budaya yang menyebar dan berkembang di
wilayah nusantara menjadi penyatu dalam gerak masyarakat. Tekad untuk mendirikan bangsa
dan negara yang dimulai sejak tahun 1928 dilanjutkan dengan perjuangan pada masa-masa
berikutnya sampai dengan proklamasi kemerdekaan oleh para pemimpin organisasi-organisasi
1753
baru ini, kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah dan seluruh anggota bangsa dari negara
Republik Indonesia. Oleh karena itu, melalui materi pendidikan sejarah peserta didik belajar
mengenal bangsanya dan dirinya.

Dalam membangun memori kolektif bangsa perlu pemikiran yang lebih mendalam
mengenai materi pendidikan sejarah akan mampu membangun memeori kolektif sebagai bangsa
hasil belajar apabila ada proses identifikasi yang kuat dari peserta didik terhadap peristiwa
sejarah yang dipelajari. Untuk itu ada beberapa criteria dalam memilih materi pendidikan
sejarah: Pertama, identifikasi yang kuat terjadi apabila setiap peserta didik merasakan adanya
keterwakilan nenek moyang dalam perjuangan membangun bangsa ini sejak zaman yang paling
tua yang dapat diketahui dari sumber sejarah dari suatu unit pemerintah atau budaya. Unit
pemerintahan mungkin saja pada satuan di bawahnya (kabupaten/kota atau bahkan kecamatan).
Unit budaya diwakili oleh suku, tentu saja kedua criteria ini tidak harus digunakan secara
terpisah atau pun keduanya harus terpenuhi. Apabila salah satu dari kriteria ini terpenuhi
terutama unit pemerintahan maka hal tersebut dapat dianggap cukup.

Kedua, periode yang penting dalam perwakilan itu adalah sejak kebangkitan nasional.
Periode ini penting karena perjuangan pada masa ini lebih merakyat, pemimpin perjuangan tidak
terpilih karena keturunan/darah tetapi lebih pada kemampuan, arah perjuangan lebih jelas dan
tegas pada pembentukan negara dan bangsa Indonesia.

Ketiga, perlu keseimbangan peristiwa sejarah yang dipelajari peserta didik antara
peristiwa sejarah yang dipelajari peserta didik antara peristiwa yang terjadi di wilayah tempat
tinggalnya (dalam unit propinsi atau di bawahnya) dengan peristiwa yang terjadi di daerah lain.
Pengkajian dan pemilihan tersebut harus berani dalam menentukan berupa penambahan atau
penghapusan peristiwa-peristiwa sejarah yang secara tradisional ada pada kurikulum.

Keempat, peristiwa sejarah yang terjadi di lingkungan propinsi, kabupaten/kota atau di
bawahnya yang dinyatakan/dianggap sebagai peristiwa sejarah nasional memiliki prioritas untuk
dipilih tetapi peristiwa sejarah yang dinyatakan/dianggao sebagai peritiwa sejarah lokal dapat
dipilih untuk dijadikan pokok bahsan tambahan apabila peristiwa sejarah tingkat nasional
tidak/belum diketahui.
1754
Kelima, organisasi materi pendidikan sejarah di mulai dari peristiwa yang terjadi di
lingkungan terdekat pada diri peserta didik smapai ke tingkat nasional dan internasional. Materi
pendidikan sejarah harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal
masyarakat terdekatnya (dari tinjauan historis) sampai kepada bangsanya dan ummat manusia
(sejarah kota/kabupaten, sejarah propinsi, sejarah nasional).

Berdasarkan kriteria yang dikemukakan di atas dirasakan perlu ada peninjauan ulang
untuk pokok bahasan/materi pokok pendidikan sejarah untuk SD/MI dan SMP/MTs. Peninjauan
ulang itu harus menjawab pertanyaan apa kaitan kesinambungan antara peristiwa sejarah yang
dipelajari di SD dengan yang di SMP: apakah merupakan perluasan wilayah, penambahan
peristiwa atau pendalaman. Pertanyaan ini harus dijawab dengan penuh kehati-hatian karena
tingkat kemampuan peserta didik SD kelas 1-4 berbeda dibandingkan dengan tingkat
kemampuan peserta didik kelas 5-6, dan dapat dikatakan peserta didik kelas 5-6 SD memiliki
jenjang operasional yang sama dengan anak SMP.

Sesuai dengan tiga konsep waktu sejarah, materi pendidikan sejarah yang bercerita
tentang perjuangan manusia di masa lampu harus memiliki potensi untuk dipelajari dan
diterapkan dalam kehidupan masa kini. Pemanfaatan informasi yang diperoleh dari pendi-dikan
sejarah bagi kehidupan masa kini menjadi sangat penting untuk memaksimalkan potensi
pendidikan sejarah sebagai pelajaran bagi generasi masa kini, sebagaimana dinyatakan oleh
Borries (Stearns, Sexas dan Weinburg, 2000:247).

morally judge historical events according to the standards of human and civil rights;
explain the situation in the world today and find out the tendencies of change;
aknowledge the traditions, characteristics, values, and tasks of our nation and society;
values the preservation of historical relics and old buildings; internalize basic
democratic value.

1755
Atas dasar apa yang telah dikemukakan jelas terlihat bahwa materi pendidikan sejarah
sangat potensial bahkan esensial untuk mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Untuk itu materi pendidikan sejarah harus berubah dari materi yang kaya fakta tapi kering nilai
menjadi materi yang mencakup materi yang dapat menjelaskan kenyataan kehidupan masa kini,
arah perubahan yang sedang terjadi, tradisi, nilai, moral, semangat perjuangan yang hidup di
masyarakat ketika suatu peristiwa sejarah terjadi dan masih diwariskan hingga masa kini. Tentu
saja pernyataan ini tidak meniadakan potensi materi lain yang juga harus bersama-sama
pendidikan sejarah berupaya bersama untuk mengembangkan pendidikan karakter

REVITALISASI PENDIDIKAN SEJARAH UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER

Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa kebijakan kurikulum yang ditentukan
menempatkan pendidikan karakter sebagai pendidikan yang dilaksanakan melalui semua mata
pelajaran dan semua jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah, dan tinggi). Meskipun
demikian, pembahasan mengenai peran pendidikan sejarah tetap diperlukan mengingat berbagai
penyesuaian dan pengembangan dalam tujuan dan materi pendidikan sejarah harus dilakukan.
Lagipula posisi kurikulum pendidikan sejarah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
berbeda mengingat fungsi dan tujuan pendidikan dasar berbeda dari pendidikan menengah.

Pada jenjang pendidikan dasar pendidikan sejarah merupakan bagian dari pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial, kedudukan ini sama dengan kedudukan di kurikulum SMK. Sedangkan
di SMA, pendidikan sejarah mejadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Perbedaan tersebut
disebabkan oleh perbedaan fungsi materi sejarah sebagai media pendidikan. Di jenjang
pendidikan dasar materi pendidikan sejarah memiliki peran yang sangat berat dalam memupuk
rasa kebangsaan melalui pengembangan “collective memory” sebagai bangsa. Selain itu, pada
jenjang pendidikan dasar materi pendidikan sejarah harus dijadikan materi pendidikan bagi
seluruh anak bangsa yang mengikuti jenjang pendidikan dasar. Artinya, materi pendidikan harus
dipelajari seluruh peserta didik selama 9 tahun sehingga merteka memiliki memori kolektif
sebagai suatu bangsa yang cukup, berpikir dan bersikap sebagai warganegara yang bertanggung
jawab, bersikap kreatif dan produktif, memiliki rasa ingin tahun dan kemampuan belajar
1756
sepanjang hayat. Oleh karena itu, tujuan pendidikan sejarah (dalam IPS) memiliki tugas
mengembangkan pengetahuan dasar tentang peristiwa sejarah di tanah air yang diperlukan untuk
membangun memori kolektif sebagai bangsa, memiliki wawasan dan cara pandang sebagai satu
bangsa, berkemampuan untuk mengembangkan kehidupan dirinya, masyarakat, dan bangsanya
dalam suatu kehidupan yang disiplin, produktif, bertanggungjawab, demokratis, dan sehat. Untuk
itu maka revitalisasi pendidikan sejarah meliputi tujuan, materi pembelajaran, proses
pembelajaran, dan asesmen hasil belajar.

TUJUAN PENDIDIKAN SEJARAH

Tujuan pendidikan sejarah di pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) untuk dapat
mengembangkan nilai dan karakter bangsa pada peserta didik adalah: (1) Mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman rentang berbagai peristiwa sejarah penting dan esensial untuk
membangun memeori kolektif sebagai bangsa; (2) Mengembangkan semangat kebangsaan; (3)
Mengembangkan daya berpikir kritis dan kreatif; (4) Mengembangkan rasa ingin tahu; (5)
Preservasi kecermelangan masa lalu; (6) Membangun kejujuran, kerja keras, dan tanggung
jawab; (7) mengembangkan nilai dan sikap kepahlawanan, kepemimpinan, dan inspirasi; (8)
mengembangkan persahabatan dan kemampuan berkomunikasi; (9) mengembangkan
kemampuan mancari, mengolah, mengemas, dan mengkomunikasikan informasi.

Pada pendidikan sejarah di SMA/MA tujuan pendidikan sejarah sudah berkembang
mengarah kepada pemahaman secara mendalam berbagai peristiwa yang dianggap penting untuk
membangun kemampuan berpikir kritis, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, kepedulian sosial
dan semangat kebangsaan. Sesuai dengan kebijakan mengenai wajib belajar sembilan tahun dan
kenyataan bahwa hanya sebagian saja dari masyarakat Indonesia yang mampu mengikuti
pendidikan di SMA maka pendidikan sejarah di SMA sudah lebih terarah kepada persiapan bagi
mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka yang mengikuti pendidikan sejarah

1757
adalah mereka yang dianggap memiliki perhatian dan minat khusus terhadap sejarah. Pendidikan
sejarah tidak lagi menjadi pendidikan untuk semua peserta didik.

Atas dasar pemikiran tersebut maka tujuan pendidikan sejarah di SMA adalah: (1)
Mengembangkan kemampuan berpikir kronologis, kritis, dan kreatif; (2) Membangun kejujuran,
kerja keras, dan tanggung jawab; (5) Mengembangkan rasa ingin tahu; (6) Mengembangkan nilai
dan sikap kepahlawanan serta kepemimpinan; (7) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi;
(8) Mengembangkan kemampuan mencari, mengolah, mengemas, dan mengkomunikasikan
informasi.

Tentu saja jumlah butir tujuan bukanlah suatu indikasi tingkat kedalaman atau kesulitan
pelajaran. Pada jenjang SMA pendalaman suatu peristiwa sejarah sudah menjadi suatu
keharusan. Melalui pendalaman tersebut peserta didik mampu menemukan nilai-nilai dari suatu
peristiwa sejarah. Mereka dapat memantapkan nilai tadi melalui diskusi kelas dan melakukan
upaya internalisasi nilai-nilai.

MATERI PENDIDIKAN SEJARAH

Tujuan pendidikan sejarah di jenjang pendidikan dasar memberikan rambu-rambu
mengenai pemilihan peristiwa menjadi pokok bahasan. Dengan rambu-rambu ini maka peristiwa
sejarah terpilih harus memberikan kesadaran kepada diri peserta didik tentang bangsa ini, nilai-
nilai yang diperjuangkan bangsa, semangat persatuan yang mengalami berbagai tantangan dan
hambatan tetapi selalu dapat diselesaikan dengan baik. Pemilihan peristiwa itu harus dimulai dari
peristiwa yang paling dekat dengan lingkungan peserta didik, meluas hingga ke peristiwa yang
bersifat nasional.

Kedalaman pengetahuan dan pemahaman suatu peristiwa bukan tujuan utama tetapi
keluasan cakupan peristiwa adalah sangat penting. Membangun suatu memori kolektif bangsa
harus memperhatikan keberimbangan peristiwa satu daerah dengan daerah lainnya sehingga
setiap warga mengenal adanya perjuangan daerah lain dalam mendirikan, mempersatukan, dan

1758
mengembangkan kehidupan kebangsaan (tidak lagi bersifat Jawa Sentris sebagaimana yang
terjadi pada saat ini).

Pemilihan peristiwa sejarah untuk dijadikan pokok bahasan dalam kurikulum sejarah
sudah lebih berdasarkan prinsip ketertarikan peserta didik pada suatu peristiwa dan
kebermaknaan suatu peristiwa dalam mengembangkan tujuan. Pokok bahsan tidak lagi menjadi
daftar “entry” peristiwa sejarah yang tersebar sedemikian banyak sebagaimana layaknya sebuah
encyclopedia. Peristiwa penting penting sejarah nasional dan sejarah daerah haruslah dikemas
dalam “strand” yang dinamakan oleh Waterworth (2000:19) sebagai kemasan yang
“menampung atau memperluas apresiasi peserta didik terhadap peristiwa sejarah yang
dipelajarinya”.

Atas dasar pemikiran tersebut maka peristiwa-peristiwa sejarah dikemas dalam “stands”
sebagai berikut: (1) asal usul dan warisan bangsa Indonesia dan dunia; (2) tokoh dan hari besar
bangsa; (3) kehidupan awal kenegaran nasyarakat Indonesia; (4) awal kehidupan awal
kenegaraan masyarakat Indonesia modern; (5) kelahiran negara dan bangsa Indonesia modern;
(6) perkembangan kehidupan pemerintahan negara dan bangsa Indonesia kini; (7) peran bangsa
Indonesia dalam membangun masyarakat dunia; (8) kehidupan bangsa Indonesia masa kini dan
perannya dalam perdamaian dunia.

INTEGRASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM KURIKULUM SD/MI,
SMP/MTS, DAN SMA/MA

Pengintegrasian atau mungkin lebih tepat disebut “aligment” adalah suatu proses
memperkaya mata pelajaran Sejarah yang sedang dilaksanakan dengan nilai dalam Pendidikan
Karakter. Proses tersebut dilakukan melalui langkah-langkah berikut: Pertama, memasukkan
nilai terpilih dari Pendidikan Karakter ketrampilan dalam silabus pelajaran IPS dan Sejarah jika
mata pelajaran sejarah untuk masing-masing kelas tersebut dilakukan oleh seseorang guru maka
proses memasukkan nilai dilakukan secara individual tetapi guru tersebut harus tetap menjamin
keajegan organisasi horizontal dengan kelas lain dan mata pelajaran serta keajegan vertikal.

1759
Kedua, memasukkan nilai pendidikan Karakter dalam Rencana Pelaksanaan Pem-
belajaran (RPP) yang dikembangkan guru sejarah. Format yang telah digunakan oleh satuan
pendidikan dapat digunakan oleh satuan pendidikan dapat digunakan tetapi diperkaya dengan
menambah kolom nilai. Selanjutnya perlu diingat bahwa dengan adanya nilai yang ditambahkan
maka: (1) Tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran harus diperkaya dengan penguasaan
nilai, (2) Proses pembelajaran (metoda dan langkah) yang dipilih harus sesuai untuk
mengembangkan nilai melalui proses belajar siswa aktif dengan pendekatan pembelajaran tidak
langsung (indirect teaching).

Ketiga, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP dengan memperhatikan proses
pembelajaran untuk penguasaan ketrampilan dan internalisasi nilai. Keempat, melaksanakan
penilaian hasil belajar.

Proses Pembelajaran

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, belajar aktif adalah konten kurikulum yang
termasuk dalam katagori ketrampilan (intelektual dan psikomotorik) dan nilai serta sikap. Konten
kurikulum dalam kedua kategori ini berbeda dari konten pengetahuan. Konten pengetahuan
adalah konten yang dipelajari tetapi sekaligus digunakan sebagai wahana atau media untuk
mengembangkan konten ketrampilan dan sikap serta nilai. Dengan perkataan lain, ketiga
kelompok konten tersebut (pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap) terintegrasi dalam
kegiatan pembelajaran dan dalam rancangan kurikulum, silabus, dan RPP. Artinya, konten yang
dikatagorikan sebagai nilai dan sikap hanya dapat dikembangkan dengan baik melalui
pembelajaran mengenai pengetahuan melalui aktivitas belajar aktif tetapi dalam suatu proses
pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Dengan perkataan lain, ketika terjadi proses
pembelajaran mengenai pengetahuan yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah maka pada
saat bersamaan dikembangkan penanaman nilai dan sikap.

Sebagaimana dikatakan oleh Bornwell dan Eison (1991) dalam pengembangan ada 5 hal
yang perlu diperhatikan, yaitu

1760
(1) student involvement beyond more listening; (2) more emphasis on the development of
skills and less on transmittal of information; (3) student involvement in higher order
thinking skills; (4) student involvement in activities, such as reading, discussing, writing;
and (5) an emphasis on students‟ exploration of values and attitudes.

Rancangan kurikulum, terutama organisasi konten kurikulum harus memperhitung-kan
kelima hal di atas. Untuk unsur pertama dikembangkan dalam bentuk proses pembela-jaran.
Sedangkan keempat unsur lain perlu secara eksplisit tercantum dalam organisasi konten
kurikulum.

Pada pengembangan ini perlu “interwoven” konten pengetahuan yang terdapat pada
pokok bahasan/topik, ketrampilan belajar aktif yang harus dikembangkan dan nilai serta sikap.
Ketrampilan belajar aktif perlu dirinci sehingga pengembangan ketrampilan itu dapat dilakukan
pada semester awal dan dikembanglanjutkan pada semester berikutnya. Sedangkan nilai dan
sikap tidak dirinci dalam nilai dan sikap yang harus dikembangkan pada semester awal dan
lanjutan. Berbeda dari ketrampilan, sikap selalu dikembangkan dari awal sampai semster terakhir
suatu satuan pendidikan atau bahkan satu jenjang pendidikan.

Nilai dan sikap yang perlu dikembangkan untuk keberhasilan belajar aktif terutama untuk
jenjang belajar aktif “autonomous” adalah rasa ingin tahu (curiosity), sabar, inovatif, kreatif, dan
mandiri. Nilai-nilai ini dikembangkan bersamaan (indirect teaching) ketika peserta didik
mempelajari materi pokok bahasan yang terdapat pada sebuah SK/KD dan mengembangkan
kemampuan kognitif serta psikomotorik.

Pendekatan “curriculum based” atau “school based” menuntut implementasi kurikulum
sebagai satu kesatuan pelaksanaan guru di sekolah dalam satu kesatuan. Guru di bawah pimpinan
kepala sekolah secara bersama-sama (sebagai suatu “community of educators”) merencanakan
implementasi kurikulum, melaksanakan proses implementasi di kelas-sekolah-masyarakat, dan
dalam penilaian hasil belajar serta langkah tindak lanjut. Implementasi kurikulum yang
berdasarkan “subject-based” secara terpisah dan dilakukan guru secara terpisah pula,

1761
sebagaimana yang banyak dilaksanakan di sekolah pada saat sekarang, menimbulkan ancaman
ketidakberhasilan penerapan belajar aktif. Lagipula, praktek semacam itu tidak bersesuaian
dengan pengertian kurikulum yang dikemukakan di awal bagian ini. Keberhasilan implementasi
kurikulum sebagai satu kesatuan ide pedagogis pengembang kurikulum menjadi keharusan
dalam kurikulum yang mengembangkan konten ketrampilan, nilai, dan sikap. Pelaksanaan
implementasi kurikulum sebagaimana yang banyak dilakukan pada saat sekarang hanya sesuai
untuk kurikulum yang berfokus pada pengembangan konten pengetahuan berupa hafalan dan
pemahaman terhadap pengetahuan (tentang fakta, istilah, kategori, definisi, penda-pat, prosedur,
prinsip, generalisasi, teori, teknik, metoda, kriteria, dan sebagainya).

Perubahan dalam fungsi dan tujuan mata pelajaran sejarah memerlukan perubahan dalam
asesmen hasil belajar. Model “classroom assessment” digunakan sebagai pendekatan penilaian
hasil belajar mata pelajaran Sejarah. Model ini menekankan pada “formative assessment” dengan
tujuan penilaian adalah: Pertama. Menentukan aspek dari hasil belajar sejarah yang sudah dan
belum dikuasai peserta didik sesudah suatu proses pembelajaran. Kedua, umpan balik bagi
peserta didik untuk memperbaiki hasil belajar yang kurang atau belum dikuasai. Ketiga, umpan
balik bagi guru untuk memberikan bantuan bagi peserta didik yang mengalami masalah dalam
penguasaan pengetahuan, kemampuan, nilai dan sikap. Keempat, umpan balik bagi guru untuk
memperbaiki perencanaan pembelajaran berikutnya. Apa yang dinilai dalam asesmen hasil
belajar sejarah baik dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan kognitif, psikomotorik, nilai dan
sikap perlu dinyatakaan secara eksplisit: (1) pengetahuan dan pemahaman tentang peristiwa
sejarah lokal dan nasional; (2) kemampuan mengkomunikasikan pemahamannya mengenai
peristiwa sejarah dalam bahasa lisan dan tulisan; (3) kemampuan menarik pelajaran/nilai dari
suatu peristiwa sejarah; (4) kemampuan menerapkan pelajaran/nilai yang dipelajari dari peristiwa
sejarah dalam kehidupan sehari-hari; (5) kemampuan melakukan kritik terhadap sumber dan
mengumpulkan informasi dari sumber; (6) kemampuan berfikir historis dalam mengkaji berbagai
peristiwa sejarah dan peristiwa politik, sosial, budaya, ekonomi yang timbul dalam kehidupan
keseharian masyarakat dan bangsa; (7) memiliki semangat kebangsaan dan menerapkannya
dalam kehidupan kebangsaan. Untuk penilaian hasil belajar karakter dapat digunakan berbagai

1762
alat seperti obesrvasi, performance assement, dan port-folio assess-ment. Tes objektif tidak dapat
digunakan untuk hasil belajar karakter.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas maka materi pendidikan sejarah baik sebagai IPS mau pun
sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri sangat penting dan memiliki kontribusi tinggi
terhadap Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Peran yang penting itu dilakukan dengan
mengubah berbagai aspek terkait dengan tujuan dan materi pendidikan sejarah. Oleh karena itu,
perlu perubahan dari penghafalan kata menjadi pengetahuan dan berpikir, dari jawa sentries,
menjadi meliputi daerah lain. Dari menerima pengetahuan, menjadi pengembangan pengetahuan.
Dari tidak terkait dengan masa kini, menjadi dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang.
Kemudian dari belajar tentang hasil menjadi belajar tentang manusia atau masyarakat yang
menghasilkan, serta perubahan dari kurang mengandung nilai, menjadi syarat dengan nilai.

DAFTAR RUJUKAN

Hasan, S.H. 2007. “Pendidikan Sejarah untuk Pengembangan Potensi Kemanusiaan Peserta
Didik”. Makalah. Dikemukakan pada Kongres Masyarakat Masyarakat Sejarah Indonesia

Jakubowski, C.T. 2002. “Teaching World History: Problems and Promise Faced by Young
Teachers”. World History Bulletin. XVIII, 2.

Borries, Bodo von. 2000. “Methods and Aims of Teaching History”. Knowing Teaching &
Learning History: National and International Perspectives (Eds. Stearns, P.N., Seixas,
P., Wineburg, S.). New York: New York University Press

1763
Koblin, D. 1996. Beyond the Textbook: teaching history using documents and primary sources.
Portsmouth, NH: Heinemann.

Pusat Pengembangan Kurikulum (2010). Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa bagi Sekolah. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional

Levstik, L.S. 2000. “Articulating the Silences: Teachers‟ and Adolescents‟ Conceptions of
Historical Significance”, dalam Stearns, P.N., P. Seixas, and S. Wineburg. Knowing
Teaching History: National and International Perspectives, Knowing Teaching and
Learning History: National and International Perspectitives.

Wineburg, S. 2000. Making Historical Sense, dalam Knowing Teaching and Learning History:
National and International Persepctives. New York: University

Wineburg, S. 2001. Historical Thinking and Other Unnatural Acts: Charting the Future of
Teaching the Past. Philadelphia: Temple University Press

1764
KOMODITISASI TUBUH PEREMPUAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI DESA
SANUR KAUH KECAMATAN DENPASAR SELATAN (SEBUAH STUDI KASUS)

Riwanto

ABSTRACT

Tourism is closely related (or often linked) to various social ills such as prostitution, crime and
drug abuse (Pitana, 2005: 126). Prostitution itself is an integral part of tourism. A fact that can
not be denied that the fulfillment of sexual needs is one factor that can motivate tourists to travel
to visit the Tourist Destination. The proliferation of prostitution in the Tourism Destination in the
next development will result in the commoditization of the vital parts of the human body itself,
because the human being as the perpetrator of prostitution (commercial sex workers) considers
itself as a commodity that can be trade.
This study aims to reveal the factors that cause commoditization of female commercial
sex worker's body in Sanur Kauh Village, South Denpasar District. The theory used to dissect the
problem is the theory of exchange developed by George Caspar Homans. Data were collected by
observation method, interview, and document recording.
Based on the research results revealed that psychological factors, economic factors, and
social environmental factors; Became the factor causing commoditization of female commercial
sex worker's body in Sanur Kauh Village, South Denpasar District.

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan sektor pariwisata sebagai industri, telah menciptakan kesempatan

berusaha sehingga mampu berkontribusi terhadap ketersediaan lapangan kerja di Daerah Tujuan

Wisata, kondisi ini ditandai dengan semakin tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha

perhotelan, restoran, angkutan wisata, biro perjalanan wisata, pasar atau toko cinderamata dan

lain lain. Disamping itu industri pariwisata juga mampu meningkatkan pendapatan usaha di

1765
sektor pertanian, peternakan, kerajinan tangan dan rumah tangga, serta kesenian tradisional dan

hiburan.

Ditinjau dari sisi budaya sektor pariwisata telah mampu menggairahkan perkembangan

kebudayaan asli, bahkan menghidupkan kembali unsurr-unsur kebudayaan yang hampir punah,

walaupun pada awalnya sektor pariwisata bertumpu pada motivasi ekonomis, namun faktanya

sektor pariwisata merupakan usaha yang mampu mendorong upaya pelestarian nilai-nilai

budaya. Disisi lain perkembangan industri pariwisata juga dapat menyebabkan

terkontaminasinya nilai-nilai budaya asli suatu suku bangsa dengan nilai-nilai budaya lain,

karena kedatangan para wisatawan bisa memunculkan masyarakat vertikal, yakni adanya

kelompok yang dilayani dan melayani. Pariwisata terkait erat (atau sering dikaitkan dengan

berbagai penyakit sosial seperti pelacuran, kriminal dan penyalahgunaan narkoba (Pitana,

2005:126). Prostitusi itu sendiri merupakan salah satu bagian integral dari pariwisata, adalah

suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa pemenuhan kebutuhan seksual merupakan

salah satu faktor yang dapat memotivasi para wisatawan melakukuan perjalanan untuk

berkunjung ke Daerah Tujuan Wisata.

Semakin maraknya pertumbuhan prostitusi di Daerah Tujuan Wisata pada perkembangan

selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya komoditisasi terhadap bagian-bagian vital dari tubuh

manusia itu sendiri, karena manusia sebagai pelaku prostitusi (pekerja seks komersial)

menganggap dirinya sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan, seperti halnya dengan

komoditas komoditas lainnya. Dengan tersedianya layanan jasa dari pekerja seks komersial di

Daerah Tujuan Wisata, maka akan terjadi hubungan vertikal antara para wisatawan dengan

pekerja seks komersial sebagai masyarakat lokal, karena pekerja seks komersial berada pada
1766
posisi yang mempunyai ketergantungan sangat tinggi, sedangkan para wisatawan berada posisi

yang sangat dominan dengan modal finansial yang dimilikinya. Dalam kehidupan di masyarakat

yang hidup di Daerah Tujuan Wisata, prostitusi bukanlah merupakan sesuatu yang di anggap

asing bagi mereka, prostitusi sudah merupakan dalah satu bagian yang menyertai perkembangan

suatu Daerah Tujuan Wisata, sebagaimana yang terjadi di Desa Sanur Kecamatan Denpasar

Selatan.

Berdasarkan uraian diatas, dalam penelitian ini akan diadakan pembahasan tentang

“Komoditisasi Tubuh Perempuan Wanita Pekerja Seks Komersial di Desa Sanur Kauh

Kecamatan Denpasar Selatan (Sebuah Studi Kasus)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Faktor-

faktor apakah yang menyebabkan komoditisasi tubuh perempuan pekerja seks komersial di Desa

Sanur Kauh Kecamatan Denpasar Selatan

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tentang faktor-faktor yang menyebabkan

komoditisasi tubuh perempuan pekerja seks komersial di Desa Sanur Kecamatan Denpasar

Selatan.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teoritis hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi

perkembangan pengetahuan yang berhubungan dengan masalah penyimpangan perilaku

sosial yang muncul di masyarakat khususnya masalah prostitusi, sedangkan secara praktis

1767
hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi berbagai pihak terkait dalam

membuat kebijakan dalam menanggulangi penyakit sosial yang muncul dimasyarakat.

II. LANDASAN TEORI

Teori yang digunakan untuk mengungkap atau membedah masalah dalam penelitian ini

adalah teori pertukaran yang dikembangkan oleh George Caspar Homans; yang menggunakan

landasan konsep social behaviorism, dengan meminjam prinsip ekonomi maximization of utility

dan diminishing marginal utility. Premis dasar dalam teori pertukaran bahwa “perilaku sosial

harus dipahami sebagai sebuah sumber daya yang bernilai” (Sindung Haryanto, 2012:162).

Peningkatan suatu perilaku khusus dari seorang individu yang melakukan pertukaran

mungkin terjadi seiring dengan frekuensi perilaku yang telah terjadi pada masa lalu itu

memperoleh imbalan, nilai imbalan yang diterima, dan kesamaan situasi yang telah terjadi pada

masa lalu tersebut dimana perilaku tersebut memperoleh imbalan; dalam arti bahwa

kemungkinan perilaku khusus akan menurun akibat adanya semakin meningkatnya biaya

(dibandingkan dengan imbalan yang diterima) dan oleh tingkat kepuasan yang diperolehnya.

Dalam pertukaran sosial, optimasi dilakukan melalui penyesuaian inkremental perilaku sebagai

respons terhadap pengalamannya di masa lalu. Tidak ada kebutuhan untuk menyesesuaikan

kesadaran , tetapi pemberian dapat menjadi pengalaman dalam bentuk kepuasan atau ketidak

puasan dalam berhubungan dengan orang lain.

Homans menyatakan bahwa interaksi sosial dapat dianalisis dengan menggunakan

proposisi-proposisi sebagai berikut:
1768
1. Proposisi sukses

Bahwa dalam setiap tindakan , semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh

ganjaran atau hadiah, maka akan semakin besar kemungkinan orang melakukan tindakan

tersebut (Damsar, 2015:161). Dalam konteks ini semakin sering seseorang memberikan

ucapan terima kasih dan penghargaan kepada orang lain, maka akan semakin besar

kemungkinan orang lain tersebut akan membalasnya dengan sesuatu yang sama (Sindung

Haryanto, 2012:173)

2. Proposisi Stimulus

Bila kejadian dimasa lalu stimulus atau seperangkat stimuli tertentu telah menyebabkan

tindakan orang diberi ganjaran/hadiah, maka semakin mirip stimuli yang ada sekarang

dengan stimuli-stimuli di masa lalu, semakin besar kemungkinan orang melakukan

tindakan yang sama (Damsar, 2015:161; Sindung Haryanto, 2012:173); artinya bahwa

apabila seseorang merupakan satu-satunya orang yang memberikan apresiasi terhadap

bantuan yang telah diterima dari orang lain, maka semakin besar pula kemungkinan

orang lain tersebut memberikan bantuan yang sama. Perulangan perilaku mungkin akan

terjadi apabila stimuli saat ini sama dengan stimuli yang terjadi pada masa lalu yang

mana perilaku tersebut memperoleh ganjaran atau hadiah.

3. Proposisi Nilai

Bahwa semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka semakin besar kemungkinan seseorang

melakukan tindakan (Damsar, 2015:162). Pada proposisi ini tertkait erat dengan derajat

atau tingkat di mana seseorang menginginkan ganjaran atau hadiah yang diberikan oleh

1769
stimulus, sehingga semakin tinggi nilai suatu tindakan maka seseorang yang melakukan

tindakan tersebut akan semakin senang.

4. Proposisi deprivasi satiasi

Bahwa semakin sering di masa yang baru lalu seseorang menerima ganjaran/hadiah

tertentu, semakin kurang bernilai bagi orang tersebut peningkatan setiap unit

ganjaran/hadiah tersebut (Damsar, 2015:162-163; Sindung Hartanto, 2012:174).

Proposisi ini memaparkan tentang kemungkinan munculnya rasa jenuh sebagai akibat

diterimanya ganjaran yang sama secara berulang-ulang.

5. Peroposisi agresi peresetujuan

Bila suatu tindakan yang dilakukan seseorang tidak memperoleh ganjaran yang

diharapkan, atau menerima hukuman yang tidak diharapkan, maka seseorang tersebut

akan marah, cenderung menjadi agresif, dan hasil perilaku tersebut di rasa menjadi lebih

bernilai baginya. Tetapi jika tindakan tersebut memperoleh ganjaran/hadiah yang

diharapkan dalam arti ganjaran tersebut nilainya lebih besar dari yang diharapkan atau

tidak menerima hukuman seperti yang diharapkan, maka seseorang tersebut akan merasa

senang, dan akan lebih mungkin melakukan perilaku yang disenangi , sehingga perilaku

yang demikian akan lebih sering dilakukan karena hasil dari perilaku tersebut menjadi

lebih bernilai (Sindung Haryanto, 2012:174).

6. Proposisi Rasionalitas

Dalam memilih beberapa tindakan alternatif, seseorang akan memilih satu diantaranya,

yang saat itu dianggap memiliki nilai/value (v) sebagai hasil perkalian dengan

probabilitas (p), ntuk mendapatkan hasil yang lebih besar (Damsar, 2015:164). Pada

1770
dasarnya proposisi ini berkaitan dengan teori pilihan rasional yang menyatakan bahwa

pertimbangan antara nilai dan ganjaran/hadiah dan probabilitas, adalah kemungkinan

untuk mencapai atau meraihnya, akan bermuara pada pilihan rasional yang akan

dijatuhkan olek aktor. Nilai tertinggi belum tentu menjadi pilihan aktor apabila

probabilitasnya sangat rendah, yang akan dipilih aktor adalah nilai di bawah dari yang

tertinggi namun menurut aktor probabilitasnya sangat tinggi (Damsar, 2015:164).

III. METODE PENELITIAN

3.1 Penentuan Informan

Dalam penelitian ini informan adalah pekerja seks komersial yang memiliki masa kerja

minimal 2 tahun, ditentukan dengan mengunakan teknik snowballing, jumlah informan

sebanyak 8 orang, semua identitas informan terutama nama asli informan disamarkan hal ini

dilakukan atas permintaan para informan dengan tujuan untuk menjaga privasi mereka.

3.2 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

Data yang diperoleh dikumpulkan dengan menggunakan metode: observasi, wawancara,

dan pencatatan dokumen, selanjutnya data yang telah terkumpul di olah dengan menggunakan

teknik deskriptif komparatif dan interpretatif, dalam artian peneliti berupaya mendeskripsikan

informasi yang diperoleh sebagai mana adanya dengan cara mengkoparasikan antara informasi

yang satu dengan informasi yang lain yang memiliki kemiripan, selanjutnya dibedah dengan

teori sebagai dasar untuk membuat suatu penafsiran.

1771
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Faktor yang melatar belakangi komoditisasi tubuh perempuan pekerja

seks komersial di Desa Sanur Kauh Kecamatan Denpasar Selatan, adalah faktor

psikologis, faktor ekonomi, dan faktor lingkungan sosial.

2.1.1 Faktor psikologis

Koentjoro (2004:53) menyatakan ada beberapa faktor perempuan menjadi pekerja seks

komersial, diantaranya adalah rendahnya standar moral, yang diakibatkan oleh kegagalan mereka

dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Kekerasan terhadap perempuan juga merupakan tindakan dimana perempuan akan

memotivasi dirinya melakukan perbuatan yang tidak baik, berdasarkan hasil observasi pekerja

seks komersial di Desa Sanur Kauh menuturkan bahwa mereka gagal dalam mebina keluarga

karena diceraikan suaminya walaupun sudah mempunyai anak. Seperti yang diungkapkan Yulia

sebagai berikut.

“Saya menikah di usia 16 tahun saya tidak tahan dengan perlakuan suami saya yang sering
memaki maki saya bahkan suka main tangan, lama kelamaan saya menjadi benci terhadap
dia, tidak jarang dia memukul saya didepan anak-anak, sehingga mereka trauma dengan
perlakuan bapaknya, suami saya tidak bekerja sedangkan saya punya anak yang harus
diberi makan, setiap kali saya meminta uang dia selalu marah, bukan uang yang saya dapat
melainkan tamparan dan pukulan hingga badan saya biru biru, kondisi itulah yang
membuat saya kecewa, sakit hati, akhirnya saya memutuskan untuk bercerai. Anak-anak
saya titipkan ibu untuk merawatnya lalu saya merantau ke Bali dan bekerja sebagai pekerja
seks komersial itu karena hanya pekerjaan tersebut yang bisa menghibur kekecewaan dan
sakit hati saya disamping banyak menghasilkan uang” (wawancara tanggal 26 September
2016).

1772
Penuturan yang sama juga diungkapkan oleh Tina sebagai berikut.

”Saya nikah sudah 5 tahun menikah, tetapi belum punya anak. suami saya selalu
menyalahkan saya, sampai berani memukul saya, mengumpat-umpat saya seenaknya
sendiri yang membuat saya kesal dan sakit hati, akhirnya saya memutuskan untuk bercerai,
dengan perceraian saya merasa bebas tidak ada yang mengekang, bisa melakukan apa saja
dengan siapa saja yang saya sukai.lama kelamaan saya tidak sadari sehingga terperosok
dalam dunia hitam hidup sebagai pekerja seks komersial, tetapi saya tidak menyesal”
(wawancara tanggal 26 September 2016).

Berdasarkan penuturan tersebut pernikahan di usia muda sangat rentan akan

pertengkaran karena belum matangnya psikologi, mental, dan rohani pasangan sehingga

perceraian menjadi jalan pintas bagi masing masing pasangan yang mengalami permasalahan.

Sehingga memotivasi mereka untuk mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup

mereka. Selain masalah diatas ada juga seseorang itu menjadi pekerja seks komersial

dikarenakan nafsu yang berlebihan, ingin mencoba sesuatu yang lain dalam berhubungan, atau

sering disebut hyperseksualitas; sementara yang didorong frustrasi tak memiliki kejelasan apakah

selamanya menjadi pekerja seks komersial.

Terkait dengan fakta sosial tersebut, pendapat menyatakan bahwa tekanan sosio-kultural

yang begitu berat dapat mempengaruhi kehidupan batin individu, sehingga individu menjadi 1).

Psykhopat, yakni tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, yang diekspresikan

dalam bentuk a-sosial dan eksentrik, 2). Psykoneurosa, yakni mirip dengan kondisi psikopat,

tetapi bersifat fungsional pada sistem syaraf dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan

lingkungan, 3). Psykosa, yakni adanya keluhan fungsional dan organis pada si penderita yang

1773
menganggap bahwa kehidupanya di dunia tidak nyata, sehingga in-kompeten secara sosial (B.

Simanjuntak, 1981:31).

4.2.2 Faktor Ekonomi

Ketika pengaruh ekonomi uang semakin kuat dan meluas di kalangan penduduk

pedesaan yang membawa mereka semakin jauh terlibat dalam ekonomi kapitalistik, ketika

depresi ekonomi memuncak , kondisi sosial dan perekonomian penduduk terguncang hebat

karena banyak buruh dan tenaga kerja kehilangan pekerjaan akibat banyak perusahaan yang

bangkrut, sehingga angka pengangguran pun membengkak.

Dengan kondisi sosial dan perekonomian seperti itu tidaklah mengherankan jika

aktivitas prostitusi di Desa Sanur Kauh cenderung meningkat karena desakan ekonomi. Seperti

yang ungkapkan oleh salah satu informan berikut.

“Saya terlahir dari keluarga miskin, gak tamat sekolah tinggi, mana mungkin bias cari kerja
kantoran. Apalagi saya merantau Di Bali, yang bisa saya lakukan ya seperti ini menjual diri,
gampang cari uang apa lagi kerja kayak gini yang penting pandai-pandai memperdayai
pelanggan yang datang, semenjak kerja seperti ini kehidupan saya mulai berubah, setiap hari
bisa 1.000.000 itu kalau lagi mood ngelayani tamu, kalau lagi males hanya dapat 200.000
atau 400.000 ini terpaksa saya lakukan Oom…untuk menanggung kehidupan keluarga,
seperti biayai adik-adik sekolah, memperbaiki rumah saya tidak mau melihat mereka hgidup
menderita dihimpit kemiskinan, cukup saya aja yang menderita. Saya ingin Adik saya
sekolah tinggi gak seperti kakaknya kerja jadi pekerja seks” (wawancara dengan Putri,
tanggal 26 Oktober 2016).

Penuturan senada juga disampaikan Sonia sebagai berikut.

“Kalau cuma mengandalkan penghasilan suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarga, saya terpaksa bekerja seperti ini tanpa sepengetahuan suami, kerja santai

1774
uang nya banyak. Saya ingin merubah nasib lebih baik, setiap bulan saya kirim uang ke
keluarga untuk kebutuhan mereka disana tapi mereka tidak tahu kerja saya apa disini, yang
mereka tahu saya merantau ke Bali bekerja sebagai pembantu, ini saya lakukan lantara
tuntutan ekonomi. Yang penting menghasilkan uang banyak untuk keluarga gak perduli
kerja apa” (wawancara tanggal 28 Oktober 2016).

Berdasarkan penuturan informan dapat diketahui bahwa setiap orang dalam menjalani

suatu pekerjaan pasti untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Norma kehidupan juga sangat

erat hubungannya sengan fase kebudayaan dan struktur masyarakat; sehingga tidak

mengherankan jika masalah prostitusi atau pelacuran juga selalu mengikuti perkembangan

masyarakat. Dengan demikian prostitusi atau pelacuran tidak bisa lepas dari kehidupan

masyarakat, prostitusi merupakan salah satu aktifitas bisnis yang selalu menyertai suatu Daerah

Tujuan Wisata seperti halnya yang terjadi desa Sanur Kauh.

Fakta tersebut diatas sesuai dengan pernyataan Homans tentang proposisi rasionalitas

bahwa “Ketika memilih tindakan alternatif, seseorang akan memilih tindakan, sebagaimana

dipersepsikan kala itu, yang jika nilai hasilnya (V) dikalikan probabilitas keberhasilan (p) adalah

lebih besar” ( Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2011:457). Proposisi rasionalitas ini terkait erat

dengan teori pilihan rasional yang berakar dari teori ekonomi. Pertimbangan antara nilai dari

ganjaran/hadiah dan probabilitas, yaitu kemungkinan untuk mencapai atau meraihnya, akan

bermuara pada pilihan rasional yang akan dijatuhkan oleh aktor. Nilai tertinggi belum tentu

menjadi pilihan aktor apabila probabilitasnya sangat rendah. Sehingga yang akan dipilih aktor

adalah nilai di bawah dari yang tertinggi, namun probabilitasnya tinggi menurut aktor (Damsar,

2015:164).

1775
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat di interpretasikan bahwa pekerja seks

komersial sebagaimana manusia lainnya dalam melakukan pertukaran secara terus menerus

terlibat dalam memilih di antara perilaku alternatif, dengan pilihan yang mencerminkan adanya

biaya dan ganjaran (cost and reward) yang diharapkan berhubung dengan garis-garis perilaku

alternatif; sehingga tindakan sosial dipandang sebagai tindakan ekonomis. Dalam melakukan

interaksi sosial, pekerja seks komersial mempertimbangkan keuntungan yang lebih besar dari

pada biaya yang dikeluarkan (cost benefit ratio), sehingga makin tinggi ganjaran yang diterima

maka akan semakin besar kemungkinan suatu tingkah laku akan di ulang; sebaliknya makin

tinggi biaya atau ancaman hukuman (punishment) yang akan diterima, maka semakin kecil

kemungkinan tingkah laku serupa akan di ulang.

4.2.3 Faktor lingkungan sosial

Lingkungan sosial adalah tempat terjadinya sebuah interaksi suatu sistem dalam

menghasilkan sebuah kebudayaan yang terikat oleh norma-norma dan adat istiadat yang

berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Sebagai bagian dari masalah-masalah sosial yang

ada, faktor lingkungan merupakan masalah yang serius karena akan mengancam kehidupan

suatu bangsa dari kenakalan anak-anak dan remaja. Penyakit sosial anak-anak dan remaja

muncul karena faktor pergaulan di lingkungan sekitarnya. sebagai akibat melemahnya pengertian

dan kewaspadaan terhadap kebutuhan dan permasalahan usia anak itu sendiri. Sifat-sifat sulit

diatur, berontak, merajuk, kumpul-kumpul, suka meniru, mulai jatuh cinta, hura-hura dan

melakukan seks bebas (Muhibbin Syah, 2001: 152).

Seperti yang di ungkapkan oleh informan sebagai berikut.

1776
”Saya melakukan pekerjaan seperti ini lantaran ibu saya mempunyai pekerjaan sebagai
seorang Germo (mami). Karena saya tinggal dilingkungan seperti ini tentgu saja saya
bergaul dengan cewek penggoda (maksudnya pekerja seks komersial), pada mulanya saya
hanya coba-coba sama pacar lama kelamaan ketagihan tetapi suatu hari pacar saya kabur
entah kemana, mau tidak mau saya melakukannya dengan orang lain yang mau memberi
imbalan uang kepada saya , akhirnya saya pun menikmati pekerjaan ini, saya. ” (wawancara
dengan Mirna, tanggal 10 Nopember 2016).

Ungkapan yang sama dituturkan Santi sebagai berikut.

”Saya kerja disini karena diajak dari kampung oleh mami Merry, dia bilang cari kerja di
Bali gampang asalkan mau kerja apa saja seperti yang telah dilakukan oleh tetangga saya
Nonik yang hidupnya kelihatan seba kecukupan kalu pulang kekampung. Saya nekat kerja
seperti ini karena saya gak mau jadi orang miskin, menjadi orang susah itu sangat gak enak
Oom, serba kekurangan dan disepelekan orang sekampung. Walaupun saya bekerja seperti
ini saya gak mau peduli dengan anggapan orang yang penting dapat uang banyak. Kalau
tidak ada mami Merry saya gak bisa nafkahi kebutuhan keluarga dikampung” (wawancara
tanggal 10 Nopember 2016).

Fakta tersebut sesuai dengan proposisi Homans yang menyatakan ”Jika makin sering

tindakan apa pun yang dilakukan orang memperoleh imbalan, makin besar pula kecenderungan

orang Untuk mendapatkan kasih sayang, misalnya, seseorang harus berorientasi pada perolehan

kasih sayang tersebut, ini hanya mungkin dilakukan melalui interaksi dengan orang lain, di mana

perilaku untuk mendapatkan kasih sayang tentu saja memerlukan sarana untuk mencapainya;

seperti melalui hubungan persahabatan atau pertemanan maupun melalui ikatan perkawinan.;

sehingga dengan cara tersebut pertukaran sosial bisa terjadi (Damsar, 2015:159).

V. SIMPULAN

Komoditisasi tubuh perempuan pekerja seks komersial di Desa Sanur Kauh Kecamatan

Denpasar Selatan dilatar belakangi oleh faktor-faktor psikologis, ekonomi dan lingkungan sosial.

1777
1. Faktor psikologis

Pernikahan di usia muda sangat rentan terrjadi pertengkaran dalam keluarga karena

belum matangnya psikologi, mental, dan rohani pasangan sehingga perceraian merupakan jalan

pintas bagi masing masing pasangan yang mengalami permasalahan. kondisi tersebut

memotivasi mereka mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain

masalah diatas ada juga seseorang itu menjadi pekerja seks komersial dikarenakan nafsu yang

berlebihan, ingin mencoba sesuatu yang lain dalam berhubungan, atau sering disebut

hyperseksualitas; sementara yang didorong frustrasi tak memiliki kejelasan apakah selamanya

menjadi pekerja seks komersial.

2. Faktor ekonomi

Ketika pengaruh ekonomi uang semakin kuat dan meluas di kalangan penduduk pedesaan

yang membawa mereka semakin jauh terlibat dalam ekonomi kapitalistik, ketika depresi

ekonomi memuncak , kondisi sosial dan perekonomian penduduk terguncang hebat karena

banyak buruh dan tenaga kerja kehilangan pekerjaan akibat banyak perusahaan yang bangkrut,

sehingga angka pengangguran pun membengkak. Dengan kondisi sosial dan perekonomian

tersebut tidaklah mengherankan jika aktivitas prostitusi di Desa Sanur Kauh, cenderung

meningkat karena desakan ekonomi

3. Faktor lingkungan sosial

Pekerja seks komersial di Desa Sanur Kauh, mereka menjadikan bagian tubuhnya sebagai

barang komoditas karena pengaruh lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial yang terdapat

di sekelilingnya. Lingkungan masyarakat adalah tempat terjadinya sebuah interaksi suatu sistem

1778
dalam menghasilkan sebuah kebudayaan yang terikat oleh norma-norma dan adat istiadat yang

berlangsung dalam kurun waktu yang lama.

DAFTAR PUSTAKA

Damsar. 2015. Pengantar Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana.

Fakih, Mansour. 2005. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: INSIST Press

Haryanto, Sindung. 2012. Spektrum Teori Sosial Dari Klasik Hingga Postmodern. Jogyakarta:
Ar-Ruzz Media.

Irwan, Zoer‟aini Djamal. 2009. Besarnya Ekspoitasi Perempuan dan Lingkungan di Indonesia.
Jakarta: Elex Media Komputindo.

Pitana, I Gde, dan Putu G, Gayatri.2005. Sosiologi Pariwisata.Yogyakarta: Andi

Ritzer, George, dan Douglas J. Goodman. 2012. Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik
Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoderen (Penerjemah: Nurhadi). Bantul:
Kreasi Wacana.

Oka A, Yoeti, dkk. 2006. Pariwisata Budaya Masalah dan Solusinya. Jakarta: Pradnya Paramita.

1779
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STM (SAINS TEKNOLOGI
MASYARAKAT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
KELAS X SEMESTER I SMA NEGERI 1 TAMPAKSIRING TAHUN PELAJARAN
2015/2016

I WAYAN WIDIA

ABSTRACT

This study aims to determine the learning result of science to the students of first
semester of class X.1 in SMA Negeri 1 Tampaksiring academic year 2015/2016 after the
implementation of the STM model ( Science Technology society). This research is a classroom
action research conducted in two cycles. The subjects were students of class X.1 semester 1
SMA Negeri 1 Tampaksiring academic year 2015/2016 consists of 36 people. Collecting data in
this study was conducted in with test method. The Obtained data were analyzed by quantitative
descriptive analysis techniques. The result shows an increase in students learning achievement.
This can be see in the average percentage of student learning result from the first cycle to the
second cycle. In the first cycle, the average percentage of student learning result only reached
62.08% which is at less category. While on the second cycle the percentage of student learning
achievement increased to 80.59% which is good category.

Key word: STM model ( Science Technology society), learning result

PENDAHULUAN
Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ,
pendidikan dinyatakan sebagai usaha sadar untuk menciptakan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari beberapa
pengertian pendidikan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses sepanjang
hayat yang didalamnya terkandung perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam
pengembangan segenap potensi yang terdapat dalam kehidupan manusia.
Pendidikan juga harus didesain sedemikian rupa agar mampu membebaskan peserta didik
untuk berkreasi menemukan ketrampilannya sendiri dengan kata lain, pendidikan diselenggaran
untuk dapat memastikan bahwa para peserta didik memiliki life skill, terlebih lagi pendidikan
1780
Fisika. Semestinya pendidikan Fisika dengan segala isi dan karakternya bisa memberikan
sumbangan yang lebih real terhadap pesrta didik agar memiliki bekal yang memadai sehingga
dapat bertahan hidup di masyarakat. Hal ini karena pendidikan Fisika senantiasa berhubungan
dan berdekatan dengan realitas alam yang menjadi tempaat hidup peserta didik
(Nurohman,2011).
Pendidikan Fisika akan mengajak peserta didik semakin dekat dengan alam tempat
berpijak, keinginan untuk mencetak manusia-manusia yang memiliki modal cukup, sehingga
sanggup menghadapi tantangan masa depan sebagaimana dipaparkan di atas agaknya harus
berhadapan dengan realitas yang tidak cukup menyenangkan. Hingga sekarang dunia pendidikan
masih diwarnai praktik-praktik yang menghambat bagi proses pembongkaran potensi peserta
didik secara sungguh-sungguh. Kebanyakan sekolah selama ini menterjemahkan pendidikan
Fisika sebagai sekedar transfer of knowledge yang dimiliki guru kepada peserta didik dengan
hafalan-hafalan teori maupun rumus-rumus, sekedar untuk bisa menjawab soal-soal ujian,tetapi
seringkali tidak sanggup untuk menterjemahkannya ke dalam realitas yang ada di sekelilingnya.
Pendidik dengan demikian tidak cukup memberi bekal life skills kepada peserta didik bakan
menjadi tercabut dari problem real yang yang seharusnya mereka jawab dan selesaikan.
Lebih parah lagi, sebagaimana diungkapkan oleh Firdaus M Yunus ( dalam
Nurohman,2006) bahwa pendidikan di Indonesia selama ini hanya berfungsi membunuh
kreativitas peserta didik, karena lebih banyak mengedepankan verbalisme. Verbalisme
merupakan asas pendidikan yang menekankan hafalan bukannya pemahaman, mengedepankan
formulasi daripada substansi, parahnya lebih disukai keseragaman bukannya kemandirian serta
hura-hura klasikal bukannyan petualangan intelektual. Realitas ini jugalah yang telah
menyebabkan pendidikan kita menghasilkan sekian banyak orang yang cakap mengerjakan soal,
naamun tidaak paham atas makna ruus-rumus yang dioperasikan dan angka-angkan yang
dituliskan. Akibart verbalisme, teori bukannya membumi, malah tercabut dari pengalaman
keseharian.

Permasalahan
Bedasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini difokuskan pada permasalahan
yaitu apakah terdapat peningkatan hasil belajar Fisika siswa kelas X semester 1 SMA Negeri 1
1781
Tampaksiring tahun pelajaran 2015/2016 setelah diterapkannya model STM (Sains Teknologi
Masyarakat)?

Indikator Keberhasilan
Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan penelitian ini adalah, 1)
Apabila rata-rata hasil belajar siswa lebih atau sama dengan 75, 2) Apabila ketuntasan belajar
siswa secara klasikal sampai dengan kategori lebih atau sama dengan 75%.

KAJIAN PUSTAKA
1. Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)
Model pembelajaran sains teknologi masyarakat dalam pendidikan Fisika diyakini oleh
pakar-pakar di Amerika sebagai model yang tepat sebab model ini berusaha untuk menjambatani
materi di dalam kelas dengan situasi dunia nyata di luar kelas yang menyangkut perkembangan
teknologi dan situasi sosial kemasyarakatan. Hal ini menggambarkan bahwa model STM ( Sain
Teknologi Masyarakat) dijalankan untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi masa
depannya . Model ini menuntut agar peserta didik diikutsertakan dalam penentuan
tujuan.Perencanaan . Pelaksanaan . cara mendapatkan informasi. dan pembelajaran.Adapun yang
digunakan sebagai penata (organizer) dalam model STM (Sain Teknologi Masyarakat) adalah
isu-isu dalam masyarakat yang ada kaitanya dengan sains dan teknologi (Nurohman.2011).
Model sains teknologi masyarakat adalah suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek
pendidikan yaitu tujuan . masalah yang akan dieksplorasi. strategis pembalajaran evalusia dan
persiapan kinerja guru. Model ini melibatkan siswa dalam menentukan tujuan prosuder
pelaksanaan, pencarian infomasi, dan dalam evulusia ( Hidayat 2010) Model pembalajaran sains
teknologi masyarakat menitik beratkan pada penyelesaian masalah dan proses berpikir yang
melibatkan transfer jarak jauh. Artinya. menerapkan konsep-konsep yang diperoleh di sekolah
pada situasi di luar sekolah yaitu yang ada di masyarakat. Pembelajaran dengan menggunakan
model sains teknologi masyarakat memiliki ciri yang paling utama yang dilakukan dengan
memunculkan isu sosial di awal pembelajaran dan guru sebelumnya sudah memiliki isu yang
sesuai dengan konsep yang akan diajarkan ( poedjiadi, 2005). Hidayat ( 2010) memandang STM

1782
( Sains Teknologi Masyarakat) sebagai proses pembelajaran yang senantiasa dengan konteks
pengalaman manusia.
Dalam model ini siswa diajak untuk meningkatan kreativitas kreativitas. Sikap ilmiah.
menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian.
pembelajaran dengan model sains teknologi masyarakat haruslah diselenggarakan dengan cara
mengintegrasikan berbagai disipli ilmu dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi
di antara sains . teknologi dan masyarakat.

2. Tujuan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)
Berdasarkan pengertian sains teknologi masyarakat sebagaimana diungkapkan di bagian
sebelumnya, maka dapat diungkapakan menjadi yang menjadi tujuan model sains teknologi
masyarakat secara umum adalah agar para peserta didik mempunyai bekal pengetahuan yang
cukup sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah–masalah dalam
masyarakat dan sekaligus dapat mengambi tindakan sehubung dengan keputusan yang diambil.
STM (Sains Teknologi Masyarakat) menurut Nurohman (2011) juga dikembangkan
dengan tujuan agar; 1) Peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik
pembelajaran di dalam kelas; 2) Peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/perspektif
untuk menyikapi berbagai isu situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan
ilmiah; 3) Peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki
tanggung jawab sosial.

3. Kelebihan Model Sains Teknologi Masyarakat
Kelebihan dari model sains teknologi masyarakat menurut Poedjiadi, (2005) adalah
sebagai berikut. a) Siswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi, b) Kepedulian terhadap
masyarakat dan lingkungan lebih besar, c) Lebih mudah mengaplikasikan konsep-konsep yang
dipelajari untuk kebuutuhan masyarakat. d) Memiliki kecendrungan untuk mau berpatisipasi
dalam kegiatan menyelesaikan masaalah di lingkungan.

4. Kelemahan Model Teknologi Masyarakat

1783
Anonim (2011) menyebutkan beberapa kekurangan atau kesulitan yang dihadapi dalam
model sains teknologi masyarakat adalah: a) Apabila dirancang dengan baik akan membutuhkan
waktu yang lebih lama bila dipandang dengan model pembelajaran lainnya; b) Bagi guru mudah
untuk mencari isu atau masalah pada tahap pendahuluan yang terkait dengan topik yang
dikaji,karena tanggap terhadap masalah lingkungan.

5. Dampak Perkembangan Teknologi Pada Masyarakat
Perkembangan teknologi pada dasarnya bertujuan untuk mempermudah segala kegiatan
yang dilakukan oleh manusia. Hubungan antara manusia yang berjauhan letaknya dapat
dipermudah dengan adanya telepon atau elektronik mail yang lazim disebut e-mali. Dengan
adanya pelaratan komunikasi yang makin canggih atau modern maka beberapa kelompok
masyarakat dari beberapa sekolah di Tampaksiring dapat berinteraksi dengan mudah dan tentu
akan membawa dampak antara yang satu terhadap yang lainnya. Budaya masyarakat di suatu
daerah akan lebih mudah diketahui dan ditiru oleh budaya daerah lain. Hal ini tentu berakibat
akan adanya perubahan nilai budaya pada masyarakat tertentu ( Poedjiadi 2005)

METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian ini akan dapat diklasifikasikan
ke dalam penelitian tindakan kelas. Dikatakan penelitian tindakan kelas karena penelitian yang
dilakukan berbasis kelas yang sekaligus dilaksanakan di dalam kelas dan secara umum
peneliteian ini dilakukan terhadap terutama untuk mencari suatu dasar pengetahuan praktis
dalam rangka memperbaiki keadaan yang dilakukan terhadap suatu keadaan yang sedang
berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tampaksiring Kelas X semester I
Tahun Pelajaran 2015 / 2016 di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
Subjek penelitian ini adalah sluruh siswa Kelas X.1 semester I SMA Negeri 1
Tampaksiring Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Karena penelitian ini hanya
mengambil di satu kelas, maka populasi penelitiannya adaah seluruh siswa di kelas yang
bersangkutan yaitu siswa Kelas X.1 semester I SMA Negeri 1 Tampaksiring. Jumlah siswa yang
menjadi subjek penelitian adalah 36 orang yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 16 orang
1784
perempuan. Subjek ini dipilih karena berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah
dilakukan terlihat kwalitas pembelajaran Fisika pada siswa kelas X masih rendah.

B. Desain Penelitian
Stepen Kemmis dan Robin Mc Taggart (dalam Agung, 2012) menyebutkan dalam PTK
dikenal dengan adanya kegiatan bertahap dan dilakukan secara terus-menerus yang disebut
dengan siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
evaluasi, dan refleksi.

PERENCANAAN

REFLEKSI

OBSERVASI DAN
EVALUASI

PELAKSANAAN

PERENCANAAN

REFLEKSI

OBSERVASI DAN
EVALUASI

PELAKSANAAN

Ke - n
1785
Gambar 3.1 Siklus Penelitian
Sumber: Kemmis & Taggart ( dalam Susilo, dkk. 2008)

Metode Pengumpulan Data
Data yang akan dikumpulkan adalah data peningkatan hasil belajar siswa yang diukur
dengan metode tes. Metode tes ialah cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang
harus dikerjakan oleh seorang atau sekelompok orang yang dites (testee), dan dari tes dapat
menghasilkan suatu skor (Agung, 2012). Metode tes digunakan untuk mengumpulkan data
tentang perubahan ranah kognitif sesuai bidang studi tertentu.

Metode Analisis Data
Setelah data dalam penelitian ini terkumpul selanjutnya mengoleh dilakukan analisis
data. Analisis data dilakukan dengan mengolah data yang terkumpul dari hasil hasil tes. Data
hasil belajar dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif
adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun sacara sistimatis
dalam bentuk angka-angka dan atau persentase mengenai suatu objek yang diteliti, sehingga
diperoleh kesimpulan umum (Agung, 2012). Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk
mengkonversikan persentase hasil belajar siswa secara keseluruhan ke dalam penilaian acaun
patokan (PAP) skala lima yang menunjukkan kategori kemampuan siswa.
Rumus yang digunakan untuk mencari persentase hasil belajar siswa secara individu

adalah M = Sumber: Nurkancana dan Sunartana (1990:174). Dimana M = Mean, ∑ =

Jumlah frekuensi dikali skor, N = Jumlah peserta. Untuk menghitung persentase rata-rata hasil
belajar siswa secara keseluruhan digunakan rumus ̅= , dimana ̅ =

persentase rata-rata, M = rata-rata skor, SMI = Skor Maksimal Ideal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian

1786
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan pada bagain pendahuluan, dan
dilaskanakannya tindakan penelitian penerapan Model STM dalam pembelajaran Fisika di Kelas
X Semester I SMA Negeri 1 Tampaksiring tahun pelajaran 2015 / 2016, dapat diuraiakn hasil
penelitian seperti berikut.

1. Hasil Penelitian Siklus I
Hasil penelitian pada siklus I terdiri dari: a) Perencanaan Tindakan Siklus I, berdasarkan
refleksi awal beberapa hal yang direncanakan dalam siklus I diantaranya menjelaskan kepada
guru mengenai model sain teknologi masyarakat dalam pembelajaran Fisika, menyiapkan
rencana pelaksanaan pembelajaran dengan model STM, menyiapkan instrument penelitian. b)
Pelaksanaan Tindakan Siklus I, pelaksanaan tindakan pada siklus I dimulai dengan pertemuan
pertama yang dilaksanakan sesuai RPP yang disusun. Pembelajaran dimulai dengan melakukan
kegiatan pendahuluan, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan menggali pengetahuan awal
siswa tentang Besaran dan Satuan dan siswa dijelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan
dilakukan. Pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai
dengan melaksanakan eksplorasi yang meliputi siswa diajak mencari keterangan di lingkungan
sekitar siswa terkait Besaran dan Satuan yang digunakan secara tradisional, dilanjutkan dengan
pengisian LKS oleh siswa secara berkelompok. Kemudian siswa diajak menunjukkan gambar
terkait sumber daya alam disertai dengan pertanyaan terbuka guru (kegiatan elaborasi). Siswa
mengemukakan gagasan untuk dituangkan dalam LKS yang mereka kerjakan melalui penggalian
dan pengolahan informasi yang diperoleh sehingga memperoleh keputusan. Kegiatan selanjutnya
masing-masing kelompok menyampaikan hasil kerjanya melalui perwakilan (konfirmasi).
Kelompok lain memberikan tanggapan tehadap informasi yang disajikan oleh kelompok,
kemudian guru memperbaiki konsep-konsep yang salah dan menegaskan bersama-sama guru dan
siswa menyimpulkan materi, memberikan evaluasi pertemuan I pada siklus I dan memberikan
tindak lanjut berupa pekerjaan rumah. Pertemuan kedua dilaksanakan untuk membahas materi
Pengukuran. Kegiatan pembelajaran sama seperti pada pertemuan pertama pada siklus I. c)
Observasi dan Evaluasi Siklus I, berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan setiap kali
1787
pembelajaran berlangsung dapat dideskripsikan seperti berikut. Pada kegiatan pembelajaran
siswa dapat mengumpulkan beberapa contoh besaran-besaran yang digunakan oleh masyarakat
secara turun-temurun, namun tidak mampu mengaitkan besaran-besaran tradisional yang
digunakan oleh masyarakat dengan besaran-besaran satuan internasional (SI). Besaran-besaran
yang lumrah dipakai oleh masyarakat mulai dikenal oleh siswa, tetapi siswa belum mengetahui
secara keseluruhan besaran tersebut termasuk satuan besaran panjang, waktu, atau massa. d)
Refleksi Siklus I, Berdasarkan data yang diperoleh sampai akhir siklus I dapat direfleksikan,
dengan belajar melalui sains teknologi masyarakat, siswa lebih memahami teknologi-teknologi
masa lalu yang masih digunakan sampai sekarang demikian juga masalah sehari–hari yang
berkaitan dengan lingkungan dapat diketahui secara langsung. Pemahaman dan kemampuan
siswa dalam memahami meteri besaran dan satuan mengalami peningakatan namun belum
optimal. Selama proses pembelajaran interaksi belajar siswa seperti kegiatan–kegiatan dalam
bidang kesadaran diri dalam pembacaan tugas kelompok semakin kelihatan. Kecakapan berpikir
rasional dalam pencarian dan pengolahan informasi melalui pengamatan lingkungan sekitar
kecakapan sosial atau interaksi sosial dalam diskusi kelompok kecakapan akademik dalam hasil
kerja kelompok dan kecakapan vokasional sesuai dengan bidang pekerjaan dan bakat masing-
masing siswa sudah mulai tampak namun belum optimal. Hal ini disebabkan siswa belum
terbiasa belajar dengan diberi permasalahan yang berkaitan dengan teknologi yang berkembang
dimasyarakat, dan berdiskusi dalam kelompok. Selama ini siswa cenderung diberitahu langsung
oleh guru tentang konsep dan prinsip yang harus dipahami. Dilihat kemampuan siswa dalam
satu kelompok anggota kelompok belum berifat heterogen. Hal ini harus diperbaiki mengingat
dalam belajar kelompok membutuhkan pertukaran pikiran. Berdaskan hasil refleksi siklus I di
atas penelitian dipandang perlu dilanjutkan ke siklus II untuk lebih mengoptilkan hasil yang
diperoleh. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut. 1) Meningkatkan interaksi belajar berkelompok dengan mengatur komposisi
kelompok secara heterogen. Dalam mengerjakan tugas ,dilakukan pembagian kerja sehingga
siswa yang agak kurang kemampuannya dapat dibantu oleh siswa yang lebih pandai dan mereka
miliki tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan serta dapat saling bertukar pikiran. 2)
Dalam pembuatan LKS kegiatan yang akan dilakukan oleh peserta didik lebih mengarah pada
sains teknologi yang sampai saat ini digunakan oleh masyarakat tetapi tidak bisa dijelaskan
1788
kenapa itu digunakan. Selain itu siswa diberikan permasalahan yang lebih kontekstual sesuai
dengan kemampuan dan pengalaman siswa. 3) Memunculkan media yang lebih menarik
perhatian siswa sehingga muncul ketertarikan untuk mengikuti pembelajaran. 4) Mengupayakan
keterlibatan siswa secara menyeluruh dalam tiap masing- masing kelompok melalui
penyampaian hasil kerja kelompok sehingga mereka semua mempunyai kesempatan
menyampaikan hasil kerjanya.

2. Hasil Penelitian Siklus II
Hasil penelitian pada siklus II hampir sama dengan pada siklus I terutama pada kegiatan
perencanaan, namun disesuaikan dengan materi yang akan dibahas dalam kegiatan pembelajaran.
Perencanaan tindakan pada siklus II disesuaikan dengan rumusan hasil refleksi pada siklus I.
Demikian juga pada kegiatan pelaksanaan, hamper sama dengan pada siklus I, bedanya pada
LKS yang digunakan karena materi yang akan dipelajari juga berbeda. Demikian juga antosias
siswa pada pelaksanaan siklus II sangat tinggi karena keingin tahuan mereka terhadap sain
teknologi yang digunakan oleh masyarakat tetapi tidak mendapat jawaban kenapa itu digunakan
sampai sekarang. Berdasarkan data yang diperoleh sampai akhir siklus II, dapat direfleksikan
beberapa hal sebagai berikut. (1) Dengan belajar melalui sains teknologi tradisional yang
digunakan masyarakat sampai saat ini dan masalah sehari-hari lebih mudah diamati. Kemampuan
siswa dalam memahami materi Dinamika Gerak semakin mengalami peningkatan. (2) Selama
proses pembelajaran, kerjasama siswa dalam kelompok, kecakapan berfikir rasional dalam
pencarian dan pengolahan informasi melalui pengamatan lingkungan sekitar, kecakapan sosial
atau interaksi sosial dalam diskusi kelompok, kecakapan akedemik dalam hasil kerja kelompok
dan kecakapan vokasional sesuai dengan bidang pekerjaan dan bakat masing-masing siswa sudah
tampak dan semakin mengalami peningkatan. (3) Dilihat dari tingkat kemampuan siswa dalam
satu kelompok, antar anggota kelompok sudah mulai bisa berinteraksi dengan baik dan bisa
bekerjasama.
Peningkatan rata-rata persentase hasil belajar Fisika siswa pada refleksi awal siklus I,dan
siklus II dapat digambarkan dalam bentuk grafik gambar 4.1

1789
100

90

80

70

60
Rata-rata persentase hasil
50 belajar Fisika
Ketuntasan Klasikal
40

30

20

10

0
Refleksi Awal Siklus I Siklus II

Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X semester I SMA Negeri 1
Tampaksiring

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus hasil belajar siswa
dalam memahami materi Besaran dan Satuan, dan juga Materi Kinematika Gerak Lurus semakin
mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa yang diukur dengan menggunakan metode tes jika
dilihat dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya dan dari siklus I ke II cenderung mengalami
peningkatan yang signifikan. Berdasarkan rata- rata hasil pertemuan I dan pertemuan II pada
siklus I masih banyak siswa yang belum bisa memahami materi tentang Besaran dan Satuan
dengan baik. Namun pada saat tes siklus II dari pertemuna pertama dan kedua, sebagian besar
siswa sudah mampu menyelesaikan soal yang berbentuk pemahaman. Secara kuantitatif dapat
dideskripsikan seperti berikut. Pada refleksi awal, rata-rata persentase hasil belajar siswa hanya
mencapai 48,57% dan berada pada kategori sangat kurang dengan ketuntasan klasikal 50.25%,
miningkat pada siklus I menjadi 62,08% berada pada ketegori kurang dengan ketuntasa klasik
sebesar 75,02%. Setelah dilaksanakan perbaikan tindakan pada siklus II, rata-rata persetase hasil

1790
belajar siswa semakin meningkat mencapai 80,59% dan berada pada kategori terbaik dengan
ketutasan klasik mencapai 85,71%.

PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan
bahwa penerapan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) dapat meingkat hasil
belajar Fisika siswa Kelas X Semester I SMA Negeri 1 Tampaksiring tahun pelajaran
2015/2016.

B. Saran
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian yang diperoleh dapat diajukan beberapa saran
diantaranya, 1) Bagi siswa diharapka mampu mengembangkan potensi dirinya dan menemukan
kembali pengetahuannya dalam diskusi kelompok melalui penerapan model sain teknologi
masyarakat. 2) Bagi guru dihapkan mencoba menerapkan model sains teknologi masyarakat
dalam pembelajaran Fisika. Hal ini perlu dilakukan karena penerapan model sains teknologi
masyarakat dapat meningkatkan hasil belajar Fisika siswa. 3) Disarankan kepada pihak sekolah,
khususnya SMA Negeri 1 Tampaksiring hendaknya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
rujukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Agung, A.A Gede. 2012 Metedologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Jurusan Ilmu
Pedidikan STKIP Singaraja.

Anonim. 2011. “Model Sains Teknologi Masyarakat”. Tersedia pada
http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/03/model-stm-sainsteknologi.html (diakses
tanggal 16 Pebruari 2012) Darmodjo. Hendro. 2013. Pendidikan IPA. Jakarta:
Depdikbud,Dirjen Dikti

…….. 2005. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan. Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas.

Hidayat, Eddy M.2010. Model Sains Teknologi Masyarakat . Bandung: PPS IKIP

1791
Nurohman,Sabar. 2011. “Penerapan Model Sains-Teknologi –Masyarakat (STM) dalam
Pembelajaran IPA sebagai upaya Peningkatan Life skills Peserta Didik “. Tersedia
pada http://educare.e-fkipunlanurohman.net (diakses tanggal 16 Pebruari 2012)

Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarakat . Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Susilo.Herawati, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Bayumedia

Widyatiningtyas, Reviandari. 2010. “Pembentukan Pengetahuan Sains. Teknologi dan
Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA”. Tersedia pada http://educare
e-fkipunla.net (diakses tanggal 16 Pebruari 2012).

1792
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SAVI

DENGAN TEKNIK PEMODELAN-OF DAN PEMODELAN–FOR

SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN

KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA

SISWA KELAS V SD NEGERI 1 PEMECUTAN

Oleh

I Nyoman Latra Santosa

ABSTRACT

This research was conducted at SD Negeri 1 Pemecutan in Class V whose students' ability to be
low enough in completing the Mathematics Story. The purpose of writing this classroom action research
is to find out whether the SAVI learning model can improve the ability to solve Mathematics story
problems.

The method of data collection is a test of learning achievement. The method of data analysis is
descriptive. In the learning outcomes showed the low level of student mastery of mathematics subject
matter related to the story with an average of 64 in the early stage with a percentage of 48.89%, This
average is far below the KKM for class V according to subjects in SD Negeri 1 Cemetery is 68. Only 15
people from 34 students in class V reaching material pangeran level 48.89% In the initial stage 64, while
in cycle I average reached 68 percentage 66.67% then in cycle II average reach 71 with percentage 91 ,
11%

The conclusion obtained from this research is SAVI learning model can improve the ability to
solve the problem of V grade Mathematics in SD Negeri 1 Pemecutan.

Keywords: SAVI Model, Modeling-Of, Modeling-For.

1793
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional memiliki peran sentral dalam membentuk watak serta peradaban bangsa
yang cerdas, bermartabat, dan berakhlak mulia. Tujuan tersebut pada hakikatnya sejalan dengan
pernyataan UNESCO dalam menghadapi abad ke-21 yang memposisikan pendidikan untuk moulding
character and mind of young generation (Soedijarto, 2008). Artinya, pendidikan diarahkan untuk
mencetak karakter dan pikiran dari generasi muda. Upaya yang dianjurkan UNESCO untuk mencapai hal
tersebut adalah penerapan empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know¸ yakni peserta didik
mempelajari pengetahuan sesuai jenjang pendidikan yang diikuti, (2) learning to do, yakni peserta didik
menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilannya, (3) learning to be, yakni peserta
didik menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together .

Dalam kurikulum SD, terdapat lima mata pelajaran pokok yang dibelajarkan kepada peserta
didik, salah satunya adalah mata pelajaran Matematika . Pada hakekatnya pembelajaran matematika dapat
dibagi menjadi tiga bagian yaitu, matematika sebagai produk, proses, dan sikap (Susanto, 2013).

Proses belajar matematika akan berjalan dengan baik apabila siswa ikut berpartisipasi dengan
aktif dalam pembelajaran. Partisipasi ini akan menjadi suatu pengalaman belajar yang dapat digunakan
sebagai modal untuk mempelajari hal yang lainnya. Pengalaman belajar dapat dilukiskan sebagai interaksi
antara siswa dan materi matematika yang dipelajari, sehingga interaksi ini dapat menyebabkan perubahan
pengetahuan dan tingkah laku siswa. Proses belajar yang efektif, akan menjamin adanya interaksi antara
siswa dan materi matematika yang disajikan. Maka dari itu, pemilihan materi matematika sangat penting
untuk menjamin kelangsungan interaksi tersebut.

KAJIAN PUSTAKA

Model pembelajaran merupakan suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas. Penerapan model pembelajaran harus menyesuaikan dengan kebutuhan siswa,
karakteristik dari mata pelajaran dan tujuan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang tepat
dalam pembelajaran Matematika adalah model pembelajaran SAVI (Somatic, Auditory, Visualization,
Intellectualy). Model pembelajaran SAVI mengandung prinsip berdasarkan aktivitas yang berarti
bergerak secara aktif saat belajar, dengan memanfaatkan indera sebanyak mungkin dan membuat seluruh
tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Belajar berdasarkan aktivitas secara umum lebih efektif
dari pola yang berdasarkan atas presentasi materi dan media. Pembelajaran ini sangat sesuai dengan salah
satu asas kontruktivisme dalam pembelajaran yaitu auto-activitiet yang mengamanatkan perlunya
keaktifan belajar baik mental maupun fisik dalam pembelajaran.

Menurut Meier (2002) komponen-komponen SAVI yaitu „somatis‟ yaitu belajar dengan bergerak
dan berbuat, „auditory‟ yaitu belajar berbicara dan mendengar, „visualization‟ yaitu belajar dengan
1794
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

mengamati dan menggambarkan, daan Intellectualy yaitu belajar dengan menelaah dan merenung.

Suparta (dalam Puspawati,1997: 17) Masalah cerita merupakan suatu bentuk soal yang
disampaikan kepada siswa dalam bentuk cerita akibat pengungkapan dari permasalahan sehari-hari yang
berkaitan dengan permasalahan matematika, yang sering terjadi di pengalamannya. Jadi soal cerita
matematika adalah permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang melibatkan
matematika untuk pemecahannya .implementasi model pembelajaran SAVI dengan teknik pemodelan-of
dan pemodelan-for .

METODELOGI PENELITIAN

Penelitian yang dilaksanakan ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan Kelas (PTK). Penelitian
dilaksanakan dalam tiga siklus, dimana setiap siklus terdiri atas empat tahapan yaitu: perencanaan
tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi . Metode pengumpulan data dengan
tes prestasi. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisa data hasil penetian.

Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus, membuat interval kelas dan
melakukan penyajian dalam bentuk tabel dan grafik. Instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi
belajar siswa kelas V adalah tes Esai. Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu
pada prestasi belajar siswa diharapkan pada siklus I mencapai rata-rata 68 dan 71 pada Siklus II .

HASIL PENELITIAN DAN PEMBHASAN

Pelaksanaan pembelajaran di kelas selama penelitian ini secara umum sudah berlangsung sesuai
dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun sebagai implementasi model pembelajaran SAVI
dengan teknik pemodelan-of dan pemodelan-for. Kedua data tersebut sudah dikumpulkan sesuai dengan
teknik pengumpulan data yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. model pembelajaran SAVI dalam
menyelesaikan soal Cerita Matematika.

Melihat perbandingan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan,
yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 64 dengan presentase kelas 48,89 % naik di siklus I menjadi 68
dengan presentase kelas 66,67 % dan di siklus II naik menjadi 71 dengan presentase kelas 91,11 %
Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini adalah dari upaya-upaya yang
maksimal yang dilaksanakan peneliti .

SIMPULAN

Penerapan model pembelajaran SAVI dengan teknik pemodelan-of dan pemodelan–for dapat
meningkatan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa Kelas V SD Negeri 1
Pemecutan. Pada tes awal rata-rata skor kemampuan siswa menyelesaikan soal cerita matematika adalah
64, kemudian meningkat sebesar 8,00 pada siklus I menjadi 68, setelah dilakukan siklus II rata-rata skor
kembali meningkat sebesar 3,00 yaitu menjadi 71.
1795
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Siswa Kelas V SD Negeri 1 Pemecutan memberikan respons positif terhadap penerapan
model pembelajaran SAVI dengan teknik pemodelan-of dan pemodelan–for.

REFERENSI

Meier, Dave. 2002. Panduan kreatif dan efektif merancang program pendidikan dan pelatihan.
Terjemahan Rahmawati Astuti. The Accelerated Learning Handbook. 2002. Cetakan Ke-1. Bandung:
Kaifa .

Soedijarto. 2008. “Tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional sebagai Ukuran Bagi Pendidikan
yang Bermutu dan Implikasinya” Jurnal Pendidikan Penabur. No. 11, Tahun Ke-7 (Halaman
37-41).

Susanto, A. 2013. Teori Belajar dan Pambelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.

Puspawati, N P. 1997. Kontribusi Kemampuan Menyelesaikan Soal-Soal Matematika Pengukuran dengan
Menuliskan Kalimat Matematika Terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika
Pengukuran pada Siswa Kelas V SD di Kelurahan Banyuning. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Jurusan
Pendidikan Matematika IKIP Negeri Singaraja .

1796
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

ANALISIS PELAKSANAAN PERMENDIKNAS NO. 16 TAHUN 2007
TENTANG KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU DI SMK
TI BALI GLOBAL DENPASAR DITINJAU DARI CIPP
Ni Putu Yuniarika Parwati

Abstract

In an effort to improve the quality of education, one of the keys to success is to prepare and
create professional teachers who have the strength and responsibility to carry out learning
activity in the effort of establishing qualified human resources in the field of education. In order
to support it, we should first determine the standard that should be a reference for the
implementation of educational activities.Therefore, the government issued Minister Regulation
of National Education no. 16, 2007 on teacher qualification and competence standards. In this
study, the author tries to evaluate the standards of teacher‟s qualification and competence at
SMK IT Bali Global Denpasar. The evaluation technique used in this research is CIPP model
The theory used in this research is program evaluation, CIPP evaluation model proposed
by Stufflebeam & Shinkfield. This research is an evaluative research that is oriented on the
analysis based on the program of evaluation approach on management. It is a picture showing the
procedure and the process of program implementation. In addition, this study analyzes the
effectiveness of the program by analyzing the variables in the CIPP model (context, input
process, and product) that are confirmed with the target as a measure of program effectiveness.
The population in this study are all teachers at SMK IT Bali Global Denpasar in total 90 people.
To determine the effectiveness of the program implementation at SMK TI Bali Global Denpasar,
the raw score is transformed into a T-score then verified into the Glickman prototype.
From the discussion of research result and conclusion, it shows that the implementation of
Minister Regulation of National Education no. 16, year 2007 About Academic Qualifications and
Teacher Competencies in SMK TI Bali Global Denpasar will be effective if the context, input,
process and product are functioning effectively. Thus, the findings of this evaluative study can
give a positive contribution to the government of Denpasar city. Therefore, to make the
implementation of education programeffective, context variable, input, process and product must
be concerned.
Keyword : Academic Qualifications, Teacher Competence, and Evaluation

I. Pendahuluan

Pendidikan sangat penting dalam rangka menciptakan kader-kader muda sebagai generasi
penerus bangsa. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan, dan atau latihan bagi peranannya di masyarakat yang akan datang.
1797
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Seiring dengan adanya perkembangan kebudayaan manusia, timbullah tuntutan
pendidikan yang terselenggara lebih baik, lebih teratur, dan didasarkan atas pemikiran yang
matang untuk peningkatan kualitas pendidikan. Dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan,
salah satu kunci keberhasilan adalah mempersiapkan dan menciptakan guru-guru yang
profesional, memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk melaksanakan pembelajaran dalam
upaya pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas di bidang pendidikan.
Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan salah satunya seperti yang telah dimuat
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang di
dalamnya mencakup dasar dan tujuan, penyelenggaraan pendidikan termasuk wajib belajar,
penjamin kualitas pendidikan serta peran serta masyarakat dalam sistem pendidikan nasional.
Kebijakan tersebut dibuat untuk menghasilkan Pendidikan Indonesia yang baik dan lulusan
berkualitas di sektor jenjang pendidikan. Untuk mendukung hal tersebut terlebih dahulu
menentukan standar yang harus menjadi acuan pelaksanaan kegiatan pendidikan, maka untuk itu
pemerintah mengeluarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi guru dan
kompetensi guru.

Adapun standar-standar yang menjadi dasar bagi penyelenggaraan pendidikan
sebagaimana yang diatur dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 yaitu:1. Kualifikasi
Akademik :Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencakup kualifikasi
akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/ Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal
(PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah menengah
pertama/madrasah Tsanawiyah, guru sekolah menengah atas/madrasah aliyah , guru sekolah
dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah atas luar biasa
(SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan
(SMK/MAK). 2. Kompetensi Gurudi bagi menjadi 4 aspek yaitu : Kompetensi Pedagogik,
Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, dan Kompetensi Sosial.
Dalam penelitian ini akan dikhususkan mengenai standar kualifikasi dan kompetensi
guru. Dimana pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran dan
diharapkan memiliki profesionalisme yang tinggi. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan
nasional, pemerintah khususnya melalui Depdiknas terus menerus berupaya melakukan berbagai

1798
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang
dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen dan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan
Kompetensi Guru, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat
usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia.

Pada masa sekarang ini sedang gencar-gencarnya pembinaan agar guru menjadi tenaga
yang profesional, pemerintah melalui undang-undangnya menetapkan undang-undang guru dan
dosen dimana para pendidik disyaratkan telah lulus SI untuk TK/RA, SD/MI, SMP/MTs,
SMA/MA/SMK dan disyaratkan lulus S2 untuk tenaga pengajar di Universitas (UU 14. Tahun
2005 tentang undang-undang guru dan dosen).

Ada beberapa program pemerintah untuk menjadikan guru sebagai tenaga profesional,
diantaranya yaitu dengan menetapkan Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan
dosen, Permen Diknas No.16 tahun 2007 tentang standar kompetensi guru, melakukan program
sertifikasi guru/pendidik profesional, mensarjanakan para guru/pendidik yang sudah menjadi
Pegawai Negeri Sipil yang belum lulus S1. Dengan berbagai ketentuan diatas diharapkan
seorang pendidik dapat menjadi tenaga yang benar-benar professional sehingga mampu
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) segenap warga Negara Indonesia,
sehingga Negara Indonesia menjadi Negara yang maju dalam pendidikan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa guru memegang peranan sentral dan strategis dalam
proses pembelajaran di sekolah. Selagi masih ada proses pendidikan keberadaan guru sangat
dibutuhkan. Hal tersebut sesuai dengan salah satu filosofi pendidikan yang dikemukakan oleh
Proser yang dikutip oleh Slamet, P.H. (1996: 8), yaitu “pendidikan akan efektif apabila para guru
berpengalaman dan mampu mentranmisikan kepada peserta didik.” Dengan demikian kebutuhan
guru yang berkualitas sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Sebagian besar guru belum dapat mengaktualisasikan sebagaimana mestinya peranan
strategis yang diembannya. Masih banyak berbagai kritikan dari berbagai kalangan baik
masyarakat, para akademis maupun praktisi pendidikan yang ditujukan kepada guru.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tilaar dan Ace Suryadi (1994: 32), bahwa “keluhan

1799
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

masyarakat terhadap mutu pendidikan pada berbagai jenjang dan jenis pendidikan sebenarnya
adalah refleksi dari mutu guru yang rendah.” Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
masih diragukan, padahal guru merupakan faktor yang paling strategis dalam proses
pembelajaran. Apabila mengharapkan proses dan hasil pembelajaran berkualitas maka yang
terlebih dahulu ditingkatkan adalah kualitas kemampuan guru
Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk mengevaluasi standar kualifikasi dan
kompetensi guru di SMK TI Bali Global Denpasar. Teknik evaluasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan model CIPP. Berdasarkan permasalahan di atas,
penulis menyusun rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :Seberapakah efektifitas
pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru di SMK TI Bali Global Denpasar ditinjau dari konteks,input,proses,produk?

II. Kajian Teori
1. Evaluasi Program
Evaluasi program adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengukur keberhasilan sesuatu
yang telah direncanakan atau diprogramkan ( Marhaeni : 2007 : 16 ). Dalam hubungan ini yang
dimaksud dengan program adalah program pendidikan baik secara makro, messo, maupun mikro
seperti program pendidikan nasional dan regional.
Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian
yaitu secara umum dan khusus. Secara umum, program dapat diartikan dengan rencana atau
rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari.
Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang
bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari
suatu kebijakan, berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi
yang melibatkan sekelompok orang.
Menilik pengertian secara khusus ini, maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan
yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang.
Selain itu, sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian

1800
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan
lebih dari satu orang untuk melaksanakannya.
a. Tujuan Evaluasi Program
Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. demikian juga dengan
evaluasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum
dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan
tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen.
Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program
tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan
sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat
efektifitasnya. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu
tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data
dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan
apakah akan melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program.
2. Model Evaluasi CIPP
Model evaluasi CIPP yang dikemukakan oleh Stufflebeam & Shinkfield (1985)
adalah sebuah pendekatan evaluasi yang berorientasi pada pengambil keputusan (a
decision oriented evaluation approach structured) untuk memberikan bantuan kepada
administrator atau leader pengambil keputusan. Stufflebeam mengemukakan bahwa
hasil evaluasi akan memberikan alternatif pemecahan masalah bagi para pengambil
keputusan. Model evaluasi CIPP ini terdiri dari 4 hurup yang diuraikan sebagai berikut:
a. Contect evaluation to serve planning decision. Seorang evaluator harus cermat dan
tajam memahami konteks evaluasi yang berkaitan dengan merencanakan keputusan,
mengidentifikasi kebutuhan, dan merumuskan tujuan program.
b. Input Evaluation structuring decision. Segala sesuatu yang berpengaruh terhadap
proses pelaksanaan evaluasi harus disiapkan dengan benar. Input evaluasi ini akan
memberikan bantuan agar dapat menata keputusan, menentukan sumber-sumber yang
dibutuhkan, mencari berbagai alternatif yang akan dilakukan, menentukan rencana
yang matang, membuat strategi yang akan dilakukan dan memperhatikan prosedur
kerja dalam mencapainya.
1801
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

c. Process evaluation to serve implementing decision. Pada evaluasi proses ini
berkaitan dengan implementasi suatu program. Ada sejumlah pertanyaan yang harus
dijawab dalam proses pelaksanaan evaluasi ini. Misalnya, apakah rencana yang telah
dibuat sesuai dengan pelaksanaan di lapangan? Dalam proses pelaksanaan program
adakah yang harus diperbaiki? Dengan demikian proses pelaksanaan program dapat
dimonitor, diawasi, atau bahkan diperbaiki.
d. Product evaluation to serve recycling decision. Evaluasi hasil digunakan untuk
menentukan keputusan apa yang akan dikerjakan berikutnya. Apa manfaat yang
dirasakan oleh masyarakat berkaitan dengan program yang digulirkan? Apakah
memiliki pengaruh dan dampak dengan adanya program tersebut? Evaluasi hasil
berkaitan dengan manfaat dan dampak suatu program setelah dilakukan evaluasi
secara seksama. Manfaat model ini untuk pengambilan keputusan (decision making)
dan bukti pertanggung jawaban (accountability) suatu program kepada masyarakat.
Tahapan evaluasi dalam model ini yakni penggambaran (delineating), perolehan atau
temuan (obtaining), dan penyediakan (providing) bagi para pembuat keputusan.

III. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif yeng berorientasi pada analisis berdasarkan
pendekatan evaluasi program yang berorientasi pada menajemen yaitu suatu gambaran yang
menunjukan prosedur dan proses pelaksanaan program. Selain itu, dalam penelitian ini dianalisis
efektivitas program dengan menganalisis variabel-variabel dalam model CIPP (context, input
process, and product) yang dikonfirmasi dengan target sasaran yang merupakan ukuran
efektivitas program.Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru di SMK TI Bali Global
Denpasar yang berjumlah 90 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total
sampling , yaitu semua populasi dijadikan sampel.Data dikumpulkan dengan menggunakan
kuesioner dan pencatatan dokumen. Data dianalisis dengan analisis deskriptif. Untuk
menentukan efektivitas pelaksanaan program di SMK TI Bali Global Denpasar, skor mentah
ditransformasikan ke dalam T-skor kemudian diverifikasi ke dalam prototype Glickman.

1802
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Metode angket digunakan untuk menjaring data mengenai efektifitas pelaksanaan standar
pendidik dan kependidikan yang ditinjau dari komponen CIPP dengan menggunakan instrument
yang berupa pedoman angket (kuesioner).

IV. Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian studi evaluatif yang dilakukan terhadap semua guru di SMK TI Bali
Global Denpasar yang berjumlah 90 orang dengan mengukur variabel konteks yang
meliputi:kebijakan pemerintah, dan dukungan/partisipasi masyarakat. yaitu: Pertama, evaluasi
berdasarkan konteks pelaksanaanPermendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar ditinjau dari
konteks,input,proses,produk tergolong efektif.

Pada variabel konteks, secara umum sudah mendukung keberhasilan
pelaksanaanPermendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru di SMK TI Bali Global Denpasar. Bila dilihat pada masing-masing dimensi, tampak bahwa
pada kedua dimensi yang dilibatkan pada variabel konteks semuanya mendukung pelaksanaan
kualifikasi akademik dan kompetensi guru berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 di
SMK TI Bali Global Denpasar. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis yang menunjukkan efektif
(+).

Pada variabel kontek, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar dari variabel konteks sudah
mencapai standar. Dari uji tanda berjenjang wilcoxon dengan membandingkan kondisi nyata
dengan kondisi ideal (standar) dengan rata- rata sebesar 19,058 dengan besar beda 14,916
bertanda positif dengan kategori TS ( tidak terjadi kesenjangan), Berarti tidak terdapat
kesenjangan pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar dari variabel konteks karena pencapaian skor
variabel konteks melebihi kondisi ideal yang diharapkan.

Kedua, evaluasi berdasarkan input pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar tergolong efektif.

1803
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Ini berarti kualifikasi standar pendidik, kualifikasi standar tenaga kependidikan, kompetensi
pendidik, dan kompetensi tenaga kependidikan telah mendukung efektivitas implementasi
pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru di SMK TI Bali Global Denpasar.Karena komponen-komponen ini dijadikan tolak ukur
pada pengukuran variabel input.

Pada variabel input, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar dari variabel input sudah
mencapai standar. Dari uji tanda berjenjang wilcoxon dengan membandingkan kondisi nyata
dengan kondisi ideal (standar) dengan rata- rata sebesar 192,140 dengan besar beda 13,925
bertanda positif dengan kategori TS ( tidak terjadi kesenjangan).

Ketiga, evaluasi berdasarkan proses pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007
Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar
tergolong efektif. Pada variabel proses, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar dari variabel
proses sudah mencapai standar. Dari uji tanda berjenjang wilcoxon dengan membandingkan
kondisi nyata dengan kondisi ideal (standar) dengan rata- rata sebesar 130,930 dengan besar beda
8,325 bertanda positif dengan kategori TS ( tidak terjadi kesenjangan),

Pada variabel hasil, secara umum SMK TI Bali Global Denpasar tergolong relatif efektif
(+) dalam melaksanakan program pendidikan. Evaluasi terhadap variabel hasil membantu
mengambil keputusan yang digunakan untuk meninjau kembali suatu putaran rencana. Hasil apa
yang telah dicapai, seberapa baik dilakukan penghematan dan apa yang dilakukan jika program
tersebut telah mencapai hasil sesuai dengan harapan. Pada tataran produk evaluasi hasil tertuju
pada prestasi guru di SMK TI Bali Global Denpasar.

Pada variabel hasil, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar dari variabel hasil sudah
mencapai standar. Dari uji tanda berjenjang wilcoxon dengan membandingkan kondisi nyata
dengan kondisi ideal (standar) dengan rata- rata sebesar 30,854 dengan besar beda 3,967
bertanda positif dengan kategori TS ( tidak terjadi kesenjangan).Bila dianalisis secara
1804
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

keseluruhan terhadap variabel konteks, input proses dan produk pelaksanaan Permendiknas No.
16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global
Denpasar setelah data ditransformasikan ke dalam T-skor diperoleh hasil analisis seperti tampak
pada tabel berikut:

TabelRekapitulasi Hasil Perhitungan Variabel Konteks, Input, Proses dan Hasil

Frekuensi
No Variabel Keterangan
f+ f- Hasil

1 Konteks 50 40 + Positif

2 Input 41 39 + Positif

3 Proses 48 42 + Positif

4 Hasil 46 44 + Positif

+ + Positif,Positif
Hasil
++ Positif,Positif

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa pada variabel konteks, (+) >(-) sehingga
menghasilkan + (efektif), untuk variabel input (+) >(-) sehingga menghasilkan + (efektif),
untuk variabel proses (+) >(-) sehingga menghasilkan + (efektif), dan untuk variabel hasil
(+) >(-) sehingga menghasilkan + (efektif). Jadi secara keseluruhan menghasilkan (+ + + + ).
Untuk melihat pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar.

V. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan temuan penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, pelaksanaan dilihat dari variabel konteks tergolong dalam kategori efektif. Bila
dilihat secara rinci tampak bahwa kedua dimensi yang dilibatkan pada variabel konteks,
semuanya sudah mendukung pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasar. Kedua,
1805
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

pelaksanaan dilihat dari variabel input dalam pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007
Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasarkategori
efektif. Ketiga, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasardilihat dari variabel proses tergolong
dalam kategori efektif. Keempat, pelaksanaan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global Denpasardilihat dari
variabel produk/hasil tergolong dalam kategori efektif. Dari satu dimensi yang dilibatkan dalam
pengukuran variabel produk, yakni: prestasi pendidik dan tenaga kependidikan ternyata
pelaksanaan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan berdasarkan pelaksanaan
Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK
TI Bali Global Denpasartelah mampu mencapai tujuan seperti telah ditetapkan.
Dari pembahasan hasil penelitian dan simpulan, bahwa pelaksanaan Permendiknas No. 16
Tahun 2007 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di SMK TI Bali Global
Denpasarakan efektif jika berfungsinya secara efektif konteks, input, proses dan produk. Dengan
demikian temuan studi evaluatif ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi pemerintah
Kota Denpasar. Oleh karena itu, agar pelaksanaan program pendidikan efektif, variabel konteks,
input, proses dan produk harus diperhatikan.

Daftar Pustaka

Arikunto, S. dan Safruddin, Cepi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis
Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
BSNP. 2007. Peraturan Mendiknas RI No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi akademik
dan Kompetensi Guru.
Depdiknas, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Gagne, R.M. dan L.J. Briggs. 1979. Principles of Instruction Design. New York: Holt, Rinehart
and Winston.
Janawi. 2011. Kompetensi Guru : Citra Guru Profesional. Bandung: Alfabeta
Kunandar. 2007. Guru Profesional : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:
Grafindo
1806
Nomor 21 Tahun XVII April 2017
ISSN 1907-3232

Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru.
Peraturan Mendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru.
Reece, I. dan Stephen Walker. 2004. Teaching, Training and Learning, 5th ed. Great Britain:
Oxford Business Education
Stufflebeam, D.L.H Mckee dan B. Mckee. 2003. The CIPP Model for Evaluation.Paper
presented at the 2003 Annual Conference of the Oregon Program Evaluation Network (OPEN ).
Portland, Oregon.
Sudarwan D. 2002. Inovasi Pendidikan: Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga
Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Tilaar, H.A.R, 2006, Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Tayibnapis, F.Y. 2000. Evaluasi Program. Rineka Cipta. Jakarta
Undang-undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Worthen dan Sanders. 1979. Dalam Blog Djumaidi Lababa. Berbagai sumber dari internet
melalui www. google.com

1807