You are on page 1of 24

KASUS II

Seorang perempuan MRS dengan keluhan, muntah coklat kehitaman, nyeri


epigastrium, lemah, pucat, konjungtiva anemis, diaveresis, BAB hitam,
agak encer, TD : 100/PP, nadi lemah >120x/m, RR >30/m. Anoreksia
sudah 1 hari, bibir kering, tremor, klien kencing agak sedikit dan warna
pekat.

A. KLARIFIKASI ISTILAH-ISTILAH PENTING


1. Nyeri Epigastrium : Rasa sakit yang pasien merasa di daerah tengah
atas perut, yang disebut sebagai nyeri epigastrik. Ini wilayah tertentu
yang disebut sebagai daerah epigastrium.
2. Konjungtiva : membran tipis yang menutupi bagian depan mata
3. Anemis : keadaan dimana tubuh kekurang darah dan hal ini bisa
menyebabkan kelemahan daya tahan tubuh sulit memfokuskan pikran
kekurangan oksigen dan lain-lain
4. Diaforesis : keringat, terutama keringat berlebihan.
5. TD : Tekanan Darah : tekanan yang dihasilkan oleh pompa jantung
untuk menggerakkan darah keseluruh tubuh. TD Normal orang
dewasa : 120/80mmHg
6. RR : Respiration Rate : Pernapasan normal pada bayi antara 30 50
x/m, pada anak - anak antara 15 - 30 x/m dan pada orang dewasa
antara 12 - 20 x/m/.
7. Anoreksia : suatu keadaan gangguan psikologis di mana penderita
menolak untuk menjaga berat badan normal, disertai adanya ketakutan
yang sangat akan penambahan berat badan atau ketakutan menjadi
gemuk walaupun kenyataannya pasien sangat kurus.
8. Tremor : gerakan yang tidak terkontrol dan tidak terkendali pada
satu atau lebih bagian tubuh Anda.
B. KATA KUNCI
1. Muntah coklat kehitaman
2. Nyeri epigastrium
3. BAB hitam
4. TD 100/PP
C. MIND MAP & LEMBAR CEKLIS
1. MIND MAP

GASTRITIS

CROHNS DISEASE Definisi :

Definisi : Gastritis merupakan suatu keadaan


VARISES ESOFAGUS
Crohns disease adalah penyakit peradangan atau perdarahan mukosa
Definisi :
radang usus dan merupakan kondisi jangka lambung yang dapat bersifat akut, kronis,
Varises esofagus adalah pembesaran
panjang yang mana peradangan bisa terjadi difus atau local
abnormal vena yang terletak pada esofagus.
pada seluruh lapisan dinding sistem Manifestasi Klinik :
Manifestasi Klinik :
pencernaan, mulai dari mulut hingga ke 1. Muntah coklat kehitaman
1. Muntah coklat kehitaman
anus. 2. Nyeri epigastrium
2. Pucat
Manifestasi Klinik : 3. Lemah
3. Diaphoresis
1. Muntah coklat kehitaman 4. Pucat
4. BAB hitam
2. Nyari epigastrium 5. Konjungtiva anemis
5. Kencing sedikit dan agak pekat
3. Lemah 6. Diaphoresis

4. BAB hitam 7. BAB hitam


8. Kencing sedikit dan agak pekat
2. LEMBAR CEKLIS
Manifestasi Crohns disease Varises Esofagus Gastritis
Muntah coklat kehitaman
Nyeri epigastrium
Lemah
Pucat
Konjungtiva anemis
Diaphoresis
BAB hitam
Tremor
Bibir kering
Kencing sedikit dan agak pekat

D. PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
1. Apa yang menyebabkan pasien mengalami muntah coklat kehitaman?
2. Apa yang menyebabkan pasien mengalami nyeri epigastrium?
3. Mengapa pasien mengalami BAB hitam?
4. Bagaimana penyebab pasien mengalami konjungtiva anemis?
5. Apa yang menyebabkan pasien diaforesis?
6. Mengapa pasien mengalami tremor?
E. JAWABAN PERTANYAAN
1. Penyebab pasien muntah warna coklat kehitam, yaitu:
a. Radang lambung atau gastritis yang sangat parah
b. Pelebaran pembuluh darah pada bagian bawah kerongkongan
(varises esofagus)
c. Darah yang tertelan dari saluran napas saat mengalami mimisan
d. Menelan racun korosif
e. Kelainan darah
Kondisi muntah warna hitam yang dibiarkan akan menyebabkan
gejala kekurangan darah seperti pucat, lemas, berdebar-debar hingga
penurunan tekanan darah berujung pada syok
2. Penyebab pasien mengalami nyeri epigastrium, yaitu :
a. Tukak peptik adalah luka pada lapisan dinding lambung atau
usus kecil . Hal ini terjadi ketika zat asam dalam saluran
pencernaan merusak permukaan dalam lambung atau usus kecil.
b. Pankreatitis, pankreas adalah organ yang menghasilkan enzim
yang membantu proses pencernaan dan hormon dalam mengatur
upaya tubuh dalam memproses gula. Pankreatitis terjadi ketika
pankreas meradang.
c. Penyakit kantong empedu, kantong empedu adalah kantong
kecil yang berada di bawah hati. Kantong ini menyimpan dan
mengkonsentrat cairan yang membantu tubuh mencerna lemak
yaitu cairan empedu. Jika kantong empedu bermasalah, Anda
akan merasakan sakit perut yang luar biasa secara konstan yang
bisa diiringi dengan demam, mual, muntah, tubuh gemetar, tinja
berubah warna, dan nyeri dada.
d. Preeklamsia merupakan komplikasi dari penyakit tekanan darah
tinggi pada ibu hamil yang tidak ditangani dengan benar.
Preeklamsia bisa merusak organ pada tubuh, pada umumnya
ginjal
e. Kanker lambung. Penyakit ini terjadi ketika sel kanker ganas
terbentuk di lambung.
3. BAB hitam disebabkan oleh :
a. Luka pada lambung, disertai dengan gejala nyeri ulu hati, mual,
dan muntah darah.
b. Makanan yang banyak mengandung zat besi, seperti bayam,
daun-daunan
c. Obat-obatan
d. BAB yang keras.
Dari penyebab yang disebutkan yang berbahaya adalah apabila
adanya luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan pada
lambung sehingga BAB berwarna kehitaman.
4. Penyebab konjungtiva anemis dikarenakan konjungtiva anemis
merupakan salah satu tanda dari penyakit anemia (kekurangan darah).
Pada kasus tersebut konjungtiva anemis disebabkan oleh
kemungkinan terjadinya perdarahan di organ pencernaan yang
dibuktikan oleh BAB hitam.
5. Penyebab terjadinya diaphoresis, yaitu :
1) Anafilaksis (reaksi alergi parah yang mengancam nyawa)
2) Demam
3) Heat exhaustion
4) Hiperhidrosis (keringat berlebih)
5) Infeksi dan penyakit menular, seperti pneumonia, tuberkulosis,
peritonitis (infeksi selaput yang mengelilingi perut), dan
pielonefritis (infeksi ginjal)
6) Batu ginjal
7) Nyeri berat
8) Stres, kecemasan dan gangguan kecemasan, seperti serangan
panic
9) Toxic shock syndrome
10) Muntah
6. Tremor terjadi karena adanya gangguan pada persarafan yang menuju
ke otot yang terkena, tremor dikelompokkan berdasarkan kecepatan
dan irama gerakannya, dimana dan seberapa sering terjadi serta
beratnya:
1) Tremor aksi, terjadi ketika otot dalam keadaan aktif.
2) Tremor istirahat, terjadi ketika otot sedang beristirahat.
Meskipun penderita sedang beristirahat total, lengan atau
tungkainya bisa terus gemetaran. Tremor ini bisa merupakan
pertanda dari penyakit Parkinson.
3) Tremor yang disengaja, terjadi jika seseorang membuat gerakan
yang disengaja, tremor ini bisa terjadi pada seseorang yang
memiliki kelainan pada serebelum (otak kecil) atau
penghubungnya. Yang sering menyebabkan terjadinya tremor
ini adalah sklerosis multiple, tremor yang disengaja juga bisa
terjadi pada penyakit neurologis lainnya, stroke atau alkoholik
menahun. Tremor yang disengaja lebih lambat daripada tremor
esensial serta menyebabkan gerakan yang lebih luas dan
serabutan.
4) Tremor esensial merupakan tremor yang biasanya mulai timbul
pada masa dewasa, yang secara perlahan menjadi semakin nyata
dan tidak memiliki penyebab yang pasti. Tremor esensial
biasanya bersifat ringan dan tidak menunjukkan adanya penyakit
yang serius, tetapi bisa mengganggu, yaitu mempengaruhi
tulisan tangan, menyebabkan kesulitan dalam menggunakan
perkakas dan mempermalukan penderitanya. Keadaan ini bisa
diperberat oleh stres emosional, kecemasan, kelelahan, kafein
atau obat perangsang yang diresepkan oleh dokter. Obat-obatan
(terutama untuk asma dan emfisema) juga bisa memperburuk
tremor esensial.
5) Tremor senilis adalah tremor esensial yang timbul pada usia
lanjut.
6) Tremor familial merupakan tremor esensial yang terjadi di
dalam satu keluarga.
F. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
1. Mengetahui bagaimana kajian penatalaksanaan terapi pada pasien
gastritis.
G. INFORMASI TAMBAHAN
Penggunaan obat dalam tatalaksana terapi pada pasien gastritis yang
menjalani rawat inap di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado sesuai
dengan Standar Prosedur Operasional (SPO). Pasien gastritis mengalami
peningkatan sekresi asam lambung, untuk itu digunakan obat antiulcer
dengan tujuan menghambat atau menurunkan sekresi asam lambung.
Ranitidin dan antasida merupakan obat antiulcer yang paling banyak
digunakan dalam terapi gastritis, ranitidin diberikan sebelum makan dengan
tujuan memaksimalkan penghambatan sekresi asam lambung sebelum
adanya rangsangan sekresi asam lambung dari makanan sedangkan antasida
bertujuan untuk menetralkan asam lambung (Tjay dan Rahardja, 2007).
Untuk melindungi mukosa lambung dari serangan asam lambung juga
diberikan agen sitoproteksi (sukralfat) yang dapat melindungi mukosa
lambung (Sukandar et al, 2009).
H. KLARIFIKASI INFORMASI
Jurnal terlampir
I. ANALISA DAN SINTESIS INFORMASI
Berdasarkan kasus diatas seorang perempuan mengeluh mengalami
muntah warna coklat kehitaman. Muntah yang berwarna coklat kehitaman
ini biasanya merupakan tanda dari adanya perdarahan. Hematemesis
merupakan muntah darah yang bersumber dari arteri atau vena. Warna
hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara darah
dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat
berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.
Perdarahan yang terjadi ini kemungkinan disebabkan oleh adanya
perlukaan pada lapisan dinding organ pencernaan atas misalnya pada
lambung dan esofagus, hal ini semakin diperkuat dengan adanya nyeri di
daerah epigastrium. Kondisi pasien yang pucat dengan konjungtiva anemis
menandakan bahwa pasien mengalami kekurangan darah (anemia) akibat
dari perdarahan yang terjadi.
Anoreksia yang sudah 1 hari dialami pasien kemungkinan disebabkan
oleh adanya muntah. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi yang
cukup untuk pasien. Sehingga pasien merasa lemah, TD rendah yaitu
100/PP, nadi lemah dan mengalami tremor. Selain itu klien kencing agak
sedikit dan berwarna pekat yang biasanya menandakan adanya dehidrasi
atau adanya gangguan pada beberapa organ tubuh yang penting.
BAB hitam, agak encer atau bisa disebut melena adalah keluarnya
tinja yang lengket dan hitam seperti aspal dan menimbulkan bau yang khas
yang menunjukan pendarahan saluran cerna bagian atas serta di cernanya
darah pada usus halus. Warna merah gelap atau hitam berasal dari konversi
hemoglobin menjadi hematin oleh bakteri. Dan dari gejala-gejala yang
dialami klien tersebut dapat dipastikan bahwa klien menderita gastritis.
PEMBAHASAN
A. Konsep Medis
1. Definisi
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa
yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti
inflamasi/peradangan. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung
(Kapita Selecta Kedokteran, Edisi Ketiga hal 492).
Gastritis adalah segala radang mukosa lambung( Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah ,Edisi Kedelapan hal 1062). Gastritis
merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa
lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau
local(Patofisiologi, Sylvia A Price hal 422).
Berdasarkan berbagai pendapat tokoh diatas, gastritis dapat juga
diartikan sebagai suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan
submukosa lambung dan secara hispatologi dapat dibuktikan dengan
adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis bukan
merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi
yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung.
Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh
bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di
lambung yaitu Helicobacter Pylori.Peradangan ini mengakibatkan sel
darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya
kelainan pada bagian tersebut.
2. Etiologi
Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini
kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding
lambung. Beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya
gastritis antara lain :
1) Infeksi bakteri Helicobacter pylori adalah kuman Gram negatif,
basil yang berbentuk kurva dan batang. Helicobacter
pylori adalah suatu bakteri yang menyebabkan peradangan
lapisan lambung yang kronis (gastritis) pada manusia.. Sebagian
besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori yang
hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding
lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana
bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan
tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H.
pylori sering terjadi pada masa kanak kanak dan dapat
bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi
H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama
terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya
gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian
mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding
lambung. Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis,
sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung secara perlahan rusak. Peneliti menyimpulkan bahwa
tingkat asam lambung yang rendah dapat mengakibatkan racun-
racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat dihancurkan atau
dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga
meningkatkan resiko (tingkat bahaya) dari kanker lambung.
Tapi sebagian besar orang yang terkena infeksi H. pylori kronis
tidak mempunyai kanker dan tidak mempunyai gejala gastritis,
hal ini mengindikasikan bahwa ada penyebab lain yang
membuat sebagian orang rentan terhadap bakteri ini sedangkan
yang lain tidak.
2) Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus.
3) Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin,
ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada
lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas
melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat obat
tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah
lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara
terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat
mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer.
4) Penggunaan alkohol secara berlebihan. Alkohol dapat
mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan
membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung
walaupun pada kondisi normal.
5) Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan
menyebabkan pendarahan dan gastritis.
6) Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma,
luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan
juga borok serta pendarahan pada lambung.
7) Kelainan autoimmune. Autoimmune atrophic gastritis terjadi
ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang
berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan
peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung,
menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan
menganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang
membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-
12, akhirnya, dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah
konsisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi
seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis
terjadi terutama pada orang tua.
8) Radiasi and kemoterapi. Perawatan terhadap kanker seperti
kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada
dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi
gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil
radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam
dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi
permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak
kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung.
9) Usia
Usia tua memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita
gastritis dibandingkan dengan usia muda. Hal ini menunjukkan
bahwa seiring dengan bertambahnya usia mukosa gaster
cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki
infeksi Helicobacter Pylory atau gangguan autoimun daripada
orang yang lebih muda. Sebaliknya,jika mengenai usia muda
biasanya lebih berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat.
3. Manifestasi Klinis
a. Gastritis akut
1) Hematemetis dan melena yang dapat berlangsung sangat
hebat sampai terjadi renjatan karena kehilangan darah.
Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan
asimtomatis. Keluhan keluhan itu misalnya nyeri timbul
pada uluhati, biasanya ringan dan tidak dapat ditunjuk
dengan tepat lokasinya. Kadang kadang disertai dengan
mual- mual dan muntah.
2) Perdarahan saluran cerna sering merupakan satu- satunya
gejala.
3) Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi
sebagai darah samar pada tinja dan secara fisis akan
dijumpai tanda tanda anemia defisiensi dengan etiologi
yang tidak jelas.
4) Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan
kecuali mereka yang mengalami perdarahan yang hebat
sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan
hemodinamik yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat
dingin, takikardia sampai gangguan kesadaran.
b. Gastritis kronik
Kebanyakan pasien tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian
kecil mengeuh nyeri ulu hati, anoreksia, nause dan pemeriksaan
fisik tidak dijumpai kelainan.
1) Tipe A : Asimtomatis
2) Tipe B :Mengeluh anoreksia, Sakit ulu hati setelah makan,
Bersendawa, Rasa pahit dalam mulut, Mual dan muntah
4. Patofisiologi
a. Gastritis akut
Pengaruh efek samping obat-obat NSAIDs atau Non-
Steroidal Anti Inflamatory Drug seperti aspirin juga dapat
menimbulkan gastritis.Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid
(AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat
menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara
mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding
lambung. Jika pemakaian obat obat tersebut hanya sesekali
maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil.
Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau
pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkangastritis dan
peptic ulcer. Pemberian aspirin juga dapat menurunkan sekresi
bikarbonat dan mukus oleh lambung, sehingga kemampuan
faktor defensif terganggu.
Alkohol berlebih, terlalu sering memakan makanan yang
mengandung nitrat (bahan pengawet) atau terlalu asam (cuka),
kafein seperti pada teh dan kopi serta kebiasaan merokok dapat
memicu terjadinya gastritis. Karena bahan-bahan tersebut bila
terlalu sering kontak dengan dinding lambung akan memicu
sekresi asam lambung berlebih sehingga dapat mengikis lapisan
mukosa lambung.
Kemudian stress psikologis maupun fisiologis yang lama
dapat menyebabkan gastritis. Stress seperti syok, sepsis, dan
trauma menyebabkan iskemia mukosa lambung. Iskemia
mukosa lambung mengakibatkan peningkatan permeabilitas
mukosa akibatnya terjadi difusi balik H+ ke dalam mukosa.
Mukosa tidak mampu lagi menahan asam berlebih menyebabkan
edema lalu rusak.
b. Gastritis kronik
Gastritis kronis dapat diklasifikasikan tipe A atau tipe B.
Tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan
dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan atropi dan
infiltrasi sel. Hal ini dihubungkan dengan penyakit otoimun,
seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus
dari lambung.Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H.
pylory) Ini dihubungkan dengan bakteri H. pylory, faktor diet
seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan dan
alkohol, merokok atau refluks isi usus kedalam lambung. H.
Pylori termasuk bakteri yang tidak tahan asam, namun bakteri
jenis ini dapat mengamankan dirinya pada lapisan mukosa
lambung. Keberadaan bakteri ini dalam mukosa lambung
menyebabkan lapisan lambung melemah dan rapuh sehingga
asam lambung dapat menembus lapisan tersebut. Dengan
demikian baik asam lambung maupun bakteri menyebabkan
luka atau tukak. Sistem kekebalan tubuh akan merespon infeksi
bakteri H. Pyloritersebut dengan mengirimkan butir-butir
leukosit, selT-killer, dan pelawan infeksi lainnya.
Namun demikian semuanya tidak mampu melawan infeksi
H. Pylori tersebut sebab tidak bisa menembus lapisan lambung.
Akan tetapi juga tidak bisa dibuang sehingga respons kekebalan
terus meningkat dan tumbuh. Polymorph mati dan
mengeluarkan senyawa perusak radikal superoksida pada sel
lapisan lambung. Nutrisi ekstra dikirim untuk menguatkan sel
leukosit, namun nutrisi itu juga merupakan sumber nutrisi bagi
H. Pylori. Akhirnya, keadaan epitel lambung semakin rusak
sehingga terbentuk ulserasi superfisial dan bisa menyebabkan
hemoragi (perdarahan).Dalam beberapa hari gastritis dan bahkan
tukak lambung akan terbentuk.
5. Pathway
6. Komplikasi
a. Gastritis akut
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut
adalah perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa
hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock
hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan
dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan
hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya
adalah H. pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-
90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan
dengan endoskopi.
b. Gastritis kronis
Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan
penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12
menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu
dan penyempitan daerah antrum pylorus. Gastritis Kronis juka
dibiarkan dibiarkan tidak terawat, gastritis akan dapat
menyebabkan ulkus peptik dan pendarahan pada lambung.
Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko
kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus
menerus pada dinding lambung dan perubahan pada sel-sel di
dinding lambung.
7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostic pada pasien gastritis (Inayah, 2004 ; 60)
terdiri dari :
1) Endoskopi Saluran Cerna
Tes ini dapat melihat adanya ketidaknormalan pada
saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-
X. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang
kecil yang fleksibel dengan kamera mini di ujungnya
(endoskop) melalui mulut dan masuk kedalam esophagus,
lambung dan bagian atas usus kecil untuk melihat dinding
lambung. Hal ini dilakukan untuk melihat adanya peradangan.
Tapi tenggorokan sebelumnya diamati dan dirasakan (anestesi)
2) Biopsi Mukosa Lambung
Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel (biopsy)
pada mukosa lambung, dan sampel ini kemudian dibawa ke
labotarium, untuk menentukan apakah terjadi gastritis atau tidak.
3) Pemeriksaan Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibody
H.Pylori dalam darah. Jika hasil tes positif (+), menunjukkan
pasien pernah kontak pada suatu waktu dalam hidupnya, tapi itu
tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi.Tes
darah juga dilakukan untuk memeriksa anemia, yang terjadi
akibat pendarahan lambung.
4) Pemeriksaan Barium
Pemeriksaan Barium enema gastrointestinal atas, meliputi
instilasi cairan Barrium ke dalam lambung dan kombinasi dari
empat teknik: evaluasi barium, double contras, gambaran
mukosa lambung dan gambaran kompresi lambung. Prosedur ini
memungkinkan ditandainya gambaran iregulitas mukosa.
5) Radiologi
Radiologi, misalnya Rontgen, tes ini akan melihat adanya
tanda tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya.
Biasanya pasien akan diminta menelan cairan barium terlebih
dahulu sebelum dilakukan rontgen. Cairan ini akan melapisi
saluran cerna dan akan terlebih jelas ketika di Rontgen.
6) Pemeriksaan Feces
Tes ini memeriksa apakah ada H.Pylori dalam feces atau
tidak. Hasil yang positif dapat mengidentifikasi terjadinya
infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah
dalam feces. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan pada
lambung.
7) Pemeriksaan pernapasan
Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh
bakteri H.Pylori atau tidak
Terapi / tindakan penanganan
Terapi gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya
dan mungkin memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan
atau, dalam kasus yang jarang, pembedahan untuk
mengobatinya. (Inayah, 2004 ; 63)
1) Penghambat pompa proton
Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung
adalah dengan cara menutup pompa asam dalam sel sel
lambung penghasil asam. Penghambat pompa proton
mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari pompa
pompa ini. Yang termasuk obat golongan ini adalah
omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat
obat ini menghambat kerja H.Pylori.
2) Antasida
Merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau
tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi
gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat
menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan cepat.
3) Terapi terhadap asam lambung
Terapi terhadap asam lambung antara lain melibatkan obat
obatan yang mengurangi dan menetralkan asam lambung
seperti :
a) Penghambat asam
Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatai rasa
sakit tersebut, maka akan direkomendasikan obat seperti,
cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk
mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi.
b) Cytoprotective agents
Obat obat golongan ini membantu untuk
melindungi jaringan yang melapisi lambung dan usus
kecil. Yang termasuk di dalamnya adalah sucraflate dan
misoprostol.
Terapi terhadap H.Pylori
Terdapat beberapa regimen untuk mengatasi infeksi H.Pylori.
Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan
penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan dengan bismuth
subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri,
penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit,
mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas
antibodi. Terapi terhadap infeksi H.Pylori tidak selalu berhasil,
kecepatan untuk membunuh kuman H.Pylori sangat beragam,
bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi kombinasi dari
3 obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi 2 obat. Terapi
dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan
dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas. Untuk
memastikan H.Pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan
kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernafasan dan
pemeriksaan feces adalah 2 jenis pemeriksaan yang sering dipakai
untuk memastikan sudah tidak adanya bakteri H.Pylori.
8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Farmakologi
1) Antasida : Obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau
tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk
mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralkan asam
lambung sehingga cepat mengobati gejala antara lain
promag, mylanta, dll. Antasida adalah basa lemah yang
bereaksi dengan asam hidroklorik, membentuk garam dan
air untuk mengurangi keasaman lambung. Enzim pepsin
tidak aktif pada pH lebih tinggi dari empat, maka
penggunaan antasida juga dapat mengurangkan aktivitas
pepsin (Finkel, 2009). Obat ini juga memiliki efek
pengurangan kolonisasi H.pylori dan merangsang sintesis
prostaglandin (Mycek,2001).
2) Penghambat asam (acid blocker) : Jika antasid tidak cukup
untuk mengobati gejala, dokter biasanya meresepkan obat
penghambat asam antara lain simetidin, ranitidin, atau
famotidin.
3) Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton) : Obat
ini bekerja mengurangi asam lambung dengan cara
menghambat pompa kecil dalam sel penghasil asam. Jenis
obat yang tergolong dalam kelompok ini adalah
omeprazole, lanzoprazole, esomeparazol, rabeprazole, dll.
Untuk mengatasi infeksi bakteri H. pylori, biasanya
digunakan obat dari golongan penghambat pompa proton,
dikombinasikan dengan antibiotika.
b. Penatalaksanaan Non-farmakologis
1) Konsumsi banyak cairan
Terapi non farmakologi penyakit gastritis yang pertama
adalah dengan konsumsi cairan sebanyak mungkin, hal ini
berguna untuk mengurangi gejalapenyakit gastritisi,
seperti nyeri ataupun perih. Cairan yang paling baik untuk
penderita penyakit gastritis adalah air putih. karena air
putih lebih bersifat netral. Usahakan untuk mengonsumsi
air putih sehari minimal 8-10 gelas.
2) Konsumsi buah kaya akan serat
Selain konsumsi air putih sebanyak mungkin, Anda juga
harus mengonsumsi buah yang banyak mengandung serat.
Karena walau bagaimana pun buah yang mengandung
serat akan memperlancar proses metabolisme dan juga
pencernaan di dalam tubuh, terutama pada bagian
lambung. Buah yang mengandung banyak serat antara lain
seperti pepaya, mangga, jambu biji dan lain sebagainya.
3) Perbanyak olahraga dan hindari kebiasaan buruk
Olahraga tidak hanya untuk terapi non
farmakologi penyakit gastritis saja akan tetapi juga sangat
berguna untuk pengobatan berbagai macam penyakit
lainnya. Lakukan olahraga ringan saja seperti jogging,
jalan sehat, yoga, senam dan lain sebagainya. Selain
berolahraga, Anda juga harus menghindari kebiasaan-
kebiasaan buruk seperti merokok, mabuk (minum
alkohol), minum kopi, begadang dan lain sebagainya.
4) Kendalikan stress
Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke,
menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu
terjadinya permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan
produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan
pencernaan. Karena stress bagi sebagian orang tidak dapat
dihindari, maka kuncinya adalah mengendalikannya secara
effektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang
cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan
faktor utama yaitu etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan
sering, serta Obat-obatan. Namun secara spesifik dapat dibedakan
sebagai berikut:
a. Gastritis Akut:
1) Pantang minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala
menghilang; ubah menjadi diet yang tidak mengiritasi.
2) Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
3) Jika terdapat perdarahan, penatalaksanaannya serupa
dengan hemoragie yang terjadi pada saluran
gastrointestinal bagian atas.
4) Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali,
encerkan dan netralkan asam dengan antasida umum,
misalnya aluminium hidroksida, antagonis reseptor H2,
inhibitor pompa proton, antikolinergik dan sukralfat
(untuk sitoprotektor).
5) Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan
sari buah jeruk yang encer atau cuka yang di encerkan.
6) Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung
karena bahaya perforasi.
b. Gastritis Kronis :
1) Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi.
2) H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis;
tetrasiklin atau amoxicillin) dan garam bismuth (pepto
bismol).