You are on page 1of 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur, yang dibagi

menjadi Mikosis Profunda dan Mikosis Superficial. Insidens Mikosis

Superficial cukup tinggi di Indonesia karena menyerang masyarakat luas.

Mikosis superficial cukup banyak di derita penduduk negara tropis. Indonesia

merupakan salah satu negara beriklim tropis dan suhu kelembaban tinggi

yang merupakan suasana yang baik untuk perkembangan jamur, sehingga

jamur dapat ditemukan hamper di semua tempat. Mikosis Superficial

diklasifikasikan menjadi Dermatofitosis dan Non-Dermatofitosis.1

Dermatofitosis atau yang dikenal dengan tinea merupakan penyakit pada

jaringan yang mengandung zat tanduk misalnya stratum korneum pada

epidermis, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur golongan

dermatofit. Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan

deramatofitosis. Golongan jamur ini memiliki sifat mencernakan keratin, yang

dibagi menjadi 3 (tiga) genus yaitu : Microsporum, Tripcopyton, dan

Epidermopyton.1,2

Pembagian dermatofitosis yang banyak dipakai adalah berdasarkan lokasi

yaitu, Tinea Capitis (Dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala), Tinea

Barbae (Dermatofitosis pada dagu dan janggut), Tinea Cruris ( Dermatofitosis

pada genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang-kadang sampai perut

bagian bawah), Tinea Pedis et manum (Dermatofitosis pada kaki dan tangan),

Tinea Unguinum (Dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki), Tinea

1
Corporis (Dermatofitosis pada bagian kulit glabrosa pada bagian lain yang

tidak termasuk bentuk lima tinea diatas.2

Tinea Corporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut

(Glabrosa Skin), pada wajah, badan, lengan, dan tungkai. Insiden tinea

corporis dapat menyerang semua umur tetapi lebih sering menyerang orang

dewasa. Penyakit ini disebabkan oleh golongan jamur dermatofita yang

tersering adalah Epidermopyton Floccpasienum atau T.rubrum.2

Variasi klinis tinea corporis dapat berupa lesi berbentuk makula yang

berwarna merah atau hiperpigmentasi dengan tepi aktif. Kelainan kulit berupa

lesi bulat atau lonjong, batas tegas terdiri atas eritema, skuama, dan kadang-

kadang vesikel dan papul di tepi. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta

akibat garukan. Daerah tengah biasanya lebih tenang dan disertai gatal. Lesi-

lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang

lainnya. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir

yang polisiklik, karna beberapa lesi kulit yang menjadi satu.3

Prevalensi infeksi jamur superfisial di seluruh dunia diperkirakan

menyerang 20-25% populasi dunia dan merupakan salah satu bentuk infeksi

kulit tersering. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia ysng dapat menyerang

semua ras dan kelopok umur sehingga infeksi jamur superfisial ini relatif

sering terkena pada negara tropis.3

Diagnosa pasien ditegakkan berdasarkan anamnesa didapatkan rasa gatal

yang sangat mengganggu dan rasa gatal bertambah apabila berkeringat,

efloresensi yaitu adanya makula eritema, berbatas tegas, terdapat skuama dan

vesikel dan papul, apabila digaruk terlihat erosi dan krusta. Pemeriksaan

2
laboratorium ( kerokan kulit dengan KOH 10%). Penatalaksanaannya secara

umum perlu diberikan edukasi kepada pasien untuk meningkatkan kebersihan

badan dan menghindari pakaian yang tidak menyerap keringat. Dan

penatalaksanaan secara khusus meliputi sistemik dan topikal.4

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut

(glabrous skin) kecuali telapak tangan,telapak kaki dan lipat paha.1

2.2 Etiologi

Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang di sebabkan oleh jamur

dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycosporum dan Trycophyton. Terdapat

lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah

satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea

korporis.1,2

Dermatofita merupakan penyebab terbanyak terjadinya onikomikosis.

Yaitu sekitar 80-90%. Semua jenis dermatofita dapat menyebabkan tinea

unguium, penyebab terbanyak adalah Trichophyton rubrum (71%) dan

Trichophyton mentagrophytes (20%). Penyebab lain diantaranya E.Floccosum

,T,violaaceum ,T.Schoenleinni,T.Verrucosum.3

2.3. Epidemiologi

Prevalensi infeksi jamur superfisial diseluruh dunia di perkirakan

menyerang 20-25% populasi dunia dan merupakan salah satu bentuk infeksi kulit

tersering. Penyakit ini tersebar diseluruh dunia yang dapat menyerang semua ras

dan kelompok umur sehingga infeksi jamur superfisial ini relatif sering terkena

4
pada negara tropis (iklim panas dan kelembaban yang tinggi) dan sering terjadi

eksaserbasi.3

2.4. Patogenesis

Infeksi Dermatofita diawali dengan perlekatan jamur atau elemen jamur

yang dapat tumbuh dan berkembang pada stratum korneum. Pada saat perlekatan

,jamur dermatofita harus tahan terhadap rintangan seperti sinar ultraviolet, variasi

temperatur dan kelembaban, kompetensi dengan flora normal , spingosin dan

asam lemak. Kerusakan stratum korneum,tempat yang tertutup dan maserasi

memudahkan masuknya jamur ke epidermis.4

Masuknya dermatofita ke epidermis menyebabkan respon imun pejamu

baik respon imun non spesifik maupun respon imun spesifik. Respon imun

nonspesifik merupakan pertahanan lini pertama melawan infeksi jamur.

Mekanisme ini dapat dipengaruhi faktor umum, seperti gizi, keadaan hormonal,

usia, dan faktor khusus seperti penghalang mekanik dari kulit dan mukosa,

sekresi permukaan dan respon radang. Respon radang merupakan mekanisme

pertahanan nonspesifik terpenting yang dirangsang oleh penetrasi elemen jamur.

Terdapat 2 unsur reaksi radang, yaitu pertama produksi sejumlah komponen kimia

yang larut dan bersifat toksik terhadap invasi organisme. Komponen kimia ini

antara lain ialah lisozim, sitokin, interferon, komplemen ,dan protein fase akut.

Unsur kedua merupakan elemen seluler, seperti netrofil dan makrofag, dengan

fungsi utama fatogenesis, mencerna,dan merusak partikel dengan fungsi utama

fatogenesis, mencerna dan merusak partikel asing. Makrofag juga terlibat dalam

respon imun yang spesifik. Sel-sel lain yang termasuk respon radang nonspesifik

5
ialah basophil, sel mast, eosinophil, trombosit dan sel NK (natural killer).

Neutrofil mempunyai peranan utama dalam pertahanan melawan infeksi jamur.4

Imunitas spesifik membentuk lini kedua pertahanan melawan jamur

setelah jamur mengalahkan pertahanan nonspesifik. Limfosit T dan limfosit B

merupakan sel yang berperan penting pada pertahanan tubuh spesifik. Sel-sel ini

mempunyai mekanisme termasuk pengenalan dan mengingat organism asing,

sehingga terjadi amplifikasi dari kerja dan kemampuannya untuk merespon secara

cepat terhadap adanya presentasi dengan memproduksi antibodi, sedangkan

limfosit T berperan dalam respon seluler terhadap infeksi. Imunitas seluler sangat

penting pada infeksi jamur. Kedua mekanisme ini dicetuskan oleh adanya kontak

antara lifosit dengan antigen.4

2.5. Gejala Klinis

Tinea Korporis

Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau

lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama dan papul di tepi. Daerah

tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi akibat

garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu

dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan

pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk

dengan tanda radang yang lebih nyata, lebih sering dilihat pada anak-anak

dari pada orang dewasa karena umumnya mereka mendapat infeksi baru

pertama kali. Pada tinea korporis yang menahun tanda dan radang mendadak

6
biasanya tidak terlihat lagi. Bentuk menahun yang disebabkan oleh

Trichophyton rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan tinea unguium.2

2.6. Pemeriksaan Penunjang

Selain dari gejala khas tinea korporis diagnosis harus dibantu dengan

pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan

membuat preparat langsung dari kerokan kulit dan dari permukaan kuku

yang sakit di potong hingga mengenai seluruh tebal kuku. Kemudian sediaan

dituangi larutan KOH 10% sesudah 15 menit atau sesudah dipanaskan

dengan api kecil, dilihat dibawah mikroskop. Pemeriksaan ini memberikan

hasil positif bila hifa di temukan hifa (benang-benang ) yang bersepta atau

bercabang,selain itu tampak juga spora berupa bola kecil sebesar 1-3.2

2.7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan

laboratorium yaitu mikroskopis langsung.4

2.8 Diagnosis Banding

Ada beberapa diagnosis banding tinea korporis antara lain : Dermatitis

seboroik, psoriasis, pitiriasis rosea. Kelainan pada penyakit kulit dermatitis

seboroik selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya dapat terlihat pada

tempat-tempat yang predileksinya misalnya di kulit kepala (scalp), lipatan-

lipatan kulit, misalnya belakang telinga, daerah nasolabial dan sebagainya.

Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi yaitu daerah

7
ekstensor misalnya siku, lutut, dan punggung. Kulit kepala berambut juga

sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat

juga menolong untuk menentukan diagnosis. Pitiriasis rosea, yang distribusi

kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal

anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis. Pemeriksaan

laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya. Tinea korporis kadang-

kadang sukar dibedakan dengan dermatitis seboroik pada sela paha. Lesi-lesi

ditempat-tempat predileksi sangat menolong menentukan diagnosis. Psoriasis

pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris. Lesi-lesi pada psoriasis biasanya

lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar. Adanya lesi psoriasis pada

tempat lain dapat membantu menentukan diagnosis.1,2,3

2.9. Penatalaksanaan

Pengobatan tinea korporis terdiri dari pengobatan topikal dan pengobatan

sistemik.5

Pada keadaan inflamasi menonjol dan rasa gatal berat, kombinasi anti jamur

dengan kortikosteroid jangka pendek akan mempercepat perbaikan klinis

dan mengurangi keluhan.6

Pada masa skarang, dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan

pemberian griseofulvin yang bersifat fungistatik. Secara umum, griseosulvin

dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5 1 g untuk orang

dewasa 0,25-0,5 g dan untuk anak-anak sehari 10-25 mg per kg berat badan.

Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit, penyebab penyakit, dan

keadaan imunitas penyakit. Pada pengobatan keroin stadium dini, diberikan

kortikosteroidsitemik sebagai anti inflamasi, yakni prednisone 3 x 5 mg atau

8
prednisolon 3 x 4 mg sehari selama dua minggu. Obat tersebut diberikan

besama-sama dengan griseofulvin. Griseofulvin diteruskan selama dua

minggu setelah sembuh klinis. Obat per oral yang juga efektif untuk

dermatofitosis adalah ketokonazole yang bersifat fungistik. Pada kasus-kasus

resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg

per hari selama 10 hari 2 minggu pada pagi hari setelah makan.

Ketokenazole merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.

Sebagai pengganti ketokenazole yang mempunyai sifat hepatoksik terutama

bila diberikan lebih dari 10 hari, dapat diberikan suatu obat tiazol yaitu

itrakonazol yang merupakan pemilihan yang baik. Pemberian obat tersebut

untuk penyakit kulit dan selaput lendir oleh penyakit jamur biasanya cukup 2

x 100-200 mg sehari dalam kapsul selama 3 hari. Khusus untuk onikomikosis

dikenal sebagai dosis denyut selama 3 bulan. Cara pemberiannya sebagai

berikut, diberikan 3 tahap dengan interval 1 bulan. Setiap tahap, selama 1

minggu dengan dosis 2 x 200 mg sehari dalam kapsul. Hasil pemberian

itrakonazole, dengan dosis denyut untuk onikomikosis hamper sama dengan

dengan pemberian terbinafin 250 mg sehari selama 3 bulan. Kelebihan

itrakonazole terhadap terbinafin adalah efektif terhadap onikomikosis. Pada

masa kini, selain obat-obatan topikal konvensional, misalnya asam salisil 2-

4%, asam benzoate 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%,

dan zat warna (hujai brilian 1% dalam cat Castellani) dikenal banyak obat

topikal baru. Obat-obat baru ini diantaranya tolnaftat 2%, tolsiklat,

haloprogin, derivate-derivat imidazol, siklopiroksolamin, dan naftifine

masing-masing 1%. Selain pemilihan obat yang begitu banyak ragamny perlu

9
juga diterapkan cara pengobatan yang efektif menggunakan vehikulum yang

sesuai.1,2,3

1. Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik yang dapat diberikan pada tinea korporis :

Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama. Dosis untuk

anak-anak 10-25 mg/kgbb/hari, sedangkan dewasa 0,25-0,5g/hari.

Ketokonazole digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten

terhadap griseofulvin atau terapi topikal. Dosisnya adalah 200mg/hari

selama 2 minggu.

Obat-obat seperti itrakonazole serta terbinafin dikatakan cukup

memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.7

Sumber : fitzpetrik, 20074

2. Pengobatan Topikal

Pengobatan topikal pada tinea korporis merupakan pilihan utama.

Efektivitas obat topikal dipengaruhi oleh mekanisme kerja, viskositas,

10
hidrofobiitas dan asiditas formulasi obat tersebut. Selain obat-obat

derivate imidazole dan alilamin dapat digunakan untuk mengatasi

masalah tinea korporis. Efektivitas obat yang termasuk golongan

imidazol kurang lebih sama. Pemberiam obat dianjurkan selama 3-4

minggu atau sampai hasil kultur negatif. Selanjutnya dianjurkan juga

untuk meneruskan pengobatan selama 7-10 setelah penyembuhan klinis

dan mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan.6

Sumber : Barry I, 2003 14

2.10. Prognosis

Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik

dengan tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan topikal atau

dengan anti jamur sistemik.2

11
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas pasien

Nama : Tn .Y.A

Umur : 38 Tahun

Alamat : Aspol Hamadi

Status : Menikah

Agama : Kristen Protestan

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : PNS

Suku : Serui

Tgl Pemeriksaan : 24 Agustus 2017

3.2 Anamnesis

1. Keluhan Utama

Muncul bercak kemerahan disertai rasa gatal pada tangan dan

peut sejak kurang lebih 5 bulan yang lalu.

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 8 bulan yang lalu, awalnya timbul bercak kemerahan

yang terasa gatal pada leher dan tangan. Gatal semakin bertambah apabila

pasien berkeringat. Apabila terasa gatal, pasien juga sering menggaruk dan

bercak tersebut semakin melebar dan bertambah banyak. Kemudian pasien

berobat ke puskesmas dan diberikan obat salep (pasien lupa nama

obatnya), tetapi tidak ada perubahan.

12
6 bulan yang lalu timbul bercak kemerahan yang sama dibagian

leher, tangan dan perut, kemudian pasien berobat ke Poliklinik kulit

kelamin RSUD Dok II Jayapura lalu pasien diberikan beberapa obat dan

salep, pasien merasakan adanya perubahan bercak yang memerah tadi

menjadi menghitam dan gatal berkurang.

4 bulan yang lalu, pasien kembali datang berobat dengan keluhan

yang sama yaitu bercak kemerahan ditangan dan perut yang terasa gatal.

Pasien mengatakan bahwa sering mengeluarkan banyak keringat, tetapi

tidak segera mengganti pakaiannya. Karena gatal tidak berkurang dan

bercak semakin melebar, dan pemakaian obat yang tidak teratur dan

kurang menjaga kebersihan diri, akhirnya pasien memutuskan untuk

kembali berobat lagi di Poliklinik RSUD Dok II Jayapura.

3. Riwayat Pengobatan

Sebelumnya pasien pernah mendapatkan terapi dari puskesmas

dan poliklinik akan tetapi pasien tidak rutin datang untuk

pengobatan dan juga tidak rutin meminum obat dan memakai salep

yang diberikan.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami sakit yang sama 8 bulan sebelumnya

Pasien memiliki riwayat PPOK (+)

Penyakit diabetes melitus, asam urat, jantung dan ginjal disangkal

5. Riwayat sosial

Pasien tinggal dirumah bersama keluarganya.

13
6. Riwayat kebiasaan

Pasien tidak teratur dalam membersihkan diri (mandi).

7. Riwayat alergi

Riwayat alergi obat, makanan dan atopik disangkal pasien.

8. Riwayat Keluarga

Istri pasien juga pernah mengalami hal serupa

3.3. Pemeriksaan Fisik

1. Status generalisata

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda vital :

- Tekanan darah : 120/80 mmHg

- Nadi : 80 kali/menit

- Respirasi : 20 kali/menit

- Suhu Aksilar : 36 C

Kepala/leher :bentuk normochepali, mata konjungtiva

anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor kiri kanan, hidung septum

deviasi (-), secret (-),mulut bibir kering (-),dinding faring hipermis (-),

telinga normotia,tanda radang (-), leher pembesaran kelenjar getah

bening (-), tampak makula hipopigmentasi di regio fascialis, skuama

(+).

Thoraks

Paru

14
Inspeksi : Simetris, Ikut Gerak Nafas, Retraksi Interkosal (-), Jejas

(-), makula eritema, skuama

Palpasi : Vokal Fremitus (Dextra=Sinistra)

Perkusi : Sonor di Kedua Lapang Paru

Auskultasi : Suara Nafas. Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-),

Wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi : Iktus Cordis Tidak Terlihat; Thrill (-)

Palpasi : Iktus Cordis Teraba Pada ICS V Midline Clavicula

Sinistra

Perkusi : Pekak (Batas Jantung Dalam Batas Normal)

Auskultasi : BJ I-II Reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen :

- Inspeksi : datar

- Palpasi : hepar dan lien tidak teraba membesar

- Perkusi : timpani

- Auskultasi : Bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)

Ekstremitas : Akral hangat, terdapat perubahan warna pada kuku

jari tangan, edema (-)

Genitalia : tidak dilakukan

2. Status Dermatologis

1. Distribusi : Regional

Lokasi : Regio antebrachi dextra

15
Bentuk : teratur

Ukuran : numular sampai plakat

Efluoresensi : makula eritematusa, berbatas jelas dan tegas,

skuama, dan kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan.

2. Distribusi : Regional

Lokasi : Regio abdominalis lateralis dextra

Bentuk : teratur

Ukuran : numular sampai plakat

Efloresensi : makula eritema, berbatas jelas, skuama.

3.4. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak dilakukan

16
3.5. Pemeriksaan Anjuran

Pemeriksaan Laboratorium dengan Kalium Hidroksida (KOH) 10-20%

bagian tubuh yang di ambil adalah kerokan kulit tangan dan perut.

3.6. Resume

Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan timbul bercak merah dan

gatal di sekitar tangan kanan dan perut 4 bulan yang lalu. Awalnya pasien

mengaku muncul bercak-bercak merah kecil dan gatal di sekitar daerah leher

dan rasa gatal bertambah parah saat berkeringat, kemudian menyebar ke

daerah tangan kanan dan perut. Pasien mengaku sebelumnya sudah pernah

berobat untuk keluhan ini namun keluhan timbul kembali saat obat habis.

Pasien sudah mengalami keluhan seperti ini selama 8 bulan yang lalu

namun keluhan hilang timbul. Status dermatologis, lokasi : regio antebrachi

dan region abdominalis lateralis, sirkumkrip, makula eritema dengan skuama.

3.7. Diagnosa Kerja

Tinea Korporis

3.8. Diagnosa Banding

1. Dermatitis Seboroik

2. Psoriasis

3. Pitiriasis Rosea

3.9. Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

- Sistemik :

Itrakonazol 200 mg

Antihistamin : Loratadin 10 mg

17
- Topikal : krim mikonazole Nitrat 2% (2 kali sehari selama 2

minggu oleskan tipis-tipis pada lesi).

2.Non medikamentosa

- Menjaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari

menggunakan sabun bayi.

- Mengeringkan badan ketika berkeringat dan mengganti pakaian

dengan pakaian yang bersih.

- Minum obat secara teratur dan kontrol kembali ke polik Kulit dan

Kelamin setelah 1 minggu.

3.10. Prognosis

Quo ad Vitam : Dubia ad Bonam

Quo ad functionam : Dubia ad Bonam

Quo ad sanationam : Dubia ad Bonam

18
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien Tn. Y.A berusia 38 tahun

didiagnosis menderita penyakit kulit Tinea Korporis. Diagnosis ini tegakkan

berdasarkan hasil dari anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap status

dermatologis pasien. Dari kasus diatas temukan Tinea Korporis pada Regio

Anthebrachi Dextra dan Regio Abdominalis Lateralis pada seorang laki-laki yaitu

Tn, Y.A berusia 38 tahun.

Dari hasil anamnesis didapatkan pasien datang dengan keluhan

timbul bercak bercak merah pada kulit disertai rasa gatal. Bila berkeringat rasa

gatal bertambah parah dan pasien sering menggaruknya. Pada anamnesis juga

disebutkan bahwa pasien pernah mengalami sakit yang sama 8 bulan

sebelumnya. Kemudian 7 bulan, timbul bercak kemerahan baru yang sama

seperti bercak pada leher, tangan dan perut, bercak tersebut awalnya kecil kurang

lebih seperti koin lima ratus rupiah. Kelainan ini tidak diawali dengan munculnya

bintil-bintil merah, karena terasa gatal maka pasien menggaruknya, rasa gatal

makin bertambah apabila pasien berkeringat dan cuaca panas. Kemudian bercak

kemerahan tersebut bertambah luas dan rasa gatal semakin bertambah. Pasien

kembali berobat ke puskesmas dan mendapatkan obat salep dan obat minum,

setelah memakai obat tersebut beberapa hari, dan tidak ada perubahan pasien

menghentikan memakai obat tersebut. Kemudian pasien kembali membeli obat

sendiri di apotik, yaitu salep anti jamur, pasien memakai salep tersebut apabila

terasa gatal, walaupun rasa gatal berkurang tetapi bercak kemerahan bertambah

melebar. Sejak 6 bulan yang lalu timbul bercak kemerahan yang sama dibagian

19
leher, tangan dan perut, kemudian pasien berobat ke Poliklinik kulit kelamin

RSUD Dok II Jayapura lalu pasien diberikan beberapa obat dan salep, pasien

merasakan adanya perubahan bercak yang memerah tadi menjadi menghitam dan

gatal berkurang. Kemudian 4 bulan yang lalu, pasien kembali datang berobat

dengan keluhan yang sama yaitu bercak kemerahan ditangan dan perut yang terasa

gatal. Pasien mengatakan bahwa sering mengeluarkan banyak keringat, tetapi

tidak segera mengganti pakaiannya. Karena gatal tidak berkurang dan bercak

semakin melebar, dan pemakaian obat yang tidak teratur dan kurang menjaga

kebersihan diri.

Hal ini sesuai dengan literatur di mana berdasarkan teori, etiologi,

epidemiologi, dan gambaran klinis dari tinea korporis. Tinea korporis merupakan

dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut (glabrous skin) kecuali telapak

tangan,telapak kaki dan lipat paha.1 Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang di

sebabkan oleh jamur dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycosporum dan

Trycophyton. Terdapat lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang

menginfeksi kulit dan salah satu penyakit yang disebabkan jamur golongan

dermatofita adalah tinea korporis.1,2 Prevalensi infeksi jamur superfisial diseluruh

dunia di perkirakan menyerang 20-25% populasi dunia dan merupakan salah satu

bentuk infeksi kulit tersering. Penyakit ini tersebar diseluruh dunia yang dapat

menyerang semua ras dan kelompok umur sehingga infeksi jamur superfisial ini

relatif sering terkena pada negara tropis (iklim panas dan kelembaban yang tinggi)

dan sering terjadi eksaserbasi.3 Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi

bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama dan papul di tepi.

Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi akibat

20
garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan

yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang

polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu.1,2

Jadi dari hasil anamnesis dan teori tersebut pasien Tn.Y.A dapat

didiagnosis Tinea Korporis.

Berdasarkan Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien Tn.Y.A

terutama mengenai status dermatologis pasien, didapatkan Lokasi : Regio

antebrachi dextra dan regio abdominalis lateralis, Penyebaran : Regional ,

efluoresensi : makula eritema, sirkumkrip, skuama (+) .

Gambar :Makula eritema,batas tegas dengan skuama (pasien : Tn.Y.A /38 thn)

21
Hal ini sesuai dengan teori dari buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin

yang menjelaskan gejala klinis serta temuan klinis pada pemeriksaan klinis yaitu :

kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, lesi-lesi

pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain.lesi-lesi

dengan pinggir yang polisiklik,karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu.2

Jadi dari hasil pemeriksaan fisik dan literatur pasien Tn.Y.A didiagnosis

dengan tinea Korporis.

Pada kasus ini pemeriksaan penunjang tidak dilakukan pada pasien, tetapi

seharusnya dianjurkan untuk di lakukan dengan pemeriksaan KOH 10% pada

kerokan kulit tangan dan perut, untuk melihat adanya hifa panjang bersekat dan

bercabang dengan spora berderet.2

Gambar 1. Sediaan kerokan kulit dengan KOH 10%

Pemeriksaan penunjang lainnya berupa kultur merupakan pemeriksaan yang

paling sensitif dan gold standar dalam menentukan genus dan spesies dari

22
dermatofita sumber infeksi. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan kultur

karena keterbatasan biaya.2

Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas

pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik

untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang dapat berupa kerokan

kulit, rambut, dan kuku. Bahan unuk pemeriksaan mikologik diambil dan

dikumpulkan sebagai berikut: terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan

spiritus 70%, kemudian untuk:

1. Kulit tidak berambut (glaborous skin): dari bagian tepi kelainan sampai

dengan bagian sedikit di luar kelainan sisik kulit dan kulit dikerok dengan

pisau tumpul steril.

2. Kulit berambut: rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami

kelainan; kulit di daerah terserbut dikerok untuk mengumpulkan sisik

kelit, pemeriksaan dengan lampu Wood dilakukan sebelum pengumpulan

bahan untuk mengetahui lebih jelas daerah yang terkena infeksi dengan

kemungkinan adanya fluoresensi pada kasus-kasus tinea kapitis tertentu.

3. Kuku: bahan diambil dari permukaan kuku yang sakit dan dipotong

sedalam-dalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku, bahan di bawah

kuku diambil pula.

Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-

mula dengan pembesaran 1010, kemudian dengan pembesaran 1045.

Pemeriksaan dengan pembesaran 10100 biasanya tidak diperlukan. Sediaan

basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas alas, kemudian ditambah

23
1 2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut

adalah 10% dan untuk kulit dan kuku 20%. Setelah sediaan dicampur dengan

larutan KOH, ditunggu 15-20 menit hal ini diperlukan untuk melarutkan

jaringan. Untuk mempercepat proses pelarutan dapat dilakukan pemanasan

sediaan basah di atas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan

tersebut, pemanasan sudah cukup. Bila terjadi penguapan, maka akan

terbentuk Kristal KOH, sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai.

Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat warna pada

sediaan KOH, misalnya tinta Parker superchroom blue black. Pada sediaan

kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh

sekat, dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit

lama dan/atau sudah diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah spora

kecil (mikrospora) atau besar (makrospora). Spora dapat tersusun di luar

rambut (ekrotriks) atau di dalam rambut (endotriks). Kadang-kadang dapat

terlihat juga hifa pada sediaan rambut. Pemeriksaan dengan pembiakan

diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk

menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan

bahan klinis pada media buatan.1,2,3

Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita penyakit

yang disebabkan atau berhubungan dengan infeksi Jamur, seperti :

Tinea Korporis

Pitiriasis Versikolor (Panu)

Dermatitis Seboroik

24
Langkah-langkah untuk pemeriksaan :

Pengambilan sampel

Alat alat yang dibutuhkan :

- Skalpel

- Pinset

- Alkohol 70%

- Kapas

- Kertas/wadah yang bersih

Cara pengambilan sampel :

Bersihkan kulit yang akan dikerok dengan kapas alkohol 70% untuk

menghilangkan lemak, debu dan kotoran lainnya.

Keroklah bagian yang aktif dengan skalpel dengan arah dari atas kebawah

(cara memegang skalpel harus miring membentuk sudut 45 derajat ke

atas).

Letakkan hasil kerokan kulit pada kertas atau wadah

Pembuatan sediaan

Alat alat yang dibutuhkan :

-Kaca objek

25
-Kaca penutup

-Lampu spiritus

-Pinset

-Reagen yaitu Larutan KOH 10% untuk kulit dan kuku, Larutan KOH 20% untuk

rambut.

Cara pembuatan sediaan :

-Teteskan 1-2 tetes larutan KOH 10% pada kaca objek.

-Letakkan bahan yang akan diperiksa pada tetesan tersebut dengan

menggunakan pinset yang sebelumnya dibasahi dahulu dengan larutan

KOH tersebut. Kemudian tutup dengan kaca penutup.

-Biarkan 15 menit atau dihangatkan diatas nyala api selama beberapa

detik untuk mempercepat proses lisis.

Pemeriksaan

Alat yang digunakan : Mikroskop

Cara Pemeriksaan :

Periksa sediaan dibawah mikroskop. Mula-mula dengan perbesaran

objektif 10 X kemudian dengan pembesaran 40 X untuk mencari adanya

hypha dan atau spora, akan tampak gambaran hifa dan spora tergantung

jamur yang menyebabkan penyakitnya, contohnya :

26
- terlihat gambaran hifa sebagai dua garis sejajar terbagi oleh sekat dan

bercabang maupun spora berderet (artrospora) pada Tinea

(Dermatofitosis).2,3

Pada kasus ini saya mendiagnosis Tinea Korporis dengan

Dermatitis Seboroik, Psoriasis, dan Pitiriasis Rosea. Dikarenakan

berdasarkan teori dan gambaran klinis memiliki kesamaan dan yang

membedakan hanya berdasarkan definisi, etiologi, predileksi, pemeriksaan

penunjang dan terapinya. Berikut akan dijelaskan satu per satu

berdasarkan literatur yang didapatkan.

1. Dermatitis seboroik

Merupakan kelainan kulit papuloskuamosa dengan predileksi di

daerah kaya kelenjar sebasea, kepala, wajah dan badan. Biasanya

berhubungan dengan jamur Mallasezia furfur, gangguan imunologis,

dan aktivitas glandula sebasea. Terdiri atas dua kelompok yaitu bentuk

infantil yang terjadi dalam minggu pertama hingga 3 bulan pertama

kehidupan, bersifat self limited. Bentuk dewasa yang bersifat kronik,

insiden mencapai puncak umur 40 tahun. Laki-laki lebih besar

dibandingkan wanita. Gejala klinisnya terdapat skuama kuning

berminyal, eksematosa ringan kadang kala disertai gtal dan menyengat.

Ketombe merupakan tanda awal manisfestasi dermatitis seboroik, fase

kronik dijumpai kerontokan rambut dan pada keadaan yang lebih berat

dermatitis seboroik dapat berkembang menjadi eritroderma. Predileksi

daerah seboroik yaitu kulit kepala, wajah, dada, punggung, lipat

27
gluteus, inguinal, genital dan ketiak. Penatalaksanaannya yaitu dengan

memakai shampoo yang mengandung anti mikotik, ketokonazole, zinc

pirithione, krim imidazole, metronidazole topikal, terapi sinar UVB,

pemberian itrakonazol 100mg/hari per respon cepat.1,2,3

Gambar dermatitis seboroik

2. Psoriasis

Merupakan penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik, residif,

ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama

yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin,

Auspitz dan kobner. Gambaran klasik berupa plaj eritematosa d iliputi

28
skuama putih disertai titik-titik perdarahan bila skuama dilepas. Berukuran

dari seujung jarum sampai dengan plakat menutupi sebagian besar area tubuh,

umumnya simetris. Dapat menyerang kulit, kuku, mukosa dan sendi tetapi

tidak mengenai rambut. Pada lidah dijumpai plak putih berkonfigurasi mirip

peta yang disebut lidah geografik. Ada empat variasi klinis psoriasis yaitu

psoriasis vulgaris, psoriasis inversa, psoriasis gutata, dan psoriasis pustulosa.

Penatalaksanaan psoriasis adalah dengan topikal yaitu dengan kortikosteroid,

kalsipotriol, retinoid, ter dan antralin. Fototerapi. Sistemik yaitu dengan

metotreksat, asitetrin, dan siklosporin.1,2,3

Gambar psoriasis

3. Pitiriasis Rosea

Merupakan erupsi kulit yang sembuh sendiri, dimulai dengan sebuah lesi

inisial berbentuk eritema dan skuama halus. Kemudian disusul oleh lesi-lesi

yang lebih kecil di badan, lengan, dan tungkai atasa yang tersusun sesuai

dengan lipatan kulit dan biasanya menyembuh dalam waktu 3-8 minggu.

Diduga berkaitan dengan virus HHV-7 DAN HHV-6. Didapati pada semua

umur. Gambaran klinis berupa gatal ringan, lesi pertama (herald Patch) di

badan, soliter berbentuk oval dan anular, ruam terdiri atas eritema dan

skuama halus di pinggir. Lebih khas tandanya dapat menyerupai pohon natal.

Lesi ini muncul 2 hari hingga 2 bulan setelah lesi pertama, tapi umumnya

muncul 2 minggu. Penatalaknaannya yaitu dengan simptomatik bila gatal

29
memakai obat sedatif atau antihistamin. Obat topikal berupa bedak salisilat +

menthol 0,5%-1%.1,2

Gambar pitiriasis rosea

Terapi yang di berikan pada pasien ini ialah :

Medikamentosa :

- Sistemik :

Itrakonazol 200 mg

Antihistamin : Loratadin 10 mg

- Topikal : krim mikonazole Nitrat 2% (2 kali sehari selama 2 minggu oleskan

tipis-tipis pada lesi).

Non medikamentosa

- Menjaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari dengan

menggunakan sabun bayi.

- Mengeringkan badan ketika berkeringat dan mengganti pakaian setelah

berkeringat.

- Tidak menggunakan pakaian dan alat mandi yang sama dengan orang

lain.

30
- Minum obat secara teratur dan kontrol kembali ke polik Kulit dan

Kelamin setelah 1 minggu.

Sesuai dengan teori yang tercantum dalam buku ajar fitzpetrik, mengenai

pengobatan sistemik pada pasien dengan infeksi dermatofita.

Sumber : fitztpetric, 2007

Hal ini sesuai dengan teori dari buku ajar penyakit ilmu kulit dan kelamin

Universitas Indonesia mengenai terapi pada infeksi dermatofitosis yaitu

:itrakonazol merupakan pilhan yang baikpemberian obat tersebut untuk penyakit

kulit cukup 2 x 100-200 mg sehari dalam kapsul. Hasil pemberian itrakonazol

dengan dosis denyut untuk onikomikosis hampir sama dengan pemberian

31
terbinafin 250mg sehari selama 3 hari bulan. Kelebihan itrakonazol terhadap

terbinafin adalah efektif terhadap onikomikosis.2

Sedangkan untuk terapi topikal pada infeksi pada kasus ini diberikan

mikonazole nitrat 2%. Obat ini merupakan sintetis turunan dari 1-phenethyl-

imidazole sebagai obat anti jamur.3

Pada kasus ini pasien diberikan obat tambahan berupa loratadin yang

merupakan anti histamin. Pasien diberikan loratadin untuk mengurangi rasa gatal

yang dikeluhkan pasien. Loratadin merupakan antagonis terhadap histamin,AH1

menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam

otot polos, selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipesensitivitas atau

keadaan lain yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan.

Berdasarkan literatur, terapi yang diberikan sesuai dengan diagnosis pasien

dengan Tinea Korporis.

Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik yang dapat diberikan pada tinea korporis :

Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama. Dosis untuk

anak-anak 10-25 mg/kgbb/hari, sedangkan dewasa 0,25-0,5g/hari.

Ketokonazole digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten

terhadap griseofulvin atau terapi topikal. Dosisnya adalah 200mg/hari

selama 2 minggu.

Obat-obat seperti itrakonazole serta terbinafin dikatakan cukup

memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.7

32
Pengobatan Topikal

Pengobatan topikal pada tinea korporis merupakan pilihan utama.

Efektivitas obat topikal dipengaruhi oleh mekanisme kerja, viskositas,

hidrofobiitas dan asiditas formulasi obat tersebut. Selain obat-obat derivate

imidazole dan alilamin dapat digunakan untuk mengatasi masalah tinea korporis.

Efektivitas obat yang termasuk golongan imidazol kurang lebih sama. Pemberiam

obat dianjurkan selama 3-4 minggu atau sampai hasil kultur negatif. Selanjutnya

dianjurkan juga untuk meneruskan pengobatan selama 7-10 setelah penyembuhan

klinis dan mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan.6

Sumber : Barry I, 2003 14

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Ervianti, E dkk, 2001. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 2, SMF

kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas kedokteran Universitas

Airlangga.

2. Djuanda, A dkk, 2010. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Edisi 6,

Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Jakarta, 2010.

3. Gadithya i dewa gede, dkk, 2010. Laporan kasus Tinea Korporis et

Kruris, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar.

(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=151068dual

=970&title=LAPORAN%20KASUS%20KORPORIS%20ET20%

KRURIS). Diakses tanggal 24 oktober 2016.

4. Wolff, Klaus, Fitzpatricks. Dermatology in General Medicine. Seventh

Edition New York, Mc Graw Hill, 2013.

5. Jame D, william, Andrews. Clinical Dermatology. Tenth Edition New

york, Elsevier inc, 2006.

6. Kartini DP, Refarat Tinea Korporis. Smf Ilmu Kesehatan Kulit dan

Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP

Dr.Moh.Hoesin,Palembang.(http://www.google.co.id/search?ei=p

2wOWI6ylYb5vgSUyJXoAw&g=tinea+unguium+adalah+pdf&o

g=tinea+unguium&gs=mobilegws-serp). Diakses tanggal 23

Oktober 2016.

34
7. Lesher Jack,dkk,2016.Tinea corporis sign and symptoms

http://emedicine.medscape.com/article/1091473-

overview#a6.Diakses tanggal 30 oktober 2016

35